
Matahari
bersembunyi dibalik awan, hitam pekat menguasai langit.
Tetes
air merayap dibatang daun, terlempar jatuh menyapa orang yang berlalu-lalang.
Suasana dingin menyergap menusuk tulang.
Suara
petir bergemuruh menyatu dalam bising klakson kota. Genangan air memenuhi
jalan, tingginya selutut orang dewasa tetapi tidak ada yang peduli. Mereka
memilih menerobos segala rintangan demi tuntutan hidup. Jika hal seperti itu
dijadikan masalah, bagaimana bisa mereka mengejar rezeki. Beban hidup berada di
pundak masing-masing.
***
Siapapun
tidak akan menduga kapan hujan datang. Kadang dia datang di saat tidak
dibutuhkan. Kadang dia tidak datang dan mengacuhkan seruan.
Dulu
perasaanku merana saat dia menyapa, terlalu banyak kenangan yang tercipta.
Hujan ibarat suasana sendu, temani alur hidup yang perih tetapi setiap hari
bersama membuatku terbiasa.
Hujan
tidak pernah kumiliki, Tuhanlah pemiliknya. Tidak perlu disesali akan
kedatangan hujan, bukankah alangkah besar nikmat Tuhan.
***
Aku
sangat di sayang, tidak pernah muncul pertanyaan sedih menjalani hari. Hingga
aku menjerit meminta orangtuaku hidup kembali. Mereka tidak pernah mengatakan
akan pergi. Namun kecelakaan terjadi di luar dugaan. Mobil yang membawa aku,
Ayah dan Ibu tiba-tiba menabrak tiang pembatas, terperosok jurang. Ketika
bersama, aku tegar menatap masa depan tetapi kini aku sendiri.
Hanya
sebagian manusia hidup penuh kasih, tidak menyiksa, rela memberi dalam
kekurangan. Aku tidak menyesal sedekat ini dengan seseorang. Aku tidak punya
alasan selain ketulusan hati, Ibu asuhku.
“Hiduplah
dengan keberanian! Jangan ragu mempertahankan kebaikan! Jika kamu dipaksa
jahat, ucapkan dengan tegas bahwa kamu tidak mau melakukannya!”
Kalimat
yang terpatri dikepala sebelum orangtua asuhku menutup usia. Beliau dengan
ikhlas mencurahkan kasih sayang pada 5 anak tidak berorangtua, termasuk aku.
Usiaku
24 tahun, seorang kakak yang menjaga ke empat adiknya. Dua remaja laki-laki
Aldi dan Gerda baru lulus SMA, Merisa gadis remaja kelas IX SMP. Sedangkan adik
perempuan paling kecil Nafira usianya 5 tahun.
“Seandainya
aku tidak belajar bertahan hidup. Aku tidak yakin mampu melakukan semua. Berkat
ridhoMu Tuhan, aku percaya Kau menyayangi sehingga turunlah ujian ini. Berikan
aku kesabaran!”
Aku
bersandar dikursi halte, menunggu hujan reda. Bis yang ditunggu tidak kunjung
datang, mungkin terjebak banjir. Orang di sekitar ramai bercengkrama, namun
bagiku terasa sepi. Waktu seakan membiarkan semua melambat.
“Mau
membeli kue-kuenya kak?” Seorang anak laki-laki menghampiri, badannya basah
kuyup. Di tangannya ada keranjang yang di tutupi plastik.
“Boleh,
kakak beli ini.” menunjuk beberapa gorengan.
“Tentu
saja. Sebentar ya kak.” Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Dia
memasukan makanan ke dalam kantong plastik, memberikan padaku dan menggenggam
kaku uang 50 ribu.
“Maaf
Kak, ada uang pas, kebetulan hari ini belum ada pembeli.”
“Simpan
saja kembaliannya untuk ditabung! Jika kamu mau, duduklah temani kakak
berbincang sebentar!”
“Baik
kak dengan senang hati.” Dia duduk di sampingku, menikmati hujan dengan
bercengkrama. Tidak lama Beni pamit pergi, aku terus menatap punggungnya sampai
tidak terlihat. “Aku doakan kamu sukses.”
Beni,
anak yang rajin. Umurnya 11 tahun. Sejak ayahnya meninggal, dia bekerja
membantu ibunya, seorang buruh cuci pakaian. Tidak ada gurat lelah di wajah,
dengan senang hati memikat orang supaya membeli makanannya. Dia memilih
berjualan daripada menjadi pengemis jalanan, baginya pekerjaan ini lebih
dihargai.
Bisakah
aku sepertinya? tegar. Kenapa aku tidak bahagia dengan kehidupan sekarang?
Lihatlah! diluar sana masih banyak yang tidak beruntung. Sesulit apapun,
alangkah baiknya kita tetap bersyukur.
Perasaan
gelisah, tidak mampu beranjak menuju rumah dan memberitahu kabar buruk. Aku
menyayangi mereka yang bahagia, saling mengasihi dan selalu membanggakan.
Akankan semua terus berjalan seiring dengan kepedihan.
Aku
bukan pegawai kantoran, pergi dari rumah dengan pakaian rapih tetapi di kantor
aku hanya OG. Dulu saat pertama kali menunjukan surat diterima di kantor
tersebut. Adik-adikku mengira aku diterima sebagai karyawan di kantor terkenal.
Sehingga tidak mampu ku ungkapkan kejujuran. Aku telah mengecewakan ibu. Kini
aku kehilangan pekerjaan, sudah mencoba melamar ke kantor lain tetapi di tolak.
Bus
muncul perlahan di balik kabut, aku berlari menerobos hujan berebut naik dengan
penumpang lain yang sejak tadi menunggu di halte.
***
Gerimis
membungkus keheningan malam. Gumpalan air setia berkunjung ke bumi. Angin
menyelinap masuk ke kamar lewat celah kecil di jendela.
Mata
menyaksikan suasana di balik jendela. Lampu di halaman menyorot sarang burung
yang bersembunyi di atas pohon, terlihat induk burung kembali dari mencari
makan, setia menjaga anak-anaknya dari dingin. Seketika aku rindu Ibu. Di saat
seperti ini aku butuh sandaran.
Seseorang
membuyarkan lamunan, pintu kamar terketuk.
“Kak
Resya, apa aku boleh masuk?” ucapnya ragu.
“Ya,
pintunya tidak di kunci!!” Aldi menghampiri dengan selembar kertas di tangan.
“Apa
aku mengganggu waktu kakak?” Aldi menyelidiki wajahku.
“Tidak.
Apa ada yang bisa kakak bantu?” aku tersenyum meyakinkan Aldi bahwa aku
baik-baik saja.
“Sebenarnya
aku ingin menyampaikan sesuatu.” Aldi menghentikan ucapan. Ada sorot takut
dimatanya. Mungkin dia tidak percaya diri ketika melihat wajahku yang muram.
“Katakan,
apa yang ingin kamu sampaikan!” Aku memberinya kepercayaan diri.
“Jika
kakak mengizinkan, aku ingin kuliah. Di awal masuk aku mohon bantuan kakak
untuk masalah biaya. Untuk seterusnya aku akan mencari pekerjaan. Apapun
keputusan kakak, aku akan terima.” Aldi tertunduk pasrah.
Aku
tau, setiap orang ingin kehidupan yang lebih baik. Aldi bersemangat menuntut
ilmu, Sedangkan Gerda adik ke dua memilih bekerja di bengkel karena
tertarik pada mesin. Aku tidak keberatan mendengar permintaan Aldi. Namun
keadaanku seakan tidak mendukung.
“Baiklah,
kakak izinkan. Belajarlah yang rajin! kesuksesan ada di tanganmu.” Mendengar
persetujuanku, wajah Aldi berbinar, senyumnya merekah.
Langit
tidak selamanya hitam pekat, bulan setia menemani, memberi sinar terindah
memancar ke penjuru arah termasuk ke hatiku.
“Aku
punya brosur kampusnya Kak. Kakak baca saja! semoga tidak mengecewakan.” Aldi
memberikan selembar brosur padaku.
“Baiklah,
kakak tidak mempermasalahkan dimana kamu kuliah. Yakin bisa menggapai cita-cita
saja, kakak sudah bangga padamu.”
“Terima
kasih kak.”
Air
mata menetes saat Aldi meninggalkanku sendiri. Besok pagi aku akan kembali
mengitari setiap perusahaan, siapa tau ada lowongan.
“Kak
Resya. Fira kangen. Kakak selalu sibuk sampai tidak ada waktu menemani Fira
bermain.” Seseorang memeluk punggung, segera ku hapus air mata di pipi.
Nafira
benar, selama ini aku sibuk bekerja hingga tidak ada waktu bercengkrama. Lebih
banyak waktu merenung dalam kamar. Pantas saja Aldi ragu berbicara denganku.
“Maafkan
kakak! Fira kenapa belum tidur?”
“Kakak
juga belum. Fira mau tidur sama kakak. Boleh?” aku mengangguk.
Fira,
gadis ceria, suka mengganggu tetapi tidak ada yang berani memarahi. Rasa sedih
yang terjadi hari ini terlupakan, pelukkan hangat dari Fira telah
meleburkannya.
***
Aku
istirahat di bawah pohon, di halaman kantor yang sudah menolak lamaranku. Ini
kantor ke lima yang aku temui selama seminggu. Tidak ada lagi selebaran
lowongan di pintu masuk.
Seseorang
berjalan ke arahku, wanita cantik, tinggi semampai bagai model, lekuk tubuh
yang serasi dengan pakaian kantor, mengenakan rok mini. Dia duduk di samping
menawarkan minuman botol. Aku ragu tetapi dia meyakinkan untuk meraihnya.
“Tidak
perlu sungkan, anggaplah itu sebagai awal pertemanan!” ucapnya dengan senyum
ramah.
“Terima
kasih. Apa anda bekerja di kantor tersebut?” Aku menatap kantor yang
menjulang tinggi dengan arsitektur bagus. Membuat betah mata pejalan kaki.
“Iya,
mencari pekerjaan di zaman yang kacau seperti ini memang tidak mudah.
Keberuntungan selalu dijadikan alasan seseorang yang tidak berpendidikan
dapat pekerjaan layak tetapi mereka keliru, otak manusia tidak sama.“
“Maksud
anda?” aku menatapnya bingung.
“Pintar
saja belum tentu dapat pekerjaan yang layak tetapi jika kamu cerdas menempatkan
diri. Kamu akan menggunakan segala cara supaya kamu berhasil. Termasuk yang
paling rumit, asalkan keinginanmu tercapai. Bukankah kita hidup untuk memenuhi
segala kebutuhan?” Dia menatapku serius.
Apa
yang sebenarnya dia jelaskan? Dia tiba-tiba mengutarakan banyak hal. Namun
sepertinya dia memperhatikanku saat keluar kantor. Apa mungkin dia peduli
padaku?
“Aku
ingin menawarkan pekerjaan padamu.” ucapannya yang tiba-tiba membuat hatiku
senang. Ingin rasanya memeluk tetapi ku urungkan karena tidak mau
mengotori pakaiannya dengan keringat.
Perkenalan
dengan Anita membuahkan kesepakatan. Banyak hal yang dia ceritakan padaku,
tentang kesulitan ekonomi keluarganya. Hingga mengharuskan dia menikah dini
dengan orang yang tidak dia sukai. Lalu pernikahannya tidak bertahan lama. Kesulitan
yang telah dia alami membuatnya mandiri, hingga menjadi orang sukses. Dia tidak
menceritakan pekerjaan yang dia tawarkan secara detail. Dapat tawaran kerjasama
saja rasanya sudah lega.
Dengan
izin adik-adikku, aku berangkat meninggalkan rumah malam hari. Mobil terparkir
ditempat pertama kali bertemu dengan Anita. Aku di ajak menyusuri hiruk-pikuk
kota. Berbeda sekali rasanya dengan menaiki bus saat pulang bekerja. Jika naik
bus, aku tidak sempat melihat pemandangan lewat jendela karena tertidur melepas
lelah. Di dalam mobil mewah ini, aku bisa menikmati suasana malam.
“Kamu
akan nyaman bekerja denganku. Dulu aku menyesal tetapi ketika keinginanku
tercapai. Aku menjadikannya pekerjaan sampingan.” matanya fokus menyetir, namun
aku lihat raut wajahnya menjadi sendu. Seakan ada kesedihan yang dia simpan.
“Aku
harap bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan anda, Bu Anita.”
“Kamu
tidak perlu formal! Aku rasa umur kita tidak jauh berbeda. Jadi panggil nama
saja biar lebih akrab.”
“Baiklah.
Apa kantornya masih jauh? Apa semua karyawan bekerja di malam hari?”
“Tidak
semua.” jawabnya singkat.
“Kenapa
kamu mempunyai pekerjaan lain. Bukankah kamu sudah bekerja di kantor yang
gajinya cukup besar. Apa pekerjaan ini sangat menjanjikan sehingga kamu tidak bisa
meninggalkanya?” aku semakin penasaran.
“Kamu
terlalu banyak bertanya.” Anita mulai risih dengan pertanyaanku. Aku memilih
diam.
Mobil
merapat melalui jalan sempit perumahan. Rumah-rumah megah, dengan hiasan lampu
menghiasi jalan. Kini kami menjauh dari keramaian kota, masuk perumahan sepi.
Mobil perlahan memasuki rumah mewah yang dijaga seorang satpam berbadan tegap.
Otot mencuat dibagian lengan kaos pendek. Dia menyapa ramah.
“Turunlah!
kita sudah sampai Resya.”
“Ini
kantormu?”
Anita
tidak menanggapi pertanyaan. Dia mengajak masuk ke dalam rumah. Saat pintu
terbuka, ada seorang laki-laki duduk di sofa ditemani beberapa jenis minuman
beralkohol di atas meja. Anita tidak peduli wajahku memucat. Dia asik
mendorongku berkenalan dengan pria yang usianya sekitar lima puluh tahun itu.
Pria yang menatapku dari kepala sampai ujung kaki. Anita meninggalkanku
bercengkrama. Aku mulai menyadari ada yang ganjil. Aku mengajak Anita
berbincang di luar.
“Kenapa
kamu mengenalkanku pada bapak tadi? Bukankah kamu menawarkan pekerjaan, mana?”
Aku yang panik sekaligus kesal meminta penjelasan dari Anita.
“Resya,
apa lagi yang kamu tunggu. Di sinilah pekerjaanmu. Bersenang-senanglah! kamu
akan dapat bayaran tinggi dari dia.” Mendengar penjelasan Anita, tanganku
mendarat keras di pipinya.
“Kamu
kenapa? tidak tau terima kasih. Aku sudah berusaha membantu tetapi kamu tidak
tau diuntung. Bodoh sekali jika kamu tidak memanfaatkan keadaan. Orang itu akan
memberikanmu harta yang berlimpah. Kamu menolak?” Anita memaki dan menatap
sinis padaku.
“Maaf
Anita. Terserah kamu anggap aku apa tetapi keputusanku sangat tepat. Aku tidak
akan bekerja denganmu.”
“Percuma
bekerjasama dengan orang yang tidak tau kesenangan. Kamu pikir mudah
mencari pekerjaan lain. Bukankah kamu butuh uang? Di sini kamu akan
mendapatkannya. Berapapun yang kamu mau. Lalukanlah! Kenapa harus berubah
pikiran?” egonya lagi.
“Jika
aku menerima pekerjaan ini, nasibku akan lebih buruk.” aku menahan dada yang
kian sesak ingin menangis.
“Kenapa
harus berpikir baik-buruk jika pada akhirnya semua keinginanmu akan terpenuhi.
Bukankah jadi kepuasaan tersendiri? Itu tujuanmu mencari pekerjaan kan?”
ledeknya.
“Tidak.
Aku tidak mau mengecewakan adikku. Lebih baik menjadi pengangguran daripada
bekerja tidak halal untuk membiayai kehidupan mereka. Bagaimana aku menjadi
contoh mereka? aku selalu berusaha mengajarkan perbuatan baik tetapi pekerjaan
ini menginjak harga diriku.”
“Terserah,
aku tidak peduli.” Anita meninggalkanku dengan wajah marah. Aku lebih baik
mengecewakannya, kan selalu ingat pesan Ibu di akhir usianya.
***
Aku
terbangun dengan mata berat. Kejadian semalam membuatku lelah. Sekarang aku
harus lebih hati-hati, tidak boleh percaya pada orang yang baru kenal.
Kesulitan hidup telah mengantarkan seseorang melakukan kejahatan demi
mendapatkan apa yang diinginkan. Tanpa peduli hal itu merugikan dirinya bahkan
oranglain.
Kamu
bukan orang cerdas Anita, terlalu naif untuk orang yang menggunakan otak untuk
berbuat jahat. Aku pikir hidupmu sempurna, penuh harta dan bahagia tetapi aku
tidak melihat itu. Kamu menyesali yang telah terjadi.
Jalan
hidup yang rumit lebih memberi banyak pelajaran. Terkadang aku membencinya
tetapi lebih banyak mensyukuri. Aku tidak ingin masuk dunia gelap. Jangan
biarkan sepi dihati membutakan pikiran! Kadang keinginan tidak sejalan dengan
kenyataan. Jika kita yakin ada jalan keluar. Maka bersugestilah kamu mampu!
Tidak perlu jadi oranglain, cukup tunjukan dirimu apa adanya!
Aku
berjalan menuju teras, rumah terasa sepi. Nafira masih tertidur di kamar, tidak
ada yang berani membangunkan.
Gerda duduk
melamun di bangku teras. Tatapan kosong tertuju pada halaman.
“Gerda."
Sapaku, duduk disamping Gerda menunggu jawaban. Dia tidak menoleh, seperti
sedang menenangkan diri. Dia seakan sudah siap dengan berbagai pertanyaan
dariku.
“Kenapa
kamu tidak berangkat kerja?” Aku sudah lama tidak menyapanya. Dia
berangkat pagi, pulang malam saat penghuni rumah tidur. Dia tetap tidak
menjawab.
“Kenapa?
Jangan melamun seperti itu kakak jadi khawatir. Cerita sama kakak!” Aku duduk
di sampingnya.
Apa
ada yang salah? Apa ini ada sangkut pautnya dengan Aldi yang aku izinkan
kuliah. Apa Gerda merasa aku tidak adil? Gerda, apa aku bukan kakak yang baik?
“Bicaralah!
tidak biasanya kamu seperti ini.” aku mengguncang badannya hingga akhirnya dia
menoleh.
“Kak,
apa Kakak percaya padaku?” wajahnya memelas.
Jujurlah,
jangan memendam rasa bila selama ini kakak tidak membuatmu bahagia! Apa yang
harus kakak perbaiki? Akan kakak kabulkan permintaanmu. Percayalah! bathinku
tidak tega melihatnya.
“Tentu
saja. Kakak selalu percaya pada adik-adik kakak. Ada masalah apa?”
“Aku
jahat dimata orang lain, bisa jadi dimata kakak. Aku dituduh mencuri uang kas
milik bengkel. Aku memang masuk ruangan itu tetapi mengambil berkas yang bos
butuhkan setelah itu ruangan kembali terkunci. Aku benar-benar tidak mengambil
uang.” jelasnya.
“Kakak
mengenalmu dengan baik. Kebenaran lambat laun akan terungkap. Kamu tidak boleh
menyerah mempertahankan pendirianmu. Kakak yakin kamu tidak bersalah.” Aku
meyakinkan dirinya. Gerda tidak akan melakukan hal jahat seperti itu.
“Mereka
tidak percaya. Aku tidak punya pekerjaan lagi, sekarang aku tidak bisa membantu
kakak. Aku minta maaf.” ucapnya dengan nada bergetar. Aku mengelus bahunya,
menguatkan. Selama ini Gerda jg membantu perekonomian di rumah ini. Dia pasti
merasa sangat terpukul.
“Tuhan
akan selalu memudahkan jalanmu. Kakak tidak mau kamu terbebani. Jangan pikirkan
lagi! kamu akan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tetap semangat! Biarkan
masalah ini jadi pelajaran supaya tidak terulang lagi!” Entah berapa lama
lagi aku bisa menahan air di ujung mata.
Siapa
saja ingin mencari ketenangan di saat seperti ini. Mencari tempat
persembunyian, hingga tidak telihat jejak. Jangan biarkan kesedihan membawaku
kembali meratap!
***
Sudah
seminggu aku tidak tidur pulas, memikirkan kelanjutan hidup kami. Aku dan
Gerda tidak bekerja. Penghuni rumah selalu menghibur Gerda, sehingga
senyum dan tawanya kembali menghiasi rumah.
“Kak
Resya ada tamu.” Suara Merisa di luar kamar sangat nyaring.
Rumah
sepi di hari minggu. Merisa asik menonton tv, tidak peduli celotehan Nafira
disampingnya. Waktu libur seperti ini Gerda dan Aldi pergi berolahraga.
Aku
menghampiri seseorang diruang tamu, lelaki yang duduk di sofa.
“Pagi
Resya.” dengan senyumnya yang membuatku jengkel. Aku tidak membalas
sapaan, tersenyum sedikit saja rasanya sulit.
“Apa
kabar? Om jarang mengunjungi kamu dan adik-adikmu, sampai rindu tempat
ini.”
“Apa
aku tidak salah dengar?” ledekku.
“Salahkah
bila Om datang berkunjung?”
“Aneh
saja, dulu Om memilih pergi dari tempat kumuh kami. Bahkan Om lebih senang
tinggal di luar tanpa peduli keadaan rumah ini.” aku tidak bisa menahan
amarahku.
“Apa
yang kamu bicarakan?" dia tetap berbicara tenang, seakan tidak pernah
terjadi apa-apa.
“Bukankah
itu kenyataan, sudah lama Om tidak menginjakan kaki bahkan saat Ibu pergi.
Sekarang untuk apa Om kembali?” aku bahkan tidak ingin menatapnya.
“Percuma
saja kita bertengkar. Ada yang ingin Om sampaikan padamu tetapi tunggu
Gerda dan Aldi juga. Tenangkan dirimu tidak baik memperlihatkan kemarahan
didepan adikmu!”
Aku
harus meredam amarah di depan Merisa dan Nafira. Mereka mendengar teriakanku,
Merisa mengerti tetapi Nafira menatap polos perbincangan kami. Anak mana yang
tidak marah bertemu kembali dengan orang yang tidak pernah menjenguk Ibu ketika
melawan penyakitnya. Sampai menutup usia tidak terlihat batang hidungnya di
pemakaman. Dia tidak pernah peduli kehidupan kami setelah di tinggal ibu,
tetapi kini dia kembali.
Jika
lelaki itu akan tinggal bersama kami, aku memutuskan untuk tidak menerimanya.
Saat ini aku tidak punya rasa iba menelantarkannya diluar.
***
Malam
ini menjawab kegelisahanku. Jika saja dari awal aku tau dia akan datang, aku
akan mengunci rumah. Namun jika dia datang dengan isyarat baik. Sebaliknya, aku
akan menerima dengan senang hati.
Aku,
Gerda, Aldi dan Om Wira duduk di ruang tamu. Kedua adik perempuanku bermain di
kamar. Aku sudah lelah berdebat, kata-katanya tadi siang sudah cukup jelas jika
aku tidak menyambutnya.
“Apa
yang Om lakukan sangat keterlaluan. Kenapa tidak meminta izin pada Kak Resya.”
Aldi terpancing emosi.
“Kakakku
sudah berbaik hati merawat kalian. Apa kalian meminta imbalan? Aku juga berhak
atas rumah ini.” jelasnya yang membuat kami tercengang.
“Tidak
tau malu, sudah tidak peduli pada Ibu sekarang mau menyakiti kami. Tempat judi
itu tidak menghasilkan. Buruknya membiarkan hak milik tanah ini pada mereka.
Ceroboh, tidak akan aku lepaskan.” Gerda mengarahkan tinjuan pada wajah Om
Wira. Aldi menghentikan gerak tangan Gerda.
“Aku
tidak pernah berharap malam ini melihat Om. Jangan sakiti adik-adikku!“ ucapku
tegas.
“Om
memahami keadaan kalian dan menyesali kesalahan ini. Om ingin berubah.”
“Apa
ini yang disebut memahami? kenapa harus Om yang menambah beban kami?” Aku tidak
mengerti jalan pikirannya sehingga mengadaikan rumah Ibu ke Bank.
“Om
sudah mencoba mengambil hak milik rumah ini tetapi uang tidak cukup melunasi
semua. Tidak ada jalan lain Resya. Jika mampu, kalian bisa mengambil rumah
ini kembali.”
“Aku
dan Gerda tidak punya pekerjaan lagi. Aku tidak akan memberatkan adik-adikku
karena masalah Om. Kami punya masalah hidup masing-masing. Mungkin inilah
takdir kami, pergi dari tempat ini.” Baru hari ini kau mengungkapkan kalau aku
sudah tidak bekerja.
“Maafkan
atas kesalahan Om yang telah melukai hati kalian!”
Gerda dan
Aldi tertunduk menahan tangis, sama seperti sorot mata Om Wira. Aku tau mereka
sangat kecewa tetapi inilah kehidupan tidak selamanya bahagia menyapa.
***
Rumah
Ibu bukan milikku. Kami tidak punya hak di sana, anak angkat pemilik yang telah
tiada. Kebahagian muncul susah payah, namun duka menguburnya dalam. Namun kami
tetap bertahan dengan ikhlas menerima keadaan. Berbekal rumah lama peninggalan
orangtuaku yang di rawat Mbok Parmi, kami memulai kehidupan baru.
“Kakak,
Kak Merisa dimana?” Nafira berlari-lari kecil mencari keberadaan kakaknya.
“Mungkin
di luar membantu Kak Gerda dan Kak Aldi membereskan gudang.” Aku masih
sibuk membuat sarapan di dapur.
“Fira
mau ke gudang ya kak.”
“Lihat
dari jauh ya, ruangannya berdebu! Biarkan kakakmu yang mengangkat beban berat,
Fira membantu menyapu saja!” Dibalik jendela aku melihat adik-adikku bekerja
sama membereskan ruangan depan rumah agar bisa digunakan lagi, mereka tertawa
bahagia.
Sudah
dua bulan kami pindah rumah. Aku tidak lupa rumah lama yang sudah berganti
pemilik, tidak ada pikiran untuk mendapatkan rumah itu kembali. Ibu pasti
mengerti.
Rumahku
terdiri dari tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dapur, dan ruang tamu. Di
halaman ada gudang dan garasi mobil, Gerda dan Aldi berniat membuat warung
kecil untukku berjualan. Mereka tidak mau aku bekerja di luar lagi supaya lebih
banyak waktu di rumah. Bermodalkan sisa tabunganku menjadi awal aku membuka
usaha.
Kini
kami memulai dari awal. Jika kita percaya! Tuhan akan mengabulkan permintaan
kita sekecil apapun itu.
Aldi mendapat
pekerjaan sebagai karyawan kantor. Sedangkan Gerda diterima kembali di
bengkel yang dulu karena pelaku pencurian sudah tertangkap. Sekarang
Gerda kuliah di tempat yang sama dengan Aldi. Mereka membiayai kuliah
dengan uang sendiri.
Keceriaan
terpancar saat bersama, tidak ada raut kecewa, tidak ada yang membenci. Om Wira
tidak pernah berjudi dan mabuk-mabukan lagi. Sekarang dia merantau untuk
bekerja. Kepintaran menjadikannya karyawan kepercayaan. Sebagian gaji dia
kirimkan untuk kebutuhan kami. Beliau mengajarkan kami supaya tidak lupa
menyisihkan sebagian uang untuk sedekah dan menabung. Om Wira selalu pulang
jika libur panjang. Meskipun Ibu telah tiada, sikap Om Wira mengingatkan
kami padanya. Kami merasa memiliki orang yang menyayangi dengan
tulus.
Jangan
biarkan dendam menutupi ruang kasih sayang! Jangan biarkan luka lama hadir
menghentikan langkah! Setiap orang punya sikap baik maupun buruk, biarkan
seseorang berubah menjadi lebih baik!
Terimakasih
Ini
ceritaku... Dilarang copypaste!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar