Minggu, 29 Januari 2012

JEJAK TERAKHIR

Ada kehadiran yang tidak dapat dijelaskan oleh logika. Tidak terlihat oleh mata, tetapi cukup nyata untuk membuat bulu kuduk meremang.

Setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing. Sebagian takut pada gelap, sebagian lagi takut pada kesunyian. Namun ada ketakutan yang jauh lebih sulit dijelaskan—ketika kita merasa tidak benar-benar sendirian, padahal tidak ada siapa pun di sekitar.

Suara jarum jam memecah keheningan malam. Tik... Tik... Tik...

Irama itu berpadu dengan detak jantung Meli yang belum juga tenang. Sejak pulang sekolah, ia memilih mengurung diri di kamar. Punggungnya bersandar di kepala ranjang, kedua lutut dipeluk erat, sementara pandangannya kosong menembus lantai. Bayangan kejadian pagi tadi terus berputar di kepalanya.

Pukul enam pagi, Meli berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan. Karena terburu-buru, ia bahkan tidak sempat berpamitan kepada kedua orang tuanya.

Udara pagi masih dingin ketika ia melangkah menyusuri jalan kompleks yang lengang. Hanya suara burung dan desir angin yang menemaninya.

Di kejauhan, seseorang berjalan dari arah berlawanan. Semakin dekat. Semakin jelas.

Bi Rumi.

Perempuan yang bekerja sebagai pembantu di rumah belakang itu biasanya selalu menyapanya dengan ramah.

“Pagi, Neng.” Namun pagi itu terasa berbeda. Bi Rumi tetap tersenyum. Tetapi senyumnya terasa kosong.

Wajahnya pucat, bibirnya nyaris tak berwarna, sementara kedua matanya menatap lurus ke arah Meli tanpa sedikit pun kehidupan di dalamnya.

Tatapan itu dingin. Hampa. Seolah-olah tidak sedang memandang manusia.

Meli membalas senyum sekadarnya lalu terus berjalan. Ia mengira Bi Rumi sedang kurang sehat.

Beberapa langkah kemudian, entah mengapa ia menoleh ke belakang. Bi Rumi masih berdiri di tempat yang sama. Masih menatap ke arahnya. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Hanya tersenyum.

Seketika tengkuk Meli terasa dingin. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, bayangan wajah pucat dan tatapan kosong itu tidak pernah lepas dari pikirannya.

Dan saat malam tiba... Meli mulai bertanya-tanya. Benarkah orang yang ditemuinya pagi tadi adalah Bi Rumi?
***

Suasana sekolah masih lengang. Matahari baru saja terbit, meninggalkan embun yang masih menempel di rerumputan halaman sekolah. Di dekat gerbang, hanya Mang Ido, satpam yang selalu datang paling awal, sedang mengobrol dengan beberapa siswa yang juga datang lebih pagi.

“Selamat pagi, Pak,” sapa Meli sambil tersenyum.

Mang Ido menoleh, lalu membalas dengan senyum ramah. “Pagi, Neng.”

Meli mengangguk kecil sebelum melangkah menuju gedung sekolah. Lorong-lorong masih sunyi. Beberapa ruang kelas telah terbuka, tetapi sebagian besar bangku masih kosong. Suara langkah kakinya menggema pelan di sepanjang koridor, membuat suasana terasa semakin sepi.

Sesampainya di kelas, Meli meletakkan tas di atas meja, lalu duduk sambil mengembuskan napas lega. Ia mengenakan headset dan memutar lagu favoritnya, berharap alunan musik dapat mengusir bayangan pertemuannya dengan Bi Rumi pagi tadi.

Lagu pertama selesai diputar. Tanpa berpikir panjang, ia mengulangnya dari awal. Belum sampai satu menit, tiba-tiba terdengar suara perempuan berbisik tepat di telinganya. Pelan. Sangat pelan seperti bunyi desiran angin. Namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya meremang.

Meli spontan melepas headset. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Ke kiri. Tetap kosong.

Seluruh kelas masih lengang. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit, diselingi kicau burung dari luar jendela.

Meli mengembuskan napas panjang. “Mungkin cuma suara dari lagu.” Ia memasang kembali headset dan memutar lagu yang sama.

Kali ini ia mendengarkan hingga selesai. Tidak ada bisikan. Tidak ada suara lain selain musik yang mengalun seperti biasa. Namun anehnya, perasaan tidak nyaman itu justru semakin kuat.

Seolah ada seseorang yang berdiri di sudut kelas, diam-diam mengamatinya tanpa berkedip. Meli berusaha menenangkan dirinya.

“Kalau memang ada yang menyukaiku, semoga cuma pengagum rahasia...” Senyum tipis terlukis di bibirnya. “...bukan sesuatu yang tidak berwujud.”

Kalimat yang baru saja diucapkannya sendiri justru membuat tubuhnya bergidik.


Tak lama kemudian, Audry masuk ke kelas sambil membawa botol minum. “Mel, temani aku ke toilet, yuk.”

Meli segera mengangguk. Ia memang tidak ingin sendirian. Mereka berjalan menuju toilet perempuan yang berada di ujung lorong. Suasana sekolah masih belum ramai sehingga lorong itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Audry masuk ke salah satu bilik. Sementara itu, Meli berdiri di depan wastafel. Ia membuka keran dan membasuh wajahnya perlahan. Air yang dingin sedikit meredakan rasa gelisahnya.

Ketika mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan pantulan dirinya di cermin. Namun... ada sesuatu di samping bayangan wajahnya. Kabut putih. Awalnya hanya seperti embusan tipis.

Semakin lama, kabut itu perlahan membentuk siluet seseorang. Meli mengernyit.

“Mungkin cerminnya berembun.” Ia mengusap permukaan kaca dengan telapak tangannya.

Kabut itu tidak menghilang. Justru semakin jelas. Seseorang berdiri tepat di belakangnya. Napas Meli tercekat. Dengan tubuh yang mulai gemetar, ia memberanikan diri menoleh.

Kosong.Tidak ada siapa-siapa. Saat kembali menatap cermin, bayangan itu telah lenyap. Belum sempat ia menghela napas lega, lampu di langit-langit tiba-tiba berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu berkedip semakin cepat.

Suasana toilet mendadak berubah dingin. Meli buru-buru menutup keran. Namun tuasnya seperti terkunci. Air justru memancar semakin deras hingga membasahi wastafel dan mengalir ke lantai.

Suara gemericik air memenuhi ruangan, menggantikan kesunyian yang tadi menyelimuti. Perlahan... pintu salah satu bilik toilet terbuka dengan sendirinya.

Kreeeek...

Suara engsel yang berderit membuat jantung Meli berdegup semakin kencang. Dari balik pintu yang terbuka, muncul sesosok bayangan hitam. Tubuhnya menjulang hampir menyentuh langit-langit.

Rambut panjangnya terurai menutupi seluruh wajah. Sosok itu berdiri diam beberapa saat. Lalu mulai melangkah ke arahnya.

Tap... Tap... Tap... Setiap langkahnya terdengar jelas di tengah keheningan. Tubuh Meli mendadak lemas. Ia mundur hingga punggungnya membentur pintu keluar, lalu terduduk di lantai. Napasnya memburu. Tangannya gemetar hebat. Sosok itu semakin mendekat. Semakin dekat. Dan berhenti hanya beberapa langkah di depannya.

Tiba-tiba bahunya diguncang keras. “Meli!” Ia menjerit sambil memejamkan mata.

“Meli! Sadar!”

Perlahan Meli membuka mata. Di hadapannya, Audry berjongkok dengan wajah panik. “Kamu kenapa? Dari tadi duduk di lantai.”

Tanpa berkata apa-apa, Meli langsung memeluk sahabatnya erat. “Aku... aku melihat seseorang...”

Audry mengusap punggungnya pelan. “Tenang dulu. Mungkin kamu terlalu lelah.”

Meli menggeleng kuat. “Bukan... Rasanya benar-benar nyata.”

Sejak kejadian itu, Meli tidak mampu lagi berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Pikirannya terus dihantui bayangan perempuan yang muncul di cermin toilet.

Beruntung guru pada jam pelajaran terakhir berhalangan hadir sehingga seluruh siswa hanya diberi tugas mandiri. Dengan alasan kurang enak badan, Meli meminta izin pulang lebih awal.

Saat melangkah meninggalkan gerbang sekolah, ia sempat menoleh ke belakang. Koridor tampak kosong. Namun entah mengapa... ia masih merasa ada sepasang mata yang diam-diam mengawasinya.

Seolah sesuatu itu belum selesai. Dan kini... mengikutinya pulang.

***

Sejak kejadian di toilet sekolah, Meli semakin sulit mengendalikan rasa takutnya. Ia tidak lagi berani pergi sendirian. Ke mana pun teman-temannya melangkah, ia selalu berusaha ikut. Baginya, berada di tengah keramaian sedikit banyak mampu mengusir kecemasan yang terus menghantuinya.

Saat jam istirahat, Desi mengajaknya ke perpustakaan. Sebenarnya Meli tidak terlalu menyukai tempat itu. Menurutnya, perpustakaan adalah tempat bagi murid-murid yang gemar membaca, sedangkan dirinya lebih senang menghabiskan waktu di kantin. Namun belakangan ini pikirannya begitu kacau. Ia berharap suasana tenang di antara rak-rak buku dapat membuatnya sedikit lebih damai.

Perpustakaan tampak lengang. Hanya beberapa siswa terlihat sibuk memilih buku, sementara yang lain duduk membaca dalam diam. Meli memilih duduk di meja paling dekat dengan pintu.

“Aku cari novel dulu, ya,” ujar Desi.

“Iya.” Desi segera menghilang di balik deretan rak.

Meli mengembuskan napas panjang. Melihat orang memilih buku saja sudah membuatku lelah. Apalagi harus ikut mencarinya satu per satu.

Ia menyandarkan tubuh pada kursi. Awalnya suasana terasa menenangkan. Namun lima menit kemudian... kesunyian justru berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan.

Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk permukaan meja. Tok. Tok. Tok. Ia menoleh ke sekeliling. Desi belum kembali. Beberapa siswa yang tadi memenuhi ruangan pun entah sejak kapan tak lagi terlihat.

Meli mengerutkan kening. “Apa mereka masih mencari buku? Atau... memang sedari tadi aku sendirian?”

Perasaan tidak nyaman perlahan merayapi dadanya. Ia akhirnya berdiri dan menyusuri lorong di antara rak-rak buku. Di ujung ruangan, tampak seorang siswi berdiri membelakanginya.

Rambutnya panjang terurai hingga menutupi wajah. Seragamnya tampak kusut. Kedua tangannya bergerak cepat membalik halaman sebuah buku. Terlalu cepat. Mustahil seseorang mampu membaca dengan cara seperti itu.

Meli menghentikan langkah. “Apa yang sedang dia lakukan?”

Rasa penasaran perlahan mengalahkan rasa takut. Ia melangkah mendekat. Baru beberapa langkah... gadis itu tiba-tiba berlari. Buku yang dipegangnya terjatuh begitu saja. Namun ia sama sekali tidak menoleh.

Dalam hitungan detik, sosoknya lenyap di balik rak buku. “Cepat sekali...” gumam Meli. “Seperti pelari.”

Meli memungut buku yang tertinggal di lantai. Saat jemarinya menyentuh sampulnya napasnya mendadak tercekat. Gambar seorang perempuan pada sampul buku tampak berubah. Awalnya hanya senyumnya yang terasa berbeda. Lalu kedua matanya perlahan bergerak.

Tatapan kosong itu seolah menatap balik ke arahnya. “Tidak...” bisik Meli.

Ia berkedip berulang kali. Namun bayangan itu tidak menghilang. Rambut perempuan dalam gambar perlahan menjulur melewati tepi sampul. Semakin lama... semakin panjang. Lalu sesuatu yang menyerupai kepala mulai muncul dari balik halaman buku.

Kulitnya pucat. Wajahnya dipenuhi luka menghitam. Cairan merah menetes perlahan hingga membasahi jemari Meli. Tangannya mulai bergetar. Di saat yang sama...suasana perpustakaan berubah.

Dari berbagai penjuru ruangan terdengar suara-suara yang saling bertumpuk. Tangisan. Bisikan. Tawa lirih. Suara orang berlari. Jeritan yang terdengar sangat jauh.

Meli menutup kedua telinganya. Namun semua suara itu justru terdengar semakin jelas. Buku di tangannya mulai bergetar.

Semakin lama... semakin kuat. Seolah ada sesuatu yang berusaha keluar dari dalamnya.

Meli mencoba melepaskan buku itu. Tidak bisa. Telapak tangannya seperti melekat pada sampul.

Perempuan itu kini telah keluar hingga sebatas dada. Tangannya yang kurus perlahan terulur. Ujung jarinya tinggal beberapa senti dari kaki Meli. Tubuh Meli membeku. Mulutnya terbuka. Namun tak satu pun suara berhasil keluar.

Saat itulah... sesuatu yang dingin menyentuh pundaknya. Sentuhan itu membuat Meli teringat doa yang selalu diajarkan ibunya. Dengan bibir yang gemetar, ia mulai melafalkannya dalam hati.

Perlahan... cengkeraman di pundaknya terasa semakin kuat.

“Aaaaa!” Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Meli menghempaskan buku itu ke lantai.

Brak! Buku terpental beberapa meter. Sesosok perempuan itu masih tampak berusaha keluar. Tangannya kembali meraih ke arah Meli. Belum sempat menyentuh, bahunya diguncang keras.

“Meli, sadar!”

Meli membuka mata sambil terengah-engah. “Lepaskan aku! Jangan ganggu aku!”

“Mel! Ini aku... Desi!” Suara itu perlahan mengembalikan kesadarannya.

Di hadapannya, Desi memandang dengan wajah cemas. “Ada apa?”

Meli hanya mampu menunjuk buku yang tergeletak di lantai. “Jangan... sentuh...”

Namun Desi sudah lebih dulu mengambilnya. Ia memperlihatkan sampul buku itu kepada Meli. “Kamu tadi memegang kamus bahasa Indonesia.”

Meli menatapnya lekat-lekat. Tidak ada wajah perempuan. Tidak ada darah. Tidak ada tangan yang keluar dari halaman. Hanya sebuah kamus tua dengan sampul berwarna cokelat.

Perlahan ia menyentuhnya. Tidak terjadi apa-apa. “Memang... kamus...” gumamnya lirih.

Desi mengembalikan buku itu ke rak. “Jam istirahat sudah selesai. Dari tadi aku mencarimu. Aku kira kamu sudah kembali ke kelas.”

Meli tidak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah Desi meninggalkan perpustakaan.

Sesaat sebelum keluar dari ruangan, embusan angin dingin menerpa tengkuknya. Refleks ia menoleh. Di sela-sela rak buku paling belakang... sesosok bayangan perempuan berdiri diam.

Kali ini... ia tidak berlari. Tanpa berkata apa-apa, Meli mempercepat langkahnya keluar dari perpustakaan. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai sadar... apa pun yang mengikutinya itu... tidak lagi hanya ingin menakutinya.


Sore harinya, sepulang sekolah, sebuah kabar mengejutkan menyelimuti lingkungan tempat tinggal Meli. Bi Rumi ditemukan mengambang di sungai.

Polisi menduga perempuan itu menjadi korban perampokan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, jasadnya diperkirakan telah berada di dalam air selama hampir satu minggu.

Mendengar kabar itu, tubuh Meli seketika membeku. Pikirannya melayang pada pertemuan mereka beberapa hari sebelumnya.

Perempuan berwajah pucat itu. Senyumnya yang tipis. Tatapan matanya yang kosong. Dan sapaan singkat yang masih teringat jelas di kepalanya.

Bulu kuduk Meli berdiri. Kalau Bi Rumi sudah meninggal sejak hampir seminggu yang lalu... lalu... siapa perempuan yang ia temui pagi itu?

***

Malam itu Meli kembali terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya, padahal pendingin ruangan masih menyala. Ia duduk perlahan di atas ranjang, mencoba mengatur napas yang terasa sesak.

Matanya beralih ke arah jendela. Tirai hanya bergoyang pelan tertiup angin. Tidak ada siapa pun. Namun, suara itu kembali terdengar.

“Meli...” Pelan. Sangat pelan. Seolah seseorang sedang berbisik tepat di samping telinganya.

Meli spontan menutup kedua telinga dengan bantal. “Tolong...” bisiknya lirih. “Jangan ganggu aku lagi.”

Malam kembali sunyi. Akan tetapi, rasa takut yang memenuhi dadanya tidak juga pergi.


Sejak kejadian di perpustakaan, keadaan Meli semakin memburuk. Di sekolah ia tidak pernah mau berjalan sendirian. Ke mana pun pergi, ia selalu menunggu teman menemaninya.

Di rumah, pintu kamar selalu dikunci, bahkan saat siang hari. Lampu kamar tak pernah lagi dimatikan ketika malam tiba. Sedikit suara langkah di lorong rumah sudah cukup membuat tubuhnya menegang.

Nafsu makannya pun berkurang. Lingkar hitam mulai menghiasi kedua matanya. Perubahan itu perlahan disadari oleh ibunya.

Suatu sore, setelah makan malam, sang ibu masuk ke kamar Meli sambil membawa segelas susu hangat. Beliau duduk di tepi ranjang.

“Meli.”

“Iya, Bu?”

“Kamu sedang sakit?”

Meli menggeleng pelan. “Cuma kurang tidur.”

Ibunya menghela napas. “Kamu bilang begitu setiap hari.”

Beliau mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Dulu kamu paling cerewet di rumah. Sekarang kamu lebih sering mengurung diri. Di sekolah juga wali kelasmu menelepon Ibu.”

Meli terdiam.

“Kamu sering melamun, katanya.”

Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh. “Ibu, aku sering melihat seseorang.”

Ibunya mengernyit. “Siapa?”

“Perempuan. Kadang di rumah. Kadang di sekolah. Kadang...” suara Meli mulai bergetar, “...dia muncul di tempat yang seharusnya kosong.”

Ibunya menggenggam tangan Meli. “Jangan dipikirkan terus. Mungkin kamu terlalu lelah.”

Meli menggeleng cepat. “Bukan, Bu. Aku benar-benar melihatnya.”

Senyum tipis muncul di wajah sang ibu, tetapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran.

“Besok kita ke dokter.”


Keesokan harinya mereka mendatangi seorang psikiater. Ruang praktik itu terasa hangat. Di dinding tergantung beberapa lukisan pemandangan alam yang menenangkan. Aroma teh melati samar tercium dari sudut ruangan.

Dokter paruh baya yang menangani Meli mempersilahkannya duduk.

“Nah, Meli... Coba ceritakan semuanya.”

Awalnya Meli ragu. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai menceritakan semua yang dialaminya. Tentang bisikan yang memanggil namanya. Tentang sosok perempuan di cermin toilet sekolah. Tentang perempuan yang seolah keluar dari dalam buku di perpustakaan. Dan tentang Bi Rumi yang ditemuinya beberapa hari sebelum kabar kematiannya tersebar. Dokter mendengarkan tanpa menyela. Sesekali beliau hanya mengangguk sambil mencatat.

Setelah selesai, Meli diminta menunggu di luar. Kini hanya Ayah, Ibu, dan dokter yang berada di dalam ruangan.

Ayah membuka percakapan. “Bagaimana keadaan anak kami, Dok?”

Dokter menutup buku catatannya. “Untuk saat ini, saya belum menemukan tanda-tanda gangguan kejiwaan yang berat.”

Ayah tampak bingung. “Maksud Dokter?”

“Cara berpikir Meli baik. Daya ingatnya juga sangat baik. Ia mampu menceritakan semua kejadian secara runtut.”

Dokter berhenti sejenak. “Saya juga belum menemukan gejala yang mengarah pada gangguan psikotik.”

Ibunya mengembuskan napas lega. Namun kecemasan di wajahnya belum benar-benar hilang.

“Kalau begitu... kenapa dia melihat hal-hal seperti itu?”

Dokter menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Ada banyak kemungkinan.”

“Rasa takut yang berlangsung lama dapat membuat seseorang mengalami pengalaman yang terasa sangat nyata. Namun...”

Beliau kembali membuka catatan. “...saya belum bisa memastikan bahwa itulah yang sedang dialami Meli. Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.”

Ayah kembali bertanya. “Lalu apa yang harus kami lakukan?”

“Dampingi Meli. Usahakan jangan terlalu sering membiarkannya sendirian. Pastikan ia cukup beristirahat. Kalau keluhannya semakin sering muncul, segera bawa kembali untuk pemeriksaan lanjutan.”

Kedua orang tua Meli mengangguk pelan. Jawaban dokter sedikit melegakan. Setidaknya mereka tahu putri mereka tidak mengalami gangguan kejiwaan seperti yang selama ini mereka khawatirkan.

Namun, di sisi lain, mereka juga pulang tanpa benar-benar mendapatkan jawaban. Kalau semua itu bukan gangguan kejiwaan... Lalu siapa perempuan yang terus muncul dalam kehidupan Meli?


Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Ayah fokus menyetir, sementara Ibu beberapa kali menoleh ke arah Meli yang sejak tadi hanya memandang keluar jendela.

Ada sedikit rasa lega dalam hati mereka. Setidaknya dokter tidak menemukan tanda gangguan kejiwaan yang serius. Namun bagi Meli, jawaban itu justru menimbulkan pertanyaan baru.

Jika dirinya baik-baik saja... lalu siapa perempuan yang selama ini terus muncul di hadapannya?

Mobil berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah. Tanpa sengaja, pandangan Meli tertuju pada halte di seberang jalan.

Beberapa orang berdiri menunggu kendaraan. Seorang ibu menggendong anak kecil. Seorang pria sibuk memainkan ponsel. Beberapa pelajar tertawa sambil bercanda.

Semuanya terlihat normal. Sampai mata Meli berhenti pada satu sosok di antara kerumunan itu. Seorang perempuan berdiri diam. Sendirian. Tubuhnya basah kuyup. Air menetes dari ujung rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajah.

Meli perlahan menahan napas. Jantungnya berdetak semakin cepat. Perempuan itu mengangkat wajah. Wajah pucat. Tatapan kosong. Bibirnya membentuk senyum tipis yang membuat tubuh Meli membeku.

Bi Rumi. Perempuan yang beberapa hari lalu masih ia lihat berjalan melewati halaman rumah. Perempuan yang kini diketahui telah meninggal.

Meli ingin berteriak. Namun suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Lalu... sebuah bisikan terdengar di dekat telinganya.

“Meli...” Tubuhnya menegang. “...tolong aku.”

Meli langsung menoleh. Tidak ada siapa pun di sampingnya.

“Meli?” Suara ibunya membuatnya tersentak. “Kamu kenapa?”

Meli segera melihat kembali ke arah halte. Sosok Bi Rumi sudah tidak ada. Halte itu kembali seperti semula. Orang-orang masih berdiri menunggu kendaraan. Tidak ada perempuan dengan pakaian basah. Tidak ada tatapan kosong.

Meli menggenggam ujung bajunya erat. Dokter mengatakan dirinya sehat. Namun... jika semua itu bukan khayalan... mengapa hanya dirinya yang dapat melihat Bi Rumi?

***  

Malam itu Meli berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan kembali normal.

Perkataan dokter terus terngiang di kepalanya. “Kamu tidak mengalami gangguan kejiwaan.” Kalimat itu seharusnya membuatnya tenang.

Ia mencoba percaya bahwa semua yang terjadi hanyalah akibat rasa takut yang terlalu lama dipendam. Sesampainya di rumah, Meli langsung masuk kamar. Ia tidak ingin memikirkan apa pun.

Di atas meja belajar masih terdapat buku yang belum selesai dibaca. Ia menatapnya sebentar. Kemudian menghela napas. “Mulai sekarang aku harus berhenti takut.” Namun jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak yakin.

Malam semakin larut. Hujan turun perlahan di luar rumah. Angin dingin masuk dari celah jendela sebelum akhirnya Meli menutupnya rapat.

Ia menyalakan lampu tidur. Satu hal yang tidak pernah ia lakukan lagi sejak kejadian-kejadian aneh itu dimulai adalah tidur dalam keadaan gelap.

Sebelum berbaring, ia membaca doa seperti yang selalu diajarkan ibunya. Baru beberapa kata terucap...

Clek. Lampu kamar berkedip.

Meli berhenti. Ia menatap ke atas. Beberapa detik berlalu. Lampu kembali menyala.

“Mungkin hanya listrik. “Ia mencoba melanjutkan.

Namun beberapa saat kemudian... Clek. Clek. Lampu kembali berkedip. Kali ini lebih lama. Meli merasakan tengkuknya mulai dingin. Ia memejamkan mata. Tidak. Ia tidak ingin takut lagi. Ia menyelesaikan doanya hingga akhir.

Setelah itu kamar kembali sunyi. Meli membuka mata perlahan. Ia melihat jam dinding.

03.15. Tik... Tik... Tik... Suara detik jam tiba-tiba berhenti. Meli menatap jarum jam. Tidak bergerak. Lalu terdengar suara pelan dari arah pintu.

Kreek... Pintu kamar yang terkunci perlahan terbuka. Sedikit demi sedikit. Meli menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Ia tidak berani melihat. Tidak ada suara langkah. Tidak ada bisikan. Tidak ada bayangan. Namun justru keheningan itu terasa jauh lebih menakutkan.


Keesokan paginya, Meli datang ke sekolah dengan wajah pucat. Semalaman ia hampir tidak tidur. Matanya sembap. Tubuhnya terasa lelah.

Ia sengaja datang lebih awal. Ia tidak ingin melewati lorong sekolah sendirian. Sejak kejadian di perpustakaan, ia selalu menunggu Desi di gerbang.

“Aku takut kalau harus sendirian,” ucap Meli pelan.

Desi menatapnya prihatin. “Kamu semalam tidak tidur lagi?”

Meli hanya menggeleng. “Aku merasa...” Ia berhenti sebentar. “...ada sesuatu yang terus mengikutiku.”

Desi tidak menjawab. Namun kali ini ia tidak menganggap Meli berlebihan. Ia hanya menggandeng tangan sahabatnya menuju kelas.


Pelajaran berlangsung seperti biasa. Pak Rahmat sedang menjelaskan materi ketika pensil Desi tiba-tiba jatuh dari meja.

Desi membungkuk untuk mengambilnya. Namun saat itulah matanya menangkap sesuatu di belakang kursi Meli. Tubuhnya langsung kaku.

Seorang perempuan berdiri di sana. Rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Kulitnya pucat. Bajunya basah. Seolah baru saja keluar dari sungai. Perempuan itu tidak bergerak. Tidak berbicara. Ia hanya menatap Meli. Tanpa berkedip.

Napas Desi tercekat. Jari-jarinya menggenggam pensil semakin erat. Ia berkedip. Sekali. Saat matanya kembali terbuka... sosok itu sudah tidak ada.

“Des...” Suara Meli membuatnya tersentak. “Kamu kenapa?”

Desi menatap wajah sahabatnya. Untuk beberapa detik ia tidak mampu menjawab.

“Tidak...” Ia memaksakan senyum kecil. “Mungkin aku salah lihat.” Namun jauh di dalam hatinya... Desi tahu. Ia tidak salah melihat.

Karena untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang selama ini hanya diceritakan oleh Meli. Sesuatu yang selama ini ia anggap hanya akibat rasa takut sahabatnya.


Bel pulang berbunyi. Suara kursi bergeser dan langkah kaki siswa memenuhi kelas. Mereka mulai beranjak meninggalkan ruangan.

Desi berjalan berdampingan dengan Meli menuju halaman sekolah. Beberapa kali ia melirik wajah sahabatnya yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

“Mel...”

“Iya?” Desi menghentikan langkahnya. “Tadi waktu di kelas...” Ia terdiam sejenak.

Ada keraguan sebelum akhirnya ia melanjutkan. “...aku melihat seseorang berdiri di belakangmu.”

Langkah Meli langsung berhenti. Jantungnya berdegup lebih cepat. “Perempuan?”

Desi mengangguk pelan. “Pakaiannya basah.”

Wajah Meli perlahan kehilangan warna. “Jadi...” Suaranya bergetar. “Kamu juga melihatnya?”

Desi menatap Meli dengan tatapan bingung. “Apa itu perempuan yang selama ini kamu ceritakan?”

Meli tidak langsung menjawab. Ia hanya menundukkan kepala. Selama ini ia berharap semua kejadian itu hanya ada dalam pikirannya. Ia berharap suatu hari nanti ia akan bangun dan menyadari semuanya hanyalah mimpi buruk.

Namun sekarang... orang lain mulai melihat sosok yang sama. Dan itu berarti... ia tidak benar-benar sendirian.

*** 

Sejak hari itu, Desi mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pedulikan. Awalnya ia masih mencoba mencari alasan yang masuk akal. Mungkin hanya salah lihat. Mungkin karena terlalu sering mendengar cerita Meli. Namun semakin hari, kejadian aneh semakin sering terjadi.

Suatu siang ketika mereka berjalan melewati lorong sekolah yang sepi, terdengar suara langkah kaki dari belakang mereka.

Tok... Tok... Tok... Desi dan Meli berhenti bersamaan. Langkah itu ikut berhenti. Perlahan Desi menoleh. Lorong kosong. Tidak ada siapa pun.

“Kamu dengar?” Suara Meli terdengar lirih.

Desi menelan ludah. “Iya. Awalnya aku pikir cuma perasaanku.” Ia melihat ke arah lorong sekali lagi. “Tapi ternyata kamu juga mendengarnya.”


Beberapa hari kemudian, mereka belajar kelompok di perpustakaan. Suasana ruangan sangat tenang. Hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik dan suara pena yang menyentuh kertas.

Desi sedang mencatat materi ketika tiba-tiba kursi kosong di samping Meli bergerak perlahan.

Kreeek... Suara gesekan kayu terdengar jelas. Desi langsung mengangkat kepala. Kursi itu bergeser beberapa sentimeter. Tidak ada yang menyentuhnya.

Ia melihat ke sekeliling. Siswa lain tetap sibuk membaca. Tidak ada yang terkejut. Tidak ada yang menoleh. Seolah suara itu hanya terdengar oleh mereka berdua. Bulu kuduk Desi perlahan berdiri. Ia meraih tangan Meli. Tangan sahabatnya terasa dingin.

“Mel...”

Meli menatapnya. “Aku sudah mencoba berpikir semuanya hanya kebetulan.”

Desi menarik napas panjang. “Aku juga ingin percaya begitu.” Ia menatap kursi yang kembali diam. “Tapi sekarang, aku tidak bisa mengabaikannya lagi.”

Mata Meli mulai berkaca-kaca. “Jadi kamu percaya?”

Desi menggenggam tangannya lebih erat. “Aku percaya kamu tidak berbohong.”

Kalimat itu sederhana. Namun bagi Meli, kalimat itu berarti sangat besar. Selama ini semua orang menganggap ketakutannya hanyalah imajinasi. Bahkan dokter pun belum menemukan alasan pasti dari apa yang dialaminya. Namun sekarang, ada seseorang yang percaya. Seseorang yang melihat apa yang selama ini hanya ia lihat sendirian.

Desi menatapnya serius. “Kita cari tahu semuanya, Mel.”

Meli mengangkat wajah. “Aku tidak mau terus hidup seperti ini.”

“Aku juga tidak mau melihat kamu terus ketakutan.”

Keduanya terdiam. Kemudian Desi berkata pelan, “Mungkin semua ini memang ada hubungannya dengan Bi Rumi.”

Nama itu membuat suasana mendadak berubah. Meli kembali mengingat pagi ketika ia bertemu perempuan itu. Wajah pucat. Tatapan kosong. Senyum tipis yang tidak pernah ia lupakan.

Sejak pertemuan itu, mimpi-mimpi aneh selalu datang. Benda-benda yang sama terus muncul. Sandal sebelah. Gelang emas. Sungai. Dan jalan kecil yang dipenuhi rumpun bambu.

Awalnya Meli menganggapnya hanya bunga tidur. Namun semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas semuanya muncul. Akhirnya mereka membuat keputusan. Mereka akan mencari tahu siapa sebenarnya Bi Rumi. Dan mengapa arwah perempuan itu terus datang kepada Meli.
 *** 

Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah, Meli dan Desi memutuskan mendatangi rumah Bi Rumi. Rumah sederhana di ujung kompleks itu tampak berbeda dari yang Meli ingat. Biasanya, teras rumah itu selalu bersih. Tanaman bunga tersusun rapi. Dan Bi Rumi sering duduk di sana sambil tersenyum menyapa siapa pun yang lewat.

Namun kini... pintu kayu itu tertutup rapat. Halaman mulai dipenuhi rumput liar. Beberapa pot bunga terlihat kering karena sudah lama tidak dirawat.

Meli berdiri diam di depan pagar. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa perempuan yang beberapa hari lalu masih ia lihat berjalan di depan rumah... sebenarnya sudah tidak ada.

“Mel?” Suara Desi membuatnya tersadar.

“Kita tanya tetangga saja.” Meli mengangguk pelan.

Saat mereka hendak berbalik, seorang perempuan paruh baya yang sedang menyapu halaman rumah sebelah memperhatikan mereka.

“Kalian mencari siapa, Nak?”

Desi segera mendekat. “Kami mencari rumah Bi Rumi, Bu.”

Perempuan itu menghentikan gerakan tangannya. “Oh...” Ekspresinya berubah sedih. “Bi Rumi...”

Ia menghela napas panjang. “Kasihan sekali beliau. Orangnya baik. Tidak pernah menyusahkan siapa pun. Sering membantu tetangga kalau ada yang membutuhkan.”

Meli menatap rumah itu. “Bu...” Suaranya pelan. “Apa yang sebenarnya terjadi pada Bi Rumi?”

Perempuan itu terdiam sejenak sebelum menjawab. “Katanya beliau menjadi korban perampokan. Polisi masih mencari pelakunya.”

Desi langsung memperhatikan wajah perempuan itu. “Jadi pelakunya belum ditemukan?”

Perempuan itu menggeleng. “Belum. Yang membuat semua orang heran. Bi Rumi bukan orang yang suka bepergian jauh. Jadi tidak ada yang menyangka beliau bisa ditemukan di sungai.”

Meli menahan napas. “Sungai?”

“Iya. Jasadnya ditemukan mengambang di sungai beberapa kilometer dari sini.”

Perempuan itu menunduk. “Barang-barangnya banyak yang hilang. Lalu...”

Ia berhenti sebentar. “Gelangnya juga tidak ditemukan.”

Meli langsung terdiam. “Gelang...” Kata itu terdengar seperti gema di kepalanya. Gelang emas.

Benda yang selalu muncul dalam mimpinya. Benda yang selama ini tidak ia pahami. Tangannya perlahan menggenggam ujung seragam.

Desi menyadari perubahan wajah sahabatnya. “Mel?”

Namun Meli tidak menjawab. Pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan. Bagaimana mungkin benda yang muncul dalam mimpinya, ternyata berkaitan dengan kematian Bi Rumi?


Sepanjang perjalanan pulang, Meli tidak banyak berbicara. Sesampainya di kamar, ia segera mengambil buku kecil yang selama ini ia simpan. Dengan tangan gemetar, ia membuka halaman kosong.

Satu per satu ia menuliskan semua hal yang pernah muncul dalam tidurnya.

  • Sandal sebelah.
  • Gelang emas.
  • Sungai.
  • Payung merah.
  • Pohon bambu.

Meli menatap daftar itu lama. Awalnya ia menganggap semua itu hanya mimpi buruk. Namun sekarang, setiap benda seperti memiliki hubungan. Seperti seseorang sedang berusaha menunjukkan sesuatu. Tetapi apa? Dan mengapa kepadanya?

Meli menutup buku itu perlahan. Untuk pertama kalinya ia berpikir... mungkin Bi Rumi tidak datang untuk menakutinya. Mungkin ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang membuatnya belum bisa pergi.


Sejak hari itu, gangguan yang dialami Meli berubah. Bukan lagi sekadar kemunculan tiba-tiba. Kini semuanya terasa seperti petunjuk. Setiap kali tertidur, Meli kembali berada di tempat yang sama. Sebuah sungai dengan air keruh yang mengalir perlahan. Suara arus terdengar begitu dekat. Di sekelilingnya hanya ada pepohonan dan rumpun bambu yang bergerak tanpa disentuh angin.

Di kejauhan... selalu ada seseorang berdiri membelakanginya. Bi Rumi. Namun perempuan itu tidak pernah berbicara. Tidak pernah mendekat. Hanya berdiri. Menunggu.

Setiap kali Meli mencoba menghampiri... mimpi itu selalu berakhir. Meli terbangun dengan napas tersengal. Akibatnya, kondisi tubuhnya semakin menurun. Ia sulit berkonsentrasi di sekolah. Nafsu makannya berkurang. Lingkar hitam semakin terlihat di bawah matanya. Ibunya tidak lagi bisa berpura-pura tidak khawatir.

Suatu malam setelah makan malam, beliau duduk di samping Meli. “Besok ikut Ibu, ya.”

Meli menoleh. “Ke mana, Bu?”

“Kita menemui seseorang.”

“Siapa?”

“Nenek Sukma.”

Meli mengernyit. “Nenek Sukma?”

Ibunya mengangguk. “Beliau tinggal di pinggir kampung. Dulu banyak warga datang kepadanya ketika mengalami kejadian yang sulit dijelaskan.”

Meli terdiam. Ia masih merasa ragu. Namun ia juga sadar, dokter tidak menemukan jawaban. Keluarganya tidak tahu harus berbuat apa. Semakin Meli berusaha mengabaikan kejadian-kejadian itu, semakin kuat gangguan yang datang kepadanya.

Awalnya hanya suara. Kemudian bayangan. Lalu mimpi-mimpi yang terasa semakin nyata. Seolah ada seseorang yang terus mengetuk pintu yang tidak terlihat, meminta untuk didengarkan.

Akhirnya Meli hanya mampu mengangguk. Mungkin... Nenek Sukma adalah satu-satunya orang yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya.

***

Keesokan paginya mereka berangkat menemui Nenek Sukma. Rumah perempuan tua itu berada di ujung kampung, jauh dari keramaian. Jalan menuju rumahnya dipenuhi pepohonan rindang dan suara burung yang sesekali terdengar dari balik dedaunan.

Halaman rumahnya tidak luas, tetapi dipenuhi berbagai tanaman obat yang tumbuh rapi di dalam pot maupun tanah. Aroma daun segar memenuhi udara.

Seorang perempuan tua sedang menyiram tanaman ketika Meli dan ibunya memasuki halaman. Begitu melihat Meli, gerakan tangannya berhenti. Tatapan Nenek Sukma perlahan berpindah ke wajah gadis itu. Bukan tatapan terkejut. Melainkan seperti seseorang yang sudah mengetahui kedatangan mereka sejak awal.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya beliau berkata pelan, “Sudah lama kamu tidak tidur nyenyak, ya?”

Langkah Meli langsung terhenti. Ia menatap ibunya. Ibunya pun tampak terkejut.

“Nek... bagaimana Nenek bisa tahu?” Nenek Sukma hanya tersenyum tipis.

“Masuklah dulu.”


Di ruang tamu yang sederhana, Meli duduk berhadapan dengan Nenek Sukma. Awalnya ia merasa ragu. Namun setelah semua yang terjadi, ia tidak lagi memiliki banyak pilihan. Dengan suara pelan, Meli mulai bercerita.

Tentang suara yang memanggil namanya. Tentang sosok perempuan di toilet sekolah. Tentang bayangan yang muncul di perpustakaan. Tentang mimpi yang terus berulang. Dan terakhir... tentang Bi Rumi. Tentang pagi ketika ia bertemu perempuan itu. Tentang senyum pucat yang tidak pernah bisa ia lupakan. Nenek Sukma mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

Beliau baru berbicara setelah Meli selesai. “Kamu tidak sedang kehilangan akal.”

Meli menatapnya. “Lalu... apa yang sebenarnya terjadi kepada saya, Nek?”

Nenek Sukma mengambil napas panjang. “Pernahkah kamu mendengar bahwa seseorang yang meninggal secara tiba-tiba terkadang belum menyadari bahwa hidupnya telah berakhir?”

Meli diam.

“Mereka masih mencari sesuatu. Masih kembali ke tempat yang mereka kenal. Masih mencoba menyelesaikan sesuatu yang tertinggal.”

Jantung Meli berdegup lebih cepat. “Jadi... perempuan yang saya temui pagi itu...”

Nenek Sukma menatapnya dalam-dalam. “Kemungkinan besar bukan Bi Rumi yang masih hidup.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. “Itu adalah arwahnya.”

Meli menunduk. Tangannya mulai gemetar. “Tapi... saya berbicara dengannya.”

“Itulah yang membuat pertemuan itu berbeda.” Nenek Sukma melanjutkan, “Arwah yang meninggal secara tidak wajar sering kali masih membawa kebingungan. Mereka belum memahami apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin bagi Bi Rumi, pagi itu hanyalah hari biasa.”

Meli teringat kembali wajah Bi Rumi saat itu. Wajah yang tenang. Senyum yang lembut. Seolah tidak mengetahui bahwa hidupnya telah berakhir.

“Lalu kenapa beliau terus datang kepada saya?”

Nenek Sukma terdiam sejenak. “Karena kamu adalah orang terakhir yang melihatnya. Dan karena tanpa kamu sadari, kamu membuka jalan yang sebelumnya tertutup.”

Meli mengernyit. “Maksudnya?”

“Kemampuan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.” Nenek Sukma menatap mata Meli. “Setelah pertemuan itu, kamu tidak hanya mampu melihat Bi Rumi. Kamu juga mulai terlihat oleh mereka yang belum menemukan ketenangan.”

Meli menelan ludah. “Apakah ini bisa dihentikan?”

“Bisa.”

Jawaban itu membuat Meli sedikit lega. Namun ekspresi Nenek Sukma tetap serius.

“Tetapi selama orang pertama yang membuka pintu itu belum mendapatkan apa yang ia cari pintu itu tidak akan tertutup.”

Meli perlahan memahami maksudnya. “Orang pertama itu...”

Nenek Sukma mengangguk. “Bi Rumi.”

***

Sejak bertemu Nenek Sukma, mimpi Meli berubah. Bi Rumi tetap tidak berbicara. Tidak pernah sekalipun. Namun kini, perempuan itu tidak lagi hanya berdiri diam di kejauhan.

Semoga di antara semua cerita ini, ada satu yang mampu membuatmu tersenyum, terharu, merenung, atau bahkan merasa tidak sendirian.

Ia mulai menunjukkan sesuatu. Bukan dengan kata-kata. Melainkan melalui potongan-potongan kejadian. Pada malam pertama, Meli bermimpi berada di tepi sungai. Kabut tipis memenuhi udara.

Ia melihat seorang perempuan berjalan tergesa-gesa sambil membawa payung merah. Perempuan itu berhenti. Seperti sedang merasakan sesuatu. Tiba-tiba payung itu terlepas dari tangannya. Jatuh ke tanah. Mimpi berakhir. Meli terbangun dengan napas memburu.

Malam berikutnya, mimpi itu berlanjut. Kali ini ia melihat sebuah tangan menarik paksa seseorang. Gelang emas terlepas dari pergelangan tangan perempuan itu. Benda tersebut jatuh ke tanah dan menghilang di antara rerumputan.

Malam ketiga... ia melihat sebuah sandal terlepas. Sandal itu hanyut perlahan mengikuti arus sungai.

Lalu malam berikutnya menjadi mimpi yang paling membuatnya takut. Rumpun bambu bergerak keras. Ada suara sesuatu diseret di atas tanah. Namun siapa pun yang melakukannya tetap tidak terlihat.

Setiap mimpi selalu berakhir dengan cara yang sama. Bi Rumi berdiri di kejauhan. Menatap Meli. Meminta sesuatu. Namun tidak pernah mengatakan apa pun.


Meli membuka buku kecilnya. Di sana tertulis:

  • Sandal sebelah.
  • Gelang emas.
  • Sungai.
  • Payung merah.
  • Pohon bambu. 

Ia menatap catatan itu lama.Selama ini ia mengira semua itu hanya simbol. Namun kini ia mulai memahami. Itu bukan simbol. Itu adalah bagian dari kejadian terakhir Bi Rumi. Potongan ingatan sebelum perempuan itu meninggal. Namun masih ada satu hal yang hilang.

Orang yang bersama Bi Rumi. Wajahnya selalu tertutup bayangan. Seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

Meli menutup buku itu perlahan. “Aku harus mencari tahu.”

Desi yang duduk di sampingnya menatap penasaran. “Maksudmu?”

“Bi Rumi tidak datang untuk menakutiku. Ia ingin menunjukkan sesuatu.”

Desi terdiam.Setelah semua kejadian yang mereka alami, ia tidak lagi bisa menganggap semuanya sebagai kebetulan.

“Kalau begitu kita cari tahu bersama.”

***

Sepulang sekolah, Meli dan Desi pergi menuju sungai tempat jasad Bi Rumi ditemukan. Meli membawa buku kecilnya.

Langit sore mulai berubah gelap. Angin berembus melewati rumpun bambu di sepanjang sungai. Suara gesekan batang bambu membuat suasana terasa semakin sunyi.

Meli berhenti berjalan. Tempat itu terasa asing. Namun juga terasa sangat dikenal. Seperti pernah ia datangi berkali-kali dalam mimpi.

“Ini tempatnya?” tanya Desi.

Meli mengangguk. “Aku rasa... iya.”

Mereka berjalan perlahan menyusuri tepian sungai. Tidak lama kemudian Desi berhenti. “Mel...”

Meli menoleh. Di antara batang bambu, tersangkut sepotong kain merah yang sudah pudar. Desi mengambilnya perlahan.

“Warnanya mirip dengan payung yang kamu lihat.”

Meli merasakan tubuhnya menegang. Ia membuka buku catatan. Payung merah.

Satu petunjuk mulai menemukan tempatnya. Mereka kembali berjalan. Beberapa meter kemudian, kaki Meli menyentuh benda keras. Ia berjongkok dan membersihkan lumpur yang menutupinya. Sebuah sandal perempuan muncul. Salah satu talinya putus.

Meli membeku. Bentuknya sama seperti yang muncul dalam mimpinya. Desi menatap sandal itu dengan wajah pucat.

“Mel...”

Meli tidak menjawab. Ia hanya menatap benda itu. Untuk pertama kalinya... ia merasa bahwa semua yang dialaminya bukan sekadar ketakutan.

Ada kebenaran yang sedang berusaha muncul. Namun mereka masih belum memiliki bukti yang cukup.

Desi akhirnya bertanya, “Apa kita lapor polisi?”

Meli menggeleng. “Belum.”

“Kenapa? Karena kalau kita datang membawa cerita tentang mimpi dan arwah tidak ada yang akan percaya.”

Desi terdiam. Meli benar. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih kuat. Bukan hanya mimpi. Bukan hanya dugaan. Melainkan bukti yang mampu menunjukkan bahwa semua yang mereka temukan bukan sekadar kebetulan. Dengan perasaan berat, Meli dan Desi akhirnya meninggalkan tepian sungai.

Namun sebelum benar-benar pergi, Meli tiba-tiba berhenti. Entah mengapa, ia merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Ia menoleh ke arah rumpun bambu. Tidak ada siapa-siapa.

Hanya batang-batang bambu yang bergerak perlahan tertiup angin. Meli tidak tahu bahwa di balik sana, sepasang mata memang sedang mengawasi mereka. Seseorang telah melihat apa yang mereka temukan. Dan orang itu...
tidak ingin masa lalu Bi Rumi kembali terbongkar.


Sejak hari itu, gangguan yang dialami Meli berubah. Bi Rumi tidak lagi muncul setiap malam. Ia hanya datang ketika Meli berada di tempat tertentu. Tempat-tempat yang seolah memiliki hubungan dengan kejadian terakhir dalam hidupnya. Seolah arwah itu tidak sedang menakuti Meli. Melainkan membimbingnya menemukan sesuatu.

Suatu sore, sepulang sekolah, Meli dan Desi melewati sebuah pasar kecil. Tiba-tiba langkah Meli berhenti. Di depan sebuah toko emas, berdiri sosok yang sangat dikenalnya. Bi Rumi. Pakaiannya masih sama seperti saat terakhir kali Meli bertemu dengannya. Basah. Wajahnya pucat. Namun kali ini, Bi Rumi tidak menatap Meli. Tatapannya tertuju ke arah etalase toko.

“Mel?”

Desi memperhatikan wajah sahabatnya yang tiba-tiba berubah. “Kamu melihatnya lagi?”

Meli mengangguk perlahan. “Bi Rumi ada di sana.”

Desi mengikuti arah pandang Meli. Namun seperti biasa... tidak ada siapa pun di tempat itu.

“Hanya kamu yang bisa melihatnya?”

“Iya.” Meli kembali menatap ke arah Bi Rumi.

Perempuan itu perlahan mengangkat tangannya. Bukan menunjuk ke arah Meli. Melainkan ke dalam toko. Sesaat kemudian tubuhnya mulai memudar. Hilang bersama angin sore.

Meli menarik napas panjang. “Ayo masuk.”

Desi menatapnya ragu. “Kamu yakin?”

Meli mengangguk. “Kurasa... beliau ingin menunjukkan sesuatu.”


Pemilik toko emas menyambut mereka dengan ramah. “Silakan, Dik. Ada yang bisa dibantu?”

Meli terlihat ragu. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya datang karena mengikuti petunjuk arwah. Karena itu, ia memilih bertanya dengan hati-hati.

“Pak, saya ingin bertanya. Beberapa minggu lalu... apakah ada seseorang yang menjual gelang emas perempuan di sini?”

Pemilik toko tampak berpikir. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk. “Ada. Seorang laki-laki. Katanya gelang itu milik keluarganya yang sedang membutuhkan uang.”

Jantung Meli berdegup lebih cepat. “Gelangnya seperti apa, Pak?”

Pria itu membuka buku catatan transaksi. “Kalau tidak salah, gelangnya memiliki ukiran bunga kecil.”

Meli dan Desi saling berpandangan. Motif itu sama seperti yang muncul dalam mimpi Meli. Gelang yang terlepas dari tangan Bi Rumi.

“Apakah Bapak masih menyimpan data penjualnya?”

Pemilik toko mengangguk. “Masih. Setiap transaksi harus dicatat.” Ia mengambil sebuah map dari lemari kecil di belakang meja. Di dalamnya terdapat salinan identitas dan bukti transaksi.

Untuk pertama kalinya... Meli melihat sebuah petunjuk yang benar-benar nyata. Bukan dari mimpi. Bukan dari bayangan. Melainkan sesuatu yang dapat diserahkan kepada polisi.

***

Meli dan Desi akhirnya memutuskan melapor. Namun mereka sepakat tidak menceritakan tentang arwah Bi Rumi. Mereka tahu, tidak semua orang akan menerima cerita seperti itu. Yang mereka bawa hanyalah fakta. Lokasi sandal. Sobekan kain merah. Informasi tentang gelang emas. Dan data orang yang menjualnya.

Di kantor polisi, seorang penyidik menerima laporan mereka. “Kalian mengenal korban?”

“Iya, Pak,” jawab Meli. “Bi Rumi bekerja di lingkungan rumah saya.”

Penyidik membuka catatan. “Lalu apa yang kalian temukan?”

Meli menyerahkan buku kecilnya. “Kami menemukan beberapa benda di sekitar lokasi penemuan jasad.”

“Kemudian kami mendapat informasi bahwa gelang milik Bi Rumi pernah dijual seseorang.”

Penyidik membaca catatan itu dengan saksama. “Apakah kalian mengambil barang-barang tersebut?”

“Tidak, Pak. Kami hanya menemukan lokasinya.”

Penyidik mengangguk. “Baik. Kami akan memeriksa informasi ini.”

Meli dan Desi meninggalkan kantor polisi dengan perasaan yang belum sepenuhnya lega. Mereka tidak tahu apakah polisi akan menemukan sesuatu. Namun setidaknya mereka sudah membuka jalan menuju kebenaran.


Dua hari kemudian, penyelidikan mulai berkembang. Petugas kembali mendatangi lokasi yang disebutkan Meli. Di sekitar rumpun bambu, mereka menemukan sobekan kain merah yang masih tersangkut pada ranting.

Tidak jauh dari sana, ditemukan sebuah sandal perempuan yang tertimbun lumpur. Barang-barang tersebut kemudian dibawa untuk diperiksa.

Sementara itu, penyidik mendatangi toko emas yang disebutkan Meli. Pemilik toko membenarkan adanya transaksi gelang emas beberapa minggu sebelumnya. Data penjual masih tersimpan. Nama yang tercatat adalah... Arman. Penyidik kemudian menelusuri identitas tersebut.

Ternyata Arman bukan orang asing bagi Bi Rumi. Ia pernah bekerja bersama Bi Rumi sebagai petugas kebersihan di sebuah perumahan.

Mereka saling mengenal. Penyelidikan semakin mengarah kepadanya. Terlebih setelah polisi menemukan rekaman CCTV di sekitar pasar. Dalam rekaman tersebut terlihat Arman datang ke toko emas membawa sebuah gelang.

Di bagian belakang motornya, terikat sebuah payung merah tua. Payung yang bentuknya mirip dengan benda yang muncul dalam mimpi Meli.


Ketika dipanggil untuk dimintai keterangan, Arman tetap tenang. “Saya tidak tahu apa-apa tentang kematian Bi Rumi. Saya hanya menjual gelang yang saya temukan.”

Penyidik menatapnya. “Di mana Anda menemukan gelang itu?”

Arman menyebutkan sebuah lokasi. Namun setelah diperiksa, tidak ada bukti yang mendukung keterangannya. Penyidik kemudian meletakkan beberapa dokumen di atas meja. Bukti transaksi gelang. Rekaman CCTV. Foto sandal yang ditemukan di sungai. Dan hasil pemeriksaan barang bukti.

“Semua benda ini memiliki hubungan dengan korban.”

Arman mulai gelisah. ”Tidak. Itu hanya kebetulan.”

Ruangan menjadi sunyi. Penyidik tidak langsung membantah. Karena mereka tahu mereka masih membutuhkan satu bukti terakhir. Bukti yang mampu membuat Arman tidak lagi bisa bersembunyi.


Keesokan harinya, polisi kembali menggeledah rumah Arman berdasarkan surat izin penggeledahan. Rumah kecil itu tampak rapi. Tidak banyak barang yang mencurigakan.

Hingga seorang petugas membuka gudang di belakang rumah. Di sudut ruangan terdapat sebuah karung tua yang ditutupi tumpukan kardus. Saat karung itu dibuka, semua orang terdiam. Di dalamnya terdapat sebuah payung merah yang sudah rusak.

Pada salah satu ujung gagangnya masih terlihat bercak kecokelatan yang kemudian dipastikan sebagai darah. Tak jauh dari payung itu, polisi menemukan pengait gelang emas yang patah. Bentuknya cocok dengan gelang yang dijual Arman di toko emas.

Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan kedua bagian itu berasal dari gelang yang sama. Kini seluruh rangkaian peristiwa mulai jelas. Payung merah tertinggal di lokasi. Gelang emas dirampas. Pengait gelang patah saat Bi Rumi berusaha mempertahankannya. Sandal sebelah hanyut terbawa arus. Tubuh korban diseret melewati rumpun bambu sebelum dibuang ke sungai.

Tidak ada lagi celah untuk mengelak.


Arman menatap semua barang bukti yang tersusun di hadapannya. Tangannya bergetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Beberapa saat kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku.. aku tidak bermaksud membunuhnya.” Suara itu terdengar lirih.

Ruangan mendadak hening. Air mata mulai mengalir di wajah Arman. “aku hanya ingin mengambil gelangnya. Dia melawan. Aku panik. Aku mendorongnya. Setelah kepalanya membentur batu, aku tahu semuanya sudah terlambat.”

Tangisnya pecah. “Aku takut. Aku takut dipenjara. Itulah sebabnya aku membuang tubuhnya ke sungai.”

Pengakuan itu mengakhiri penyelidikan yang selama berminggu-minggu menemui jalan buntu.


Kabar penangkapan pelaku segera menyebar ke seluruh kampung.

Malam ituuntuk pertama kalinya sejak semua kejadian bermula.. Meli tertidur tanpa mimpi buruk. Dalam tidurnya, ia kembali berada di tepi sungai. Kabut perlahan menyingkir. Bi Rumi berdiri di hadapannya. Kali ini wajahnya tidak lagi pucat. Pakaiannya bersih. Tidak ada lagi luka. Beliau tersenyum hangat. Untuk pertama kalinya, bibirnya bergerak. Seperti mengucapkan “Terima kasih, Meli.”

Meli membalas senyumannya. Perlahan tubuh Bi Rumi berubah menjadi cahaya yang semakin lama semakin terang. Lalu menghilang bersama embusan angin.

Sejak malam itu, tidak ada lagi suara bisikan. Tidak ada lagi bayangan di cermin. Tidak ada lagi langkah kaki yang mengikuti Meli. Jam dinding kembali berdetak seperti biasa. Lampu kamar tidak pernah lagi berkedip sendiri. Mata batin yang sempat terbuka perlahan tertutup.

Meli akhirnya kembali menjalani hidupnya sebagai gadis biasa. Namun ia tidak pernah melupakan satu pelajaran penting. Bahwa kebenaran mungkin dapat disembunyikan oleh manusia. Tetapi tidak akan pernah benar-benar hilang. Karena pada waktunya, kebenaran akan selalu menemukan jalannya untuk terungkap.


Tamat


Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar