Sabtu, 12 Oktober 2013

TEMPAT PULANG

Matahari bersembunyi di balik awan. Langit diselimuti warna hitam pekat, pertanda hujan belum akan berhenti.

Tetes-tetes air menggantung di ujung daun sebelum akhirnya jatuh menyapa orang-orang yang berlalu-lalang. Udara dingin merayap hingga ke tulang. Gemuruh petir bersahut-sahutan dengan bising klakson kendaraan yang terjebak kemacetan.

Genangan air memenuhi jalan hingga setinggi lutut orang dewasa. Meski begitu, tak seorang pun berhenti. Mereka tetap menerobos hujan dan banjir demi mencari nafkah.

Barangkali beginilah kehidupan. Ketika perut harus tetap diisi dan keluarga menunggu di rumah, hujan bukan lagi alasan untuk menyerah. Setiap orang memikul bebannya sendiri, lalu berusaha melangkah sejauh yang mereka mampu.


Tak seorang pun dapat menduga kapan hujan akan datang. Kadang ia turun ketika tidak diharapkan, kadang justru tak kunjung hadir saat begitu dinantikan.

Dulu, setiap kali hujan menyapa, hatiku selalu diliputi duka. Terlalu banyak kenangan yang lahir bersamanya hingga setiap rintiknya terasa menyakitkan.

Hujan menjadi lambang kesenduan, menemani perjalanan hidup yang penuh luka. Namun, karena terlalu sering berjalan bersamanya, aku akhirnya belajar terbiasa.

Hujan tidak pernah menjadi milikku. Tuhanlah pemiliknya. Maka, tak ada alasan untuk menyesali setiap kedatangannya. Sebab, di balik setiap tetesnya selalu tersimpan nikmat yang belum tentu mampu kita pahami.


Aku tumbuh dalam limpahan kasih sayang. Tak pernah sekali pun terlintas dalam pikiranku bahwa suatu hari aku harus menjalani hidup tanpa mereka.

“Ra, nanti kalau sudah sampai rumah, Ayah mau buatkan kolam ikan yang kamu minta.”

“Janji, ya?”

Ayah tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya dari kemudi.

“Janji.”

Ibu terkekeh pelan. “Jangan terlalu dimanja. Nanti semua halaman rumah penuh kolam.”

“Tidak apa-apa,” sahut Ayah. “Putri Ayah cuma satu.”

Aku memeluk lengan Ibu sambil tersenyum puas. Di luar jendela, pepohonan berlarian mengikuti laju mobil. Langit yang semula cerah perlahan tertutup awan kelabu.

Rintik hujan mulai membasahi kaca depan.

“Ayah, hujannya deras.”

“Iya. Pegang sabuk pengaman yang benar.”

Suara wiper bergerak semakin cepat, menyapu air yang terus membasahi kaca. Kemudian, semuanya terjadi begitu cepat.

Sreeettt! Suara rem memekakkan telinga. Mobil oleng ke kanan. Ibu spontan merengkuh tubuhku.

“Ra!”

Brak! Tubuhku terhempas. Kaca mobil pecah. Dunia berputar begitu cepat sebelum akhirnya semuanya berubah gelap.


Bau obat memenuhi penciumanku. Kelopak mataku terasa berat ketika perlahan terbuka. Pandanganku masih kabur. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari tangan Ibu. Namun, yang menggenggam jemariku hanyalah tangan seorang perawat.

“Ibu...?”

Tak ada jawaban.

Aku menoleh ke kanan dan kiri. Jantungku mulai berdegup tak beraturan. “Ayah?”

Perawat itu hanya menatapku dengan wajah yang sulit kuartikan.

“Ayah di mana?”

Tak ada jawaban. Dadaku mulai terasa sesak.

“Di mana Ayah dan Ibu?”

Seorang dokter mendekat. Tatapannya penuh iba. Ia berdiri beberapa saat di samping tempat tidurku, seolah sedang mencari cara paling lembut untuk menyampaikan sesuatu yang tak mungkin terdengar lembut.

“Kami sudah berusaha.”

Hanya empat kata. Namun, empat kata itu menghancurkan seluruh kehidupanku.

Hari itu aku menjerit. Aku memohon agar Tuhan mengembalikan mereka. Aku belum mengerti bagaimana mungkin dua orang yang beberapa jam sebelumnya masih berbicara denganku kini tak akan pernah lagi membuka mata dan memanggil namaku.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti bahwa kehilangan bukan sekadar tentang seseorang yang pergi.

Kehilangan adalah ketika seluruh kehidupan yang selama ini kita kenal tiba-tiba berubah arah. Dan sejak hari itu, aku tidak lagi menjadi anak yang sama.


Hari-hari setelah kecelakaan terasa begitu panjang. Aku tinggal di sebuah panti asuhan bersama anak-anak lain yang mengalami nasib serupa. Mereka bermain, belajar, dan tertawa. Sementara aku memilih mengurung diri di sudut kamar.

Aku tidak mau berbicara. Tidak mau makan. Tidak peduli siapa pun yang mencoba menghibur.

Setiap malam, aku memeluk lutut di atas ranjang sambil menangis diam-diam. Rasanya, jika terus memejamkan mata, mungkin ketika membukanya kembali, Ayah dan Ibu akan datang menjemputku. Namun, pagi selalu membawa kenyataan yang sama. Mereka tidak pernah datang.

Pada suatu sore, seorang perempuan paruh baya masuk ke kamarku sambil membawa semangkuk bubur hangat. Aroma kaldu memenuhi ruangan.

Beliau duduk di sampingku. “Ayo makan sedikit.”

Aku menggeleng.

Beliau tersenyum tipis. “Kalau belum sanggup menghabiskan semangkuk, tiga sendok saja.”

Aku tetap diam.

Beliau tidak memaksa. Bubur itu diletakkan di atas meja kecil sebelum beliau berdiri dan keluar.

Esoknya, beliau datang lagi. Masih dengan semangkuk bubur yang mengepul.

Aku kembali menggeleng.

Beliau hanya berkata pelan, “Tidak apa-apa.”

Hari ketiga, beliau kembali datang.

Hari keempat, masih dengan senyum yang sama.

Aku akhirnya tidak sanggup lagi menyimpan pertanyaan yang sejak lama mengganjal di dada.

“Kenapa Ibu terus datang?”

Beliau menatapku lembut. “Karena aku khawatir kamu kelaparan.”

“Bukankah masih banyak anak lain?”

“Iya.”

“Lalu kenapa Ibu baik sekali kepadaku?”

Beliau terdiam cukup lama sebelum mengembuskan napas perlahan.

“Karena dulu aku juga pernah kehilangan.”

Aku mengangkat wajah. Sorot matanya tidak sedang mengasihaniku. Justru ada luka yang sama seperti yang kurasakan.

Beliau mengusap rambutku perlahan. “Aku tahu rasanya berharap seseorang pulang, padahal kita sudah tahu mereka tidak akan pernah kembali.”

Air mataku kembali jatuh. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, aku menangis di hadapan seseorang. Beliau tidak menyuruhku berhenti. Tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Beliau hanya memelukku erat hingga tangisku perlahan mereda. Pelukan itu menghangatkan ruang kosong di dalam hatiku yang selama ini terasa dingin.

Sejak hari itu, aku tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.


Waktu berlalu.

Aku mulai keluar dari kamar. Mulai berbicara dengan anak-anak lain. Sesekali ikut bermain, membantu pekerjaan rumah, dan duduk bersama mereka saat makan.

Rumah kecil itu tidak pernah dipenuhi makanan mewah. Kami berlima sering duduk mengelilingi meja makan yang bahkan tidak cukup untuk seluruh penghuni rumah.

Hari itu, lauk kami hanya seekor ayam goreng. Ibu membaginya dengan sangat hati-hati. Sayap untuk Aldi. Dada untuk Gerda. Potongan kecil untuk Merisa. Paha untuk Nafira yang sejak tadi memandangi piring dengan mata berbinar. Lalu, beliau meletakkan sepotong kecil daging di piringku.

Aku tersenyum pelan. “Ibu, Tiara sudah kenyang.”

“Kamu belum makan.”

“Tadi Tiara sudah makan roti di sekolah.” Aku berbohong.

Padahal, sejak pagi hanya segelas air putih yang masuk ke perutku.

“Kalau begitu...” Aku mengambil potongan daging itu lalu memindahkannya ke piring Nafira. “Nafira sedang masa pertumbuhan.”

Mata Nafira berbinar. “Benarkah buat Nafi?”

“Iya.”

Gadis kecil itu tersenyum lebar sebelum melahap paha ayam dengan penuh semangat.

Aku ikut tersenyum.

Melihat adikku makan dengan lahap sudah lebih dari cukup untuk mengenyangkan hati.

Dari seberang meja, Ibu hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Namun, aku tahu beliau melihat kebohonganku.


Malamnya, ketika adik-adikku sudah tertidur, terdengar ketukan pelan di pintu kamar.

Tok... Tok...

Aku membukanya perlahan. Ibu berdiri di depan pintu sambil membawa sebungkus roti hangat.

“Ini untukmu.”

Aku menggeleng. “Ibu, Tiara tidak lapar.”

Beliau tersenyum, lalu menyelipkan roti itu ke tanganku. “Kakak juga masih masa pertumbuhan.”

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat. Aku memandang roti di tanganku, lalu menatap wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang.

“Terima kasih, Bu.”

Beliau mengusap kepalaku pelan. “Tidak perlu berbohong kalau sedang lapar.”

Aku menunduk. Air mataku kembali menggenang. Bukan karena lapar. Melainkan karena untuk kedua kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang menyayangiku seperti seorang ibu.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah kehilangan Ayah dan Ibu, aku merasa bahwa mungkin rumah bukan selalu tentang tempat kita dilahirkan.

Terkadang, rumah adalah seseorang yang memilih tetap tinggal ketika kita merasa tidak punya siapa-siapa.


Hari-hari berlalu begitu cepat. Rumah kecil kami tetap dipenuhi tawa, meski hidup serba sederhana. Namun, tanpa kusadari, kesehatan Ibu mulai menurun. Beliau lebih sering batuk. Awalnya hanya batuk kecil yang sesekali terdengar saat memasak di dapur.

“Ahem... ahem...”

“Ibu tidak apa-apa?” tanyaku sambil menghampiri.

Beliau segera menggeleng sambil tersenyum. “Hanya masuk angin.”

Aku mengangguk, meski tidak benar-benar percaya.

Hari demi hari, batuk itu semakin sering terdengar. Namun, Ibu tetap bangun sebelum subuh untuk memasak. Tetap menyiapkan bekal sekolah. Tetap mencuci pakaian kami. Tetap mengantar Nafira ke taman kanak-kanak sambil menggandeng tangan mungilnya. Seolah tubuhnya tidak pernah mengenal lelah.

Suatu pagi, kulihat beliau harus berpegangan pada kusen pintu setelah mengantar Nafira pulang.

Wajahnya pucat. Napasnya terdengar berat.

Aku berlari menghampiri. “Ibu, istirahat saja. Biar Tiara yang mengerjakan semuanya.”

Beliau mengusap kepalaku pelan. “Kalau Ibu berhenti bergerak, nanti kalian makan apa?”

“Tapi kesehatan Ibu lebih penting.”

Beliau tersenyum seperti biasa.  “Masih kuat.”          Jawaban itu sederhana.

Namun, sejak hari itu aku mulai memahami bahwa seorang ibu sering kali menyembunyikan rasa sakitnya agar anak-anaknya tidak ikut khawatir.

Malam harinya, saat semua orang tertidur, aku mendengar suara batuk dari dapur. Aku mengintip dari balik pintu. Ibu sedang menahan batuk sambil menutup mulut dengan selembar kain. Ketika kain itu beliau turunkan, samar-samar kulihat bercak merah di sana.

Dadaku seketika sesak. “Ibu...”

Beliau terkejut mengetahui aku berdiri di belakangnya. Dengan cepat kain itu disembunyikan di balik punggung.

“Belum tidur?”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menghampiri lalu memeluk beliau erat. Entah mengapa, malam itu hatiku dipenuhi ketakutan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


Beberapa hari kemudian, hujan turun tanpa henti. Listrik padam sejak sore. Rumah kecil kami hanya diterangi cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan tertiup angin. Bayangan kami menempel di dinding, bergerak mengikuti nyala api yang tak pernah benar-benar tenang.

Aldi, Gerda, Merisa, dan Nafira sudah terlelap. Aku masih duduk di ruang tengah sambil menjahit kancing seragam sekolah Merisa yang terlepas.

“Ra.”   Suara Ibu terdengar lirih dari kamar.

Aku segera menghampiri. “Iya, Bu?”

Beliau menepuk sisi ranjang, memintaku duduk di sampingnya. Tangannya terasa lebih dingin dari biasanya ketika menggenggam jemariku. Aku menggenggamnya lebih erat.

“Ibu ingin bicara sebentar.”

Aku mengangguk pelan.

Beliau memandang wajahku cukup lama. Tatapan itu terasa aneh. Seolah-olah beliau sedang menghafal setiap bagian dari wajahku.

“Kalau suatu hari nanti Ibu tidak ada...”

“Bu...” Aku langsung memotong ucapannya. “Jangan bicara seperti itu.”

Beliau tersenyum lembut. “Tiara, dengarkan Ibu dulu.”

Aku menunduk.

Beliau mengusap punggung tanganku perlahan. “Setiap orang yang datang ke dunia ini pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.”

Aku menggigit bibir, berusaha menahan tangis. “Aku tidak mau Ibu pergi.”

Beliau menarik napas panjang. “Ibu juga ingin tetap bersama kalian.” Suaranya terdengar semakin pelan. “Namun, kalau suatu hari nanti Ibu benar-benar tidak bisa menemani kalian lagi, Ibu ingin kamu menjaga adik-adikmu.”

Aku menggeleng cepat. “Tiara masih belum bisa, Bu.”

“Kamu bisa.”

“Tiara takut.”

“Tidak apa-apa takut.” Beliau tersenyum. “Yang penting, jangan biarkan rasa takut membuatmu berhenti.”

Air mataku mulai jatuh. Beliau mengusapnya dengan ibu jarinya. “Tiara, kamu adalah anak yang kuat.”

“Tidak, Bu. Tiara tidak sekuat itu.”

“Kekuatan bukan berarti tidak pernah menangis.” Beliau berhenti sejenak untuk mengatur napas. “Kekuatan adalah tetap memilih berdiri setelah menangis.”

Aku menundukkan kepala. Air mataku jatuh semakin deras. Beliau menggenggam tanganku lebih erat.

“Hiduplah dengan keberanian. Jangan pernah membalas keburukan dengan keburukan.”

Aku mengangguk sambil menangis.

“Kalau suatu hari dunia membuatmu kecewa, jangan biarkan hatimu berubah menjadi keras.”

Aku menatapnya.

“Dan kalau dunia memaksamu menjadi jahat...” Beliau tersenyum tipis. “...katakan tidak.”

Ruangan kembali sunyi. Yang terdengar hanya suara hujan di luar rumah dan isak tangisku yang berusaha kutahan.

Malam itu aku tidak tahu bahwa percakapan sederhana tersebut akan menjadi percakapan terakhirku dengan Ibu. Aku juga tidak tahu bahwa setelah malam itu, aku tidak akan pernah lagi mendengar suara beliau memanggil namaku.


Subuh datang tanpa suara beliau membangunkan kami. Tidak ada aroma masakan dari dapur. Tidak ada langkah kaki yang tergesa-gesa menyiapkan sarapan. Yang ada hanyalah suara orang-orang yang datang silih berganti dan tangisan yang memenuhi rumah.

Aku hanya duduk diam. Rasanya semua yang terjadi begitu cepat hingga pikiranku belum sempat menerima kenyataan.

Hari itu, untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku kehilangan sosok yang kupanggil Ibu.


Beberapa hari setelah pemakaman, rumah kembali sunyi. Tidak ada lagi aroma masakan yang memenuhi dapur setiap pagi. Tidak ada suara langkah kaki yang mondar-mandir membangunkan kami. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya apakah kami sudah makan.

Di meja makan, lima piring sudah tertata seperti biasa. Bedanya, kursi di ujung meja tetap kosong. Tidak akan ada lagi yang duduk di sana. Nafira menoleh kepadaku.

“Kak...”

“Iya?”

“Ibu kapan pulang?”

Tanganku yang sedang memegang sendok langsung terdiam. Aku membuka mulut. Namun, tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Nafira kembali menatap kursi kosong itu.

“Aku kangen Ibu.”

Aku meletakkan sendok, lalu memeluknya erat.

“Ibu sekarang sudah bersama Allah.”

Nafira terdiam beberapa saat. “Kalau begitu...” Suaranya bergetar. “Allah, boleh pinjam Ibu sebentar saja?”

Aku menahan napas.

“Nafira mau dipeluk.”

Dadaku terasa diremas. Aku mengusap rambutnya sambil berusaha menahan tangis.

“Ibu memang tidak bisa pulang lagi, Nafi. Tapi Ibu akan selalu sayang sama kita.”

Nafira menangis di pelukanku. Aku memejamkan mata. Untuk kedua kalinya, seseorang yang sangat kusayangi pergi meninggalkan kami. Namun kali ini berbeda.

Dulu, setelah Ayah dan Ibu pergi, aku hanya seorang anak yang kehilangan tempat untuk pulang. Sekarang, aku bukan lagi satu-satunya yang harus belajar menerima kehilangan. Masih ada empat hati kecil yang menggantungkan harapan kepadaku.

Empat anak yang masih membutuhkan seseorang untuk membangunkan mereka setiap pagi, menyiapkan makanan, mendengarkan cerita mereka, dan meyakinkan mereka bahwa hidup masih layak dijalani.

Aku menatap keempat adikku. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami maksud pesan terakhir Ibu. Aku mungkin belum siap. Aku mungkin masih takut. Aku bahkan masih ingin menangis dan memanggil Ibu seperti anak kecil. Namun, aku tidak boleh berhenti. Karena mulai hari itu, aku bukan hanya harus belajar bertahan untuk diriku sendiri. Aku harus belajar menjadi rumah bagi mereka.


Malam harinya, ketika semua adikku telah tertidur, aku berjalan perlahan menuju dapur. Ruangan itu masih sama. Panci-panci masih tersusun rapi. Cangkir kesayangan Ibu masih berada di rak.

Di sudut dinding, celemek bermotif bunga yang biasa beliau kenakan masih tergantung. Aku mendekatinya. Tanganku gemetar saat melepaskan celemek itu dari gantungannya. Kainnya masih menyisakan samar aroma sabun dan masakan yang begitu akrab. Aroma yang seharusnya sederhana.

Namun malam itu, justru terasa seperti bagian terakhir dari Ibu yang masih tersisa di rumah ini. Tanpa sadar, aku memeluk celemek itu erat. Air mataku pecah.

“Bu...” Suaraku nyaris tak terdengar. “Aku kangen...”

Aku menundukkan wajah ke kain itu, membiarkan air mata membasahinya. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena aku tidak ikhlas. Bukan pula karena aku ingin mempertanyakan takdir.

Aku hanya sedang merindukan seseorang yang tidak akan pernah bisa lagi menjawab panggilanku. Aku merindukan suara Ibu. Masakan Ibu. Teguran kecilnya. Sentuhan tangannya di kepalaku. Dan kalimat sederhana yang dulu sering kuanggap biasa:

“Sudah makan?”

Kini aku sadar, hal-hal sederhana itulah yang ternyata paling sulit untuk dilupakan.

Mulai malam itu, tidak akan ada lagi seseorang yang menungguku pulang. Tidak ada lagi yang menyuruhku makan ketika aku lupa menjaga diri. Tidak ada lagi tangan yang mengusap kepalaku ketika aku lelah.

Aku menghapus air mata, lalu menatap ke arah kamar tempat keempat adikku tertidur. Mereka masih kecil. Mereka belum sepenuhnya mengerti mengapa Ibu tidak akan pernah kembali. Dan mungkin, untuk sementara waktu, akulah yang harus menjadi orang yang membuat mereka merasa aman.

Aku menarik napas panjang. Rasanya berat. Sangat berat. Namun, aku teringat pesan terakhir Ibu.

“Kamu bisa.” Aku menggenggam celemek itu lebih erat.

Malam itu, di dapur kecil yang masih menyimpan begitu banyak kenangan, aku membuat sebuah janji kepada diriku sendiri. Aku akan menjaga mereka. Aku akan memastikan mereka tetap makan, tetap bersekolah, dan tetap memiliki alasan untuk tersenyum.

 Aku akan berusaha menjadi rumah bagi mereka, sebagaimana Ibu pernah menjadi rumah bagi kami. Meski aku belum tahu bagaimana caranya. Meski aku sendiri masih belajar berdiri. Aku akan mencoba. Karena mulai malam itu, aku bukan lagi hanya seorang anak yang kehilangan ibunya.

Aku adalah seorang kakak. Dan empat adikku adalah alasan mengapa aku harus tetap kuat.

***

“Seandainya dulu aku tidak belajar bertahan hidup, mungkin aku sudah menyerah sejak lama. Namun Engkau mengajarkanku bahwa setiap ujian selalu membawa hikmah. Berkat rida-Mu, aku percaya semua yang terjadi adalah bentuk kasih sayang-Mu. Maka, berilah aku kesabaran untuk menjalaninya.”

Langit masih dipenuhi awan kelabu. Hujan turun tanpa terburu-buru, membasahi jalanan dan membuat kendaraan bergerak pelan.

Aku duduk di bangku halte, memeluk tas di pangkuan sambil menunggu bus yang tak kunjung datang. Mungkin kendaraan itu terjebak banjir seperti kendaraan lainnya.

Beberapa orang di sekitarku sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang mengeluh karena terlambat bekerja. Ada yang tertawa sambil bermain ponsel. Ada pula yang sesekali mengumpat karena hujan tak kunjung reda.

Aku hanya memandangi rintik air yang jatuh dari atap halte. Hujan selalu mengingatkanku pada kehilangan. Namun kali ini, aku tidak ingin larut di dalamnya. Aku ingin belajar memandang hujan sebagai sesuatu yang lain. Bukan hanya sebagai pengingat tentang apa yang telah pergi, tetapi juga tentang apa yang masih Tuhan izinkan untuk kumiliki.

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki menghampiriku. Usianya mungkin sekitar sebelas tahun. Seragam sekolahnya sudah lusuh. Celananya basah hingga lutut. Di pundaknya tergantung sebuah keranjang kecil yang ditutupi plastik bening.

“Mau beli gorengannya, Kak?” Suaranya terdengar pelan, tetapi senyumnya begitu tulus.

Aku melihat isi keranjang itu. Beberapa bakwan, tempe goreng, dan pisang goreng. Sebagian sudah mulai dingin karena terlalu lama terkena udara.

“Boleh. Kakak beli beberapa.”

“Wah... makasih, Kak.” Ia segera memasukkan gorengan ke dalam kantong plastik dengan gerakan cekatan.

Saat menerima uang lima puluh ribu dariku, tangannya mendadak berhenti.

“Maaf, Kak...” Ia menunduk. “Uangnya terlalu besar. Aku tidak punya uang kembali.”

Aku tersenyum kecil. “Kalau begitu, ambil saja kembaliannya.”

Anak itu menggeleng cepat. “Tidak boleh.”

“Kenapa?”

“Ibu bilang, jangan mengambil yang bukan hak kita.”

Aku terdiam.

Kalimat sederhana itu seperti mengetuk sesuatu yang selama ini tersimpan jauh di dalam ingatanku.

“Kalau suatu hari dunia memaksamu menjadi jahat...” Suara Ibu kembali terdengar di kepalaku. “...katakan tidak.”

Aku menatap anak itu cukup lama. “Ayah dan Ibumu pasti bangga punya anak sejujur kamu.”

Senyumnya perlahan memudar. “Ayah sudah meninggal, Kak.”

Dadaku seketika terasa sesak. Ada bagian dari diriku yang seperti sedang melihat masa lalu. Seorang anak kecil yang kehilangan orang yang dicintainya, lalu dipaksa belajar memahami kehidupan lebih cepat daripada seharusnya.

“Kalau Ibu?”

“Masih ada. Ibu buruh cuci.” Ia menjawabnya sederhana, tanpa mengeluh.

Aku menggenggam kantong gorengan itu erat. Entah mengapa, pertemuan singkat ini terasa seperti sesuatu yang sengaja Tuhan hadirkan di tengah hujan. Bukan untuk mengingatkanku pada luka. Melainkan untuk mengingatkanku bahwa hidup masih terus berjalan.

“Maaf, Kak. Aku memang tidak punya uang pas. Kebetulan hari ini belum banyak yang beli.”

Aku menggeleng. “Simpan saja.”

Ia menatapku bingung. “Benarkah?”

Aku mengangguk. “Maukah kamu menemani Kakak mengobrol sebentar? Anggap saja kembaliannya sebagai upah menemani.”

Senyumnya kembali mengembang. “Baik, Kak.”

Ia kemudian duduk di sampingku. Kami sama-sama memandangi hujan yang belum juga reda.

“Namamu siapa?”

“Beni.”

“Kelas berapa?”

“Kelas lima SD.”

“Kamu setiap hari jualan sepulang sekolah?”

“Iya.”

“Capek?”

Beni mengangkat bahu. “Sedikit.”

“Kenapa memilih jualan?”

Ia menatap keranjang di pangkuannya sebelum menjawab. “Kalau aku tidak jualan, Ibu sendirian yang bekerja.”

Senyumnya memudar.

Aku terdiam. “Maaf.”

“Tidak apa-apa, Kak.” Ia kembali tersenyum kecil. “Aku bantu Ibu supaya bisa terus sekolah. Ibu selalu bilang, pekerjaan apa pun tidak perlu malu, asal halal.”

Aku tersenyum tipis. “Ucapan Ibumu benar.”

Beni mengangguk. “Ibu juga bilang, lebih baik capek jualan daripada meminta-minta.”

Aku mengangguk pelan. Ada sesuatu dalam diri Beni yang mengingatkanku pada masa lalu. Bukan karena kehidupan kami sama. Melainkan karena kami sama-sama pernah kehilangan seseorang yang kami cintai, lalu harus belajar melanjutkan hidup dengan keadaan yang tidak kami pilih.

Bedanya, aku pernah memiliki seseorang yang membimbingku melewati masa paling gelap dalam hidupku. Sedangkan Beni masih memiliki ibunya untuk diperjuangkan.

Aku memandang wajahnya. Anak itu masih kecil. Namun, dari caranya berbicara, aku bisa melihat bahwa hidup telah mengajarinya banyak hal.

Tak lama kemudian, hujan mulai mereda. Beni berdiri dan kembali mengangkat keranjang ke pundaknya.

“Terima kasih sudah membeli dagangan Beni, Kak.”

“Sama-sama. Semoga jualanmu habis hari ini.”

“Aamiin.” Beni tersenyum, lalu melangkah pergi.

Ia kembali menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang baru turun dari bus. Aku memandangi punggung kecilnya hingga perlahan menghilang di antara keramaian.

Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah, jagalah anak itu. Mudahkan langkahnya, kuatkan ibunya, dan lapangkan rezeki mereka.”

Aku terdiam beberapa saat. Pertemuanku dengan Beni hanya berlangsung singkat. Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang tertinggal di dalam pikiranku. Selama ini aku mengira bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh merasa lelah. Tidak boleh menangis. Tidak boleh takut.

Namun, mungkin aku salah. Beni tidak tampak kuat karena hidupnya mudah. Ia kuat karena meski hidup memberinya alasan untuk menyerah, ia tetap memilih melangkah.

Aku menatap jalanan yang mulai dipenuhi kendaraan. Hujan perlahan berhenti. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang berhadapan dengan hujan. Aku merasa sedang berhadapan dengan diriku sendiri.

Aku masih punya luka. Masih ada hari-hari ketika aku merindukan Ayah. Masih ada malam-malam ketika aku ingin mendengar suara Ibu sekali lagi. Dan mungkin, semua itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, bukankah Ibu pernah berkata bahwa kekuatan bukan berarti tidak pernah menangis? Kekuatan adalah tetap memilih berdiri setelah menangis.

Aku tersenyum kecil.  “Baik, Bu.” Aku menatap langit yang perlahan mulai terang. “Aku akan mencoba.”

Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi mudah. Bukan pula karena aku sudah sepenuhnya sembuh. Tetapi karena aku mulai mengerti satu hal: kehilangan mungkin telah mengubah hidupku, tetapi kehilangan tidak berhak menentukan bagaimana aku menjalani sisa hidupku.

Bukan kehilangan pekerjaan yang paling kutakutkan. Melainkan pulang ke rumah dan menatap wajah adik-adikku. Mereka selalu menyambutku dengan senyum. Selalu membanggakan kakaknya, seolah aku adalah seseorang yang tidak pernah gagal.

Padahal, malam ini aku harus membawa kabar yang mungkin akan mematahkan harapan mereka. Aku bekerja sebagai office girl di sebuah perusahaan. Saat pertama kali membawa surat penerimaan kerja ke rumah, Aldi dan Gerda melompat kegirangan.

“Kak Tiara kerja di gedung tinggi!”

“Nanti Kakak pasti punya ruang kerja sendiri.”

Merisa bahkan bercerita kepada teman-temannya bahwa kakaknya bekerja di sebuah kantor besar.

Aku hanya tersenyum. Aku tidak pernah menjelaskan bahwa tugasku bukan duduk di balik meja dengan komputer dan tumpukan berkas. Aku membersihkan ruangan. Menyeduh kopi. Mengantarkan dokumen. Menjaga kebersihan kantor.

Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagiku, pekerjaan itu adalah alasan mengapa kami masih bisa makan setiap hari. Dari penghasilan itulah aku membayar kebutuhan sekolah adik-adikku, membeli beras, membayar listrik, dan memastikan rumah kecil kami tetap memiliki kehidupan.

Aku tidak pernah malu dengan pekerjaanku. Tidak sedikit pun. Aku justru bersyukur pernah diberi kesempatan bekerja dan menghidupi orang-orang yang kusayangi. Namun hari ini, pekerjaan itu juga harus kulepaskan.

Perusahaan tempatku bekerja melakukan pengurangan karyawan. Namaku termasuk di dalam daftar. Sejak menerima kabar itu, aku sudah mencoba mencari pekerjaan lain. Satu demi satu lamaran kukirim. Satu demi satu pula penolakan kuterima. Ada yang tidak membalas. Ada yang mengatakan belum sesuai kualifikasi. Ada pula yang sekadar mengirimkan kalimat singkat bahwa posisi tersebut sudah terisi.

Aku berusaha tidak menyerah. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, rasa takut benar-benar memenuhi dada. Bagaimana jika aku tidak segera mendapatkan pekerjaan? Bagaimana jika uang tabungan kami tidak cukup? Bagaimana jika suatu hari nanti aku tidak mampu membayar kebutuhan sekolah mereka?

Aku menundukkan kepala. “Maafkan aku, Bu.”

Entah mengapa, setiap kali berada dalam keadaan sulit, aku selalu mencari wajah Ibu dalam ingatan.

Seandainya beliau masih ada, mungkin aku akan duduk di sampingnya dan menceritakan semuanya. Mungkin beliau akan mengusap kepalaku sambil berkata bahwa semuanya akan menemukan jalan. Namun kini aku hanya memiliki kenangan.

Aku memang tidak pernah malu dengan pekerjaanku. Yang membuatku sedih adalah kenyataan bahwa aku belum mampu menjadi kakak yang mereka bayangkan. Padahal, aku sudah berjanji kepada Ibu untuk menjaga mereka. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku takut tidak mampu memenuhi janji itu.

Suara rem bus memekik mematahkan lamunanku. Bus yang kutunggu akhirnya muncul dari balik hujan. Orang-orang segera berdiri dan berebut naik. Aku menggenggam tas lebih erat. Lalu ikut berlari menerobos hujan. Kakiku basah. Ujung pakaianku terkena cipratan air. Namun aku tidak peduli. Aku hanya ingin segera sampai rumah.

Di dalam bus, aku duduk dekat jendela dan memandangi jalanan yang basah. Lampu kendaraan memantul di genangan air. Hujan masih turun, meski tidak sederas tadi.

Entah bagaimana caranya, malam ini aku harus pulang. Aku harus membuka pintu rumah itu. Menatap wajah keempat adikku. Lalu mengatakan kenyataan yang sejak tadi berusaha kuhindari.

Aku sudah kehilangan pekerjaanku.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak tahu apakah aku masih mampu membuat mereka percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Gerimis membungkus keheningan malam. Rintiknya mengetuk kaca jendela tanpa henti. Angin dingin menyelinap melalui celah kusen, membawa aroma tanah basah yang begitu akrab.

Mataku menyaksikan suasana di balik jendela kamar. Sorot lampu teras jatuh tepat pada sebuah sarang burung di atas pohon mangga. Seekor induk burung baru saja kembali membawa makanan. Ia menyuapi anak-anaknya satu per satu, lalu merentangkan sayap, melindungi mereka dari hujan yang masih turun.

Seketika dadaku terasa sesak. “Ibu...” Andai Ibu masih ada. Mungkin aku tidak perlu memikul semua ini sendirian.

Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Belum sempat menarik napas panjang, terdengar ketukan pelan di pintu. Tok... Tok...

“Kak Tiara... boleh aku masuk?”

“Masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”

Pintu terbuka perlahan. Aldi melangkah masuk sambil menggenggam selembar amplop putih. Ia berdiri cukup lama di dekat pintu, seolah masih mempertimbangkan apakah harus mendekat atau kembali keluar.

“Ada apa?”

“Apa aku mengganggu?”

Aku menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak. Duduklah.”

Aldi duduk di kursi belajar. Kedua tangannya tidak berhenti meremas amplop yang dibawanya. Aku baru menyadari bahwa adikku sedang gugup.

“Ada yang ingin kamu sampaikan?”

“Iya...” Jawabannya menggantung.

Tatapannya sesekali beralih ke lantai, lalu kembali menatapku. Aku menunggu tanpa menyela.

Beberapa detik kemudian, ia menyerahkan amplop itu kepadaku. “Ini hasil pengumuman.”

Aku membukanya perlahan. Mataku berhenti pada tulisan yang membuatku ikut tersenyum.

SELAMAT. ANDA DINYATAKAN LULUS.

“Aldi...”

“Kalau Kakak mengizinkan...” Suaranya semakin pelan. “...aku ingin kuliah.”

Aku mengangkat wajah. Tatapan Aldi dipenuhi harapan.

“Tapi...” Ia menarik napas dalam. “Di awal masuk, aku mohon bantuan Kakak untuk biaya pendaftaran. Aku tidak akan terus bergantung. Aku akan mencari pekerjaan sambil kuliah.”

Ia terdiam sejenak. “Kalau memang keadaan kita tidak memungkinkan...” Senyumnya kecil, meski jelas dipaksakan. “...aku juga akan menerima keputusan Kakak.”

Dadaku seperti diremas. Aku tahu, Aldi pasti sudah memikirkan kalimat itu berkali-kali sebelum memberanikan diri mengatakannya. Ia bukan sedang menuntut. Ia hanya sedang mencoba memperjuangkan mimpinya.

Aku menggenggam surat kelulusannya erat. Tuhan... Mengapa permintaan sesederhana ini terasa begitu sulit kupenuhi? Aku ingin mengatakan, “Tentu. Kakak akan membiayaimu.” Namun, bayangan surat pemutusan kerja yang kusimpan di dalam tas seakan menahan setiap kata yang hendak keluar.

Aku kehilangan pekerjaan. Tabunganku semakin menipis. Sementara di depanku, ada seorang adik yang sedang menggantungkan harapan kepadaku.

Aku menatap Aldi cukup lama. Lalu tersenyum, meski hatiku sedang hancur.

Aku mengangguk pelan. “Baiklah. Kakak izinkan.”

Wajah Aldi yang sejak tadi dipenuhi kecemasan perlahan berubah cerah. “Benarkah, Kak?”

“Iya.” Aku tersenyum. “Belajarlah yang rajin. Kesuksesan ada di tanganmu. Jangan sia-siakan kesempatan ini.”

Mata Aldi berbinar. Senyum yang sejak tadi ia tahan akhirnya merekah. “Terima kasih, Kak.”

Ia buru-buru membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah brosur kampus yang mulai kusut di bagian ujungnya.

“Aku sudah mengambil brosurnya.” Ia menyerahkannya kepadaku dengan kedua tangan. “Kakak baca saja. Semoga kampus ini tidak mengecewakan.”

Aku menerima brosur itu. Di halaman depan tertulis rincian biaya pendaftaran. Mataku berhenti pada angka-angka yang terasa begitu besar. Uang pangkal. Biaya semester. Biaya praktikum. Jantungku berdetak semakin cepat. Aku menutup brosur itu sebelum Aldi menyadari perubahan wajahku.

“Kakak tidak mempermasalahkan kamu kuliah di mana.” Aku menatapnya sambil tersenyum. “Yang penting kamu belajar sungguh-sungguh dan menggapai cita-citamu. Itu sudah cukup membuat Kakak bangga.”

Aldi mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Kak.” Ia memelukku erat.

Pelukan itu terasa hangat. Namun, justru membuat air mataku hampir jatuh. Untung saja ia tidak melihatnya. Setelah berpamitan, Aldi keluar dari kamar dengan langkah ringan.

Pintu tertutup perlahan. Aku kembali membuka brosur itu. Mataku menelusuri setiap rincian biaya. Angka-angka tersebut terasa seperti dinding tinggi yang harus kulewati sendirian. Air mata akhirnya jatuh membasahi kertas di tanganku.

“Besok...” Aku menarik napas panjang. “...aku harus mendapatkan pekerjaan.”

Belum sempat aku menghapus air mata, terdengar langkah kaki kecil berlari ke arahku.

“Kak Tiara!” Sebuah pelukan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangku dari belakang.

Aku buru-buru mengusap pipi. “Iya, Sayang.”

Nafira mendongak dengan wajah cemberut. “Fira kangen.”

Aku terdiam.

“Kakak sekarang sibuk terus. Kalau pulang langsung masuk kamar. Fira jadi tidak ditemani main.”

Anak sekecil ini saja sudah menyadari bahwa aku mulai menjauh dari mereka. Aku berlutut hingga sejajar dengannya.

“Maafkan Kakak.”

“Kakak lagi banyak pikiran, ya?”

Aku menggeleng mendengar pertanyaan polosnya.

“Kalau banyak pikiran, cerita saja sama Fira.”

Aku tersenyum di sela air mata. “Fira belum tentu mengerti.”

Nafira meraih kedua pipiku dengan telapak tangannya yang mungil. “Kalau Kakak sedih, Fira peluk.” Tanpa menunggu jawaban, ia memelukku erat. Pelukan kecil itu mampu meruntuhkan seluruh pertahananku. Aku membalas pelukannya sambil menahan tangis.

“Fira mau tidur sama Kakak. Boleh?”

“Tentu boleh.”

Malam itu kami tidur di ranjang yang sama. Tak lama kemudian, Nafira sudah terlelap sambil memeluk lenganku. Aku menatap wajahnya yang damai, lalu mengusap rambutnya perlahan. Dalam hati aku berjanji, “Apa pun yang terjadi, kalian tidak boleh kehilangan kesempatan untuk bermimpi. Biar Kakak yang mencari jalan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut masih ada, tetapi aku tidak lagi membiarkannya menguasai pikiranku.

Besok pagi, sebelum matahari terbit, aku akan kembali mengetuk pintu demi pintu perusahaan. Entah diterima atau ditolak. Entah harus mengirim puluhan lamaran atau menjalani pekerjaan apa pun yang tersedia. Aku tidak punya banyak pilihan. Namun, aku masih memiliki satu hal yang tidak boleh hilang: kemauan untuk terus mencoba. Demi Aldi. Demi Gerda. Demi Merisa. Demi Nafira. Dan demi janji yang pernah kubuat kepada Ibu.

***

Aku beristirahat di bawah pohon, tepat di halaman kantor yang baru saja menolak lamaranku. Ini kantor kelima yang kudatangi selama seminggu. Tidak ada lagi selebaran lowongan yang tertempel di pintu masuk. Bahkan satpam tadi hanya menggeleng pelan sebelum mengembalikan map lamaranku.

Aku menyandarkan punggung pada batang pohon. Angin siang berembus pelan, tetapi tidak mampu mengusir sesak di dada.

“Mungkin memang belum rezeki,” gumamku lirih.

Langkah kaki berhenti di depanku. “Permisi.”

Aku mendongak. Seorang perempuan berdiri sambil membawa dua botol air mineral. Tubuhnya tinggi semampai. Rambut hitamnya disanggul rapi. Setelan kantor berwarna krem membuatnya terlihat anggun, tetapi senyum yang mengembang di wajahnya menghapus kesan dingin itu.

Ia mengulurkan salah satu botol kepadaku. “Untukmu.”

Aku sempat ragu. “Tidak usah, Bu. Saya tidak apa-apa.”

“Kalau begitu, anggap saja aku sedang membeli teman bicara.”

Aku tidak bisa menahan senyum kecil. Akhirnya kuterima botol itu. “Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Perempuan itu kemudian duduk tidak jauh dariku. Beberapa saat kami hanya menikmati suasana. Kendaraan lalu-lalang tanpa henti. Sesekali terdengar klakson panjang dari jalan raya.

Ia membuka botol minumnya lebih dulu. “Baru selesai wawancara?”

Aku mengangguk.

“Ditolak?”

“Iya.” Jawabanku singkat.

Ia tidak menunjukkan rasa iba. Hanya mengangguk pelan. “Aku juga pernah duduk di tempatmu.”

Aku menoleh. “Benarkah?”

Ia tertawa kecil. “Lima tahun lalu, aku membawa map lamaran ke mana-mana. Ditolak belasan kali. Pulang sambil menangis rasanya sudah biasa.”

Aku menatapnya. “Sekarang Ibu bekerja di kantor ini?”

“Iya.” Ia tersenyum. “Namaku Anita.”

“Tiara.”

Kami berjabat tangan singkat. Entah mengapa, setelah mengetahui namanya, percakapan kami terasa lebih mudah. Aku kembali memandangi gedung tinggi di hadapan kami.

“Indah sekali.”

“Dari luar memang terlihat indah.” Anita tertawa kecil. “Dari dalam, tetap ada tekanan, target, dan lembur.”

Aku ikut tertawa. Untuk pertama kalinya hari itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan.

“Mencari pekerjaan di zaman sekarang memang sulit,” kata Anita kemudian. “Banyak orang menganggap keberuntungan adalah segalanya. Padahal, setiap orang membawa bekal yang berbeda. Pendidikan, pengalaman, kesempatan, bahkan keadaan keluarga tidak pernah sama.”

“Maksud Ibu?”

“Kamu sudah berapa kali melamar?”

“Lima perusahaan minggu ini.”

“Dan semuanya menolak?”

Aku mengangguk.

Anita melirik map lusuh yang masih kupeluk. “Sayang sekali.”

“Kenapa?”

“Karena aku melihat seseorang yang benar-benar punya kemauan untuk bekerja.”

Kalimat itu membuatku terdiam. Sudah lama tidak ada orang yang mengatakan sesuatu seperti itu kepadaku.

Anita melanjutkan, “Masalahnya, dunia kerja tidak selalu memilih orang yang paling pintar.”

“Lalu memilih apa?”

“Orang yang tahu bagaimana memanfaatkan kesempatan.”

Aku mengernyit. “Maksudnya?”

“Ada orang yang nilai kuliahnya biasa saja, tetapi hidupnya jauh lebih berhasil dibanding lulusan terbaik. Ada juga yang sangat pintar, tetapi bertahun-tahun tidak mendapat pekerjaan.”

Aku terdiam.

“Menurutmu, kenapa bisa begitu?”

Aku menggeleng.

“Karena kecerdasan bukan hanya soal nilai,” jawabnya. “Kadang seseorang berhasil karena berani mengambil peluang ketika orang lain masih menunggu kesempatan datang.”

Aku mulai tertarik. “Jadi... menurut Ibu saya harus bagaimana?”

Anita menatapku beberapa saat. “Kebetulan aku sedang mencari seseorang.”

Aku mengangkat alis. “Mencari seseorang?”

“Iya.” Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. “Aku ingin menawarkan pekerjaan kepadamu.”

Untuk sesaat, rasanya seperti ada udara segar yang masuk ke paru-paruku. “Benarkah?”

“Benar.”

Aku menerima kartu nama itu dengan kedua tangan. Anita Prameswari. Aku membaca nama tersebut sekali lagi.

“Pekerjaannya apa?”

Anita tersenyum tipis. “Nanti akan dijelaskan lebih lengkap. Aku tidak ingin kamu mengambil keputusan hanya karena sedang membutuhkan pekerjaan.”

Aku menatapnya. “Jadi saya tidak harus menjawab sekarang?”

“Tidak.” Ia menggeleng. “Pikirkan baik-baik. Kalau kamu bersedia, aku akan menjelaskannya lebih lanjut.”

Sikapnya membuatku sedikit tenang. Ia tidak memaksaku. Tidak menjanjikan sesuatu yang berlebihan. Tidak pula membuatku merasa harus menerima hanya karena sedang membutuhkan uang.

Percakapan kami berlanjut hampir satu jam. Anita tidak hanya bertanya tentang pekerjaanku. Ia juga bercerita sedikit tentang kehidupannya. Dahulu keluarganya hidup serba kekurangan. Keadaan membuatnya menikah di usia muda dengan lelaki yang tidak dicintainya. Pernikahan itu pun tidak bertahan lama.

Setelah berpisah, ia memilih bangkit. Ia bekerja dari bawah, menjalani berbagai kesulitan, hingga akhirnya mampu membangun kehidupannya sendiri.

“Aku pernah berada di titik ketika rasanya tidak ada jalan keluar,” katanya pelan.

Aku mendengarkan tanpa menyela.

“Karena itu, aku tidak ingin melihat orang lain menyerah hanya karena satu pintu tertutup.” Kata-katanya membuatku terdiam.

Mungkin memang benar. Kegagalan hari ini tidak selalu berarti akhir dari segalanya.

“Kalau kamu bersedia, aku ingin mengajakmu bergabung,” lanjutnya. “Tapi kamu tidak perlu menjawab sekarang.”

Aku mengangguk. “Baik.”


Malam harinya, setelah meminta izin kepada adik-adikku, aku memenuhi ajakan Anita. Sebuah mobil berwarna hitam telah terparkir di tempat kami pertama kali bertemu.

Anita berdiri di samping mobil. “Ayo,” sapanya sambil membukakan pintu.

Aku mengangguk pelan.

Sebelum masuk, aku sempat menatap rumah kecil tempat adik-adikku menungguku. Aku tidak tahu pekerjaan apa yang akan ditawarkan Anita. Aku juga belum tahu ke mana kesempatan ini akan membawaku.

Namun, setelah berkali-kali mengetuk pintu yang tertutup, mungkin kali ini Tuhan sedang menunjukkan pintu yang berbeda. Mobil perlahan meninggalkan tempat itu.

Mobil melaju membelah hiruk-pikuk kota. Cahaya lampu gedung memantul di kaca jendela, membentuk garis-garis panjang yang terus bergerak. Rasanya berbeda dengan perjalanan pulang menggunakan bus. Biasanya aku terlalu lelah hingga tertidur sebelum kendaraan meninggalkan terminal.

Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar menikmati pemandangan kota. Di dalam hati, tumbuh secercah harapan. Semoga ini menjadi awal yang baik.

“Kamu akan nyaman bekerja denganku,” ujar Anita sambil menatap lurus ke jalan. “Dulu aku sempat membenci pekerjaan ini. Namun setelah menjalaninya, aku sadar penghasilannya mampu mengubah hidupku. Sekarang justru kujadikan sebagai pekerjaan sampingan.”

Aku menoleh. Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuatku penasaran. Kalimatnya terdengar meyakinkan, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak mampu kubaca.

“Aku harap bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakanmu, Bu Anita.”

Anita tersenyum kecil. “Tidak usah terlalu formal. Panggil aku Anita saja.”

“Baik... Anita.” Aku kembali melihat keluar jendela. “Apa tempatnya masih jauh?”

“Sebentar lagi.”

“Semua karyawan bekerja malam?”

“Tidak. Jam kerjanya berbeda-beda.” Jawabannya singkat.

Aku kembali memberanikan diri bertanya. “Kalau boleh tahu, kenapa kamu masih mengambil pekerjaan ini? Bukankah pekerjaan kantormu sudah cukup mapan?”

Anita tersenyum tipis. “Nanti kamu juga akan tahu.”

Setelah itu, ia menaikkan volume musik di mobil. Aku menangkap isyarat bahwa pembicaraan kami sebaiknya berhenti sampai di situ. Aku pun memilih diam.

Mobil meninggalkan jalan utama dan memasuki kawasan perumahan yang semakin lengang. Deretan rumah besar berdiri berjajar dengan pagar tinggi. Lampu taman menyala redup di sepanjang jalan. Semakin jauh kami masuk, semakin sedikit kendaraan yang terlihat.

Aku melirik layar ponsel. Sinyalnya tinggal satu batang. Entah mengapa, dadaku mulai terasa tidak nyaman.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang jauh lebih besar dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya. Pagar besi terbuka perlahan. Seorang satpam menghampiri. Ia mengangguk hormat kepada Anita.

“Selamat malam, Bu Anita.”

“Malam.”

Satpam itu melirikku sekilas sebelum membuka pintu pagar lebih lebar. Ada perasaan aneh yang sulit kujelaskan.

“Turunlah, Tiara. Kita sudah sampai.”

Aku melangkah keluar sambil memandangi bangunan megah itu. “Ini... kantormu?”

Anita hanya tersenyum. “Masuk dulu.”

Aku mengikutinya. Namun, semakin dekat dengan pintu, semakin kuat perasaan tidak nyaman yang muncul dalam diriku.

Begitu pintu terbuka, aroma parfum yang menyengat bercampur dengan bau alkohol langsung menyambutku.

Langkahku terhenti sesaat. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun duduk santai di sofa kulit. Jas mahal yang dikenakannya tidak mampu menyembunyikan tatapan matanya yang membuatku merasa tidak nyaman. Di atas meja tersusun beberapa botol minuman.

“Pak, ini Tiara,” kata Anita.

Lelaki itu mengangkat wajah. “Cantik.”

Aku hanya membalas dengan senyum tipis. Entah mengapa, sejak memasuki ruangan ini, firasatku semakin buruk. Anita kemudian mundur beberapa langkah.

“Kalian mengobrol saja dulu.” Ia berbalik meninggalkan ruang tamu.

Aku menatap punggungnya dengan bingung. Beberapa detik kemudian, aku segera menyusul keluar.

“Anita.”

Ia berhenti dan menoleh. “Ada apa?”

“Kamu bilang akan mengenalkanku pada pekerjaan.” Aku berusaha menjaga suaraku tetap tenang. “Tapi kenapa aku malah dibawa ke sini?”

Anita menghela napas. “Tiara...” Ia menatapku beberapa saat. “Kamu cantik. Banyak perempuan ingin memiliki wajah sepertimu.”

Aku mulai tidak menyukai arah pembicaraan ini. “Apa hubungannya dengan pekerjaan?”

Anita tersenyum tipis. “Kamu hanya perlu menemaninya malam ini.”

Aku terdiam. “Maksudmu?”

“Dia orang penting. Kalau dia senang, kamu bisa mendapatkan uang belasan juta dalam satu malam.”

Jantungku berdegup keras. Aku menatap Anita tidak percaya. “Jadi... ini pekerjaan yang kamu maksud?”

Anita tidak menjawab. Jawaban itu sudah cukup. Aku merasa seluruh harapanku runtuh dalam sekejap.

“Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal?”

“Kalau kukatakan dari awal, kamu mungkin tidak akan datang.”

Aku menatapnya tajam. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa semua kebaikan Anita sejak awal mungkin memang memiliki maksud lain.

Aku menggeleng pelan. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau.”

Anita mulai kehilangan kesabarannya. “Tiara, hidupmu sedang berantakan. Kamu kehilangan pekerjaan, bukan?”

Aku terdiam.

“Kamu butuh uang.”

“Iya.”

“Lalu apa masalahnya?”

Aku menarik napas panjang. “Aku memang butuh uang.” Aku menatap matanya. “Tapi bukan dengan cara seperti ini.”

Anita mendengus. “Jangan terlalu idealis. Kamu pikir mencari pekerjaan itu mudah?”

“Aku tahu tidak mudah.”

“Lalu kenapa menolak kesempatan mendapatkan uang sebanyak itu?”

Aku mengepalkan tangan. “Karena aku masih punya pilihan untuk berkata tidak.”

Anita menatapku tajam. “Kamu tidak sedang berada dalam posisi untuk memilih.”

Kalimat itu membuat dadaku panas. “Mungkin aku tidak punya banyak pilihan.” Aku menahan air mata. “Tapi aku masih punya hak untuk menentukan apa yang bersedia kulakukan dengan hidupku.”

Anita terdiam.

Aku melanjutkan, “Aku adalah kakak bagi adik-adikku. Setiap hari aku meminta mereka hidup jujur, menjaga kehormatan, dan tidak mengambil jalan pintas hanya karena keadaan sulit.”

Suaraku mulai bergetar. “Lalu bagaimana mungkin aku pulang membawa uang kepada mereka, sementara aku sendiri mengkhianati semua nasihat yang selama ini kuajarkan?”

Anita menggeleng. “Idealismemu tidak akan mengenyangkan perut.”

Aku menatapnya. “Mungkin.” Aku mengusap air mata yang mulai menggenang. “Tapi uang yang kudapat dengan mengorbankan kehormatanku juga tidak akan membuat hidupku lebih baik.”

Wajah Anita berubah dingin. “Kamu akan menyesal.”

Aku menggeleng. “Aku lebih takut menyesal karena kehilangan diriku sendiri.”

Aku berbalik dan mulai melangkah menuju gerbang.

“Tiara!”

Aku berhenti, tetapi tidak menoleh.

          “Kamu pikir setelah ini hidupmu akan mudah?”

“Tidak.”Aku akhirnya menoleh. “Aku tahu hidupku tidak akan mudah. Tapi aku akan mencari jalan lain.”

Aku kembali melangkah. Di tengah perjalanan menuju gerbang, suara Ibu asuhku kembali terngiang jelas dalam ingatan.

Hiduplah dengan keberanian. Jangan pernah membalas keburukan dengan keburukan. Kalau suatu hari dunia memaksamu menjadi jahat... katakan tidak.

Air mataku akhirnya jatuh. “Maaf, Bu,” bisikku lirih. “Aku masih berusaha menjaga pesan Ibu.”

Aku terus berjalan meninggalkan rumah itu. Kali ini aku tidak membawa pekerjaan. Tidak membawa uang. Bahkan tidak tahu bagaimana cara membayar biaya kuliah Aldi. Namun, ada sesuatu yang masih kubawa pulang. Keyakinan bahwa kesulitan tidak boleh memaksaku menjadi seseorang yang tidak kukenal.

Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan pekerjaan, aku tidak merasa gagal. Aku mungkin kehilangan satu kesempatan. Tetapi aku tidak kehilangan diriku sendiri.

***

Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Bayangan rumah mewah itu masih jelas di pelupuk mata. Tatapan pria paruh baya, aroma minuman beralkohol, hingga senyum Anita yang perlahan berubah menjadi sinis terus berputar di kepalaku.

Malam tadi mengajariku satu hal. Tidak semua tangan yang terulur datang untuk menolong. Ada yang sengaja mengulurkan harapan agar kita terjebak di dalamnya. Aku hampir mempercayainya. Padahal kami baru saling mengenal. Suara Ibu kembali memenuhi ingatanku.

Seandainya malam itu aku melupakan nasihatmu, mungkin hari ini aku tidak lagi mampu menatap diriku sendiri di cermin.

Aku tidak membenci Anita. Yang kusesalkan adalah pilihan hidup yang ia ambil. Barangkali hidup pernah berlaku sangat kejam kepadanya hingga ia menganggap jalan itu sebagai satu-satunya cara untuk bertahan. Namun penderitaan tidak pernah menjadi alasan untuk menyeret orang lain ke dalam jurang yang sama.

Jalan hidupku memang tidak mudah. Aku kehilangan Ayah dan Ibu. Aku kehilangan Ibu asuh. Aku kehilangan pekerjaan. Namun, semua itu belum cukup untuk membuatku kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya, setiap kesulitan selalu menyisakan satu pintu yang masih terbuka. Mungkin aku belum menemukannya hari ini, tetapi bukan berarti pintu itu tidak ada. Aku hanya perlu terus berjalan.        Menjadi diriku sendiri. Dan menjaga hati agar tidak ikut gelap hanya karena hidup sedang berada dalam kegelapan.

Aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju teras. Rumah masih begitu sepi. Nafira tertidur lelap di kamar. Bahkan suara hujan yang menetes dari ujung genting pun tidak mampu membangunkannya.

Namun, di teras, kulihat Gerda duduk sendirian di bangku kayu. Kedua tangannya saling menggenggam erat. Tatapannya kosong ke arah halaman yang masih basah.

Biasanya, jam segini ia sudah berangkat ke bengkel. Hari ini, seragam kerjanya masih tergantung di jemuran.

Aku mendekatinya. “Gerda.”

Ia tidak menjawab.

Aku duduk di sampingnya. “Kenapa belum berangkat kerja?”

Gerda tetap diam.

Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya pagi itu. Bukan hanya wajahnya yang pucat, tetapi juga cara ia menarik napas, seolah sedang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk diceritakan.

Aku menatapnya beberapa saat. “Gerda.”

Kali ini ia menoleh.

“Cerita sama Kakak. Jangan dipendam sendiri.”

Matanya memerah. “Kak...”

“Iya?”

“Kalau aku cerita, Kakak masih percaya sama aku?”

Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sesak. Aku segera menggenggam tangannya. “Tentu saja.”

Gerda menunduk.

“Kakak selalu percaya sama adik-adik Kakak. Ceritakan saja.”

Ia menarik napas panjang. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya suaranya terdengar.

“Aku dituduh mencuri uang kas di bengkel.”

Aku terdiam.

Gerda menatap halaman. “Aku memang masuk ke ruangan itu kemarin. Bos menyuruhku mengambil berkas. Setelah mengambilnya, aku langsung keluar dan mengunci pintunya lagi.” Suaranya bergetar. “Aku tidak mengambil uang sedikit pun, Kak.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Tapi setelah itu uangnya hilang.” Gerda mengusap sudut matanya. “Mereka bilang cuma aku yang masuk ke ruangan itu. Jadi mereka menganggap aku yang mengambil.”

Selama ini Gerda selalu berangkat paling pagi dan pulang paling malam. Ia bahkan lebih sering menghabiskan waktunya di bengkel daripada di rumah. Sulit bagiku membayangkan ia melakukan sesuatu seperti itu.

“Apa mereka punya bukti?”

Gerda menggeleng. “Tidak ada.” Ia menunduk semakin dalam. “Hanya karena setelah aku keluar, uang itu hilang.”

“Lalu?”

“Aku dipecat.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Sekarang aku tidak bisa membantu Kakak lagi.”

Gerda menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Maaf, Kak.”

Melihat pundaknya bergetar, aku langsung memeluknya. “Kakak tidak pernah menganggapmu beban.”

Tangis Gerda pecah. “Aku benar-benar tidak mencuri.”

“Kakak tahu.”

“Tapi semua orang menganggap aku pencuri.”

Aku mengusap punggungnya perlahan. “Kalau kamu memang tidak melakukan kesalahan itu, jangan biarkan tuduhan mereka membuatmu percaya bahwa kamu bersalah.”

Gerda terdiam dalam pelukanku.

“Kebenaran mungkin tidak datang secepat tuduhan,” lanjutku pelan, “tetapi selama kita tidak menyembunyikan kesalahan yang memang kita lakukan, kita tidak perlu takut menghadapinya.”

Gerda mengangkat wajah. Matanya masih basah. “Aku harus bagaimana, Kak?”

“Untuk sekarang, jangan menyerah.” Aku mengusap rambutnya. “Besok kita pikirkan apa yang bisa dilakukan. Kalau memang ada cara untuk membuktikan bahwa kamu tidak mengambil uang itu, kita cari.”

“Kalau tidak ada?”

“Kita tetap cari pekerjaan.”

Gerda menatapku. “Bersama?”

Aku tersenyum. “Bersama.”

Ia mengangguk pelan. “Terima kasih, Kak.”

Aku memeluknya sekali lagi. Pagi itu aku kembali menyadari sesuatu. Di rumah ini, aku bukan hanya seorang kakak. Aku adalah tempat pulang bagi mereka ketika dunia memutuskan untuk tidak lagi mempercayai mereka. Dan ternyata, menjadi tempat pulang tidak selalu berarti memiliki semua jawaban.

Kadang, cukup dengan tetap tinggal ketika orang lain pergi. Ada kalanya hidup merenggut semuanya dalam waktu yang bersamaan. Pekerjaan hilang. Harapan memudar. Kepercayaan orang lain lenyap begitu saja. Namun, aku tidak boleh ikut runtuh. Jika aku menyerah, kepada siapa adik-adikku akan bersandar?

Aku mengangkat wajah menatap langit yang masih mendung. Hujan mulai turun kembali. Pelan. Namun kali ini aku tidak merasa takut melihatnya.

“Ya Allah, jangan biarkan kesedihan membuatku lupa bahwa Engkau selalu menyediakan jalan bagi orang yang tidak berhenti berjuang.”

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini. Tetapi satu hal yang pasti— aku akan tetap berjalan. Selama masih ada jalan yang bisa ditempuh, aku tidak akan berhenti mencari.

***

Sudah seminggu aku tidak pernah tidur pulas. Pikiran tentang masa depan kami terus berputar di kepala. Kini aku dan Gerda sama-sama kehilangan pekerjaan. Tabungan yang tersisa semakin menipis, sementara kebutuhan rumah tidak pernah berhenti.

Untungnya, Aldi dan Merisa bergantian menghibur Gerda hingga tawa kembali terdengar di rumah kecil ini. Tawa yang sederhana. Namun, entah mengapa, belakangan ini suara itu justru terasa seperti sesuatu yang harus kami perjuangkan.

“Kak Resya, ada tamu.” Suara Merisa terdengar dari luar kamar.

Aku segera keluar.

Hari Minggu membuat rumah terasa lebih lengang. Merisa sibuk menonton televisi bersama Nafira yang tidak henti-hentinya berceloteh. Sementara itu, Aldi dan Gerda pergi berolahraga sejak pagi.

Aku berjalan menuju ruang tamu. Namun, langkahku terhenti. Seorang lelaki duduk santai di sofa. Aku mengenalinya. Om Wira. Lelaki yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bagian dari masa lalu kami.

Ia menoleh. Senyumnya mengembang. “Pagi, Resya.”

Senyum itu. Senyum yang dahulu pernah terasa akrab, tetapi kini justru membangkitkan luka yang selama bertahun-tahun berusaha kukubur.

Aku memilih tetap berdiri.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya. “Om sudah lama tidak berkunjung. Om juga rindu sama kalian.”

Aku tersenyum tipis. “Rindu?”

Satu kata itu keluar dengan nada yang bahkan tidak mampu kusembunyikan. Senyumnya perlahan menghilang.

“Om salah datang?”

Aku menatapnya untuk pertama kali. “Yang aneh, Om baru ingat jalan pulang setelah bertahun-tahun menghilang.”

“Resya…”

“Dulu Om memilih meninggalkan rumah ini.” Tanganku mengepal. “Bahkan ketika Ibu sakit, Om tidak datang. Saat beliau meninggal, Om juga tidak ada. Jadi sekarang untuk apa Om kembali?”

Om Wira menundukkan kepala. Beberapa saat ia tidak menjawab.

“Aku tahu kamu marah.”

Aku hampir tertawa. “Marah? Menurut Om, aku hanya marah?”

Ia mengangkat wajah. “Bukan hanya marah. Om tahu Om sudah mengecewakan kalian.”

Aku terdiam.

Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan yang langsung ia gunakan untuk membenarkan diri. Justru itu yang membuatku semakin sulit memahami maksud kedatangannya.

“Kalau Om tahu, kenapa baru datang sekarang?”

Om Wira menarik napas panjang. “Karena selama ini Om tidak punya keberanian untuk kembali.”

Aku mengerutkan kening. “Tidak punya keberanian?”

“Setiap kali ingin datang, Om selalu berpikir kalian pasti tidak mau melihat wajah Om.” Ia tersenyum getir. “Dan ternyata dugaan Om tidak sepenuhnya salah.”

Aku tidak menjawab.

“Bukan berarti Om tidak memikirkan kalian,” lanjutnya. “Om tetap berusaha mencari tahu kabar kalian.”

Aku langsung menatapnya. “Kalau begitu, kenapa tidak pernah datang?”

Om Wira terdiam cukup lama. “Ada banyak hal yang belum bisa Om jelaskan.”

“Alasan?”

“Bukan alasan untuk membenarkan kesalahan Om.” Ia menggeleng. “Apa pun yang terjadi waktu itu, Om tetap salah karena memilih pergi.”

Aku memalingkan wajah. Setidaknya kali ini ia tidak berusaha menyangkal.

“Ketika Ibu kalian sakit,” katanya pelan, “Om sebenarnya tahu.”

Aku kembali menatapnya. “Lalu kenapa tidak datang?” Suaraku meninggi. “Kenapa?”

Om Wira mengusap wajahnya. “Karena saat itu Om sedang menghadapi masalah besar. Om kehilangan pekerjaan, terlilit utang, dan…”

Ia berhenti.

“Apa?”

“Ada masalah lain yang membuat Om merasa tidak pantas pulang.”

Aku menggeleng tidak percaya. “Jadi Om memilih menghilang?”

“Iya.” Jawabannya begitu pelan. “Dan itu keputusan yang salah.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Seharusnya Om datang,” lanjutnya. “Seharusnya Om tetap berada di samping Ibu dan kalian, apa pun keadaan Om saat itu.”

Aku tidak menyangka ia akan mengakuinya sejujur itu. Namun, pengakuan tidak serta-merta menghapus luka yang selama ini kami simpan.

“Kenapa sekarang?” tanyaku lebih pelan.

Om Wira menatapku. “Karena keadaan kalian sudah berubah.”

Aku mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Om mendengar kalian sedang mengalami kesulitan.”

Jantungku berdegup lebih cepat. “Tahu dari siapa?”

“Bukan itu yang penting.” Ia menarik napas. “Om hanya tahu keadaan kalian akhir-akhir ini tidak mudah.”

Aku semakin curiga. “Kalau Om tahu keadaan kami, kenapa baru sekarang datang?”

Om Wira tidak langsung menjawab. “Om juga tahu Aldi ingin melanjutkan kuliah.”

Aku membeku. Bagaimana mungkin ia tahu? Selama ini kami bahkan tidak pernah menghubunginya.

“Jadi Om datang karena merasa kasihan?”

“Bukan.”

“Lalu karena apa?”

Om Wira menatapku cukup lama. “Ada sesuatu yang harus Om sampaikan kepada kalian.”

“Apa?”

“Bukan sesuatu yang bisa Om jelaskan hanya kepada kamu.”

Ia melirik ke arah pintu. “Tunggu Aldi dan Gerda pulang. Kalian semua harus mendengarnya.”

Aku semakin tidak mengerti. “Kalau memang penting, katakan sekarang.”

“Belum waktunya.”

“Kenapa?”

“Karena apa yang akan Om sampaikan berkaitan dengan masa depan kalian.”

Masa depan? Kalimat itu justru membuat pikiranku semakin dipenuhi pertanyaan. Aku merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang jelas-jelas ia sembunyikan, dan aku tidak suka berada dalam posisi tidak tahu apa-apa.

“Om mau tinggal di sini?”

Om Wira menggeleng. “Tidak. Om datang sebagai keluarga. Itu saja.”

Aku terdiam.

“Setelah bertahun-tahun pergi, baru sekarang Om berbicara tentang keluarga. Om tahu, kan, keluarga bukan hanya soal hubungan darah?”

Aku menatapnya. “Bagi kami, keluarga adalah seseorang yang tetap tinggal ketika keadaan menjadi sulit.”

Suaraku mulai bergetar. “Dan Om tidak melakukan itu.”

Om Wira tidak membantah. “Om tahu.”

“Jadi jangan berharap semuanya berubah hanya karena Om datang dan meminta maaf.”

“Aku tidak berharap sebanyak itu.”

Aku menggigit bibir, menahan amarah.

Di balik pintu, Merisa berdiri memandangi kami dengan wajah cemas. Nafira berada di sampingnya, menatap bergantian ke arahku dan Om Wira dengan sorot mata polos.

Mereka belum cukup besar untuk memahami mengapa seseorang yang baru datang bisa membuat rumah mendadak dipenuhi ketegangan.

Aku memalingkan wajah. Bagaimana mungkin aku tidak marah? Saat Ibu berjuang melawan penyakitnya, Om Wira tidak datang. Saat Ibu mengembuskan napas terakhir, Om Wira juga tidak ada. Bahkan ketika tanah mulai menutupi makam Ibu, batang hidungnya pun tidak pernah terlihat.

Setelah kepergian Ibu, kami belajar bertahan sendiri. Kami membagi beban. Saling menguatkan. Menyembunyikan kesedihan masing-masing agar yang lain tidak ikut hancur. Tidak sekali pun Om Wira datang untuk melihat keadaan kami secara langsung. Lalu sekarang ia muncul begitu saja. Membawa sesuatu yang ia sebut sebagai urusan penting. Membicarakan masa depan kami.

Aku tidak tahu apakah kedatangannya akan menjadi pertolongan atau justru membuka luka yang selama ini kami coba tutup. Namun, satu hal yang pasti. Aku belum siap memaafkannya. Bukan karena aku ingin terus membencinya. Melainkan karena ada luka yang terlalu lama dibiarkan tanpa penjelasan.

Aku menatap lelaki di hadapanku. “Kalau yang Om bawa hanya permintaan agar kami melupakan masa lalu, jangan berharap terlalu banyak.”

Om Wira menatapku. “Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tidak berusaha tersenyum. Ia hanya duduk diam. Menunggu.

Sementara aku berdiri dengan hati yang penuh pertanyaan. Tak lama lagi Aldi dan Gerda akan pulang. Dan setelah itu, mungkin kami akan mengetahui alasan sebenarnya mengapa lelaki yang telah menghilang selama bertahun-tahun akhirnya memilih mengetuk pintu rumah kami kembali.


Siang harinya

Kami akhirnya duduk bersama di ruang tamu. Aku, Aldi, Gerda, dan Om Wira. Merisa dan Nafira bermain di kamar. Sengaja tidak kuizinkan mereka ikut mendengarkan pembicaraan ini.

Sejak tadi, perasaan tidak tenang terus menghantuiku. Dari perkataan Om Wira, jelas bahwa kedatangannya bukan sekadar untuk meminta maaf.

Ada sesuatu yang lebih besar. Om Wira duduk dengan kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan yang kuingat.

Aldi menjadi orang pertama yang membuka percakapan. “Om sebenarnya mau membicarakan apa?”

Om Wira menarik napas panjang. “Sebelum Om menjelaskan semuanya, Om ingin meminta maaf.”

Gerda langsung menyahut. “Permintaan maaf tidak akan mengubah apa pun.”

“Gerda,” tegurku pelan.

“Tapi memang benar, Kak.” Gerda menatap Om Wira. “Bertahun-tahun Om tidak pernah datang. Sekarang tiba-tiba muncul dan bilang ada sesuatu yang harus kami ketahui. Wajar kalau kami curiga.”

Om Wira mengangguk. “Om mengerti.”

“Jadi bicara saja,” kata Aldi. “Apa sebenarnya masalahnya?”

Om Wira terdiam beberapa detik. Kemudian ia berkata, “Masalahnya berkaitan dengan rumah ini.”

Aku langsung menegang. “Rumah?”

Om Wira mengangguk. “Beberapa tahun lalu, sebelum Om pergi, rumah ini pernah dijadikan jaminan untuk sebuah utang.”

Gerda menatapnya tidak percaya. “Apa?”

Aku ikut menatap Om Wira. “Jadi… rumah ini pernah dijadikan jaminan?”

“Iya.”

Gerda berdiri. “Om benar-benar melakukan itu?”

“Gerda…”

“Tidak, Kak.” Tatapannya mulai memerah. “Selama ini kita tinggal di rumah ini tanpa tahu apa-apa. Kita pikir rumah ini aman. Kita pikir setelah Ibu meninggal, setidaknya masih ada tempat untuk kita pulang.”

Om Wira menundukkan kepala. “Om tahu.”

“Tidak!” suara Gerda meninggi. “Om tidak tahu!”

Aldi segera berdiri dan mendekatinya. “Gerda, tenang.”

“Bagaimana aku bisa tenang?” Ia menatap Om Wira. “Waktu Ibu sakit, Om tidak ada. Waktu Ibu meninggal, Om juga tidak ada. Bertahun-tahun kami bertahan sendiri. Sekarang setelah kami mulai bisa berdiri, Om datang membawa masalah rumah ini!”

Om Wira tetap diam.

Aku berdiri di antara mereka. “Gerda, cukup.”

Gerda mengusap air matanya dengan kasar lalu kembali duduk. Aku menatap Om Wira.

“Benarkah rumah ini masih bermasalah?”

“Iya.”

“Seberapa besar?”

Om Wira menarik napas. “Utangnya belum lunas.”

Dadaku terasa sesak. “Berapa lama batas waktunya?”

“Tidak lama lagi.”

Gerda kembali menatapnya. “Kalau tidak dilunasi?”

Om Wira menjawab pelan. “Rumah ini bisa berpindah tangan.”

Aku merasa seolah kehilangan pijakan. Rumah ini. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya tempat kami berteduh. Rumah yang menyimpan semua kenangan tentang Ibu. Rumah yang menjadi tempat kami belajar bertahan setelah beliau pergi. Dan sekarang rumah itu terancam hilang.

“Kenapa baru sekarang Om bilang?” tanyaku.

“Karena Om sedang berusaha menyelesaikannya sendiri.”

“Dan berhasil?”

Om Wira menggeleng. “Belum.”

Aku tertawa kecil tanpa humor. “Tentu saja.”

Om Wira menatapku. “Om sudah mencoba mengambil kembali sertifikat rumah itu. Om juga sudah mengumpulkan sebagian uangnya.”

“Sebagian?” tanya Aldi.

“Iya.”

“Berarti masih kurang?”

“Masih.”

Gerda menatap lantai. “Berapa?”

Om Wira menyebutkan jumlahnya. Kami semua terdiam. Jumlah itu jauh di luar kemampuan kami.

Aku menghela napas panjang. “Aku dan Gerda bahkan sudah kehilangan pekerjaan.”

Om Wira langsung menatapku. “Kamu sudah tidak bekerja?”

Aku menggeleng. “Sejak beberapa waktu lalu.”

Ia terlihat terkejut. “Kenapa Om tidak tahu?”

Aku tersenyum getir. “Karena selama ini kami tidak pernah merasa perlu memberi tahu Om.”

Om Wira terdiam.

“Dan Gerda?”

Aku menoleh kepadanya. “Dia juga kehilangan pekerjaannya.”

Gerda menundukkan kepala.

Wajah Om Wira perlahan berubah. “Kenapa kalian tidak pernah memberi tahu Om?”

Aku menjawab pelan, “Karena kami sudah terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Om Wira menundukkan kepala. “Om tidak menyangka keadaan kalian sudah sejauh ini.” Ia mengusap wajahnya. “Om benar-benar minta maaf.”

Gerda tertawa pahit. “Maaf lagi.”

“Gerda…”

“Tidak, Kak. Aku hanya ingin tahu satu hal.” Ia menatap Om Wira. “Kenapa sekarang?”

Om Wira mengangkat wajah. “Karena Om tidak ingin kalian kehilangan rumah ini.”

“Om ingin membantu mempertahankannya.”

Aku menggeleng. “Bagaimana caranya?”

“Itulah yang ingin Om bicarakan malam ini.”

“Kalau caranya dengan meminta kami membayar utang itu, kami tidak sanggup.”

Rasanya percakapan malam ini justru menambah lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Om Wira kemudian berkata, “Om tahu kalian belum bisa memaafkan Om.”

Tidak ada yang menjawab.

“Dan Om tidak akan memaksa kalian.” Ia menarik napas panjang. “Tapi kali ini Om tidak akan pergi sebelum berusaha memperbaiki kesalahan Om.”

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Penyesalan. Bukan sekadar kata maaf. Namun, apakah penyesalan itu cukup untuk menyelamatkan rumah kami? Aku tidak tahu.

Malam itu kami tidak menemukan jawaban. Yang kami tahu hanyalah satu hal. Rumah yang selama ini kami anggap sebagai tempat paling aman ternyata sedang berada di ujung kehilangan. Dan untuk mempertahankannya, kami harus kembali berjuang.

Entah dari mana harus memulai. Aku menatap ke arah lorong menuju kamar Ibu. Di rumah inilah kami pernah tertawa bersamanya. Di rumah inilah kami merawatnya ketika sakit. Di rumah inilah kami menangis ketika akhirnya harus kehilangan beliau.

Aku tidak ingin kehilangan rumah ini juga. Namun, untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu. Kehilangan tidak selalu berarti mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang. Kadang, kehilangan berarti berdiri di depan rumah sendiri dan bertanya-tanya… Apakah besok kita masih akan memiliki tempat untuk pulang.

***

Rumah Ibu bukanlah milik kami. Kami memang pernah tinggal di sana. Membesarkan mimpi di bawah atap yang sama. Belajar saling menguatkan ketika dunia terasa terlalu berat. Namun, pada akhirnya, rumah itu tetap bukan sesuatu yang bisa kami pertahankan hanya karena di dalamnya tersimpan begitu banyak kenangan.

Kami hanya anak-anak angkat dari seorang perempuan berhati mulia yang telah tiada. Dengan berat hati, kami meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh. Tempat kami belajar menjadi keluarga. Tempat terakhir kami merasakan kasih sayang seorang ibu.

Hari ketika kami mengemasi barang-barang terasa seperti mengucapkan selamat tinggal untuk kedua kalinya. Aku berdiri cukup lama di depan pintu sebelum akhirnya menutupnya. Tidak ada lagi suara langkah Ibu dari dapur. Tidak ada lagi aroma masakan yang menyambut ketika kami pulang.

Namun, aku percaya, kasih sayang tidak pernah benar-benar tinggal di sebuah bangunan. Ia tinggal di dalam hati orang-orang yang pernah menerimanya. Kebahagiaan yang kami bangun dengan susah payah memang sempat runtuh dalam sekejap.

Namun, terus meratapi kehilangan tidak akan mengubah kenyataan. Kami memilih menerima takdir. Bukan karena kami tidak sedih. Melainkan karena kami percaya bahwa menerima bukan berarti menyerah.

Berbekal rumah tua peninggalan kedua orang tuaku yang selama ini dirawat Mbok Parmi, kami memulai kehidupan dari awal.

Rumah itu tidak semegah rumah Ibu. Cat dindingnya mulai pudar. Beberapa bagian atap perlu diperbaiki. Gudangnya dipenuhi barang-barang lama yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Namun, setidaknya rumah itu masih memberi kami satu hal yang paling kami butuhkan. Tempat untuk pulang.

“Kakak!” Suara Nafira membuyarkan lamunanku. “Kak Merisa di mana?” Ia berlari-lari kecil menyusuri rumah.

“Mungkin di luar membantu Kak Gerda dan Kak Aldi membereskan gudang.” Aku masih sibuk menyiapkan sarapan di dapur.

“Fira mau ke gudang, ya, Kak.”

“Boleh. Tapi lihat dari jauh saja, ya. Gudangnya masih berdebu. Biar Kak Gerda dan Kak Aldi yang mengangkat barang-barang berat. Fira bantu menyapu saja.”

Nafira mengangguk riang lalu berlari keluar.

Dari balik jendela dapur, aku memperhatikan adik-adikku bekerja sama membereskan ruangan di depan rumah. Gerda mengangkat lemari tua. Aldi sibuk memperbaiki rak kayu yang hampir roboh. Merisa dan Nafira menyapu lantai sambil sesekali saling bercanda. Tawa mereka memenuhi halaman.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah tua yang sebelumnya terasa begitu sepi kembali hidup.

Sudah dua bulan kami tinggal di sini. Rumah Ibu kini telah menjadi milik orang lain. Anehnya, aku tidak lagi menyimpan keinginan untuk merebutnya kembali. Ada kenangan yang tidak bisa dibeli. Ada kasih sayang yang tidak membutuhkan sebuah rumah untuk tetap hidup.

Aku percaya, Ibu akan memahami keputusan kami. Rumah memang bisa menjadi tempat menyimpan kenangan. Namun, rumah tidak pernah benar-benar menentukan arti sebuah keluarga.

Bagiku, rumah bukan tentang seberapa besar bangunannya. Bukan tentang seberapa indah perabotannya. Rumah adalah tempat seseorang merasa aman untuk pulang. Dan selama kami masih saling memiliki, di mana pun kami berada, aku tahu kami tetap mempunyai rumah.

Gerda dan Aldi kemudian memiliki rencana mengubah gudang menjadi warung kecil agar aku tidak perlu bekerja jauh dari rumah lagi. Mereka ingin aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Bermodalkan sisa tabunganku, kami mulai membeli rak, etalase, dan sedikit demi sedikit mengisinya dengan barang dagangan.

Tidak mudah. Kami harus menghitung setiap rupiah. Namun, kali ini kami tidak takut memulai dari nol. Kami sudah pernah kehilangan hampir semuanya. Dan ternyata, kehilangan tidak membuat kami benar-benar habis.

Justru dari sana kami belajar bahwa selama masih ada kemauan untuk bangkit, selalu ada sesuatu yang bisa diperjuangkan.

Beberapa bulan kemudian, kabar baik mulai berdatangan. Aldi diterima bekerja di sebuah perusahaan. Gerda pun dipanggil kembali ke bengkel setelah pelaku pencurian yang sebenarnya berhasil ditangkap.

Keduanya tetap melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan biaya hasil jerih payah mereka sendiri. Melihat mereka tersenyum, aku merasa seluruh lelahku selama ini tidak sia-sia.

Keceriaan kembali memenuhi rumah. Tawa yang sempat hilang kini terdengar hampir setiap hari. Tidak semuanya sempurna. Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi meminta hidup menjadi sempurna.

Aku hanya ingin kami tetap bersama. Sementara itu, Om Wira benar-benar menepati janjinya. Ia meninggalkan kebiasaan berjudi dan mabuk-mabukan. Ia memilih merantau untuk bekerja dan memulai hidupnya dari awal.

Berkat kerja kerasnya, ia dipercaya menjadi salah satu karyawan andalan di tempat kerjanya. Setiap bulan, sebagian penghasilannya selalu dikirimkan kepada kami. Bukan karena kami meminta. Ia melakukannya karena ingin memperbaiki kesalahan yang pernah ia buat.

“Sisihkan rezeki untuk bersedekah dan jangan lupa menabung.” Pesan itu selalu ia ulang setiap kali menghubungi kami.

Saat libur panjang tiba, Om Wira tidak pernah lupa pulang. Ia membantu memperbaiki rumah, bermain bersama Nafira, memperbaiki rak warung, dan menemani kami makan malam.

Hubungan kami tidak langsung berubah menjadi hangat. Ada luka yang membutuhkan waktu untuk sembuh. Namun, sedikit demi sedikit, jarak itu mulai menghilang.

Aku akhirnya memahami satu hal. Memaafkan tidak berarti mengatakan bahwa apa yang pernah dilakukan seseorang adalah benar. Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan masa lalu menentukan seluruh masa depan.

Untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku belajar bahwa seseorang bisa berubah jika benar-benar ingin memperbaiki dirinya.


Suatu sore, hujan kembali turun. Aku berdiri di depan warung kecil kami sambil memandang jalanan yang basah. Dulu, hujan selalu membuatku takut. Setiap rintiknya mengingatkanku pada kecelakaan yang merenggut Ayah dan Ibu.

Pada kehilangan Ibu asuh. Pada rumah yang harus kami tinggalkan. Pada hari-hari ketika aku merasa Tuhan mengambil semuanya dariku satu per satu. Namun, hari ini berbeda. Aku masih mengingat semua kehilangan itu. Aku hanya tidak lagi membiarkannya menentukan bagaimana aku menjalani hidup.

Nafira berlari keluar sambil membawa payung. “Kak!”

Aku menoleh.

“Masuk, nanti kehujanan!”

“Sebentar.” Aku menatap langit.

Hujan masih turun. Tetapi kali ini, aku tidak melihatnya sebagai pertanda kesedihan. Aku melihatnya sebagai sesuatu yang pernah mengajarkanku tentang kehidupan. Bahwa setelah tanah menjadi basah, akan selalu ada sesuatu yang tumbuh. Bahwa setelah kehilangan, masih ada kesempatan untuk memulai kembali. Dan bahwa setelah hati berkali-kali patah, Tuhan tetap mampu menghadirkan alasan untuk bersyukur.

Dalam hati, aku berdoa, “Ya Allah, terima kasih karena Engkau tidak pernah benar-benar meninggalkan kami. Ketika satu pintu tertutup, Engkau mengajarkan kami untuk mencari jalan lain. Ketika seseorang pergi, Engkau menghadirkan kekuatan untuk bertahan. Dan ketika kami merasa tidak memiliki apa-apa, Engkau mengingatkan bahwa kami masih memiliki satu sama lain.”

Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Di sana, suara tawa adik-adikku kembali terdengar. Hangat. Sederhana. Nyata.

Saat itu aku akhirnya mengerti— rumah bukanlah tempat yang tidak pernah kehilangan penghuninya. Rumah adalah tempat kita tetap memilih untuk pulang, meski kehidupan telah berkali-kali mengajarkan kita tentang kehilangan.

Dan selama kami masih saling menggenggam, aku tahu satu hal. Aku tidak lagi takut menghadapi hari esok. Karena untuk pertama kalinya, aku tidak hanya bertahan hidup. Aku benar-benar sedang menjalani hidup.

 

Tamat


Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar