Matahari bersembunyi di balik awan. Langit diselimuti warna hitam pekat, pertanda hujan belum akan berhenti.
Tetes-tetes
air menggantung di ujung daun sebelum akhirnya jatuh menyapa orang-orang yang
berlalu-lalang. Udara dingin merayap hingga ke tulang. Gemuruh petir
bersahut-sahutan dengan bising klakson kendaraan yang terjebak kemacetan.
Genangan
air memenuhi jalan hingga setinggi lutut orang dewasa. Meski begitu, tak
seorang pun berhenti. Mereka tetap menerobos hujan dan banjir demi mencari
nafkah.
Barangkali
beginilah kehidupan. Ketika perut harus tetap diisi dan keluarga menunggu di
rumah, hujan bukan lagi alasan untuk menyerah. Setiap orang memikul bebannya
sendiri, lalu berusaha melangkah sejauh yang mereka mampu.
Tak
seorang pun dapat menduga kapan hujan akan datang. Kadang ia turun ketika tidak
diharapkan, kadang justru tak kunjung hadir saat begitu dinantikan.
Dulu,
setiap kali hujan menyapa, hatiku selalu diliputi duka. Terlalu banyak kenangan
yang lahir bersamanya hingga setiap rintiknya terasa menyakitkan.
Hujan
menjadi lambang kesenduan, menemani perjalanan hidup yang penuh luka. Namun,
karena terlalu sering berjalan bersamanya, aku akhirnya belajar terbiasa.
Hujan
tidak pernah menjadi milikku. Tuhanlah pemiliknya. Maka, tak ada alasan untuk
menyesali setiap kedatangannya. Sebab, di balik setiap tetesnya selalu
tersimpan nikmat yang belum tentu mampu kita pahami.
***
Aku
tumbuh dalam limpahan kasih sayang. Tak pernah sekali pun terlintas dalam
pikiranku bahwa suatu hari aku harus menjalani hidup tanpa mereka.
“Ra,
nanti kalau sudah sampai rumah, Ayah mau buatkan kolam ikan yang kamu minta.”
“Janji,
ya?”
Ayah
tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya dari kemudi.
“Janji.”
Ibu
terkekeh pelan. “Jangan terlalu dimanja. Nanti semua halaman rumah penuh
kolam.”
“Tidak
apa-apa,” sahut Ayah. “Putri Ayah cuma satu.”
Aku
memeluk lengan Ibu sambil tersenyum puas. Di luar jendela, pepohonan berlarian
mengikuti laju mobil. Langit yang semula cerah perlahan tertutup awan kelabu.
Rintik
hujan mulai membasahi kaca depan.
“Ayah,
hujannya deras.”
“Iya.
Pegang sabuk pengaman yang benar.”
Suara
wiper bergerak semakin cepat, menyapu air yang terus membasahi kaca. Kemudian,
semuanya terjadi begitu cepat.
Sreeettt! Suara rem memekakkan
telinga. Mobil oleng ke kanan. Ibu spontan merengkuh tubuhku.
“Ra!”
Brak! Tubuhku terhempas. Kaca
mobil pecah. Dunia berputar begitu cepat sebelum akhirnya semuanya berubah
gelap.
Bau obat
memenuhi penciumanku. Kelopak mataku terasa berat ketika perlahan terbuka.
Pandanganku masih kabur. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari tangan Ibu.
Namun, yang menggenggam jemariku hanyalah tangan seorang perawat.
“Ibu...?”
Tak ada
jawaban.
Aku
menoleh ke kanan dan kiri. Jantungku mulai berdegup tak beraturan. “Ayah?”
Perawat
itu hanya menatapku dengan wajah yang sulit kuartikan.
“Ayah di
mana?”
Tak ada
jawaban. Dadaku mulai terasa sesak.
“Di mana
Ayah dan Ibu?”
Seorang
dokter mendekat. Tatapannya penuh iba. Ia berdiri beberapa saat di samping
tempat tidurku, seolah sedang mencari cara paling lembut untuk menyampaikan
sesuatu yang tak mungkin terdengar lembut.
“Kami
sudah berusaha.”
Hanya
empat kata. Namun, empat kata itu menghancurkan seluruh kehidupanku.
Hari itu
aku menjerit. Aku memohon agar Tuhan mengembalikan mereka. Aku belum mengerti
bagaimana mungkin dua orang yang beberapa jam sebelumnya masih berbicara
denganku kini tak akan pernah lagi membuka mata dan memanggil namaku.
Untuk
pertama kalinya, aku benar-benar mengerti bahwa kehilangan bukan sekadar
tentang seseorang yang pergi.
Kehilangan
adalah ketika seluruh kehidupan yang selama ini kita kenal tiba-tiba berubah
arah. Dan sejak hari itu, aku tidak lagi menjadi anak yang sama.
***
Hari-hari
setelah kecelakaan terasa begitu panjang. Aku tinggal di sebuah panti asuhan
bersama anak-anak lain yang mengalami nasib serupa. Mereka bermain, belajar,
dan tertawa. Sementara aku memilih mengurung diri di sudut kamar.
Aku tidak
mau berbicara. Tidak mau makan. Tidak peduli siapa pun yang mencoba menghibur.
Setiap
malam, aku memeluk lutut di atas ranjang sambil menangis diam-diam. Rasanya,
jika terus memejamkan mata, mungkin ketika membukanya kembali, Ayah dan Ibu
akan datang menjemputku. Namun, pagi selalu membawa kenyataan yang sama. Mereka
tidak pernah datang.
Pada
suatu sore, seorang perempuan paruh baya masuk ke kamarku sambil membawa
semangkuk bubur hangat. Aroma kaldu memenuhi ruangan.
Beliau
duduk di sampingku. “Ayo makan sedikit.”
Aku
menggeleng.
Beliau
tersenyum tipis. “Kalau belum sanggup menghabiskan semangkuk, tiga sendok
saja.”
Aku tetap
diam.
Beliau
tidak memaksa. Bubur itu diletakkan di atas meja kecil sebelum beliau berdiri
dan keluar.
Esoknya,
beliau datang lagi. Masih dengan semangkuk bubur yang mengepul.
Aku
kembali menggeleng.
Beliau
hanya berkata pelan, “Tidak apa-apa.”
Hari
ketiga, beliau kembali datang.
Hari
keempat, masih dengan senyum yang sama.
Aku
akhirnya tidak sanggup lagi menyimpan pertanyaan yang sejak lama mengganjal di
dada.
“Kenapa
Ibu terus datang?”
Beliau
menatapku lembut. “Karena aku khawatir kamu kelaparan.”
“Bukankah
masih banyak anak lain?”
“Iya.”
“Lalu
kenapa Ibu baik sekali kepadaku?”
Beliau
terdiam cukup lama sebelum mengembuskan napas perlahan.
“Karena
dulu aku juga pernah kehilangan.”
Aku
mengangkat wajah. Sorot matanya tidak sedang mengasihaniku. Justru ada luka
yang sama seperti yang kurasakan.
Beliau
mengusap rambutku perlahan. “Aku tahu rasanya berharap seseorang pulang,
padahal kita sudah tahu mereka tidak akan pernah kembali.”
Air
mataku kembali jatuh. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, aku menangis
di hadapan seseorang. Beliau tidak menyuruhku berhenti. Tidak mengatakan bahwa
semuanya akan baik-baik saja. Beliau hanya memelukku erat hingga tangisku
perlahan mereda. Pelukan itu menghangatkan ruang kosong di dalam hatiku yang
selama ini terasa dingin.
***
Sejak
hari itu, aku tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.
Waktu
berlalu.
Aku mulai
keluar dari kamar. Mulai berbicara dengan anak-anak lain. Sesekali ikut
bermain, membantu pekerjaan rumah, dan duduk bersama mereka saat makan.
Rumah
kecil itu tidak pernah dipenuhi makanan mewah. Kami berlima sering duduk
mengelilingi meja makan yang bahkan tidak cukup untuk seluruh penghuni rumah.
Hari itu,
lauk kami hanya seekor ayam goreng. Ibu membaginya dengan sangat hati-hati.
Sayap untuk Aldi. Dada untuk Gerda. Potongan kecil untuk Merisa. Paha untuk
Nafira yang sejak tadi memandangi piring dengan mata berbinar. Lalu, beliau
meletakkan sepotong kecil daging di piringku.
Aku
tersenyum pelan. “Ibu, Tiara sudah kenyang.”
“Kamu
belum makan.”
“Tadi
Tiara sudah makan roti di sekolah.” Aku berbohong.
Padahal,
sejak pagi hanya segelas air putih yang masuk ke perutku.
“Kalau
begitu...” Aku mengambil potongan daging itu lalu memindahkannya ke piring
Nafira. “Nafira sedang masa pertumbuhan.”
Mata
Nafira berbinar. “Benarkah buat Nafi?”
“Iya.”
Gadis
kecil itu tersenyum lebar sebelum melahap paha ayam dengan penuh semangat.
Aku ikut
tersenyum.
Melihat
adikku makan dengan lahap sudah lebih dari cukup untuk mengenyangkan hati.
Dari
seberang meja, Ibu hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Namun, aku tahu
beliau melihat kebohonganku.
Malamnya,
ketika adik-adikku sudah tertidur, terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
Tok...
Tok...
Aku
membukanya perlahan. Ibu berdiri di depan pintu sambil membawa sebungkus roti
hangat.
“Ini
untukmu.”
Aku
menggeleng. “Ibu, Tiara tidak lapar.”
Beliau
tersenyum, lalu menyelipkan roti itu ke tanganku. “Kakak juga masih masa
pertumbuhan.”
Kalimat
sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat. Aku memandang roti di tanganku,
lalu menatap wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang.
“Terima
kasih, Bu.”
Beliau
mengusap kepalaku pelan. “Tidak perlu berbohong kalau sedang lapar.”
Aku
menunduk. Air mataku kembali menggenang. Bukan karena lapar. Melainkan karena
untuk kedua kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang menyayangiku seperti
seorang ibu.
Dan malam
itu, untuk pertama kalinya setelah kehilangan Ayah dan Ibu, aku merasa bahwa
mungkin rumah bukan selalu tentang tempat kita dilahirkan.
Terkadang,
rumah adalah seseorang yang memilih tetap tinggal ketika kita merasa tidak
punya siapa-siapa.
***
Hari-hari
berlalu begitu cepat. Rumah kecil kami tetap dipenuhi tawa, meski hidup serba
sederhana. Namun, tanpa kusadari, kesehatan Ibu mulai menurun. Beliau lebih
sering batuk. Awalnya hanya batuk kecil yang sesekali terdengar saat memasak di
dapur.
“Ahem...
ahem...”
“Ibu
tidak apa-apa?” tanyaku sambil menghampiri.
Beliau
segera menggeleng sambil tersenyum. “Hanya masuk angin.”
Aku
mengangguk, meski tidak benar-benar percaya.
Hari demi
hari, batuk itu semakin sering terdengar. Namun, Ibu tetap bangun sebelum subuh
untuk memasak. Tetap menyiapkan bekal sekolah. Tetap mencuci pakaian kami.
Tetap mengantar Nafira ke taman kanak-kanak sambil menggandeng tangan
mungilnya. Seolah tubuhnya tidak pernah mengenal lelah.
Suatu
pagi, kulihat beliau harus berpegangan pada kusen pintu setelah mengantar
Nafira pulang.
Wajahnya
pucat. Napasnya terdengar berat.
Aku
berlari menghampiri. “Ibu, istirahat saja. Biar Tiara yang mengerjakan
semuanya.”
Beliau mengusap
kepalaku pelan. “Kalau Ibu berhenti bergerak, nanti kalian makan apa?”
“Tapi
kesehatan Ibu lebih penting.”
Beliau
tersenyum seperti biasa. “Masih
kuat.” Jawaban itu
sederhana.
Namun,
sejak hari itu aku mulai memahami bahwa seorang ibu sering kali menyembunyikan
rasa sakitnya agar anak-anaknya tidak ikut khawatir.
Malam
harinya, saat semua orang tertidur, aku mendengar suara batuk dari dapur. Aku
mengintip dari balik pintu. Ibu sedang menahan batuk sambil menutup mulut
dengan selembar kain. Ketika kain itu beliau turunkan, samar-samar kulihat
bercak merah di sana.
Dadaku
seketika sesak. “Ibu...”
Beliau
terkejut mengetahui aku berdiri di belakangnya. Dengan cepat kain itu
disembunyikan di balik punggung.
“Belum
tidur?”
Aku tidak
menjawab. Aku hanya menghampiri lalu memeluk beliau erat. Entah mengapa, malam
itu hatiku dipenuhi ketakutan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
***
Beberapa
hari kemudian, hujan turun tanpa henti. Listrik padam sejak sore. Rumah kecil
kami hanya diterangi cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan tertiup angin.
Bayangan kami menempel di dinding, bergerak mengikuti nyala api yang tak pernah
benar-benar tenang.
Aldi,
Gerda, Merisa, dan Nafira sudah terlelap. Aku masih duduk di ruang tengah
sambil menjahit kancing seragam sekolah Merisa yang terlepas.
“Ra.”
Suara Ibu terdengar lirih dari kamar.
Aku
segera menghampiri. “Iya, Bu?”
Beliau
menepuk sisi ranjang, memintaku duduk di sampingnya. Tangannya terasa lebih
dingin dari biasanya ketika menggenggam jemariku. Aku menggenggamnya lebih
erat.
“Ibu
ingin bicara sebentar.”
Aku
mengangguk pelan.
Beliau
memandang wajahku cukup lama. Tatapan itu terasa aneh. Seolah-olah beliau
sedang menghafal setiap bagian dari wajahku.
“Kalau
suatu hari nanti Ibu tidak ada...”
“Bu...”
Aku langsung memotong ucapannya. “Jangan bicara seperti itu.”
Beliau
tersenyum lembut. “Tiara, dengarkan Ibu dulu.”
Aku
menunduk.
Beliau
mengusap punggung tanganku perlahan. “Setiap orang yang datang ke dunia ini
pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.”
Aku
menggigit bibir, berusaha menahan tangis. “Aku tidak mau Ibu pergi.”
Beliau
menarik napas panjang. “Ibu juga ingin tetap bersama kalian.” Suaranya
terdengar semakin pelan. “Namun, kalau suatu hari nanti Ibu benar-benar tidak
bisa menemani kalian lagi, Ibu ingin kamu menjaga adik-adikmu.”
Aku
menggeleng cepat. “Tiara masih belum bisa, Bu.”
“Kamu
bisa.”
“Tiara
takut.”
“Tidak
apa-apa takut.” Beliau tersenyum. “Yang penting, jangan biarkan rasa takut
membuatmu berhenti.”
Air
mataku mulai jatuh. Beliau mengusapnya dengan ibu jarinya. “Tiara, kamu adalah
anak yang kuat.”
“Tidak,
Bu. Tiara tidak sekuat itu.”
“Kekuatan
bukan berarti tidak pernah menangis.” Beliau berhenti sejenak untuk mengatur
napas. “Kekuatan adalah tetap memilih berdiri setelah menangis.”
Aku
menundukkan kepala. Air mataku jatuh semakin deras. Beliau menggenggam tanganku
lebih erat.
“Hiduplah
dengan keberanian. Jangan pernah membalas keburukan dengan keburukan.”
Aku
mengangguk sambil menangis.
“Kalau
suatu hari dunia membuatmu kecewa, jangan biarkan hatimu berubah menjadi
keras.”
Aku
menatapnya.
“Dan
kalau dunia memaksamu menjadi jahat...” Beliau tersenyum tipis. “...katakan
tidak.”
Ruangan
kembali sunyi. Yang terdengar hanya suara hujan di luar rumah dan isak tangisku
yang berusaha kutahan.
Malam itu
aku tidak tahu bahwa percakapan sederhana tersebut akan menjadi percakapan
terakhirku dengan Ibu. Aku juga tidak tahu bahwa setelah malam itu, aku tidak
akan pernah lagi mendengar suara beliau memanggil namaku.
Subuh
datang tanpa suara beliau membangunkan kami. Tidak ada aroma masakan dari
dapur. Tidak ada langkah kaki yang tergesa-gesa menyiapkan sarapan. Yang ada
hanyalah suara orang-orang yang datang silih berganti dan tangisan yang
memenuhi rumah.
Aku hanya
duduk diam. Rasanya semua yang terjadi begitu cepat hingga pikiranku belum
sempat menerima kenyataan.
Hari itu,
untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku kehilangan sosok yang kupanggil Ibu.
***
Beberapa
hari setelah pemakaman, rumah kembali sunyi. Tidak ada lagi aroma masakan yang
memenuhi dapur setiap pagi. Tidak ada suara langkah kaki yang mondar-mandir
membangunkan kami. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya apakah kami sudah
makan.
Di meja
makan, lima piring sudah tertata seperti biasa. Bedanya, kursi di ujung meja
tetap kosong. Tidak akan ada lagi yang duduk di sana. Nafira menoleh kepadaku.
“Kak...”
“Iya?”
“Ibu
kapan pulang?”
Tanganku
yang sedang memegang sendok langsung terdiam. Aku membuka mulut. Namun, tidak
ada satu kata pun yang sanggup keluar. Nafira kembali menatap kursi kosong itu.
“Aku
kangen Ibu.”
Aku
meletakkan sendok, lalu memeluknya erat.
“Ibu
sekarang sudah bersama Allah.”
Nafira
terdiam beberapa saat. “Kalau begitu...” Suaranya bergetar. “Allah, boleh
pinjam Ibu sebentar saja?”
Aku
menahan napas.
“Nafira
mau dipeluk.”
Dadaku
terasa diremas. Aku mengusap rambutnya sambil berusaha menahan tangis.
“Ibu
memang tidak bisa pulang lagi, Nafi. Tapi Ibu akan selalu sayang sama kita.”
Nafira
menangis di pelukanku. Aku memejamkan mata. Untuk kedua kalinya, seseorang yang
sangat kusayangi pergi meninggalkan kami. Namun kali ini berbeda.
Dulu,
setelah Ayah dan Ibu pergi, aku hanya seorang anak yang kehilangan tempat untuk
pulang. Sekarang, aku bukan lagi satu-satunya yang harus belajar menerima
kehilangan. Masih ada empat hati kecil yang menggantungkan harapan kepadaku.
Empat
anak yang masih membutuhkan seseorang untuk membangunkan mereka setiap pagi,
menyiapkan makanan, mendengarkan cerita mereka, dan meyakinkan mereka bahwa
hidup masih layak dijalani.
Aku
menatap keempat adikku. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami maksud
pesan terakhir Ibu. Aku mungkin belum siap. Aku mungkin masih takut. Aku bahkan
masih ingin menangis dan memanggil Ibu seperti anak kecil. Namun, aku tidak
boleh berhenti. Karena mulai hari itu, aku bukan hanya harus belajar bertahan
untuk diriku sendiri. Aku harus belajar menjadi rumah bagi mereka.
Malam
harinya, ketika semua adikku telah tertidur, aku berjalan perlahan menuju
dapur. Ruangan itu masih sama. Panci-panci masih tersusun rapi. Cangkir
kesayangan Ibu masih berada di rak.
Di sudut
dinding, celemek bermotif bunga yang biasa beliau kenakan masih tergantung. Aku
mendekatinya. Tanganku gemetar saat melepaskan celemek itu dari gantungannya.
Kainnya masih menyisakan samar aroma sabun dan masakan yang begitu akrab. Aroma
yang seharusnya sederhana.
Namun
malam itu, justru terasa seperti bagian terakhir dari Ibu yang masih tersisa di
rumah ini. Tanpa sadar, aku memeluk celemek itu erat. Air mataku pecah.
“Bu...”
Suaraku nyaris tak terdengar. “Aku kangen...”
Aku
menundukkan wajah ke kain itu, membiarkan air mata membasahinya. Untuk pertama
kalinya sejak pemakaman, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena aku tidak
ikhlas. Bukan pula karena aku ingin mempertanyakan takdir.
Aku hanya
sedang merindukan seseorang yang tidak akan pernah bisa lagi menjawab
panggilanku. Aku merindukan suara Ibu. Masakan Ibu. Teguran kecilnya. Sentuhan
tangannya di kepalaku. Dan kalimat sederhana yang dulu sering kuanggap biasa:
“Sudah makan?”
Kini aku
sadar, hal-hal sederhana itulah yang ternyata paling sulit untuk dilupakan.
Mulai
malam itu, tidak akan ada lagi seseorang yang menungguku pulang. Tidak ada lagi
yang menyuruhku makan ketika aku lupa menjaga diri. Tidak ada lagi tangan yang
mengusap kepalaku ketika aku lelah.
Aku
menghapus air mata, lalu menatap ke arah kamar tempat keempat adikku tertidur.
Mereka masih kecil. Mereka belum sepenuhnya mengerti mengapa Ibu tidak akan
pernah kembali. Dan mungkin, untuk sementara waktu, akulah yang harus menjadi
orang yang membuat mereka merasa aman.
Aku
menarik napas panjang. Rasanya berat. Sangat berat. Namun, aku teringat pesan
terakhir Ibu.
“Kamu bisa.” Aku menggenggam celemek
itu lebih erat.
Malam
itu, di dapur kecil yang masih menyimpan begitu banyak kenangan, aku membuat
sebuah janji kepada diriku sendiri. Aku akan menjaga mereka. Aku akan memastikan
mereka tetap makan, tetap bersekolah, dan tetap memiliki alasan untuk
tersenyum.
Aku
akan berusaha menjadi rumah bagi mereka, sebagaimana Ibu pernah menjadi rumah
bagi kami. Meski aku belum tahu bagaimana caranya. Meski aku sendiri masih
belajar berdiri. Aku akan mencoba. Karena mulai malam itu, aku bukan lagi hanya
seorang anak yang kehilangan ibunya.
Aku
adalah seorang kakak. Dan empat adikku adalah alasan mengapa aku harus tetap
kuat.
***
“Seandainya dulu aku tidak belajar bertahan hidup, mungkin aku
sudah menyerah sejak lama. Namun Engkau mengajarkanku bahwa setiap ujian selalu
membawa hikmah. Berkat rida-Mu, aku percaya semua yang terjadi adalah bentuk
kasih sayang-Mu. Maka, berilah aku kesabaran untuk menjalaninya.”
Langit
masih dipenuhi awan kelabu. Hujan turun tanpa terburu-buru, membasahi jalanan
dan membuat kendaraan bergerak pelan.
Aku duduk
di bangku halte, memeluk tas di pangkuan sambil menunggu bus yang tak kunjung
datang. Mungkin kendaraan itu terjebak banjir seperti kendaraan lainnya.
Beberapa
orang di sekitarku sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang mengeluh
karena terlambat bekerja. Ada yang tertawa sambil bermain ponsel. Ada pula yang
sesekali mengumpat karena hujan tak kunjung reda.
Aku hanya
memandangi rintik air yang jatuh dari atap halte. Hujan selalu mengingatkanku
pada kehilangan. Namun kali ini, aku tidak ingin larut di dalamnya. Aku ingin
belajar memandang hujan sebagai sesuatu yang lain. Bukan hanya sebagai
pengingat tentang apa yang telah pergi, tetapi juga tentang apa yang masih
Tuhan izinkan untuk kumiliki.
Tiba-tiba,
seorang anak laki-laki menghampiriku. Usianya mungkin sekitar sebelas tahun.
Seragam sekolahnya sudah lusuh. Celananya basah hingga lutut. Di pundaknya
tergantung sebuah keranjang kecil yang ditutupi plastik bening.
“Mau beli
gorengannya, Kak?” Suaranya terdengar pelan, tetapi senyumnya begitu tulus.
Aku
melihat isi keranjang itu. Beberapa bakwan, tempe goreng, dan pisang goreng.
Sebagian sudah mulai dingin karena terlalu lama terkena udara.
“Boleh.
Kakak beli beberapa.”
“Wah...
makasih, Kak.” Ia segera memasukkan gorengan ke dalam kantong plastik dengan
gerakan cekatan.
Saat
menerima uang lima puluh ribu dariku, tangannya mendadak berhenti.
“Maaf,
Kak...” Ia menunduk. “Uangnya terlalu besar. Aku tidak punya uang kembali.”
Aku
tersenyum kecil. “Kalau begitu, ambil saja kembaliannya.”
Anak itu
menggeleng cepat. “Tidak boleh.”
“Kenapa?”
“Ibu
bilang, jangan mengambil yang bukan hak kita.”
Aku
terdiam.
Kalimat
sederhana itu seperti mengetuk sesuatu yang selama ini tersimpan jauh di dalam
ingatanku.
“Kalau suatu hari dunia memaksamu menjadi jahat...” Suara Ibu kembali terdengar di kepalaku. “...katakan tidak.”
Aku
menatap anak itu cukup lama. “Ayah dan Ibumu pasti bangga punya anak sejujur
kamu.”
Senyumnya
perlahan memudar. “Ayah sudah meninggal, Kak.”
Dadaku
seketika terasa sesak. Ada bagian dari diriku yang seperti sedang melihat masa
lalu. Seorang anak kecil yang kehilangan orang yang dicintainya, lalu dipaksa
belajar memahami kehidupan lebih cepat daripada seharusnya.
“Kalau
Ibu?”
“Masih
ada. Ibu buruh cuci.” Ia menjawabnya sederhana, tanpa mengeluh.
Aku
menggenggam kantong gorengan itu erat. Entah mengapa, pertemuan singkat ini
terasa seperti sesuatu yang sengaja Tuhan hadirkan di tengah hujan. Bukan untuk
mengingatkanku pada luka. Melainkan untuk mengingatkanku bahwa hidup masih
terus berjalan.
“Maaf,
Kak. Aku memang tidak punya uang pas. Kebetulan hari ini belum banyak yang
beli.”
Aku
menggeleng. “Simpan saja.”
Ia
menatapku bingung. “Benarkah?”
Aku
mengangguk. “Maukah kamu menemani Kakak mengobrol sebentar? Anggap saja
kembaliannya sebagai upah menemani.”
Senyumnya
kembali mengembang. “Baik, Kak.”
Ia
kemudian duduk di sampingku. Kami sama-sama memandangi hujan yang belum juga
reda.
“Namamu
siapa?”
“Beni.”
“Kelas
berapa?”
“Kelas
lima SD.”
“Kamu
setiap hari jualan sepulang sekolah?”
“Iya.”
“Capek?”
Beni
mengangkat bahu. “Sedikit.”
“Kenapa
memilih jualan?”
Ia
menatap keranjang di pangkuannya sebelum menjawab. “Kalau aku tidak jualan, Ibu
sendirian yang bekerja.”
Senyumnya
memudar.
Aku
terdiam. “Maaf.”
“Tidak
apa-apa, Kak.” Ia kembali tersenyum kecil. “Aku bantu Ibu supaya bisa terus
sekolah. Ibu selalu bilang, pekerjaan apa pun tidak perlu malu, asal halal.”
Aku
tersenyum tipis. “Ucapan Ibumu benar.”
Beni
mengangguk. “Ibu juga bilang, lebih baik capek jualan daripada meminta-minta.”
Aku
mengangguk pelan. Ada sesuatu dalam diri Beni yang mengingatkanku pada masa
lalu. Bukan karena kehidupan kami sama. Melainkan karena kami sama-sama pernah
kehilangan seseorang yang kami cintai, lalu harus belajar melanjutkan hidup
dengan keadaan yang tidak kami pilih.
Bedanya,
aku pernah memiliki seseorang yang membimbingku melewati masa paling gelap
dalam hidupku. Sedangkan Beni masih memiliki ibunya untuk diperjuangkan.
Aku
memandang wajahnya. Anak itu masih kecil. Namun, dari caranya berbicara, aku
bisa melihat bahwa hidup telah mengajarinya banyak hal.
Tak lama
kemudian, hujan mulai mereda. Beni berdiri dan kembali mengangkat keranjang ke
pundaknya.
“Terima
kasih sudah membeli dagangan Beni, Kak.”
“Sama-sama.
Semoga jualanmu habis hari ini.”
“Aamiin.”
Beni tersenyum, lalu melangkah pergi.
Ia
kembali menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang baru turun dari bus. Aku
memandangi punggung kecilnya hingga perlahan menghilang di antara keramaian.
Dalam
hati aku berdoa, “Ya Allah, jagalah anak itu. Mudahkan langkahnya, kuatkan
ibunya, dan lapangkan rezeki mereka.”
Aku
terdiam beberapa saat. Pertemuanku dengan Beni hanya berlangsung singkat.
Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang tertinggal di dalam pikiranku. Selama
ini aku mengira bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh merasa lelah. Tidak
boleh menangis. Tidak boleh takut.
Namun,
mungkin aku salah. Beni tidak tampak kuat karena hidupnya mudah. Ia kuat karena
meski hidup memberinya alasan untuk menyerah, ia tetap memilih melangkah.
Aku
menatap jalanan yang mulai dipenuhi kendaraan. Hujan perlahan berhenti. Untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang berhadapan dengan
hujan. Aku merasa sedang berhadapan dengan diriku sendiri.
Aku masih
punya luka. Masih ada hari-hari ketika aku merindukan Ayah. Masih ada
malam-malam ketika aku ingin mendengar suara Ibu sekali lagi. Dan mungkin,
semua itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, bukankah Ibu pernah
berkata bahwa kekuatan bukan berarti tidak pernah menangis? Kekuatan adalah
tetap memilih berdiri setelah menangis.
Aku
tersenyum kecil. “Baik, Bu.” Aku menatap langit yang perlahan mulai
terang. “Aku akan mencoba.”
Bukan
karena hidup tiba-tiba menjadi mudah. Bukan pula karena aku sudah sepenuhnya
sembuh. Tetapi karena aku mulai mengerti satu hal: kehilangan mungkin telah
mengubah hidupku, tetapi kehilangan tidak berhak menentukan bagaimana aku
menjalani sisa hidupku.
Bukan
kehilangan pekerjaan yang paling kutakutkan. Melainkan pulang ke rumah dan
menatap wajah adik-adikku. Mereka selalu menyambutku dengan senyum. Selalu
membanggakan kakaknya, seolah aku adalah seseorang yang tidak pernah gagal.
Padahal,
malam ini aku harus membawa kabar yang mungkin akan mematahkan harapan mereka.
Aku bekerja sebagai office girl di sebuah perusahaan. Saat pertama kali
membawa surat penerimaan kerja ke rumah, Aldi dan Gerda melompat kegirangan.
“Kak
Tiara kerja di gedung tinggi!”
“Nanti Kakak
pasti punya ruang kerja sendiri.”
Merisa
bahkan bercerita kepada teman-temannya bahwa kakaknya bekerja di sebuah kantor
besar.
Aku hanya
tersenyum. Aku tidak pernah menjelaskan bahwa tugasku bukan duduk di balik meja
dengan komputer dan tumpukan berkas. Aku membersihkan ruangan. Menyeduh kopi.
Mengantarkan dokumen. Menjaga kebersihan kantor.
Pekerjaan
itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagiku, pekerjaan
itu adalah alasan mengapa kami masih bisa makan setiap hari. Dari penghasilan
itulah aku membayar kebutuhan sekolah adik-adikku, membeli beras, membayar
listrik, dan memastikan rumah kecil kami tetap memiliki kehidupan.
Aku tidak
pernah malu dengan pekerjaanku. Tidak sedikit pun. Aku justru bersyukur pernah
diberi kesempatan bekerja dan menghidupi orang-orang yang kusayangi. Namun hari
ini, pekerjaan itu juga harus kulepaskan.
Perusahaan
tempatku bekerja melakukan pengurangan karyawan. Namaku termasuk di dalam
daftar. Sejak menerima kabar itu, aku sudah mencoba mencari pekerjaan lain.
Satu demi satu lamaran kukirim. Satu demi satu pula penolakan kuterima. Ada
yang tidak membalas. Ada yang mengatakan belum sesuai kualifikasi. Ada pula
yang sekadar mengirimkan kalimat singkat bahwa posisi tersebut sudah terisi.
Aku
berusaha tidak menyerah. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, rasa takut
benar-benar memenuhi dada. Bagaimana jika aku tidak segera mendapatkan
pekerjaan? Bagaimana jika uang tabungan kami tidak cukup? Bagaimana jika suatu
hari nanti aku tidak mampu membayar kebutuhan sekolah mereka?
Aku
menundukkan kepala. “Maafkan aku, Bu.”
Entah
mengapa, setiap kali berada dalam keadaan sulit, aku selalu mencari wajah Ibu
dalam ingatan.
Seandainya
beliau masih ada, mungkin aku akan duduk di sampingnya dan menceritakan
semuanya. Mungkin beliau akan mengusap kepalaku sambil berkata bahwa semuanya
akan menemukan jalan. Namun kini aku hanya memiliki kenangan.
Aku
memang tidak pernah malu dengan pekerjaanku. Yang membuatku sedih adalah
kenyataan bahwa aku belum mampu menjadi kakak yang mereka bayangkan. Padahal,
aku sudah berjanji kepada Ibu untuk menjaga mereka. Dan malam ini, untuk
pertama kalinya, aku takut tidak mampu memenuhi janji itu.
Suara rem
bus memekik mematahkan lamunanku. Bus yang kutunggu akhirnya muncul dari balik
hujan. Orang-orang segera berdiri dan berebut naik. Aku menggenggam tas lebih
erat. Lalu ikut berlari menerobos hujan. Kakiku basah. Ujung pakaianku terkena
cipratan air. Namun aku tidak peduli. Aku hanya ingin segera sampai rumah.
Di dalam
bus, aku duduk dekat jendela dan memandangi jalanan yang basah. Lampu kendaraan
memantul di genangan air. Hujan masih turun, meski tidak sederas tadi.
Entah
bagaimana caranya, malam ini aku harus pulang. Aku harus membuka pintu rumah
itu. Menatap wajah keempat adikku. Lalu mengatakan kenyataan yang sejak tadi
berusaha kuhindari.
Aku sudah kehilangan pekerjaanku.
Dan untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak tahu apakah aku masih mampu
membuat mereka percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
***
Gerimis
membungkus keheningan malam. Rintiknya mengetuk kaca jendela tanpa henti. Angin
dingin menyelinap melalui celah kusen, membawa aroma tanah basah yang begitu
akrab.
Mataku
menyaksikan suasana di balik jendela kamar. Sorot lampu teras jatuh tepat pada
sebuah sarang burung di atas pohon mangga. Seekor induk burung baru saja
kembali membawa makanan. Ia menyuapi anak-anaknya satu per satu, lalu
merentangkan sayap, melindungi mereka dari hujan yang masih turun.
Seketika
dadaku terasa sesak. “Ibu...” Andai Ibu masih ada. Mungkin aku tidak perlu
memikul semua ini sendirian.
Aku
mengusap sudut mata yang mulai basah. Belum sempat menarik napas panjang,
terdengar ketukan pelan di pintu. Tok... Tok...
“Kak
Tiara... boleh aku masuk?”
“Masuk
saja. Pintunya tidak dikunci.”
Pintu
terbuka perlahan. Aldi melangkah masuk sambil menggenggam selembar amplop
putih. Ia berdiri cukup lama di dekat pintu, seolah masih mempertimbangkan
apakah harus mendekat atau kembali keluar.
“Ada
apa?”
“Apa aku
mengganggu?”
Aku
menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak. Duduklah.”
Aldi
duduk di kursi belajar. Kedua tangannya tidak berhenti meremas amplop yang
dibawanya. Aku baru menyadari bahwa adikku sedang gugup.
“Ada yang
ingin kamu sampaikan?”
“Iya...”
Jawabannya menggantung.
Tatapannya
sesekali beralih ke lantai, lalu kembali menatapku. Aku menunggu tanpa menyela.
Beberapa
detik kemudian, ia menyerahkan amplop itu kepadaku. “Ini hasil pengumuman.”
Aku
membukanya perlahan. Mataku berhenti pada tulisan yang membuatku ikut
tersenyum.
SELAMAT. ANDA DINYATAKAN LULUS.
“Aldi...”
“Kalau
Kakak mengizinkan...” Suaranya semakin pelan. “...aku ingin kuliah.”
Aku
mengangkat wajah. Tatapan Aldi dipenuhi harapan.
“Tapi...”
Ia menarik napas dalam. “Di awal masuk, aku mohon bantuan Kakak untuk biaya
pendaftaran. Aku tidak akan terus bergantung. Aku akan mencari pekerjaan sambil
kuliah.”
Ia
terdiam sejenak. “Kalau memang keadaan kita tidak memungkinkan...” Senyumnya
kecil, meski jelas dipaksakan. “...aku juga akan menerima keputusan Kakak.”
Dadaku
seperti diremas. Aku tahu, Aldi pasti sudah memikirkan kalimat itu berkali-kali
sebelum memberanikan diri mengatakannya. Ia bukan sedang menuntut. Ia hanya
sedang mencoba memperjuangkan mimpinya.
Aku
menggenggam surat kelulusannya erat. Tuhan... Mengapa permintaan
sesederhana ini terasa begitu sulit kupenuhi? Aku ingin mengatakan, “Tentu.
Kakak akan membiayaimu.” Namun, bayangan surat pemutusan kerja yang
kusimpan di dalam tas seakan menahan setiap kata yang hendak keluar.
Aku
kehilangan pekerjaan. Tabunganku semakin menipis. Sementara di depanku, ada
seorang adik yang sedang menggantungkan harapan kepadaku.
Aku
menatap Aldi cukup lama. Lalu tersenyum, meski hatiku sedang hancur.
Aku
mengangguk pelan. “Baiklah. Kakak izinkan.”
Wajah
Aldi yang sejak tadi dipenuhi kecemasan perlahan berubah cerah. “Benarkah,
Kak?”
“Iya.”
Aku tersenyum. “Belajarlah yang rajin. Kesuksesan ada di tanganmu. Jangan
sia-siakan kesempatan ini.”
Mata Aldi
berbinar. Senyum yang sejak tadi ia tahan akhirnya merekah. “Terima kasih,
Kak.”
Ia
buru-buru membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah brosur kampus yang mulai
kusut di bagian ujungnya.
“Aku
sudah mengambil brosurnya.” Ia menyerahkannya kepadaku dengan kedua tangan.
“Kakak baca saja. Semoga kampus ini tidak mengecewakan.”
Aku
menerima brosur itu. Di halaman depan tertulis rincian biaya pendaftaran.
Mataku berhenti pada angka-angka yang terasa begitu besar. Uang pangkal. Biaya
semester. Biaya praktikum. Jantungku berdetak semakin cepat. Aku menutup brosur
itu sebelum Aldi menyadari perubahan wajahku.
“Kakak
tidak mempermasalahkan kamu kuliah di mana.” Aku menatapnya sambil tersenyum.
“Yang penting kamu belajar sungguh-sungguh dan menggapai cita-citamu. Itu sudah
cukup membuat Kakak bangga.”
Aldi
mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Kak.” Ia memelukku erat.
Pelukan
itu terasa hangat. Namun, justru membuat air mataku hampir jatuh. Untung saja
ia tidak melihatnya. Setelah berpamitan, Aldi keluar dari kamar dengan langkah
ringan.
Pintu
tertutup perlahan. Aku kembali membuka brosur itu. Mataku menelusuri setiap
rincian biaya. Angka-angka tersebut terasa seperti dinding tinggi yang harus
kulewati sendirian. Air mata akhirnya jatuh membasahi kertas di tanganku.
“Besok...”
Aku menarik napas panjang. “...aku harus mendapatkan pekerjaan.”
Belum
sempat aku menghapus air mata, terdengar langkah kaki kecil berlari ke arahku.
“Kak
Tiara!” Sebuah pelukan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangku dari belakang.
Aku
buru-buru mengusap pipi. “Iya, Sayang.”
Nafira
mendongak dengan wajah cemberut. “Fira kangen.”
Aku
terdiam.
“Kakak
sekarang sibuk terus. Kalau pulang langsung masuk kamar. Fira jadi tidak
ditemani main.”
Anak
sekecil ini saja sudah menyadari bahwa aku mulai menjauh dari mereka. Aku
berlutut hingga sejajar dengannya.
“Maafkan
Kakak.”
“Kakak
lagi banyak pikiran, ya?”
Aku
menggeleng mendengar pertanyaan polosnya.
“Kalau
banyak pikiran, cerita saja sama Fira.”
Aku
tersenyum di sela air mata. “Fira belum tentu mengerti.”
Nafira
meraih kedua pipiku dengan telapak tangannya yang mungil. “Kalau Kakak sedih,
Fira peluk.” Tanpa menunggu jawaban, ia memelukku erat. Pelukan kecil itu mampu
meruntuhkan seluruh pertahananku. Aku membalas pelukannya sambil menahan
tangis.
“Fira mau
tidur sama Kakak. Boleh?”
“Tentu
boleh.”
Malam itu
kami tidur di ranjang yang sama. Tak lama kemudian, Nafira sudah terlelap
sambil memeluk lenganku. Aku menatap wajahnya yang damai, lalu mengusap
rambutnya perlahan. Dalam hati aku berjanji, “Apa pun yang terjadi, kalian
tidak boleh kehilangan kesempatan untuk bermimpi. Biar Kakak yang mencari
jalan.”
Untuk
pertama kalinya malam itu, rasa takut masih ada, tetapi aku tidak lagi
membiarkannya menguasai pikiranku.
Besok
pagi, sebelum matahari terbit, aku akan kembali mengetuk pintu demi pintu
perusahaan. Entah diterima atau ditolak. Entah harus mengirim puluhan lamaran
atau menjalani pekerjaan apa pun yang tersedia. Aku tidak punya banyak pilihan.
Namun, aku masih memiliki satu hal yang tidak boleh hilang: kemauan untuk
terus mencoba. Demi Aldi. Demi Gerda. Demi Merisa. Demi Nafira. Dan demi
janji yang pernah kubuat kepada Ibu.
***
Aku
beristirahat di bawah pohon, tepat di halaman kantor yang baru saja menolak
lamaranku. Ini kantor kelima yang kudatangi selama seminggu. Tidak ada lagi
selebaran lowongan yang tertempel di pintu masuk. Bahkan satpam tadi hanya
menggeleng pelan sebelum mengembalikan map lamaranku.
Aku
menyandarkan punggung pada batang pohon. Angin siang berembus pelan, tetapi
tidak mampu mengusir sesak di dada.
“Mungkin
memang belum rezeki,” gumamku lirih.
Langkah
kaki berhenti di depanku. “Permisi.”
Aku
mendongak. Seorang perempuan berdiri sambil membawa dua botol air mineral.
Tubuhnya tinggi semampai. Rambut hitamnya disanggul rapi. Setelan kantor
berwarna krem membuatnya terlihat anggun, tetapi senyum yang mengembang di
wajahnya menghapus kesan dingin itu.
Ia
mengulurkan salah satu botol kepadaku. “Untukmu.”
Aku
sempat ragu. “Tidak usah, Bu. Saya tidak apa-apa.”
“Kalau
begitu, anggap saja aku sedang membeli teman bicara.”
Aku tidak
bisa menahan senyum kecil. Akhirnya kuterima botol itu. “Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Perempuan
itu kemudian duduk tidak jauh dariku. Beberapa saat kami hanya menikmati
suasana. Kendaraan lalu-lalang tanpa henti. Sesekali terdengar klakson panjang
dari jalan raya.
Ia
membuka botol minumnya lebih dulu. “Baru selesai wawancara?”
Aku
mengangguk.
“Ditolak?”
“Iya.”
Jawabanku singkat.
Ia tidak
menunjukkan rasa iba. Hanya mengangguk pelan. “Aku juga pernah duduk di
tempatmu.”
Aku
menoleh. “Benarkah?”
Ia
tertawa kecil. “Lima tahun lalu, aku membawa map lamaran ke mana-mana. Ditolak
belasan kali. Pulang sambil menangis rasanya sudah biasa.”
Aku
menatapnya. “Sekarang Ibu bekerja di kantor ini?”
“Iya.” Ia
tersenyum. “Namaku Anita.”
“Tiara.”
Kami
berjabat tangan singkat. Entah mengapa, setelah mengetahui namanya, percakapan
kami terasa lebih mudah. Aku kembali memandangi gedung tinggi di hadapan kami.
“Indah
sekali.”
“Dari
luar memang terlihat indah.” Anita tertawa kecil. “Dari dalam, tetap ada
tekanan, target, dan lembur.”
Aku ikut
tertawa. Untuk pertama kalinya hari itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan.
“Mencari
pekerjaan di zaman sekarang memang sulit,” kata Anita kemudian. “Banyak orang
menganggap keberuntungan adalah segalanya. Padahal, setiap orang membawa bekal
yang berbeda. Pendidikan, pengalaman, kesempatan, bahkan keadaan keluarga tidak
pernah sama.”
“Maksud
Ibu?”
“Kamu
sudah berapa kali melamar?”
“Lima
perusahaan minggu ini.”
“Dan
semuanya menolak?”
Aku
mengangguk.
Anita
melirik map lusuh yang masih kupeluk. “Sayang sekali.”
“Kenapa?”
“Karena
aku melihat seseorang yang benar-benar punya kemauan untuk bekerja.”
Kalimat
itu membuatku terdiam. Sudah lama tidak ada orang yang mengatakan sesuatu
seperti itu kepadaku.
Anita
melanjutkan, “Masalahnya, dunia kerja tidak selalu memilih orang yang paling
pintar.”
“Lalu
memilih apa?”
“Orang
yang tahu bagaimana memanfaatkan kesempatan.”
Aku
mengernyit. “Maksudnya?”
“Ada
orang yang nilai kuliahnya biasa saja, tetapi hidupnya jauh lebih berhasil dibanding
lulusan terbaik. Ada juga yang sangat pintar, tetapi bertahun-tahun tidak
mendapat pekerjaan.”
Aku
terdiam.
“Menurutmu,
kenapa bisa begitu?”
Aku
menggeleng.
“Karena
kecerdasan bukan hanya soal nilai,” jawabnya. “Kadang seseorang berhasil karena
berani mengambil peluang ketika orang lain masih menunggu kesempatan datang.”
Aku mulai
tertarik. “Jadi... menurut Ibu saya harus bagaimana?”
Anita
menatapku beberapa saat. “Kebetulan aku sedang mencari seseorang.”
Aku
mengangkat alis. “Mencari seseorang?”
“Iya.” Ia
membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. “Aku ingin menawarkan
pekerjaan kepadamu.”
Untuk
sesaat, rasanya seperti ada udara segar yang masuk ke paru-paruku. “Benarkah?”
“Benar.”
Aku
menerima kartu nama itu dengan kedua tangan. Anita Prameswari. Aku
membaca nama tersebut sekali lagi.
“Pekerjaannya
apa?”
Anita
tersenyum tipis. “Nanti akan dijelaskan lebih lengkap. Aku tidak ingin kamu
mengambil keputusan hanya karena sedang membutuhkan pekerjaan.”
Aku
menatapnya. “Jadi saya tidak harus menjawab sekarang?”
“Tidak.”
Ia menggeleng. “Pikirkan baik-baik. Kalau kamu bersedia, aku akan
menjelaskannya lebih lanjut.”
Sikapnya
membuatku sedikit tenang. Ia tidak memaksaku. Tidak menjanjikan sesuatu yang
berlebihan. Tidak pula membuatku merasa harus menerima hanya karena sedang
membutuhkan uang.
Percakapan
kami berlanjut hampir satu jam. Anita tidak hanya bertanya tentang pekerjaanku.
Ia juga bercerita sedikit tentang kehidupannya. Dahulu keluarganya hidup serba
kekurangan. Keadaan membuatnya menikah di usia muda dengan lelaki yang tidak
dicintainya. Pernikahan itu pun tidak bertahan lama.
Setelah
berpisah, ia memilih bangkit. Ia bekerja dari bawah, menjalani berbagai
kesulitan, hingga akhirnya mampu membangun kehidupannya sendiri.
“Aku
pernah berada di titik ketika rasanya tidak ada jalan keluar,” katanya pelan.
Aku mendengarkan
tanpa menyela.
“Karena
itu, aku tidak ingin melihat orang lain menyerah hanya karena satu pintu
tertutup.” Kata-katanya membuatku terdiam.
Mungkin
memang benar. Kegagalan hari ini tidak selalu berarti akhir dari segalanya.
“Kalau
kamu bersedia, aku ingin mengajakmu bergabung,” lanjutnya. “Tapi kamu tidak
perlu menjawab sekarang.”
Aku
mengangguk. “Baik.”
***
Malam
harinya, setelah meminta izin kepada adik-adikku, aku memenuhi ajakan Anita.
Sebuah mobil berwarna hitam telah terparkir di tempat kami pertama kali
bertemu.
Anita
berdiri di samping mobil. “Ayo,” sapanya sambil membukakan pintu.
Aku
mengangguk pelan.
Sebelum
masuk, aku sempat menatap rumah kecil tempat adik-adikku menungguku. Aku tidak
tahu pekerjaan apa yang akan ditawarkan Anita. Aku juga belum tahu ke mana
kesempatan ini akan membawaku.
Namun,
setelah berkali-kali mengetuk pintu yang tertutup, mungkin kali ini Tuhan
sedang menunjukkan pintu yang berbeda. Mobil perlahan meninggalkan tempat itu.
Mobil
melaju membelah hiruk-pikuk kota. Cahaya lampu gedung memantul di kaca jendela,
membentuk garis-garis panjang yang terus bergerak. Rasanya berbeda dengan
perjalanan pulang menggunakan bus. Biasanya aku terlalu lelah hingga tertidur
sebelum kendaraan meninggalkan terminal.
Malam
ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar menikmati
pemandangan kota. Di dalam hati, tumbuh secercah harapan. Semoga ini menjadi
awal yang baik.
“Kamu
akan nyaman bekerja denganku,” ujar Anita sambil menatap lurus ke jalan. “Dulu
aku sempat membenci pekerjaan ini. Namun setelah menjalaninya, aku sadar
penghasilannya mampu mengubah hidupku. Sekarang justru kujadikan sebagai
pekerjaan sampingan.”
Aku
menoleh. Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuatku penasaran. Kalimatnya
terdengar meyakinkan, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak mampu
kubaca.
“Aku
harap bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakanmu, Bu Anita.”
Anita
tersenyum kecil. “Tidak usah terlalu formal. Panggil aku Anita saja.”
“Baik...
Anita.” Aku kembali melihat keluar jendela. “Apa tempatnya masih jauh?”
“Sebentar
lagi.”
“Semua
karyawan bekerja malam?”
“Tidak.
Jam kerjanya berbeda-beda.” Jawabannya singkat.
Aku kembali
memberanikan diri bertanya. “Kalau boleh tahu, kenapa kamu masih mengambil
pekerjaan ini? Bukankah pekerjaan kantormu sudah cukup mapan?”
Anita
tersenyum tipis. “Nanti kamu juga akan tahu.”
Setelah
itu, ia menaikkan volume musik di mobil. Aku menangkap isyarat bahwa
pembicaraan kami sebaiknya berhenti sampai di situ. Aku pun memilih diam.
Mobil
meninggalkan jalan utama dan memasuki kawasan perumahan yang semakin lengang.
Deretan rumah besar berdiri berjajar dengan pagar tinggi. Lampu taman menyala
redup di sepanjang jalan. Semakin jauh kami masuk, semakin sedikit kendaraan
yang terlihat.
Aku
melirik layar ponsel. Sinyalnya tinggal satu batang. Entah mengapa, dadaku
mulai terasa tidak nyaman.
Beberapa
menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang jauh lebih
besar dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya. Pagar besi terbuka perlahan.
Seorang satpam menghampiri. Ia mengangguk hormat kepada Anita.
“Selamat
malam, Bu Anita.”
“Malam.”
Satpam
itu melirikku sekilas sebelum membuka pintu pagar lebih lebar. Ada perasaan
aneh yang sulit kujelaskan.
“Turunlah,
Tiara. Kita sudah sampai.”
Aku
melangkah keluar sambil memandangi bangunan megah itu. “Ini... kantormu?”
Anita
hanya tersenyum. “Masuk dulu.”
Aku
mengikutinya. Namun, semakin dekat dengan pintu, semakin kuat perasaan tidak
nyaman yang muncul dalam diriku.
Begitu
pintu terbuka, aroma parfum yang menyengat bercampur dengan bau alkohol
langsung menyambutku.
Langkahku
terhenti sesaat. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun duduk santai di
sofa kulit. Jas mahal yang dikenakannya tidak mampu menyembunyikan tatapan
matanya yang membuatku merasa tidak nyaman. Di atas meja tersusun beberapa
botol minuman.
“Pak, ini
Tiara,” kata Anita.
Lelaki
itu mengangkat wajah. “Cantik.”
Aku hanya
membalas dengan senyum tipis. Entah mengapa, sejak memasuki ruangan ini,
firasatku semakin buruk. Anita kemudian mundur beberapa langkah.
“Kalian
mengobrol saja dulu.” Ia berbalik meninggalkan ruang tamu.
Aku
menatap punggungnya dengan bingung. Beberapa detik kemudian, aku segera
menyusul keluar.
“Anita.”
Ia
berhenti dan menoleh. “Ada apa?”
“Kamu
bilang akan mengenalkanku pada pekerjaan.” Aku berusaha menjaga suaraku tetap
tenang. “Tapi kenapa aku malah dibawa ke sini?”
Anita
menghela napas. “Tiara...” Ia menatapku beberapa saat. “Kamu cantik. Banyak
perempuan ingin memiliki wajah sepertimu.”
Aku mulai
tidak menyukai arah pembicaraan ini. “Apa hubungannya dengan pekerjaan?”
Anita
tersenyum tipis. “Kamu hanya perlu menemaninya malam ini.”
Aku
terdiam. “Maksudmu?”
“Dia
orang penting. Kalau dia senang, kamu bisa mendapatkan uang belasan juta dalam
satu malam.”
Jantungku
berdegup keras. Aku menatap Anita tidak percaya. “Jadi... ini pekerjaan yang
kamu maksud?”
Anita
tidak menjawab. Jawaban itu sudah cukup. Aku merasa seluruh harapanku runtuh
dalam sekejap.
“Kenapa
kamu tidak mengatakan dari awal?”
“Kalau
kukatakan dari awal, kamu mungkin tidak akan datang.”
Aku
menatapnya tajam. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa semua kebaikan
Anita sejak awal mungkin memang memiliki maksud lain.
Aku
menggeleng pelan. “Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena
aku tidak mau.”
Anita
mulai kehilangan kesabarannya. “Tiara, hidupmu sedang berantakan. Kamu
kehilangan pekerjaan, bukan?”
Aku
terdiam.
“Kamu
butuh uang.”
“Iya.”
“Lalu apa
masalahnya?”
Aku
menarik napas panjang. “Aku memang butuh uang.” Aku menatap matanya. “Tapi
bukan dengan cara seperti ini.”
Anita
mendengus. “Jangan terlalu idealis. Kamu pikir mencari pekerjaan itu mudah?”
“Aku tahu
tidak mudah.”
“Lalu
kenapa menolak kesempatan mendapatkan uang sebanyak itu?”
Aku
mengepalkan tangan. “Karena aku masih punya pilihan untuk berkata tidak.”
Anita
menatapku tajam. “Kamu tidak sedang berada dalam posisi untuk memilih.”
Kalimat
itu membuat dadaku panas. “Mungkin aku tidak punya banyak pilihan.” Aku menahan
air mata. “Tapi aku masih punya hak untuk menentukan apa yang bersedia
kulakukan dengan hidupku.”
Anita
terdiam.
Aku
melanjutkan, “Aku adalah kakak bagi adik-adikku. Setiap hari aku meminta mereka
hidup jujur, menjaga kehormatan, dan tidak mengambil jalan pintas hanya karena
keadaan sulit.”
Suaraku
mulai bergetar. “Lalu bagaimana mungkin aku pulang membawa uang kepada mereka,
sementara aku sendiri mengkhianati semua nasihat yang selama ini kuajarkan?”
Anita
menggeleng. “Idealismemu tidak akan mengenyangkan perut.”
Aku
menatapnya. “Mungkin.” Aku mengusap air mata yang mulai menggenang. “Tapi uang
yang kudapat dengan mengorbankan kehormatanku juga tidak akan membuat hidupku
lebih baik.”
Wajah
Anita berubah dingin. “Kamu akan menyesal.”
Aku
menggeleng. “Aku lebih takut menyesal karena kehilangan diriku sendiri.”
Aku
berbalik dan mulai melangkah menuju gerbang.
“Tiara!”
Aku
berhenti, tetapi tidak menoleh.
“Kamu
pikir setelah ini hidupmu akan mudah?”
“Tidak.”Aku
akhirnya menoleh. “Aku tahu hidupku tidak akan mudah. Tapi aku akan mencari
jalan lain.”
Aku
kembali melangkah. Di tengah perjalanan menuju gerbang, suara Ibu asuhku
kembali terngiang jelas dalam ingatan.
Hiduplah dengan keberanian. Jangan pernah membalas
keburukan dengan keburukan. Kalau suatu hari dunia memaksamu menjadi jahat...
katakan tidak.
Air
mataku akhirnya jatuh. “Maaf, Bu,” bisikku lirih. “Aku masih berusaha menjaga
pesan Ibu.”
Aku terus
berjalan meninggalkan rumah itu. Kali ini aku tidak membawa pekerjaan. Tidak
membawa uang. Bahkan tidak tahu bagaimana cara membayar biaya kuliah Aldi.
Namun, ada sesuatu yang masih kubawa pulang. Keyakinan bahwa kesulitan tidak
boleh memaksaku menjadi seseorang yang tidak kukenal.
Dan untuk
pertama kalinya sejak kehilangan pekerjaan, aku tidak merasa gagal. Aku mungkin
kehilangan satu kesempatan. Tetapi aku tidak kehilangan diriku sendiri.
***
Aku
terbangun dengan kepala yang terasa berat. Bayangan rumah mewah itu masih jelas
di pelupuk mata. Tatapan pria paruh baya, aroma minuman beralkohol, hingga
senyum Anita yang perlahan berubah menjadi sinis terus berputar di kepalaku.
Malam
tadi mengajariku satu hal. Tidak semua tangan yang terulur datang untuk
menolong. Ada yang sengaja mengulurkan harapan agar kita terjebak di dalamnya.
Aku hampir mempercayainya. Padahal kami baru saling mengenal. Suara Ibu kembali
memenuhi ingatanku.
Seandainya malam itu aku melupakan nasihatmu, mungkin hari ini aku
tidak lagi mampu menatap diriku sendiri di cermin.
Aku tidak
membenci Anita. Yang kusesalkan adalah pilihan hidup yang ia ambil. Barangkali
hidup pernah berlaku sangat kejam kepadanya hingga ia menganggap jalan itu
sebagai satu-satunya cara untuk bertahan. Namun penderitaan tidak pernah
menjadi alasan untuk menyeret orang lain ke dalam jurang yang sama.
Jalan
hidupku memang tidak mudah. Aku kehilangan Ayah dan Ibu. Aku kehilangan Ibu
asuh. Aku kehilangan pekerjaan. Namun, semua itu belum cukup untuk membuatku kehilangan
diriku sendiri.
Aku
percaya, setiap kesulitan selalu menyisakan satu pintu yang masih terbuka.
Mungkin aku belum menemukannya hari ini, tetapi bukan berarti pintu itu tidak
ada. Aku hanya perlu terus berjalan.
Menjadi diriku sendiri. Dan menjaga hati agar tidak ikut gelap hanya karena
hidup sedang berada dalam kegelapan.
Aku
bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju teras. Rumah masih begitu sepi.
Nafira tertidur lelap di kamar. Bahkan suara hujan yang menetes dari ujung
genting pun tidak mampu membangunkannya.
Namun, di
teras, kulihat Gerda duduk sendirian di bangku kayu. Kedua tangannya saling
menggenggam erat. Tatapannya kosong ke arah halaman yang masih basah.
Biasanya,
jam segini ia sudah berangkat ke bengkel. Hari ini, seragam kerjanya masih
tergantung di jemuran.
Aku
mendekatinya. “Gerda.”
Ia tidak
menjawab.
Aku duduk
di sampingnya. “Kenapa belum berangkat kerja?”
Gerda
tetap diam.
Ada
sesuatu yang berbeda dari dirinya pagi itu. Bukan hanya wajahnya yang pucat,
tetapi juga cara ia menarik napas, seolah sedang menahan sesuatu yang terlalu
berat untuk diceritakan.
Aku
menatapnya beberapa saat. “Gerda.”
Kali ini
ia menoleh.
“Cerita
sama Kakak. Jangan dipendam sendiri.”
Matanya
memerah. “Kak...”
“Iya?”
“Kalau
aku cerita, Kakak masih percaya sama aku?”
Pertanyaan
itu membuat dadaku terasa sesak. Aku segera menggenggam tangannya. “Tentu
saja.”
Gerda
menunduk.
“Kakak
selalu percaya sama adik-adik Kakak. Ceritakan saja.”
Ia
menarik napas panjang. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya suaranya
terdengar.
“Aku
dituduh mencuri uang kas di bengkel.”
Aku
terdiam.
Gerda
menatap halaman. “Aku memang masuk ke ruangan itu kemarin. Bos menyuruhku
mengambil berkas. Setelah mengambilnya, aku langsung keluar dan mengunci
pintunya lagi.” Suaranya bergetar. “Aku tidak mengambil uang sedikit pun, Kak.”
Aku
menggenggam tangannya lebih erat.
“Tapi
setelah itu uangnya hilang.” Gerda mengusap sudut matanya. “Mereka bilang cuma
aku yang masuk ke ruangan itu. Jadi mereka menganggap aku yang mengambil.”
Selama
ini Gerda selalu berangkat paling pagi dan pulang paling malam. Ia bahkan lebih
sering menghabiskan waktunya di bengkel daripada di rumah. Sulit bagiku
membayangkan ia melakukan sesuatu seperti itu.
“Apa
mereka punya bukti?”
Gerda
menggeleng. “Tidak ada.” Ia menunduk semakin dalam. “Hanya karena setelah aku
keluar, uang itu hilang.”
“Lalu?”
“Aku
dipecat.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Sekarang aku tidak bisa membantu
Kakak lagi.”
Gerda
menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Maaf, Kak.”
Melihat
pundaknya bergetar, aku langsung memeluknya. “Kakak tidak pernah menganggapmu
beban.”
Tangis
Gerda pecah. “Aku benar-benar tidak mencuri.”
“Kakak
tahu.”
“Tapi
semua orang menganggap aku pencuri.”
Aku
mengusap punggungnya perlahan. “Kalau kamu memang tidak melakukan kesalahan
itu, jangan biarkan tuduhan mereka membuatmu percaya bahwa kamu bersalah.”
Gerda
terdiam dalam pelukanku.
“Kebenaran
mungkin tidak datang secepat tuduhan,” lanjutku pelan, “tetapi selama kita
tidak menyembunyikan kesalahan yang memang kita lakukan, kita tidak perlu takut
menghadapinya.”
Gerda
mengangkat wajah. Matanya masih basah. “Aku harus bagaimana, Kak?”
“Untuk
sekarang, jangan menyerah.” Aku mengusap rambutnya. “Besok kita pikirkan apa
yang bisa dilakukan. Kalau memang ada cara untuk membuktikan bahwa kamu tidak
mengambil uang itu, kita cari.”
“Kalau
tidak ada?”
“Kita
tetap cari pekerjaan.”
Gerda
menatapku. “Bersama?”
Aku
tersenyum. “Bersama.”
Ia
mengangguk pelan. “Terima kasih, Kak.”
Aku
memeluknya sekali lagi. Pagi itu aku kembali menyadari sesuatu. Di rumah ini,
aku bukan hanya seorang kakak. Aku adalah tempat pulang bagi mereka ketika
dunia memutuskan untuk tidak lagi mempercayai mereka. Dan ternyata, menjadi
tempat pulang tidak selalu berarti memiliki semua jawaban.
Kadang,
cukup dengan tetap tinggal ketika orang lain pergi. Ada kalanya hidup merenggut
semuanya dalam waktu yang bersamaan. Pekerjaan hilang. Harapan memudar.
Kepercayaan orang lain lenyap begitu saja. Namun, aku tidak boleh ikut runtuh.
Jika aku menyerah, kepada siapa adik-adikku akan bersandar?
Aku
mengangkat wajah menatap langit yang masih mendung. Hujan mulai turun kembali.
Pelan. Namun kali ini aku tidak merasa takut melihatnya.
“Ya Allah, jangan biarkan kesedihan membuatku lupa bahwa Engkau
selalu menyediakan jalan bagi orang yang tidak berhenti berjuang.”
Aku tidak
tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini. Tetapi satu hal yang pasti— aku
akan tetap berjalan. Selama masih ada jalan yang bisa ditempuh, aku tidak akan
berhenti mencari.
***
Sudah
seminggu aku tidak pernah tidur pulas. Pikiran tentang masa depan kami terus
berputar di kepala. Kini aku dan Gerda sama-sama kehilangan pekerjaan. Tabungan
yang tersisa semakin menipis, sementara kebutuhan rumah tidak pernah berhenti.
Untungnya,
Aldi dan Merisa bergantian menghibur Gerda hingga tawa kembali terdengar di
rumah kecil ini. Tawa yang sederhana. Namun, entah mengapa, belakangan ini suara
itu justru terasa seperti sesuatu yang harus kami perjuangkan.
“Kak
Resya, ada tamu.” Suara Merisa terdengar dari luar kamar.
Aku
segera keluar.
Hari
Minggu membuat rumah terasa lebih lengang. Merisa sibuk menonton televisi
bersama Nafira yang tidak henti-hentinya berceloteh. Sementara itu, Aldi dan
Gerda pergi berolahraga sejak pagi.
Aku
berjalan menuju ruang tamu. Namun, langkahku terhenti. Seorang lelaki duduk
santai di sofa. Aku mengenalinya. Om Wira. Lelaki yang selama bertahun-tahun
hanya menjadi bagian dari masa lalu kami.
Ia
menoleh. Senyumnya mengembang. “Pagi, Resya.”
Senyum
itu. Senyum yang dahulu pernah terasa akrab, tetapi kini justru membangkitkan
luka yang selama bertahun-tahun berusaha kukubur.
Aku
memilih tetap berdiri.
“Bagaimana
kabarmu?” tanyanya. “Om sudah lama tidak berkunjung. Om juga rindu sama
kalian.”
Aku
tersenyum tipis. “Rindu?”
Satu kata
itu keluar dengan nada yang bahkan tidak mampu kusembunyikan. Senyumnya
perlahan menghilang.
“Om salah
datang?”
Aku
menatapnya untuk pertama kali. “Yang aneh, Om baru ingat jalan pulang setelah
bertahun-tahun menghilang.”
“Resya…”
“Dulu Om
memilih meninggalkan rumah ini.” Tanganku mengepal. “Bahkan ketika Ibu sakit,
Om tidak datang. Saat beliau meninggal, Om juga tidak ada. Jadi sekarang untuk
apa Om kembali?”
Om Wira
menundukkan kepala. Beberapa saat ia tidak menjawab.
“Aku tahu
kamu marah.”
Aku
hampir tertawa. “Marah? Menurut Om, aku hanya marah?”
Ia
mengangkat wajah. “Bukan hanya marah. Om tahu Om sudah mengecewakan kalian.”
Aku
terdiam.
Tidak ada
pembelaan. Tidak ada alasan yang langsung ia gunakan untuk membenarkan diri.
Justru itu yang membuatku semakin sulit memahami maksud kedatangannya.
“Kalau Om
tahu, kenapa baru datang sekarang?”
Om Wira
menarik napas panjang. “Karena selama ini Om tidak punya keberanian untuk
kembali.”
Aku
mengerutkan kening. “Tidak punya keberanian?”
“Setiap
kali ingin datang, Om selalu berpikir kalian pasti tidak mau melihat wajah Om.”
Ia tersenyum getir. “Dan ternyata dugaan Om tidak sepenuhnya salah.”
Aku tidak
menjawab.
“Bukan
berarti Om tidak memikirkan kalian,” lanjutnya. “Om tetap berusaha mencari tahu
kabar kalian.”
Aku
langsung menatapnya. “Kalau begitu, kenapa tidak pernah datang?”
Om Wira
terdiam cukup lama. “Ada banyak hal yang belum bisa Om jelaskan.”
“Alasan?”
“Bukan
alasan untuk membenarkan kesalahan Om.” Ia menggeleng. “Apa pun yang terjadi
waktu itu, Om tetap salah karena memilih pergi.”
Aku
memalingkan wajah. Setidaknya kali ini ia tidak berusaha menyangkal.
“Ketika
Ibu kalian sakit,” katanya pelan, “Om sebenarnya tahu.”
Aku
kembali menatapnya. “Lalu kenapa tidak datang?” Suaraku meninggi. “Kenapa?”
Om Wira
mengusap wajahnya. “Karena saat itu Om sedang menghadapi masalah besar. Om
kehilangan pekerjaan, terlilit utang, dan…”
Ia
berhenti.
“Apa?”
“Ada
masalah lain yang membuat Om merasa tidak pantas pulang.”
Aku
menggeleng tidak percaya. “Jadi Om memilih menghilang?”
“Iya.”
Jawabannya begitu pelan. “Dan itu keputusan yang salah.”
Ruangan
mendadak sunyi.
“Seharusnya
Om datang,” lanjutnya. “Seharusnya Om tetap berada di samping Ibu dan kalian,
apa pun keadaan Om saat itu.”
Aku tidak
menyangka ia akan mengakuinya sejujur itu. Namun, pengakuan tidak serta-merta
menghapus luka yang selama ini kami simpan.
“Kenapa
sekarang?” tanyaku lebih pelan.
Om Wira
menatapku. “Karena keadaan kalian sudah berubah.”
Aku
mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Om
mendengar kalian sedang mengalami kesulitan.”
Jantungku
berdegup lebih cepat. “Tahu dari siapa?”
“Bukan
itu yang penting.” Ia menarik napas. “Om hanya tahu keadaan kalian akhir-akhir
ini tidak mudah.”
Aku
semakin curiga. “Kalau Om tahu keadaan kami, kenapa baru sekarang datang?”
Om Wira
tidak langsung menjawab. “Om juga tahu Aldi ingin melanjutkan kuliah.”
Aku
membeku. Bagaimana mungkin ia tahu? Selama ini kami bahkan tidak pernah menghubunginya.
“Jadi Om
datang karena merasa kasihan?”
“Bukan.”
“Lalu
karena apa?”
Om Wira
menatapku cukup lama. “Ada sesuatu yang harus Om sampaikan kepada kalian.”
“Apa?”
“Bukan
sesuatu yang bisa Om jelaskan hanya kepada kamu.”
Ia
melirik ke arah pintu. “Tunggu Aldi dan Gerda pulang. Kalian semua harus
mendengarnya.”
Aku
semakin tidak mengerti. “Kalau memang penting, katakan sekarang.”
“Belum
waktunya.”
“Kenapa?”
“Karena
apa yang akan Om sampaikan berkaitan dengan masa depan kalian.”
Masa
depan? Kalimat itu justru membuat pikiranku semakin dipenuhi pertanyaan. Aku
merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang jelas-jelas ia sembunyikan, dan aku tidak
suka berada dalam posisi tidak tahu apa-apa.
“Om mau
tinggal di sini?”
Om Wira
menggeleng. “Tidak. Om datang sebagai keluarga. Itu saja.”
Aku
terdiam.
“Setelah
bertahun-tahun pergi, baru sekarang Om berbicara tentang keluarga. Om tahu,
kan, keluarga bukan hanya soal hubungan darah?”
Aku menatapnya.
“Bagi kami, keluarga adalah seseorang yang tetap tinggal ketika keadaan menjadi
sulit.”
Suaraku
mulai bergetar. “Dan Om tidak melakukan itu.”
Om Wira
tidak membantah. “Om tahu.”
“Jadi
jangan berharap semuanya berubah hanya karena Om datang dan meminta maaf.”
“Aku
tidak berharap sebanyak itu.”
Aku
menggigit bibir, menahan amarah.
Di balik
pintu, Merisa berdiri memandangi kami dengan wajah cemas. Nafira berada di
sampingnya, menatap bergantian ke arahku dan Om Wira dengan sorot mata polos.
Mereka
belum cukup besar untuk memahami mengapa seseorang yang baru datang bisa
membuat rumah mendadak dipenuhi ketegangan.
Aku
memalingkan wajah. Bagaimana mungkin aku tidak marah? Saat Ibu berjuang melawan
penyakitnya, Om Wira tidak datang. Saat Ibu mengembuskan napas terakhir, Om
Wira juga tidak ada. Bahkan ketika tanah mulai menutupi makam Ibu, batang
hidungnya pun tidak pernah terlihat.
Setelah
kepergian Ibu, kami belajar bertahan sendiri. Kami membagi beban. Saling
menguatkan. Menyembunyikan kesedihan masing-masing agar yang lain tidak ikut
hancur. Tidak sekali pun Om Wira datang untuk melihat keadaan kami secara
langsung. Lalu sekarang ia muncul begitu saja. Membawa sesuatu yang ia sebut
sebagai urusan penting. Membicarakan masa depan kami.
Aku tidak
tahu apakah kedatangannya akan menjadi pertolongan atau justru membuka luka
yang selama ini kami coba tutup. Namun, satu hal yang pasti. Aku belum siap
memaafkannya. Bukan karena aku ingin terus membencinya. Melainkan karena ada
luka yang terlalu lama dibiarkan tanpa penjelasan.
Aku
menatap lelaki di hadapanku. “Kalau yang Om bawa hanya permintaan agar kami
melupakan masa lalu, jangan berharap terlalu banyak.”
Om Wira
menatapku. “Aku tahu.”
Untuk
pertama kalinya sejak datang, ia tidak berusaha tersenyum. Ia hanya duduk diam.
Menunggu.
Sementara
aku berdiri dengan hati yang penuh pertanyaan. Tak lama lagi Aldi dan Gerda
akan pulang. Dan setelah itu, mungkin kami akan mengetahui alasan sebenarnya
mengapa lelaki yang telah menghilang selama bertahun-tahun akhirnya memilih
mengetuk pintu rumah kami kembali.
Siang harinya
Kami
akhirnya duduk bersama di ruang tamu. Aku, Aldi, Gerda, dan Om Wira. Merisa dan
Nafira bermain di kamar. Sengaja tidak kuizinkan mereka ikut mendengarkan
pembicaraan ini.
Sejak
tadi, perasaan tidak tenang terus menghantuiku. Dari perkataan Om Wira, jelas
bahwa kedatangannya bukan sekadar untuk meminta maaf.
Ada
sesuatu yang lebih besar. Om Wira duduk dengan kedua tangan bertaut di atas
lutut. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan yang kuingat.
Aldi
menjadi orang pertama yang membuka percakapan. “Om sebenarnya mau membicarakan
apa?”
Om Wira
menarik napas panjang. “Sebelum Om menjelaskan semuanya, Om ingin meminta
maaf.”
Gerda
langsung menyahut. “Permintaan maaf tidak akan mengubah apa pun.”
“Gerda,”
tegurku pelan.
“Tapi
memang benar, Kak.” Gerda menatap Om Wira. “Bertahun-tahun Om tidak pernah
datang. Sekarang tiba-tiba muncul dan bilang ada sesuatu yang harus kami
ketahui. Wajar kalau kami curiga.”
Om Wira
mengangguk. “Om mengerti.”
“Jadi
bicara saja,” kata Aldi. “Apa sebenarnya masalahnya?”
Om Wira
terdiam beberapa detik. Kemudian ia berkata, “Masalahnya berkaitan dengan rumah
ini.”
Aku
langsung menegang. “Rumah?”
Om Wira
mengangguk. “Beberapa tahun lalu, sebelum Om pergi, rumah ini pernah dijadikan
jaminan untuk sebuah utang.”
Gerda
menatapnya tidak percaya. “Apa?”
Aku ikut
menatap Om Wira. “Jadi… rumah ini pernah dijadikan jaminan?”
“Iya.”
Gerda
berdiri. “Om benar-benar melakukan itu?”
“Gerda…”
“Tidak,
Kak.” Tatapannya mulai memerah. “Selama ini kita tinggal di rumah ini tanpa
tahu apa-apa. Kita pikir rumah ini aman. Kita pikir setelah Ibu meninggal,
setidaknya masih ada tempat untuk kita pulang.”
Om Wira
menundukkan kepala. “Om tahu.”
“Tidak!”
suara Gerda meninggi. “Om tidak tahu!”
Aldi
segera berdiri dan mendekatinya. “Gerda, tenang.”
“Bagaimana
aku bisa tenang?” Ia menatap Om Wira. “Waktu Ibu sakit, Om tidak ada. Waktu Ibu
meninggal, Om juga tidak ada. Bertahun-tahun kami bertahan sendiri. Sekarang
setelah kami mulai bisa berdiri, Om datang membawa masalah rumah ini!”
Om Wira
tetap diam.
Aku
berdiri di antara mereka. “Gerda, cukup.”
Gerda
mengusap air matanya dengan kasar lalu kembali duduk. Aku menatap Om Wira.
“Benarkah
rumah ini masih bermasalah?”
“Iya.”
“Seberapa
besar?”
Om Wira
menarik napas. “Utangnya belum lunas.”
Dadaku
terasa sesak. “Berapa lama batas waktunya?”
“Tidak
lama lagi.”
Gerda
kembali menatapnya. “Kalau tidak dilunasi?”
Om Wira
menjawab pelan. “Rumah ini bisa berpindah tangan.”
Aku
merasa seolah kehilangan pijakan. Rumah ini. Rumah yang selama bertahun-tahun
menjadi satu-satunya tempat kami berteduh. Rumah yang menyimpan semua kenangan
tentang Ibu. Rumah yang menjadi tempat kami belajar bertahan setelah beliau
pergi. Dan sekarang rumah itu terancam hilang.
“Kenapa
baru sekarang Om bilang?” tanyaku.
“Karena
Om sedang berusaha menyelesaikannya sendiri.”
“Dan
berhasil?”
Om Wira
menggeleng. “Belum.”
Aku
tertawa kecil tanpa humor. “Tentu saja.”
Om Wira
menatapku. “Om sudah mencoba mengambil kembali sertifikat rumah itu. Om juga
sudah mengumpulkan sebagian uangnya.”
“Sebagian?”
tanya Aldi.
“Iya.”
“Berarti
masih kurang?”
“Masih.”
Gerda
menatap lantai. “Berapa?”
Om Wira
menyebutkan jumlahnya. Kami semua terdiam. Jumlah itu jauh di luar kemampuan
kami.
Aku
menghela napas panjang. “Aku dan Gerda bahkan sudah kehilangan pekerjaan.”
Om Wira
langsung menatapku. “Kamu sudah tidak bekerja?”
Aku
menggeleng. “Sejak beberapa waktu lalu.”
Ia
terlihat terkejut. “Kenapa Om tidak tahu?”
Aku
tersenyum getir. “Karena selama ini kami tidak pernah merasa perlu memberi tahu
Om.”
Om Wira
terdiam.
“Dan
Gerda?”
Aku
menoleh kepadanya. “Dia juga kehilangan pekerjaannya.”
Gerda
menundukkan kepala.
Wajah Om
Wira perlahan berubah. “Kenapa kalian tidak pernah memberi tahu Om?”
Aku
menjawab pelan, “Karena kami sudah terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri.”
Kalimat
itu membuat ruangan kembali sunyi.
Om Wira
menundukkan kepala. “Om tidak menyangka keadaan kalian sudah sejauh ini.” Ia
mengusap wajahnya. “Om benar-benar minta maaf.”
Gerda
tertawa pahit. “Maaf lagi.”
“Gerda…”
“Tidak,
Kak. Aku hanya ingin tahu satu hal.” Ia menatap Om Wira. “Kenapa sekarang?”
Om Wira
mengangkat wajah. “Karena Om tidak ingin kalian kehilangan rumah ini.”
“Om ingin
membantu mempertahankannya.”
Aku
menggeleng. “Bagaimana caranya?”
“Itulah
yang ingin Om bicarakan malam ini.”
“Kalau
caranya dengan meminta kami membayar utang itu, kami tidak sanggup.”
Rasanya
percakapan malam ini justru menambah lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Om Wira
kemudian berkata, “Om tahu kalian belum bisa memaafkan Om.”
Tidak ada
yang menjawab.
“Dan Om
tidak akan memaksa kalian.” Ia menarik napas panjang. “Tapi kali ini Om tidak
akan pergi sebelum berusaha memperbaiki kesalahan Om.”
Aku
menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam
tatapannya. Penyesalan. Bukan sekadar kata maaf. Namun, apakah penyesalan itu
cukup untuk menyelamatkan rumah kami? Aku tidak tahu.
Malam itu
kami tidak menemukan jawaban. Yang kami tahu hanyalah satu hal. Rumah yang
selama ini kami anggap sebagai tempat paling aman ternyata sedang berada di
ujung kehilangan. Dan untuk mempertahankannya, kami harus kembali berjuang.
Entah
dari mana harus memulai. Aku menatap ke arah lorong menuju kamar Ibu. Di rumah
inilah kami pernah tertawa bersamanya. Di rumah inilah kami merawatnya ketika
sakit. Di rumah inilah kami menangis ketika akhirnya harus kehilangan beliau.
Aku tidak
ingin kehilangan rumah ini juga. Namun, untuk pertama kalinya aku memahami
sesuatu. Kehilangan tidak selalu berarti mengucapkan selamat tinggal kepada
seseorang. Kadang, kehilangan berarti berdiri di depan rumah sendiri dan
bertanya-tanya… Apakah besok kita masih akan memiliki tempat untuk pulang.
***
Rumah Ibu
bukanlah milik kami. Kami memang pernah tinggal di sana. Membesarkan mimpi di
bawah atap yang sama. Belajar saling menguatkan ketika dunia terasa terlalu
berat. Namun, pada akhirnya, rumah itu tetap bukan sesuatu yang bisa kami
pertahankan hanya karena di dalamnya tersimpan begitu banyak kenangan.
Kami
hanya anak-anak angkat dari seorang perempuan berhati mulia yang telah tiada.
Dengan berat hati, kami meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun menjadi
tempat berteduh. Tempat kami belajar menjadi keluarga. Tempat terakhir kami
merasakan kasih sayang seorang ibu.
Hari
ketika kami mengemasi barang-barang terasa seperti mengucapkan selamat tinggal
untuk kedua kalinya. Aku berdiri cukup lama di depan pintu sebelum akhirnya
menutupnya. Tidak ada lagi suara langkah Ibu dari dapur. Tidak ada lagi aroma
masakan yang menyambut ketika kami pulang.
Namun,
aku percaya, kasih sayang tidak pernah benar-benar tinggal di sebuah bangunan.
Ia tinggal di dalam hati orang-orang yang pernah menerimanya. Kebahagiaan yang
kami bangun dengan susah payah memang sempat runtuh dalam sekejap.
Namun,
terus meratapi kehilangan tidak akan mengubah kenyataan. Kami memilih menerima
takdir. Bukan karena kami tidak sedih. Melainkan karena kami percaya bahwa
menerima bukan berarti menyerah.
Berbekal
rumah tua peninggalan kedua orang tuaku yang selama ini dirawat Mbok Parmi,
kami memulai kehidupan dari awal.
Rumah itu
tidak semegah rumah Ibu. Cat dindingnya mulai pudar. Beberapa bagian atap perlu
diperbaiki. Gudangnya dipenuhi barang-barang lama yang sudah bertahun-tahun
tidak digunakan. Namun, setidaknya rumah itu masih memberi kami satu hal yang
paling kami butuhkan. Tempat untuk pulang.
“Kakak!”
Suara Nafira membuyarkan lamunanku. “Kak Merisa di mana?” Ia berlari-lari kecil
menyusuri rumah.
“Mungkin
di luar membantu Kak Gerda dan Kak Aldi membereskan gudang.” Aku masih sibuk
menyiapkan sarapan di dapur.
“Fira mau
ke gudang, ya, Kak.”
“Boleh.
Tapi lihat dari jauh saja, ya. Gudangnya masih berdebu. Biar Kak Gerda dan Kak
Aldi yang mengangkat barang-barang berat. Fira bantu menyapu saja.”
Nafira
mengangguk riang lalu berlari keluar.
Dari
balik jendela dapur, aku memperhatikan adik-adikku bekerja sama membereskan
ruangan di depan rumah. Gerda mengangkat lemari tua. Aldi sibuk memperbaiki rak
kayu yang hampir roboh. Merisa dan Nafira menyapu lantai sambil sesekali saling
bercanda. Tawa mereka memenuhi halaman.
Untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, rumah tua yang sebelumnya terasa begitu
sepi kembali hidup.
Sudah dua
bulan kami tinggal di sini. Rumah Ibu kini telah menjadi milik orang lain.
Anehnya, aku tidak lagi menyimpan keinginan untuk merebutnya kembali. Ada
kenangan yang tidak bisa dibeli. Ada kasih sayang yang tidak membutuhkan sebuah
rumah untuk tetap hidup.
Aku
percaya, Ibu akan memahami keputusan kami. Rumah memang bisa menjadi tempat
menyimpan kenangan. Namun, rumah tidak pernah benar-benar menentukan arti
sebuah keluarga.
Bagiku,
rumah bukan tentang seberapa besar bangunannya. Bukan tentang seberapa indah
perabotannya. Rumah adalah tempat seseorang merasa aman untuk pulang. Dan
selama kami masih saling memiliki, di mana pun kami berada, aku tahu kami tetap
mempunyai rumah.
Gerda dan
Aldi kemudian memiliki rencana mengubah gudang menjadi warung kecil agar aku
tidak perlu bekerja jauh dari rumah lagi. Mereka ingin aku lebih banyak
menghabiskan waktu bersama keluarga. Bermodalkan sisa tabunganku, kami mulai
membeli rak, etalase, dan sedikit demi sedikit mengisinya dengan barang
dagangan.
Tidak
mudah. Kami harus menghitung setiap rupiah. Namun, kali ini kami tidak takut
memulai dari nol. Kami sudah pernah kehilangan hampir semuanya. Dan ternyata,
kehilangan tidak membuat kami benar-benar habis.
Justru
dari sana kami belajar bahwa selama masih ada kemauan untuk bangkit, selalu ada
sesuatu yang bisa diperjuangkan.
Beberapa
bulan kemudian, kabar baik mulai berdatangan. Aldi diterima bekerja di sebuah
perusahaan. Gerda pun dipanggil kembali ke bengkel setelah pelaku pencurian
yang sebenarnya berhasil ditangkap.
Keduanya
tetap melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan biaya hasil jerih payah
mereka sendiri. Melihat mereka tersenyum, aku merasa seluruh lelahku selama ini
tidak sia-sia.
Keceriaan
kembali memenuhi rumah. Tawa yang sempat hilang kini terdengar hampir setiap
hari. Tidak semuanya sempurna. Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi
meminta hidup menjadi sempurna.
Aku hanya
ingin kami tetap bersama. Sementara itu, Om Wira benar-benar menepati janjinya.
Ia meninggalkan kebiasaan berjudi dan mabuk-mabukan. Ia memilih merantau untuk
bekerja dan memulai hidupnya dari awal.
Berkat
kerja kerasnya, ia dipercaya menjadi salah satu karyawan andalan di tempat
kerjanya. Setiap bulan, sebagian penghasilannya selalu dikirimkan kepada kami.
Bukan karena kami meminta. Ia melakukannya karena ingin memperbaiki kesalahan
yang pernah ia buat.
“Sisihkan
rezeki untuk bersedekah dan jangan lupa menabung.” Pesan itu selalu ia ulang
setiap kali menghubungi kami.
Saat
libur panjang tiba, Om Wira tidak pernah lupa pulang. Ia membantu memperbaiki
rumah, bermain bersama Nafira, memperbaiki rak warung, dan menemani kami makan
malam.
Hubungan
kami tidak langsung berubah menjadi hangat. Ada luka yang membutuhkan waktu
untuk sembuh. Namun, sedikit demi sedikit, jarak itu mulai menghilang.
Aku
akhirnya memahami satu hal. Memaafkan tidak berarti mengatakan bahwa apa yang
pernah dilakukan seseorang adalah benar. Memaafkan berarti memilih untuk tidak
membiarkan kesalahan masa lalu menentukan seluruh masa depan.
Untuk
kedua kalinya dalam hidupku, aku belajar bahwa seseorang bisa berubah jika
benar-benar ingin memperbaiki dirinya.
Suatu
sore, hujan kembali turun. Aku berdiri di depan warung kecil kami sambil
memandang jalanan yang basah. Dulu, hujan selalu membuatku takut. Setiap
rintiknya mengingatkanku pada kecelakaan yang merenggut Ayah dan Ibu.
Pada
kehilangan Ibu asuh. Pada rumah yang harus kami tinggalkan. Pada hari-hari
ketika aku merasa Tuhan mengambil semuanya dariku satu per satu. Namun, hari
ini berbeda. Aku masih mengingat semua kehilangan itu. Aku hanya tidak lagi
membiarkannya menentukan bagaimana aku menjalani hidup.
Nafira
berlari keluar sambil membawa payung. “Kak!”
Aku
menoleh.
“Masuk,
nanti kehujanan!”
“Sebentar.”
Aku menatap langit.
Hujan
masih turun. Tetapi kali ini, aku tidak melihatnya sebagai pertanda kesedihan.
Aku melihatnya sebagai sesuatu yang pernah mengajarkanku tentang kehidupan.
Bahwa setelah tanah menjadi basah, akan selalu ada sesuatu yang tumbuh. Bahwa
setelah kehilangan, masih ada kesempatan untuk memulai kembali. Dan bahwa
setelah hati berkali-kali patah, Tuhan tetap mampu menghadirkan alasan untuk
bersyukur.
Dalam
hati, aku berdoa, “Ya Allah, terima kasih karena Engkau tidak pernah
benar-benar meninggalkan kami. Ketika satu pintu tertutup, Engkau mengajarkan
kami untuk mencari jalan lain. Ketika seseorang pergi, Engkau menghadirkan
kekuatan untuk bertahan. Dan ketika kami merasa tidak memiliki apa-apa, Engkau
mengingatkan bahwa kami masih memiliki satu sama lain.”
Aku
melangkah masuk ke dalam rumah. Di sana, suara tawa adik-adikku kembali
terdengar. Hangat. Sederhana. Nyata.
Saat itu
aku akhirnya mengerti— rumah bukanlah tempat yang tidak pernah kehilangan
penghuninya. Rumah adalah tempat kita tetap memilih untuk pulang, meski
kehidupan telah berkali-kali mengajarkan kita tentang kehilangan.
Dan
selama kami masih saling menggenggam, aku tahu satu hal. Aku tidak lagi takut
menghadapi hari esok. Karena untuk pertama kalinya, aku tidak hanya bertahan
hidup. Aku benar-benar sedang menjalani hidup.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai karya penulis
dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar