Jumat, 30 Mei 2014

JIKA WAKTU MEMIHAK KITA

Kita dipertemukan tanpa banyak kata. Namun, setiap gerak tubuh seolah menyimpan bahasa yang hanya dimengerti oleh hati. 

Tatap matamu seakan berbisik, "Perasaanku padamu tak pernah benar-benar berakhir." 

Senyummu pun seolah berkata, “Tetaplah simpan aku di hatimu.” Namun, ada satu kenyataan yang tak pernah sanggup kuterima: langkahmu semakin menjauh.

Kamu yang bersemayam di lubuk hatiku justru menghadirkan tangis di setiap rindu. Kini, aku hanya mampu mencintaimu melalui jalan yang ditunjukkan oleh Sang Pemilik Hati.


Mulan selalu menyukai hari Jumat. Namun, Jumat kali ini terasa berbeda. Hari yang biasanya paling ia nantikan justru menjadi hari yang paling menguras perasaan. Langkahnya terus berjalan, tetapi pikirannya tertinggal di tempat lain.

“Apa aku akan terus seperti ini? Ini bukan lagi kepolosan, melainkan kebodohan. Dua kali Fikri Andria Kurniawan mempermainkanku. Dan kali ini... tak ada lagi ruang untuk memaafkannya.”

Ia terus berjalan tanpa benar-benar menyadari keadaan di sekitarnya. Hingga... Decitan rem memekakkan telinga. Sebuah sepeda motor yang melaju cukup kencang mendadak oleng saat berusaha menghindarinya. Ban depan nyaris terperosok ke saluran air sebelum akhirnya kembali seimbang.

Tubuh Mulan membeku. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Lututnya terasa lemas.

“Astaga... aku hampir mencelakakan seseorang.” Ia memejamkan mata sesaat. “Sebentar lagi pasti dimarahi.”

Perlahan ia memberanikan diri mengangkat kepala. Dari balik helm full face, sepasang mata menatapnya tajam. Tatapan itu cukup membuat napasnya tercekat.

Namun sesaat kemudian lelaki itu melepaskan helmnya. Jantung Mulan seolah berhenti berdetak. “Ya Tuhan...”

Di hadapannya berdiri Gugi. Sahabat masa kecil yang dulu nyaris tak pernah terpisah darinya. Lelaki yang berkali-kali berkata, “Aku menyukaimu,” tetapi selalu ia anggap sebagai gurauan anak-anak.

Alih-alih memarahinya, Gugi justru menatap penuh kekhawatiran.

“Kamu tidak apa-apa?”

Mulan berkedip beberapa kali.

“Aku... baik.” Jawaban itu keluar begitu pelan.

“Lalu kamu?” tanyanya spontan. “Kamu tidak terluka?” Begitu kalimat itu terucap, Mulan langsung menggigit bibirnya.

Astaga... kenapa aku malah mengkhawatirkannya?

Gugi tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja.”

Tatapannya tak lepas dari wajah Mulan. “Tapi sebenarnya sedang apa sampai berdiri melamun di tengah jalan?”

Mulan menelan ludah. “O-oh... tadi aku sedang menghafal dialog untuk pentas.”

Kebohongan kecil itu meluncur begitu saja. “Aku sadar sudah ceroboh. Maaf karena hampir membahayakanmu.”

Refleks ia membungkukkan badan. Begitu menyadari apa yang dilakukannya, Mulan memejamkan mata rapat.

Kenapa malah membungkuk? Kebanyakan nonton drama Korea, sih.

Melihat tingkahnya, Gugi justru terkekeh pelan. Mulan semakin salah tingkah. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa pikirannya dipenuhi oleh mantan kekasih yang kembali mengecewakannya. Harga dirinya terlalu mahal untuk mengakui hal itu.

“Jangan diulangi lagi, ya.” Nada suara Gugi tetap lembut. “Tadi aku benar-benar hampir menabrakmu.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada jahil, “Kamu masih muda. Jangan terlalu banyak pikiran. Nanti cepat tua.”

Mulan hanya mengangguk malu.

Gugi kembali tersenyum. “Atau...”

Ia sengaja menggantung kalimatnya. “Jangan-jangan kamu memang sengaja berdiri di situ buat nunggu aku?”

Mulan sontak mengangkat kepala. “Hah?”

“Soalnya pas aku lewat, kamu langsung muncul.” Ia tertawa kecil. “Kalau ternyata kita tidak bertemu hari ini, pasti kamu kecewa.”

“Bukan begitu!” Mulan buru-buru menggeleng. “Aku memang sering lewat sini. Hari ini saja lagi ceroboh.”

“Baiklah.” Gugi mengangguk seolah percaya. “Kalau begitu... berikan nomor ponselmu.”

Mulan mengernyit. “Untuk apa?”

“Jaga-jaga.”

“Jaga-jaga apa?”

Gugi menunjuk lututnya sambil meringis pura-pura. “Siapa tahu nanti efek tabrakannya baru terasa.”

Wajah Mulan langsung berubah panik. “Kalau begitu kita ke puskesmas sekarang saja!”

Gugi tak kuasa menahan tawa. “Tenang.” Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Aku cuma bercanda.”

Ia menatap Mulan sambil tersenyum. “Sebenarnya aku hanya ingin menyimpan nomor ponselmu. Sudah lama kita tidak saling menghubungi.”

Mulan mengembuskan napas lega. Rasa malu kembali memenuhi wajahnya.

“Nomorku...” Ia menyebutkan deretan angka satu per satu.

Gugi segera menyimpannya. “Kalau begitu...” Ia mengangkat ponselnya. “Sekarang aku sudah punya alasan untuk menghubungimu.”

Jantung Mulan kembali berdebar. Ia hanya mampu mengangguk pelan.

“Terima kasih, Mulan.” Gugi mengenakan kembali helmnya. “Jangan bengong di tengah jalan lagi. Oke?”

“Iya.”

Motor itu kembali melaju meninggalkan tempat mereka bertemu. Mulan tetap berdiri mematung. Tatapannya mengikuti punggung Gugi hingga menghilang di tikungan jalan.

Baru setelah suasana kembali lengang, ia mengembuskan napas panjang. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Ternyata semesta masih mengizinkan mereka bertemu.

Pertemuan yang tak pernah ia rencanakan itu justru membangunkan kembali kenangan yang selama ini berusaha ia simpan rapat. Kenangan tentang seorang sahabat yang selalu berjalan di sisinya. Tentang seorang anak laki-laki yang tak pernah lelah berkata, “Aku menyukaimu.”

Dulu Mulan hanya tertawa. Baginya, kalimat itu hanyalah gurauan anak-anak yang akan hilang seiring bertambahnya usia. Namun waktu justru membuktikan sebaliknya. Yang berubah bukan ucapan itu. Melainkan hati Mulan.

Kini, setelah semuanya terlambat, kalimat sederhana itu justru terus bergema di dalam ingatannya. Ia mendongak menatap langit.

“Apakah perasaanku datang terlambat?” Atau... Tuhan sedang memberiku kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang dulu pernah kuabaikan?

***

Guci, gusi, cuci.

Kata-kata itu sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Namun, bagi Mulan, ada satu kata yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.   

Gugi.

Sebuah nama yang diam-diam menetap di sudut hatinya. Mencari kabar tentang Gugi bukanlah perkara mudah. Hampir semua media sosial pernah Mulan jelajahi. Dari kegiatan “stalking” itulah ia mengetahui satu hal yang diam-diam membuatnya tersenyum.

Gugi belum memiliki pacar. Tentu, itu saja belum cukup. Tanpa disadari, Mulan berubah menjadi seorang mata-mata amatir. Pagi atau sore, ia sengaja berolahraga melewati rumah Gugi. Sepulang sekolah pun, ia rela turun dari angkutan umum di depan kompleks, lalu berjalan kaki cukup jauh hanya agar bisa melintasi rumah lelaki itu.

Padahal jalur itu jelas lebih melelahkan. Namun semua rasa lelah selalu lenyap ketika dari kejauhan ia melihat Gugi sedang bermain basket, mencuci motor, membantu kedua orang tuanya, atau sekadar mengobrol bersama teman-temannya.

Mulan tersenyum sendiri. Jatuh cinta memang aneh. Ia sanggup melakukan hal-hal yang bahkan tak masuk akal. Meminta nomor ponsel Gugi? Ia tidak seberani itu. Datang ke rumahnya? Mustahil. Mengajak bertemu? Jantungnya mungkin sudah menyerah lebih dulu. Karena itu, Mulan memilih cara yang menurutnya paling aman. Mencintai Gugi diam-diam.

Hari itu ia kembali menjalankan “misi” rutinnya. Ia berdiri tidak jauh dari rumah Gugi sambil berpura-pura melihat-lihat sekitar. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Gugi keluar sambil membawa bola basket, disusul Bagas yang berjalan santai di belakangnya.

Keluar juga... Refleks Mulan berjongkok di dekat sebuah bak sampah agar tidak terlihat.

“Hei, Nak. Sedang apa di situ?” Suara seorang nenek membuat Mulan tersentak.

Ia mendongak dengan senyum canggung. “E-eh... saya tadi menjatuhkan barang.”

“Oh ya? Barang apa? Biar Nenek bantu cari.”

Mulan menelan ludah. “Tidak usah, Nek. Sepertinya sudah ikut terangkut sampah.”

“Yakin?”

“Iya, Nek. Untung masih ada cadangannya di rumah.”

Ia buru-buru membungkukkan badan. “Maaf, Nek. Saya pergi dulu.”

Tanpa memberi kesempatan sang nenek bertanya lagi, Mulan segera melangkah cepat. Begitu cukup jauh, ia mengembuskan napas panjang.

Astaga... memalukan sekali. Kalau sampai Gugi tahu aku berjongkok di dekat bak sampah hanya untuk menghindarinya, pasti dia menganggapku penguntit sungguhan.

“Mulan?”

Langkahnya langsung terhenti. Ia menoleh. Gugi berdiri beberapa meter di belakangnya bersama Bagas.

Ya ampun... ketahuan juga.

Gugi menghampiri sambil tersenyum. Tatapannya singgah sejenak pada wajah Mulan yang masih sedikit pucat.

“Jam segini baru pulang?”

“Iya.”

“Kalau nanti hujan bagaimana? Bisa basah kuyup.”

Mulan mendengus pelan. “Kalau tidak basah, namanya bukan kehujanan.” Ia menyilangkan tangan. “Kamu ini seperti wartawan. Lebih cerewet daripada ibuku.”

Gugi terkekeh. “Aku cuma khawatir.” Ia mengangkat kedua tangannya. “Belajar kelompok atau malah bergosip?”

Mulan tertawa kecil. Belum sempat menjawab, Bagas lebih dulu menyela.

“Jangan-jangan habis ketemu pacar.” Ia menyeringai usil. “Lihat wajahnya. Bahagia banget.”

Mulan buru-buru menggeleng. “Aku masih jomblo.”  

“Oh ya?” Bagas semakin semangat menggoda.

“Terus Yuga, Fathir, sama Kak Nikra itu siapa? Bukannya mereka semua pernah dekat sama Kak Mulan?”

Mulan memelototinya. Anak ini memang hobi bikin hidup orang susah.

“Tukang gosip.” Ia mendecak pelan. “Aku malah dengar kamu sering mengaku kalau aku pacarmu.”

Bagas langsung membelalak. “Itu fitnah! Lagian, mana buktinya?”

Mulan tersenyum puas. “Nah, makanya.” Ia mengangkat dagu. “Jangan gampang percaya gosip.”

Gugi ikut tertawa. “Bagas memang paling gampang kemakan omongan anak tongkrongan.”

Ia melirik adiknya sambil tersenyum jahil. “Atau sebenarnya kamu yang suka sama Mulan?”

“Wah, bukan aku!” Bagas buru-buru menunjuk Gugi. “Kalian berdua saja yang saling suka. Tinggal mengaku.”

Senyum Gugi perlahan memudar. Ia melirik Mulan sekilas.

“Kita ini sahabat sejak kecil.” Nada suaranya terdengar ringan. “Mana mungkin pacaran.”

Lalu ia menoleh kepada Mulan. “Iya, kan?”

Mulan tersenyum tipis. “Iya.”

Hanya satu kata. Namun kata itu terasa seperti garis yang kembali ditegaskan di antara mereka. Sahabat. Tidak lebih. Tidak kurang.

Untuk sesaat, Mulan berharap Gugi menarik kembali ucapannya. Namun harapan itu tak pernah datang.

Gugi kembali membuka percakapan. “Nanti sore ada waktu? Aku mau main ke rumahmu. Sudah lama kita tidak main game.”

Wajah Mulan yang sempat muram kembali berbinar. “Ada.” Ia tersenyum lebar. “Tapi jangan nangis kalau nanti aku menang.”

Gugi terkekeh. “Kamu belum tahu kemampuan baruku. Siap-siap kalah.”

“Belum tentu.” Mulan mengangkat sebelah alis. “Jangan menyesal kalau harga dirimu runtuh.”

“Kalian ini...” Bagas menggeleng sambil tertawa. “Benar-benar seperti anak kecil.”

“Justru itu serunya.” Jawaban mereka keluar hampir bersamaan.

Mereka saling berpandangan sesaat. Lalu tertawa bersama. Tawa yang terdengar begitu ringan. Namun tidak dengan hati Mulan.

Sahabat... Apa memang hanya itu tempatku di hatimu? Kalau memang begitu... mengapa aku masih terus berharap?

Ia menunduk pelan. Ya Allah... Jika dia memang bukan takdirku, tolong kuatkan hatiku untuk menerima. Namun jika Engkau masih menuliskan namaku di dalam takdirnya... izinkan aku bersabar hingga waktu itu tiba.

***

Mulan masih meringkuk di atas tempat tidur ketika dering ponselnya memecah keheningan pagi. Nama Gugi terpampang di layar. Dalam sekejap, rasa kantuknya lenyap.

“Halo?”

“Mulan, apa kita bisa bertemu?” suara Gugi terdengar dari seberang.

Mulan mengucek matanya. “Ada apa?”

“Aku ada perlu. Nanti saja kita jelaskan waktu bertemu. Kamu ada acara?”

“Tidak.”

“Aku tunggu di pos satpam Blok B jam sepuluh.”

“Baik.”

Panggilan pun berakhir. Beberapa detik kemudian, Mulan langsung bangkit dari tempat tidur.

“Astaga...” Ia meraih handuk, berlari ke kamar mandi, lalu membongkar isi lemari. Satu demi satu pakaian dikeluarkan. Dicoba. Dilepas lagi. Diganti lagi.

Setelah itu ia berdiri cukup lama di depan cermin, merapikan rambut, membubuhkan riasan tipis, lalu kembali mengamatinya dari berbagai sudut.

Padahal... Janji bertemu masih tiga jam lagi.

“Tenang, Mulan... cuma ketemu Gugi.” Ia tersenyum geli pada dirinya sendiri. “Kenapa rasanya seperti mau dilamar?”

Meski begitu, ia tetap berangkat satu jam lebih awal. Lebih baik menunggu daripada membuat Gugi menunggu. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di hadapannya.

Senyum Mulan langsung mengembang. Namun senyum itu perlahan memudar ketika seorang lelaki lain ikut turun dari motor. “Bukan... sendiri?”

“Terima kasih sudah datang.” Gugi menghampirinya. “Maaf mengganggu waktu istirahatmu.”

“Tidak apa-apa.” Mulan berusaha tetap tersenyum. “Memangnya ada apa?”

“Oh iya.” Gugi menoleh ke belakang. “Kenalkan, ini Albi. Sahabatku.”

Albi mengangguk ramah. Mulan membalasnya dengan senyum sopan. Sementara itu, isi kepalanya mulai dipenuhi berbagai dugaan.

Lho... ini bukan pertemuan berdua? Aku sampai menghabiskan hampir satu jam memilih baju... ternyata malah datang bertiga.

“Mulan, kamu ingat pernah bertemu Albi?”

Mulan menggeleng.

“Albi dulu sekolah di SMA Bakti. Beberapa tahun lalu tim basket sekolahnya pernah bertanding di sekolahmu. Katanya kamu salah satu panitianya.”

Mulan mencoba mengingat. Tetap saja tidak ada bayangan yang muncul.

Gugi tersenyum kecil. “Makanya hari ini aku ingin mengenalkan kalian.”

Jantung Mulan berdetak semakin cepat. Jangan-jangan... Apa ini...? Harapan kecil yang sejak tadi bersembunyi di sudut hatinya perlahan tumbuh. Namun...

“Aku ke sini untuk membantu Albi.” Gugi menepuk bahu sahabatnya. “Dia ingin menyampaikan sesuatu.”

Harapan itu runtuh seketika.

Albi menggaruk tengkuknya dengan gugup. “Maaf kalau mendadak.” Ia menarik napas pelan. “Pertama kali melihatmu waktu pertandingan basket itu... aku langsung tertarik. Kamu kelihatan ramah. Ceria. Dan mudah membuat orang nyaman. Sejak itu aku mencari tahu tentangmu. Sampai akhirnya aku tahu kalau ternyata kamu tinggal satu kompleks dengan Gugi.”

Tatapan Albi begitu tulus. “Aku menyukaimu.”

Mulan membeku.

“Aku berharap kamu mau memberiku kesempatan mengenalmu lebih dekat.”

Hening. Beberapa detik berlalu sebelum Mulan akhirnya mampu bersuara.

“Maaf...” Ia tersenyum pelan. “Rasanya ini benar-benar pertama kali kita mengobrol. Bagaimana kalau kita mulai sebagai teman dulu?”

Albi mengangguk. Sorot matanya sedikit kecewa, tetapi senyumnya tetap hangat. “Aku mengerti. Hubungan yang baik memang dimulai dari saling mengenal.”

“Nah...” Gugi ikut tersenyum. “Aku yakin kalian bakal cocok.”

Kalimat sederhana itu justru terasa paling menyakitkan. Seolah-olah Gugi sedang mendorongnya menuju kebahagiaan... yang bukan bersamanya.

“Yakin tidak kecewa?” Gugi menggoda Albi. “Kupikir hari ini kamu langsung punya pacar.”

Albi tertawa kecil. “Perasaan tidak bisa dipaksa. Aku cuma berharap suatu hari nanti Mulan bisa melihatku seperti aku melihatnya. Apa aku masih punya kesempatan?”

Mulan mengangguk pelan. “Tentu. Kita berteman dulu.”

“Terima kasih.”

Gugi menepuk bahu Albi. “Tenang. Aku dukung kalian.”         

Mulan hanya menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak.

Jadi... memang bukan aku yang ada di hatimu. Orang yang paling berusaha membuatku bahagia justru sedang menyerahkanku kepada orang lain.

Tak lama kemudian, Gugi mengajak Mulan menjauh beberapa langkah.

“Wajahmu lucu sekali hari ini.” Ia tertawa kecil. “Boleh tahu sedang mikirin apa?”

Mulan mendengus. “Dasar. Tiba-tiba saja kamu menjodohkanku.” Sebagai balasan, ia mencubit lengan Gugi.

“Aduh.” Gugi meringis. “Sakit.”

“Biar tahu rasa.”

“Memangnya aku salah? Kalian sama-sama sendiri.”

“Itu bukan urusanmu.” Mulan berbalik hendak pergi. Namun baru beberapa langkah... Pergelangan tangannya tertahan. Ia menoleh.

Gugi menggenggam tangannya. “Gadis keras kepala.” Nada suaranya begitu lembut. “Jangan pergi dulu. Kasihan Albi.”

Tatapan Mulan jatuh pada tangan mereka yang masih saling bersentuhan. Jantungnya kembali berdebar. Kenapa selalu begini...?

“Kalau memang ingin aku tetap di sini...” Mulan menatap Gugi. “...kamu saja yang pergi.”

Gugi terdiam. Lalu mengembuskan napas pelan. “Syukurlah.”

“Syukurlah?”

“Setidaknya...” Ia tersenyum tipis. “Kamu menyuruhku pergi. Bukan memilih kabur lebih dulu.”

Amarah Mulan perlahan luluh. “Aku tadi cuma kesal. Jangan dimasukkan ke hati.”

“Tenang.” Gugi melepaskan genggaman tangannya. “Aku memang mau pergi. Membiarkan kamu dan Albi punya waktu saling mengenal.”

Sentuhan itu berakhir. Namun kehangatannya masih tertinggal. Mulan hanya mampu memandangi punggung Gugi yang semakin menjauh.

“Kenapa kamu selalu penuh kejutan? Dan kenapa kamu begitu ingin mendekatkanku dengan orang lain?”

Tiba-tiba Gugi berhenti melangkah. Tanpa menoleh, ia berkata pelan, “Aku cuma ingin kamu bahagia.”

Mulan tersenyum hambar. “Itu saja? Menurutmu... aku benar-benar bahagia?”

Kali ini Gugi menoleh. Tatapan mereka bertemu. “Jangan terus melihat ke belakang.” Suaranya tenang. “Kenangan memang indah. Tapi kalau yang tersisa hanya penyesalan.. Sudah saatnya kamu melangkah.”

Mulan masih terdiam.

“Temui Albi. Dia laki-laki yang baik. Jangan sampai kamu baru menyadari nilainya setelah dia memilih pergi.”

Mulan menggigit bibirnya. “Lalu... aku harus bagaimana?”

Gugi tersenyum kecil. Ia mengangkat tangan. Lalu mengusap pelan kepala Mulan.

“Jaga dia baik-baik.” Setelah itu ia benar-benar pergi.

Mulan hanya mampu memandangi punggungnya hingga menghilang dari pandangan. Ada sesuatu yang terasa ikut pergi bersamanya.

Tak lama kemudian Albi kembali mengajaknya berbincang. Mulan menjawab seperlunya. Sementara matanya, tanpa sadar, masih terus menatap ke arah jalan yang baru saja dilalui Gugi. Jauh di dalam hatinya, ia masih berharap lelaki itu berbalik... lalu berkata bahwa semua yang terjadi hari ini hanyalah sebuah kesalahpahaman.

***

Sejak pertemuan minggu lalu, Mulan sengaja tidak menghubungi Gugi. Ia berusaha menghargai perasaan Albi. Bukankah itu juga yang diinginkan Gugi?

Siang itu, Mulan dan Albi duduk berdampingan di sebuah kafe. Laptop terbuka di hadapan mereka, sementara buku-buku berserakan di atas meja.

Suasana tenang. Hanya terdengar suara jemari yang sesekali mengetik. Tiba-tiba nada dering ponsel Mulan memecah keheningan.

“Saengil chukha hamnida...” Refleks Mulan meraih ponselnya. Senyum kecil langsung menghiasi wajahnya.

Albi menghentikan pekerjaannya. “Ada jadwal penting?”

“Tentu.” Jawaban Mulan terdengar penuh semangat. “Besok ulang tahun Gugi.”

Albi terdiam.

“Besok dia genap tujuh belas tahun.” Mata Mulan berbinar. “Bagaimana kalau kita kasih kejutan? Enggak usah besar. Yang penting dia senang.”

Albi masih belum menjawab. “Mulan...”

“Iya?”

“Apa Gugi belum bilang apa-apa?”

Senyum Mulan perlahan memudar. “Bilang apa?”

Albi menarik napas panjang. “Kemarin sore... keluarganya pindah.”

Wajah Mulan langsung kehilangan warna. “...Apa?”

“Rumahnya sudah kosong.”


Sore harinya Mulan berdiri di depan rumah itu. Pagar masih tertutup rapat. Halaman yang biasanya dipenuhi suara bola basket kini benar-benar sunyi. Tak ada motor yang sedang dicuci. Tak ada tawa. Tak ada sosok yang selalu membuat jantungnya berdebar. Hanya rumah kosong. Dan kenangan yang tertinggal di dalamnya.

Albi berdiri beberapa langkah di belakang. Ia tidak mengatakan apa pun. Ada kesedihan yang memang tak membutuhkan nasihat. Hanya membutuhkan waktu.

Air mata Mulan jatuh perlahan. “Ya Allah... Jadi... ini akhirnya? Aku bahkan belum sempat mengucapkan sampai jumpa lagi. Kalau Engkau masih mengizinkan... pertemukan aku dengannya sekali lagi.

Sekali saja. Aku ingin melihat senyumnya. Aku ingin mendengar tawanya. Lalu mengucapkan semua yang selama ini tak pernah berani kusampaikan.

Mulan mengusap air matanya. Namun tangis itu tak juga berhenti. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi Gugi. Nomor teleponnya tidak lagi aktif. Semua akun media sosialnya menghilang. Seolah Gugi sengaja menghapus setiap jejak yang bisa membawanya kembali.

“Percuma, Mulan.” Suara Albi terdengar pelan. “Seberapa keras pun kamu mencarinya, dia memang tidak ingin ditemukan.”

Mulan menggigit bibir. “Kalau saja dia berpamitan...” Suaranya bergetar. “Mungkin aku tidak akan sesesak ini.”

Air matanya kembali jatuh. “Aku ingin berhenti memikirkannya.” Ia tersenyum pahit. “Tapi pikiranku selalu kembali ke dia. Mungkin memang sudah waktunya aku belajar melupakan.”

Albi menggeleng perlahan. “Jangan membohongi hatimu.”

Mulan menoleh. Tatapan Albi tampak sendu. “Gugi tidak pernah berhenti mencintai cinta pertamanya.”

Jantung Mulan seakan berhenti berdetak. “...Apa?”

“Kalimat 'Aku menyukaimu' yang dulu sering dia ucapkan, bukan candaan. Dia sungguh-sungguh.”

Air mata Mulan kembali mengalir.

“Setiap kali pulang ke kota ini. Aku sering menemani Gugi melewati rumahmu. Kadang dia hanya berdiri dari kejauhan. Kadang dia sengaja mencari alasan agar bisa melihatmu.” Albi tersenyum kecil. “Lucu kalau diingat sekarang. Tapi dia benar-benar melakukan itu.”

Mulan menutup mulutnya. Dadanya terasa sesak.

“Suatu hari, Gugi bilang dia ingin berhenti mengejarmu.”

Mata Mulan perlahan terpejam.

“Tapi dia memberi syarat pada dirinya sendiri.”

“Syarat?”

“Dia baru benar-benar akan melepaskanmu kalau yakin kamu bisa bahagia.”

Tangis Mulan pecah.

“Kurasa...” Albi menundukkan kepala. “Itulah alasan dia tidak berpamitan. Kalau bertemu denganmu sekali lagi, mungkin dia tidak akan sanggup pergi.”

Suasana kembali sunyi. Hanya suara angin yang berembus pelan di antara pepohonan.

“Maaf.” Suara Albi hampir tak terdengar. “Aku seharusnya menceritakan semua ini sejak dulu.”

Mulan menggeleng. Air matanya terus mengalir. Namun kali ini, bukan semata-mata karena kehilangan. Melainkan karena, untuk pertama kalinya, ia mengetahui satu kenyataan yang selama ini tak pernah berani ia impikan.

Cintanya... Ternyata tidak pernah bertepuk sebelah tangan.


Cintaku ternyata terbalas.

Ironisnya, aku baru mengetahuinya ketika semuanya telah berubah menjadi kenangan. Apakah itu menyakitkan? Sangat. Apakah aku menyesal? Tidak. Karena kini aku tahu, selama ini aku tidak pernah mencintai sendirian.

Gugi... Nama yang begitu sederhana, tetapi mampu meninggalkan jejak paling dalam di hidupku. Setiap kali aku melewati jalan menuju rumahmu, langkahku selalu melambat. Mataku tanpa sadar mencari-cari sosok yang pernah begitu akrab di sana. Aku masih berharap pintu itu terbuka, lalu kamu keluar dengan senyum yang selama ini kurindukan.

Namun, rumah itu tetap sunyi. Tak ada lagi suara bola basket yang memantul di halaman. Tak ada lagi sapaan yang membuat jantungku lupa cara berdetak dengan tenang.

Yang tersisa hanyalah kenangan. Kini aku mengerti, tidak semua perasaan ditakdirkan untuk memiliki. Ada cinta yang tumbuh hanya agar seseorang belajar menghargai waktu. Ada rindu yang sengaja ditinggalkan agar kita memahami arti kehilangan.

Mungkin benar... Sebagian orang hadir bukan untuk tinggal selamanya. Mereka datang membawa kebahagiaan, mengajarkan arti ketulusan, lalu pergi meninggalkan kenangan yang tak pernah benar-benar usang.

Dan kamu... Akan selalu menjadi bagian dari doa yang diam-diam kuselipkan setiap kali langit malam kupandangi.

Semoga di mana pun kamu berada, Tuhan selalu menjagamu. Terima kasih telah menjadi cinta pertama yang mengajarkanku bahwa mencintai dengan tulus tidak pernah sia-sia, meski akhirnya kita tidak berjalan di jalan yang sama.

Sebab ada pertemuan yang memang tidak ditakdirkan untuk berakhir dengan kebersamaan. Ada pula perpisahan yang justru menjadi cara Tuhan menjaga dua hati agar tetap saling mendoakan dari kejauhan.

Sampai bertemu lagi, Gugi. Jika suatu hari nanti takdir mempertemukan kita kembali, semoga saat itu kita sudah menjadi dua orang yang mampu tersenyum tanpa penyesalan.

Dan jika takdir memilih sebaliknya... Izinkan namamu tetap tinggal sebagai halaman terindah dalam buku kehidupanku—halaman yang tak akan pernah kututup, tetapi juga tak akan lagi kubuka dengan air mata.

***

Gugi... Setelah kamu pergi, hidupku kembali mengujiku dengan cara yang tak pernah kubayangkan. Aku kehilangan jejakmu. Lalu, aku kehilangan seseorang yang selama ini kuanggap sebagai saudara. Fahira. Kalau saja kamu mendengarnya, mungkin kamu pun akan sulit mempercayainya.


Beberapa minggu setelah kepergianmu, aku seperti orang yang kehilangan arah. Setiap pulang sekolah, langkah kakiku selalu berakhir di depan rumahmu yang kini kosong. Aku masih berharap ada keajaiban kecil. Mungkin suatu hari mobil keluargamu berhenti di halaman. Mungkin pintu rumah itu kembali terbuka. Mungkin kamu pulang tanpa memberi tahu siapa pun.

Harapan itu memang terdengar konyol. Namun, bukankah seseorang yang sedang merindukan akan percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal?

Aku mencari namamu di setiap media sosial. Aku mencoba menghubungi nomor lamamu berkali-kali. Aku bahkan bertanya kepada beberapa teman yang mungkin pernah bertemu denganmu.

Hasilnya tetap sama. Tidak ada. Seolah-olah kamu benar-benar menghapus seluruh jejakmu dari hidupku. Di saat aku mulai kelelahan mencari, Fahira datang dengan wajah penuh semangat.

“Mulan!” Ia berlari kecil menghampiriku sambil melambaikan ponselnya. “Aku berhasil mendapatkan nomor kontak Gugi.”

Jantungku seakan berhenti berdetak. “Apa?”

“Iya. Akhirnya dapat juga.”

Tanpa sadar aku langsung memeluknya berkali-kali. “Serius, Fah?”

“Iya. Aku mana mungkin bohong.”

Air mataku hampir jatuh karena bahagia. Untuk pertama kalinya sejak kepergianmu, aku merasa Tuhan kembali memberiku secercah harapan.

“Terima kasih...” Aku memegang kedua tangannya erat. “Terima kasih banyak.”

Fahira hanya tersenyum. “Aku tahu kamu pasti senang.”

Saat itu, aku benar-benar percaya bahwa sahabatku sedang membantuku. Aku tidak pernah sedikit pun mencurigainya.


Malam itu juga aku memberanikan diri mengirim pesan.

“Halo... ini benar Gugi?”

Aku menunggu dengan jantung berdebar. Lima menit. Sepuluh menit. Hampir saja aku menyerah ketika layar ponselku akhirnya menyala.

“Iya.” Hanya satu kata.

Namun, cukup membuatku tersenyum sepanjang malam. Aku mulai mengirim pesan lagi. Awalnya canggung. Kami saling bertanya kabar. Membicarakan sekolah. Mengingat masa kecil.

Sesekali aku mengirim cerita-cerita sederhana tentang kehidupanku. Anehnya, balasan darimu terasa berbeda. Lebih singkat. Lebih dingin. Aku sempat mengira mungkin kamu memang sudah berubah. Atau mungkin... jarak telah mengubah cara kita berbicara.

Aku memilih mengabaikan perasaan aneh itu. Yang terpenting bagiku saat itu hanyalah satu. Aku percaya sedang berbicara denganmu.

Hari demi hari berganti menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan. Selama sebulan penuh, aku hidup dengan keyakinan bahwa setiap pesan yang kuketik sedang dibaca oleh orang yang selama ini kurindukan.

Aku bercerita tentang sekolah. Tentang guru yang lucu. Tentang teman-teman sekelas. Tentang Albi yang mulai mendekatiku. Tentang rasa rinduku yang ternyata belum juga berkurang.

Bahkan... Aku pernah menulis panjang lebar tentangmu. “Aku tidak tahu kenapa sampai sekarang masih sulit melupakanmu. Mungkin aku memang terlambat menyadari semuanya.”

Pesan itu dibalas singkat. “Sudahlah.” Saat itu aku menganggap kamu sedang berusaha membuatku move on. Aku tidak marah. Justru semakin kagum. Kupikir kamu benar-benar ingin melihatku bahagia.

Betapa bodohnya aku.


          Hingga suatu malam sebuah pesan kembali masuk.

“Aku akan pulang.”

Aku membaca kalimat itu berulang-ulang.

“Besok kita bertemu di sekolah.”

Tanganku gemetar. Air mataku menetes begitu saja. Akhirnya... Setelah sekian lama... Aku akan bertemu lagi denganmu.

Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Aku membuka lemari berkali-kali hanya untuk memilih pakaian yang paling pantas. Aku membayangkan apa yang akan kukatakan saat bertemu. Haruskah aku memarahimu karena pergi tanpa pamit? Atau langsung memelukmu? Atau cukup berkata, “Aku kangen.”

Entahlah. Yang jelas, aku ingin melihatmu lagi. Itu saja sudah lebih dari cukup.


Keesokan harinya aku datang jauh lebih awal ke sekolah. Udara pagi masih dingin. Halaman sekolah masih lengang. Fahira datang menemaniku.

“Kamu yakin dia datang?”

“Iya.” Aku tersenyum lebar.

“Dia sendiri yang bilang.”

Kami menunggu. Satu jam. Bel berbunyi. Murid-murid mulai berdatangan. Aku tetap berdiri di depan gerbang. Dua jam. Jam pelajaran pertama hampir dimulai. Aku masih menunggu. Setiap motor yang masuk membuatku menoleh penuh harapan. Setiap lelaki yang memakai jaket hitam selalu berhasil membuat jantungku berdebar. Namun, setiap kali wajah mereka terlihat... Bukan kamu.

“Apa mungkin dia terlambat?” tanyaku pelan.

Fahira hanya tersenyum kecil. “Pasti datang.”

Aku kembali percaya. Lalu... Seseorang berjalan mendekat. Langkahnya perlahan. Semakin dekat. Semakin jelas. Jantungku berdetak begitu keras.

Aku tersenyum. “Gugi...”

Namun... Senyum itu membeku. Orang yang berdiri di hadapanku sama sekali bukan dirimu. Melainkan... Fikri. Mantan yang pernah melukaiku.

Aku menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.

“Selamat pagi.” Ia tersenyum canggung. “Akhirnya kita ketemu lagi.”

Dadaku mendadak sesak. Aku menoleh kepada Fahira. Tatapannya berubah. Tak ada lagi senyum bangga seperti beberapa minggu lalu. Yang ada hanya rasa bersalah.

“Apa... ini?” Suaraku bergetar.

Fikri menghela napas panjang. “Maaf.”

Aku kembali menatap Fahira. “Nomor itu...” Air mataku mulai menggenang. “...bukan nomor Gugi?”

Fahira menundukkan kepala. “Bukan.”

Dunia seolah berhenti berputar. Selama sebulan... Aku tidak pernah berbicara denganmu. Setiap pesan yang kukirim. Setiap rindu yang kuceritakan. Setiap harapan yang kusimpan. Setiap doa yang kutuliskan. Tidak pernah sampai kepadamu. Semuanya... Dibaca oleh orang lain. Aku merasa seperti orang paling bodoh di dunia.

“Aku cuma ingin kamu melupakan Gugi.” Suara Fahira terdengar lirih. “Karena itu aku memberikan nomor Fikri.”

Aku menatapnya tak percaya. “Kenapa?”

“Aku pikir... kalau kamu dekat lagi dengan Fikri, kamu bisa melupakan Gugi.”

Aku tersenyum pahit. “Tapi kamu membohongiku.” Air mataku akhirnya jatuh. “Kamu tahu siapa yang paling kubutuhkan saat itu. Kamu tahu aku sedang berusaha mencarinya. Lalu kenapa kamu tega melakukan ini?”

Fahira ikut menangis. “Aku cuma ingin kamu bahagia.”

Aku menggeleng pelan. “Kalau memang ingin aku Bahagia, seharusnya kamu tidak pernah membohongiku.”

Hari itu... Bukan hanya harapanku yang hancur. Kepercayaanku kepada sahabat sendiri ikut runtuh.

Sejak saat itu, tak ada lagi sapaan di antara kami. Tak ada lagi cerita yang dibagi saat jam istirahat. Tak ada lagi tawa yang biasa memenuhi perjalanan pulang. Kami tetap berada di kelas yang sama. Namun, rasanya seperti dua orang asing. Pertemanan yang kami bangun selama bertahun-tahun berakhir dalam satu kebohongan.

Hingga hari kelulusan tiba, kami tidak pernah benar-benar berdamai.


Aku membenci diriku sendiri. Mengapa begitu sulit melepaskan seseorang yang bahkan sudah lama pergi? Mengapa bayangannya selalu kembali setiap kali aku mencoba melangkah? Mungkin sekarang Gugi sedang membangun kehidupannya yang baru. Mungkin ia telah menemukan kebahagiaannya. Mungkin ia sudah tidak pernah mengingatku lagi.

Kalau memang begitu... Sudah waktunya aku berhenti mengejar bayangannya. Sudah waktunya aku menerima bahwa tidak semua kehilangan harus dipertemukan kembali.

Aku tidak bisa terus hidup dengan menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu kalau aku masih berdiri di tempat yang sama.

Kini, aku ingin belajar melangkah. Bukan karena aku berhenti mencintaimu. Melainkan karena aku ingin menghormati cinta itu dengan cara yang lebih dewasa.

Jika memang kita berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali. Namun jika tidak... Biarlah namamu tetap tinggal sebagai kenangan yang pernah membuatku percaya bahwa cinta pertama benar-benar ada.

 

Tamat


Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar