Ingatan tentang kebaikan tetap layak disimpan, sementara kesalahan
menjadi pelajaran agar langkah berikutnya lebih bijaksana. Sebab akal dan hati
kitalah yang menentukan arah setiap pilihan.
Hidup bukan sekadar kumpulan hari yang berlalu, melainkan rangkaian
detik yang membentuk siapa diri kita. Jika semua yang telah terjadi hanya kita
anggap sebagai masa lalu yang patut dilupakan, lalu apa arti setiap waktu yang
Tuhan titipkan kepada kita?
***
Panorama
pedesaan membentang sejauh mata memandang. Tidak ada deretan bangunan tinggi
yang menghalangi senyum mentari. Hamparan sawah, pepohonan rindang, dan angin
yang berembus pelan menghadirkan ketenangan yang perlahan meredakan kegelisahan.
Luna
duduk di kursi kayu balkon kamar. Matanya terpejam, sementara alunan lagu dari
ponsel memenuhi kedua telinganya melalui earphone. Volume musik sengaja ia
besarkan, seolah ingin menenggelamkan semua pikiran yang terus berputar di
kepalanya.
Liburan
kali ini ia habiskan di desa tempat ayahnya dilahirkan. Desa yang masih
menyimpan kesejukan alam, jauh dari hiruk pikuk kota dan polusi kendaraan. Di
tempat itu, kicauan burung saling bersahutan, gemericik sungai mengalir tanpa
henti, dan suara ramah para penduduk menjadi irama yang menenangkan.
Menjelang
senja, hamparan sawah berubah keemasan. Para petani berjalan pulang memanggul
hasil kerja seharian, sementara anak-anak berlarian di pematang sawah dengan
tawa yang memenuhi udara. Langit perlahan berubah jingga, lalu merah tembaga,
seakan menjadi lukisan alam yang tak pernah gagal memikat siapa pun yang
memandangnya.
Perlahan,
matahari menghilang di balik jajaran gunung. Cahaya keemasannya meredup,
digantikan sinar bulan yang mulai menguasai langit malam. Udara semakin dingin.
Angin yang berembus pelan menyapu wajah Luna, membuatnya semakin larut dalam
lamunan.
Ia
menikmati keheningan itu. Bagi orang lain, malam di desa mungkin terasa sunyi. Namun
bagi Luna, kesunyian justru menjadi tempat terbaik untuk berdamai dengan
pikirannya.
Ia
ingin melupakan sejenak segala beban yang selama ini memenuhi kepalanya.
Mengizinkan dirinya berhenti berlari, lalu menerima bahwa kehidupan memang
terus berputar. Ada kebahagiaan yang datang, ada kehilangan yang harus
dilepaskan. Semua berjalan mengikuti takdir yang telah Tuhan gariskan.
Perjalanan
hidup memang tidak selalu mudah. Kadang membawa harapan. Kadang menyeret
seseorang hingga berada di titik paling rapuh. Namun di balik setiap gelap,
selalu ada kuasa Tuhan yang bekerja dengan cara-Nya sendiri.
“Luna.”
Tidak
ada jawaban.
“Luna!”
Masih
sunyi.
Selin
mengembuskan napas panjang, lalu melepaskan salah satu earphone dari telinga
Luna.
“Luna!
Suaraku sudah masuk belum?”
Luna
tersentak. Ia membuka mata sambil menatap kesaL.
“Selin...
ganggu saja.”
Selin
hanya menyeringai tanpa merasa bersalah. “Kamu dari tadi kupanggil enggak
nyaut. Kukira ketiduran.”
Luna kembali menyandarkan tubuhnya ke
kursi. “Aku lagi menikmati suasana.”
“Iya, menikmati sampai lupa dunia.” Selin
terkekeh, lalu menarik tangan Luna.
“Ayo. Dari tadi Nenek nyuruh kita turun.
Jangan malas terus.”
Luna mendesah pelan. Meski wajahnya masih
menunjukkan rasa enggan, ia akhirnya bangkit mengikuti Selin masuk ke dalam
rumah.
“Ayolah,
Luna. Masa liburan dihabiskan terus di dalam kamar?” bujuk Selin.
Luna
menggeleng pelan. “Tentu saja tidak. Tapi aku lelah. Malam ini aku ingin
istirahat.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju
kamar. Tubuhnya langsung dihempaskan ke atas tempat tidur.
“Keluar
dulu, ya. Cari waktu yang tepat kalau mau mengajakku mengobrol.”
Selin
tersenyum kecil. “Baiklah. Maaf sudah mengganggumu. Selamat tidur.”
Luna hanya mengangguk pelan. Memang itu
yang ia inginkan. Selin menutup pintu kaca balkon dengan hati-hati hingga kamar
kembali temaram. Sebelum keluar, ia menghampiri tempat tidur, merapikan selimut
yang menutupi tubuh Luna, lalu mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
“Tidurlah yang nyenyak,” bisiknya pelan.
Barulah
ia meninggalkan kamar.
Hari
ini adalah hari ketiga Luna tinggal di desa. Rumah peninggalan kakek itu cukup
besar, tetapi hanya dihuni empat orang. Ada Nenek, yang meski usianya tak lagi
muda masih tampak bugar dan penuh semangat. Selin, gadis yang sejak kecil
dianggap Luna sebagai sepupu, meski ia sendiri tidak pernah benar-benar
mengetahui hubungan keluarga mereka. Lalu ada Teh Uci dan suaminya, A Dodi,
pasangan muda yang sudah lama dianggap anak sendiri oleh Nenek.
Liburan sekolah kali ini terasa berbeda. Biasanya
Luna menghabiskan waktu di kota, berkumpul bersama teman-temannya atau
mengurung diri di rumah. Orang tua dari pihak ibunya telah lama meninggal,
sehingga tak ada lagi tempat lain yang bisa ia kunjungi saat liburan. Karena
itulah, ibunya memutuskan menitipkan Luna di rumah keluarga ayahnya.
Usia Selin hanya terpaut satu tahun
darinya. Gadis itu ramah, cerewet, dan mudah akrab dengan siapa pun. Sayangnya,
Luna justru kebalikannya. Ia bukan tipe orang yang mudah membuka diri. Baginya,
orang yang telah lama mengenalnya saja belum tentu memahami isi hatinya. Apalagi
seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari.
Sejak ayahnya meninggal, ibunya harus
bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Waktu mereka bersama pun
semakin sedikit. Luna tidak pernah menyalahkan ibunya. Namun, kesibukan itu
perlahan membuat mereka seperti hidup di dunia masing-masing.
Luna
tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Tetapi di balik kemandiriannya, ia terbiasa
memendam semuanya seorang diri. Ia lebih memilih diam daripada bercerita. Lebih
nyaman menyendiri daripada memulai percakapan.
Dan
mungkin... itulah alasan mengapa Selin belum benar-benar berhasil menembus
dinding yang selama ini dibangun Luna di sekeliling hatinya.
***
Kriuk...
kriuk...
Suara itu
memecah kesunyian kamar. Bukan bunyi jarum jam di samping ranjang. Bukan pula
kokok ayam yang menandakan pagi telah tiba. Melainkan suara perut Luna yang
sejak semalam belum terisi apa pun.
Ia tertidur terlalu cepat hingga melewatkan
makan malam. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Luna bangkit dari tempat
tidur. Pandangannya mengarah ke jam beker di atas meja.
Pukul 07.00.
Ia
mengembuskan napas panjang. Rasa malas masih membebani tubuhnya, tetapi perut
yang terus memprotes memaksanya beranjak menuju kamar mandi. Setelah membasuh
wajah dengan air dingin, kesadarannya perlahan kembali.
“Luna, sini dulu!” terdengar suara Nenek
dari arah dapur.
“Iya,
Nek.” Luna berjalan menghampiri.
“Ada yang bisa kubantu?”
Nenek
tersenyum sambil menggeleng. “Tidak usah. Nenek sudah menyiapkan sarapan
untukmu. Duduk saja.”
Luna menurut. Ia duduk di kursi makan
sambil memperhatikan Nenek yang menuangkan soto ayam hangat ke dalam mangkuk. Aroma
kaldu yang harum segera memenuhi ruangan.
“Terima
kasih, Nek.”
“Makanlah.
Dari kemarin sore kamu tidak keluar kamar. Pasti perutmu sudah lapar.”
Luna
mengangguk kecil. “Nenek tidak ikut makan?”
“Nanti saja.”
“Kalau
begitu biar aku ambilkan. Kita makan bersama.”
Nenek
terkekeh pelan. “Nenek sudah sarapan tadi pagi dengan Selin. Soto ayam ini hasil
masakan Selin.”
Luna terdiam. Nama itu seketika
mengingatkannya pada kejadian semalam. Ia membentak Selin... padahal gadis itu
hanya datang menemuinya. Rasa bersalah perlahan menyusup ke dalam dadanya.
“Apa Selin memang selalu memasak?"
tanya Luna pelan.
Nenek
mengangguk. “Sejak kamu datang, dia selalu bangun lebih pagi. Katanya, dia
ingin memasak makanan yang kamu suka.”
Luna mengangkat kepala. “Untukku?”
“Iya.” Nenek tersenyum hangat.
“Dia bilang tamu harus disambut sebaik
mungkin. Lagipula, dia memang senang memasak."
Luna menatap mangkuk soto di hadapannya. Uap
hangat masih mengepul perlahan. Entah mengapa... sarapan sederhana itu terasa
jauh lebih hangat daripada biasanya.
Ibunya tidak pernah sempat menyiapkan
sarapan seperti ini. Bukan karena tidak sayang. Melainkan karena pekerjaannya
selalu menyita waktu sejak Ayah tiada. Luna pun tidak pernah benar-benar
memikirkan hal itu.
Namun
pagi ini, perhatian kecil dari seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari
justru membuat dadanya terasa sesak.
Ia baru
menyadari... orang yang semalam ia bentak ternyata bangun lebih pagi hanya
untuk memasakkan sarapan.
Perlahan Luna menghabiskan isi mangkuknya
hingga tandas. “Nek... Selin di mana sekarang?”
“Di halaman. Katanya mau belajar.”
Luna
segera berdiri. “Terima kasih, Nek.”
Ia bergegas keluar rumah. Untuk pertama
kalinya sejak tiba di desa... Luna ingin menemui seseorang lebih dulu. Bukan
untuk menghindar. Melainkan untuk meminta maaf.
“Selin.”
Suara itu
membuat Selin mengangkat kepala dari buku yang sedang dibacanya. Ia duduk di
bawah pohon mangga yang tumbuh tidak jauh dari rumah. Begitu melihat Luna,
senyum hangat langsung mengembang di wajahnya.
“Kamu
sudah bangun, Putri Tidur.”
Luna
berjalan mendekat dengan langkah ragu. “Sedang apa di sini?”
Selin mengangkat buku yang ada di
pangkuannya. “Membaca. Sekalian menunggumu bangun.”
“Menungguku?”
Luna
mengernyit. Ia memang sering melihat Selin duduk di bawah pohon itu sejak hari
pertama datang ke desa. Pagi, siang, bahkan sore. Selalu dengan buku di tangan.
Ia mengira Selin hanya menyukai tempat itu.
Ternyata... selama ini gadis itu juga menunggunya.
“Ada
apa?” tanya Selin lembut. “Tumben mencariku.”
“Iya...
aku...” Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Padahal sejak tadi ia sudah
menyusun banyak kata.
Maaf.
Hanya
satu kata itu. Namun entah mengapa, mengucapkannya terasa jauh lebih sulit
daripada yang dibayangkan.
Selin tersenyum jahil. “Jangan-jangan kamu
mau minta maaf karena semalam membentakku?”
Luna langsung memalingkan wajah. “Tidak.”
“Oh...” Selin tertawa pelan. “Kalau begitu,
untuk apa mencariku?”
Luna menggenggam ujung bajunya. Bibirnya
berkali-kali terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ayo, katakan saja. Maaf.
Tidak sesulit itu.
Namun harga dirinya kembali mengambil alih.
“Aku...”
Selin menunggu dengan sabar.
“Aku tidak suka melihatmu duduk di bawah
pohon ini.”
Selin terdiam.
“Dari jendela kamarku, kamu selalu
kelihatan.” Luna menundukkan kepala. “Kalau bisa... cari tempat lain.”
Kalimat itu akhirnya keluar. Bukan kalimat
yang ingin ia ucapkan. Melainkan kalimat yang dipilih oleh egonya.
Beberapa detik berlalu. Selin tidak marah. Ia
justru tersenyum tipis.
“Baik.” Jawaban sederhana itu membuat dada
Luna semakin sesak.
Tidak
ada bantahan. Tidak ada kemarahan. Justru sikap tenang Selin membuatnya merasa
menjadi orang yang lebih jahat.
Luna menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya...
ia datang bukan untuk mengatakan semua itu.
Ia ingin meminta maaf. Ingin berterima
kasih karena Selin telah memasakkan sarapan. Ingin memperbaiki sikapnya. Tetapi
ketika kesempatan itu datang, egonya kembali menang.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Luna
berbalik meninggalkan Selin. Sementara di belakangnya, Selin tetap duduk di
bawah pohon itu. Tatapannya mengikuti langkah Luna yang semakin menjauh.
“Kalau suatu hari nanti kamu sudah siap... “bisiknya pelan, “aku akan tetap mendengarkan dan menemanimu.”
***
Keesokan
paginya, Luna kembali membuka jendela kamarnya. Seperti hari-hari sebelumnya,
Selin sudah duduk di bawah pohon dengan sebuah buku di pangkuannya. Angin pagi
memainkan helaian rambutnya, sementara sinar matahari yang menembus sela
dedaunan membuat suasana terasa hangat.
Luna memandangnya beberapa saat. Ia ingin
menyapa. Ingin tersenyum. Namun rasa malu masih menahan semua itu. Setelah
menarik napas panjang, akhirnya ia memberanikan diri melangkah keluar.
“Selin.”
Selin
mengangkat kepala. Begitu melihat Luna berjalan menghampirinya, ia langsung
menutup bukunya.
“Ada apa?”
Luna
berdiri beberapa langkah di depannya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Kali
ini... ia tidak ingin membiarkan egonya menang lagi.
“Maaf. “Hanya satu kata.
Namun rasanya jauh lebih berat daripada
semua kalimat yang pernah ia ucapkan.
“Aku
minta maaf.” Luna menundukkan kepala. “Waktu itu... aku sangat egois. Aku
mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kukatakan.”
Keheningan menyelimuti di antara mereka. Luna
menunggu jawaban. Namun Selin justru melangkah mundur, lalu mengangkat buku
hingga menutupi setengah wajahnya.
Luna mengerutkan dahi. “Selin...”
Tidak ada jawaban.
“Kamu
masih marah padaku?”
Beberapa
detik kemudian, terdengar suara tawa yang tertahan.
“Luna...” Selin menurunkan bukunya sambil
masih tersenyum.
“Aku
enggak suka lihat wajahmu seperti itu.”
“Wajahku?”
Luna refleks menyentuh pipinya. “Memangnya kenapa?”
Selin tertawa semakin lepas. “Kalau kamu
terus memasang wajah memelas begitu, aku bisa ketawa seharian.”
Luna baru menyadari bahwa sejak tadi ia
memang terlihat sangat gugup. Pipinya langsung memanas.
“Kamu...”
Selin buru-buru mengangkat kedua tangannya.
“Sudah, sudah. Aku bercanda.”
Ia tersenyum hangat. “Aku enggak pernah
marah sama kamu.”
Luna menatapnya tak percaya. “Benarkah?”
“Iya.”
“Terus...
kamu diam tadi?”
“Aku
cuma ingin melihat seberapa serius kamu mau minta maaf.”
Luna
mendesah pelan. Ternyata ia sedang dikerjai. Melihat ekspresi kesal Luna, Selin
kembali tersenyum.
“Kalau begitu, sebagai gantinya aku punya
satu syarat.”
“Syarat?”
“Iya.” Selin
berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. “Hari ini temani aku keliling
desa.”
Luna terdiam sejenak. Bersama orang lain
sepanjang hari... Itu bukan sesuatu yang biasa ia lakukan. Namun mengingat
semua perhatian yang telah Selin berikan selama beberapa hari terakhir, rasanya
ia tidak punya alasan untuk menolak.
“Baik.”
Senyum
Selin langsung mengembang. “Nah, begitu dong.”
Luna ikut tersenyum tipis. Mungkin... membuka
diri memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Luna masih belum pandai
memulai percakapan. Ia juga masih mudah menutup diri ketika seseorang mulai
memasuki kehidupan pribadinya.
Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, ia
memutuskan memberi seseorang kesempatan untuk mengenalnya sedikit lebih dekat.
Kabut
tipis masih menyelimuti jalan-jalan desa. Embun menggantung di ujung dedaunan,
sementara angin pagi berembus membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke
tulang.
Luna
merapatkan jaketnya. Setiap kali mengembuskan napas, uap putih keluar dari
bibirnya.
“Kenapa dingin sekali...” gumamnya sambil
menggosok kedua telapak tangan.
Selin
yang berjalan di sampingnya justru tampak menikmati udara pagi. Ia hanya
mengenakan kaus lengan pendek dan celana panjang, seolah hawa dingin sama
sekali tidak mengganggunya.
Kalau
setiap hari tinggal di sini, nanti juga terbiasa,” katanya sambil tersenyum.
Luna
hanya mendengus pelan. “Mungkin lima tahun lagi.”
Selin tertawa.
Mereka berjalan menyusuri pematang sawah. Kabut
perlahan tersingkap, memperlihatkan hamparan padi yang menghijau sejauh mata
memandang. Para petani mulai berdatangan sambil memanggul cangkul di bahu.
Beberapa dari mereka melambaikan tangan ketika berpapasan.
“Pagi, Neng.”
“Pagi.”
Luna membalas sapaan itu dengan senyum canggung.
Suasana desa terasa begitu berbeda dengan
hiruk-pikuk kota. Tak ada deru kendaraan. Yang terdengar hanya desir angin,
suara burung yang bersahutan, dan gemericik air yang mengalir di saluran
irigasi. Tanpa terasa, langkah mereka berubah menjadi lari kecil.
“Ayo, siapa yang duluan sampai pohon itu!”
seru Selin.
“Tunggu!”
Luna segera mengejarnya.
Sesekali mereka saling mendahului. Sesekali
berhenti karena kehabisan napas. Lalu kembali tertawa melihat wajah
masing-masing yang memerah. Sudah lama Luna tidak merasa seringan ini. Seolah-olah
beban yang selama ini memenuhi pikirannya perlahan tertinggal di belakang.
“Jadi... beginikah rasanya memiliki teman?” batinnya.
Melihat
Luna mulai tertinggal, Selin sengaja melambat.
“Capek?”
“Dikit.”
“Baru segini sudah menyerah?”
“Kalau
cuacanya panas, mungkin aku sudah pingsan.”
Selin
kembali tertawa. “Berarti sekarang saatnya ngebut.”
“Siapa takut!” Luna langsung berlari lebih
dulu. “Kalah jangan nangis!”
“Heh! Tunggu!”
Tawa
mereka pecah di sepanjang jalan desa. Luna terus berlari hingga akhirnya
berhenti.
“Selin?”
Tidak
ada jawaban. Ia menoleh ke belakang. Selin tidak lagi mengejarnya. Beberapa
meter di belakang, gadis itu duduk di tepi jalan sambil menundukkan kepala.
“Selin!” Luna berlari menghampiri. “Kenapa?”
Selin tidak menjawab. Wajahnya tampak
pucat. Napasnya terdengar lebih berat daripada sebelumnya. Jantung Luna
berdegup kencang.
“Selin...
kamu sakit?”
Perlahan
Selin mengangguk. “Aku... enggak apa-apa.”
“Kamu bohong.” Luna segera merangkul
bahunya. “Ayo pulang.”
“Jangan.” Suara Selin terdengar lirih. “Jangan
bilang Nenek.”
“Kenapa?”
“Nanti
beliau khawatir.”
Luna
menatap wajah pucat itu beberapa saat. Akhirnya ia membantu Selin berpindah ke
bawah pohon besar di tepi sawah. Mereka duduk bersandar sambil menikmati angin
yang berembus pelan.
“Maaf...”
bisik Selin. “Aku malah merepotkanmu.”
Luna menggeleng. “Tidak. Aku memang sudah
berjanji akan menemanimu hari ini.”
Selin tersenyum tipis. “Kamu masih merasa
bersalah karena kemarin?”
Luna menunduk. “Iya.”
“Padahal aku sudah memaafkanmu.”
“Tetap
saja... Aku mengecewakanmu.”
Selin menggeleng pelan. “Luna, semua orang
pernah mengecewakan orang lain. Tapi jangan biarkan satu kesalahan membuatmu
terus menghukum dirimu sendiri.”
“Kalau
rasa kecewa itu terlalu besar?”
Selin
memandang hamparan sawah di depan mereka. “Hidup memang penuh dengan
kekecewaan. Kalau setiap kecewa kita memilih berhenti melangkah berarti kita
membiarkan rasa sakit mengalahkan hidup kita.”
Luna menggigit bibirnya. “Kadang aku
merasa... semua orang pergi meninggalkanku. Teman mengkhianatiku. Orang yang
kusayang menyakitiku. Bahkan Ibu pun terlalu sibuk untuk mendengarkan ceritaku.”
Suara Luna mulai bergetar.
Selin menoleh. “Tapi Tuhan tidak pernah
pergi.”
Luna ikut memandang langit. Angin kembali berembus pelan, menerbangkan rambut panjang Selin. Entah mengapa... ucapan sederhana itu terasa jauh lebih menenangkan daripada seribu nasihat yang pernah didengarnya.
***
Hari-hari berikutnya berlalu tanpa terasa. Sedikit demi sedikit, Selin
berhasil mengubah kebiasaan Luna yang selama ini gemar mengurung diri di kamar.
Hampir setiap pagi Selin sudah berdiri di depan pintu kamar sambil mengetuk
pelan.
“Luna, ayo.”
“Mau ke mana lagi?”
“Kamu ikut saja.”
Dan anehnya, Luna tidak pernah benar-benar menolak. Suatu hari mereka
menemani Teh Uci berbelanja ke pasar. Luna sibuk membawa kantong belanja,
sementara Selin asyik menawar harga hingga membuat para pedagang tertawa.
Keesokan harinya mereka mengunjungi pasar malam. Selin memaksa Luna
mencoba berbagai permainan, meski akhirnya mereka sama-sama kalah dan pulang
hanya membawa dua gantungan kunci murah sebagai hadiah hiburan.
Saat cuaca cerah, mereka bermain di sungai bersama anak-anak desa. Luna
yang awalnya hanya duduk di tepi sungai akhirnya ikut saling menyiram air
hingga pakaiannya basah kuyup.
Di lain waktu mereka memancing di pematang sawah, memasak bersama di
dapur, membantu Teh Uci membereskan rumah, bahkan ikut A Dodi ke ladang untuk
memanen sayuran.
Semua hal itu terasa baru bagi Luna. Tangannya yang biasa memegang buku
kini belajar memegang cangkul. Kakinya yang terbiasa menginjak lantai keramik
mulai akrab dengan lumpur sawah. Tak sekali pun Selin mengeluh ketika Luna
melakukan kesalahan. Ia selalu mengajari dengan sabar.
“Begini, Luna.”
“Bukan begitu.”
“Iya... sekarang sudah benar.”
Tanpa disadari, senyum Luna semakin sering terlihat. Hari-hari yang dulu
terasa panjang kini justru berlalu terlalu cepat.
Tak terasa, hari terakhir liburan akhirnya tiba. Mobil yang dikirim Ibu
akan datang menjelang siang untuk menjemput Luna kembali ke kota.
Entah mengapa, kabar itu tidak lagi membuatnya senang seperti saat
pertama datang ke desa. Justru ada rasa berat yang perlahan memenuhi dadanya.
Ia menatap halaman rumah yang selama beberapa minggu terakhir menjadi
tempatnya menghabiskan waktu. Rumah sederhana itu kini terasa begitu akrab. Ada
Nenek yang selalu menyiapkan sarapan hangat. Ada Teh Uci yang sering
mengajaknya memasak. Ada A Dodi yang sabar mengajarinya bekerja di ladang. Dan...
ada Selin. Orang pertama yang berhasil membuatnya keluar dari cangkang yang
selama ini ia bangun sendiri.
“Melamun lagi?” Suara Selin membuyarkan pikirannya.
“Tidak.”
“Karena hari ini hari terakhir...” Selin menggenggam tangan Luna. “...kita
harus bersenang-senang sampai puas.”
Luna tersenyum tipis. “Terserah kamu.”
“Itu baru Luna yang kukenal.”
Tanpa memberi kesempatan untuk menolak, Selin menarik tangan Luna. Mereka
berlari menyusuri jalan desa. Tawa keduanya bercampur dengan suara gemericik
sungai.
Angin pagi berembus membawa aroma tanah basah. Di kejauhan, para petani
mulai memenuhi sawah sambil memanggul cangkul di bahu. Beberapa melambaikan
tangan ketika melihat mereka berlari. Luna membalas lambaian itu sambil
tersenyum.
Ia berharap... waktu berjalan sedikit lebih lambat. Supaya pagi ini
tidak segera berakhir.
“Siap?” Selin memutar bola basket di ujung jarinya. “Kita tanding.”
Luna masih berdiri mematung di pinggir lapangan. Bukan karena tidak
ingin bermain. Melainkan karena pikirannya terus mengingat bahwa beberapa jam
lagi ia harus pulang.
Selin melempar bola ke arahnya. “Luna!”
Bola itu hampir mengenai wajahnya. Beruntung ia masih sempat
menangkapnya.
“Hei! Fokus!” Selin terkekeh. “Jangan bilang kamu takut kalah.”
Luna mendecak pelan. “Siapa juga yang takut.”
“Nah, begitu.”
Mereka segera berlari memasuki lapangan kecil di tengah desa. Lapangan
itu memang tidak besar. Namun letaknya tepat di tepi hamparan sawah, sehingga
angin selalu bertiup sejuk sepanjang permainan.
Selin bergerak lincah. Beberapa kali ia berhasil merebut bola hanya
dengan tipuan sederhana. Luna berkali-kali terkecoh.
“Heh! Curang!”
“Bukan curang.” Selin tertawa sambil menggiring bola. “Kamu saja yang
lambat.”
“Dasar menyebalkan!” Luna mengejarnya sambil tertawa.
Tak ada yang benar-benar peduli siapa yang menang. Yang mereka inginkan
hanyalah menikmati hari terakhir itu selama mungkin. Seolah-olah.. selama
mereka masih tertawa bersama, perpisahan belum benar-benar tiba.
Meski tertinggal jauh dalam perolehan skor, Luna sama sekali tidak
merasa kecewa. Baginya, melihat Selin tertawa lepas jauh lebih berharga
daripada memenangkan pertandingan.
Rasa lelah, napas yang tersengal, bahkan keringat yang membasahi wajah
seolah tak berarti dibandingkan kebahagiaan yang ia rasakan saat itu. Peluit
kecil buatan Selin menandai berakhirnya permainan.
“Nah,” ujar Selin sambil menyandarkan kedua tangan di pinggang. “Permainanmu
tadi lumayan.”
“Lumayan?” Luna mendengus pelan. “Aku kalah telak.”
“Itu karena lawanmu aku.” Selin mengedipkan sebelah mata dengan wajah
penuh percaya diri.
Luna mengambil bola basket yang menggelinding di dekat kakinya.
“Hari ini memang aku kalah.” Ia menunjuk Selin dengan bola itu. “Tapi
suatu hari nanti aku pasti mengalahkanmu.”
Senyum Selin perlahan mengembang. “Aku tunggu.”
Suaranya terdengar begitu pelan hingga hampir terbawa angin.
“Apa?”
“Aku bilang... aku akan menunggumu.”
Luna mengernyit. “Memangnya kamu meragukan kemampuanku?”
Selin menggeleng. “Bukan.”
Ia melangkah mendekat, lalu mencubit kedua pipi Luna pelan. “Aku hanya
tidak akan membiarkanmu menang semudah itu.”
“Dasar!” Luna menepis tangan Selin sambil tertawa.
Tawa mereka kembali memenuhi lapangan kecil itu. Entah mengapa... tak
seorang pun menyadari bahwa setiap tawa yang tercipta hari itu perlahan menjadi
kenangan.
Selesai makan siang, Luna kembali ke kamar. Begitu membuka pintu,
langkahnya langsung terhenti. Selin duduk di tepi ranjang. Di sampingnya sudah
tergeletak koper milik Luna yang terbuka lebar. Beberapa potong pakaian
tersusun rapi di atas kasur.
“Selin...”
Selin menoleh sambil tersenyum. “Kamu sudah selesai makan?”
“Iya.” Luna berjalan menghampiri. “Kamu sedang apa?”
“Membereskan barang-barangmu.” Tangannya tetap sibuk melipat pakaian
satu per satu.
Gerakannya rapi dan telaten. Seolah ia ingin memastikan tidak ada satu
pun barang Luna yang tertinggal. Luna duduk di sampingnya. Tanpa diminta, ia
ikut membantu melipat pakaian. Keheningan sesaat memenuhi kamar.
Lalu Luna membuka suara. “Masakanmu tadi enak.”
Selin tertawa kecil. “Baru sekarang bilang?”
Luna tersenyum malu. “Sebenarnya... Aku sudah ingin mengatakannya sejak
hari pertama. Hanya saja., aku tidak pernah berani.”
Selin menghentikan tangannya. Lalu menatap Luna dengan lembut.
“Aku senang akhirnya kamu mengatakannya.”
Luna menunduk. “Terima kasih, sudah memasak untukku, sudah sabar
menghadapiku, sudah...”
Ia berhenti sejenak. “...sudah mau berteman denganku.”
Senyum Selin perlahan melebar. “Semua makanan yang kubuat memang khusus
untukmu.”
Luna ikut tersenyum. “Kalau begitu, nanti kalau aku liburan lagi ke sini,
aku tetap mau makan masakanmu."
Selin tertawa pelan. “Tentu. Lalu kapan lagi aku bisa memasak untukmu?”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa... ada nada yang
sulit dijelaskan di balik suaranya.
Luna menatap Selin. “Apa maksudmu? Ya nanti kalau aku datang lagi. Aku
pasti merepotkanmu terus.”
Selin hanya
tersenyum. Ia tidak menjawab. Melihat senyum itu, dada Luna tiba-tiba terasa
sesak. Entah mengapa. Semakin dekat waktu kepulangannya, semakin berat pula
langkahnya meninggalkan desa ini.
“Apa dia benar-benar tidak sedih aku pergi?”
Luna
menatap wajah Selin diam-diam. Tak ada raut kecewa. Tak ada mata yang
berkaca-kaca. Hanya senyum yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
“Ibu... apakah ini alasan Ibu mengirimku ke
sini? Agar aku belajar membuka hati? Kalau memang begitu... kenapa harus
secepat ini berakhir?”
Selama
bertahun-tahun Luna hidup dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri. Di desa
inilah ia belajar tertawa tanpa berpura-pura. Belajar mempercayai orang lain. Belajar
bahwa masih ada seseorang yang mau menunggunya setiap pagi hanya untuk
mengajaknya berjalan-jalan.
“Aku ingin tinggal lebih lama. Aku ingin
tetap di sini.” Suara itu
hanya mampu ia ucapkan dalam hati.
Seolah mengetahui isi pikirannya, Selin
menutup koper perlahan. “Setiap pertemuan...” ucapnya pelan. “...pasti akan
diikuti perpisahan.”
Luna menunduk.
“Pulanglah
dengan hati yang tenang.”
Luna
menggigit bibirnya. “Jadi, kamu memang ingin aku pergi?”
Selin menoleh. Tatapannya tetap lembut. “Bukan
begitu.”
“Kalau begitu kenapa kamu terlihat biasa
saja?” Suara Luna mulai bergetar. “Aku bahkan merasa kehilangan ini lebih sakit
daripada ketika teman-temanku meninggalkanku. Aku baru saja merasa memiliki
rumah lalu harus pergi lagi.”
Untuk pertama kalinya, senyum Selin
memudar. “Aku juga sedih, Luna.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak
menunjukkannya?”
“Karena
kalau aku ikut menangis, siapa yang akan menguatkanmu?"
Keheningan memenuhi kamar. Hanya suara
angin yang masuk melalui jendela. Selin kembali tersenyum.
“Ini bukan akhir. Aku akan tetap di sini. Menunggumu
pulang kapan pun kamu ingin kembali.”
Luna mengangguk pelan. Berusaha menahan air
mata yang sejak tadi memenuhi pelupuk matanya.
“Baik.”
Selin mengangkat sebelah alis. “Hanya itu?”
Luna mengusap matanya cepat-cepat. “Lagipula...
Aku punya satu permintaan.”
Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari
balik punggungnya. Di sela-sela halaman itu terdapat banyak catatan pribadi. Masih
tersisa beberapa lembar kosong.
Luna menyodorkan buku itu bersama sebuah
pena. “Tuliskan sesuatu.”
“Untuk apa?”
“Supaya
nanti kalau aku rindu, aku bisa membacanya.”
Selin memandangi buku itu cukup lama. Lalu
ia mengembalikan pena ke tangan Luna.
“Aku tidak akan menulis apa pun.”
Luna
terdiam. “Kenapa?”
Selin tersenyum lembut. “Karena tulisan
bisa memudar. Kertas bisa hilang. Buku bisa rusak.”
Ia lalu menyentuh pelan dada Luna. ”Tapi
kalau kenangan kusimpan di sini tidak akan ada siapa pun yang bisa
menghapusnya.”
Air mata Luna akhirnya jatuh. Tanpa berkata apa-apa lagi, Selin langsung memeluknya erat. Pelukan itu terasa hangat. Hangat yang perlahan menghapus dinginnya rasa takut akan perpisahan.
***
Masalah tidak pernah benar-benar berhenti selama manusia masih hidup.
Satu persoalan selesai, persoalan lain datang silih berganti. Namun, di antara
semua beban itu, kebahagiaan sering kali mampu membuat luka terasa lebih
ringan.
Empat hari setelah kembali dari desa, kehidupan Luna perlahan berubah.
Ibunya mulai meluangkan lebih banyak waktu di rumah. Setiap malam mereka makan
bersama. Sang ibu sering menanyakan bagaimana liburan Luna, bagaimana keadaan
Nenek, Teh Uci, A Dodi, dan tentu saja Selin.
Setiap kali menceritakan desa, wajah Luna selalu berbinar. Ia baru
menyadari... ternyata ada tempat yang mampu membuatnya merasa pulang.
Pagi itu, hari Minggu. Pintu kamar Luna diketuk berkali-kali.
“Luna... bangun.” Suara ibunya terdengar berbeda. Tergesa.
Luna membuka mata dengan malas. “Masih pagi, Bu...”
“Bangun sekarang.”
Nada itu membuat Luna langsung duduk. Begitu melihat wajah ibunya yang
pucat, rasa kantuknya seketika menghilang.
“Ada apa?”
Ibunya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata lirih, “Selin
dirawat di rumah sakit.”
Jantung Luna seperti berhenti berdetak. “Apa?”
“Ibu jelaskan nanti. Kita berangkat sekarang.”
Tanpa banyak bertanya, Luna mengambil jaketnya. Sepanjang perjalanan, ia
terus menggenggam ponsel dengan tangan gemetar. Tidak satu pun pertanyaan yang
keluar dari bibir ibunya.
Keheningan di dalam mobil justru terasa lebih menakutkan daripada
jawaban apa pun.
Koridor rumah sakit dipenuhi aroma obat-obatan. Suara langkah kaki para
perawat bergema bersahut-sahutan. Luna berjalan semakin cepat.
“Mana ruangannya, Bu?”
Tidak ada jawaban.
“Apa masih jauh?”
Ibunya tetap diam.
“Sebenarnya Selin sakit apa?”
Kali ini sang ibu hanya menggenggam tangan Luna lebih erat. Genggaman
itu membuat Luna semakin takut.
Di ujung koridor, langkah mereka akhirnya berhenti di depan sebuah ruang
perawatan. Luna menatap pintu itu beberapa detik. Entah mengapa... ia tiba-tiba
tidak berani masuk.
Tangannya gemetar ketika menggenggam gagang pintu. Perlahan ia
mendorongnya.
Di dalam ruangan, Nenek segera menghampiri mereka. Wajah perempuan tua
itu tampak jauh lebih lelah dibanding beberapa hari lalu. Tanpa banyak bicara,
Nenek memeluk ibu Luna. Mereka berbicara pelan. Sangat pelan. Luna tidak dapat
mendengar isi percakapan mereka. Namun ia melihat mata ibunya mulai
berkaca-kaca.
Sesaat kemudian, sang ibu keluar ruangan ditemani Nenek. Kini hanya
tersisa Luna dan Selin.
Luna melangkah perlahan mendekati tempat tidur. Dadanya terasa sesak. Gadis
yang beberapa hari lalu masih berlari bersamanya di pematang sawah kini
terbaring lemah. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus. Namun ketika
melihat Luna, ia tetap tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang selalu membuat
orang lain merasa tenang.
Luna menggigit bibirnya kuat-kuat. Jangan menangis. Selin tidak suka
melihat orang menangis. Ia menarik kursi, lalu duduk di samping tempat tidur. Tangannya
perlahan menggenggam jemari Selin yang terasa dingin.
“Selin...” Suara Luna bergetar. “Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau
sedang sakit?”
Selin hanya menggeleng pelan. “Aku... baik-baik saja.”
Kalimat itu terdengar lirih. Bahkan mengucapkannya saja membuat napasnya
tersengal.
Air mata Luna hampir jatuh. “Tidak...” Ia menggeleng berulang kali. “Kamu
tidak baik-baik saja.”
Selin tersenyum tipis. “Aku senang... kamu datang.”
Luna menunduk. Air matanya akhirnya jatuh membasahi punggung tangan
Selin.
“Aku mohon... Cepat sembuh. Aku belum sempat membalas semua kebaikanmu. Aku
belum sempat mengajakmu berlari lagi. Aku belum sempat mengalahkanmu bermain
basket. Jadi... jangan menyerah sekarang.”
Selin mengangguk pelan. Ia mengusap pelan punggung tangan Luna dengan
sisa tenaga yang dimilikinya.
“Tetap... semangat...” Selin berhenti sejenak untuk mengatur napas. “Jangan...
sedih...”
Luna mengangguk cepat sambil menghapus air matanya. “Iya, aku janji. Aku
tidak akan menangis.”
Mendengar jawaban itu, senyum Selin kembali mengembang, meski sangat
tipis.
Dua jam berlalu. Luna terus bercerita. Tentang rumah. Tentang ibunya
yang kini lebih perhatian. Tentang makanan yang gagal ia masak sendiri. Tentang
desa yang selalu ia rindukan.
Sesekali Selin tertawa pelan. Terkadang hanya mengangguk. Namun bagi
Luna... melihat senyum kecil itu saja sudah cukup membuat hatinya sedikit lebih
tenang.
Sebab selama Selin masih mampu tersenyum... Luna masih percaya harapan
itu belum benar-benar hilang.
***
Pagi itu,
sebelum berangkat ke rumah sakit, Luna berniat berpamitan kepada ibunya yang
sedang berada di ruang kerja.
Ini
pertama kalinya ia memberanikan diri membuka pintu ruangan itu. Selama
bertahun-tahun, ruang tersebut hampir selalu terkunci dan jarang dimasuki siapa
pun.
Ruangan
itu dipenuhi rak buku, berkas pekerjaan, dan aroma kopi yang masih hangat. Di
dinding tergantung beberapa bingkai foto keluarga.
Awalnya
Luna hanya melihat sekilas. Namun langkahnya perlahan terhenti. Tatapannya
terpaku pada sebuah foto berukuran besar yang berada tepat di belakang meja
kerja.
Di dalam foto itu terlihat ayahnya sedang
berdiri sambil merangkul seorang perempuan yang tak lain adalah ibunya. Di
pelukan sang ibu... ada seorang anak perempuan kecil yang tersenyum begitu
ceria.
Luna mengernyit. Bukan... Itu bukan
dirinya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia mendekat beberapa langkah,
memastikan penglihatannya tidak keliru. Benar. Anak kecil itu bukan dirinya. Tangannya
mulai bergetar. Dadanya terasa sesak.
“A... aku...”
Suara
langkah kaki terdengar dari belakang. “Luna?”
Ibunya terdiam ketika melihat putrinya
berdiri membelakangi pintu sambil menatap foto itu. Wajah beliau perlahan
memucat. Seolah-olah rahasia yang selama bertahun-tahun disimpan akhirnya
menemukan waktunya untuk terbuka.
Luna membalikkan badan. Air matanya mulai
menggenang. “Bu...” Suaranya bergetar. “Kenapa... tidak ada aku di foto itu?”
Ibunya
tidak langsung menjawab. Beliau hanya menundukkan kepala. Keheningan itu justru
membuat dada Luna semakin sesak.
“Apa... aku bukan anak Ibu?”
“Luna...”
“Kalau
aku memang anak Ibu... siapa anak yang ada di foto ini?” Air mata mulai
mengalir tanpa bisa ia tahan. “Kenapa selama ini Ibu tidak pernah bercerita?”
Ibunya
perlahan mendekat. Beliau menggenggam kedua tangan Luna yang mulai dingin.
“Kamu tetap anak Ibu.”
“Kalau
begitu...” Luna menggeleng pelan. “Jelaskan semuanya.”
Napas ibunya terdengar berat. Beliau
memejamkan mata beberapa detik, seolah mengumpulkan keberanian yang selama
bertahun-tahun tak pernah dimiliki.
“Sebelum kamu lahir.. Ibu pernah memiliki
keluarga yang utuh.”
Luna hanya diam mendengarkan.
“Dulu... Ayahmu bekerja di sebuah
perusahaan. Kehidupan kami sederhana, tetapi sangat bahagia. Dan... kami
memiliki seorang anak perempuan.”
Kalimat itu membuat Luna membeku.
“Namanya...”
Suara ibunya mulai bergetar. “Laselin Nafisa Darmanugraha."
Luna mengangkat wajah perlahan. Nama itu...
terdengar begitu familiar. Laselin... Selin...
“Ibu... Selin...” Suara Luna hampir tak
terdengar. “Dia..”
Air mata ibunya jatuh lebih dulu. “Iya, dia
kakakmu.”
Dunia Luna seakan berhenti berputar. Semua
kenangan selama di desa bermunculan silih berganti. Selin yang selalu
memasakkan makanan untuknya. Selin yang menunggu di bawah pohon setiap pagi. Selin
yang tak pernah marah meski diperlakukan dingin. Selin yang terus mengajarinya
tersenyum.
Selin...
ternyata adalah kakaknya sendiri.
Lutut Luna melemas. Ia terduduk di lantai. Tangis
yang selama ini ia tahan akhirnya pecah.
“Kenapa... Kenapa Ibu menyembunyikan semua
ini dariku?”
Ibunya ikut berlutut memeluk Luna erat. “Karena
Ibu terlalu takut. Takut kehilangan kalian berdua. Tapi tanpa Ibu sadari. Justru
Ibu membuat kalian kehilangan begitu banyak waktu bersama.”
Ruangan itu kembali sunyi. Yang terdengar
hanyalah isak tangis seorang ibu dan seorang putri yang baru saja mengetahui
bahwa orang yang selama ini paling tulus mencintainya adalah kakak kandungnya
sendiri.
Semakin dekat langkah mereka menuju ruang
perawatan, suara tangis itu terdengar semakin jelas. Dada Luna berdebar tidak
karuan.
Jangan... jangan sampai dari ruangan itu.
Ia terus berdoa dalam hati, berharap semua
yang dipikirkannya hanyalah ketakutan yang berlebihan. Namun ketika mereka tiba
di depan pintu, langkah keduanya terhenti.
Kain putih telah menutupi sebagian tubuh
seseorang di atas ranjang. Luna membeku.
“Ibu...” Suaranya nyaris tak terdengar.
Dengan tangan gemetar, ia melangkah
mendekat. Jemarinya perlahan menyibakkan kain putih itu. Harapannya runtuh
seketika. Wajah yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat kini terpejam
untuk selamanya.
Kulit Selin tampak pucat. Tubuhnya terbujur
diam. Tak ada lagi tawa yang biasa memenuhi ruangan. Tak ada lagi suara lembut
yang selalu menguatkannya. Hanya senyum tipis yang masih tersisa di wajahnya,
seolah ia benar-benar pergi dengan damai.
“Selin... telah pergi.” Suara Nenek pecah
di antara tangis yang tak lagi mampu ditahan. Ibu dan Luna pun tak mampu
menahan tangis.
Lutut Luna seketika kehilangan tenaga. Ia
jatuh berlutut di samping ranjang. Air mata yang selama ini berusaha ia tahan
akhirnya mengalir tanpa henti.
“Ibu...
“Luna menggeleng pelan. “Ini bukan kenyataan, kan?”
Tak ada jawaban. Ibunya memeluk Nenek yang
terus menangis.
Luna menggenggam tangan Selin. Dingin. Tidak
ada lagi kehangatan yang beberapa hari lalu masih ia rasakan.
“Bangunlah, Selin...” Suaranya bergetar. “Aku
sudah datang.”
Ia mengguncang tangan kakaknya perlahan,
berharap mata itu kembali terbuka. “Aku mohon... Kamu belum sempat mengajakku
keliling desa lagi. Kamu bilang akan menungguku kembali. Kamu janji...”
Tangisnya
pecah. “Tolong buka matamu sekali saja. Aku belum sempat memanggilmu...”
Luna berhenti berbicara. Dadanya sesak. “...Kakak.”
Satu kata itu akhirnya terucap. Terlambat. Sangat
terlambat.
“Aku baru tahu kalau selama ini kamu adalah
kakakku. Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku? Kenapa kalian semua
menyembunyikannya dariku? Aku bahkan belum sempat menjadi adik yang baik.”
Ia
menundukkan kepala di sisi ranjang. Air matanya membasahi jemari Selin yang tak
lagi mampu menggenggam balik.
Ibunya memeluk Luna erat. “Luna, kita harus
mengikhlaskannya.”
Luna menggeleng berkali-kali. “Tidak. Aku
belum selesai bersamanya. Aku masih ingin mendengar dia memanggilku putri
tidur. Aku masih ingin makan masakannya. Aku masih ingin berlari bersamanya di
pematang sawah. Aku masih ingin kalah bermain basket. Aku masih ingin meminta
maaf atas semua sikapku. Tapi... Semua itu tak akan pernah terjadi lagi.”
Ruangan kembali dipenuhi tangis.Tak ada
lagi kata yang mampu mengubah kenyataan.
Beberapa jam kemudian, jenazah Selin dibawa
pulang ke desa. Luna berjalan keluar rumah sakit sambil menggandeng Nenek,
sementara ibunya menopang tubuh wanita tua itu yang berkali-kali hampir roboh
karena kehilangan.
Di halaman rumah sakit, sebuah ambulans
telah menunggu. Pintu belakang perlahan ditutup. Suara itu terdengar begitu
pelan. Namun bagi Luna, bunyi itu seperti menutup seluruh kenangan indah yang
baru saja ia temukan.
Sepanjang
perjalanan menuju desa, matanya tak pernah lepas dari ambulans yang melaju di
depan.
Di
dalam kendaraan itulah seseorang yang telah mengajarkannya tentang memaafkan,
bersyukur, dan membuka hati sedang pulang untuk terakhir kalinya.
Luna
memejamkan mata. Andaikan waktu dapat diputar Kembali. Ia ingin kembali ke hari
pertama saat Selin mengetuk pintu kamarnya. Ia tidak akan mengusirnya. Ia akan
mengajaknya berbincang. Tersenyum. Dan memeluknya lebih lama.
Namun hidup tidak pernah memberi kesempatan untuk mengulang. Yang
tersisa hanyalah penyesalan dan kenangan yang akan hidup jauh lebih lama daripada
seseorang yang meninggalkannya.
Luna menatap ambulans yang terus melaju di depan. Air matanya kembali
jatuh.
“Harusnya kamu pulang bukan dengan tangisan seperti ini, Kak.” Suara itu
hanya terdengar di dalam hatinya. “Aku belum sempat mengucapkan terima kasih
karena telah hadir dalam hidupku. Belum sempat membalas semua kebaikanmu. Baru
saja aku belajar memanggilmu sebagai kakak... kamu sudah pergi.”
Dadanya kembali sesak. “Apakah ini kenangan yang ingin kamu tinggalkan?
Kenapa harus secepat ini?”
Sesampainya di desa, warga telah berkumpul memenuhi halaman rumah. Mereka
datang satu per satu untuk menyambut kepulangan Selin. Tak sedikit yang
menangis.
Beberapa ibu memeluk Nenek sambil berusaha menenangkan beliau. Anak-anak
yang biasanya bermain di halaman hanya berdiri diam, menundukkan kepala.
Luna baru menyadari. Selin ternyata dicintai begitu banyak orang. Setiap
orang yang datang seolah memiliki cerita tentangnya.
“Selin selalu membantu kami.”
“Dia tidak pernah menolak kalau dimintai tolong.”
“Anaknya lembut sekali.”
Ucapan-ucapan itu terdengar bersahutan. Luna menggigit bibirnya. Selama
ini ia mengenal Selin hanya beberapa minggu. Namun perempuan itu telah
meninggalkan jejak di hati begitu banyak orang.
Angin berembus pelan. Dedaunan di pepohonan bergoyang pelan, seolah ikut
mengantar kepergian seseorang yang selama ini memberi kesejukan. Burung-burung
yang biasa berkicau di pagi hari kini terdengar lirih. Entah mengapa...hari itu
seluruh desa terasa lebih sunyi.
Luna menatap pohon besar tempat Selin biasa menunggunya membaca buku. Pohon
itu tetap berdiri kokoh. Tetapi bangku kayu di bawahnya kini kosong. Untuk
pertama kalinya... Luna berharap melihat Selin melambaikan tangan sambil
memanggilnya,
“Putri tidur!” Namun yang ada hanyalah keheningan.
Luna berjalan pelan di belakang keranda. Setiap langkah terasa berat. Di
sepanjang jalan menuju pemakaman, kenangan demi kenangan bermunculan begitu
saja.
Selin berlari sambil tertawa. Selin memasak makanan kesukaannya. Selin
mengajaknya bermain basket. Selin menunggu di bawah pohon setiap pagi. Selin
memeluknya sebelum pulang. Semuanya terasa begitu dekat... namun kini tak
mungkin terulang.
Gerimis turun perlahan. Langit yang sejak pagi mendung akhirnya
melepaskan hujan. Butir-butir air membasahi tanah, dedaunan, dan wajah
orang-orang yang mengantar kepergian Selin. Seolah alam pun ikut berduka.
Luna memandang langit.
Hidup memang tidak pernah memberi tahu kapan sebuah pertemuan akan
berakhir. Tak ada seorang pun yang tahu kapan waktunya kembali kepada-Nya. Yang
tertinggal hanyalah kenangan dan orang-orang yang harus belajar menerima
kehilangan.
Setelah semua pelayat perlahan meninggalkan pemakaman, Luna masih tetap
duduk di depan pusara yang tanahnya masih merah.
Di samping makam Selin berdiri pusara Ayah. Luna mengusap batu nisan itu
perlahan.
“Ayah... Sekarang Kak Selin sudah pulang menemanimu.” Ia menarik napas
panjang. “Lubuk hatiku akan selalu menyimpan semua kenangan tentang Kakak. Terima
kasih sudah mengajariku bahwa memaafkan tidak pernah membuat seseorang menjadi
lemah. Terima kasih sudah mengajariku bagaimana mencintai tanpa meminta
balasan. Dan terima kasih karena telah menjadi kakak terbaik yang pernah Tuhan
kirimkan untukku."
Luna tersenyum di balik air matanya. “Aku sayang Kakak. Semoga Tuhan
memelukmu dengan kasih sayang-Nya. Kelak izinkan aku bertemu lagi denganmu. Bukan
untuk mengucapkan selamat tinggal melainkan untuk mengucapkan terima kasih,
sekali lagi.”
Angin kembali berembus pelan. Luna memejamkan mata. Entah mengapa… untuk
sesaat ia merasa seolah ada seseorang yang sedang mengusap rambutnya dengan
lembut. Seperti terakhir kali Selin melakukannya. Lalu semuanya kembali sunyi.
Hanya doa... yang terus mengalir di antara rintik hujan.
Terimakasih
Ini ceritaku.. DILARANG COPYPASTE!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar