Ada kehadiran yang tidak dapat
dijelaskan oleh logika. Tidak terlihat oleh mata, tetapi cukup nyata untuk
membuat bulu kuduk meremang.
Setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing. Sebagian takut pada gelap, sebagian lagi takut pada kesunyian. Namun ada ketakutan yang jauh lebih sulit dijelaskan—ketika kita merasa tidak benar-benar sendirian, padahal tidak ada siapa pun di sekitar.
Suara jarum jam memecah keheningan malam. Tik... Tik... Tik...
Irama itu berpadu dengan detak
jantung Meli yang belum juga tenang. Sejak pulang sekolah, ia memilih mengurung
diri di kamar. Punggungnya bersandar di kepala ranjang, kedua lutut dipeluk
erat, sementara pandangannya kosong menembus lantai. Bayangan kejadian pagi
tadi terus berputar di kepalanya.
Pukul enam pagi, Meli berangkat
lebih awal untuk menghindari kemacetan. Karena terburu-buru, ia bahkan tidak
sempat berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Udara pagi masih dingin ketika
ia melangkah menyusuri jalan kompleks yang lengang. Hanya suara burung dan
desir angin yang menemaninya.
Di kejauhan, seseorang berjalan
dari arah berlawanan. Semakin dekat. Semakin jelas.
Bi Rumi.
Perempuan yang bekerja sebagai
pembantu di rumah belakang itu biasanya selalu menyapanya dengan ramah.
“Pagi, Neng.” Namun pagi itu
terasa berbeda. Bi Rumi tetap tersenyum. Tetapi senyumnya terasa kosong.
Wajahnya pucat, bibirnya nyaris
tak berwarna, sementara kedua matanya menatap lurus ke arah Meli tanpa sedikit
pun kehidupan di dalamnya.
Tatapan itu dingin. Hampa. Seolah-olah
tidak sedang memandang manusia.
Meli membalas senyum sekadarnya
lalu terus berjalan. Ia mengira Bi Rumi sedang kurang sehat.
Beberapa langkah kemudian,
entah mengapa ia menoleh ke belakang. Bi Rumi masih berdiri di tempat yang
sama. Masih menatap ke arahnya. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Hanya
tersenyum.
Seketika tengkuk Meli terasa
dingin. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, bayangan wajah pucat dan tatapan
kosong itu tidak pernah lepas dari pikirannya.
Suasana sekolah masih lengang. Matahari baru saja terbit, meninggalkan
embun yang masih menempel di rerumputan halaman sekolah. Di dekat gerbang,
hanya Mang Ido, satpam yang selalu datang paling awal, sedang mengobrol dengan
beberapa siswa yang juga datang lebih pagi.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Meli sambil tersenyum.
Mang Ido menoleh, lalu membalas dengan senyum ramah. “Pagi, Neng.”
Meli mengangguk kecil sebelum melangkah menuju gedung sekolah. Lorong-lorong
masih sunyi. Beberapa ruang kelas telah terbuka, tetapi sebagian besar bangku
masih kosong. Suara langkah kakinya menggema pelan di sepanjang koridor,
membuat suasana terasa semakin sepi.
Sesampainya di kelas, Meli meletakkan tas di atas meja, lalu duduk
sambil mengembuskan napas lega. Ia mengenakan headset dan memutar lagu
favoritnya, berharap alunan musik dapat mengusir bayangan pertemuannya dengan
Bi Rumi pagi tadi.
Lagu pertama selesai diputar. Tanpa berpikir panjang, ia mengulangnya
dari awal. Belum sampai satu menit, tiba-tiba terdengar suara perempuan
berbisik tepat di telinganya. Pelan. Sangat pelan seperti bunyi desiran angin. Namun
cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya meremang.
Meli spontan melepas headset. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia
menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Ke kiri. Tetap kosong.
Seluruh kelas masih lengang. Hanya suara kipas angin tua yang berputar
pelan di langit-langit, diselingi kicau burung dari luar jendela.
Meli mengembuskan napas panjang. “Mungkin cuma suara dari lagu.” Ia
memasang kembali headset dan memutar lagu yang sama.
Kali ini ia mendengarkan hingga selesai. Tidak ada bisikan. Tidak ada
suara lain selain musik yang mengalun seperti biasa. Namun anehnya, perasaan
tidak nyaman itu justru semakin kuat.
Seolah ada seseorang yang berdiri di sudut kelas, diam-diam mengamatinya
tanpa berkedip. Meli berusaha menenangkan dirinya.
“Kalau memang ada yang menyukaiku, semoga cuma pengagum rahasia...” Senyum
tipis terlukis di bibirnya. “...bukan sesuatu yang tidak berwujud.”
Kalimat yang baru saja diucapkannya sendiri justru membuat tubuhnya
bergidik.
Tak lama kemudian, Audry masuk ke kelas sambil membawa botol minum. “Mel,
temani aku ke toilet, yuk.”
Meli segera mengangguk. Ia memang tidak ingin sendirian. Mereka berjalan
menuju toilet perempuan yang berada di ujung lorong. Suasana sekolah masih
belum ramai sehingga lorong itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Audry masuk ke salah satu bilik. Sementara itu, Meli berdiri di depan
wastafel. Ia membuka keran dan membasuh wajahnya perlahan. Air yang dingin
sedikit meredakan rasa gelisahnya.
Ketika mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan pantulan dirinya
di cermin. Namun... ada sesuatu di samping bayangan wajahnya. Kabut putih. Awalnya
hanya seperti embusan tipis.
Semakin lama, kabut itu perlahan membentuk siluet seseorang. Meli
mengernyit.
“Mungkin cerminnya berembun.” Ia mengusap permukaan kaca dengan telapak
tangannya.
Kabut itu tidak menghilang. Justru semakin jelas. Seseorang berdiri
tepat di belakangnya. Napas Meli tercekat. Dengan tubuh yang mulai gemetar, ia
memberanikan diri menoleh.
Kosong.Tidak ada siapa-siapa. Saat kembali menatap cermin, bayangan itu
telah lenyap. Belum sempat ia menghela napas lega, lampu di langit-langit
tiba-tiba berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu berkedip semakin cepat.
Suasana toilet mendadak berubah dingin. Meli buru-buru menutup keran. Namun
tuasnya seperti terkunci. Air justru memancar semakin deras hingga membasahi
wastafel dan mengalir ke lantai.
Suara gemericik air memenuhi ruangan, menggantikan kesunyian yang tadi
menyelimuti. Perlahan... pintu salah satu bilik toilet terbuka dengan
sendirinya.
Kreeeek...
Suara engsel yang berderit membuat jantung Meli berdegup semakin
kencang. Dari balik pintu yang terbuka, muncul sesosok bayangan hitam. Tubuhnya
menjulang hampir menyentuh langit-langit.
Rambut panjangnya terurai menutupi seluruh wajah. Sosok itu berdiri diam
beberapa saat. Lalu mulai melangkah ke arahnya.
Tap... Tap... Tap... Setiap langkahnya terdengar jelas di tengah keheningan. Tubuh Meli mendadak lemas. Ia mundur hingga punggungnya membentur pintu keluar, lalu terduduk di lantai. Napasnya memburu. Tangannya gemetar hebat. Sosok itu semakin mendekat. Semakin dekat. Dan berhenti hanya beberapa langkah di depannya.
Tiba-tiba bahunya diguncang keras. “Meli!” Ia menjerit sambil memejamkan
mata.
“Meli! Sadar!”
Perlahan Meli membuka mata. Di hadapannya, Audry berjongkok dengan wajah
panik. “Kamu kenapa? Dari tadi duduk di lantai.”
Tanpa berkata apa-apa, Meli langsung memeluk sahabatnya erat. “Aku...
aku melihat seseorang...”
Audry mengusap punggungnya pelan. “Tenang dulu. Mungkin kamu terlalu
lelah.”
Meli menggeleng kuat. “Bukan... Rasanya benar-benar nyata.”
Sejak kejadian itu, Meli tidak mampu lagi berkonsentrasi mengikuti
pelajaran. Pikirannya terus dihantui bayangan perempuan yang muncul di cermin
toilet.
Beruntung guru pada jam pelajaran terakhir berhalangan hadir sehingga
seluruh siswa hanya diberi tugas mandiri. Dengan alasan kurang enak badan, Meli
meminta izin pulang lebih awal.
Saat melangkah meninggalkan gerbang sekolah, ia sempat menoleh ke
belakang. Koridor tampak kosong. Namun entah mengapa... ia masih merasa ada
sepasang mata yang diam-diam mengawasinya.
Seolah sesuatu itu belum selesai. Dan kini... mengikutinya pulang.
Sejak kejadian di toilet sekolah, Meli semakin sulit mengendalikan rasa takutnya.
Ia tidak lagi berani pergi sendirian. Ke mana pun teman-temannya melangkah, ia
selalu berusaha ikut. Baginya, berada di tengah keramaian sedikit banyak mampu
mengusir kecemasan yang terus menghantuinya.
Saat jam istirahat, Desi mengajaknya ke perpustakaan. Sebenarnya Meli
tidak terlalu menyukai tempat itu. Menurutnya, perpustakaan adalah tempat bagi
murid-murid yang gemar membaca, sedangkan dirinya lebih senang menghabiskan
waktu di kantin. Namun belakangan ini pikirannya begitu kacau. Ia berharap
suasana tenang di antara rak-rak buku dapat membuatnya sedikit lebih damai.
Perpustakaan tampak lengang. Hanya beberapa siswa terlihat sibuk memilih
buku, sementara yang lain duduk membaca dalam diam. Meli memilih duduk di meja
paling dekat dengan pintu.
“Aku cari novel dulu, ya,” ujar Desi.
“Iya.” Desi segera menghilang di balik deretan rak.
Meli mengembuskan napas panjang. Melihat orang memilih buku saja
sudah membuatku lelah. Apalagi harus ikut mencarinya satu per satu.
Ia menyandarkan tubuh pada kursi. Awalnya suasana terasa menenangkan. Namun
lima menit kemudian... kesunyian justru berubah menjadi sesuatu yang
menyesakkan.
Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk permukaan meja. Tok. Tok. Tok. Ia menoleh ke sekeliling. Desi belum kembali. Beberapa siswa yang tadi memenuhi ruangan pun entah sejak kapan tak lagi terlihat.
Meli mengerutkan kening. “Apa mereka masih mencari buku? Atau...
memang sedari tadi aku sendirian?”
Perasaan tidak nyaman perlahan merayapi dadanya. Ia akhirnya berdiri dan
menyusuri lorong di antara rak-rak buku. Di ujung ruangan, tampak seorang siswi
berdiri membelakanginya.
Rambutnya panjang terurai hingga menutupi wajah. Seragamnya tampak
kusut. Kedua tangannya bergerak cepat membalik halaman sebuah buku. Terlalu
cepat. Mustahil seseorang mampu membaca dengan cara seperti itu.
Meli menghentikan langkah. “Apa yang sedang dia lakukan?”
Rasa penasaran perlahan mengalahkan rasa takut. Ia melangkah mendekat. Baru
beberapa langkah... gadis itu tiba-tiba berlari. Buku yang dipegangnya terjatuh
begitu saja. Namun ia sama sekali tidak menoleh.
Dalam hitungan detik, sosoknya lenyap di balik rak buku. “Cepat
sekali...” gumam Meli. “Seperti pelari.”
Meli memungut buku yang tertinggal di lantai. Saat jemarinya menyentuh
sampulnya napasnya mendadak tercekat. Gambar seorang perempuan pada sampul buku
tampak berubah. Awalnya hanya senyumnya yang terasa berbeda. Lalu kedua matanya
perlahan bergerak.
Tatapan kosong itu seolah menatap balik ke arahnya. “Tidak...” bisik
Meli.
Ia berkedip berulang kali. Namun bayangan itu tidak menghilang. Rambut
perempuan dalam gambar perlahan menjulur melewati tepi sampul. Semakin lama... semakin
panjang. Lalu sesuatu yang menyerupai kepala mulai muncul dari balik halaman
buku.
Kulitnya pucat. Wajahnya dipenuhi luka menghitam. Cairan merah menetes
perlahan hingga membasahi jemari Meli. Tangannya mulai bergetar. Di saat yang
sama...suasana perpustakaan berubah.
Dari berbagai penjuru ruangan terdengar suara-suara yang saling
bertumpuk. Tangisan. Bisikan. Tawa lirih. Suara orang berlari. Jeritan yang
terdengar sangat jauh.
Meli menutup kedua telinganya. Namun semua suara itu justru terdengar
semakin jelas. Buku di tangannya mulai bergetar.
Semakin lama... semakin kuat. Seolah ada sesuatu yang berusaha keluar
dari dalamnya.
Meli mencoba melepaskan buku itu. Tidak bisa. Telapak tangannya seperti
melekat pada sampul.
Perempuan itu kini telah keluar hingga sebatas dada. Tangannya yang
kurus perlahan terulur. Ujung jarinya tinggal beberapa senti dari kaki Meli. Tubuh
Meli membeku. Mulutnya terbuka. Namun tak satu pun suara berhasil keluar.
Saat itulah... sesuatu yang dingin menyentuh pundaknya. Sentuhan itu
membuat Meli teringat doa yang selalu diajarkan ibunya. Dengan bibir yang
gemetar, ia mulai melafalkannya dalam hati.
Perlahan... cengkeraman di pundaknya terasa semakin kuat.
“Aaaaa!” Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Meli menghempaskan buku
itu ke lantai.
Brak! Buku terpental beberapa meter. Sesosok perempuan itu masih tampak
berusaha keluar. Tangannya kembali meraih ke arah Meli. Belum sempat menyentuh,
bahunya diguncang keras.
“Meli, sadar!”
Meli membuka mata sambil terengah-engah. “Lepaskan aku! Jangan ganggu
aku!”
“Mel! Ini aku... Desi!” Suara itu perlahan mengembalikan kesadarannya.
Di hadapannya, Desi memandang dengan wajah cemas. “Ada apa?”
Meli hanya mampu menunjuk buku yang tergeletak di lantai. “Jangan...
sentuh...”
Namun Desi sudah lebih dulu mengambilnya. Ia memperlihatkan sampul buku
itu kepada Meli. “Kamu tadi memegang kamus bahasa Indonesia.”
Meli menatapnya lekat-lekat. Tidak ada wajah perempuan. Tidak ada darah.
Tidak ada tangan yang keluar dari halaman. Hanya sebuah kamus tua dengan sampul
berwarna cokelat.
Perlahan ia menyentuhnya. Tidak terjadi apa-apa. “Memang... kamus...” gumamnya
lirih.
Desi mengembalikan buku itu ke rak. “Jam istirahat sudah selesai. Dari
tadi aku mencarimu. Aku kira kamu sudah kembali ke kelas.”
Meli tidak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah Desi meninggalkan
perpustakaan.
Sesaat sebelum keluar dari ruangan, embusan angin dingin menerpa
tengkuknya. Refleks ia menoleh. Di sela-sela rak buku paling belakang... sesosok
bayangan perempuan berdiri diam.
Kali ini... ia tidak berlari. Tanpa berkata apa-apa, Meli mempercepat
langkahnya keluar dari perpustakaan. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai
sadar... apa pun yang mengikutinya itu... tidak lagi hanya ingin menakutinya.
Sore harinya, sepulang sekolah, sebuah kabar mengejutkan menyelimuti
lingkungan tempat tinggal Meli. Bi Rumi ditemukan mengambang di sungai.
Polisi menduga perempuan itu menjadi korban perampokan. Berdasarkan
hasil pemeriksaan, jasadnya diperkirakan telah berada di dalam air selama
hampir satu minggu.
Mendengar kabar itu, tubuh Meli seketika membeku. Pikirannya melayang
pada pertemuan mereka beberapa hari sebelumnya.
Perempuan berwajah pucat itu. Senyumnya yang tipis. Tatapan matanya yang
kosong. Dan sapaan singkat yang masih teringat jelas di kepalanya.
Bulu kuduk Meli berdiri. Kalau Bi Rumi sudah meninggal sejak hampir
seminggu yang lalu... lalu... siapa perempuan yang ia temui pagi itu?
***
Malam itu Meli kembali terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin
membasahi pelipisnya, padahal pendingin ruangan masih menyala. Ia duduk
perlahan di atas ranjang, mencoba mengatur napas yang terasa sesak.
Matanya beralih ke arah jendela. Tirai hanya bergoyang pelan tertiup
angin. Tidak ada siapa pun. Namun, suara itu kembali terdengar.
“Meli...” Pelan. Sangat pelan. Seolah seseorang sedang berbisik tepat di
samping telinganya.
Meli spontan menutup kedua telinga dengan bantal. “Tolong...” bisiknya
lirih. “Jangan ganggu aku lagi.”
Malam kembali sunyi. Akan tetapi, rasa takut yang memenuhi dadanya tidak
juga pergi.
Sejak kejadian di perpustakaan, keadaan Meli semakin memburuk. Di
sekolah ia tidak pernah mau berjalan sendirian. Ke mana pun pergi, ia selalu
menunggu teman menemaninya.
Di rumah, pintu kamar selalu dikunci, bahkan saat siang hari. Lampu
kamar tak pernah lagi dimatikan ketika malam tiba. Sedikit suara langkah di
lorong rumah sudah cukup membuat tubuhnya menegang.
Nafsu makannya pun berkurang. Lingkar hitam mulai menghiasi kedua
matanya. Perubahan itu perlahan disadari oleh ibunya.
Suatu sore, setelah makan malam, sang ibu masuk ke kamar Meli sambil
membawa segelas susu hangat. Beliau duduk di tepi ranjang.
“Meli.”
“Iya, Bu?”
“Kamu sedang sakit?”
Meli menggeleng pelan. “Cuma kurang tidur.”
Ibunya menghela napas. “Kamu bilang begitu setiap hari.”
Beliau mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Dulu kamu paling cerewet
di rumah. Sekarang kamu lebih sering mengurung diri. Di sekolah juga wali
kelasmu menelepon Ibu.”
Meli terdiam.
“Kamu sering melamun, katanya.”
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh. “Ibu, aku sering
melihat seseorang.”
Ibunya mengernyit. “Siapa?”
“Perempuan. Kadang di rumah. Kadang di sekolah. Kadang...” suara Meli
mulai bergetar, “...dia muncul di tempat yang seharusnya kosong.”
Ibunya menggenggam tangan Meli. “Jangan dipikirkan terus. Mungkin kamu
terlalu lelah.”
Meli menggeleng cepat. “Bukan, Bu. Aku benar-benar melihatnya.”
Senyum tipis muncul di wajah sang ibu, tetapi sorot matanya menyimpan
kekhawatiran.
“Besok kita ke dokter.”
Keesokan harinya mereka mendatangi seorang psikiater. Ruang praktik itu
terasa hangat. Di dinding tergantung beberapa lukisan pemandangan alam yang
menenangkan. Aroma teh melati samar tercium dari sudut ruangan.
Dokter paruh baya yang menangani Meli mempersilahkannya duduk.
“Nah, Meli... Coba ceritakan semuanya.”
Awalnya Meli ragu. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai menceritakan
semua yang dialaminya. Tentang bisikan yang memanggil namanya. Tentang sosok
perempuan di cermin toilet sekolah. Tentang perempuan yang seolah keluar dari
dalam buku di perpustakaan. Dan tentang Bi Rumi yang ditemuinya beberapa hari
sebelum kabar kematiannya tersebar. Dokter mendengarkan tanpa menyela. Sesekali
beliau hanya mengangguk sambil mencatat.
Setelah selesai, Meli
diminta menunggu di luar. Kini
hanya Ayah, Ibu, dan dokter yang berada di dalam ruangan.
Ayah membuka percakapan. “Bagaimana keadaan
anak kami, Dok?”
Dokter menutup buku catatannya. “Untuk saat
ini, saya belum menemukan tanda-tanda gangguan kejiwaan yang berat.”
Ayah tampak bingung. “Maksud Dokter?”
“Cara berpikir Meli baik. Daya ingatnya
juga sangat baik. Ia mampu menceritakan semua kejadian secara runtut.”
Dokter berhenti sejenak. “Saya juga belum
menemukan gejala yang mengarah pada gangguan psikotik.”
Ibunya mengembuskan napas lega. Namun
kecemasan di wajahnya belum benar-benar hilang.
“Kalau begitu... kenapa dia melihat hal-hal
seperti itu?”
Dokter menyatukan kedua tangannya di atas
meja. “Ada banyak kemungkinan.”
“Rasa takut yang berlangsung lama dapat
membuat seseorang mengalami pengalaman yang terasa sangat nyata. Namun...”
Beliau kembali membuka catatan. “...saya
belum bisa memastikan bahwa itulah yang sedang dialami Meli. Masih terlalu dini
untuk menarik kesimpulan.”
Ayah kembali bertanya. “Lalu apa yang harus
kami lakukan?”
“Dampingi Meli. Usahakan jangan terlalu
sering membiarkannya sendirian. Pastikan ia cukup beristirahat. Kalau
keluhannya semakin sering muncul, segera bawa kembali untuk pemeriksaan
lanjutan.”
Kedua orang tua Meli mengangguk pelan. Jawaban
dokter sedikit melegakan. Setidaknya mereka tahu putri mereka tidak mengalami
gangguan kejiwaan seperti yang selama ini mereka khawatirkan.
Namun, di sisi lain, mereka juga pulang
tanpa benar-benar mendapatkan jawaban. Kalau semua itu bukan gangguan
kejiwaan... Lalu siapa perempuan yang terus muncul dalam kehidupan Meli?
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Ayah fokus menyetir,
sementara Ibu beberapa kali menoleh ke arah Meli yang sejak tadi hanya
memandang keluar jendela.
Ada sedikit rasa lega dalam hati mereka. Setidaknya dokter tidak
menemukan tanda gangguan kejiwaan yang serius. Namun bagi Meli, jawaban itu
justru menimbulkan pertanyaan baru.
Jika dirinya baik-baik saja... lalu siapa perempuan yang selama ini
terus muncul di hadapannya?
Mobil berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah. Tanpa sengaja,
pandangan Meli tertuju pada halte di seberang jalan.
Beberapa orang berdiri menunggu kendaraan. Seorang ibu menggendong anak
kecil. Seorang pria sibuk memainkan ponsel. Beberapa pelajar tertawa sambil
bercanda.
Semuanya terlihat normal. Sampai mata Meli berhenti pada satu sosok di
antara kerumunan itu. Seorang perempuan berdiri diam. Sendirian. Tubuhnya basah
kuyup. Air menetes dari ujung rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajah.
Meli perlahan menahan napas. Jantungnya berdetak semakin cepat. Perempuan
itu mengangkat wajah. Wajah pucat. Tatapan kosong. Bibirnya membentuk senyum
tipis yang membuat tubuh Meli membeku.
Bi Rumi. Perempuan yang beberapa hari lalu masih ia lihat berjalan
melewati halaman rumah. Perempuan yang kini diketahui telah meninggal.
Meli ingin berteriak. Namun suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Lalu...
sebuah bisikan terdengar di dekat telinganya.
“Meli...” Tubuhnya menegang. “...tolong aku.”
Meli langsung menoleh. Tidak ada siapa pun di sampingnya.
“Meli?” Suara ibunya membuatnya tersentak. “Kamu kenapa?”
Meli segera melihat kembali ke arah halte. Sosok Bi Rumi sudah tidak
ada. Halte itu kembali seperti semula. Orang-orang masih berdiri menunggu
kendaraan. Tidak ada perempuan dengan pakaian basah. Tidak ada tatapan kosong.
Meli menggenggam ujung bajunya erat. Dokter mengatakan dirinya sehat. Namun...
jika semua itu bukan khayalan... mengapa hanya dirinya yang dapat melihat Bi
Rumi?
Malam itu
Meli berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan kembali normal.
Perkataan dokter terus terngiang di kepalanya. “Kamu tidak mengalami
gangguan kejiwaan.” Kalimat itu seharusnya membuatnya tenang.
Ia mencoba percaya bahwa semua yang terjadi hanyalah akibat rasa takut
yang terlalu lama dipendam. Sesampainya di rumah, Meli langsung masuk kamar. Ia
tidak ingin memikirkan apa pun.
Di atas meja belajar masih terdapat buku yang belum selesai dibaca. Ia
menatapnya sebentar. Kemudian menghela napas. “Mulai sekarang aku harus
berhenti takut.” Namun jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak yakin.
Malam semakin larut. Hujan turun perlahan di luar rumah. Angin dingin
masuk dari celah jendela sebelum akhirnya Meli menutupnya rapat.
Ia menyalakan lampu tidur. Satu hal yang tidak pernah ia lakukan lagi
sejak kejadian-kejadian aneh itu dimulai adalah tidur dalam keadaan gelap.
Sebelum berbaring, ia membaca doa seperti yang selalu diajarkan ibunya. Baru
beberapa kata terucap...
Clek. Lampu kamar berkedip.
Meli berhenti. Ia menatap ke atas. Beberapa detik berlalu. Lampu kembali
menyala.
“Mungkin hanya listrik. “Ia mencoba melanjutkan.
Namun beberapa saat kemudian... Clek. Clek. Lampu kembali berkedip. Kali ini lebih lama. Meli merasakan tengkuknya mulai dingin. Ia memejamkan mata. Tidak. Ia tidak ingin takut lagi. Ia menyelesaikan doanya hingga akhir.
Setelah itu kamar kembali sunyi. Meli membuka mata perlahan. Ia melihat
jam dinding.
03.15. Tik... Tik... Tik... Suara detik jam tiba-tiba berhenti. Meli menatap jarum jam. Tidak bergerak. Lalu terdengar suara pelan dari arah pintu.
Kreek... Pintu kamar yang terkunci perlahan terbuka. Sedikit demi sedikit. Meli menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Ia tidak berani melihat. Tidak ada suara langkah. Tidak ada bisikan. Tidak ada bayangan. Namun justru keheningan itu terasa jauh lebih menakutkan.
Keesokan paginya, Meli datang ke sekolah dengan wajah pucat. Semalaman
ia hampir tidak tidur. Matanya sembap. Tubuhnya terasa lelah.
Ia sengaja datang lebih awal. Ia tidak ingin melewati lorong sekolah
sendirian. Sejak kejadian di perpustakaan, ia selalu menunggu Desi di gerbang.
“Aku takut kalau harus sendirian,” ucap Meli pelan.
Desi menatapnya prihatin. “Kamu semalam tidak tidur lagi?”
Meli hanya menggeleng. “Aku merasa...” Ia berhenti sebentar. “...ada
sesuatu yang terus mengikutiku.”
Desi tidak menjawab. Namun kali ini ia tidak menganggap Meli berlebihan.
Ia hanya menggandeng tangan sahabatnya menuju kelas.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Pak Rahmat sedang menjelaskan
materi ketika pensil Desi tiba-tiba jatuh dari meja.
Desi membungkuk untuk mengambilnya. Namun saat itulah matanya menangkap
sesuatu di belakang kursi Meli. Tubuhnya langsung kaku.
Seorang perempuan berdiri di sana. Rambut panjang menutupi sebagian
wajahnya. Kulitnya pucat. Bajunya basah. Seolah baru saja keluar dari sungai. Perempuan
itu tidak bergerak. Tidak berbicara. Ia hanya menatap Meli. Tanpa berkedip.
Napas Desi tercekat. Jari-jarinya menggenggam pensil semakin erat. Ia
berkedip. Sekali. Saat matanya kembali terbuka... sosok itu sudah tidak ada.
“Des...” Suara Meli membuatnya tersentak. “Kamu kenapa?”
Desi menatap wajah sahabatnya. Untuk beberapa detik ia tidak mampu
menjawab.
“Tidak...” Ia memaksakan senyum kecil. “Mungkin aku salah lihat.” Namun
jauh di dalam hatinya... Desi tahu. Ia tidak salah melihat.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang selama ini hanya
diceritakan oleh Meli. Sesuatu yang selama ini ia anggap hanya akibat rasa
takut sahabatnya.
Bel pulang berbunyi. Suara kursi bergeser dan langkah kaki siswa
memenuhi kelas. Mereka mulai beranjak meninggalkan ruangan.
Desi berjalan berdampingan dengan Meli menuju halaman sekolah. Beberapa
kali ia melirik wajah sahabatnya yang terlihat lebih pucat dari biasanya.
“Mel...”
“Iya?” Desi menghentikan langkahnya. “Tadi waktu di kelas...” Ia terdiam
sejenak.
Ada keraguan sebelum akhirnya ia melanjutkan. “...aku melihat seseorang
berdiri di belakangmu.”
Langkah Meli langsung berhenti. Jantungnya berdegup lebih cepat. “Perempuan?”
Desi mengangguk pelan. “Pakaiannya basah.”
Wajah Meli perlahan kehilangan warna. “Jadi...” Suaranya bergetar. “Kamu
juga melihatnya?”
Desi menatap Meli dengan tatapan bingung. “Apa itu perempuan yang selama
ini kamu ceritakan?”
Meli tidak langsung menjawab. Ia hanya menundukkan kepala. Selama ini ia
berharap semua kejadian itu hanya ada dalam pikirannya. Ia berharap suatu hari
nanti ia akan bangun dan menyadari semuanya hanyalah mimpi buruk.
Namun sekarang... orang lain mulai melihat sosok yang sama. Dan itu berarti...
ia tidak benar-benar sendirian.
Sejak hari itu, Desi mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya
tidak pernah ia pedulikan. Awalnya ia masih mencoba mencari alasan yang masuk
akal. Mungkin hanya salah lihat. Mungkin karena terlalu sering mendengar cerita
Meli. Namun semakin hari, kejadian aneh semakin sering terjadi.
Suatu siang ketika mereka berjalan melewati lorong sekolah yang sepi,
terdengar suara langkah kaki dari belakang mereka.
Tok... Tok... Tok... Desi dan Meli berhenti bersamaan. Langkah itu ikut berhenti. Perlahan Desi menoleh. Lorong kosong. Tidak ada siapa pun.
“Kamu dengar?” Suara Meli terdengar lirih.
Desi menelan ludah. “Iya. Awalnya aku pikir cuma perasaanku.” Ia melihat
ke arah lorong sekali lagi. “Tapi ternyata kamu juga mendengarnya.”
Beberapa hari kemudian, mereka belajar kelompok di perpustakaan. Suasana
ruangan sangat tenang. Hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik dan
suara pena yang menyentuh kertas.
Desi sedang mencatat materi ketika tiba-tiba kursi kosong di samping
Meli bergerak perlahan.
Kreeek... Suara gesekan kayu terdengar jelas. Desi langsung mengangkat
kepala. Kursi itu bergeser beberapa sentimeter. Tidak ada yang menyentuhnya.
Ia melihat ke sekeliling. Siswa lain tetap sibuk membaca. Tidak ada yang
terkejut. Tidak ada yang menoleh. Seolah suara itu hanya terdengar oleh mereka
berdua. Bulu kuduk Desi perlahan berdiri. Ia meraih tangan Meli. Tangan
sahabatnya terasa dingin.
“Mel...”
Meli menatapnya. “Aku sudah mencoba berpikir semuanya hanya kebetulan.”
Desi menarik napas panjang. “Aku juga ingin percaya begitu.” Ia menatap
kursi yang kembali diam. “Tapi sekarang, aku tidak bisa mengabaikannya lagi.”
Mata Meli mulai berkaca-kaca. “Jadi kamu percaya?”
Desi menggenggam tangannya lebih erat. “Aku percaya kamu tidak
berbohong.”
Kalimat itu sederhana. Namun bagi Meli, kalimat itu berarti sangat
besar. Selama ini semua orang menganggap ketakutannya hanyalah imajinasi. Bahkan
dokter pun belum menemukan alasan pasti dari apa yang dialaminya. Namun
sekarang, ada seseorang yang percaya. Seseorang yang melihat apa yang selama
ini hanya ia lihat sendirian.
Desi menatapnya serius. “Kita cari tahu semuanya, Mel.”
Meli mengangkat wajah. “Aku tidak mau terus hidup seperti ini.”
“Aku juga tidak mau melihat kamu terus ketakutan.”
Keduanya terdiam. Kemudian Desi berkata pelan, “Mungkin semua ini memang
ada hubungannya dengan Bi Rumi.”
Nama itu membuat suasana mendadak berubah. Meli kembali mengingat pagi
ketika ia bertemu perempuan itu. Wajah pucat. Tatapan kosong. Senyum tipis yang
tidak pernah ia lupakan.
Sejak pertemuan itu, mimpi-mimpi aneh selalu datang. Benda-benda yang
sama terus muncul. Sandal sebelah. Gelang emas. Sungai. Dan jalan kecil yang
dipenuhi rumpun bambu.
Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah, Meli dan Desi memutuskan
mendatangi rumah Bi Rumi. Rumah sederhana di ujung kompleks itu tampak berbeda
dari yang Meli ingat. Biasanya, teras rumah itu selalu bersih. Tanaman bunga
tersusun rapi. Dan Bi Rumi sering duduk di sana sambil tersenyum menyapa siapa
pun yang lewat.
Namun kini... pintu kayu itu tertutup rapat. Halaman mulai dipenuhi
rumput liar. Beberapa pot bunga terlihat kering karena sudah lama tidak
dirawat.
Meli berdiri diam di depan pagar. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Sulit
baginya menerima kenyataan bahwa perempuan yang beberapa hari lalu masih ia
lihat berjalan di depan rumah... sebenarnya sudah tidak ada.
“Mel?” Suara Desi membuatnya tersadar.
“Kita tanya tetangga saja.” Meli mengangguk pelan.
Saat mereka hendak berbalik, seorang perempuan paruh baya yang sedang
menyapu halaman rumah sebelah memperhatikan mereka.
“Kalian mencari siapa, Nak?”
Desi segera mendekat. “Kami mencari rumah Bi Rumi, Bu.”
Perempuan itu menghentikan gerakan tangannya. “Oh...” Ekspresinya
berubah sedih. “Bi Rumi...”
Ia menghela napas panjang. “Kasihan sekali beliau. Orangnya baik. Tidak
pernah menyusahkan siapa pun. Sering membantu tetangga kalau ada yang
membutuhkan.”
Meli menatap rumah itu. “Bu...” Suaranya pelan. “Apa yang sebenarnya
terjadi pada Bi Rumi?”
Perempuan itu terdiam sejenak sebelum menjawab. “Katanya beliau menjadi
korban perampokan. Polisi masih mencari pelakunya.”
Desi langsung memperhatikan wajah perempuan itu. “Jadi pelakunya belum
ditemukan?”
Perempuan itu menggeleng. “Belum. Yang membuat semua orang heran. Bi
Rumi bukan orang yang suka bepergian jauh. Jadi tidak ada yang menyangka beliau
bisa ditemukan di sungai.”
Meli menahan napas. “Sungai?”
“Iya. Jasadnya ditemukan mengambang di sungai beberapa kilometer dari
sini.”
Perempuan itu menunduk. “Barang-barangnya banyak yang hilang. Lalu...”
Ia berhenti sebentar. “Gelangnya juga tidak ditemukan.”
Meli langsung terdiam. “Gelang...” Kata itu terdengar seperti gema di
kepalanya. Gelang emas.
Benda yang selalu muncul dalam mimpinya. Benda yang selama ini tidak ia
pahami. Tangannya perlahan menggenggam ujung seragam.
Desi menyadari perubahan wajah sahabatnya. “Mel?”
Namun Meli tidak menjawab. Pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan. Bagaimana
mungkin benda yang muncul dalam mimpinya, ternyata berkaitan dengan kematian Bi
Rumi?
Sepanjang perjalanan pulang, Meli tidak banyak berbicara. Sesampainya di
kamar, ia segera mengambil buku kecil yang selama ini ia simpan. Dengan tangan
gemetar, ia membuka halaman kosong.
Satu per satu ia menuliskan semua hal yang pernah muncul dalam tidurnya.
- Sandal sebelah.
- Gelang emas.
- Sungai.
- Payung merah.
- Pohon bambu.
Meli menatap daftar itu lama. Awalnya ia menganggap semua itu hanya
mimpi buruk. Namun sekarang, setiap benda seperti memiliki hubungan. Seperti
seseorang sedang berusaha menunjukkan sesuatu. Tetapi apa? Dan mengapa
kepadanya?
Meli menutup buku itu perlahan. Untuk pertama kalinya ia berpikir... mungkin
Bi Rumi tidak datang untuk menakutinya. Mungkin ada sesuatu yang belum selesai.
Sesuatu yang membuatnya belum bisa pergi.
Sejak hari itu, gangguan yang dialami Meli berubah. Bukan lagi sekadar
kemunculan tiba-tiba. Kini semuanya terasa seperti petunjuk. Setiap kali
tertidur, Meli kembali berada di tempat yang sama. Sebuah sungai dengan air
keruh yang mengalir perlahan. Suara arus terdengar begitu dekat. Di
sekelilingnya hanya ada pepohonan dan rumpun bambu yang bergerak tanpa disentuh
angin.
Di kejauhan... selalu ada seseorang berdiri membelakanginya. Bi Rumi. Namun
perempuan itu tidak pernah berbicara. Tidak pernah mendekat. Hanya berdiri. Menunggu.
Setiap kali Meli mencoba menghampiri... mimpi itu selalu berakhir. Meli
terbangun dengan napas tersengal. Akibatnya, kondisi tubuhnya semakin menurun. Ia
sulit berkonsentrasi di sekolah. Nafsu makannya berkurang. Lingkar hitam
semakin terlihat di bawah matanya. Ibunya tidak lagi bisa berpura-pura tidak
khawatir.
Suatu malam setelah makan malam, beliau duduk di samping Meli. “Besok
ikut Ibu, ya.”
Meli menoleh. “Ke mana, Bu?”
“Kita menemui seseorang.”
“Siapa?”
“Nenek Sukma.”
Meli mengernyit. “Nenek Sukma?”
Ibunya mengangguk. “Beliau tinggal di pinggir kampung. Dulu banyak warga
datang kepadanya ketika mengalami kejadian yang sulit dijelaskan.”
Meli terdiam. Ia masih merasa ragu. Namun ia juga sadar, dokter tidak
menemukan jawaban. Keluarganya tidak tahu harus berbuat apa. Semakin Meli
berusaha mengabaikan kejadian-kejadian itu, semakin kuat gangguan yang datang
kepadanya.
Awalnya hanya suara. Kemudian bayangan. Lalu mimpi-mimpi yang terasa
semakin nyata. Seolah ada seseorang yang terus mengetuk pintu yang tidak
terlihat, meminta untuk didengarkan.
Akhirnya Meli hanya mampu mengangguk. Mungkin... Nenek Sukma adalah
satu-satunya orang yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Keesokan paginya mereka berangkat menemui Nenek Sukma. Rumah perempuan
tua itu berada di ujung kampung, jauh dari keramaian. Jalan menuju rumahnya
dipenuhi pepohonan rindang dan suara burung yang sesekali terdengar dari balik
dedaunan.
Halaman rumahnya tidak luas, tetapi dipenuhi berbagai tanaman obat yang
tumbuh rapi di dalam pot maupun tanah. Aroma daun segar memenuhi udara.
Seorang perempuan tua sedang menyiram tanaman ketika Meli dan ibunya
memasuki halaman. Begitu melihat Meli, gerakan tangannya berhenti. Tatapan
Nenek Sukma perlahan berpindah ke wajah gadis itu. Bukan tatapan terkejut. Melainkan
seperti seseorang yang sudah mengetahui kedatangan mereka sejak awal.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya beliau berkata pelan, “Sudah
lama kamu tidak tidur nyenyak, ya?”
Langkah Meli langsung terhenti. Ia menatap ibunya. Ibunya pun tampak
terkejut.
“Nek... bagaimana Nenek bisa tahu?” Nenek Sukma hanya tersenyum tipis.
“Masuklah dulu.”
Di ruang tamu yang sederhana, Meli duduk berhadapan dengan Nenek Sukma.
Awalnya ia merasa ragu. Namun setelah semua yang terjadi, ia tidak lagi
memiliki banyak pilihan. Dengan suara pelan, Meli mulai bercerita.
Tentang suara yang memanggil namanya. Tentang sosok perempuan di toilet
sekolah. Tentang bayangan yang muncul di perpustakaan. Tentang mimpi yang terus
berulang. Dan terakhir... tentang Bi Rumi. Tentang pagi ketika ia bertemu perempuan
itu. Tentang senyum pucat yang tidak pernah bisa ia lupakan. Nenek Sukma
mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Beliau baru berbicara setelah Meli selesai. “Kamu tidak sedang
kehilangan akal.”
Meli menatapnya. “Lalu... apa yang sebenarnya terjadi kepada saya, Nek?”
Nenek Sukma mengambil napas panjang. “Pernahkah kamu mendengar bahwa
seseorang yang meninggal secara tiba-tiba terkadang belum menyadari bahwa
hidupnya telah berakhir?”
Meli diam.
“Mereka masih mencari sesuatu. Masih kembali ke tempat yang mereka
kenal. Masih mencoba menyelesaikan sesuatu yang tertinggal.”
Jantung Meli berdegup lebih cepat. “Jadi... perempuan yang saya temui
pagi itu...”
Nenek Sukma menatapnya dalam-dalam. “Kemungkinan besar bukan Bi Rumi
yang masih hidup.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. “Itu adalah arwahnya.”
Meli menunduk. Tangannya mulai gemetar. “Tapi... saya berbicara
dengannya.”
“Itulah yang membuat pertemuan itu berbeda.” Nenek Sukma melanjutkan, “Arwah
yang meninggal secara tidak wajar sering kali masih membawa kebingungan. Mereka
belum memahami apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin bagi Bi Rumi, pagi itu
hanyalah hari biasa.”
Meli teringat kembali wajah Bi Rumi saat itu. Wajah yang tenang. Senyum
yang lembut. Seolah tidak mengetahui bahwa hidupnya telah berakhir.
“Lalu kenapa beliau terus datang kepada saya?”
Nenek Sukma terdiam sejenak. “Karena kamu adalah orang terakhir yang
melihatnya. Dan karena tanpa kamu sadari, kamu membuka jalan yang sebelumnya
tertutup.”
Meli mengernyit. “Maksudnya?”
“Kemampuan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.” Nenek Sukma
menatap mata Meli. “Setelah pertemuan itu, kamu tidak hanya mampu melihat Bi
Rumi. Kamu juga mulai terlihat oleh mereka yang belum menemukan ketenangan.”
Meli menelan ludah. “Apakah ini bisa dihentikan?”
“Bisa.”
Jawaban itu membuat Meli sedikit lega. Namun ekspresi Nenek Sukma tetap
serius.
“Tetapi selama orang pertama yang membuka pintu itu belum mendapatkan
apa yang ia cari pintu itu tidak akan tertutup.”
Meli perlahan memahami maksudnya. “Orang pertama itu...”
Nenek Sukma mengangguk. “Bi Rumi.”
***
Sejak bertemu Nenek Sukma, mimpi Meli berubah. Bi Rumi tetap tidak
berbicara. Tidak pernah sekalipun. Namun kini, perempuan itu tidak lagi hanya berdiri
diam di kejauhan.
Semoga di
antara semua cerita ini, ada satu yang mampu membuatmu tersenyum, terharu,
merenung, atau bahkan merasa tidak sendirian.
Ia mulai menunjukkan sesuatu. Bukan dengan kata-kata. Melainkan melalui
potongan-potongan kejadian. Pada malam pertama, Meli bermimpi berada di tepi
sungai. Kabut tipis memenuhi udara.
Ia melihat seorang perempuan berjalan tergesa-gesa sambil membawa payung
merah. Perempuan itu berhenti. Seperti sedang merasakan sesuatu. Tiba-tiba
payung itu terlepas dari tangannya. Jatuh ke tanah. Mimpi berakhir. Meli
terbangun dengan napas memburu.
Malam berikutnya, mimpi itu berlanjut. Kali ini ia melihat sebuah tangan
menarik paksa seseorang. Gelang emas terlepas dari pergelangan tangan perempuan
itu. Benda tersebut jatuh ke tanah dan menghilang di antara rerumputan.
Malam ketiga... ia melihat sebuah sandal terlepas. Sandal itu hanyut perlahan
mengikuti arus sungai.
Lalu malam berikutnya menjadi mimpi yang paling membuatnya takut. Rumpun
bambu bergerak keras. Ada suara sesuatu diseret di atas tanah. Namun siapa pun
yang melakukannya tetap tidak terlihat.
Setiap mimpi selalu berakhir dengan cara yang sama. Bi Rumi berdiri di
kejauhan. Menatap Meli. Meminta sesuatu. Namun tidak pernah mengatakan apa pun.
Meli membuka buku kecilnya. Di sana tertulis:
- Sandal sebelah.
- Gelang emas.
- Sungai.
- Payung merah.
- Pohon bambu.
Ia menatap catatan itu lama.Selama ini ia mengira semua itu hanya
simbol. Namun kini ia mulai memahami. Itu bukan simbol. Itu adalah bagian dari
kejadian terakhir Bi Rumi. Potongan ingatan sebelum perempuan itu meninggal. Namun
masih ada satu hal yang hilang.
Orang yang bersama Bi Rumi. Wajahnya selalu tertutup bayangan. Seolah
ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Meli menutup buku itu perlahan. “Aku harus mencari tahu.”
Desi yang duduk di sampingnya menatap penasaran. “Maksudmu?”
“Bi Rumi tidak datang untuk menakutiku. Ia ingin menunjukkan sesuatu.”
Desi terdiam.Setelah semua kejadian yang mereka alami, ia tidak lagi
bisa menganggap semuanya sebagai kebetulan.
“Kalau begitu kita cari tahu bersama.”
***
Sepulang sekolah, Meli dan Desi pergi menuju sungai tempat jasad Bi Rumi
ditemukan. Meli membawa buku kecilnya.
Langit sore mulai berubah gelap. Angin berembus melewati rumpun bambu di
sepanjang sungai. Suara gesekan batang bambu membuat suasana terasa semakin
sunyi.
Meli berhenti berjalan. Tempat itu terasa asing. Namun juga terasa
sangat dikenal. Seperti pernah ia datangi berkali-kali dalam mimpi.
“Ini tempatnya?” tanya Desi.
Meli mengangguk. “Aku rasa... iya.”
Mereka berjalan perlahan menyusuri tepian sungai. Tidak lama kemudian
Desi berhenti. “Mel...”
Meli menoleh. Di antara batang bambu, tersangkut sepotong kain merah
yang sudah pudar. Desi mengambilnya perlahan.
“Warnanya mirip dengan payung yang kamu lihat.”
Meli merasakan tubuhnya menegang. Ia membuka buku catatan. Payung merah.
Satu petunjuk mulai menemukan tempatnya. Mereka kembali berjalan. Beberapa
meter kemudian, kaki Meli menyentuh benda keras. Ia berjongkok dan membersihkan
lumpur yang menutupinya. Sebuah sandal perempuan muncul. Salah satu talinya
putus.
Meli membeku. Bentuknya sama seperti yang muncul dalam mimpinya. Desi
menatap sandal itu dengan wajah pucat.
“Mel...”
Meli tidak menjawab. Ia hanya menatap benda itu. Untuk pertama
kalinya... ia merasa bahwa semua yang dialaminya bukan sekadar ketakutan.
Ada kebenaran yang sedang berusaha muncul. Namun mereka masih belum
memiliki bukti yang cukup.
Desi akhirnya bertanya, “Apa kita lapor polisi?”
Meli menggeleng. “Belum.”
“Kenapa? Karena kalau kita datang membawa cerita tentang mimpi dan arwah
tidak ada yang akan percaya.”
Desi terdiam. Meli benar. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih kuat. Bukan
hanya mimpi. Bukan hanya dugaan. Melainkan bukti yang mampu menunjukkan bahwa
semua yang mereka temukan bukan sekadar kebetulan. Dengan perasaan berat, Meli
dan Desi akhirnya meninggalkan tepian sungai.
Namun sebelum benar-benar pergi, Meli tiba-tiba berhenti. Entah mengapa,
ia merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Ia menoleh ke
arah rumpun bambu. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya batang-batang bambu yang bergerak perlahan tertiup angin. Meli
tidak tahu bahwa di balik sana, sepasang mata memang sedang mengawasi mereka. Seseorang
telah melihat apa yang mereka temukan. Dan orang itu...
tidak ingin masa lalu Bi Rumi kembali terbongkar.
Sejak hari itu, gangguan yang dialami Meli berubah. Bi Rumi tidak lagi
muncul setiap malam. Ia hanya datang ketika Meli berada di tempat tertentu. Tempat-tempat
yang seolah memiliki hubungan dengan kejadian terakhir dalam hidupnya. Seolah
arwah itu tidak sedang menakuti Meli. Melainkan membimbingnya menemukan
sesuatu.
Suatu sore, sepulang sekolah, Meli dan Desi melewati sebuah pasar kecil.
Tiba-tiba langkah Meli berhenti. Di depan sebuah toko emas, berdiri sosok yang
sangat dikenalnya. Bi Rumi. Pakaiannya masih sama seperti saat terakhir kali
Meli bertemu dengannya. Basah. Wajahnya pucat. Namun kali ini, Bi Rumi tidak
menatap Meli. Tatapannya tertuju ke arah etalase toko.
“Mel?”
Desi memperhatikan wajah sahabatnya yang tiba-tiba berubah. “Kamu
melihatnya lagi?”
Meli mengangguk perlahan. “Bi Rumi ada di sana.”
Desi mengikuti arah pandang Meli. Namun seperti biasa... tidak ada siapa
pun di tempat itu.
“Hanya kamu yang bisa melihatnya?”
“Iya.” Meli kembali menatap ke arah Bi Rumi.
Perempuan itu perlahan mengangkat tangannya. Bukan menunjuk ke arah
Meli. Melainkan ke dalam toko. Sesaat kemudian tubuhnya mulai memudar. Hilang
bersama angin sore.
Meli menarik napas panjang. “Ayo masuk.”
Desi menatapnya ragu. “Kamu yakin?”
Meli mengangguk. “Kurasa... beliau ingin menunjukkan sesuatu.”
Pemilik toko emas menyambut mereka dengan ramah. “Silakan, Dik. Ada yang
bisa dibantu?”
Meli terlihat ragu. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya datang
karena mengikuti petunjuk arwah. Karena itu, ia memilih bertanya dengan
hati-hati.
“Pak, saya ingin bertanya. Beberapa minggu lalu... apakah ada seseorang
yang menjual gelang emas perempuan di sini?”
Pemilik toko tampak berpikir. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk. “Ada.
Seorang laki-laki. Katanya gelang itu milik keluarganya yang sedang membutuhkan
uang.”
Jantung Meli berdegup lebih cepat. “Gelangnya seperti apa, Pak?”
Pria itu membuka buku catatan transaksi. “Kalau tidak salah, gelangnya
memiliki ukiran bunga kecil.”
Meli dan Desi saling berpandangan. Motif itu sama seperti yang muncul
dalam mimpi Meli. Gelang yang terlepas dari tangan Bi Rumi.
“Apakah Bapak masih menyimpan data penjualnya?”
Pemilik toko mengangguk. “Masih. Setiap transaksi harus dicatat.” Ia mengambil
sebuah map dari lemari kecil di belakang meja. Di dalamnya terdapat salinan
identitas dan bukti transaksi.
Untuk pertama kalinya... Meli melihat sebuah petunjuk yang benar-benar
nyata. Bukan dari mimpi. Bukan dari bayangan. Melainkan sesuatu yang dapat
diserahkan kepada polisi.
***
Meli dan Desi akhirnya memutuskan melapor. Namun mereka sepakat tidak
menceritakan tentang arwah Bi Rumi. Mereka tahu, tidak semua orang akan
menerima cerita seperti itu. Yang mereka bawa hanyalah fakta. Lokasi sandal. Sobekan
kain merah. Informasi tentang gelang emas. Dan data orang yang menjualnya.
Di kantor polisi, seorang penyidik menerima laporan mereka. “Kalian
mengenal korban?”
“Iya, Pak,” jawab Meli. “Bi Rumi bekerja di lingkungan rumah saya.”
Penyidik membuka catatan. “Lalu apa yang kalian temukan?”
Meli menyerahkan buku kecilnya. “Kami menemukan beberapa benda di
sekitar lokasi penemuan jasad.”
“Kemudian kami mendapat informasi bahwa gelang milik Bi Rumi pernah
dijual seseorang.”
Penyidik membaca catatan itu dengan saksama. “Apakah kalian mengambil
barang-barang tersebut?”
“Tidak, Pak. Kami hanya menemukan lokasinya.”
Penyidik mengangguk. “Baik. Kami akan memeriksa informasi ini.”
Meli dan Desi meninggalkan kantor polisi dengan perasaan yang belum
sepenuhnya lega. Mereka tidak tahu apakah polisi akan menemukan sesuatu. Namun
setidaknya mereka sudah membuka jalan menuju kebenaran.
Dua hari kemudian, penyelidikan mulai berkembang. Petugas kembali
mendatangi lokasi yang disebutkan Meli. Di sekitar rumpun bambu, mereka
menemukan sobekan kain merah yang masih tersangkut pada ranting.
Tidak jauh dari sana, ditemukan sebuah sandal perempuan yang tertimbun
lumpur. Barang-barang tersebut kemudian dibawa untuk diperiksa.
Sementara itu, penyidik mendatangi toko emas yang disebutkan Meli. Pemilik
toko membenarkan adanya transaksi gelang emas beberapa minggu sebelumnya. Data
penjual masih tersimpan. Nama yang tercatat adalah... Arman. Penyidik kemudian
menelusuri identitas tersebut.
Ternyata Arman bukan orang asing bagi Bi Rumi. Ia pernah bekerja bersama
Bi Rumi sebagai petugas kebersihan di sebuah perumahan.
Mereka saling mengenal. Penyelidikan semakin mengarah kepadanya. Terlebih
setelah polisi menemukan rekaman CCTV di sekitar pasar. Dalam rekaman tersebut
terlihat Arman datang ke toko emas membawa sebuah gelang.
Di bagian belakang motornya, terikat sebuah payung merah tua. Payung
yang bentuknya mirip dengan benda yang muncul dalam mimpi Meli.
Ketika dipanggil untuk dimintai keterangan, Arman tetap tenang. “Saya
tidak tahu apa-apa tentang kematian Bi Rumi. Saya hanya menjual gelang yang
saya temukan.”
Penyidik menatapnya. “Di mana Anda menemukan gelang itu?”
Arman menyebutkan sebuah lokasi. Namun setelah diperiksa, tidak ada
bukti yang mendukung keterangannya. Penyidik kemudian meletakkan beberapa
dokumen di atas meja. Bukti transaksi gelang. Rekaman CCTV. Foto sandal yang
ditemukan di sungai. Dan hasil pemeriksaan barang bukti.
“Semua benda ini memiliki hubungan dengan korban.”
Arman mulai gelisah. ”Tidak. Itu hanya kebetulan.”
Ruangan menjadi sunyi. Penyidik tidak langsung membantah. Karena mereka
tahu mereka masih membutuhkan satu bukti terakhir. Bukti yang mampu membuat
Arman tidak lagi bisa bersembunyi.
Keesokan harinya, polisi kembali menggeledah rumah Arman berdasarkan
surat izin penggeledahan. Rumah kecil itu tampak rapi. Tidak banyak barang yang
mencurigakan.
Hingga seorang petugas membuka gudang di belakang rumah. Di sudut
ruangan terdapat sebuah karung tua yang ditutupi tumpukan kardus. Saat karung
itu dibuka, semua orang terdiam. Di dalamnya terdapat sebuah payung merah yang
sudah rusak.
Pada salah satu ujung gagangnya masih terlihat bercak kecokelatan yang
kemudian dipastikan sebagai darah. Tak jauh dari payung itu, polisi menemukan
pengait gelang emas yang patah. Bentuknya cocok dengan gelang yang dijual Arman
di toko emas.
Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan kedua bagian itu berasal dari
gelang yang sama. Kini seluruh rangkaian peristiwa mulai jelas. Payung merah
tertinggal di lokasi. Gelang emas dirampas. Pengait gelang patah saat Bi Rumi
berusaha mempertahankannya. Sandal sebelah hanyut terbawa arus. Tubuh korban
diseret melewati rumpun bambu sebelum dibuang ke sungai.
Tidak ada lagi celah untuk mengelak.
Arman menatap semua barang bukti yang tersusun di hadapannya. Tangannya
bergetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Beberapa saat kemudian ia
menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku.. aku tidak bermaksud membunuhnya.” Suara itu terdengar lirih.
Ruangan mendadak hening. Air mata mulai mengalir di wajah Arman. “aku
hanya ingin mengambil gelangnya. Dia melawan. Aku panik. Aku mendorongnya. Setelah
kepalanya membentur batu, aku tahu semuanya sudah terlambat.”
Tangisnya pecah. “Aku takut. Aku takut dipenjara. Itulah sebabnya aku
membuang tubuhnya ke sungai.”
Pengakuan itu mengakhiri penyelidikan yang selama berminggu-minggu
menemui jalan buntu.
Kabar penangkapan pelaku segera menyebar ke seluruh kampung.
Malam ituuntuk pertama kalinya sejak semua kejadian bermula.. Meli
tertidur tanpa mimpi buruk. Dalam tidurnya, ia kembali berada di tepi sungai. Kabut
perlahan menyingkir. Bi Rumi berdiri di hadapannya. Kali ini wajahnya tidak
lagi pucat. Pakaiannya bersih. Tidak ada lagi luka. Beliau tersenyum hangat. Untuk
pertama kalinya, bibirnya bergerak. Seperti mengucapkan “Terima kasih, Meli.”
Meli membalas senyumannya. Perlahan tubuh Bi Rumi berubah menjadi cahaya
yang semakin lama semakin terang. Lalu menghilang bersama embusan angin.
Sejak malam itu, tidak ada lagi suara bisikan. Tidak ada lagi bayangan
di cermin. Tidak ada lagi langkah kaki yang mengikuti Meli. Jam dinding kembali
berdetak seperti biasa. Lampu kamar tidak pernah lagi berkedip sendiri. Mata
batin yang sempat terbuka perlahan tertutup.
Meli akhirnya kembali menjalani hidupnya sebagai gadis biasa. Namun ia
tidak pernah melupakan satu pelajaran penting. Bahwa kebenaran mungkin dapat
disembunyikan oleh manusia. Tetapi tidak akan pernah benar-benar hilang. Karena
pada waktunya, kebenaran akan selalu menemukan jalannya untuk terungkap.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai
karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa
izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar