Kamis, 01 Desember 2016

CERPEN "RENCANA"

 

Allah menitipkan seorang anak pada rahim seorang ibu, doa baginya didampingi kehidupan yang baik.  

 Namun realita, hidup penuh dengan resiko. Setiap orang ingin hidup tenang. Namun kita hanya makhluk Allah yang di ciptakan untuk siap dalam berbagai keadaan. Sanggupkah kamu jadi manusia tangguh atau memilih untuk pasrah pada keadaan.

***

Matahari ufuk Timur menghilangkan jejak tetes embun yang membasahi dedaunan. “Pernikahan” kata yang mengguncang perasaan seseorang. Seakan kata itu dibaca berulang sampai menggema di telinga. Setelah membaca pesan singkat, Shafa tidak ingin melakukan apa-apa selain mengurung diri.

Aku bisa apa, memaki? kesannya tidak bisa hidup tanpa dia. Dia yang selama ini aku prioritaskan, ternyata hanya buang waktu. Aku menyesal sangat setia. Dengan mudah dia dekat dengan yang lain disaat ada seseorang yang menjaga hati untuk seorang saja.

Ketika kita terlalu berharap lebih pada manusia, kita tidak bisa menghindari rasa kecewa. Memang pada dasarnya manusia berhak menentukan pilihan. Jadi belajarlah untuk ikhlas! Kebahagiaan seseorang tidak ditentukan oleh kamu meyakini dia milikmu, tetapi kamu dan dia merasa saling memiliki karena satu pihak yang berjuang akan berujung pada perpisahan.

“Ayolah, kita bicara sebentar!” dia tidak berhenti merajuk. Namun Shafa bukan perempuan yang mudah mengabulkan permohonan.

“Besok saja di kampus.” ada keinginan Shafa untuk menutup telepon namun dia urungkan.

“Kita harus bertemu hari ini.” Kenan membujuk lagi dengan nada yang lembut.

“Malam minggu seharusnya datang ke tempat pacar. Kenapa mengungsi di rumahku?” Shafa sebelumnya tidak pernah menanyakan ini karena setiap minggu Kenan akan datang ke rumah. Namun kali ini Shafa tidak ingin bertemu.

“Aku akan kerumah jam 7 malam.” Kenan menentukan tanpa meminta persetujuan.

“Siapa yang bilang boleh?” Shafa kesal karena mendapat respon yang tenang.

“Meskipun tidak di izinkan, aku akan tetap menemuimu. Jangan ditunggu, aku takut datang terlambat!” dia tidak peduli dengan tarikkan nafas Shafa diujung telepon.

“Oke.” akhirnya Shafa menjawab pasrah.

Meskipun dia bersikeras meminta Kenan untuk tidak menemuinya, Kenan akan datang dan mendapat sambutan yang baik dari orang rumah, percuma saja menghindar.

***

Keluarga Shafa berkumpul di ruang makan. Luna, adiknya sibuk mengupas apel, Ayah membaca koran dan Ibu menata makanan, tersenyum menyambut Shafa bergabung di meja makan.

“Kenapa mata anak Ayah? Apa kamu sakit?” memperhatikan Shafa memakan apel tanpa gairah.

“Tidak Ayah.” berusaha menghindari tatapan.

“Benar tidak apa-apa?” Ayah mencari celah untuk mendapat kepastian dari Shafa.

“Iya.” Jawabnya dengan senyum yang dia yakin membuat Ayah berhenti mengkhawatirkan keadaan.

“Ayah, maaf aku memotong percakapan. Bolehkah aku meminta pendapatmu!” Luna menengahi pembicaraan.

“Ya, tentu saja. Mengenai apa?”

“Apa Ayah punya saran aku masuk jurusan apa di perkuliahan nanti?”

“Ayah ingin tau, apa kamu sudah punya pilihan pada jurusan yang kamu sukai?”

“Ada, jurusan psikolog. Bolehkah?” Luna sangat antusias.

“Tentu saja. Ayah setuju denganmu, itu pilihan yang bagus.”

“Apa Ayah tidak keberatan jika suatu hari nanti aku kuliah sambil bekerja?”

“Selama kuliahmu tidak terganggu. Kamu sanggup melakukan dua kegiatan itu, Ayah akan mendukungmu. Kamu mengerti?”

“Iya, aku akan mengatur jadwal sebaik mungkin.” 

“Ayah menunggu kabar baiknya.”

“Siap, Ayah.” Luna merasa lega sudah mendapat persetujuan.

“Bagaimana dengan kuliahmu?” Ayah beralih, menyadarkan Shafa yang termenung.

“Aku mulai skripsi semester depan, semoga mata kuliah semester ini tidak ada masalah.”

“Tetaplah fokus pada kuliahmu!” Ibu memberi semangat, Shafa menganguk.

“Apa Ayah mendapat telepon dari Zian?” Shafa memberanikan diri memulai pembicaraan mengenai Zian. 

“Tidak, kenapa?”

“Sebulan yang lalu Zian memutuskan keluar dari asrama.”

“Keluar? Apa yang terjadi? Bukankah ini kesempatan dia, setelah tahun lalu gagal. Kenapa sekarang malah melepas tanggungjawab?” Ayah menatap penuh tanya 

“Dia bilang tidak nyaman. Sehingga dia berhenti mengikuti pendidikan.” Shafa tau itu bukan alasan yang Ayah inginkan.

“Apa Ayah perlu bicara dengannya?” Ayah tau pasti anaknya mengkhawatirkan Zian.

“Tidak perlu Ayah! Apapun yang kita katakan tidak akan mengubah apa-apa.”

“Dia melewati setiap tahap dengan semangat. Namun pada akhirnya mengundurkan diri. Kapan dia mengundurkan diri?” Ibu menggenggam tangan Shafa.

“Dia langsung menemuiku sepulang dari asrama.” tiba-tiba dadanya sesak mengingat kejadian itu.

“Kalian sudah dewasa. Ibu yakin kalian tau bagaimana cara menyelesaikan masalah.” ibu tersenyum kecil memberikan semangat.

“Iya bu, tetapi tidak ada yang bisa diperbaiki dari hubungan kami. Hari ini Zian akan menikah.” ujung matanya menangis. Akhirnya semua mengerti kenapa Shafa sangat gelisah.

“Ibu tau ini akan menganggu pikiranmu. Namun jangan biarkan semangatmu hilang! Dalam setiap ujian, Allah menyusun rencana yang baik, nak. Percayalah!” ibu mengelus pundak Shafa.

“Shafa, jodoh itu bukan hanya orang yang kita harapkan. Namun dia yang telah Allah pantaskan. Seorang perempuan juga berhak memilih. Imam yang baik, bertanggung jawab, sabar, sudah tentu sayang padamu dan keluarga! Lelaki seperti itu akan Allah siapkan untukmu.” Ayah meyakinkan.

“Kak, maaf jika Luna ikut campur juga. Tidak ada gunanya menyesali perpisahan dengan lelaki yang tidak punya pendirian! Hidup terlalu berharga untuk bersedih!”

“Tentu saja. Aku yakin ini yang terbaik.” Shafa menguatkan diri.

Kehilangan adalah salah satu ujian yang harus kita lewati. Allah senantiasa membimbing kita yang pantang menyerah. Menyiapkan hari esok yang bahkan bisa lebih baik dari yang kita pikirkan. KuasaNya sungguh nyata. Perbaikilah dirimu, semakin dekat dengan Allah! Itulah sugesti yang membuat aku sangat tegar. Terpuruk tidak ada gunanya.

Hallo, masa depan lebih penting! Jika aku berada jauh dari tempatku memulai, aku bukan melarikan diri. Namun biar aku buktikan, setiap pembelajaran di masa lalu akan membawa kita pada kesuksesan. Balas dendam terbaik adalah menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

***

Malam ini, Shafa menunggu Kenan. Sahabat sekaligus penghibur yang baik, cerewet, tidak mau mengalah, kadang manja dan banyak sikap lain yang bertabrakan dengan sikap Shafa.

“Nonaku sini peluk!” Dia merentangkan tangan, Shafa reflek mengarahkan tinjuan. Lima cm saja melewati batas, hidung Kenan akan membengkak.

“Jangan bertingkah aneh, aku sedang tidak mood!” jawabnya ketus, lalu duduk diteras, Kenan mengikuti.

Temaram lampu halaman tidak berhasil menyembunyikan kesedihan, Kenan terpaku 20 detik memikirkan topik yang akan dibahas dengan gadis itu.

“Mata sembab, muka pucat, rambut berantakan. Kapan kamu akan berpenampilan cantik di depanku?” Kenan menyikut Shafa yang terdiam seperti patung.

“Aku memilih untuk berpenampilan apa adanya.” jawab Shafa malas. Tatapan kosong tertuju pada kolam ikan di depan.

“Mau kamu seperti ini, aku sangat menerimamu apa adanya.” Shafa tidak menanggapi pernyataan itu. Kenan sedang berusaha keras untuk menghibur.

“Kenapa tidak ke rumah Hany?” Shafa memperhatikan kerut wajah Kenan. Senyum manis tersungging di pipi.

“Aku memilih pacaran tidak di malam minggu, saat semua orang merayakan moment itu. Menandainya sebagai hari dimana kamu bertemu pacar, jalan-jalan, pergi nonton dan lain-lain.”

“Apa Hany tidak marah?”

“Marah itu untuk hubungan yang tidak memiliki rasa percaya. Gaya pacaran yang selalu bersama malah cepat bosan. Bukankah akan lebih rindu jika jarang bertemu.”

“Bosan? Jika terdengar oleh pacarmu, apa dia memaklumi pernyataanmu?” Shafa memojokan Kenan.

“Tidak, moodnya akan berantakan seperti perempuan yang sedang mens. Pokoknya apapun perkataannya jangan di bantah. Memang lelaki selalu salah dimata perempuan.” wajahnya memelas, Shafa hampir saja tertawa.

Kenan lebih sering tidak serius menanggapi kemarahan tetapi satu sisi dia menyadarkanku, tidak semua masalah harus dibawa emosi. “Kalem we atuh da hirup mah ukur neangan piamaleun lain pikasebeleun (santai saja, hidup itu untuk mencari amal baik bukan kejengkelan).” begitulah kata Kenan jika aku benar-benar marah.

“Tertawalah sampai kamu menangis! Karena meskipun ditutupi, matamu tidak mampu berbohong.” Kenan menerka ekspresi Shafa yang langsung berubah sedih.

“Sini bersandar biar aku ceritakan sebuah dongeng!” Kenan menepuk pundak.

“Tidak mau, Jika kamu mendekat, aku lebih mudah untuk mencekikmu!” Shafa melingkarkan tangan, mendekati leher Kenan.

“Lakukan saja!” jawab Kenan pasrah, mencondongkan badan mendekat. Namun Shafa refleks menghindar.

“Jika aku menyakitimu tanpa alasan, aku akan semakin buruk bukan jadi lebih baik.” raut wajah Shafa kembali sayu.

Ya, Kenan tau kalau aku pandai menyembunyikan perasaan. Orang pikir aku gadis yang ceria, murah senyum, seperti orang tanpa beban. Nyatanya aku tidaklah setegar itu. Aku mudah menangis, meredam kesedihan dengan ekspresi seakan aku tidak apa-apa.

“Itu kamu paham. Jangan terlalu berharap pada manusia, sedih berlebihan juga kamu yang rugi! Memangnya dia merasakan apa yang kamu rasa saat ini? Tentu saja tidak. Ketika dia sudah memiliki kehidupan lain yang membahagiakan, dia otomatis menghapus kisah terdahulu.” 

“Kamu benar, aku termasuk orang yang merugi. Jelaskan padaku kenapa seseorang bisa berubah menjadi egois dan tidak berperasaan?”

“Mungkin seseorang ingin mengubah hidupnya. Dia punya target dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dikejar di depan mata.”

“Apakah dia tidak berpikir keputusannya bisa saja merugikan?”

“Jika tujuannya mencari kebahagiaan. Dia tidak akan memikirkan itu merugikan atau tidak pada dirinya atau oranglain sekalipun karena dia pasti tau resiko dari pilihannya. Menurutnya itu keputusan yang benar. Apa pembahasan ini ada hubungannya dengan Zian?”

“Tidak, memang apa pentingnya Zian saat ini?” tatapan Shafa mulai tajam.

“Maaf jika membuatmu kecewa! Alasanku tidak mengajakmu menyaksikan pernikahan Zian karena menjaga perasaan kalian. ”

“Aku benci orang yang menyimpan rahasia, apalagi berkaitan denganku.” Shafa kesal.

“Aku akan membahas ini namun memastikanmu dalam kondisi tenang. Namun, darimana kamu dapat kabar pernikahannya?” Shafa tersenyum, dia sadar Kenan tidak pantas disalahkan.

“Dari Helen. Sahabat kita sudah mengakhiri masa lajang. Bagaimana dengan kita?” perasaan Shafa kembali tenang.

“Nanti saja kita bicarakan masa depan. Jika kamu menginginkan dalam waktu dekat, aku belum siap.” Kenan menatap serius,  Shafa menaikan satu alis lalu terbahak.

Zian termasuk lelaki pendiam lebih tepatnya cuek. Ada kedekatan khusus antara kami. Perasaan itu masih tersimpan sampai kami tidak pernah saling berkabar. “Dia pasti kembali” sugesti ketika aku ditinggalkan beberapa lelaki yang menjelma sebagai pacar.

***

Jika kamu bisa merasakan perasaan seseorang, kamu orang hebat. Aku saja tidak tau harus berbuat apa untuk menyikapi ini, entah harus menangis atau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Bukankah perempuan memang seperti itu. Kita mampu bersikap sewajarnya. Bukan, tetapi kita memang pintar berbohong.

“Lihatlah pasangan yang serasi bukan!” Kenan berkata seakan menghukum kesalahan seseorang.

“Sejak kapan dia disana?” bangunan dengan kaca lebar itu, mempertontonkan pasangan yang sedang menyantap hidangan.

“Mungkin setengah jam yang lalu, ketika kita di toko buku. Ayo menyebrang!” Kenan memastikan keadaan jalan, namun Shafa mematung.

“Kenapa?” Kenan menatap heran.

“Aku tunggu disini saja.” Shafa berdiri di depan halte.

“Aku tidak mau ke parkiran kafe sendiri. Nanti tukang parkir tanya; kamana gandenganna kang?” Kenan sengaja menggoda.

“Bilang saja ketinggalan.” jawab Shafa dengan ekspresi datar.

“Sembunyikan wajahmu! Jika kamu merasa terganggu oleh tatapan seseorang biar aku yang hadang. Anggap saja aku bodygguard!” Kenan menyilangkan kedua tangan dan  menegapkan badan, Shafa tertawa.

“Apa perlu melakukannya?” Shafa merasa tidak yakin untuk melakukan hal tersebut.

“Itu pilihan. Apa bersembunyi membuatmu merasa aman?” Kenan mengajukan pilihan.

“Tidak.” jawab Shafa tegas.

“Berjalanlah seperti biasa, bukan malah jadi pengecut.” mata mereka saling beradu, Kenan menangkap sorot mata Shafa yang redup.

“Apa karena aku melakukan kesalahan?”

“Seperti memutuskan Rizal?”

“Ini bukan saatnya membahas Rizal.” wajahnya kesal.

“Kenapa tidak? kalian putus padahal baru pacaran satu bulan.”

“Dia pintar akademik tetapi bodoh dalam perasaan, berlaga pencemburu, dari luar kalem tetapi otaknya mencari cara untuk menerkam.” Shafa menjelaskan dengan nada jengkel. Kenan tertawa.

“Mungkin dia belum menemukan tempat layak! Bagaimana dengan Ilman?” pertanyaan ini mampu membuat senyum kecil di bibir Shafa.

“Dia sabar menghadapi sikap manja, kurang peka, dan banyak lagi sikap negatif yang bisa saja membuat orang jengkel. Lelaki yang berharap ada perubahan pada seseorang yang menjelma seperti patung. Namun patung itu lupa, ada waktu dimana lelaki bosan dengan yang tidak berperasaan.”

“Maksudmu sebaik apapun sikap Ilman, tidak berpengaruh padamu. Jika tidak mau hal buruk terulang, maka perbaikilah!” Kenan menjentrikan jarinya pada kening Shafa, membuat dia meringis.

“Aku sadar kurang bersyukur atas kebaikan yang aku terima dari Ilman.”

“Apa selama ini ada kaitannya dengan seseorang?” Kenan sengaja memojokan Shafa, supaya dia paham kesalahannya.

“Kalimatmu ada benarnya.” Shafa duduk di kursi halte.

“Berhentilah menutup diri! Kamu gadis periang, banyak bicara sekaligus pendengar yang baik, Shaf. Diammu hanya membuatku khawatir.”

“Maaf, membuatmu khawatir!” Shafa menatap Kenan serius.

“Tidak masalah. Apa Ilman berkaitan dengan kamu yang terlalu berharap pada seseorang? Sehingga dia telah mengubah tempramenmu?” tegas Kenan.

“Jangan libatkan dia! Kita sudah menjalani hidup masing-masing.”

“Kamu bisa berbicara seperti itu, tetapi dengan mudahnya mencampakan seseorang.”

“Kenan, nasibmu buruk sekali menjadi sahabat orang jahat.”

“Jika kamu jadi jahat, aku adalah orang pertama yang akan menyadarkanmu. Pernahkah kamu menyukai seseorang?” Kenan kembali melembutkan suaranya.

“Pilihanku jatuh pada Ilman. Dia mengirim pesan penyemangat bukan kegundahan, menelepon dengan humoran, mengajak jalan dengan kesopanan. Dia tidak pernah berkata rindu tetapi datang kerumah tanpa aku undang, dia tidak diam ketika aku salah tetapi menasehati. Aku suka melihat tampang juteknya saat cemburu.”

“Pilihanmu hanya Ilman? Bagaimana denganku? Apa aku tidak termasuk pria baik?” Kenan penasaran.

“Kamu sahabatku yang terbaik. Mungkin predikat jahat hanya disematkan oleh perempuan yang pernah kamu kencani.”

“Perlu kamu tau, aku playboy yang tidak menyakiti hati perempuan. Bagaimana jika aku memilih kamu jadi pasanganku?” mendengar itu Shafa memukul paha Kenan, membuatnya kesakitan.

“Aku menolak.” jawab Shafa spontan.

“Bisakah tidak menjawab secepat itu?” Kenan menghela nafas lalu melanjutkan ucapannya. “Shafa, menurutku pacaran itu malah membuat banyak pikiran. Aku telah mencampakan Hany dua kali. Aku berharap ada perubahan dalam hubungan kami. Namun ternyata tidak.”

“Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Menjadi lelaki single.”

“Lihatlah pacar Ilman, dia cantik! Apa dia termasuk perempuan incaran?” mereka menatap jendela kafe di sebrang.

“Jika aku mengincarnya, maka kamu akan kembali pada Ilman. Kamu tidak akan punya waktu untukku. Itu tidak boleh terjadi.” Kenan tersenyum jail.

“Seenaknya memutuskan kehidupan seseorang semaumu. Tenang saja! akan aku gunakan waktu  single ini untuk berada disampingmu.” Shafa mengelus pundak Kenan.

“Kenapa kita tidak selamanya bersama?” Kenan merajuk.

“Jangan terlalu berharap! aku melakukan ini untuk mengisi waktu senggang saja.” jawab Shafa datar.

“Tidak bisakah kamu merangkai kata-kata yang manis?” Padahal Kenan menantikan jawaban yang mampu merekahkan hati. 

“Terimakasih telah menjadi sahabat terbaik. Kamu berhasil mengembalikan raga yang terperangkap di suatu masa, aku lega seperti lepas dari ikatan.”

“Akhirnya kamu sudah berhenti menjelma arwah penasaran.” 

“Hus.., nanti kamu diikuti arwah beneran.” Mereka tertawa.

Sore itu terasa hangat, Ilman memperhatikan Shafa menyebrang menuju parkiran kafe. Dia ingin beranjak dari tempat duduk, menyapa gadis itu. Namun melihat kebahagiaan Shafa bersama Kenan, dia mengurungkan niat.

***

Shafa menonton televisi sambil menyantap cemilan. Suapan terakhir bersamaan dengan panggilan dari nomer yang tidak di kenal.

“Halo, Shafa.” sapa perempuan di ujung telepon.

“Ya, maaf saya sedang bicara dengan siapa? ”

“Tidak perlu berbicara formal! Lagipula kita seumuran.” Shafa tidak mengenali suara di ujung sana.

“Iya, ini dengan siapa?”

“Apa perlu aku memberitahumu?” tanyanya seperti main teka-teki.

“Tentu saja. Kamu siapa?” Shafa tidak suka bertele-tele.

“Aku Ajeng, karyawan di Apotik Cemerlang. Kita di Universitas yang sama, cuma beda gedung fakultas jadi tidak pernah bertemu.” jelasnya.

“Ada perlu apa menelepon?” Shafa pikir dia mendapat telepon dari sales yang akan menawarkan produk.

“Kamu tidak suka basa-basi ya?”

“Lebih cepat lebih baik. Kamu sudah tau identitasku kan?”

“Baiklah. Apa kamu kenal Zian?”

“Kenal.” Jawab Shafa ragu.

“Maaf menelepon tiba-tiba, aku istrinya. Aku ingin mengenalmu secara baik. Di ponsel suamiku ada pesan masuk darimu. Zian cerita kalau kalian berteman.” Shafa terperanjat, hampir saja memutuskan panggilan. Namun dia sedang memberanikan diri.

“Iya, anggap saja begitu. Memang kenapa?”

“Dari isi pesan, kamu sangat akrab dengan suamiku.”

“Tidak ada yang salah kan? Kita cuma sahabat.” jawab Shafa sinis.

“Iya aku mengerti. Ada satu pesan yang membuatku ingin menanyakan langsung padamu. Apa yang menyebabkan kamu marah pada suamiku?”

“Hanya itu? Aku kecewa karena dia tidak mengundangku ke pernikahan kalian.” perasaannya mulai tidak karuan.

Harusnya aku akhiri saja percakapan ini. Ingin ku bertanya “Kenapa hadir dan merusak hubungan orang?” “Bagaimana perasaanmu jika di posisiku?”. “Tidak perlu menghubungiku karena masalah sepele seperti ini, toh kamu sekarang istrinya. Aku hanya masa lalu yang tidak perlu diingat.” Terlalu drama. Skenario manusia itu bisa keliru, mungkin memang dia jodoh yang Allah nyatakan tepat.

“Atas nama suamiku, aku minta maaf. Boleh ceritakan awal persahabatan kamu dengan Zian?”

“Aku, Zian dan Kenan selama 3 tahun berada di kelas yang sama. Mereka berdua jahil dan nakal. Aku sering menegur mereka, akhirnya kami sering bertengkar. Setiap dibagi kelompok belajar, kami selalu bersama. Rasanya ada yang kurang jika tidak ada salah satu. Mungkin karena itu kita jadi akrab. Kami bisa disebut tiga serangkai. Bukan pejuang kemerdekaan tetapi pejuang kabur dari sekolah untuk mendapatkan bakso gratis Mang Kamil, warung seberang sekolah. Bakso gratis bertepatan dengan jadwal pramuka. Jadi salah satu harus kami korbankan dan pilihan kami jatuh pada isi perut. Tidak untuk ditiru!” Jawab Shafa santai, Ajeng tertawa.

“Kamu mirip sekali dengan Kenan, ceria dan humoris. Apa kalian pacaran?”

“Tidak.” Shafa hampir saja teriak.

“Ternyata dugaanku salah. Bagaimana kalau aku bocorkan rahasia. Apa kamu ingin tau?”

“Apa?”

“Sebenarnya di ponsel Zian banyak foto Kenan bersamamu, makanya aku mengira kalian pacaran, serasi sekali.”

“Foto aku dan Kenan?” Shafa penasaran dengan kebenaran dari ucapannya.

“Iya, senyummu manis. Suatu hari nanti kita harus bertemu.” Shafa tidak menjawab.

“Baiklah, sampai jumpa Shafa."

***

Shafa duduk dilantai, bersandar pada kasur. Dia menyalakan televisi dicanel film horor, ditemani makanan ringan. Tanpa mengetuk pintu Mila duduk disamping.

“Tadi Luna bilang kamu sedang hibernasi. Melihat keadaanmu seperti ini, ternyata ada benarnya.”

“Ya, aku malas keluar. Tadi nonton film apa?”

“Aku tidak jadi nonton karena tidak bersamamu.” Mila memeluk Shafa. Namun dia mendorong badan Mila untuk menjauh.

“Jangan menganggu, jika tidak mau kena omel!”

“Kalau marah-marah terus nanti cepet tua.”

“Mil, kemarin aku mendapat telepon dari istri Zian.”

“Ada urusan apa?” Mila ikut jengkel.

“Dia membahas pesanku yang tertinggal di ponsel Zian.”

#Malam minggu adalah hari special bagi sebagian orang, namun bagiku sama saja. Sejak sore aku sibuk dikamar, duduk di hadapan komputer.

“Shafa, ada tamu.”

“Siapa ibu?”

“Lihat sendiri! gadis cantiknya sudah Ibu persilahkan duduk.”

“Iya, baik bu.” sedikit merapikan rambut, menyambut kedatangan seseorang di ruang tamu, Helen.

“Teteh, apa kabar?”

“Baik, Helen apa kabar? Sekarang jadi pangling.”

“Baik juga teh. Sebenarnya aku ingin mempunyai badan seperti model tetapi hasilnya malah badan tipe emak-emak.” Helen menunjukan perut dua lapis, berhasil membuat tawa.

“Teteh punya pacar? Jangan bilang masih sama Kenan!”

“Kita tidak terpisahkan sebagai sahabat.”

“Bagaimana kalau aku kenalkan dengan seseorang?”

“Jangan repot-repot! Aku ingin sendiri dulu.”

“Aku tidak percaya. Jika teteh melihat orang ini, aku yakin teteh akan berubah pikiran. Kedatanganku kesini bersama seseorang. Kami bertemu di rumah sakit. Aku pernah melihat wajahnya (diframe foto di atas meja belajar Shafa) saat aku bilang berteman dengan Teh Shafa, dia semangat ingin bertemu.”

Siapa?” aku jadi salah tingkah.

Aku mengikuti Helen, melangkah hati-hati. Saat membuka gerbang, ada lelaki berdiri di samping motor, tersenyum. Sempat terlintas di pikiran  untuk memeluk.

“Zian.”

Kamu masih ingat padaku?” kalimat pertama Zian setelah tujuh tahun tidak bertemu#

“Apa yang kalian lakukan?” Mila mulai mencari tau.

“Kami berbincang masa lalu. Cerita tentang dia yang memutuskan keluar kota, mencari pekerjaan disana.”

“Apa selama berpisah dia mengingatmu, sama seperti yang kamu lakukan?”

“Aku tidak tau. Melihatnya saja membuatku bahagia. Jantungku seperti mau copot, senyum manis, mata tajam seperti panah dewa amor yang siap menancap. Mungkin saat itu aku tidak waras.” mereka tertawa.

“Raut wajah Zian seperti merahasiakan banyak hal. Apa kamu sependapat?” Mila merasa Zian adalah sosok yang misterius.

“Iya, sulit menebak apa yang dia sembunyikan, penuh teka-teki. Mila, aku selalu berharap hubungan kami baik-baik saja. Seperti yang kamu tau, kami berdua berusaha menata masa depan.”

“Ya aku tau. Apa alasan dia memutuskan untuk keluar dari asrama?”

#Zian turun dari motor, membuka helm. Aku kaget melihat keadaan Zian, muka lebam dan mata kiri bengkak.

“Kenapa bisa memar begini? Apa yang terjadi?” Aku menyentuh luka di pelipis, Zian meringis. Kami duduk diteras kosan, aku disamping merasa iba.

“Tenanglah! Ini luka kecil, dikompres dan dikasih obat juga sembuh. Tadi aku beli obat di apotek. Jadi sekalian mampir kesini.”

“Apa ada luka selain yang aku lihat?”

“Tidak ada, jangan memasang wajah khawatir! Kamu melihatku seperti orang yang akan mati.” 

“Bagaimana tidak khawatir, kamu pulang dengan keadaan seperti ini.”

“Ini kejutan dari senior.” wajahnya begitu tenang.

“Apa terjadi sesuatu? Bukankah belum waktunya pulang?”

“Aku pulang karena merindukanmu.” dengan senyum paling menenangkan, namun aku tau Zian menyembunyikan sesuatu.

“Aku serius Zian. Tindakan ini akan membuatmu dalam masalah.”

“Aku sudah dapat hukuman.” Zian menunjuk luka.

“Ceritakan yang sebenarnya?” Aku tidak menanggapi Zian yang menganggap kepanikanku bahan candaan.

“Shafa dengarkan aku! Aku akan keluar dari asrama.” menarik napas panjang.

“Kenapa?”

“Tidak betah saja. Aku melakukan banyak kesalahan, jadi tidak semangat.” Zian menunduk, tangannya memainkan batu kerikil lalu melempar penuh tenaga.

“Kamu pasti bisa melewati semua rintangan. Yakin pada tekadmu! Tunjukan kamu yang disiplin, berani dan pantang menyerah! seorang Zian tidak melakukan kesalahan yang sama .”

“Masalahku bukan itu saja, sehingga aku memilih tidak kembali. Aku sangat lelah, aku tidak cocok berada di tempat yang penuh tekanan.” Zian terlihat merenung.

“Berhentilah mengeluh! Tidak ada gunanya lari dari masalah!” namun aku kesal.

“Apa perlu aku ulang? Keputusanku untuk keluar sudah bulat.” nada suara Zian mulai meninggi.

“Kamu menyerah dengan apa yang sudah diusahakan oleh tenaga dan pikiranmu.”

“Silahkan kamu marah!” nadanya meninggi.

“Kamu membiarkan cita-citamu hilang. Seakan kamu lupa sudah berapa kali gagal dan bangkit lagi. Menangis, kesakitan, lelah, emosi bukankah sudah kamu rasakan ketika kamu berusaha untuk mendapatkan posisimu. Tetapi sekarang kamu dengan mudahnya bilang keluar.” 

“Oke, disini aku yang salah. Jika kamu tidak terima keadaanku, kamu boleh meninggalkanku!”

“Dengan mudah kamu mengambil keputusan, tanpa memikirkan bagaimana kedepannya. Aku sangat cemas, tetapi saranku tidak berguna. Apa yang harus aku lakukan? Zian aku mohon ceritakan yang sejujurnya! Aku akan bantu.”

“Aku tau kamu kecewa tetapi aku akan berusaha memperbaiki semua.” seketika hening. 

Tanpa berkata lagi, Zian menyalakan motor. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkanku yang tidak bisa lagi membendung air mata.#

“Aku terlalu menyalahkan dia. Dia pasti tertekan sekali pada waktu itu. Seharusnya aku tidak banyak bicara.”

“Wajar saja kamu penuh emosi, Shaf. Kalian melakukan semua dari nol, sampai dia berada tahap itu. Lalu Zian menyerah. Kalian sama-sama kecewa.”

“Iya, namun semenjak itu kamu menjadi canggung. Meskipun selalu ada pihak yang mencairkan suasana. Keganjilan semakin terasa ketika aku melaksanakan KKN, sebulan tanpa kabar. Seminggu setelah pulang dari KKN, kabar pernikahannya sampai ditelinga. Aku mendapat pesan, Jangan ganggu aku lagi! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Aku berusaha menelepon untuk memastikan namun tidak ada tanggapan.”

“Pertemuan yang kamu dambakan sekian lama malah berakhir menyedihkan. Apa kamu menyesal bertemu dengannya?”

“Semua rencana Allah, aku percaya akan ada kesempatan untuk dicintai dan mencintai seseorang.”

“Aku menunggu kamu menyadarinya.”

“Menyadari apa?”

“Jangan menganggap cinta sebuah permainan karena perasaan itu nyata dan butuh ketulusan! Janganlah egois, kamu pernah merasakan sakit ditinggalkan! Jangan lakukan itu pada oranglain! Balas dendam itu tidak baik, meskipun kamu merasa tidak melakukannya.”

“Siapa yang barusan memberi saran? Aku ingin memelukmu.” Shafa merentangkan tangan, Mila menyambut hangat.

***

Shafa dan Ibu duduk didepan rumah, menunggu kedatangan seseorang.

“Ibu, aku ingin tau pendapat Ibu?”

“Iya, bagaimana?”

“Ketika seorang lelaki bertemu dengan perempuan yang sulit di dekati dan tidak suka diberikan pujian. Namun dia memilih bertahan padahal dia menyadari perempuan itu memagari diri dan bersikap selektif. Perkenalan mereka sangat berkesan, entah disengaja atau tidak namun membuat lelaki tidak ingin berpaling.”

“Apa masalah yang dihadapi perempuan itu?”

“Asmara perempuan tidak berjalan baik. Sehingga dia memantapkan diri untuk mencari pasangan hidup. Namun si lelaki tidak berani memberi kepastian. Kisah yang dirajut panjang seakan tidak menghasilkan jalan keluar.”

“Jika lelaki itu serius, harusnya dia segera mengambil keputusan! Namun, jika tujuannya bukan mencari pendamping, lebih baik mundur saja.”

“Iya, perempuan itu sudah menegaskan bahwa dia ingin tujuan yang jelas. Bukan tentang pacaran tetapi rencana matang.”

“Apa perempuan itu benar sudah siap? Ibu ingin tau pendapatmu.”

“Jika dilihat dari prinsipnya, tentu sangat siap. Apa mungkin yang dipikiran lelaki adalah matang secara finansial? Memang jika berbicara soal mapan, tidak ada habisnya. Entah sampai kapan kategori itu terwujud sesuai keinginan. Sedangkan perempuan, ketika dia merasa siap berarti sudah tau juga resikonya.”

“Kehidupan sekarang dituntut mengambil resiko atau bertahan di zona nyaman. Yang paling penting dalam pernikahan adalah kesiapan diri dengan segala hal yang akan dihadapi ketika sudah berumah tangga. Karena menyatukan dua pemikiran yang berbeda itu tidak mudah. Ibu tidak bermaksud melarang pernikahan. Tetapi alangkah baiknya keduanya memantaskan diri. Mengerti?”

“Iya bu.”

Tiiid..... tiiiddd.... suara kelakson terdengar di halaman, Shafa dan Ibu menghampiri.

“Ibu, nanti kita lanjutkan lagi. Aku akan beli makan setelah jalan dengan Kenan.”

“Martabak manis, bakso dan es campur.”

“Banyak sekali, nanti aku pilihkan jadinya beli apa.”

“Iya ibu mengerti. Kalian hati-hati dijalan!” 

Kenan dan Shafa pamit, meninggalkan ibu yang mengawasi sampai mereka menghilang di pertigaan.

***

Shafa dan Kenan keluar dari sebuah gedung, melangkah menuju taman, membeli es krim, kemudian duduk pada kursi dengan meja bundar mirip jamur. Mereka asik membicarakan film yang baru saja di tonton.

“Halo, apa kabar?” Shafa mendongkak, Kenan tidak kalah terkejut.

“Baik.” jawab Shafa.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Ilman duduk disamping Shafa.

“Kami sedang melakukan ritual mendinginkan pikiran. Namun es krim ini sepertinya akan cepat mencair. Cuacanya kok jadi gerah.” Kenan mengelap dahi.

“Perasaanmu saja.” Shafa menimpali. Kenan cemberut karena Shafa tidak mendukungnya.

“Sudah lama kita tidak bertemu.” Tanyanya pada Shafa seakan Kenan orang ketiga yang tidak dianggap.

“Iya, kebetulan kita bertemu ketika langit sore ini menghadirkan warna yang bagus, pertanda bahagia.” ucap Shafa sekenanya.

“Mungkin langit mengartikan perasaanmu saat ini.” timpal Ilman, Shafa terbatuk sambil memukul paha Kenan yang menyembunyikan tawa.

“Kerja dimana sekarang?” Shafa tidak suka ditanya kerjaan, malah melontarkan pertanyaan itu.

“Masih di tempat dulu, kalian?”

“Aku bekerja di kantor swasta, sedangkan Shafa diluar kota.” Kenan paham situasi.

“Oh begitu.” raut wajah Ilman penuh tanya. Namun dia memilih tidak mengajukan pertanyaan lagi.

“Kalian canggung sekali. Aku akan emosi jika menghabiskan waktu dengan melihat kalian seperti sedang interview.” Kenan memecah keheningan.

“Aku sulit mencairkan suasana.” Ilman gelisah.

“Tidak masalah. Aku akan seperti itu jika di posisimu. Kalau boleh tau, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Kenan sengaja memulai agar tidak canggung.

“Aku tadi bertemu teman bisnis. Kenan, apa kamu sangat sibuk?”

“Tidak juga. Jika terlalu sibuk, aku akan stress karena tidak punya waktu untuk menganggu hidup Shafa.” Ilman terdiam sejenak.

“Jika ada waktu senggang, berkunjunglah ke rumah!”

“Apa tidak masalah jika menginap? Aku hanya takut mengganggu. Apa kamu sudah punya pendamping?” Kenan memancing obrolan.

“Belum. Bagaimana denganmu?”

“Kita bernasib sama.” Mereka tertawa, Shafa seperti orang asing berada di tengah keduanya.

“Anak-anak tongkrongan sering menanyakanmu. Libur kerja kita biasa berkumpul. Jangan lupa hubungi nomerku!” Ilman memberikan kartu nama.

“Baiklah, aku akan ikut meramaikan.”

”Aku tunggu kunjunganmu!”

“Siapkan saja hidangan yang enak! ibumu pintar memasak, apa beliau sedang menunggu calon menantu yang bisa masak?”

“Tidak juga, ibu lebih senang berkenalan dengan yang mampu menempatkan diri.”

“Syukurlah, aku termasuk kriteria dengan bonus menghibur.” Kenan mengelus dada, mengundang tawa.

“Aku bingung mau bicara apa pada Shafa. Bertanya kerjaan, sudah. Tanya apa lagi?” dua lelaki itu saling melirik.

“Pertanyaan sih banyak, apa dia punya pacar? Apa sudah bersuami atau mungkin memiliki anak?” Kenan menyenggol tubuh Shafa, mata Shafa melotot.

  “Apa perlu aku mengulang pertanyaan yang sama?” Ilman ragu. Kenan memakan es krim seakan memberi waktu untuk Shafa.

“Aku tidak punya pacar dan belum pernah menikah. Apa ada pertanyaan lagi?”

“Kamu tidak kreatif. Shafa tidak suka pertanyaan itu.” Kenan sengaja menjahili Ilman.

“Benar juga, itu terlalu basa-basi.” Ilman tertawa canggung.

“Kalian butuh bicara, aku akan meninggalkan kalian berdua. Jika butuh aku, pangggil saja!”

Kenan menghampiri anak-anak yang bermain skateboard tidak jauh dari taman, memberi mereka ruang untuk berbincang.

“Maaf! aku tidak pandai memulai percakapan.” Ilman menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Kenan benar, kita harus bicara. Aku minta maaf karena dulu bersikap tidak menyenangkan.” Suara Shafa gemetar.

“Situasi waktu itu yang memperburuk keadaan, aku memahaminya.”

“Jika di ingat, yang ada hanya kenangan buruk untuk hubungan kita.” mata mereka saling beradu.

“Aku tidak merasa begitu. Masa lalu punya tempat tersendiri dalam ingatan.”

“Ambil yang positif dan bermanfaat untuk masa depan saja!” 

“Itu saran yang baik. Bagaimana jika kamu terapkan untuk dirimu!” Ilman berhasil memojokan Shafa, dia tersenyum menang.

Ilman memandang langit, “Apa Tuhan menakdirkan pasangan yang terpisah jarak untuk saling bertelepati?”

“Aku tidak yakin.”

“Jika waktu membawa seseorang saling berjauhan. Akankah jarak mengajarkan mereka untuk setia?”

“Setia tidak diukur dari jarak. Namun terwujud jika keduanya memiliki tujuan yang sama. Tidak ada yang sia-sia jika saling mempertahankan.”

“Realita saja, kita adalah manusia yang seringkali salah memprediksi pertanda. Apa kamu masih takut akan perpisahan?” Pertanyaan Ilman membuat Shafa salah tingkah.

“Kita tidak tau apa yang terjadi besok, begitu juga perasaan dapat berubah kapanpun. Namun sekian lama kita berpisah, aku tetap menyukaimu.” Ilman menatap penuh harap.

“Jangan mengambil keputusan terlalu cepat! Jika kamu sudah yakin! Datanglah dan katakan sekali lagi! Keluargaku akan menyambutmu.” Shafa memandangi Ilman termenung, tidak berani berujar lagi.

“Sudah selesai ngobrolnya?” Kenan menghampiri mereka dengan nafas yang tidak teratur.

“Sudah.” jawab Shafa tenang.

“Shafa, aku sarankan kamu harus bermain skateboard! Ini beneran seru. Aku merasa tua jika bermain dengan mereka. Baru main beberapa menit saja kaki terasa kaku sampai jatuh berkali-kali.”

“Tidak mau, sebaiknya kita pulang. Kamu juga butuh istirahat!”

“Baiklah, bagaimana kalau lanjut mengobrol dengan Ilman di warung Mang Kamil, kita jadi kesana kan?” Shafa mengiyakan.

“Terimakasih tawarannya tapi aku mau mampir ke toko seberang, ada barang yang harus di beli. Aku pamit duluan.” Ilman menghindar.

Kenan menjabat tangan Ilman, begitu juga Shafa. Ilman melangkah pergi. Kenan tidak mendengar sepatah katapun dari Shafa.

“Apa terjadi sesuatu? Si Ilman seperti orang yang baru saja tersambar petir.”

“Aku mengajukan penawaran. Sepertinya dia belum siap, aku tidak memaksa.”

“Penawaran apa?”

“Rahasia.” Shafa berlalu meninggalkan Kenan yang penasaran.

“Shafa, ayolah! Aku ingin tau penawaran apa?”

***

Apakah aku berlebihan? Tidak. Kamu akan mengerti jika berada disituasiku. Kenapa kamu tidak berpasangan? siapa yang kamu tunggu? Apakah kamu menunggu lamaran? Pertanyaan yang sentimentil.

Jika tau hubungan itu harus didasari cinta. Maka serahkan hatimu untuk mengalami perjalanan, sedih dan bahagia yang tidak bisa dihindari. Ini kehidupan, sejalan bukan berarti tanpa rintangan. Ujian yang kita hadapi cepat selesai atau tidak, tergantung bagaimana cara menyikapinya. Seseorang yang memutuskan mencintai akan melakukan tugas sebagai pasangan, tanpa ada keterpaksaan seperti menerima kekurangan dan menghargai kelebihan masing-masing.

Di usiaku ini, sudah banyak kisah yang terlalui. Lalu apa penyebabnya masih sendiri? Tuhan punya maksud tertentu. Jika seseorang menuntut segala hal. Lalu, akankah dia menerima orang yang ingin hidup sesuai dengan dirinya?

Kamu siapa sehingga pantas untuk menikah dengan seseorang? Jadilah diri sendiri! Jika dia tidak menerima keadaanmu maka tinggalkan! siapakah yang harus dipertahankan? Dia yang tidak menuntutmu jadi oranglain.

  

 

Terimakasih

Ini ceritaku.. DILARANG COPYPASTE! 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar