Kita dipertemukan tanpa banyak kata. Namun, setiap gerak tubuh seolah menyimpan bahasa yang hanya dimengerti oleh hati.
Tatap matamu seakan berbisik, "Perasaanku padamu tak pernah benar-benar berakhir."
Senyummu pun seolah berkata, “Tetaplah simpan aku
di hatimu.” Namun, ada satu kenyataan yang tak pernah sanggup kuterima:
langkahmu semakin menjauh.
Kamu yang bersemayam di lubuk hatiku justru
menghadirkan tangis di setiap rindu. Kini, aku hanya mampu mencintaimu melalui
jalan yang ditunjukkan oleh Sang Pemilik Hati.
Mulan selalu menyukai hari Jumat. Namun, Jumat kali ini terasa berbeda.
Hari yang biasanya paling ia nantikan justru menjadi hari yang paling menguras
perasaan. Langkahnya terus berjalan, tetapi pikirannya tertinggal di tempat lain.
“Apa aku akan terus seperti ini? Ini bukan lagi
kepolosan, melainkan kebodohan. Dua kali Fikri Andria Kurniawan
mempermainkanku. Dan kali ini... tak ada lagi ruang untuk memaafkannya.”
Ia terus berjalan tanpa benar-benar menyadari keadaan di sekitarnya. Hingga...
Decitan rem memekakkan telinga. Sebuah sepeda motor yang melaju cukup kencang
mendadak oleng saat berusaha menghindarinya. Ban depan nyaris terperosok ke
saluran air sebelum akhirnya kembali seimbang.
Tubuh Mulan membeku. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Lututnya
terasa lemas.
“Astaga... aku hampir mencelakakan seseorang.” Ia memejamkan mata sesaat. “Sebentar lagi pasti
dimarahi.”
Perlahan ia memberanikan diri mengangkat kepala. Dari balik helm full
face, sepasang mata menatapnya tajam. Tatapan itu cukup membuat napasnya
tercekat.
Namun sesaat kemudian lelaki itu melepaskan helmnya. Jantung Mulan
seolah berhenti berdetak. “Ya Tuhan...”
Di hadapannya berdiri Gugi. Sahabat masa kecil yang dulu nyaris tak
pernah terpisah darinya. Lelaki yang berkali-kali berkata, “Aku menyukaimu,”
tetapi selalu ia anggap sebagai gurauan anak-anak.
Alih-alih memarahinya, Gugi justru menatap penuh kekhawatiran.
“Kamu tidak apa-apa?”
Mulan berkedip beberapa kali.
“Aku... baik.” Jawaban itu keluar begitu pelan.
“Lalu kamu?” tanyanya spontan. “Kamu tidak terluka?” Begitu kalimat itu
terucap, Mulan langsung menggigit bibirnya.
Astaga... kenapa aku malah mengkhawatirkannya?
Gugi tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja.”
Tatapannya tak lepas dari wajah Mulan. “Tapi sebenarnya sedang apa
sampai berdiri melamun di tengah jalan?”
Mulan menelan ludah. “O-oh... tadi aku sedang menghafal dialog untuk
pentas.”
Kebohongan kecil itu meluncur begitu saja. “Aku sadar sudah ceroboh.
Maaf karena hampir membahayakanmu.”
Refleks ia membungkukkan badan. Begitu menyadari apa yang dilakukannya,
Mulan memejamkan mata rapat.
Kenapa malah membungkuk? Kebanyakan nonton drama
Korea, sih.
Melihat tingkahnya, Gugi justru terkekeh pelan. Mulan semakin salah
tingkah. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa pikirannya dipenuhi oleh mantan
kekasih yang kembali mengecewakannya. Harga dirinya terlalu mahal untuk
mengakui hal itu.
“Jangan diulangi lagi, ya.” Nada suara Gugi tetap lembut. “Tadi aku
benar-benar hampir menabrakmu.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada jahil, “Kamu masih
muda. Jangan terlalu banyak pikiran. Nanti cepat tua.”
Mulan hanya mengangguk malu.
Gugi kembali tersenyum. “Atau...”
Ia sengaja menggantung kalimatnya. “Jangan-jangan kamu memang sengaja berdiri
di situ buat nunggu aku?”
Mulan sontak mengangkat kepala. “Hah?”
“Soalnya pas aku lewat, kamu langsung muncul.” Ia tertawa kecil. “Kalau
ternyata kita tidak bertemu hari ini, pasti kamu kecewa.”
“Bukan begitu!” Mulan buru-buru menggeleng. “Aku memang sering lewat
sini. Hari ini saja lagi ceroboh.”
“Baiklah.” Gugi mengangguk seolah percaya. “Kalau begitu... berikan
nomor ponselmu.”
Mulan mengernyit. “Untuk apa?”
“Jaga-jaga.”
“Jaga-jaga apa?”
Gugi menunjuk lututnya sambil meringis pura-pura. “Siapa tahu nanti efek
tabrakannya baru terasa.”
Wajah Mulan langsung berubah panik. “Kalau begitu kita ke puskesmas
sekarang saja!”
Gugi tak kuasa menahan tawa. “Tenang.” Ia mengeluarkan ponsel dari
sakunya. “Aku cuma bercanda.”
Ia menatap Mulan sambil tersenyum. “Sebenarnya aku hanya ingin menyimpan
nomor ponselmu. Sudah lama kita tidak saling menghubungi.”
Mulan mengembuskan napas lega. Rasa malu kembali memenuhi wajahnya.
“Nomorku...” Ia menyebutkan deretan angka satu per satu.
Gugi segera menyimpannya. “Kalau begitu...” Ia mengangkat ponselnya. “Sekarang
aku sudah punya alasan untuk menghubungimu.”
Jantung Mulan kembali berdebar. Ia hanya mampu mengangguk pelan.
“Terima kasih, Mulan.” Gugi mengenakan kembali helmnya. “Jangan bengong
di tengah jalan lagi. Oke?”
“Iya.”
Motor itu kembali melaju meninggalkan tempat mereka bertemu. Mulan tetap
berdiri mematung. Tatapannya mengikuti punggung Gugi hingga menghilang di
tikungan jalan.
Baru setelah suasana kembali lengang, ia mengembuskan napas panjang. Sudut
bibirnya perlahan terangkat. Ternyata semesta masih mengizinkan mereka bertemu.
Pertemuan yang tak pernah ia rencanakan itu justru membangunkan kembali
kenangan yang selama ini berusaha ia simpan rapat. Kenangan tentang seorang
sahabat yang selalu berjalan di sisinya. Tentang seorang anak laki-laki yang
tak pernah lelah berkata, “Aku menyukaimu.”
Dulu Mulan hanya tertawa. Baginya, kalimat itu hanyalah gurauan
anak-anak yang akan hilang seiring bertambahnya usia. Namun waktu justru membuktikan
sebaliknya. Yang berubah bukan ucapan itu. Melainkan hati Mulan.
Kini, setelah semuanya terlambat, kalimat sederhana itu justru terus
bergema di dalam ingatannya. Ia mendongak menatap langit.
“Apakah perasaanku datang terlambat?” Atau... Tuhan sedang memberiku kesempatan untuk
memperbaiki sesuatu yang dulu pernah kuabaikan?
***
Guci, gusi, cuci.
Kata-kata itu sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Namun, bagi
Mulan, ada satu kata yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Gugi.
Sebuah nama yang diam-diam menetap di sudut hatinya. Mencari kabar
tentang Gugi bukanlah perkara mudah. Hampir semua media sosial pernah Mulan
jelajahi. Dari kegiatan “stalking” itulah ia mengetahui satu hal yang diam-diam
membuatnya tersenyum.
Gugi belum memiliki pacar. Tentu, itu saja belum cukup. Tanpa disadari,
Mulan berubah menjadi seorang mata-mata amatir. Pagi atau sore, ia sengaja
berolahraga melewati rumah Gugi. Sepulang sekolah pun, ia rela turun dari
angkutan umum di depan kompleks, lalu berjalan kaki cukup jauh hanya agar bisa
melintasi rumah lelaki itu.
Padahal jalur itu jelas lebih melelahkan. Namun semua rasa lelah selalu
lenyap ketika dari kejauhan ia melihat Gugi sedang bermain basket, mencuci
motor, membantu kedua orang tuanya, atau sekadar mengobrol bersama
teman-temannya.
Mulan tersenyum sendiri. Jatuh cinta memang aneh. Ia sanggup melakukan
hal-hal yang bahkan tak masuk akal. Meminta nomor ponsel Gugi? Ia tidak
seberani itu. Datang ke rumahnya? Mustahil. Mengajak bertemu? Jantungnya
mungkin sudah menyerah lebih dulu. Karena itu, Mulan memilih cara yang
menurutnya paling aman. Mencintai Gugi diam-diam.
Hari itu ia kembali menjalankan “misi” rutinnya. Ia berdiri tidak jauh
dari rumah Gugi sambil berpura-pura melihat-lihat sekitar. Tak lama kemudian,
pintu rumah terbuka. Gugi keluar sambil membawa bola basket, disusul Bagas yang
berjalan santai di belakangnya.
Keluar juga... Refleks Mulan berjongkok di dekat sebuah bak sampah agar tidak
terlihat.
“Hei, Nak. Sedang apa di situ?” Suara seorang nenek membuat Mulan
tersentak.
Ia mendongak dengan senyum canggung. “E-eh... saya tadi menjatuhkan
barang.”
“Oh ya? Barang apa? Biar Nenek bantu cari.”
Mulan menelan ludah. “Tidak usah, Nek. Sepertinya sudah ikut terangkut
sampah.”
“Yakin?”
“Iya, Nek. Untung masih ada cadangannya di rumah.”
Ia buru-buru membungkukkan badan. “Maaf, Nek. Saya pergi dulu.”
Tanpa memberi kesempatan sang nenek bertanya lagi, Mulan segera
melangkah cepat. Begitu cukup jauh, ia mengembuskan napas panjang.
Astaga... memalukan sekali. Kalau sampai Gugi tahu aku berjongkok di dekat
bak sampah hanya untuk menghindarinya, pasti dia menganggapku penguntit
sungguhan.
“Mulan?”
Langkahnya langsung terhenti. Ia menoleh. Gugi berdiri beberapa meter di
belakangnya bersama Bagas.
Ya ampun... ketahuan juga.
Gugi menghampiri sambil tersenyum. Tatapannya singgah sejenak pada wajah
Mulan yang masih sedikit pucat.
“Jam segini baru pulang?”
“Iya.”
“Kalau nanti hujan bagaimana? Bisa basah kuyup.”
Mulan mendengus pelan. “Kalau tidak basah, namanya bukan kehujanan.” Ia
menyilangkan tangan. “Kamu ini seperti wartawan. Lebih cerewet daripada ibuku.”
Gugi terkekeh. “Aku cuma khawatir.” Ia mengangkat kedua tangannya. “Belajar
kelompok atau malah bergosip?”
Mulan tertawa kecil. Belum sempat menjawab, Bagas lebih dulu menyela.
“Jangan-jangan habis ketemu pacar.” Ia menyeringai usil. “Lihat
wajahnya. Bahagia banget.”
Mulan buru-buru menggeleng. “Aku masih jomblo.”
“Oh ya?” Bagas semakin semangat menggoda.
“Terus Yuga, Fathir, sama Kak Nikra itu siapa? Bukannya mereka semua
pernah dekat sama Kak Mulan?”
Mulan memelototinya. Anak ini memang hobi bikin hidup orang susah.
“Tukang gosip.” Ia mendecak pelan. “Aku malah dengar kamu sering mengaku
kalau aku pacarmu.”
Bagas langsung membelalak. “Itu fitnah! Lagian, mana buktinya?”
Mulan tersenyum puas. “Nah, makanya.” Ia mengangkat dagu. “Jangan
gampang percaya gosip.”
Gugi ikut tertawa. “Bagas memang paling gampang kemakan omongan anak
tongkrongan.”
Ia melirik adiknya sambil tersenyum jahil. “Atau sebenarnya kamu yang
suka sama Mulan?”
“Wah, bukan aku!” Bagas buru-buru menunjuk Gugi. “Kalian berdua saja
yang saling suka. Tinggal mengaku.”
Senyum Gugi perlahan memudar. Ia melirik Mulan sekilas.
“Kita ini sahabat sejak kecil.” Nada suaranya terdengar ringan. “Mana
mungkin pacaran.”
Lalu ia menoleh kepada Mulan. “Iya, kan?”
Mulan tersenyum tipis. “Iya.”
Hanya satu kata. Namun kata itu terasa seperti garis yang kembali
ditegaskan di antara mereka. Sahabat. Tidak lebih. Tidak kurang.
Untuk sesaat, Mulan berharap Gugi menarik kembali ucapannya. Namun
harapan itu tak pernah datang.
Gugi kembali membuka percakapan. “Nanti sore ada waktu? Aku mau main ke
rumahmu. Sudah lama kita tidak main game.”
Wajah Mulan yang sempat muram kembali berbinar. “Ada.” Ia tersenyum
lebar. “Tapi jangan nangis kalau nanti aku menang.”
Gugi terkekeh. “Kamu belum tahu kemampuan baruku. Siap-siap kalah.”
“Belum tentu.” Mulan mengangkat sebelah alis. “Jangan menyesal kalau
harga dirimu runtuh.”
“Kalian ini...” Bagas menggeleng sambil tertawa. “Benar-benar seperti
anak kecil.”
“Justru itu serunya.” Jawaban mereka keluar hampir bersamaan.
Mereka saling berpandangan sesaat. Lalu tertawa bersama. Tawa yang
terdengar begitu ringan. Namun tidak dengan hati Mulan.
Sahabat... Apa
memang hanya itu tempatku di hatimu? Kalau memang begitu... mengapa aku
masih terus berharap?
Ia menunduk pelan. Ya Allah... Jika dia memang bukan takdirku,
tolong kuatkan hatiku untuk menerima. Namun jika Engkau masih menuliskan namaku
di dalam takdirnya... izinkan aku bersabar hingga waktu itu tiba.
***
Mulan masih meringkuk di atas tempat tidur ketika dering ponselnya
memecah keheningan pagi. Nama Gugi terpampang di layar. Dalam sekejap,
rasa kantuknya lenyap.
“Halo?”
“Mulan, apa kita bisa bertemu?” suara Gugi terdengar dari seberang.
Mulan mengucek matanya. “Ada apa?”
“Aku ada perlu. Nanti saja kita jelaskan waktu bertemu. Kamu ada acara?”
“Tidak.”
“Aku tunggu di pos satpam Blok B jam sepuluh.”
“Baik.”
Panggilan pun berakhir. Beberapa detik kemudian, Mulan langsung bangkit
dari tempat tidur.
“Astaga...” Ia meraih handuk, berlari ke kamar mandi, lalu membongkar
isi lemari. Satu demi satu pakaian dikeluarkan. Dicoba. Dilepas lagi. Diganti
lagi.
Setelah itu ia berdiri cukup lama di depan cermin, merapikan rambut,
membubuhkan riasan tipis, lalu kembali mengamatinya dari berbagai sudut.
Padahal... Janji bertemu masih tiga jam lagi.
“Tenang, Mulan... cuma ketemu Gugi.” Ia tersenyum geli pada dirinya sendiri. “Kenapa
rasanya seperti mau dilamar?”
Meski begitu, ia tetap berangkat satu jam lebih awal. Lebih baik
menunggu daripada membuat Gugi menunggu. Tak lama kemudian, sebuah motor
berhenti di hadapannya.
Senyum Mulan langsung mengembang. Namun senyum itu perlahan memudar
ketika seorang lelaki lain ikut turun dari motor. “Bukan... sendiri?”
“Terima kasih sudah datang.” Gugi menghampirinya. “Maaf mengganggu waktu
istirahatmu.”
“Tidak apa-apa.” Mulan berusaha tetap tersenyum. “Memangnya ada apa?”
“Oh iya.” Gugi menoleh ke belakang. “Kenalkan, ini Albi. Sahabatku.”
Albi mengangguk ramah. Mulan membalasnya dengan senyum sopan. Sementara
itu, isi kepalanya mulai dipenuhi berbagai dugaan.
Lho... ini bukan pertemuan berdua? Aku sampai menghabiskan hampir satu jam memilih
baju... ternyata malah datang bertiga.
“Mulan, kamu ingat pernah bertemu Albi?”
Mulan menggeleng.
“Albi dulu sekolah di SMA Bakti. Beberapa tahun lalu tim basket
sekolahnya pernah bertanding di sekolahmu. Katanya kamu salah satu panitianya.”
Mulan mencoba mengingat. Tetap saja tidak ada bayangan yang muncul.
Gugi tersenyum kecil. “Makanya hari ini aku ingin mengenalkan kalian.”
Jantung Mulan berdetak semakin cepat. Jangan-jangan... Apa
ini...? Harapan kecil yang sejak tadi bersembunyi di sudut hatinya perlahan
tumbuh. Namun...
“Aku ke sini untuk membantu Albi.” Gugi menepuk bahu sahabatnya. “Dia
ingin menyampaikan sesuatu.”
Harapan itu runtuh seketika.
Albi menggaruk tengkuknya dengan gugup. “Maaf kalau mendadak.” Ia
menarik napas pelan. “Pertama kali melihatmu waktu pertandingan basket itu...
aku langsung tertarik. Kamu kelihatan ramah. Ceria. Dan mudah membuat orang
nyaman. Sejak itu aku mencari tahu tentangmu. Sampai akhirnya aku tahu kalau
ternyata kamu tinggal satu kompleks dengan Gugi.”
Tatapan Albi begitu tulus. “Aku menyukaimu.”
Mulan membeku.
“Aku berharap kamu mau memberiku kesempatan mengenalmu lebih dekat.”
Hening. Beberapa detik berlalu sebelum Mulan akhirnya mampu bersuara.
“Maaf...” Ia tersenyum pelan. “Rasanya ini benar-benar pertama kali kita
mengobrol. Bagaimana kalau kita mulai sebagai teman dulu?”
Albi mengangguk. Sorot matanya sedikit kecewa, tetapi senyumnya tetap
hangat. “Aku mengerti. Hubungan yang baik memang dimulai dari saling mengenal.”
“Nah...” Gugi ikut tersenyum. “Aku yakin kalian bakal cocok.”
Kalimat sederhana itu justru terasa paling menyakitkan. Seolah-olah Gugi
sedang mendorongnya menuju kebahagiaan... yang bukan bersamanya.
“Yakin tidak kecewa?” Gugi menggoda Albi. “Kupikir hari ini kamu langsung
punya pacar.”
Albi tertawa kecil. “Perasaan tidak bisa dipaksa. Aku cuma berharap
suatu hari nanti Mulan bisa melihatku seperti aku melihatnya. Apa aku masih
punya kesempatan?”
Mulan mengangguk pelan. “Tentu. Kita berteman dulu.”
“Terima kasih.”
Gugi menepuk bahu Albi. “Tenang. Aku dukung kalian.”
Mulan hanya menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak.
Jadi... memang bukan aku yang ada di hatimu. Orang yang paling berusaha membuatku bahagia
justru sedang menyerahkanku kepada orang lain.
Tak lama kemudian, Gugi mengajak Mulan menjauh beberapa langkah.
“Wajahmu lucu sekali hari ini.” Ia tertawa kecil. “Boleh tahu sedang
mikirin apa?”
Mulan mendengus. “Dasar. Tiba-tiba saja kamu menjodohkanku.” Sebagai
balasan, ia mencubit lengan Gugi.
“Aduh.” Gugi meringis. “Sakit.”
“Biar tahu rasa.”
“Memangnya aku salah? Kalian sama-sama sendiri.”
“Itu bukan urusanmu.” Mulan berbalik hendak pergi. Namun baru beberapa
langkah... Pergelangan tangannya tertahan. Ia menoleh.
Gugi menggenggam tangannya. “Gadis keras kepala.” Nada suaranya begitu
lembut. “Jangan pergi dulu. Kasihan Albi.”
Tatapan Mulan jatuh pada tangan mereka yang masih saling bersentuhan. Jantungnya
kembali berdebar. Kenapa selalu begini...?
“Kalau memang ingin aku tetap di sini...” Mulan menatap Gugi. “...kamu
saja yang pergi.”
Gugi terdiam. Lalu mengembuskan napas pelan. “Syukurlah.”
“Syukurlah?”
“Setidaknya...” Ia tersenyum tipis. “Kamu menyuruhku pergi. Bukan
memilih kabur lebih dulu.”
Amarah Mulan perlahan luluh. “Aku tadi cuma kesal. Jangan dimasukkan ke
hati.”
“Tenang.” Gugi melepaskan genggaman tangannya. “Aku memang mau pergi.
Membiarkan kamu dan Albi punya waktu saling mengenal.”
Sentuhan itu berakhir. Namun kehangatannya masih tertinggal. Mulan hanya
mampu memandangi punggung Gugi yang semakin menjauh.
“Kenapa kamu selalu penuh kejutan? Dan kenapa kamu
begitu ingin mendekatkanku dengan orang lain?”
Tiba-tiba Gugi berhenti melangkah. Tanpa menoleh, ia berkata pelan, “Aku
cuma ingin kamu bahagia.”
Mulan tersenyum hambar. “Itu saja? Menurutmu... aku benar-benar bahagia?”
Kali ini Gugi menoleh. Tatapan mereka bertemu. “Jangan terus melihat ke
belakang.” Suaranya tenang. “Kenangan memang indah. Tapi kalau yang tersisa
hanya penyesalan.. Sudah saatnya kamu melangkah.”
Mulan masih terdiam.
“Temui Albi. Dia laki-laki yang baik. Jangan sampai kamu baru menyadari
nilainya setelah dia memilih pergi.”
Mulan menggigit bibirnya. “Lalu... aku harus bagaimana?”
Gugi tersenyum kecil. Ia mengangkat tangan. Lalu mengusap pelan kepala
Mulan.
“Jaga dia baik-baik.” Setelah itu ia benar-benar pergi.
Mulan hanya mampu memandangi punggungnya hingga menghilang dari
pandangan. Ada sesuatu yang terasa ikut pergi bersamanya.
Tak lama kemudian Albi kembali mengajaknya berbincang. Mulan menjawab
seperlunya. Sementara matanya, tanpa sadar, masih terus menatap ke arah jalan
yang baru saja dilalui Gugi. Jauh di dalam hatinya, ia masih berharap lelaki
itu berbalik... lalu berkata bahwa semua yang terjadi hari ini hanyalah sebuah
kesalahpahaman.
***
Sejak pertemuan minggu lalu, Mulan sengaja tidak menghubungi Gugi. Ia
berusaha menghargai perasaan Albi. Bukankah itu juga yang diinginkan Gugi?
Siang itu, Mulan dan Albi duduk berdampingan di sebuah kafe. Laptop terbuka
di hadapan mereka, sementara buku-buku berserakan di atas meja.
Suasana tenang. Hanya terdengar suara jemari yang sesekali mengetik. Tiba-tiba
nada dering ponsel Mulan memecah keheningan.
“Saengil chukha hamnida...” Refleks Mulan meraih ponselnya. Senyum kecil
langsung menghiasi wajahnya.
Albi menghentikan pekerjaannya. “Ada jadwal penting?”
“Tentu.” Jawaban Mulan terdengar penuh semangat. “Besok ulang tahun
Gugi.”
Albi terdiam.
“Besok dia genap tujuh belas tahun.” Mata Mulan berbinar. “Bagaimana
kalau kita kasih kejutan? Enggak usah besar. Yang penting dia senang.”
Albi masih belum menjawab. “Mulan...”
“Iya?”
“Apa Gugi belum bilang apa-apa?”
Senyum Mulan perlahan memudar. “Bilang apa?”
Albi menarik napas panjang. “Kemarin sore... keluarganya pindah.”
Wajah Mulan langsung kehilangan warna. “...Apa?”
“Rumahnya sudah kosong.”
Sore harinya Mulan berdiri di depan rumah itu. Pagar masih tertutup
rapat. Halaman yang biasanya dipenuhi suara bola basket kini benar-benar sunyi.
Tak ada motor yang sedang dicuci. Tak ada tawa. Tak ada sosok yang selalu
membuat jantungnya berdebar. Hanya rumah kosong. Dan kenangan yang tertinggal
di dalamnya.
Albi berdiri beberapa langkah di belakang. Ia tidak mengatakan apa pun. Ada
kesedihan yang memang tak membutuhkan nasihat. Hanya membutuhkan waktu.
Air mata Mulan jatuh perlahan. “Ya Allah... Jadi... ini akhirnya?
Aku bahkan belum sempat mengucapkan sampai jumpa lagi. Kalau Engkau
masih mengizinkan... pertemukan aku dengannya sekali lagi.
Sekali saja. Aku
ingin melihat senyumnya. Aku ingin mendengar tawanya. Lalu
mengucapkan semua yang selama ini tak pernah berani kusampaikan.
Mulan mengusap air matanya. Namun tangis itu tak juga berhenti. Sudah
berkali-kali ia mencoba menghubungi Gugi. Nomor teleponnya tidak lagi aktif. Semua
akun media sosialnya menghilang. Seolah Gugi sengaja menghapus setiap jejak
yang bisa membawanya kembali.
“Percuma, Mulan.” Suara Albi terdengar pelan. “Seberapa keras pun kamu
mencarinya, dia memang tidak ingin ditemukan.”
Mulan menggigit bibir. “Kalau saja dia berpamitan...” Suaranya bergetar.
“Mungkin aku tidak akan sesesak ini.”
Air matanya kembali jatuh. “Aku ingin berhenti memikirkannya.” Ia
tersenyum pahit. “Tapi pikiranku selalu kembali ke dia. Mungkin memang sudah
waktunya aku belajar melupakan.”
Albi menggeleng perlahan. “Jangan membohongi hatimu.”
Mulan menoleh. Tatapan Albi tampak sendu. “Gugi tidak pernah berhenti
mencintai cinta pertamanya.”
Jantung Mulan seakan berhenti berdetak. “...Apa?”
“Kalimat 'Aku menyukaimu' yang dulu sering dia ucapkan, bukan
candaan. Dia sungguh-sungguh.”
Air mata Mulan kembali mengalir.
“Setiap kali pulang ke kota ini. Aku sering menemani Gugi melewati
rumahmu. Kadang dia hanya berdiri dari kejauhan. Kadang dia sengaja mencari
alasan agar bisa melihatmu.” Albi tersenyum kecil. “Lucu kalau diingat
sekarang. Tapi dia benar-benar melakukan itu.”
Mulan menutup mulutnya. Dadanya terasa sesak.
“Suatu hari, Gugi bilang dia ingin berhenti mengejarmu.”
Mata Mulan perlahan terpejam.
“Tapi dia memberi syarat pada dirinya sendiri.”
“Syarat?”
“Dia baru benar-benar akan melepaskanmu kalau yakin kamu bisa bahagia.”
Tangis Mulan pecah.
“Kurasa...” Albi menundukkan kepala. “Itulah alasan dia tidak
berpamitan. Kalau bertemu denganmu sekali lagi, mungkin dia tidak akan sanggup
pergi.”
Suasana kembali sunyi. Hanya suara angin yang berembus pelan di antara
pepohonan.
“Maaf.” Suara Albi hampir tak terdengar. “Aku seharusnya menceritakan semua
ini sejak dulu.”
Mulan menggeleng. Air matanya terus mengalir. Namun kali ini, bukan
semata-mata karena kehilangan. Melainkan karena, untuk pertama kalinya, ia
mengetahui satu kenyataan yang selama ini tak pernah berani ia impikan.
Cintanya... Ternyata tidak pernah bertepuk sebelah tangan.
Cintaku ternyata terbalas.
Ironisnya, aku baru mengetahuinya ketika semuanya telah berubah menjadi
kenangan. Apakah itu menyakitkan? Sangat. Apakah aku menyesal? Tidak. Karena
kini aku tahu, selama ini aku tidak pernah mencintai sendirian.
Gugi... Nama yang begitu sederhana, tetapi mampu meninggalkan jejak
paling dalam di hidupku. Setiap kali aku melewati jalan menuju rumahmu,
langkahku selalu melambat. Mataku tanpa sadar mencari-cari sosok yang pernah
begitu akrab di sana. Aku masih berharap pintu itu terbuka, lalu kamu keluar
dengan senyum yang selama ini kurindukan.
Namun, rumah itu tetap sunyi. Tak ada lagi suara bola basket yang
memantul di halaman. Tak ada lagi sapaan yang membuat jantungku lupa cara berdetak
dengan tenang.
Yang tersisa hanyalah kenangan. Kini aku mengerti, tidak semua perasaan
ditakdirkan untuk memiliki. Ada cinta yang tumbuh hanya agar seseorang belajar
menghargai waktu. Ada rindu yang sengaja ditinggalkan agar kita memahami arti
kehilangan.
Mungkin benar... Sebagian orang hadir bukan untuk tinggal selamanya. Mereka
datang membawa kebahagiaan, mengajarkan arti ketulusan, lalu pergi meninggalkan
kenangan yang tak pernah benar-benar usang.
Dan kamu... Akan selalu menjadi bagian dari doa yang diam-diam
kuselipkan setiap kali langit malam kupandangi.
Semoga di mana pun kamu berada, Tuhan selalu menjagamu. Terima kasih
telah menjadi cinta pertama yang mengajarkanku bahwa mencintai dengan tulus
tidak pernah sia-sia, meski akhirnya kita tidak berjalan di jalan yang sama.
Sebab ada pertemuan yang memang tidak ditakdirkan untuk berakhir dengan
kebersamaan. Ada pula perpisahan yang justru menjadi cara Tuhan menjaga dua
hati agar tetap saling mendoakan dari kejauhan.
Sampai bertemu lagi, Gugi. Jika suatu hari nanti takdir mempertemukan
kita kembali, semoga saat itu kita sudah menjadi dua orang yang mampu tersenyum
tanpa penyesalan.
Dan jika takdir memilih sebaliknya... Izinkan namamu tetap tinggal
sebagai halaman terindah dalam buku kehidupanku—halaman yang tak akan pernah
kututup, tetapi juga tak akan lagi kubuka dengan air mata.
***
Gugi... Setelah kamu pergi, hidupku kembali mengujiku dengan cara yang
tak pernah kubayangkan. Aku kehilangan jejakmu. Lalu, aku kehilangan seseorang
yang selama ini kuanggap sebagai saudara. Fahira. Kalau saja kamu mendengarnya,
mungkin kamu pun akan sulit mempercayainya.
Beberapa minggu setelah kepergianmu, aku seperti orang yang kehilangan
arah. Setiap pulang sekolah, langkah kakiku selalu berakhir di depan rumahmu
yang kini kosong. Aku masih berharap ada keajaiban kecil. Mungkin suatu hari
mobil keluargamu berhenti di halaman. Mungkin pintu rumah itu kembali terbuka.
Mungkin kamu pulang tanpa memberi tahu siapa pun.
Harapan itu memang terdengar konyol. Namun, bukankah seseorang yang
sedang merindukan akan percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal?
Aku mencari namamu di setiap media sosial. Aku mencoba menghubungi nomor
lamamu berkali-kali. Aku bahkan bertanya kepada beberapa teman yang mungkin
pernah bertemu denganmu.
Hasilnya tetap sama. Tidak ada. Seolah-olah kamu benar-benar menghapus
seluruh jejakmu dari hidupku. Di saat aku mulai kelelahan mencari, Fahira
datang dengan wajah penuh semangat.
“Mulan!” Ia berlari kecil menghampiriku sambil melambaikan ponselnya. “Aku
berhasil mendapatkan nomor kontak Gugi.”
Jantungku seakan berhenti berdetak. “Apa?”
“Iya. Akhirnya dapat juga.”
Tanpa sadar aku langsung memeluknya berkali-kali. “Serius, Fah?”
“Iya. Aku mana mungkin bohong.”
Air mataku hampir jatuh karena bahagia. Untuk pertama kalinya sejak
kepergianmu, aku merasa Tuhan kembali memberiku secercah harapan.
“Terima kasih...” Aku memegang kedua tangannya erat. “Terima kasih
banyak.”
Fahira hanya tersenyum. “Aku tahu kamu pasti senang.”
Saat itu, aku benar-benar percaya bahwa sahabatku sedang membantuku. Aku
tidak pernah sedikit pun mencurigainya.
Malam itu juga aku memberanikan diri mengirim pesan.
“Halo... ini benar Gugi?”
Aku menunggu dengan jantung berdebar. Lima menit. Sepuluh menit. Hampir
saja aku menyerah ketika layar ponselku akhirnya menyala.
“Iya.” Hanya satu
kata.
Namun, cukup membuatku tersenyum sepanjang malam. Aku mulai mengirim
pesan lagi. Awalnya canggung. Kami saling bertanya kabar. Membicarakan sekolah.
Mengingat masa kecil.
Sesekali aku mengirim cerita-cerita sederhana tentang kehidupanku. Anehnya,
balasan darimu terasa berbeda. Lebih singkat. Lebih dingin. Aku sempat mengira
mungkin kamu memang sudah berubah. Atau mungkin... jarak telah mengubah cara
kita berbicara.
Aku memilih mengabaikan perasaan aneh itu. Yang terpenting bagiku saat
itu hanyalah satu. Aku percaya sedang berbicara denganmu.
Hari demi hari berganti menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan. Selama
sebulan penuh, aku hidup dengan keyakinan bahwa setiap pesan yang kuketik
sedang dibaca oleh orang yang selama ini kurindukan.
Aku bercerita tentang sekolah. Tentang guru yang lucu. Tentang
teman-teman sekelas. Tentang Albi yang mulai mendekatiku. Tentang rasa rinduku
yang ternyata belum juga berkurang.
Bahkan... Aku pernah menulis panjang lebar tentangmu. “Aku tidak tahu
kenapa sampai sekarang masih sulit melupakanmu. Mungkin aku memang terlambat
menyadari semuanya.”
Pesan itu dibalas singkat. “Sudahlah.” Saat itu aku menganggap
kamu sedang berusaha membuatku move on. Aku tidak marah. Justru semakin kagum. Kupikir
kamu benar-benar ingin melihatku bahagia.
Betapa bodohnya aku.
Hingga
suatu malam sebuah pesan kembali masuk.
“Aku akan pulang.”
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang.
“Besok kita bertemu di sekolah.”
Tanganku gemetar. Air mataku menetes begitu saja. Akhirnya... Setelah
sekian lama... Aku akan bertemu lagi denganmu.
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Aku membuka lemari berkali-kali
hanya untuk memilih pakaian yang paling pantas. Aku membayangkan apa yang akan
kukatakan saat bertemu. Haruskah aku memarahimu karena pergi tanpa pamit? Atau
langsung memelukmu? Atau cukup berkata, “Aku kangen.”
Entahlah. Yang jelas, aku ingin melihatmu lagi. Itu saja sudah lebih
dari cukup.
Keesokan harinya aku datang jauh lebih awal ke sekolah. Udara pagi masih
dingin. Halaman sekolah masih lengang. Fahira datang menemaniku.
“Kamu yakin dia datang?”
“Iya.” Aku tersenyum lebar.
“Dia sendiri yang bilang.”
Kami menunggu. Satu jam. Bel berbunyi. Murid-murid mulai berdatangan. Aku
tetap berdiri di depan gerbang. Dua jam. Jam pelajaran pertama hampir dimulai. Aku
masih menunggu. Setiap motor yang masuk membuatku menoleh penuh harapan. Setiap
lelaki yang memakai jaket hitam selalu berhasil membuat jantungku berdebar. Namun,
setiap kali wajah mereka terlihat... Bukan kamu.
“Apa mungkin dia terlambat?” tanyaku pelan.
Fahira hanya tersenyum kecil. “Pasti datang.”
Aku kembali percaya. Lalu... Seseorang berjalan mendekat. Langkahnya
perlahan. Semakin dekat. Semakin jelas. Jantungku berdetak begitu keras.
Aku tersenyum. “Gugi...”
Namun... Senyum itu membeku. Orang yang berdiri di hadapanku sama sekali
bukan dirimu. Melainkan... Fikri. Mantan yang pernah melukaiku.
Aku menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.
“Selamat pagi.” Ia tersenyum canggung. “Akhirnya kita ketemu lagi.”
Dadaku mendadak sesak. Aku menoleh kepada Fahira. Tatapannya berubah. Tak
ada lagi senyum bangga seperti beberapa minggu lalu. Yang ada hanya rasa
bersalah.
“Apa... ini?” Suaraku bergetar.
Fikri menghela napas panjang. “Maaf.”
Aku kembali menatap Fahira. “Nomor itu...” Air mataku mulai menggenang. “...bukan
nomor Gugi?”
Fahira menundukkan kepala. “Bukan.”
Dunia seolah berhenti berputar. Selama sebulan... Aku tidak pernah berbicara
denganmu. Setiap pesan yang kukirim. Setiap rindu yang kuceritakan. Setiap
harapan yang kusimpan. Setiap doa yang kutuliskan. Tidak pernah sampai
kepadamu. Semuanya... Dibaca oleh orang lain. Aku merasa seperti orang paling
bodoh di dunia.
“Aku cuma ingin kamu melupakan Gugi.” Suara Fahira terdengar lirih. “Karena
itu aku memberikan nomor Fikri.”
Aku menatapnya tak percaya. “Kenapa?”
“Aku pikir... kalau kamu dekat lagi dengan Fikri, kamu bisa melupakan
Gugi.”
Aku tersenyum pahit. “Tapi kamu membohongiku.” Air mataku akhirnya
jatuh. “Kamu tahu siapa yang paling kubutuhkan saat itu. Kamu tahu aku sedang
berusaha mencarinya. Lalu kenapa kamu tega melakukan ini?”
Fahira ikut menangis. “Aku cuma ingin kamu bahagia.”
Aku menggeleng pelan. “Kalau memang ingin aku Bahagia, seharusnya kamu
tidak pernah membohongiku.”
Hari itu... Bukan hanya harapanku yang hancur. Kepercayaanku kepada
sahabat sendiri ikut runtuh.
Sejak saat itu, tak ada lagi sapaan di antara kami. Tak ada lagi cerita
yang dibagi saat jam istirahat. Tak ada lagi tawa yang biasa memenuhi
perjalanan pulang. Kami tetap berada di kelas yang sama. Namun, rasanya seperti
dua orang asing. Pertemanan yang kami bangun selama bertahun-tahun berakhir
dalam satu kebohongan.
Hingga hari kelulusan tiba, kami tidak pernah benar-benar berdamai.
Aku membenci diriku sendiri. Mengapa begitu sulit melepaskan seseorang
yang bahkan sudah lama pergi? Mengapa bayangannya selalu kembali setiap kali
aku mencoba melangkah? Mungkin sekarang Gugi sedang membangun kehidupannya yang
baru. Mungkin ia telah menemukan kebahagiaannya. Mungkin ia sudah tidak pernah
mengingatku lagi.
Kalau memang begitu... Sudah waktunya aku berhenti mengejar bayangannya.
Sudah waktunya aku menerima bahwa tidak semua kehilangan harus dipertemukan
kembali.
Aku tidak bisa terus hidup dengan menunggu seseorang yang bahkan tidak
tahu kalau aku masih berdiri di tempat yang sama.
Kini, aku ingin belajar melangkah. Bukan karena aku berhenti mencintaimu.
Melainkan karena aku ingin menghormati cinta itu dengan cara yang lebih dewasa.
Jika memang kita berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali. Namun
jika tidak... Biarlah namamu tetap tinggal sebagai kenangan yang pernah
membuatku percaya bahwa cinta pertama benar-benar ada.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai
karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa
izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar