Kamis, 26 Januari 2012

SENJA YANG MENGHILANG

Jangan biarkan satu noda menutupi seluruh cahaya yang pernah menerangi hidupmu. 

Ingatan tentang kebaikan tetap layak disimpan, sementara kesalahan menjadi pelajaran agar langkah berikutnya lebih bijaksana. Sebab akal dan hati kitalah yang menentukan arah setiap pilihan.

Hidup bukan sekadar kumpulan hari yang berlalu, melainkan rangkaian detik yang membentuk siapa diri kita. Jika semua yang telah terjadi hanya kita anggap sebagai masa lalu yang patut dilupakan, lalu apa arti setiap waktu yang Tuhan titipkan kepada kita?

***

Panorama pedesaan membentang sejauh mata memandang. Tidak ada deretan bangunan tinggi yang menghalangi senyum mentari. Hamparan sawah, pepohonan rindang, dan angin yang berembus pelan menghadirkan ketenangan yang perlahan meredakan kegelisahan.

Luna duduk di kursi kayu balkon kamar. Matanya terpejam, sementara alunan lagu dari ponsel memenuhi kedua telinganya melalui earphone. Volume musik sengaja ia besarkan, seolah ingin menenggelamkan semua pikiran yang terus berputar di kepalanya.

Liburan kali ini ia habiskan di desa tempat ayahnya dilahirkan. Desa yang masih menyimpan kesejukan alam, jauh dari hiruk pikuk kota dan polusi kendaraan. Di tempat itu, kicauan burung saling bersahutan, gemericik sungai mengalir tanpa henti, dan suara ramah para penduduk menjadi irama yang menenangkan.

Menjelang senja, hamparan sawah berubah keemasan. Para petani berjalan pulang memanggul hasil kerja seharian, sementara anak-anak berlarian di pematang sawah dengan tawa yang memenuhi udara. Langit perlahan berubah jingga, lalu merah tembaga, seakan menjadi lukisan alam yang tak pernah gagal memikat siapa pun yang memandangnya.

Perlahan, matahari menghilang di balik jajaran gunung. Cahaya keemasannya meredup, digantikan sinar bulan yang mulai menguasai langit malam. Udara semakin dingin. Angin yang berembus pelan menyapu wajah Luna, membuatnya semakin larut dalam lamunan.

Ia menikmati keheningan itu. Bagi orang lain, malam di desa mungkin terasa sunyi. Namun bagi Luna, kesunyian justru menjadi tempat terbaik untuk berdamai dengan pikirannya.

Ia ingin melupakan sejenak segala beban yang selama ini memenuhi kepalanya. Mengizinkan dirinya berhenti berlari, lalu menerima bahwa kehidupan memang terus berputar. Ada kebahagiaan yang datang, ada kehilangan yang harus dilepaskan. Semua berjalan mengikuti takdir yang telah Tuhan gariskan.

Perjalanan hidup memang tidak selalu mudah. Kadang membawa harapan. Kadang menyeret seseorang hingga berada di titik paling rapuh. Namun di balik setiap gelap, selalu ada kuasa Tuhan yang bekerja dengan cara-Nya sendiri.

“Luna.”

Tidak ada jawaban.

“Luna!”

Masih sunyi.

Selin mengembuskan napas panjang, lalu melepaskan salah satu earphone dari telinga Luna.

“Luna! Suaraku sudah masuk belum?”

Luna tersentak. Ia membuka mata sambil menatap kesaL.

“Selin... ganggu saja.”

Selin hanya menyeringai tanpa merasa bersalah. “Kamu dari tadi kupanggil enggak nyaut. Kukira ketiduran.”

Luna kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku lagi menikmati suasana.”

“Iya, menikmati sampai lupa dunia.” Selin terkekeh, lalu menarik tangan Luna.

“Ayo. Dari tadi Nenek nyuruh kita turun. Jangan malas terus.”

Luna mendesah pelan. Meski wajahnya masih menunjukkan rasa enggan, ia akhirnya bangkit mengikuti Selin masuk ke dalam rumah.

“Ayolah, Luna. Masa liburan dihabiskan terus di dalam kamar?” bujuk Selin.

Luna menggeleng pelan. “Tentu saja tidak. Tapi aku lelah. Malam ini aku ingin istirahat.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju kamar. Tubuhnya langsung dihempaskan ke atas tempat tidur.

“Keluar dulu, ya. Cari waktu yang tepat kalau mau mengajakku mengobrol.”

Selin tersenyum kecil. “Baiklah. Maaf sudah mengganggumu. Selamat tidur.”

Luna hanya mengangguk pelan. Memang itu yang ia inginkan. Selin menutup pintu kaca balkon dengan hati-hati hingga kamar kembali temaram. Sebelum keluar, ia menghampiri tempat tidur, merapikan selimut yang menutupi tubuh Luna, lalu mengusap rambut gadis itu dengan lembut.

“Tidurlah yang nyenyak,” bisiknya pelan.

Barulah ia meninggalkan kamar.

Hari ini adalah hari ketiga Luna tinggal di desa. Rumah peninggalan kakek itu cukup besar, tetapi hanya dihuni empat orang. Ada Nenek, yang meski usianya tak lagi muda masih tampak bugar dan penuh semangat. Selin, gadis yang sejak kecil dianggap Luna sebagai sepupu, meski ia sendiri tidak pernah benar-benar mengetahui hubungan keluarga mereka. Lalu ada Teh Uci dan suaminya, A Dodi, pasangan muda yang sudah lama dianggap anak sendiri oleh Nenek.

Liburan sekolah kali ini terasa berbeda. Biasanya Luna menghabiskan waktu di kota, berkumpul bersama teman-temannya atau mengurung diri di rumah. Orang tua dari pihak ibunya telah lama meninggal, sehingga tak ada lagi tempat lain yang bisa ia kunjungi saat liburan. Karena itulah, ibunya memutuskan menitipkan Luna di rumah keluarga ayahnya.

Usia Selin hanya terpaut satu tahun darinya. Gadis itu ramah, cerewet, dan mudah akrab dengan siapa pun. Sayangnya, Luna justru kebalikannya. Ia bukan tipe orang yang mudah membuka diri. Baginya, orang yang telah lama mengenalnya saja belum tentu memahami isi hatinya. Apalagi seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari.

Sejak ayahnya meninggal, ibunya harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Waktu mereka bersama pun semakin sedikit. Luna tidak pernah menyalahkan ibunya. Namun, kesibukan itu perlahan membuat mereka seperti hidup di dunia masing-masing.

Luna tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Tetapi di balik kemandiriannya, ia terbiasa memendam semuanya seorang diri. Ia lebih memilih diam daripada bercerita. Lebih nyaman menyendiri daripada memulai percakapan.

Dan mungkin... itulah alasan mengapa Selin belum benar-benar berhasil menembus dinding yang selama ini dibangun Luna di sekeliling hatinya.

***

Kriuk... kriuk...

Suara itu memecah kesunyian kamar. Bukan bunyi jarum jam di samping ranjang. Bukan pula kokok ayam yang menandakan pagi telah tiba. Melainkan suara perut Luna yang sejak semalam belum terisi apa pun.

Ia tertidur terlalu cepat hingga melewatkan makan malam. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Luna bangkit dari tempat tidur. Pandangannya mengarah ke jam beker di atas meja.

Pukul 07.00.

Ia mengembuskan napas panjang. Rasa malas masih membebani tubuhnya, tetapi perut yang terus memprotes memaksanya beranjak menuju kamar mandi. Setelah membasuh wajah dengan air dingin, kesadarannya perlahan kembali.

“Luna, sini dulu!” terdengar suara Nenek dari arah dapur.

“Iya, Nek.” Luna berjalan menghampiri.

“Ada yang bisa kubantu?”

Nenek tersenyum sambil menggeleng. “Tidak usah. Nenek sudah menyiapkan sarapan untukmu. Duduk saja.”

Luna menurut. Ia duduk di kursi makan sambil memperhatikan Nenek yang menuangkan soto ayam hangat ke dalam mangkuk. Aroma kaldu yang harum segera memenuhi ruangan.

“Terima kasih, Nek.”

“Makanlah. Dari kemarin sore kamu tidak keluar kamar. Pasti perutmu sudah lapar.”

Luna mengangguk kecil. “Nenek tidak ikut makan?”

“Nanti saja.”

“Kalau begitu biar aku ambilkan. Kita makan bersama.”

Nenek terkekeh pelan. “Nenek sudah sarapan tadi pagi dengan Selin. Soto ayam ini hasil masakan Selin.”

Luna terdiam. Nama itu seketika mengingatkannya pada kejadian semalam. Ia membentak Selin... padahal gadis itu hanya datang menemuinya. Rasa bersalah perlahan menyusup ke dalam dadanya.

“Apa Selin memang selalu memasak?" tanya Luna pelan.

Nenek mengangguk. “Sejak kamu datang, dia selalu bangun lebih pagi. Katanya, dia ingin memasak makanan yang kamu suka.”

Luna mengangkat kepala. “Untukku?”

“Iya.” Nenek tersenyum hangat.

“Dia bilang tamu harus disambut sebaik mungkin. Lagipula, dia memang senang memasak."

Luna menatap mangkuk soto di hadapannya. Uap hangat masih mengepul perlahan. Entah mengapa... sarapan sederhana itu terasa jauh lebih hangat daripada biasanya.

Ibunya tidak pernah sempat menyiapkan sarapan seperti ini. Bukan karena tidak sayang. Melainkan karena pekerjaannya selalu menyita waktu sejak Ayah tiada. Luna pun tidak pernah benar-benar memikirkan hal itu.

Namun pagi ini, perhatian kecil dari seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari justru membuat dadanya terasa sesak.

Ia baru menyadari... orang yang semalam ia bentak ternyata bangun lebih pagi hanya untuk memasakkan sarapan.

Perlahan Luna menghabiskan isi mangkuknya hingga tandas. “Nek... Selin di mana sekarang?”

“Di halaman. Katanya mau belajar.”

Luna segera berdiri. “Terima kasih, Nek.”

Ia bergegas keluar rumah. Untuk pertama kalinya sejak tiba di desa... Luna ingin menemui seseorang lebih dulu. Bukan untuk menghindar. Melainkan untuk meminta maaf.

“Selin.”

Suara itu membuat Selin mengangkat kepala dari buku yang sedang dibacanya. Ia duduk di bawah pohon mangga yang tumbuh tidak jauh dari rumah. Begitu melihat Luna, senyum hangat langsung mengembang di wajahnya.

“Kamu sudah bangun, Putri Tidur.”

Luna berjalan mendekat dengan langkah ragu. “Sedang apa di sini?”

Selin mengangkat buku yang ada di pangkuannya. “Membaca. Sekalian menunggumu bangun.”

“Menungguku?”

Luna mengernyit. Ia memang sering melihat Selin duduk di bawah pohon itu sejak hari pertama datang ke desa. Pagi, siang, bahkan sore. Selalu dengan buku di tangan.

Ia mengira Selin hanya menyukai tempat itu. Ternyata... selama ini gadis itu juga menunggunya.

“Ada apa?” tanya Selin lembut. “Tumben mencariku.”

“Iya... aku...” Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Padahal sejak tadi ia sudah menyusun banyak kata.

Maaf.

Hanya satu kata itu. Namun entah mengapa, mengucapkannya terasa jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan.

Selin tersenyum jahil. “Jangan-jangan kamu mau minta maaf karena semalam membentakku?”

Luna langsung memalingkan wajah. “Tidak.”

“Oh...” Selin tertawa pelan. “Kalau begitu, untuk apa mencariku?”

Luna menggenggam ujung bajunya. Bibirnya berkali-kali terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Ayo, katakan saja. Maaf. Tidak sesulit itu.

Namun harga dirinya kembali mengambil alih. “Aku...”

Selin menunggu dengan sabar.

“Aku tidak suka melihatmu duduk di bawah pohon ini.”

Selin terdiam.

“Dari jendela kamarku, kamu selalu kelihatan.” Luna menundukkan kepala. “Kalau bisa... cari tempat lain.”

Kalimat itu akhirnya keluar. Bukan kalimat yang ingin ia ucapkan. Melainkan kalimat yang dipilih oleh egonya.

Beberapa detik berlalu. Selin tidak marah. Ia justru tersenyum tipis.

“Baik.” Jawaban sederhana itu membuat dada Luna semakin sesak.

Tidak ada bantahan. Tidak ada kemarahan. Justru sikap tenang Selin membuatnya merasa menjadi orang yang lebih jahat.

Luna menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya... ia datang bukan untuk mengatakan semua itu.

Ia ingin meminta maaf. Ingin berterima kasih karena Selin telah memasakkan sarapan. Ingin memperbaiki sikapnya. Tetapi ketika kesempatan itu datang, egonya kembali menang.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Luna berbalik meninggalkan Selin. Sementara di belakangnya, Selin tetap duduk di bawah pohon itu. Tatapannya mengikuti langkah Luna yang semakin menjauh.

“Kalau suatu hari nanti kamu sudah siap... “bisiknya pelan, “aku akan tetap mendengarkan dan menemanimu.”

***

Keesokan paginya, Luna kembali membuka jendela kamarnya. Seperti hari-hari sebelumnya, Selin sudah duduk di bawah pohon dengan sebuah buku di pangkuannya. Angin pagi memainkan helaian rambutnya, sementara sinar matahari yang menembus sela dedaunan membuat suasana terasa hangat.

Luna memandangnya beberapa saat. Ia ingin menyapa. Ingin tersenyum. Namun rasa malu masih menahan semua itu. Setelah menarik napas panjang, akhirnya ia memberanikan diri melangkah keluar.

“Selin.”

Selin mengangkat kepala. Begitu melihat Luna berjalan menghampirinya, ia langsung menutup bukunya.

“Ada apa?”

Luna berdiri beberapa langkah di depannya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Kali ini... ia tidak ingin membiarkan egonya menang lagi.

“Maaf. “Hanya satu kata.

Namun rasanya jauh lebih berat daripada semua kalimat yang pernah ia ucapkan.

“Aku minta maaf.” Luna menundukkan kepala. “Waktu itu... aku sangat egois. Aku mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kukatakan.”

Keheningan menyelimuti di antara mereka. Luna menunggu jawaban. Namun Selin justru melangkah mundur, lalu mengangkat buku hingga menutupi setengah wajahnya.

Luna mengerutkan dahi. “Selin...”

Tidak ada jawaban.

“Kamu masih marah padaku?”

Beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa yang tertahan.

“Luna...” Selin menurunkan bukunya sambil masih tersenyum.

“Aku enggak suka lihat wajahmu seperti itu.”

“Wajahku?” Luna refleks menyentuh pipinya. “Memangnya kenapa?”

Selin tertawa semakin lepas. “Kalau kamu terus memasang wajah memelas begitu, aku bisa ketawa seharian.”

Luna baru menyadari bahwa sejak tadi ia memang terlihat sangat gugup. Pipinya langsung memanas.

“Kamu...”

Selin buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Sudah, sudah. Aku bercanda.”

Ia tersenyum hangat. “Aku enggak pernah marah sama kamu.”

Luna menatapnya tak percaya. “Benarkah?”

“Iya.”

“Terus... kamu diam tadi?”

“Aku cuma ingin melihat seberapa serius kamu mau minta maaf.”

Luna mendesah pelan. Ternyata ia sedang dikerjai. Melihat ekspresi kesal Luna, Selin kembali tersenyum.

“Kalau begitu, sebagai gantinya aku punya satu syarat.”

“Syarat?”

“Iya.” Selin berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. “Hari ini temani aku keliling desa.”

Luna terdiam sejenak. Bersama orang lain sepanjang hari... Itu bukan sesuatu yang biasa ia lakukan. Namun mengingat semua perhatian yang telah Selin berikan selama beberapa hari terakhir, rasanya ia tidak punya alasan untuk menolak.

“Baik.”

Senyum Selin langsung mengembang. “Nah, begitu dong.”

Luna ikut tersenyum tipis. Mungkin... membuka diri memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Luna masih belum pandai memulai percakapan. Ia juga masih mudah menutup diri ketika seseorang mulai memasuki kehidupan pribadinya.

Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, ia memutuskan memberi seseorang kesempatan untuk mengenalnya sedikit lebih dekat.

Kabut tipis masih menyelimuti jalan-jalan desa. Embun menggantung di ujung dedaunan, sementara angin pagi berembus membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Luna merapatkan jaketnya. Setiap kali mengembuskan napas, uap putih keluar dari bibirnya.

“Kenapa dingin sekali...” gumamnya sambil menggosok kedua telapak tangan.

Selin yang berjalan di sampingnya justru tampak menikmati udara pagi. Ia hanya mengenakan kaus lengan pendek dan celana panjang, seolah hawa dingin sama sekali tidak mengganggunya.

Kalau setiap hari tinggal di sini, nanti juga terbiasa,” katanya sambil tersenyum.

Luna hanya mendengus pelan. “Mungkin lima tahun lagi.”

Selin tertawa.

Mereka berjalan menyusuri pematang sawah. Kabut perlahan tersingkap, memperlihatkan hamparan padi yang menghijau sejauh mata memandang. Para petani mulai berdatangan sambil memanggul cangkul di bahu. Beberapa dari mereka melambaikan tangan ketika berpapasan.

“Pagi, Neng.”

“Pagi.” Luna membalas sapaan itu dengan senyum canggung.

Suasana desa terasa begitu berbeda dengan hiruk-pikuk kota. Tak ada deru kendaraan. Yang terdengar hanya desir angin, suara burung yang bersahutan, dan gemericik air yang mengalir di saluran irigasi. Tanpa terasa, langkah mereka berubah menjadi lari kecil.

“Ayo, siapa yang duluan sampai pohon itu!” seru Selin.

“Tunggu!” Luna segera mengejarnya.

Sesekali mereka saling mendahului. Sesekali berhenti karena kehabisan napas. Lalu kembali tertawa melihat wajah masing-masing yang memerah. Sudah lama Luna tidak merasa seringan ini. Seolah-olah beban yang selama ini memenuhi pikirannya perlahan tertinggal di belakang.

“Jadi... beginikah rasanya memiliki teman?” batinnya.

Melihat Luna mulai tertinggal, Selin sengaja melambat.

“Capek?”

“Dikit.”

“Baru segini sudah menyerah?”

“Kalau cuacanya panas, mungkin aku sudah pingsan.”

Selin kembali tertawa. “Berarti sekarang saatnya ngebut.”

“Siapa takut!” Luna langsung berlari lebih dulu. “Kalah jangan nangis!”

“Heh! Tunggu!”

Tawa mereka pecah di sepanjang jalan desa. Luna terus berlari hingga akhirnya berhenti.

“Selin?”

Tidak ada jawaban. Ia menoleh ke belakang. Selin tidak lagi mengejarnya. Beberapa meter di belakang, gadis itu duduk di tepi jalan sambil menundukkan kepala.

“Selin!” Luna berlari menghampiri. “Kenapa?”

Selin tidak menjawab. Wajahnya tampak pucat. Napasnya terdengar lebih berat daripada sebelumnya. Jantung Luna berdegup kencang.

“Selin... kamu sakit?”

Perlahan Selin mengangguk. “Aku... enggak apa-apa.”

“Kamu bohong.” Luna segera merangkul bahunya. “Ayo pulang.”

“Jangan.” Suara Selin terdengar lirih. “Jangan bilang Nenek.”

“Kenapa?”

“Nanti beliau khawatir.”

Luna menatap wajah pucat itu beberapa saat. Akhirnya ia membantu Selin berpindah ke bawah pohon besar di tepi sawah. Mereka duduk bersandar sambil menikmati angin yang berembus pelan.

“Maaf...” bisik Selin. “Aku malah merepotkanmu.”

Luna menggeleng. “Tidak. Aku memang sudah berjanji akan menemanimu hari ini.”

Selin tersenyum tipis. “Kamu masih merasa bersalah karena kemarin?”

Luna menunduk. “Iya.”

“Padahal aku sudah memaafkanmu.”

“Tetap saja... Aku mengecewakanmu.”

Selin menggeleng pelan. “Luna, semua orang pernah mengecewakan orang lain. Tapi jangan biarkan satu kesalahan membuatmu terus menghukum dirimu sendiri.”

“Kalau rasa kecewa itu terlalu besar?”

Selin memandang hamparan sawah di depan mereka. “Hidup memang penuh dengan kekecewaan. Kalau setiap kecewa kita memilih berhenti melangkah berarti kita membiarkan rasa sakit mengalahkan hidup kita.”

Luna menggigit bibirnya. “Kadang aku merasa... semua orang pergi meninggalkanku. Teman mengkhianatiku. Orang yang kusayang menyakitiku. Bahkan Ibu pun terlalu sibuk untuk mendengarkan ceritaku.” Suara Luna mulai bergetar.

Selin menoleh. “Tapi Tuhan tidak pernah pergi.”

Luna ikut memandang langit. Angin kembali berembus pelan, menerbangkan rambut panjang Selin. Entah mengapa... ucapan sederhana itu terasa jauh lebih menenangkan daripada seribu nasihat yang pernah didengarnya.

***

Hari-hari berikutnya berlalu tanpa terasa. Sedikit demi sedikit, Selin berhasil mengubah kebiasaan Luna yang selama ini gemar mengurung diri di kamar. Hampir setiap pagi Selin sudah berdiri di depan pintu kamar sambil mengetuk pelan.

“Luna, ayo.”

“Mau ke mana lagi?”

“Kamu ikut saja.”

Dan anehnya, Luna tidak pernah benar-benar menolak. Suatu hari mereka menemani Teh Uci berbelanja ke pasar. Luna sibuk membawa kantong belanja, sementara Selin asyik menawar harga hingga membuat para pedagang tertawa.

Keesokan harinya mereka mengunjungi pasar malam. Selin memaksa Luna mencoba berbagai permainan, meski akhirnya mereka sama-sama kalah dan pulang hanya membawa dua gantungan kunci murah sebagai hadiah hiburan.

Saat cuaca cerah, mereka bermain di sungai bersama anak-anak desa. Luna yang awalnya hanya duduk di tepi sungai akhirnya ikut saling menyiram air hingga pakaiannya basah kuyup.

Di lain waktu mereka memancing di pematang sawah, memasak bersama di dapur, membantu Teh Uci membereskan rumah, bahkan ikut A Dodi ke ladang untuk memanen sayuran.

Semua hal itu terasa baru bagi Luna. Tangannya yang biasa memegang buku kini belajar memegang cangkul. Kakinya yang terbiasa menginjak lantai keramik mulai akrab dengan lumpur sawah. Tak sekali pun Selin mengeluh ketika Luna melakukan kesalahan. Ia selalu mengajari dengan sabar.

“Begini, Luna.”

“Bukan begitu.”

“Iya... sekarang sudah benar.”

Tanpa disadari, senyum Luna semakin sering terlihat. Hari-hari yang dulu terasa panjang kini justru berlalu terlalu cepat.


Tak terasa, hari terakhir liburan akhirnya tiba. Mobil yang dikirim Ibu akan datang menjelang siang untuk menjemput Luna kembali ke kota.

Entah mengapa, kabar itu tidak lagi membuatnya senang seperti saat pertama datang ke desa. Justru ada rasa berat yang perlahan memenuhi dadanya.

Ia menatap halaman rumah yang selama beberapa minggu terakhir menjadi tempatnya menghabiskan waktu. Rumah sederhana itu kini terasa begitu akrab. Ada Nenek yang selalu menyiapkan sarapan hangat. Ada Teh Uci yang sering mengajaknya memasak. Ada A Dodi yang sabar mengajarinya bekerja di ladang. Dan... ada Selin. Orang pertama yang berhasil membuatnya keluar dari cangkang yang selama ini ia bangun sendiri.

“Melamun lagi?” Suara Selin membuyarkan pikirannya.

“Tidak.”

“Karena hari ini hari terakhir...” Selin menggenggam tangan Luna. “...kita harus bersenang-senang sampai puas.”

Luna tersenyum tipis. “Terserah kamu.”

“Itu baru Luna yang kukenal.”

Tanpa memberi kesempatan untuk menolak, Selin menarik tangan Luna. Mereka berlari menyusuri jalan desa. Tawa keduanya bercampur dengan suara gemericik sungai.

Angin pagi berembus membawa aroma tanah basah. Di kejauhan, para petani mulai memenuhi sawah sambil memanggul cangkul di bahu. Beberapa melambaikan tangan ketika melihat mereka berlari. Luna membalas lambaian itu sambil tersenyum.

Ia berharap... waktu berjalan sedikit lebih lambat. Supaya pagi ini tidak segera berakhir.


“Siap?” Selin memutar bola basket di ujung jarinya. “Kita tanding.”

Luna masih berdiri mematung di pinggir lapangan. Bukan karena tidak ingin bermain. Melainkan karena pikirannya terus mengingat bahwa beberapa jam lagi ia harus pulang.

Selin melempar bola ke arahnya. “Luna!”

Bola itu hampir mengenai wajahnya. Beruntung ia masih sempat menangkapnya.

“Hei! Fokus!” Selin terkekeh. “Jangan bilang kamu takut kalah.”

Luna mendecak pelan. “Siapa juga yang takut.”

“Nah, begitu.”

Mereka segera berlari memasuki lapangan kecil di tengah desa. Lapangan itu memang tidak besar. Namun letaknya tepat di tepi hamparan sawah, sehingga angin selalu bertiup sejuk sepanjang permainan.

Selin bergerak lincah. Beberapa kali ia berhasil merebut bola hanya dengan tipuan sederhana. Luna berkali-kali terkecoh.

“Heh! Curang!”

“Bukan curang.” Selin tertawa sambil menggiring bola. “Kamu saja yang lambat.”

“Dasar menyebalkan!” Luna mengejarnya sambil tertawa.

Tak ada yang benar-benar peduli siapa yang menang. Yang mereka inginkan hanyalah menikmati hari terakhir itu selama mungkin. Seolah-olah.. selama mereka masih tertawa bersama, perpisahan belum benar-benar tiba.

Meski tertinggal jauh dalam perolehan skor, Luna sama sekali tidak merasa kecewa. Baginya, melihat Selin tertawa lepas jauh lebih berharga daripada memenangkan pertandingan.

Rasa lelah, napas yang tersengal, bahkan keringat yang membasahi wajah seolah tak berarti dibandingkan kebahagiaan yang ia rasakan saat itu. Peluit kecil buatan Selin menandai berakhirnya permainan.

“Nah,” ujar Selin sambil menyandarkan kedua tangan di pinggang. “Permainanmu tadi lumayan.”

“Lumayan?” Luna mendengus pelan. “Aku kalah telak.”

“Itu karena lawanmu aku.” Selin mengedipkan sebelah mata dengan wajah penuh percaya diri.

Luna mengambil bola basket yang menggelinding di dekat kakinya.

“Hari ini memang aku kalah.” Ia menunjuk Selin dengan bola itu. “Tapi suatu hari nanti aku pasti mengalahkanmu.”

Senyum Selin perlahan mengembang. “Aku tunggu.”

Suaranya terdengar begitu pelan hingga hampir terbawa angin.

“Apa?”

“Aku bilang... aku akan menunggumu.”

Luna mengernyit. “Memangnya kamu meragukan kemampuanku?”

Selin menggeleng. “Bukan.”

Ia melangkah mendekat, lalu mencubit kedua pipi Luna pelan. “Aku hanya tidak akan membiarkanmu menang semudah itu.”

“Dasar!” Luna menepis tangan Selin sambil tertawa.

Tawa mereka kembali memenuhi lapangan kecil itu. Entah mengapa... tak seorang pun menyadari bahwa setiap tawa yang tercipta hari itu perlahan menjadi kenangan.


Selesai makan siang, Luna kembali ke kamar. Begitu membuka pintu, langkahnya langsung terhenti. Selin duduk di tepi ranjang. Di sampingnya sudah tergeletak koper milik Luna yang terbuka lebar. Beberapa potong pakaian tersusun rapi di atas kasur.

“Selin...”

Selin menoleh sambil tersenyum. “Kamu sudah selesai makan?”

“Iya.” Luna berjalan menghampiri. “Kamu sedang apa?”

“Membereskan barang-barangmu.” Tangannya tetap sibuk melipat pakaian satu per satu.

Gerakannya rapi dan telaten. Seolah ia ingin memastikan tidak ada satu pun barang Luna yang tertinggal. Luna duduk di sampingnya. Tanpa diminta, ia ikut membantu melipat pakaian. Keheningan sesaat memenuhi kamar.

Lalu Luna membuka suara. “Masakanmu tadi enak.”

Selin tertawa kecil. “Baru sekarang bilang?”

Luna tersenyum malu. “Sebenarnya... Aku sudah ingin mengatakannya sejak hari pertama. Hanya saja., aku tidak pernah berani.”

Selin menghentikan tangannya. Lalu menatap Luna dengan lembut.

“Aku senang akhirnya kamu mengatakannya.”

Luna menunduk. “Terima kasih, sudah memasak untukku, sudah sabar menghadapiku, sudah...”

Ia berhenti sejenak. “...sudah mau berteman denganku.”

Senyum Selin perlahan melebar. “Semua makanan yang kubuat memang khusus untukmu.”

Luna ikut tersenyum. “Kalau begitu, nanti kalau aku liburan lagi ke sini, aku tetap mau makan masakanmu."

Selin tertawa pelan. “Tentu. Lalu kapan lagi aku bisa memasak untukmu?”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa... ada nada yang sulit dijelaskan di balik suaranya.

Luna menatap Selin. “Apa maksudmu? Ya nanti kalau aku datang lagi. Aku pasti merepotkanmu terus.”

Selin hanya tersenyum. Ia tidak menjawab. Melihat senyum itu, dada Luna tiba-tiba terasa sesak. Entah mengapa. Semakin dekat waktu kepulangannya, semakin berat pula langkahnya meninggalkan desa ini.

“Apa dia benar-benar tidak sedih aku pergi?”

Luna menatap wajah Selin diam-diam. Tak ada raut kecewa. Tak ada mata yang berkaca-kaca. Hanya senyum yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

“Ibu... apakah ini alasan Ibu mengirimku ke sini? Agar aku belajar membuka hati? Kalau memang begitu... kenapa harus secepat ini berakhir?”

Selama bertahun-tahun Luna hidup dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri. Di desa inilah ia belajar tertawa tanpa berpura-pura. Belajar mempercayai orang lain. Belajar bahwa masih ada seseorang yang mau menunggunya setiap pagi hanya untuk mengajaknya berjalan-jalan.

“Aku ingin tinggal lebih lama. Aku ingin tetap di sini.” Suara itu hanya mampu ia ucapkan dalam hati.

Seolah mengetahui isi pikirannya, Selin menutup koper perlahan. “Setiap pertemuan...” ucapnya pelan. “...pasti akan diikuti perpisahan.”

Luna menunduk.

“Pulanglah dengan hati yang tenang.”

Luna menggigit bibirnya. “Jadi, kamu memang ingin aku pergi?”

Selin menoleh. Tatapannya tetap lembut. “Bukan begitu.”

“Kalau begitu kenapa kamu terlihat biasa saja?” Suara Luna mulai bergetar. “Aku bahkan merasa kehilangan ini lebih sakit daripada ketika teman-temanku meninggalkanku. Aku baru saja merasa memiliki rumah lalu harus pergi lagi.”

Untuk pertama kalinya, senyum Selin memudar. “Aku juga sedih, Luna.”

“Kalau begitu kenapa kamu tidak menunjukkannya?”

“Karena kalau aku ikut menangis, siapa yang akan menguatkanmu?"

Keheningan memenuhi kamar. Hanya suara angin yang masuk melalui jendela. Selin kembali tersenyum.

“Ini bukan akhir. Aku akan tetap di sini. Menunggumu pulang kapan pun kamu ingin kembali.”

Luna mengangguk pelan. Berusaha menahan air mata yang sejak tadi memenuhi pelupuk matanya.

“Baik.”

Selin mengangkat sebelah alis. “Hanya itu?”

Luna mengusap matanya cepat-cepat. “Lagipula... Aku punya satu permintaan.”

Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari balik punggungnya. Di sela-sela halaman itu terdapat banyak catatan pribadi. Masih tersisa beberapa lembar kosong.

Luna menyodorkan buku itu bersama sebuah pena. “Tuliskan sesuatu.”

“Untuk apa?”

“Supaya nanti kalau aku rindu, aku bisa membacanya.”

Selin memandangi buku itu cukup lama. Lalu ia mengembalikan pena ke tangan Luna.

“Aku tidak akan menulis apa pun.”

Luna terdiam. “Kenapa?”

Selin tersenyum lembut. “Karena tulisan bisa memudar. Kertas bisa hilang. Buku bisa rusak.”

Ia lalu menyentuh pelan dada Luna. ”Tapi kalau kenangan kusimpan di sini tidak akan ada siapa pun yang bisa menghapusnya.”

Air mata Luna akhirnya jatuh. Tanpa berkata apa-apa lagi, Selin langsung memeluknya erat. Pelukan itu terasa hangat. Hangat yang perlahan menghapus dinginnya rasa takut akan perpisahan.

***

Masalah tidak pernah benar-benar berhenti selama manusia masih hidup. Satu persoalan selesai, persoalan lain datang silih berganti. Namun, di antara semua beban itu, kebahagiaan sering kali mampu membuat luka terasa lebih ringan.

Empat hari setelah kembali dari desa, kehidupan Luna perlahan berubah. Ibunya mulai meluangkan lebih banyak waktu di rumah. Setiap malam mereka makan bersama. Sang ibu sering menanyakan bagaimana liburan Luna, bagaimana keadaan Nenek, Teh Uci, A Dodi, dan tentu saja Selin.

Setiap kali menceritakan desa, wajah Luna selalu berbinar. Ia baru menyadari... ternyata ada tempat yang mampu membuatnya merasa pulang.


Pagi itu, hari Minggu. Pintu kamar Luna diketuk berkali-kali.

“Luna... bangun.” Suara ibunya terdengar berbeda. Tergesa.

Luna membuka mata dengan malas. “Masih pagi, Bu...”

“Bangun sekarang.”

Nada itu membuat Luna langsung duduk. Begitu melihat wajah ibunya yang pucat, rasa kantuknya seketika menghilang.

“Ada apa?”

Ibunya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata lirih, “Selin dirawat di rumah sakit.”

Jantung Luna seperti berhenti berdetak. “Apa?”

“Ibu jelaskan nanti. Kita berangkat sekarang.”

Tanpa banyak bertanya, Luna mengambil jaketnya. Sepanjang perjalanan, ia terus menggenggam ponsel dengan tangan gemetar. Tidak satu pun pertanyaan yang keluar dari bibir ibunya.

Keheningan di dalam mobil justru terasa lebih menakutkan daripada jawaban apa pun.


Koridor rumah sakit dipenuhi aroma obat-obatan. Suara langkah kaki para perawat bergema bersahut-sahutan. Luna berjalan semakin cepat.

“Mana ruangannya, Bu?”

Tidak ada jawaban.

“Apa masih jauh?”

Ibunya tetap diam.

“Sebenarnya Selin sakit apa?”

Kali ini sang ibu hanya menggenggam tangan Luna lebih erat. Genggaman itu membuat Luna semakin takut.

Di ujung koridor, langkah mereka akhirnya berhenti di depan sebuah ruang perawatan. Luna menatap pintu itu beberapa detik. Entah mengapa... ia tiba-tiba tidak berani masuk.

Tangannya gemetar ketika menggenggam gagang pintu. Perlahan ia mendorongnya.

Di dalam ruangan, Nenek segera menghampiri mereka. Wajah perempuan tua itu tampak jauh lebih lelah dibanding beberapa hari lalu. Tanpa banyak bicara, Nenek memeluk ibu Luna. Mereka berbicara pelan. Sangat pelan. Luna tidak dapat mendengar isi percakapan mereka. Namun ia melihat mata ibunya mulai berkaca-kaca.

Sesaat kemudian, sang ibu keluar ruangan ditemani Nenek. Kini hanya tersisa Luna dan Selin.

Luna melangkah perlahan mendekati tempat tidur. Dadanya terasa sesak. Gadis yang beberapa hari lalu masih berlari bersamanya di pematang sawah kini terbaring lemah. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus. Namun ketika melihat Luna, ia tetap tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang selalu membuat orang lain merasa tenang.

Luna menggigit bibirnya kuat-kuat. Jangan menangis. Selin tidak suka melihat orang menangis. Ia menarik kursi, lalu duduk di samping tempat tidur. Tangannya perlahan menggenggam jemari Selin yang terasa dingin.

“Selin...” Suara Luna bergetar. “Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau sedang sakit?”

Selin hanya menggeleng pelan. “Aku... baik-baik saja.”

Kalimat itu terdengar lirih. Bahkan mengucapkannya saja membuat napasnya tersengal.

Air mata Luna hampir jatuh. “Tidak...” Ia menggeleng berulang kali. “Kamu tidak baik-baik saja.”

Selin tersenyum tipis. “Aku senang... kamu datang.”

Luna menunduk. Air matanya akhirnya jatuh membasahi punggung tangan Selin.

“Aku mohon... Cepat sembuh. Aku belum sempat membalas semua kebaikanmu. Aku belum sempat mengajakmu berlari lagi. Aku belum sempat mengalahkanmu bermain basket. Jadi... jangan menyerah sekarang.”

Selin mengangguk pelan. Ia mengusap pelan punggung tangan Luna dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

“Tetap... semangat...” Selin berhenti sejenak untuk mengatur napas. “Jangan... sedih...”

Luna mengangguk cepat sambil menghapus air matanya. “Iya, aku janji. Aku tidak akan menangis.”

Mendengar jawaban itu, senyum Selin kembali mengembang, meski sangat tipis.


Dua jam berlalu. Luna terus bercerita. Tentang rumah. Tentang ibunya yang kini lebih perhatian. Tentang makanan yang gagal ia masak sendiri. Tentang desa yang selalu ia rindukan.

Sesekali Selin tertawa pelan. Terkadang hanya mengangguk. Namun bagi Luna... melihat senyum kecil itu saja sudah cukup membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Sebab selama Selin masih mampu tersenyum... Luna masih percaya harapan itu belum benar-benar hilang.

***

Pagi itu, sebelum berangkat ke rumah sakit, Luna berniat berpamitan kepada ibunya yang sedang berada di ruang kerja.

Ini pertama kalinya ia memberanikan diri membuka pintu ruangan itu. Selama bertahun-tahun, ruang tersebut hampir selalu terkunci dan jarang dimasuki siapa pun.

Ruangan itu dipenuhi rak buku, berkas pekerjaan, dan aroma kopi yang masih hangat. Di dinding tergantung beberapa bingkai foto keluarga.

Awalnya Luna hanya melihat sekilas. Namun langkahnya perlahan terhenti. Tatapannya terpaku pada sebuah foto berukuran besar yang berada tepat di belakang meja kerja.

Di dalam foto itu terlihat ayahnya sedang berdiri sambil merangkul seorang perempuan yang tak lain adalah ibunya. Di pelukan sang ibu... ada seorang anak perempuan kecil yang tersenyum begitu ceria.

Luna mengernyit. Bukan... Itu bukan dirinya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia mendekat beberapa langkah, memastikan penglihatannya tidak keliru. Benar. Anak kecil itu bukan dirinya. Tangannya mulai bergetar. Dadanya terasa sesak.

“A... aku...”

Suara langkah kaki terdengar dari belakang. “Luna?”

Ibunya terdiam ketika melihat putrinya berdiri membelakangi pintu sambil menatap foto itu. Wajah beliau perlahan memucat. Seolah-olah rahasia yang selama bertahun-tahun disimpan akhirnya menemukan waktunya untuk terbuka.

Luna membalikkan badan. Air matanya mulai menggenang. “Bu...” Suaranya bergetar. “Kenapa... tidak ada aku di foto itu?”

Ibunya tidak langsung menjawab. Beliau hanya menundukkan kepala. Keheningan itu justru membuat dada Luna semakin sesak.

“Apa... aku bukan anak Ibu?”

“Luna...”

“Kalau aku memang anak Ibu... siapa anak yang ada di foto ini?” Air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan. “Kenapa selama ini Ibu tidak pernah bercerita?”

Ibunya perlahan mendekat. Beliau menggenggam kedua tangan Luna yang mulai dingin.

“Kamu tetap anak Ibu.”

“Kalau begitu...” Luna menggeleng pelan. “Jelaskan semuanya.”

Napas ibunya terdengar berat. Beliau memejamkan mata beberapa detik, seolah mengumpulkan keberanian yang selama bertahun-tahun tak pernah dimiliki.

“Sebelum kamu lahir.. Ibu pernah memiliki keluarga yang utuh.”

Luna hanya diam mendengarkan.

“Dulu... Ayahmu bekerja di sebuah perusahaan. Kehidupan kami sederhana, tetapi sangat bahagia. Dan... kami memiliki seorang anak perempuan.”

Kalimat itu membuat Luna membeku.

“Namanya...” Suara ibunya mulai bergetar. “Laselin Nafisa Darmanugraha."

Luna mengangkat wajah perlahan. Nama itu... terdengar begitu familiar. Laselin... Selin...

“Ibu... Selin...” Suara Luna hampir tak terdengar. “Dia..”

Air mata ibunya jatuh lebih dulu. “Iya, dia kakakmu.”

Dunia Luna seakan berhenti berputar. Semua kenangan selama di desa bermunculan silih berganti. Selin yang selalu memasakkan makanan untuknya. Selin yang menunggu di bawah pohon setiap pagi. Selin yang tak pernah marah meski diperlakukan dingin. Selin yang terus mengajarinya tersenyum.

Selin... ternyata adalah kakaknya sendiri.

Lutut Luna melemas. Ia terduduk di lantai. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah.

“Kenapa... Kenapa Ibu menyembunyikan semua ini dariku?”

Ibunya ikut berlutut memeluk Luna erat. “Karena Ibu terlalu takut. Takut kehilangan kalian berdua. Tapi tanpa Ibu sadari. Justru Ibu membuat kalian kehilangan begitu banyak waktu bersama.”


Ruangan itu kembali sunyi. Yang terdengar hanyalah isak tangis seorang ibu dan seorang putri yang baru saja mengetahui bahwa orang yang selama ini paling tulus mencintainya adalah kakak kandungnya sendiri.

Semakin dekat langkah mereka menuju ruang perawatan, suara tangis itu terdengar semakin jelas. Dada Luna berdebar tidak karuan.

Jangan... jangan sampai dari ruangan itu.

Ia terus berdoa dalam hati, berharap semua yang dipikirkannya hanyalah ketakutan yang berlebihan. Namun ketika mereka tiba di depan pintu, langkah keduanya terhenti.

Kain putih telah menutupi sebagian tubuh seseorang di atas ranjang. Luna membeku.

“Ibu...” Suaranya nyaris tak terdengar.

Dengan tangan gemetar, ia melangkah mendekat. Jemarinya perlahan menyibakkan kain putih itu. Harapannya runtuh seketika. Wajah yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat kini terpejam untuk selamanya.

Kulit Selin tampak pucat. Tubuhnya terbujur diam. Tak ada lagi tawa yang biasa memenuhi ruangan. Tak ada lagi suara lembut yang selalu menguatkannya. Hanya senyum tipis yang masih tersisa di wajahnya, seolah ia benar-benar pergi dengan damai.

“Selin... telah pergi.” Suara Nenek pecah di antara tangis yang tak lagi mampu ditahan. Ibu dan Luna pun tak mampu menahan tangis.

Lutut Luna seketika kehilangan tenaga. Ia jatuh berlutut di samping ranjang. Air mata yang selama ini berusaha ia tahan akhirnya mengalir tanpa henti.

“Ibu... “Luna menggeleng pelan. “Ini bukan kenyataan, kan?”

Tak ada jawaban. Ibunya memeluk Nenek yang terus menangis.

Luna menggenggam tangan Selin. Dingin. Tidak ada lagi kehangatan yang beberapa hari lalu masih ia rasakan.

“Bangunlah, Selin...” Suaranya bergetar. “Aku sudah datang.”

Ia mengguncang tangan kakaknya perlahan, berharap mata itu kembali terbuka. “Aku mohon... Kamu belum sempat mengajakku keliling desa lagi. Kamu bilang akan menungguku kembali. Kamu janji...”

Tangisnya pecah. “Tolong buka matamu sekali saja. Aku belum sempat memanggilmu...”

Luna berhenti berbicara. Dadanya sesak. “...Kakak.”

Satu kata itu akhirnya terucap. Terlambat. Sangat terlambat.

“Aku baru tahu kalau selama ini kamu adalah kakakku. Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku? Kenapa kalian semua menyembunyikannya dariku? Aku bahkan belum sempat menjadi adik yang baik.”

Ia menundukkan kepala di sisi ranjang. Air matanya membasahi jemari Selin yang tak lagi mampu menggenggam balik.

Ibunya memeluk Luna erat. “Luna, kita harus mengikhlaskannya.”

Luna menggeleng berkali-kali. “Tidak. Aku belum selesai bersamanya. Aku masih ingin mendengar dia memanggilku putri tidur. Aku masih ingin makan masakannya. Aku masih ingin berlari bersamanya di pematang sawah. Aku masih ingin kalah bermain basket. Aku masih ingin meminta maaf atas semua sikapku. Tapi... Semua itu tak akan pernah terjadi lagi.”

Ruangan kembali dipenuhi tangis.Tak ada lagi kata yang mampu mengubah kenyataan.


Beberapa jam kemudian, jenazah Selin dibawa pulang ke desa. Luna berjalan keluar rumah sakit sambil menggandeng Nenek, sementara ibunya menopang tubuh wanita tua itu yang berkali-kali hampir roboh karena kehilangan.

Di halaman rumah sakit, sebuah ambulans telah menunggu. Pintu belakang perlahan ditutup. Suara itu terdengar begitu pelan. Namun bagi Luna, bunyi itu seperti menutup seluruh kenangan indah yang baru saja ia temukan.

Sepanjang perjalanan menuju desa, matanya tak pernah lepas dari ambulans yang melaju di depan.

Di dalam kendaraan itulah seseorang yang telah mengajarkannya tentang memaafkan, bersyukur, dan membuka hati sedang pulang untuk terakhir kalinya.

Luna memejamkan mata. Andaikan waktu dapat diputar Kembali. Ia ingin kembali ke hari pertama saat Selin mengetuk pintu kamarnya. Ia tidak akan mengusirnya. Ia akan mengajaknya berbincang. Tersenyum. Dan memeluknya lebih lama.

Namun hidup tidak pernah memberi kesempatan untuk mengulang. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan kenangan yang akan hidup jauh lebih lama daripada seseorang yang meninggalkannya.

Luna menatap ambulans yang terus melaju di depan. Air matanya kembali jatuh.

“Harusnya kamu pulang bukan dengan tangisan seperti ini, Kak.” Suara itu hanya terdengar di dalam hatinya. “Aku belum sempat mengucapkan terima kasih karena telah hadir dalam hidupku. Belum sempat membalas semua kebaikanmu. Baru saja aku belajar memanggilmu sebagai kakak... kamu sudah pergi.”

Dadanya kembali sesak. “Apakah ini kenangan yang ingin kamu tinggalkan? Kenapa harus secepat ini?”


Sesampainya di desa, warga telah berkumpul memenuhi halaman rumah. Mereka datang satu per satu untuk menyambut kepulangan Selin. Tak sedikit yang menangis.

Beberapa ibu memeluk Nenek sambil berusaha menenangkan beliau. Anak-anak yang biasanya bermain di halaman hanya berdiri diam, menundukkan kepala.

Luna baru menyadari. Selin ternyata dicintai begitu banyak orang. Setiap orang yang datang seolah memiliki cerita tentangnya.

“Selin selalu membantu kami.”

“Dia tidak pernah menolak kalau dimintai tolong.”

“Anaknya lembut sekali.”

Ucapan-ucapan itu terdengar bersahutan. Luna menggigit bibirnya. Selama ini ia mengenal Selin hanya beberapa minggu. Namun perempuan itu telah meninggalkan jejak di hati begitu banyak orang.

Angin berembus pelan. Dedaunan di pepohonan bergoyang pelan, seolah ikut mengantar kepergian seseorang yang selama ini memberi kesejukan. Burung-burung yang biasa berkicau di pagi hari kini terdengar lirih. Entah mengapa...hari itu seluruh desa terasa lebih sunyi.

Luna menatap pohon besar tempat Selin biasa menunggunya membaca buku. Pohon itu tetap berdiri kokoh. Tetapi bangku kayu di bawahnya kini kosong. Untuk pertama kalinya... Luna berharap melihat Selin melambaikan tangan sambil memanggilnya,

“Putri tidur!” Namun yang ada hanyalah keheningan.


Luna berjalan pelan di belakang keranda. Setiap langkah terasa berat. Di sepanjang jalan menuju pemakaman, kenangan demi kenangan bermunculan begitu saja.

Selin berlari sambil tertawa. Selin memasak makanan kesukaannya. Selin mengajaknya bermain basket. Selin menunggu di bawah pohon setiap pagi. Selin memeluknya sebelum pulang. Semuanya terasa begitu dekat... namun kini tak mungkin terulang.

Gerimis turun perlahan. Langit yang sejak pagi mendung akhirnya melepaskan hujan. Butir-butir air membasahi tanah, dedaunan, dan wajah orang-orang yang mengantar kepergian Selin. Seolah alam pun ikut berduka.

Luna memandang langit.

Hidup memang tidak pernah memberi tahu kapan sebuah pertemuan akan berakhir. Tak ada seorang pun yang tahu kapan waktunya kembali kepada-Nya. Yang tertinggal hanyalah kenangan dan orang-orang yang harus belajar menerima kehilangan.


Setelah semua pelayat perlahan meninggalkan pemakaman, Luna masih tetap duduk di depan pusara yang tanahnya masih merah.

Di samping makam Selin berdiri pusara Ayah. Luna mengusap batu nisan itu perlahan.

“Ayah... Sekarang Kak Selin sudah pulang menemanimu.” Ia menarik napas panjang. “Lubuk hatiku akan selalu menyimpan semua kenangan tentang Kakak. Terima kasih sudah mengajariku bahwa memaafkan tidak pernah membuat seseorang menjadi lemah. Terima kasih sudah mengajariku bagaimana mencintai tanpa meminta balasan. Dan terima kasih karena telah menjadi kakak terbaik yang pernah Tuhan kirimkan untukku."

Luna tersenyum di balik air matanya. “Aku sayang Kakak. Semoga Tuhan memelukmu dengan kasih sayang-Nya. Kelak izinkan aku bertemu lagi denganmu. Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal melainkan untuk mengucapkan terima kasih, sekali lagi.”

Angin kembali berembus pelan. Luna memejamkan mata. Entah mengapa… untuk sesaat ia merasa seolah ada seseorang yang sedang mengusap rambutnya dengan lembut. Seperti terakhir kali Selin melakukannya. Lalu semuanya kembali sunyi.

Hanya doa... yang terus mengalir di antara rintik hujan.

 

 

Terimakasih
Ini ceritaku.. DILARANG COPYPASTE!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar