Sabtu, 12 Oktober 2013

CERPEN "MENANTI HUJAN REDA"

Matahari bersembunyi dibalik awan, hitam pekat menguasai langit. 

Tetes air merayap dibatang daun, terlempar jatuh menyapa orang yang berlalu-lalang. Suasana dingin menyergap menusuk tulang.

Suara petir bergemuruh menyatu dalam bising klakson kota. Genangan air memenuhi jalan, tingginya selutut orang dewasa tetapi tidak ada yang peduli. Mereka memilih menerobos segala rintangan demi tuntutan hidup. Jika hal seperti itu dijadikan masalah, bagaimana bisa mereka mengejar rezeki. Beban hidup berada di pundak masing-masing.

***

Siapapun tidak akan menduga kapan hujan datang. Kadang dia datang di saat tidak dibutuhkan. Kadang dia tidak datang dan mengacuhkan seruan. 

Dulu perasaanku merana saat dia menyapa, terlalu banyak kenangan yang tercipta. Hujan ibarat suasana sendu, temani alur hidup yang perih tetapi setiap hari bersama membuatku terbiasa.

Hujan tidak pernah kumiliki, Tuhanlah pemiliknya. Tidak perlu disesali akan kedatangan hujan, bukankah alangkah besar nikmat Tuhan. 

***

Aku sangat di sayang, tidak pernah muncul pertanyaan sedih menjalani hari. Hingga aku menjerit meminta orangtuaku hidup kembali. Mereka tidak pernah mengatakan akan pergi. Namun kecelakaan terjadi di luar dugaan. Mobil yang membawa aku, Ayah dan Ibu tiba-tiba menabrak tiang pembatas, terperosok jurang. Ketika bersama, aku tegar menatap masa depan tetapi kini aku sendiri.

Hanya sebagian manusia hidup penuh kasih, tidak menyiksa, rela memberi dalam kekurangan. Aku tidak menyesal sedekat ini dengan seseorang. Aku tidak punya alasan selain ketulusan hati, Ibu asuhku.

“Hiduplah dengan keberanian! Jangan ragu mempertahankan kebaikan! Jika kamu dipaksa jahat, ucapkan dengan tegas bahwa kamu tidak mau melakukannya!”

Kalimat yang terpatri dikepala sebelum orangtua asuhku menutup usia. Beliau dengan ikhlas mencurahkan kasih sayang pada 5 anak tidak berorangtua, termasuk aku.

Usiaku 24 tahun, seorang kakak yang menjaga ke empat adiknya. Dua remaja laki-laki Aldi dan Gerda baru lulus SMA, Merisa gadis remaja kelas IX SMP. Sedangkan adik perempuan paling kecil Nafira usianya 5 tahun.

“Seandainya aku tidak belajar bertahan hidup. Aku tidak yakin mampu melakukan semua. Berkat ridhoMu Tuhan, aku percaya Kau menyayangi sehingga turunlah ujian ini. Berikan aku kesabaran!”

Aku bersandar dikursi halte, menunggu hujan reda. Bis yang ditunggu tidak kunjung datang, mungkin terjebak banjir. Orang di sekitar ramai bercengkrama, namun bagiku terasa sepi. Waktu seakan membiarkan semua melambat. 

“Mau membeli kue-kuenya kak?” Seorang anak laki-laki menghampiri, badannya basah kuyup. Di tangannya ada keranjang yang di tutupi plastik. 

“Boleh, kakak beli ini.” menunjuk beberapa gorengan.

“Tentu saja. Sebentar ya kak.” Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Dia memasukan makanan ke dalam kantong plastik, memberikan padaku dan menggenggam kaku uang 50 ribu. 

“Maaf Kak, ada uang pas, kebetulan hari ini belum ada pembeli.”

“Simpan saja kembaliannya untuk ditabung! Jika kamu mau, duduklah temani kakak berbincang sebentar!” 

“Baik kak dengan senang hati.” Dia duduk di sampingku, menikmati hujan dengan bercengkrama. Tidak lama Beni pamit pergi, aku terus menatap punggungnya sampai tidak terlihat. “Aku doakan kamu sukses.”

Beni, anak yang rajin. Umurnya 11 tahun. Sejak ayahnya meninggal, dia bekerja membantu ibunya, seorang buruh cuci pakaian. Tidak ada gurat lelah di wajah, dengan senang hati memikat orang supaya membeli makanannya. Dia memilih berjualan daripada menjadi pengemis jalanan, baginya pekerjaan ini lebih dihargai.

Bisakah aku sepertinya? tegar. Kenapa aku tidak bahagia dengan kehidupan sekarang? Lihatlah! diluar sana masih banyak yang tidak beruntung. Sesulit apapun, alangkah baiknya kita tetap bersyukur.

Perasaan gelisah, tidak mampu beranjak menuju rumah dan memberitahu kabar buruk. Aku menyayangi mereka yang bahagia, saling mengasihi dan selalu membanggakan. Akankan semua terus berjalan seiring dengan kepedihan.

Aku bukan pegawai kantoran, pergi dari rumah dengan pakaian rapih tetapi di kantor aku hanya OG. Dulu saat pertama kali menunjukan surat diterima di kantor tersebut. Adik-adikku mengira aku diterima sebagai karyawan di kantor terkenal. Sehingga tidak mampu ku ungkapkan kejujuran. Aku telah mengecewakan ibu. Kini aku kehilangan pekerjaan, sudah mencoba melamar ke kantor lain tetapi di tolak.

Bus muncul perlahan di balik kabut, aku berlari menerobos hujan berebut naik dengan penumpang lain yang sejak tadi menunggu di halte.

***

Gerimis membungkus keheningan malam. Gumpalan air setia berkunjung ke bumi. Angin menyelinap masuk ke kamar lewat celah kecil di jendela. 

Mata menyaksikan suasana di balik jendela. Lampu di halaman menyorot sarang burung yang bersembunyi di atas pohon, terlihat induk burung kembali dari mencari makan, setia menjaga anak-anaknya dari dingin. Seketika aku rindu Ibu. Di saat seperti ini aku butuh sandaran.

Seseorang membuyarkan lamunan, pintu kamar terketuk.

“Kak Resya, apa aku boleh masuk?” ucapnya ragu.

“Ya, pintunya tidak di kunci!!” Aldi menghampiri dengan selembar kertas di tangan.

“Apa aku mengganggu waktu kakak?” Aldi menyelidiki wajahku.

“Tidak. Apa ada yang bisa kakak bantu?” aku tersenyum meyakinkan Aldi bahwa aku baik-baik saja.

“Sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu.” Aldi menghentikan ucapan. Ada sorot takut dimatanya. Mungkin dia tidak percaya diri ketika melihat wajahku yang muram.

“Katakan, apa yang ingin kamu sampaikan!” Aku memberinya kepercayaan diri.

“Jika kakak mengizinkan, aku ingin kuliah. Di awal masuk aku mohon bantuan kakak untuk masalah biaya. Untuk seterusnya aku akan mencari pekerjaan. Apapun keputusan kakak, aku akan terima.” Aldi tertunduk pasrah.

Aku tau, setiap orang ingin kehidupan yang lebih baik. Aldi bersemangat menuntut ilmu, Sedangkan Gerda adik ke dua memilih bekerja di bengkel karena tertarik pada mesin. Aku tidak keberatan mendengar permintaan Aldi. Namun keadaanku seakan tidak mendukung.

“Baiklah, kakak izinkan. Belajarlah yang rajin! kesuksesan ada di tanganmu.” Mendengar persetujuanku, wajah Aldi berbinar, senyumnya merekah. 

Langit tidak selamanya hitam pekat, bulan setia menemani, memberi sinar terindah memancar ke penjuru arah termasuk ke hatiku. 

“Aku punya brosur kampusnya Kak. Kakak baca saja! semoga tidak mengecewakan.” Aldi memberikan selembar brosur padaku.

“Baiklah, kakak tidak mempermasalahkan dimana kamu kuliah. Yakin bisa menggapai cita-cita saja, kakak sudah bangga padamu.”

“Terima kasih kak.”

Air mata menetes saat Aldi meninggalkanku sendiri. Besok pagi aku akan kembali mengitari setiap perusahaan, siapa tau ada lowongan.

“Kak Resya. Fira kangen. Kakak selalu sibuk sampai tidak ada waktu menemani Fira bermain.” Seseorang memeluk punggung, segera ku hapus air mata di pipi.

Nafira benar, selama ini aku sibuk bekerja hingga tidak ada waktu bercengkrama. Lebih banyak waktu merenung dalam kamar. Pantas saja Aldi ragu berbicara denganku.

“Maafkan kakak! Fira kenapa belum tidur?” 

“Kakak juga belum. Fira mau tidur sama kakak. Boleh?” aku mengangguk.

Fira, gadis ceria, suka mengganggu tetapi tidak ada yang berani memarahi. Rasa sedih yang terjadi hari ini terlupakan, pelukkan hangat dari Fira telah meleburkannya.

***

Aku istirahat di bawah pohon, di halaman kantor yang sudah menolak lamaranku. Ini kantor ke lima yang aku temui selama seminggu. Tidak ada lagi selebaran lowongan di pintu masuk.

Seseorang berjalan ke arahku, wanita cantik, tinggi semampai bagai model, lekuk tubuh yang serasi dengan pakaian kantor, mengenakan rok mini. Dia duduk di samping menawarkan minuman botol. Aku ragu tetapi dia meyakinkan untuk meraihnya.

“Tidak perlu sungkan, anggaplah itu sebagai awal pertemanan!” ucapnya dengan senyum ramah.

“Terima kasih. Apa anda bekerja di kantor tersebut?” Aku menatap kantor yang menjulang tinggi dengan arsitektur bagus. Membuat betah mata pejalan kaki.

“Iya, mencari pekerjaan di zaman yang kacau seperti ini memang tidak mudah. Keberuntungan selalu dijadikan alasan seseorang yang tidak berpendidikan dapat pekerjaan layak tetapi mereka keliru, otak manusia tidak sama.“

“Maksud anda?” aku menatapnya bingung.

“Pintar saja belum tentu dapat pekerjaan yang layak tetapi jika kamu cerdas menempatkan diri. Kamu akan menggunakan segala cara supaya kamu berhasil. Termasuk yang paling rumit, asalkan keinginanmu tercapai. Bukankah kita hidup untuk memenuhi segala kebutuhan?” Dia menatapku serius.

Apa yang sebenarnya dia jelaskan? Dia tiba-tiba mengutarakan banyak hal. Namun sepertinya dia memperhatikanku saat keluar kantor. Apa mungkin dia peduli padaku?

“Aku ingin menawarkan pekerjaan padamu.” ucapannya yang tiba-tiba membuat hatiku senang. Ingin rasanya memeluk tetapi ku urungkan karena tidak mau mengotori pakaiannya dengan keringat.

Perkenalan dengan Anita membuahkan kesepakatan. Banyak hal yang dia ceritakan padaku, tentang kesulitan ekonomi keluarganya. Hingga mengharuskan dia menikah dini dengan orang yang tidak dia sukai. Lalu pernikahannya tidak bertahan lama. Kesulitan yang telah dia alami membuatnya mandiri, hingga menjadi orang sukses. Dia tidak menceritakan pekerjaan yang dia tawarkan secara detail. Dapat tawaran kerjasama saja rasanya sudah lega.

Dengan izin adik-adikku, aku berangkat meninggalkan rumah malam hari. Mobil terparkir ditempat pertama kali bertemu dengan Anita. Aku di ajak menyusuri hiruk-pikuk kota. Berbeda sekali rasanya dengan menaiki bus saat pulang bekerja. Jika naik bus, aku tidak sempat melihat pemandangan lewat jendela karena tertidur melepas lelah. Di dalam mobil mewah ini, aku bisa menikmati suasana malam.

“Kamu akan nyaman bekerja denganku. Dulu aku menyesal tetapi ketika keinginanku tercapai. Aku menjadikannya pekerjaan sampingan.” matanya fokus menyetir, namun aku lihat raut wajahnya menjadi sendu. Seakan ada kesedihan yang dia simpan.

“Aku harap bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan anda, Bu Anita.”

“Kamu tidak perlu formal! Aku rasa umur kita tidak jauh berbeda. Jadi panggil nama saja biar lebih akrab.”

“Baiklah. Apa kantornya masih jauh? Apa semua karyawan bekerja di malam hari?”

“Tidak semua.” jawabnya singkat.

“Kenapa kamu mempunyai pekerjaan lain. Bukankah kamu sudah bekerja di kantor yang gajinya cukup besar. Apa pekerjaan ini sangat menjanjikan sehingga kamu tidak bisa meninggalkanya?” aku semakin penasaran.

“Kamu terlalu banyak bertanya.” Anita mulai risih dengan pertanyaanku. Aku memilih diam.

Mobil merapat melalui jalan sempit perumahan. Rumah-rumah megah, dengan hiasan lampu menghiasi jalan. Kini kami menjauh dari keramaian kota, masuk perumahan sepi. Mobil perlahan memasuki rumah mewah yang dijaga seorang satpam berbadan tegap. Otot mencuat dibagian lengan kaos pendek. Dia menyapa ramah.

“Turunlah! kita sudah sampai Resya.”

“Ini kantormu?”

Anita tidak menanggapi pertanyaan. Dia mengajak masuk ke dalam rumah. Saat pintu terbuka, ada seorang laki-laki duduk di sofa ditemani beberapa jenis minuman beralkohol di atas meja. Anita tidak peduli wajahku memucat. Dia asik mendorongku berkenalan dengan pria yang usianya sekitar lima puluh tahun itu. Pria yang menatapku dari kepala sampai ujung kaki. Anita meninggalkanku bercengkrama. Aku mulai menyadari ada yang ganjil. Aku mengajak Anita berbincang di luar.

“Kenapa kamu mengenalkanku pada bapak tadi? Bukankah kamu menawarkan pekerjaan, mana?” Aku yang panik sekaligus kesal meminta penjelasan dari Anita.

“Resya, apa lagi yang kamu tunggu. Di sinilah pekerjaanmu. Bersenang-senanglah! kamu akan dapat bayaran tinggi dari dia.” Mendengar penjelasan Anita, tanganku mendarat keras di pipinya.

“Kamu kenapa? tidak tau terima kasih. Aku sudah berusaha membantu tetapi kamu tidak tau diuntung. Bodoh sekali jika kamu tidak memanfaatkan keadaan. Orang itu akan memberikanmu harta yang berlimpah. Kamu menolak?” Anita memaki dan menatap sinis padaku.

“Maaf Anita. Terserah kamu anggap aku apa tetapi keputusanku sangat tepat. Aku tidak akan bekerja denganmu.”

“Percuma bekerjasama dengan orang  yang tidak tau kesenangan. Kamu pikir mudah mencari pekerjaan lain. Bukankah kamu butuh uang? Di sini kamu akan mendapatkannya. Berapapun yang kamu mau. Lalukanlah! Kenapa harus berubah pikiran?” egonya lagi.

“Jika aku menerima pekerjaan ini, nasibku akan lebih buruk.” aku menahan dada yang kian sesak ingin menangis.

“Kenapa harus berpikir baik-buruk jika pada akhirnya semua keinginanmu akan terpenuhi. Bukankah jadi kepuasaan tersendiri? Itu tujuanmu mencari pekerjaan kan?” ledeknya.

“Tidak. Aku tidak mau mengecewakan adikku. Lebih baik menjadi pengangguran daripada bekerja tidak halal untuk membiayai kehidupan mereka. Bagaimana aku menjadi contoh mereka? aku selalu berusaha mengajarkan perbuatan baik tetapi pekerjaan ini menginjak harga diriku.”

“Terserah, aku tidak peduli.” Anita meninggalkanku dengan wajah marah. Aku lebih baik mengecewakannya, kan selalu ingat pesan Ibu di akhir usianya.

***

Aku terbangun dengan mata berat. Kejadian semalam membuatku lelah. Sekarang aku harus lebih hati-hati, tidak boleh percaya pada orang yang baru kenal. Kesulitan hidup telah mengantarkan seseorang melakukan kejahatan demi mendapatkan apa yang diinginkan. Tanpa peduli hal itu merugikan dirinya bahkan oranglain.

Kamu bukan orang cerdas Anita, terlalu naif untuk orang yang menggunakan otak untuk berbuat jahat. Aku pikir hidupmu sempurna, penuh harta dan bahagia tetapi aku tidak melihat itu. Kamu menyesali yang telah terjadi.

Jalan hidup yang rumit lebih memberi banyak pelajaran. Terkadang aku membencinya tetapi lebih banyak mensyukuri. Aku tidak ingin masuk dunia gelap. Jangan biarkan sepi dihati membutakan pikiran! Kadang keinginan tidak sejalan dengan kenyataan. Jika kita yakin ada jalan keluar. Maka bersugestilah kamu mampu! Tidak perlu jadi oranglain, cukup tunjukan dirimu apa adanya!

Aku berjalan menuju teras, rumah terasa sepi. Nafira masih tertidur di kamar, tidak ada yang berani membangunkan.

Gerda duduk melamun di bangku teras. Tatapan kosong tertuju pada halaman.

“Gerda." Sapaku, duduk disamping Gerda menunggu jawaban. Dia tidak menoleh, seperti sedang menenangkan diri. Dia seakan sudah siap dengan berbagai pertanyaan dariku.

“Kenapa kamu tidak berangkat kerja?” Aku sudah lama tidak menyapanya. Dia berangkat pagi, pulang malam saat penghuni rumah tidur. Dia tetap tidak menjawab.

“Kenapa? Jangan melamun seperti itu kakak jadi khawatir. Cerita sama kakak!” Aku duduk di sampingnya.

Apa ada yang salah? Apa ini ada sangkut pautnya dengan Aldi yang aku izinkan kuliah. Apa Gerda merasa aku tidak adil? Gerda, apa aku bukan kakak yang baik?

“Bicaralah! tidak biasanya kamu seperti ini.” aku mengguncang badannya hingga akhirnya dia menoleh.

“Kak, apa Kakak percaya padaku?” wajahnya memelas.

Jujurlah, jangan memendam rasa bila selama ini kakak tidak membuatmu bahagia! Apa yang harus kakak perbaiki? Akan kakak kabulkan permintaanmu. Percayalah! bathinku tidak tega melihatnya.

“Tentu saja. Kakak selalu percaya pada adik-adik kakak. Ada masalah apa?”

“Aku jahat dimata orang lain, bisa jadi dimata kakak. Aku dituduh mencuri uang kas milik bengkel. Aku memang masuk ruangan itu tetapi mengambil berkas yang bos butuhkan setelah itu ruangan kembali terkunci. Aku benar-benar tidak mengambil uang.” jelasnya.

“Kakak mengenalmu dengan baik. Kebenaran lambat laun akan terungkap. Kamu tidak boleh menyerah mempertahankan pendirianmu. Kakak yakin kamu tidak bersalah.” Aku meyakinkan dirinya. Gerda tidak akan melakukan hal jahat seperti itu.

“Mereka tidak percaya. Aku tidak punya pekerjaan lagi, sekarang aku tidak bisa membantu kakak. Aku minta maaf.” ucapnya dengan nada bergetar. Aku mengelus bahunya, menguatkan. Selama ini Gerda jg membantu perekonomian di rumah ini. Dia pasti merasa sangat terpukul. 

“Tuhan akan selalu memudahkan jalanmu. Kakak tidak mau kamu terbebani. Jangan pikirkan lagi! kamu akan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tetap semangat! Biarkan masalah ini jadi pelajaran supaya tidak terulang lagi!” Entah berapa lama lagi aku bisa menahan air di ujung mata.

Siapa saja ingin mencari ketenangan di saat seperti ini. Mencari tempat persembunyian, hingga tidak telihat jejak. Jangan biarkan kesedihan membawaku kembali meratap!

***

Sudah seminggu aku tidak tidur pulas, memikirkan kelanjutan hidup kami. Aku dan Gerda tidak bekerja. Penghuni rumah selalu menghibur Gerda, sehingga senyum dan tawanya kembali menghiasi rumah.

“Kak Resya ada tamu.” Suara Merisa di luar kamar sangat nyaring.

Rumah sepi di hari minggu. Merisa asik menonton tv, tidak peduli celotehan Nafira disampingnya. Waktu libur seperti ini Gerda dan Aldi pergi berolahraga.

Aku menghampiri seseorang diruang tamu, lelaki yang duduk di sofa.

“Pagi Resya.” dengan senyumnya yang membuatku jengkel. Aku tidak membalas sapaan, tersenyum sedikit saja rasanya sulit.

“Apa kabar? Om jarang mengunjungi kamu dan adik-adikmu, sampai rindu tempat ini.”

“Apa aku tidak salah dengar?” ledekku.

“Salahkah bila Om datang berkunjung?”

“Aneh saja, dulu Om memilih pergi dari tempat kumuh kami. Bahkan Om lebih senang tinggal di luar tanpa peduli keadaan rumah ini.” aku tidak bisa menahan amarahku.

“Apa yang kamu bicarakan?" dia tetap berbicara tenang, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

“Bukankah itu kenyataan, sudah lama Om tidak menginjakan kaki bahkan saat Ibu pergi. Sekarang untuk apa Om kembali?” aku bahkan tidak ingin menatapnya.

“Percuma saja kita bertengkar. Ada yang ingin Om sampaikan padamu tetapi tunggu Gerda dan Aldi juga. Tenangkan dirimu tidak baik memperlihatkan kemarahan didepan adikmu!” 

Aku harus meredam amarah di depan Merisa dan Nafira. Mereka mendengar teriakanku, Merisa mengerti tetapi Nafira menatap polos perbincangan kami. Anak mana yang tidak marah bertemu kembali dengan orang yang tidak pernah menjenguk Ibu ketika melawan penyakitnya. Sampai menutup usia tidak terlihat batang hidungnya di pemakaman. Dia tidak pernah peduli kehidupan kami setelah di tinggal ibu, tetapi kini dia kembali.

Jika lelaki itu akan tinggal bersama kami, aku memutuskan untuk tidak menerimanya. Saat ini aku tidak punya rasa iba menelantarkannya diluar.

 ***

Malam ini menjawab kegelisahanku. Jika saja dari awal aku tau dia akan datang, aku akan mengunci rumah. Namun jika dia datang dengan isyarat baik. Sebaliknya, aku akan menerima dengan senang hati.

Aku, Gerda, Aldi dan Om Wira duduk di ruang tamu. Kedua adik perempuanku bermain di kamar. Aku sudah lelah berdebat, kata-katanya tadi siang sudah cukup jelas jika aku tidak menyambutnya.

“Apa yang Om lakukan sangat keterlaluan. Kenapa tidak meminta izin pada Kak Resya.” Aldi terpancing emosi.

“Kakakku sudah berbaik hati merawat kalian. Apa kalian meminta imbalan? Aku juga berhak atas rumah ini.” jelasnya yang membuat kami tercengang.

“Tidak tau malu, sudah tidak peduli pada Ibu sekarang mau menyakiti kami. Tempat judi itu tidak menghasilkan. Buruknya membiarkan hak milik tanah ini pada mereka. Ceroboh, tidak akan aku lepaskan.” Gerda mengarahkan tinjuan pada wajah Om Wira. Aldi menghentikan gerak tangan Gerda.

 “Aku tidak pernah berharap malam ini melihat Om. Jangan sakiti adik-adikku!“ ucapku tegas.

“Om memahami keadaan kalian dan menyesali kesalahan ini. Om ingin berubah.”

“Apa ini yang disebut memahami? kenapa harus Om yang menambah beban kami?” Aku tidak mengerti jalan pikirannya sehingga mengadaikan rumah Ibu ke Bank.

“Om sudah mencoba mengambil hak milik rumah ini tetapi uang tidak cukup melunasi semua. Tidak ada jalan lain Resya. Jika mampu, kalian bisa mengambil rumah ini kembali.”

“Aku dan Gerda tidak punya pekerjaan lagi. Aku tidak akan memberatkan adik-adikku karena masalah Om. Kami punya masalah hidup masing-masing. Mungkin inilah takdir kami, pergi dari tempat ini.” Baru hari ini kau mengungkapkan kalau aku sudah tidak bekerja. 

“Maafkan atas kesalahan Om yang telah melukai hati kalian!”

Gerda dan Aldi tertunduk menahan tangis, sama seperti sorot mata Om Wira. Aku tau mereka sangat kecewa tetapi inilah kehidupan tidak selamanya bahagia menyapa.

***

Rumah Ibu bukan milikku. Kami tidak punya hak di sana, anak angkat pemilik yang telah tiada. Kebahagian muncul susah payah, namun duka menguburnya dalam. Namun kami tetap bertahan dengan ikhlas menerima keadaan. Berbekal rumah lama peninggalan orangtuaku yang di rawat Mbok Parmi, kami memulai kehidupan baru.

“Kakak, Kak Merisa dimana?” Nafira berlari-lari kecil mencari keberadaan kakaknya.

“Mungkin di luar membantu Kak Gerda dan Kak Aldi membereskan gudang.” Aku masih sibuk membuat sarapan di dapur.

“Fira mau ke gudang ya kak.” 

“Lihat dari jauh ya, ruangannya berdebu! Biarkan kakakmu yang mengangkat beban berat, Fira membantu menyapu saja!” Dibalik jendela aku melihat adik-adikku bekerja sama membereskan ruangan depan rumah agar bisa digunakan lagi, mereka tertawa bahagia.

Sudah dua bulan kami pindah rumah. Aku tidak lupa rumah lama yang sudah berganti pemilik, tidak ada pikiran untuk mendapatkan rumah itu kembali. Ibu pasti mengerti.

Rumahku terdiri dari tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dapur, dan ruang tamu. Di halaman ada gudang dan garasi mobil, Gerda dan Aldi berniat membuat warung kecil untukku berjualan. Mereka tidak mau aku bekerja di luar lagi supaya lebih banyak waktu di rumah. Bermodalkan sisa tabunganku menjadi awal aku membuka usaha.

Kini kami memulai dari awal. Jika kita percaya! Tuhan akan mengabulkan permintaan kita sekecil apapun itu.

Aldi mendapat pekerjaan sebagai karyawan kantor. Sedangkan Gerda diterima kembali di bengkel yang dulu karena pelaku pencurian sudah tertangkap. Sekarang Gerda kuliah di tempat yang sama dengan Aldi. Mereka membiayai kuliah dengan uang sendiri.

Keceriaan terpancar saat bersama, tidak ada raut kecewa, tidak ada yang membenci. Om Wira tidak pernah berjudi dan mabuk-mabukan lagi. Sekarang dia merantau untuk bekerja. Kepintaran menjadikannya karyawan kepercayaan. Sebagian gaji dia kirimkan untuk kebutuhan kami. Beliau mengajarkan kami supaya tidak lupa menyisihkan sebagian uang untuk sedekah dan menabung. Om Wira selalu pulang jika libur panjang. Meskipun Ibu telah tiada, sikap Om Wira mengingatkan kami padanya. Kami merasa memiliki orang yang menyayangi dengan tulus. 

Jangan biarkan dendam menutupi ruang kasih sayang! Jangan biarkan luka lama hadir menghentikan langkah! Setiap orang punya sikap baik maupun buruk, biarkan seseorang berubah menjadi lebih baik!

 

Terimakasih

Ini ceritaku... Dilarang copypaste!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar