Rumah tangga tidak selalu runtuh karena tidak ada cinta. Kadang, cinta masih tinggal. Namun kejujuran telah lebih dulu pergi.
Lalu, yang tersisa hanyalah dua orang yang sama-sama memilih untuk bertahan, perlahan membangun kembali kepercayaan yang sempat runtuh.
Ini bukan kisah tentang seorang perempuan yang kalah oleh perempuan lain. Ini adalah kisah tentang seseorang yang belajar bahwa memaafkan bukan berarti setiap kesalahan terbebas dari konsekuensinya.
Sebab setiap perbuatan akan memiliki pertanggungjawabannya sendiri, dan setiap luka pada akhirnya akan menemukan jalan menuju kesembuhan, selama hati masih bersedia kembali, berserah, dan pulang kepada Tuhan
.***
Festival Seni Sastra Selaras akhirnya usai. Selama tiga hari, Gedung Selaras dipenuhi para penulis, seniman, musisi, dan pencinta sastra dari berbagai kota. Stand-stand pameran mulai dibongkar satu per satu. Spanduk acara diturunkan, sementara para panitia sibuk membereskan perlengkapan yang tersisa.
Namun kesibukan di komunitas Pena Ajaib belum berakhir. Sebagai editor sekaligus salah satu pengurus komunitas, Jihan kembali tenggelam dalam rutinitasnya.
Setiap pagi ia bekerja sebagai editor naskah di sebuah penerbit independen. Menjelang sore, ia melanjutkan aktivitas di sekretariat Pena Ajaib, tempat para penulis muda berkumpul untuk berdiskusi dan mengembangkan karya.
Di atas meja kerjanya bertumpuk berbagai naskah yang menunggu untuk dibaca. Cerpen. Puisi. Novel. Esai. Semuanya harus melalui proses penyuntingan sebelum layak dipublikasikan.
Bagi sebagian orang, membaca puluhan naskah setiap hari terasa melelahkan. Namun bagi Jihan, kata-kata selalu menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Ia lebih mudah memahami isi hati seseorang melalui tulisan daripada melalui percakapan.
“Jihan.” Suara Diva membuyarkan lamunannya. “Kamu tidak bosan dari tadi baca naskah terus?”
Jihan mengangkat wajah sambil tersenyum tipis. “Kalau aku bosan, siapa yang mau mengoreksi tulisan mereka?”
Diva mengembuskan napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil di sudut ruangan. “Aku salut sama kamu.”
Jihan terkekeh pelan. “Kenapa?”
“Soalnya kamu bisa terus menulis cerita cinta, padahal hidupmu sendiri isinya patah hati.”
Jihan hanya tersenyum. “Ternyata kamu membaca semua ceritaku.”
“Jelas.” Diva menopang dagunya. “Dan aku sadar satu hal.”
“Apa?"
"Hampir semua tokoh perempuanmu selalu ditinggalkan.”
Senyum Jihan perlahan memudar. Ia tidak segera menjawab. Karena Diva tidak salah. Sebagian besar tokoh yang lahir dalam cerita-ceritanya merupakan serpihan pengalaman yang pernah ia simpan rapat-rapat.
Mungkin nama mereka berbeda. Mungkin jalan hidup mereka tidak sepenuhnya sama. Namun rasa kehilangan, penantian, dan harapan yang tertulis di setiap halaman selalu berasal dari hati Jihan sendiri.
***
Bryan bukan lelaki pertama yang hadir dalam kehidupan Jihan. Sebelumnya, ia pernah beberapa kali menjalin hubungan. Ada yang berakhir karena jarak. Ada yang memilih perempuan lain. Ada pula yang pergi tanpa pernah memberikan penjelasan.
Setiap kali Jihan mulai percaya kepada seseorang, selalu ada keadaan yang membuat hubungan itu berakhir. Hingga akhirnya Bryan datang. Lelaki itu tidak pernah mengumbar janji manis. Ia hanya hadir dengan kesederhanaan. Menemani Jihan melewati hari-hari yang tenang.
Perlahan, Jihan mulai percaya bahwa mungkin kali ini semesta akan berpihak kepadanya. Namun takdir kembali memiliki rencana yang berbeda.
Suatu sore, Bryan datang ke rumah Jihan. Mereka duduk berdampingan di teras, di atas dua bangku besi bercat putih yang selama ini menjadi saksi begitu banyak percakapan.
Bryan menundukkan kepala cukup lama sebelum akhirnya berbicara. “Aku harus pindah ke Cilacap.”
Jihan menoleh. “Kenapa?”
“Ayah sudah tidak sanggup mengurus usaha sendirian.”
Jihan hanya terdiam. Ada begitu banyak kalimat yang ingin ia ucapkan. Meminta Bryan bertahan. Meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Namun ia sadar tidak semua orang memiliki pilihan.
Bryan memandang Jihan dengan sorot mata penuh penyesalan. “Aku datang untuk pamit.”
Kalimat itu membuat dada Jihan terasa sesak. Bryan menarik napas panjang. “Dan... kurasa kita sebaiknya mengakhiri hubungan ini.”
Jihan menundukkan kepala. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada orang ketiga. Tidak ada kebencian. Hanya keadaan yang memaksa mereka berjalan ke arah yang berbeda.
“Maaf.” Hanya itu yang mampu diucapkan Bryan sebelum berdiri.
Jihan tidak berusaha menahannya. Ia hanya memandangi sosok lelaki itu hingga menghilang di ujung jalan. Sejak hari itu, Jihan kembali menjadi seseorang yang ditinggalkan.
***
Waktu terus berjalan. Kesedihan yang semula terasa begitu menyakitkan perlahan berubah menjadi kenangan yang sesekali masih datang tanpa diundang.
Jihan kembali menenggelamkan dirinya dalam dunia yang paling ia cintai. Menulis. Menyunting naskah. Dan menemani para penulis muda melalui komunitas Pena Ajaib.
Kesibukan itu perlahan mengajarkannya bahwa tidak semua kehilangan harus disesali. Ada perpisahan yang justru membawa seseorang menemukan jalan hidupnya.
Suatu sore, Jihan baru saja menyelesaikan penyuntingan naskah terakhir sebelum menutup laptopnya. Ia meregangkan kedua tangan, lalu meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping meja.
Dua notifikasi dari media sosial memenuhi layar. Pesan itu berasal dari seseorang yang sama sekali belum dikenalnya. Jihan sempat ragu untuk membukanya.
Ia tidak pernah benar-benar tertarik menjalin percakapan dengan orang asing. Namun entah mengapa, kali ini jemarinya memilih menekan tombol buka. Tanpa ia sadari, balasan sederhana yang dikirim sore itu akan menjadi awal dari kisah yang mengubah seluruh jalan hidupnya.
Pesan itu berasal dari seseorang yang belum pernah dikenalnya.
Firza.
“Suka naik gunung?”
Jihan mengernyit kecil. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat rasa penasarannya terusik.
Ia membuka profil pengirim pesan tersebut. Beranda akun itu dipenuhi foto-foto pegunungan. Hamparan awan yang memutih di atas puncak. Langit jingga menjelang matahari terbit. Tenda yang berdiri di antara rerumputan. Sesekali tampak secangkir kopi yang diletakkan di atas batu dengan latar lembah yang diselimuti kabut.
Jihan tersenyum tipis. Rupanya lelaki itu menyadari bahwa beberapa kali ia memberikan tanda suka pada unggahan-unggahannya. Setelah berpikir beberapa saat, Jihan mulai mengetik balasan.
Suka. Meski belum pernah ada gunung yang kudaki.
Tak sampai semenit, balasan kembali muncul.
Berarti kita punya hobi yang sama.
Jihan terkekeh pelan.
Sepertinya tidak juga. Aku lebih suka menikmati fotonya daripada benar-benar mendaki.
Beberapa detik kemudian muncul emoji tertawa.
Kalau begitu, suatu hari nanti aku yang akan menunjukkan pemandangannya secara langsung.
Jihan hanya menggeleng sambil tersenyum. Kalimat itu terdengar seperti candaan. Namun entah mengapa, ia merasa percakapan dengan orang asing tersebut begitu ringan.
Tidak ada rayuan. Tidak ada kata-kata yang dibuat-buat. Mereka hanya berbincang tentang hal-hal sederhana. Tentang gunung yang ingin dikunjungi. Tentang kamera yang mampu mengabadikan matahari terbit dengan sempurna. Dan tentang perjalanan yang menurut Firza, selalu menyimpan cerita di setiap langkahnya.
Hari-hari berikutnya, nama Firza semakin sering muncul di layar ponsel Jihan. Hampir setiap pagi, lelaki itu mengirimkan ucapan selamat pagi. Menjelang sore, ia membagikan foto langit yang sedang berubah warna. Sesekali ia mengirim secangkir kopi yang baru diseduh sambil bertanya,
Hari ini lagi menyunting naskah atau menulis cerita baru?
Jihan tidak pernah pandai memulai percakapan. Ia lebih sering menjadi pembaca daripada pembicara. Namun anehnya, setiap kali Firza menghubunginya, selalu ada saja hal yang membuat percakapan mereka bertahan hingga larut malam.
Perbedaan sifat mereka justru membuat hubungan itu terasa seimbang. Firza adalah pribadi yang mudah akrab dengan siapa saja. Ia gemar bercerita, melontarkan candaan, dan hampir tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Sebaliknya, Jihan lebih banyak mendengarkan.
Ia memilih setiap kata dengan hati-hati, tetapi ketika berbicara, selalu ada ketulusan yang membuat Firza merasa nyaman. Tanpa mereka sadari, percakapan yang semula hanya berawal dari sebuah foto gunung perlahan berubah menjadi kebiasaan yang selalu mereka nantikan setiap hari.
Ia lebih sering menyimak daripada berbicara. Lebih senang merangkai perasaan dalam tulisan daripada mengucapkannya secara langsung.
Suatu malam, setelah hampir dua minggu saling berkirim pesan, sebuah panggilan video tiba-tiba muncul di layar ponsel Jihan.
Nama Firza berkedip di layar ponsel. Jihan memandang layar itu beberapa saat. Ragu. Mereka bahkan belum pernah bertemu.
Haruskah ia mengangkat panggilan dari seseorang yang baru dikenalnya lewat media sosial? Belum sempat mengambil keputusan, panggilan itu terputus. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk.
Maaf, kepencet.
Jihan tersenyum kecil. Namun beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berdering. Nama yang sama muncul di layar. Kali ini disertai pesan lain.
Kalau keberatan, tidak usah diangkat. Aku cuma penasaran seperti apa wajah dan suara penulis yang ceritanya sering bikin orang tertarik.
Jihan mengembuskan napas pelan. Entah mengapa, kalimat itu membuatnya merasa nyaman.
Perlahan ia menekan tombol terima.
“Halo...” Suara Firza terdengar pelan, seolah sama gugupnya.
“Halo,” jawab Jihan singkat.
Beberapa detik pertama dipenuhi keheningan. Lalu Firza tertawa kecil. “Ternyata kamu persis seperti yang kubayangkan.”
“Memangnya seperti apa?”
“Tenang. tapi terlihat menyimpan banyak cerita.”
Jihan tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya ikut tersenyum. Malam itu mereka berbicara hampir satu jam. Tentang pekerjaan. Tentang buku-buku yang sedang dibaca. Tentang gunung yang ingin didaki. Dan tentang mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan.
Tanpa disadari, panggilan sederhana itu menjadi awal kedekatan yang perlahan mengubah hidup mereka.
Hampir tiga bulan berlalu sejak percakapan pertama. Pesan-pesan yang semula hanya membahas gunung, jalan-jalan, dan fotografi kini berubah menjadi cerita tentang keseharian. Firza hampir selalu menghubungi Jihan sepulang kerja.
Sementara Jihan biasanya membalas setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai editor dan kegiatan di komunitas Pena Ajaib.
Mereka mulai terbiasa saling mengirim foto. Firza mengirimkan pemandangan kota yang ia lewati. Jihan membalas dengan foto tumpukan naskah di meja kerjanya. Meski belum pernah bertemu secara langsung, keduanya merasa seolah telah saling mengenal sejak lama.
Suatu malam, ketika mereka sedang melakukan panggilan video, Firza tiba-tiba berkata, “Aku ingin ke Bandung.”
Jihan mengangkat wajah. “Untuk mendaki?”
Firza menggeleng sambil tersenyum. “Bukan.”
“Lalu?"
"Aku ingin bertemu kamu.”
Jihan terdiam. ”Serius?”
“Iya. Aku rasa, kalau kita memang ingin saling mengenal lebih jauh, rasanya tidak cukup hanya lewat layar ponsel.”
Ucapan itu membuat jantung Jihan berdegup lebih cepat. Belum pernah ada seseorang yang rela menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk bertemu dengannya.
Firza tersenyum. “Aku ingin memastikan bahwa perempuan yang selama ini menemaniku bercerita benar-benar ada.”
***
Seminggu kemudian, Firza benar-benar datang ke Bandung. Hari ini Jihan libur, Jihan menunggunya di sebuah halte yang tidak jauh dari rumahnya. Sejak tadi ia berkali-kali melirik jam tangan. Sesekali ia merapikan rambutnya sendiri. Rasa gugup dan penasaran bercampur menjadi satu.
Tak lama kemudian, sebuah bus berhenti di depan halte. Seorang lelaki bertubuh tinggi melangkah turun. Ia mengenakan jaket biru tua, celana jins sederhana, dan membawa ransel merah di punggungnya. Tatapannya segera menemukan sosok Jihan. Senyumnya mengembang.
“Jihan?”
Jihan berdiri perlahan dari bangku halte. “Firza?”
Untuk sesaat mereka hanya saling memandang. Kemudian Firza mengulurkan tangan. “Akhirnya kita benar-benar bertemu.”
Jihan menyambut uluran tangan itu. Entah mengapa, rasa canggung yang sejak tadi memenuhi pikirannya perlahan menghilang. Setelah berbincang sejenak, mereka langsung menuju rumah Jihan.
Setibanya di sana, Ayah dan Ibu Jihan menyambut kedatangan Firza dengan hangat. Firza menyerahkan buah tangan sederhana khas daerah asalnya sebagai tanda hormat kepada keluarga Jihan.
“Silakan masuk, Nak,” ujar Ayah Jihan sambil mempersilahkannya duduk.
“Terima kasih, Pak.”
Suasana ruang tamu perlahan mencair. Sepanjang pertemuan, Firza bersikap santun. Ia banyak menceritakan dirinya. Ia juga mendengarkan setiap percakapan yang mengalir. Jika ditanya, ia menjawab dengan tenang, sopan, dan penuh rasa hormat.
“Jauh-jauh datang ke Bandung pasti capek,” kata Ayah Jihan. “Istirahat dulu saja.”
Firza tersenyum sopan. “Terima kasih, Pak. Saya sudah diizinkan untuk menginap semalam di sini. Saya ingin bersilaturahmi sekaligus mengenal Bapak dan Ibu lebih dekat, kalau memang tidak merepotkan.”
Ayah dan Ibu Jihan saling berpandangan, lalu tersenyum.
“Tidak merepotkan sama sekali, Anggap saja rumah sendiri.” jawab Ibu Jihan.
Ucapan itu membuat Firza merasa lega. Ia mengangguk hormat. “Terima kasih banyak, Bu."
Malam itu, makan malam berlangsung hangat. Obrolan demi obrolan mengalir tanpa terasa hingga rasa canggung perlahan menghilang.
Setelah semua pekerjaan rumah selesai dan suasana mulai lengang, Firza mengajak Jihan duduk di teras.
Angin malam berembus pelan. Firza menoleh sambil tersenyum. “Ternyata kamu lebih pendiam dibanding saat video call.”
Jihan ikut tersenyum. “Dan kamu ternyata memang lebih banyak bicara.”
Firza terkekeh. “Syukurlah. Berarti aku tidak mengecewakan.”
Percakapan mereka mengalir begitu saja. Firza pandai mencairkan suasana. Ia selalu menemukan topik baru untuk dibicarakan. Sementara Jihan lebih banyak mendengarkan, sesekali menanggapi dengan senyum atau tawa pelan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jihan merasa nyaman berada di dekat seseorang. Ia belum tahu bahwa lelaki yang kini duduk di hadapannya juga sedang menyimpan sebuah rahasia yang kelak akan mengubah seluruh jalan hidup mereka.
***
Sejak pertemuan itu, hubungan mereka semakin dekat. Firza mulai berbicara tentang masa depan. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Dan tentang keinginannya membangun rumah tangga suatu hari nanti.
Perlahan, tembok yang selama ini dibangun Jihan mulai runtuh. Ia kembali belajar mempercayai seseorang. Namun, di balik semua perhatian yang diberikan Firza, ada beberapa hal kecil yang sesekali mengusik pikirannya.
Kadang Firza menghilang selama beberapa jam.Pesan Jihan hanya terbaca. Panggilan telepon tidak diangkat. Ketika akhirnya menghubungi kembali, Firza selalu memiliki alasan.
“Maaf, tadi rapat.” Atau, “Ponselku kehabisan baterai.” Kadang ia berkata, “Aku sedang menemani teman.”
Semua alasan itu terdengar masuk akal. Jihan tidak pernah memaksanya menjelaskan lebih jauh. Baginya, setiap orang memiliki kesibukan dan ruang pribadinya masing-masing.
Ia memilih percaya. Tanpa disadari kepercayaan itu perlahan berubah menjadi rasa yang jauh lebih dalam.
Namun, pada saat yang sama, ada kehidupan lain yang tidak pernah diketahui Jihan.
Di kota yang berbeda, ponsel Firza kembali berdering. Nama Lea muncul di layar. Firza memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Kenapa baru diangkat?” suara Lea terdengar kesal.
“Aku sedang sibuk.”
“Kamu selalu sibuk.”
Firza mengembuskan napas pelan. “Ada apa?”
Lea tertawa kecil. “Aku cuma kangen.”
Firza tidak menjawab. Hubungan mereka sebenarnya telah berubah sejak beberapa waktu terakhir. Lea mengaku sebagai perempuan lajang yang hidup sendiri. Ia sering bercerita tentang kesepiannya. Tentang pekerjaannya. Tentang keluarganya. Firza percaya begitu saja.
Semakin lama, sikap Lea semakin sulit dikendalikan. Ia mulai menghubungi Firza hampir setiap hari. Bukan hanya melalui pesan. Tetapi juga panggilan video di tengah malam.
Bahkan sesekali mengirim foto dan pesan-pesan bernada menggoda. Firza mulai merasa tidak nyaman. Beberapa kali ia mencoba menjaga jarak.
Ia telah bertekad menjalani hubungan yang serius dengan Jihan. Baginya, semua yang berkaitan dengan masa lalunya harus benar-benar berakhir. Namun kenyataannya tidak semudah itu.
Setiap kali Firza berusaha menjaga jarak, Lea selalu menemukan cara untuk kembali hadir. Kadang hanya mengirim pesan singkat.
“Sudah makan?”
Kadang mengirim swafoto sambil bertanya pendapat Firza tentang penampilannya. Sesekali ia menelepon tanpa alasan yang jelas. Bahkan tak jarang ia mengirim pesan-pesan bernada menggoda yang membuat Firza semakin risih.
Firza mulai jarang membalas. Jika pun menjawab, hanya seperlunya. Ia berharap sikap dinginnya membuat Lea mengerti bahwa hubungan mereka memang telah berakhir. Namun harapan itu justru membuat Lea semakin keras kepala.
Suatu malam, ponsel Firza kembali bergetar. Nama Lea muncul di layar. Firza mengembuskan napas panjang sebelum membuka pesannya.
Lea: Kamu berubah sejak kenal Jihan.
Firza tidak segera membalas. Beberapa saat kemudian, pesan lain kembali masuk.
Lea: Jangan pura-pura lupa sama semua yang pernah terjadi di antara kita.
Firza menatap layar ponselnya cukup lama. Akhirnya ia mengetik balasan.
Firza: Hubungan kita seharusnya sudah selesai.
Tak lama kemudian, panggilan dari Lea masuk. Firza sempat ragu. Namun ia tahu, jika panggilan itu diabaikan, Lea akan terus menghubunginya tanpa henti.
Dengan berat hati, ia mengangkat telepon tersebut. “Apa lagi, Lea?”
Suara perempuan itu terdengar santai. “Kamu benar-benar mau menikahi Jihan?”
“Iya.”
“Kamu yakin?”
“Aku sudah menentukan pilihanku.”
Beberapa detik hanya terdengar keheningan. Kemudian Lea tertawa pelan.
“Ternyata kamu tega juga ninggalin aku.”
Firza memejamkan mata. “Aku tidak pernah menjanjikan apa pun.”
“Tapi kamu pernah bilang nyaman sama aku.”
Firza mengusap wajahnya. “Itu dulu. Sekarang semuanya sudah berbeda.”
Nada suara Lea perlahan berubah. “Dengar, Firza. Kalau aku tidak bisa memilikimu. Jihan juga tidak akan hidup setenang yang kamu bayangkan.”
Firza langsung menegakkan tubuhnya. “Maksudmu apa?”
Lea tertawa kecil. “Aku masih menyimpan semuanya. Chat. Foto. Riwayat video call. Dan semua kenangan yang pernah kita buat.”
Firza menggenggam ponselnya semakin erat. “Lea... Jangan lakukan itu.”
“Kenapa? Kamu takut Jihan tahu siapa dirimu yang sebenarnya?”
Firza memejamkan mata sejenak. “Aku hanya ingin mengakhiri semuanya dengan baik.”
Lea kembali tertawa. Namun kali ini tawanya terdengar dingin. “Terlambat, Firza. Aku sudah terlalu jauh mempertahankanmu, tidak mungkin jika menyerah begitu saja.”
Sambungan telepon terputus. Firza masih memandangi layar ponselnya yang telah kembali gelap. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa masa lalu yang berusaha ditinggalkannya tidak akan melepaskannya semudah yang ia bayangkan.
Obsesi Lea ternyata tidak berhenti sampai di situ. Diam-diam ia mulai mencari tahu kehidupan Jihan. Media sosialnya. Tempat ia bekerja. Lingkungan keluarganya.
Semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin besar keinginannya untuk menghancurkan hubungan mereka. Lea bahkan menyusun rencana yang jauh lebih nekat.
Ia meminta seorang wanita berpura-pura menjadi kakaknya. Bersama Wanita itu, Lea mendatangi rumah orang tua Firza. Di hadapan keluarga Firza, Lea menampilkan diri sebagai perempuan yang santun. Ia mengaku memiliki hubungan yang serius dengan Firza. Bahkan mengatakan bahwa keluarga mereka telah mengetahui hubungan tersebut sejak lama.
Semua cerita itu disampaikan dengan tenang, seolah-olah merupakan kenyataan. Padahal sebagian besarnya adalah kebohongan yang telah disusun sedemikian rupa.
Lea berharap keluarga Firza mulai meragukan hubungan putra mereka dengan Jihan. Baginya, jika restu keluarga goyah, peluang Jihan untuk menikah dengan Firza pun akan ikut runtuh.
Beruntung, keluarga Firza tidak langsung mempercayai semua ucapannya. Mereka memilih meminta penjelasan langsung kepada Firza. Namun sejak hari itu, Firza sadar bahwa Lea tidak lagi sekadar ingin mempertahankan hubungan mereka. Perempuan itu mulai berusaha menghancurkan seluruh masa depannya.
Sementara itu, Jihan tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia masih percaya kepada lelaki yang perlahan berhasil membuka kembali hatinya setelah berkali-kali dikecewakan.
Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa, di balik hubungan yang tampak baik-baik saja, seseorang sedang berusaha meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja ia bangun.
Firza pun hidup dalam dua ketakutan. Takut kehilangan Jihan. Dan lebih takut lagi apabila seluruh rahasia yang selama ini disembunyikannya terbongkar sebelum ia sempat menjelaskan semuanya.
Tanpa ia sadari, waktu yang dimilikinya untuk berkata jujur semakin sedikit.
***
Beberapa bulan setelah pertemuan pertama mereka di Bandung, hubungan Jihan dan Firza berkembang semakin serius. Jarak tak lagi menjadi penghalang.
Seiring berjalannya waktu, mereka mulai mengenal keluarga, kebiasaan, hingga impian masing-masing. Jihan hanya satu kali berkunjung ke rumah keluarga Firza untuk menjalin silaturahmi dan saling mengenal lebih dekat, itu cukup berkesan. Sementara itu, Firza semakin sering berkabar dengan orangtua Jihan untuk meyakinkan bahwa niatnya membangun masa depan bersama putri mereka benar-benar tulus. Bukan lagi sekadar melepas rindu.
Suatu sore, Firza menelepon Jihan. “Aku akan datang akhir pekan ini.”
Jihan tersenyum. “Sendirian?”
Firza sengaja menggantung jawabannya beberapa detik. “Tidak. Aku datang bersama keluargaku.”
Jantung Jihan berdegup lebih cepat. “Maksudmu...?”
Firza tersenyum. “Aku ingin meminta izin kepada Ayah dan Ibumu.”
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Rumah Jihan tampak lebih ramai daripada biasanya. Ibunya sibuk menyiapkan hidangan. Ayah beberapa kali keluar rumah memastikan para tamu tidak kesulitan menemukan alamat.
Sementara itu, Jihan duduk di kamarnya. Tangannya terasa dingin. Berkali-kali ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
“Sudah siap?” tanya ibunya sambil tersenyum.
Jihan mengangguk pelan. Meski begitu, wajahnya masih menyimpan kegugupan yang sulit disembunyikan. Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Firza datang bersama kedua orang tuanya dan beberapa anggota keluarga. Mereka membawa buah tangan serta seserahan sederhana. Suasana hangat segera memenuhi ruang tamu.
Perbincangan dimulai dengan saling memperkenalkan keluarga masing-masing. Ayah Jihan memperhatikan Firza yang duduk dengan sopan di hadapannya. Ia tidak banyak berbicara. Namun setiap pertanyaan dijawab dengan tenang dan penuh hormat.
Beberapa saat kemudian, ayah Firza membuka pembicaraan. “Kedatangan kami hari ini membawa satu tujuan.”
Beliau menoleh kepada Jihan, lalu kembali memandang kedua orang tuanya. “Jika Bapak dan Ibu berkenan, kami ingin meminang putri Bapak untuk menjadi bagian dari keluarga kami.”
Ruangan seketika hening. Jihan menundukkan kepala. Pipinya memerah. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
Ayah Jihan tersenyum hangat. Beliau melirik putrinya sejenak sebelum menjawab. “Kalau memang itu yang terbaik untuk mereka berdua. Insyaallah kami merestuinya.”
Ucapan itu disambut senyum lega dari kedua keluarga. Firza menatap Jihan. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata. Namun senyum kecil yang terukir di wajah keduanya telah mewakili seluruh perasaan yang selama ini tak sempat diucapkan.
Tak seorang pun di antara mereka menyadari, bahwa kebahagiaan yang baru saja dimulai suatu hari akan diuji oleh masa lalu yang belum benar-benar selesai.
Malam itu, setelah seluruh keluarga kembali ke rumah masing-masing, Jihan masih duduk sendirian di teras.
Angin malam berembus pelan. Langit dipenuhi bintang. Suasana yang tenang membuatnya kembali mengingat perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
Ponselnya bergetar. Nama Firza muncul di layar.
Firza: Terima kasih sudah mempercayaiku.
Senyum tipis menghiasi wajah Jihan. Ia membalas singkat.
Jihan: Terima kasih sudah datang dengan cara yang paling baik.
Tak lama kemudian balasan kembali masuk.
Firza: Aku akan menjagamu seumur hidup.
Jihan memandangi kalimat itu cukup lama. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya setelah berkali-kali dikecewakan, ia merasa tidak lagi berjalan sendirian.
Semua luka yang selama ini berusaha ia sembunyikan perlahan mulai sembuh. Ia percaya. Tuhan akhirnya mempertemukannya dengan seseorang yang datang bukan sekadar membawa cinta. Melainkan juga keberanian untuk meminta restu keluarganya dengan cara yang terhormat.
Tanpa disadari.. malam itu Jihan menutup lembar terakhir dari masa lalunya. Dan bersiap membuka babak baru yang ia yakini akan dipenuhi kebahagiaan.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa seseorang di luar sana sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan semua keyakinan itu.
***
Beberapa bulan kemudian... hari yang dinantikan akhirnya tiba. Sejak pagi rumah Jihan telah dipenuhi keluarga dan kerabat. Sebagai anak perempuan pertama, hari pernikahannya dipersiapkan dengan penuh kasih sayang.
Ibunya memastikan setiap detail berjalan sebagaimana mestinya. Ayah sibuk menyambut tamu yang terus berdatangan. Doa, tawa, dan kebahagiaan memenuhi setiap sudut rumah.
Di dalam kamar, Jihan duduk di depan cermin mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading. Tangannya terasa dingin. Sesekali ia menarik napas panjang untuk meredakan gugup yang tak kunjung hilang.
Pintu kamar terbuka perlahan. Ibunya menghampiri sambil tersenyum hangat. Beliau membelai rambut putrinya dengan lembut.
“Anak Ibu sudah benar-benar dewasa.” Kalimat sederhana itu membuat mata Jihan kembali dipenuhi air mata.
Tanpa berkata apa-apa, ia memeluk ibunya erat. “Terima kasih, Bu sudah selalu menemani Jihan sampai hari ini.”
Ibunya mengusap punggung putrinya perlahan. “Mulai hari ini, ada seseorang yang akan menjagamu menggantikan Ayah dan Ibu.”
Jihan mengangguk pelan. Air matanya jatuh. Namun kali ini bukan karena kesedihan. Melainkan karena rasa syukur.
Akad nikah berlangsung dengan khidmat. Firza mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas.
Suara “sah” yang menggema dari para saksi disambut ucapan syukur dan haru dari seluruh tamu undangan.
Firza menundukkan kepala. Air mata kembali mengalir di pipinya. Bukan karena kehilangan. Melainkan karena akhirnya ia memilih seseorang yang datang melalui pintu yang benar.
Setelah akad selesai, resepsi berlangsung hangat.
Beberapa hari setelah resmi menjadi suami istri, Jihan dan Firza menempati rumah sederhana yang telah mereka siapkan bersama. Rumah itu tidak besar. Hanya memiliki dua kamar, sebuah ruang tamu kecil, dan dapur yang menyatu dengan ruang makan.
Namun bagi mereka, rumah itu sudah lebih dari cukup untuk memulai kehidupan baru. Hari-hari pertama dipenuhi berbagai penyesuaian. Jihan mulai belajar memasak makanan kesukaan Firza. Sesekali masakannya terlalu asin. Kadang pula nasinya terlalu lembek. Namun Firza tidak pernah mengeluh.
Ia selalu menghabiskan makanan di piringnya sambil tersenyum. “Kalau begini terus, aku bisa cepat gemuk.”
Jihan memukul pelan lengan suaminya. “Itu sindiran atau pujian?”
Firza terkekeh. “Pujian. Soalnya setiap pulang kerja, aku selalu pengin cepat sampai rumah.”
“Kenapa?”
“Karena ada kamu.”
Pipi Jihan langsung memerah. Firza memang bukan lelaki yang pandai merangkai kata-kata romantis. Namun kalimat-kalimat sederhana yang keluar darinya selalu mampu membuat Jihan tersenyum.
Mereka mulai terbiasa berbagi tugas. Firza menyapu lantai sebelum berangkat bekerja. Jihan membereskan dapur. Pada akhir pekan Firza pergi ke pasar. Kadang membeli bunga kecil untuk diletakkan di ruang tamu.
Malam hari menjadi waktu favorit mereka. Mereka duduk di teras ditemani secangkir kopi hangat. Firza bercerita tentang perjalanan hidupnya. Sementara Jihan membacakan naskah yang baru selesai ditulisnya. Firza selalu menjadi pembaca pertama.
“Aku bangga punya istri yang tidak pernah berhenti bermimpi.” Ucapan sederhana itu membuat Jihan merasa seluruh perjuangannya selama ini dihargai. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa memiliki rumah.
Hari-hari berlalu dengan tenang. Rumah kecil itu semakin dipenuhi tawa. Sesekali mereka berbeda pendapat. Namun tidak pernah berlarut-larut. Salah satu akan lebih dulu mengalah. Kemudian saling meminta maaf.
Firza tampak berubah. Ia lebih sabar. Lebih perhatian. Dan selalu berusaha menjadi suami yang pantas dipercaya. Sedikit demi sedikit, keraguan yang dulu pernah muncul di hati Jihan mulai menghilang.
Jika ada orang yang melihat kehidupan mereka dari luar, tak seorang pun akan menyangka bahwa rumah tangga itu pernah dibangun di atas masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Seolah-olah Firza benar-benar telah meninggalkan semua kesalahannya. Namun ratusan kilometer dari rumah kecil yang dipenuhi kebahagiaan itu, seseorang masih belum mampu menerima kenyataan.
Lea.
Perempuan itu menatap foto pernikahan Jihan dan Firza yang diunggah salah seorang kerabat di media sosial. Tatapannya tidak berpindah sedikit pun. Jemarinya menggenggam ponsel semakin erat. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
“Jadi kalian benar-benar menikah.” Ia mengusap pelan layar ponselnya, tepat pada wajah Firza.
“Aku sudah bilang, aku tidak akan menyerah semudah itu.” Lea kemudian mematikan layar ponselnya.
Tatapannya kosong. Namun di balik ketenangan itu, sebuah rencana perlahan mulai disusun. Baginya, pernikahan Firza dan Jihan bukanlah akhir dari segalanya. Melainkan awal dari permainan yang baru.
***
Satu bulan setelah pernikahan, Jihan mulai menjalani hari-harinya sebagai calon ibu. Kabar kehamilannya membawa kebahagiaan bagi kedua keluarga. Firza tampak begitu menjaga istrinya.
Ia melarang Jihan mengangkat barang-barang berat, selalu mengingatkan waktu makan, bahkan hampir setiap siang menelepon hanya untuk memastikan kondisi Jihan dan calon bayi mereka baik-baik saja. Perhatian-perhatian kecil itu membuat Jihan semakin yakin bahwa ia telah memilih lelaki yang tepat.
Siang itu Firza sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan. Jihan menghabiskan waktu sendirian di rumah ketika ponselnya tiba-tiba berdering.
Nomor yang muncul tidak dikenalnya. Jihan ragu beberapa saat, tetapi akhirnya menggeser tombol jawab.
“Halo?” Suara seorang perempuan terdengar dari seberang.
“Maaf, apakah ini benar nomor Jihan?”
“Iya, benar. Dengan siapa, ya?”
Perempuan itu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Namaku Lea.”
Jihan mengernyit pelan. Nama itu terasa asing di telinganya. “Maaf, Lea. Ada yang bisa saya bantu?”
Terdengar helaan napas dari seberang telepon. “Sebenarnya aku menghubungimu karena ada urusan yang belum selesai dengan Firza.”
Jihan mulai memperhatikan setiap kata yang diucapkan perempuan itu. “Urusan apa?”
“Aku hanya ingin menagih uang yang dulu pernah kupinjamkan kepada Firza.’
Jihan tampak terkejut. “Meminjam uang?”
“Iya. Hanya satu juta rupiah. Sudah cukup lama. Aku pikir setelah menikah, dia akan segera menghubungiku.”
Jihan berusaha tetap tenang. “Maaf... saya benar-benar tidak tahu soal itu.”
Lea tertawa pelan. “Tidak apa-apa. Mungkin memang belum sempat.”
Beberapa detik suasana berubah hening. Kemudian Lea kembali berbicara dengan nada yang terdengar akrab.
“Mas Firza memang kadang begitu.”
Kalimat itu sederhana. Namun cara Lea mengucapkannya seolah menunjukkan bahwa ia mengenal Firza jauh lebih lama daripada Jihan.
Perasaan tidak nyaman mulai muncul. Jihan berusaha mengabaikannya. Mungkin perempuan itu memang hanya teman lama suaminya. Namun tanpa disadari... Lea sedang membuka pintu pertama menuju keraguan yang perlahan akan meruntuhkan kepercayaan Jihan.
Beberapa detik hanya terdengar suara napas dari seberang telepon.
Kemudian Lea kembali berbicara. “Firza sering bercerita tentangmu.”
Jihan tersenyum tipis, meski rasa heran mulai muncul. “Oh ya?”
“Iya. Sebelum kalian menikah, dia beberapa kali menunjukkan fotomu.”
Jihan mulai mengernyit. “Kamu memang sudah lama kenal Firza?”
“Cukup lama.” Suara Lea terdengar tenang. “Dia orang yang baik. Kalau ada temannya sedang kesulitan, dia pasti membantu. Kalau aku sakit, dia selalu menanyakan kabarku. Kalau aku sedang banyak pikiran, dia juga sering meluangkan waktu mendengarkan ceritaku.”
Jihan masih berusaha berpikir positif. Mungkin Firza memang hanya memiliki teman perempuan yang cukup dekat. Namun entah mengapa, setiap kalimat yang diucapkan Lea membuat dadanya perlahan terasa sesak. Tanpa memberi kesempatan Jihan berbicara.
Lea kembali melanjutkan. “Sebenarnya aku tidak pernah kekurangan. Bapakku seorang lurah. Aku anak satu-satunya. Aku punya usaha sendiri. Mobil ada. Rumah juga ada.”
Lea terkekeh pelan. “Jadi uang satu juta itu bukan alasan aku menghubungimu.”
Jihan menarik napas pelan. “Lalu... kenapa kamu menelepon saya?”
Suara Lea mendadak berubah lebih pelan. “Aku hanya ingin mengenal perempuan yang dipilih Firza.”
Jihan terdiam. “Maksud kamu?”
“Sepertinya kamu sangat menyayanginya.”
Jihan tidak menjawab.
Lea kembali berkata, “Itulah sebabnya, aku jadi kasihan.”
Jantung Jihan berdegup lebih cepat. “Kasihan?”
“Iya. Apa Firza tidak pernah bercerita tentang masa lalunya?”
Jihan menggeleng, meski Lea tidak dapat melihatnya. ”Hanya sedikit.”
Lea mengembuskan napas panjang. “Berarti,Dia memang memilih diam.”
Keheningan kembali memenuhi sambungan telepon. Jihan menggenggam ponselnya semakin erat.
“Kamu sebenarnya ingin mengatakan apa?”
Suara Lea tetap terdengar tenang. “Sebenarnya aku tidak berniat merusak rumah tangga kalian. Tapi menurutku, seorang istri berhak mengetahui siapa lelaki yang dinikahinya.”
Jihan mulai merasakan telapak tangannya berkeringat.
Lea melanjutkan, “Saat kamu sedang mengenal Firza, aku juga masih ada di hidupnya."
Napas Jihan tercekat. “Apa maksudmu?”
“Dia datang menemuimu. Tapi setelah itu, dia masih menghubungiku. Masih menanyakan kabarku. Masih mengatakan kalau aku adalah orang yang paling membuatnya nyaman.”
Jihan memejamkan mata. Ia ingin membantah. Namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan.
Beberapa detik kemudian, Lea kembali berbicara. “Kalau kamu mengira aku menelepon untuk merebut Firza, kamu salah. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa tidak semua perempuan menikah dengan lelaki yang benar-benar jujur.”
Jihan masih terdiam. Sebelum mengakhiri panggilan, Lea berkata pelan, “Kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja langsung kepada suamimu. Dia pasti mengenalku.”
Sambungan telepon pun terputus. Jihan masih memandangi layar ponselnya yang telah kembali gelap. Perlahan kedua tangannya menyentuh perutnya yang baru mulai menyimpan kehidupan kecil.
Untuk pertama kalinya sejak menikah... ia merasakan ketakutan yang belum pernah hadir sebelumnya.
***
Menjelang malam, Firza akhirnya pulang. Begitu membuka pintu, ia langsung merasakan suasana rumah yang berbeda. Lampu ruang tamu masih menyala. Jihan duduk diam di sofa. Tatapannya kosong. Tidak ada senyum yang biasanya menyambut kepulangannya.
“Kamu belum tidur?” tanya Firza sambil meletakkan tas kerjanya.
Jihan tidak menjawab. Ia hanya menatap Firza beberapa saat. “Siapa Lea?”
Langkah Firza langsung terhenti. Ekspresinya berubah sesaat, sebelum akhirnya kembali tenang.
“Lea?”
“Iya. Siapa dia?”
Firza mencoba tersenyum. “Teman lama.”
“Hanya teman?”
“Iya. Tidak lebih.”
Jihan masih menatapnya. “Dia tadi meneleponku.”
Wajah Firza seketika menegang. “Meneleponmu? Apa yang dia katakan?”
“Katanya dia ingin menagih uang yang pernah dipinjamkan padamu.”
Firza mengembuskan napas pelan. “Oh... Memang dulu aku pernah meminjam uang darinya.”
“Hanya itu?”
Firza mengangguk.
Jihan tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak memperlihatkan kebahagiaan.
“Dia juga bilang kalian sangat dekat.”
Ruangan mendadak sunyi. Firza tidak segera menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang.
“Aku memang mengenalnya. Dulu kami cukup dekat. Tapi semuanya sudah selesai.”
“Selesai sejak kapan?” tanya Jihan lirih.
“Sebelum kita menikah. Kami sudah tidak pernah berhubungan lagi.”
Firza melangkah mendekat. Perlahan ia mencoba menggenggam tangan Jihan. Namun Jihan segera menarik tangannya.
“Kalau memang semuanya sudah selesai, kenapa kamu tidak pernah menceritakannya kepadaku?”
Firza menundukkan kepala. “Aku tidak ingin membawa masa lalu ke dalam rumah tangga kita.”
“Itu saja?”
“Karena menurutku semuanya sudah benar-benar berakhir.”
Jihan menatap suaminya lama. Selama ini Firza selalu terlihat tenang setiap kali berbicara. Namun malam itu berbeda. Tatapannya beberapa kali menghindar. Jawaban Firza terdengar begitu hati-hati.
Seolah setiap kalimat telah dipilih dengan cermat, sementara sebagian lain sengaja disimpan rapat-rapat. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Jihan merasa lelaki yang dicintainya tidak sedang berbicara dengan sepenuh kejujuran.
Perasaan itu membuat dadanya semakin sesak. Ia ingin mempercayai Firza. Sungguh ingin. Namun setiap kali berusaha menepis prasangka, wajah Lea kembali terbayang, disusul kalimat-kalimat yang terus berdengung di kepalanya.
“Kalau tidak percaya... tanyakan saja sendiri pada suamimu.”
Malam itu, sesuatu yang selama ini berdiri kokoh di dalam hatinya mulai retak. Bukan karena kemarahan. Melainkan karena keraguan.
***
Rumah kembali sunyi. Firza telah terlelap di sisi tempat tidur, sementara Jihan masih memandangi langit-langit kamar dengan mata yang tak kunjung terpejam.
Ia membalikkan tubuh berkali-kali, tetapi pikirannya tetap dipenuhi pertanyaan yang sama. Benarkah semua itu hanya masa lalu? Atau justru ada sesuatu yang sengaja disembunyikan?
Perlahan ia menoleh ke arah meja kecil di samping tempat tidur. Ponsel Firza masih tergeletak di sana. Jihan menatap benda itu cukup lama. Selama ini ia tidak pernah sekalipun membuka ponsel suaminya tanpa izin. Bukan karena tidak mampu. Melainkan karena ia percaya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, rasa percaya itu mulai dikalahkan oleh rasa takut. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih ponsel tersebut.
Ia masih mengingat pola yang beberapa kali tanpa sengaja dilihatnya ketika Firza membuka layar. Satu garis. Belok ke kanan. Turun. Layar itu terbuka.
Jantung Jihan berdegup semakin cepat. Awalnya ia hanya ingin memastikan bahwa semua ucapan Lea hanyalah kebohongan. Bahwa setelah menikah, Firza benar-benar telah meninggalkan perempuan itu. Namun kenyataan yang ia temukan justru membuat napasnya tercekat.
Jihan fokus pada mengembalikan arsip yang hilang. Hingga akhirnya dia berhasil, di dalam folder arsip masih tersimpan sebuah nama.
Lea.
Percakapan mereka memang sudah tidak terlihat. Namun belum benar-benar hilang. Dengan jemari yang mulai dingin, Jihan membuka arsip tersebut.
Satu pesan. Dua pesan. Puluhan pesan. Semakin jauh ia menggulir layar, wajahnya semakin pucat. Ada foto-foto kebersamaan mereka. Riwayat panggilan video. Percakapan bernada mesra. Ucapan rindu. Janji untuk bertemu.
Hingga bukti pemesanan hotel yang membuat tangannya hampir tak mampu lagi menggenggam ponsel. Jihan menatap tanggal yang tertera. Dadanya seperti diremas.
Saat semua itu terjadi, Firza telah mengenalnya. Bahkan sesudah datang ke Bandung, memperkenalkan diri kepada kedua orang tuanya, dan meyakinkannya bahwa hubungan mereka dibangun dengan keseriusan.
Air mata Jihan jatuh tanpa suara. Selama ini ia mengira dirinya adalah satu-satunya perempuan yang sedang diperjuangkan. Ternyata di waktu yang sama, Firza masih membiarkan perempuan lain percaya bahwa mereka memiliki masa depan bersama.
Dengan napas yang mulai tersengal, Jihan kembali menggulir percakapan hingga bagian paling akhir. Tangannya tiba-tiba berhenti. Percakapan itu berakhir beberapa hari sebelum akad nikah. Tidak ada lagi pesan setelah mereka resmi menjadi suami istri. Jihan memejamkan mata.
Berarti satu hal yang dikatakan Lea ternyata tidak benar. Firza memang pernah mengkhianatinya. Namun setelah menikah, hubungan itu benar-benar telah berakhir.
Lea sengaja mengaku bahwa Firza masih menghubunginya agar luka itu terasa lebih dalam. Tetapi kebohongan itu tidak lagi penting. Karena kenyataan yang kini berada di hadapan Jihan sudah cukup menghancurkan seluruh kepercayaannya.
Firza memang memilih mengakhiri hubungan tersebut. Namun ia membangun rumah tangga mereka di atas sebuah rahasia yang tidak pernah diungkapkan. Dan bagi Jihan pengkhianatan yang disembunyikan tetaplah pengkhianatan.
Perlahan ia mengunci kembali layar ponsel itu, menghapus kembali arsip itu, lalu meletakkannya di tempat semula. Matanya beralih kepada Firza yang masih tertidur lelap. Wajah lelaki itu tampak begitu damai.
Seolah tidak pernah menyadari bahwa satu rahasia yang disimpannya baru saja meruntuhkan seluruh dunia istrinya. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah... Jihan merasa sedang berbaring di samping seseorang yang sama sekali tidak lagi dikenalnya.
Sejak malam itu, hidup Jihan tidak lagi tenang. Ia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Memasak. Membersihkan rumah. Melayani Firza ketika pulang bekerja. Namun semua itu dilakukan tanpa benar-benar hadir.
Senyumnya menjadi tipis. Tatapannya kosong. Firza beberapa kali menyadari perubahan itu. Namun setiap kali bertanya, Jihan hanya menjawab singkat.
“Aku tidak apa-apa.”
Padahal, setiap malam ia menangis diam-diam setelah Firza terlelap.
Beberapa hari kemudian, sebuah nomor asing kembali menghubunginya. Nomor itu tidak tersimpan di daftar kontak. Namun Jihan sudah tahu siapa pengirimnya.
Lea.
Awalnya ia memilih mengabaikan setiap pesan yang masuk. Ia berharap perempuan itu akan berhenti jika tidak mendapat tanggapan. Namun harapan itu sia-sia.
Lea justru semakin sering menghubunginya.
Lea: Firza pernah bilang aku perempuan yang paling mengerti dirinya.
Jihan menggenggam ponsel tanpa membalas. Beberapa menit kemudian, pesan lain kembali muncul.
Lea: Apa dia pernah cerita tentang kami?
Jihan menarik napas panjang. Tetap diam. Seolah keheningannya adalah kemenangan bagi Lea.
Hari berikutnya, sebuah foto dikirim. Firza sedang duduk di sebuah kedai kopi. Di hadapannya tampak Lea tersenyum ke arah kamera. Jihan mengenali kemeja yang dikenakan Firza. Foto itu diambil beberapa bulan sebelum pertunangan mereka.
Ia menutup layar ponselnya. “Itu masa lalu,” bisiknya pelan kepada diri sendiri. “Aku tidak boleh terus memikirkannya.”
Namun Lea tidak pernah membiarkannya tenang. Hampir setiap hari selalu ada pesan baru. Potongan percakapan. Foto-foto lama. Tangkapan layar panggilan video. Kalimat-kalimat yang sengaja dipilih untuk mengusik pikirannya. Sedikit demi sedikit, ketenangan Jihan terkikis.
***
Suatu sore, ketika Firza sedang bekerja, sebuah pesan kembali masuk. Jihan membukanya dengan tangan yang mulai gemetar.
Lea: Aku hamil.
Jantung Jihan seakan berhenti berdetak. Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya muncul.
Lea: Kalau sesuatu terjadi padaku, bilang sama Firza supaya bertanggung jawab.
Layar ponsel mendadak terasa berat. Pikiran Jihan dipenuhi berbagai kemungkinan. Benarkah anak itu, anak Firza? Atau semua ini hanya permainan baru Lea? Ia mencoba menghubungi nomor tersebut. Tidak aktif.
Pesan berikutnya juga tidak lagi dibalas. Jihan terduduk lemas di lantai ruang tamu. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri yang tengah mengandung kehidupan kecil. Air mata kembali mengalir. Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan rasa aman di dalam rumahnya sendiri.
Malam itu, Firza baru saja meletakkan tas kerjanya ketika Jihan berdiri di hadapannya. Wajah perempuan itu pucat. Matanya sembap.
“Firza...” Suaranya bergetar. “Kita harus bicara.”
Firza langsung menghentikan langkahnya. “Ada apa?”
Jihan menyerahkan ponselnya. “Lihat sendiri.”
Firza membaca pesan-pesan itu. Wajahnya perlahan berubah tegang. “Itu tidak benar.”
Jihan menatapnya lekat. “Kalau memang tidak benar, jawab satu pertanyaanku dengan jujur.”
Firza terdiam.
Jihan menggigit bibirnya, menahan tangis yang sejak tadi ingin pecah. “Apakah kamu pernah tidur dengan Lea?”
Ruangan mendadak sunyi.
Firza menutup mata. Tangannya mengepal kuat. Beberapa detik berlalu tanpa satu pun jawaban. Keheningan itu justru membuat Jihan semakin takut.
Hingga akhirnya Firza mengembuskan napas panjang. “Iya.”
Satu kata itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada seluruh kebohongan yang pernah didengar Jihan. Firza segera menambahkan penjelasan.
“Itu terjadi jauh sebelum aku melamarmu. Aku sudah mengakhirinya. Aku benar-benar tidak tahu apakah dia hamil atau tidak. Tapi aku tidak pernah menghubunginya lagi setelah kita menikah.”
Jihan tidak lagi mendengar kalimat-kalimat berikutnya. Kepala Jihan terasa berdengung. Penjelasan Firza masih terdengar, tetapi perlahan berubah menjadi suara yang samar. Yang tertinggal di benaknya hanya satu kenyataan. Firza memang pernah memberikan ruang di hatinya kepada perempuan lain, pada saat Jihan sedang membangun mimpi tentang masa depan bersama lelaki itu.
Malam itu, sesuatu dalam diri Jihan runtuh. Bukan hanya kepercayaannya kepada Firza. Melainkan keyakinannya bahwa rumah tangga mereka dibangun tanpa kebohongan.
***
Malam-malam berikutnya menjadi jauh lebih berat. Firza berusaha menjelaskan semuanya. Ia mengatakan bahwa hubungannya dengan Lea telah berakhir sebelum akad nikah.
Ia mengaku telah memutus semua komunikasi sejak resmi menjadi suami Jihan. Bahkan ia bersikeras tidak mengetahui apakah kabar kehamilan yang disampaikan Lea benar atau hanya bagian dari kebohongan baru. Namun setiap penjelasan justru melahirkan pertanyaan lain.
“Apa masih ada yang belum kamu ceritakan?” tanya Jihan lirih.
Firza terdiam. Keheningan itu telah menjadi jawaban yang paling ditakuti Jihan. Dengan suara pelan, Firza akhirnya mengakui bahwa Lea bukan satu-satunya perempuan yang pernah dekat dengannya ketika ia mulai mengenal Jihan.
Ia memang telah memilih Jihan sebagai perempuan yang ingin dinikahinya. Namun sebelum benar-benar menutup semua hubungan, ia masih beberapa kali bertemu Lea. Bukan karena cinta yang belum selesai, melainkan karena setiap kali Firza mencoba pergi, Lea selalu mengancam akan membongkar hubungan mereka kepada Jihan.
Firza mengaku memilih menghadapi semuanya sendirian. Ia yakin dapat mengakhirinya tanpa melukai siapa pun. Namun keputusan untuk menyembunyikan semua itu justru menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya.
“Aku takut kehilanganmu,” ucap Firza dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku pikir semuanya bisa selesai sebelum kita menikah.”
Jihan tersenyum hambar. “Kamu tidak kehilangan aku karena masa lalumu, Firza.”
Ia menarik napas panjang. “Kamu kehilangan kepercayaanku karena memilih menyembunyikannya.”
Kalimat itu membuat Firza terdiam. Tidak ada lagi pembelaan. Ia sadar, tidak ada alasan yang mampu menghapus luka yang telah terlanjur diberikan.
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa pertengkaran. Justru keheninganlah yang perlahan menguasai rumah mereka. Di antara mereka hanya tersisa jarak yang tidak terlihat, tetapi terasa begitu nyata.
Hingga suatu hari, Jihan mengalami pendarahan. Dengan tangan yang terus gemetar, Firza membawanya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, ia menggenggam tangan istrinya erat-erat.
“Jihan... bertahan, ya.”
Namun takdir berkata lain. Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang tindakan. Sorot matanya menyiratkan kabar yang tidak ingin didengar siapa pun.
“Maaf, Pak... kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun janin Ibu tidak dapat diselamatkan.”
Hari-hari terus berlalu. Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam. Rumah mereka tetap berdiri seperti biasa. Sarapan masih tersaji setiap pagi. Lampu teras masih dinyalakan setiap malam.
Semua terlihat berjalan sebagaimana mestinya. Namun kehangatan yang dahulu memenuhi rumah itu perlahan menghilang. Jihan tetap menjalankan setiap kewajibannya sebagai istri.
Ia merapikan rumah. Menyiram tanaman. Menyiapkan pakaian Firza untuk bekerja. Semuanya dilakukan dengan tenang. Tanpa keluhan. Namun juga tanpa senyum. Firza menyadari perubahan itu.
Jihan tidak pernah lagi mengajaknya berbincang tentang hal-hal sederhana. Tidak lagi meminta pendapatnya tentang cerita yang sedang ditulis. Tidak lagi tertawa karena candaan-candaan kecil yang dahulu selalu menghidupkan rumah mereka.
Yang tersisa hanyalah dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi masing-masing sedang berjuang menghadapi luka dengan caranya sendiri.
Suatu malam, Firza terbangun karena mendapati sisi tempat tidur di sebelahnya kosong.
Ia bangkit dan mencari Jihan ke seluruh ruangan. Lampu ruang kerja masih menyala. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Firza melihat Jihan duduk membelakanginya.
Di atas meja tergeletak laptop yang belum pernah disentuh selama berminggu-minggu. Di sampingnya terdapat sebuah buku catatan dan pena yang dahulu hampir tak pernah lepas dari tangannya.
Jihan membuka halaman pertama. Menatapnya cukup lama. Jemarinya menggenggam pena, seolah ingin kembali menulis. Namun setelah beberapa saat, pena itu perlahan diletakkan kembali. Tak satu pun kata berhasil lahir.
Air mata jatuh setitik demi setitik di atas kertas yang masih kosong. Firza hanya berdiri di ambang pintu. Ia ingin menghampiri. Ingin memeluk perempuan yang selama ini selalu menjadi rumah baginya. Namun langkahnya terhenti.
Ia sadar... ada luka yang tidak dapat disembuhkan hanya dengan pelukan. Ada kepercayaan yang tidak dapat kembali hanya karena permintaan maaf.
Malam itu Firza memilih melakukan satu hal yang selama ini jarang ia lakukan. Ia berlutut di ruang tamu. Mengangkat kedua tangannya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi, ia menangis di hadapan Tuhan.
***
Sebuah nomor tak dikenal kembali menghubungi Jihan. Awalnya, Jihan mengira itu hanya pesan lain dari Lea. Namun kali ini, isi pesannya berbeda.
Maaf mengganggu. Saya Rani. Saya perempuan yang pernah datang bersama Lea ke rumah Firza dan mengaku sebagai kakaknya. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Saya mohon beri saya kesempatan untuk menjelaskan.
Jihan membaca pesan itu berulang kali. Dadanya kembali terasa sesak. Nama Lea saja sudah cukup membuat luka yang belum sembuh itu kembali terbuka.
Ia hampir menghapus pesan tersebut. Namun kalimat, "Saya perempuan yang pernah datang bersama Lea ke rumah Firza," membuat jemarinya berhenti.
Setelah berpikir cukup lama, Jihan akhirnya membalas.
Di mana kita bisa bertemu?
Mereka pun sepakat bertemu di sebuah kedai kopi yang tenang pada sore hari.
Rani sudah menunggu ketika Jihan tiba. Begitu melihat Jihan, ia segera berdiri. Belum sempat Jihan duduk, perempuan itu lebih dulu menundukkan kepala.
“Maafkan saya.” Suaranya bergetar. “Saya tahu permintaan maaf ini tidak akan menghapus apa pun. Tapi saya tetap harus mengatakannya.”
Jihan hanya menatapnya tanpa bicara.
“Saya orang yang mengantar Lea ke rumah Ibu Mertuamu. Saya juga yang berpura-pura menjadi kakaknya.”
Jihan menarik napas pelan. “Kenapa kamu melakukan itu?”
Rani memejamkan mata sejenak. “Karena saya percaya semua cerita Lea. Dia menangis di depan saya. Dia mengatakan Firza telah mempermainkannya. Dia bilang hanya ingin meminta penjelasan kepada keluarganya. Saya benar-benar mengira dia adalah korban.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rani. “Saya sama sekali tidak tahu kalau semua itu hanya kebohongan.”
Jihan tetap diam. Rani kembali melanjutkan. “Saya baru mengetahui kenyataan yang sebenarnya beberapa minggu setelah semuanya terjadi. Bahwa Firsa menghindari Lea karena ingin menikah denganmu.”
Sejenak suaranya terputus. “Sejak saat itu saya tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Saya merasa ikut bersalah. Saya memang tidak menyebabkan semua itu. Tapi saya ikut membantu Lea berbohong.”
Rani mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam tasnya. “Saya datang bukan untuk membela Firza. Karena dia tetap melakukan kesalahan. Saya hanya ingin kamu mengetahui seluruh kenyataan.”
Perlahan ia mendorong map itu ke hadapan Jihan. “Saya tidak ingin kamu terus hidup dalam kebohongan.”
Dengan tangan gemetar, Jihan membuka map tersebut. Lembar pertama yang dilihatnya membuat napasnya tercekat. Buku nikah. Di bawahnya terdapat Kartu Keluarga. Kemudian fotokopi akta kelahiran seorang anak laki-laki. Tangannya mulai bergetar.
“Lea, sudah menikah?”
Rani mengangguk pelan. “Sudah hampir sepuluh tahun. Dan dia memiliki seorang anak.”
Jihan mematung. Seluruh pengakuan Lea tentang dirinya sebagai perempuan lajang runtuh dalam sekejap.
Rani kembali mengeluarkan beberapa lembar kertas. “Ini percakapan yang pernah Lea kirimkan kepada saya. Dia sering menceritakan semua yang dilakukannya.”
Jihan mulai membacanya. Semakin lama wajahnya semakin pucat. Dari percakapan itu terlihat jelas bahwa Lea berkali-kali menghubungi Firza lebih dahulu.
Ia mengaku sedang sakit. Mengaku kesepian. Mengaku tidak memiliki siapa-siapa. Bahkan beberapa kali sengaja mengirim foto dan pesan bernada menggoda agar Firza tetap memperhatikannya.
Namun semakin mendekati hari pertunangan Firza dengan Jihan, isi percakapan mulai berubah.
Aku mau fokus sama perempuan yang akan jadi istriku.
Tolong jangan hubungi aku lagi.
Kita sudah selesai, Lea.
Tetapi Lea tidak pernah benar-benar berhenti. Ia berganti nomor telepon. Menghubungi Firza melalui media sosial. Bahkan membuat beberapa akun baru hanya agar pesannya tetap terbaca.
“Saya berkali-kali menyuruh Lea berhenti. Tapi dia tidak pernah mau. Dia selalu berkata kalau Firza seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak rela melihat Firza hidup bahagia bersama orang lain.”
Rani menundukkan kepalanya. “Yang paling saya sesali, Lea memilih menghancurkan rumah tangga kamu. Ia sengaja mengaku masih lajang. Sengaja mengatakan Firza masih berhubungan dengannya setelah menikah. Padahal itu semua tidak benar.”
Air mata Jihan kembali mengalir. Potongan-potongan kejadian selama beberapa bulan terakhir perlahan tersusun menjadi satu. Kedatangan Lea. Pesan-pesan yang terus berdatangan. Pengakuan tentang kehamilan.
Semuanya ternyata merupakan bagian dari kebohongan yang sengaja dibangun untuk menghancurkan kepercayaannya kepada Firza.
Rani menatap Jihan dengan mata yang memerah. “Saya tidak mengatakan Firza tidak bersalah. Dia tetap bersalah. Dia pernah menjalin hubungan dengan Lea. Dia juga salah karena tidak jujur kepada kamu sejak awal. Tapi setelah dia bertunangan dengan kamu, Firza berkali-kali berusaha mengakhiri semuanya.”
Jihan menutup map itu perlahan. Dadanya masih terasa sesak. Namun untuk pertama kalinya, ia melihat seluruh kisah itu dengan sudut pandang yang berbeda.
Lea memang telah memanipulasi banyak hal. Ia berbohong tentang status pernikahannya. Berbohong tentang kehamilan. Berbohong bahwa Firza masih menjalin hubungan dengannya setelah menikah.
Namun di sisi lain... Firza tetap bukan laki-laki yang sepenuhnya benar. Ia pernah membuka ruang bagi Lea untuk masuk ke dalam hidupnya. Ia pernah menyembunyikan masa lalunya karena takut kehilangan perempuan yang dicintainya. Dan ketakutan itulah yang pada akhirnya tumbuh menjadi kebohongan yang menghancurkan kepercayaan istrinya.
Jihan mengusap air matanya perlahan. Lukanya memang belum sembuh. Kepercayaannya belum sepenuhnya kembali. Namun setidaknya, hari itu Jihan akhirnya mengetahui kebenaran yang utuh.
Bukan kebenaran yang dibentuk oleh kebohongan Lea. Dan bukan pula kebenaran yang selama ini disembunyikan Firza.
***
Malam itu Jihan pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang, meski belum sepenuhnya damai. Tidak ada rasa lega. Tidak pula keinginan untuk segera memaafkan. Yang berubah hanyalah cara ia memandang semua yang telah terjadi.
Selama ini ia mengira Firza adalah lelaki yang dengan sengaja mempermainkan dua perempuan sekaligus. Kini ia memahami kenyataan yang jauh lebih rumit. Firza memang bersalah. Ia pernah membuka ruang bagi Lea. Ia terlalu lama membiarkan hubungan yang keliru itu berlangsung. Dan ia terlalu pengecut untuk berkata jujur sejak awal.
Namun satu hal yang kini diyakini Jihan... Firza tidak pernah kembali kepada Lea setelah mereka resmi menikah. Semua cerita tentang hubungan yang masih berlanjut hanyalah kebohongan terakhir yang sengaja diciptakan Lea. Karena ketika ia tidak mampu memiliki Firza... ia memilih menghancurkan perempuan yang berhasil memilikinya.
Hari-hari berikutnya tetap berjalan. Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam. Luka yang begitu dalam tidak mungkin sembuh hanya karena satu penjelasan. Begitu pula kepercayaan. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan pembuktian yang tidak sebentar.
Firza seolah memahami hal itu. Ia tidak lagi memaksa Jihan untuk memaafkannya. Tidak lagi mencari pembenaran. Tidak lagi mengulang permintaan maaf yang sama. Ia memilih memperbaiki semuanya melalui tindakan.
Diam-diam ia memutus seluruh hubungan yang masih tersisa dengan perempuan-perempuan dari masa lalunya. Nomor telepon mereka dihapus. Media sosial dibersihkan. Tidak ada lagi ruang bagi siapa pun untuk kembali masuk ke dalam kehidupan yang sedang ia bangun bersama Jihan.
Firza juga mulai mengikuti konseling pernikahan. Bukan karena diminta. Melainkan karena ia sadar, ada bagian dari dirinya yang harus diperbaiki sebelum berharap rumah tangga mereka ikut pulih.
Sedikit demi sedikit ia belajar menjadi pendengar. Belajar menerima kesalahan tanpa mencari alasan. Belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diminta kembali, melainkan harus dibangun sedikit demi sedikit.
Hubungannya dengan keluarga Jihan pun semakin dekat. Ia sering menemani Ayah Jihan memperbaiki halaman rumah. Membantu Ibu Jihan berbelanja. Bukan untuk mengambil hati mereka. Melainkan karena ia ingin menunjukkan bahwa penyesalannya bukan sekadar kata-kata.
Sementara itu, Jihan mulai memperhatikan semua perubahan itu. Firza tidak pernah lagi berkata, “Percayalah padaku.”
Ia hanya hadir. Setiap hari. Tanpa banyak bicara. Kadang mereka duduk berdampingan di teras sambil menikmati secangkir kopi.
Kadang berjalan sore tanpa tujuan. Kadang hanya memandangi hujan dari balik jendela. Keheningan masih tetap ada. Namun perlahan, keheningan itu tidak lagi dipenuhi kebencian.
Suatu sore, Jihan memasuki ruang kerjanya. Ruangan itu telah lama kehilangan kehidupan. Laptop masih berada di tempat semula. Tumpukan naskah tersusun rapi, seolah menunggu pemiliknya kembali.
Ia duduk perlahan. Membuka laptop yang telah berbulan-bulan tidak pernah dinyalakan. Layar menampilkan naskah terakhir yang ditulis sebelum hidupnya berubah. Kursor masih berkedip di akhir kalimat yang belum selesai.
Jihan menatapnya cukup lama. Kemudian jemarinya perlahan menyentuh papan ketik. Satu kata. Lalu satu kalimat. Tak lama kemudian, air matanya jatuh. Namun kali ini bukan karena putus asa. Melainkan karena untuk pertama kalinya ia berani melangkah lagi.
Di ambang pintu, Firza berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandangi perempuan yang dicintainya mulai menulis kembali.
Senyum tipis terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka kehilangan anak... ia melihat secercah harapan kembali menyala. Bukan karena Jihan telah melupakan semuanya. Melainkan karena Jihan mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Malam itu, setelah makan malam selesai, Jihan duduk di samping Firza. Sudah lama mereka tidak duduk sedekat itu. Keheningan kembali hadir. Namun kali ini tidak lagi terasa menyesakkan.
Jihan menatap kedua tangannya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara. “Aku masih terluka.”
Firza mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Aku mungkin tidak akan pernah bisa melupakan semua yang terjadi.”
“Aku juga tahu.”
Jihan menarik napas panjang. “Dulu aku mengira memaafkan berarti melupakan.” Ia menggeleng pelan. “Ternyata bukan. Aku tidak bisa menghapus apa yang pernah kamu lakukan. Dan tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.”
Suasana kembali hening. Sesaat kemudian Jihan menoleh. Tatapannya masih menyimpan kesedihan, tetapi tidak lagi dipenuhi kemarahan.
“Aku hanya lelah hidup bersama luka yang sama setiap hari.”
Firza menundukkan kepala. Air matanya mulai jatuh. “Aku tidak pernah meminta kamu melupakan semuanya. Sampai kapan pun aku akan menerima jika itu memang tidak bisa dilupakan.”
Jihan mengangguk perlahan. “Aku juga belum bisa kembali seperti dulu. Tapi aku ingin berhenti menghukum diriku sendiri karena kesalahan yang bukan aku lakukan.”
Kalimat itu membuat Firza menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah. “Aku minta maaf.”
Suaranya nyaris tak terdengar. “Bukan untuk membuatmu segera memaafkanku. Aku hanya benar-benar menyesal.”
Jihan memandang lelaki di sampingnya cukup lama. Kemudian, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia menggenggam tangan Firza. Genggaman itu masih ragu. Masih menyimpan luka. Namun tidak lagi menolak.
“Ini bukan kesempatan untuk mengulang masa lalu,” ucap Jihan lirih.
“Karena masa lalu tidak bisa diubah.” Ia menarik napas panjang. “Ini kesempatan untuk membuktikan bahwa kita masih bisa menjadi pribadi yang lebih baik.”
Firza membalas genggaman tangan itu dengan lembut. “Aku akan menjaganya. Bukan dengan janji. Tapi dengan setiap langkah yang akan kita jalani setelah ini.”
Mereka memang tidak kembali seperti dahulu. Ada luka yang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan mereka. Ada kenangan yang sesekali datang tanpa diundang. Dan ada seorang anak yang selamanya hidup di dalam doa mereka. Namun perlahan, rumah itu kembali bernapas.
Tawa mulai terdengar, meski belum sesering dulu. Percakapan sederhana kembali mengisi ruang makan. Jihan kembali menulis. Firza terus belajar menjadi suami yang layak dipercaya.
Mereka tidak berusaha menghidupkan kembali hubungan yang telah hancur. Karena mereka sadar, hubungan itu telah berakhir pada hari kepercayaan runtuh. Yang mereka bangun kini bukanlah kelanjutan dari masa lalu. Melainkan sebuah awal yang baru.
Awal yang lahir dari penyesalan, kejujuran, kesabaran, dan keberanian untuk terus bertumbuh bersama. Pada akhirnya mereka memahami bahwa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan.
Cinta membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan menuntut kejujuran. Dan memaafkan bukan berarti melupakan, melainkan memilih untuk tidak terus hidup sebagai tawanan masa lalu.
Dari puing-puing yang pernah menghancurkan mereka, Jihan dan Firza perlahan membangun kembali rumah itu. Bukan rumah yang sempurna. Melainkan rumah yang setiap hari dijaga dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
***
Beberapa tahun berlalu. Perlahan, kehidupan mereka menemukan iramanya kembali. Jihan kembali menulis. Bukan karena seluruh lukanya telah sembuh. Melainkan karena ia telah belajar hidup berdampingan dengan luka itu.
Setiap halaman yang ia tulis menjadi saksi bahwa seseorang boleh hancur, tetapi tidak harus berhenti melangkah. Naskah demi naskah lahir dari tangannya.
Hingga suatu hari, novel pertamanya resmi diterbitkan. Di acara peluncuran buku, Firza duduk di barisan paling depan. Ia menyaksikan Jihan berdiri di atas panggung dengan senyum yang telah lama dirindukannya. Perempuan yang pernah kehilangan semangat hidup itu kini kembali menemukan cahaya dalam dirinya.
Usai acara, Firza membeli satu eksemplar novel tersebut. Tangannya bergetar ketika membuka halaman persembahan. Di sana tertulis,
Untuk seseorang yang pernah membuatku hancur. Dan memilih tetap tinggal ketika belajar memperbaiki semuanya.
Firza menutup buku itu perlahan. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung. Jihan menghampirinya sambil tersenyum lembut.
“Rumah tangga kita memang tidak sempurna.”
Firza mengangguk pelan.
Jihan menggenggam tangannya. “Tapi kali ini, jangan ada lagi kebohongan.”
Firza membalas genggaman itu dengan erat. “Selamanya.”
Beberapa waktu kemudian, Allah memberikan kesempatan kepada Jihan untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci. Di hadapan Ka'bah, ia menengadahkan kedua tangannya. Air matanya mengalir tanpa terasa.
Ia mengucapkan syukur atas setiap jalan hidup yang pernah Allah tetapkan. Termasuk jalan yang dulu sempat ia benci karena terlalu menyakitkan. Ia memohon agar keluarganya selalu diberi kesehatan, keteguhan iman, dan keberkahan.
Kemudian, untuk terakhir kalinya, Jihan menyebut satu nama yang pernah memenuhi hidupnya dengan luka.
Lea.
“Ya Allah... Engkau mengetahui semua yang pernah terjadi. Engkau mengetahui air mata yang tidak pernah mampu hamba ceritakan kepada siapa pun. Jika ada hak hamba yang pernah dizalimi, maka hanya kepada-Mu hamba menyerahkannya. Engkaulah seadil-adilnya Hakim. Berilah setiap orang balasan sesuai amalnya, dan tuntunlah kami agar tidak lagi menjadi penyebab luka bagi orang lain.”
Jihan mengusap air matanya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun... dadanya terasa benar-benar lapang. Bukan karena semua luka telah hilang. Melainkan karena ia telah melepaskan beban yang selama ini terus ia genggam.
Ia memahami bahwa tidak semua orang harus diberi tempat kembali di dalam hidupnya. Namun setiap luka, setiap kehilangan, dan setiap pengkhianatan pada akhirnya akan menemukan keadilan di hadapan Allah Yang Maha Adil.
Dengan langkah tenang, Jihan meninggalkan pelataran Masjidil Haram. Di sampingnya, Firza berjalan dalam diam. Mereka saling menggenggam tangan. Bukan sebagai dua manusia yang memiliki kisah cinta sempurna.
Melainkan sebagai dua insan yang pernah jatuh, pernah kehilangan, pernah saling melukai, lalu memilih bertumbuh bersama. Karena mereka akhirnya memahami, bahwa rumah tangga yang kuat bukanlah rumah tangga yang tidak pernah diterpa badai.
Melainkan rumah tangga yang, setiap kali diuji, selalu memilih kembali kepada kejujuran, kepada ikhtiar, dan kepada Allah.
Terimakasih
Ini Ceritaku, dilarang copypaste!






