Minggu, 29 Januari 2012

CERPEN "ILUSI"

"Kurasa hadirmu antara ada dan tiada." Bait lagu itu terasa begitu tepat jika disandingkan dengan kisah ini.

Ada kehadiran yang tidak dapat dijelaskan oleh logika. Tidak terlihat oleh mata, tetapi cukup nyata untuk membuat bulu kuduk meremang.

Setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing. Sebagian takut pada gelap, sebagian lagi takut pada kesunyian. Namun ada ketakutan yang jauh lebih sulit dijelaskan—ketika kita merasa tidak benar-benar sendirian, padahal tidak ada siapa pun di sekitar.

Suara jarum jam memecah keheningan malam.

Tik...

Tik...

Tik...

Irama itu berpadu dengan detak jantung Meli yang belum juga tenang. Sejak pulang sekolah, ia memilih mengurung diri di kamar. Punggungnya bersandar di kepala ranjang, kedua lutut dipeluk erat, sementara pandangannya kosong menembus lantai. Bayangan kejadian pagi tadi terus berputar di kepalanya.

Pukul enam pagi, Meli berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan. Karena terburu-buru, ia bahkan tidak sempat berpamitan kepada kedua orang tuanya.

Udara pagi masih dingin ketika ia melangkah menyusuri jalan kompleks yang lengang. Hanya suara burung dan desir angin yang menemaninya.

Di kejauhan, seseorang berjalan dari arah berlawanan. Semakin dekat. Semakin jelas.

Bi Rumi.

Perempuan yang bekerja sebagai pembantu di rumah belakang itu biasanya selalu menyapanya dengan ramah.

“Pagi, Neng.” Namun pagi itu terasa berbeda. Bi Rumi tetap tersenyum. Tetapi senyumnya terasa kosong.

Wajahnya pucat, bibirnya nyaris tak berwarna, sementara kedua matanya menatap lurus ke arah Meli tanpa sedikit pun kehidupan di dalamnya.

Tatapan itu dingin. Hampa. Seolah-olah tidak sedang memandang manusia.

Meli membalas senyum sekadarnya lalu terus berjalan. Ia mengira Bi Rumi sedang kurang sehat.

Beberapa langkah kemudian, entah mengapa ia menoleh ke belakang. Bi Rumi masih berdiri di tempat yang sama. Masih menatap ke arahnya. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Hanya tersenyum.

Seketika tengkuk Meli terasa dingin. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, bayangan wajah pucat dan tatapan kosong itu tidak pernah lepas dari pikirannya.

Dan saat malam tiba... Meli mulai bertanya-tanya. Benarkah orang yang ditemuinya pagi tadi adalah Bi Rumi?
***

Suasana sekolah masih lengang. Matahari baru saja terbit, meninggalkan embun yang masih menempel di rerumputan halaman sekolah. Di dekat gerbang, hanya Mang Ido, satpam yang selalu datang paling awal, sedang mengobrol dengan beberapa siswa yang juga datang lebih pagi.

“Selamat pagi, Pak,” sapa Meli sambil tersenyum.

Mang Ido menoleh, lalu membalas dengan senyum ramah. “Pagi, Neng.”

Meli mengangguk kecil sebelum melangkah menuju gedung sekolah. Lorong-lorong masih sunyi. Beberapa ruang kelas telah terbuka, tetapi sebagian besar bangku masih kosong. Suara langkah kakinya menggema pelan di sepanjang koridor, membuat suasana terasa semakin sepi.

Sesampainya di kelas, Meli meletakkan tas di atas meja, lalu duduk sambil mengembuskan napas lega. Ia mengenakan headset dan memutar lagu favoritnya, berharap alunan musik dapat mengusir bayangan pertemuannya dengan Bi Rumi pagi tadi.

Lagu pertama selesai diputar. Tanpa berpikir panjang, ia mengulangnya dari awal. Belum sampai satu menit, tiba-tiba terdengar suara perempuan berbisik tepat di telinganya. Pelan. Sangat pelan seperti bunyi desiran angin. Namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya meremang.

Meli spontan melepas headset. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Ke kiri. Tetap kosong.

Seluruh kelas masih lengang. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit, diselingi kicau burung dari luar jendela.

Meli mengembuskan napas panjang. “Mungkin cuma suara dari lagu.” Ia memasang kembali headset dan memutar lagu yang sama.

Kali ini ia mendengarkan hingga selesai. Tidak ada bisikan. Tidak ada suara lain selain musik yang mengalun seperti biasa. Namun anehnya, perasaan tidak nyaman itu justru semakin kuat.

Seolah ada seseorang yang berdiri di sudut kelas, diam-diam mengamatinya tanpa berkedip. Meli berusaha menenangkan dirinya.

“Kalau memang ada yang menyukaiku, semoga cuma pengagum rahasia...” Senyum tipis terlukis di bibirnya. “...bukan sesuatu yang tidak berwujud.”

Kalimat yang baru saja diucapkannya sendiri justru membuat tubuhnya bergidik.


Tak lama kemudian, Audry masuk ke kelas sambil membawa botol minum. “Mel, temani aku ke toilet, yuk.”

Meli segera mengangguk. Ia memang tidak ingin sendirian. Mereka berjalan menuju toilet perempuan yang berada di ujung lorong. Suasana sekolah masih belum ramai sehingga lorong itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Audry masuk ke salah satu bilik. Sementara itu, Meli berdiri di depan wastafel. Ia membuka keran dan membasuh wajahnya perlahan. Air yang dingin sedikit meredakan rasa gelisahnya.

Ketika mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan pantulan dirinya di cermin. Namun... ada sesuatu di samping bayangan wajahnya. Kabut putih. Awalnya hanya seperti embusan tipis.

Semakin lama, kabut itu perlahan membentuk siluet seseorang. Meli mengernyit.

“Mungkin cerminnya berembun.” Ia mengusap permukaan kaca dengan telapak tangannya.

Kabut itu tidak menghilang. Justru semakin jelas. Seseorang berdiri tepat di belakangnya. Napas Meli tercekat. Dengan tubuh yang mulai gemetar, ia memberanikan diri menoleh.

Kosong.Tidak ada siapa-siapa. Saat kembali menatap cermin, bayangan itu telah lenyap. Belum sempat ia menghela napas lega, lampu di langit-langit tiba-tiba berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu berkedip semakin cepat.

Suasana toilet mendadak berubah dingin. Meli buru-buru menutup keran. Namun tuasnya seperti terkunci. Air justru memancar semakin deras hingga membasahi wastafel dan mengalir ke lantai.

Suara gemericik air memenuhi ruangan, menggantikan kesunyian yang tadi menyelimuti. Perlahan... pintu salah satu bilik toilet terbuka dengan sendirinya.

Kreeeek...

Suara engsel yang berderit membuat jantung Meli berdegup semakin kencang. Dari balik pintu yang terbuka, muncul sesosok bayangan hitam. Tubuhnya menjulang hampir menyentuh langit-langit.

Rambut panjangnya terurai menutupi seluruh wajah. Sosok itu berdiri diam beberapa saat. Lalu mulai melangkah ke arahnya.

Tap...

Tap...

Tap...

Setiap langkahnya terdengar jelas di tengah keheningan. Tubuh Meli mendadak lemas. Ia mundur hingga punggungnya membentur pintu keluar, lalu terduduk di lantai. Napasnya memburu. Tangannya gemetar hebat. Sosok itu semakin mendekat. Semakin dekat. Dan berhenti hanya beberapa langkah di depannya.

Tiba-tiba bahunya diguncang keras. “Meli!” Ia menjerit sambil memejamkan mata.

“Meli! Sadar!”

Perlahan Meli membuka mata. Di hadapannya, Audry berjongkok dengan wajah panik. “Kamu kenapa? Dari tadi duduk di lantai.”

Tanpa berkata apa-apa, Meli langsung memeluk sahabatnya erat. “Aku... aku melihat seseorang...”

Audry mengusap punggungnya pelan. “Tenang dulu. Mungkin kamu terlalu lelah.”

Meli menggeleng kuat. “Bukan... Rasanya benar-benar nyata.”

Sejak kejadian itu, Meli tidak mampu lagi berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Pikirannya terus dihantui bayangan perempuan yang muncul di cermin toilet.

Beruntung guru pada jam pelajaran terakhir berhalangan hadir sehingga seluruh siswa hanya diberi tugas mandiri. Dengan alasan kurang enak badan, Meli meminta izin pulang lebih awal.

Saat melangkah meninggalkan gerbang sekolah, ia sempat menoleh ke belakang. Koridor tampak kosong. Namun entah mengapa... ia masih merasa ada sepasang mata yang diam-diam mengawasinya.

Seolah sesuatu itu belum selesai. Dan kini... mengikutinya pulang.

***

Sejak kejadian di toilet sekolah, Meli semakin sulit mengendalikan rasa takutnya. Ia tidak lagi berani pergi sendirian. Ke mana pun teman-temannya melangkah, ia selalu berusaha ikut. Baginya, berada di tengah keramaian sedikit banyak mampu mengusir kecemasan yang terus menghantuinya.

Saat jam istirahat, Desi mengajaknya ke perpustakaan. Sebenarnya Meli tidak terlalu menyukai tempat itu. Menurutnya, perpustakaan adalah tempat bagi murid-murid yang gemar membaca, sedangkan dirinya lebih senang menghabiskan waktu di kantin. Namun belakangan ini pikirannya begitu kacau. Ia berharap suasana tenang di antara rak-rak buku dapat membuatnya sedikit lebih damai.

Perpustakaan tampak lengang. Hanya beberapa siswa terlihat sibuk memilih buku, sementara yang lain duduk membaca dalam diam. Meli memilih duduk di meja paling dekat dengan pintu.

“Aku cari novel dulu, ya,” ujar Desi.

“Iya.” Desi segera menghilang di balik deretan rak.

Meli mengembuskan napas panjang. Melihat orang memilih buku saja sudah membuatku lelah. Apalagi harus ikut mencarinya satu per satu.

Ia menyandarkan tubuh pada kursi. Awalnya suasana terasa menenangkan. Namun lima menit kemudian... kesunyian justru berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan.

Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk permukaan meja.

Tok.

Tok.

Tok.

Ia menoleh ke sekeliling. Desi belum kembali. Beberapa siswa yang tadi memenuhi ruangan pun entah sejak kapan tak lagi terlihat.

Meli mengerutkan kening. “Apa mereka masih mencari buku? Atau... memang sedari tadi aku sendirian?”

Perasaan tidak nyaman perlahan merayapi dadanya. Ia akhirnya berdiri dan menyusuri lorong di antara rak-rak buku. Di ujung ruangan, tampak seorang siswi berdiri membelakanginya.

Rambutnya panjang terurai hingga menutupi wajah. Seragamnya tampak kusut. Kedua tangannya bergerak cepat membalik halaman sebuah buku. Terlalu cepat. Mustahil seseorang mampu membaca dengan cara seperti itu.

Meli menghentikan langkah. “Apa yang sedang dia lakukan?”

Rasa penasaran perlahan mengalahkan rasa takut. Ia melangkah mendekat. Baru beberapa langkah... gadis itu tiba-tiba berlari. Buku yang dipegangnya terjatuh begitu saja. Namun ia sama sekali tidak menoleh.

Dalam hitungan detik, sosoknya lenyap di balik rak buku. “Cepat sekali...” gumam Meli. “Seperti pelari.”

Meli memungut buku yang tertinggal di lantai. Saat jemarinya menyentuh sampulnya napasnya mendadak tercekat. Gambar seorang perempuan pada sampul buku tampak berubah. Awalnya hanya senyumnya yang terasa berbeda. Lalu kedua matanya perlahan bergerak.

Tatapan kosong itu seolah menatap balik ke arahnya. “Tidak...” bisik Meli.

Ia berkedip berulang kali. Namun bayangan itu tidak menghilang. Rambut perempuan dalam gambar perlahan menjulur melewati tepi sampul. Semakin lama... semakin panjang. Lalu sesuatu yang menyerupai kepala mulai muncul dari balik halaman buku.

Kulitnya pucat. Wajahnya dipenuhi luka menghitam. Cairan merah menetes perlahan hingga membasahi jemari Meli. Tangannya mulai bergetar. Di saat yang sama...suasana perpustakaan berubah.

Dari berbagai penjuru ruangan terdengar suara-suara yang saling bertumpuk. Tangisan. Bisikan. Tawa lirih. Suara orang berlari. Jeritan yang terdengar sangat jauh.

Meli menutup kedua telinganya. Namun semua suara itu justru terdengar semakin jelas. Buku di tangannya mulai bergetar.

Semakin lama... semakin kuat. Seolah ada sesuatu yang berusaha keluar dari dalamnya.

Meli mencoba melepaskan buku itu. Tidak bisa. Telapak tangannya seperti melekat pada sampul.

Perempuan itu kini telah keluar hingga sebatas dada. Tangannya yang kurus perlahan terulur. Ujung jarinya tinggal beberapa senti dari kaki Meli. Tubuh Meli membeku. Mulutnya terbuka. Namun tak satu pun suara berhasil keluar.

Saat itulah... sesuatu yang dingin menyentuh pundaknya. Sentuhan itu membuat Meli teringat doa yang selalu diajarkan ibunya. Dengan bibir yang gemetar, ia mulai melafalkannya dalam hati.

Perlahan... cengkeraman di pundaknya terasa semakin kuat.

“Aaaaa!” Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Meli menghempaskan buku itu ke lantai.

Brak! Buku terpental beberapa meter. Sesosok perempuan itu masih tampak berusaha keluar. Tangannya kembali meraih ke arah Meli. Belum sempat menyentuh, bahunya diguncang keras.

“Meli, sadar!”

Meli membuka mata sambil terengah-engah. “Lepaskan aku! Jangan ganggu aku!”

“Mel! Ini aku... Desi!” Suara itu perlahan mengembalikan kesadarannya.

Di hadapannya, Desi memandang dengan wajah cemas. “Ada apa?”

Meli hanya mampu menunjuk buku yang tergeletak di lantai. “Jangan... sentuh...”

Namun Desi sudah lebih dulu mengambilnya. Ia memperlihatkan sampul buku itu kepada Meli. “Kamu tadi memegang kamus bahasa Indonesia.”

Meli menatapnya lekat-lekat. Tidak ada wajah perempuan. Tidak ada darah. Tidak ada tangan yang keluar dari halaman. Hanya sebuah kamus tua dengan sampul berwarna cokelat.

Perlahan ia menyentuhnya. Tidak terjadi apa-apa. “Memang... kamus...” gumamnya lirih.

Desi mengembalikan buku itu ke rak. “Jam istirahat sudah selesai. Dari tadi aku mencarimu. Aku kira kamu sudah kembali ke kelas.”

Meli tidak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah Desi meninggalkan perpustakaan.

Sesaat sebelum keluar dari ruangan, embusan angin dingin menerpa tengkuknya. Refleks ia menoleh. Di sela-sela rak buku paling belakang... sesosok bayangan perempuan berdiri diam.

Kali ini... ia tidak berlari. Tanpa berkata apa-apa, Meli mempercepat langkahnya keluar dari perpustakaan. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai sadar... apa pun yang mengikutinya itu... tidak lagi hanya ingin menakutinya.


Sore harinya, sepulang sekolah, sebuah kabar mengejutkan menyelimuti lingkungan tempat tinggal Meli. Bi Rumi ditemukan mengambang di sungai.

Polisi menduga perempuan itu menjadi korban perampokan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, jasadnya diperkirakan telah berada di dalam air selama hampir satu minggu.

Mendengar kabar itu, tubuh Meli seketika membeku. Pikirannya melayang pada pertemuan mereka beberapa hari sebelumnya.

Perempuan berwajah pucat itu. Senyumnya yang tipis. Tatapan matanya yang kosong. Dan sapaan singkat yang masih teringat jelas di kepalanya.

Bulu kuduk Meli berdiri. Kalau Bi Rumi sudah meninggal sejak hampir seminggu yang lalu... lalu... siapa perempuan yang ia temui pagi itu?

***

Malam itu Meli kembali terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya, padahal pendingin ruangan masih menyala. Ia duduk perlahan di atas ranjang, mencoba mengatur napas yang terasa sesak.

Matanya beralih ke arah jendela. Tirai hanya bergoyang pelan tertiup angin. Tidak ada siapa pun. Namun, suara itu kembali terdengar.

“Meli...” Pelan. Sangat pelan. Seolah seseorang sedang berbisik tepat di samping telinganya.

Meli spontan menutup kedua telinga dengan bantal. “Tolong...” bisiknya lirih. “Jangan ganggu aku lagi.”

Malam kembali sunyi. Akan tetapi, rasa takut yang memenuhi dadanya tidak juga pergi.


Sejak kejadian di perpustakaan, keadaan Meli semakin memburuk. Di sekolah ia tidak pernah mau berjalan sendirian. Ke mana pun pergi, ia selalu menunggu teman menemaninya.

Di rumah, pintu kamar selalu dikunci, bahkan saat siang hari. Lampu kamar tak pernah lagi dimatikan ketika malam tiba. Sedikit suara langkah di lorong rumah sudah cukup membuat tubuhnya menegang.

Nafsu makannya pun berkurang. Lingkar hitam mulai menghiasi kedua matanya. Perubahan itu perlahan disadari oleh ibunya.

Suatu sore, setelah makan malam, sang ibu masuk ke kamar Meli sambil membawa segelas susu hangat. Beliau duduk di tepi ranjang.

“Meli.”

“Iya, Bu?”

“Kamu sedang sakit?”

Meli menggeleng pelan. “Cuma kurang tidur.”

Ibunya menghela napas. “Kamu bilang begitu setiap hari.”

Beliau mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Dulu kamu paling cerewet di rumah. Sekarang kamu lebih sering mengurung diri. Di sekolah juga wali kelasmu menelepon Ibu.”

Meli terdiam.

“Kamu sering melamun, katanya.”

Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh. “Ibu, aku sering melihat seseorang.”

Ibunya mengernyit. “Siapa?”

“Perempuan. Kadang di rumah. Kadang di sekolah. Kadang...” suara Meli mulai bergetar, “...dia muncul di tempat yang seharusnya kosong.”

Ibunya menggenggam tangan Meli. “Jangan dipikirkan terus. Mungkin kamu terlalu lelah.”

Meli menggeleng cepat. “Bukan, Bu. Aku benar-benar melihatnya.”

Senyum tipis muncul di wajah sang ibu, tetapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran.

“Besok kita ke dokter.”


Keesokan harinya mereka mendatangi seorang psikiater. Ruang praktik itu terasa hangat. Di dinding tergantung beberapa lukisan pemandangan alam yang menenangkan. Aroma teh melati samar tercium dari sudut ruangan.

Dokter paruh baya yang menangani Meli mempersilahkannya duduk.

“Nah, Meli... Coba ceritakan semuanya.”

Awalnya Meli ragu. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai menceritakan semua yang dialaminya. Tentang bisikan yang memanggil namanya. Tentang sosok perempuan di cermin toilet sekolah. Tentang perempuan yang seolah keluar dari dalam buku di perpustakaan. Dan tentang Bi Rumi yang ditemuinya beberapa hari sebelum kabar kematiannya tersebar. Dokter mendengarkan tanpa menyela. Sesekali beliau hanya mengangguk sambil mencatat.

Setelah selesai, Meli diminta menunggu di luar. Kini hanya Ayah, Ibu, dan dokter yang berada di dalam ruangan.

Ayah membuka percakapan. “Bagaimana keadaan anak kami, Dok?”

Dokter menutup buku catatannya. “Untuk saat ini, saya belum menemukan tanda-tanda gangguan kejiwaan yang berat.”

Ayah tampak bingung. “Maksud Dokter?”

“Cara berpikir Meli baik. Daya ingatnya juga sangat baik. Ia mampu menceritakan semua kejadian secara runtut.”

Dokter berhenti sejenak. “Saya juga belum menemukan gejala yang mengarah pada gangguan psikotik.”

Ibunya mengembuskan napas lega. Namun kecemasan di wajahnya belum benar-benar hilang.

“Kalau begitu... kenapa dia melihat hal-hal seperti itu?”

Dokter menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Ada banyak kemungkinan.”

“Rasa takut yang berlangsung lama dapat membuat seseorang mengalami pengalaman yang terasa sangat nyata. Namun...”

Beliau kembali membuka catatan. “...saya belum bisa memastikan bahwa itulah yang sedang dialami Meli. Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.”

Ayah kembali bertanya. “Lalu apa yang harus kami lakukan?”

“Dampingi Meli. Usahakan jangan terlalu sering membiarkannya sendirian. Pastikan ia cukup beristirahat. Kalau keluhannya semakin sering muncul, segera bawa kembali untuk pemeriksaan lanjutan.”

Kedua orang tua Meli mengangguk pelan. Jawaban dokter sedikit melegakan. Setidaknya mereka tahu putri mereka tidak mengalami gangguan kejiwaan seperti yang selama ini mereka khawatirkan.

Namun, di sisi lain, mereka juga pulang tanpa benar-benar mendapatkan jawaban. Kalau semua itu bukan gangguan kejiwaan... Lalu siapa perempuan yang terus muncul dalam kehidupan Meli?


Dalam perjalanan pulang, suasana mobil dipenuhi keheningan. Ayah fokus mengemudi. Ibu beberapa kali menoleh ke arah Meli melalui kaca spion. Sedangkan Meli hanya memandang keluar jendela.

Pikirannya dipenuhi pertanyaan. Kalau semua itu hanya ilusi... mengapa perempuan yang sama selalu muncul di tempat yang berbeda?

Mengapa ia melihat Bi Rumi... bahkan sebelum siapa pun mengetahui bahwa perempuan itu telah meninggal?

Mobil berhenti di lampu merah. Tanpa sengaja Meli mengalihkan pandangannya ke trotoar di seberang jalan. Jantungnya seolah berhenti sesaat.

Di sana... Bi Rumi berdiri diam. Masih mengenakan pakaian yang sama. Wajahnya tetap pucat. Tatapannya lurus mengarah kepada Meli. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Beliau tidak lagi tersenyum. Perlahan, Bi Rumi mengangkat tangan kanannya. Bukan untuk melambai. Melainkan menunjuk ke arah jalan kecil di samping sungai. Lampu lalu lintas berubah hijau.

Mobil mulai bergerak. Ketika Meli kembali menoleh... sosok itu telah menghilang. Meli menundukkan kepala. Jemarinya mencengkeram ujung rok hingga memutih.

Dokter mengatakan dirinya sehat. Namun kalau semua ini hanya ada di dalam pikirannya.. Mengapa Bi Rumi seolah sedang berusaha menunjukkan sesuatu?

***  
Apa jawaban pasti dari kejadan yang Meli alami? Dia teringat kembali kejadian yang telah lalu.
Pagi itu dia keluar kamar lebih awal dari penghuni rumah yang lain. Setiap bangun tidur perutnya pasti keroncongan, tidak sabar meminta di isi. Setibanya di dapur, dia segera mengeluarkan cemilan dari lemari es untuk menemaninya bersantai di ruang tengah. Meli berulang kali mengganti chanel tv tapi yang menarik penglihatannya adalah sekelebat bayangan yang berjalan menuju kamar pembantu. Meli mengintip celah kecil dipintu. Sosok perempuan hilir mudik di dalam kamar.
“Bibi kan mudik, siapa yang tidur di kamarnya?" Dia memberanikan diri membuka pintu, tapi tidak ada siapa pun disana.
Keanehan lain yang pernah terjadi. Saat itu meli hampir kesiangan karena menunggu seseorang yang mandi di wc kamarnya. Teriakan meli tidak membuat orang tersebut menghentikan nyanyiannya. Akhirnya meli membuka paksa pintunya, tapi tidak mendapati siapapun di sana. Tidak ada air yang menyala, apalagi suara.
"Setiap hari aku di bodohi. "
Bukan hanya itu. Jika dia sendirian, telinganya akan mendengar bisikan yang memanggil namanya. Meli tidak peduli meskipun terus diusik, tapi tingkahnya yang paranoid terlihat aneh bagi oranglain.
Saat berkumpul di ruang televisi bersama orangtua dan adiknya. Dia mendengar tawa & obrolan berisik yang menganggunya. Suara perempuan yang berceloteh tidak jelas.
"Hentikan. Cukup hari ini kau menggangguku!" Ujarnya lantang.
Orang tua dan adiknya memandang tidak mengerti. Mereka diam terpaku melihat tingkah meli yang sudah berlebihan. Mereka pikir dia sangat keterlaluan, berteriak sesuka hati tanpa sebab yang jelas. 
Meli tetap menyendiri di dalam kamar, baginya ini tempat persembunyian yang aman.
*** 
Malam ini rumah sepi, Ibu dan Ayah Meli ada urusan di luar kota. Bibi sibuk menjaga anaknya di rumah sakit. 
"Kalau non meli tidak berani di rumah lebih baik menyusul saja." pesan bibi sebelum berangkat, tapi meli memilih tinggal di rumah. Apalagi dia ditemani adiknya.
Sejak pulang sekolah Meli berdiam diri di kamar, menyalakan televisi dengan suara nyaring, setidaknya bisa memecah kesunyiaan. Kamar samping milik adiknya pasti dapat mendengar jelas suara televisi itu. Jam menunjukan pukul 7 malam, meli kehausan. Botol air di samping sudah kosong. Dia berjalan menuruni tangga menuju dapur untuk mengisi botol minum. Suara tetesan air di westafel di luar kamar mandi membuatnya beranjak sebentar untuk mematikan kran. Bersamaan seseorang yang menyalakan kran di toilet.
“Apa toilet dikamar anita rusak?” dia tidak begitu peduli. langkah kakinya kembali ke ruang makan, mengambil botol air yang telah terisi.
Mendengar ketukan kakinya sendiri saat menaiki tangga membuat hatinya gelisah. Dalam pikirannya, ada seseorang berjalan pelan di belakang. Badannya merinding. Meli memberanikan diri membalikan badan, dia lega tidak menemukan
apapun.
"Kalau ada seseorang yang sengaja mengikutiku, akan ku pukul dia dengan botol ini." Terlihat bayangan seseorang di dapur. Meli masih berpikir positif.
"Apa yang dilakukannya? pasti tadi si anita yang akan mengagetkanku." meli berjalan ke lorong kamar tanpa curiga.
Seseorang memasuki kamar anita, tapi meli menghiraukannya. Saat masuk ke dalam kamar, dia kaget mendapati televisi mati. Jendela kamar terbuka lebar, angin kencang melambai- lambaikan tirai putih di sana. Dia berjalan menuju jendela untuk menutupnya. Saat tangannya akan meraih jendela, matanya terbelalak oleh suasana yang berbeda dengan kenyataan. Hatinya berkecamuk pada pilihan membenarkan pikiran atau penglihatan saat ini. Melihat rumah kosong di depan seperti rumah baru. Ruangan bagian atas menyala. Padahal setaunya rumah bagian atas yg paling fatal mengalami kerusakan.
Di ruangan itu, seorang perempuan seumuranku sedang asik menulis pada sebuah bku. Cahaya lilin menghiasi kamar.Namun kejadian tidak terduga terjadi, lilin-lilin itu diterpa angin kencang mengakibatkan kobaran api yang semakin membesar. Dia berteriak histeris. Mencoba membuka pintu kamar, tapi sepertinya dia kehilangan kuncinya. Tidak ada seorangpun yang menolongnya.
“Tolong!!” gerak bibirnya berulang kali. Meli terpaku, angin dingin menerpa ramput panjangnya, menyapa bulu kudug. Dia tersadarkan dan segera berlari menuju kamar adiknya.
 *** 
Meli melihat Anita duduk di meja belajar yang berada di hadapannya, mengacuhkan kedatangannya yang duduk di tepi ranjang. Wajahk Meli pucat, tingkahnya gusar, tapi Anita terlihat acuh dengan masih duduk membelakangi.
“Dek. tadi kamu masuk ke kamar kakak?” Meli memastikan Anita yang masuk kamarnya tapi Anita tidak menjawab.
 “Kamu tidak bilang kalau televisi kamu matikan, jendela terbuka sembarangan. Ini kan sudah malam. Jika mau masuk kamar orang jangan membuatnya berantakan. Sudah kakak bilang berapa kali, tapi kamu tetap tidak mau mengerti.”
 Meli meluapkan kekesalan pada Anita tapi tidak bergeming.
 “Dia pasti menganggap aku mulai aneh lagi.”
 Meli berbaring di kasur adiknya dalam kecemasan, bersembunyi membenamkan seluruh badan dalam selimut.
 Tiba-tiba sebuah getaran mengagetkannya. Dia mendapati handphone anita di belakang punggung, panggilan masuk dari ibu.
“Hallo Bu ada apa?”
“Meli, panggilan Ibu ke handphonemu kenapa tidak kamu jawab?” Dia baru sadar handphonenya tertinggal.
 “Maaf Bu, handphone ku di kamar. Saat ini aku tidur di kamar anita.”
“Kamu tidak apa-apa sendirian di rumah? adikmu tadi menelpon Ibu katanya dia tidak pulang. Langsung menginap di rumah Abel. Dia ingin mengabarimu tapi kamu tidak menjawab telponnya. Ya sudah jangan lupa makan ya Mel.”
 Setiap ucapan Ibu dari awal sampai ia menutup telponnya. Dapat Meli cerna dengan baik. Bulu kudug kembali berdiri.
“Berarti nomer baru tadi sore itu adik. Dia tidak pulang, lalu siapa orang di ruangan ini?” Perasaan was-was mulai hinggap. Keringat dingin sudah membasahi badan.
Meli tidak mampu beranjak lagi, perasaan takut akan melihat sosok yang menyerupai adik hinggap di pikiran. Meli memberanikan diri membuka selimut untuk melihat keadaan di sekitar. Ternyata tidak ada siappun.
Saat dia membalikan diri ke samping ranjang, sosok perempuan berbaring di sampingnya, wajah dingin.  Meli tak tau apa yang selanjutnya terjadi, dia tak sadarkan diri.
***
Meli keluar rumah untuk lari pagi. Seorang gadis menghalangi jalan, dia berdiri di depan pagar rumah.
“Maaf, kamu siapa? Ada yang bisa aku bantu.” Dia tersenyum dan menunjuk ke arah rumah kosong di depan.
"Kamu mau ke sana? Apa keluargamu akan menempati rumah itu." Dia tetap diam menatap meli dengan mata kosong.
“Bukan itu ya masalahnya? Atau kamu mencariku, ada apa?” Meli melontarkan pertanyaan penuh selidik karena tidak mengenalinya.
“Kembalikan, kembalikan,kembalika­n!!!” Kata-kata itu berulang kali dia ucapkan, semakin kencang.
Sosoknya berubah menyeramkan, dia mahluk yang selalu mengganggu dirumahnya. “Meli.” Suara lirih membangunnya tapi tidak terlihat keberadaan siapapun di kamar anita. Keringat membasahi tubuh.
”Aku bermimpi” Meli melangkahkan kaki menuju kamarnya.
 Jam dinding menunjukan pukul 7. Kejadiaan semalam membuatnya tidak nyaman. Hari minggu ini dia akan beristirahat seharian. Terdengar kegaduhan bibi yang sedang memasak di dapur. Meli segera menghampirinya.
“Bibi ada yang ingin Meli ceritakan. Tolong Meli, bi. “
“Ada apa neng? Ini terdengar sangat serius. Baiklah, sebisa mungkin bibi akan membantu.”
Meli mengajak bibi ke ruang televisi. Meli menceritakan setiap kejadian yang dia alami.
“Apa masalahnya ada pada Neng?"
"Apa karena aku dikuti mahluk asing. Jadi masalahnya terletak padaku”
“Tidak semuanya, tapi saya rasa cerita neng tentang arwah penghuni rumah itu. mungkin ada kaitannya dengan sesuatu.”
 “Ya, semalam aku melihat rumah itu mengalami kebakaran dan seorang gadis menjadi korban. Sekarang dia mengikutiku."
"Bukan tanpa alasan dia mengikuti neng kan?”
Meli mengingat kembali, sore itu dia baru pulang sekolah. Dia merupakan penghuni baru di komplek kencana. Meli termasuk orang yang penasaran, langkahnya terhenti di depan rumah kosong. Matanya tertuju pada seorang perempuan yang bermain di halaman rumah itu. Meli memperhatikan gerak-geriknya. Ketika perempuan itu menyadari keberadaan orang yang mengawasinya, dia berlari ke dalam rumah. Meli mengikutinya.
Terdengar suara langkah kaki menuju tangga seirama dengan tawa riang seorang perempuan. Meli berjalan ke lantai atas, mengikuti bayangan perempuan yang masuk ke dalam ruangan. Dia menutup pintu dengan keras, memancing perhatian.
“Mencurigakan sedang apa dia di sini?” meli mendorong pintu yang rapuh. 
Ruangan itu kosong, ada ruangan kecil yang tersembunyi di kamar itu. Meli pikir ini tempat menyimpan mainan, karena desainnya sama seperti kamar adiknya. Memang semua rumah di komplek ini bentuknya sama. Jika tidak teliti, kita akan salah rumah. Terdengar kembali langkah kaki dan suara pintu yang menutup.
“Jail sekali anak itu. Awas kalau ketemu.” meli tetap berada ruangan, ada sebuah meja belajar yang menarik perhatian, bagian atasnya hangus. Terdapat sebuah buku diary di laci paling bawah, terhalang buku lain yang sudah tidak berbentuk.
Meli akan membuka buku tersebut, tapi angin kencang menggoyangkan sisa jendela menimbulkan suara yang menakutinya.
“Aku ingat Bi,aku tidak sempat mengembalikan buku yang di ambil dari sana.”
“Buku apa Non?”
"Tidak tau. Buku itu aku simpan didalam lemari karena tidak sempat membacanya.”
“Jangan di buka Non, mungkin buku itu masalahnya. Kita harus mengembalikan buku tersebut pada tempatnya."
Rumah kosong itu sudah 1 tahun di tinggalkan penghuninya. Saat seorang perempuan mengalami insiden kebakaran. Peristiwa terjadi pukul 7 malam, keadaan komplek mati lampu. Dia sendirian & terkunci dalam kamar. Rumah di sekitar belum berpenghuni. Sehingga tetangga yang berada jauh dari rumah itu tidak mengetahui kebakaran tersebut. Akhirnya rumah itu di tinggalkan begitu saja. Bukan hanya aku yang merasakan keganjilan akan rumah tersebut tapi setiap orang yang melewatinya jam 7 akan melihat penampakan.
 Masalahnya belum selesai, meskipun dia menyimpan buku itu kembali pada tempatnya. Dia tetap merasakan sesuatu, di rumah maupun disekolah. Dia memang penakut, tapi meli mulai terbiasa dengan keadaan itu.

Terimakasih
Ini ceritaku, DILARANG COPYPASTE!   
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar