Kita dipertemukan tanpa kalimat. Namun,
setiap gerak tubuh penuh isyarat. Tatap matamu seakan berkata, “Perasaanku padamu tiada akhir.”
Senyummu pun seolah berbisik, "Tetaplah simpan aku di hatimu."
Namun, ada satu kenyataan yang tak pernah mampu kuterima: langkahmu semakin
menjauh.
Kamu yang bersemayam di lubuk hatiku justru
mengundang tangis di setiap rindu. Kini, aku hanya bisa memilikimu melalui
jalan yang ditunjukkan oleh Sang Pemilik Hati.
***
Mulan selalu menyukai hari Jumat. Namun,
Jumat kali ini terasa berbeda. Hari yang biasanya dinantikannya itu kini
berubah menjadi hari yang paling menguras perasaan. Langkah kakinya terus
bergerak, tetapi pikirannya tertinggal di tempat lain.
"Apa aku akan terus seperti ini? Ini
bukan lagi kepolosan, melainkan kebodohan. Dua kali sudah Fikri Andria
Kurniawan mempermainkanku. Dan untuk yang kedua ini, tak ada lagi ruang untuk
memaafkan,"
batinnya, menahan sesak yang perlahan memenuhi dada.
Tubuh Mulan membeku di tengah jalan, tepat
ketika sebuah sepeda motor melaju kencang ke arahnya.
Decitan rem memekakkan telinga. Motor itu
oleng saat berusaha menghindarinya, nyaris terperosok ke saluran air.
Beruntung, pengendaranya masih mampu mengendalikan laju kendaraan.
Mulan terpaku. Keringat dingin mengalir di
pelipisnya, sementara kedua kakinya bergetar hebat. Ia bersiap menerima
kemarahan yang sebentar lagi pasti meledak.
“Gadis bodoh. Kamu hampir mencelakakan
seseorang. Jangan lari, pengecut,” batinnya
mencaci diri sendiri.
Dari balik helm full face, sepasang mata menatapnya
tajam. Tatapan itu cukup membuat napas Mulan tercekat. Meski ketakutan, ia
berusaha menegakkan tubuh agar tak terlihat gentar.
Saat pengendara itu melepaskan helmnya,
jantung Mulan seolah berhenti berdetak.
“Ya Tuhan...” pekiknya dalam hati. Kini ia tahu sedang
berhadapan dengan siapa.
Namun, alih-alih memarahinya, lelaki itu
justru menatapnya dengan sorot penuh kekhawatiran.
“Apa kamu terluka?”
“Aku malah khawatir padamu. Apa kamu
baik-baik saja?”
Astaga... apa yang barusan kukatakan?
Berlebihan, ya? Haruskah aku menarik ucapanku?
Kecanggungan langsung menyergap Mulan.
Sudah lama mereka tidak saling berkomunikasi. Sejak lulus SMA, Gugi melanjutkan
sekolah ke luar kota. Sebagian besar keluarganya tinggal di sana. Hanya ayah,
ibu, dan adiknya yang masih menetap di kota ini, sehingga setiap libur semester
atau hari raya ia selalu pulang.
“Aku baik-baik saja.” Gugi mengulas senyum
tipis. “Tapi, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan sampai berdiri di tengah
jalan?”
Mulan menelan ludah. “Tadi... aku sedang
menghafal dialog untuk pentas. Aku sadar sudah melakukan kesalahan. Maaf karena
hampir membahayakanmu.”
Refleks, Mulan membungkukkan badan.
Kenapa aku malah membungkuk? Pengaruh
kebanyakan nonton drama Korea, sih.
Rasa malu membuatnya enggan mengangkat
kepala. Ia bahkan tak berani menatap wajah Gugi. Melihat tingkahnya, Gugi
justru terkekeh pelan.
Mulan semakin salah tingkah. Ia tidak siap
jika Gugi mengetahui alasan sebenarnya. Bagaimana jika lelaki itu tahu ia
sampai kehilangan fokus karena terus memikirkan ulah mantannya? Bisa-bisa ia
menjadi bahan ejekan seumur hidup. Membayangkannya saja sudah cukup membuat
harga dirinya terasa remuk.
“Jangan diulangi lagi, ya. Tadi aku
benar-benar hampir menabrakmu.” Gugi menghela napas pelan. “Kamu masih muda.
Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu sampai berdiri melamun di tengah
jalan. Nanti cepat tua.”
Mulan hanya menunduk. Bibirnya bergerak
pelan, tetapi tak ada satu pun kata yang berhasil keluar.
Gugi tersenyum jahil. “Atau...
jangan-jangan kamu memang sengaja berdiri di sana buat nunggu aku?”
Mulan sontak mengangkat kepala. “Apa?”
“Soalnya pas aku lewat, kamu langsung
muncul. Kalau ternyata kita tidak ketemu hari ini, pasti kamu kecewa, ya?”
Wajah Mulan seketika memerah. “Bukan
begitu.” Ia buru-buru menggeleng. “Aku memang sering lewat jalan ini. Cuma...
hari ini aku lagi ceroboh. Lain kali pasti lebih hati-hati.”
“Baiklah.” Gugi mengangguk pelan, seolah menerima
alasan itu. “Kalau begitu, berikan nomor ponselmu.”
Mulan mengerutkan dahi. “Untuk apa?”
“Jaga-jaga.”
“Jaga-jaga apa?”
Gugi menunjuk lututnya sambil meringis
dibuat-buat. “Siapa tahu nanti efek tabrakannya baru terasa. Kalau tiba-tiba
kakiku sakit, kan aku tahu harus menghubungi siapa.”
Raut wajah Mulan langsung berubah panik. “Benarkah?
Kalau begitu kita ke puskesmas sekarang saja. Jangan ditunda.”
Gugi tak kuasa menahan tawa. “Tenang, aku
cuma bercanda.” Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Sebenarnya aku
cuma ingin menyimpan nomor ponselmu. Sudah lama kita tidak saling menghubungi.”
Mulan mengembuskan napas lega. Rasa malu
kembali memenuhi wajahnya. “Nomorku 08xxxxxxxxxx.”
Gugi segera mengetiknya. “Kalau begitu,
sekarang aku sudah punya alasan untuk menghubungimu.”
Jantung Mulan kembali berdebar. Ia hanya
mampu mengangguk pelan, berharap Gugi tidak menyadari seberapa keras detak
jantungnya saat itu.
“Terima kasih, Mulan. Jangan bengong lagi,
ya. Aku pergi dulu.”
Gugi melambaikan tangan sebelum menyalakan
mesin motornya. Mulan hanya berdiri mematung, menatap punggung lelaki itu
hingga perlahan menghilang di ujung jalan.
Ya Tuhan... hari ini aku benar-benar
beruntung bisa bertemu lagi dengannya. Kalau saja
tidak ada siapa pun di sini, mungkin aku sudah melompat kegirangan, berteriak,
"Dia milikku!" lalu memeluknya seerat yang kubisa.
Mulan mengembuskan napas pelan.
Tapi ini bukan panggung drama. Dan aku
bukan pemeran utama dalam kisah yang selalu berakhir bahagia. Apakah
pertemuan ini akan mengakrabkan kita kembali? Masih adakah kesempatan untuk
mengulang semua yang pernah terlewat? Seandainya dulu aku menjawab
perasaanmu... apakah kita akan berjalan berdampingan sampai hari ini?
Gugi adalah sahabat Mulan sejak kecil.
Aku menyukaimu.
Kalimat itu berkali-kali diucapkan Gugi
ketika mereka masih sering bermain bersama. Saat itu, Mulan tak pernah merasa
perlu menjawab. Baginya, ucapan itu hanyalah gurauan anak-anak yang akan menghilang
seiring bertambahnya usia.
Namun, kenyataan berkata lain. Semakin
dewasa, setiap kali melihat Gugi, kalimat sederhana itu justru terdengar
semakin jelas di dalam ingatannya. Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan.
Waktu telah mengubah banyak hal. Mereka masih saling mengenal, tetapi tak lagi sedekat dahulu. Kesibukan, jarak, dan kehidupan masing-masing perlahan memisahkan dua sahabat yang dulu nyaris tak pernah terpisah. Dan Mulan hanya bisa bertanya dalam diam, apakah perasaannya datang terlambat?
***
Guci, gusi, cuci—kata-kata itu sering
terdengar dalam percakapan sehari-hari. Namun, bagi Mulan, ada satu kata yang
selalu mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat:
Gugi.
Sebuah nama yang melekat begitu kuat dalam
ingatannya.
Perjuangan Mulan untuk mendapatkan
informasi tentang Gugi tidak pernah mudah. Hampir semua media sosial pernah ia
jelajahi. Berkat kegiatan stalking
itulah, ia mengetahui satu kabar yang membuatnya tersenyum diam-diam.
Gugi tidak punya pacar. Tentu saja, itu
belum cukup. Mulan diam-diam berubah menjadi mata-mata amatir.
Pagi atau sore, ia sengaja berolahraga
dengan melewati rumah Gugi. Saat pulang sekolah pun, ia rela turun dari
angkutan umum di depan kompleks, lalu berjalan kaki cukup jauh hanya agar bisa
melewati rumah lelaki itu.
Padahal, rute itu jelas lebih melelahkan. Namun,
rasa lelah selalu lenyap begitu melihat Gugi sedang bermain basket di halaman,
mencuci motor, membantu orang tuanya, atau sekadar mengobrol bersama
teman-temannya.
Mulan tersenyum sendiri.
Kalau dipikir-pikir, jatuh cinta memang
bisa membuat seseorang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Kamu
pernah jatuh cinta, kan? Apa yang biasanya kamu lakukan demi mendapatkan
perhatian orang yang kamu suka? Meminta nomor ponselnya? Aku tidak seberani
itu. Datang ke rumahnya? Mustahil. Mengajaknya bertemu? Jantungku pasti sudah
menyerah lebih dulu. Menyewa mak comblang? Terlalu merepotkan.
Masih banyak cara untuk mendekati
seseorang. Tapi aku justru memilih cara yang paling aman: mencintainya
diam-diam.
Dari kejauhan, Gugi adalah sasaran bidik
yang tak pernah meleset dari pandanganku. Apa pun yang dia lakukan selalu
terlihat istimewa. Dan, entah mengapa, di mataku dia selalu tampak sempurna.
Hari ini Mulan kembali beraksi.
Seperti biasa, ia berdiri tidak jauh dari
rumah Gugi. Setelah menunggu hampir satu menit, pintu rumah itu akhirnya
terbuka. Gugi keluar sambil membawa bola basket, disusul Bagas, adiknya.
Ya! Keluar juga...
Mulan buru-buru berjongkok di dekat bak
sampah agar keberadaannya tidak terlihat.
“Hei, Nak. Sedang apa di situ?” Suara
seorang nenek membuat Mulan tersentak. Ia mendongak dengan senyum yang
dipaksakan.
“E-eh... ini, Nek. Tadi barang saya jatuh
di sekitar sini.”
“Oh ya? Barang apa? Biar Nenek bantu cari.”
Mulan menelan ludah. Kepalanya langsung
dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. “Ti-tidak usah, Nek.” Ia menggeleng cepat.
“Mungkin... mungkin sudah ikut terangkut sampah.”
“Yakin tidak apa-apa?”
“Iya, Nek. Untungnya saya masih punya
cadangan di rumah.” Mulan tersenyum canggung, lalu membungkukkan badan sekilas.
“Maaf, Nek. Saya harus pergi dulu.”
Tanpa memberi kesempatan sang nenek
bertanya lagi, Mulan segera melangkah cepat meninggalkan tempat itu.
Begitu jaraknya cukup jauh, ia mengembuskan
napas panjang. Astaga...
memalukan sekali.
Apa aku kelihatan mencurigakan? Semoga
tidak ada warga kompleks yang memperhatikanku berjongkok di dekat bak sampah.
Lebih parah lagi kalau sampai kabar ini terdengar oleh Gugi.
Mulan memejamkan mata sesaat. Kalau dia tahu, jangan-jangan dia malah
mengira aku penguntit sungguhan.
“Mulan? Kamu melamun lagi?”
Langkah Mulan terhenti. Ia menoleh dan
mendapati Gugi berdiri beberapa meter di belakangnya bersama Bagas.
“Gugi?”
Tadi ia sengaja mempercepat langkah agar
tidak terlihat. Namun, usahanya sia-sia.
Gugi berjalan mendekat. Tatapannya singgah
sejenak pada wajah Mulan yang masih tampak sedikit pucat, lalu turun ke rambut
panjangnya yang tergerai rapi dengan sebuah jepit kecil di atas telinga.
“Jam segini baru pulang?” tanyanya. “Bagaimana
kalau nanti hujan? Kamu bisa basah kuyup.”
Mulan mendengus pelan. “Kalau tidak basah,
namanya bukan kehujanan.” Ia menyilangkan tangan di dada. “Kamu ini seperti
wartawan, lebih cerewet daripada ibuku. Aku baru pulang belajar kelompok di kos
teman. Memangnya kenapa?”
Gugi terkekeh. “Dasar jutek. Aku cuma
khawatir sedikit.” Ia mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Belajar kelompok
atau malah bergosip?”
Mulan memamerkan deretan giginya sambil
tertawa kecil. Sebelum sempat menjawab, Bagas menyela.
“Ah, jangan-jangan habis ketemu pacar.
Lihat saja wajahnya, bahagia banget. Persis orang yang baru selesai kencan.”
Suasana mendadak hening.
Mulan buru-buru tertawa, berusaha
mencairkan keadaan. “Bagas, aku masih jomblo. Jadi enggak mungkin telat pulang
karena pacaran.”
“Oh ya?” Bagas menyeringai usil. “Terus
Yuga, Fathir, sama Kak Nikra itu siapa? Bukannya mereka semua gebetanmu?
Jangan-jangan sebenarnya ada pacar yang kamu sembunyikan.”
Mulan memelototinya.
Anak ini memang hobi bikin hidupku susah. Usianya
memang dua tahun lebih muda dariku, tapi kelakuannya seperti kakak yang sedang
menginterogasi adiknya. Kalau
saja dia bukan adik Gugi, kepalanya sudah kujitak dari tadi.
“Tukang gosip.” Mulan menyilangkan tangan. “Aku
malah dengar kamu sering mengaku kalau aku ini pacarmu. Benar, ya?”
Bagas langsung menggeleng cepat. “Itu
fitnah! Aku tidak mungkin suka sama perempuan yang tidak peka.” Ia mendengus
pelan. “Lagian, kalau memang aku pernah bilang begitu, mana buktinya?”
Gugi dan Mulan sama-sama tertawa melihat
wajah Bagas yang mulai panik.
“Harusnya kamu juga jangan gampang percaya
gosip.” Mulan mengangkat dagunya penuh kemenangan. “Sebelum menyimpulkan
sesuatu, tanya dulu sama orangnya.”
“Nah, itu benar.” Gugi mengangguk. “Bagas
memang paling gampang kemakan gosip anak tongkrongan.”
Ia menoleh ke arah adiknya sambil tersenyum
jahil. “Atau jangan-jangan kamu kesal karena sebenarnya kamu yang suka sama
Mulan?”
“Wah, bukan aku!” Bagas buru-buru menunjuk
kakaknya. “Kalian berdua saja yang saling suka. Tinggal ngaku, apa susahnya?”
Senyum Gugi perlahan memudar. Ia melirik
Mulan sekilas sebelum terkekeh pelan.
“Kita ini sahabat sejak kecil.” Nada
suaranya terdengar ringan. “Mana mungkin pacaran.”
Ia menoleh kepada Mulan. “Iya, kan?”
Mulan memaksakan seulas senyum. “Iya.”
Hanya satu kata. Namun, rasanya cukup untuk
menahan semua harapan yang hampir lolos dari bibirnya.
Gugi kembali membuka percakapan. “Apa,
nanti sore kamu ada waktu? Aku mau main ke rumahmu. Sudah lama kita tidak main
game.”
Wajah Mulan yang sempat muram kembali
berbinar. “Ada. Kabari saja kalau sudah berangkat.” Ia tersenyum penuh percaya
diri. “Tapi jangan nangis kalau nanti aku yang menang.”
Gugi tertawa kecil. “Kamu belum tahu
kemampuan baruku. Siap-siap kalah.”
“Belum tentu.” Mulan mengangkat sebelah
alis. “Jangan menyesal kalau harga dirimu runtuh.”
“Kalian ini...” Bagas menggeleng sambil
terkekeh. “Benar-benar seperti anak kecil.”
“Justru itu serunya,” jawab Gugi dan Mulan
hampir bersamaan. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu tertawa.
Tawa yang terdengar ringan. Namun, tidak
dengan hati Mulan.
Sahabat...
Apa tidak ada kata lain selain itu? Jadi,
selama ini aku hanya akan menjadi sahabat di matamu? Kalau memang begitu,
mengapa aku masih terus berharap? Bukankah lebih mudah jika aku berhenti
menyukaimu?
Ya Tuhan... apakah suatu hari nanti aku
akan menjadi takdirnya? Atau justru seseorang yang hanya ditakdirkan singgah
sebentar dalam hidupnya?
***
Mulan masih bergelung di atas tempat tidur
ketika dering ponselnya memecah keheningan pagi.
Nama Gugi
terpampang di layar. Seketika rasa kantuknya menguap.
“Halo?”
“Mulan, apa kita bisa bertemu?” suara Gugi
terdengar di seberang sana.
Mulan mengucek matanya. “Ada apa?”
“Aku ada perlu. Nanti saja kita bicarakan.
Kamu ada acara lain?”
“Tidak ada.”
“Aku tunggu di dekat pos satpam Blok B jam
sepuluh nanti.”
“Baiklah, aku datang.”
Panggilan itu berakhir.
Beberapa detik kemudian, Mulan langsung
bangkit dari tempat tidur. “Astaga!”
Ia meraih handuk, berlari ke kamar mandi,
lalu kembali membuka lemari pakaian. Hampir semua baju dikeluarkan hanya untuk
memilih mana yang paling pantas dikenakan. Setelah itu, ia berdiri cukup lama
di depan cermin, memastikan rambut dan riasannya tampak serasi.
Pukul tujuh pagi, rumah sudah dibuat gaduh
oleh kepanikannya sendiri. Padahal janji bertemu masih tiga jam lagi.
Tenang, Mulan... ini cuma ketemu Gugi.
Kenapa malah seperti mau menghadiri lamaran?
Meski begitu, ia tetap berangkat satu jam
lebih awal. Lebih baik menunggu daripada membuat Gugi menunggu.
Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di
hadapannya. Gugi turun sambil tersenyum. Namun, senyum Mulan perlahan memudar
ketika melihat seorang lelaki ikut turun dari motor itu.
“Bukan... sendiri?” gumamnya lirih.
“Terima kasih sudah datang.” Gugi
menghampirinya. “Maaf mengganggu waktu istirahatmu.”
“Tidak apa-apa.” Mulan berusaha tersenyum. “Memangnya
ada apa?”
“Oh iya.” Gugi menoleh ke belakang. “Kenalkan,
ini Albi. Sahabatku.”
Albi mengangguk ramah. Mulan membalas
dengan senyum sopan, tetapi isi kepalanya sudah ribut sendiri.
Lho... ini bukan kencan?
Kenapa malah membawa sahabatnya? Aku
sudah menghabiskan hampir satu jam memilih baju, padahal ternyata ini pertemuan
bertiga. Kalau tahu
begini, seharusnya aku mengajak Fahira juga. Setidaknya aku tidak menjadi
satu-satunya orang yang salah paham.
“Mulan, kamu ingat pernah bertemu Albi sebelumnya?”
Mulan menggeleng pelan.
“Albi dulu sekolah di SMA Bakti. Dia ketua tim
basket di sana. Katanya, beberapa tahun lalu timnya pernah bertanding di
sekolahmu, dan kamu menjadi salah satu panitianya.”
Mulan berusaha mengingat, tetapi bayangan
itu tak kunjung muncul.
Gugi tersenyum tipis. “Karena itu, hari ini
aku ingin membantu meresmikan perkenalan kalian.
Mulan mengerutkan dahi. “Meresmikan...?”
Dadanya mulai dipenuhi harapan yang sulit
dikendalikan.
Ya Tuhan... jangan bilang... Apa ini
saatnya? Kalau benar, aku siap. Aku akan menjawab
"ya". Gugi...
katakan saja kalau kamu menyukaiku.
Namun, harapan itu runtuh secepat
datangnya.
“Aku ke sini untuk membantu Albi.” Gugi
menepuk bahu sahabatnya. “Dia ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.”
Albi tersenyum canggung sambil menggaruk
tengkuknya. “Maaf, Mulan. Aku enggak pandai memulai pembicaraan seperti ini.”
Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
“Pertama kali melihatmu saat pertandingan basket itu, kamu langsung menarik
perhatianku. Kamu terlihat ceria, ramah, dan mudah akrab dengan siapa saja.
Sejak saat itu aku mencari tahu tentangmu. Baru belakangan aku tahu kalau
ternyata kamu tinggal satu kompleks dengan sahabatku.”
Tatapan Albi begitu tulus. “Aku menyukaimu.”
Mulan membeku.
“Aku berharap kamu bersedia memberiku
kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat.”
“Serius?” hanya itu yang mampu keluar dari
bibir Mulan.
“Iya.” Albi mengangguk mantap. “Apa pun
jawabanmu, aku akan menghargainya.”
Mulan menarik napas panjang. “Maaf, Albi.
Rasanya ini benar-benar pertama kalinya kita berbicara. Bagaimana kalau kita
mulai sebagai teman dulu?”
Albi tersenyum, meski sorot matanya
menyimpan sedikit kecewa. “Tidak apa-apa. Hubungan yang baik memang dimulai
dengan saling mengenal.”
Gugi ikut tersenyum. “Nah, begitu. Aku
yakin kalian bakal cocok.”
Mulan menoleh sekilas ke arah Gugi. Entah
mengapa, kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris dadanya.
“Yakin tidak kecewa?” goda Gugi kepada
Albi. “Kupikir hari ini kamu berharap langsung punya pacar.”
Albi terkekeh kecil. “Perasaan tidak bisa
dipaksa. Aku cuma berharap suatu hari nanti Mulan bisa melihatku dengan cara
yang sama.”
Ia memandang Mulan penuh harap.
“Apa aku masih punya kesempatan?”
Mulan memaksakan senyum. “Tentu... kita
berteman dulu.”
“Terima kasih.”
Gugi menepuk pundak Albi sambil tertawa
kecil. “Tenang. Aku dukung hubungan kalian.”
Kalimat itu terdengar ringan. Namun, bagi
Mulan, setiap katanya jatuh seperti batu yang menghantam hati.
Jadi... selama ini memang bukan aku yang
ada di hatimu. Bahkan, orang yang paling semangat
mencarikan kebahagiaan untukku adalah kamu... hanya saja kebahagiaan itu bukan
bersamamu. Harusnya
aku bahagia. Ada seseorang yang menyukaiku. Albi baik, ramah, dan menyenangkan.
Lalu kenapa justru hatiku terasa semakin berat?
Apa Gugi benar-benar sudah tidak memiliki
perasaan itu lagi? Kalau memang begitu... apa aku juga harus
belajar melepaskannya? Sampai kapan aku menunggu seseorang yang setiap hari
justru membuatku semakin ragu?
Sementara Albi duduk menunggu di bangku
taman, Gugi mengajak Mulan berbicara beberapa langkah menjauh.
“Wajahmu lucu sekali hari ini.” Gugi
tersenyum geli. “Boleh tahu apa yang sedang kamu pikirkan?”
Mulan mendengus pelan. “Dasar. Tiba-tiba
saja kamu menjodohkanku dengan orang.”
Sebagai balasan, ia mencubit lengan Gugi.
“Aduh!” Gugi meringis sambil mengusap
lengannya. “Sakit, Mulan.”
“Biar tahu rasa.”
“Memangnya aku salah?” Gugi mengangkat
kedua bahu. “Kalian sama-sama belum punya pasangan.”
“Itu bukan urusanmu.” Mulan memutar badan
hendak pergi.
Baru beberapa langkah, pergelangan
tangannya tertahan. Ia menoleh. Gugi menggenggam tangannya.
“Gadis keras kepala.” Suaranya terdengar
lebih lembut. “Jangan pergi dulu. Kasihan Albi kalau kamu meninggalkannya
begitu saja.”
Mulan menatap tangan mereka yang masih
saling bersentuhan. Dadanya kembali berdebar. Kenapa... selalu begini?
“Kalau memang ingin aku
tetap di sini...” Mulan
menelan ludah. “...kamu saja yang pergi.”
Gugi terdiam beberapa saat. Kemudian ia
mengembuskan napas pelan.
“Syukurlah.”
Mulan mengernyit. “Syukurlah?”
“Iya.” Senyum tipis terukir di wajah Gugi. “Setidaknya
kamu menyuruhku pergi, bukan malah kabur lebih dulu.”
Ucapan itu langsung membuat amarah Mulan
menguap. “Aku... tadi cuma kesal.” Suaranya melemah. “Jangan dimasukkan ke
hati, ya!”
Gugi hanya tersenyum. Senyum sederhana itu
selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Mulan.
“Tenang.” Gugi melepaskan genggaman
tangannya. “Aku memang mau pergi. Biar kamu dan Albi punya waktu untuk saling
mengenal.”
Jari-jari mereka akhirnya terpisah. Entah
mengapa, Mulan justru merasa kehilangan kehangatan yang hanya berlangsung
beberapa detik itu. Ia memandangi punggung Gugi yang mulai menjauh.
Gugi...Kenapa kamu selalu penuh kejutan? Apa
sebenarnya yang sedang kamu rencanakan? Dan... kenapa kamu begitu berusaha
mendekatkanku dengan orang lain?
Untuk pertama kalinya, Mulan merasa tidak
lagi mampu menebak isi hati sahabatnya sendiri.
“Aku cuma ingin kamu bahagia.” Gugi
tersenyum tipis. “Selama masih bisa kulakukan, aku akan mengusahakannya.”
Jawaban itu membuat Mulan tersenyum hambar.
“Itu saja?” tanyanya lirih. “Menurutmu... aku benar-benar bahagia?”
Tatapan mereka saling bertaut. Gugi terdiam
sesaat, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.
“Mulai hari ini, jangan terus melihat ke
belakang.” Suaranya tenang. “Kenangan memang bisa membuatmu tersenyum, tapi
kalau yang tersisa hanya penyesalan dan kecemasan, buat apa terus dipeluk?”
Mulan masih memandangnya tanpa berkedip.
“Melangkahlah ke depan.” Gugi melanjutkan. “Kalau
memang harus memulai dari nol, enggak apa-apa. Jauh lebih baik mencoba daripada
terus dikalahkan rasa takut yang sebenarnya bisa kamu hadapi.”
Mulan mengernyit. ”Aku tidak mengerti.”
Gugi mengembuskan napas pelan. “Temui Albi.”
Ia menoleh sekilas ke arah sahabatnya yang
sedang menunggu. “Dia laki-laki yang tulus. Orang seperti dia enggak mudah
ditemukan. Jangan sampai suatu hari nanti kamu baru menyadari nilainya setelah
dia memilih pergi.”
Mulan membeku. “Lalu... menurutmu aku harus
bagaimana?”
Gugi mengangkat tangan, lalu mengusap
lembut kepala Mulan. “Jaga dia baik-baik.”
Sentuhan singkat itu membuat Mulan terpaku.
Sebelum sempat mengatakan apa pun, Gugi sudah melangkah pergi.
Mulan hanya mampu memandangi punggungnya
yang semakin menjauh. Entah mengapa, setiap langkah Gugi terasa seperti membawa
pergi sesuatu dari dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Albi kembali mengajaknya
berbincang. Namun, pikiran Mulan sama sekali tidak berada di sana.
Ia menjawab setiap pertanyaan sekadarnya. Tatapannya sesekali masih tertuju ke arah jalan yang baru saja dilalui Gugi, seolah berharap lelaki itu akan berbalik dan mengatakan bahwa semua yang terjadi hari ini hanyalah sebuah lelucon.
***
Sejak pertemuan minggu lalu, Mulan sengaja tidak menghubungi Gugi. Ia
berusaha menghargai perasaan Albi. Bukankah itu juga yang diminta Gugi?
Siang itu, Mulan dan Albi duduk berdampingan di sebuah kafe.
Masing-masing sibuk mengerjakan tugas sekolah dengan laptop yang terbuka di
hadapan mereka.
Tiba-tiba, nada dering ponsel Mulan memecah keheningan. "Saengil
chukha hamnida..."
Mulan spontan meraih ponselnya. Senyum tipis langsung terukir di
wajahnya. Albi menghentikan aktivitasnya.
“Ada jadwal penting?”
“Tentu saja.” Mulan tidak mampu menutupi rasa bahagianya.
“Memangnya ada apa?”
Mulan tersenyum semakin lebar. “Besok ulang tahun Gugi.”
Albi terdiam.
“Besok tanggal sebelas Januari. Dia genap berusia tujuh belas tahun.”
Mata Mulan berbinar penuh semangat. “Bagaimana kalau kita kasih kejutan? Kamu
pasti mau bantu, kan?”
Albi masih belum menjawab.
“Mungkin kita bisa bikin pesta kecil. Enggak usah mewah, yang penting
dia senang.”
Suasana mendadak hening.
“Mulan...”
“Iya?”
“Apa... Gugi belum memberi tahu apa pun?”
Senyum di wajah Mulan perlahan memudar. “Memberi tahu apa?”
Albi menatapnya ragu. “Kamu benar-benar belum tahu?”
Jantung Mulan mendadak berdegup lebih cepat. “Tahu apa, Bi?”
Albi mengembuskan napas panjang. “Kemarin sore keluarga Gugi pindah.”
Mulan membeku. “...Apa?”
“Rumah itu sudah kosong.”
Sore harinya, Mulan berdiri di depan pagar rumah yang kini tak lagi
berpenghuni. Halaman yang biasanya dipenuhi suara bola basket kini sunyi.
Tak ada motor yang sedang dicuci.
Tak ada tawa Gugi.
Tak ada sapaan yang selalu membuat jantungnya berdebar.
Hanya rumah kosong.
Albi berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak mencoba
menghibur.
Ia tahu, ada
kesedihan yang tidak membutuhkan nasihat. Hanya membutuhkan waktu.
Air mata Mulan jatuh tanpa mampu ia bendung.
Ya Tuhan... Jadi,
ini akhirnya? Inikah cara-Mu mengakhiri kisah kami?
Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat
tinggal. Seandainya Engkau
mengizinkan, hadirkan dia sekali lagi. Hanya sehari saja. Akan kubuat
hari itu menjadi hari paling bahagia untuknya.
Aku ingin mendengar tawanya sekali lagi.
Aku ingin melihat senyumnya sekali lagi.
Gugi... kalau kamu bisa mendengar doaku, pulanglah.
Pasti masih ada sesuatu yang belum sempat kita
selesaikan.Kalau suatu hari nanti kamu kembali... tolong, jangan lupakan aku.
Mulan sudah mencoba berkali-kali menghubungi Gugi. Nomor teleponnya
tidak lagi bisa dihubungi. Seluruh akun media sosial yang biasa ia pantau pun
menghilang begitu saja.
Seolah-olah Gugi sengaja menghapus setiap jejak yang bisa membawanya
untuk ditemukan.
“Percuma, Mul.” Albi memandang Mulan dengan tatapan iba.
“Seberapa keras pun kamu mencarinya, Gugi memang sengaja tidak ingin
meninggalkan jejak. Aku juga tidak tahu dia sekarang ada di mana.”
Mulan menggigit bibirnya. “Kalau saja dia berpamitan...” suaranya
bergetar. “Mungkin aku tidak akan sesesak ini.”
Air mata kembali jatuh. “Aku ingin berhenti memikirkannya.” Ia tersenyum
pahit. “Tapi pikiranku terus kembali ke dia. Mungkin memang seharusnya aku
belajar melupakan. Bukankah dia juga pergi tanpa peduli padaku?”
Albi menggeleng pelan. “Jangan bohongi perasaanmu.”
Mulan menoleh.
"Gugi tidak pernah berhenti mencintai cinta pertamanya.”
Jantung Mulan seakan berhenti berdetak. “Apa?”
“Kalimat 'Aku menyukaimu' yang dulu sering dia ucapkan bukan
sekadar candaan.” Albi menarik napas panjang. “Dia sungguh-sungguh.”
Mulan hanya mampu menatapnya tanpa berkedip.
“Setiap kali liburan, aku sering menemani Gugi melewati rumahmu.” Albi
tersenyum tipis mengenang sahabatnya. “Dia berdiri diam, mengawasimu dari
kejauhan, memastikan kamu baik-baik saja. Kadang dia hanya melihatmu lewat
jendela rumahnya sendiri. Kadang dia sengaja mencari alasan agar bisa melihatmu
lewat.”
Albi tertawa pelan, meski terdengar getir. “Kalau dipikir sekarang,
tingkahnya memang konyol.”
Ia kembali terdiam.
“Lalu suatu hari. Gugi bilang dia ingin berhenti mengejarmu.”
Mata Mulan kembali dipenuhi air mata.
“Tapi...” lanjut Albi, “dia memberi satu syarat pada dirinya sendiri.”
“Syarat?”
“Dia hanya akan benar-benar melepaskanmu kalau yakin kamu bisa bahagia.”
Mulan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dadanya sesak.
“Kurasa...” Albi menundukkan kepala. “Itulah alasan dia tidak
berpamitan. Kalau dia bertemu denganmu sekali lagi, mungkin dia tidak akan
sanggup pergi.”
Suasana kembali sunyi.
“Maaf.” Suara Albi nyaris berbisik. “Aku seharusnya menceritakan semua
ini sejak awal.”
Mulan menggeleng pelan.
Air matanya terus mengalir. Namun, kali ini bukan hanya karena
kehilangan. Melainkan karena akhirnya ia mengetahui bahwa cintanya tidak pernah
bertepuk sebelah tangan.
Cintaku
ternyata terbalas.
Meski aku
baru mengetahuinya saat semuanya telah menjadi kenangan.
Apakah itu
menyakitkan? Sangat.
Apakah itu
berharga? Lebih dari apa pun.
Gugi... pemilik nama paling sederhana yang justru
meninggalkan jejak paling dalam di hidupku. Setiap kali aku melewati jalan menuju rumahmu, langkah kakiku selalu
melambat.
Aku masih berharap pintu itu terbuka, lalu kamu
berdiri di sana dengan senyum yang selama ini kurindukan. Barangkali, sebagian orang datang bukan untuk
tinggal selamanya. Melainkan untuk menjadi kenangan yang terus hidup, bahkan
ketika dirinya telah lama pergi.
***
Gugi... setelah kamu pergi, hidupku kembali
mengujiku. Aku dikhianati oleh orang yang paling
kupercaya.Fahira. Kalau
saja kamu mendengarnya, mungkin kamu pun tidak akan percaya.
Suatu hari, Fahira datang dengan wajah
penuh semangat.
“Mulan, aku berhasil mendapatkan nomor
kontak Gugi.”
Jantungku seakan berhenti. Tanpa sadar, aku
memeluknya berkali-kali. Aku begitu bahagia.
Sejak hari itu, aku mulai mengirim pesan. Dan
seseorang di balik nomor itu selalu membalas.
Hari demi hari berganti menjadi minggu. Minggu
berubah menjadi bulan. Selama sebulan, aku percaya sedang berbicara denganmu.
Aku menceritakan banyak hal. Tentang
sekolah. Tentang rinduku. Tentang betapa aku masih mengingatmu.
Lalu suatu hari, sebuah pesan datang.
“Aku
akan pulang. Besok kita bertemu di sekolah.”
Aku hampir tidak bisa tidur semalaman.
Esoknya, aku datang lebih awal. Fahira
menemaniku menunggu tanpa sedikit pun mengeluh.
Satu jam.
Dua jam.
Aku tetap menunggu. Karena aku yakin, hari
itu kamu benar-benar akan datang. Lalu seseorang berjalan mendekat.
Langkahnya semakin dekat. Semakin jelas.
Namun...
Bukan kamu.
Aku membeku. Orang yang berdiri di
hadapanku sama sekali bukan Gugi. Melainkan Fikri. Mantan yang pernah
melukaiku.
Dunia seolah berhenti berputar. Baru saat
itulah aku mengetahui semuanya.
Selama
sebulan, aku tidak pernah berbicara denganmu.
Setiap pesan yang kukirim.
Setiap rindu yang kuceritakan.
Setiap harapan yang kusimpan.
Tidak pernah sampai kepadamu.
Fahira sengaja memberikan nomor Fikri. Ia
ingin aku melupakanmu.
Namun,
ia memilih cara yang paling menyakitkan. Sejak hari itu, tak ada lagi sapaan di
antara kami.
Pertemanan yang telah kami bangun
bertahun-tahun berakhir begitu saja hingga kelulusan.
Ya Tuhan... Aku
membenci diriku sendiri. Mengapa
begitu sulit melepaskan seseorang yang bahkan sudah lama pergi?
Mungkin sekarang Gugi sedang membangun
kehidupannya yang baru.
Mungkin dia telah menemukan kebahagiaannya.
Kalau begitu... sudah waktunya aku berhenti
mengejar bayangannya. Sudah waktunya aku mencari kebahagiaanku
sendiri.
Terima
kasih
Ini
ceritaku... Dilarang copypaste!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar