
Kita
dipertemukan tanpa kalimat. Namun anggota badan penuh isyarat, tatap mata
mengatakan “Perasaanku padamu tiada akhir.”
Senyum
isyarat “Tetaplah simpan aku dihatimu!”. Satu hal yang tidak bisa aku terima,
langkahmu semakin menjauh. Kamu yang bersemayam di lubuk hati, mengundang
tangis. Aku hanya memilikimu di jalan si pemilik hati.
***
Mulan
selalu suka hari Jumat. Namun minggu ini dia tandai hari jumat sebagai hari
paling emosional. Dia sampai tidak fokus pada langkah kaki.
“Apa
aku akan seperti ini terus? Ini bukan polos tetapi bodoh. Sudah cukup Fikri
Andria Kurniawan mempermainkanku untuk yang kedua kali, tidak bisa dimaafkan.”
Mulan menggerutu kesal.
Tubuhnya
berdiri di tengah jalan bertepatan dengan sepeda motor yang melaju kencang.
Motor oleng karena menghindar, hampir saja terperosok ke dalam saluran air
tetapi pengendara itu berhasil menahan.
Mulan
terdiam, bersiap menerima kemarahan. Keringat mengucur, kaki gemetar. “Gadis
bodoh. Kamu membahayakan seseorang. Jangan lari pengecut!” – Mulan.
Dari
balik helm full face, tatapan mata pengendara mulai mengancam. Mulan memasang
badan tegap supaya tidak dikira takut.
“Oh
Tuhan” batin Mulan
menjerit saat dia membuka helm. Mulan tahu berhadapan dengan siapa.
“Apa
kamu terluka?” dia berbicara lembut, bukan memarahi.
“Aku
malah khawatir padamu, apa kamu baik-baik saja?”
Apa
yang barusan aku katakan? Apa aku berlebihan, haruskah aku koreksi? Bagaimana
tidak canggung, sudah lama kami tidak komunikasi. Sejak SMA, Gugi sekolah di
luarkota, sebagian besar keluarganya tinggal disana. Hanya karena Ayah, Ibu dan
adiknya masih menetap di sini, setiap libur semester atau libur hari raya dia
akan pulang. – Mulan.
“Aku
dalam keadaan baik. Apa yang sedang kamu lakukan di tengah jalan?” tanyanya
sambil mengamati Mulan.
“Tadi
aku sedang menghafal naskah dialog untuk pentas. Aku tahu telah melakukan
kesalahan. Maaf sudah membawamu kedalam bahaya.” reflek Mulan membungkukkan
badan. Ini efek terlalu banyak nonton drama korea. Mulan sudah terlanjur malu,
sampai tidak berani menatap matanya. Gugi tertawa melihat tingkah Mulan.
Mulan
tidak siap menerima reaksi Gugi kalau tau Mulan tidak fokus karena memikirkan
keburukan mantan. Dia akan jadi bahan ejekan, dapat dipastikan hatinya akan
hancur berkeping-keping.
“Jangan
lakukan lagi! Hampir saja aku menabrakmu. Kamu masih muda tidak perlu
memikirkan sesuatu terlalu serius nanti cepat tua!” Gugi khawatir namun tetap
menghibur. Mulan tidak mampu menjawab.
“Apa
kamu sengaja berdiri di sana karena menungguku? Bagaimana jika kita tidak
bertemu? Kamu pasti kecewa.” Gugi sengaja menggoda, wajah Mulan memerah.
“Aku
sudah terbiasa melewati jalan ini. Hanya hari ini saja aku ceroboh, lain kali
tidak.” Mulan berusaha membela diri, namun tetap saja gelagapan.
“Baiklah
kalau tidak mengaku. Berikan nomer ponselmu!”
“Untuk
apa?” Mulan terkejut.
“Sepertinya
kakiku sakit. Jika terjadi sesuatu padaku setelah kejadian ini, kamu harus
menemuiku.” Gugi menunjuk bagian kaki, eksperesinya memperlihatkan kesakitan.
“Benarkah?
Bagaimana kalau sekarang kita ke puskesmas saja!” Mulan terlihat khawatir.
“Serius
sekali, aku cuma bercanda. Aku meminta nomermu karena sudah lama tidak
komunikasi. Sebutkan nomermu!” Gugi mengelurkan handphone bersiap mengetik.
“Nomerku
0xxxxxxxxxxx. Jika ada apa-apa hubungi saja!”
“Terimakasih
Mulan. Jangan bengong! Aku pergi dulu.” Dia melambaikan tangan, Mulan
bergeming.
Tuhan,
hari ini aku beruntung bertemu dengan Gugi. Jika berada di lingkungan sunyi,
aku akan melompat, berteriak “pria itu milikku” dan memeluk dia sangat erat.
Namun ini bukan panggung drama. Apakah pertemuan ini akan mengakrabkan
kembali pertemanan kita? Bisakah kamu mengulang kalimat di masa lalu? Jika
aku membalas perasaanmu. Akankah kita bersama? – Mulan.
Gugi
adalah sahabat Mulan sejak kecil. “Aku menyukaimu.” kalimat
yang sering Gugi ucapkan ketika bermain bersama, tetapi Mulan merasa tidak
perlu memberi jawaban. Dia menganggap kalimat itu gurauan yang akan hilang
seiring berjalannya waktu.
Ketika
beranjak dewasa. Setiap kali melihat Gugi, ternyata kalimat itu sangat
membekas. Namun, tidak ada harapan yang bisa di jemput. Mereka adalah teman
lama yang tidak seakrab dulu. Bahkan jarak telah memisahkan.
***
Guci,
gusi, cuci itu kata yang sering orang dengar, tetapi kata Gugi adalah
sebuah nama yang melekat dalam ingatan seseorang. Perjalanan Mulan untuk
mendapat informasi tentang Gugi tidaklah mudah.
Mulan akan stalking dijejaring sosial apa
saja. Berkat informasi itulah dia tahu Gugi tidak punya pacar. Tidak
hanya itu, Mulan juga berperan sebagai mata-mata gadungan. Mulan sengaja
berolahaga pagi atau sore hari dengan melewati rumah Gugi. Bahkan pulang
sekolah, dia rela berjalan kaki dari depan komplek karena jika naik mobil
angkutan umum, jalur ke rumah Gugi tidak akan terlewati. Padahal jarak dari
depan ke rumahnya lumayan jauh.
Rasa
lelah terlupakan ketika melihat Gugi bemain bola basket di halaman rumah,
mencuci motor atau sedang berbincang bersama teman bahkan keluarga.
Kamu
pernah merasakan jatuh cinta bukan? Apa yang kamu lakukan untuk mendapatkan
perhatian? Meminta nomer posel? Aku tidak melakukan itu. Mendatangi rumahnya?
Aku tidak berani. Mengajak ketemuan di suatu tempat? Aku kurang percaya diri.
Menyewa makcomblang? Itu sangat merepotkan. Masih banyak yang bisa dilakukan
tetapi aku memilih mencintai diam-diam. Gugi adalah sasaran bidikan dari
jarak jauh. Apapun yang dia ucapkan dan lakukan rasanya he’s perfect. – Mulan.
Hari
ini Mulan beraksi lagi. Setelah menunggu satu menit, akhirnya Gugi keluar dari
rumah. Dia bermain bola basket bersama Bagas, adiknya.
“Hey
Nak, apa yang kamu lakukan disini?” seorang nenek memergoki Mulan berjongkok
dekat bak sampah.
“Ini
Nek, tadi barangku terjatuh di sini." sambil menunjuk tumpukan sampah.
“Barang
apa? Bagaimana kalau nenek bantu carikan?” dia menawarkan diri, membuat Mulan
jadi gelisah.
“Tidak
perlu nek! Mungkin barangnya sudah dibersihkan pengangkut sampah.” gerak tubuh
jadi salah tingkah.
“Apa
benar tidak apa-apa?”
“Aku
masih punya cadangan dirumah. Maaf Nek, aku harus segera pergi.”
Tanpa menjelaskan lagi, Mulan meninggalkan nenek tersebut.
Ini
sangat memalukan, apa aku terlalu mencurigakan? Semoga orang disekitar komplek
tidak memperhatikan aku berjongjok dekat bak sampah. Jangan sampai berita buruk
ini menyebar, apalagi Gugi tahu. Dia pasti akan menjauh. – Mulan.
“Mulan?
apa kamu melamun lagi?” seseorang menghentikan langkah Mulan.
“Gugi?”
Mulan
sengaja mempercepat langkah tetapi siapa yang tidak tertarik pada gadis
berbadan tinggi, kulit kuning langsat dan geraian rambut panjang dengan jepitan
kecil di atas telinga. Siapapun tidak akan melepaskan pandangan.
“Jam
segini baru pulang? Bagaimana kalau hujan, kamu nanti basah kuyup.”
“Jika
tidak basah namanya bukan kehujanan. Kamu seperti wartawan, lebih cerewet dari
Ibuku. Aku baru pulang belajar kelompok di kosan teman. Kenapa?” jawabnya
ketus.
“Dasar
jutek, aku hanya sedikit khawatir. Belajar atau bergosip?” Selidik Gugi, Mulan
memamerkan barisan gigi.
“Curiga
sudah bertemu dengan pacar. Lihat saja wajah bahagia orang yang baru
kencan!” Celetukan Bagas membuat suasana hening. Mulan tertawa mencairkan
suasana.
“Bagas,
aku ini masih single jadi tidak ada alasan terlambat pulang karena pacaran.”
Mulan mencoba menjelaskan supaya Gugi tidak salah paham.
“Pemuda
di komplek kita, Yuga, Fathir, Kak Nikra bukankah mereka gebetanmu. Sungguh
gadis jahat tidak mengakui pacar sendiri. Jujur saja!” selidik Bagas.
Anak
ini selalu membuatku kesal. Apa aku pernah melakukan kesalahan? Umurnya dua
tahun dibawahku tetapi kelakuannya seperti akulah adiknya. Jika dia bukan adik
Gugi, akan aku jitak kepalanya. – Mulan.
“Tukang
gosip. Malah Aku mendengar kalau kamu mengaku pacarku, apa benar?” tuduhnya,
memojokan Bagas.
“Jangan
terpengaruh gosip murahan! Aku tidak menyukai perempuan tidak peka. Jika memang
gosip itu benar, apa buktinya?” Gugi dan Mulan tertawa melihat ekspresi Bagas
yang terpojokan.
“Aku
percaya karena kamu yang mengatakannya langsung. Harusnya kamu juga jangan
mudah percaya pada omongan oranglain sebelum menanyakan pada orang yang
bersangkutan!” Mulan merasa menang.
“Bagas
memang suka terpancing gosip anak tongkrongan. Mungkin dia tidak suka mendengar
kabar tersebut karena memang menyukaimu.” Gugi ikut menjaili adiknya.
“Kalian
kali yang saling suka. Mengaku saja, apa susahnya!” Bagas menatap Gugi
yang terdiam. Mulan tidak berkomentar apa-apa. Mereka lalu tertawa.
“Kita
sahabat sejak kecil, tidak mungkin pacaran. Iya kan Mulan?” Gugi menegaskan.
“Iya.”
Mulan jadi tidak semangat.
“Mulan,
nanti sore apa kamu ada waktu? aku mau main ke rumah. Sudah lama kita tidak
main game.” mendengar penawaran Gugi, Mulan merasa senang.
“Aku
senggang. Nanti kabari saja! Jangan menangis kalau aku yang menang!” Ledek
Mulan.
“Kamu
belum tau saja, sekarang aku sangat ahli. Akan aku tunjukan kehebatanku.” Gugi
tidak mau kalah.
“Kalian
sungguh anak-anak kurang bahagia.” Celetuk Bagas.
“Justru
bahagia.” Jawab Gugi dan Mulan serempak, diselingi tawa.
Kita
sahabat, apa tidak ada kata lain? Pengakuanmu hanya sebatas itu? Jika bisa, aku
ingin berhenti menyukaimu! Untuk apa berjuang, jika bertepuk sebelah tangan.
Tuhan, apa aku tidak boleh tahu bagaimana kehidupan kami selanjutnya? Apa
takdirku dengannya atau dengan yang lain? – Mulan.
***
Mulan
terbaring malas ditempat tidur. Namun dia terperanjat, saat menerima telepon
dari Gugi.
“Mulan,
apa kita bisa bertemu? Aku tunggu di dekat pos satpam blok B jam 10 siang
nanti!”
“Ada
apa?” dia masih setengah sadar.
“Aku
ada perlu. Kita bicarakan saja nanti. Apa kamu ada acara lain?”
“Baiklah,
aku akan menemuimu.” Dia segera mengambil handuk dengan semangat, bergegas ke
kamar mandi, mengeluarkan pakaian dari lemari, memilih yang akan dikenakan dan
menyiapkan alat rias. Kepanikan itu membuat kaki bertalu.
Begitulah
keributan di jam 7 pagi. Dia menunggu dengan perasaan cemas. Mulan berangkat 1
jam lebih awal dari waktu yang telah dijanjikan. Gugi datang menghampiri Mulan.
Dia tidak sendiri, seorang pria berdiri dibelakang.
“Terimakasih
sudah datang. Maaf mengganggu waktu istirahatmu.”
“Tidak
masalah. Ada perlu apa mengajak bertemu?”
“Kenalkan
ini Albi, sahabatku.” Gugi merangkul sahabatnya.
Apa
ini reuni? Kenapa tidak berdua saja layaknya kencan. Dia sengaja mengajak
sahabatnya sebagai pihak ke 3, Albi. Sekarang aku berhadapan dengan dua lelaki
sekaligus. Jika tau akan seperti ini, aku akan mengajak Fahira sebagai
partner.- Mulan.
“Mulan,
apa kamu ingat pernah bertemu Albi sebelumnya?” Mulan menggeleng.
“Albi
sekolah di SMA Bakti. Dia adalah ketua basket yang berbakat. Albi bilang
pernah bertanding di sekolahmu dan kamu termasuk panitia disana. Supaya
kedepannya berjalan lancar, aku ingin meresmikan hubungan.” jelas Gugi.
“Meresmikan
hubungan?” Mulan merasa dirinya sedang melamun lagi, sehingga tidak fokus
mendengarkan Gugi.
Tuhan,
aku siap. Aku akan menjawab ya. Gugi, katakanlah kamu menyukaiku! – Mulan.
“Aku
kesini membantu Albi. Maukah kamu menerima sahabatku lebih dari teman?”
Albi tersenyum, menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.
“Maaf
Mulan, tiba-tiba Gugi menyatakan tujuan kedatanganku. Pertama kali bertemu
denganmu, kamu sangat menarik perhatian, ceria, penuh semangat dan sangat supel
terhadap orang baru. Aku mencari informasi tentangmu. Ternyata kamu tinggal
satu komplek dengan sahabatku. Aku menyukaimu, sehingga Gugi berinisiatif
mempertemukan kita.” Albi menatap Mulan dengan wajah berbinar.
“Serius?”
saking kagetnya, Mulan tidak bisa berkata lagi.
“Iya
Mulan. Apapun keputusanmu akan aku terima.”
“Maaf
Albi. Rasanya ini pertama kali kita bertemu. Bagaimana jika kita mulai dengan
pertemanan saja?” jawab Mulan masih tidak percaya dengan penjelasan yang baru
saja dia dengar.
“Baiklah,
memang lebih baik hubungan itu diawali dengan saling mengenal satu sama lain.”
Albi tersenyum pasrah.
“Yakin?
Aku pikir hari ini kamu berharap Mulan menjadi kekasihmu.” Selidik Gugi.
“Perasaan
seseorang tidak bisa dipaksakan. Aku hanya perlu menunggu Mulan mempunyai
perasaan yang sama. Apa aku masih punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan
itu lagi?” tanyanya, Mulan terpaksa senyum padahal hatinya kecewa.
“Aku
akan mendukung hubungan kalian.” Gugi menepuk-nepuk pundak Albi, memberi
semangat.
Harusnya
aku bahagia ada yang menyukaiku. Dia baik, ramah dan menyenangkan. Tuhan,
apakah Gugi tidak tertarik lagi padaku? Lalu aku harus bagaimana? Sampai kapan
menunggu dia yang semakin hari menunjukan ketidakpastian. Gugi sudah melupakan
perasaannya. Apa aku juga harus melakukannya? – Mulan.
Gugi
dan Mulan berbincang, sedikit menjauh dari tempat Albi duduk.
“Wajahmu
lucu sekali hari ini. Bolehkah aku tahu apa yang kamu pikirkan?” Gugi menggoda
Mulan.
“Dasar
cowok brengsek, tiba-tiba menjodohkan orang.” Mulan kesal. Dia mencubit tangan
Gugi sampai meringis kesakitan.
“Memang
ada yang salah? Kalian kan single.” Gugi melakukan pembelaan.
“Aku
mau pergi saja.” Mulan memutar badan, Gugi menghentikan langkah Mulan. Mereka
saling menatap.
“Gadis
cuek, tetaplah disini! Jika kamu pergi meninggalkan Albi, akan ku tendang kamu
dari bumi.” Pandangan Gugi sangat serius. Dia menggenggam erat tangan Mulan.
“Jika
kamu memintaku tetap disini. Sebagai gantinya, kamu boleh pergi! Aku jadi sesak
melihatmu.” Mulan kesal.
“Aku
lega kamu yang memintaku pergi.” Gugi menghembuskan nafas perlahan.
“Jangan
bawa perasaan! Aku tidak serius mengatakannya. Tadi aku kesal sehingga
mengucapkan kalimat itu. Maaf Gugi.” Mulan seketika luluh saat Gugi begitu
tenang menanggapi amarahnya. Dia tersenyum membuat hati Mulan merekah lagi.
“Aku
akan pergi supaya kalian bisa berbincang.” Gugi melepaskan genggaman pada tangan
Mulan.
“Gugi,
kenapa kamu selalu penuh kejutan? Sebenarnya apa yang kamu
rencanakan? ”Mulan menahan dadanya yang tiba-tiba terasa
mengganjal. Mulan penasaran apa yang Gugi inginkan, baru kali ini dia ikut
campur dalam kehidupan Mulan.
“Aku
ingin kamu bahagia, selagi bisa maka aku akan lakukan.” jawaban Gugi membuat
Mulan tersenyum.
“Itu
saja? Apa kamu berpikir aku bahagia?” mata mereka saling beradu.
“Mulai
hari ini, jangan kembali ke belakang meskipun kamu bahagia mengingatnya! Namun
membuatmu mencemaskan banyak hal. Melangkahlah ke depan! Tidak masalah memulai
dari nol, lebih baik mencoba daripada terpaku pada ketakutanmu yang sebenarnya
mampu kamu hadapi!”
“Apa
maksudmu?” tanya Mulan ingin penjelasan yang lebih dimengerti.
“Temui
Albi, tidak baik meninggalkan lelaki berperasaan tulus. Akan sulit menemukannya
ketika dia memilih untuk meninggalkanmu. Maka sebelum dia menghilang, Jaga dia
baik-baik!” Gugi mengelus lembut kepala Mulan, membuatnya kaget.
Gugi
meninggalkan mereka berdua. Albi terus mengajak Mulan bercengkrama tetapi
pikiran Mulan berada jauh dari tempat berpijak. Setiap diajukan pertanyaan
Mulan menjawab sekenanya.
***
Semenjak
pertemuan minggu lalu, Mulan tidak menghubungi Gugi, dia berusaha menghargai
perasaan Albi, seperti permintaan Gugi.
Albi
dan Mulan duduk tenang di cafe. Mereka membuka laptop untuk mengerjakan tugas
sekolah masing-masing.
“Saengil
chukha hamnida.” alarm ponsel Mulan berdering.
“Apa
hari ini ada jadwal yang penting?” Albi penasaran.
“Tentu
saja ada.” Mulan senang mendengar alarm itu.
“Memang
ada apa?” Albi menyelidiki tingkah Mulan yang langsung berubah.
“Sungguh
kalian sahabat yang aneh. Bagaimana kalau besok kita adakan pesta?” Mulan
sangat bersemangat.
“Pesta
apa?” Albi tidak mengerti.
“Tentu
saja pesta untuk merayakan ulang tahun Gugi. Albi, besokkan 11 januari. Hari
spesial yang menandakan umur Gugi menginjak 17 tahun. Kita harus membuat
kejutan, kamu mau membantu kan?” wajahnya memelas.
“Bagaimana
bisa kita merayakan tanpa Gugi.”
“Bukankah
libur sekolah belum berakhir? Apa Gugi pulang cepat? Tidak biasanya dia seperti
ini.” wajah Mulan berubah kecewa.
“Apa
kamu sungguh tidak tau?” Albi menerka raut wajah Mulan.
Mulan
tidak tahu jika liburan semester ini terakhir kalinya Gugi pulang. Kemarin sore
keluarganya pindah. Rumah tersebut telah kosong, Mulan berdiri di luar pagar.
Albi menemani gadis itu tanpa berusaha meredakan air matanya. Dia tau
Mulan sedang melepas beban.
Tuhan,
apa ini akhir dari kisah kami? Inikah kehendakMu? Aku bahkan tidak mengucapkan
salam perpisahan. Bolehkah aku meminta Engkau hadirkan dia sehari saja, akan ku
buat dia bahagia walau dalam waktu singkat. Aku ingin merasakan tawa yang
menggema saat melihat ekspresiku. Gugi, apa kamu mendengar permintaanku,
kembalilah! Pasti kamu punya urusan yang belum terselesaikan, ayo kita
selesaikan! Ku mohon suatu hari kamu pulang dan ingat aku! – Mulan.
Mulan
kesulitan menghubungi ponsel Gugi, jejaring sosial yang dia miliki juga
menghilang. Seakan Gugi melarikan diri.
“Sekeras
apapun usahamu. Gugi sengaja tidak meninggalkan jejak. Aku tidak tau.
Mungkin itu yang terbaik menurutnya.” Albi memberikan pengertian.
“Jika
saja Gugi berpamitan mungkin aku akan lebih tenang.” Mulan masih berurai air
mata. Albi tidak berkomentar.
“Aku
tidak mau memikirkannya tetapi otakku terus memaksakan. Bukankah Gugi pergi
tanpa peduli padaku. Aku juga harus melakukan hal yang sama.” Mulan tetap
berbicara, pipinya semakin menghangat.
“Jangan
bohongi perasaanmu! Gugi tidak pernah melepaskan cinta pertamanya.
Ungkapan "Aku menyukaimu” adalah kejujuran. Dia tidak menyerah
mendapatkanmu. Ketika liburan, aku menemaninya mengawasimu, memperhatikan di
balik jendela dan banyak hal lagi yang mungkin sangat konyol. Hingga suatu
hari, dia bilang ingin melepasmu dengan syarat kamu bahagia. Mungkin Gugi
sengaja tidak berpamitan supaya tidak ada yang mencegahnya pergi. Melihatmu
hanya menahan dirinya. Maafkan aku karena tidak menceritakan ini dari awal.”
penjelasan Albi cukup membuat hati Mulan sedikit tenang.
Cintaku
terbalas hanya dengan cerita singkat. Apakah itu berkesan? Tentu saja. Dia,
kenangan yang tidak dapat aku lupakan. Kamu boleh tidak percaya, ini kisahku
dengan pemilik nama unik. Tidak dapat ku jelaskan perasaan apa yang muncul
ketika langkah kaki melewati jalan itu, memandang rumahnya. Berharap dia
disana, melihatku yang diam-diam juga mengawasi. Aku bahkan ingin memiliki
bayangannya disetiap jalan dengan senyum dan lirikan mata tajamnya tetapi itu
terlalu egois. – Mulan.
***
Gugi,
setelah kamu pergi. Sebuah ujian datang padaku. Fahira, sahabat yang aku
percaya telah menusuk dari belakang. Kamu tidak akan percaya ini. Dia
memberitahu nomer kontakmu. Saking senangnya, aku berkali-kali memeluk Fahira.
Aku
mengirim pesan dan mendapat balasan. Kejadian itu berlanjut selama tiga bulan,
aku semakin merindukanmu. Aku sangat bahagia ketika kamu mengabari akan datang
ke sekolah untuk menemuiku.
Aku
percaya begitu saja, menunggu berjam-jam ditemani Fahira tanpa mengeluh karena
aku memang berharap kamu pulang.
Hingga
pertemuan itu terjadi, seseorang dihadapanku ternyata pembohong besar.
Gugi selama ini aku tidak berkomunikasi denganmu. Aku mengirim pesan pada orang
yang salah. Orang yang menemuiku sangat jauh dari ekspektasi. Aku menyampaikan
rindu namun sama sekali tidak berpengaruh pada Gugi yang berada di suatu
tempat. Fahira ingin aku melupakanmu, namun dengan cara yang salah. Membiarkan
Fikri, mantanku menjadi sosok Gugi. Sejak saat itu kami tidak bertegur sapa,
pertemanan kami berakhir hingga kami lulus.
Tuhan,
aku membenci diri sendiri karena tidak bisa melepaskan Gugi. Padahal Gugi tidak
akan kembali, dia sedang memulai kebahagiaan. Aku juga harus mencari
kebahagiaanku sendiri. – Mulan.
Terima
kasih
Ini
ceritaku... Dilarang copypaste!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar