Waktu selalu memiliki cara yang tak terduga untuk mempertemukan orang-orang yang berbeda.
Melalui berbagai peristiwa yang mereka lalui bersama, mereka perlahan
belajar untuk saling memahami. Dendam berubah menjadi pengertian, prasangka
berganti menjadi kepercayaan, hingga kesalahpahaman yang pernah memisahkan
mereka akhirnya sirna.
Dari sebuah persaingan yang dipenuhi gengsi dan ego, tumbuh ikatan yang
tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Perbedaan karakter, kebiasaan, dan cara
pandang justru menyatukan mereka dalam sebuah persahabatan yang hangat dan
penuh makna.
Namun, tidak ada persahabatan yang selamanya berjalan mulus. Di balik
tawa yang menghiasi hari-hari mereka, tersimpan rahasia yang perlahan akan
terungkap. Akan ada air mata yang jatuh tanpa diketahui siapa pun, perpisahan
yang datang tanpa aba-aba, serta pilihan-pilihan hidup yang memaksa mereka
menentukan jalan masing-masing.
Saat semuanya berubah, mereka akan menyadari bahwa menjaga sebuah
persahabatan sering kali jauh lebih sulit daripada memulainya.
***
Bel pertama berbunyi tepat pukul tujuh pagi. Siswa-siswi SMK Harapan
Bangsa bergegas memasuki kelas masing-masing. Koridor yang semula dipenuhi
canda dan tawa perlahan berubah menjadi lebih tenang.
Di lantai dua gedung utama, Difa melangkah cepat menuju ruang kelas XI
Komputer. Rambut panjangnya diikat sederhana, bergoyang mengikuti setiap
langkah. Sebuah tas hitam tergantung di pundaknya, serapi seragam yang
dikenakannya.
Difa selalu datang tepat waktu. Bahkan, menurut sebagian teman
sekelasnya, ia terlalu tepat waktu.
“Difa!”
Seorang teman memanggilnya dari balik pintu kelas. “Kamu ngerjain tugas
jaringan, kan?”
Difa mengangguk sambil mengeluarkan buku dari dalam tas. “Iya.”
“Boleh pinjam buat mencocokkan jawaban?”
“Boleh, tapi jangan lupa dikembalikan.”
“Siap, Bu Guru.” Temannya tertawa kecil.
Julukan itu memang sudah melekat pada Difa. Bukan semata karena ia
pandai, melainkan juga karena sikapnya yang disiplin, teratur, dan sedikit
kaku.
Sepulang sekolah, Difa hampir tidak pernah bermain. Ibunya memiliki
aturan yang selalu ia patuhi: langsung pulang setelah sekolah, tidak boleh
keluyuran, belajar setelah salat Magrib, dan tidur sebelum pukul sembilan
malam. Aturan-aturan itu telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.
Meskipun kedua orang tuanya sama-sama bekerja, mereka selalu
menyempatkan waktu untuk mengawasi Difa.
Sementara itu, di gedung sebelah, suasananya jauh berbeda. Jurusan Tata
Busana hampir tak pernah sepi. Tawa para siswi terdengar memenuhi ruang
praktik.
“Arsy! Benangnya mana?”
“Tanya Avril!”
“Loh, kok aku?”
“Karena kamu yang pinjam.”
Avril tertawa sambil melempar gulungan benang ke arah Arsy. Risa yang
sedang mengukur pola ikut terkekeh.
“Kalau kalian terus ribut, bajunya selesai tahun depan.” Sita menggeleng
pelan. “Kalian ini memang nggak pernah bisa diam.”
Arsy justru merangkul bahu Sita. “Namanya juga hidup. Harus seru.”
Keempat gadis itu dikenal hampir di seluruh sekolah. Bukan karena
prestasi akademik mereka, melainkan karena selalu bersama ke mana pun pergi.
Mereka mengenal hampir semua siswa, tahu kafe yang baru buka, tempat nongkrong
yang sedang ramai, bahkan masih akrab dengan beberapa alumni.
Guru BK sudah beberapa kali memanggil mereka karena sering pulang
terlalu sore. Namun, keesokan harinya mereka tetap mengulanginya.
Berbeda dengan Difa yang bahkan tidak mengenal nama mereka. Begitu pula
Arsy dan teman-temannya. Mereka hanya mengetahui bahwa ada seorang siswi
jurusan Komputer yang terkenal pendiam dan sulit diajak berbicara.
Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa bulan kemudian mereka akan
menjadi sahabat yang nyaris tak terpisahkan.
Semuanya bermula dari seorang laki-laki. Namanya Rangga. Kapten tim
futsal sekolah. Tinggi, ramah, mudah bergaul, dan memiliki senyum yang membuat
banyak siswi diam-diam mengaguminya. Hampir setiap hari namanya menjadi bahan
pembicaraan di kantin maupun di koridor sekolah.
Termasuk oleh Difa. Meski tak pernah mengatakannya kepada siapa pun,
Difa diam-diam menyimpan rasa kagum kepada Rangga. Ia hanya sesekali
memperhatikannya dari kejauhan saat latihan futsal berlangsung.
Namun ternyata, bukan hanya Difa yang menyukai Rangga. Risa juga. Bedanya,
Risa jauh lebih berani menunjukkan perasaannya.
Suatu siang di kantin sekolah, Risa menghampiri meja tempat Difa sedang
makan.
“Kamu suka Rangga, ya?”
Difa terkejut. “Hah?”
"Nggak usah pura-pura. Aku sering lihat kamu memperhatikan dia.”
Difa langsung menundukkan kepala. “Aku cuma...”
“Cuma apa?” Risa menyilangkan kedua tangan. “Kalau memang suka, bilang
saja.”
Difa menarik napas panjang. “Aku nggak pernah ganggu kamu.”
“Belum.” Jawaban singkat itu membuat suasana mendadak canggung.
Sejak hari itu, hubungan mereka berubah. Setiap kali bertemu, selalu ada
sindiran. Di kantin, di koridor, bahkan saat sekolah mengadakan perlombaan
antarkelas.
“Ada yang sengaja lewat depan lapangan lagi.” Risa berkata cukup keras
agar Difa mendengarnya.
Difa memilih diam. Namun, diamnya justru dianggap sebagai tantangan. Teman-teman
mulai memperhatikan.
“Kayaknya mereka lagi musuhan.”
“Iya. Gara-gara Rangga.”
Isu itu menyebar dengan cepat hingga hampir seluruh siswa mengetahuinya.
Sampai akhirnya, suatu sore setelah latihan futsal usai, Rangga terlihat
berjalan keluar gerbang sekolah bersama seorang siswi kelas XII. Keduanya
bergandengan tangan.
Keesokan harinya kabar itu langsung menyebar.
“Rangga
jadian.”
“Serius?”
“Iya. Sama anak kelas dua belas.”
Difa hanya tersenyum tipis. Entah mengapa, hatinya justru terasa lega. Sementara
itu, Risa duduk termenung di kantin dengan wajah murung. Melihatnya dari
kejauhan, Difa sempat ragu untuk mendekat. Namun akhirnya ia memberanikan diri.
“Boleh duduk?”
Risa mengangguk pelan. Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata pun. Hingga
akhirnya Risa tertawa kecil.
“Kita ini lucu, ya.”
Difa menoleh. “Kenapa?”
“Kita capek-capek musuhan. Eh, ternyata dia milih orang lain.”
Difa ikut tersenyum. “Iya juga.”
Risa menghela napas. “Maaf, ya.”
Difa menggeleng. “Aku juga minta maaf.”
Risa mengulurkan tangan. “Mulai sekarang... nggak usah musuhan lagi?”
Difa tersenyum, lalu menyambut uluran tangan itu. “Teman?”
“Teman.”
Hari itu menjadi awal dari sebuah persahabatan yang tidak pernah mereka
bayangkan sebelumnya.
Sore harinya, Risa mengajak Difa ke ruang praktik Tata Busana.
“Kenalin.” Risa menunjuk tiga gadis yang sedang sibuk menjahit.
“Ini Arsy.”
Arsy melambaikan tangan dengan senyum lebar. “Halo! Jadi ini Difa yang
katanya pendiam itu?”
Avril ikut menghampiri. “Wah... akhirnya ketemu juga.”
Sita tersenyum ramah. “Selamat datang di geng paling berisik se-SMK.”
Difa terkekeh pelan. “Kayaknya aku bakal susah menyesuaikan diri.”
Arsy langsung merangkul bahunya. “Tenang. Kalau udah sama kita, nggak
ada yang namanya canggung.”
Mereka semua tertawa.
Tak seorang pun menyadari bahwa tawa sore itu akan menjadi awal dari persahabatan yang begitu indah. Persahabatan yang kelak dipenuhi kenangan, diuji oleh berbagai rahasia, dan perlahan mengubah hidup mereka untuk selamanya.
***
Hari-hari setelah perdamaian antara Difa dan Risa terasa jauh berbeda. Tak
ada lagi tatapan sinis yang saling beradu di koridor sekolah. Tak ada lagi
sindiran setiap kali mereka berpapasan. Yang tersisa hanyalah sapaan sederhana
yang perlahan berkembang menjadi obrolan panjang.
Awalnya, Difa hanya sesekali mampir ke ruang praktik Tata Busana saat
jam istirahat. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa menghabiskan
waktu bersama Risa, Arsy, Avril, dan Sita.
“Diif... sini!” Suara Arsy menggema dari depan ruang praktik.
Difa yang baru saja keluar dari laboratorium komputer menoleh sambil
tersenyum kecil.
“Kita makan di kantin belakang, yuk.”
Difa melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sebentar,
ya. Aku simpan laptop dulu.”
“Oke. Jangan lama-lama.” Avril berteriak dari kejauhan. “Kalau kelamaan,
ayam gepreknya habis!”
Semua langsung tertawa.
Siang itu mereka memenuhi satu meja panjang di kantin. Arsy sibuk
menceritakan guru yang salah memanggil nama murid. Risa tertawa sampai hampir
tersedak es teh. Avril berkali-kali menirukan gaya guru tersebut hingga membuat
seluruh meja tak berhenti tertawa.
Sementara itu, Difa hanya memperhatikan mereka satu per satu dengan
senyum tipis di wajahnya.
“Diif.” Sita menyenggol pelan lengan Difa.
“Kamu kok diam aja?”
Difa tersenyum. “Aku lebih suka dengerin kalian cerita.”
Arsy langsung mengangkat alis. “Emang nggak bosan?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Soalnya kalian lucu.”
Seketika tawa kembali pecah.
“Lihat!” seru Avril sambil menunjuk Difa.
“Ternyata Difa bisa bercanda juga.” Risa ikut menggoda. “Besok-besok
ketawanya jangan ditahan terus.”
Difa hanya menggeleng sambil tersenyum malu. Entah sejak kapan, suara
tawa mereka mulai terasa begitu akrab di telinganya. Difa yang biasanya
menghabiskan waktu istirahat sendirian kini justru selalu menunggu bel
istirahat berbunyi. Bukan karena lapar. Melainkan karena ingin bertemu
sahabat-sahabat barunya.
Tak hanya makan siang bersama, mereka juga mulai sering mengerjakan
tugas. Meski berasal dari jurusan yang berbeda, beberapa mata pelajaran umum
membuat mereka tetap bisa belajar bersama. Perpustakaan pun menjadi tempat
favorit mereka.
Sayangnya, suasana belajar mereka hampir tak pernah benar-benar tenang.
“Arsy,” tegur Difa pelan. “Ini perpustakaan.”
Arsy langsung menutup mulutnya sambil mengangguk. “Iya, iya.”
Lima detik kemudian... “Hahaha...” Tawanya kembali pecah.
Petugas perpustakaan langsung menoleh tajam ke arah mereka. Kelima gadis
itu spontan menundukkan kepala.
“Maaf, Bu...” Begitu petugas berlalu, mereka saling berpandangan.
Beberapa detik kemudian... Tawa pelan kembali terdengar. Difa menggeleng
sambil menutupi wajahnya dengan buku.
“Kalian nggak kapok, ya?”
Avril mengangkat bahu santai. “Kalau hidup terlalu serius, nanti cepat
tua. Kamu perlu belajar dari kami.”
“Belajar apa?”
“Cara menikmati hidup.”
Lagi-lagi mereka tertawa bersama.
Sore hari menjadi waktu yang paling mereka tunggu. Setiap pulang sekolah,
mereka selalu berjalan bersama hingga gerbang sekolah. Di sanalah mereka
berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Besok jangan lupa bawa tugas!” teriak Risa.
“Oke!” sahut Difa.
“Hati-hati di jalan!”
“Iya.”
Difa naik sepeda motor lalu melaju perlahan meninggalkan sekolah. Sesaat
kemudian, ia menoleh ke belakang. Empat sahabat barunya masih berdiri di depan
gerbang sambil melambai dan saling bercanda.
Senyum Difa mengembang tanpa disadarinya. Untuk pertama kalinya sejak
menjadi siswi SMK Harapan Bangsa, ia merasa tidak lagi sendirian.
Ia tak pernah menyangka bahwa perselisihan kecil beberapa bulan lalu
justru mempertemukannya dengan empat orang yang perlahan menjadi bagian penting
dalam hidupnya.
Namun, Difa belum menyadari... bahwa persahabatan itu akan membawanya
memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang penuh tawa, kebebasan, dan
kenangan indah, tetapi juga menyimpan rahasia, luka, serta perpisahan yang
suatu hari akan menguji eratnya ikatan mereka.
***
Persahabatan mereka semakin hari semakin
erat. Namun, semakin lama menghabiskan waktu bersama, Difa mulai menyadari
bahwa kehidupannya sangat berbeda dengan kehidupan keempat sahabatnya.
Setiap sore setelah bel pulang berbunyi,
ponsel Difa hampir selalu bergetar.
Ibu
Pesan yang muncul tak pernah berubah. “Sudah pulang?”
Difa segera membalas. “Sudah, Bu. Lagi di jalan.”
Sesampainya di rumah, ia mengganti seragam,
membantu pekerjaan rumah, mandi, lalu belajar setelah salat Magrib.
Tepat pukul delapan malam, ibunya akan
mengetuk pintu kamar. “Sudah selesai belajarnya?”
“Sudah, Bu.”
“Jangan tidur terlalu malam.”
“Iya.”
Tak lama kemudian lampu kamar Difa padam. Rutinitas
itu telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dan selama ini, Difa tidak pernah
merasa keberatan menjalaninya.
Berbeda dengan kehidupan
sahabat-sahabatnya. Suatu sore di kantin, Arsy mengeluarkan ponselnya.
“Eh, nanti habis Magrib nongkrong, yuk.”
Avril langsung mengangguk antusias.
“Ada kafe baru. Katanya live music-nya
bagus,” sambung Risa.
Sita menoleh ke arah Difa. “Ikut, ya.”
Difa tampak ragu. “Malam?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Paling pulang jam sebelas.”
Difa spontan membelalakkan mata. “Jam
sebelas?”
Arsy tertawa. “Kenapa? Takut?”
“Bukan takut... Aku nggak boleh pulang
malam.”
Avril terlihat heran. “Serius?”
“Iya.”
“Sampai sekarang?”
Difa mengangguk pelan.
Risa kembali bertanya. “Kalau habis Magrib
pengen keluar?”
“Harus izin.”
“Kalau nggak diizinin?”
“Ya... nggak jadi.”
Keempat sahabatnya saling berpandangan.
“Wah...” Arsy menggeleng pelan. “Hidupmu
tertib banget.”
Avril terkekeh. “Kalau aku, Ayah sama Ibu
pulangnya aja kadang lebih malam dari aku.”
“Di rumah juga paling cuma ada Mbak,”
tambah Risa.
Sita ikut mengangguk. “Orang tuaku sibuk
kerja. Yang penting aku kasih kabar.”
Arsy mengangkat bahu. “Aku malah sering
ditanya besok pulangnya jam berapa.”
Difa hanya tersenyum kecil. Baru kali itu
ia menyadari bahwa setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dalam mendidik
anak-anaknya.
Sejak percakapan itu, rasa penasaran mulai
tumbuh dalam diri Difa. Bagaimana rasanya menghabiskan waktu berjam-jam di kafe
bersama teman-teman? Bagaimana suasana kota saat malam hari? Seperti apa
tempat-tempat yang selama ini hanya ia dengar dari cerita mereka?
Hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia
pikirkan perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu. Suatu sore, ketika mereka
hendak berpisah di gerbang sekolah, Arsy kembali membujuk.
“Diif... Besok Jumat, Sabtu libur.”
“Iya.”
“Sesekali ikut, dong.”
Difa terdiam. Ia memandangi wajah keempat
sahabatnya yang penuh harap. Lalu untuk pertama kalinya muncul sebuah
pertanyaan di dalam hatinya. Apa
salahnya mencoba sekali saja?
Ia belum tahu bahwa satu pertanyaan sederhana
itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
***
Hari Jumat akhirnya tiba. Sejak pagi,
pikiran Difa terus dipenuhi ajakan Arsy beberapa hari sebelumnya.
“Sesekali ikut, dong.” Kalimat itu terus terngiang hingga bel
pulang berbunyi.
Difa berdiri di depan gerbang sekolah. Di
sana, Arsy, Avril, Risa, dan Sita telah menunggunya di atas motor
masing-masing.
“Jadi ikut, kan?” tanya Arsy sambil melepas
helmnya.
Difa menggenggam tali tasnya erat. “Aku...
cuma sebentar.”
“Yeay!” seru Avril.
“Akhirnya!” Risa langsung menyodorkan
sebuah helm. “Pakai ini.”
Difa menerimanya sambil tersenyum tipis. “Kalau
Ibu telepon?”
“Jawab aja lagi ada tugas kelompok.”
Difa terdiam.
Berbohong bukanlah hal yang biasa ia
lakukan. Bahkan selama ini, ia hampir tidak pernah menyembunyikan apa pun dari
kedua orang tuanya. Namun sore itu... Ia menganggukkan kepala.
Deretan motor melaju meninggalkan sekolah. Mereka
menuju sebuah kafe yang sedang ramai dikunjungi anak-anak muda. Lampu-lampu
berwarna kuning hangat menerangi ruangan. Alunan musik akustik terdengar pelan,
berpadu dengan suara tawa para pengunjung. Difa duduk sambil memandangi suasana
di sekelilingnya. Semuanya terasa baru.
“Enak, kan?” tanya Sita.
“Iya...”
“Ini pertama kali kamu ke sini?”
Difa mengangguk. “Bagus juga.”
Arsy tersenyum puas. “Nah, makanya jangan
pulang terus. Sesekali nikmati hidup.”
Difa ikut tertawa. Untuk sesaat, ia merasa
benar-benar bebas.
Saat matahari mulai tenggelam, mereka pun
bersiap pulang. Di tengah perjalanan, ponsel Difa bergetar.
Ibu
Jantungnya seketika berdegup lebih cepat. Tangannya
membeku. Ia ingin berkata jujur. Namun suara tawa teman-temannya yang masih
bercanda di samping membuat keberaniannya menghilang. Dengan napas yang terasa
berat, ia mengangkat telepon.
“Assalamu'alaikum, Bu.”
“Wa'alaikumussalam. Kok belum pulang?”
Difa menelan ludah. “Lagi... kerja
kelompok, Bu.”
“Oh begitu. Jangan pulang terlalu malam.”
“Iya, Bu.”
Telepon pun berakhir. Difa menatap layar
ponselnya cukup lama. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berbohong kepada
ibunya. Ia tidak menyangka bahwa kebohongan kecil itu suatu hari akan
melahirkan kebohongan-kebohongan lainnya.
Hari demi hari berlalu. Difa mulai terbiasa
tidak langsung pulang. Kadang mereka duduk berjam-jam di kafe. Kadang berkeliling
kota tanpa tujuan. Kadang berhenti hanya untuk membeli jajanan kaki lima.
Arsy selalu menjadi orang yang paling
bersemangat. “Ke alun-alun, yuk!”
“Gas!”
Motor mereka melaju beriringan. Sesekali
Arsy melepas kedua tangannya dari setang sambil tertawa.
“Arsy!” teriak Difa panik. “Hati-hati!”
“Tenang aja!” Risa dan Avril justru ikut
tertawa.
Difa hanya bisa menggeleng. Tak jarang
mereka memakai helm tanpa mengunci talinya. Ada pula yang hanya meletakkan helm
di kepala sekadar agar tidak ditegur polisi.
Difa sebenarnya merasa tidak nyaman. Namun
ia juga tidak ingin terus menjadi orang yang berbeda. Sedikit demi sedikit, ia
mulai mengikuti kebiasaan mereka.
Perubahan itu perlahan terlihat hingga ke
rumah. Suatu malam, Difa baru membuka buku pelajarannya ketika jam menunjukkan
pukul delapan. Namun pikirannya masih dipenuhi cerita-cerita sore tadi.
Ponselnya terus berbunyi. Grup persahabatan
mereka tak pernah sepi. Tanpa sadar, buku yang baru saja dibukanya kembali
tertutup. Keesokan harinya, hasil ulangan Matematika dibagikan.
“Diif...” Guru menyerahkan lembar ulangan
itu. “Kamu kenapa?”
Difa hanya tersenyum tipis. “Nggak apa-apa,
Bu.”
Padahal ia sendiri tahu. Ada sesuatu dalam
dirinya yang mulai berubah.
Beberapa minggu kemudian, ibunya
memperhatikan rapor tengah semester.
“Difa. Ibu boleh tanya sesuatu?”
Difa menghentikan langkahnya.
“Akhir-akhir ini kamu sering pulang sore. Katanya
belajar kelompok terus.”
“Iya.”
Ibunya membuka rapor perlahan. “Lalu kenapa
nilaimu justru turun?”
Difa terdiam. Tak ada satu pun jawaban yang
mampu keluar dari bibirnya. Ibunya mengusap lembut kepala Difa.
“Ibu tidak marah. Ibu cuma takut kamu
sedang menghadapi sesuatu sendirian.”
Kalimat itu membuat dada Difa terasa sesak.
Ia ingin mengatakan semuanya. Tentang kafe. Tentang kebohongan. Tentang
perubahan dirinya. Namun bayangan kehilangan sahabat-sahabatnya membuat
keberaniannya kembali menghilang.
Malam itu, Difa hanya mampu diam. Tanpa ia
sadari, diamnya menjadi awal dari jarak yang perlahan tumbuh antara dirinya dan
kedua orang tuanya.
***
Suatu malam, setelah selesai belajar,
ponsel Difa bergetar tanpa henti. Grup persahabatan mereka sedang ramai.
Arsy Diif, nyalain
Radio Cakrawala sekarang!
Avril Penyiar
cowoknya lucu banget!
Risa Cepetan!
Karena penasaran, Difa segera meraih radio
kecil yang terletak di atas meja belajarnya. Ia memutar tombol pencari
frekuensi hingga terdengar suara penyiar yang ceria.
“Selamat malam, Sahabat Cakrawala! Malam
ini kita membuka sesi perkenalan. Buat kalian yang ingin punya teman baru,
langsung telepon atau kirim pesan ke studio.”
Belum sempat Difa mendengarkan lebih lama,
ponselnya kembali berdering. Arsy menelepon.
“Diif!”
“Apa?”
“Kita telepon, yuk! Seru!”
“Aku malu.”
“Udah, cuma kenalan.”
Belum sempat Difa menjawab, terdengar suara
Risa dari kejauhan.
“Arsy! Cepat, disambung nih!”
Beberapa menit kemudian, suara mereka
benar-benar mengudara di Radio Cakrawala. Mereka tertawa, memperkenalkan diri,
menyebut nama sekolah, hingga menceritakan kegiatan sehari-hari. Tak lama
setelah siaran berakhir, beberapa pendengar mulai mengirim pesan untuk
berkenalan.
Sejak malam itu, ponsel mereka tak pernah
benar-benar sepi. Ada yang sekadar menyapa. Ada yang mengajak berteman. Bahkan,
ada pula yang mengusulkan untuk bertemu langsung.
“Besok Minggu kopi darat, yuk.” Arsy
menunjukkan sebuah pesan kepada teman-temannya.
Difa langsung mengernyit. “Sama siapa?”
“Teman radio.”
“Udah kenal?”
“Belum.”
“Terus langsung ketemu?”
Arsy tertawa kecil. “Ya makanya ketemu biar
kenal.”
Bagi Arsy, Avril, Risa, dan Sita, mengenal
orang baru adalah hal yang biasa. Mereka mudah akrab, mudah membuka percakapan,
dan tidak canggung bertemu siapa pun. Namun bagi Difa, semuanya terasa asing.
Minggu sore, mereka bertemu di sebuah taman
kota. Beberapa remaja laki-laki telah lebih dulu menunggu.
“Hai!” Salah seorang dari mereka
melambaikan tangan.
Arsy langsung menghampiri sambil
mengulurkan tangan. “Arsy.”
“Rian.”
Yang lain pun saling memperkenalkan diri. Dalam
hitungan menit, mereka sudah bercanda seolah-olah telah berteman sejak lama. Difa
hanya berdiri di samping Sita sambil memperhatikan.
Seorang laki-laki mendekatinya. “Halo, Aku
Bima.”
“Difa.”
“Baru pertama ikut?”
“Iya.”
“Semoga betah, ya.”
Difa hanya tersenyum tipis. Ia ingin
membalas percakapan itu, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi
daripada biasanya. Difa memandangi jalan dari balik kaca helmnya.
“Diif.” Suara Risa membuyarkan lamunannya. “Kamu
kok diem terus?”
“Nggak apa-apa.”
“Seru, kan?”
Difa mengangguk pelan. “Iya...”
Namun jauh di dalam hatinya, ada perasaan
yang sulit dijelaskan. Ia melihat sahabat-sahabatnya begitu mudah mempercayai
orang yang baru dikenal. Tanpa rasa canggung. Tanpa rasa curiga. Tanpa banyak
pertimbangan.
Difa ingin mengatakan bahwa ia merasa
khawatir. Bahwa tidak semua orang memiliki niat baik. Namun kata-kata itu
tertahan di tenggorokannya. Ia takut dianggap terlalu penakut. Lebih dari itu,
ia takut kembali menjadi orang yang berbeda. Karena itulah, meski hatinya
dipenuhi keraguan, Difa tetap mengikuti setiap ajakan mereka.
Ia belum menyadari bahwa langkah-langkah
kecil yang diambilnya hari itu perlahan membawanya menuju sebuah peristiwa yang
akan mengubah persahabatan mereka untuk selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar