
Allah menitipkan seorang anak pada rahim seorang ibu, doa baginya didampingi kehidupan yang baik.
Namun realita, hidup penuh dengan resiko. Setiap orang ingin hidup tenang. Namun kita hanya makhluk Allah yang di ciptakan untuk siap dalam berbagai keadaan. Sanggupkah kamu jadi manusia tangguh atau memilih untuk pasrah pada keadaan.
***
Matahari ufuk
Timur menghilangkan jejak tetes embun yang membasahi
dedaunan. “Pernikahan” kata yang mengguncang perasaan seseorang. Seakan
kata itu dibaca berulang sampai menggema di telinga. Setelah membaca pesan
singkat, Shafa tidak ingin melakukan apa-apa selain mengurung diri.
Aku
bisa apa, memaki? kesannya tidak bisa hidup tanpa dia. Dia yang selama ini aku
prioritaskan, ternyata hanya buang waktu. Aku menyesal sangat setia. Dengan
mudah dia dekat dengan yang lain disaat ada seseorang yang menjaga hati untuk
seorang saja.
Ketika
kita terlalu berharap lebih pada manusia, kita tidak bisa menghindari rasa
kecewa. Memang pada dasarnya manusia berhak menentukan pilihan. Jadi belajarlah
untuk ikhlas! Kebahagiaan seseorang tidak ditentukan oleh kamu meyakini dia
milikmu, tetapi kamu dan dia merasa saling memiliki karena satu pihak yang
berjuang akan berujung pada perpisahan.
“Ayolah,
kita bicara sebentar!” dia tidak berhenti merajuk. Namun Shafa bukan perempuan
yang mudah mengabulkan permohonan.
“Besok
saja di kampus.” ada keinginan Shafa untuk menutup telepon namun dia urungkan.
“Kita
harus bertemu hari ini.” Kenan membujuk lagi dengan nada yang lembut.
“Malam
minggu seharusnya datang ke tempat pacar. Kenapa mengungsi di rumahku?” Shafa
sebelumnya tidak pernah menanyakan ini karena setiap minggu Kenan akan datang
ke rumah. Namun kali ini Shafa tidak ingin bertemu.
“Aku
akan kerumah jam 7 malam.” Kenan menentukan tanpa meminta persetujuan.
“Siapa
yang bilang boleh?” Shafa kesal karena mendapat respon yang tenang.
“Meskipun
tidak di izinkan, aku akan tetap menemuimu. Jangan ditunggu, aku takut datang
terlambat!” dia tidak peduli dengan tarikkan nafas Shafa diujung telepon.
“Oke.”
akhirnya Shafa menjawab pasrah.
Meskipun
dia bersikeras meminta Kenan untuk tidak menemuinya, Kenan akan datang dan
mendapat sambutan yang baik dari orang rumah, percuma saja menghindar.
***
Keluarga
Shafa berkumpul di ruang makan. Luna, adiknya sibuk mengupas apel, Ayah membaca
koran dan Ibu menata makanan, tersenyum menyambut Shafa bergabung di meja
makan.
“Kenapa
mata anak Ayah? Apa kamu sakit?” memperhatikan Shafa memakan apel tanpa gairah.
“Tidak
Ayah.” berusaha menghindari tatapan.
“Benar
tidak apa-apa?” Ayah mencari celah untuk mendapat kepastian dari Shafa.
“Iya.”
Jawabnya dengan senyum yang dia yakin membuat Ayah berhenti mengkhawatirkan
keadaan.
“Ayah,
maaf aku memotong percakapan. Bolehkah aku meminta pendapatmu!” Luna menengahi
pembicaraan.
“Ya,
tentu saja. Mengenai apa?”
“Apa
Ayah punya saran aku masuk jurusan apa di perkuliahan nanti?”
“Ayah
ingin tau, apa kamu sudah punya pilihan pada jurusan yang kamu sukai?”
“Ada,
jurusan psikolog. Bolehkah?” Luna sangat antusias.
“Tentu
saja. Ayah setuju denganmu, itu pilihan yang bagus.”
“Apa Ayah
tidak keberatan jika suatu hari nanti aku kuliah sambil bekerja?”
“Selama
kuliahmu tidak terganggu. Kamu sanggup melakukan dua kegiatan itu, Ayah akan
mendukungmu. Kamu mengerti?”
“Iya,
aku akan mengatur jadwal sebaik mungkin.”
“Ayah
menunggu kabar baiknya.”
“Siap,
Ayah.” Luna merasa lega sudah mendapat persetujuan.
“Bagaimana
dengan kuliahmu?” Ayah beralih, menyadarkan Shafa yang termenung.
“Aku
mulai skripsi semester depan, semoga mata kuliah semester ini tidak ada
masalah.”
“Tetaplah
fokus pada kuliahmu!” Ibu memberi semangat, Shafa menganguk.
“Apa
Ayah mendapat telepon dari Zian?” Shafa memberanikan diri memulai pembicaraan
mengenai Zian.
“Tidak,
kenapa?”
“Sebulan
yang lalu Zian memutuskan keluar dari asrama.”
“Keluar?
Apa yang terjadi? Bukankah ini kesempatan dia, setelah tahun lalu gagal.
Kenapa sekarang malah melepas tanggungjawab?” Ayah menatap penuh tanya
“Dia
bilang tidak nyaman. Sehingga dia berhenti mengikuti pendidikan.” Shafa tau itu
bukan alasan yang Ayah inginkan.
“Apa
Ayah perlu bicara dengannya?” Ayah tau pasti anaknya mengkhawatirkan Zian.
“Tidak
perlu Ayah! Apapun yang kita katakan tidak akan mengubah apa-apa.”
“Dia
melewati setiap tahap dengan semangat. Namun pada akhirnya mengundurkan
diri. Kapan dia mengundurkan diri?” Ibu menggenggam tangan Shafa.
“Dia
langsung menemuiku sepulang dari asrama.” tiba-tiba dadanya sesak mengingat
kejadian itu.
“Kalian
sudah dewasa. Ibu yakin kalian tau bagaimana cara menyelesaikan masalah.” ibu
tersenyum kecil memberikan semangat.
“Iya
bu, tetapi tidak ada yang bisa diperbaiki dari hubungan kami. Hari ini Zian
akan menikah.” ujung matanya menangis. Akhirnya semua mengerti kenapa
Shafa sangat gelisah.
“Ibu
tau ini akan menganggu pikiranmu. Namun jangan biarkan semangatmu hilang! Dalam
setiap ujian, Allah menyusun rencana yang baik, nak. Percayalah!” ibu mengelus
pundak Shafa.
“Shafa,
jodoh itu bukan hanya orang yang kita harapkan. Namun dia yang telah Allah
pantaskan. Seorang perempuan juga berhak memilih. Imam yang baik, bertanggung
jawab, sabar, sudah tentu sayang padamu dan keluarga! Lelaki seperti itu akan
Allah siapkan untukmu.” Ayah meyakinkan.
“Kak,
maaf jika Luna ikut campur juga. Tidak ada gunanya menyesali perpisahan dengan
lelaki yang tidak punya pendirian! Hidup terlalu berharga untuk bersedih!”
“Tentu
saja. Aku yakin ini yang terbaik.” Shafa menguatkan diri.
Kehilangan
adalah salah satu ujian yang harus kita lewati. Allah senantiasa membimbing
kita yang pantang menyerah. Menyiapkan hari esok yang bahkan bisa lebih baik
dari yang kita pikirkan. KuasaNya sungguh nyata. Perbaikilah dirimu, semakin
dekat dengan Allah! Itulah sugesti yang membuat aku sangat tegar. Terpuruk
tidak ada gunanya.
Hallo,
masa depan lebih penting! Jika aku berada jauh dari tempatku memulai, aku
bukan melarikan diri. Namun biar aku buktikan, setiap pembelajaran di masa lalu
akan membawa kita pada kesuksesan. Balas dendam terbaik adalah menjalani
kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
***
Malam
ini, Shafa menunggu Kenan. Sahabat sekaligus penghibur yang baik, cerewet,
tidak mau mengalah, kadang manja dan banyak sikap lain yang bertabrakan dengan
sikap Shafa.
“Nonaku
sini peluk!” Dia merentangkan tangan, Shafa reflek mengarahkan tinjuan. Lima cm
saja melewati batas, hidung Kenan akan membengkak.
“Jangan
bertingkah aneh, aku sedang tidak mood!” jawabnya ketus, lalu duduk diteras,
Kenan mengikuti.
Temaram
lampu halaman tidak berhasil menyembunyikan kesedihan, Kenan terpaku 20 detik
memikirkan topik yang akan dibahas dengan gadis itu.
“Mata
sembab, muka pucat, rambut berantakan. Kapan kamu akan berpenampilan cantik di
depanku?” Kenan menyikut Shafa yang terdiam seperti patung.
“Aku
memilih untuk berpenampilan apa adanya.” jawab Shafa malas. Tatapan kosong
tertuju pada kolam ikan di depan.
“Mau
kamu seperti ini, aku sangat menerimamu apa adanya.” Shafa tidak menanggapi
pernyataan itu. Kenan sedang berusaha keras untuk menghibur.
“Kenapa
tidak ke rumah Hany?” Shafa memperhatikan kerut wajah Kenan. Senyum manis
tersungging di pipi.
“Aku
memilih pacaran tidak di malam minggu, saat semua orang merayakan moment itu.
Menandainya sebagai hari dimana kamu bertemu pacar, jalan-jalan, pergi nonton
dan lain-lain.”
“Apa
Hany tidak marah?”
“Marah
itu untuk hubungan yang tidak memiliki rasa percaya. Gaya pacaran yang selalu
bersama malah cepat bosan. Bukankah akan lebih rindu jika jarang bertemu.”
“Bosan?
Jika terdengar oleh pacarmu, apa dia memaklumi pernyataanmu?” Shafa memojokan
Kenan.
“Tidak,
moodnya akan berantakan seperti perempuan yang sedang mens. Pokoknya apapun
perkataannya jangan di bantah. Memang lelaki selalu salah dimata perempuan.”
wajahnya memelas, Shafa hampir saja tertawa.
Kenan
lebih sering tidak serius menanggapi kemarahan tetapi satu sisi dia
menyadarkanku, tidak semua masalah harus dibawa emosi. “Kalem we atuh da hirup
mah ukur neangan piamaleun lain pikasebeleun (santai saja, hidup itu untuk
mencari amal baik bukan kejengkelan).” begitulah kata Kenan jika aku
benar-benar marah.
“Tertawalah
sampai kamu menangis! Karena meskipun ditutupi, matamu tidak mampu berbohong.”
Kenan menerka ekspresi Shafa yang langsung berubah sedih.
“Sini
bersandar biar aku ceritakan sebuah dongeng!” Kenan menepuk pundak.
“Tidak
mau, Jika kamu mendekat, aku lebih mudah untuk mencekikmu!” Shafa melingkarkan
tangan, mendekati leher Kenan.
“Lakukan
saja!” jawab Kenan pasrah, mencondongkan badan mendekat. Namun Shafa refleks
menghindar.
“Jika
aku menyakitimu tanpa alasan, aku akan semakin buruk bukan jadi lebih baik.”
raut wajah Shafa kembali sayu.
Ya,
Kenan tau kalau aku pandai menyembunyikan perasaan. Orang pikir aku gadis yang
ceria, murah senyum, seperti orang tanpa beban. Nyatanya aku tidaklah setegar
itu. Aku mudah menangis, meredam kesedihan dengan ekspresi seakan aku tidak
apa-apa.
“Itu
kamu paham. Jangan terlalu berharap pada manusia, sedih berlebihan juga kamu
yang rugi! Memangnya dia merasakan apa yang kamu rasa saat ini? Tentu saja tidak.
Ketika dia sudah memiliki kehidupan lain yang membahagiakan, dia otomatis
menghapus kisah terdahulu.”
“Kamu
benar, aku termasuk orang yang merugi. Jelaskan padaku kenapa seseorang bisa
berubah menjadi egois dan tidak berperasaan?”
“Mungkin
seseorang ingin mengubah hidupnya. Dia punya target dan menggunakan
berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dikejar di depan mata.”
“Apakah
dia tidak berpikir keputusannya bisa saja merugikan?”
“Jika
tujuannya mencari kebahagiaan. Dia tidak akan memikirkan itu merugikan atau
tidak pada dirinya atau oranglain sekalipun karena dia pasti tau resiko dari
pilihannya. Menurutnya itu keputusan yang benar. Apa pembahasan ini ada
hubungannya dengan Zian?”
“Tidak,
memang apa pentingnya Zian saat ini?” tatapan Shafa mulai tajam.
“Maaf
jika membuatmu kecewa! Alasanku tidak mengajakmu menyaksikan pernikahan
Zian karena menjaga perasaan kalian. ”
“Aku
benci orang yang menyimpan rahasia, apalagi berkaitan denganku.” Shafa kesal.
“Aku
akan membahas ini namun memastikanmu dalam kondisi tenang. Namun, darimana kamu
dapat kabar pernikahannya?” Shafa tersenyum, dia sadar Kenan tidak pantas
disalahkan.
“Dari
Helen. Sahabat kita sudah mengakhiri masa lajang. Bagaimana dengan
kita?” perasaan Shafa kembali tenang.
“Nanti
saja kita bicarakan masa depan. Jika kamu menginginkan dalam waktu dekat, aku
belum siap.” Kenan menatap serius, Shafa menaikan satu alis lalu
terbahak.
Zian
termasuk lelaki pendiam lebih tepatnya cuek. Ada kedekatan khusus antara
kami. Perasaan itu masih tersimpan sampai kami tidak pernah saling berkabar.
“Dia pasti kembali” sugesti ketika aku ditinggalkan beberapa lelaki yang
menjelma sebagai pacar.
***
Jika
kamu bisa merasakan perasaan seseorang, kamu orang hebat. Aku saja tidak tau
harus berbuat apa untuk menyikapi ini, entah harus menangis atau bersikap
seolah tidak terjadi apa-apa. Bukankah perempuan memang seperti itu. Kita mampu
bersikap sewajarnya. Bukan, tetapi kita memang pintar berbohong.
“Lihatlah
pasangan yang serasi bukan!” Kenan berkata seakan menghukum kesalahan
seseorang.
“Sejak
kapan dia disana?” bangunan dengan kaca lebar itu, mempertontonkan
pasangan yang sedang menyantap hidangan.
“Mungkin
setengah jam yang lalu, ketika kita di toko buku. Ayo menyebrang!” Kenan
memastikan keadaan jalan, namun Shafa mematung.
“Kenapa?”
Kenan menatap heran.
“Aku
tunggu disini saja.” Shafa berdiri di depan halte.
“Aku
tidak mau ke parkiran kafe sendiri. Nanti tukang parkir tanya; kamana
gandenganna kang?” Kenan sengaja menggoda.
“Bilang
saja ketinggalan.” jawab Shafa dengan ekspresi datar.
“Sembunyikan
wajahmu! Jika kamu merasa terganggu oleh tatapan seseorang biar aku yang
hadang. Anggap saja aku bodygguard!” Kenan menyilangkan kedua tangan dan
menegapkan badan, Shafa tertawa.
“Apa
perlu melakukannya?” Shafa merasa tidak yakin untuk melakukan hal tersebut.
“Itu
pilihan. Apa bersembunyi membuatmu merasa aman?” Kenan mengajukan pilihan.
“Tidak.”
jawab Shafa tegas.
“Berjalanlah
seperti biasa, bukan malah jadi pengecut.” mata mereka saling beradu, Kenan
menangkap sorot mata Shafa yang redup.
“Apa
karena aku melakukan kesalahan?”
“Seperti
memutuskan Rizal?”
“Ini
bukan saatnya membahas Rizal.” wajahnya kesal.
“Kenapa
tidak? kalian putus padahal baru pacaran satu bulan.”
“Dia
pintar akademik tetapi bodoh dalam perasaan, berlaga pencemburu, dari luar
kalem tetapi otaknya mencari cara untuk menerkam.” Shafa menjelaskan dengan
nada jengkel. Kenan tertawa.
“Mungkin
dia belum menemukan tempat layak! Bagaimana dengan Ilman?” pertanyaan ini
mampu membuat senyum kecil di bibir Shafa.
“Dia
sabar menghadapi sikap manja, kurang peka, dan banyak lagi sikap negatif yang
bisa saja membuat orang jengkel. Lelaki yang berharap ada perubahan pada
seseorang yang menjelma seperti patung. Namun patung itu lupa, ada waktu dimana
lelaki bosan dengan yang tidak berperasaan.”
“Maksudmu
sebaik apapun sikap Ilman, tidak berpengaruh padamu. Jika tidak mau hal
buruk terulang, maka perbaikilah!” Kenan menjentrikan jarinya pada kening
Shafa, membuat dia meringis.
“Aku
sadar kurang bersyukur atas kebaikan yang aku terima dari Ilman.”
“Apa
selama ini ada kaitannya dengan seseorang?” Kenan sengaja memojokan Shafa,
supaya dia paham kesalahannya.
“Kalimatmu
ada benarnya.” Shafa duduk di kursi halte.
“Berhentilah
menutup diri! Kamu gadis periang, banyak bicara sekaligus pendengar yang baik,
Shaf. Diammu hanya membuatku khawatir.”
“Maaf,
membuatmu khawatir!” Shafa menatap Kenan serius.
“Tidak
masalah. Apa Ilman berkaitan dengan kamu yang terlalu berharap pada
seseorang? Sehingga dia telah mengubah tempramenmu?” tegas Kenan.
“Jangan
libatkan dia! Kita sudah menjalani hidup masing-masing.”
“Kamu
bisa berbicara seperti itu, tetapi dengan mudahnya mencampakan seseorang.”
“Kenan,
nasibmu buruk sekali menjadi sahabat orang jahat.”
“Jika
kamu jadi jahat, aku adalah orang pertama yang akan menyadarkanmu. Pernahkah
kamu menyukai seseorang?” Kenan kembali melembutkan suaranya.
“Pilihanku
jatuh pada Ilman. Dia mengirim pesan penyemangat bukan kegundahan, menelepon
dengan humoran, mengajak jalan dengan kesopanan. Dia tidak pernah berkata rindu
tetapi datang kerumah tanpa aku undang, dia tidak diam ketika aku salah tetapi
menasehati. Aku suka melihat tampang juteknya saat cemburu.”
“Pilihanmu
hanya Ilman? Bagaimana denganku? Apa aku tidak termasuk pria baik?”
Kenan penasaran.
“Kamu
sahabatku yang terbaik. Mungkin predikat jahat hanya disematkan oleh perempuan
yang pernah kamu kencani.”
“Perlu
kamu tau, aku playboy yang tidak menyakiti hati perempuan. Bagaimana jika
aku memilih kamu jadi pasanganku?” mendengar itu Shafa memukul paha Kenan,
membuatnya kesakitan.
“Aku
menolak.” jawab Shafa spontan.
“Bisakah
tidak menjawab secepat itu?” Kenan menghela nafas lalu melanjutkan
ucapannya. “Shafa, menurutku pacaran itu malah membuat banyak pikiran. Aku
telah mencampakan Hany dua kali. Aku berharap ada perubahan dalam hubungan
kami. Namun ternyata tidak.”
“Apa
yang akan kamu lakukan selanjutnya?”
“Menjadi
lelaki single.”
“Lihatlah
pacar Ilman, dia cantik! Apa dia termasuk perempuan incaran?” mereka menatap
jendela kafe di sebrang.
“Jika
aku mengincarnya, maka kamu akan kembali pada Ilman. Kamu tidak akan punya
waktu untukku. Itu tidak boleh terjadi.” Kenan tersenyum jail.
“Seenaknya
memutuskan kehidupan seseorang semaumu. Tenang saja! akan aku gunakan
waktu single ini untuk berada disampingmu.” Shafa mengelus pundak Kenan.
“Kenapa
kita tidak selamanya bersama?” Kenan merajuk.
“Jangan
terlalu berharap! aku melakukan ini untuk mengisi waktu senggang saja.” jawab
Shafa datar.
“Tidak
bisakah kamu merangkai kata-kata yang manis?” Padahal Kenan menantikan jawaban
yang mampu merekahkan hati.
“Terimakasih
telah menjadi sahabat terbaik. Kamu berhasil mengembalikan raga yang
terperangkap di suatu masa, aku lega seperti lepas dari ikatan.”
“Akhirnya
kamu sudah berhenti menjelma arwah penasaran.”
“Hus..,
nanti kamu diikuti arwah beneran.” Mereka tertawa.
Sore
itu terasa hangat, Ilman memperhatikan Shafa menyebrang menuju parkiran kafe.
Dia ingin beranjak dari tempat duduk, menyapa gadis itu. Namun melihat
kebahagiaan Shafa bersama Kenan, dia mengurungkan niat.
***
Shafa
menonton televisi sambil menyantap cemilan. Suapan terakhir bersamaan dengan
panggilan dari nomer yang tidak di kenal.
“Halo,
Shafa.” sapa perempuan di ujung telepon.
“Ya,
maaf saya sedang bicara dengan siapa? ”
“Tidak
perlu berbicara formal! Lagipula kita seumuran.” Shafa tidak mengenali suara di
ujung sana.
“Iya,
ini dengan siapa?”
“Apa
perlu aku memberitahumu?” tanyanya seperti main teka-teki.
“Tentu
saja. Kamu siapa?” Shafa tidak suka bertele-tele.
“Aku
Ajeng, karyawan di Apotik Cemerlang. Kita di Universitas yang sama, cuma beda
gedung fakultas jadi tidak pernah bertemu.” jelasnya.
“Ada
perlu apa menelepon?” Shafa pikir dia mendapat telepon dari sales yang akan
menawarkan produk.
“Kamu
tidak suka basa-basi ya?”
“Lebih
cepat lebih baik. Kamu sudah tau identitasku kan?”
“Baiklah.
Apa kamu kenal Zian?”
“Kenal.”
Jawab Shafa ragu.
“Maaf
menelepon tiba-tiba, aku istrinya. Aku ingin mengenalmu secara baik. Di ponsel
suamiku ada pesan masuk darimu. Zian cerita kalau kalian berteman.” Shafa
terperanjat, hampir saja memutuskan panggilan. Namun dia sedang memberanikan
diri.
“Iya,
anggap saja begitu. Memang kenapa?”
“Dari
isi pesan, kamu sangat akrab dengan suamiku.”
“Tidak
ada yang salah kan? Kita cuma sahabat.” jawab Shafa sinis.
“Iya
aku mengerti. Ada satu pesan yang membuatku ingin menanyakan langsung padamu.
Apa yang menyebabkan kamu marah pada suamiku?”
“Hanya
itu? Aku kecewa karena dia tidak mengundangku ke pernikahan kalian.”
perasaannya mulai tidak karuan.
Harusnya
aku akhiri saja percakapan ini. Ingin ku bertanya “Kenapa hadir dan merusak
hubungan orang?” “Bagaimana perasaanmu jika di posisiku?”. “Tidak perlu
menghubungiku karena masalah sepele seperti ini, toh kamu sekarang istrinya.
Aku hanya masa lalu yang tidak perlu diingat.” Terlalu drama. Skenario manusia
itu bisa keliru, mungkin memang dia jodoh yang Allah nyatakan tepat.
“Atas
nama suamiku, aku minta maaf. Boleh ceritakan awal persahabatan kamu
dengan Zian?”
“Aku,
Zian dan Kenan selama 3 tahun berada di kelas yang sama. Mereka berdua jahil
dan nakal. Aku sering menegur mereka, akhirnya kami sering bertengkar. Setiap
dibagi kelompok belajar, kami selalu bersama. Rasanya ada yang kurang jika
tidak ada salah satu. Mungkin karena itu kita jadi akrab. Kami bisa disebut
tiga serangkai. Bukan pejuang kemerdekaan tetapi pejuang kabur dari sekolah
untuk mendapatkan bakso gratis Mang Kamil, warung seberang sekolah. Bakso
gratis bertepatan dengan jadwal pramuka. Jadi salah satu harus kami korbankan
dan pilihan kami jatuh pada isi perut. Tidak untuk ditiru!” Jawab Shafa santai,
Ajeng tertawa.
“Kamu
mirip sekali dengan Kenan, ceria dan humoris. Apa kalian pacaran?”
“Tidak.”
Shafa hampir saja teriak.
“Ternyata
dugaanku salah. Bagaimana kalau aku bocorkan rahasia. Apa kamu ingin tau?”
“Apa?”
“Sebenarnya
di ponsel Zian banyak foto Kenan bersamamu, makanya aku mengira kalian pacaran,
serasi sekali.”
“Foto
aku dan Kenan?” Shafa penasaran dengan kebenaran dari ucapannya.
“Iya,
senyummu manis. Suatu hari nanti kita harus bertemu.” Shafa tidak menjawab.
“Baiklah,
sampai jumpa Shafa."
***
Shafa
duduk dilantai, bersandar pada kasur. Dia menyalakan televisi dicanel film
horor, ditemani makanan ringan. Tanpa mengetuk pintu Mila duduk disamping.
“Tadi
Luna bilang kamu sedang hibernasi. Melihat keadaanmu seperti ini, ternyata ada
benarnya.”
“Ya,
aku malas keluar. Tadi nonton film apa?”
“Aku
tidak jadi nonton karena tidak bersamamu.” Mila memeluk Shafa. Namun dia
mendorong badan Mila untuk menjauh.
“Jangan
menganggu, jika tidak mau kena omel!”
“Kalau
marah-marah terus nanti cepet tua.”
“Mil,
kemarin aku mendapat telepon dari istri Zian.”
“Ada
urusan apa?” Mila ikut jengkel.
“Dia
membahas pesanku yang tertinggal di ponsel Zian.”
#Malam
minggu adalah hari special bagi sebagian orang, namun bagiku sama saja. Sejak
sore aku sibuk dikamar, duduk di hadapan komputer.
“Shafa,
ada tamu.”
“Siapa
ibu?”
“Lihat
sendiri! gadis cantiknya sudah Ibu persilahkan duduk.”
“Iya,
baik bu.” sedikit merapikan rambut, menyambut kedatangan seseorang di ruang
tamu, Helen.
“Teteh,
apa kabar?”
“Baik,
Helen apa kabar? Sekarang jadi pangling.”
“Baik
juga teh. Sebenarnya aku ingin mempunyai badan seperti model tetapi hasilnya
malah badan tipe emak-emak.” Helen menunjukan perut dua lapis, berhasil membuat
tawa.
“Teteh
punya pacar? Jangan bilang masih sama Kenan!”
“Kita
tidak terpisahkan sebagai sahabat.”
“Bagaimana
kalau aku kenalkan dengan seseorang?”
“Jangan
repot-repot! Aku ingin sendiri dulu.”
“Aku
tidak percaya. Jika teteh melihat orang ini, aku yakin teteh akan berubah
pikiran. Kedatanganku kesini bersama seseorang. Kami bertemu di rumah
sakit. Aku pernah melihat wajahnya (diframe foto di atas meja belajar Shafa) saat
aku bilang berteman dengan Teh Shafa, dia semangat ingin bertemu.”
“Siapa?”
aku jadi salah tingkah.
Aku
mengikuti Helen, melangkah hati-hati. Saat membuka gerbang, ada lelaki berdiri
di samping motor, tersenyum. Sempat terlintas di pikiran untuk memeluk.
“Zian.”
“Kamu
masih ingat padaku?” kalimat pertama Zian setelah tujuh tahun tidak bertemu#
“Apa
yang kalian lakukan?” Mila mulai mencari tau.
“Kami
berbincang masa lalu. Cerita tentang dia yang memutuskan keluar
kota, mencari pekerjaan disana.”
“Apa
selama berpisah dia mengingatmu, sama seperti yang kamu lakukan?”
“Aku
tidak tau. Melihatnya saja membuatku bahagia. Jantungku seperti mau copot,
senyum manis, mata tajam seperti panah dewa amor yang siap menancap. Mungkin
saat itu aku tidak waras.” mereka tertawa.
“Raut
wajah Zian seperti merahasiakan banyak hal. Apa kamu sependapat?” Mila merasa
Zian adalah sosok yang misterius.
“Iya,
sulit menebak apa yang dia sembunyikan, penuh teka-teki. Mila, aku selalu
berharap hubungan kami baik-baik saja. Seperti yang kamu tau, kami berdua
berusaha menata masa depan.”
“Ya
aku tau. Apa alasan dia memutuskan untuk keluar dari asrama?”
#Zian
turun dari motor, membuka helm. Aku kaget melihat keadaan Zian, muka lebam dan
mata kiri bengkak.
“Kenapa
bisa memar begini? Apa yang terjadi?” Aku menyentuh luka di pelipis, Zian
meringis. Kami duduk diteras kosan, aku disamping merasa iba.
“Tenanglah!
Ini luka kecil, dikompres dan dikasih obat juga sembuh. Tadi aku beli obat di
apotek. Jadi sekalian mampir kesini.”
“Apa
ada luka selain yang aku lihat?”
“Tidak
ada, jangan memasang wajah khawatir! Kamu melihatku seperti orang yang akan
mati.”
“Bagaimana
tidak khawatir, kamu pulang dengan keadaan seperti ini.”
“Ini
kejutan dari senior.” wajahnya begitu tenang.
“Apa
terjadi sesuatu? Bukankah belum waktunya pulang?”
“Aku
pulang karena merindukanmu.” dengan senyum paling menenangkan, namun aku tau
Zian menyembunyikan sesuatu.
“Aku
serius Zian. Tindakan ini akan membuatmu dalam masalah.”
“Aku
sudah dapat hukuman.” Zian menunjuk luka.
“Ceritakan
yang sebenarnya?” Aku tidak menanggapi Zian yang menganggap kepanikanku bahan
candaan.
“Shafa
dengarkan aku! Aku akan keluar dari asrama.” menarik napas panjang.
“Kenapa?”
“Tidak
betah saja. Aku melakukan banyak kesalahan, jadi tidak semangat.” Zian
menunduk, tangannya memainkan batu kerikil lalu melempar penuh tenaga.
“Kamu
pasti bisa melewati semua rintangan. Yakin pada tekadmu!
Tunjukan kamu yang disiplin, berani dan pantang menyerah! seorang Zian
tidak melakukan kesalahan yang sama .”
“Masalahku
bukan itu saja, sehingga aku memilih tidak kembali. Aku sangat lelah, aku tidak
cocok berada di tempat yang penuh tekanan.” Zian terlihat merenung.
“Berhentilah
mengeluh! Tidak ada gunanya lari dari masalah!” namun aku kesal.
“Apa
perlu aku ulang? Keputusanku untuk keluar sudah bulat.” nada suara Zian mulai
meninggi.
“Kamu
menyerah dengan apa yang sudah diusahakan oleh tenaga dan pikiranmu.”
“Silahkan
kamu marah!” nadanya meninggi.
“Kamu
membiarkan cita-citamu hilang. Seakan kamu lupa sudah berapa kali gagal dan
bangkit lagi. Menangis, kesakitan, lelah, emosi bukankah sudah kamu rasakan
ketika kamu berusaha untuk mendapatkan posisimu. Tetapi sekarang kamu dengan
mudahnya bilang keluar.”
“Oke,
disini aku yang salah. Jika kamu tidak terima keadaanku, kamu boleh
meninggalkanku!”
“Dengan
mudah kamu mengambil keputusan, tanpa memikirkan bagaimana kedepannya. Aku
sangat cemas, tetapi saranku tidak berguna. Apa yang harus aku lakukan? Zian
aku mohon ceritakan yang sejujurnya! Aku akan bantu.”
“Aku
tau kamu kecewa tetapi aku akan berusaha memperbaiki semua.” seketika
hening.
Tanpa
berkata lagi, Zian menyalakan motor. Dia melaju dengan kecepatan tinggi,
meninggalkanku yang tidak bisa lagi membendung air mata.#
“Aku
terlalu menyalahkan dia. Dia pasti tertekan sekali pada waktu itu. Seharusnya
aku tidak banyak bicara.”
“Wajar
saja kamu penuh emosi, Shaf. Kalian melakukan semua dari nol, sampai dia berada
tahap itu. Lalu Zian menyerah. Kalian sama-sama kecewa.”
“Iya,
namun semenjak itu kamu menjadi canggung. Meskipun selalu ada pihak yang
mencairkan suasana. Keganjilan semakin terasa ketika aku melaksanakan KKN,
sebulan tanpa kabar. Seminggu setelah pulang dari KKN, kabar pernikahannya
sampai ditelinga. Aku mendapat pesan, Jangan ganggu aku lagi! Kita
sudah tidak ada hubungan apa-apa. Aku berusaha menelepon untuk
memastikan namun tidak ada tanggapan.”
“Pertemuan
yang kamu dambakan sekian lama malah berakhir menyedihkan. Apa kamu menyesal
bertemu dengannya?”
“Semua
rencana Allah, aku percaya akan ada kesempatan untuk dicintai dan mencintai
seseorang.”
“Aku
menunggu kamu menyadarinya.”
“Menyadari
apa?”
“Jangan
menganggap cinta sebuah permainan karena perasaan itu nyata dan butuh
ketulusan! Janganlah egois, kamu pernah merasakan sakit ditinggalkan! Jangan
lakukan itu pada oranglain! Balas dendam itu tidak baik, meskipun kamu merasa
tidak melakukannya.”
“Siapa
yang barusan memberi saran? Aku ingin memelukmu.” Shafa merentangkan tangan,
Mila menyambut hangat.
***
Shafa
dan Ibu duduk didepan rumah, menunggu kedatangan seseorang.
“Ibu,
aku ingin tau pendapat Ibu?”
“Iya,
bagaimana?”
“Ketika
seorang lelaki bertemu dengan perempuan yang sulit di dekati dan tidak suka
diberikan pujian. Namun dia memilih bertahan padahal dia menyadari perempuan
itu memagari diri dan bersikap selektif. Perkenalan mereka sangat berkesan,
entah disengaja atau tidak namun membuat lelaki tidak ingin berpaling.”
“Apa
masalah yang dihadapi perempuan itu?”
“Asmara
perempuan tidak berjalan baik. Sehingga dia memantapkan diri untuk mencari
pasangan hidup. Namun si lelaki tidak berani memberi kepastian. Kisah yang
dirajut panjang seakan tidak menghasilkan jalan keluar.”
“Jika
lelaki itu serius, harusnya dia segera mengambil keputusan! Namun, jika
tujuannya bukan mencari pendamping, lebih baik mundur saja.”
“Iya,
perempuan itu sudah menegaskan bahwa dia ingin tujuan yang jelas. Bukan tentang
pacaran tetapi rencana matang.”
“Apa
perempuan itu benar sudah siap? Ibu ingin tau pendapatmu.”
“Jika
dilihat dari prinsipnya, tentu sangat siap. Apa mungkin yang dipikiran lelaki
adalah matang secara finansial? Memang jika berbicara soal mapan, tidak ada
habisnya. Entah sampai kapan kategori itu terwujud sesuai keinginan. Sedangkan
perempuan, ketika dia merasa siap berarti sudah tau juga resikonya.”
“Kehidupan
sekarang dituntut mengambil resiko atau bertahan di zona nyaman. Yang
paling penting dalam pernikahan adalah kesiapan diri dengan segala hal yang
akan dihadapi ketika sudah berumah tangga. Karena menyatukan dua pemikiran yang
berbeda itu tidak mudah. Ibu tidak bermaksud melarang pernikahan. Tetapi
alangkah baiknya keduanya memantaskan diri. Mengerti?”
“Iya
bu.”
Tiiid.....
tiiiddd.... suara kelakson terdengar di halaman, Shafa dan Ibu menghampiri.
“Ibu,
nanti kita lanjutkan lagi. Aku akan beli makan setelah jalan dengan Kenan.”
“Martabak
manis, bakso dan es campur.”
“Banyak
sekali, nanti aku pilihkan jadinya beli apa.”
“Iya
ibu mengerti. Kalian hati-hati dijalan!”
Kenan
dan Shafa pamit, meninggalkan ibu yang mengawasi sampai mereka menghilang di
pertigaan.
***
Shafa
dan Kenan keluar dari sebuah gedung, melangkah menuju taman, membeli es krim,
kemudian duduk pada kursi dengan meja bundar mirip jamur. Mereka asik
membicarakan film yang baru saja di tonton.
“Halo,
apa kabar?” Shafa mendongkak, Kenan tidak kalah terkejut.
“Baik.”
jawab Shafa.
“Apa
yang sedang kalian lakukan?” Ilman duduk disamping Shafa.
“Kami
sedang melakukan ritual mendinginkan pikiran. Namun es krim ini sepertinya akan
cepat mencair. Cuacanya kok jadi gerah.” Kenan mengelap dahi.
“Perasaanmu
saja.” Shafa menimpali. Kenan cemberut karena Shafa tidak mendukungnya.
“Sudah
lama kita tidak bertemu.” Tanyanya pada Shafa seakan Kenan orang ketiga yang
tidak dianggap.
“Iya,
kebetulan kita bertemu ketika langit sore ini menghadirkan warna yang bagus,
pertanda bahagia.” ucap Shafa sekenanya.
“Mungkin
langit mengartikan perasaanmu saat ini.” timpal Ilman, Shafa terbatuk sambil
memukul paha Kenan yang menyembunyikan tawa.
“Kerja
dimana sekarang?” Shafa tidak suka ditanya kerjaan, malah melontarkan
pertanyaan itu.
“Masih
di tempat dulu, kalian?”
“Aku
bekerja di kantor swasta, sedangkan Shafa diluar kota.” Kenan paham situasi.
“Oh
begitu.” raut wajah Ilman penuh tanya. Namun dia memilih tidak mengajukan
pertanyaan lagi.
“Kalian
canggung sekali. Aku akan emosi jika menghabiskan waktu dengan melihat kalian
seperti sedang interview.” Kenan memecah keheningan.
“Aku
sulit mencairkan suasana.” Ilman gelisah.
“Tidak
masalah. Aku akan seperti itu jika di posisimu. Kalau boleh tau, apa yang
sedang kamu lakukan di sini?” Kenan sengaja memulai agar tidak canggung.
“Aku
tadi bertemu teman bisnis. Kenan, apa kamu sangat sibuk?”
“Tidak
juga. Jika terlalu sibuk, aku akan stress karena tidak punya waktu untuk
menganggu hidup Shafa.” Ilman terdiam sejenak.
“Jika
ada waktu senggang, berkunjunglah ke rumah!”
“Apa
tidak masalah jika menginap? Aku hanya takut mengganggu. Apa kamu sudah punya
pendamping?” Kenan memancing obrolan.
“Belum.
Bagaimana denganmu?”
“Kita
bernasib sama.” Mereka tertawa, Shafa seperti orang asing berada di tengah
keduanya.
“Anak-anak
tongkrongan sering menanyakanmu. Libur kerja kita biasa berkumpul. Jangan lupa
hubungi nomerku!” Ilman memberikan kartu nama.
“Baiklah,
aku akan ikut meramaikan.”
”Aku
tunggu kunjunganmu!”
“Siapkan
saja hidangan yang enak! ibumu pintar memasak, apa beliau sedang menunggu calon
menantu yang bisa masak?”
“Tidak
juga, ibu lebih senang berkenalan dengan yang mampu menempatkan diri.”
“Syukurlah,
aku termasuk kriteria dengan bonus menghibur.” Kenan mengelus dada, mengundang
tawa.
“Aku
bingung mau bicara apa pada Shafa. Bertanya kerjaan, sudah. Tanya apa lagi?”
dua lelaki itu saling melirik.
“Pertanyaan
sih banyak, apa dia punya pacar? Apa sudah bersuami atau mungkin memiliki
anak?” Kenan menyenggol tubuh Shafa, mata Shafa melotot.
“Apa
perlu aku mengulang pertanyaan yang sama?” Ilman ragu. Kenan memakan es krim
seakan memberi waktu untuk Shafa.
“Aku
tidak punya pacar dan belum pernah menikah. Apa ada pertanyaan lagi?”
“Kamu
tidak kreatif. Shafa tidak suka pertanyaan itu.” Kenan sengaja menjahili Ilman.
“Benar
juga, itu terlalu basa-basi.” Ilman tertawa canggung.
“Kalian
butuh bicara, aku akan meninggalkan kalian berdua. Jika butuh aku, pangggil
saja!”
Kenan
menghampiri anak-anak yang bermain skateboard tidak jauh dari taman, memberi
mereka ruang untuk berbincang.
“Maaf!
aku tidak pandai memulai percakapan.” Ilman menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Kenan
benar, kita harus bicara. Aku minta maaf karena dulu bersikap tidak
menyenangkan.” Suara Shafa gemetar.
“Situasi
waktu itu yang memperburuk keadaan, aku memahaminya.”
“Jika
di ingat, yang ada hanya kenangan buruk untuk hubungan kita.” mata mereka
saling beradu.
“Aku
tidak merasa begitu. Masa lalu punya tempat tersendiri dalam ingatan.”
“Ambil
yang positif dan bermanfaat untuk masa depan saja!”
“Itu
saran yang baik. Bagaimana jika kamu terapkan untuk dirimu!” Ilman berhasil
memojokan Shafa, dia tersenyum menang.
Ilman
memandang langit, “Apa Tuhan menakdirkan pasangan yang terpisah jarak untuk
saling bertelepati?”
“Aku
tidak yakin.”
“Jika
waktu membawa seseorang saling berjauhan. Akankah jarak mengajarkan mereka
untuk setia?”
“Setia
tidak diukur dari jarak. Namun terwujud jika keduanya memiliki tujuan yang
sama. Tidak ada yang sia-sia jika saling mempertahankan.”
“Realita
saja, kita adalah manusia yang seringkali salah memprediksi pertanda. Apa kamu
masih takut akan perpisahan?” Pertanyaan Ilman membuat Shafa salah tingkah.
“Kita
tidak tau apa yang terjadi besok, begitu juga perasaan dapat berubah kapanpun.
Namun sekian lama kita berpisah, aku tetap menyukaimu.” Ilman menatap penuh
harap.
“Jangan
mengambil keputusan terlalu cepat! Jika kamu sudah yakin! Datanglah dan
katakan sekali lagi! Keluargaku akan menyambutmu.” Shafa memandangi Ilman
termenung, tidak berani berujar lagi.
“Sudah
selesai ngobrolnya?” Kenan menghampiri mereka dengan nafas yang tidak teratur.
“Sudah.”
jawab Shafa tenang.
“Shafa,
aku sarankan kamu harus bermain skateboard! Ini beneran seru. Aku merasa tua
jika bermain dengan mereka. Baru main beberapa menit saja kaki terasa kaku
sampai jatuh berkali-kali.”
“Tidak
mau, sebaiknya kita pulang. Kamu juga butuh istirahat!”
“Baiklah,
bagaimana kalau lanjut mengobrol dengan Ilman di warung Mang Kamil, kita jadi
kesana kan?” Shafa mengiyakan.
“Terimakasih
tawarannya tapi aku mau mampir ke toko seberang, ada barang yang harus di beli.
Aku pamit duluan.” Ilman menghindar.
Kenan menjabat
tangan Ilman, begitu juga Shafa. Ilman melangkah pergi. Kenan tidak
mendengar sepatah katapun dari Shafa.
“Apa
terjadi sesuatu? Si Ilman seperti orang yang baru saja tersambar petir.”
“Aku
mengajukan penawaran. Sepertinya dia belum siap, aku tidak memaksa.”
“Penawaran
apa?”
“Rahasia.”
Shafa berlalu meninggalkan Kenan yang penasaran.
“Shafa,
ayolah! Aku ingin tau penawaran apa?”
***
Apakah
aku berlebihan? Tidak. Kamu akan mengerti jika berada disituasiku. Kenapa kamu
tidak berpasangan? siapa yang kamu tunggu? Apakah kamu menunggu lamaran?
Pertanyaan yang sentimentil.
Jika
tau hubungan itu harus didasari cinta. Maka serahkan hatimu untuk mengalami
perjalanan, sedih dan bahagia yang tidak bisa dihindari. Ini kehidupan,
sejalan bukan berarti tanpa rintangan. Ujian yang kita hadapi cepat selesai
atau tidak, tergantung bagaimana cara menyikapinya. Seseorang yang memutuskan mencintai
akan melakukan tugas sebagai pasangan, tanpa ada keterpaksaan seperti menerima
kekurangan dan menghargai kelebihan masing-masing.
Di
usiaku ini, sudah banyak kisah yang terlalui. Lalu apa penyebabnya masih sendiri?
Tuhan punya maksud tertentu. Jika seseorang menuntut segala hal. Lalu, akankah
dia menerima orang yang ingin hidup sesuai dengan dirinya?
Kamu
siapa sehingga pantas untuk menikah dengan seseorang? Jadilah diri sendiri!
Jika dia tidak menerima keadaanmu maka tinggalkan! siapakah yang harus
dipertahankan? Dia yang tidak menuntutmu jadi oranglain.
Terimakasih
Ini
ceritaku.. DILARANG COPYPASTE!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar