"Kurasa hadirmu antara ada dan tiada." Bait lagu itu terasa begitu tepat jika disandingkan dengan kisah ini.
Ada kehadiran yang tidak dapat
dijelaskan oleh logika. Tidak terlihat oleh mata, tetapi cukup nyata untuk
membuat bulu kuduk meremang.
Setiap orang memiliki
ketakutannya masing-masing. Sebagian takut pada gelap, sebagian lagi takut pada
kesunyian. Namun ada ketakutan yang jauh lebih sulit dijelaskan—ketika kita
merasa tidak benar-benar sendirian, padahal tidak ada siapa pun di sekitar.
Suara jarum jam memecah
keheningan malam.
Tik...
Tik...
Tik...
Irama itu berpadu dengan detak
jantung Meli yang belum juga tenang. Sejak pulang sekolah, ia memilih mengurung
diri di kamar. Punggungnya bersandar di kepala ranjang, kedua lutut dipeluk
erat, sementara pandangannya kosong menembus lantai. Bayangan kejadian pagi
tadi terus berputar di kepalanya.
Pukul enam pagi, Meli berangkat
lebih awal untuk menghindari kemacetan. Karena terburu-buru, ia bahkan tidak
sempat berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Udara pagi masih dingin ketika
ia melangkah menyusuri jalan kompleks yang lengang. Hanya suara burung dan
desir angin yang menemaninya.
Di kejauhan, seseorang berjalan
dari arah berlawanan. Semakin dekat. Semakin jelas.
Bi Rumi.
Perempuan yang bekerja sebagai
pembantu di rumah belakang itu biasanya selalu menyapanya dengan ramah.
“Pagi, Neng.” Namun pagi itu
terasa berbeda. Bi Rumi tetap tersenyum. Tetapi senyumnya terasa kosong.
Wajahnya pucat, bibirnya nyaris
tak berwarna, sementara kedua matanya menatap lurus ke arah Meli tanpa sedikit
pun kehidupan di dalamnya.
Tatapan itu dingin. Hampa. Seolah-olah
tidak sedang memandang manusia.
Meli membalas senyum sekadarnya
lalu terus berjalan. Ia mengira Bi Rumi sedang kurang sehat.
Beberapa langkah kemudian,
entah mengapa ia menoleh ke belakang. Bi Rumi masih berdiri di tempat yang
sama. Masih menatap ke arahnya. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Hanya
tersenyum.
Seketika tengkuk Meli terasa
dingin. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, bayangan wajah pucat dan tatapan
kosong itu tidak pernah lepas dari pikirannya.
Suasana sekolah masih lengang. Matahari baru saja terbit, meninggalkan
embun yang masih menempel di rerumputan halaman sekolah. Di dekat gerbang,
hanya Mang Ido, satpam yang selalu datang paling awal, sedang mengobrol dengan
beberapa siswa yang juga datang lebih pagi.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Meli sambil tersenyum.
Mang Ido menoleh, lalu membalas dengan senyum ramah. “Pagi, Neng.”
Meli mengangguk kecil sebelum melangkah menuju gedung sekolah. Lorong-lorong
masih sunyi. Beberapa ruang kelas telah terbuka, tetapi sebagian besar bangku
masih kosong. Suara langkah kakinya menggema pelan di sepanjang koridor,
membuat suasana terasa semakin sepi.
Sesampainya di kelas, Meli meletakkan tas di atas meja, lalu duduk
sambil mengembuskan napas lega. Ia mengenakan headset dan memutar lagu
favoritnya, berharap alunan musik dapat mengusir bayangan pertemuannya dengan
Bi Rumi pagi tadi.
Lagu pertama selesai diputar. Tanpa berpikir panjang, ia mengulangnya
dari awal. Belum sampai satu menit, tiba-tiba terdengar suara perempuan
berbisik tepat di telinganya. Pelan. Sangat pelan seperti bunyi desiran angin. Namun
cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya meremang.
Meli spontan melepas headset. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia
menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Ke kiri. Tetap kosong.
Seluruh kelas masih lengang. Hanya suara kipas angin tua yang berputar
pelan di langit-langit, diselingi kicau burung dari luar jendela.
Meli mengembuskan napas panjang. “Mungkin cuma suara dari lagu.” Ia
memasang kembali headset dan memutar lagu yang sama.
Kali ini ia mendengarkan hingga selesai. Tidak ada bisikan. Tidak ada
suara lain selain musik yang mengalun seperti biasa. Namun anehnya, perasaan
tidak nyaman itu justru semakin kuat.
Seolah ada seseorang yang berdiri di sudut kelas, diam-diam mengamatinya
tanpa berkedip. Meli berusaha menenangkan dirinya.
“Kalau memang ada yang menyukaiku, semoga cuma pengagum rahasia...” Senyum
tipis terlukis di bibirnya. “...bukan sesuatu yang tidak berwujud.”
Kalimat yang baru saja diucapkannya sendiri justru membuat tubuhnya
bergidik.
Tak lama kemudian, Audry masuk ke kelas sambil membawa botol minum. “Mel,
temani aku ke toilet, yuk.”
Meli segera mengangguk. Ia memang tidak ingin sendirian. Mereka berjalan
menuju toilet perempuan yang berada di ujung lorong. Suasana sekolah masih
belum ramai sehingga lorong itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Audry masuk ke salah satu bilik. Sementara itu, Meli berdiri di depan
wastafel. Ia membuka keran dan membasuh wajahnya perlahan. Air yang dingin
sedikit meredakan rasa gelisahnya.
Ketika mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan pantulan dirinya
di cermin. Namun... ada sesuatu di samping bayangan wajahnya. Kabut putih. Awalnya
hanya seperti embusan tipis.
Semakin lama, kabut itu perlahan membentuk siluet seseorang. Meli
mengernyit.
“Mungkin cerminnya berembun.” Ia mengusap permukaan kaca dengan telapak
tangannya.
Kabut itu tidak menghilang. Justru semakin jelas. Seseorang berdiri
tepat di belakangnya. Napas Meli tercekat. Dengan tubuh yang mulai gemetar, ia
memberanikan diri menoleh.
Kosong.Tidak ada siapa-siapa. Saat kembali menatap cermin, bayangan itu
telah lenyap. Belum sempat ia menghela napas lega, lampu di langit-langit
tiba-tiba berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu berkedip semakin cepat.
Suasana toilet mendadak berubah dingin. Meli buru-buru menutup keran. Namun
tuasnya seperti terkunci. Air justru memancar semakin deras hingga membasahi
wastafel dan mengalir ke lantai.
Suara gemericik air memenuhi ruangan, menggantikan kesunyian yang tadi
menyelimuti. Perlahan... pintu salah satu bilik toilet terbuka dengan
sendirinya.
Kreeeek...
Suara engsel yang berderit membuat jantung Meli berdegup semakin
kencang. Dari balik pintu yang terbuka, muncul sesosok bayangan hitam. Tubuhnya
menjulang hampir menyentuh langit-langit.
Rambut panjangnya terurai menutupi seluruh wajah. Sosok itu berdiri diam
beberapa saat. Lalu mulai melangkah ke arahnya.
Tap...
Tap...
Tap...
Setiap langkahnya terdengar jelas di tengah keheningan. Tubuh Meli
mendadak lemas. Ia mundur hingga punggungnya membentur pintu keluar, lalu
terduduk di lantai. Napasnya memburu. Tangannya gemetar hebat. Sosok itu
semakin mendekat. Semakin dekat. Dan berhenti hanya beberapa langkah di
depannya.
Tiba-tiba bahunya diguncang keras. “Meli!” Ia menjerit sambil memejamkan
mata.
“Meli! Sadar!”
Perlahan Meli membuka mata. Di hadapannya, Audry berjongkok dengan wajah
panik. “Kamu kenapa? Dari tadi duduk di lantai.”
Tanpa berkata apa-apa, Meli langsung memeluk sahabatnya erat. “Aku...
aku melihat seseorang...”
Audry mengusap punggungnya pelan. “Tenang dulu. Mungkin kamu terlalu
lelah.”
Meli menggeleng kuat. “Bukan... Rasanya benar-benar nyata.”
Sejak kejadian itu, Meli tidak mampu lagi berkonsentrasi mengikuti
pelajaran. Pikirannya terus dihantui bayangan perempuan yang muncul di cermin
toilet.
Beruntung guru pada jam pelajaran terakhir berhalangan hadir sehingga
seluruh siswa hanya diberi tugas mandiri. Dengan alasan kurang enak badan, Meli
meminta izin pulang lebih awal.
Saat melangkah meninggalkan gerbang sekolah, ia sempat menoleh ke
belakang. Koridor tampak kosong. Namun entah mengapa... ia masih merasa ada
sepasang mata yang diam-diam mengawasinya.
Seolah sesuatu itu belum selesai. Dan kini... mengikutinya pulang.
Sejak kejadian di toilet sekolah, Meli semakin sulit mengendalikan rasa takutnya.
Ia tidak lagi berani pergi sendirian. Ke mana pun teman-temannya melangkah, ia
selalu berusaha ikut. Baginya, berada di tengah keramaian sedikit banyak mampu
mengusir kecemasan yang terus menghantuinya.
Saat jam istirahat, Desi mengajaknya ke perpustakaan. Sebenarnya Meli
tidak terlalu menyukai tempat itu. Menurutnya, perpustakaan adalah tempat bagi
murid-murid yang gemar membaca, sedangkan dirinya lebih senang menghabiskan
waktu di kantin. Namun belakangan ini pikirannya begitu kacau. Ia berharap
suasana tenang di antara rak-rak buku dapat membuatnya sedikit lebih damai.
Perpustakaan tampak lengang. Hanya beberapa siswa terlihat sibuk memilih
buku, sementara yang lain duduk membaca dalam diam. Meli memilih duduk di meja
paling dekat dengan pintu.
“Aku cari novel dulu, ya,” ujar Desi.
“Iya.” Desi segera menghilang di balik deretan rak.
Meli mengembuskan napas panjang. Melihat orang memilih buku saja
sudah membuatku lelah. Apalagi harus ikut mencarinya satu per satu.
Ia menyandarkan tubuh pada kursi. Awalnya suasana terasa menenangkan. Namun
lima menit kemudian... kesunyian justru berubah menjadi sesuatu yang
menyesakkan.
Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk permukaan meja.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia menoleh ke sekeliling. Desi belum kembali. Beberapa siswa yang tadi
memenuhi ruangan pun entah sejak kapan tak lagi terlihat.
Meli mengerutkan kening. “Apa mereka masih mencari buku? Atau...
memang sedari tadi aku sendirian?”
Perasaan tidak nyaman perlahan merayapi dadanya. Ia akhirnya berdiri dan
menyusuri lorong di antara rak-rak buku. Di ujung ruangan, tampak seorang siswi
berdiri membelakanginya.
Rambutnya panjang terurai hingga menutupi wajah. Seragamnya tampak
kusut. Kedua tangannya bergerak cepat membalik halaman sebuah buku. Terlalu
cepat. Mustahil seseorang mampu membaca dengan cara seperti itu.
Meli menghentikan langkah. “Apa yang sedang dia lakukan?”
Rasa penasaran perlahan mengalahkan rasa takut. Ia melangkah mendekat. Baru
beberapa langkah... gadis itu tiba-tiba berlari. Buku yang dipegangnya terjatuh
begitu saja. Namun ia sama sekali tidak menoleh.
Dalam hitungan detik, sosoknya lenyap di balik rak buku. “Cepat
sekali...” gumam Meli. “Seperti pelari.”
Meli memungut buku yang tertinggal di lantai. Saat jemarinya menyentuh
sampulnya napasnya mendadak tercekat. Gambar seorang perempuan pada sampul buku
tampak berubah. Awalnya hanya senyumnya yang terasa berbeda. Lalu kedua matanya
perlahan bergerak.
Tatapan kosong itu seolah menatap balik ke arahnya. “Tidak...” bisik
Meli.
Ia berkedip berulang kali. Namun bayangan itu tidak menghilang. Rambut
perempuan dalam gambar perlahan menjulur melewati tepi sampul. Semakin lama... semakin
panjang. Lalu sesuatu yang menyerupai kepala mulai muncul dari balik halaman
buku.
Kulitnya pucat. Wajahnya dipenuhi luka menghitam. Cairan merah menetes
perlahan hingga membasahi jemari Meli. Tangannya mulai bergetar. Di saat yang
sama...suasana perpustakaan berubah.
Dari berbagai penjuru ruangan terdengar suara-suara yang saling
bertumpuk. Tangisan. Bisikan. Tawa lirih. Suara orang berlari. Jeritan yang
terdengar sangat jauh.
Meli menutup kedua telinganya. Namun semua suara itu justru terdengar
semakin jelas. Buku di tangannya mulai bergetar.
Semakin lama... semakin kuat. Seolah ada sesuatu yang berusaha keluar
dari dalamnya.
Meli mencoba melepaskan buku itu. Tidak bisa. Telapak tangannya seperti
melekat pada sampul.
Perempuan itu kini telah keluar hingga sebatas dada. Tangannya yang
kurus perlahan terulur. Ujung jarinya tinggal beberapa senti dari kaki Meli. Tubuh
Meli membeku. Mulutnya terbuka. Namun tak satu pun suara berhasil keluar.
Saat itulah... sesuatu yang dingin menyentuh pundaknya. Sentuhan itu
membuat Meli teringat doa yang selalu diajarkan ibunya. Dengan bibir yang
gemetar, ia mulai melafalkannya dalam hati.
Perlahan... cengkeraman di pundaknya terasa semakin kuat.
“Aaaaa!” Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Meli menghempaskan buku
itu ke lantai.
Brak! Buku terpental beberapa meter. Sesosok perempuan itu masih tampak
berusaha keluar. Tangannya kembali meraih ke arah Meli. Belum sempat menyentuh,
bahunya diguncang keras.
“Meli, sadar!”
Meli membuka mata sambil terengah-engah. “Lepaskan aku! Jangan ganggu
aku!”
“Mel! Ini aku... Desi!” Suara itu perlahan mengembalikan kesadarannya.
Di hadapannya, Desi memandang dengan wajah cemas. “Ada apa?”
Meli hanya mampu menunjuk buku yang tergeletak di lantai. “Jangan...
sentuh...”
Namun Desi sudah lebih dulu mengambilnya. Ia memperlihatkan sampul buku
itu kepada Meli. “Kamu tadi memegang kamus bahasa Indonesia.”
Meli menatapnya lekat-lekat. Tidak ada wajah perempuan. Tidak ada darah.
Tidak ada tangan yang keluar dari halaman. Hanya sebuah kamus tua dengan sampul
berwarna cokelat.
Perlahan ia menyentuhnya. Tidak terjadi apa-apa. “Memang... kamus...” gumamnya
lirih.
Desi mengembalikan buku itu ke rak. “Jam istirahat sudah selesai. Dari
tadi aku mencarimu. Aku kira kamu sudah kembali ke kelas.”
Meli tidak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah Desi meninggalkan
perpustakaan.
Sesaat sebelum keluar dari ruangan, embusan angin dingin menerpa
tengkuknya. Refleks ia menoleh. Di sela-sela rak buku paling belakang... sesosok
bayangan perempuan berdiri diam.
Kali ini... ia tidak berlari. Tanpa berkata apa-apa, Meli mempercepat
langkahnya keluar dari perpustakaan. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai
sadar... apa pun yang mengikutinya itu... tidak lagi hanya ingin menakutinya.
Sore harinya, sepulang sekolah, sebuah kabar mengejutkan menyelimuti
lingkungan tempat tinggal Meli. Bi Rumi ditemukan mengambang di sungai.
Polisi menduga perempuan itu menjadi korban perampokan. Berdasarkan
hasil pemeriksaan, jasadnya diperkirakan telah berada di dalam air selama
hampir satu minggu.
Mendengar kabar itu, tubuh Meli seketika membeku. Pikirannya melayang
pada pertemuan mereka beberapa hari sebelumnya.
Perempuan berwajah pucat itu. Senyumnya yang tipis. Tatapan matanya yang
kosong. Dan sapaan singkat yang masih teringat jelas di kepalanya.
Bulu kuduk Meli berdiri. Kalau Bi Rumi sudah meninggal sejak hampir
seminggu yang lalu... lalu... siapa perempuan yang ia temui pagi itu?
***
Malam itu Meli kembali terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin
membasahi pelipisnya, padahal pendingin ruangan masih menyala. Ia duduk
perlahan di atas ranjang, mencoba mengatur napas yang terasa sesak.
Matanya beralih ke arah jendela. Tirai hanya bergoyang pelan tertiup
angin. Tidak ada siapa pun. Namun, suara itu kembali terdengar.
“Meli...” Pelan. Sangat pelan. Seolah seseorang sedang berbisik tepat di
samping telinganya.
Meli spontan menutup kedua telinga dengan bantal. “Tolong...” bisiknya
lirih. “Jangan ganggu aku lagi.”
Malam kembali sunyi. Akan tetapi, rasa takut yang memenuhi dadanya tidak
juga pergi.
Sejak kejadian di perpustakaan, keadaan Meli semakin memburuk. Di
sekolah ia tidak pernah mau berjalan sendirian. Ke mana pun pergi, ia selalu
menunggu teman menemaninya.
Di rumah, pintu kamar selalu dikunci, bahkan saat siang hari. Lampu
kamar tak pernah lagi dimatikan ketika malam tiba. Sedikit suara langkah di
lorong rumah sudah cukup membuat tubuhnya menegang.
Nafsu makannya pun berkurang. Lingkar hitam mulai menghiasi kedua
matanya. Perubahan itu perlahan disadari oleh ibunya.
Suatu sore, setelah makan malam, sang ibu masuk ke kamar Meli sambil
membawa segelas susu hangat. Beliau duduk di tepi ranjang.
“Meli.”
“Iya, Bu?”
“Kamu sedang sakit?”
Meli menggeleng pelan. “Cuma kurang tidur.”
Ibunya menghela napas. “Kamu bilang begitu setiap hari.”
Beliau mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Dulu kamu paling cerewet
di rumah. Sekarang kamu lebih sering mengurung diri. Di sekolah juga wali
kelasmu menelepon Ibu.”
Meli terdiam.
“Kamu sering melamun, katanya.”
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh. “Ibu, aku sering
melihat seseorang.”
Ibunya mengernyit. “Siapa?”
“Perempuan. Kadang di rumah. Kadang di sekolah. Kadang...” suara Meli
mulai bergetar, “...dia muncul di tempat yang seharusnya kosong.”
Ibunya menggenggam tangan Meli. “Jangan dipikirkan terus. Mungkin kamu
terlalu lelah.”
Meli menggeleng cepat. “Bukan, Bu. Aku benar-benar melihatnya.”
Senyum tipis muncul di wajah sang ibu, tetapi sorot matanya menyimpan
kekhawatiran.
“Besok kita ke dokter.”
Keesokan harinya mereka mendatangi seorang psikiater. Ruang praktik itu
terasa hangat. Di dinding tergantung beberapa lukisan pemandangan alam yang
menenangkan. Aroma teh melati samar tercium dari sudut ruangan.
Dokter paruh baya yang menangani Meli mempersilahkannya duduk.
“Nah, Meli... Coba ceritakan semuanya.”
Awalnya Meli ragu. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai menceritakan
semua yang dialaminya. Tentang bisikan yang memanggil namanya. Tentang sosok
perempuan di cermin toilet sekolah. Tentang perempuan yang seolah keluar dari
dalam buku di perpustakaan. Dan tentang Bi Rumi yang ditemuinya beberapa hari
sebelum kabar kematiannya tersebar. Dokter mendengarkan tanpa menyela. Sesekali
beliau hanya mengangguk sambil mencatat.
Setelah selesai, Meli
diminta menunggu di luar. Kini
hanya Ayah, Ibu, dan dokter yang berada di dalam ruangan.
Ayah membuka percakapan. “Bagaimana keadaan
anak kami, Dok?”
Dokter menutup buku catatannya. “Untuk saat
ini, saya belum menemukan tanda-tanda gangguan kejiwaan yang berat.”
Ayah tampak bingung. “Maksud Dokter?”
“Cara berpikir Meli baik. Daya ingatnya
juga sangat baik. Ia mampu menceritakan semua kejadian secara runtut.”
Dokter berhenti sejenak. “Saya juga belum
menemukan gejala yang mengarah pada gangguan psikotik.”
Ibunya mengembuskan napas lega. Namun
kecemasan di wajahnya belum benar-benar hilang.
“Kalau begitu... kenapa dia melihat hal-hal
seperti itu?”
Dokter menyatukan kedua tangannya di atas
meja. “Ada banyak kemungkinan.”
“Rasa takut yang berlangsung lama dapat
membuat seseorang mengalami pengalaman yang terasa sangat nyata. Namun...”
Beliau kembali membuka catatan. “...saya
belum bisa memastikan bahwa itulah yang sedang dialami Meli. Masih terlalu dini
untuk menarik kesimpulan.”
Ayah kembali bertanya. “Lalu apa yang harus
kami lakukan?”
“Dampingi Meli. Usahakan jangan terlalu
sering membiarkannya sendirian. Pastikan ia cukup beristirahat. Kalau
keluhannya semakin sering muncul, segera bawa kembali untuk pemeriksaan
lanjutan.”
Kedua orang tua Meli mengangguk pelan. Jawaban
dokter sedikit melegakan. Setidaknya mereka tahu putri mereka tidak mengalami
gangguan kejiwaan seperti yang selama ini mereka khawatirkan.
Namun, di sisi lain, mereka juga pulang
tanpa benar-benar mendapatkan jawaban. Kalau semua itu bukan gangguan
kejiwaan... Lalu siapa perempuan yang terus muncul dalam kehidupan Meli?
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil dipenuhi keheningan. Ayah fokus
mengemudi. Ibu beberapa kali menoleh ke arah Meli melalui kaca spion. Sedangkan
Meli hanya memandang keluar jendela.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan. Kalau semua itu hanya ilusi... mengapa
perempuan yang sama selalu muncul di tempat yang berbeda?
Mengapa ia melihat Bi Rumi... bahkan sebelum siapa pun mengetahui bahwa
perempuan itu telah meninggal?
Mobil berhenti di lampu merah. Tanpa sengaja Meli mengalihkan
pandangannya ke trotoar di seberang jalan. Jantungnya seolah berhenti sesaat.
Di sana... Bi Rumi berdiri diam. Masih mengenakan pakaian yang sama. Wajahnya
tetap pucat. Tatapannya lurus mengarah kepada Meli. Namun kali ini ada sesuatu
yang berbeda.
Beliau tidak lagi tersenyum. Perlahan, Bi Rumi mengangkat tangan
kanannya. Bukan untuk melambai. Melainkan menunjuk ke arah jalan kecil di
samping sungai. Lampu lalu lintas berubah hijau.
Mobil mulai bergerak. Ketika Meli kembali menoleh... sosok itu telah
menghilang. Meli menundukkan kepala. Jemarinya mencengkeram ujung rok hingga
memutih.
Dokter mengatakan dirinya sehat. Namun kalau semua ini hanya ada di
dalam pikirannya.. Mengapa Bi Rumi seolah sedang berusaha menunjukkan sesuatu?
apapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar