Sabtu, 12 Oktober 2013

TEMPAT PULANG

Matahari bersembunyi di balik awan. Langit diselimuti warna hitam pekat, pertanda hujan belum akan berhenti.

Tetes-tetes air menggantung di ujung daun sebelum akhirnya jatuh menyapa orang-orang yang berlalu-lalang. Udara dingin merayap hingga ke tulang. Gemuruh petir bersahut-sahutan dengan bising klakson kendaraan yang terjebak kemacetan.

Genangan air memenuhi jalan hingga setinggi lutut orang dewasa. Meski begitu, tak seorang pun berhenti. Mereka tetap menerobos hujan dan banjir demi mencari nafkah.

Barangkali beginilah kehidupan. Ketika perut harus tetap diisi dan keluarga menunggu di rumah, hujan bukan lagi alasan untuk menyerah. Setiap orang memikul bebannya sendiri, lalu berusaha melangkah sejauh yang mereka mampu.

***

Tak seorang pun dapat menduga kapan hujan akan datang. Kadang ia turun ketika tidak diharapkan, kadang justru tak kunjung hadir saat begitu dinantikan.

Dulu, setiap kali hujan menyapa, hatiku selalu diliputi duka. Terlalu banyak kenangan yang lahir bersamanya hingga setiap rintiknya terasa menyakitkan.

Hujan menjadi lambang kesenduan, menemani perjalanan hidup yang penuh luka. Namun, karena terlalu sering berjalan bersamanya, aku akhirnya belajar terbiasa.

Hujan tidak pernah menjadi milikku. Tuhanlah pemiliknya. Maka, tak ada alasan menyesali setiap kedatangannya, sebab di balik setiap tetesnya selalu tersimpan nikmat yang belum tentu mampu kita pahami.

***

Aku tumbuh dalam limpahan kasih sayang. Tak pernah sekali pun terlintas bahwa suatu hari aku harus menjalani hidup sendirian.

“Ra, nanti kalau sudah sampai rumah Ayah mau buatkan kolam ikan yang kamu minta.”

“Janji ya?”

Ayah tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya dari kemudi. “Janji.”

Ibu terkekeh pelan. “Jangan terlalu dimanja. Nanti semua halaman rumah penuh kolam.”

“Tidak apa-apa,” sahut Ayah. “Putri Ayah cuma satu.”

Aku memeluk lengan Ibu sambil tersenyum puas. Di luar jendela, pepohonan berlarian mengikuti laju mobil. Langit yang semula cerah perlahan tertutup awan kelabu.

Rintik hujan mulai membasahi kaca depan.

“Ayah, hujannya deras.”

“Iya. Pegang sabuk pengaman yang benar.”

Suara wiper bergerak semakin cepat.

Tiba-tiba...

Sreeettt!

Suara rem memekakkan telinga. Mobil oleng ke kanan. Ibu spontan memeluk tubuhku. “Ra!”

Brak!

Tubuhku terhempas. Kaca mobil pecah. Dunia berputar sebelum semuanya berubah gelap.


Bau obat memenuhi penciumanku. Kelopak mataku terasa berat ketika perlahan terbuka. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari tangan Ibu. Namun yang menggenggam jemariku hanyalah tangan seorang perawat.

“Ibu...?”

Perawat itu menunduk. Aku menoleh ke kanan dan kiri.

“Ayah?”

Tak ada jawaban. Dadaku mulai sesak.

“Di mana Ayah dan Ibu?”

Seorang dokter mendekat. Tatapannya penuh iba.

“Kami sudah berusaha.”

Hanya empat kata. Namun empat kata itu menghancurkan seluruh kehidupanku.

Hari itu aku menjerit, memohon agar Tuhan mengembalikan mereka. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti bahwa kehilangan dapat mengubah seluruh arah hidup seseorang.


Hari-hari setelah kecelakaan terasa begitu panjang. Aku tinggal di sebuah panti asuhan bersama anak-anak lain yang mengalami nasib serupa. Mereka bermain, belajar, dan tertawa. Sedangkan aku memilih mengurung diri di sudut kamar.

Aku tidak mau berbicara.

Tidak mau makan.

Tidak peduli siapa yang mencoba menghibur.

Setiap malam, aku memeluk lutut di atas ranjang sambil menangis diam-diam. Rasanya, jika terus memejamkan mata, mungkin besok Ayah dan Ibu akan datang menjemputku. Namun pagi selalu membawa kenyataan yang sama.

Pada suatu sore, seorang perempuan paruh baya masuk ke kamarku sambil membawa semangkuk bubur hangat. Aroma kaldu memenuhi ruangan.

Beliau duduk di sampingku. “Ayo makan sedikit.”

Aku menggeleng.

Beliau tersenyum tipis. “Kalau belum sanggup menghabiskan semangkuk, tiga sendok saja.”

Aku tetap diam.

Beliau tidak memaksa. Bubur itu diletakkan di atas meja kecil sebelum beliau berdiri dan keluar.

Esoknya, beliau datang lagi. Membawa semangkuk bubur yang masih mengepul. Aku kembali menggeleng.

Beliau hanya berkata pelan, “Tidak apa-apa.”

Hari ketiga. Beliau kembali datang.

Hari keempat. Masih dengan senyum yang sama.

Aku akhirnya tidak sanggup lagi menyimpan pertanyaan yang sejak lama mengganjal di dada.

“Kenapa Ibu terus datang?”

Beliau menatapku lembut. “Karena aku khawatir kamu kelaparan.”

“Bukankah masih banyak anak lain?”

“Iya.”

“Lalu kenapa Ibu baik sekali padaku?”

Beliau terdiam cukup lama sebelum mengembuskan napas perlahan. “Karena dulu aku juga pernah kehilangan.”

Aku mengangkat wajah. Sorot matanya tidak sedang mengasihaniku. Justru ada luka yang sama seperti yang kurasakan.

Beliau mengusap pelan rambutku. “Aku tahu rasanya berharap seseorang pulang, padahal kita sudah tahu itu tidak akan pernah terjadi.”

Air mataku kembali jatuh. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, aku menangis di hadapan seseorang. Beliau tidak menyuruhku berhenti. Tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beliau hanya memelukku erat hingga tangisku perlahan mereda. Pelukan itu menghangatkan ruang kosong di dalam hatiku yang selama ini terasa dingin.

Sejak hari itu, aku tidak lagi merasa sendirian.


Rumah kecil itu tidak pernah dipenuhi makanan mewah. Kami berlima duduk mengelilingi meja makan yang bahkan tidak cukup untuk seluruh penghuni rumah. Hari itu lauk kami hanya seekor ayam goreng.

Ibu membaginya dengan sangat hati-hati.

Sayap untuk Aldi.  

Dada untuk Gerda.

Potongan kecil untuk Merisa.

Paha untuk Nafira yang sejak tadi memandangi piring dengan mata berbinar. Lalu beliau meletakkan sepotong kecil daging di piringku.

Aku tersenyum pelan. “Ibu, Tiara sudah kenyang.”

“Kamu belum makan.”

“Tadi Tiara sudah makan roti di sekolah.”

Aku berbohong. Padahal sejak pagi hanya segelas air putih yang masuk ke perutku.

“Kalau begitu...” Aku mengambil potongan daging itu lalu memindahkannya ke piring Nafira. “Nafira sedang masa pertumbuhan.”

Mata Nafira berbinar. “Benarkah buat Nafi?”

“Iya.”

Gadis kecil itu tersenyum lebar sebelum melahap paha ayam dengan penuh semangat.

Aku ikut tersenyum. Melihat adikku makan dengan lahap sudah lebih dari cukup untuk mengenyangkan hati. Dari seberang meja, Ibu hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa.


Malamnya, ketika adik-adikku sudah tertidur, terdengar ketukan pelan di pintu kamar.

Tok...

Tok...

Aku membukanya perlahan. Ibu berdiri di depan pintu sambil membawa sebungkus roti hangat.

“Ini untukmu.”

Aku menggeleng. “Ibu, Tiara tidak lapar.”

Beliau tersenyum, lalu menyelipkan roti itu ke tanganku. “Kakak juga masih masa pertumbuhan.”

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat. Aku memandang roti di tanganku, lalu menatap wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang.

“Terima kasih, Bu.”

Beliau mengusap kepalaku pelan. “Tidak perlu berbohong kalau sedang lapar.”

Air mataku kembali menggenang. Bukan karena lapar. Melainkan karena untuk kedua kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang menyayangiku seperti seorang ibu.


Hari-hari berlalu begitu cepat. Rumah kecil kami tetap dipenuhi tawa, meski hidup serba sederhana. Namun, tanpa kusadari, kesehatan Ibu mulai menurun.

Beliau lebih sering batuk. Awalnya hanya batuk kecil yang sesekali terdengar saat memasak di dapur.

“Ahem... ahem...”

“Ibu tidak apa-apa?” tanyaku sambil menghampiri.

Beliau segera menggeleng sambil tersenyum. “Hanya masuk angin.”

Aku mengangguk, meski tidak benar-benar percaya. Hari demi hari, batuk itu semakin sering terdengar. Namun Ibu tetap bangun sebelum subuh untuk memasak.

Tetap menyiapkan bekal sekolah.

Tetap mencuci pakaian kami.

Tetap mengantar Nafira ke taman kanak-kanak sambil menggandeng tangan mungilnya. Seolah tubuhnya tidak pernah mengenal lelah.

Suatu pagi kulihat beliau harus berpegangan pada kusen pintu setelah mengantar Nafira pulang.

Wajahnya pucat.

Napasnya terdengar berat.

Aku berlari menghampiri. “Ibu, istirahat saja. Biar Tiara yang mengerjakan semuanya.”

Beliau mengusap kepalaku pelan. “Kalau Ibu berhenti bergerak, nanti kalian makan apa?”

“Tapi kesehatan Ibu lebih penting.”

Beliau tersenyum seperti biasa. “Masih kuat.”

Jawaban itu sederhana. Namun sejak hari itu aku mulai memahami bahwa seorang ibu sering kali menyembunyikan rasa sakitnya agar anak-anaknya tidak ikut khawatir.

Malam harinya, saat semua orang tertidur, aku mendengar suara batuk dari dapur. Aku mengintip dari balik pintu. Ibu sedang menahan batuk sambil menutup mulut dengan selembar kain. Ketika kain itu beliau lipat, samar-samar kulihat bercak merah di sana.

Dadaku seketika sesak. “Ibu...”

Beliau terkejut mengetahui aku berdiri di belakangnya. Dengan cepat kain itu disembunyikan di balik punggung. “Belum tidur?”

Aku memeluk beliau tanpa berkata apa-apa. Entah mengapa, malam itu hatiku dipenuhi ketakutan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Beberapa hari kemudian, hujan turun tanpa henti. Listrik padam sejak sore. Rumah kecil kami hanya diterangi cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan tertiup angin. Bayangan kami menempel di dinding, bergerak mengikuti nyala api yang tak pernah benar-benar tenang.

Aldi, Gerda, Merisa, dan Nafira sudah terlelap. Aku masih duduk di ruang tengah sambil menjahit kancing seragam sekolah Merisa yang lepas.

“Ra.” Suara Ibu terdengar lirih dari kamar.

Aku segera menghampiri. “Iya, Bu?”

Beliau menepuk sisi ranjang, memintaku duduk di sampingnya. Tangannya terasa lebih dingin dari biasanya ketika menggenggam jemariku. Aku menggenggamnya lebih erat.

“Ibu ingin bicara sebentar.”

Aku mengangguk pelan.

Beliau memandang wajahku cukup lama, seolah sedang menghafalnya. “Kalau suatu hari nanti Ibu tidak ada...”

“Bu...” Aku langsung memotong ucapannya. “Jangan bicara seperti itu.”

Beliau tersenyum lembut. “Setiap yang datang pasti akan pulang.”

Aku menundukkan kepala. Dadaku terasa sesak. Aku tidak ingin mendengar kalimat itu lagi.

Beliau mengusap punggung tanganku perlahan. “Tiara, dengarkan Ibu baik-baik.”

Aku mengangguk sambil menahan air mata.

“Kamu adalah anak yang kuat.”

“Tidak, Bu. Tiara tidak sekuat itu.”

“Kekuatan bukan berarti tidak pernah menangis.”

Beliau berhenti sejenak untuk mengatur napas. “Kekuatan adalah tetap memilih berdiri setelah menangis.”

Air mataku jatuh satu per satu.

Beliau melanjutkan dengan suara yang semakin pelan. “Hiduplah dengan keberanian. Jangan pernah membalas keburukan dengan keburukan. Kalau suatu hari dunia memaksamu menjadi jahat...”

Beliau menggenggam tanganku lebih erat. “...katakan tidak.”

Ruangan kembali sunyi. Yang terdengar hanya suara hujan di luar rumah dan isak tangisku yang berusaha kutahan.

Aku tidak pernah menyangka, malam itu menjadi malam terakhir aku mendengar nasihat seorang ibu.


Subuh datang tanpa suara beliau membangunkan kami. Rumah dipenuhi orang-orang yang datang silih berganti. Tangisan terdengar dari berbagai sudut.

Aku hanya duduk diam. Rasanya semua yang terjadi begitu cepat hingga pikiranku belum sempat menerima kenyataan.

Hari itu, untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku kehilangan sosok yang kupanggil Ibu.


Beberapa hari setelah pemakaman, rumah kembali sunyi.

Tidak ada lagi aroma masakan yang memenuhi dapur setiap pagi.

Tidak ada suara langkah kaki yang mondar-mandir membangunkan kami.

Tidak ada lagi seseorang yang bertanya apakah kami sudah makan.

Di meja makan, lima piring sudah tertata seperti biasa. Bedanya, kursi di ujung meja tetap kosong. Tidak akan ada lagi yang duduk di sana.

Nafira menoleh kepadaku. “Kak...”

“Iya?”

“Ibu kapan pulang?”

Tanganku yang sedang memegang sendok langsung terdiam. Aku membuka mulut. Namun tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Nafira kembali menatap kursi kosong itu.

“Aku kangen Ibu.”

Aku memeluknya erat. “Ibu sekarang sudah bersama Allah.”

“Kalau begitu... Allah boleh pinjam Ibu sebentar saja? Nafira mau dipeluk.”

Dadaku terasa diremas. Aku menggeleng pelan sambil menghapus air mata yang jatuh tanpa izin.

“Tapi Ibu akan selalu sayang sama kita.” Nafira menangis di pelukanku.

Saat itu aku sadar, bukan hanya aku yang kehilangan. Masih ada empat hati kecil yang menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali.


Malam harinya, ketika semua adikku telah tertidur, aku berjalan perlahan menuju dapur.

Ruangan itu masih sama.

Panci masih tersusun rapi.

Cangkir kesayangan Ibu masih berada di rak.

Di sudut dinding, celemek bermotif bunga yang biasa beliau kenakan masih tergantung. Aku mendekatinya. Tanganku gemetar saat melepaskan celemek itu dari gantungannya.

Kainnya masih menyisakan samar aroma sabun dan masakan yang begitu akrab. Tanpa sadar, aku memeluknya erat. Air mataku pecah.

“Bu...” Suaraku nyaris tak terdengar. “Aku kangen...”

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena aku tidak ikhlas.

Melainkan karena aku sadar, mulai hari ini tidak akan ada lagi seseorang yang menungguku pulang, menyuruhku makan, atau mengusap kepalaku ketika aku lelah.

Aku benar-benar menjadi seorang kakak bagi empat adikku. Dan sejak malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri.

Aku akan menjaga mereka. Sebagaimana Ibu pernah menjaga kami.


***

“Seandainya dulu aku tidak belajar bertahan hidup, mungkin aku sudah menyerah sejak lama. Namun Engkau mengajarkanku bahwa setiap ujian selalu membawa hikmah. Berkat ridha-Mu, aku percaya semua yang terjadi adalah bentuk kasih sayang-Mu. Maka berilah aku kesabaran untuk menjalaninya.”

Aku mengembuskan napas panjang.

Langit masih dipenuhi awan kelabu. Hujan turun tanpa terburu-buru, membasahi jalanan dan membuat kendaraan bergerak pelan.

Aku duduk di bangku halte, memeluk tas di pangkuan sambil menunggu bus yang tak kunjung datang. Mungkin terjebak banjir seperti kendaraan lain.

Beberapa orang di sekitarku sibuk mengobrol.

Ada yang mengeluh karena terlambat bekerja.

Ada yang tertawa sambil bermain ponsel.

Ada pula yang sesekali mengumpat karena hujan tak kunjung reda.

Aku hanya memandang rintik air yang jatuh dari atap halte.

Hujan selalu mengingatkanku pada kehilangan. Namun kali ini, aku tidak ingin larut di dalamnya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun menghampiriku. Seragam sekolahnya sudah lusuh. Celana yang dikenakannya basah hingga lutut. Di pundaknya tergantung keranjang kecil yang ditutupi plastik bening.

“Mau beli gorengannya, Kak?” Suaranya terdengar pelan, tetapi senyumnya begitu tulus.

Aku melihat isi keranjang itu. Beberapa bakwan. Tempe goreng. Pisang goreng. Sebagian sudah mulai dingin.

“Boleh, Kakak beli beberapa.”

“Wah... makasih, Kak.” Ia segera memasukkan gorengan ke dalam kantong plastik dengan gerakan cekatan.

Saat menerima uang lima puluh ribu dariku, tangannya mendadak berhenti.

“Maaf, Kak...” Ia menunduk. “Uangnya terlalu besar. Aku tidak punya uang kembali.”

Aku tersenyum kecil.

“Kalau begitu, ambil saja kembaliannya.”

Anak itu menggeleng cepat. “Tidak boleh.”

“Kenapa?”

“Ibu bilang, jangan mengambil yang bukan hak kita.”

Aku terdiam. Kalimat sederhana itu membuatku teringat pada seseorang.

“Kalau dunia memaksamu menjadi jahat... katakan tidak.” Suara Ibu kembali menggema di kepalaku.

Aku menatap anak itu cukup lama. “Ayah dan Ibumu pasti bangga punya anak sejujur kamu.”

Senyumnya perlahan memudar. “Ayah sudah meninggal, Kak.”

Dadaku seketika terasa sesak. Aku seperti sedang melihat diriku sendiri beberapa tahun yang lalu.

“Kalau Ibu?”

“Buruh cuci, Kak.”

Aku menggenggam kantong gorengan itu erat. Entah mengapa, rasanya Tuhan kembali mengingatkanku pada alasan mengapa aku harus tetap bertahan.

“Maaf, Kak. Ada uang pas. Kebetulan hari ini belum ada pembeli.”

Aku tersenyum sambil menggeleng. “Simpan saja! Maukah temani Kakak mengobrol sebentar? Anggap kembaliannya sebagai upah menemani.”

Senyumnya kembali mengembang. “Baik, Kak.”

Beni duduk di sampingku. Kami sama-sama memandangi hujan yang belum juga reda.

“Namamu siapa?”

“Beni.”

“Kelas berapa?”

“Kelas lima SD.”

“Kamu setiap hari jualan sepulang sekolah?”

“Iya.”

“Capek?”

Beni menggeleng pelan. “Sedikit.”

“Kenapa memilih jualan?”

Anak itu menatap keranjang di pangkuannya sebelum menjawab. “Kalau tidak jualan, Ibu sendirian yang bekerja.” Senyumnya memudar.

Aku terdiam. “Maaf...”

“Tidak apa-apa, Kak. Aku bantu Ibu supaya bisa terus sekolah. Ibu selalu bilang, pekerjaan apa pun tidak perlu malu, asal halal.”

Aku tersenyum tipis. “Ucapan Ibumu benar.”

Ibu juga bilang, “lebih baik capek jualan daripada meminta-minta.”

Aku mengangguk pelan.

Ada sesuatu dalam diri Beni yang mengingatkanku pada masa lalu. Bukan karena nasib kami sama. Melainkan karena kami sama-sama pernah kehilangan seseorang yang paling kami cintai.

Perbedaannya, aku pernah memiliki seorang ibu asuh yang mengajariku bertahan. Sedangkan Beni masih bertahan bersama ibunya.

Tak lama kemudian, hujan mulai mereda. Beni berdiri sambil mengangkat kembali keranjang di pundaknya.

“Terima kasih sudah membeli dagangan Beni, Kak.”

“Semoga jualanmu habis hari ini.”

“Aamiin.”

Anak itu melangkah pergi dengan semangat, menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang baru turun dari bus. Aku memandang punggungnya hingga menghilang di antara keramaian.

Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah, jagalah anak itu. Mudahkan langkahnya, kuatkan ibunya, dan lapangkan rezeki mereka.”

Aku percaya, anak yang terbiasa berjuang sejak kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Bisakah aku setegar Beni?

Anak berusia sebelas tahun itu mampu tersenyum di tengah kerasnya kehidupan. Lalu kenapa aku yang sudah dewasa justru sering mengeluh?

Aku menatap hujan yang masih turun. Di luar sana, masih banyak orang yang hidup jauh lebih sulit dariku. Mereka tetap berusaha, tetap tersenyum, dan tetap bersyukur meski keadaan tidak berpihak. Lalu, kenapa aku begitu takut menghadapi kenyataan?

Aku menarik napas panjang.

Bukan kehilangan pekerjaan yang paling kutakutkan. Melainkan pulang ke rumah dan menatap wajah adik-adikku. Mereka selalu menyambutku dengan senyum. Selalu membanggakan kakaknya.

Padahal aku tahu, kali ini aku harus membawa kabar yang akan mematahkan harapan mereka.

Aku bekerja sebagai office girl di sebuah perusahaan. Saat pertama kali membawa surat penerimaan kerja ke rumah, Aldi dan Gerda melompat kegirangan.

“Kak Tiara kerja di gedung tinggi!”

“Nanti Kakak pasti punya ruang kerja sendiri.”

Merisa bahkan bercerita kepada teman-temannya bahwa kakaknya bekerja di sebuah kantor besar.

Aku hanya tersenyum. Aku tidak pernah menjelaskan bahwa tugasku bukan duduk di balik meja dengan komputer dan setumpuk berkas.

Aku membersihkan ruangan.

Menyeduh kopi.

Mengantarkan dokumen.

Menjaga kebersihan kantor.

Pekerjaan yang sangat ku syukuri karena mampu menghidupi kami. Namun hari ini, pekerjaan itu juga harus kulepaskan. Aku sudah mencoba melamar ke beberapa perusahaan.

Satu demi satu lamaran kukirim.

Satu demi satu pula penolakan kuterima.

Aku menundukkan kepala. “Maafkan aku, Bu.”

Aku memang tidak pernah malu dengan pekerjaanku. Yang membuatku sedih adalah kenyataan bahwa aku belum mampu menjadi kakak yang mereka banggakan.

Suara rem bus memekik mematahkan lamunanku. Bus yang kutunggu akhirnya muncul dari balik hujan. Orang-orang segera berdiri dan berebut naik.

Aku menggenggam tas lebih erat, lalu ikut berlari menerobos hujan. Entah bagaimana caranya. Malam ini aku harus pulang dan mengatakan yang sebenarnya.

***

Gerimis membungkus keheningan malam. Rintiknya mengetuk kaca jendela tanpa henti. Angin dingin menyelinap melalui celah kusen, membawa aroma tanah basah yang begitu akrab.

Mataku menyaksikan suasana di balik jendela kamar. Sorot lampu teras jatuh tepat pada sebuah sarang burung di atas pohon mangga. Seekor induk burung baru saja kembali membawa makanan. Ia menyuapi anak-anaknya satu per satu, lalu merentangkan sayap, melindungi mereka dari hujan yang masih turun.

Seketika dadaku terasa sesak. “Ibu...”

Andai Ibu masih ada. Mungkin aku tidak perlu memikul semua ini sendirian. Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Belum sempat menarik napas panjang, terdengar ketukan pelan di pintu.

Tok...

Tok...

“Kak Resya... boleh aku masuk?”

“Masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”

Pintu terbuka perlahan. Aldi melangkah masuk sambil menggenggam selembar amplop putih. Ia berdiri cukup lama di dekat pintu, seolah masih mempertimbangkan apakah ia harus mendekat atau kembali keluar.

“Ada apa?”

“Apa aku mengganggu?”

Aku menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak. Duduklah.”

Aldi duduk di kursi belajar. Kedua tangannya tidak berhenti meremas amplop yang dibawanya. Aku baru sadar, adikku sedang gugup.

“Ada yang ingin kamu sampaikan?”

“Iya...”

Jawabannya menggantung. Tatapannya sesekali beralih ke lantai, lalu kembali menatapku. Aku menunggu tanpa menyela. Beberapa detik kemudian ia menyerahkan amplop itu kepadaku.

“Ini hasil pengumuman.”

Aku membukanya perlahan. Mataku berhenti pada tulisan yang membuatku ikut tersenyum.

SELAMAT. ANDA DINYATAKAN LULUS.

“Aldi...”

“Kalau Kakak mengizinkan...” Suaranya semakin pelan. “...aku ingin kuliah.”

Aku mengangkat wajah.

Tatapan Aldi dipenuhi harapan. “Tapi...”

Ia menarik napas dalam. “Di awal masuk, aku mohon bantuan Kakak untuk biaya pendaftaran. Aku tidak akan terus bergantung. Aku akan mencari pekerjaan sambil kuliah. Kalau memang keadaan kita tidak memungkinkan...”

Ia tersenyum kecil, meski jelas dipaksakan. “...aku juga akan menerima keputusan Kakak.”

Dadaku seperti diremas. Aku tahu, Aldi sudah memikirkan kalimat itu berkali-kali sebelum memberanikan diri mengatakannya. Ia bukan meminta dengan memaksa. Ia hanya sedang mengejar mimpi.

Aku menggenggam surat kelulusannya erat. Tuhan... Mengapa permintaan sesederhana ini terasa begitu sulit kupenuhi? Aku ingin mengatakan, “Tentu, Kakak akan membiayaimu.” Namun bayangan surat pemutusan kerja yang kusimpan di dalam tas seakan menahan setiap kata yang hendak keluar.

Aku kehilangan pekerjaan. Tabunganku semakin menipis. Sementara di depanku, ada seorang adik yang sedang menggantungkan harapan kepada kakaknya. Aku menatap Aldi cukup lama. Lalu tersenyum, meski hatiku sedang hancur.

Aku mengangguk pelan. Baiklah. Kakak izinkan.”

Wajah Aldi yang sejak tadi dipenuhi kecemasan perlahan berubah cerah. “Benarkah, Kak?”

“Iya. Belajarlah yang rajin. Kesuksesan ada di tanganmu. Jangan sia-siakan kesempatan ini.” Aku tersenyum, meski dadaku terasa sesak.

Mata Aldi berbinar. Senyum yang sejak tadi ia tahan akhirnya merekah. “Terima kasih, Kak.”

Ia buru-buru membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah brosur kampus yang mulai kusut di bagian ujungnya. “Aku sudah mengambil brosurnya.”

Ia menyerahkannya kepadaku dengan kedua tangan. “Kakak baca saja. Semoga kampus ini tidak mengecewakan.”

Aku menerima brosur itu. Di halaman depan tertulis rincian biaya pendaftaran. Mataku berhenti pada angka-angka yang terasa begitu besar. Jantungku berdetak semakin cepat. Aku menutup brosur itu sebelum Aldi menyadari perubahan wajahku.

“Kakak tidak mempermasalahkan kamu kuliah di mana.” Aku menatapnya sambil tersenyum.

“Yang penting kamu belajar sungguh-sungguh dan menggapai cita-citamu. Itu sudah cukup membuat Kakak bangga.”

Aldi mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Kak.”

Ia memelukku erat. Pelukan itu terasa hangat. Namun justru membuat air mataku hampir jatuh. Untung saja ia tidak melihatnya.

Setelah berpamitan, Aldi keluar dari kamar dengan langkah ringan. Pintu tertutup perlahan. Aku kembali membuka brosur itu. Mataku menelusuri setiap rincian biaya.

Uang pangkal.

Biaya semester.

Biaya praktikum.

Semuanya jauh di luar kemampuanku saat ini. Air mata akhirnya jatuh membasahi kertas di tanganku.

“Besok...” Aku menarik napas panjang. “...aku harus mendapatkan pekerjaan.”

Belum sempat aku menghapus air mata, terdengar langkah kaki kecil berlari ke arahku.

“Kak Resya!” Sebuah pelukan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangku dari belakang.

Aku buru-buru mengusap pipi. “Iya, Sayang.”

Nafira mendongak dengan wajah cemberut. “Fira kangen.”

“Kakak sekarang sibuk terus. Kalau pulang langsung masuk kamar. Fira jadi tidak ditemani main.”

Dadaku kembali terasa sesak. Anak sekecil ini saja sudah menyadari bahwa aku mulai menjauh dari mereka. Aku berlutut hingga sejajar dengannya.

“Maafkan Kakak.”

“Kakak lagi banyak pikiran ya?”

Aku menggeleng mendengar pertanyaan polosnya.

“Kalau banyak pikiran, cerita saja sama Fira.”

Aku tersenyum di sela air mata. “Fira belum tentu mengerti.”

Nafira meraih kedua pipiku dengan telapak tangannya yang mungil. “Kalau Kakak sedih, Fira peluk.”

Tanpa menunggu jawaban, ia memelukku erat. Pelukan kecil itu mampu meruntuhkan seluruh pertahananku. Aku membalas pelukannya sambil menahan tangis.

“Fira mau tidur sama Kakak.”

“Boleh?”

“Tentu boleh.”

Malam itu kami tidur di ranjang yang sama. Tak lama kemudian, Nafira sudah terlelap sambil memeluk lenganku. Aku menatap wajahnya yang damai. Lalu mengusap rambutnya perlahan.

Dalam hati aku berjanji, “Apa pun yang terjadi, kalian tidak boleh kehilangan kesempatan untuk bermimpi. Biar Kakak yang mencari jalan.”

Aku memejamkan mata.

Besok pagi, sebelum matahari terbit, aku akan kembali mengetuk pintu demi pintu perusahaan. Entah diterima atau ditolak. Aku tidak punya pilihan selain terus mencoba.

***

Aku beristirahat di bawah pohon, tepat di halaman kantor yang baru saja menolak lamaranku. Ini kantor kelima yang kudatangi selama seminggu. Tidak ada lagi selebaran lowongan yang tertempel di pintu masuk. Bahkan satpam tadi hanya menggeleng pelan sebelum mengembalikan map lamaranku.

Aku menyandarkan punggung pada batang pohon. Angin siang berembus pelan, tetapi tidak mampu mengusir sesak di dada.

“Mungkin memang belum rezeki,” gumamku lirih.

Langkah kaki berhenti di depanku.

“Permisi.”

Aku mendongak. Seorang perempuan berdiri sambil membawa dua botol air mineral. Tubuhnya tinggi semampai. Rambut hitamnya disanggul rapi. Setelan kantor berwarna krem membuatnya terlihat anggun, tetapi senyum yang mengembang di wajahnya menghapus kesan dingin itu.

Ia mengulurkan salah satu botol. “Untukmu.”

Aku sempat ragu. “Tidak usah, Bu. Saya tidak apa-apa.”

“Kalau begitu anggap saja aku sedang membeli teman bicara.”

Aku tidak bisa menahan senyum kecil. Akhirnya kuterima botol itu. “Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Beberapa saat kami hanya duduk menikmati suasana. Kendaraan lalu-lalang tanpa henti. Sesekali terdengar klakson panjang dari jalan raya.

Perempuan itu membuka botol minumnya lebih dulu. “Baru selesai wawancara?”

Aku mengangguk.

“Ditolak?”

“Iya.” Jawabanku singkat.

Ia tidak menunjukkan rasa iba. Justru mengangguk pelan seolah memahami. “Aku juga pernah duduk di tempatmu.”

Aku menoleh. “Benarkah?”

Ia tertawa kecil. “Lima tahun lalu aku membawa map lamaran ke mana-mana. Ditolak belasan kali. Pulang sambil menangis rasanya sudah biasa.”

Entah kenapa aku mulai merasa nyaman. “Sekarang Ibu bekerja di kantor ini?”

Ia mengangguk. “Iya.”

Aku memandangi gedung tinggi di hadapanku. “Indah sekali.”

“Dari luar memang terlihat indah. Dari dalam, tetap ada tekanan, target, dan lembur.”

Aku tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu. Barulah setelah suasana mencair, percakapan masuk ke inti.

“Mencari pekerjaan di zaman sekarang memang sulit,” katanya pelan. “Banyak orang menganggap keberuntungan adalah segalanya. Padahal setiap orang membawa bekal yang berbeda. Pendidikan, pengalaman, kesempatan, bahkan keadaan keluarga tidak pernah sama.”

“Maksud Anda?” tanyaku bingung.

Perempuan itu tersenyum tipis. “Kamu sudah berapa kali melamar?”

“Lima perusahaan minggu ini.”

“Dan semuanya menolak?”

Aku mengangguk pelan.

Ia menatap map lusuh yang masih kupeluk erat. “Sayang sekali.”

“Kenapa?”

“Karena aku melihat orang yang sebenarnya punya kemauan bekerja.”

Kalimat itu membuatku sedikit lega. Sudah lama tidak ada orang yang mengucapkan sesuatu yang menenangkan.

Ia melanjutkan, “Masalahnya, dunia kerja tidak selalu memilih orang yang paling pintar.”

“Lalu memilih apa?”

“Orang yang tahu bagaimana memanfaatkan kesempatan.”

Aku mengernyit. “Maksudnya?”

“Ada orang yang nilai kuliahnya biasa saja, tetapi hidupnya jauh lebih berhasil dibanding lulusan terbaik. Ada juga yang sangat pintar, tetapi bertahun-tahun tidak mendapat pekerjaan.”

Aku terdiam.

“Menurutmu kenapa bisa begitu?”

Aku menggeleng.

Perempuan itu tersenyum. “Karena kecerdasan bukan hanya soal nilai. Ada orang yang berani mengambil peluang ketika orang lain masih menunggu kesempatan.”

Aku mulai tertarik. “Jadi... menurut Anda saya harus bagaimana?”

Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan, “Kebetulan aku sedang mencari seseorang.”

“Mencari?”

“Iya, aku ingin menawarkan pekerjaan kepadamu.” Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari tasnya.

Saat mendengar kalimat itu, dadaku seperti dipenuhi udara segar. Aku hampir saja memeluk perempuan itu. Untungnya segera kutahan. Pakaianku sudah basah oleh keringat dan hujan. Aku hanya mampu menggenggam kartu nama itu dengan kedua tangan.

“Benarkah?”

“Benar.”

Perkenalanku dengan Anita berlanjut hingga hampir satu jam. Kami berbincang di bawah rindangnya pohon depan kantor. Tidak hanya bertanya tentang diriku, Anita juga bercerita tentang kehidupannya.

Dahulu keluarganya hidup serba kekurangan. Keadaan memaksanya menikah di usia muda dengan lelaki yang tidak dicintainya. Pernikahan itu tidak bertahan lama. Setelah berpisah, ia memilih bangkit, bekerja dari bawah, hingga akhirnya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik.

“Aku tidak ingin orang lain menyerah seperti dulu aku pernah menyerah,” katanya pelan.

Kata-katanya membuatku merasa kami memiliki luka yang hampir sama.

“Kalau kamu bersedia, aku ingin mengajakmu bergabung. Tidak perlu menjawab sekarang.”

“Pekerjaannya seperti apa?”

Anita tersenyum. “Nanti akan dijelaskan langsung di tempat. Yang terpenting, kamu datang dulu.”

Entah mengapa aku mempercayainya. Mungkin karena selama berbincang, ia tidak pernah memaksaku mengambil keputusan.

Setelah meminta izin kepada adik-adikku, malam harinya aku memenuhi ajakan Anita. Mobil berwarna hitam telah terparkir di tempat kami pertama kali bertemu.

“Ayo,” sapanya sambil membukakan pintu.

Aku mengangguk pelan.

Mobil melaju membelah hiruk-pikuk kota. Cahaya lampu gedung memantul di kaca jendela, membentuk garis-garis panjang yang terus bergerak.

Rasanya berbeda dengan perjalanan pulang menggunakan bus. Biasanya aku terlalu lelah hingga tertidur sebelum kendaraan meninggalkan terminal. Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar menikmati pemandangan kota.

Di dalam hati, tumbuh secercah harapan. Semoga ini menjadi awal yang baik.

“Kamu akan nyaman bekerja denganku,” ujar Anita sambil menatap lurus ke jalan. “Dulu aku sempat membenci pekerjaan ini. Namun setelah menjalaninya, aku sadar penghasilannya mampu mengubah hidupku. Sekarang justru kujadikan sebagai pekerjaan sampingan.”

Ada sesuatu dalam nada bicaranya. Kalimat itu terdengar meyakinkan, tetapi sorot matanya menyimpan kesedihan yang tidak mampu ia sembunyikan.

“Aku harap bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakanmu, Bu Anita.”

Anita tersenyum kecil. “Tidak usah memanggilku 'Bu'. Umur kita tidak terpaut jauh. Panggil Anita saja.”

“Baik... Anita.”

Aku kembali melihat keluar jendela. “Apa kantornya masih jauh?”

“Sebentar lagi.”

“Semua karyawan bekerja malam?”

“Tidak. Jam kerjanya berbeda-beda.” Jawabannya selalu singkat.

Aku kembali memberanikan diri bertanya. “Kalau boleh tahu... kenapa kamu masih mengambil pekerjaan ini? Bukankah pekerjaan kantormu sudah cukup mapan?”

Anita tersenyum tipis. “Nanti kamu juga akan tahu.”

Setelah itu ia menaikkan volume musik di mobil. Aku menangkap isyarat bahwa pembicaraan kami sebaiknya berhenti sampai di situ. Kalimat ini jauh lebih alami daripada: "Kamu terlalu banyak bertanya."

Mobil meninggalkan jalan utama dan memasuki kawasan perumahan yang semakin lengang. Deretan rumah besar berdiri berjajar dengan pagar tinggi. Lampu taman menyala redup di sepanjang jalan. Semakin jauh kami masuk, semakin sedikit kendaraan yang terlihat.

Aku melirik layar ponsel. Sinyalnya tinggal satu batang. Entah kenapa dadaku mulai terasa tidak nyaman. Lalu saat tiba mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang jauh lebih besar dibanding rumah-rumah di sekitarnya.

Pagar besi terbuka perlahan. Seorang satpam bertubuh kekar menghampiri. Lengannya dipenuhi otot yang menonjol dari balik lengan kaus hitam. Wajahnya datar, tetapi ia mengangguk hormat kepada Anita.

“Selamat malam, Bu Anita.”

“Malam.”

Ia menoleh kepadaku sekilas sebelum membuka pintu pagar lebih lebar. Ada perasaan aneh yang sulit kujelaskan.

“Turunlah, Resya. Kita sudah sampai.”

Aku melangkah keluar sambil memandangi bangunan megah itu. “Ini... kantormu?”

Anita hanya tersenyum. “Masuk dulu.”

Aku mengikutinya meski perasaan tidak nyaman mulai menguasai. Saat pintu terbuka, aroma parfum mahal bercampur alkohol langsung menyambutku.

Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun duduk santai di sofa kulit. Jas mahal yang dikenakannya tidak mampu menyembunyikan tatapan matanya yang menjelajah tubuhku dari ujung kepala hingga kaki.

Di atas meja tersusun beberapa botol minuman beralkohol. Dadaku mendadak sesak.

“Pak, ini Resya,” kata Anita ramah.

Lelaki itu tersenyum. “Cantik.”

Aku memaksa membalas senyum sekadarnya. Tanpa bertanya apa pun, Anita justru mundur beberapa langkah.

“Kalian mengobrol saja dulu.” Ia berjalan meninggalkan ruang tamu.

Aku semakin gelisah. Beberapa detik kemudian aku menyusul Anita keluar. “Anita.”

Ia menoleh. “Ada apa?”

“Kamu bilang akan mengenalkanku pada pekerjaan. Tapi kenapa aku malah dikenalkan pada pria itu?”

Anita menghela napas seolah pertanyaanku terlalu polos. “Resya...”

Ia menatapku lama. “Kamu cantik. Banyak perempuan ingin memiliki wajah sepertimu.”

Aku mulai tidak menyukai arah pembicaraan. “Apa hubungannya dengan pekerjaan?”

Anita tersenyum tipis. “Kamu hanya perlu menemaninya malam ini.”

Jantungku berdegup keras. “Maksudmu...?”

“Dia orang penting. Kalau dia senang, kamu bisa mendapatkan uang belasan juta hanya dalam satu malam.”

Dunia seakan berhenti berputar. Tanpa berpikir panjang...

Plak!

Tamparanku mendarat keras di pipi Anita. Suara itu menggema di teras rumah.

Anita memegangi pipinya sambil menatapku tidak percaya. “Kamu gila!”

“Kamu yang gila!” suaraku bergetar menahan marah. “Ini yang kamu sebut pekerjaan?”

Wajah Anita berubah dingin. “Jangan sok suci, Resya. Hidupmu sedang berantakan. Bukankah kamu butuh uang?”

“Aku memang butuh uang.” Aku menatap matanya tanpa gentar. “Tapi bukan dengan menjual harga diriku.”

“Bodoh!”

“Kalau mempertahankan kehormatan dianggap bodoh, biarlah aku menjadi orang paling bodoh.”

Aku mundur beberapa langkah. “Terima kasih karena sudah memperlihatkan siapa dirimu.”

Aku berbalik meninggalkan rumah itu.

“Percuma!” suara Anita meninggi. “Kamu pikir mencari pekerjaan itu mudah? Bukankah kamu butuh uang? Di sini kamu bisa mendapatkannya. Berapa pun yang kamu mau.”

Langkahku terhenti. “Aku memang butuh uang.”

Aku mengakuinya tanpa malu. “Aku kehilangan pekerjaan. Adikku ingin kuliah. Di rumah masih ada tiga adik lain yang harus kubiayai.”

Anita tersenyum seolah tahu ia akan menang. “Nah, itu sebabnya kamu harus menerima tawaranku.”

Aku menoleh pelan.

“Tidak. Justru karena mereka, aku menolak.”

Anita mengernyit.

“Aku adalah kakak bagi adik-adikku. Setiap hari aku meminta mereka hidup jujur, menjaga kehormatan, dan tidak mengambil jalan pintas.”

Aku menahan air mata yang hampir jatuh. “Lalu bagaimana mungkin aku pulang membawa uang... sementara aku sendiri mengkhianati semua nasihat itu?”

Anita mendengus pelan. “Idealismemu tidak akan mengenyangkan perut.”

Aku menggeleng. “Mungkin. Tetapi uang haram juga tidak akan membuatku tidur dengan tenang.”

Wajah Anita berubah dingin. “Kamu akan menyesal.”

“Aku lebih menyesal jika kehilangan harga diriku.”

Aku kembali melangkah menuju gerbang. Di tengah langkah itu, suara Ibu asuhku kembali terngiang jelas.

"Hiduplah dengan keberanian. Jangan pernah membalas keburukan. Jika dunia memaksamu menjadi jahat, katakan tidak."

Air mataku akhirnya jatuh. “Maaf, Bu,” bisikku lirih. “Aku masih berusaha menjaga pesan Ibu.”

Aku terus berjalan meninggalkan rumah itu tanpa pernah menoleh lagi.

***

Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Bayangan rumah mewah itu masih jelas di pelupuk mata. Tatapan pria paruh baya, aroma minuman beralkohol, hingga senyum Anita yang perlahan berubah menjadi sinis, terus berputar di kepalaku.

Malam tadi mengajariku satu hal. Tidak semua tangan yang terulur datang untuk menolong. Ada yang sengaja mengulurkan harapan agar kita terjebak di dalamnya. Aku hampir mempercayainya. Padahal kami baru saling mengenal.

Suara Ibu kembali memenuhi ingatanku. Seandainya malam itu aku melupakan nasihatmu, mungkin hari ini aku tidak lagi mampu menatap diriku sendiri di cermin.

Aku tidak membenci Anita. Yang kusesalkan adalah pilihan hidup yang ia ambil. Barangkali hidup pernah berlaku sangat kejam kepadanya hingga ia menganggap jalan itu sebagai satu-satunya cara bertahan. Namun penderitaan tidak pernah menjadi alasan untuk menyeret orang lain ke dalam jurang yang sama.

Jalan hidupku memang tidak mudah. Aku kehilangan Ayah dan Ibu. Aku kehilangan Ibu asuh. Aku kehilangan pekerjaan. Tetapi semua itu belum cukup membuatku kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya, setiap kesulitan selalu menyisakan satu pintu yang masih terbuka. Mungkin aku belum menemukannya hari ini, tetapi bukan berarti pintu itu tidak ada.

Aku hanya perlu terus berjalan. Menjadi diriku sendiri. Dan menjaga hati agar tidak gelap hanya karena hidup sedang berada di dalam kegelapan.

Aku berjalan menuju teras. Rumah terasa sepi. Nafira masih tertidur lelap. Bahkan suara hujan yang menetes dari ujung genting pun tidak mampu membangunkannya.

Gerda duduk sendirian di bangku kayu. Kedua tangannya saling menggenggam erat. Tatapannya kosong ke arah halaman yang masih basah. Biasanya jam segini ia sudah berangkat ke bengkel. Hari ini seragam kerjanya masih tergantung di jemuran.

“Gerda.”

Ia tidak menjawab. Aku duduk di sampingnya.

“Kenapa tidak berangkat kerja?”

Tetap diam.

Ada yang berbeda. Bukan hanya wajahnya yang pucat, tetapi juga cara ia menarik napas, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar.

“Cerita sama kakak. Jangan dipendam sendiri!”

Perlahan ia menoleh. Matanya memerah. “Kak... apa Kakak masih percaya sama aku?”

“Tentu saja.” Aku menggenggam kedua tangannya. “Kakak selalu percaya pada adik-adik kakak. Ceritakan semuanya.”

Gerda menarik napas panjang, seolah setiap kata terasa berat keluar dari mulutnya. “Aku dituduh mencuri uang kas bengkel.” Suaranya bergetar. “Aku memang masuk ke ruangan itu karena bos menyuruhku mengambil berkas. Setelah selesai, aku langsung mengunci pintunya lagi. Aku tidak mengambil uang sepeser pun, Kak.”

Ia menundukkan kepala. “Tapi mereka tidak percaya.”

Dadaku seperti diremas. Selama ini Gerda selalu berangkat paling pagi dan pulang paling malam. Anak itu bahkan lebih sering menghabiskan waktunya di bengkel daripada di rumah. Rasanya mustahil ia melakukan hal serendah itu.

“Apa mereka punya bukti?” tanyaku pelan.

Gerda menggeleng. ”Hanya karena setelah aku keluar, uang itu hilang. Tidak ada orang lain yang masuk.”

Ruangan mendadak terasa sesak.

“Aku dipecat.” Suara Gerda hampir tak terdengar. “Sekarang aku tidak bisa membantu kakak lagi.”

Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Maaf...”

Melihat pundaknya bergetar, aku tak mampu lagi menahan diri. Aku memeluknya erat. “Kakak tidak pernah menganggapmu beban.”

Tangis Gerda pecah. “Aku benar-benar tidak mencuri.”

“Kakak tahu.”

“Tapi semua orang menganggap aku pencuri.”

Aku mengusap punggungnya perlahan. “Kalau seluruh dunia meragukanmu, biarkan kakak menjadi orang pertama yang tetap berdiri di sampingmu. Kebenaran memang tidak selalu datang secepat tuduhan, tetapi ia tidak pernah tersesat menemukan jalannya.”

Gerda mengangkat wajahnya. Matanya masih basah.

“Kamu jangan menyerah. Besok kita cari pekerjaan lagi bersama. Selama kamu tidak melakukan kesalahan itu, tidak ada alasan untuk menundukkan kepala.”

Ia mengangguk pelan. “Terima kasih, Kak.”

Aku tersenyum, meski air mata hampir jatuh. Di rumah ini, aku bukan hanya harus menjadi kakak. Aku juga harus menjadi tempat pulang ketika dunia memutuskan untuk tidak lagi mempercayai mereka.

Ada kalanya hidup merenggut semuanya dalam waktu yang bersamaan. Pekerjaan hilang, harapan memudar, dan kepercayaan orang lain lenyap begitu saja. Namun aku tidak boleh ikut runtuh. Jika aku menyerah, kepada siapa adik-adikku akan bersandar?

Aku mengangkat wajah menatap langit yang masih mendung. “Ya Allah, jangan biarkan kesedihan membuatku lupa bahwa Engkau selalu menyediakan jalan bagi orang yang tidak berhenti berjuang.”

***

Sudah seminggu aku tidak pernah tidur pulas. Pikiran tentang masa depan kami terus berputar di kepala. Kini aku dan Gerda sama-sama kehilangan pekerjaan. Untungnya, Aldi dan Merisa bergantian menghibur Gerda hingga tawa kembali terdengar di rumah kecil ini.

“Kak Resya, ada tamu.” Suara Merisa terdengar dari luar kamar.

Hari Minggu membuat rumah terasa lebih lengang. Merisa sibuk menonton televisi bersama Nafira yang tak henti berceloteh. Sementara Aldi dan Gerda pergi berolahraga sejak pagi.

Aku berjalan menuju ruang tamu. Langkahku terhenti.

Seorang lelaki duduk santai di sofa seolah rumah ini masih menjadi tempat yang berhak ia datangi kapan saja.

“Pagi, Resya.” Senyumnya mengembang. Senyum yang justru membangkitkan luka lama.

Aku memilih tetap berdiri.

“Apa kabar?” tanyanya. “Om sudah lama tidak berkunjung. Rindu juga sama kalian.”

Aku tersenyum tipis. Senyum yang bahkan terasa lebih pahit daripada diam. “Rindu?”

Satu kata itu keluar tanpa mampu kusembunyikan nada sinisnya.

“Apa aku salah kalau datang?”

“Yang aneh bukan Om datang.”

Aku menatapnya untuk pertama kalinya. “Yang aneh, Om baru ingat jalan pulang setelah bertahun-tahun menghilang.”

Ia terdiam.

“Dulu Om memilih meninggalkan rumah ini. Bahkan saat Ibu sakit, Om tidak pernah datang. Saat beliau meninggal... Om juga tidak ada.” Tanganku mengepal tanpa sadar.

“Jadi sekarang... untuk apa Om kembali?”

Lelaki itu menarik napas panjang. “Resya...”

“Tolong jawab.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Percuma kalau kita bertengkar sekarang.” Suaranya tetap tenang. “Ada sesuatu yang ingin Om sampaikan. Tapi tunggulah Gerda dan Aldi pulang. Kalian semua harus mendengarnya.”

Ia melirik ke arah ruang keluarga. “Tenangkan dirimu. Merisa dan Nafira tidak pantas melihat kakaknya seperti ini.”

Aku menggigit bibir, berusaha menelan amarah yang nyaris meluap. Di balik pintu, Merisa berdiri memandangi kami dengan wajah cemas. Sementara Nafira hanya menatap bergantian ke arahku dan Om dengan sorot mata polos. Ia belum cukup besar untuk memahami mengapa seseorang yang baru datang bisa membuat rumah mendadak dipenuhi ketegangan.

Bagaimana mungkin aku tidak marah? Saat Ibu berjuang melawan penyakitnya, Om tidak pernah datang. Saat Ibu mengembuskan napas terakhir, Om tidak ada di sisinya. Bahkan ketika tanah mulai menutupi makamnya, batang hidung Om pun tak pernah terlihat.

Setelah kepergian Ibu, kami belajar bertahan sendiri. Menahan lapar, membagi beban, saling menguatkan. Tidak sekali pun Om menanyakan kabar kami.

Lalu sekarang... Ia datang begitu saja. Seolah tidak pernah meninggalkan rumah ini.

Jika tujuan kedatangannya hanya untuk tinggal bersama kami, jawabanku sudah bulat. Aku tidak akan menerimanya.

Sedikit pun aku tidak memiliki rasa iba untuk membiarkannya tinggal di rumah yang dulu ia tinggalkan tanpa menoleh ke belakang.

 ***

Malam ini seolah menjawab kegelisahanku. Seandainya sejak awal aku tahu Om Wira akan datang, mungkin pintu rumah sudah kukunci rapat. Namun, jika ia datang dengan niat baik, tentu aku akan menerimanya dengan senang hati.

Aku, Gerda, Aldi, dan Om Wira duduk di ruang tamu. Merisa dan Nafira bermain di kamar, sengaja tidak kuizinkan ikut mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Aku sudah lelah berdebat. Dari perkataannya siang tadi, jelas bahwa ia menyadari kedatangannya tidak kusambut dengan baik.

“Apa yang Om lakukan keterlaluan. Kenapa Om tidak meminta izin dulu kepada Kak Resya?” Aldi terpancing emosi.

Om Wira menghela napas panjang sebelum menjawab. “Resya memang sudah berbaik hati merawat kalian selama ini. Tapi rumah ini bukan hanya miliknya. Om juga masih memiliki hak atas rumah ini.”

Kalimat itu membuat kami saling berpandangan. Dadaku seketika terasa sesak.

“Jadi sekarang Om baru ingat rumah ini?” Gerda bangkit dari duduknya. Tatapannya penuh amarah. “Waktu Ibu sakit, Om di mana? Saat Ibu meninggal, Om juga tidak datang. Bertahun-tahun kami bertahan sendiri, sekarang Om datang hanya untuk menyakiti kami?”

Om Wira terdiam.

“Judi itu sudah menghancurkan hidup Om. Sekarang Om mau menghancurkan hidup kami juga? Karena kecerobohan Om, rumah ini dijadikan jaminan. Lalu Om berharap kami tinggal diam?” Suara Gerda bergetar menahan emosi.

Gerda melangkah maju. Tangannya mengepal kuat, bersiap melayangkan tinju. Namun sebelum pukulannya mengenai wajah Om Wira, Aldi buru-buru menahan lengannya.

“Sudah, Gerda!” seru Aldi.

“Aku tidak pernah berharap malam ini melihat Om.” Aku berdiri di depan kedua adikku. “Apa pun masalah Om, jangan libatkan mereka.”

Om Wira menundukkan kepala. “Om memahami kemarahan kalian. Om tahu penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Tapi Om benar-benar ingin memperbaiki semuanya.”

Aku menggeleng pelan. “Memperbaiki?” tanyaku lirih. “Apa ini yang Om sebut memperbaiki? Kami sedang berusaha bertahan sedikit demi sedikit, tetapi Om justru datang membawa beban baru.”

Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Bagaimana mungkin Om tega menggadaikan rumah yang selama ini menjadi satu-satunya tempat kami berteduh?

Om Wira menarik napas panjang sebelum kembali berbicara. “Om sudah berusaha menebus sertifikat rumah itu. Tapi uang Om tidak cukup untuk melunasi semuanya. Om sudah tidak punya jalan lain, Resya. Kalau suatu saat kalian mampu... ambillah kembali rumah ini.”

Dadaku terasa sesak mendengar pengakuannya. “Aku dan Gerda sudah kehilangan pekerjaan. Aku tidak akan membebani Aldi, Merisa, dan Nafira dengan kesalahan yang bukan mereka perbuat.” Suaraku mulai bergetar. “Kami sudah memiliki masalah hidup masing-masing. Mungkin memang beginilah takdir kami... meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat kami pulang.”

Baru hari ini Om mengetahui bahwa aku pun sudah tidak bekerja. Wajah Om Wira berubah pucat. Tatapannya jatuh ke lantai.

“Maafkan Om... Om benar-benar minta maaf karena telah melukai hati kalian.”

Ruangan kembali sunyi.

Gerda menundukkan kepala. Aldi memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan air matanya. Bahkan mata Om Wira tampak berkaca-kaca.

Ternyata hidup memang tidak selalu memberi kebahagiaan. Ada kalanya ia merenggut satu per satu tempat yang selama ini kita sebut rumah.

***

Rumah Ibu bukanlah milik kami. Kami hanya anak-anak angkat dari seorang perempuan berhati mulia yang telah tiada. Kami tidak memiliki hak untuk mempertahankannya.

Dengan berat hati, kami meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh, tempat kami belajar saling menguatkan, dan tempat terakhir kami merasakan kasih sayang seorang ibu.

Kebahagiaan yang kami bangun dengan susah payah seolah runtuh dalam sekejap. Namun, terus meratapi kehilangan tidak akan mengubah kenyataan. Kami memilih menerima takdir dengan ikhlas dan melangkah Kembali.

Berbekal rumah tua peninggalan orang tuaku yang selama ini dirawat Mbok Parmi, kami memulai kehidupan dari awal. Rumah itu tidak semegah rumah Ibu, tetapi setidaknya masih memberi kami tempat untuk pulang.

“Kakak, Kak Merisa di mana?” Nafira berlari-lari kecil menyusuri rumah.

“Mungkin di luar membantu Kak Gerda dan Kak Aldi membereskan gudang.” Aku masih sibuk menyiapkan sarapan di dapur.

“Fira mau ke gudang ya, Kak.”

“Boleh. Tapi lihat dari jauh saja, ya. Gudangnya masih berdebu. Biar Kak Gerda dan Kak Aldi yang mengangkat barang-barang berat. Fira bantu menyapu saja.”

Nafira mengangguk riang lalu berlari keluar. Dari balik jendela dapur, aku memperhatikan adik-adikku bekerja sama membereskan ruangan di depan rumah. Gerda mengangkat lemari tua, Aldi sibuk memperbaiki rak kayu yang hampir roboh, sementara Merisa dan Nafira menyapu lantai sambil saling bercanda. Sesekali tawa mereka memenuhi halaman, membuat rumah yang lama kosong itu kembali terasa hidup.

Sudah dua bulan kami tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuaku. Rumah Ibu kini telah menjadi milik orang lain. Anehnya, aku tidak lagi menyimpan keinginan untuk merebutnya kembali. Ada kenangan yang tidak bisa dibeli ataupun dimiliki. Aku percaya, Ibu akan memahami keputusan kami.

Rumah ini memang lebih sederhana, tetapi cukup untuk kami berlima. Tiga kamar tidur, dua kamar mandi, sebuah ruang tamu yang hangat, dapur kecil, serta halaman dengan gudang dan garasi tua. Bagiku, rumah bukan tentang seberapa besar bangunannya, melainkan tentang siapa yang mengisinya.

Gerda dan Aldi mempunyai rencana mengubah gudang menjadi warung kecil agar aku tidak perlu bekerja jauh dari rumah lagi. Mereka ingin aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Bermodalkan sisa tabunganku, kami mulai membeli rak, etalase, dan sedikit demi sedikit mengisi warung itu dengan barang dagangan.

Kini kami benar-benar memulai semuanya dari awal. Aku percaya, Tuhan tidak selalu mengabulkan doa dengan cara yang kita inginkan. Namun, Dia selalu menunjukkan jalan bagi mereka yang tidak berhenti berusaha.

Syukurlah, kabar baik mulai berdatangan. Aldi diterima bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Gerda pun dipanggil kembali ke bengkel setelah pelaku pencurian yang sebenarnya berhasil ditangkap. Bahkan, kini mereka berdua bisa melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan biaya hasil jerih payah mereka sendiri.

Melihat mereka tersenyum, aku merasa seluruh lelahku selama ini tidak sia-sia. Keceriaan kembali memenuhi rumah. Tawa yang sempat hilang kini terdengar setiap hari. Tidak ada lagi kebencian yang tersisa, hanya keluarga yang belajar saling memaafkan.

Om Wira benar-benar menepati janjinya. Sejak meninggalkan kebiasaan berjudi dan mabuk-mabukan, beliau memilih merantau untuk bekerja. Berkat kepandaian dan kerja kerasnya, ia dipercaya menjadi salah satu karyawan andalan di tempat kerjanya.

Setiap bulan, sebagian gajinya selalu dikirimkan untuk membantu kebutuhan kami. Bukan karena kami memintanya, melainkan karena beliau ingin menebus kesalahan yang pernah dilakukan.

“Sisihkan rezeki untuk bersedekah dan jangan lupa menabung,” begitu pesan yang selalu beliau ulang setiap kali menghubungi kami.

Saat libur panjang tiba, Om Wira tidak pernah lupa pulang. Beliau membantu memperbaiki rumah, bermain bersama Nafira, dan menemani kami makan malam. Sedikit demi sedikit, luka yang pernah ada mulai sembuh.

Meskipun Ibu telah tiada, kehadiran Om Wira mengingatkan kami pada kasih sayang yang pernah beliau berikan. Untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku belajar bahwa seseorang bisa berubah jika benar-benar ingin memperbaiki dirinya.

Memaafkan ternyata tidak menghapus masa lalu. Namun, memaafkan memberi kesempatan bagi masa depan untuk tumbuh lebih baik.

Jangan biarkan dendam menutup ruang bagi kasih sayang. Jangan biarkan luka masa lalu menghentikan langkah kita. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, tetapi setiap manusia juga berhak memperbaikinya. Terkadang, kesempatan kedua adalah jalan yang Tuhan berikan agar seseorang kembali menemukan dirinya.

 

Terimakasih

Ini ceritaku... Dilarang copypaste!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar