Jumat, 30 Mei 2014

CERPEN "RINDU"


Kita dipertemukan tanpa kalimat. Namun anggota badan penuh isyarat, tatap mata mengatakan “Perasaanku padamu tiada akhir.”

Senyum isyarat “Tetaplah simpan aku dihatimu!”. Satu hal yang tidak bisa aku terima, langkahmu semakin menjauh. Kamu yang bersemayam di lubuk hati, mengundang tangis. Aku hanya memilikimu di jalan si pemilik hati.

***

Mulan selalu suka hari Jumat. Namun minggu ini dia tandai hari jumat sebagai hari paling emosional. Dia  sampai tidak fokus pada langkah kaki.

“Apa aku akan seperti ini terus? Ini bukan polos tetapi bodoh. Sudah cukup Fikri Andria Kurniawan mempermainkanku untuk yang kedua kali, tidak bisa dimaafkan.” Mulan menggerutu kesal.

Tubuhnya berdiri di tengah jalan bertepatan dengan sepeda motor yang melaju kencang. Motor oleng karena menghindar, hampir saja terperosok ke dalam saluran air tetapi pengendara itu berhasil menahan.

Mulan terdiam, bersiap menerima kemarahan. Keringat mengucur, kaki gemetar. “Gadis bodoh. Kamu membahayakan seseorang. Jangan lari pengecut!” – Mulan.

Dari balik helm full face, tatapan mata pengendara mulai mengancam. Mulan memasang badan tegap supaya tidak dikira takut.

“Oh Tuhan” batin Mulan menjerit saat dia membuka helm. Mulan tahu berhadapan dengan siapa.

“Apa kamu terluka?” dia berbicara lembut, bukan memarahi.

“Aku malah khawatir padamu, apa kamu baik-baik saja?”

Apa yang barusan aku katakan? Apa aku berlebihan, haruskah aku koreksi? Bagaimana tidak canggung, sudah lama kami tidak komunikasi. Sejak SMA, Gugi sekolah di luarkota, sebagian besar keluarganya tinggal disana. Hanya karena Ayah, Ibu dan adiknya masih menetap di sini, setiap libur semester atau libur hari raya dia akan pulang. – Mulan.

“Aku dalam keadaan baik. Apa yang sedang kamu lakukan di tengah jalan?” tanyanya sambil mengamati Mulan.

“Tadi aku sedang menghafal naskah dialog untuk pentas. Aku tahu telah melakukan kesalahan. Maaf sudah membawamu kedalam bahaya.” reflek Mulan membungkukkan badan. Ini efek terlalu banyak nonton drama korea. Mulan sudah terlanjur malu, sampai tidak berani menatap matanya. Gugi tertawa melihat tingkah Mulan.

Mulan tidak siap menerima reaksi Gugi kalau tau Mulan tidak fokus karena memikirkan keburukan mantan. Dia akan jadi bahan ejekan, dapat dipastikan hatinya akan hancur berkeping-keping.

“Jangan lakukan lagi! Hampir saja aku menabrakmu. Kamu masih muda tidak perlu memikirkan sesuatu terlalu serius nanti cepat tua!” Gugi khawatir namun tetap menghibur. Mulan tidak mampu menjawab. 

“Apa kamu sengaja berdiri di sana karena menungguku? Bagaimana jika kita tidak bertemu? Kamu pasti kecewa.” Gugi sengaja menggoda, wajah Mulan memerah.

“Aku sudah terbiasa melewati jalan ini. Hanya hari ini saja aku ceroboh, lain kali tidak.” Mulan berusaha membela diri, namun tetap saja gelagapan.

“Baiklah kalau tidak mengaku. Berikan nomer ponselmu!”

“Untuk apa?” Mulan terkejut.

“Sepertinya kakiku sakit. Jika terjadi sesuatu padaku setelah kejadian ini, kamu harus menemuiku.” Gugi menunjuk bagian kaki, eksperesinya memperlihatkan kesakitan.

“Benarkah? Bagaimana kalau sekarang kita ke puskesmas saja!” Mulan terlihat khawatir.

“Serius sekali, aku cuma bercanda. Aku meminta nomermu karena sudah lama tidak komunikasi. Sebutkan nomermu!” Gugi mengelurkan handphone bersiap mengetik.

“Nomerku 0xxxxxxxxxxx. Jika ada apa-apa hubungi saja!”

“Terimakasih Mulan. Jangan bengong! Aku pergi dulu.” Dia melambaikan tangan, Mulan bergeming. 

Tuhan, hari ini aku beruntung bertemu dengan Gugi. Jika berada di lingkungan sunyi, aku akan melompat, berteriak “pria itu milikku” dan memeluk dia sangat erat. Namun ini bukan panggung drama. Apakah pertemuan ini akan mengakrabkan kembali pertemanan kita? Bisakah kamu mengulang kalimat di masa lalu? Jika aku membalas perasaanmu. Akankah kita bersama? – Mulan.

Gugi adalah sahabat Mulan sejak kecil. “Aku menyukaimu.” kalimat yang sering Gugi ucapkan ketika bermain bersama, tetapi Mulan merasa tidak perlu memberi jawaban. Dia menganggap kalimat itu gurauan yang akan hilang seiring berjalannya waktu.

Ketika beranjak dewasa. Setiap kali melihat Gugi, ternyata kalimat itu sangat membekas. Namun, tidak ada harapan yang bisa di jemput. Mereka adalah teman lama yang tidak seakrab dulu. Bahkan jarak telah memisahkan. 

***

Guci, gusi, cuci itu kata yang sering orang dengar, tetapi kata Gugi adalah sebuah nama yang melekat dalam ingatan seseorang. Perjalanan Mulan untuk mendapat informasi tentang Gugi tidaklah mudah.

 Mulan akan stalking dijejaring sosial apa saja. Berkat informasi itulah dia tahu Gugi tidak punya pacar.  Tidak hanya itu, Mulan juga berperan sebagai mata-mata gadungan. Mulan sengaja berolahaga pagi atau sore hari dengan melewati rumah Gugi. Bahkan pulang sekolah, dia rela berjalan kaki dari depan komplek karena jika naik mobil angkutan umum, jalur ke rumah Gugi tidak akan terlewati. Padahal jarak dari depan ke rumahnya lumayan jauh.

Rasa lelah terlupakan ketika melihat Gugi bemain bola basket di halaman rumah, mencuci motor atau sedang berbincang bersama teman bahkan keluarga.

Kamu pernah merasakan jatuh cinta bukan? Apa yang kamu lakukan untuk mendapatkan perhatian? Meminta nomer posel? Aku tidak melakukan itu. Mendatangi rumahnya? Aku tidak berani. Mengajak ketemuan di suatu tempat? Aku kurang percaya diri. Menyewa makcomblang? Itu sangat merepotkan. Masih banyak yang bisa dilakukan tetapi aku memilih mencintai diam-diam. Gugi adalah sasaran bidikan dari jarak jauh. Apapun yang dia ucapkan dan lakukan rasanya he’s perfect. – Mulan.

Hari ini Mulan beraksi lagi. Setelah menunggu satu menit, akhirnya Gugi keluar dari rumah. Dia bermain bola basket bersama Bagas, adiknya.

“Hey Nak, apa yang kamu lakukan disini?” seorang nenek memergoki Mulan berjongkok dekat bak sampah.

“Ini Nek, tadi barangku terjatuh di sini." sambil menunjuk tumpukan sampah.

“Barang apa? Bagaimana kalau nenek bantu carikan?” dia menawarkan diri, membuat Mulan jadi gelisah.

“Tidak perlu nek! Mungkin barangnya sudah dibersihkan pengangkut sampah.” gerak tubuh jadi salah tingkah.

“Apa benar tidak apa-apa?”

“Aku masih punya cadangan dirumah. Maaf Nek, aku harus segera pergi.”  Tanpa menjelaskan lagi, Mulan meninggalkan nenek tersebut.

Ini sangat memalukan, apa aku terlalu mencurigakan? Semoga orang disekitar komplek tidak memperhatikan aku berjongjok dekat bak sampah. Jangan sampai berita buruk ini menyebar, apalagi Gugi tahu. Dia pasti akan menjauh.  – Mulan.

“Mulan? apa kamu melamun lagi?” seseorang menghentikan langkah Mulan.

“Gugi?”

Mulan sengaja mempercepat langkah tetapi siapa yang tidak tertarik pada gadis berbadan tinggi, kulit kuning langsat dan geraian rambut panjang dengan jepitan kecil di atas telinga. Siapapun tidak akan melepaskan pandangan.

“Jam segini baru pulang? Bagaimana kalau hujan, kamu nanti basah kuyup.”

“Jika tidak basah namanya bukan kehujanan. Kamu seperti wartawan, lebih cerewet dari Ibuku. Aku baru pulang belajar kelompok di kosan teman. Kenapa?” jawabnya ketus.

“Dasar jutek, aku hanya sedikit khawatir. Belajar atau bergosip?” Selidik Gugi, Mulan memamerkan barisan gigi.

“Curiga sudah bertemu dengan pacar. Lihat saja wajah bahagia orang yang baru kencan!” Celetukan Bagas membuat suasana hening. Mulan tertawa mencairkan suasana.

“Bagas, aku ini masih single jadi tidak ada alasan terlambat pulang karena pacaran.” Mulan mencoba menjelaskan supaya Gugi tidak salah paham.

“Pemuda di komplek kita, Yuga, Fathir, Kak Nikra bukankah mereka gebetanmu. Sungguh gadis jahat tidak mengakui pacar sendiri. Jujur saja!” selidik Bagas.

Anak ini selalu membuatku kesal. Apa aku pernah melakukan kesalahan? Umurnya dua tahun dibawahku tetapi kelakuannya seperti akulah adiknya. Jika dia bukan adik Gugi, akan aku jitak kepalanya. – Mulan.

“Tukang gosip. Malah Aku mendengar kalau kamu mengaku pacarku, apa benar?” tuduhnya, memojokan Bagas.

“Jangan terpengaruh gosip murahan! Aku tidak menyukai perempuan tidak peka. Jika memang gosip itu benar, apa buktinya?” Gugi dan Mulan tertawa melihat ekspresi Bagas yang terpojokan.

“Aku percaya karena kamu yang mengatakannya langsung. Harusnya kamu juga jangan mudah percaya pada omongan oranglain sebelum menanyakan pada orang yang bersangkutan!” Mulan merasa menang.

“Bagas memang suka terpancing gosip anak tongkrongan. Mungkin dia tidak suka mendengar kabar tersebut karena memang menyukaimu.” Gugi ikut menjaili adiknya.

“Kalian kali yang saling suka. Mengaku saja, apa susahnya!” Bagas menatap Gugi yang terdiam. Mulan tidak berkomentar apa-apa. Mereka lalu tertawa.

“Kita sahabat sejak kecil, tidak mungkin pacaran. Iya kan Mulan?” Gugi menegaskan.

“Iya.” Mulan jadi tidak semangat.

“Mulan, nanti sore apa kamu ada waktu? aku mau main ke rumah. Sudah lama kita tidak main game.” mendengar penawaran Gugi, Mulan merasa senang.

“Aku senggang. Nanti kabari saja! Jangan menangis kalau aku yang menang!” Ledek Mulan.

“Kamu belum tau saja, sekarang aku sangat ahli. Akan aku tunjukan kehebatanku.” Gugi tidak mau kalah.

“Kalian sungguh anak-anak kurang bahagia.” Celetuk Bagas.

“Justru bahagia.” Jawab Gugi dan Mulan serempak, diselingi tawa.

Kita sahabat, apa tidak ada kata lain? Pengakuanmu hanya sebatas itu? Jika bisa, aku ingin berhenti menyukaimu! Untuk apa berjuang, jika bertepuk sebelah tangan. Tuhan, apa aku tidak boleh tahu bagaimana kehidupan kami selanjutnya? Apa takdirku dengannya atau dengan yang lain? – Mulan.

***

Mulan terbaring malas ditempat tidur. Namun dia terperanjat, saat menerima telepon dari Gugi.

“Mulan, apa kita bisa bertemu? Aku tunggu di dekat pos satpam blok B jam 10 siang nanti!”

“Ada apa?” dia masih setengah sadar.

“Aku ada perlu. Kita bicarakan saja nanti. Apa kamu ada acara lain?”

“Baiklah, aku akan menemuimu.” Dia segera mengambil handuk dengan semangat, bergegas ke kamar mandi, mengeluarkan pakaian dari lemari, memilih yang akan dikenakan dan menyiapkan alat rias. Kepanikan itu membuat kaki bertalu. 

Begitulah keributan di jam 7 pagi. Dia menunggu dengan perasaan cemas. Mulan berangkat 1 jam lebih awal dari waktu yang telah dijanjikan. Gugi datang menghampiri Mulan. Dia tidak sendiri, seorang pria berdiri dibelakang.

“Terimakasih sudah datang. Maaf mengganggu waktu istirahatmu.”

“Tidak masalah. Ada perlu apa mengajak bertemu?”

“Kenalkan ini Albi, sahabatku.” Gugi merangkul sahabatnya.

Apa ini reuni? Kenapa tidak berdua saja layaknya kencan. Dia sengaja mengajak sahabatnya sebagai pihak ke 3, Albi. Sekarang aku berhadapan dengan dua lelaki sekaligus. Jika tau akan seperti ini, aku akan mengajak Fahira sebagai partner.- Mulan.

“Mulan, apa kamu ingat pernah bertemu Albi sebelumnya?” Mulan menggeleng.

“Albi sekolah di SMA Bakti. Dia adalah ketua basket yang berbakat. Albi bilang pernah bertanding di sekolahmu dan kamu termasuk panitia disana. Supaya kedepannya berjalan lancar, aku ingin meresmikan hubungan.” jelas Gugi.

“Meresmikan hubungan?” Mulan merasa dirinya sedang melamun lagi, sehingga tidak fokus mendengarkan Gugi.

Tuhan, aku siap. Aku akan menjawab ya. Gugi, katakanlah kamu menyukaiku! – Mulan.

“Aku kesini membantu Albi. Maukah kamu menerima sahabatku lebih dari teman?” Albi tersenyum, menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.

“Maaf Mulan, tiba-tiba Gugi menyatakan tujuan kedatanganku. Pertama kali bertemu denganmu, kamu sangat menarik perhatian, ceria, penuh semangat dan sangat supel terhadap orang baru. Aku mencari informasi tentangmu. Ternyata kamu tinggal satu komplek dengan sahabatku. Aku menyukaimu, sehingga Gugi berinisiatif mempertemukan kita.” Albi menatap Mulan dengan wajah berbinar.

“Serius?” saking kagetnya, Mulan tidak bisa berkata lagi.

“Iya Mulan. Apapun keputusanmu akan aku terima.”

“Maaf Albi. Rasanya ini pertama kali kita bertemu. Bagaimana jika kita mulai dengan pertemanan saja?” jawab Mulan masih tidak percaya dengan penjelasan yang baru saja dia dengar.

“Baiklah, memang lebih baik hubungan itu diawali dengan saling mengenal satu sama lain.” Albi tersenyum pasrah.

“Yakin? Aku pikir hari ini kamu berharap Mulan menjadi kekasihmu.” Selidik Gugi.

“Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Aku hanya perlu menunggu Mulan mempunyai perasaan yang sama. Apa aku masih punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan itu lagi?” tanyanya, Mulan terpaksa senyum padahal hatinya kecewa.

“Aku akan mendukung hubungan kalian.” Gugi menepuk-nepuk pundak Albi, memberi semangat.

Harusnya aku bahagia ada yang menyukaiku. Dia baik, ramah dan menyenangkan. Tuhan, apakah Gugi tidak tertarik lagi padaku? Lalu aku harus bagaimana? Sampai kapan menunggu dia yang semakin hari menunjukan ketidakpastian. Gugi sudah melupakan perasaannya. Apa aku juga harus melakukannya? – Mulan.

Gugi dan Mulan berbincang, sedikit menjauh dari tempat Albi duduk.

“Wajahmu lucu sekali hari ini. Bolehkah aku tahu apa yang kamu pikirkan?” Gugi menggoda Mulan.

“Dasar cowok brengsek, tiba-tiba menjodohkan orang.” Mulan kesal. Dia mencubit tangan Gugi sampai meringis kesakitan.

“Memang ada yang salah? Kalian kan single.” Gugi melakukan pembelaan.

“Aku mau pergi saja.” Mulan memutar badan, Gugi menghentikan langkah Mulan. Mereka saling menatap.

“Gadis cuek, tetaplah disini! Jika kamu pergi meninggalkan Albi, akan ku tendang kamu dari bumi.” Pandangan Gugi sangat serius. Dia menggenggam erat tangan Mulan.

“Jika kamu memintaku tetap disini. Sebagai gantinya, kamu boleh pergi! Aku jadi sesak melihatmu.” Mulan kesal.

“Aku lega kamu yang memintaku pergi.” Gugi menghembuskan nafas perlahan.

“Jangan bawa perasaan! Aku tidak serius mengatakannya. Tadi aku kesal sehingga mengucapkan kalimat itu. Maaf Gugi.” Mulan seketika luluh saat Gugi begitu tenang menanggapi amarahnya. Dia tersenyum membuat hati Mulan merekah lagi.

“Aku akan pergi supaya kalian bisa berbincang.” Gugi melepaskan genggaman pada tangan Mulan.

“Gugi, kenapa kamu selalu penuh kejutan? Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? ”Mulan menahan dadanya yang tiba-tiba terasa mengganjal. Mulan penasaran apa yang Gugi inginkan, baru kali ini dia ikut campur dalam kehidupan Mulan.

“Aku ingin kamu bahagia, selagi bisa maka aku akan lakukan.” jawaban Gugi membuat Mulan tersenyum.

“Itu saja? Apa kamu berpikir aku bahagia?” mata mereka saling beradu.

“Mulai hari ini, jangan kembali ke belakang meskipun kamu bahagia mengingatnya! Namun membuatmu mencemaskan banyak hal. Melangkahlah ke depan! Tidak masalah memulai dari nol, lebih baik mencoba daripada terpaku pada ketakutanmu yang sebenarnya mampu kamu hadapi!”

“Apa maksudmu?” tanya Mulan ingin penjelasan yang lebih dimengerti.

“Temui Albi, tidak baik meninggalkan lelaki berperasaan tulus. Akan sulit menemukannya ketika dia memilih untuk meninggalkanmu. Maka sebelum dia menghilang, Jaga dia baik-baik!” Gugi mengelus lembut kepala Mulan, membuatnya kaget.

Gugi meninggalkan mereka berdua. Albi terus mengajak Mulan bercengkrama tetapi pikiran Mulan berada jauh dari tempat berpijak. Setiap diajukan pertanyaan Mulan menjawab sekenanya.

***

Semenjak pertemuan minggu lalu, Mulan tidak menghubungi Gugi, dia berusaha menghargai perasaan Albi, seperti permintaan Gugi.

Albi dan Mulan duduk tenang di cafe. Mereka membuka laptop untuk mengerjakan tugas sekolah masing-masing.

Saengil chukha hamnida.” alarm ponsel Mulan berdering.

“Apa hari ini ada jadwal yang penting?” Albi penasaran.

“Tentu saja ada.” Mulan senang mendengar alarm itu.

“Memang ada apa?” Albi menyelidiki tingkah Mulan yang langsung berubah.

“Sungguh kalian sahabat yang aneh. Bagaimana kalau besok kita adakan pesta?” Mulan sangat bersemangat.

“Pesta apa?” Albi tidak mengerti.

“Tentu saja pesta untuk merayakan ulang tahun Gugi. Albi, besokkan 11 januari. Hari spesial yang menandakan umur Gugi menginjak 17 tahun. Kita harus membuat kejutan, kamu mau membantu kan?” wajahnya memelas.

“Bagaimana bisa kita merayakan tanpa Gugi.”

“Bukankah libur sekolah belum berakhir? Apa Gugi pulang cepat? Tidak biasanya dia seperti ini.” wajah Mulan berubah kecewa.

“Apa kamu sungguh tidak tau?” Albi menerka raut wajah Mulan.

Mulan tidak tahu jika liburan semester ini terakhir kalinya Gugi pulang. Kemarin sore keluarganya pindah. Rumah tersebut telah kosong, Mulan berdiri di luar pagar. Albi menemani gadis itu tanpa berusaha meredakan air matanya. Dia tau Mulan sedang melepas beban.

Tuhan, apa ini akhir dari kisah kami? Inikah kehendakMu? Aku bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan. Bolehkah aku meminta Engkau hadirkan dia sehari saja, akan ku buat dia bahagia walau dalam waktu singkat. Aku ingin merasakan tawa yang menggema saat melihat ekspresiku. Gugi, apa kamu mendengar permintaanku, kembalilah! Pasti kamu punya urusan yang belum terselesaikan, ayo kita selesaikan! Ku mohon suatu hari kamu pulang dan ingat aku! – Mulan.

Mulan kesulitan menghubungi ponsel Gugi, jejaring sosial yang dia miliki juga menghilang. Seakan Gugi melarikan diri.

“Sekeras apapun usahamu. Gugi sengaja tidak meninggalkan jejak. Aku tidak tau. Mungkin itu yang terbaik menurutnya.” Albi memberikan pengertian.

“Jika saja Gugi berpamitan mungkin aku akan lebih tenang.” Mulan masih berurai air mata. Albi tidak berkomentar.

“Aku tidak mau memikirkannya tetapi otakku terus memaksakan. Bukankah Gugi pergi tanpa peduli padaku. Aku juga harus melakukan hal yang sama.” Mulan tetap berbicara, pipinya semakin menghangat.

“Jangan bohongi perasaanmu! Gugi tidak pernah melepaskan cinta pertamanya. Ungkapan "Aku menyukaimu” adalah kejujuran. Dia tidak menyerah mendapatkanmu. Ketika liburan, aku menemaninya mengawasimu, memperhatikan di balik jendela dan banyak hal lagi yang mungkin sangat konyol. Hingga suatu hari, dia bilang ingin melepasmu dengan syarat kamu bahagia. Mungkin Gugi sengaja tidak berpamitan supaya tidak ada yang mencegahnya pergi. Melihatmu hanya menahan dirinya. Maafkan aku karena tidak menceritakan ini dari awal.” penjelasan Albi cukup membuat hati Mulan  sedikit tenang.

Cintaku terbalas hanya dengan cerita singkat. Apakah itu berkesan? Tentu saja. Dia, kenangan yang tidak dapat aku lupakan. Kamu boleh tidak percaya, ini kisahku dengan pemilik nama unik. Tidak dapat ku jelaskan perasaan apa yang muncul ketika langkah kaki melewati jalan itu, memandang rumahnya. Berharap dia disana, melihatku yang diam-diam juga mengawasi.  Aku bahkan ingin memiliki bayangannya disetiap jalan dengan senyum dan lirikan mata tajamnya tetapi itu terlalu egois. – Mulan.

***

Gugi, setelah kamu pergi. Sebuah ujian datang padaku. Fahira, sahabat yang aku percaya telah menusuk dari belakang. Kamu tidak akan percaya ini. Dia memberitahu nomer kontakmu. Saking senangnya, aku berkali-kali memeluk Fahira.

Aku mengirim pesan dan mendapat balasan. Kejadian itu berlanjut selama tiga bulan, aku semakin merindukanmu. Aku sangat bahagia ketika kamu mengabari akan datang ke sekolah untuk menemuiku.

Aku percaya begitu saja, menunggu berjam-jam ditemani Fahira tanpa mengeluh karena aku memang berharap kamu pulang.

Hingga pertemuan itu terjadi, seseorang  dihadapanku ternyata pembohong besar. Gugi selama ini aku tidak berkomunikasi denganmu. Aku mengirim pesan pada orang yang salah. Orang yang menemuiku sangat jauh dari ekspektasi. Aku menyampaikan rindu namun sama sekali tidak berpengaruh pada Gugi yang berada di suatu tempat. Fahira ingin aku melupakanmu, namun dengan cara yang salah. Membiarkan Fikri, mantanku menjadi sosok Gugi. Sejak saat itu kami tidak bertegur sapa, pertemanan kami berakhir hingga kami lulus.

Tuhan, aku membenci diri sendiri karena tidak bisa melepaskan Gugi. Padahal Gugi tidak akan kembali, dia sedang memulai kebahagiaan. Aku juga harus mencari kebahagiaanku sendiri. – Mulan.

 

 

Terima kasih

Ini ceritaku... Dilarang copypaste!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar