Hari ini hujan pertama turun setelah tiga bulan kemarau panjang. Tanah yang semula tandus, kembali menghirup aroma kehidupan.
Dedaunan kering yang selama ini pasrah diterpa terik matahari kini
menari pelan di bawah rintik hujan. Bukan hanya alam yang terasa hidup kembali.
Aku menarik napas panjang. Udara pagi terasa berbeda.
***
Perjalanan cintaku dengan Geo telah berlangsung selama enam tahun.
Banyak orang bertanya mengapa aku tetap bertahan. Mereka mengira aku hanya
takut memulai hubungan baru atau sekadar sudah terbiasa bersamanya. Padahal
bukan itu alasannya.
Geo bukan lelaki yang romantis. Wajahnya pun tidak bisa disebut tampan.
Penghasilannya juga biasa saja. Namun, ada satu hal yang tidak pernah gagal ia
berikan kepadaku: rasa aman.
Di sisinya, aku selalu merasa didengar, dihargai, dan didukung untuk
menjadi pribadi yang lebih baik. Di sisinya, aku tidak perlu banyak bicara
untuk merasa dimengerti. Ada ketenangan yang sulit kucari di tempat lain.
Ironisnya, kasih sayang itu justru tidak pernah kudapatkan dari ayah
kandungku sendiri.
Sejak usaha Ayah bangkrut, rumah kami berubah menjadi tempat yang
menakutkan. Kemarahannya datang tanpa peringatan. Bentakan, kata-kata kasar,
bahkan pukulan menjadi sesuatu yang hampir setiap hari diterima Ibu dan aku
ketika kami dianggap melakukan kesalahan.
Di saat seperti itulah Geo selalu hadir. Ia menjadi tempatku mengadu,
menenangkan tangisku, dan mengingatkanku bahwa tidak semua lelaki menyelesaikan
masalah dengan amarah.
Hubungan kami tentu tidak sempurna. Kami pernah bertengkar, saling diam,
bahkan hampir menyerah. Namun, setiap kali badai datang, kami selalu menemukan
alasan untuk kembali saling menggenggam. Mungkin itulah yang membuat sahabatku,
Lisna, sulit memahami hubungan kami.
Suatu hari ia berkata, “Kalian bertahan selama ini karena sudah terlalu
nyaman, bukan karena saling mencintai.”
Aku tidak menjawab. Enam tahun terlalu panjang untuk diringkas menjadi
kata nyaman.
Lisna beranggapan hubungan yang kami jalani pasti tidak sehat.
“Enam tahun pacaran?” katanya sambil menggeleng. “Mana mungkin tidak
pernah terjadi apa-apa.”
Aku hanya tersenyum tipis. Bukan karena ucapannya lucu, melainkan karena
sulit percaya dengan cara berpikirnya.
“Kenapa diam?” tanyanya.
“Karena aku sedang berusaha memahami kenapa kamu bisa mengambil
kesimpulan seperti itu.”
“Ya wajar saja. Hampir semua pasangan yang aku kenal begitu.”
Aku mengembuskan napas. “Itu pengalamanmu, Lis. Bukan hidupku.”
Ia terdiam.
“Jangan mengukur hubunganku dari lingkungan yang selama ini kamu lihat.
Tidak semua orang menjalani hubungan dengan cara yang sama.”
Lisna mengangkat bahu. “Kamu yakin?”
“Sangat yakin.” Aku menatapnya mantap. “Aku memilih bersama Geo bukan
untuk memenuhi semua keinginannya.”
“Lalu?”
“Hubungan yang kami bangun adalah tentang saling menjaga.”
Aku melanjutkan dengan suara yang lebih tenang. “Bagiku, ada batas yang
harus dijaga sebelum seseorang memiliki ikatan yang sah. Kalau sejak awal batas
itu sudah diabaikan, apa yang akan menjadi pembeda setelah menikah?”
Lisna tidak langsung menjawab. Lisna tidak menjawab lagi. Ia hanya
memainkan ujung sedotan di gelasnya.
“Kamu tahu apa? Aku melakukan itu atas dasar suka sama suka, bukan
paksaan.”
Aku menghela napas. Aku memilih mengakhiri pembicaraan itu.
“Kalau itu pilihanmu, aku tidak bisa memaksamu untuk berubah.”
“Lalu kenapa kamu marah?”
“Karena aku tidak ingin kamu menganggap semua orang menjalani hubungan
dengan cara yang sama.”
Lisna kembali terdiam.
“Bagiku, cinta bukan alasan untuk menghalalkan segalanya. Ada batas yang
Allah tetapkan agar kita saling menjaga.”
“Terlalu kolot, menurutku.”
“Mungkin.” Aku tersenyum tipis. “Tapi aku lebih memilih disebut kolot
daripada menyesali keputusan yang seharusnya bisa kuhindari.”
Lisna menatapku cukup lama.
“Aku hanya berharap suatu hari nanti kamu mengerti bahwa rasa sayang
tidak selalu harus dibuktikan dengan menyerahkan segalanya.”
Setelah hari itu, kami masih saling menyapa, tetapi tidak lagi sesering
dulu.
***
Kebanyakan pasangan memilih menghabiskan waktu dengan berlibur ke
berbagai kota. Berbeda dengan kami yang menjadikan mal sebagai tempat rekreasi.
Kami selalu menyempatkan diri bertemu saat jam istirahat. Geo bekerja di
salah satu restoran di mal yang letaknya tidak jauh dari kantorku.
Kegiatan favorit kami sangat sederhana. Berjalan dari satu etalase ke
etalase lain sambil membayangkan suatu hari nanti mampu membeli salah satu
barang yang dipajang di sana.
“Tandai saja dulu,” ujar Geo ketika langkahku terhenti di depan sebuah
etalase pakaian.
“Nanti beli yang mirip di pasar saja. Lihat, harganya mahal sekali.” Aku
mengernyit sambil melihat label harga.
Geo tersenyum. “Doakan saja suatu hari nanti aku bisa memberikan yang
lebih baik dari ini.”
Jawabannya membuatku ikut tersenyum. “Aku sudah mendapatkan yang lebih
baik dari semuanya, yaitu memilikimu.”
Kulihat pipi Geo perlahan memerah. “Selalu saja berkata begitu. Kamu
membuatku malu.”
Geo mengusap pelan kepalaku. Kebiasaan kecil yang selalu berhasil
membuatku merasa tenang.
Aku tidak pernah meminta apa pun darinya. Bahkan ketika Geo mencoba
memberiku hadiah, aku selalu menolaknya dengan halus. Bukan karena tidak
menghargai ketulusannya, melainkan karena merasa belum berhak menerimanya
sebelum hubungan kami memiliki tujuan yang pasti.
Bagiku, hadiah akan terasa lebih bermakna jika diberikan oleh seseorang
yang telah menjadi suamiku.
Karena itulah, selama enam tahun bersama, kami tidak pernah merayakan
hari jadian ataupun saling bertukar hadiah. Kebahagiaan kami hadir dalam bentuk
yang sederhana: bertemu di sela jam istirahat, berjalan mengelilingi mal, lalu
pulang dengan mimpi yang semakin besar tentang masa depan.
Ada satu kebiasaan yang selalu dilakukan Geo setiap kali menerima gaji.
Ia tidak pernah mengizinkanku menolak ketika mengajakku makan di restoran
tempatnya bekerja.
“Ini menu spesial untuk Nona. Silakan dinikmati.” Ia mengucapkannya
dengan gaya seorang pelayan profesional.
Aku tertawa kecil. Aku menyimpan senyum kecil itu sepanjang perjalanan
pulang.
Sayangnya, kebahagiaanku tidak pernah menjadi kebahagiaan Ayah. Malam
itu menjadi puncak kemarahannya. Geo baru saja menungguku lembur di kantor,
lalu mengantarku pulang meski hujan turun sangat deras. Namun, semua itu seolah
tidak berarti di mata Ayah.
Begitu Geo berpamitan, Ayah hanya memberi isyarat agar ia segera pergi.
Meski begitu, Geo tetap tersenyum. Ia mengulurkan tangan dengan sopan.
Namun, Ayah menepis uluran tangan itu tanpa sepatah kata pun. Geo
perlahan menarik kembali tangannya. Aku membeku.
Di tengah suara hujan yang semakin deras, aku hanya mampu menatap
punggung Geo yang berjalan menuju motornya seorang diri.
Ya Allah... Betapa sakitnya.
“Kenapa Ayah bersikap seperti itu? Apa yang salah dengan Geo?” tanyaku,
berusaha menahan emosi.
Ruang tamu itu selalu terasa suram. Entah mengapa, setiap kali kami
berkumpul di sana, tidak pernah ada percakapan yang benar-benar hangat.
“Kamu kuliah sambil bekerja. Lalu dia?” tanya Ayah. “Pekerjaannya belum
tetap. Bagaimana dia akan menjamin masa depanmu?”
“Masa depanku akan baik-baik saja bersama Geo. Kami tidak takut memulai
dari bawah. Bukankah keluarga kita juga pernah melewati masa-masa sulit seperti
itu?”
Ayah menggeleng pelan. “Cukup! Ayah melakukan ini demi kebaikanmu. Ayah
tidak ingin kamu mengulang kehidupan yang penuh kesulitan.”
Aku menarik napas panjang. Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku beranjak meninggalkan ruang tamu. Ibu hanya
menunduk. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ibu tetap menunduk. Aku
tahu percakapan itu tidak akan berakhir dengan pembelaan.
Sejak kedatangan Kevin ke rumah, Ayah berubah semakin protektif. Kevin
adalah pemilik perusahaan tempatku bekerja. Usianya tiga puluh lima tahun,
mapan, dan beberapa waktu lalu datang menemui Ayah untuk menyampaikan niatnya menikahiku.
Aku sama sekali tidak menyangka keseriusan itu. Di kantor, hubungan kami
tidak lebih dari atasan dan karyawan. Tidak pernah ada perhatian berlebihan
atau sikap yang membuatku curiga.
Hingga suatu sore, Kevin datang ke rumah membawa niat yang sama sekali
tidak kuduga.
“Saya serius ingin menikahi Lia. Usia saya sudah matang, pekerjaan juga
sudah mapan. Saya menyukai kepribadian Lia yang periang dan pekerja keras.
Melihatnya mengingatkan saya pada diri sendiri saat masih merintis usaha.”
Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar begitu meyakinkan di
telinga Ayah dan Ibu.
Aku menunduk. Tidak pernah sekali pun aku memberinya harapan, tetapi
malam itu namanya dibicarakan seolah keputusan tentang hidupku sudah selesai
dibuat.
“Saya senang dengan niat Pak Kevin. Namun, bukan saya yang berhak
memutuskan. Mungkin Talia yang akan memberikan jawabannya,” ujar Ayah sambil
menatapku penuh harap.
“Saya sudah punya pacar, Pak,” jawabku mantap, meski sudah siap menerima
kemarahan Ayah.
“Biarkan anak saya berpikir dulu,” potong Ayah cepat, seolah
penjelasanku barusan tidak pernah ada.
“Iya, tidak apa-apa, Pak. Saya akan menunggu jawabannya sampai minggu
depan,” ujar Kevin dengan tenang.
Dadaku semakin sesak. Aku menggigit bibir menahan kesal. Mengapa ia begitu
yakin aku akan mempertimbangkan lamarannya? Aku bahkan tidak pernah memberinya
harapan.
Aku memilih diam. Rasanya percuma berdebat ketika keputusan itu bahkan
belum memberiku ruang untuk memilih.
***
Ibu membuka pintu kamarku perlahan. Aku memperhatikan setiap gerakannya.
Ia melangkah hati-hati, seolah takut menggangguku. Mungkin karena Ayah sedang
asyik menonton televisi, barulah Ibu berani menyusulku ke kamar.
“Apa Ibu mengganggumu?” tanyanya pelan.
Aku tidak langsung menjawab. Pandanganku tetap tertuju pada kamar yang
berantakan. Lembaran-lembaran kertas berserakan di lantai, beberapa kusut dan
terlipat. Bukan karena aku malas merapikannya, melainkan karena beberapa menit
sebelumnya tangankulah yang melemparkannya satu per satu.
Semua rasa kesal, kecewa, dan lelah bercampur menjadi satu setelah
mendengar Ayah kembali membahas lamaran Kevin, seolah perasaanku tidak pernah
berarti.
“Bu...” Suaraku bergetar.
Tanpa berkata apa-apa, Ibu duduk di sampingku.
“Aku lelah.”
Kalimat sederhana itu justru membuat air mataku mengalir semakin deras.
“Aku salah apa, Bu? Apa Allah sedang mengujiku agar belajar bersabar?
Kenapa rasanya semua orang menentukan jalan hidupku, sementara aku hanya
diminta menerima?”
Ibu tidak segera menjawab. Tangannya mengusap punggungku perlahan, sama
seperti saat aku masih kecil setiap kali menangis tanpa mampu menjelaskan
penyebabnya.
“Nak...” Suara Ibu terdengar berat. “Kadang ujian bukan karena Allah
membenci kita. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita menjadi lebih kuat.”
“Tapi aku capek, Bu.”
“Aku tahu.”
Hanya dua kata itu, tetapi pertahananku runtuh seketika. Aku tidak
membutuhkan jawaban malam itu. Aku hanya ingin Ibu tetap duduk di sampingku.
“Ibu juga tidak ingin melihatmu terluka.”
“Lalu kenapa Ibu diam saat Ayah memaksaku?” Pertanyaan itu keluar begitu
saja.
Ibu menunduk. Tatapannya jatuh ke lantai, seolah menyimpan begitu banyak
jawaban yang tak sanggup diucapkan.
“Karena... terkadang seorang ibu bukan tidak ingin membela anaknya,
Nak.” Suaranya lirih.
“Tapi ada keadaan ketika seorang ibu hanya bisa berdoa agar keluarganya
tidak semakin hancur.”
Aku menggenggam tangannya. Untuk pertama kalinya malam itu, aku
menyadari bahwa bukan hanya aku yang terluka.
“Ini bukan salahmu, Nak.” Suara Ibu mulai serak. “Ayah dan Ibu terlalu
banyak menggantungkan harapan kepadamu. Kamu satu-satunya anak yang kami
miliki, sampai kami lupa bahwa kamu juga memiliki keinginan dan kehidupanmu
sendiri.”
Aku menunduk. Air mataku kembali jatuh.
“Setiap hari kami membuatmu merasa harus memilih antara membahagiakan
kami atau memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri.”
“Bu...” Aku memeluknya erat.
“Maafkan aku. Aku selalu merasa apa yang kulakukan untuk membahagiakan
Ayah dan Ibu belum pernah cukup.”
Aku menarik napas di sela tangisan. “Kasih sayang kalian terlalu besar
dibandingkan apa pun yang bisa kubalas. Mungkin aku belum menjadi anak yang
sempurna, tetapi aku akan terus berusaha.”
Ibu membelai rambutku. “Talia...” Panggilannya terdengar begitu lembut.
“Kamilah yang salah karena meletakkan terlalu banyak beban di pundakmu.
Ibu tahu kamu selalu berusaha menjadi anak yang membanggakan. Kamu kuliah,
bekerja, dan berusaha memahami keadaan keluarga kita.”
Suara Ibu mulai pecah. “Tapi malam ini Ibu merasa gagal menjadi tempatmu
berlindung. Saat Ayah memojokkanmu, Ibu hanya bisa diam.”
Air mata Ibu jatuh membasahi bahuku. “Ibu minta maaf, Nak.”
Aku memeluknya semakin erat. “Jangan berkata begitu, Bu. Aku tidak ingin
melihat Ibu merasa bersalah.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat lelah yang selama ini disembunyikan
Ibu.
“Yang kuinginkan hanya melihat Ayah dan Ibu bahagia. Aku tidak ingin
pilihanku menjadi alasan keluarga kita hancur.”
Pelukan itu sedikit meredakan sesak di dadaku. Untuk beberapa saat, aku
merasa tidak sendirian. Namun ketika malam berlalu, kegelisahan itu tetap
tinggal.
Di rumah, aku mulai berjalan lebih pelan dan memilih kamar lebih cepat
daripada biasanya. Bahkan kantor yang selama ini menjadi tempatku mencari
ketenangan tidak lagi terasa sama. Di sanalah ada seseorang yang tanpa sadar
menjadi sumber pertengkaran dalam keluargaku.
Beberapa kali aku membayangkan pergi begitu saja. Namun setiap kali
membuka aplikasi perjalanan di ponsel, aku menutupnya lagi. Pergi tidak
serta-merta membuat semua masalah hilang.
***
Aku menunggu Geo di dekat parkiran. Kami sudah berjanji bertemu saat jam
istirahat. Dari kejauhan, aku melihat langkahnya mendekat. Namun ada sesuatu
yang berbeda. Biasanya dia akan tersenyum ketika melihatku.
Terkadang melambaikan tangan atau sengaja berjalan lebih cepat hanya
untuk menggodaku. Tapi hari ini wajahnya terlihat asing. Tatapannya kosong,
langkahnya berat, seperti seseorang yang membawa beban terlalu besar sendirian.
Meski merasa aneh, aku tetap menyambutnya dengan senyuman.
“Lia, maaf membuatmu menunggu lama.” Suaranya datar.
Aku mencoba mengabaikan perubahan sikapnya. “Tidak perlu minta maaf. Aku
akan tetap berdiri di sini menunggumu walaupun harus berjam-jam.”
Aku tersenyum menggoda. “Lagipula menunggu kamu tidak pernah terasa
melelahkan.”
Biasanya Geo akan tertawa mendengar ucapanku. Namun kali ini tidak. Dia
hanya diam. Senyumnya tidak muncul. Hatiku mulai merasa tidak tenang.
“Geo, kamu kenapa?”
Dia tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke arah lain.
“Bagaimana kabar Ayahmu?”
Pertanyaan itu membuatku sedikit terdiam.
“Baik.” Aku mencoba tersenyum. “Kita mau pergi ke mana? Jangan bilang
kamu sudah punya rencana makan siang, aku belum siap kalau kamu tiba-tiba
mentraktir mahal.”
Aku mencoba mengembalikan suasana seperti biasanya. Tapi Geo tetap diam.
Sampai akhirnya dia menarik napas panjang.
“Lia...” Nada suaranya membuatku berhenti bercanda.
“Kita berhenti saja sampai di sini.”
Aku menatapnya beberapa detik lebih lama. Wajahnya tidak berubah.
“Maksud kamu?”
Dia tidak menjawab dengan cepat. Tatapan kosongnya justru membuat dadaku
semakin sesak.
“Kita putus.”
Tanganku perlahan menjadi dingin. Suara di sekitar tiba-tiba terasa
jauh. Orang-orang berjalan melewati kami, kendaraan keluar masuk parkiran,
tetapi aku hanya mendengar satu kalimat itu berulang kali dalam pikiranku. Kita
putus.
“Kenapa tiba-tiba mengatakan ini?” Aku tertawa kecil, mencoba meyakinkan
diriku sendiri.
“Kamu bercanda, kan?”
Namun Geo tetap diam. Dan saat itu aku sadar... Dia tidak sedang
bercanda.
“Aku serius, Lia. Percuma kita jalani kalau pada akhirnya orangtuamu
tidak pernah menerima aku.”
Geo tersenyum getir. “Aku bisa apa? Aku bukan anak orang kaya yang bisa
memberikan semua yang keluargamu inginkan. Aku tidak punya rumah besar, tidak
punya jabatan tinggi, bahkan untuk menjanjikan kehidupan mewah saja aku belum
mampu.”
Aku menatapnya tidak percaya. “Memangnya selama ini aku pernah meminta
itu?”
Suaraku mulai bergetar. “Aku tidak pernah memintamu mengabulkan semua
keinginanku, Geo. Aku menerima kekuranganmu, aku menghargai perjuanganmu. Aku
tidak memilihmu karena apa yang kamu punya, tapi karena siapa dirimu.”
Aku mendekat, mencoba mencari tatapan yang biasanya selalu menenangkan.
“Jangan dengarkan perkataan Ayahku. Kita yang menjalani hubungan ini, bukan
mereka. Kenapa sekarang kamu justru menyerah?”
Geo menghela napas panjang. “Karena aku lelah, Lia.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
“Selama enam tahun aku mencoba membuktikan bahwa aku pantas untukmu. Aku
mencoba bersabar setiap kali ayahmu merendahkanku. Aku mencoba tetap tersenyum
ketika aku tahu dia tidak pernah menganggapku cukup baik.” Tatapan Geo mulai
kehilangan kekuatannya.
“Aku pikir waktu akan mengubah semuanya. Aku pikir suatu hari nanti dia
akan melihat usahaku. Tapi kenyataannya tidak.” Dia tertawa kecil, tetapi
terdengar menyakitkan.
“Setelah enam tahun, aku masih orang yang sama di matanya. Lelaki yang
tidak punya masa depan untuk anaknya.”
“Geo...”
“Yang paling menyakitkan bukan ketika ayahmu menolakku.”
Dia menatapku.
“Tapi ketika aku melihat kamu harus berdebat dengan keluargamu hanya
karena aku.”
Aku terdiam.
“Lia, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi aku tidak ingin menjadi
alasan kamu kehilangan hubungan baik dengan keluargamu.”
Air mataku mulai jatuh. ”Geo, aku tidak peduli apa kata orang lain. Aku
mencintaimu karena kebaikanmu. Karena caramu menjagaku, sikap dewasamu, caramu
memahami aku ketika orang lain tidak mengerti.”
Aku menggenggam tangannya. ”Aku mencintai kesederhanaan yang kita
jalani. Aku tidak pernah merasa kekurangan ketika bersamamu.” Suaraku semakin
pelan. “Aku sedang memperjuangkan kita, Geo. Jangan menyerah ketika aku masih
berdiri di sini.”
Geo menunduk. Tangannya perlahan melepaskan genggamanku. ”Maaf,
Lia.”
Dia menarik napas panjang. ”Aku sudah berusaha bertahan. Tapi kali
ini... aku menyerah.” Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kemarahan apa pun.
Karena aku tahu, Geo tidak pergi karena tidak mencintaiku. Dia pergi
karena dia merasa cintanya tidak cukup untuk membuatku bahagia.
“Ayo, kita temui orang tuaku.”
Aku menggenggam tangannya erat. ”Kita bicara baik-baik. Kita buktikan
kepada mereka bahwa kita mampu menjalani kehidupan yang sudah kita rencanakan.
Aku tidak meminta mereka langsung percaya, tapi setidaknya beri kita
kesempatan.”
Aku berharap dia menggenggam tanganku kembali. Namun yang terjadi justru
sebaliknya. Geo melepaskan genggamanku.
Aku terdiam.
“Lia... jangan bodoh.” Nada suaranya pelan, tetapi justru terasa lebih
menyakitkan.
“Doa orang tua akan selalu menyertaimu. Aku tidak ingin menjadi alasan
kamu kehilangan hubungan baik dengan mereka.”
Mataku mulai panas.
“Aku yakin hidupmu akan lebih baik tanpa aku.”
“Jangan bicara seperti itu.”
“Terimalah keputusanku.”
Geo menatapku, mencoba terlihat kuat meskipun matanya menyimpan
kesedihan.
“Jalani masa depanmu. Bahagiakan orang tuamu. Dan... menikahlah dengan
Kevin.” Kalimat itu menghantamku seperti petir di siang hari.
Kevin. Lagi-lagi nama itu.
Aku menunduk. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Aku menutup telinga,
berharap suara Geo berhenti, berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan
berakhir ketika aku membuka mata.
“Berhenti...” Suaraku bergetar.
“Tolong berhenti menyebut namanya.”
Geo terdiam.
“Kevin, Kevin, Kevin...” Aku tertawa kecil di antara tangisan.
“Kenapa semua orang begitu yakin dia adalah jawaban dari hidupku?” Aku
menatap Geo dengan kecewa.
“Kamu tahu tidak? Aku tidak pernah meminta rumah mewah, uang banyak,
atau kehidupan sempurna.” Suaraku semakin tinggi. “Aku hanya meminta kamu tetap
berdiri di sampingku.”
Geo terlihat ingin bicara, tetapi aku tidak memberinya kesempatan.
“Kalau memang Kevin sehebat itu, kenapa bukan kamu saja yang menikah
dengannya?” Aku mengusap air mata dengan kasar.
“Kita tukar posisi saja. Kamu yang menerima semua harapan mereka. Kamu
yang menjalani hidup yang sudah mereka pilihkan.” Dadaku terasa semakin sesak.
“Rasakan bagaimana sakitnya ketika semua orang mengatakan seseorang
lebih pantas untuk menggantikanmu.”
“Lia...” Geo mencoba mendekat.
“Jangan seperti ini.” Tangannya terulur ingin memelukku.
Namun rasa kecewa yang terlalu lama kupendam membuatku kehilangan
kendali. Aku mendorongnya. Tubuh Geo mundur hingga mengenai pagar pembatas.
“Pergi!” Suaraku pecah.
“Tinggalkan aku sendiri!” Aku menatapnya dengan air mata yang tidak
berhenti jatuh. “Itu kan yang kamu inginkan?”
Keheningan memenuhi tempat itu.
Dan untuk pertama kalinya setelah enam tahun bersama, kami berdiri
berhadapan seperti dua orang asing yang tidak tahu bagaimana cara
mempertahankan sesuatu yang masih sama-sama mereka cintai.
“Lia, aku minta maaf.” Suara Geo tetap lembut.
Namun kali ini kelembutan itu tidak mampu menenangkan hatiku. Aku tidak
membutuhkan rasa kasihan.
“Aku bilang pergi!”
Tatapanku tajam. Bukan karena aku membencinya, tetapi karena aku tahu,
jika ia tetap berdiri di hadapanku, aku akan kembali memohon agar ia bertahan.
Geo mengangguk pelan. “Aku minta maaf, Lia.”
Itu kalimat terakhir yang kudengar darinya. Ia berbalik. Satu langkah.
Dua langkah. Tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Aku hanya mampu menatap punggung lelaki yang selama enam tahun menjadi
tempatku pulang.
Perlahan sosoknya semakin jauh, lalu menghilang di balik keramaian
parkiran. Barulah saat itu seluruh kekuatanku runtuh. Kakiku lemas. Aku
terduduk di atas aspal yang dingin. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya
pecah tanpa mampu kuhentikan.
Enam tahun. Ternyata selama itu pun masih bisa berakhir hanya dengan
beberapa kalimat. Aku menunduk, menggenggam ujung bajuku erat-erat, seolah itu
satu-satunya cara agar dadaku tidak benar-benar hancur.
Di sekelilingku, orang-orang masih berlalu-lalang seperti biasa. Ada
yang tertawa. Ada yang berjalan tergesa. Ada yang sibuk dengan urusannya
sendiri. Tak seorang pun tahu bahwa di sudut parkiran itu, seseorang baru saja
kehilangan masa depan yang selama ini ia perjuangkan.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kehilangan itu. Yang jelas, untuk
pertama kalinya setelah enam tahun, aku tidak tahu kepada siapa harus mengirim
pesan ketika hari terasa terlalu berat.
***
Aku tidak mengingat perjalanan pulang hari itu. Ketika membuka mata,
langit-langit putih rumah sakit sudah berada di atas kepalaku. Langit-langit
putih menjadi hal pertama yang kulihat ketika perlahan membuka mata. Kepalaku
terasa berat. Seluruh tubuhku seolah kehilangan tenaga. Setiap tarikan napas
terasa begitu panjang, seakan aku baru saja kembali dari perjalanan yang sangat
jauh.
Di samping ranjang, Tante duduk sambil menggenggam tanganku.
“Alhamdulillah... kamu sudah sadar.”
Aku mencoba tersenyum, tetapi bibirku terasa kaku.
“Semua biaya rumah sakit sudah ditanggung Pak Kevin,” katanya pelan.
Aku hanya mengangguk. Entah mengapa, kabar itu sama sekali tidak
membuatku lega. Justru pikiranku semakin kacau.
Belakangan aku baru mengetahui bahwa Geo adalah orang pertama yang
menawarkan diri menanggung seluruh biaya pengobatanku. Namun Ayah menolaknya
mentah-mentah. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, Ayah tetap tidak mampu
menerima keberadaan Geo.
Aku memejamkan mata. Bukan rasa sakit di tubuh yang paling menyiksaku.
Melainkan penyesalan yang terus memenuhi kepalaku. Aku teringat betapa mudahnya
pikiranku menyerah ketika semuanya terasa buntu.
Air mata mengalir tanpa kusadari. “Ya Allah...” Suaraku lirih.
“Ampunilah aku. Aku lupa bahwa hidup ini bukan milikku. Aku lupa bahwa
masih ada orang-orang yang menangis ketika aku memilih menyerah.” Tanganku gemetar.
Aku teringat wajah Ibu. Aku teringat Tante. Aku teringat Geo. Aku
menggenggam selimut lebih erat. Aku masih di sini.
Saat itulah pandanganku tertuju ke balik pintu. Di sana, Geo berdiri. Ia
tidak masuk. Ia hanya memandang dari balik kaca. Tatapannya penuh kekhawatiran.
Aku mengangkat tangan pelan, memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja.
Geo membalas dengan senyum kecil. Senyum yang selama enam tahun selalu mampu
menenangkanku.
Beberapa menit kemudian Tante menghampiri. “Geo pamit pulang.”
Aku mengangguk.
“Dia bilang semoga kamu cepat sembuh.” Tante tersenyum. “Dia juga
bilang... mulai sekarang kalian akan menjadi sahabat yang saling mendoakan.”
Kata itu membuat dadaku sesak. Aku hanya mengangguk ketika Tante
menyampaikannya. Namun untuk pertama kalinya aku tidak menangis. Aku hanya
menatap langit-langit kamar.
Aku menatap langit-langit cukup lama sebelum berdoa. Hari itu aku
membuat satu keputusan. Apa pun yang terjadi setelah ini...
Aku ingin tetap hidup. Aku ingin memperbaiki diriku. Dan aku ingin
menjalani semua ujian ini sampai akhir dengan sebaik-baiknya.
***
Hari-hari setelah keluar dari rumah sakit berjalan begitu lambat. Rumah
kembali dipenuhi pembicaraan yang sama. Kevin. Lamaran. Pernikahan.
Aku berhenti berdebat. Setiap kali Ayah membicarakan tanggal dan gedung,
aku hanya menjawab seperlunya. Diam itu kemudian diterjemahkan sebagai
persetujuan.
Minggu berikutnya, Ayah menunjukkan rancangan undangan. Beberapa hari
kemudian gedung sudah dipesan. Saat Ibu mengajakku melihat gaun, aku baru sadar
betapa jauh semuanya berjalan.
Sesekali aku masih membuka galeri ponsel. Foto-foto Geo masih tersimpan
di sana. Aku tidak pernah sanggup menghapusnya. Bukan karena berharap ia
kembali. Melainkan karena foto-foto itu menjadi bukti bahwa aku pernah dicintai
dengan sangat baik.
Suatu malam Ibu datang ke kamarku. Beliau duduk di sampingku tanpa
berkata apa-apa.
“Apa kamu yakin?”
Aku menatapnya cukup lama. “Tidak.”
“Lalu kenapa kamu menerima?”
Aku memandang langit di luar jendela. “Aku menunduk. “Aku tidak tahu
bagaimana harus menghentikannya, Bu.””
Jawaban itu membuat Ibu menangis. Aku menggenggam tangannya.
““Doakan aku kuat menjalaninya.””
Sejak malam itu aku berhenti berdebat dengan keadaan. Aku belum menyebutnya
ikhlas. Aku hanya belajar melewati hari berikutnya.
***
Hari akad itu akhirnya tiba. Gaun putih yang kukenakan menjuntai anggun
hingga menyentuh lantai. Orang-orang bergantian menyalamiku dan mengucapkan
selamat. Aku membalas dengan senyum yang sudah kulatih sejak pagi.
Hari itu aku resmi menjadi istri Kevin. Kehidupanku berubah begitu
cepat. Aku pindah ke apartemen mewah miliknya. Segala sesuatu yang dulu hanya
kulihat dari balik etalase kini tersedia di hadapanku. Namun semakin lama aku
tinggal bersamanya, semakin kusadari bahwa kemewahan tidak selalu menghadirkan
ketenangan.
Kevin memang bertanggung jawab. Ia memenuhi semua kebutuhan rumah
tangga. Tetapi perlahan aku mengenal sisi lain yang selama ini tidak pernah
terlihat. Ia mudah marah. Sangat ingin mengatur. Sulit menerima pendapat yang
berbeda. Dan selalu merasa dirinya benar.
Aku sering terdiam setiap kali melihatnya. Ada sesuatu yang terasa
begitu akrab. Hingga akhirnya aku menyadarinya. Kevin mengingatkanku pada Ayah.
Temperamennya. Caranya mengambil keputusan. Caranya memaksakan kehendak.
Perbedaannya hanya satu. Dulu aku menghadapi sifat itu sebagai seorang anak.
Kini aku harus menghadapinya sebagai seorang istri.
Aku mencoba memahami kebiasaannya. Ketika ia mulai mudah marah, aku
memilih diam. Ketika ia menentukan sesuatu sendiri, aku mengalah. Aku mengira
itu hanya bagian dari penyesuaian. Aku bahkan mulai membuat kue dan menjualnya
secara daring agar tetap memiliki penghasilan sendiri. Bukan karena Kevin tidak
memenuhi kebutuhanku, melainkan karena aku ingin tetap memiliki sesuatu yang
bisa kuusahakan dengan kemampuanku sendiri.
Setiap malam aku terus berkata pada diri sendiri bahwa kesabaran akan
memperbaiki semuanya. Namun waktu mengajarkanku satu hal. Namun setiap kali aku
berharap keadaan akan membaik, selalu ada sesuatu yang membuatku kembali
berhati-hati.
Kadang, ujian yang sebenarnya justru dimulai setelah kita berhenti
melawan.
Hujan turun sangat deras sore itu. Aku berdiri di lobi kampus sambil
menunggu Sheril. Kami baru saja selesai menemui dosen untuk membahas judul
skripsi. Karena terlalu fokus berdiskusi, aku sama sekali tidak menyentuh
ponselku.
Begitu konsultasi selesai, aku membuka layar ponsel. Dadaku langsung
terasa sesak. Dua puluh lebih panggilan tak terjawab. Semuanya dari Kevin.
Tanpa berpikir panjang, aku segera menghubunginya kembali. Telepon baru
tersambung beberapa detik ketika suara Kevin langsung menghantam telingaku.
“B*****, kamu ke mana saja? Selingkuh kamu? Dari tadi aku telepon tidak
diangkat! Awas kalau kamu pulang, kita selesaikan di rumah!”
Aku menjauhkan ponsel dari telinga. Suaranya begitu keras hingga
beberapa mahasiswa yang masih berada di lobi menoleh ke arahku. Sheril ikut
menatapku dengan wajah khawatir.
“Dari tadi aku di kampus. Bertemu dosen. Aku sudah izin sebelumnya, kan?
Ini baru selesai konsultasi.”
“Banyak alasan!” Nada bicaranya semakin tinggi.
Aku memejamkan mata sejenak. Aku tahu percuma menjelaskan sesuatu ketika
Kevin sedang marah. Sejak menikah dengannya, aku mulai menyadari bahwa
perhatian dan rasa memiliki adalah dua hal yang berbeda.
Awalnya aku mengira semua pertanyaannya lahir karena rasa sayang. Ia
selalu ingin tahu aku sedang berada di mana. Bersama siapa. Berapa lama. Aku
menganggap itu wajar. Namun perlahan semua berubah.
Aku tidak boleh terlambat membalas pesan. Aku harus selalu memberi kabar
setiap kali berpindah tempat. Jika ada kegiatan di luar rumah, Kevin hampir
selalu memaksakan diri ikut, meskipun harus meninggalkan pekerjaannya sendiri.
Sedikit demi sedikit aku merasa kehilangan ruang untuk bernapas. Aku
mulai bertanya kepada diriku sendiri. Apakah ini benar-benar perhatian? Ataukah
hanya keinginan untuk mengendalikan hidupku?
“Kevin, aku juga punya kuliah. Tidak mungkin setiap saat memegang
ponsel.”
Untuk pertama kalinya aku mencoba menyampaikan keberatanku. Namun yang
kudapat hanyalah tawa sinis.
“Mending kamu tidak usah kuliah. Kuliah juga tetap bodoh. Tidak punya
otak, tapi banyak tingkah.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bentakan. Bukan karena aku
mempercayainya. Melainkan karena orang yang seharusnya menjadi tempatku pulang
justru menjadi orang yang paling sering merendahkanku.
Aku menggenggam ponsel erat. Aku ingin membalas. Ingin mengatakan bahwa
aku juga manusia. Bahwa aku juga lelah. Bahwa aku pun punya harga diri. Namun
semua kata itu berhenti di tenggorokan.
Aku sudah terlalu mengenal Kevin. Semakin aku melawan, semakin besar
amarahnya. Dan aku tahu bagaimana akhir dari setiap pertengkaran kami.
Sheril yang berdiri di sampingku tampak gelisah. Meski hanya mendengar
potongan-potongan percakapan, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia memahami
sesuatu sedang tidak baik-baik saja.
“Pulang sekarang!” bentak Kevin. “Jam empat kamu harus sudah di rumah.”
Aku menoleh ke luar. Hujan masih turun deras. Jalan raya mulai dipenuhi
kendaraan.
“Ini jam pulang kerja. Pasti macet.”
“Aku tidak mau tahu.”
Lalu suaranya berubah lebih pelan. Namun justru terasa lebih mengancam.
“Kalau kamu tidak pulang, aku akan telepon Ayahmu. Biar dia tahu kamu masih
keras kepala.”
Aku langsung terdiam. Lagi-lagi Ayah. Nama itu selalu menjadi senjata
yang ampuh untuk membungkamku. Dulu aku takut mengecewakan Ayah. Kini aku hidup
dalam ketakutan mengecewakan suamiku. Entah sejak kapan hidupku dipenuhi rasa
takut kepada orang-orang yang seharusnya membuatku merasa aman.
Aku mulai memilih kata-kata dengan hati-hati, bahkan untuk hal-hal
kecil.
Beberapa minggu sebelumnya, lebam di lenganku membawaku ke rumah sakit.
Kupikir Ayah akan datang untuk menanyakan keadaanku. Kupikir beliau akan marah
karena putrinya disakiti. Namun aku salah. Hal pertama yang keluar dari
mulutnya justru kemarahan kepadaku.
Baginya, seorang istri yang membantah suaminya memang pantas menerima
hukuman. Aku hanya mampu menundukkan kepala. Bukan karena merasa bersalah.
Melainkan karena aku sadar, tidak ada satu pun orang yang benar-benar
mendengarkan suaraku.
Padahal keinginanku sederhana. Aku hanya ingin diperlakukan dengan baik.
Aku hanya ingin didengar ketika terluka. Bukankah seorang istri juga berhak
merasa aman di rumahnya sendiri?
Dulu aku membayangkan pernikahan sebagai tempat untuk pulang. Kini aku
lebih sering menunggu suara kunci di pintu sebelum memutuskan apa yang akan
kukatakan.
***
Malam itu hujan turun tanpa henti. Aku sedang merapikan meja makan
ketika telepon berdering. Nomor yang tidak kukenal muncul di layar ponsel.
“Halo?”
“Apakah benar ini Ibu Talia, istri Pak Kevin?”
“Iya, benar.”
“Maaf, Bu. Kami dari rumah sakit. Pak Kevin mengalami kecelakaan.”
Gelas di tanganku terlepas dan pecah di lantai. Duniaku seakan berhenti.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tanganku terus menggenggam ponsel.
Tidak ada pesan yang bisa kukirim kepada siapa pun. Yang keluar dari bibirku
hanya doa.
“Ya Allah... apa pun yang terjadi, kuatkanlah aku.”
Kevin masih belum sadar ketika aku tiba. Tubuhnya dipenuhi luka. Perban
membungkus kepala dan lengannya. Aku duduk di samping ranjang tanpa berkata
apa-apa. Marah. Kecewa. Takut. Semua perasaan bercampur menjadi satu.
Dokter mengatakan mobil yang dikendarainya kehilangan kendali lalu
menabrak pembatas jalan. Saat itu Kevin berada dalam pengaruh alkohol. Ia tidak
sendirian. Seorang perempuan meninggal di tempat. Sementara Kevin dan seorang
perempuan lainnya berhasil diselamatkan.
Aku memandangi pintu ruang perawatan. Pertanyaan tentang perempuan itu
datang silih berganti, tetapi Kevin belum bisa menjawab satu pun.
Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka. Seorang perempuan paruh baya
masuk dengan langkah pelan. Wajahnya tampak lelah. Matanya sembap karena
terlalu banyak menangis.
“Maaf... apakah ini kamar Pak Kevin?”
“Iya, Bu.”
“Saya ingin menemuinya.”
“Beliau masih belum sadar.”
Perempuan itu mengangguk. Tatapannya beralih kepadaku.
“Lalu... Anda siapa?”
“Saya istrinya.”
Perempuan itu menundukkan kepala. Beberapa detik kemudian air matanya
jatuh.
“Saya minta maaf.”
Aku mengernyit. Belum sempat bertanya, pintu kembali terbuka. Ayah dan
Ibu datang tergesa-gesa. Melihat mereka, perempuan itu menarik napas panjang.
“Siapa orang tua Kevin?”
Ayah melangkah maju. “Saya.”
Perempuan itu menggenggam tasnya erat.
“Saya datang bukan untuk meminta uang.” Suaranya bergetar. “Anak saya
sedang mengandung anak Pak Kevin.”
Tidak ada yang langsung menjawab. Bahkan Ayah terdiam. Lututku mendadak
lemas. Aku berpegangan pada sandaran kursi agar tidak terjatuh.
“Maksud Ibu apa?” bentak Ayah.
Perempuan itu menghapus air matanya. “Saya hanya ingin kejelasan. Anak
saya tidak pernah meminta harta. Tapi bayi yang dikandungnya berhak mengetahui
siapa ayahnya.”
Aku menoleh ke arah Kevin. Ia masih terbaring diam. Tidak ada jawaban.
Tidak ada penjelasan. Hanya keheningan yang terasa semakin menyakitkan. Aku
menutup mata.
Aku duduk. Tanganku dingin, tetapi air mata tidak juga keluar.
***
Kevin sadar tiga hari kemudian. Aku masih berharap semua itu hanyalah
kesalahpahaman. Namun harapan itu runtuh hanya dalam beberapa kalimat.
“Aku akan bertanggung jawab.”
Aku mengangguk pelan. “Bagus.”
Namun kalimat berikutnya membuat napasku seolah berhenti.
“Dia akan tinggal bersamaku.”
Aku menatap Kevin.
“Lalu... aku?”
Tatapannya datar. “Kamu kembali saja ke rumah orang tuamu.”
Aku menunggu beberapa detik, berharap ada kalimat lain. Tidak ada.
Empat bulan. Hanya empat bulan aku berusaha menjadi istri yang baik. Aku
belajar memahami kemarahannya. Menerima kata-kata kasarnya. Berusaha tidak
membantah.
Berharap kesabaranku suatu hari akan mengubahnya. Ternyata aku keliru.
Aku menatap lantai. Ada hal-hal yang memang tidak bisa diperbaiki sendirian.
***
Aku pulang ke rumah orang tuaku hanya membawa satu koper. Rumah itu
masih sama. Namun aku merasa menjadi orang yang berbeda.
Tetangga mulai bertanya.
“Kenapa sekarang sering di rumah?”
“Suaminya ke mana?”
Aku hanya tersenyum. Aku tersenyum kepada tetangga itu, lalu membawa
koper masuk.
Beberapa malam aku terbangun tanpa suara. Bantal di bawah kepalaku
basah, tetapi aku tidak tahu kapan mulai menangis. Aku pernah meninggalkan
seseorang yang begitu tulus demi memenuhi harapan orang tuaku. Namun semua
pengorbanan itu justru berakhir seperti ini.
Suatu malam Ayah duduk di ruang tamu. Beliau tampak jauh lebih tua.
“Lia...”
Aku menoleh.
“Maaf.”
Hanya satu kata. Namun cukup membuat mataku berkaca-kaca. Untuk pertama
kalinya sejak semua ini terjadi, Ayah mengakui bahwa beliau telah salah.
Aku menghampirinya. Menggenggam tangannya.
“Sudah, Yah.”
Air mata kami jatuh bersamaan. Malam itu tidak ada lagi yang saling
menyalahkan. Yang tersisa hanyalah dua orang yang sama-sama belajar menerima
kenyataan.
Hari demi hari berlalu. Aku mulai memahami bahwa menerima takdir bukan
berarti menyukai rasa sakitnya. Menerima berarti percaya bahwa Allah tetap
memiliki rencana yang lebih baik, meski saat ini aku belum mampu melihatnya.
***
Sudah hampir tiga bulan sejak aku kembali tinggal bersama orang tuaku.
Aku mulai mengisi hari-hariku dengan hal-hal yang dulu sempat kutinggalkan.
Kuliah. Membuat kue. Membaca buku. Sesekali berjalan pagi agar pikiranku tidak
terus terjebak pada masa lalu.
Aku mulai menata jadwal kuliah, membuat kue, dan membaca lagi buku-buku
yang lama tersimpan. Sedikit demi sedikit, hari-hariku kembali memiliki bentuk.
Suatu hari Sheril mengajakku mengikuti kegiatan sebuah komunitas
perjalanan. Awalnya aku menolak. Aku merasa belum siap bertemu banyak orang.
Namun setelah dipaksa berkali-kali, akhirnya aku mengalah.
“Tidak perlu banyak bicara,” kata Sheril sambil tersenyum. “Anggap saja
jalan-jalan.”
Hari itu aku tertawa ketika Sheril salah membaca petunjuk jalan.
Setelahnya aku baru sadar bahwa sudah lama aku tidak tertawa tanpa merasa
bersalah.
Di sanalah aku bertemu dengan seorang laki-laki bernama Luki. Ia salah
satu panitia kegiatan. Sikapnya biasa saja. Tidak banyak bicara. Tidak berusaha
menarik perhatian siapa pun.
Ia hanya sesekali membantu peserta yang membutuhkan. Kami bahkan hanya
bertukar beberapa kalimat.
“Air minumnya, Mbak.”
“Terima kasih.”
“Itu jalurnya agak licin. Hati-hati.”
“Iya.”
Hanya itu. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada kesan istimewa.
Beberapa minggu kemudian komunitas itu kembali mengadakan kegiatan. Aku kembali
ikut. Luki masih sama. Tetap sederhana. Tetap lebih banyak mendengar daripada
berbicara.
Di antara orang-orang itu, tidak ada yang bertanya tentang pernikahanku.
Aku bisa memperkenalkan diri hanya sebagai Lia.
Aku hanyalah Lia. Bukan janda. Bukan perempuan yang gagal mempertahankan
rumah tangga. Hanya seorang perempuan yang sedang belajar berdamai dengan
hidupnya.
Aku belum tahu seperti apa masa depanku. Aku juga belum ingin membuka
hati untuk siapa pun. Untuk saat ini, aku hanya ingin belajar satu hal.
Bernapas kembali. Karena setelah sekian lama bertahan demi orang lain,
akhirnya aku mulai belajar hidup untuk diriku sendiri, tanpa melupakan bahwa
setiap langkahku tetap berada dalam penjagaan Allah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi sibuk mengejar
kebahagiaan yang berasal dari orang lain. Aku ingin menemukannya dalam diriku
sendiri.
Aku mulai menyadari bahwa kehilangan bukan selalu hukuman. Kadang,
kehilangan adalah cara Allah menyelamatkan kita dari jalan yang tidak pernah
ditakdirkan menjadi tempat kita bertumbuh.
Geo mengajariku arti ketulusan.
Kevin mengajariku bahwa kemewahan tidak selalu menghadirkan ketenangan.
Sementara semua luka yang pernah kualami mengajariku satu hal yang
paling berharga: mencintai orang lain tidak boleh membuatku kehilangan diriku
sendiri.
Aku belum tahu apa yang menungguku setelah ini. Untuk pertama kalinya,
ketidakpastian itu tidak terasa menakutkan.
Mungkin suatu hari aku akan memahami mengapa semua ini harus kulewati.
Untuk sekarang, aku cukup menjalaninya.
Aku menarik napas panjang sambil memandang langit sore yang mulai
dihiasi warna jingga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langkahku
terasa lebih ringan. Bukan karena semua lukaku telah sembuh.
Melainkan karena akhirnya aku berhenti memaksa hidup berjalan sesuai
keinginanku, dan mulai belajar mempercayai rencana Allah.
Aku tersenyum kecil. Perjalanan ini belum selesai. Setidaknya, kali ini
aku memilih sendiri langkah berikutnya.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai
karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa
izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar