Jumat, 30 Mei 2014

JIKA WAKTU MEMIHAK KITA

Kita dipertemukan tanpa kalimat. Namun, setiap gerak tubuh penuh isyarat. Tatap matamu seakan berkata, “Perasaanku padamu tiada akhir.”

Senyummu pun seolah berbisik, "Tetaplah simpan aku di hatimu." Namun, ada satu kenyataan yang tak pernah mampu kuterima: langkahmu semakin menjauh.

Kamu yang bersemayam di lubuk hatiku justru mengundang tangis di setiap rindu. Kini, aku hanya bisa memilikimu melalui jalan yang ditunjukkan oleh Sang Pemilik Hati.

***

Mulan selalu menyukai hari Jumat. Namun, Jumat kali ini terasa berbeda. Hari yang biasanya dinantikannya itu kini berubah menjadi hari yang paling menguras perasaan. Langkah kakinya terus bergerak, tetapi pikirannya tertinggal di tempat lain.

"Apa aku akan terus seperti ini? Ini bukan lagi kepolosan, melainkan kebodohan. Dua kali sudah Fikri Andria Kurniawan mempermainkanku. Dan untuk yang kedua ini, tak ada lagi ruang untuk memaafkan," batinnya, menahan sesak yang perlahan memenuhi dada.

Tubuh Mulan membeku di tengah jalan, tepat ketika sebuah sepeda motor melaju kencang ke arahnya.

Decitan rem memekakkan telinga. Motor itu oleng saat berusaha menghindarinya, nyaris terperosok ke saluran air. Beruntung, pengendaranya masih mampu mengendalikan laju kendaraan.

Mulan terpaku. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, sementara kedua kakinya bergetar hebat. Ia bersiap menerima kemarahan yang sebentar lagi pasti meledak.

“Gadis bodoh. Kamu hampir mencelakakan seseorang. Jangan lari, pengecut,” batinnya mencaci diri sendiri.

Dari balik helm full face, sepasang mata menatapnya tajam. Tatapan itu cukup membuat napas Mulan tercekat. Meski ketakutan, ia berusaha menegakkan tubuh agar tak terlihat gentar.

Saat pengendara itu melepaskan helmnya, jantung Mulan seolah berhenti berdetak.

“Ya Tuhan...” pekiknya dalam hati. Kini ia tahu sedang berhadapan dengan siapa.

Namun, alih-alih memarahinya, lelaki itu justru menatapnya dengan sorot penuh kekhawatiran.

“Apa kamu terluka?”

“Aku malah khawatir padamu. Apa kamu baik-baik saja?”

Astaga... apa yang barusan kukatakan? Berlebihan, ya? Haruskah aku menarik ucapanku?

Kecanggungan langsung menyergap Mulan. Sudah lama mereka tidak saling berkomunikasi. Sejak lulus SMA, Gugi melanjutkan sekolah ke luar kota. Sebagian besar keluarganya tinggal di sana. Hanya ayah, ibu, dan adiknya yang masih menetap di kota ini, sehingga setiap libur semester atau hari raya ia selalu pulang.

“Aku baik-baik saja.” Gugi mengulas senyum tipis. “Tapi, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan sampai berdiri di tengah jalan?”

Mulan menelan ludah. “Tadi... aku sedang menghafal dialog untuk pentas. Aku sadar sudah melakukan kesalahan. Maaf karena hampir membahayakanmu.”

Refleks, Mulan membungkukkan badan.

Kenapa aku malah membungkuk? Pengaruh kebanyakan nonton drama Korea, sih.

Rasa malu membuatnya enggan mengangkat kepala. Ia bahkan tak berani menatap wajah Gugi. Melihat tingkahnya, Gugi justru terkekeh pelan.

Mulan semakin salah tingkah. Ia tidak siap jika Gugi mengetahui alasan sebenarnya. Bagaimana jika lelaki itu tahu ia sampai kehilangan fokus karena terus memikirkan ulah mantannya? Bisa-bisa ia menjadi bahan ejekan seumur hidup. Membayangkannya saja sudah cukup membuat harga dirinya terasa remuk.

“Jangan diulangi lagi, ya. Tadi aku benar-benar hampir menabrakmu.” Gugi menghela napas pelan. “Kamu masih muda. Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu sampai berdiri melamun di tengah jalan. Nanti cepat tua.”

Mulan hanya menunduk. Bibirnya bergerak pelan, tetapi tak ada satu pun kata yang berhasil keluar.   

Gugi tersenyum jahil. “Atau... jangan-jangan kamu memang sengaja berdiri di sana buat nunggu aku?”

Mulan sontak mengangkat kepala. “Apa?”

“Soalnya pas aku lewat, kamu langsung muncul. Kalau ternyata kita tidak ketemu hari ini, pasti kamu kecewa, ya?”

Wajah Mulan seketika memerah. “Bukan begitu.” Ia buru-buru menggeleng. “Aku memang sering lewat jalan ini. Cuma... hari ini aku lagi ceroboh. Lain kali pasti lebih hati-hati.”

“Baiklah.” Gugi mengangguk pelan, seolah menerima alasan itu. “Kalau begitu, berikan nomor ponselmu.”

Mulan mengerutkan dahi. “Untuk apa?”

“Jaga-jaga.”

“Jaga-jaga apa?”

Gugi menunjuk lututnya sambil meringis dibuat-buat. “Siapa tahu nanti efek tabrakannya baru terasa. Kalau tiba-tiba kakiku sakit, kan aku tahu harus menghubungi siapa.”

Raut wajah Mulan langsung berubah panik. “Benarkah? Kalau begitu kita ke puskesmas sekarang saja. Jangan ditunda.”

Gugi tak kuasa menahan tawa. “Tenang, aku cuma bercanda.” Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Sebenarnya aku cuma ingin menyimpan nomor ponselmu. Sudah lama kita tidak saling menghubungi.”

Mulan mengembuskan napas lega. Rasa malu kembali memenuhi wajahnya. “Nomorku 08xxxxxxxxxx.”

Gugi segera mengetiknya. “Kalau begitu, sekarang aku sudah punya alasan untuk menghubungimu.”

Jantung Mulan kembali berdebar. Ia hanya mampu mengangguk pelan, berharap Gugi tidak menyadari seberapa keras detak jantungnya saat itu.

“Terima kasih, Mulan. Jangan bengong lagi, ya. Aku pergi dulu.”

Gugi melambaikan tangan sebelum menyalakan mesin motornya. Mulan hanya berdiri mematung, menatap punggung lelaki itu hingga perlahan menghilang di ujung jalan.

Ya Tuhan... hari ini aku benar-benar beruntung bisa bertemu lagi dengannya. Kalau saja tidak ada siapa pun di sini, mungkin aku sudah melompat kegirangan, berteriak, "Dia milikku!" lalu memeluknya seerat yang kubisa.

Mulan mengembuskan napas pelan.

Tapi ini bukan panggung drama. Dan aku bukan pemeran utama dalam kisah yang selalu berakhir bahagia. Apakah pertemuan ini akan mengakrabkan kita kembali? Masih adakah kesempatan untuk mengulang semua yang pernah terlewat? Seandainya dulu aku menjawab perasaanmu... apakah kita akan berjalan berdampingan sampai hari ini?

Gugi adalah sahabat Mulan sejak kecil.

Aku menyukaimu.

Kalimat itu berkali-kali diucapkan Gugi ketika mereka masih sering bermain bersama. Saat itu, Mulan tak pernah merasa perlu menjawab. Baginya, ucapan itu hanyalah gurauan anak-anak yang akan menghilang seiring bertambahnya usia.

Namun, kenyataan berkata lain. Semakin dewasa, setiap kali melihat Gugi, kalimat sederhana itu justru terdengar semakin jelas di dalam ingatannya. Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Waktu telah mengubah banyak hal. Mereka masih saling mengenal, tetapi tak lagi sedekat dahulu. Kesibukan, jarak, dan kehidupan masing-masing perlahan memisahkan dua sahabat yang dulu nyaris tak pernah terpisah. Dan Mulan hanya bisa bertanya dalam diam, apakah perasaannya datang terlambat? 

***

Guci, gusi, cuci—kata-kata itu sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Namun, bagi Mulan, ada satu kata yang selalu mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat:

Gugi.

Sebuah nama yang melekat begitu kuat dalam ingatannya.

Perjuangan Mulan untuk mendapatkan informasi tentang Gugi tidak pernah mudah. Hampir semua media sosial pernah ia jelajahi. Berkat kegiatan stalking itulah, ia mengetahui satu kabar yang membuatnya tersenyum diam-diam.

Gugi tidak punya pacar. Tentu saja, itu belum cukup. Mulan diam-diam berubah menjadi mata-mata amatir.

Pagi atau sore, ia sengaja berolahraga dengan melewati rumah Gugi. Saat pulang sekolah pun, ia rela turun dari angkutan umum di depan kompleks, lalu berjalan kaki cukup jauh hanya agar bisa melewati rumah lelaki itu.

Padahal, rute itu jelas lebih melelahkan. Namun, rasa lelah selalu lenyap begitu melihat Gugi sedang bermain basket di halaman, mencuci motor, membantu orang tuanya, atau sekadar mengobrol bersama teman-temannya.

Mulan tersenyum sendiri.

Kalau dipikir-pikir, jatuh cinta memang bisa membuat seseorang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Kamu pernah jatuh cinta, kan? Apa yang biasanya kamu lakukan demi mendapatkan perhatian orang yang kamu suka? Meminta nomor ponselnya? Aku tidak seberani itu. Datang ke rumahnya? Mustahil. Mengajaknya bertemu? Jantungku pasti sudah menyerah lebih dulu. Menyewa mak comblang? Terlalu merepotkan.

Masih banyak cara untuk mendekati seseorang. Tapi aku justru memilih cara yang paling aman: mencintainya diam-diam.

Dari kejauhan, Gugi adalah sasaran bidik yang tak pernah meleset dari pandanganku. Apa pun yang dia lakukan selalu terlihat istimewa. Dan, entah mengapa, di mataku dia selalu tampak sempurna.

Hari ini Mulan kembali beraksi.

Seperti biasa, ia berdiri tidak jauh dari rumah Gugi. Setelah menunggu hampir satu menit, pintu rumah itu akhirnya terbuka. Gugi keluar sambil membawa bola basket, disusul Bagas, adiknya.

Ya! Keluar juga...

Mulan buru-buru berjongkok di dekat bak sampah agar keberadaannya tidak terlihat.

“Hei, Nak. Sedang apa di situ?” Suara seorang nenek membuat Mulan tersentak. Ia mendongak dengan senyum yang dipaksakan.

“E-eh... ini, Nek. Tadi barang saya jatuh di sekitar sini.”

“Oh ya? Barang apa? Biar Nenek bantu cari.”

Mulan menelan ludah. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. “Ti-tidak usah, Nek.” Ia menggeleng cepat. “Mungkin... mungkin sudah ikut terangkut sampah.”

“Yakin tidak apa-apa?”

“Iya, Nek. Untungnya saya masih punya cadangan di rumah.” Mulan tersenyum canggung, lalu membungkukkan badan sekilas.

“Maaf, Nek. Saya harus pergi dulu.”

Tanpa memberi kesempatan sang nenek bertanya lagi, Mulan segera melangkah cepat meninggalkan tempat itu.

Begitu jaraknya cukup jauh, ia mengembuskan napas panjang. Astaga... memalukan sekali.

Apa aku kelihatan mencurigakan? Semoga tidak ada warga kompleks yang memperhatikanku berjongkok di dekat bak sampah. Lebih parah lagi kalau sampai kabar ini terdengar oleh Gugi.

Mulan memejamkan mata sesaat. Kalau dia tahu, jangan-jangan dia malah mengira aku penguntit sungguhan.

“Mulan? Kamu melamun lagi?”

Langkah Mulan terhenti. Ia menoleh dan mendapati Gugi berdiri beberapa meter di belakangnya bersama Bagas.

“Gugi?”

Tadi ia sengaja mempercepat langkah agar tidak terlihat. Namun, usahanya sia-sia.

Gugi berjalan mendekat. Tatapannya singgah sejenak pada wajah Mulan yang masih tampak sedikit pucat, lalu turun ke rambut panjangnya yang tergerai rapi dengan sebuah jepit kecil di atas telinga.

“Jam segini baru pulang?” tanyanya. “Bagaimana kalau nanti hujan? Kamu bisa basah kuyup.”

Mulan mendengus pelan. “Kalau tidak basah, namanya bukan kehujanan.” Ia menyilangkan tangan di dada. “Kamu ini seperti wartawan, lebih cerewet daripada ibuku. Aku baru pulang belajar kelompok di kos teman. Memangnya kenapa?”

Gugi terkekeh. “Dasar jutek. Aku cuma khawatir sedikit.” Ia mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Belajar kelompok atau malah bergosip?”

Mulan memamerkan deretan giginya sambil tertawa kecil. Sebelum sempat menjawab, Bagas menyela.

“Ah, jangan-jangan habis ketemu pacar. Lihat saja wajahnya, bahagia banget. Persis orang yang baru selesai kencan.”

Suasana mendadak hening.

Mulan buru-buru tertawa, berusaha mencairkan keadaan. “Bagas, aku masih jomblo. Jadi enggak mungkin telat pulang karena pacaran.”

“Oh ya?” Bagas menyeringai usil. “Terus Yuga, Fathir, sama Kak Nikra itu siapa? Bukannya mereka semua gebetanmu? Jangan-jangan sebenarnya ada pacar yang kamu sembunyikan.”

Mulan memelototinya.

Anak ini memang hobi bikin hidupku susah. Usianya memang dua tahun lebih muda dariku, tapi kelakuannya seperti kakak yang sedang menginterogasi adiknya. Kalau saja dia bukan adik Gugi, kepalanya sudah kujitak dari tadi.

“Tukang gosip.” Mulan menyilangkan tangan. “Aku malah dengar kamu sering mengaku kalau aku ini pacarmu. Benar, ya?”

Bagas langsung menggeleng cepat. “Itu fitnah! Aku tidak mungkin suka sama perempuan yang tidak peka.” Ia mendengus pelan. “Lagian, kalau memang aku pernah bilang begitu, mana buktinya?”

Gugi dan Mulan sama-sama tertawa melihat wajah Bagas yang mulai panik.

“Harusnya kamu juga jangan gampang percaya gosip.” Mulan mengangkat dagunya penuh kemenangan. “Sebelum menyimpulkan sesuatu, tanya dulu sama orangnya.”

“Nah, itu benar.” Gugi mengangguk. “Bagas memang paling gampang kemakan gosip anak tongkrongan.”

Ia menoleh ke arah adiknya sambil tersenyum jahil. “Atau jangan-jangan kamu kesal karena sebenarnya kamu yang suka sama Mulan?”

“Wah, bukan aku!” Bagas buru-buru menunjuk kakaknya. “Kalian berdua saja yang saling suka. Tinggal ngaku, apa susahnya?”

Senyum Gugi perlahan memudar. Ia melirik Mulan sekilas sebelum terkekeh pelan.

“Kita ini sahabat sejak kecil.” Nada suaranya terdengar ringan. “Mana mungkin pacaran.”

Ia menoleh kepada Mulan. “Iya, kan?”

Mulan memaksakan seulas senyum. “Iya.”

Hanya satu kata. Namun, rasanya cukup untuk menahan semua harapan yang hampir lolos dari bibirnya.

Gugi kembali membuka percakapan. “Apa, nanti sore kamu ada waktu? Aku mau main ke rumahmu. Sudah lama kita tidak main game.”

Wajah Mulan yang sempat muram kembali berbinar. “Ada. Kabari saja kalau sudah berangkat.” Ia tersenyum penuh percaya diri. “Tapi jangan nangis kalau nanti aku yang menang.”

Gugi tertawa kecil. “Kamu belum tahu kemampuan baruku. Siap-siap kalah.”

“Belum tentu.” Mulan mengangkat sebelah alis. “Jangan menyesal kalau harga dirimu runtuh.”

“Kalian ini...” Bagas menggeleng sambil terkekeh. “Benar-benar seperti anak kecil.”

“Justru itu serunya,” jawab Gugi dan Mulan hampir bersamaan. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu tertawa.

Tawa yang terdengar ringan. Namun, tidak dengan hati Mulan.

Sahabat...

Apa tidak ada kata lain selain itu? Jadi, selama ini aku hanya akan menjadi sahabat di matamu? Kalau memang begitu, mengapa aku masih terus berharap? Bukankah lebih mudah jika aku berhenti menyukaimu?

Ya Tuhan... apakah suatu hari nanti aku akan menjadi takdirnya? Atau justru seseorang yang hanya ditakdirkan singgah sebentar dalam hidupnya?

***

Mulan masih bergelung di atas tempat tidur ketika dering ponselnya memecah keheningan pagi.

Nama Gugi terpampang di layar. Seketika rasa kantuknya menguap.

“Halo?”

“Mulan, apa kita bisa bertemu?” suara Gugi terdengar di seberang sana.

Mulan mengucek matanya. “Ada apa?”

“Aku ada perlu. Nanti saja kita bicarakan. Kamu ada acara lain?”

“Tidak ada.”

“Aku tunggu di dekat pos satpam Blok B jam sepuluh nanti.”

“Baiklah, aku datang.”

Panggilan itu berakhir.

Beberapa detik kemudian, Mulan langsung bangkit dari tempat tidur. “Astaga!”

Ia meraih handuk, berlari ke kamar mandi, lalu kembali membuka lemari pakaian. Hampir semua baju dikeluarkan hanya untuk memilih mana yang paling pantas dikenakan. Setelah itu, ia berdiri cukup lama di depan cermin, memastikan rambut dan riasannya tampak serasi.

Pukul tujuh pagi, rumah sudah dibuat gaduh oleh kepanikannya sendiri. Padahal janji bertemu masih tiga jam lagi.

Tenang, Mulan... ini cuma ketemu Gugi. Kenapa malah seperti mau menghadiri lamaran?

Meski begitu, ia tetap berangkat satu jam lebih awal. Lebih baik menunggu daripada membuat Gugi menunggu.

Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di hadapannya. Gugi turun sambil tersenyum. Namun, senyum Mulan perlahan memudar ketika melihat seorang lelaki ikut turun dari motor itu.

“Bukan... sendiri?” gumamnya lirih.

“Terima kasih sudah datang.” Gugi menghampirinya. “Maaf mengganggu waktu istirahatmu.”

“Tidak apa-apa.” Mulan berusaha tersenyum. “Memangnya ada apa?”

“Oh iya.” Gugi menoleh ke belakang. “Kenalkan, ini Albi. Sahabatku.”

Albi mengangguk ramah. Mulan membalas dengan senyum sopan, tetapi isi kepalanya sudah ribut sendiri.

Lho... ini bukan kencan?

Kenapa malah membawa sahabatnya? Aku sudah menghabiskan hampir satu jam memilih baju, padahal ternyata ini pertemuan bertiga. Kalau tahu begini, seharusnya aku mengajak Fahira juga. Setidaknya aku tidak menjadi satu-satunya orang yang salah paham.

“Mulan, kamu ingat pernah bertemu Albi sebelumnya?”

Mulan menggeleng pelan.

“Albi dulu sekolah di SMA Bakti. Dia ketua tim basket di sana. Katanya, beberapa tahun lalu timnya pernah bertanding di sekolahmu, dan kamu menjadi salah satu panitianya.”

Mulan berusaha mengingat, tetapi bayangan itu tak kunjung muncul.

Gugi tersenyum tipis. “Karena itu, hari ini aku ingin membantu meresmikan perkenalan kalian.

Mulan mengerutkan dahi. “Meresmikan...?”

Dadanya mulai dipenuhi harapan yang sulit dikendalikan.

Ya Tuhan... jangan bilang... Apa ini saatnya? Kalau benar, aku siap. Aku akan menjawab "ya". Gugi... katakan saja kalau kamu menyukaiku.

Namun, harapan itu runtuh secepat datangnya.

“Aku ke sini untuk membantu Albi.” Gugi menepuk bahu sahabatnya. “Dia ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.”

Albi tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya. “Maaf, Mulan. Aku enggak pandai memulai pembicaraan seperti ini.”

Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Pertama kali melihatmu saat pertandingan basket itu, kamu langsung menarik perhatianku. Kamu terlihat ceria, ramah, dan mudah akrab dengan siapa saja. Sejak saat itu aku mencari tahu tentangmu. Baru belakangan aku tahu kalau ternyata kamu tinggal satu kompleks dengan sahabatku.”

Tatapan Albi begitu tulus. “Aku menyukaimu.”

Mulan membeku.

“Aku berharap kamu bersedia memberiku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat.”

“Serius?” hanya itu yang mampu keluar dari bibir Mulan.

“Iya.” Albi mengangguk mantap. “Apa pun jawabanmu, aku akan menghargainya.”

Mulan menarik napas panjang. “Maaf, Albi. Rasanya ini benar-benar pertama kalinya kita berbicara. Bagaimana kalau kita mulai sebagai teman dulu?”

Albi tersenyum, meski sorot matanya menyimpan sedikit kecewa. “Tidak apa-apa. Hubungan yang baik memang dimulai dengan saling mengenal.”

Gugi ikut tersenyum. “Nah, begitu. Aku yakin kalian bakal cocok.”

Mulan menoleh sekilas ke arah Gugi. Entah mengapa, kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris dadanya.

“Yakin tidak kecewa?” goda Gugi kepada Albi. “Kupikir hari ini kamu berharap langsung punya pacar.”

Albi terkekeh kecil. “Perasaan tidak bisa dipaksa. Aku cuma berharap suatu hari nanti Mulan bisa melihatku dengan cara yang sama.”

Ia memandang Mulan penuh harap.

“Apa aku masih punya kesempatan?”

Mulan memaksakan senyum. “Tentu... kita berteman dulu.”

“Terima kasih.”

Gugi menepuk pundak Albi sambil tertawa kecil. “Tenang. Aku dukung hubungan kalian.”

Kalimat itu terdengar ringan. Namun, bagi Mulan, setiap katanya jatuh seperti batu yang menghantam hati.

Jadi... selama ini memang bukan aku yang ada di hatimu. Bahkan, orang yang paling semangat mencarikan kebahagiaan untukku adalah kamu... hanya saja kebahagiaan itu bukan bersamamu. Harusnya aku bahagia. Ada seseorang yang menyukaiku. Albi baik, ramah, dan menyenangkan. Lalu kenapa justru hatiku terasa semakin berat?

Apa Gugi benar-benar sudah tidak memiliki perasaan itu lagi? Kalau memang begitu... apa aku juga harus belajar melepaskannya? Sampai kapan aku menunggu seseorang yang setiap hari justru membuatku semakin ragu?

Sementara Albi duduk menunggu di bangku taman, Gugi mengajak Mulan berbicara beberapa langkah menjauh.

“Wajahmu lucu sekali hari ini.” Gugi tersenyum geli. “Boleh tahu apa yang sedang kamu pikirkan?”

Mulan mendengus pelan. “Dasar. Tiba-tiba saja kamu menjodohkanku dengan orang.”

Sebagai balasan, ia mencubit lengan Gugi.

“Aduh!” Gugi meringis sambil mengusap lengannya. “Sakit, Mulan.”

“Biar tahu rasa.”

“Memangnya aku salah?” Gugi mengangkat kedua bahu. “Kalian sama-sama belum punya pasangan.”

“Itu bukan urusanmu.” Mulan memutar badan hendak pergi.

Baru beberapa langkah, pergelangan tangannya tertahan. Ia menoleh. Gugi menggenggam tangannya.

“Gadis keras kepala.” Suaranya terdengar lebih lembut. “Jangan pergi dulu. Kasihan Albi kalau kamu meninggalkannya begitu saja.”

Mulan menatap tangan mereka yang masih saling bersentuhan. Dadanya kembali berdebar. Kenapa... selalu begini?

“Kalau memang ingin aku tetap di sini...” Mulan menelan ludah. “...kamu saja yang pergi.”

Gugi terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengembuskan napas pelan.

“Syukurlah.”

Mulan mengernyit. “Syukurlah?”

“Iya.” Senyum tipis terukir di wajah Gugi. “Setidaknya kamu menyuruhku pergi, bukan malah kabur lebih dulu.”

Ucapan itu langsung membuat amarah Mulan menguap. “Aku... tadi cuma kesal.” Suaranya melemah. “Jangan dimasukkan ke hati, ya!”

Gugi hanya tersenyum. Senyum sederhana itu selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Mulan.

“Tenang.” Gugi melepaskan genggaman tangannya. “Aku memang mau pergi. Biar kamu dan Albi punya waktu untuk saling mengenal.”

Jari-jari mereka akhirnya terpisah. Entah mengapa, Mulan justru merasa kehilangan kehangatan yang hanya berlangsung beberapa detik itu. Ia memandangi punggung Gugi yang mulai menjauh.

Gugi...Kenapa kamu selalu penuh kejutan? Apa sebenarnya yang sedang kamu rencanakan? Dan... kenapa kamu begitu berusaha mendekatkanku dengan orang lain?

Untuk pertama kalinya, Mulan merasa tidak lagi mampu menebak isi hati sahabatnya sendiri.

“Aku cuma ingin kamu bahagia.” Gugi tersenyum tipis. “Selama masih bisa kulakukan, aku akan mengusahakannya.”

Jawaban itu membuat Mulan tersenyum hambar. “Itu saja?” tanyanya lirih. “Menurutmu... aku benar-benar bahagia?”

Tatapan mereka saling bertaut. Gugi terdiam sesaat, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.

“Mulai hari ini, jangan terus melihat ke belakang.” Suaranya tenang. “Kenangan memang bisa membuatmu tersenyum, tapi kalau yang tersisa hanya penyesalan dan kecemasan, buat apa terus dipeluk?”

Mulan masih memandangnya tanpa berkedip.

“Melangkahlah ke depan.” Gugi melanjutkan. “Kalau memang harus memulai dari nol, enggak apa-apa. Jauh lebih baik mencoba daripada terus dikalahkan rasa takut yang sebenarnya bisa kamu hadapi.”

Mulan mengernyit. ”Aku tidak mengerti.”

Gugi mengembuskan napas pelan. “Temui Albi.”

Ia menoleh sekilas ke arah sahabatnya yang sedang menunggu. “Dia laki-laki yang tulus. Orang seperti dia enggak mudah ditemukan. Jangan sampai suatu hari nanti kamu baru menyadari nilainya setelah dia memilih pergi.”

Mulan membeku. “Lalu... menurutmu aku harus bagaimana?”

Gugi mengangkat tangan, lalu mengusap lembut kepala Mulan. “Jaga dia baik-baik.”

Sentuhan singkat itu membuat Mulan terpaku. Sebelum sempat mengatakan apa pun, Gugi sudah melangkah pergi.

Mulan hanya mampu memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Entah mengapa, setiap langkah Gugi terasa seperti membawa pergi sesuatu dari dalam hatinya.

Tak lama kemudian, Albi kembali mengajaknya berbincang. Namun, pikiran Mulan sama sekali tidak berada di sana.

Ia menjawab setiap pertanyaan sekadarnya. Tatapannya sesekali masih tertuju ke arah jalan yang baru saja dilalui Gugi, seolah berharap lelaki itu akan berbalik dan mengatakan bahwa semua yang terjadi hari ini hanyalah sebuah lelucon.

***

Sejak pertemuan minggu lalu, Mulan sengaja tidak menghubungi Gugi. Ia berusaha menghargai perasaan Albi. Bukankah itu juga yang diminta Gugi?

Siang itu, Mulan dan Albi duduk berdampingan di sebuah kafe. Masing-masing sibuk mengerjakan tugas sekolah dengan laptop yang terbuka di hadapan mereka.

Tiba-tiba, nada dering ponsel Mulan memecah keheningan. "Saengil chukha hamnida..."

Mulan spontan meraih ponselnya. Senyum tipis langsung terukir di wajahnya. Albi menghentikan aktivitasnya.

“Ada jadwal penting?”

“Tentu saja.” Mulan tidak mampu menutupi rasa bahagianya.

“Memangnya ada apa?”

Mulan tersenyum semakin lebar. “Besok ulang tahun Gugi.”

Albi terdiam.

“Besok tanggal sebelas Januari. Dia genap berusia tujuh belas tahun.” Mata Mulan berbinar penuh semangat. “Bagaimana kalau kita kasih kejutan? Kamu pasti mau bantu, kan?”

Albi masih belum menjawab.

“Mungkin kita bisa bikin pesta kecil. Enggak usah mewah, yang penting dia senang.”

Suasana mendadak hening.

“Mulan...”

“Iya?”

“Apa... Gugi belum memberi tahu apa pun?”

Senyum di wajah Mulan perlahan memudar. “Memberi tahu apa?”

Albi menatapnya ragu. “Kamu benar-benar belum tahu?”

Jantung Mulan mendadak berdegup lebih cepat. “Tahu apa, Bi?”

Albi mengembuskan napas panjang. “Kemarin sore keluarga Gugi pindah.”

Mulan membeku. “...Apa?”

“Rumah itu sudah kosong.”


Sore harinya, Mulan berdiri di depan pagar rumah yang kini tak lagi berpenghuni. Halaman yang biasanya dipenuhi suara bola basket kini sunyi.

Tak ada motor yang sedang dicuci.

Tak ada tawa Gugi.

Tak ada sapaan yang selalu membuat jantungnya berdebar.

Hanya rumah kosong.

Albi berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak mencoba menghibur.

Ia tahu, ada kesedihan yang tidak membutuhkan nasihat. Hanya membutuhkan waktu.

Air mata Mulan jatuh tanpa mampu ia bendung.

Ya Tuhan... Jadi, ini akhirnya? Inikah cara-Mu mengakhiri kisah kami?

Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal. Seandainya Engkau mengizinkan, hadirkan dia sekali lagi. Hanya sehari saja. Akan kubuat hari itu menjadi hari paling bahagia untuknya.

Aku ingin mendengar tawanya sekali lagi.

Aku ingin melihat senyumnya sekali lagi.

Gugi... kalau kamu bisa mendengar doaku, pulanglah.

Pasti masih ada sesuatu yang belum sempat kita selesaikan.Kalau suatu hari nanti kamu kembali... tolong, jangan lupakan aku.

Mulan sudah mencoba berkali-kali menghubungi Gugi. Nomor teleponnya tidak lagi bisa dihubungi. Seluruh akun media sosial yang biasa ia pantau pun menghilang begitu saja.

Seolah-olah Gugi sengaja menghapus setiap jejak yang bisa membawanya untuk ditemukan.

“Percuma, Mul.” Albi memandang Mulan dengan tatapan iba.

“Seberapa keras pun kamu mencarinya, Gugi memang sengaja tidak ingin meninggalkan jejak. Aku juga tidak tahu dia sekarang ada di mana.”

Mulan menggigit bibirnya. “Kalau saja dia berpamitan...” suaranya bergetar. “Mungkin aku tidak akan sesesak ini.”

Air mata kembali jatuh. “Aku ingin berhenti memikirkannya.” Ia tersenyum pahit. “Tapi pikiranku terus kembali ke dia. Mungkin memang seharusnya aku belajar melupakan. Bukankah dia juga pergi tanpa peduli padaku?”

Albi menggeleng pelan. “Jangan bohongi perasaanmu.”

Mulan menoleh.

"Gugi tidak pernah berhenti mencintai cinta pertamanya.”

Jantung Mulan seakan berhenti berdetak. “Apa?”

“Kalimat 'Aku menyukaimu' yang dulu sering dia ucapkan bukan sekadar candaan.” Albi menarik napas panjang. “Dia sungguh-sungguh.”

Mulan hanya mampu menatapnya tanpa berkedip.

“Setiap kali liburan, aku sering menemani Gugi melewati rumahmu.” Albi tersenyum tipis mengenang sahabatnya. “Dia berdiri diam, mengawasimu dari kejauhan, memastikan kamu baik-baik saja. Kadang dia hanya melihatmu lewat jendela rumahnya sendiri. Kadang dia sengaja mencari alasan agar bisa melihatmu lewat.”

Albi tertawa pelan, meski terdengar getir. “Kalau dipikir sekarang, tingkahnya memang konyol.”

Ia kembali terdiam.

“Lalu suatu hari. Gugi bilang dia ingin berhenti mengejarmu.”

Mata Mulan kembali dipenuhi air mata.

“Tapi...” lanjut Albi, “dia memberi satu syarat pada dirinya sendiri.”

“Syarat?”

“Dia hanya akan benar-benar melepaskanmu kalau yakin kamu bisa bahagia.”

Mulan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dadanya sesak.

“Kurasa...” Albi menundukkan kepala. “Itulah alasan dia tidak berpamitan. Kalau dia bertemu denganmu sekali lagi, mungkin dia tidak akan sanggup pergi.”

Suasana kembali sunyi.

“Maaf.” Suara Albi nyaris berbisik. “Aku seharusnya menceritakan semua ini sejak awal.”

Mulan menggeleng pelan.

Air matanya terus mengalir. Namun, kali ini bukan hanya karena kehilangan. Melainkan karena akhirnya ia mengetahui bahwa cintanya tidak pernah bertepuk sebelah tangan.


Cintaku ternyata terbalas.

Meski aku baru mengetahuinya saat semuanya telah menjadi kenangan.

Apakah itu menyakitkan? Sangat.

Apakah itu berharga? Lebih dari apa pun.

Gugi... pemilik nama paling sederhana yang justru meninggalkan jejak paling dalam di hidupku. Setiap kali aku melewati jalan menuju rumahmu, langkah kakiku selalu melambat.

Aku masih berharap pintu itu terbuka, lalu kamu berdiri di sana dengan senyum yang selama ini kurindukan. Barangkali, sebagian orang datang bukan untuk tinggal selamanya. Melainkan untuk menjadi kenangan yang terus hidup, bahkan ketika dirinya telah lama pergi.

***

Gugi... setelah kamu pergi, hidupku kembali mengujiku. Aku dikhianati oleh orang yang paling kupercaya.Fahira. Kalau saja kamu mendengarnya, mungkin kamu pun tidak akan percaya.

Suatu hari, Fahira datang dengan wajah penuh semangat.

“Mulan, aku berhasil mendapatkan nomor kontak Gugi.”

Jantungku seakan berhenti. Tanpa sadar, aku memeluknya berkali-kali. Aku begitu bahagia.

Sejak hari itu, aku mulai mengirim pesan. Dan seseorang di balik nomor itu selalu membalas.

Hari demi hari berganti menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan. Selama sebulan, aku percaya sedang berbicara denganmu.

Aku menceritakan banyak hal. Tentang sekolah. Tentang rinduku. Tentang betapa aku masih mengingatmu.

Lalu suatu hari, sebuah pesan datang.

Aku akan pulang. Besok kita bertemu di sekolah.”

Aku hampir tidak bisa tidur semalaman.

Esoknya, aku datang lebih awal. Fahira menemaniku menunggu tanpa sedikit pun mengeluh.

Satu jam.

Dua jam.

Aku tetap menunggu. Karena aku yakin, hari itu kamu benar-benar akan datang. Lalu seseorang berjalan mendekat.

Langkahnya semakin dekat. Semakin jelas.

Namun...

Bukan kamu.

Aku membeku. Orang yang berdiri di hadapanku sama sekali bukan Gugi. Melainkan Fikri. Mantan yang pernah melukaiku.

Dunia seolah berhenti berputar. Baru saat itulah aku mengetahui semuanya.

Selama sebulan, aku tidak pernah berbicara denganmu.

Setiap pesan yang kukirim.

Setiap rindu yang kuceritakan.

Setiap harapan yang kusimpan.

Tidak pernah sampai kepadamu.

Fahira sengaja memberikan nomor Fikri. Ia ingin aku melupakanmu.

Namun, ia memilih cara yang paling menyakitkan. Sejak hari itu, tak ada lagi sapaan di antara kami.

Pertemanan yang telah kami bangun bertahun-tahun berakhir begitu saja hingga kelulusan.

Ya Tuhan... Aku membenci diriku sendiri. Mengapa begitu sulit melepaskan seseorang yang bahkan sudah lama pergi?

Mungkin sekarang Gugi sedang membangun kehidupannya yang baru.

Mungkin dia telah menemukan kebahagiaannya.

Kalau begitu... sudah waktunya aku berhenti mengejar bayangannya. Sudah waktunya aku mencari kebahagiaanku sendiri.

 

 

Terima kasih

Ini ceritaku... Dilarang copypaste!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar