Kamis, 01 Desember 2016

SEJAUH JARAK, SEDEKAT DOA

Allah menitipkan seorang anak ke dalam rahim seorang ibu, bersama doa-doa yang mengiringinya agar kelak tumbuh dalam kehidupan yang baik.

Namun, kenyataannya hidup selalu penuh dengan risiko. Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang tenang. Akan tetapi, kita hanyalah makhluk ciptaan Allah yang harus siap menghadapi berbagai keadaan. Ketika ujian itu datang, sanggupkah kita menjadi manusia yang tangguh? Ataukah kita memilih menyerah dan pasrah pada keadaan?


Matahari di ufuk timur perlahan menghapus jejak embun yang masih membasahi dedaunan. Pagi itu seharusnya terasa damai. Namun, tidak bagi Shafa.

Pernikahan.

Satu kata itu terus terngiang di kepalanya, berulang-ulang seolah menggema tanpa henti.

Shafa menatap layar ponselnya dengan tangan yang bergetar. Pesan singkat itu hanya berisi satu kalimat, tetapi cukup untuk meruntuhkan harapan yang selama ini ia pelihara. Sejak membacanya, ia kehilangan semangat melakukan apa pun.

Aku bisa apa? Memaki? Itu hanya akan membuatku tampak seolah tidak mampu hidup tanpamu.

Padahal, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan. Yang benar-benar menyakitkan adalah menyadari bahwa seluruh perhatian, doa, dan kesetiaan yang selama ini kuberikan ternyata hanya menjadi waktu yang terbuang. Aku menyesal pernah begitu setia kepada seseorang yang begitu mudah membuka hati untuk orang lain, sementara di sisi lain ada seseorang yang memilih menjaga hatinya hanya untuk satu nama.

Barangkali beginilah rasanya ketika harapan diletakkan terlalu tinggi kepada manusia. Kecewa menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Sebab manusia selalu memiliki hak untuk memilih, dan tidak semua pilihan akan berpihak kepada kita.

Maka, belajar mengikhlaskan adalah jalan paling bijaksana. Kebahagiaan bukanlah tentang meyakini bahwa seseorang adalah milik kita. Kebahagiaan lahir ketika dua hati sama-sama memilih untuk saling memiliki dan saling memperjuangkan. Sebab hubungan yang hanya ditopang oleh satu pihak yang terus berjuang pada akhirnya hanya akan berakhir dengan perpisahan.

“Ayolah, kita bicara sebentar.” Suara Kenan terdengar lembut, tetapi penuh ketegasan.

“Besok saja di kampus.”

Jari Shafa hampir menekan tombol untuk mengakhiri panggilan. Namun, entah mengapa, ia mengurungkan niatnya. Ada rasa tidak enak yang membuatnya tetap bertahan di ujung telepon.

“Kita harus bertemu hari ini,” ujar Kenan tenang.

Shafa memejamkan mata sejenak, berusaha meredam kekesalan.

“Malam Minggu seharusnya kamu menemani pacarmu. Kenapa malah mengungsi ke rumahku?”

Pertanyaan itu belum pernah ia lontarkan sebelumnya. Selama ini Kenan memang terbiasa datang ke rumah setiap akhir pekan. Namun, malam ini berbeda. Shafa hanya ingin sendiri.

“Aku akan ke rumahmu jam tujuh malam.”

Kalimat itu terdengar lebih seperti keputusan daripada permintaan izin.

“Siapa yang bilang kamu boleh datang?”

“Meskipun kamu tidak mengizinkan, aku tetap akan datang. Dan jangan menungguku. Aku takut terlambat.”

Seolah keputusan itu tidak bisa lagi diganggu gugat. Kenan sama sekali tidak memedulikan embusan napas panjang Shafa di seberang telepon.

“Oke.”

Bukan karena setuju. Shafa hanya sadar bahwa berdebat dengan lelaki sekeras kepala Kenan tidak akan mengubah apa pun.

Bagaimanapun, Kenan tetap akan datang. Kedua orang tuanya pasti akan menyambutnya dengan hangat. Tidak ada gunanya mencoba menghindar.


Keluarga Shafa berkumpul di ruang makan. Aroma masakan Ibu memenuhi ruangan, bercampur dengan harum apel yang sedang dikupas Luna. Ayah duduk di kursinya sambil membaca koran, sesekali menyeruput teh hangat.

Begitu melihat Shafa datang, Ibu langsung tersenyum.

“Duduk dulu, Nak.”

Shafa menarik kursi dan duduk tanpa banyak bicara. Ayah melipat korannya, lalu memperhatikan wajah putrinya.

“Kenapa mata anak Ayah sembab begitu? Kamu sakit?”

“Tidak, Yah.”

Jawaban itu begitu singkat. Shafa menghindari tatapan Ayah sambil memainkan potongan apel di piringnya.

“Yakin tidak apa-apa?”

“Iya.”

Ia memaksakan senyum, berharap cukup untuk menghilangkan kekhawatiran di wajah Ayah.

“Ayah, maaf memotong pembicaraan.” Luna mengangkat tangan kecilnya. “Boleh aku minta pendapat?”

“Tentu. Tentang apa?”

“Ayah punya saran aku sebaiknya mengambil jurusan apa saat kuliah nanti?”

Ayah tersenyum. “Kalau menurutmu, jurusan apa yang paling kamu sukai?”

“Aku ingin masuk Psikologi. Boleh?”

“Tentu boleh. Menurut Ayah itu pilihan yang bagus.”

Wajah Luna langsung berbinar. “Kalau nanti aku kuliah sambil bekerja, apa Ayah keberatan?”

“Selama kuliahmu tidak terbengkalai dan kamu sanggup membagi waktu, Ayah akan mendukung.”

“Iya, Yah. Aku akan berusaha mengatur waktuku sebaik mungkin.”

“Bagus. Ayah tunggu kabar baiknya.”

“Siap, Yah!” Jawaban Luna penuh semangat. Wajahnya tampak lega setelah mendapatkan restu.

Ayah kemudian menoleh kepada Shafa yang kembali tenggelam dalam lamunannya.

“Kalau kuliahmu bagaimana?”

Shafa tersentak. “Semester depan aku mulai skripsi. Semoga semua mata kuliah semester ini lulus tanpa kendala.”

“Itu yang Ayah harapkan.” Ayah tersenyum bangga.

“Jaga kesehatan dan tetap fokus pada kuliahmu, ya,” tambah Ibu lembut.

Shafa mengangguk pelan. Ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dadanya. Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya ia membuka pembicaraan.

“Ayah... apa Zian menelepon Ayah?”

Ayah mengangkat pandangan. “Tidak. Memangnya kenapa?”

Shafa menarik napas panjang. “Sebulan yang lalu Zian memutuskan keluar dari asrama.”

Ayah spontan meletakkan sendoknya.

“Keluar? Bukankah itu kesempatan yang sudah lama dia perjuangkan? Tahun lalu dia gagal, lalu berusaha lagi. Kenapa sekarang justru menyerah?” Nada suaranya meninggi karena terkejut.

“Katanya dia sudah tidak nyaman menjalani pendidikan di sana.” Bahkan Shafa sadar jawaban itu tidak cukup menjelaskan semuanya.

“Apa Ayah perlu bicara dengannya?”

“Tidak perlu, Yah.”

Shafa menggeleng pelan. “Apa pun yang kita katakan sekarang tidak akan mengubah keputusannya.”

Ibu menggenggam tangan putrinya.

“Dia menjalani setiap tahap dengan penuh semangat. Kapan dia memutuskan mengundurkan diri?”

“Dia langsung menemuiku setelah pulang dari asrama.”

Kenangan itu kembali memenuhi benaknya. Dadanya terasa semakin sesak. Ibu mengusap lembut punggung tangan Shafa.

“Kalian sudah dewasa. Ibu yakin kalian sudah berusaha menyelesaikan semuanya dengan cara terbaik.”

Shafa menunduk. Bibirnya bergetar.

“Iya, Bu... tapi sudah tidak ada lagi yang bisa diperbaiki.”

Ia berhenti sejenak, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.

“Hari ini... Zian menikah.”

Suasana ruang makan mendadak sunyi. Ayah dan Ibu saling berpandangan. Kini mereka mengerti mengapa sejak pagi Shafa tampak murung dan kehilangan semangat.

Ibu mengusap pundak putrinya dengan penuh kasih sayang.

“Ini pasti sangat berat untukmu, Nak. Menangislah kalau memang ingin menangis. Namun, jangan biarkan kesedihan merampas semangatmu. Setiap ujian yang Allah berikan selalu membawa rencana yang lebih baik, meskipun hari ini kita belum mampu melihatnya.”

Ayah mengangguk pelan. “Shafa, jodoh bukan hanya tentang siapa yang paling kita inginkan, tetapi tentang siapa yang telah Allah siapkan dan pantaskan untuk mendampingi kita. Kelak Allah akan mempertemukanmu dengan lelaki yang bertanggung jawab, penyabar, mampu menjadi imam yang baik, serta menyayangimu dan keluarga kita. Bersabarlah.”

Luna yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. “Kak, maaf kalau Luna ikut campur. Menurut Luna, tidak ada gunanya terus bersedih karena seseorang yang telah memilih jalan hidupnya sendiri. Kakak pantas mendapatkan seseorang yang benar-benar memilih Kakak.”

Shafa mengusap air matanya, lalu tersenyum tipis. “Iya... aku percaya ini memang yang terbaik.”

Mungkin kehilangan adalah salah satu cara Allah mendewasakan hamba-Nya. Dari rasa kehilangan, aku belajar bahwa tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki. Allah tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menyiapkan pengganti yang lebih baik pada waktu yang telah Dia tetapkan.

Karena itu, aku memilih bangkit. Memperbaiki diri, mendekat kepada Allah, dan terus melangkah. Masa lalu bukan tempat untuk menetap, melainkan tempat untuk belajar.

Balas dendam terbaik bukanlah membuat seseorang menyesal, melainkan membuktikan bahwa aku mampu hidup lebih baik, lebih kuat, dan lebih bahagia daripada sebelumnya.

***

Malam itu, Shafa menunggu kedatangan Kenan. Lelaki itu adalah sahabat yang selalu hadir di setiap masa sulitnya. Cerewet, keras kepala, usil, kadang manja, dan hampir tidak pernah mau mengalah. Sifatnya bertolak belakang dengan Shafa. Namun, justru perbedaan itulah yang membuat persahabatan mereka bertahan hingga hari ini.

“Nonaku, sini peluk!”

Baru saja turun dari motor, Kenan langsung merentangkan kedua tangannya. Refleks, tinju Shafa melayang ke arah wajahnya.

“Woah!”

Kenan buru-buru menarik kepalanya ke belakang. Tinju itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari hidungnya.

“Kalau telat sedikit saja, wajah gantengku habis.”

“Jangan bertingkah aneh. Aku sedang tidak mood.”

Shafa melewatinya begitu saja, lalu duduk di teras rumah. Tanpa diminta, Kenan ikut duduk di sampingnya.

Temaram lampu halaman menerangi wajah Shafa, tetapi tidak mampu menyamarkan mata sembab dan raut lelahnya. Untuk pertama kalinya sejak datang, Kenan tidak melontarkan candaan. Ia hanya memandangi sahabatnya itu dalam diam, seolah sedang mencari cara untuk mengembalikan senyum yang hilang dari wajahnya.

“Mata sembab, wajah pucat, rambut berantakan.” Kenan menyenggol pelan lengan Shafa. “Kapan kamu mau tampil cantik di depanku?”

“Aku lebih suka tampil apa adanya.”

Jawaban Shafa terdengar datar. Tatapannya tetap tertuju pada kolam ikan di halaman, seolah riak air yang tenang mampu meredakan kekacauan di dalam kepalanya.

“Kalau begitu, aku tetap menerima kamu apa adanya.”

Shafa tidak menanggapi. Ia tahu Kenan sedang berusaha mencairkan suasana, meski caranya sering kali menyebalkan.

“Kenapa kamu tidak ke rumah Hany?”

Kenan mengembuskan napas pelan sebelum tersenyum. “Aku sengaja tidak pacaran di malam Minggu.”

“Memangnya kenapa?”

“Semua orang menganggap malam Minggu wajib dihabiskan bersama pacar. Jalan-jalan, nonton, makan malam. Aku tidak mau hubungan kami terjebak rutinitas seperti itu.”

“Hany tidak marah?”

“Marah itu kalau tidak ada rasa percaya. Kalau setiap hari bertemu, nanti malah cepat bosan. Bukankah rasa rindu justru tumbuh karena ada jarak?”

“Bosan? Kalau Hany mendengar ucapanmu, menurutmu dia akan memakluminya?”

Untuk pertama kalinya malam itu, Shafa menoleh.

“Wah... jangan sampai. Kalau mood perempuan sudah rusak, apa pun yang kita katakan pasti salah. Pokoknya, kalau dia marah, jangan dibantah. Memang nasib lelaki itu selalu salah di mata perempuan.”

Kenan meringis sambil menggeleng cepat. Ekspresi memelas itu membuat sudut bibir Shafa terangkat. Hampir saja ia tertawa lepas.

Kenan memang jarang menanggapi kemarahanku dengan serius. Anehnya, justru dari sikap santainya aku belajar bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan emosi.

“Kalem we atuh, da hirup mah ukur neangan piamaleun, lain pikasebeleun.” Santai saja. Hidup ini untuk mencari amal kebaikan, bukan mengumpulkan kejengkelan.

Kalimat itu selalu diucapkannya setiap kali aku mulai kehilangan kendali.

“Nah, begitu.” Kenan tersenyum puas.

“Tertawalah kalau memang ingin tertawa. Menangislah kalau memang ingin menangis. Karena sekuat apa pun kamu menyembunyikannya, matamu tidak pernah bisa berbohong.”

Ia kemudian menepuk bahunya sendiri. “Sini, bersandar! Biar aku ceritakan sebuah dongeng.”

“Tidak mau.”

Shafa langsung mengangkat kedua tangannya ke arah leher Kenan. “Kalau kamu mendekat, lebih mudah buatku mencekikmu.”

“Lakukan saja.” Bukannya mundur, Kenan justru memajukan kepalanya dengan wajah pasrah.

Shafa refleks menarik tangannya kembali. “Aku tidak mau menyakiti orang tanpa alasan. Nanti aku malah jadi lebih buruk dari sebelumnya.”

Kenan tersenyum tipis. Ia tahu Shafa sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Orang-orang mengenalnya sebagai gadis yang ceria, murah senyum, dan seolah tidak pernah memiliki beban. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Ia mudah menangis. Hanya saja, ia lebih memilih menyimpan semuanya sendirian.

“Itu tandanya kamu masih punya hati.” Kenan menatap lurus ke depan.

“Jangan terlalu berharap kepada manusia. Kalau berharap terlalu tinggi, yang paling banyak terluka ya kamu sendiri.”

Ia berhenti sejenak. “Memangnya dia merasakan apa yang sedang kamu rasakan sekarang? Tentu tidak. Saat seseorang sudah menemukan kehidupan yang membuatnya bahagia, tanpa sadar dia mulai melepaskan cerita-cerita yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya.”

Shafa menunduk. “Kamu benar.”

Suaranya terdengar lirih. “Aku termasuk orang yang merugi.”

Beberapa saat kemudian ia kembali bertanya. “Kenan... kenapa seseorang bisa menjadi begitu egois saat mengambil keputusan?”

Kenan tidak langsung menjawab. Pandangannya menerawang ke arah kolam ikan.

“Mungkin karena dia ingin mengubah hidupnya. Dia memiliki tujuan yang ingin dicapai, lalu menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Saat seseorang terlalu fokus mengejar apa yang ada di depan, sering kali dia tidak menyadari apa yang tertinggal di belakang.”

“Apakah dia tidak pernah berpikir kalau keputusannya bisa menyakiti orang lain?”

“Kalau yang dia cari adalah kebahagiaan, kemungkinan besar tidak.”

Kenan menarik napas panjang. “Dia sudah memahami risiko dari pilihannya dan percaya bahwa itulah jalan terbaik untuk dirinya.”

Ia menoleh kepada Shafa. “Apa pembicaraan ini ada hubungannya dengan Zian?”

“Tidak.” Jawaban Shafa terdengar terlalu cepat. “Memangnya apa pentingnya Zian saat ini?”

Tatapannya berubah tajam. Kenan menghela napas pelan.

“Maaf. Aku sengaja tidak mengajakmu menghadiri pernikahan Zian.”

“Aku hanya ingin menjaga perasaan kalian.”

Shafa mengembuskan napas panjang. “Aku benci orang yang menyimpan rahasia. Apalagi kalau itu menyangkut diriku.”

“Aku memang berniat memberitahumu.” Kenan menundukkan kepala sesaat.

“Hanya saja, aku ingin memastikan kamu sudah cukup tenang untuk mendengarnya. Tapi... dari mana kamu tahu kabar pernikahannya?” Ia kembali menatap Shafa.

“Dari Helen.” Raut wajah Shafa mulai melunak.

“Ternyata sahabat kita sudah mengakhiri masa lajang. Kalau begitu... bagaimana dengan kita?”

Kenan ikut tersenyum. Namun, sorot matanya berubah jauh lebih serius.

“Soal masa depan kita, bicarakan nanti saja. Kalau yang kamu inginkan adalah menikah dalam waktu dekat, sejujurnya aku belum siap.”

Shafa mengangkat sebelah alisnya. “Berarti kita harus antre?”

Kenan tertawa kecil. “Kalau memang harus antre, semoga kamu tidak bosan menunggu.”

Shafa akhirnya ikut tertawa. Untuk pertama kalinya sejak pagi, beban di dadanya terasa sedikit berkurang.


Zian bukan lelaki yang pandai mengungkapkan perasaannya. Ia pendiam, bahkan sering dianggap cuek oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, aku mengenalnya lebih dari siapa pun.

Di balik wajahnya yang tenang, ia menyimpan begitu banyak beban dan memilih memikul semuanya sendirian.    

Bertahun-tahun kami tumbuh sebagai sahabat yang saling menguatkan. Entah sejak kapan, kedekatan itu berubah menjadi perasaan yang tak pernah benar-benar kami ucapkan.

Aku selalu percaya ia akan kembali, sebagaimana keyakinanku setiap kali kami dipisahkan oleh keadaan. Sayangnya, keyakinan itulah yang justru melahirkan luka paling dalam. Ia memang kembali. Namun, bukan untuk menggenggam tanganku.

Ia kembali hanya untuk mengajarkanku bahwa tidak semua yang kita perjuangkan ditakdirkan untuk kita miliki.

***

Jika kamu mampu merasakan apa yang sedang dirasakan seseorang, berarti kamu adalah orang yang istimewa. Sebab aku sendiri tidak tahu harus menyikapi semua ini dengan cara seperti apa.

Haruskah aku menangis? Atau berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi? Aku memilih pilihan yang kedua. Bukan karena aku kuat, melainkan karena aku terlalu terbiasa menyembunyikan luka. Orang-orang melihatku tetap tersenyum, tetap bercanda, dan tetap menjalani hari seperti biasa. Padahal, di dalam hati ada bagian yang perlahan runtuh.

Ternyata, aku bukan perempuan yang pandai bertahan. Aku hanya perempuan yang pandai berpura-pura baik-baik saja.


“Lihatlah.” Kenan memecah keheningan. “Pasangan yang serasi, bukan?”

Tatapan Shafa mengikuti arah pandang Kenan menuju bangunan berkaca lebar di seberang jalan. Di balik dinding transparan itu, sepasang kekasih tampak menikmati makan malam sambil sesekali saling melempar senyum.

“Mereka sejak kapan di sana?”

“Mungkin setengah jam yang lalu. Waktu kita masih di toko buku.” Kenan melirik arus kendaraan yang mulai lengang. “Ayo, kita menyeberang.”

Shafa tidak bergerak. Kakinya seolah tertanam di tempat.

“Aku tunggu di sini saja.” Ia memilih berdiri di dekat halte.

Kenan mengembuskan napas pelan. “Aku tidak mau ke parkiran kafe sendirian. Nanti tukang parkir bertanya, 'Kamana gandenganna, Kang?'

“Bilang saja ketinggalan.” Jawaban Shafa datar tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.

Kenan terkekeh. “Kalau begitu, sembunyikan saja wajahmu. Kalau ada yang menatapmu, biar aku yang menghadang.”

Ia langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada dan berdiri tegak seperti petugas keamanan. “Anggap saja aku bodyguard.”

Tingkah konyol itu akhirnya membuat sudut bibir Shafa terangkat.

“Apa perlu sampai begitu?”

“Itu pilihanmu.” Kenan kembali berdiri santai. “Tapi coba jawab satu pertanyaan.”

Ia menatap Shafa lekat-lekat. “Apa bersembunyi membuatmu merasa lebih aman?”

Shafa terdiam. Dadanya kembali terasa sesak. “Tidak.”

“Kalau begitu...” Suara Kenan terdengar jauh lebih lembut. “Berjalanlah seperti biasa. Jangan biarkan rasa takut mengubahmu menjadi orang yang terus menghindar.”

Ia mengulurkan tangan. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya malam itu, Shafa melihat keseriusan yang selama ini tersembunyi di balik sifat usil sahabatnya.

“Apa karena aku melakukan kesalahan?” Suara Shafa hampir berbisik. “Makanya setiap melihatnya aku selalu merasa bersalah.”

Kenan menggeleng. “Bukan.”

“Lalu kenapa rasanya justru aku yang harus menghindar?”

“Apa perasaannya seperti saat kamu memutuskan Rizal?”

Shafa mendesah pelan. “Ini bukan waktu yang tepat membahas Rizal.”

“Kenapa tidak? Bukankah kalian baru sebulan berpacaran, lalu selesai begitu saja?”

Shafa tersenyum hambar. “Rizal memang pintar secara akademik. Tapi dia belum cukup dewasa memahami perasaan orang lain. Dia terlalu pencemburu. Terlalu ingin mengatur. Dari luar terlihat tenang, tetapi bersamanya aku selalu merasa diawasi.”

Kenan mengangguk kecil. “Berat juga.”

“Hubungan itu membuatku lelah, bukan merasa dihargai.”

“Lalu...” Kenan menoleh. “Bagaimana dengan Ilman?”

Entah mengapa, nama itu justru menghadirkan senyum tipis di wajah Shafa.

“Ilman berbeda.”

“Dalam hal apa?”

“Dia sabar.” Shafa tersenyum samar. “Sangat sabar. Dia mampu menghadapi sifatku yang manja, keras kepala, kurang peka, bahkan sering kali sulit mengungkapkan perasaan. Dia tetap bertahan sambil berharap suatu hari aku berubah.”

Tatapannya kembali tertuju pada bangunan di seberang jalan. Beberapa saat kemudian ia mengembuskan napas panjang.

“Tapi mungkin... setiap orang punya batas kesabaran. Tidak ada lelaki yang sanggup menunggu selamanya perempuan yang memilih diam seperti patung.”

Kenan mengangguk pelan. “Kalau begitu... Semua usaha Ilman sia-sia.”

Shafa langsung menoleh. “Maksudmu?”

“Sesabar apa pun Ilman, kalau kamu terus menutup hati, hasilnya tetap sama.”

Kenan menjentik pelan dahi Shafa. “Kalau tidak ingin kesalahan yang sama terulang, jangan hanya berharap bertemu orang yang tepat.”

Shafa mengusap dahinya sambil meringis. “Terus?”

“Belajarlah menjadi orang yang tepat bagi seseorang yang benar-benar ingin tinggal.”

Kalimat itu membuat Shafa terdiam cukup lama.

“Aku sadar.” Suaranya terdengar pelan. “Selama ini aku kurang menghargai semua kebaikan yang pernah Ilman berikan.”

Kenan mengangguk. Ia membiarkan keheningan mengambil alih beberapa saat.

“Menurutmu, kenapa bisa begitu?”

Shafa tidak langsung menjawab.

Kenan kembali menatapnya. “Apa karena selama ini hatimu terlalu dipenuhi seseorang?”

Pertanyaan itu sengaja ia lontarkan. Bukan untuk menyudutkan. Melainkan agar Shafa berani menghadapi kenyataan yang selama ini terus ia hindari. Sudut bibir Shafa terangkat tipis, meski matanya masih menyimpan kesedihan.

“Mungkin...” Ia menghela napas panjang. “Ada benarnya.”

Shafa berjalan beberapa langkah, lalu duduk di bangku halte. Tatapannya lurus ke jalan yang mulai lengang. Kenan ikut duduk di sampingnya.

“Berhentilah menutup diri.” Nada suara Kenan kini benar-benar serius.

“Kamu itu perempuan yang ceria. Suka bercerita. Suka mendengarkan orang lain. Dan selalu bisa membuat suasana menjadi hidup. Tapi sejak semua ini terjadi, kamu berubah. Diammu justru membuat orang-orang yang peduli kepadamu ikut merasa kehilangan.”

Shafa menoleh perlahan. “Maaf... Aku sudah membuatmu ikut memikirkan keadaanku.”

Kenan menggeleng pelan.

“Aku tidak keberatan mengkhawatirkanmu.” Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa dibuat-buat. “Tapi aku ingin tahu satu hal.”

Shafa menunggu.

“Apa Ilman menjadi korban karena kamu terlalu berharap pada seseorang? Apa luka itu yang akhirnya mengubah caramu memperlakukan orang lain?”

Tatapan Shafa langsung berubah. “Jangan libatkan Zian.”

Nada suara Shafa terdengar lebih tegas daripada sebelumnya. “Kami sudah menjalani hidup masing-masing.”

Kenan tidak langsung membalas. Ia hanya menatap lurus ke depan. “Kadang seseorang memang sudah pergi dari hidup kita.”

Ia berhenti sejenak. “Tapi bukan berarti dia sudah benar-benar pergi dari hati kita.”

Suasana kembali hening. Hanya suara kendaraan yang sesekali melintas memecah keheningan di antara mereka.

“Kamu memang pandai berbicara.” Shafa tersenyum tipis.

“Tapi memang begitu kenyataannya, bukan? Bukankah kamu juga pernah dengan mudah meninggalkan seseorang?” Kenan mengangkat kedua bahunya.

“Mungkin. Lumayan juga ya... nasibku. Kamu bersahabat dengan orang yang katanya jahat.” Shafa terkekeh pelan.

“Kalau suatu hari kamu benar-benar berubah menjadi orang jahat, aku akan jadi orang pertama yang mengingatkanmu.” Kenan tersenyum tipis.

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

“Shaf... Pernahkah kamu benar-benar menyukai seseorang?”

Shafa tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali lurus ke jalan yang mulai lengang.

“Pernah.”

“Siapa?”

“Ilman.” Nama itu keluar begitu pelan, tetapi terdengar jelas.

“Dia tidak pernah mengirim pesan yang membuatku gelisah. Sebaliknya, dia selalu mengirimkan semangat. Setiap kali menelepon, yang kudengar justru candaan yang membuatku tertawa. Saat mengajakku pergi, dia selalu bersikap sopan. Dia jarang mengucapkan kata rindu, tetapi diam-diam datang ke rumah tanpa perlu diundang. Dan ketika aku melakukan kesalahan, dia tidak memilih diam. Dia menegurku dengan cara yang baik.”

Shafa tersenyum kecil. “Aku bahkan suka melihat wajah juteknya saat sedang cemburu.”

Kenan mengembuskan napas panjang dengan dramatis.

“Jadi... pilihanmu cuma Ilman?”

Shafa mengangguk pelan.

“Bagaimana denganku?” Kenan menunjuk dirinya sendiri. “Apa aku tidak masuk daftar?”

“Kamu?” Shafa menatap Kenan dari ujung kepala hingga kaki. “Kamu sahabat terbaikku.”

Kenan menunggu kalimat berikutnya.

“Kalau ada perempuan yang menganggapmu jahat, mungkin itu mantan-mantanmu.”

“Wah... fitnah.” Kenan tertawa. “Perlu kamu tahu, aku memang playboy...”

Shafa langsung mendelik.

“...tapi playboy yang tidak pernah berniat menyakiti hati perempuan.”

Kenan memandang Shafa beberapa saat lebih lama dari biasanya. “Kalau suatu hari nanti aku berubah pikiran...”

Ia tersenyum kecil. “...dan memilih berhenti mencari perempuan lain?”

Shafa mengernyit. “Itu urusanmu.”

“Bisa saja yang kupilih orang yang sudah lama ada di dekatku.” Belum sempat Kenan melanjutkan, Shafa sudah lebih dulu memukul pahanya.

“Aduh!” Kenan meringis sambil mengusap pahanya. “Itu jawaban atau hukuman?”

“Keduanya.” Shafa tersenyum tipis. “Aku menolak kemungkinan apa pun yang sedang kamu pikirkan.”

Kenan tertawa kecil. “Berarti aku harus mencari cara lain supaya kamu berubah pikiran.”

Ia mengembuskan napas pelan, lalu bersandar pada bangku halte.

“Shafa... Menurutku, pacaran justru membuat seseorang memiliki lebih banyak pikiran.”

Shafa menoleh.

“Aku sudah dua kali mengakhiri hubungan dengan Hany. Setiap kali kembali, aku berharap hubungan kami berubah menjadi lebih baik. Ternyata, yang berubah hanya harapan.”

“Lalu sekarang?”

“Aku menjadi lelaki lajang.” Jawaban itu terdengar ringan, tetapi menyimpan kelelahan yang tidak biasa.

Shafa mengalihkan pandangan ke arah kafe di seberang jalan.

“Lihat. Pacar Ilman cantik.”

Kenan ikut menoleh. “Menurutmu dia tipe perempuan yang akan aku incar?”

Senyum jahil kembali muncul di wajahnya. “Kalau aku mengincarnya...” Ia melanjutkan dengan nada bercanda. “...nanti kamu balikan sama Ilman.”

“Lalu?”

“Kamu tidak punya waktu lagi untukku. Tidak akan kubiarkan.”

Shafa menggeleng pelan sambil menahan tawa. “Seenaknya saja mengatur hidup orang.”

Ia menepuk pelan pundak Kenan. “Tenang saja. Selama kita sama-sama masih lajang, aku akan tetap meluangkan waktu untuk menemanimu.”

Mata Kenan berbinar sesaat. “Kalau begitu...” Ia tersenyum. “...jangan cepat-cepat menikah.”

Shafa terkekeh. “Jangan terlalu berharap. Aku cuma sedang mengisi waktu luang.”

Kenan menundukkan kepala sambil tertawa pelan. “Tidak bisakah sekali saja kamu merangkai kalimat yang lebih manis?”

Shafa memandang sahabatnya beberapa saat. “Terima kasih.”

Kenan mengangkat kepala.

“Karena kamu sudah menjadi sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Kamu berhasil menarikku keluar dari masa lalu yang selama ini mengurungku. Rasanya seperti terlepas dari ikatan yang selama ini membelenggu.”

Senyum Kenan akhirnya mengembang. “Syukurlah. Berarti kamu sudah berhenti menjadi arwah penasaran.”

“Hus...” Shafa memukul pelan lengannya. “Nanti benar-benar diikuti arwah.”

Tawa mereka pecah bersamaan.


Sore itu terasa hangat. Dari balik jendela kafe, Ilman memperhatikan Shafa dan Kenan berjalan menuju parkiran. Tangannya sempat terangkat, ingin menyapa.

Namun, melihat senyum yang terukir di wajah Shafa saat bersama Kenan, perlahan ia mengurungkan niat. Barangkali, ada kebahagiaan yang tidak lagi membutuhkan kehadirannya.

Ilman menurunkan tangannya. Lalu tersenyum tipis, sebelum akhirnya memilih melangkah pergi.

***

Shafa duduk bersandar di sofa ruang keluarga sambil menikmati acara televisi. Sebungkus keripik di pangkuannya tinggal menyisakan remah-remah.

Saat suapan terakhir masuk ke mulut, ponselnya bergetar. Nomor yang muncul tidak dikenalnya.

“Halo?”

“Halo, Shafa.” Suara perempuan di seberang terdengar ramah.

“Maaf, aku sedang berbicara dengan siapa?”

“Jangan terlalu formal. Kita seumuran, kok.” 

Shafa mengernyit. Ia berusaha mengingat suara itu, tetapi terasa asing. “Baik. Tapi aku tetap ingin tahu, ini siapa?”

Perempuan itu terkekeh pelan. “Apa harus kuberitahu sekarang?”

Shafa mengembuskan napas pendek. “Tentu saja. Aku tidak terlalu suka menebak-nebak.”

“Oke.” Perempuan itu akhirnya menyerah.

“Namaku Ajeng. Aku bekerja di Apotek Cemerlang.”

Shafa masih mencoba menghubungkan nama itu dengan seseorang yang pernah dikenalnya.

“Kita juga satu universitas. Hanya saja fakultas kita berbeda, jadi mungkin kita belum pernah bertemu.”

“Oh...” Shafa mulai mengingat samar-samar nama tersebut. “Ada keperluan apa sampai meneleponku?”

Pertanyaan itu keluar tanpa basa-basi. Dalam benaknya, jangan-jangan ini hanya telepon promosi atau salah sambung.

Ajeng justru tertawa kecil. “Kamu memang tidak suka berbasa-basi, ya?”

“Menurutku lebih baik langsung ke tujuan. Lagipula, kamu sudah tahu siapa aku. Sekarang tinggal jelaskan kenapa menghubungiku.”

“Baiklah.” Nada suara Ajeng berubah lebih serius.

“Apa kamu mengenal Zian?”

Jantung Shafa berdegup lebih cepat.

“Kenal.” Jawabannya singkat, nyaris berbisik.

“Maaf karena meneleponmu secara tiba-tiba.” Ajeng menarik napas pelan.

“Aku Ajeng... istrinya Zian.”

Shafa membeku. Jemarinya mencengkeram ponsel semakin erat. Selama beberapa detik ia kehilangan kemampuan untuk merangkai kata. Ada dorongan untuk mengakhiri panggilan saat itu juga, tetapi ia menahannya.

“Aku ingin mengenalmu lebih dekat.” Ajeng tetap berbicara dengan nada tenang.

“Aku sempat melihat beberapa pesanmu di ponsel suamiku. Zian juga pernah bercerita kalau kalian berteman.”

Shafa menelan ludah. “Iya... anggap saja begitu.”  Suaranya terdengar datar. “Memangnya kenapa?”

“Dari isi pesan kalian, aku merasa hubunganmu dengan suamiku cukup dekat.”

Shafa tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip usaha menyembunyikan luka.

“Tidak ada yang salah, kan? Kami hanya sahabat.”

“Iya, aku mengerti.”

Ajeng tidak terdengar sedang menyelidik ataupun menuduh. “Hanya ada satu pesan yang membuatku penasaran.”

“Apa itu?”

“Kenapa kamu sempat marah kepada suamiku?”

Shafa memejamkan mata sejenak. “Hanya itu?”

“Iya.”

Shafa menarik napas panjang. “Aku kecewa karena dia tidak mengundangku ke pernikahan kalian.”

Kalimat itu keluar lebih tenang daripada yang ia bayangkan. Namun, dadanya perlahan terasa sesak. Seharusnya telepon ini kuakhiri sekarang juga. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan.

Kenapa kamu hadir dalam hidupnya? Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya berada di posisiku? Mengapa kamu menghubungiku hanya untuk membahas hal seperti ini? Bukankah sekarang kamulah istrinya, sedangkan aku hanya bagian dari masa lalu yang seharusnya sudah selesai?

Namun, semua pertanyaan itu hanya berputar di dalam kepalaku. Untuk apa? Ajeng tidak merebut siapa pun dariku. Ia hanya mencintai lelaki yang kini telah memilih jalan hidupnya sendiri.

Mungkin yang keliru bukan kehadirannya. Melainkan harapanku yang terlalu lama menetap pada seseorang yang sudah melangkah pergi.

Istrinya.

Satu kata itu terasa begitu berat. Sedangkan aku... Mungkin hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah tidak perlu diingat lagi.

Ah... Terlalu dramatis. Tidak semua yang kita rencanakan akan menjadi takdir. Barangkali memang Ajeng adalah jodoh yang telah Allah tetapkan untuk Zian. Dan tugasku hanyalah belajar menerima kenyataan itu.

“Atas nama suamiku, aku minta maaf.” Suara Ajeng terdengar tulus.

“Boleh aku tahu bagaimana awalnya kamu berteman dengan Zian?”

Shafa menarik napas pelan. “Aku, Zian, dan Kenan berada di kelas yang sama selama tiga tahun.”

“Berarti kalian dekat sekali?”

Shafa tersenyum kecil. “Mereka berdua jahil, usil, dan sering membuat masalah. Aku yang paling sering memarahi mereka. Anehnya, semakin sering bertengkar, kami justru semakin akrab.”

Ajeng tertawa pelan.

“Setiap guru membagi kelompok belajar, kami hampir selalu berada dalam kelompok yang sama. Lama-kelamaan rasanya ada yang kurang kalau salah satu tidak hadir.”

“Kalian seperti sahabat sejak lahir.”

“Iya.”

Shafa ikut tersenyum mengenang masa-masa itu. “Kami menyebut diri kami Tiga Serangkai.”

“Wah, keren.”

“Bukan pejuang kemerdekaan.” Shafa terkekeh. “Kami lebih cocok disebut pejuang kabur dari sekolah demi bakso gratis Mang Kamil.”

Ajeng langsung tertawa. “Serius?”

“Iya. Warung Mang Kamil suka membagikan bakso gratis setiap hari Jumat. Masalahnya, jadwalnya bersamaan dengan kegiatan pramuka.”

“Jadi kalian memilih...”

“Isi perut.”

Mereka tertawa bersamaan.

“Tapi jangan ditiru.”

“Oke, Bu Guru.”

Suasana yang semula canggung perlahan mencair. Ajeng kembali membuka percakapan.

“Kamu mirip sekali dengan Kenan.”

“Dalam hal apa?”

“Sama-sama ceria. Sama-sama suka bercanda.”

Shafa hanya tersenyum tipis.

“Apa kalian berpacaran?”

“Tidak.” Jawaban Shafa meluncur begitu cepat hingga hampir terdengar seperti refleks.

Ajeng kembali tertawa. “Berarti dugaanku salah.”

“Maksudnya?”

“Aku mau membocorkan satu rahasia.”

Shafa mulai penasaran. “Rahasia apa?”

“Di ponsel Zian ternyata banyak sekali foto kamu bersama Kenan.”

Shafa mengernyit. “Foto aku dan Kenan?”

“Iya. Makanya aku mengira kalian pasangan. Kalian terlihat serasi sekali. Apalagi setiap kali difoto, senyummu manis sekali.”

Shafa terdiam. Ia bahkan tidak tahu foto-foto itu masih tersimpan di ponsel Zian.

“Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu langsung.” Nada suara Ajeng tetap terdengar hangat.

Shafa tidak segera menjawab.

“Baiklah... Sampai jumpa, Shafa.”

Sambungan telepon pun terputus. Shafa masih memandangi layar ponselnya yang telah gelap. Yang terus terngiang di kepalanya bukanlah permintaan maaf Ajeng.

Melainkan satu kalimat sederhana. “Di ponsel Zian ternyata banyak sekali foto kamu bersama Kenan.”

***

Shafa duduk di lantai kamar sambil bersandar pada sisi ranjang. Televisi menyala menayangkan film horor, sementara bungkus makanan ringan berserakan di sampingnya. Meski layar televisi dipenuhi adegan menegangkan, pikirannya sama sekali tidak berada di sana.

Pintu kamar terbuka tanpa diketuk. Mila langsung masuk, lalu menjatuhkan diri di samping Shafa.

“Tadi Luna bilang kamu sedang hibernasi.” Mila memperhatikan wajah sahabatnya beberapa saat. “Sekarang aku percaya.”

Shafa tersenyum tipis. “Iya. Lagi malas ke mana-mana. Kemarin jadi nonton?”

“Tidak.” Mila menggeleng. “Rasanya aneh kalau nonton tanpa kamu.”

Sambil tersenyum jahil, ia langsung merangkul bahu Shafa. Refleks, Shafa mendorongnya menjauh.

“Jangan ganggu. Nanti kena omel.”

“Kalau marah terus, nanti cepat tua.”

“Kamu datang buat menghibur atau bikin emosi?”

“Dua-duanya.”

Mereka sama-sama tertawa. Namun, tawa itu segera menghilang ketika Shafa menarik napas panjang.

“Mil... Kemarin aku ditelepon istri Zian.”

Senyum Mila langsung lenyap. “Istrinya?”

Shafa mengangguk pelan.

“Ada urusan apa dia menghubungimu?”

“Dia membahas pesan terakhirku yang masih ada di ponsel Zian.”

Mila mengernyit. “Lalu?”

Tatapan Shafa perlahan kosong. Pikirannya kembali pada malam yang hingga kini masih melekat jelas di ingatannya.


Malam Minggu biasanya menjadi hari yang paling dinanti banyak orang. Jalanan ramai. Kafe dipenuhi pasangan. Media sosial penuh dengan foto kebersamaan. Bagiku, malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya.

Sejak sore aku memilih mengurung diri di kamar, duduk di depan komputer, berusaha mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak ingin kuingat.

“Shafa, ada tamu.” Suara Ibu terdengar dari luar kamar.

“Siapa, Bu?”

“Lihat saja sendiri. Gadis cantik itu sudah Ibu persilakan duduk di ruang tamu.”

“Iya, Bu.”

Aku merapikan rambut sekadarnya sebelum keluar dari kamar. Begitu memasuki ruang tamu, senyumku langsung mengembang.

“Helen.”

“Teteh!” Helen segera berdiri dan memelukku erat.

“Apa kabar?”

“Alhamdulillah, baik.”

Aku memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki. “Sekarang jadi pangling.”

Helen tertawa lepas. “Aku juga maunya badanku seperti model. Sayangnya yang didapat malah badan tipe emak-emak.”

Ia menepuk pelan perutnya sendiri. Aku langsung tertawa.

“Kamu tetap cantik.”

Helen kemudian menyipitkan mata sambil tersenyum jahil. “Teteh sudah punya pacar?”

“Belum.”

“Jangan bilang masih sama Kenan.”

Aku menggeleng. “Kami tidak pernah menjadi pasangan. Kami tetap sahabat.”

“Hmm...” Helen tampak berpikir beberapa saat. “Kalau begitu, bagaimana kalau aku mengenalkan seseorang?”

“Jangan repot-repot. Aku masih ingin sendiri.”

Helen justru menggeleng mantap. “Aku tidak percaya. Kalau Teteh melihat orang ini, aku yakin pendapat Teteh akan berubah.”

Jantungku tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat. “Siapa?”

“Aku datang ke sini tidak sendirian.”

Helen menunjuk ke arah halaman. “Kami bertemu di rumah sakit. Waktu aku bilang mengenal Teh Shafa, dia langsung ingin ikut menemuimu.”

“Siapa dia?”

Entah mengapa telapak tanganku mulai berkeringat. Tanpa banyak bicara, Helen mengajakku keluar rumah. Langkahku terasa semakin pelan ketika mendekati gerbang.

Di samping sebuah motor, seorang lelaki berdiri membelakangi kami. Angin malam mengusap pelan ujung bajunya. Saat mendengar langkah kaki, ia perlahan berbalik.

Waktu seolah berhenti. Senyumnya... Masih sama. Tatapannya... Masih setenang yang kuingat. Dadaku mendadak sesak.

Ada dorongan untuk berlari dan memeluknya. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan. Ke mana saja kamu selama ini? Kenapa baru kembali sekarang? Apa kamu pernah mengingatku?

Namun, tubuhku justru membeku. Bibirku bergerak pelan.

“Zian...”

Senyumnya semakin lebar. “Kamu masih ingat padaku?”

Kalimat pertama yang ia ucapkan... Setelah tujuh tahun menghilang.


“Apa yang kalian lakukan setelah itu?” Suara Mila membuyarkan lamunan.

“Kami hanya mengobrol tentang masa lalu. Dia bercerita tentang keputusannya pindah ke luar kota dan mencari pekerjaan di sana.”

Mila memperhatikan wajah Shafa. “Selama kalian berpisah... Menurutmu dia pernah mengingatmu? Seperti kamu yang selalu mengingatnya?”

Shafa tersenyum kecil. Lalu menggeleng. “Aku tidak tahu.”

Shafa menarik napas pelan. “Yang aku tahu... Melihatnya lagi saja sudah cukup membuatku bahagia. Rasanya jantungku seperti mau lepas. Senyumnya masih sama. Tatapannya tetap setajam dulu.”

Shafa tertawa pelan. “Kalau kupikir-pikir, mungkin saat itu aku memang sedang tidak waras.”

Mila ikut tertawa. “Cinta memang kadang membuat orang kehilangan logika.”

Keheningan kembali menyelimuti kamar.

“Aku selalu merasa...” Mila membuka suara pelan. “Zian itu seperti menyimpan sesuatu. Wajahnya tenang. Tapi matanya seolah membawa banyak cerita yang tidak pernah dia ucapkan.”

Shafa mengangguk. “Iya. Dia memang sulit ditebak. Semakin lama mengenalnya, semakin aku sadar kalau dia lebih sering menyimpan semuanya sendirian. Aku selalu berharap hubungan kami akan baik-baik saja. Bukankah kamu tahu sendiri? Kami sama-sama sedang berjuang menata masa depan.”

Mila mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Ia terdiam sejenak sebelum kembali bertanya. “Lalu... Kenapa dia akhirnya memutuskan keluar dari asrama?”

Pertanyaan itu membuat Shafa kembali mengingat hari yang paling ingin ia lupakan.

Hari ketika semuanya mulai berubah.


Suara motor berhenti tepat di depan rumah kos. Zian turun perlahan sambil melepaskan helm. Shafa membeku. Wajah lelaki itu dipenuhi lebam. Pelipisnya memar, sudut bibirnya pecah, sementara mata kirinya membengkak hingga sulit terbuka.

“Ya Allah...” Shafa refleks berlari menghampiri. “Kenapa wajahmu seperti ini? Apa yang terjadi?” Tanpa sadar, jemarinya menyentuh pelan luka di pelipis Zian.

Zian meringis. “Sakit?”

Pertanyaan itu keluar hampir tanpa suara. Mereka duduk di teras kos. Tatapan Shafa tidak pernah lepas dari wajah Zian. Seolah ia sedang memastikan tidak ada luka lain yang luput dari pandangannya.

“Tenang saja.” Zian memaksakan senyum. “Cuma luka kecil. Dikompres, dikasih obat, nanti juga sembuh. Tadi aku sudah beli obat di apotek. Sekalian mampir ke sini.”

Shafa menggeleng pelan. “Ada luka lain selain yang bisa kulihat?”

“Tidak ada.”

Zian terkekeh pelan. “Jangan memasang wajah sekhawatir itu. Kamu melihatku seperti orang yang sudah mau mati.”

Shafa tidak ikut tersenyum. “Kalau memang bukan apa-apa...”

Tatapannya menembus mata Zian. “Kenapa matamu menyimpan rasa sakit yang lebih besar daripada luka di wajahmu?”

Zian terdiam.

“Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Kamu pulang dengan keadaan seperti ini.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Beberapa detik kemudian Zian tersenyum tipis.

“Anggap saja ini hadiah dari senior.”

Shafa tetap memandangnya tanpa berkedip. “Ada apa sebenarnya? Bukankah belum waktunya kamu pulang?”

Zian memalingkan wajah. “Aku pulang karena merindukanmu.”

Kalimat itu terdengar ringan. Namun, Shafa mengenalnya terlalu baik. Senyumnya masih sama. Tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak sanggup ia ceritakan.

“Aku serius, Zian.” Nada suara Shafa mulai meninggi. “Kalau kamu meninggalkan asrama tanpa izin, kamu bisa mendapat masalah.”

“Aku sudah mendapat hukumannya.” Zian menunjuk pelipisnya yang lebam sambil tersenyum hambar.

“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Shafa menatapnya lekat-lekat. “Ceritakan yang sebenarnya.”

Zian mengembuskan napas panjang. “Shafa...”

Ia berhenti cukup lama. Seolah sedang mengumpulkan keberanian.

“Aku memutuskan keluar dari asrama.”

Shafa membeku. “Kenapa?”

“Aku sudah tidak betah.” Zian menundukkan kepala.

Ia mengambil sebutir kerikil, memainkannya sesaat, lalu melemparkannya ke depan.

“Aku melakukan terlalu banyak kesalahan. Semangatku sudah habis.”

Shafa menggeleng pelan. “Kamu pasti bisa melewati semua ini.”

Suaranya mulai bergetar. “Kamu selalu bilang ingin membuktikan kalau kamu mampu. Bukankah itu alasanmu bertahan sejauh ini?”

Ia menatap Zian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Percayalah pada dirimu sendiri. Tunjukkan kalau Zian adalah orang yang disiplin. Berani. Dan tidak mudah menyerah.”

Zian tersenyum pahit. “Masalahnya bukan cuma itu.”

Tatapannya mengarah ke langit yang mulai menggelap. “Aku lelah, Shaf.” Lelah menghadapi semuanya.”

Kalimat itu diucapkannya begitu pelan hingga nyaris terbawa angin.

“Mungkin...” Ia menarik napas panjang. “...aku memang tidak cocok hidup di tempat yang penuh tekanan.”

Shafa mengepalkan kedua tangannya. “Jangan menyerah hanya karena keadaan sedang sulit.”

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Lari dari masalah tidak akan menyelesaikan apa pun.” Setelah kalimat itu terucap, Shafa melihat Zian hanya diam.

Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena ia benar-benar telah kehabisan tenaga untuk menjelaskan apa yang sedang ia rasakan.

“Apa perlu kuulang lagi?” Nada suara Zian berubah lebih tegas. “Keputusanku untuk keluar sudah bulat.”

Shafa menatapnya tidak percaya. “Jadi kamu menyerah begitu saja? Setelah semua tenaga, waktu, dan pengorbanan yang sudah kamu berikan?”

“Silakan kalau kamu mau marah.” Zian menundukkan wajah. “Aku sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.”

“Lelah bukan alasan untuk menyerah!” Air mata Shafa akhirnya jatuh. “Kamu lupa sudah berapa kali gagal sebelum akhirnya diterima di sana? Kamu pernah menangis. Pernah terluka. Kehabisan tenaga. Bahkan hampir putus asa. Tapi setiap kali jatuh, kamu selalu bangkit lagi.”

Nada suaranya semakin bergetar. “Aku bangga karena kamu tidak pernah menyerah. Lalu sekarang... Kenapa kamu justru melepaskan semuanya begitu saja?”

Zian memejamkan mata. Rahangnya mengeras.

“Oke. Kalau menurutmu aku salah... Anggap saja begitu.”

Ia perlahan berdiri. “Kalau kamu tidak bisa menerima keadaanku, kamu juga tidak perlu bertahan di sisiku.”

Kalimat itu menghantam dada Shafa lebih keras daripada apa pun.

“Dengan mudah kamu mengambil keputusan.” Suaranya nyaris patah. “Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.”

Shafa segera menggenggam lengan Zian. “Aku takut kehilangan kamu.”

Untuk pertama kalinya sore itu, ia mengucapkan ketakutannya dengan jujur. Zian menoleh. Namun, ia tidak sanggup menatap mata Shafa.

“Aku mohon...” Genggaman Shafa semakin erat. “Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa pun masalahnya. Kita cari jalan keluarnya bersama.”

Zian terdiam cukup lama.

“Aku tahu kamu kecewa.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Tapi percayalah. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya.”

Hanya itu. Tidak ada penjelasan lain. Zian perlahan melepaskan genggaman tangan Shafa.

Ia mengenakan helm. Menyalakan mesin motor.

“Zian!” Shafa memanggil.

Namun, lelaki itu tidak menoleh. Motor melaju meninggalkan halaman kos. Semakin jauh. Semakin kecil. Hingga akhirnya menghilang di ujung jalan.

Shafa tetap berdiri di tempat. Ketika suara mesin motor itu benar-benar lenyap, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dihentikan.

Saat itu ia belum tahu... Bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi percakapan terakhir mereka sebagai dua orang yang masih saling menggenggam harapan.


Shafa mengusap sudut matanya sebelum kembali melanjutkan cerita.

“Aku terlalu menyalahkannya.” Suaranya dipenuhi penyesalan. “Padahal sekarang aku sadar. Mungkin saat itu dia sedang berada di titik paling tertekan dalam hidupnya. Aku terlalu sibuk memintanya menjelaskan. Padahal yang paling dia butuhkan mungkin hanya seseorang yang mau mendengarkan.”

Mila menggenggam tangan sahabatnya. “Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, Shaf. Kalian sama-sama terluka. Aku melihat perjuangan Zian sejak awal. Wajar kalau kamu kecewa ketika dia memutuskan berhenti. Dan mungkin...”

Ia berhenti sejenak. “...Zian juga hanya ingin dimengerti karena dia sudah tidak sanggup lagi.”

Shafa mengangguk pelan. “Kamu benar. Sejak hari itu hubungan kami berubah. Meski sesekali masih ada yang berusaha mencairkan suasana, rasanya tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.”

Tatapannya kembali kosong menembus layar televisi yang masih menyala.

“Lalu aku berangkat KKN. Hampir satu bulan kami tidak berkomunikasi.” Ia menarik napas panjang. “Seminggu setelah aku pulang...”

Kalimatnya menggantung. Seolah ia masih membutuhkan keberanian untuk mengucapkannya.

“...aku mendengar kabar kalau Zian sudah menikah.”

Mata Mila membelalak.

“Dia juga mengirim satu pesan.” Shafa masih mengingat setiap katanya. Seolah baru saja membacanya beberapa menit yang lalu.

Jangan ganggu aku lagi. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa.

“Aku menelepon berkali-kali. Tidak pernah diangkat. Sejak saat itu aku sadar, yang benar-benar pergi bukan hanya Zian. Tetapi juga semua harapan yang selama ini kujaga sendirian.”

Keheningan memenuhi kamar.

“Pertemuan yang selama ini kamu tunggu akhirnya benar-benar terjadi.” Mila memandang Shafa dengan lembut. “Tapi justru berakhir dengan kesedihan. Kamu menyesal pernah bertemu Zian lagi?”

Shafa menggeleng. “Tidak. Aku percaya setiap pertemuan sudah Allah tetapkan. Begitu juga setiap perpisahan. Mungkin memang aku harus bertemu dengannya lagi supaya benar-benar belajar mengikhlaskan.” Senyumnya tipis. Namun kali ini jauh lebih tenang.

Mila ikut tersenyum. “Berarti sekarang kamu sudah siap membuka lembaran baru?”

Shafa menatap langit-langit kamar. “Aku tidak tahu kapan waktunya. Tapi aku percaya... Allah akan mempertemukanku dengan seseorang yang mampu mencintaiku. Dan semoga saat itu aku juga mampu mencintainya dengan cara yang benar.”

“Nah...” Mila tersenyum lega. “Jawaban itu yang selama ini ingin kudengar.”

Shafa menoleh. “Maksudmu?”

Mila kembali menggenggam tangan sahabatnya. “Shaf, Kamu pernah merasakan rasanya menunggu seseorang. Pernah merasakan bingung karena tidak mendapat penjelasan. Pernah berharap begitu lama sampai akhirnya harus menerima kenyataan.”

Tatapannya begitu hangat. “Kalau suatu hari nanti ada seseorang yang datang dengan tulus. Jangan biarkan dia merasakan luka yang sama. Kalau memang tidak bisa membalas perasaannya, sampaikan dengan jujur. Jangan membuatnya hidup di dalam harapan yang sebenarnya tidak ada.”

Shafa menundukkan kepala. Mengembuskan napas panjang.

“Aku mengerti. Aku memang tidak pernah berniat menyakiti siapa pun. Tapi sekarang aku sadar. Kadang seseorang bisa terluka bukan karena kebencian. Melainkan karena harapan yang dibiarkan tumbuh.”

Mila mengangguk pelan. “Itu sebabnya... Jangan lupa melihat orang-orang yang selama ini memilih tetap tinggal.”

Shafa tersenyum kecil. “Mungkin.. Selama ini aku terlalu sibuk mengejar seseorang yang tidak bisa kumiliki. Sampai lupa, ada orang yang diam-diam memperjuangkanku.”

“Syukurlah.” Mila tersenyum hangat. “Akhirnya kamu menyadarinya.”

Shafa terkekeh kecil. “Siapa yang barusan memberi nasihat? Rasanya aku ingin memeluk orang itu.”

Ia merentangkan kedua tangannya. Tanpa ragu, Mila langsung memeluknya erat.

“Mulai hari ini...” bisik Mila pelan. “Jangan hanya belajar mencintai orang lain. Belajarlah juga menyayangi dirimu sendiri.”      

Shafa membalas pelukan sahabatnya. Senyum hangat perlahan kembali menghiasi wajahnya.

“Insyaallah.”

***

Shafa dan Ibu duduk di teras rumah. Sore itu angin bertiup pelan. Sesekali keduanya memandang ke arah jalan, seolah sedang menunggu seseorang datang.

“Bu...” Shafa membuka pembicaraan. “Aku ingin meminta pendapat Ibu.”

Ibu menoleh sambil tersenyum. “Tentu. Tentang apa?”

Shafa menarik napas pelan. “Misalnya ada seorang lelaki yang bertemu dengan perempuan yang sulit didekati. Perempuan itu tidak suka dipuji, menjaga jarak dengan laki-laki, dan sangat selektif membuka hati. Anehnya, sejak pertemuan pertama, lelaki itu tetap bertahan. Seolah ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin berpaling.”

Ibu tersenyum tipis. “Lalu?”

“Perempuan itu pernah gagal dalam urusan perasaan. Karena itu sekarang dia tidak ingin menjalani hubungan tanpa tujuan. Kalau suatu hari membuka hati lagi, dia ingin langsung menuju pernikahan.”

“Bagaimana dengan lelaki itu?”

“Itu masalahnya.” Tatapan Shafa beralih ke halaman rumah. “Lelaki itu selalu ada. Selalu memberi perhatian. Tapi setiap kali diminta kepastian, dia belum berani melangkah.”

Ibu mengangguk pelan. “Kalau memang serius, seharusnya dia mulai menyusun jalan menuju tujuan itu.”

“Kalau tidak?”

“Kalau memang tidak berniat menjadikan perempuan itu pendamping hidup, lebih baik jangan membuatnya terus menunggu.”

Shafa terdiam. “Iya. Perempuan itu sudah mengatakan dengan jelas bahwa yang dia cari bukan sekadar pacaran. Dia menginginkan seseorang yang datang dengan niat dan rencana yang jelas.”

Ibu menatap putrinya cukup lama. “Menurutmu... Benarkah perempuan itu sudah siap menjalani kehidupan setelah menikah?”

Pertanyaan itu membuat Shafa berpikir. “Kalau melihat prinsip hidupnya.. Menurutku sudah.”

“Apa yang membuatmu yakin?”

“Karena dia mengerti kalau menikah bukan hanya tentang kebahagiaan. Tapi juga tentang tanggung jawab. Tentang menerima kekurangan. Dan tentang bertahan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.”

Senyum Ibu mengembang. “Kalau begitu. Menurutmu apa yang membuat lelaki itu ragu?”

“Mungkin soal finansial.” Shafa mengembuskan napas pelan. “Banyak lelaki merasa harus benar-benar mapan sebelum menikah. Padahal ukuran mapan itu tidak pernah selesai. Selalu ada target baru yang ingin dikejar.”

Ibu mengangguk. “Itu memang sering terjadi.”

“Padahal...” Shafa melanjutkan pelan. “Ketika seorang perempuan berkata bahwa dia siap menjalani kehidupan bersama seseorang, biasanya dia juga sudah siap menghadapi segala konsekuensinya. Dia tidak sedang mencari hidup yang sempurna. Dia hanya ingin berjalan bersama orang yang sama-sama berjuang.”

Ibu menggenggam tangan putrinya. “Shafa... Tidak ada manusia yang benar-benar siap menjalani pernikahan. Kita semua belajar setelah menjalaninya. Yang paling penting bukan siapa yang paling mapan. Bukan pula siapa yang paling sempurna. Melainkan dua orang yang sama-sama mau bertumbuh. Mau saling belajar. Dan tetap memilih bertahan ketika ujian datang.”

Ia berhenti sejenak sebelum kembali berbicara. “Rezeki bisa dicari bersama. Rumah bisa dibangun bersama. Tapi keberanian untuk berkomitmen jangan sampai terus ditunda hanya karena mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.”

Shafa mengangguk perlahan. Entah mengapa, nasihat itu terasa seperti jawaban atas pertanyaan yang selama ini hanya berani ia simpan di dalam hati.

Ibu kembali menatap jalan di depan rumah.

“Hidup selalu meminta kita memilih. Berani melangkah... Atau terus bertahan di tempat yang terasa aman.”

Ia tersenyum lembut. “Dalam pernikahan nanti, yang akan diuji bukan hanya rasa cinta. Melainkan kesabaran. Kejujuran. Tanggung jawab. Dan kemauan untuk saling menguatkan. Karena itu, sebelum memutuskan hidup bersama... Teruslah memantaskan diri. Bukan agar terlihat sempurna. Tetapi agar mampu menjadi pasangan yang saling menenangkan.”

Shafa mengangguk. “Iya, Bu.”

Belum sempat percakapan berlanjut, suara klakson terdengar dari halaman. Tiiid... tiiid...

Shafa dan Ibu menoleh bersamaan.

“Itu pasti Kenan.” Shafa berdiri sambil merapikan hijabnya. “Bu, nanti kita lanjut lagi, ya.”

“Aku mau keluar sebentar sama Kenan. Sekalian beli makan.”

Ibu langsung tersenyum jahil. “Kalau begitu, belikan Ibu martabak manis, bakso sama es campur.”

Shafa tertawa. “Banyak sekali, Bu.”

“Namanya juga titip.”

“Nanti aku lihat dulu uangnya cukup atau tidak.”

“Kalau tidak cukup bagaimana?” Ibu tertawa.

“Ya berarti Ibu doakan supaya cukup.”

Mereka tertawa bersama.

“Apa pun yang jadi dibeli, Ibu tetap senang.”

Shafa memeluk Ibu sebentar sebelum berjalan keluar. Kenan sudah menunggu di samping motornya.

“Mari, Nona.”

Shafa memutar bola mata sambil tersenyum tipis.

“Ibu, kami berangkat dulu.”

“Hati-hati di jalan.”

“Iya, Bu.”

Kenan dan Shafa berpamitan. Motor itu perlahan meninggalkan halaman. Ibu tetap berdiri di teras, memperhatikan keduanya hingga menghilang di ujung pertigaan.

Senyum tipis masih tersisa di wajahnya. Di dalam hati, ia menengadahkan doa.

“Ya Allah... jika memang berjodoh, dekatkanlah dengan cara-Mu yang paling indah. Namun jika Engkau menetapkan jalan yang berbeda, jauhkanlah mereka dengan sebaik-baik perpisahan, tanpa menyisakan luka yang menghalangi mereka untuk kembali percaya kepada takdir-Mu.”

***

Shafa dan Kenan keluar dari gedung bioskop sambil masih memperdebatkan adegan terakhir film yang baru mereka tonton. Mereka menyeberang menuju taman di seberangnya, membeli dua es krim, lalu memilih duduk di kursi bundar dengan meja berbentuk jamur.

“Aku tetap tidak setuju sama ending-nya.”

Kenan menggigit es krimnya dengan wajah kesal. “Justru itu yang membuat ceritanya menarik.”

Shafa tersenyum tipis. “Menarik dari mana?”

“Tokoh utamanya mati.”

“Itu namanya bikin penonton emosi.” Shafa tertawa kecil.

“Berarti sutradaranya berhasil.”

Di tengah perdebatan mereka, terdengar suara seseorang menyapa.

“Halo.”

Shafa dan Kenan sama-sama mendongak. Seorang lelaki berdiri beberapa langkah di depan mereka.

“Apa kabar?”

Shafa tampak sedikit terkejut. “Baik.”

“Baik juga.” Kenan tersenyum ramah.

Ilman mengangguk pelan. “Boleh aku ikut duduk?”

“Tentu.” Kenan langsung menggeser kursinya.

Ilman menarik kursi di samping Shafa. “Lama sekali kita tidak bertemu.”

“Iya.” Shafa tersenyum sopan.

“Rasanya sudah bertahun-tahun.” Ilman memandang langit sore yang mulai berubah jingga.

“Langitnya bagus.”

“Semoga pertanda hari yang baik.” Shafa menjawab ringan.

“Mungkin...” Ilman menoleh. “...pertanda suasana hatimu juga sedang baik.”

Shafa hampir tersedak es krim. Kenan buru-buru menutup mulutnya agar tidak tertawa.

“Waduh...” Ia mengipas-ngipas wajahnya sendiri. “Cuacanya mendadak panas. Es krimku jadi cepat mencair.”

“Itu cuma perasaanmu.” Shafa menjawab datar.

Kenan langsung memasang wajah cemberut. “Sahabat macam apa kamu? Harusnya mendukung.”

Ilman ikut tersenyum melihat tingkah keduanya.

“Sekarang kerja di mana?” Pertanyaan itu ditujukan kepada Shafa.

Namun, Shafa justru balik bertanya. “Kamu sendiri bagaimana?”

“Masih di perusahaan yang dulu.” Ilman mengangguk. “Sesekali juga mulai mengurus usaha kecil.”

“Wah...” Shafa tersenyum tulus. “Selamat, ya. Masih sering berkumpul sama teman-teman kuliah?”

“Masih.” Ilman mengangguk. “Walaupun sekarang lebih sulit mencari waktu yang pas.”

“Lalu kamu?”

Tatapan Shafa sempat ragu. Sebelum sempat menjawab, Kenan langsung mengambil alih.

“Dia sekarang lebih sering bekerja di luar kota. Kalau sedang banyak pekerjaan, ponselnya seperti benda pajangan. Pesanku saja kadang baru dibalas beberapa hari kemudian.”

“Oh...” Ilman mengangguk pelan. “Berarti kita sama-sama sedang mengejar kesibukan masing-masing.”

Ia tidak bertanya lebih jauh. Meski begitu, sorot matanya masih menyimpan rasa ingin tahu.

Keheningan sesaat menyelimuti mereka. Tidak terasa canggung. Hanya terasa asing. Seolah waktu telah mengubah banyak hal, tetapi belum sepenuhnya menghapus kenangan yang pernah mereka bagi.

Kenan menghela napas panjang. “Waduh... Kalau begini terus aku bisa stres.”

Ilman menoleh. “Kenapa?”

“Rasanya seperti sedang ikut wawancara kerja.”

Shafa tertawa. “Memangnya siapa HRD-nya?”

“Kalian berdua.” Kenan menunjuk Shafa dan Ilman bergantian. “Pertanyaannya singkat. Jawabannya singkat. Ekspresinya serius. Lama-lama aku takut disuruh tes psikotes.”

Ilman tertawa kecil. “Maaf. Aku memang tidak terlalu pandai mencairkan suasana.”

“Tenang.” Kenan menepuk bahunya pelan. “Kalau aku ada di posisimu, mungkin juga bingung harus mulai dari mana.”

Suasana perlahan menjadi lebih santai.

“Oh iya.” Kenan kembali membuka pembicaraan. “Kamu sedang apa di sini?”

“Aku baru selesai bertemu rekan bisnis.”

“Wah...” Kenan mengangkat kedua alisnya. “Pebisnis sekarang.”

“Masih belajar.” Ilman tersenyum rendah hati. “Lalu kamu sendiri bagaimana, Kenan?”

“Tetap sama kerja di Bank Pemerintah.” Kenan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau terlalu banyak kerja, siapa yang nanti mengganggu hidup Shafa?”

“Hei.” Shafa langsung menyikut lengannya.

“Memangnya kamu tidak senang diganggu?”

“Tidak. Malah sangat merepotkan.”

Kenan berpura-pura terluka. “Astaga. Pengorbananku selama ini tidak dihargai.”

Shafa hanya menggeleng sambil menahan tawa. Ilman memperhatikan mereka berdua beberapa saat. Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Kalau ada waktu luang... Mainlah ke rumah.”

Kenan langsung menyambut antusias. “Boleh sekalian menginap?”

“Boleh.” Ilman tertawa. “Asal jangan bosan.”

“Nah...” Kenan mengangguk puas. “Itu jawaban yang kusuka.”

Ia lalu menatap Ilman beberapa detik. “Ngomong-ngomong... Kamu sudah punya pendamping?”

Ilman menggeleng pelan. “Belum.”

“Lho...” Kenan mengangkat kedua tangannya. “Sama.”

Ilman tertawa.

Shafa menatap keduanya bergantian, lalu tersenyum kecil. Shafa memandang kedua lelaki itu bergantian. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Dua orang yang pernah mengisi bagian berbeda dalam hidupnya kini mengobrol begitu akrab, sementara justru dirinya yang merasa seperti orang asing di antara mereka.

Entah karena waktu telah mengubah segalanya, atau karena ia baru menyadari bahwa setiap orang telah belajar melangkah dengan caranya masing-masing.

“Anak-anak tongkrongan sering menanyakanmu.” Ilman mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya, lalu menyerahkannya kepada Kenan.

“Kalau sedang libur kerja, kami biasanya berkumpul. Hubungi saja nomor yang ada di situ.”

Kenan menerima kartu itu sambil tersenyum. “Baiklah. Kalau ada waktu, aku pasti ikut meramaikan.”

“Aku tunggu.”

Kenan langsung menyahut antusias. “Yang penting siapkan makanan yang enak. Masakan ibumu masih nomor satu, kan?”

Ilman tertawa kecil. “Masih.”

“Beliau belum mencari calon menantu yang jago masak?”

“Ibu selalu bilang, yang dicari bukan perempuan yang paling pandai memasak, tetapi yang tahu cara menghargai orang lain dan menempatkan diri.”

Kenan mengangguk mantap sambil mengelus dada. “Syukurlah. Aku memenuhi syarat itu. Bonusnya, aku juga ahli menghibur.”

Mereka bertiga tertawa.

Beberapa saat kemudian suasana kembali tenang.

Ilman menoleh kepada Kenan. “Aku jadi bingung harus bicara apa sama Shafa.”

Kenan langsung membesarkan matanya. “Lho, pertanyaannya banyak.” Ia menghitung dengan jari. “Sudah punya pacar belum? Sudah menikah? Atau... jangan-jangan sudah punya anak?”

“Kenan!” Shafa langsung melotot.

“Apa? Aku cuma membantu.”

Ilman ikut tertawa. “Kalau aku bertanya begitu, rasanya terlalu basa-basi.”

“Nah, itu dia.” Kenan menunjuk ke arah Shafa. “Dia paling tidak suka pertanyaan yang jawabannya sudah bisa ditebak.”

Ilman mengangguk sambil tersenyum malu. “Benar juga.”

Kenan berdiri dari kursinya. “Kalau begitu, sepertinya kalian memang perlu mengobrol.”

Ia menunjuk arena skateboard yang berada tidak jauh dari taman. “Aku ke sana dulu. Kalau sudah selesai, panggil saja.”

Tanpa menunggu jawaban, Kenan berjalan menuju arena skateboard. Sengaja memberi ruang agar Shafa dan Ilman dapat berbicara tanpa merasa sungkan.         

Keheningan kembali hadir.

Ilman menggaruk pelan belakang kepalanya. “Maaf.”

Ia tersenyum canggung. “Aku memang tidak pandai memulai percakapan.”

Shafa memandangnya beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang. “Kenan benar.”

“Apa?”

“Kita memang harus bicara.” Suara Shafa mulai bergetar. “Aku ingin meminta maaf.”

Ilman mengangkat wajahnya.

“Dulu... aku bersikap tidak adil kepadamu.” Shafa menundukkan kepala. “Aku terlalu sibuk mengejar seseorang yang tidak bisa kumiliki, sampai tidak menyadari ada orang yang diam-diam memperjuangkanku.”

Kalimat itu akhirnya terucap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shafa berani mengakui kesalahannya.

Ilman tersenyum tipis. “Aku mengerti. Saat itu keadaanmu memang tidak mudah. Aku tidak pernah benar-benar menyalahkanmu.”

Shafa mengembuskan napas pelan. “Kalau mengingat hubungan kita, yang muncul justru penyesalan.”

Ilman menggeleng. “Aku tidak.”

Shafa menatapnya.

“Bagiku, setiap kenangan tetap punya tempatnya sendiri. Tidak semuanya harus dilupakan hanya karena akhirnya tidak sesuai harapan.”

Shafa tersenyum tipis. “Kalau begitu, simpan yang baik-baiknya saja. Yang buruk cukup dijadikan pelajaran.”

Ilman tertawa kecil. “Itu nasihat yang bagus. Tapi coba terapkan juga untuk dirimu sendiri.”

Shafa ikut tersenyum. “Kali ini aku kalah.”

Mereka sama-sama memandang langit sore yang mulai berubah jingga. Beberapa saat tidak ada yang berbicara.

“Shafa...”

“Hm?”

“Menurutmu, orang yang dipisahkan jarak masih bisa saling memahami tanpa banyak kata?”

Shafa berpikir sejenak. “Aku tidak tahu.”

Ilman kembali bertanya. “Kalau dipisahkan waktu? Apakah waktu membuat seseorang semakin setia atau justru saling melupakan?”

“Setia bukan soal dekat atau jauhnya jarak.” Shafa menjawab pelan. “Setia adalah soal tujuan. Selama dua orang masih berjalan ke arah yang sama, jarak bukan alasan untuk menyerah.”

Ilman mengangguk pelan. “Jawabanmu masih sama seperti dulu.”

Ia terdiam sesaat sebelum kembali bertanya. “Lalu... apa kamu masih takut kehilangan?”

Shafa menatap langit yang mulai memerah. “Aku rasa semua orang pasti takut. Tapi sekarang aku belajar menerima. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Perasaan manusia juga bisa berubah kapan saja.”

Ilman menarik napas panjang. “Aku tahu. Tapi ada satu hal yang tidak berubah.”

Shafa menoleh.

“Yang berubah hanya waktu. Perasaanku tidak.” Ia menatap Shafa dengan tenang. “Selama kita tidak bertemu, aku tetap menyukaimu.”

Shafa membisu. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

“Aku tidak ingin kamu menjawab sekarang. Aku hanya ingin kamu mengetahui isi hatiku.”

Shafa menundukkan kepala. “Jangan mengambil keputusan hanya karena kenangan.”

Ia kembali mengangkat wajahnya. “Kalau suatu hari nanti perasaanmu masih tetap sama. Datanglah ke rumahku. Temui Ayah dan Ibu. Lalu katakan sekali lagi apa yang baru saja kamu katakan kepadaku. Kalau saat itu hatimu masih tidak berubah, aku akan mendengarkan.”

Mata Ilman seketika berbinar. Belum sempat ia menjawab, terdengar langkah kaki mendekat.

“Wah...” Kenan mengusap dahinya yang berkeringat. “Sudah selesai sidang perdamaian?”

Shafa tersenyum. “Sudah.”

Kenan memandang mereka bergantian, lalu mengangguk puas. “Syukurlah. Aku tadi sengaja main skateboard lebih lama. Takut kalau kembali terlalu cepat, malah mengganggu adegan penting.”

Shafa langsung memukul pelan lengannya. “Kamu memang tidak pernah bisa serius.”

Kenan terkekeh. “Kalau aku serius terus, nanti siapa yang menghibur kalian?”

Ilman ikut tertawa.

Suasana kembali hangat. Matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kota. Senja itu bukan hanya menutup hari, tetapi juga menutup lembaran lama yang akhirnya berhasil mereka selesaikan dengan hati yang lebih lapang.

Kenan mengusap dahinya yang masih berkeringat. “Aku tadi hampir diajak tanding skateboard sama anak-anak.” Ia terkekeh kecil. “Serius, ternyata seru juga. Cuma... aku baru sadar kalau umur memang tidak bisa dibohongi.”

Shafa menoleh sambil tersenyum.

“Baru main beberapa menit, kakiku sudah pegal. Aku jatuh berkali-kali sampai mereka kasihan melihatku.”

Shafa tidak bisa menahan tawanya. “Makanya, jangan memaksakan diri.”

“Lho, aku masih muda.”

“Katanya tadi merasa tua.”

“Itu cuma pengakuan sesaat. Mental juara harus tetap dijaga.”

Shafa menggeleng geli. “Ayo pulang. Kamu juga butuh istirahat.”

“Baiklah.” Kenan kemudian menoleh kepada Ilman. “Atau... kita lanjut nostalgia di warung Mang Kamil? Sudah lama juga tidak makan bakso di sana.”

Shafa langsung mengangguk setuju. “Aku ikut.”

Namun Ilman menggeleng pelan. “Terima kasih. Tapi lain kali saja. Aku masih harus mampir ke toko. Ada beberapa barang yang harus kubeli.”

“Baiklah.” Kenan mengulurkan tangan. “Hati-hati di jalan.”

Ilman menjabat tangan Kenan dengan hangat. “Kamu juga.”

Shafa ikut mengulurkan tangan. “Hati-hati.”

Ilman membalas senyumnya. “Sampai bertemu lagi.”

Setelah itu, ia berbalik dan berjalan meninggalkan mereka. Beberapa kali langkahnya melambat. Kepalanya sedikit tertunduk, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Kenan memperhatikan punggung sahabat lamanya itu hingga menghilang di balik keramaian taman.

“Apa terjadi sesuatu?” Ia menoleh kepada Shafa. “Ekspresinya berubah setelah selesai mengobrol denganmu.”

Shafa tersenyum tipis. “Aku hanya menyampaikan sebuah penawaran.”

“Penawaran apa?”

“Kalau dia benar-benar yakin dengan perasaannya...” Shafa berhenti sejenak. “...aku memintanya datang ke rumah.”

Kedua alis Kenan langsung terangkat. “Serius?”       

Shafa mengangguk pelan. “Aku tidak memaksanya. Keputusan tetap ada di tangannya.”

Kenan terdiam beberapa saat. “Lalu sekarang aku jadi penasaran.”

“Penasaran apa?”

Ia menyeringai jahil. “Kalau suatu hari aku yang datang ke rumahmu, berarti aku yang duduk di sampingmu, kan?”

Shafa menoleh sambil menggeleng pelan. “Kamu memang tidak pernah kehabisan akal.”

“Jadi boleh?”

“Tidak.” Jawaban itu meluncur cepat.

Kenan memegang dadanya dramatis. “Waduh... ditolak sebelum melamar.”

Shafa tertawa. “Kamu terlalu banyak berkhayal.”

“Namanya juga latihan. Kalau nanti benar-benar melamar, kan sudah siap.”

Shafa hanya menggeleng sambil terus tersenyum. Melihat senyum itu kembali menghiasi wajah Shafa setelah sekian lama, Kenan ikut tersenyum. Baginya, kebahagiaan Shafa selalu terasa lebih penting daripada keinginannya sendiri.

Selama perempuan itu mampu kembali tertawa, ia merasa semua usahanya tidak pernah sia-sia. Tanpa disadari, senja itu bukan hanya menjadi akhir sebuah pertemuan, tetapi juga awal dari perjalanan baru yang akan menguji hati mereka masing-masing.

***

Apakah aku berlebihan?

Tidak.

Mungkin kamu akan memahami perasaanku jika pernah berada di posisi yang sama. Semakin bertambah usia, pertanyaan yang datang bukan lagi tentang cita-cita atau pekerjaan.

 Orang-orang mulai bertanya, “Kenapa belum punya pasangan?”, “Siapa yang sedang kamu tunggu?”, atau “Kapan menikah?” Bahkan, tidak sedikit yang dengan mudah berasumsi bahwa aku sedang menunggu seseorang datang melamarku.

Bagi mereka, mungkin itu hanya pertanyaan biasa. Namun bagi orang yang menerimanya, pertanyaan-pertanyaan itu sering kali menyentuh bagian hati yang tidak semua orang berhak mengetahuinya.

Jika cinta adalah awal dari sebuah perjalanan, maka setiap orang yang memilih untuk mencintai harus siap menerima seluruh prosesnya. Akan ada kebahagiaan yang mengajarkan rasa syukur, dan akan ada kesedihan yang melatih hati untuk tetap bertahan. Tidak ada hubungan yang berjalan tanpa ujian. Yang membedakan hanyalah bagaimana dua orang memilih menyikapi setiap ujian yang datang.

Mencintai bukan sekadar mengucapkan kata sayang. Mencintai adalah kesiapan menjalankan peran sebagai pasangan tanpa merasa terbebani. Belajar menerima kekurangan tanpa mengabaikan kelebihan, saling menguatkan ketika salah satu mulai lelah, saling mengingatkan ketika mulai keliru, dan tetap memilih bertahan ketika kenyataan tidak selalu seindah harapan.

Di usiaku sekarang, aku telah melewati begitu banyak pertemuan dan perpisahan. Ada yang datang membawa harapan, ada pula yang pergi meninggalkan pelajaran. Semua memiliki tempatnya masing-masing dalam perjalanan hidupku.

Jika hari ini aku masih sendiri, bukan berarti aku gagal menemukan cinta. Mungkin Allah sedang mempersiapkanku menjadi pribadi yang lebih baik, atau mungkin masih ada pelajaran yang harus kuselesaikan sebelum dipertemukan dengan seseorang yang tepat.

Aku juga belajar bahwa tidak semua orang mampu menerima kita apa adanya. Ada yang datang dengan daftar panjang tentang seperti apa pasangannya seharusnya. Padahal hubungan tidak dibangun untuk mengubah seseorang menjadi sesuai keinginan kita, melainkan menjadi ruang bagi dua orang untuk saling bertumbuh, saling melengkapi, dan saling memperbaiki diri.

Karena itu, aku tidak lagi ingin mengejar seseorang yang mengharuskanku menjadi orang lain agar layak dicintai.

Aku ingin berjalan bersama seseorang yang mampu menerima diriku apa adanya, sekaligus mendukung setiap langkahku untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.

Bukankah mempertahankan hubungan seharusnya dilakukan bersama seseorang yang juga berusaha mempertahankan kita?

Sebab pada akhirnya, cinta yang baik bukanlah cinta yang dipenuhi tuntutan. Cinta yang baik adalah cinta yang menghadirkan ketenangan, membuat dua orang saling merasa cukup, saling menghargai, saling menjaga, dan sama-sama ingin pulang kepada orang yang sama, hari demi hari.

Karena sesungguhnya, tujuan sebuah hubungan bukan hanya untuk saling memiliki, melainkan saling mengantarkan menuju ridha Allah.

Cinta bukanlah tujuan akhir.

Cinta adalah bagian dari perjalanan yang Allah titipkan agar manusia belajar tentang keikhlasan, kesabaran, tanggung jawab, dan pengorbanan.

Dan ketika cinta itu bertemu dengan orang yang tepat pada waktu yang tepat, semoga ia menjadi jalan menuju rumah yang penuh ketenangan, keberkahan, dan kasih sayang.

 

Tamat


Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar