
Jangan
biarkan perbuatan salah, menutup ingatan yang baik!
Kita
sendiri yang mengatur akal dan pikiran untuk melakukan suatu perbuatan. Jadikanlah setiap detik itu
perjalanan yang berarti! Namun terkadang kita menganggap yang lalu biarlah
berlalu. Jika pemikiran kita seperti itu. Apa gunanya kita hidup dalam setiap
hitungan?
***
Panorama
alam pedesaan tampak nyata di pelupuk mata. Tidak ada deretan rumah yang
menjulang tinggi menghalangi senyum mentari. Suasana ini sejenak membuat
seseorang melupakan kegundahan yang terasa setiap hari.
Luna
duduk pada kursi kayu di balkon kamar. Memejamkan mata, mendengarkan lagu di
ponsel dengan volume keras hingga mempermainkan kesadaran.
Waktu
liburan ini, dia mengunjungi desa tempat Ayahnya dilahirkan. Pemandangan desa
masih sejuk, jauh dari bising dan polusi kendaraan. Desa tempat dimana suara
kicau burung saling bersahutan, gemericik aliran sungai yang merdu dan ramai
riuh pemukiman penduduk terasa damai.
Padang
hijau terbentang menyambut mentari kembali ke peraduan. Lukisan alam menghiasi
kornea. Menentramkan lamunan sepi, mengantar seruan petani kembali ke tempat
singgah, membawa seikat kerja keras untuk nyanyian riang anak-anak tidak
bersayap.
Gunung
menjulang menghalangi mentari. Sang surya meredup, berganti senyum tipis bulan
merajai langit. Sinarnya memancar menguasai kelam. Luna menyambut hawa
dingin. Termenung menyusuri kesunyian, memutari detak waktu dalam diam,
menghapus problema hidup yang membebani, mengajak raga berpikir dewasa. Dia
ingin menyembunyikan pikiran, walau sejenak sampai akhirnya mengerti inilah rotasi
kehidupan.
Perjalanan
dalam remang membawa keputusasaan. Meringis sendiri dalam gelak tawa setiap
insan. Hidup dalam balutan nestapa yang ingin terakhiri. Kehidupan serumit
apapun telah Engkau khendaki. Takdir mengikuti setiap langkah. Terpancar
kuasaMu dalam gelap.
“Luna.
Apakah suaraku sudah bisa kamu dengar?” Seseorang membuka earphone, mendekatkan
suara kencang tepat di telinga. Luna terbangun, menatap geram tetapi seuntai
senyum tersungging di bibir Selin, mengajak berdamai.
“Selin,
mengganggu saja.” Menatap wajah tidak bersalah. Luna kembali berbaring tetapi
Selin segera menarik tangan Luna. Dia jengkel melihat orang di hadapannya tetap
duduk malas.
“Ayolah
Luna. Apakah kamu akan menghabiskan waktu di kamar?” bujuknya.
“Tentu
saja tidak tetapi aku lelah. Malam ini waktuku untuk istirahat.“ Luna berjalan
menuju kamar, menghempaskan badan ke tempat tidur. “Keluarlah! Cari waktu
yang tepat untuk menemuiku!” dengan nada kesal.
“Baiklah,
aku minta maaf telah mengganggumu. Selamat tidur!” Luna mengangguk, memang itu
yang dia harapankan.
Pintu
kaca tertutup perlahan, kamar meredup. Langkah Selin mendekat, membenarkan
selimut untuk menutupi badan Luna, tangan lembut mengusap rambut.
Ini
hari ke tiga Luna tinggal di desa. Rumah besar diisi 5 orang termasuk Luna.
Nenek, orangtua Ayahnya yang terlihat awet muda. Selin yang Luna anggap sepupu,
padahal dia tidak tau asal-usul gadis itu. Terakhir pasangan muda yang Nenek
anggap anak sendiri, Teh Uci dan suaminya A Dodi. Liburan sekolah tahun ini
Luna dititipkan pada keluarga Ayahnya, padahal biasanya dia habiskan liburan di
kota metropolitan bersama teman atau berdiam diri dirumah karena orangtua dari
Ibunya sudah meninggal, tidak ada sanak saudara lagi.
Umur
Selin dan Luna tidak terpaut jauh. Selin sangat baik tetapi Luna tidak mudah
akrab dengan orang. Menurutnya, orang lama seperti Ibu saja tidak mengerti
dirinya apalagi orang baru. Ibu sibuk bekerja, menggantikan tugas Ayah yang
telah tiada.
Luna
tumbuh seperti anak lain. Namun bukan orang yang mudah bersosialisasi,
cenderung menyendiri dan tidak suka diganggu.
***
Kriuk..kriuk..
Bukan suara detak jarum jam di samping ranjang, bukan suara ayam pertanda
mentari telah beranjak menuju singgasana. Bunyi itu akibat getaran cacing perut
meminta sesuap nasi. Semalam Luna tidak sempat makan karena tertidur pulas.
Luna
duduk di tepi ranjang, melihat jam beker di atas meja menunjukan jam 07.00.
Nyawa belum seluruhnya berkumpul. Malas hinggap memberatkan otot-otot saraf,
memaksa kaki menuju kamar mandi, kemudian membasuh muka.
“Luna
kemarilah!” sebuah suara memanggilnya dari arah dapur.
“Ada
apa Nek? Apa ada yang perlu aku bantu?”
“Tidak
nak, Nenek menyiapkan sarapan untukmu. Duduklah!” Luna duduk di depan meja
makan, memandang Nenek yang sibuk memindahkan soto ayam ke mangkuk.
“Terimakasih
Nek.”
“Makanlah!
Nenek lihat dari kemarin sore kamu tidak keluar kamar. Kamu pasti lapar.”
“Nenek
tidak ikut makan? Bagaimana kalau aku ambilkan biar kita makan bersama?”
“Masih
kenyang, tadi pagi Nenek sarapan bersama Selin.”
“Selin?“
Mendengar
namanya teringat kejadian tadi malam. Luna membentak, harusnya tidak perlu
bersikap kasar. Luna tidak sempat menanyakan perihal Selin menemuinya. Sikap
seperti itu adalah sebuah pertahanan saat dia merasa canggung.
“Selama
kamu disini, Selin akan memasak khusus untukmu.”
“Kenapa
Nek?”
“Dia
sangat perhatian padamu. Perbuatan baik tidak akan Nenek larang.” mendengar
penuturan Nenek bagai hantaman keras di hati Luna.
Amarah
telah melukai orang yang perhatian. Ibunya saja tidak pernah menyiapkan
makanan. Mungkin dia juga tidak tau makanan kesukaan Luna. Dia segera
menghabiskan makanan, berniat mencari keberadaan Selin.
“Selin.”
Selin
duduk di bawah pohon tidak jauh dari rumah, dia melambaikan tangan. Luna
memberanikan diri, berjalan menghampiri dengan perasaan bersalah.
“Sedang
apa kamu di sini?”
”Bukankah
aku selalu menunggumu di sini, putri tidur.” Senyum mengembang di pipinya
membuat Luna takut.
”Menungguku?”
Bagaimana Luna percaya jika setiap pagi, siang, bahkan sore hari, sering
melihatnya duduk di sini dengan buku bacaan di tangan. Wajah serius menggurat
kepribadian baik, Luna tidak berani mengganggu.
”Ada
apa kamu mencariku?”
“Iya,
aku...” ucap Luna menggantung.
“Mau
mempertanggungjawabkan kesalahanmu?” Selin menepuk pundak Luna.
“Memang
aku salah apa? asal kamu tau saja aku tidak peduli kamu marah atau tidak, aku
kesini hanya untuk.” Luna berat mengatakan kejujuran. Haruskah mempertahankan
keegoisan di saat seperti ini? Belajar mengatakan sesuatu yang bermanfaat agar
tidak mengulang kesalahan yang sama, rasanya sulit.
“Untuk
apa Luna?”
“Untuk
mengatakan. Aku tidak suka melihatmu duduk di bawah pohon ini. Cari tempat
lain! Jangan menghalangi pemandangan depan jendela kamarku! Aku tau tidak
berhak untuk mengatur hidupmu tetapi aku terganggu.“
Selin
menanggapi dengan tersenyum. Luna tidak berani mengatakan apa-apa lagi.
Sebenarnya bukan itu tujuan Luna tetapi bibir tersumbat, egois menghambat kata
yang sudah tersusun untuk mengakhiri pertentangan, sehingga terlontar ucapan
tidak sesuai. Luna memilih pergi.
***
Gadis
berparas cantik itu tidak menggubris perkataan Luna tempo hari. Saat Luna
membuka jendela, Selin sudah berada di bawah pohon. Luna ingin sekali menyapa
tetapi tidak mampu berucap, ingin sekali tersenyum tetapi terlanjur malu. Namun
langkah kaki menuntunnya kesana.
“Selin,
maaf! Waktu itu aku sangat egois.” Kata maaf terlontar saat hati memaksa Luna
menemuinya.
Berharap
dia mengerti keegoisan telah merubah tabiat seseorang, melupakan arti memahami
oranglain. Luna tidak mendapat jawaban, Selin melangkah mundur, menutup
setengah wajah dengan buku.
“Kamu
masih marah padaku?” Luna kebingungan.
“Luna,
aku tidak suka melihat wajahmu seperti itu!” Selin tertawa.
“Wajahku?
Ada apa dengan wajahku?” Luna sedikit panik, memegangi area wajah.
“Jika
kamu tunjukan wajah memelas sekali lagi, itu akan mengundang tawa seharian ini.
Kamu lucu sekali.” Perkataanya terlanjur membuat wajah Luna memerah. Selin
tersenyum meyakinkan kalau dia tidak serius.
“Aku
akan memaafkanmu. Jika kamu mau menemaniku keliling desa. Bagaimana?” Selin
mengajukan kesepakatan.
Luna
mengangguk lega. Meskipun berat untuk dia lakukan, bersosialisasi dengan orang
baru. Luna sangat sensitif, dia lebih memilih tidak berteman jika ada yang
menyinggung kehidupan pribadi. Luna lebih senang dekat dengan orang yang tidak
banyak bertanya. Jika mau, dia akan ceritakan semua kisah hidupnya, jadi cukup
dengarkan saja!
Kabut
menutupi jalan setapak, semilir angin menusuk tulang. Masuk menjelajah
pori-pori yang seakan terbuka lebar. Luna mengigil kedinginan, asap putih
keluar dari hembusan nafas. Jaketnya tidaklah setebal jaket musim dingin tetapi
Selin yang mengenakan kaos lengan pendek terlihat menikmati udara pagi.
Mata
kembali terisi memori indah bagai kamera menemukan objek foto. Para petani
berjalan beriringan melewati tepian sawah, menyusuri jalan setapak, menebar
senyum pada benih yang telah di semai, meyakinkan bahwa esok hasil panen akan
melimpah.
Satu
jam terlewati, Luna berlari sejajar bersama Selin. Mereka mengelilingi desa,
bersenda gurau, bercengkrama, sesekali membuat lelucon. Luna tidak pernah
merasa sebahagia ini. Bersamanya seakan muncul pelangi menghapus jejak tinta
hitam. Sekarang apakah mereka berteman? inikah teman yang Luna inginkan?
Mereka
berlari seperti siput. Jika cuaca panas, Luna pasti terkapar di tengah jalan.
Dia memutuskan berlari cepat, Selin tidak mau mengalah. Mereka saling menyusul.
Terkadang harus berhenti untuk mengatur nafas, menertawakan kekonyolan
masing-masing.
Luna
berlari mendahului Selin, tetapi tidak mendengar teriakan yang bisa saja
memecahkan gendang telinga. Mungkin Selin berada jauh di belakang. Selin selalu
ingin Luna menunggu tetapi saat lengah, dia akan ditinggalkan. Namun Luna tidak
mendengar langkah kaki, tidak mungkin Selin melepas sepatu di jalan berbatu
untuk mengelabui. Luna memutar badan ke belakang untuk memastikan. Rasa panik
berkecamuk saat melihat Selin duduk di pinggir jalan.
”Selin,
apa kamu baik-baik saja?” Tidak terdengar jawaban. Luna mengangkat kepala yang
tertunduk, wajah Selin pucat.
“Selin,
bertahanlah! Katakan sesuatu! Ayo kita pulang saja sepertinya kamu sakit!”
“Aku
baik-baik saja Luna. Bisakah kamu rahasiakan ini dari Nenek, aku tidak mau
beliau khawatir!”
“Baiklah.”
Luna memutuskan membawa Selin ke tepi. Ada pohon besar untuk bersandar, menunggu
sampai badan Selin membaik.
“Maaf
Luna, aku merepotkanmu.”
“Tidak,
aku sudah janji akan menemanimu sebagai permohonan maaf.”
“Kamu
tidak bersalah.”
“Tetapi
aku merasa begitu.”
“Setiap
orang pernah melakukan kesalahan. Jangan biarkan kesalahan membuat kamu
membenci seseorang! Aku tidak pernah membenci siapa-siapa. Apalagi kamu, tidak
akan pernah.”
“Meskipun
aku mengecewakanmu?”
“Hidup
penuh kekecewaan. Jika kamu merasa terpuruk karena di kecewakan. Kamu salah
besar. Jadikanlah rasa kecewa sebagai acuan untuk kamu berpikir dewasa!”
“Bagaimana
caraku berpikir dewasa, jika rasa kecewa itu menundukanku?”
“Bukankah
kamu hidup di dunia tidak untuk mengalah pada keadaan? Tuhan selalu
menyertaimu. Kenapa kamu malah mengecewakanNya? DIA akan menolong jika kamu
meminta.”
“Ya,
aku tidak menyadari. Aku selalu merasa sendiri, semua orang meninggalkanku.
Ketika aku percaya pada teman, dia menghianati. Ketika aku percaya pada
kekasihku, dia menyakiti. Ketika aku butuh sandaran ibu, dia tidak ada
waktu.”
“Tuhan
selalu ada untukmu.” Luna mencoba memahami ucapannya. Angin semilir
mengibas rambut panjang yang tergerai, Selin sangat tenang.
***
Selin
mengubah kebiasaan Luna yang senang menyendiri. Setiap hari ada aktifitas yang
dilakukan bersama seperti menemani Teh Uci berbelanja ke pasar, mengunjungi
pasar malam, bermain di sungai dan sawah dengan anak desa, memancing ikan,
memasak dengan Selin, membereskan rumah, bahkan membantu A Dodi di ladang. Luna
tidak keberatan diajarkan banyak hal dengan kesabaran.
“Benarkah.”
Menatap wajah berbinar membuat semangat Luna memuncak, menutupi rasa sedih akan
perpisahan.
Waktu
liburan terlewati penuh sukacita. Luna mulai betah tinggal di desa, Nenek,
Selin, Teh Uci dan A Dodi selalu memperhatikan. Namun ini hari perpisahan,
sebelum mobil jemputan yang di kirim Ibu datang membawa Luna kembali menikmati
hiruk-pikuk metropolitan.
“Kalau
begitu kita mulai hari ini dengan bermain sepuasnya.” Selin sangat bersemangat.
“Terserah
padamu Selin!” ucapnya lemas.
Selin mengenggam tangan Luna. Berlari dengan tawa riang
menyusuri aliran sungai. Aliran air bagai sebuah nada, mengalun merdu menyatu
diantara suara petani bercengkrama. Bagai lagu pembuka mentari beranjak naik.
Petani memikul beban di pundak. Tersenyum menyambut deretan padi. Berharap
kerja keras mereka tidak mengecewakan seperti senyum mentari. Desa sangat setia
memberikan pemandangan indah. Luna ingin waktu melambat agar tidak kehilangan
kehidupan yang nyaman.
”Bisa kita mulai
pertandingannya?”
Luna
dapat mendengar suara itu tetapi tidak mampu menjawab. Masih berdiri mematung
di pinggir lapangan. Ada perasaan lain dalam hati, sulit di pahami harus senang
atau sedih. Luna berharap Ibu akan mengembalikannya ke tempat ini.
Selin melemparkan
bola basket ke arah Luna. Beruntung dia berhasil menangkap
kalau tidak kepalanya akan merasakan keras bola.
“Ayo
cepat! Kenapa malah mematung? Apa kamu tidak berani melawanku?” ledek Selin.
Luna
berlari ke tengah lapang. Memantulkan bola di tangan. Lapangan desa biasanya
digunakan sesuai kepentingan penduduk, tidak besar tetapi letaknya strategis
tidak jauh dari pesawahan.
Selin
bermain agresif dalam merebut bola.
Saking cepatnya lawan tidak akan menyadari. Dia pintar mengecoh membuat Luna
kesulitan. Dia asik mempermainkan Luna, sengaja memancing rasa jengkel tetapi Luna sudah terbiasa dengan
tingkah jailnya. Meskipun pertandingan
ini harusnya serius tetapi gelak tawa tidak pernah berhenti.
Skor yang Luna dapat sangat tertinggal, melihat Selin
tertawa riang lebih berarti ketimbang skor tinggi. Rasa lelah terhiraukan
saat kesenangan bisa melebihi.
”Permainanmu tadi lumayan bagus Luna.
Akan lebih bagus jika kamu berhasil mengalahkanku.”
”Hari
ini aku kalah, nanti aku akan membalasnya. Tunggu saja!” Luna sedikit
bersemangat.
“Aku
tunggu suatu saat nanti!” suara Selin terdengar pelan.
“Apa
kamu meragukan kemampuanku?”
”Tidak, aku akan menunggu. Kamu tidak akan aku biarkan
berhasil mengalahkanku.” Tangan mencubit kedua pipi Luna pelan. Luna tertawa, begitu juga
Selin.
Selesai
makan siang, Luna berjalan menuju kamar. Selin duduk ditepi ranjang dengan
tumpukan baju. Dia tidak menyadari kedatangan Luna.
“Selin
apa yang kamu lakukan?” Dia tersenyum, tangannya sibuk membereskan baju milik
Luna. Tangan cekatan melipat dan memasukkan baju ke dalam koper. Luna duduk di
samping segera membantu.
“Bagaimana
rasa masakannya?”
“Tidak
ada yang berubah, makanan buatanmu selalu enak. Terimakasih sudah peduli
padaku.” Kata yang ingin terucap sejak pertama Luna merasakan masakan Selin.
Selama ini memilih diam, mengganjal di ujung lidah menjadi penghuni setia
padahal berontak ingin keluar, baru keluar di hari perpisahan.
“Iya,
itu khusus untukmu. Kapan lagi aku bisa memasak untukmu?”
“Apa
maksud perkataanmu? Tentu saja jika aku ke sini lagi. Aku akan selalu memintamu
memasak.” Melihat Selin tertawa, Luna menahan tangis.
“Apa
dia senang jika aku pergi? Tidak ada raut sedih sedikitpun. Ibu inikah
tujuanmu mengirimku ke tempat ini. Mengubah tabiat buruk. Hanya itu? Ibu
biarkan aku merasakan kebahagiaan lebih lama, bukan kekangan yang selama ini
terasa. Aku ingin
terlahir kembali, terbang bebas seperti burung tetapi tidak akan melupakan
sarang. Mengalir seperti air yang akan selalu bermuara pada lautan. Melesat
seperti angin melanglang buana tetapi tetap ada di sekitarmu. Ibu, aku
menghargaimu tetapi bisakah kamu kabulkan satu permintaanku? Aku ingin tetap
disini!” batin Luna menjerit.
“Setiap
pertemuan pasti ada perpisahan. Pulanglah dengan perasaan tenang!” ucap Selin
tanpa menatap mata Luna.
“Kamu
menginginkan aku pergi? Kamu tau, rasa kehilangan itu muncul lagi melebihi
sakit yang terasa saat ditinggal teman. Aku kecewa pada waktuku yang terasa
singkat disini.” Dada Luna kian sesak menatap wajah Selin yang tenang.
“Aku
tau kamu bersedih Luna, aku juga merasakan hal yang sama tetapi ini bukan
akhir. Aku menunggumu di sini, kapanpun kamu bisa kembali.” Sejenak mereka
terdiam, melawan rasa sedih dalam hati masing-masing.
“Baiklah.”
ucap Luna berusaha tegar.
“Hanya
itu yang ingin kamu katakan?”
“Tidak,
bolehkah aku memintamu menulis sesuatu di file ku?” menunjukan sebuah buku
pada Selin. Buku yang sejak tadi tersembunyi di belakang punggung, di dalamnya
terdapat tulisan pribadi. Luna ingin tulisan Selin ada dilembar berikutnya.
Luna tidak lupa menyediakan lembaran kosong dan pena.
“Untuk
apa?”
“Sebuah
kenangan. Tuliskan apa saja yang ingin kamu ungkapkan! Aku akan menyimpannya.
Jadi kamu harus mengisinya!“
“Aku
akan membiarkan kertasnya tetap kosong. Aku akan membuat kenangan di memori
dalam hati dan pikiranmu. Itu kenangan yang bertahan lama, tidak akan
terhapuskan.” Selin memeluk penuh haru.
***
Masalah
tidak akan berhenti selama hidup sampai berakhir kehidupan tetapi masalah
memudar perlahan ketika kebahagian muncul. Empat hari setelah meninggalkan
desa. Luna merasa Ibu lebih perhatian, tidak terlalu sibuk. Banyak hal yang dia
tanyakan tentang liburan Luna. Kisah itu membuat wajahnya terlihat ceria.
Pagi
di hari minggu Ibu membangunkan Luna. Wajahnya panik setelah mendengar kabar
Selin dirawat di rumah sakit. Mereka melewati setiap koridor rumah sakit dengan
langkah tergesa-gesa. Luna tidak merasakan kakinya berpijak. Dia ingin menangis
tetapi Luna mencoba tegar, Selin tidak suka melihat seseorang menangis karena
dirinya.
“Mana
ruangannya Bu? Apa masih jauh? Sebenarnya Selin sakit apa Bu?”
Mereka
tidak kunjung melihat ruangan Selin. Ibu tidak menjawab, menyembunyikan
kecemasan seorang diri. Berbeda dengan Luna yang panik tidak karuan, kesabaran
sudah habis ingin segera bertemu. Ibu menghentikan langkah di depan ruangan
paling pojok.
Tangan
gemetar menggenggam gagang pintu, lalu mendorong perlahan. Luna mengikuti
langkah kaki Ibu. Nenek menghampiri kedatangan mereka. Nenek dan Ibu melakukan
perbincangan, terdengar berbisik. Wajah Ibu memucat, air matanya jatuh. Dia
hanya mampu menatap Selin sebentar setelah itu pergi keluar ditemani Nenek.
Luna
duduk di samping tempat tidur Selin. Gadis ceria kini terbaring lemah, badan
kurus, muka layu, hanya senyum tulus yang membuat orang-orang di sekitar tidak
mau menangis dan menunjukan rasa sedih melihat keadaannya.
“Itu
tidak cukup Selin. Aku merasakan sakitmu tertahan. Kamu kuatkan ragamu, tetapi
jiwamu menangis. Sembuhkan Selin! aku mohon ya Allah, angkat penyakitnya!”
“Aku
senang masih bisa melihatmu.” Gerak bibirnya kaku, suaranya terdengar sangat
berat. Jangankan untuk berbicara, menggerakan tangan saja sangat lemas.
“Cepat
sembuh Selin!” Air mata perlahan menghangatkan pipi. Luna segera memalingkan
wajah. Berharap Selin tidak memperhatikan.
“Tetaplah
di sini! Aku merasa bahagia mendapat ujian ini. Untukmu tetap semangat!” Selin
selalu ingin terlihat baik-baik saja.
Dua
jam terlewati, Luna menceritakan keseharian di rumah. Selin tersenyum, sesekali
tertawa. Dia senang melihat separuh diri Selin kembali.
***
Setiap
pulang sekolah Luna menyempatkan diri menjenguk Selin. Sudah seminggu dirawat,
tidak ada perubahan. Nenek istirahat di rumah Luna tetapi lebih banyak waktu
menemani Selin. Luna tau Ibu juga sering menjenguk. Meskipun dia selalu diam
jika ditanya tetapi raut wajahnya membenarkan. Apalagi setiap hari bunga lili
kesukaan Ibu menghiasi ruangan Selin.
Minggu
pagi, Luna ingin berpamitan ke rumah sakit pada ibu. Dia memberanikan diri
masuk ke ruang kerja. Ini pertama kali Luna menginjakan kaki keruang itu karena
biasanya terkunci. Saat dia melihat sekeliling, banyak foto keluarga bahagia
terpajang di dinding. Seketika mata menyorot bingkai foto besar di depan meja
kerja. Gambar seorang perempuan menggendong anak kecil dengan seorang lelaki di
sampingnya. Itu Ayah dan Ibunya tetapi wajah anak kecil itu bukan Luna. Badan
Luna melemas tidak mampu menahan tangis, Ibu datang memeluk.
“Ibu,
kenapa tidak ada aku di sana?” Pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Luna.
Luna juga tidak pernah mengetahui gadis itu. “Apa aku bukan anak Ibu? Aku
tidak ada dalam daftar keluargamu? Katakan sesuatu bu! Berikan aku penjelasan!
Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui.” Luna semakin terisak.
“Luna,
apa yang kamu ucapkan tidak benar? Kamu putri Ayah dan Ibu.”
“Lalu
apa maksud foto dihadapanku? Jangan membuat aku tidak mengerti!”
Sebelum
Luna dilahirkan, Ibu hidup dengan keluarga lengkap. Dia di karuniai seorang
putri dan suami pekerja keras. Namun krisis ekonomi di zaman itu telah membuat
perusahaan Ayah gulung tikar.
Masalah
kian rumit membuat mereka memilih berpisah saat Luna usia 6 bulan. Ibu memilih
mengelola butik dari nol, mengikhlaskan anak pertamanya dirawat Ayah di desa.
Ibu
tidak pernah mengenalkan Luna pada Selin. Dia mengesampingkan tugas mengasuh
anak pertamanya. Meskipun Ayah telah tiada tetapi dia tidak lupa membiayai
kebutuhan putrinya. Ibu menutup rapat hal itu dari Luna. Dia tidak mau
mengungkapkan masa lalu demi memulai kebahagiaan baru. Untuk pertama kalinya
Ibu menyebutkan nama anak perempuan itu, kakak Luna, Laselin Afiasa
Darmanugraha.
Ketika
berjalan menuju ruangan Selin yang berada di ujung. Entah kenapa Luna merasa
takut. Dia sendiri tidak dapat mengartikan. Harusnya Luna senang mengetahui
Selin adalah kakaknya. Dari kejauhan mereka melihat dokter dan perawat keluar
dari ruangan Selin, tidak sempat dihentikan karena mereka berbelok di
persimpangan, menuju ruang lain rumah sakit.
“Kenapa
kamu tidak berani mengungkapkan kebenaran? Selin, kenapa kamu berpura-pura
tidak mengetahui semuanya? Apa kamu tidak merasa iri padaku yang dibesarkan
Ibu? Aku sering merasa sendiri tetapi kenyataannya Selin lebih menderita.”
Semakin
dekat langkah mereka, semakin jelas terdengar. Di ruangan itu? Berharap tidak
sesuai pikiran tetapi kaki mereka refleks berlari ke ruangan tempat Selin
berada. Kain putih menghalangi pandangan. Luna menyibak perlahan berharap
dugaannya salah. Wajah itu tidak tersenyum menyambut kedatangan mereka. Tubuh
terbujur kaku, kulit pucat, mata terpejam tenang, senyum tersungging manis di
pipi.
“Selin
telah pergi.” ucap Nenek dalam tangis.
Hanya
Nenek yang menemani sebelum Selin menghembuskan nafas terakhir. Luna lemas
memandang tubuh yang kaku. Ibu menangis, memeluk Nenek. Luna tertunduk di
samping ranjang, air mata turun membasahi pipi, kini tidak bisa di bendung
lagi.
”Tidak,
aku mohon! Bangunlah Selin! Ini pasti mimpi. Sadarlah! Aku mohon Tuhan, tolong
kembalikan dia! Selin, aku sudah kembali tetapi kenapa kamu diam saja? Kenapa?
kamu tau aku merindukanmu sebagai seorang kakak. Apa kamu tidak mau menyapa
adikmu? Selin katakan sesuatu! aku disini.” Luna menatap wajah Selin,
berharap keajaiban datang, membukakan mata dan mengembalikan bunyi detak
jantungnya tetapi itu mustahil.
Ibu
mencoba menenangkan Luna tetapi dia tetap tidak bisa tenang. Dia merasa
bersalah tidak menemani di detik terakhir sebelum Selin pergi, menyapa sebagai
kakak yang Luna sayangi.
“Ibu
kita terlambat. Aku tidak menemani kakak. Dia tidak sempat mengucapkan selamat
tinggal padaku. Apakah kita bermimpi hal yang sama. Iya kan bu? Ayo kita
bangun. Selin sudah sembuh kan bu?”
“Tidak
Luna. Kita harus mengikhlaskan Selin pergi.”
Badan
Luna lemah tidak mampu menyentuh, apalagi memeluk Selin. Dia terduduk dipinggir
ranjang, tidak sanggup melihat Selin terdiam tanpa pancaran menenangkan, tawa
riang, tatapan teduh, senyum tulus dan tingkah lucunya.
“Kamu
menghilang dan tidak akan pernah kembali. Sampai kapanpun aku tidak bisa
menemuimu, bahkan melihatmu dalam kehidupan nanti. Tidak akan pernah ada kakak.
Aku tidak bisa membayangkanmu kembali, Selin.”
Luna
berjalan bersama Ibu yang memapah Nenek ke dalam mobil karena sebentar lagi
jenazah Selin akan langsung di bawa pulang ke desa. Sepanjang perjalanan
mengingatkan semua kenangan yang terasa sekejap. Memandang ambulance bagai
mimpi buruk. Siapapun tidak pernah menginginkannya. Rasanya ingin terbuang
kembali ke masa lalu, terbangun memperbaiki semua.
“Harusnya
kamu pulang tidak dengan tangisan. Aku ingin kamu tau, kamu adalah kakak
terbaik. Belum sempat aku berterimakasih telah hadir dalam hidupku. Kamu malah
pergi. Inikah kenangan yang ingin kamu tinggalkan. Kenangan? Kenapa seperti
ini?”
Warga
desa ikut menjemput kepulangan Selin. Si gadis cantik dan manis menebar
keteduhan pada siapapun. Suara burung memecah sunyi.
“Apa
mereka menangis? mereka mengenali Selin sebagai orang yang tidak mau menyakiti.
Kamu menyembunyikan rasa sakit demi kebahagiaan orang lain. Pohon itu
tertunduk. Apa dia juga menangis? Apa dia merindukanmu?”
Luna
berjalan di belakang keranda, membayangkan Selin berlari di halaman dengan tawa
riang, sendirian. Kenyataannya halaman penuh sesak pelayat.
Gerimis
menutup mentari, mewakili tataran bumi menangis kehilangan. Tidak ada yang
mengetahui kapan waktu yang termiliki berhenti mengikuti rotasi. Akan tiba
waktunya tubuh ini kembali padaNya. Tidak ada lagi urusan dengan dunia. Kita
tidak akan tau berapa banyak air mata, menangisi kepergian. Mereka yang
menyayangi, menyesal, berharap bisa bersama bahkan mereka yang membenci juga
akan merasa kehilangan. Akan banyak ungkapan dari mereka yang selama ini tidak
tersampaikan.
“Lubuk
hati dan pikiran menyimpan semua kenangan meskipun kamu telah pergi. Aku sayang
kamu kakak. Kalian yang terbaik. Tuhan akan menempatkan kalian di Surga.” Luna
duduk di depan pusara Selin samping pusara Ayah.
Terimakasih
Ini ceritaku.. DILARANG COPYPASTE!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar