Kamis, 26 Januari 2012

JALAN Yang BERBEDA (Proses edit)

Waktu selalu memiliki cara yang tak terduga untuk mempertemukan orang-orang yang berbeda.

Melalui berbagai peristiwa yang mereka lalui bersama, mereka perlahan belajar untuk saling memahami. Dendam berubah menjadi pengertian, prasangka berganti menjadi kepercayaan, hingga kesalahpahaman yang pernah memisahkan mereka akhirnya sirna.

Dari sebuah persaingan yang dipenuhi gengsi dan ego, tumbuh ikatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Perbedaan karakter, kebiasaan, dan cara pandang justru menyatukan mereka dalam sebuah persahabatan yang hangat dan penuh makna.

Namun, tidak ada persahabatan yang selamanya berjalan mulus. Di balik tawa yang menghiasi hari-hari mereka, tersimpan rahasia yang perlahan akan terungkap. Akan ada air mata yang jatuh tanpa diketahui siapa pun, perpisahan yang datang tanpa aba-aba, serta pilihan-pilihan hidup yang memaksa mereka menentukan jalan masing-masing.

Saat semuanya berubah, mereka akan menyadari bahwa menjaga sebuah persahabatan sering kali jauh lebih sulit daripada memulainya.

***

Bel pertama berbunyi tepat pukul tujuh pagi. Siswa-siswi SMK Harapan Bangsa bergegas memasuki kelas masing-masing. Koridor yang semula dipenuhi canda dan tawa perlahan berubah menjadi lebih tenang.

Di lantai dua gedung utama, Difa melangkah cepat menuju ruang kelas XI Komputer. Rambut panjangnya diikat sederhana, bergoyang mengikuti setiap langkah. Sebuah tas hitam tergantung di pundaknya, serapi seragam yang dikenakannya.

Difa selalu datang tepat waktu. Bahkan, menurut sebagian teman sekelasnya, ia terlalu tepat waktu.

“Difa!”

Seorang teman memanggilnya dari balik pintu kelas. “Kamu ngerjain tugas jaringan, kan?”

Difa mengangguk sambil mengeluarkan buku dari dalam tas. “Iya.”

“Boleh pinjam buat mencocokkan jawaban?”

“Boleh, tapi jangan lupa dikembalikan.”

“Siap, Bu Guru.” Temannya tertawa kecil.

Julukan itu memang sudah melekat pada Difa. Bukan semata karena ia pandai, melainkan juga karena sikapnya yang disiplin, teratur, dan sedikit kaku.

Sepulang sekolah, Difa hampir tidak pernah bermain. Ibunya memiliki aturan yang selalu ia patuhi: langsung pulang setelah sekolah, tidak boleh keluyuran, belajar setelah salat Magrib, dan tidur sebelum pukul sembilan malam. Aturan-aturan itu telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.

Meskipun kedua orang tuanya sama-sama bekerja, mereka selalu menyempatkan waktu untuk mengawasi Difa.

Sementara itu, di gedung sebelah, suasananya jauh berbeda. Jurusan Tata Busana hampir tak pernah sepi. Tawa para siswi terdengar memenuhi ruang praktik.

“Arsy! Benangnya mana?”

“Tanya Avril!”

“Loh, kok aku?”

“Karena kamu yang pinjam.”

Avril tertawa sambil melempar gulungan benang ke arah Arsy. Risa yang sedang mengukur pola ikut terkekeh.

“Kalau kalian terus ribut, bajunya selesai tahun depan.” Sita menggeleng pelan. “Kalian ini memang nggak pernah bisa diam.”

Arsy justru merangkul bahu Sita. “Namanya juga hidup. Harus seru.”

Keempat gadis itu dikenal hampir di seluruh sekolah. Bukan karena prestasi akademik mereka, melainkan karena selalu bersama ke mana pun pergi. Mereka mengenal hampir semua siswa, tahu kafe yang baru buka, tempat nongkrong yang sedang ramai, bahkan masih akrab dengan beberapa alumni.

Guru BK sudah beberapa kali memanggil mereka karena sering pulang terlalu sore. Namun, keesokan harinya mereka tetap mengulanginya.

Berbeda dengan Difa yang bahkan tidak mengenal nama mereka. Begitu pula Arsy dan teman-temannya. Mereka hanya mengetahui bahwa ada seorang siswi jurusan Komputer yang terkenal pendiam dan sulit diajak berbicara.

Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa bulan kemudian mereka akan menjadi sahabat yang nyaris tak terpisahkan.

Semuanya bermula dari seorang laki-laki. Namanya Rangga. Kapten tim futsal sekolah. Tinggi, ramah, mudah bergaul, dan memiliki senyum yang membuat banyak siswi diam-diam mengaguminya. Hampir setiap hari namanya menjadi bahan pembicaraan di kantin maupun di koridor sekolah.

Termasuk oleh Difa. Meski tak pernah mengatakannya kepada siapa pun, Difa diam-diam menyimpan rasa kagum kepada Rangga. Ia hanya sesekali memperhatikannya dari kejauhan saat latihan futsal berlangsung.

Namun ternyata, bukan hanya Difa yang menyukai Rangga. Risa juga. Bedanya, Risa jauh lebih berani menunjukkan perasaannya.

Suatu siang di kantin sekolah, Risa menghampiri meja tempat Difa sedang makan.

“Kamu suka Rangga, ya?”

Difa terkejut. “Hah?”

"Nggak usah pura-pura. Aku sering lihat kamu memperhatikan dia.”

Difa langsung menundukkan kepala. “Aku cuma...”

“Cuma apa?” Risa menyilangkan kedua tangan. “Kalau memang suka, bilang saja.”

Difa menarik napas panjang. “Aku nggak pernah ganggu kamu.”

“Belum.” Jawaban singkat itu membuat suasana mendadak canggung.

Sejak hari itu, hubungan mereka berubah. Setiap kali bertemu, selalu ada sindiran. Di kantin, di koridor, bahkan saat sekolah mengadakan perlombaan antarkelas.

“Ada yang sengaja lewat depan lapangan lagi.” Risa berkata cukup keras agar Difa mendengarnya.

Difa memilih diam. Namun, diamnya justru dianggap sebagai tantangan. Teman-teman mulai memperhatikan.

“Kayaknya mereka lagi musuhan.”

“Iya. Gara-gara Rangga.”

Isu itu menyebar dengan cepat hingga hampir seluruh siswa mengetahuinya. Sampai akhirnya, suatu sore setelah latihan futsal usai, Rangga terlihat berjalan keluar gerbang sekolah bersama seorang siswi kelas XII. Keduanya bergandengan tangan.

Keesokan harinya kabar itu langsung menyebar.

          “Rangga jadian.”

“Serius?”

“Iya. Sama anak kelas dua belas.”

Difa hanya tersenyum tipis. Entah mengapa, hatinya justru terasa lega. Sementara itu, Risa duduk termenung di kantin dengan wajah murung. Melihatnya dari kejauhan, Difa sempat ragu untuk mendekat. Namun akhirnya ia memberanikan diri.

“Boleh duduk?”

Risa mengangguk pelan. Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata pun. Hingga akhirnya Risa tertawa kecil.

“Kita ini lucu, ya.”

Difa menoleh. “Kenapa?”

“Kita capek-capek musuhan. Eh, ternyata dia milih orang lain.”

Difa ikut tersenyum. “Iya juga.”

Risa menghela napas. “Maaf, ya.”

Difa menggeleng. “Aku juga minta maaf.”

Risa mengulurkan tangan. “Mulai sekarang... nggak usah musuhan lagi?”

Difa tersenyum, lalu menyambut uluran tangan itu. “Teman?”

“Teman.”

Hari itu menjadi awal dari sebuah persahabatan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Sore harinya, Risa mengajak Difa ke ruang praktik Tata Busana.

“Kenalin.” Risa menunjuk tiga gadis yang sedang sibuk menjahit.

“Ini Arsy.”

Arsy melambaikan tangan dengan senyum lebar. “Halo! Jadi ini Difa yang katanya pendiam itu?”

Avril ikut menghampiri. “Wah... akhirnya ketemu juga.”

Sita tersenyum ramah. “Selamat datang di geng paling berisik se-SMK.”

Difa terkekeh pelan. “Kayaknya aku bakal susah menyesuaikan diri.”

Arsy langsung merangkul bahunya. “Tenang. Kalau udah sama kita, nggak ada yang namanya canggung.”

Mereka semua tertawa.

Tak seorang pun menyadari bahwa tawa sore itu akan menjadi awal dari persahabatan yang begitu indah. Persahabatan yang kelak dipenuhi kenangan, diuji oleh berbagai rahasia, dan perlahan mengubah hidup mereka untuk selamanya.

***

Hari-hari setelah perdamaian antara Difa dan Risa terasa jauh berbeda. Tak ada lagi tatapan sinis yang saling beradu di koridor sekolah. Tak ada lagi sindiran setiap kali mereka berpapasan. Yang tersisa hanyalah sapaan sederhana yang perlahan berkembang menjadi obrolan panjang.

Awalnya, Difa hanya sesekali mampir ke ruang praktik Tata Busana saat jam istirahat. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa menghabiskan waktu bersama Risa, Arsy, Avril, dan Sita.


“Diif... sini!” Suara Arsy menggema dari depan ruang praktik.

Difa yang baru saja keluar dari laboratorium komputer menoleh sambil tersenyum kecil.

“Kita makan di kantin belakang, yuk.”

Difa melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sebentar, ya. Aku simpan laptop dulu.”

“Oke. Jangan lama-lama.” Avril berteriak dari kejauhan. “Kalau kelamaan, ayam gepreknya habis!”

Semua langsung tertawa.

Siang itu mereka memenuhi satu meja panjang di kantin. Arsy sibuk menceritakan guru yang salah memanggil nama murid. Risa tertawa sampai hampir tersedak es teh. Avril berkali-kali menirukan gaya guru tersebut hingga membuat seluruh meja tak berhenti tertawa.

Sementara itu, Difa hanya memperhatikan mereka satu per satu dengan senyum tipis di wajahnya.

“Diif.” Sita menyenggol pelan lengan Difa.

“Kamu kok diam aja?”

Difa tersenyum. “Aku lebih suka dengerin kalian cerita.”

Arsy langsung mengangkat alis. “Emang nggak bosan?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Soalnya kalian lucu.”

Seketika tawa kembali pecah.

“Lihat!” seru Avril sambil menunjuk Difa.

“Ternyata Difa bisa bercanda juga.” Risa ikut menggoda. “Besok-besok ketawanya jangan ditahan terus.”

Difa hanya menggeleng sambil tersenyum malu. Entah sejak kapan, suara tawa mereka mulai terasa begitu akrab di telinganya. Difa yang biasanya menghabiskan waktu istirahat sendirian kini justru selalu menunggu bel istirahat berbunyi. Bukan karena lapar. Melainkan karena ingin bertemu sahabat-sahabat barunya.


Tak hanya makan siang bersama, mereka juga mulai sering mengerjakan tugas. Meski berasal dari jurusan yang berbeda, beberapa mata pelajaran umum membuat mereka tetap bisa belajar bersama. Perpustakaan pun menjadi tempat favorit mereka.

Sayangnya, suasana belajar mereka hampir tak pernah benar-benar tenang.

“Arsy,” tegur Difa pelan. “Ini perpustakaan.”

Arsy langsung menutup mulutnya sambil mengangguk. “Iya, iya.”

Lima detik kemudian... “Hahaha...” Tawanya kembali pecah.

Petugas perpustakaan langsung menoleh tajam ke arah mereka. Kelima gadis itu spontan menundukkan kepala.

“Maaf, Bu...” Begitu petugas berlalu, mereka saling berpandangan.

Beberapa detik kemudian... Tawa pelan kembali terdengar. Difa menggeleng sambil menutupi wajahnya dengan buku.

“Kalian nggak kapok, ya?”

Avril mengangkat bahu santai. “Kalau hidup terlalu serius, nanti cepat tua. Kamu perlu belajar dari kami.”

“Belajar apa?”

“Cara menikmati hidup.”

Lagi-lagi mereka tertawa bersama.


Sore hari menjadi waktu yang paling mereka tunggu. Setiap pulang sekolah, mereka selalu berjalan bersama hingga gerbang sekolah. Di sanalah mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Besok jangan lupa bawa tugas!” teriak Risa.

“Oke!” sahut Difa.

“Hati-hati di jalan!”

“Iya.”

Difa naik sepeda motor lalu melaju perlahan meninggalkan sekolah. Sesaat kemudian, ia menoleh ke belakang. Empat sahabat barunya masih berdiri di depan gerbang sambil melambai dan saling bercanda.

Senyum Difa mengembang tanpa disadarinya. Untuk pertama kalinya sejak menjadi siswi SMK Harapan Bangsa, ia merasa tidak lagi sendirian.

Ia tak pernah menyangka bahwa perselisihan kecil beberapa bulan lalu justru mempertemukannya dengan empat orang yang perlahan menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Namun, Difa belum menyadari... bahwa persahabatan itu akan membawanya memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia yang penuh tawa, kebebasan, dan kenangan indah, tetapi juga menyimpan rahasia, luka, serta perpisahan yang suatu hari akan menguji eratnya ikatan mereka.

***

Persahabatan mereka semakin hari semakin erat. Namun, semakin lama menghabiskan waktu bersama, Difa mulai menyadari bahwa kehidupannya sangat berbeda dengan kehidupan keempat sahabatnya.


Setiap sore setelah bel pulang berbunyi, ponsel Difa hampir selalu bergetar.

Ibu

Pesan yang muncul tak pernah berubah. “Sudah pulang?”

Difa segera membalas. “Sudah, Bu. Lagi di jalan.”

Sesampainya di rumah, ia mengganti seragam, membantu pekerjaan rumah, mandi, lalu belajar setelah salat Magrib.

Tepat pukul delapan malam, ibunya akan mengetuk pintu kamar. “Sudah selesai belajarnya?”

“Sudah, Bu.”

“Jangan tidur terlalu malam.”

“Iya.”

Tak lama kemudian lampu kamar Difa padam. Rutinitas itu telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dan selama ini, Difa tidak pernah merasa keberatan menjalaninya.


Berbeda dengan kehidupan sahabat-sahabatnya. Suatu sore di kantin, Arsy mengeluarkan ponselnya.

“Eh, nanti habis Magrib nongkrong, yuk.”

Avril langsung mengangguk antusias.

“Ada kafe baru. Katanya live music-nya bagus,” sambung Risa.

Sita menoleh ke arah Difa. “Ikut, ya.”

Difa tampak ragu. “Malam?”

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Paling pulang jam sebelas.”

Difa spontan membelalakkan mata. “Jam sebelas?”

Arsy tertawa. “Kenapa? Takut?”

“Bukan takut... Aku nggak boleh pulang malam.”

Avril terlihat heran. “Serius?”

“Iya.”

“Sampai sekarang?”

Difa mengangguk pelan.

Risa kembali bertanya. “Kalau habis Magrib pengen keluar?”

“Harus izin.”

“Kalau nggak diizinin?”

“Ya... nggak jadi.”

Keempat sahabatnya saling berpandangan.

“Wah...” Arsy menggeleng pelan. “Hidupmu tertib banget.”

Avril terkekeh. “Kalau aku, Ayah sama Ibu pulangnya aja kadang lebih malam dari aku.”

“Di rumah juga paling cuma ada Mbak,” tambah Risa.

Sita ikut mengangguk. “Orang tuaku sibuk kerja. Yang penting aku kasih kabar.”

Arsy mengangkat bahu. “Aku malah sering ditanya besok pulangnya jam berapa.”

Difa hanya tersenyum kecil. Baru kali itu ia menyadari bahwa setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya.


Sejak percakapan itu, rasa penasaran mulai tumbuh dalam diri Difa. Bagaimana rasanya menghabiskan waktu berjam-jam di kafe bersama teman-teman? Bagaimana suasana kota saat malam hari? Seperti apa tempat-tempat yang selama ini hanya ia dengar dari cerita mereka?

Hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu. Suatu sore, ketika mereka hendak berpisah di gerbang sekolah, Arsy kembali membujuk.

“Diif... Besok Jumat, Sabtu libur.”

“Iya.”

“Sesekali ikut, dong.”

Difa terdiam. Ia memandangi wajah keempat sahabatnya yang penuh harap. Lalu untuk pertama kalinya muncul sebuah pertanyaan di dalam hatinya. Apa salahnya mencoba sekali saja?

Ia belum tahu bahwa satu pertanyaan sederhana itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

***

Hari Jumat akhirnya tiba. Sejak pagi, pikiran Difa terus dipenuhi ajakan Arsy beberapa hari sebelumnya.

“Sesekali ikut, dong.” Kalimat itu terus terngiang hingga bel pulang berbunyi.

Difa berdiri di depan gerbang sekolah. Di sana, Arsy, Avril, Risa, dan Sita telah menunggunya di atas motor masing-masing.

“Jadi ikut, kan?” tanya Arsy sambil melepas helmnya.

Difa menggenggam tali tasnya erat. “Aku... cuma sebentar.”

“Yeay!” seru Avril.

“Akhirnya!” Risa langsung menyodorkan sebuah helm. “Pakai ini.”

Difa menerimanya sambil tersenyum tipis. “Kalau Ibu telepon?”

“Jawab aja lagi ada tugas kelompok.”

Difa terdiam.

Berbohong bukanlah hal yang biasa ia lakukan. Bahkan selama ini, ia hampir tidak pernah menyembunyikan apa pun dari kedua orang tuanya. Namun sore itu... Ia menganggukkan kepala.


Deretan motor melaju meninggalkan sekolah. Mereka menuju sebuah kafe yang sedang ramai dikunjungi anak-anak muda. Lampu-lampu berwarna kuning hangat menerangi ruangan. Alunan musik akustik terdengar pelan, berpadu dengan suara tawa para pengunjung. Difa duduk sambil memandangi suasana di sekelilingnya. Semuanya terasa baru.

“Enak, kan?” tanya Sita.

“Iya...”

“Ini pertama kali kamu ke sini?”

Difa mengangguk. “Bagus juga.”

Arsy tersenyum puas. “Nah, makanya jangan pulang terus. Sesekali nikmati hidup.”

Difa ikut tertawa. Untuk sesaat, ia merasa benar-benar bebas.


Saat matahari mulai tenggelam, mereka pun bersiap pulang. Di tengah perjalanan, ponsel Difa bergetar.

Ibu

Jantungnya seketika berdegup lebih cepat. Tangannya membeku. Ia ingin berkata jujur. Namun suara tawa teman-temannya yang masih bercanda di samping membuat keberaniannya menghilang. Dengan napas yang terasa berat, ia mengangkat telepon.

“Assalamu'alaikum, Bu.”

“Wa'alaikumussalam. Kok belum pulang?”

Difa menelan ludah. “Lagi... kerja kelompok, Bu.”

“Oh begitu. Jangan pulang terlalu malam.”

“Iya, Bu.”

Telepon pun berakhir. Difa menatap layar ponselnya cukup lama. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berbohong kepada ibunya. Ia tidak menyangka bahwa kebohongan kecil itu suatu hari akan melahirkan kebohongan-kebohongan lainnya.


Hari demi hari berlalu. Difa mulai terbiasa tidak langsung pulang. Kadang mereka duduk berjam-jam di kafe. Kadang berkeliling kota tanpa tujuan. Kadang berhenti hanya untuk membeli jajanan kaki lima.

Arsy selalu menjadi orang yang paling bersemangat. “Ke alun-alun, yuk!”

“Gas!”

Motor mereka melaju beriringan. Sesekali Arsy melepas kedua tangannya dari setang sambil tertawa.

“Arsy!” teriak Difa panik. “Hati-hati!”

“Tenang aja!” Risa dan Avril justru ikut tertawa.

Difa hanya bisa menggeleng. Tak jarang mereka memakai helm tanpa mengunci talinya. Ada pula yang hanya meletakkan helm di kepala sekadar agar tidak ditegur polisi.

Difa sebenarnya merasa tidak nyaman. Namun ia juga tidak ingin terus menjadi orang yang berbeda. Sedikit demi sedikit, ia mulai mengikuti kebiasaan mereka.


Perubahan itu perlahan terlihat hingga ke rumah. Suatu malam, Difa baru membuka buku pelajarannya ketika jam menunjukkan pukul delapan. Namun pikirannya masih dipenuhi cerita-cerita sore tadi.

Ponselnya terus berbunyi. Grup persahabatan mereka tak pernah sepi. Tanpa sadar, buku yang baru saja dibukanya kembali tertutup. Keesokan harinya, hasil ulangan Matematika dibagikan.

“Diif...” Guru menyerahkan lembar ulangan itu. “Kamu kenapa?”

Difa hanya tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Bu.”

Padahal ia sendiri tahu. Ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah.


Beberapa minggu kemudian, ibunya memperhatikan rapor tengah semester.

“Difa. Ibu boleh tanya sesuatu?”

Difa menghentikan langkahnya.

“Akhir-akhir ini kamu sering pulang sore. Katanya belajar kelompok terus.”

“Iya.”

Ibunya membuka rapor perlahan. “Lalu kenapa nilaimu justru turun?”

Difa terdiam. Tak ada satu pun jawaban yang mampu keluar dari bibirnya. Ibunya mengusap lembut kepala Difa.

“Ibu tidak marah. Ibu cuma takut kamu sedang menghadapi sesuatu sendirian.”

Kalimat itu membuat dada Difa terasa sesak. Ia ingin mengatakan semuanya. Tentang kafe. Tentang kebohongan. Tentang perubahan dirinya. Namun bayangan kehilangan sahabat-sahabatnya membuat keberaniannya kembali menghilang.

Malam itu, Difa hanya mampu diam. Tanpa ia sadari, diamnya menjadi awal dari jarak yang perlahan tumbuh antara dirinya dan kedua orang tuanya.

***

Suatu malam, setelah selesai belajar, ponsel Difa bergetar tanpa henti. Grup persahabatan mereka sedang ramai.

Arsy Diif, nyalain Radio Cakrawala sekarang!

Avril Penyiar cowoknya lucu banget!

Risa Cepetan!

Karena penasaran, Difa segera meraih radio kecil yang terletak di atas meja belajarnya. Ia memutar tombol pencari frekuensi hingga terdengar suara penyiar yang ceria.

“Selamat malam, Sahabat Cakrawala! Malam ini kita membuka sesi perkenalan. Buat kalian yang ingin punya teman baru, langsung telepon atau kirim pesan ke studio.”

Belum sempat Difa mendengarkan lebih lama, ponselnya kembali berdering. Arsy menelepon.

“Diif!”

“Apa?”

“Kita telepon, yuk! Seru!”

“Aku malu.”

“Udah, cuma kenalan.”

Belum sempat Difa menjawab, terdengar suara Risa dari kejauhan.

“Arsy! Cepat, disambung nih!”

Beberapa menit kemudian, suara mereka benar-benar mengudara di Radio Cakrawala. Mereka tertawa, memperkenalkan diri, menyebut nama sekolah, hingga menceritakan kegiatan sehari-hari. Tak lama setelah siaran berakhir, beberapa pendengar mulai mengirim pesan untuk berkenalan.


Sejak malam itu, ponsel mereka tak pernah benar-benar sepi. Ada yang sekadar menyapa. Ada yang mengajak berteman. Bahkan, ada pula yang mengusulkan untuk bertemu langsung.

“Besok Minggu kopi darat, yuk.” Arsy menunjukkan sebuah pesan kepada teman-temannya.

Difa langsung mengernyit. “Sama siapa?”

“Teman radio.”

“Udah kenal?”

“Belum.”

“Terus langsung ketemu?”

Arsy tertawa kecil. “Ya makanya ketemu biar kenal.”

Bagi Arsy, Avril, Risa, dan Sita, mengenal orang baru adalah hal yang biasa. Mereka mudah akrab, mudah membuka percakapan, dan tidak canggung bertemu siapa pun. Namun bagi Difa, semuanya terasa asing.


Minggu sore, mereka bertemu di sebuah taman kota. Beberapa remaja laki-laki telah lebih dulu menunggu.

“Hai!” Salah seorang dari mereka melambaikan tangan.

Arsy langsung menghampiri sambil mengulurkan tangan. “Arsy.”

“Rian.”

Yang lain pun saling memperkenalkan diri. Dalam hitungan menit, mereka sudah bercanda seolah-olah telah berteman sejak lama. Difa hanya berdiri di samping Sita sambil memperhatikan.

Seorang laki-laki mendekatinya. “Halo, Aku Bima.”

“Difa.”

“Baru pertama ikut?”

“Iya.”

“Semoga betah, ya.”

Difa hanya tersenyum tipis. Ia ingin membalas percakapan itu, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.


Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Difa memandangi jalan dari balik kaca helmnya.

“Diif.” Suara Risa membuyarkan lamunannya. “Kamu kok diem terus?”

“Nggak apa-apa.”

“Seru, kan?”

Difa mengangguk pelan. “Iya...”

Namun jauh di dalam hatinya, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Ia melihat sahabat-sahabatnya begitu mudah mempercayai orang yang baru dikenal. Tanpa rasa canggung. Tanpa rasa curiga. Tanpa banyak pertimbangan.

Difa ingin mengatakan bahwa ia merasa khawatir. Bahwa tidak semua orang memiliki niat baik. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia takut dianggap terlalu penakut. Lebih dari itu, ia takut kembali menjadi orang yang berbeda. Karena itulah, meski hatinya dipenuhi keraguan, Difa tetap mengikuti setiap ajakan mereka.

Ia belum menyadari bahwa langkah-langkah kecil yang diambilnya hari itu perlahan membawanya menuju sebuah peristiwa yang akan mengubah persahabatan mereka untuk selamanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar