Matahari bersembunyi di balik awan. Langit diselimuti warna hitam pekat,
pertanda hujan belum akan berhenti.
Tetes-tetes air menggantung di ujung daun sebelum akhirnya jatuh menyapa orang-orang yang berlalu-lalang. Udara dingin merayap hingga ke tulang. Gemuruh petir bersahut-sahutan dengan bising klakson kendaraan yang terjebak kemacetan.
Genangan air memenuhi jalan hingga setinggi lutut orang dewasa. Meski
begitu, tak seorang pun berhenti. Mereka tetap menerobos hujan dan banjir demi
mencari nafkah.
Barangkali beginilah kehidupan. Ketika perut harus tetap diisi dan
keluarga menunggu di rumah, hujan bukan lagi alasan untuk menyerah. Setiap
orang memikul bebannya sendiri, lalu berusaha melangkah sejauh yang mereka
mampu.
Tak seorang pun dapat menduga kapan hujan akan datang. Kadang ia turun
ketika tidak diharapkan, kadang justru tak kunjung hadir saat begitu
dinantikan.
Dulu, setiap kali hujan menyapa, hatiku selalu diliputi duka. Terlalu
banyak kenangan yang lahir bersamanya hingga setiap rintiknya terasa
menyakitkan.
Hujan menjadi lambang kesenduan, menemani perjalanan hidup yang penuh
luka. Namun, karena terlalu sering berjalan bersamanya, aku akhirnya belajar
terbiasa.
Hujan tidak pernah menjadi milikku. Tuhanlah pemiliknya. Maka, tak ada
alasan untuk menyesali setiap kedatangannya. Sebab, di balik setiap tetesnya
selalu tersimpan nikmat yang belum tentu mampu kita pahami.
Aku tumbuh dalam limpahan kasih sayang. Tak pernah sekali pun terlintas
dalam pikiranku bahwa suatu hari aku harus menjalani hidup tanpa mereka.
“Ra, nanti kalau sudah sampai rumah, Ayah mau buatkan kolam ikan yang
kamu minta.”
“Janji, ya?”
Ayah tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya dari kemudi.
“Janji.”
Ibu terkekeh pelan. “Jangan terlalu dimanja. Nanti semua halaman rumah
penuh kolam.”
“Tidak apa-apa,” sahut Ayah. “Putri Ayah cuma satu.”
Aku memeluk lengan Ibu sambil tersenyum puas. Di luar jendela, pepohonan
berlarian mengikuti laju mobil. Langit yang semula cerah perlahan tertutup awan
kelabu.
Rintik hujan mulai membasahi kaca depan.
“Ayah, hujannya deras.”
“Iya. Pegang sabuk pengaman yang benar.”
Suara wiper bergerak semakin cepat, menyapu air yang terus membasahi
kaca. Kemudian, semuanya terjadi begitu cepat.
Sreeettt! Suara rem
memekakkan telinga. Mobil oleng ke kanan. Ibu spontan merengkuh tubuhku.
“Ra!”
Brak! Tubuhku
terhempas. Kaca mobil pecah. Dunia berputar begitu cepat sebelum akhirnya
semuanya berubah gelap.
Bau obat memenuhi penciumanku. Kelopak mataku terasa berat ketika
perlahan terbuka. Pandanganku masih kabur. Hal pertama yang kulakukan adalah
mencari tangan Ibu. Namun, yang menggenggam jemariku hanyalah tangan seorang
perawat.
“Ibu...?”
Tak ada jawaban.
Aku menoleh ke kanan dan kiri. Jantungku mulai berdegup tak beraturan. “Ayah?”
Perawat itu hanya menatapku dengan wajah yang sulit kuartikan.
“Ayah di mana?”
Tak ada jawaban. Dadaku mulai terasa sesak.
“Di mana Ayah dan Ibu?”
Seorang dokter mendekat. Tatapannya penuh iba. Ia berdiri beberapa saat
di samping tempat tidurku, seolah sedang mencari cara paling lembut untuk
menyampaikan sesuatu yang tak mungkin terdengar lembut.
“Kami sudah berusaha.”
Hanya empat kata. Namun, empat kata itu menghancurkan seluruh
kehidupanku.
Hari itu aku menjerit. Aku memohon agar Tuhan mengembalikan mereka. Aku
belum mengerti bagaimana mungkin dua orang yang beberapa jam sebelumnya masih
berbicara denganku kini tak akan pernah lagi membuka mata dan memanggil namaku.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti bahwa kehilangan bukan
sekadar tentang seseorang yang pergi.
Kehilangan adalah ketika seluruh kehidupan yang selama ini kita kenal
tiba-tiba berubah arah. Dan sejak hari itu, aku tidak lagi menjadi anak yang
sama.
Hari-hari setelah kecelakaan terasa begitu panjang. Aku tinggal di
sebuah panti asuhan bersama anak-anak lain yang mengalami nasib serupa. Mereka
bermain, belajar, dan tertawa. Sementara aku memilih mengurung diri di sudut
kamar.
Aku tidak mau berbicara. Tidak mau makan. Tidak peduli siapa pun yang
mencoba menghibur.
Setiap malam, aku memeluk lutut di atas ranjang sambil menangis
diam-diam. Rasanya, jika terus memejamkan mata, mungkin ketika membukanya
kembali, Ayah dan Ibu akan datang menjemputku. Namun, pagi selalu membawa
kenyataan yang sama. Mereka tidak pernah datang.
Pada suatu sore, seorang perempuan paruh baya masuk ke kamarku sambil
membawa semangkuk bubur hangat. Aroma kaldu memenuhi ruangan.
Beliau duduk di sampingku. “Ayo makan sedikit.”
Aku menggeleng.
Beliau tersenyum tipis. “Kalau belum sanggup menghabiskan semangkuk,
tiga sendok saja.”
Aku tetap diam.
Beliau tidak memaksa. Bubur itu diletakkan di atas meja kecil sebelum
beliau berdiri dan keluar.
Esoknya, beliau datang lagi. Masih dengan semangkuk bubur yang mengepul.
Aku kembali menggeleng.
Beliau hanya berkata pelan, “Tidak apa-apa.”
Hari ketiga, beliau kembali datang.
Hari keempat, masih dengan senyum yang sama.
Aku akhirnya tidak sanggup lagi menyimpan pertanyaan yang sejak lama
mengganjal di dada.
“Kenapa Ibu terus datang?”
Beliau menatapku lembut. “Karena aku khawatir kamu kelaparan.”
“Bukankah masih banyak anak lain?”
“Iya.”
“Lalu kenapa Ibu baik sekali kepadaku?”
Beliau terdiam cukup lama sebelum mengembuskan napas perlahan.
“Karena dulu aku juga pernah kehilangan.”
Aku mengangkat wajah. Sorot matanya tidak sedang mengasihaniku. Justru
ada luka yang sama seperti yang kurasakan.
Beliau mengusap rambutku perlahan. “Aku tahu rasanya berharap seseorang
pulang, padahal kita sudah tahu mereka tidak akan pernah kembali.”
Air mataku kembali jatuh. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu,
aku menangis di hadapan seseorang. Beliau tidak menyuruhku berhenti. Tidak
mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Beliau hanya memelukku erat
hingga tangisku perlahan mereda. Pelukan itu menghangatkan ruang kosong di
dalam hatiku yang selama ini terasa dingin.
Sejak hari itu, aku tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.
Waktu berlalu.
Aku mulai keluar dari kamar. Mulai berbicara dengan anak-anak lain.
Sesekali ikut bermain, membantu pekerjaan rumah, dan duduk bersama mereka saat makan.
Rumah kecil itu tidak pernah dipenuhi makanan mewah. Kami berlima sering
duduk mengelilingi meja makan yang bahkan tidak cukup untuk seluruh penghuni
rumah.
Hari itu, lauk kami hanya seekor ayam goreng. Ibu membaginya dengan
sangat hati-hati. Sayap untuk Aldi. Dada untuk Gerda. Potongan kecil untuk
Merisa. Paha untuk Nafira yang sejak tadi memandangi piring dengan mata
berbinar. Lalu, beliau meletakkan sepotong kecil daging di piringku.
Aku tersenyum pelan. “Ibu, Tiara sudah kenyang.”
“Kamu belum makan.”
“Tadi Tiara sudah makan roti di sekolah.” Aku berbohong.
Padahal, sejak pagi hanya segelas air putih yang masuk ke perutku.
“Kalau begitu...” Aku mengambil potongan daging itu lalu memindahkannya
ke piring Nafira. “Nafira sedang masa pertumbuhan.”
Mata Nafira berbinar. “Benarkah buat Nafi?”
“Iya.”
Gadis kecil itu tersenyum lebar sebelum melahap paha ayam dengan penuh
semangat.
Aku ikut tersenyum.
Melihat adikku makan dengan lahap sudah lebih dari cukup untuk
mengenyangkan hati.
Dari seberang meja, Ibu hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Namun,
aku tahu beliau melihat kebohonganku.
Malamnya, ketika adik-adikku sudah tertidur, terdengar ketukan pelan di
pintu kamar.
Tok... Tok...
Aku membukanya perlahan. Ibu berdiri di depan pintu sambil membawa
sebungkus roti hangat.
“Ini untukmu.”
Aku menggeleng. “Ibu, Tiara tidak lapar.”
Beliau tersenyum, lalu menyelipkan roti itu ke tanganku. “Kakak juga
masih masa pertumbuhan.”
Kalimat sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat. Aku memandang roti
di tanganku, lalu menatap wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang.
“Terima kasih, Bu.”
Beliau mengusap kepalaku pelan. “Tidak perlu berbohong kalau sedang
lapar.”
Aku menunduk. Air mataku kembali menggenang. Bukan karena lapar. Melainkan
karena untuk kedua kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang menyayangiku
seperti seorang ibu.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah kehilangan Ayah dan Ibu,
aku merasa bahwa mungkin rumah bukan selalu tentang tempat kita dilahirkan.
Terkadang, rumah adalah seseorang yang memilih tetap tinggal ketika kita
merasa tidak punya siapa-siapa.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Rumah kecil kami tetap dipenuhi tawa,
meski hidup serba sederhana. Namun, tanpa kusadari, kesehatan Ibu mulai
menurun. Beliau lebih sering batuk. Awalnya hanya batuk kecil yang sesekali
terdengar saat memasak di dapur.
“Ahem... ahem...”
“Ibu tidak apa-apa?” tanyaku sambil menghampiri.
Beliau segera menggeleng sambil tersenyum. “Hanya masuk angin.”
Aku mengangguk, meski tidak benar-benar percaya.
Hari demi hari, batuk itu semakin sering terdengar. Namun, Ibu tetap
bangun sebelum subuh untuk memasak. Tetap menyiapkan bekal sekolah. Tetap
mencuci pakaian kami. Tetap mengantar Nafira ke taman kanak-kanak sambil
menggandeng tangan mungilnya. Seolah
tubuhnya tidak pernah mengenal lelah.
Suatu pagi, kulihat beliau harus berpegangan pada kusen pintu setelah
mengantar Nafira pulang.
Wajahnya pucat. Napasnya terdengar berat.
Aku berlari menghampiri. “Ibu, istirahat saja. Biar Tiara yang
mengerjakan semuanya.”
Beliau mengusap kepalaku pelan. “Kalau Ibu berhenti bergerak, nanti
kalian makan apa?”
“Tapi kesehatan Ibu lebih penting.”
Beliau tersenyum seperti biasa. “Masih
kuat.” Jawaban itu sederhana.
Namun, sejak hari itu aku mulai memahami bahwa seorang ibu sering kali
menyembunyikan rasa sakitnya agar anak-anaknya tidak ikut khawatir.
Malam harinya, saat semua orang tertidur, aku mendengar suara batuk dari
dapur. Aku mengintip dari balik pintu. Ibu sedang menahan batuk sambil menutup
mulut dengan selembar kain. Ketika kain itu beliau turunkan, samar-samar
kulihat bercak merah di sana.
Dadaku seketika sesak. “Ibu...”
Beliau terkejut mengetahui aku berdiri di belakangnya. Dengan cepat kain
itu disembunyikan di balik punggung.
“Belum tidur?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menghampiri lalu memeluk beliau erat. Entah
mengapa, malam itu hatiku dipenuhi ketakutan yang belum pernah kurasakan
sebelumnya.
Beberapa hari kemudian, hujan turun tanpa henti. Listrik padam sejak
sore. Rumah kecil kami hanya diterangi cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan
tertiup angin. Bayangan kami menempel di dinding, bergerak mengikuti nyala api
yang tak pernah benar-benar tenang.
Aldi, Gerda, Merisa, dan Nafira sudah terlelap. Aku masih duduk di ruang
tengah sambil menjahit kancing seragam sekolah Merisa yang terlepas.
“Ra.” Suara Ibu terdengar lirih
dari kamar.
Aku segera menghampiri. “Iya, Bu?”
Beliau menepuk sisi ranjang, memintaku duduk di sampingnya. Tangannya
terasa lebih dingin dari biasanya ketika menggenggam jemariku. Aku
menggenggamnya lebih erat.
“Ibu ingin bicara sebentar.”
Aku mengangguk pelan.
Beliau memandang wajahku cukup lama. Tatapan itu terasa aneh.
Seolah-olah beliau sedang menghafal setiap bagian dari wajahku.
“Kalau suatu hari nanti Ibu tidak ada...”
“Bu...” Aku langsung memotong ucapannya. “Jangan bicara seperti itu.”
Beliau tersenyum lembut. “Tiara, dengarkan Ibu dulu.”
Aku menunduk.
Beliau mengusap punggung tanganku perlahan. “Setiap orang yang datang ke dunia ini pada akhirnya akan kembali
kepada-Nya.”
Aku menggigit bibir, berusaha menahan tangis. “Aku tidak mau Ibu pergi.”
Beliau menarik napas panjang. “Ibu juga ingin tetap bersama kalian.” Suaranya
terdengar semakin pelan. “Namun, kalau suatu hari nanti Ibu benar-benar tidak
bisa menemani kalian lagi, Ibu ingin kamu menjaga adik-adikmu.”
Aku menggeleng cepat. “Tiara masih belum bisa, Bu.”
“Kamu bisa.”
“Tiara takut.”
“Tidak apa-apa takut.” Beliau tersenyum. “Yang penting, jangan biarkan
rasa takut membuatmu berhenti.”
Air mataku mulai jatuh. Beliau mengusapnya dengan ibu jarinya. “Tiara,
kamu adalah anak yang kuat.”
“Tidak, Bu. Tiara tidak sekuat itu.”
“Kekuatan bukan berarti tidak pernah menangis.” Beliau berhenti sejenak
untuk mengatur napas. “Kekuatan adalah tetap memilih berdiri setelah menangis.”
Aku menundukkan kepala. Air mataku jatuh semakin deras. Beliau
menggenggam tanganku lebih erat.
“Hiduplah dengan keberanian. Jangan pernah membalas keburukan dengan
keburukan.”
Aku mengangguk sambil menangis.
“Kalau suatu hari dunia membuatmu kecewa, jangan biarkan hatimu berubah
menjadi keras.”
Aku menatapnya.
“Dan kalau dunia memaksamu menjadi jahat...” Beliau tersenyum tipis. “...katakan
tidak.”
Ruangan kembali sunyi. Yang terdengar hanya suara hujan di luar rumah
dan isak tangisku yang berusaha kutahan.
Malam itu aku tidak tahu bahwa percakapan sederhana tersebut akan
menjadi percakapan terakhirku dengan Ibu. Aku juga tidak tahu bahwa setelah
malam itu, aku tidak akan pernah lagi mendengar suara beliau memanggil namaku.
Subuh datang tanpa suara beliau membangunkan kami. Tidak ada aroma
masakan dari dapur. Tidak ada langkah kaki yang tergesa-gesa menyiapkan
sarapan. Yang ada hanyalah suara orang-orang yang datang silih berganti dan
tangisan yang memenuhi rumah.
Aku hanya duduk diam. Rasanya semua yang terjadi begitu cepat hingga
pikiranku belum sempat menerima kenyataan.
Hari itu, untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku kehilangan sosok yang
kupanggil Ibu.
Beberapa hari setelah pemakaman, rumah kembali sunyi. Tidak ada lagi
aroma masakan yang memenuhi dapur setiap pagi. Tidak ada suara langkah kaki
yang mondar-mandir membangunkan kami. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya
apakah kami sudah makan.
Di meja makan, lima piring sudah tertata seperti biasa. Bedanya, kursi
di ujung meja tetap kosong. Tidak akan ada lagi yang duduk di sana. Nafira
menoleh kepadaku.
“Kak...”
“Iya?”
“Ibu kapan pulang?”
Tanganku yang sedang memegang sendok langsung terdiam. Aku membuka
mulut. Namun, tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Nafira kembali
menatap kursi kosong itu.
“Aku kangen Ibu.”
Aku meletakkan sendok, lalu memeluknya erat.
“Ibu sekarang sudah bersama Allah.”
Nafira terdiam beberapa saat. “Kalau begitu...” Suaranya bergetar. “Allah,
boleh pinjam Ibu sebentar saja?”
Aku menahan napas.
“Nafira mau dipeluk.”
Dadaku terasa diremas. Aku mengusap rambutnya sambil berusaha menahan
tangis.
“Ibu memang tidak bisa pulang lagi, Nafi. Tapi Ibu akan selalu sayang
sama kita.”
Nafira menangis di pelukanku. Aku memejamkan mata. Untuk kedua kalinya,
seseorang yang sangat kusayangi pergi meninggalkan kami. Namun kali ini
berbeda.
Dulu, setelah Ayah dan Ibu pergi, aku hanya seorang anak yang kehilangan
tempat untuk pulang. Sekarang, aku bukan lagi satu-satunya yang harus belajar
menerima kehilangan. Masih ada empat hati kecil yang menggantungkan harapan
kepadaku.
Empat anak yang masih membutuhkan seseorang untuk membangunkan mereka
setiap pagi, menyiapkan makanan, mendengarkan cerita mereka, dan meyakinkan
mereka bahwa hidup masih layak dijalani.
Aku menatap keempat adikku. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar
memahami maksud pesan terakhir Ibu. Aku mungkin belum siap. Aku mungkin masih
takut. Aku bahkan masih ingin menangis dan memanggil Ibu seperti anak kecil. Namun,
aku tidak boleh berhenti. Karena mulai hari itu, aku bukan hanya harus belajar
bertahan untuk diriku sendiri. Aku harus belajar menjadi rumah bagi mereka.
Malam harinya, ketika semua adikku telah tertidur, aku berjalan perlahan
menuju dapur. Ruangan itu masih sama. Panci-panci masih tersusun rapi. Cangkir
kesayangan Ibu masih berada di rak.
Di sudut dinding, celemek bermotif bunga yang biasa beliau kenakan masih
tergantung. Aku mendekatinya. Tanganku gemetar saat melepaskan celemek itu dari
gantungannya. Kainnya masih menyisakan samar aroma sabun dan masakan yang
begitu akrab. Aroma yang seharusnya sederhana.
Namun malam itu, justru terasa seperti bagian terakhir dari Ibu yang
masih tersisa di rumah ini. Tanpa sadar, aku memeluk celemek itu erat. Air
mataku pecah.
“Bu...” Suaraku nyaris tak terdengar. “Aku kangen...”
Aku menundukkan wajah ke kain itu, membiarkan air mata membasahinya. Untuk
pertama kalinya sejak pemakaman, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena aku
tidak ikhlas. Bukan pula karena aku ingin mempertanyakan takdir.
Aku hanya sedang merindukan seseorang yang tidak akan pernah bisa lagi
menjawab panggilanku. Aku merindukan suara Ibu. Masakan Ibu. Teguran kecilnya. Sentuhan
tangannya di kepalaku. Dan kalimat sederhana yang dulu sering kuanggap biasa:
“Sudah makan?”
Kini aku sadar, hal-hal sederhana itulah yang ternyata paling sulit
untuk dilupakan.
Mulai malam itu, tidak akan ada lagi seseorang yang menungguku pulang. Tidak
ada lagi yang menyuruhku makan ketika aku lupa menjaga diri. Tidak ada lagi
tangan yang mengusap kepalaku ketika aku lelah.
Aku menghapus air mata, lalu menatap ke arah kamar tempat keempat adikku
tertidur. Mereka masih kecil. Mereka belum sepenuhnya mengerti mengapa Ibu
tidak akan pernah kembali. Dan mungkin, untuk sementara waktu, akulah yang
harus menjadi orang yang membuat mereka merasa aman.
Aku menarik napas panjang. Rasanya berat. Sangat berat. Namun, aku
teringat pesan terakhir Ibu.
“Kamu bisa.” Aku
menggenggam celemek itu lebih erat.
Malam itu, di dapur kecil yang masih menyimpan begitu banyak kenangan,
aku membuat sebuah janji kepada diriku sendiri. Aku akan menjaga mereka. Aku
akan memastikan mereka tetap makan, tetap bersekolah, dan tetap memiliki alasan
untuk tersenyum.
Aku akan berusaha menjadi rumah
bagi mereka, sebagaimana Ibu pernah menjadi rumah bagi kami. Meski aku belum
tahu bagaimana caranya. Meski aku sendiri masih belajar berdiri. Aku akan
mencoba. Karena mulai malam itu, aku bukan lagi hanya seorang anak yang kehilangan
ibunya.
Aku adalah seorang kakak. Dan empat adikku adalah alasan mengapa aku
harus tetap kuat.
***
“Seandainya dulu aku tidak belajar bertahan hidup,
mungkin aku sudah menyerah sejak lama. Namun Engkau mengajarkanku bahwa setiap
ujian selalu membawa hikmah. Berkat rida-Mu, aku percaya semua yang terjadi
adalah bentuk kasih sayang-Mu. Maka, berilah aku kesabaran untuk menjalaninya.”
Langit masih dipenuhi awan kelabu. Hujan turun tanpa terburu-buru,
membasahi jalanan dan membuat kendaraan bergerak pelan.
Aku duduk di bangku halte, memeluk tas di pangkuan sambil menunggu bus
yang tak kunjung datang. Mungkin kendaraan itu terjebak banjir seperti
kendaraan lainnya.
Beberapa orang di sekitarku sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada
yang mengeluh karena terlambat bekerja. Ada yang tertawa sambil bermain ponsel.
Ada pula yang sesekali mengumpat karena hujan tak kunjung reda.
Aku hanya memandangi rintik air yang jatuh dari atap halte. Hujan selalu
mengingatkanku pada kehilangan. Namun kali ini, aku tidak ingin larut di
dalamnya. Aku ingin belajar memandang hujan sebagai sesuatu yang lain. Bukan
hanya sebagai pengingat tentang apa yang telah pergi, tetapi juga tentang apa
yang masih Tuhan izinkan untuk kumiliki.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki menghampiriku. Usianya mungkin sekitar
sebelas tahun. Seragam sekolahnya sudah lusuh. Celananya basah hingga lutut. Di
pundaknya tergantung sebuah keranjang kecil yang ditutupi plastik bening.
“Mau beli gorengannya, Kak?” Suaranya terdengar pelan, tetapi senyumnya
begitu tulus.
Aku melihat isi keranjang itu. Beberapa bakwan, tempe goreng, dan pisang
goreng. Sebagian sudah mulai dingin karena terlalu lama terkena udara.
“Boleh. Kakak beli beberapa.”
“Wah... makasih, Kak.” Ia segera memasukkan gorengan ke dalam kantong
plastik dengan gerakan cekatan.
Saat menerima uang lima puluh ribu dariku, tangannya mendadak berhenti.
“Maaf, Kak...” Ia menunduk. “Uangnya terlalu besar. Aku tidak punya uang
kembali.”
Aku tersenyum kecil. “Kalau begitu, ambil saja kembaliannya.”
Anak itu menggeleng cepat. “Tidak boleh.”
“Kenapa?”
“Ibu bilang, jangan mengambil yang bukan hak kita.”
Aku terdiam.
Kalimat sederhana itu seperti mengetuk sesuatu yang selama ini tersimpan
jauh di dalam ingatanku.
“Kalau suatu hari dunia memaksamu menjadi jahat...” Suara Ibu kembali terdengar di kepalaku. “...katakan
tidak.”
Aku menatap anak itu cukup lama. “Ayah dan Ibumu pasti bangga punya anak
sejujur kamu.”
Senyumnya perlahan memudar. “Ayah sudah meninggal, Kak.”
Dadaku seketika terasa sesak. Ada bagian dari diriku yang seperti sedang
melihat masa lalu. Seorang anak kecil yang kehilangan orang yang dicintainya,
lalu dipaksa belajar memahami kehidupan lebih cepat daripada seharusnya.
“Kalau Ibu?”
“Masih ada. Ibu buruh cuci.” Ia menjawabnya sederhana, tanpa mengeluh.
Aku menggenggam kantong gorengan itu erat. Entah mengapa, pertemuan
singkat ini terasa seperti sesuatu yang sengaja Tuhan hadirkan di tengah hujan.
Bukan untuk mengingatkanku pada luka. Melainkan untuk mengingatkanku bahwa
hidup masih terus berjalan.
“Maaf, Kak. Aku memang tidak punya uang pas. Kebetulan hari ini belum
banyak yang beli.”
Aku menggeleng. “Simpan saja.”
Ia menatapku bingung. “Benarkah?”
Aku mengangguk. “Maukah kamu menemani Kakak mengobrol sebentar? Anggap
saja kembaliannya sebagai upah menemani.”
Senyumnya kembali mengembang. “Baik, Kak.”
Ia kemudian duduk di sampingku. Kami sama-sama memandangi hujan yang
belum juga reda.
“Namamu siapa?”
“Beni.”
“Kelas berapa?”
“Kelas lima SD.”
“Kamu setiap hari jualan sepulang sekolah?”
“Iya.”
“Capek?”
Beni mengangkat bahu. “Sedikit.”
“Kenapa memilih jualan?”
Ia menatap keranjang di pangkuannya sebelum menjawab. “Kalau aku tidak
jualan, Ibu sendirian yang bekerja.”
Senyumnya memudar.
Aku terdiam. “Maaf.”
“Tidak apa-apa, Kak.” Ia kembali tersenyum kecil. “Aku bantu Ibu supaya
bisa terus sekolah. Ibu selalu bilang, pekerjaan apa pun tidak perlu malu, asal
halal.”
Aku tersenyum tipis. “Ucapan Ibumu benar.”
Beni mengangguk. “Ibu juga bilang, lebih baik capek jualan daripada
meminta-minta.”
Aku mengangguk pelan. Ada sesuatu dalam diri Beni yang mengingatkanku
pada masa lalu. Bukan karena kehidupan kami sama. Melainkan karena kami
sama-sama pernah kehilangan seseorang yang kami cintai, lalu harus belajar
melanjutkan hidup dengan keadaan yang tidak kami pilih.
Bedanya, aku pernah memiliki seseorang yang membimbingku melewati masa
paling gelap dalam hidupku. Sedangkan Beni masih memiliki ibunya untuk
diperjuangkan.
Aku memandang wajahnya. Anak itu masih kecil. Namun, dari caranya
berbicara, aku bisa melihat bahwa hidup telah mengajarinya banyak hal.
Tak lama kemudian, hujan mulai mereda. Beni berdiri dan kembali
mengangkat keranjang ke pundaknya.
“Terima kasih sudah membeli dagangan Beni, Kak.”
“Sama-sama. Semoga jualanmu habis hari ini.”
“Aamiin.” Beni tersenyum, lalu melangkah pergi.
Ia kembali menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang baru turun
dari bus. Aku memandangi punggung kecilnya hingga perlahan menghilang di antara
keramaian.
Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah, jagalah anak itu. Mudahkan
langkahnya, kuatkan ibunya, dan lapangkan rezeki mereka.”
Aku terdiam beberapa saat. Pertemuanku dengan Beni hanya berlangsung
singkat. Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang tertinggal di dalam pikiranku. Selama
ini aku mengira bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh merasa lelah. Tidak
boleh menangis. Tidak boleh takut.
Namun, mungkin aku salah. Beni tidak tampak kuat karena hidupnya mudah. Ia
kuat karena meski hidup memberinya alasan untuk menyerah, ia tetap memilih
melangkah.
Aku menatap jalanan yang mulai dipenuhi kendaraan. Hujan perlahan
berhenti. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang
berhadapan dengan hujan. Aku merasa sedang berhadapan dengan diriku sendiri.
Aku masih punya luka. Masih ada hari-hari ketika aku merindukan Ayah. Masih
ada malam-malam ketika aku ingin mendengar suara Ibu sekali lagi. Dan mungkin,
semua itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, bukankah Ibu pernah
berkata bahwa kekuatan bukan berarti tidak pernah menangis? Kekuatan adalah
tetap memilih berdiri setelah menangis.
Aku tersenyum kecil. “Baik, Bu.” Aku
menatap langit yang perlahan mulai terang. “Aku akan mencoba.”
Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi mudah. Bukan pula karena aku sudah
sepenuhnya sembuh. Tetapi karena aku mulai mengerti satu hal: kehilangan
mungkin telah mengubah hidupku, tetapi kehilangan tidak berhak menentukan
bagaimana aku menjalani sisa hidupku.
Bukan kehilangan pekerjaan yang paling kutakutkan. Melainkan pulang ke
rumah dan menatap wajah adik-adikku. Mereka selalu menyambutku dengan senyum.
Selalu membanggakan kakaknya, seolah aku adalah seseorang yang tidak pernah
gagal.
Padahal, malam ini aku harus membawa kabar yang mungkin akan mematahkan
harapan mereka. Aku bekerja sebagai office girl di sebuah perusahaan. Saat
pertama kali membawa surat penerimaan kerja ke rumah, Aldi dan Gerda melompat
kegirangan.
“Kak Tiara kerja di gedung tinggi!”
“Nanti Kakak pasti punya ruang kerja sendiri.”
Merisa bahkan bercerita kepada teman-temannya bahwa kakaknya bekerja di
sebuah kantor besar.
Aku hanya tersenyum. Aku tidak pernah menjelaskan bahwa tugasku bukan
duduk di balik meja dengan komputer dan tumpukan berkas. Aku membersihkan
ruangan. Menyeduh kopi. Mengantarkan dokumen. Menjaga kebersihan kantor.
Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun,
bagiku, pekerjaan itu adalah alasan mengapa kami masih bisa makan setiap hari. Dari
penghasilan itulah aku membayar kebutuhan sekolah adik-adikku, membeli beras,
membayar listrik, dan memastikan rumah kecil kami tetap memiliki kehidupan.
Aku tidak pernah malu dengan pekerjaanku. Tidak sedikit pun. Aku justru
bersyukur pernah diberi kesempatan bekerja dan menghidupi orang-orang yang
kusayangi. Namun hari ini, pekerjaan itu juga harus kulepaskan.
Perusahaan tempatku bekerja melakukan pengurangan karyawan. Namaku
termasuk di dalam daftar. Sejak menerima kabar itu, aku sudah mencoba mencari
pekerjaan lain. Satu demi satu lamaran kukirim. Satu demi satu pula penolakan
kuterima. Ada yang tidak membalas. Ada yang mengatakan belum sesuai
kualifikasi. Ada pula yang sekadar mengirimkan kalimat singkat bahwa posisi
tersebut sudah terisi.
Aku berusaha tidak menyerah. Namun malam ini, untuk pertama kalinya,
rasa takut benar-benar memenuhi dada. Bagaimana jika aku tidak segera
mendapatkan pekerjaan? Bagaimana jika uang tabungan kami tidak cukup? Bagaimana
jika suatu hari nanti aku tidak mampu membayar kebutuhan sekolah mereka?
Aku menundukkan kepala. “Maafkan aku, Bu.”
Entah mengapa, setiap kali berada dalam keadaan sulit, aku selalu
mencari wajah Ibu dalam ingatan.
Seandainya beliau masih ada, mungkin aku akan duduk di sampingnya dan
menceritakan semuanya. Mungkin beliau akan mengusap kepalaku sambil berkata
bahwa semuanya akan menemukan jalan. Namun kini aku hanya memiliki kenangan.
Aku memang tidak pernah malu dengan pekerjaanku. Yang membuatku sedih
adalah kenyataan bahwa aku belum mampu menjadi kakak yang mereka bayangkan. Padahal,
aku sudah berjanji kepada Ibu untuk menjaga mereka. Dan malam ini, untuk
pertama kalinya, aku takut tidak mampu memenuhi janji itu.
Suara rem bus memekik mematahkan lamunanku. Bus yang kutunggu akhirnya
muncul dari balik hujan. Orang-orang segera berdiri dan berebut naik. Aku
menggenggam tas lebih erat. Lalu ikut berlari menerobos hujan. Kakiku basah.
Ujung pakaianku terkena cipratan air. Namun aku tidak peduli. Aku hanya ingin
segera sampai rumah.
Di dalam bus, aku duduk dekat jendela dan memandangi jalanan yang basah.
Lampu kendaraan memantul di genangan air. Hujan masih turun, meski tidak
sederas tadi.
Entah bagaimana caranya, malam ini aku harus pulang. Aku harus membuka
pintu rumah itu. Menatap wajah keempat adikku. Lalu mengatakan kenyataan yang
sejak tadi berusaha kuhindari.
Aku sudah kehilangan pekerjaanku.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak tahu apakah aku
masih mampu membuat mereka percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
***
Gerimis membungkus keheningan malam. Rintiknya mengetuk kaca jendela
tanpa henti. Angin dingin menyelinap melalui celah kusen, membawa aroma tanah
basah yang begitu akrab.
Mataku menyaksikan suasana di balik jendela kamar. Sorot lampu teras
jatuh tepat pada sebuah sarang burung di atas pohon mangga. Seekor induk burung
baru saja kembali membawa makanan. Ia menyuapi anak-anaknya satu per satu, lalu
merentangkan sayap, melindungi mereka dari hujan yang masih turun.
Seketika dadaku terasa sesak. “Ibu...” Andai Ibu masih ada. Mungkin aku
tidak perlu memikul semua ini sendirian.
Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Belum sempat menarik napas
panjang, terdengar ketukan pelan di pintu. Tok... Tok...
“Kak Tiara... boleh aku masuk?”
“Masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”
Pintu terbuka perlahan. Aldi melangkah masuk sambil menggenggam selembar
amplop putih. Ia berdiri cukup lama di dekat pintu, seolah masih
mempertimbangkan apakah harus mendekat atau kembali keluar.
“Ada apa?”
“Apa aku mengganggu?”
Aku menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak. Duduklah.”
Aldi duduk di kursi belajar. Kedua tangannya tidak berhenti meremas
amplop yang dibawanya. Aku baru menyadari bahwa adikku sedang gugup.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?”
“Iya...” Jawabannya menggantung.
Tatapannya sesekali beralih ke lantai, lalu kembali menatapku. Aku
menunggu tanpa menyela.
Beberapa detik kemudian, ia menyerahkan amplop itu kepadaku. “Ini hasil
pengumuman.”
Aku membukanya perlahan. Mataku berhenti pada tulisan yang membuatku
ikut tersenyum.
SELAMAT. ANDA DINYATAKAN LULUS.
“Aldi...”
“Kalau Kakak mengizinkan...” Suaranya semakin pelan. “...aku ingin
kuliah.”
Aku mengangkat wajah. Tatapan Aldi dipenuhi harapan.
“Tapi...” Ia menarik napas dalam. “Di awal masuk, aku mohon bantuan
Kakak untuk biaya pendaftaran. Aku tidak akan terus bergantung. Aku akan
mencari pekerjaan sambil kuliah.”
Ia terdiam sejenak. “Kalau memang keadaan kita tidak memungkinkan...” Senyumnya
kecil, meski jelas dipaksakan. “...aku juga akan menerima keputusan Kakak.”
Dadaku seperti diremas. Aku tahu, Aldi pasti sudah memikirkan kalimat
itu berkali-kali sebelum memberanikan diri mengatakannya. Ia bukan sedang
menuntut. Ia hanya sedang mencoba memperjuangkan mimpinya.
Aku menggenggam surat kelulusannya erat. Tuhan... Mengapa
permintaan sesederhana ini terasa begitu sulit kupenuhi? Aku ingin mengatakan, “Tentu.
Kakak akan membiayaimu.” Namun, bayangan surat pemutusan kerja yang
kusimpan di dalam tas seakan menahan setiap kata yang hendak keluar.
Aku kehilangan pekerjaan. Tabunganku semakin menipis. Sementara di
depanku, ada seorang adik yang sedang menggantungkan harapan kepadaku.
Aku menatap Aldi cukup lama. Lalu tersenyum, meski hatiku sedang hancur.
Aku mengangguk pelan. “Baiklah. Kakak izinkan.”
Wajah Aldi yang sejak tadi dipenuhi kecemasan perlahan berubah cerah. “Benarkah,
Kak?”
“Iya.” Aku tersenyum. “Belajarlah yang rajin. Kesuksesan ada di
tanganmu. Jangan sia-siakan kesempatan ini.”
Mata Aldi berbinar. Senyum yang sejak tadi ia tahan akhirnya merekah. “Terima
kasih, Kak.”
Ia buru-buru membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah brosur kampus yang
mulai kusut di bagian ujungnya.
“Aku sudah mengambil brosurnya.” Ia menyerahkannya kepadaku dengan kedua
tangan. “Kakak baca saja. Semoga kampus ini tidak mengecewakan.”
Aku menerima brosur itu. Di halaman depan tertulis rincian biaya
pendaftaran. Mataku berhenti pada angka-angka yang terasa begitu besar. Uang
pangkal. Biaya semester. Biaya praktikum. Jantungku berdetak semakin cepat. Aku
menutup brosur itu sebelum Aldi menyadari perubahan wajahku.
“Kakak tidak mempermasalahkan kamu kuliah di mana.” Aku menatapnya
sambil tersenyum. “Yang penting kamu belajar sungguh-sungguh dan menggapai
cita-citamu. Itu sudah cukup membuat Kakak bangga.”
Aldi mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Kak.” Ia memelukku erat.
Pelukan itu terasa hangat. Namun, justru membuat air mataku hampir
jatuh. Untung saja ia tidak melihatnya. Setelah berpamitan, Aldi keluar dari
kamar dengan langkah ringan.
Pintu tertutup perlahan. Aku kembali membuka brosur itu. Mataku
menelusuri setiap rincian biaya. Angka-angka tersebut terasa seperti dinding
tinggi yang harus kulewati sendirian. Air mata akhirnya jatuh membasahi kertas
di tanganku.
“Besok...” Aku menarik napas panjang. “...aku harus mendapatkan
pekerjaan.”
Belum sempat aku menghapus air mata, terdengar langkah kaki kecil
berlari ke arahku.
“Kak Tiara!” Sebuah pelukan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangku
dari belakang.
Aku buru-buru mengusap pipi. “Iya, Sayang.”
Nafira mendongak dengan wajah cemberut. “Fira kangen.”
Aku terdiam.
“Kakak sekarang sibuk terus. Kalau pulang langsung masuk kamar. Fira
jadi tidak ditemani main.”
Anak sekecil ini saja sudah menyadari bahwa aku mulai menjauh dari
mereka. Aku berlutut hingga sejajar dengannya.
“Maafkan Kakak.”
“Kakak lagi banyak pikiran, ya?”
Aku menggeleng mendengar pertanyaan polosnya.
“Kalau banyak pikiran, cerita saja sama Fira.”
Aku tersenyum di sela air mata. “Fira belum tentu mengerti.”
Nafira meraih kedua pipiku dengan telapak tangannya yang mungil. “Kalau
Kakak sedih, Fira peluk.” Tanpa menunggu jawaban, ia memelukku erat. Pelukan
kecil itu mampu meruntuhkan seluruh pertahananku. Aku membalas pelukannya
sambil menahan tangis.
“Fira mau tidur sama Kakak. Boleh?”
“Tentu boleh.”
Malam itu kami tidur di ranjang yang sama. Tak lama kemudian, Nafira
sudah terlelap sambil memeluk lenganku. Aku menatap wajahnya yang damai, lalu
mengusap rambutnya perlahan. Dalam hati aku berjanji, “Apa pun yang terjadi,
kalian tidak boleh kehilangan kesempatan untuk bermimpi. Biar Kakak yang
mencari jalan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut masih ada, tetapi aku tidak
lagi membiarkannya menguasai pikiranku.
Besok pagi, sebelum matahari terbit, aku akan kembali mengetuk pintu
demi pintu perusahaan. Entah diterima atau ditolak. Entah harus mengirim
puluhan lamaran atau menjalani pekerjaan apa pun yang tersedia. Aku tidak punya
banyak pilihan. Namun, aku masih memiliki satu hal yang tidak boleh hilang: kemauan
untuk terus mencoba. Demi Aldi. Demi Gerda. Demi Merisa. Demi Nafira. Dan
demi janji yang pernah kubuat kepada Ibu.
***
Aku beristirahat di bawah pohon, tepat di halaman kantor yang baru saja
menolak lamaranku. Ini kantor kelima yang kudatangi selama seminggu. Tidak ada
lagi selebaran lowongan yang tertempel di pintu masuk. Bahkan satpam tadi hanya
menggeleng pelan sebelum mengembalikan map lamaranku.
Aku menyandarkan punggung pada batang pohon. Angin siang berembus pelan,
tetapi tidak mampu mengusir sesak di dada.
“Mungkin memang belum rezeki,” gumamku lirih.
Langkah kaki berhenti di depanku. “Permisi.”
Aku mendongak. Seorang perempuan berdiri sambil membawa dua botol air
mineral. Tubuhnya tinggi semampai. Rambut hitamnya disanggul rapi. Setelan
kantor berwarna krem membuatnya terlihat anggun, tetapi senyum yang mengembang
di wajahnya menghapus kesan dingin itu.
Ia mengulurkan salah satu botol kepadaku. “Untukmu.”
Aku sempat ragu. “Tidak usah, Bu. Saya tidak apa-apa.”
“Kalau begitu, anggap saja aku sedang membeli teman bicara.”
Aku tidak bisa menahan senyum kecil. Akhirnya kuterima botol itu. “Terima
kasih.”
“Sama-sama.”
Perempuan itu kemudian duduk tidak jauh dariku. Beberapa saat kami hanya
menikmati suasana. Kendaraan lalu-lalang tanpa henti. Sesekali terdengar
klakson panjang dari jalan raya.
Ia membuka botol minumnya lebih dulu. “Baru selesai wawancara?”
Aku mengangguk.
“Ditolak?”
“Iya.” Jawabanku singkat.
Ia tidak menunjukkan rasa iba. Hanya mengangguk pelan. “Aku juga pernah
duduk di tempatmu.”
Aku menoleh. “Benarkah?”
Ia tertawa kecil. “Lima tahun lalu, aku membawa map lamaran ke
mana-mana. Ditolak belasan kali. Pulang sambil menangis rasanya sudah biasa.”
Aku menatapnya. “Sekarang Ibu bekerja di kantor ini?”
“Iya.” Ia tersenyum. “Namaku Anita.”
“Tiara.”
Kami berjabat tangan singkat. Entah mengapa, setelah mengetahui namanya,
percakapan kami terasa lebih mudah. Aku kembali memandangi gedung tinggi di
hadapan kami.
“Indah sekali.”
“Dari luar memang terlihat indah.” Anita tertawa kecil. “Dari dalam,
tetap ada tekanan, target, dan lembur.”
Aku ikut tertawa. Untuk pertama kalinya hari itu, dadaku terasa sedikit
lebih ringan.
“Mencari pekerjaan di zaman sekarang memang sulit,” kata Anita kemudian.
“Banyak orang menganggap keberuntungan adalah segalanya. Padahal, setiap orang
membawa bekal yang berbeda. Pendidikan, pengalaman, kesempatan, bahkan keadaan
keluarga tidak pernah sama.”
“Maksud Ibu?”
“Kamu sudah berapa kali melamar?”
“Lima perusahaan minggu ini.”
“Dan semuanya menolak?”
Aku mengangguk.
Anita melirik map lusuh yang masih kupeluk. “Sayang sekali.”
“Kenapa?”
“Karena aku melihat seseorang yang benar-benar punya kemauan untuk
bekerja.”
Kalimat itu membuatku terdiam. Sudah lama tidak ada orang yang
mengatakan sesuatu seperti itu kepadaku.
Anita melanjutkan, “Masalahnya, dunia kerja tidak selalu memilih orang
yang paling pintar.”
“Lalu memilih apa?”
“Orang yang tahu bagaimana memanfaatkan kesempatan.”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
“Ada orang yang nilai kuliahnya biasa saja, tetapi hidupnya jauh lebih
berhasil dibanding lulusan terbaik. Ada juga yang sangat pintar, tetapi
bertahun-tahun tidak mendapat pekerjaan.”
Aku terdiam.
“Menurutmu, kenapa bisa begitu?”
Aku menggeleng.
“Karena kecerdasan bukan hanya soal nilai,” jawabnya. “Kadang seseorang
berhasil karena berani mengambil peluang ketika orang lain masih menunggu
kesempatan datang.”
Aku mulai tertarik. “Jadi... menurut Ibu saya harus bagaimana?”
Anita menatapku beberapa saat. “Kebetulan aku sedang mencari seseorang.”
Aku mengangkat alis. “Mencari seseorang?”
“Iya.” Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. “Aku ingin
menawarkan pekerjaan kepadamu.”
Untuk sesaat, rasanya seperti ada udara segar yang masuk ke paru-paruku.
“Benarkah?”
“Benar.”
Aku menerima kartu nama itu dengan kedua tangan. Anita Prameswari.
Aku membaca nama tersebut sekali lagi.
“Pekerjaannya apa?”
Anita tersenyum tipis. “Nanti akan dijelaskan lebih lengkap. Aku tidak
ingin kamu mengambil keputusan hanya karena sedang membutuhkan pekerjaan.”
Aku menatapnya. “Jadi saya tidak harus menjawab sekarang?”
“Tidak.” Ia menggeleng. “Pikirkan baik-baik. Kalau kamu bersedia, aku
akan menjelaskannya lebih lanjut.”
Sikapnya membuatku sedikit tenang. Ia tidak memaksaku. Tidak menjanjikan
sesuatu yang berlebihan. Tidak pula membuatku merasa harus menerima hanya
karena sedang membutuhkan uang.
Percakapan kami berlanjut hampir satu jam. Anita tidak hanya bertanya
tentang pekerjaanku. Ia juga bercerita sedikit tentang kehidupannya. Dahulu
keluarganya hidup serba kekurangan. Keadaan membuatnya menikah di usia muda
dengan lelaki yang tidak dicintainya. Pernikahan itu pun tidak bertahan lama.
Setelah berpisah, ia memilih bangkit. Ia bekerja dari bawah, menjalani
berbagai kesulitan, hingga akhirnya mampu membangun kehidupannya sendiri.
“Aku pernah berada di titik ketika rasanya tidak ada jalan keluar,”
katanya pelan.
Aku mendengarkan tanpa menyela.
“Karena itu, aku tidak ingin melihat orang lain menyerah hanya karena
satu pintu tertutup.” Kata-katanya membuatku terdiam.
Mungkin memang benar. Kegagalan hari ini tidak selalu berarti akhir dari
segalanya.
“Kalau kamu bersedia, aku ingin mengajakmu bergabung,” lanjutnya. “Tapi
kamu tidak perlu menjawab sekarang.”
Aku mengangguk. “Baik.”
Malam harinya, setelah meminta izin kepada adik-adikku, aku memenuhi
ajakan Anita. Sebuah mobil berwarna hitam telah terparkir di tempat kami
pertama kali bertemu.
Anita berdiri di samping mobil. “Ayo,” sapanya sambil membukakan pintu.
Aku mengangguk pelan.
Sebelum masuk, aku sempat menatap rumah kecil tempat adik-adikku
menungguku. Aku tidak tahu pekerjaan apa yang akan ditawarkan Anita. Aku juga
belum tahu ke mana kesempatan ini akan membawaku.
Namun, setelah berkali-kali mengetuk pintu yang tertutup, mungkin kali
ini Tuhan sedang menunjukkan pintu yang berbeda. Mobil perlahan meninggalkan
tempat itu.
Mobil melaju membelah hiruk-pikuk kota. Cahaya lampu gedung memantul di
kaca jendela, membentuk garis-garis panjang yang terus bergerak. Rasanya
berbeda dengan perjalanan pulang menggunakan bus. Biasanya aku terlalu lelah
hingga tertidur sebelum kendaraan meninggalkan terminal.
Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar
menikmati pemandangan kota. Di dalam hati, tumbuh secercah harapan. Semoga
ini menjadi awal yang baik.
“Kamu akan nyaman bekerja denganku,” ujar Anita sambil menatap lurus ke
jalan. “Dulu aku sempat membenci pekerjaan ini. Namun setelah menjalaninya, aku
sadar penghasilannya mampu mengubah hidupku. Sekarang justru kujadikan sebagai
pekerjaan sampingan.”
Aku menoleh. Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuatku penasaran.
Kalimatnya terdengar meyakinkan, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang
tidak mampu kubaca.
“Aku harap bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakanmu, Bu Anita.”
Anita tersenyum kecil. “Tidak usah terlalu formal. Panggil aku Anita
saja.”
“Baik... Anita.” Aku kembali melihat keluar jendela. “Apa tempatnya
masih jauh?”
“Sebentar lagi.”
“Semua karyawan bekerja malam?”
“Tidak. Jam kerjanya berbeda-beda.” Jawabannya singkat.
Aku kembali memberanikan diri bertanya. “Kalau boleh tahu, kenapa kamu
masih mengambil pekerjaan ini? Bukankah pekerjaan kantormu sudah cukup mapan?”
Anita tersenyum tipis. “Nanti kamu juga akan tahu.”
Setelah itu, ia menaikkan volume musik di mobil. Aku menangkap isyarat
bahwa pembicaraan kami sebaiknya berhenti sampai di situ. Aku pun memilih diam.
Mobil meninggalkan jalan utama dan memasuki kawasan perumahan yang
semakin lengang. Deretan rumah besar berdiri berjajar dengan pagar tinggi.
Lampu taman menyala redup di sepanjang jalan. Semakin jauh kami masuk, semakin
sedikit kendaraan yang terlihat.
Aku melirik layar ponsel. Sinyalnya tinggal satu batang. Entah mengapa,
dadaku mulai terasa tidak nyaman.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai
yang jauh lebih besar dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya. Pagar besi
terbuka perlahan. Seorang satpam menghampiri. Ia mengangguk hormat kepada
Anita.
“Selamat malam, Bu Anita.”
“Malam.”
Satpam itu melirikku sekilas sebelum membuka pintu pagar lebih lebar. Ada
perasaan aneh yang sulit kujelaskan.
“Turunlah, Tiara. Kita sudah sampai.”
Aku melangkah keluar sambil memandangi bangunan megah itu. “Ini...
kantormu?”
Anita hanya tersenyum. “Masuk dulu.”
Aku mengikutinya. Namun, semakin dekat dengan pintu, semakin kuat
perasaan tidak nyaman yang muncul dalam diriku.
Begitu pintu terbuka, aroma parfum yang menyengat bercampur dengan bau
alkohol langsung menyambutku.
Langkahku terhenti sesaat. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh
tahun duduk santai di sofa kulit. Jas mahal yang dikenakannya tidak mampu
menyembunyikan tatapan matanya yang membuatku merasa tidak nyaman. Di atas meja
tersusun beberapa botol minuman.
“Pak, ini Tiara,” kata Anita.
Lelaki itu mengangkat wajah. “Cantik.”
Aku hanya membalas dengan senyum tipis. Entah mengapa, sejak memasuki
ruangan ini, firasatku semakin buruk. Anita kemudian mundur beberapa langkah.
“Kalian mengobrol saja dulu.” Ia berbalik meninggalkan ruang tamu.
Aku menatap punggungnya dengan bingung. Beberapa detik kemudian, aku
segera menyusul keluar.
“Anita.”
Ia berhenti dan menoleh. “Ada apa?”
“Kamu bilang akan mengenalkanku pada pekerjaan.” Aku berusaha menjaga
suaraku tetap tenang. “Tapi kenapa aku malah dibawa ke sini?”
Anita menghela napas. “Tiara...” Ia menatapku beberapa saat. “Kamu cantik.
Banyak perempuan ingin memiliki wajah sepertimu.”
Aku mulai tidak menyukai arah pembicaraan ini. “Apa hubungannya dengan
pekerjaan?”
Anita tersenyum tipis. “Kamu hanya perlu menemaninya malam ini.”
Aku terdiam. “Maksudmu?”
“Dia orang penting. Kalau dia senang, kamu bisa mendapatkan uang belasan
juta dalam satu malam.”
Jantungku berdegup keras. Aku menatap Anita tidak percaya. “Jadi... ini
pekerjaan yang kamu maksud?”
Anita tidak menjawab. Jawaban itu sudah cukup. Aku merasa seluruh
harapanku runtuh dalam sekejap.
“Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal?”
“Kalau kukatakan dari awal, kamu mungkin tidak akan datang.”
Aku menatapnya tajam. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa
semua kebaikan Anita sejak awal mungkin memang memiliki maksud lain.
Aku menggeleng pelan. “Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau.”
Anita mulai kehilangan kesabarannya. “Tiara, hidupmu sedang berantakan.
Kamu kehilangan pekerjaan, bukan?”
Aku terdiam.
“Kamu butuh uang.”
“Iya.”
“Lalu apa masalahnya?”
Aku menarik napas panjang. “Aku memang butuh uang.” Aku menatap matanya.
“Tapi bukan dengan cara seperti ini.”
Anita mendengus. “Jangan terlalu idealis. Kamu pikir mencari pekerjaan
itu mudah?”
“Aku tahu tidak mudah.”
“Lalu kenapa menolak kesempatan mendapatkan uang sebanyak itu?”
Aku mengepalkan tangan. “Karena aku masih punya pilihan untuk berkata
tidak.”
Anita menatapku tajam. “Kamu tidak sedang berada dalam posisi untuk
memilih.”
Kalimat itu membuat dadaku panas. “Mungkin aku tidak punya banyak
pilihan.” Aku menahan air mata. “Tapi aku masih punya hak untuk menentukan apa
yang bersedia kulakukan dengan hidupku.”
Anita terdiam.
Aku melanjutkan, “Aku adalah kakak bagi adik-adikku. Setiap hari aku
meminta mereka hidup jujur, menjaga kehormatan, dan tidak mengambil jalan
pintas hanya karena keadaan sulit.”
Suaraku mulai bergetar. “Lalu bagaimana mungkin aku pulang membawa uang
kepada mereka, sementara aku sendiri mengkhianati semua nasihat yang selama ini
kuajarkan?”
Anita menggeleng. “Idealismemu tidak akan mengenyangkan perut.”
Aku menatapnya. “Mungkin.” Aku mengusap air mata yang mulai menggenang. “Tapi
uang yang kudapat dengan mengorbankan kehormatanku juga tidak akan membuat
hidupku lebih baik.”
Wajah Anita berubah dingin. “Kamu akan menyesal.”
Aku menggeleng. “Aku lebih takut menyesal karena kehilangan diriku
sendiri.”
Aku berbalik dan mulai melangkah menuju gerbang.
“Tiara!”
Aku berhenti, tetapi tidak menoleh.
“Kamu
pikir setelah ini hidupmu akan mudah?”
“Tidak.”Aku akhirnya menoleh. “Aku tahu hidupku tidak akan mudah. Tapi
aku akan mencari jalan lain.”
Aku kembali melangkah. Di tengah perjalanan menuju gerbang, suara Ibu
asuhku kembali terngiang jelas dalam ingatan.
Hiduplah dengan keberanian. Jangan pernah membalas keburukan dengan keburukan.
Kalau suatu hari dunia memaksamu menjadi jahat... katakan tidak.
Air mataku akhirnya jatuh. “Maaf, Bu,” bisikku lirih. “Aku masih
berusaha menjaga pesan Ibu.”
Aku terus berjalan meninggalkan rumah itu. Kali ini aku tidak membawa
pekerjaan. Tidak membawa uang. Bahkan tidak tahu bagaimana cara membayar biaya
kuliah Aldi. Namun, ada sesuatu yang masih kubawa pulang. Keyakinan bahwa
kesulitan tidak boleh memaksaku menjadi seseorang yang tidak kukenal.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan pekerjaan, aku tidak merasa
gagal. Aku mungkin kehilangan satu kesempatan. Tetapi aku tidak kehilangan
diriku sendiri.
***
Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Bayangan rumah mewah itu
masih jelas di pelupuk mata. Tatapan pria paruh baya, aroma minuman beralkohol,
hingga senyum Anita yang perlahan berubah menjadi sinis terus berputar di
kepalaku.
Malam tadi mengajariku satu hal. Tidak semua tangan yang terulur datang
untuk menolong. Ada yang sengaja mengulurkan harapan agar kita terjebak di
dalamnya. Aku hampir mempercayainya. Padahal kami baru saling mengenal. Suara
Ibu kembali memenuhi ingatanku.
Seandainya malam itu aku melupakan nasihatmu,
mungkin hari ini aku tidak lagi mampu menatap diriku sendiri di cermin.
Aku tidak membenci Anita. Yang kusesalkan adalah pilihan hidup yang ia
ambil. Barangkali hidup pernah berlaku sangat kejam kepadanya hingga ia
menganggap jalan itu sebagai satu-satunya cara untuk bertahan. Namun
penderitaan tidak pernah menjadi alasan untuk menyeret orang lain ke dalam
jurang yang sama.
Jalan hidupku memang tidak mudah. Aku kehilangan Ayah dan Ibu. Aku
kehilangan Ibu asuh. Aku kehilangan pekerjaan. Namun, semua itu belum cukup
untuk membuatku kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya, setiap kesulitan selalu menyisakan satu pintu yang masih
terbuka. Mungkin aku belum menemukannya hari ini, tetapi bukan berarti pintu
itu tidak ada. Aku hanya perlu terus berjalan. Menjadi
diriku sendiri. Dan menjaga hati agar tidak ikut gelap hanya karena hidup
sedang berada dalam kegelapan.
Aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju teras. Rumah masih
begitu sepi. Nafira tertidur lelap di kamar. Bahkan suara hujan yang menetes
dari ujung genting pun tidak mampu membangunkannya.
Namun, di teras, kulihat Gerda duduk sendirian di bangku kayu. Kedua
tangannya saling menggenggam erat. Tatapannya kosong ke arah halaman yang masih
basah.
Biasanya, jam segini ia sudah berangkat ke bengkel. Hari ini, seragam
kerjanya masih tergantung di jemuran.
Aku mendekatinya. “Gerda.”
Ia tidak menjawab.
Aku duduk di sampingnya. “Kenapa belum berangkat kerja?”
Gerda tetap diam.
Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya pagi itu. Bukan hanya wajahnya
yang pucat, tetapi juga cara ia menarik napas, seolah sedang menahan sesuatu
yang terlalu berat untuk diceritakan.
Aku menatapnya beberapa saat. “Gerda.”
Kali ini ia menoleh.
“Cerita sama Kakak. Jangan dipendam sendiri.”
Matanya memerah. “Kak...”
“Iya?”
“Kalau aku cerita, Kakak masih percaya sama aku?”
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sesak. Aku segera menggenggam
tangannya. “Tentu saja.”
Gerda menunduk.
“Kakak selalu percaya sama adik-adik Kakak. Ceritakan saja.”
Ia menarik napas panjang. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya
suaranya terdengar.
“Aku dituduh mencuri uang kas di bengkel.”
Aku terdiam.
Gerda menatap halaman. “Aku memang masuk ke ruangan itu kemarin. Bos
menyuruhku mengambil berkas. Setelah mengambilnya, aku langsung keluar dan
mengunci pintunya lagi.” Suaranya bergetar. “Aku tidak mengambil uang sedikit
pun, Kak.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Tapi setelah itu uangnya hilang.” Gerda mengusap sudut matanya. “Mereka
bilang cuma aku yang masuk ke ruangan itu. Jadi mereka menganggap aku yang
mengambil.”
Selama ini Gerda selalu berangkat paling pagi dan pulang paling malam.
Ia bahkan lebih sering menghabiskan waktunya di bengkel daripada di rumah. Sulit
bagiku membayangkan ia melakukan sesuatu seperti itu.
“Apa mereka punya bukti?”
Gerda menggeleng. “Tidak ada.” Ia menunduk semakin dalam. “Hanya karena
setelah aku keluar, uang itu hilang.”
“Lalu?”
“Aku dipecat.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Sekarang aku tidak bisa
membantu Kakak lagi.”
Gerda menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Maaf, Kak.”
Melihat pundaknya bergetar, aku langsung memeluknya. “Kakak tidak pernah
menganggapmu beban.”
Tangis Gerda pecah. “Aku benar-benar tidak mencuri.”
“Kakak tahu.”
“Tapi semua orang menganggap aku pencuri.”
Aku mengusap punggungnya perlahan. “Kalau kamu memang tidak melakukan
kesalahan itu, jangan biarkan tuduhan mereka membuatmu percaya bahwa kamu
bersalah.”
Gerda terdiam dalam pelukanku.
“Kebenaran mungkin tidak datang secepat tuduhan,” lanjutku pelan,
“tetapi selama kita tidak menyembunyikan kesalahan yang memang kita lakukan,
kita tidak perlu takut menghadapinya.”
Gerda mengangkat wajah. Matanya masih basah. “Aku harus bagaimana, Kak?”
“Untuk sekarang, jangan menyerah.” Aku mengusap rambutnya. “Besok kita
pikirkan apa yang bisa dilakukan. Kalau memang ada cara untuk membuktikan bahwa
kamu tidak mengambil uang itu, kita cari.”
“Kalau tidak ada?”
“Kita tetap cari pekerjaan.”
Gerda menatapku. “Bersama?”
Aku tersenyum. “Bersama.”
Ia mengangguk pelan. “Terima kasih, Kak.”
Aku memeluknya sekali lagi. Pagi itu aku kembali menyadari sesuatu. Di
rumah ini, aku bukan hanya seorang kakak. Aku adalah tempat pulang bagi mereka
ketika dunia memutuskan untuk tidak lagi mempercayai mereka. Dan ternyata,
menjadi tempat pulang tidak selalu berarti memiliki semua jawaban.
Kadang, cukup dengan tetap tinggal ketika orang lain pergi. Ada kalanya
hidup merenggut semuanya dalam waktu yang bersamaan. Pekerjaan hilang. Harapan
memudar. Kepercayaan orang lain lenyap begitu saja. Namun, aku tidak boleh ikut
runtuh. Jika aku menyerah, kepada siapa adik-adikku akan bersandar?
Aku mengangkat wajah menatap langit yang masih mendung. Hujan mulai
turun kembali. Pelan. Namun kali ini aku tidak merasa takut melihatnya.
“Ya Allah, jangan biarkan kesedihan membuatku lupa
bahwa Engkau selalu menyediakan jalan bagi orang yang tidak berhenti berjuang.”
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini. Tetapi satu hal
yang pasti— aku akan tetap berjalan. Selama masih ada jalan yang bisa ditempuh,
aku tidak akan berhenti mencari.
***
Sudah seminggu aku tidak pernah tidur pulas. Pikiran tentang masa depan
kami terus berputar di kepala. Kini aku dan Gerda sama-sama kehilangan
pekerjaan. Tabungan yang tersisa semakin menipis, sementara kebutuhan rumah
tidak pernah berhenti.
Untungnya, Aldi dan Merisa bergantian menghibur Gerda hingga tawa
kembali terdengar di rumah kecil ini. Tawa yang sederhana. Namun, entah
mengapa, belakangan ini suara itu justru terasa seperti sesuatu yang harus kami
perjuangkan.
“Kak Resya, ada tamu.” Suara Merisa terdengar dari luar kamar.
Aku segera keluar.
Hari Minggu membuat rumah terasa lebih
lengang. Merisa sibuk menonton televisi bersama Nafira yang tidak
henti-hentinya berceloteh. Sementara itu, Aldi dan Gerda pergi berolahraga
sejak pagi.
Aku berjalan menuju ruang tamu. Namun,
langkahku terhenti. Seorang lelaki duduk santai di sofa. Aku mengenalinya. Om
Wira. Lelaki yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bagian dari masa lalu
kami.
Ia menoleh. Senyumnya mengembang. “Pagi,
Resya.”
Senyum itu. Senyum yang dahulu pernah
terasa akrab, tetapi kini justru membangkitkan luka yang selama bertahun-tahun
berusaha kukubur.
Aku memilih tetap berdiri.
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya. “Om sudah
lama tidak berkunjung. Om juga rindu sama kalian.”
Aku tersenyum tipis. “Rindu?”
Satu kata itu keluar dengan nada yang
bahkan tidak mampu kusembunyikan. Senyumnya perlahan menghilang.
“Om salah datang?”
Aku menatapnya untuk pertama kali. “Yang
aneh, Om baru ingat jalan pulang setelah bertahun-tahun menghilang.”
“Resya…”
“Dulu Om memilih meninggalkan rumah ini.”
Tanganku mengepal. “Bahkan ketika Ibu sakit, Om tidak datang. Saat beliau
meninggal, Om juga tidak ada. Jadi sekarang untuk apa Om kembali?”
Om Wira menundukkan kepala. Beberapa saat
ia tidak menjawab.
“Aku tahu kamu marah.”
Aku hampir tertawa. “Marah? Menurut Om, aku
hanya marah?”
Ia mengangkat wajah. “Bukan hanya marah. Om
tahu Om sudah mengecewakan kalian.”
Aku terdiam.
Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan yang
langsung ia gunakan untuk membenarkan diri. Justru itu yang membuatku semakin
sulit memahami maksud kedatangannya.
“Kalau Om tahu, kenapa baru datang
sekarang?”
Om Wira menarik napas panjang. “Karena
selama ini Om tidak punya keberanian untuk kembali.”
Aku mengerutkan kening. “Tidak punya
keberanian?”
“Setiap kali ingin datang, Om selalu
berpikir kalian pasti tidak mau melihat wajah Om.” Ia tersenyum getir. “Dan
ternyata dugaan Om tidak sepenuhnya salah.”
Aku tidak menjawab.
“Bukan berarti Om tidak memikirkan kalian,”
lanjutnya. “Om tetap berusaha mencari tahu kabar kalian.”
Aku langsung menatapnya. “Kalau begitu,
kenapa tidak pernah datang?”
Om Wira terdiam cukup lama. “Ada banyak hal
yang belum bisa Om jelaskan.”
“Alasan?”
“Bukan alasan untuk membenarkan kesalahan
Om.” Ia menggeleng. “Apa pun yang terjadi waktu itu, Om tetap salah karena
memilih pergi.”
Aku memalingkan wajah. Setidaknya kali ini
ia tidak berusaha menyangkal.
“Ketika Ibu kalian sakit,” katanya pelan,
“Om sebenarnya tahu.”
Aku kembali menatapnya. “Lalu kenapa tidak
datang?” Suaraku meninggi. “Kenapa?”
Om Wira mengusap wajahnya. “Karena saat itu
Om sedang menghadapi masalah besar. Om kehilangan pekerjaan, terlilit utang,
dan…”
Ia berhenti.
“Apa?”
“Ada masalah lain yang membuat Om merasa
tidak pantas pulang.”
Aku menggeleng tidak percaya. “Jadi Om
memilih menghilang?”
“Iya.” Jawabannya begitu pelan. “Dan itu
keputusan yang salah.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Seharusnya Om datang,” lanjutnya.
“Seharusnya Om tetap berada di samping Ibu dan kalian, apa pun keadaan Om saat
itu.”
Aku tidak menyangka ia akan mengakuinya
sejujur itu. Namun, pengakuan tidak serta-merta menghapus luka yang selama ini
kami simpan.
“Kenapa sekarang?” tanyaku lebih pelan.
Om Wira menatapku. “Karena keadaan kalian
sudah berubah.”
Aku mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Om mendengar kalian sedang mengalami
kesulitan.”
Jantungku berdegup lebih cepat. “Tahu dari
siapa?”
“Bukan itu yang penting.” Ia menarik napas.
“Om hanya tahu keadaan kalian akhir-akhir ini tidak mudah.”
Aku semakin curiga. “Kalau Om tahu keadaan
kami, kenapa baru sekarang datang?”
Om Wira tidak langsung menjawab. “Om juga
tahu Aldi ingin melanjutkan kuliah.”
Aku membeku. Bagaimana mungkin ia tahu? Selama
ini kami bahkan tidak pernah menghubunginya.
“Jadi Om datang karena merasa kasihan?”
“Bukan.”
“Lalu karena apa?”
Om Wira menatapku cukup lama. “Ada sesuatu
yang harus Om sampaikan kepada kalian.”
“Apa?”
“Bukan sesuatu yang bisa Om jelaskan hanya
kepada kamu.”
Ia melirik ke arah pintu. “Tunggu Aldi dan
Gerda pulang. Kalian semua harus mendengarnya.”
Aku semakin tidak mengerti. “Kalau memang
penting, katakan sekarang.”
“Belum waktunya.”
“Kenapa?”
“Karena apa yang akan Om sampaikan
berkaitan dengan masa depan kalian.”
Masa depan? Kalimat itu justru membuat
pikiranku semakin dipenuhi pertanyaan. Aku merasa tidak nyaman. Ada sesuatu
yang jelas-jelas ia sembunyikan, dan aku tidak suka berada dalam posisi tidak tahu
apa-apa.
“Om mau tinggal di sini?”
Om Wira menggeleng. “Tidak. Om datang
sebagai keluarga. Itu saja.”
Aku terdiam.
“Setelah bertahun-tahun pergi, baru
sekarang Om berbicara tentang keluarga. Om tahu, kan, keluarga bukan hanya soal
hubungan darah?”
Aku menatapnya. “Bagi kami, keluarga adalah
seseorang yang tetap tinggal ketika keadaan menjadi sulit.”
Suaraku mulai bergetar. “Dan Om tidak
melakukan itu.”
Om Wira tidak membantah. “Om tahu.”
“Jadi jangan berharap semuanya berubah
hanya karena Om datang dan meminta maaf.”
“Aku tidak berharap sebanyak itu.”
Aku menggigit bibir, menahan amarah.
Di balik pintu, Merisa berdiri memandangi
kami dengan wajah cemas. Nafira berada di sampingnya, menatap bergantian ke
arahku dan Om Wira dengan sorot mata polos.
Mereka belum cukup besar untuk memahami
mengapa seseorang yang baru datang bisa membuat rumah mendadak dipenuhi
ketegangan.
Aku memalingkan wajah. Bagaimana mungkin
aku tidak marah? Saat Ibu berjuang melawan penyakitnya, Om Wira tidak datang. Saat
Ibu mengembuskan napas terakhir, Om Wira juga tidak ada. Bahkan ketika tanah
mulai menutupi makam Ibu, batang hidungnya pun tidak pernah terlihat.
Setelah kepergian Ibu, kami belajar
bertahan sendiri. Kami membagi beban. Saling menguatkan. Menyembunyikan
kesedihan masing-masing agar yang lain tidak ikut hancur. Tidak sekali pun Om
Wira datang untuk melihat keadaan kami secara langsung. Lalu sekarang ia muncul
begitu saja. Membawa sesuatu yang ia sebut sebagai urusan penting. Membicarakan
masa depan kami.
Aku tidak tahu apakah kedatangannya akan
menjadi pertolongan atau justru membuka luka yang selama ini kami coba tutup. Namun,
satu hal yang pasti. Aku belum siap memaafkannya. Bukan karena aku ingin terus
membencinya. Melainkan karena ada luka yang terlalu lama dibiarkan tanpa
penjelasan.
Aku menatap lelaki di hadapanku. “Kalau
yang Om bawa hanya permintaan agar kami melupakan masa lalu, jangan berharap
terlalu banyak.”
Om Wira menatapku. “Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya sejak datang, ia
tidak berusaha tersenyum. Ia hanya duduk diam. Menunggu.
Sementara aku berdiri dengan hati yang
penuh pertanyaan. Tak lama lagi Aldi dan Gerda akan pulang. Dan setelah itu,
mungkin kami akan mengetahui alasan sebenarnya mengapa lelaki yang telah
menghilang selama bertahun-tahun akhirnya memilih mengetuk pintu rumah kami
kembali.
Siang
harinya
Kami akhirnya duduk bersama di ruang tamu. Aku,
Aldi, Gerda, dan Om Wira. Merisa dan Nafira bermain di kamar. Sengaja tidak
kuizinkan mereka ikut mendengarkan pembicaraan ini.
Sejak tadi, perasaan tidak tenang terus
menghantuiku. Dari perkataan Om Wira, jelas bahwa kedatangannya bukan sekadar
untuk meminta maaf.
Ada sesuatu yang lebih besar. Om Wira duduk
dengan kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya terlihat jauh lebih tua
dibandingkan yang kuingat.
Aldi menjadi orang pertama yang membuka
percakapan. “Om sebenarnya mau membicarakan apa?”
Om Wira menarik napas panjang. “Sebelum Om
menjelaskan semuanya, Om ingin meminta maaf.”
Gerda langsung menyahut. “Permintaan maaf
tidak akan mengubah apa pun.”
“Gerda,” tegurku pelan.
“Tapi memang benar, Kak.” Gerda menatap Om
Wira. “Bertahun-tahun Om tidak pernah datang. Sekarang tiba-tiba muncul dan
bilang ada sesuatu yang harus kami ketahui. Wajar kalau kami curiga.”
Om Wira mengangguk. “Om mengerti.”
“Jadi bicara saja,” kata Aldi. “Apa
sebenarnya masalahnya?”
Om Wira terdiam beberapa detik. Kemudian ia
berkata, “Masalahnya berkaitan dengan rumah ini.”
Aku langsung menegang. “Rumah?”
Om Wira mengangguk. “Beberapa tahun lalu,
sebelum Om pergi, rumah ini pernah dijadikan jaminan untuk sebuah utang.”
Gerda menatapnya tidak percaya. “Apa?”
Aku ikut menatap Om Wira. “Jadi… rumah ini
pernah dijadikan jaminan?”
“Iya.”
Gerda berdiri. “Om benar-benar melakukan
itu?”
“Gerda…”
“Tidak, Kak.” Tatapannya mulai memerah. “Selama
ini kita tinggal di rumah ini tanpa tahu apa-apa. Kita pikir rumah ini aman.
Kita pikir setelah Ibu meninggal, setidaknya masih ada tempat untuk kita
pulang.”
Om Wira menundukkan kepala. “Om tahu.”
“Tidak!” suara Gerda meninggi. “Om tidak
tahu!”
Aldi segera berdiri dan mendekatinya. “Gerda,
tenang.”
“Bagaimana aku bisa tenang?” Ia menatap Om
Wira. “Waktu Ibu sakit, Om tidak ada. Waktu Ibu meninggal, Om juga tidak ada.
Bertahun-tahun kami bertahan sendiri. Sekarang setelah kami mulai bisa berdiri,
Om datang membawa masalah rumah ini!”
Om Wira tetap diam.
Aku berdiri di antara mereka. “Gerda,
cukup.”
Gerda mengusap air matanya dengan kasar
lalu kembali duduk. Aku menatap Om Wira.
“Benarkah rumah ini masih bermasalah?”
“Iya.”
“Seberapa besar?”
Om Wira menarik napas. “Utangnya belum
lunas.”
Dadaku terasa sesak. “Berapa lama batas
waktunya?”
“Tidak lama lagi.”
Gerda kembali menatapnya. “Kalau tidak
dilunasi?”
Om Wira menjawab pelan. “Rumah ini bisa
berpindah tangan.”
Aku merasa seolah kehilangan pijakan. Rumah
ini. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya tempat kami
berteduh. Rumah yang menyimpan semua kenangan tentang Ibu. Rumah yang menjadi
tempat kami belajar bertahan setelah beliau pergi. Dan sekarang rumah itu
terancam hilang.
“Kenapa baru sekarang Om bilang?” tanyaku.
“Karena Om sedang berusaha menyelesaikannya
sendiri.”
“Dan berhasil?”
Om Wira menggeleng. “Belum.”
Aku tertawa kecil tanpa humor. “Tentu
saja.”
Om Wira menatapku. “Om sudah mencoba
mengambil kembali sertifikat rumah itu. Om juga sudah mengumpulkan sebagian
uangnya.”
“Sebagian?” tanya Aldi.
“Iya.”
“Berarti masih kurang?”
“Masih.”
Gerda menatap lantai. “Berapa?”
Om Wira menyebutkan jumlahnya. Kami semua
terdiam. Jumlah itu jauh di luar kemampuan kami.
Aku menghela napas panjang. “Aku dan Gerda
bahkan sudah kehilangan pekerjaan.”
Om Wira langsung menatapku. “Kamu sudah
tidak bekerja?”
Aku menggeleng. “Sejak beberapa waktu
lalu.”
Ia terlihat terkejut. “Kenapa Om tidak
tahu?”
Aku tersenyum getir. “Karena selama ini
kami tidak pernah merasa perlu memberi tahu Om.”
Om Wira terdiam.
“Dan Gerda?”
Aku menoleh kepadanya. “Dia juga kehilangan
pekerjaannya.”
Gerda menundukkan kepala.
Wajah Om Wira perlahan berubah. “Kenapa
kalian tidak pernah memberi tahu Om?”
Aku menjawab pelan, “Karena kami sudah
terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Om Wira menundukkan kepala. “Om tidak
menyangka keadaan kalian sudah sejauh ini.” Ia mengusap wajahnya. “Om
benar-benar minta maaf.”
Gerda tertawa pahit. “Maaf lagi.”
“Gerda…”
“Tidak, Kak. Aku hanya ingin tahu satu
hal.” Ia menatap Om Wira. “Kenapa sekarang?”
Om Wira mengangkat wajah. “Karena Om tidak
ingin kalian kehilangan rumah ini.”
“Om ingin membantu mempertahankannya.”
Aku menggeleng. “Bagaimana caranya?”
“Itulah yang ingin Om bicarakan malam ini.”
“Kalau caranya dengan meminta kami membayar
utang itu, kami tidak sanggup.”
Rasanya percakapan malam ini justru
menambah lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Om Wira kemudian berkata, “Om tahu kalian
belum bisa memaafkan Om.”
Tidak ada yang menjawab.
“Dan Om tidak akan memaksa kalian.” Ia
menarik napas panjang. “Tapi kali ini Om tidak akan pergi sebelum berusaha
memperbaiki kesalahan Om.”
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku
melihat sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Penyesalan. Bukan sekadar kata
maaf. Namun, apakah penyesalan itu cukup untuk menyelamatkan rumah kami? Aku
tidak tahu.
Malam itu kami tidak menemukan jawaban. Yang
kami tahu hanyalah satu hal. Rumah yang selama ini kami anggap sebagai tempat
paling aman ternyata sedang berada di ujung kehilangan. Dan untuk
mempertahankannya, kami harus kembali berjuang.
Entah dari mana harus memulai. Aku menatap
ke arah lorong menuju kamar Ibu. Di rumah inilah kami pernah tertawa
bersamanya. Di rumah inilah kami merawatnya ketika sakit. Di rumah inilah kami
menangis ketika akhirnya harus kehilangan beliau.
Aku tidak ingin kehilangan rumah ini juga. Namun, untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu. Kehilangan tidak selalu berarti mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang. Kadang, kehilangan berarti berdiri di depan rumah sendiri dan bertanya-tanya… Apakah besok kita masih akan memiliki tempat untuk pulang.
***
Rumah Ibu bukanlah milik kami. Kami memang pernah tinggal di sana.
Membesarkan mimpi di bawah atap yang sama. Belajar saling menguatkan ketika
dunia terasa terlalu berat. Namun, pada akhirnya, rumah itu tetap bukan sesuatu
yang bisa kami pertahankan hanya karena di dalamnya tersimpan begitu banyak
kenangan.
Kami hanya anak-anak angkat dari seorang perempuan berhati mulia yang
telah tiada. Dengan berat hati, kami meninggalkan rumah yang selama
bertahun-tahun menjadi tempat berteduh. Tempat kami belajar menjadi keluarga.
Tempat terakhir kami merasakan kasih sayang seorang ibu.
Hari ketika kami mengemasi barang-barang terasa seperti mengucapkan
selamat tinggal untuk kedua kalinya. Aku berdiri cukup lama di depan pintu
sebelum akhirnya menutupnya. Tidak ada lagi suara langkah Ibu dari dapur. Tidak
ada lagi aroma masakan yang menyambut ketika kami pulang.
Namun, aku percaya, kasih sayang tidak pernah benar-benar tinggal di
sebuah bangunan. Ia tinggal di dalam hati orang-orang yang pernah menerimanya. Kebahagiaan
yang kami bangun dengan susah payah memang sempat runtuh dalam sekejap.
Namun, terus meratapi kehilangan tidak akan mengubah kenyataan. Kami
memilih menerima takdir. Bukan karena kami tidak sedih. Melainkan karena kami
percaya bahwa menerima bukan berarti menyerah.
Berbekal rumah tua peninggalan kedua orang tuaku yang selama ini dirawat
Mbok Parmi, kami memulai kehidupan dari awal.
Rumah itu tidak semegah rumah Ibu. Cat dindingnya mulai pudar. Beberapa
bagian atap perlu diperbaiki. Gudangnya dipenuhi barang-barang lama yang sudah
bertahun-tahun tidak digunakan. Namun, setidaknya rumah itu masih memberi kami
satu hal yang paling kami butuhkan. Tempat untuk pulang.
“Kakak!” Suara Nafira membuyarkan lamunanku. “Kak Merisa di mana?” Ia
berlari-lari kecil menyusuri rumah.
“Mungkin di luar membantu Kak Gerda dan Kak Aldi membereskan gudang.”
Aku masih sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
“Fira mau ke gudang, ya, Kak.”
“Boleh. Tapi lihat dari jauh saja, ya. Gudangnya masih berdebu. Biar Kak
Gerda dan Kak Aldi yang mengangkat barang-barang berat. Fira bantu menyapu
saja.”
Nafira mengangguk riang lalu berlari keluar.
Dari balik jendela dapur, aku memperhatikan adik-adikku bekerja sama
membereskan ruangan di depan rumah. Gerda mengangkat lemari tua. Aldi sibuk
memperbaiki rak kayu yang hampir roboh. Merisa dan Nafira menyapu lantai sambil
sesekali saling bercanda. Tawa mereka memenuhi halaman.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah tua yang sebelumnya
terasa begitu sepi kembali hidup.
Sudah dua bulan kami tinggal di sini. Rumah Ibu kini telah menjadi milik
orang lain. Anehnya, aku tidak lagi menyimpan keinginan untuk merebutnya
kembali. Ada kenangan yang tidak bisa dibeli. Ada kasih sayang yang tidak
membutuhkan sebuah rumah untuk tetap hidup.
Aku percaya, Ibu akan memahami keputusan kami. Rumah memang bisa menjadi
tempat menyimpan kenangan. Namun, rumah tidak pernah benar-benar menentukan
arti sebuah keluarga.
Bagiku, rumah bukan tentang seberapa besar bangunannya. Bukan tentang
seberapa indah perabotannya. Rumah adalah tempat seseorang merasa aman untuk
pulang. Dan selama kami masih saling memiliki, di mana pun kami berada, aku
tahu kami tetap mempunyai rumah.
Gerda dan Aldi kemudian memiliki rencana mengubah gudang menjadi warung
kecil agar aku tidak perlu bekerja jauh dari rumah lagi. Mereka ingin aku lebih
banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Bermodalkan sisa tabunganku, kami
mulai membeli rak, etalase, dan sedikit demi sedikit mengisinya dengan barang
dagangan.
Tidak mudah. Kami harus menghitung setiap rupiah. Namun, kali ini kami
tidak takut memulai dari nol. Kami sudah pernah kehilangan hampir semuanya. Dan
ternyata, kehilangan tidak membuat kami benar-benar habis.
Justru dari sana kami belajar bahwa selama masih ada kemauan untuk
bangkit, selalu ada sesuatu yang bisa diperjuangkan.
Beberapa bulan kemudian, kabar baik mulai berdatangan. Aldi diterima
bekerja di sebuah perusahaan. Gerda pun dipanggil kembali ke bengkel setelah
pelaku pencurian yang sebenarnya berhasil ditangkap.
Keduanya tetap melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan biaya hasil
jerih payah mereka sendiri. Melihat mereka tersenyum, aku merasa seluruh
lelahku selama ini tidak sia-sia.
Keceriaan kembali memenuhi rumah. Tawa yang sempat hilang kini terdengar
hampir setiap hari. Tidak semuanya sempurna. Namun, untuk pertama kalinya, aku
tidak lagi meminta hidup menjadi sempurna.
Aku hanya ingin kami tetap bersama. Sementara itu, Om Wira benar-benar
menepati janjinya. Ia meninggalkan kebiasaan berjudi dan mabuk-mabukan. Ia
memilih merantau untuk bekerja dan memulai hidupnya dari awal.
Berkat kerja kerasnya, ia dipercaya menjadi salah satu karyawan andalan
di tempat kerjanya. Setiap bulan, sebagian penghasilannya selalu dikirimkan
kepada kami. Bukan karena kami meminta. Ia melakukannya karena ingin memperbaiki
kesalahan yang pernah ia buat.
“Sisihkan rezeki untuk bersedekah dan jangan lupa menabung.” Pesan itu
selalu ia ulang setiap kali menghubungi kami.
Saat libur panjang tiba, Om Wira tidak pernah lupa pulang. Ia membantu
memperbaiki rumah, bermain bersama Nafira, memperbaiki rak warung, dan menemani
kami makan malam.
Hubungan kami tidak langsung berubah menjadi hangat. Ada luka yang
membutuhkan waktu untuk sembuh. Namun, sedikit demi sedikit, jarak itu mulai
menghilang.
Aku akhirnya memahami satu hal. Memaafkan tidak berarti mengatakan bahwa
apa yang pernah dilakukan seseorang adalah benar. Memaafkan berarti memilih
untuk tidak membiarkan kesalahan masa lalu menentukan seluruh masa depan.
Untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku belajar bahwa seseorang bisa
berubah jika benar-benar ingin memperbaiki dirinya.
Suatu sore, hujan kembali turun. Aku berdiri di depan warung kecil kami
sambil memandang jalanan yang basah. Dulu, hujan selalu membuatku takut. Setiap
rintiknya mengingatkanku pada kecelakaan yang merenggut Ayah dan Ibu.
Pada kehilangan Ibu asuh. Pada rumah yang harus kami tinggalkan. Pada
hari-hari ketika aku merasa Tuhan mengambil semuanya dariku satu per satu. Namun,
hari ini berbeda. Aku masih mengingat semua kehilangan itu. Aku hanya tidak
lagi membiarkannya menentukan bagaimana aku menjalani hidup.
Nafira berlari keluar sambil membawa payung. “Kak!”
Aku menoleh.
“Masuk, nanti kehujanan!”
“Sebentar.” Aku menatap langit.
Hujan masih turun. Tetapi kali ini, aku tidak melihatnya sebagai
pertanda kesedihan. Aku melihatnya sebagai sesuatu yang pernah mengajarkanku
tentang kehidupan. Bahwa setelah tanah menjadi basah, akan selalu ada sesuatu
yang tumbuh. Bahwa setelah kehilangan, masih ada kesempatan untuk memulai
kembali. Dan bahwa setelah hati berkali-kali patah, Tuhan tetap mampu
menghadirkan alasan untuk bersyukur.
Dalam hati, aku berdoa, “Ya Allah, terima kasih karena Engkau tidak
pernah benar-benar meninggalkan kami. Ketika satu pintu tertutup, Engkau
mengajarkan kami untuk mencari jalan lain. Ketika seseorang pergi, Engkau
menghadirkan kekuatan untuk bertahan. Dan ketika kami merasa tidak memiliki
apa-apa, Engkau mengingatkan bahwa kami masih memiliki satu sama lain.”
Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Di sana, suara tawa adik-adikku
kembali terdengar. Hangat. Sederhana. Nyata.
Saat itu aku akhirnya mengerti— rumah bukanlah tempat yang tidak
pernah kehilangan penghuninya. Rumah adalah tempat kita tetap memilih untuk pulang,
meski kehidupan telah berkali-kali mengajarkan kita tentang kehilangan.
Dan selama kami masih saling menggenggam, aku tahu satu hal. Aku tidak
lagi takut menghadapi hari esok. Karena untuk pertama kalinya, aku tidak hanya
bertahan hidup. Aku benar-benar sedang menjalani hidup.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai
karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa
izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar