Matahari
bersembunyi di balik awan. Langit diselimuti warna hitam pekat, pertanda hujan
belum akan berhenti.
Tetes-tetes air menggantung di ujung daun
sebelum akhirnya jatuh menyapa orang-orang yang berlalu-lalang. Udara dingin
merayap hingga ke tulang. Gemuruh petir bersahut-sahutan dengan bising klakson
kendaraan yang terjebak kemacetan.
Genangan
air memenuhi jalan hingga setinggi lutut orang dewasa. Meski begitu, tak
seorang pun berhenti. Mereka tetap menerobos hujan dan banjir demi mencari
nafkah.
Barangkali
beginilah kehidupan. Ketika perut harus tetap diisi dan keluarga menunggu di
rumah, hujan bukan lagi alasan untuk menyerah. Setiap orang memikul bebannya
sendiri, lalu berusaha melangkah sejauh yang mereka mampu.
***
Tak seorang
pun dapat menduga kapan hujan akan datang. Kadang ia turun ketika tidak
diharapkan, kadang justru tak kunjung hadir saat begitu dinantikan.
Dulu,
setiap kali hujan menyapa, hatiku selalu diliputi duka. Terlalu banyak kenangan
yang lahir bersamanya hingga setiap rintiknya terasa menyakitkan.
Hujan
menjadi lambang kesenduan, menemani perjalanan hidup yang penuh luka. Namun,
karena terlalu sering berjalan bersamanya, aku akhirnya belajar terbiasa.
Hujan
tidak pernah menjadi milikku. Tuhanlah pemiliknya. Maka, tak ada alasan
menyesali setiap kedatangannya, sebab di balik setiap tetesnya selalu tersimpan
nikmat yang belum tentu mampu kita pahami.
***
Aku tumbuh dalam limpahan kasih sayang. Tak pernah sekali pun terlintas
bahwa suatu hari aku harus menjalani hidup sendirian.
“Ra, nanti kalau sudah sampai rumah Ayah mau buatkan kolam ikan yang
kamu minta.”
“Janji ya?”
Ayah tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya dari kemudi. “Janji.”
Ibu terkekeh pelan. “Jangan terlalu dimanja. Nanti semua halaman rumah
penuh kolam.”
“Tidak apa-apa,” sahut Ayah. “Putri Ayah cuma satu.”
Aku memeluk lengan Ibu sambil tersenyum puas. Di luar jendela, pepohonan
berlarian mengikuti laju mobil. Langit yang semula cerah perlahan tertutup awan
kelabu.
Rintik hujan mulai membasahi kaca depan.
“Ayah, hujannya deras.”
“Iya. Pegang sabuk pengaman yang benar.”
Suara wiper bergerak semakin cepat.
Tiba-tiba...
Sreeettt!
Suara rem memekakkan telinga. Mobil oleng ke kanan. Ibu spontan memeluk
tubuhku. “Ra!”
Brak!
Tubuhku terhempas. Kaca mobil pecah. Dunia berputar sebelum semuanya
berubah gelap.
Bau obat memenuhi penciumanku. Kelopak mataku terasa berat ketika
perlahan terbuka. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari tangan Ibu. Namun
yang menggenggam jemariku hanyalah tangan seorang perawat.
“Ibu...?”
Perawat itu menunduk. Aku menoleh ke kanan dan kiri.
“Ayah?”
Tak ada jawaban. Dadaku mulai sesak.
“Di mana Ayah dan Ibu?”
Seorang dokter mendekat. Tatapannya penuh iba.
“Kami sudah berusaha.”
Hanya empat kata. Namun empat kata itu menghancurkan seluruh
kehidupanku.
Hari itu aku menjerit, memohon agar Tuhan
mengembalikan mereka. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti bahwa
kehilangan dapat mengubah seluruh arah hidup seseorang.
Hari-hari setelah kecelakaan terasa begitu panjang. Aku tinggal di
sebuah panti asuhan bersama anak-anak lain yang mengalami nasib serupa. Mereka
bermain, belajar, dan tertawa. Sedangkan aku memilih mengurung diri di sudut
kamar.
Aku tidak mau berbicara.
Tidak mau makan.
Tidak peduli siapa yang mencoba menghibur.
Setiap malam, aku memeluk lutut di atas ranjang sambil menangis
diam-diam. Rasanya, jika terus memejamkan mata, mungkin besok Ayah dan Ibu akan
datang menjemputku. Namun pagi selalu membawa kenyataan yang sama.
Pada suatu sore, seorang perempuan paruh baya masuk ke kamarku sambil
membawa semangkuk bubur hangat. Aroma kaldu memenuhi ruangan.
Beliau duduk di sampingku. “Ayo makan sedikit.”
Aku menggeleng.
Beliau tersenyum tipis. “Kalau belum sanggup menghabiskan semangkuk,
tiga sendok saja.”
Aku tetap diam.
Beliau tidak memaksa. Bubur itu diletakkan di atas meja kecil sebelum
beliau berdiri dan keluar.
Esoknya, beliau datang lagi. Membawa semangkuk bubur yang masih mengepul.
Aku kembali menggeleng.
Beliau hanya berkata pelan, “Tidak apa-apa.”
Hari ketiga. Beliau kembali datang.
Hari keempat. Masih dengan senyum yang sama.
Aku akhirnya tidak sanggup lagi menyimpan pertanyaan yang sejak lama
mengganjal di dada.
“Kenapa Ibu terus datang?”
Beliau menatapku lembut. “Karena aku khawatir kamu kelaparan.”
“Bukankah masih banyak anak lain?”
“Iya.”
“Lalu kenapa Ibu baik sekali padaku?”
Beliau terdiam cukup lama sebelum mengembuskan napas perlahan. “Karena
dulu aku juga pernah kehilangan.”
Aku mengangkat wajah. Sorot matanya tidak sedang mengasihaniku. Justru
ada luka yang sama seperti yang kurasakan.
Beliau mengusap pelan rambutku. “Aku tahu rasanya berharap seseorang
pulang, padahal kita sudah tahu itu tidak akan pernah terjadi.”
Air mataku kembali jatuh. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu,
aku menangis di hadapan seseorang. Beliau tidak menyuruhku berhenti. Tidak
mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Beliau hanya memelukku erat hingga tangisku perlahan mereda. Pelukan itu
menghangatkan ruang kosong di dalam hatiku yang selama ini terasa dingin.
Sejak hari itu, aku tidak lagi merasa sendirian.
Rumah kecil itu tidak pernah dipenuhi makanan mewah. Kami berlima duduk
mengelilingi meja makan yang bahkan tidak cukup untuk seluruh penghuni rumah.
Hari itu lauk kami hanya seekor ayam goreng.
Ibu membaginya dengan sangat hati-hati.
Sayap untuk Aldi.
Dada untuk Gerda.
Potongan kecil untuk Merisa.
Paha untuk Nafira yang sejak tadi memandangi piring dengan mata
berbinar. Lalu beliau meletakkan sepotong kecil daging di piringku.
Aku tersenyum pelan. “Ibu, Tiara sudah kenyang.”
“Kamu belum makan.”
“Tadi Tiara sudah makan roti di sekolah.”
Aku berbohong. Padahal sejak pagi hanya segelas air putih yang masuk ke
perutku.
“Kalau begitu...” Aku mengambil potongan daging itu lalu memindahkannya
ke piring Nafira. “Nafira sedang masa pertumbuhan.”
Mata Nafira berbinar. “Benarkah buat Nafi?”
“Iya.”
Gadis kecil itu tersenyum lebar sebelum melahap paha ayam dengan penuh
semangat.
Aku ikut tersenyum. Melihat adikku makan dengan lahap sudah lebih dari
cukup untuk mengenyangkan hati. Dari seberang meja, Ibu hanya memperhatikan
tanpa berkata apa-apa.
Malamnya, ketika adik-adikku sudah tertidur, terdengar ketukan pelan di
pintu kamar.
Tok...
Tok...
Aku membukanya perlahan. Ibu berdiri di depan pintu sambil membawa
sebungkus roti hangat.
“Ini untukmu.”
Aku menggeleng. “Ibu, Tiara tidak lapar.”
Beliau tersenyum, lalu menyelipkan roti itu ke tanganku. “Kakak juga
masih masa pertumbuhan.”
Kalimat sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat. Aku memandang roti
di tanganku, lalu menatap wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang.
“Terima kasih, Bu.”
Beliau mengusap kepalaku pelan. “Tidak perlu berbohong kalau sedang
lapar.”
Air mataku kembali menggenang. Bukan karena lapar. Melainkan
karena untuk kedua kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang menyayangiku
seperti seorang ibu.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Rumah kecil
kami tetap dipenuhi tawa, meski hidup serba sederhana. Namun, tanpa kusadari,
kesehatan Ibu mulai menurun.
Beliau
lebih sering batuk. Awalnya hanya batuk kecil yang sesekali terdengar saat
memasak di dapur.
“Ahem... ahem...”
“Ibu
tidak apa-apa?” tanyaku sambil menghampiri.
Beliau
segera menggeleng sambil tersenyum. “Hanya masuk angin.”
Aku mengangguk, meski tidak benar-benar
percaya. Hari demi hari, batuk itu semakin sering terdengar. Namun Ibu tetap
bangun sebelum subuh untuk memasak.
Tetap menyiapkan bekal sekolah.
Tetap mencuci pakaian kami.
Tetap mengantar Nafira ke taman kanak-kanak
sambil menggandeng tangan mungilnya. Seolah tubuhnya tidak pernah mengenal
lelah.
Suatu pagi kulihat beliau harus berpegangan
pada kusen pintu setelah mengantar Nafira pulang.
Wajahnya
pucat.
Napasnya
terdengar berat.
Aku
berlari menghampiri. “Ibu, istirahat saja. Biar Tiara yang mengerjakan
semuanya.”
Beliau mengusap kepalaku pelan. “Kalau Ibu
berhenti bergerak, nanti kalian makan apa?”
“Tapi kesehatan Ibu lebih penting.”
Beliau
tersenyum seperti biasa. “Masih kuat.”
Jawaban itu sederhana. Namun sejak hari itu
aku mulai memahami bahwa seorang ibu sering kali menyembunyikan rasa sakitnya
agar anak-anaknya tidak ikut khawatir.
Malam harinya, saat semua orang tertidur,
aku mendengar suara batuk dari dapur. Aku mengintip dari balik pintu. Ibu
sedang menahan batuk sambil menutup mulut dengan selembar kain. Ketika kain itu
beliau lipat, samar-samar kulihat bercak merah di sana.
Dadaku seketika sesak. “Ibu...”
Beliau terkejut mengetahui aku berdiri di
belakangnya. Dengan cepat kain itu disembunyikan di balik punggung. “Belum
tidur?”
Aku memeluk beliau tanpa berkata apa-apa. Entah
mengapa, malam itu hatiku dipenuhi ketakutan yang belum pernah kurasakan
sebelumnya.
Beberapa hari kemudian, hujan turun tanpa
henti. Listrik padam sejak sore. Rumah kecil kami hanya diterangi cahaya lampu
minyak yang bergoyang pelan tertiup angin. Bayangan kami menempel di dinding,
bergerak mengikuti nyala api yang tak pernah benar-benar tenang.
Aldi, Gerda, Merisa, dan Nafira sudah
terlelap. Aku masih duduk di ruang tengah sambil menjahit kancing seragam
sekolah Merisa yang lepas.
“Ra.” Suara Ibu terdengar lirih dari kamar.
Aku segera
menghampiri. “Iya, Bu?”
Beliau menepuk sisi ranjang, memintaku
duduk di sampingnya. Tangannya terasa lebih dingin dari biasanya ketika
menggenggam jemariku. Aku menggenggamnya lebih erat.
“Ibu ingin bicara sebentar.”
Aku
mengangguk pelan.
Beliau memandang wajahku cukup lama, seolah
sedang menghafalnya. “Kalau suatu hari nanti Ibu tidak ada...”
“Bu...” Aku langsung memotong ucapannya. “Jangan
bicara seperti itu.”
Beliau
tersenyum lembut. “Setiap yang datang pasti akan pulang.”
Aku menundukkan kepala. Dadaku terasa
sesak. Aku tidak ingin mendengar kalimat itu lagi.
Beliau mengusap punggung tanganku perlahan.
“Tiara, dengarkan Ibu baik-baik.”
Aku mengangguk sambil menahan air mata.
“Kamu
adalah anak yang kuat.”
“Tidak,
Bu. Tiara tidak sekuat itu.”
“Kekuatan
bukan berarti tidak pernah menangis.”
Beliau berhenti sejenak untuk mengatur
napas. “Kekuatan adalah tetap memilih berdiri setelah menangis.”
Air mataku jatuh satu per satu.
Beliau
melanjutkan dengan suara yang semakin pelan. “Hiduplah dengan keberanian. Jangan
pernah membalas keburukan dengan keburukan. Kalau suatu hari dunia memaksamu
menjadi jahat...”
Beliau menggenggam tanganku lebih erat. “...katakan
tidak.”
Ruangan kembali sunyi. Yang terdengar hanya suara hujan di luar rumah
dan isak tangisku yang berusaha kutahan.
Aku tidak pernah menyangka, malam itu menjadi malam terakhir aku
mendengar nasihat seorang ibu.
Subuh datang tanpa suara beliau membangunkan kami. Rumah dipenuhi
orang-orang yang datang silih berganti. Tangisan terdengar dari berbagai sudut.
Aku hanya duduk diam. Rasanya semua yang terjadi begitu cepat hingga
pikiranku belum sempat menerima kenyataan.
Hari itu, untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku kehilangan sosok yang
kupanggil Ibu.
Beberapa hari setelah pemakaman, rumah kembali sunyi.
Tidak ada lagi aroma masakan yang memenuhi dapur setiap pagi.
Tidak ada suara langkah kaki yang mondar-mandir membangunkan kami.
Tidak ada lagi seseorang yang bertanya apakah kami sudah makan.
Di meja makan, lima piring sudah tertata seperti biasa. Bedanya, kursi
di ujung meja tetap kosong. Tidak akan ada lagi yang duduk di sana.
Nafira menoleh kepadaku. “Kak...”
“Iya?”
“Ibu kapan pulang?”
Tanganku yang sedang memegang sendok langsung terdiam. Aku membuka
mulut. Namun tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Nafira kembali
menatap kursi kosong itu.
“Aku kangen Ibu.”
Aku memeluknya erat. “Ibu sekarang sudah bersama Allah.”
“Kalau begitu... Allah boleh pinjam Ibu sebentar saja? Nafira mau
dipeluk.”
Dadaku terasa diremas. Aku menggeleng pelan sambil menghapus air mata
yang jatuh tanpa izin.
“Tapi Ibu akan selalu sayang sama kita.” Nafira menangis di pelukanku.
Saat itu aku sadar, bukan hanya aku yang kehilangan. Masih ada empat
hati kecil yang menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali.
Malam harinya, ketika semua adikku telah tertidur, aku berjalan perlahan
menuju dapur.
Ruangan itu masih sama.
Panci masih tersusun rapi.
Cangkir kesayangan Ibu masih berada di rak.
Di sudut dinding, celemek bermotif bunga yang biasa beliau kenakan masih
tergantung. Aku mendekatinya. Tanganku gemetar saat melepaskan celemek itu dari
gantungannya.
Kainnya masih menyisakan samar aroma sabun dan masakan yang begitu
akrab. Tanpa sadar, aku memeluknya erat. Air mataku pecah.
“Bu...” Suaraku nyaris tak terdengar. “Aku kangen...”
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan
karena aku tidak ikhlas.
Melainkan karena aku sadar, mulai hari ini tidak akan ada lagi seseorang
yang menungguku pulang, menyuruhku makan, atau mengusap kepalaku ketika aku
lelah.
Aku benar-benar menjadi seorang kakak bagi empat adikku. Dan sejak malam
itu, aku berjanji pada diriku sendiri.
Aku akan menjaga mereka. Sebagaimana Ibu pernah menjaga
kami.
***
“Seandainya dulu aku tidak belajar bertahan
hidup, mungkin aku sudah menyerah sejak lama. Namun Engkau mengajarkanku bahwa
setiap ujian selalu membawa hikmah. Berkat ridha-Mu, aku percaya semua yang
terjadi adalah bentuk kasih sayang-Mu. Maka berilah aku kesabaran untuk
menjalaninya.”
Aku
mengembuskan napas panjang.
Langit
masih dipenuhi awan kelabu. Hujan turun tanpa terburu-buru, membasahi jalanan
dan membuat kendaraan bergerak pelan.
Aku
duduk di bangku halte, memeluk tas di pangkuan sambil menunggu bus yang tak
kunjung datang. Mungkin terjebak banjir seperti kendaraan lain.
Beberapa
orang di sekitarku sibuk mengobrol.
Ada
yang mengeluh karena terlambat bekerja.
Ada
yang tertawa sambil bermain ponsel.
Ada
pula yang sesekali mengumpat karena hujan tak kunjung reda.
Aku
hanya memandang rintik air yang jatuh dari atap halte.
Hujan
selalu mengingatkanku pada kehilangan. Namun kali ini, aku tidak ingin larut di
dalamnya.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia
sekitar sepuluh tahun menghampiriku. Seragam sekolahnya sudah lusuh. Celana
yang dikenakannya basah hingga lutut. Di pundaknya tergantung keranjang kecil
yang ditutupi plastik bening.
“Mau
beli gorengannya, Kak?” Suaranya terdengar pelan, tetapi senyumnya begitu
tulus.
Aku melihat isi keranjang itu. Beberapa
bakwan. Tempe goreng. Pisang goreng. Sebagian sudah mulai dingin.
“Boleh,
Kakak beli beberapa.”
“Wah...
makasih, Kak.” Ia segera memasukkan gorengan ke dalam kantong plastik dengan
gerakan cekatan.
Saat menerima uang lima puluh ribu dariku,
tangannya mendadak berhenti.
“Maaf,
Kak...” Ia menunduk. “Uangnya terlalu besar. Aku tidak punya uang kembali.”
Aku tersenyum kecil.
“Kalau begitu, ambil saja kembaliannya.”
Anak itu menggeleng cepat. “Tidak boleh.”
“Kenapa?”
“Ibu bilang, jangan mengambil yang bukan
hak kita.”
Aku terdiam. Kalimat sederhana itu
membuatku teringat pada seseorang.
“Kalau dunia memaksamu menjadi jahat...
katakan tidak.” Suara Ibu
kembali menggema di kepalaku.
Aku menatap anak itu cukup lama. “Ayah dan
Ibumu pasti bangga punya anak sejujur kamu.”
Senyumnya perlahan memudar. “Ayah sudah
meninggal, Kak.”
Dadaku seketika terasa sesak. Aku seperti
sedang melihat diriku sendiri beberapa tahun yang lalu.
“Kalau Ibu?”
“Buruh cuci, Kak.”
Aku menggenggam kantong gorengan itu erat. Entah
mengapa, rasanya Tuhan kembali mengingatkanku pada alasan mengapa aku harus
tetap bertahan.
“Maaf, Kak.
Ada uang pas. Kebetulan hari ini belum ada pembeli.”
Aku
tersenyum sambil menggeleng. “Simpan saja! Maukah temani Kakak mengobrol
sebentar? Anggap kembaliannya sebagai upah menemani.”
Senyumnya kembali mengembang. “Baik, Kak.”
Beni duduk di sampingku. Kami sama-sama
memandangi hujan yang belum juga reda.
“Namamu
siapa?”
“Beni.”
“Kelas
berapa?”
“Kelas
lima SD.”
“Kamu
setiap hari jualan sepulang sekolah?”
“Iya.”
“Capek?”
Beni menggeleng pelan. “Sedikit.”
“Kenapa memilih jualan?”
Anak itu
menatap keranjang di pangkuannya sebelum menjawab. “Kalau tidak jualan, Ibu
sendirian yang bekerja.” Senyumnya memudar.
Aku terdiam. “Maaf...”
“Tidak apa-apa, Kak. Aku bantu Ibu supaya
bisa terus sekolah. Ibu selalu bilang, pekerjaan apa pun tidak perlu malu, asal
halal.”
Aku tersenyum tipis. “Ucapan Ibumu benar.”
Ibu juga bilang, “lebih baik capek jualan
daripada meminta-minta.”
Aku
mengangguk pelan.
Ada
sesuatu dalam diri Beni yang mengingatkanku pada masa lalu. Bukan karena nasib
kami sama. Melainkan karena kami sama-sama pernah kehilangan seseorang yang
paling kami cintai.
Perbedaannya, aku pernah memiliki seorang
ibu asuh yang mengajariku bertahan. Sedangkan Beni masih bertahan bersama
ibunya.
Tak
lama kemudian, hujan mulai mereda. Beni berdiri sambil mengangkat kembali
keranjang di pundaknya.
“Terima kasih sudah membeli dagangan Beni,
Kak.”
“Semoga
jualanmu habis hari ini.”
“Aamiin.”
Anak
itu melangkah pergi dengan semangat, menawarkan dagangannya kepada orang-orang
yang baru turun dari bus. Aku memandang punggungnya hingga menghilang di antara
keramaian.
Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah, jagalah anak itu. Mudahkan
langkahnya, kuatkan ibunya, dan lapangkan rezeki mereka.”
Aku percaya, anak yang terbiasa berjuang
sejak kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Bisakah aku setegar Beni?
Anak berusia sebelas tahun itu mampu
tersenyum di tengah kerasnya kehidupan. Lalu kenapa aku yang sudah dewasa
justru sering mengeluh?
Aku
menatap hujan yang masih turun. Di luar sana, masih banyak orang yang hidup
jauh lebih sulit dariku. Mereka tetap berusaha, tetap tersenyum, dan tetap
bersyukur meski keadaan tidak berpihak. Lalu, kenapa aku begitu takut
menghadapi kenyataan?
Aku
menarik napas panjang.
Bukan
kehilangan pekerjaan yang paling kutakutkan. Melainkan pulang ke rumah dan
menatap wajah adik-adikku. Mereka selalu menyambutku dengan senyum. Selalu
membanggakan kakaknya.
Padahal
aku tahu, kali ini aku harus membawa kabar yang akan mematahkan harapan mereka.
Aku
bekerja sebagai office girl di sebuah perusahaan. Saat pertama
kali membawa surat penerimaan kerja ke rumah, Aldi dan Gerda melompat
kegirangan.
“Kak Tiara kerja di gedung tinggi!”
“Nanti
Kakak pasti punya ruang kerja sendiri.”
Merisa
bahkan bercerita kepada teman-temannya bahwa kakaknya bekerja di sebuah kantor
besar.
Aku
hanya tersenyum. Aku tidak pernah menjelaskan bahwa tugasku bukan duduk di
balik meja dengan komputer dan setumpuk berkas.
Aku
membersihkan ruangan.
Menyeduh kopi.
Mengantarkan dokumen.
Menjaga kebersihan kantor.
Pekerjaan
yang sangat ku syukuri karena mampu menghidupi kami. Namun hari ini, pekerjaan
itu juga harus kulepaskan. Aku sudah mencoba melamar ke beberapa perusahaan.
Satu demi satu lamaran kukirim.
Satu demi satu pula penolakan kuterima.
Aku
menundukkan kepala. “Maafkan aku, Bu.”
Aku memang tidak pernah malu dengan
pekerjaanku. Yang membuatku sedih adalah kenyataan bahwa aku belum mampu
menjadi kakak yang mereka banggakan.
Suara rem bus memekik mematahkan lamunanku.
Bus yang kutunggu akhirnya muncul dari balik hujan. Orang-orang segera berdiri
dan berebut naik.
Aku menggenggam tas lebih erat, lalu ikut
berlari menerobos hujan. Entah bagaimana caranya. Malam ini aku harus pulang
dan mengatakan yang sebenarnya.
***
Gerimis
membungkus keheningan malam. Rintiknya mengetuk kaca jendela tanpa henti. Angin
dingin menyelinap melalui celah kusen, membawa aroma tanah basah yang begitu
akrab.
Mataku menyaksikan suasana di
balik jendela kamar. Sorot
lampu teras jatuh tepat pada sebuah sarang burung di atas pohon mangga. Seekor
induk burung baru saja kembali membawa makanan. Ia menyuapi anak-anaknya satu
per satu, lalu merentangkan sayap, melindungi mereka dari hujan yang masih
turun.
Seketika dadaku terasa sesak. “Ibu...”
Andai Ibu masih ada. Mungkin aku tidak
perlu memikul semua ini sendirian. Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Belum
sempat menarik napas panjang, terdengar ketukan pelan di pintu.
Tok...
Tok...
“Kak Resya... boleh aku masuk?”
“Masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”
Pintu terbuka perlahan. Aldi melangkah
masuk sambil menggenggam selembar amplop putih. Ia berdiri cukup lama di dekat
pintu, seolah masih mempertimbangkan apakah ia harus mendekat atau kembali
keluar.
“Ada apa?”
“Apa aku mengganggu?”
Aku menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak.
Duduklah.”
Aldi duduk di kursi belajar. Kedua
tangannya tidak berhenti meremas amplop yang dibawanya. Aku baru sadar, adikku
sedang gugup.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?”
“Iya...”
Jawabannya menggantung. Tatapannya sesekali
beralih ke lantai, lalu kembali menatapku. Aku menunggu tanpa menyela. Beberapa
detik kemudian ia menyerahkan amplop itu kepadaku.
“Ini hasil pengumuman.”
Aku membukanya perlahan. Mataku berhenti
pada tulisan yang membuatku ikut tersenyum.
SELAMAT. ANDA DINYATAKAN LULUS.
“Aldi...”
“Kalau Kakak mengizinkan...” Suaranya
semakin pelan. “...aku ingin kuliah.”
Aku mengangkat wajah.
Tatapan Aldi dipenuhi harapan. “Tapi...”
Ia menarik napas dalam. “Di awal masuk, aku
mohon bantuan Kakak untuk biaya pendaftaran. Aku tidak akan terus bergantung. Aku
akan mencari pekerjaan sambil kuliah. Kalau memang keadaan kita tidak
memungkinkan...”
Ia tersenyum kecil, meski jelas dipaksakan.
“...aku juga akan menerima keputusan Kakak.”
Dadaku seperti diremas. Aku tahu, Aldi
sudah memikirkan kalimat itu berkali-kali sebelum memberanikan diri
mengatakannya. Ia bukan meminta dengan memaksa. Ia hanya sedang mengejar mimpi.
Aku menggenggam surat kelulusannya erat. Tuhan...
Mengapa permintaan sesederhana ini terasa begitu sulit kupenuhi? Aku ingin
mengatakan, “Tentu, Kakak akan membiayaimu.” Namun bayangan
surat pemutusan kerja yang kusimpan di dalam tas seakan menahan setiap kata
yang hendak keluar.
Aku kehilangan pekerjaan. Tabunganku
semakin menipis. Sementara di depanku, ada seorang adik yang sedang
menggantungkan harapan kepada kakaknya. Aku menatap Aldi cukup lama. Lalu
tersenyum, meski hatiku sedang hancur.
Aku mengangguk pelan. “Baiklah.
Kakak izinkan.”
Wajah Aldi yang sejak tadi dipenuhi kecemasan perlahan berubah cerah. “Benarkah,
Kak?”
“Iya. Belajarlah yang rajin. Kesuksesan ada di tanganmu. Jangan
sia-siakan kesempatan ini.” Aku tersenyum, meski dadaku terasa sesak.
Mata Aldi berbinar. Senyum yang sejak tadi ia tahan akhirnya merekah. “Terima
kasih, Kak.”
Ia buru-buru membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah brosur kampus yang
mulai kusut di bagian ujungnya. “Aku sudah mengambil brosurnya.”
Ia menyerahkannya kepadaku dengan kedua tangan. “Kakak baca saja. Semoga
kampus ini tidak mengecewakan.”
Aku menerima brosur itu. Di halaman depan tertulis rincian biaya
pendaftaran. Mataku berhenti pada angka-angka yang terasa begitu besar. Jantungku
berdetak semakin cepat. Aku menutup brosur itu sebelum Aldi menyadari perubahan
wajahku.
“Kakak tidak mempermasalahkan kamu kuliah di mana.” Aku menatapnya
sambil tersenyum.
“Yang penting kamu belajar sungguh-sungguh dan menggapai cita-citamu. Itu
sudah cukup membuat Kakak bangga.”
Aldi mengangguk berkali-kali. “Terima kasih, Kak.”
Ia memelukku erat. Pelukan itu terasa hangat. Namun justru membuat air
mataku hampir jatuh. Untung saja ia tidak melihatnya.
Setelah berpamitan, Aldi keluar dari kamar dengan langkah ringan. Pintu
tertutup perlahan. Aku kembali membuka brosur itu. Mataku menelusuri setiap
rincian biaya.
Uang pangkal.
Biaya semester.
Biaya praktikum.
Semuanya jauh di luar kemampuanku saat ini. Air mata akhirnya jatuh
membasahi kertas di tanganku.
“Besok...” Aku menarik napas panjang. “...aku harus mendapatkan
pekerjaan.”
Belum sempat aku menghapus air mata, terdengar langkah kaki kecil
berlari ke arahku.
“Kak Resya!” Sebuah pelukan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangku
dari belakang.
Aku buru-buru mengusap pipi. “Iya, Sayang.”
Nafira mendongak dengan wajah cemberut. “Fira kangen.”
“Kakak sekarang sibuk terus. Kalau pulang langsung masuk kamar. Fira
jadi tidak ditemani main.”
Dadaku kembali terasa sesak. Anak sekecil ini saja sudah menyadari bahwa
aku mulai menjauh dari mereka. Aku berlutut hingga sejajar dengannya.
“Maafkan Kakak.”
“Kakak lagi banyak pikiran ya?”
Aku menggeleng mendengar pertanyaan polosnya.
“Kalau banyak pikiran, cerita saja sama Fira.”
Aku tersenyum di sela air mata. “Fira belum tentu mengerti.”
Nafira meraih kedua pipiku dengan telapak tangannya yang mungil. “Kalau
Kakak sedih, Fira peluk.”
Tanpa menunggu jawaban, ia memelukku erat. Pelukan kecil itu mampu
meruntuhkan seluruh pertahananku. Aku membalas pelukannya sambil menahan
tangis.
“Fira mau tidur sama Kakak.”
“Boleh?”
“Tentu boleh.”
Malam itu kami tidur di ranjang yang sama. Tak lama kemudian, Nafira
sudah terlelap sambil memeluk lenganku. Aku menatap wajahnya yang damai. Lalu
mengusap rambutnya perlahan.
Dalam hati aku berjanji, “Apa pun yang terjadi, kalian tidak boleh
kehilangan kesempatan untuk bermimpi. Biar Kakak yang mencari jalan.”
Aku memejamkan mata.
Besok pagi, sebelum matahari terbit, aku akan kembali mengetuk pintu
demi pintu perusahaan. Entah diterima atau ditolak. Aku tidak punya pilihan
selain terus mencoba.
***
Aku
beristirahat di bawah pohon, tepat di halaman kantor yang baru saja menolak
lamaranku. Ini kantor kelima yang kudatangi selama seminggu. Tidak ada lagi
selebaran lowongan yang tertempel di pintu masuk. Bahkan satpam tadi hanya
menggeleng pelan sebelum mengembalikan map lamaranku.
Aku menyandarkan punggung pada batang
pohon. Angin siang berembus pelan, tetapi tidak mampu mengusir sesak di dada.
“Mungkin memang belum rezeki,” gumamku
lirih.
Langkah kaki berhenti di depanku.
“Permisi.”
Aku mendongak. Seorang perempuan berdiri
sambil membawa dua botol air mineral. Tubuhnya tinggi semampai. Rambut hitamnya
disanggul rapi. Setelan kantor berwarna krem membuatnya terlihat anggun, tetapi
senyum yang mengembang di wajahnya menghapus kesan dingin itu.
Ia mengulurkan salah satu botol. “Untukmu.”
Aku sempat ragu. “Tidak usah, Bu. Saya
tidak apa-apa.”
“Kalau begitu anggap saja aku sedang
membeli teman bicara.”
Aku tidak bisa menahan senyum kecil.
Akhirnya kuterima botol itu. “Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Beberapa saat kami hanya duduk menikmati
suasana. Kendaraan lalu-lalang tanpa henti. Sesekali terdengar klakson panjang
dari jalan raya.
Perempuan itu membuka botol minumnya lebih
dulu. “Baru selesai wawancara?”
Aku mengangguk.
“Ditolak?”
“Iya.” Jawabanku singkat.
Ia tidak menunjukkan rasa iba. Justru
mengangguk pelan seolah memahami. “Aku juga pernah duduk di tempatmu.”
Aku menoleh. “Benarkah?”
Ia tertawa kecil. “Lima tahun lalu aku
membawa map lamaran ke mana-mana. Ditolak belasan kali. Pulang sambil menangis
rasanya sudah biasa.”
Entah kenapa aku mulai merasa nyaman. “Sekarang
Ibu bekerja di kantor ini?”
Ia mengangguk. “Iya.”
Aku memandangi gedung tinggi di hadapanku. “Indah
sekali.”
“Dari luar memang terlihat indah. Dari
dalam, tetap ada tekanan, target, dan lembur.”
Aku tertawa kecil untuk pertama kalinya
hari itu. Barulah setelah suasana mencair, percakapan masuk ke inti.
“Mencari pekerjaan di zaman sekarang memang
sulit,” katanya pelan. “Banyak orang menganggap keberuntungan adalah segalanya.
Padahal setiap orang membawa bekal yang berbeda. Pendidikan, pengalaman,
kesempatan, bahkan keadaan keluarga tidak pernah sama.”
“Maksud
Anda?” tanyaku bingung.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Kamu sudah
berapa kali melamar?”
“Lima perusahaan minggu ini.”
“Dan semuanya menolak?”
Aku mengangguk pelan.
Ia menatap map lusuh yang masih kupeluk
erat. “Sayang sekali.”
“Kenapa?”
“Karena aku melihat orang yang sebenarnya
punya kemauan bekerja.”
Kalimat itu membuatku sedikit lega. Sudah
lama tidak ada orang yang mengucapkan sesuatu yang menenangkan.
Ia melanjutkan, “Masalahnya, dunia kerja
tidak selalu memilih orang yang paling pintar.”
“Lalu memilih apa?”
“Orang yang tahu bagaimana memanfaatkan
kesempatan.”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
“Ada orang yang nilai kuliahnya biasa saja,
tetapi hidupnya jauh lebih berhasil dibanding lulusan terbaik. Ada juga yang
sangat pintar, tetapi bertahun-tahun tidak mendapat pekerjaan.”
Aku terdiam.
“Menurutmu kenapa bisa begitu?”
Aku menggeleng.
Perempuan itu tersenyum. “Karena kecerdasan
bukan hanya soal nilai. Ada orang yang berani mengambil peluang ketika orang
lain masih menunggu kesempatan.”
Aku mulai tertarik. “Jadi... menurut Anda
saya harus bagaimana?”
Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata
pelan, “Kebetulan aku sedang mencari seseorang.”
“Mencari?”
“Iya, aku ingin menawarkan pekerjaan
kepadamu.” Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari tasnya.
Saat mendengar kalimat itu, dadaku seperti
dipenuhi udara segar. Aku hampir saja memeluk perempuan itu. Untungnya segera
kutahan. Pakaianku sudah basah oleh keringat dan hujan. Aku hanya mampu
menggenggam kartu nama itu dengan kedua tangan.
“Benarkah?”
“Benar.”
Perkenalanku
dengan Anita berlanjut hingga hampir satu jam. Kami berbincang di bawah
rindangnya pohon depan kantor. Tidak hanya bertanya tentang diriku, Anita juga
bercerita tentang kehidupannya.
Dahulu keluarganya hidup serba kekurangan.
Keadaan memaksanya menikah di usia muda dengan lelaki yang tidak dicintainya.
Pernikahan itu tidak bertahan lama. Setelah berpisah, ia memilih bangkit,
bekerja dari bawah, hingga akhirnya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik.
“Aku tidak ingin orang lain menyerah
seperti dulu aku pernah menyerah,” katanya pelan.
Kata-katanya membuatku merasa kami memiliki
luka yang hampir sama.
“Kalau kamu bersedia, aku ingin mengajakmu
bergabung. Tidak perlu menjawab sekarang.”
“Pekerjaannya seperti apa?”
Anita tersenyum. “Nanti akan dijelaskan
langsung di tempat. Yang terpenting, kamu datang dulu.”
Entah mengapa aku mempercayainya. Mungkin
karena selama berbincang, ia tidak pernah memaksaku mengambil keputusan.
Setelah meminta izin kepada adik-adikku,
malam harinya aku memenuhi ajakan Anita. Mobil berwarna hitam telah terparkir
di tempat kami pertama kali bertemu.
“Ayo,” sapanya sambil membukakan pintu.
Aku mengangguk pelan.
Mobil melaju membelah hiruk-pikuk kota.
Cahaya lampu gedung memantul di kaca jendela, membentuk garis-garis panjang
yang terus bergerak.
Rasanya berbeda dengan perjalanan pulang
menggunakan bus. Biasanya aku terlalu lelah hingga tertidur sebelum kendaraan
meninggalkan terminal. Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
aku benar-benar menikmati pemandangan kota.
Di dalam
hati, tumbuh secercah harapan. Semoga
ini menjadi awal yang baik.
“Kamu akan nyaman bekerja denganku,” ujar
Anita sambil menatap lurus ke jalan. “Dulu aku sempat membenci pekerjaan ini.
Namun setelah menjalaninya, aku sadar penghasilannya mampu mengubah hidupku.
Sekarang justru kujadikan sebagai pekerjaan sampingan.”
Ada sesuatu dalam nada bicaranya. Kalimat
itu terdengar meyakinkan, tetapi sorot matanya menyimpan kesedihan yang tidak
mampu ia sembunyikan.
“Aku harap bisa bekerja dengan baik dan
tidak mengecewakanmu, Bu Anita.”
Anita tersenyum kecil. “Tidak usah
memanggilku 'Bu'. Umur kita tidak terpaut jauh. Panggil Anita saja.”
“Baik... Anita.”
Aku kembali melihat keluar jendela. “Apa
kantornya masih jauh?”
“Sebentar lagi.”
“Semua karyawan bekerja malam?”
“Tidak. Jam kerjanya berbeda-beda.” Jawabannya
selalu singkat.
Aku kembali memberanikan diri bertanya. “Kalau
boleh tahu... kenapa kamu masih mengambil pekerjaan ini? Bukankah pekerjaan
kantormu sudah cukup mapan?”
Anita tersenyum tipis. “Nanti kamu juga
akan tahu.”
Setelah itu ia menaikkan volume musik di
mobil. Aku menangkap isyarat bahwa pembicaraan kami sebaiknya berhenti sampai
di situ. Kalimat ini jauh lebih alami daripada: "Kamu terlalu banyak bertanya."
Mobil meninggalkan jalan utama dan memasuki
kawasan perumahan yang semakin lengang. Deretan rumah besar berdiri berjajar
dengan pagar tinggi. Lampu taman menyala redup di sepanjang jalan. Semakin jauh
kami masuk, semakin sedikit kendaraan yang terlihat.
Aku melirik layar ponsel. Sinyalnya tinggal
satu batang. Entah kenapa dadaku mulai terasa tidak nyaman. Lalu saat tiba mobil
berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang jauh lebih besar dibanding
rumah-rumah di sekitarnya.
Pagar besi terbuka perlahan. Seorang satpam
bertubuh kekar menghampiri. Lengannya dipenuhi otot yang menonjol dari balik
lengan kaus hitam. Wajahnya datar, tetapi ia mengangguk hormat kepada Anita.
“Selamat malam, Bu Anita.”
“Malam.”
Ia menoleh kepadaku sekilas sebelum membuka
pintu pagar lebih lebar. Ada perasaan aneh yang sulit kujelaskan.
“Turunlah, Resya. Kita sudah sampai.”
Aku
melangkah keluar sambil memandangi bangunan megah itu. “Ini... kantormu?”
Anita hanya tersenyum. “Masuk dulu.”
Aku mengikutinya meski perasaan tidak
nyaman mulai menguasai. Saat pintu terbuka, aroma parfum mahal bercampur
alkohol langsung menyambutku.
Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh
tahun duduk santai di sofa kulit. Jas mahal yang dikenakannya tidak mampu
menyembunyikan tatapan matanya yang menjelajah tubuhku dari ujung kepala hingga
kaki.
Di atas meja tersusun beberapa botol
minuman beralkohol. Dadaku mendadak sesak.
“Pak, ini Resya,” kata Anita ramah.
Lelaki itu tersenyum. “Cantik.”
Aku memaksa membalas senyum sekadarnya. Tanpa
bertanya apa pun, Anita justru mundur beberapa langkah.
“Kalian mengobrol saja dulu.” Ia berjalan
meninggalkan ruang tamu.
Aku semakin gelisah. Beberapa detik
kemudian aku menyusul Anita keluar. “Anita.”
Ia menoleh. “Ada apa?”
“Kamu bilang akan mengenalkanku pada
pekerjaan. Tapi kenapa aku malah dikenalkan pada pria itu?”
Anita menghela napas seolah pertanyaanku
terlalu polos. “Resya...”
Ia menatapku lama. “Kamu cantik. Banyak
perempuan ingin memiliki wajah sepertimu.”
Aku mulai tidak menyukai arah pembicaraan. “Apa
hubungannya dengan pekerjaan?”
Anita tersenyum tipis. “Kamu hanya perlu
menemaninya malam ini.”
Jantungku berdegup keras. “Maksudmu...?”
“Dia orang penting. Kalau dia senang, kamu
bisa mendapatkan uang belasan juta hanya dalam satu malam.”
Dunia seakan berhenti berputar. Tanpa
berpikir panjang...
Plak!
Tamparanku mendarat keras di pipi Anita. Suara
itu menggema di teras rumah.
Anita memegangi pipinya sambil menatapku
tidak percaya. “Kamu gila!”
“Kamu yang gila!” suaraku bergetar menahan
marah. “Ini yang kamu sebut pekerjaan?”
Wajah Anita berubah dingin. “Jangan sok
suci, Resya. Hidupmu sedang berantakan. Bukankah kamu butuh uang?”
“Aku memang butuh uang.” Aku menatap
matanya tanpa gentar. “Tapi bukan dengan menjual harga diriku.”
“Bodoh!”
“Kalau mempertahankan kehormatan dianggap
bodoh, biarlah aku menjadi orang paling bodoh.”
Aku mundur beberapa langkah. “Terima kasih
karena sudah memperlihatkan siapa dirimu.”
Aku berbalik meninggalkan rumah itu.
“Percuma!” suara Anita meninggi. “Kamu
pikir mencari pekerjaan itu mudah? Bukankah kamu butuh uang? Di sini kamu bisa
mendapatkannya. Berapa pun yang kamu mau.”
Langkahku terhenti. “Aku memang butuh uang.”
Aku mengakuinya tanpa malu. “Aku kehilangan
pekerjaan. Adikku ingin kuliah. Di rumah masih ada tiga adik lain yang harus
kubiayai.”
Anita tersenyum seolah tahu ia akan menang.
“Nah, itu sebabnya kamu harus menerima tawaranku.”
Aku menoleh pelan.
“Tidak. Justru karena mereka, aku menolak.”
Anita mengernyit.
“Aku adalah kakak bagi adik-adikku. Setiap
hari aku meminta mereka hidup jujur, menjaga kehormatan, dan tidak mengambil
jalan pintas.”
Aku menahan air mata yang hampir jatuh. “Lalu
bagaimana mungkin aku pulang membawa uang... sementara aku sendiri mengkhianati
semua nasihat itu?”
Anita mendengus pelan. “Idealismemu tidak
akan mengenyangkan perut.”
Aku menggeleng. “Mungkin. Tetapi uang haram
juga tidak akan membuatku tidur dengan tenang.”
Wajah Anita berubah dingin. “Kamu akan
menyesal.”
“Aku lebih menyesal jika kehilangan harga
diriku.”
Aku kembali melangkah menuju gerbang. Di
tengah langkah itu, suara Ibu asuhku kembali terngiang jelas.
"Hiduplah dengan keberanian. Jangan
pernah membalas keburukan. Jika dunia memaksamu menjadi jahat, katakan
tidak."
Air mataku akhirnya jatuh. “Maaf, Bu,”
bisikku lirih. “Aku masih berusaha menjaga pesan Ibu.”
Aku terus berjalan meninggalkan rumah itu
tanpa pernah menoleh lagi.
***
Aku
terbangun dengan kepala yang terasa berat. Bayangan rumah mewah itu masih jelas
di pelupuk mata. Tatapan pria paruh baya, aroma minuman beralkohol, hingga
senyum Anita yang perlahan berubah menjadi sinis, terus berputar di kepalaku.
Malam tadi mengajariku satu hal. Tidak
semua tangan yang terulur datang untuk menolong. Ada yang sengaja mengulurkan
harapan agar kita terjebak di dalamnya. Aku hampir mempercayainya. Padahal kami
baru saling mengenal.
Suara Ibu kembali memenuhi ingatanku. Seandainya
malam itu aku melupakan nasihatmu, mungkin hari ini aku tidak lagi mampu
menatap diriku sendiri di cermin.
Aku tidak membenci Anita. Yang kusesalkan
adalah pilihan hidup yang ia ambil. Barangkali hidup pernah berlaku sangat
kejam kepadanya hingga ia menganggap jalan itu sebagai satu-satunya cara
bertahan. Namun penderitaan tidak pernah menjadi alasan untuk menyeret orang
lain ke dalam jurang yang sama.
Jalan hidupku memang tidak mudah. Aku
kehilangan Ayah dan Ibu. Aku kehilangan Ibu asuh. Aku kehilangan pekerjaan. Tetapi
semua itu belum cukup membuatku kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya, setiap kesulitan selalu menyisakan
satu pintu yang masih terbuka. Mungkin aku belum menemukannya hari ini, tetapi
bukan berarti pintu itu tidak ada.
Aku hanya perlu terus berjalan. Menjadi
diriku sendiri. Dan menjaga hati agar tidak gelap hanya karena hidup sedang
berada di dalam kegelapan.
Aku berjalan menuju teras. Rumah terasa sepi. Nafira masih tertidur
lelap. Bahkan suara hujan yang menetes dari ujung genting pun tidak mampu
membangunkannya.
Gerda duduk sendirian di bangku kayu. Kedua tangannya saling menggenggam
erat. Tatapannya kosong ke arah halaman yang masih basah. Biasanya jam segini
ia sudah berangkat ke bengkel. Hari ini seragam kerjanya masih tergantung di
jemuran.
“Gerda.”
Ia tidak menjawab. Aku duduk di sampingnya.
“Kenapa tidak berangkat kerja?”
Tetap diam.
Ada yang berbeda. Bukan hanya wajahnya yang pucat, tetapi juga cara ia
menarik napas, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar.
“Cerita sama kakak. Jangan dipendam sendiri!”
Perlahan ia
menoleh. Matanya memerah. “Kak... apa Kakak masih percaya sama aku?”
“Tentu saja.” Aku menggenggam kedua
tangannya. “Kakak selalu percaya pada adik-adik kakak. Ceritakan semuanya.”
Gerda menarik napas panjang, seolah setiap
kata terasa berat keluar dari mulutnya. “Aku dituduh mencuri uang kas bengkel.”
Suaranya bergetar. “Aku memang masuk ke ruangan itu karena bos menyuruhku
mengambil berkas. Setelah selesai, aku langsung mengunci pintunya lagi. Aku
tidak mengambil uang sepeser pun, Kak.”
Ia menundukkan kepala. “Tapi mereka tidak
percaya.”
Dadaku seperti diremas. Selama ini Gerda
selalu berangkat paling pagi dan pulang paling malam. Anak itu bahkan lebih
sering menghabiskan waktunya di bengkel daripada di rumah. Rasanya mustahil ia
melakukan hal serendah itu.
“Apa mereka punya bukti?” tanyaku pelan.
Gerda menggeleng. ”Hanya karena setelah aku
keluar, uang itu hilang. Tidak ada orang lain yang masuk.”
Ruangan mendadak terasa sesak.
“Aku dipecat.” Suara Gerda hampir tak
terdengar. “Sekarang aku tidak bisa membantu kakak lagi.”
Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
“Maaf...”
Melihat pundaknya bergetar, aku tak mampu
lagi menahan diri. Aku memeluknya erat. “Kakak tidak pernah menganggapmu beban.”
Tangis Gerda pecah. “Aku benar-benar tidak
mencuri.”
“Kakak tahu.”
“Tapi semua orang menganggap aku pencuri.”
Aku mengusap punggungnya perlahan. “Kalau
seluruh dunia meragukanmu, biarkan kakak menjadi orang pertama yang tetap
berdiri di sampingmu. Kebenaran memang tidak selalu datang secepat tuduhan,
tetapi ia tidak pernah tersesat menemukan jalannya.”
Gerda mengangkat wajahnya. Matanya masih
basah.
“Kamu jangan menyerah. Besok kita cari
pekerjaan lagi bersama. Selama kamu tidak melakukan kesalahan itu, tidak ada
alasan untuk menundukkan kepala.”
Ia mengangguk pelan. “Terima kasih, Kak.”
Aku tersenyum, meski air mata hampir jatuh.
Di rumah ini, aku bukan hanya harus menjadi kakak. Aku juga harus menjadi
tempat pulang ketika dunia memutuskan untuk tidak lagi mempercayai mereka.
Ada kalanya
hidup merenggut semuanya dalam waktu yang bersamaan. Pekerjaan hilang, harapan
memudar, dan kepercayaan orang lain lenyap begitu saja. Namun aku tidak boleh
ikut runtuh. Jika aku menyerah, kepada siapa adik-adikku akan bersandar?
Aku mengangkat wajah menatap langit yang
masih mendung. “Ya Allah, jangan biarkan kesedihan membuatku lupa bahwa
Engkau selalu menyediakan jalan bagi orang yang tidak berhenti berjuang.”
***
Sudah
seminggu aku tidak pernah tidur pulas. Pikiran tentang masa depan kami terus
berputar di kepala. Kini aku dan Gerda sama-sama kehilangan pekerjaan.
Untungnya, Aldi dan Merisa bergantian menghibur Gerda hingga tawa kembali
terdengar di rumah kecil ini.
“Kak Resya, ada tamu.” Suara Merisa
terdengar dari luar kamar.
Hari Minggu membuat rumah terasa lebih
lengang. Merisa sibuk menonton televisi bersama Nafira yang tak henti
berceloteh. Sementara Aldi dan Gerda pergi berolahraga sejak pagi.
Aku berjalan menuju ruang tamu. Langkahku
terhenti.
Seorang lelaki duduk santai di sofa seolah
rumah ini masih menjadi tempat yang berhak ia datangi kapan saja.
“Pagi, Resya.” Senyumnya mengembang. Senyum
yang justru membangkitkan luka lama.
Aku memilih tetap berdiri.
“Apa kabar?” tanyanya. “Om sudah lama tidak
berkunjung. Rindu juga sama kalian.”
Aku tersenyum tipis. Senyum yang bahkan
terasa lebih pahit daripada diam. “Rindu?”
Satu kata itu keluar tanpa mampu
kusembunyikan nada sinisnya.
“Apa aku salah kalau datang?”
“Yang aneh bukan Om datang.”
Aku menatapnya untuk pertama kalinya. “Yang
aneh, Om baru ingat jalan pulang setelah bertahun-tahun menghilang.”
Ia terdiam.
“Dulu Om memilih meninggalkan rumah ini.
Bahkan saat Ibu sakit, Om tidak pernah datang. Saat beliau meninggal... Om juga
tidak ada.” Tanganku mengepal tanpa sadar.
“Jadi sekarang... untuk apa Om kembali?”
Lelaki itu menarik napas panjang. “Resya...”
“Tolong jawab.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Percuma kalau kita bertengkar sekarang.”
Suaranya tetap tenang. “Ada sesuatu yang ingin Om sampaikan. Tapi tunggulah
Gerda dan Aldi pulang. Kalian semua harus mendengarnya.”
Ia melirik ke arah ruang keluarga. “Tenangkan
dirimu. Merisa dan Nafira tidak pantas melihat kakaknya seperti ini.”
Aku menggigit bibir, berusaha menelan
amarah yang nyaris meluap. Di balik pintu, Merisa berdiri memandangi kami
dengan wajah cemas. Sementara Nafira hanya menatap bergantian ke arahku dan Om
dengan sorot mata polos. Ia belum cukup besar untuk memahami mengapa seseorang
yang baru datang bisa membuat rumah mendadak dipenuhi ketegangan.
Bagaimana mungkin aku tidak marah? Saat Ibu
berjuang melawan penyakitnya, Om tidak pernah datang. Saat Ibu mengembuskan
napas terakhir, Om tidak ada di sisinya. Bahkan ketika tanah mulai menutupi
makamnya, batang hidung Om pun tak pernah terlihat.
Setelah kepergian Ibu, kami belajar
bertahan sendiri. Menahan lapar, membagi beban, saling menguatkan. Tidak sekali
pun Om menanyakan kabar kami.
Lalu sekarang... Ia datang begitu saja. Seolah
tidak pernah meninggalkan rumah ini.
Jika tujuan kedatangannya hanya untuk
tinggal bersama kami, jawabanku sudah bulat. Aku tidak akan menerimanya.
Sedikit pun aku tidak memiliki rasa iba
untuk membiarkannya tinggal di rumah yang dulu ia tinggalkan tanpa menoleh ke
belakang.
***
Malam ini seolah menjawab kegelisahanku. Seandainya sejak
awal aku tahu Om Wira akan datang, mungkin pintu rumah sudah kukunci rapat.
Namun, jika ia datang dengan niat baik, tentu aku akan menerimanya dengan
senang hati.
Aku, Gerda, Aldi, dan Om
Wira duduk di ruang tamu. Merisa dan Nafira bermain di kamar, sengaja tidak
kuizinkan ikut mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Aku sudah lelah berdebat.
Dari perkataannya siang tadi, jelas bahwa ia menyadari kedatangannya tidak
kusambut dengan baik.
“Apa yang Om lakukan
keterlaluan. Kenapa Om tidak meminta izin dulu kepada Kak Resya?” Aldi terpancing emosi.
Om Wira menghela napas panjang sebelum
menjawab. “Resya
memang sudah berbaik hati merawat kalian selama ini. Tapi rumah ini bukan hanya
miliknya. Om juga masih memiliki hak atas rumah ini.”
Kalimat itu
membuat kami saling berpandangan. Dadaku seketika terasa sesak.
“Jadi sekarang Om baru ingat rumah ini?”
Gerda bangkit dari duduknya. Tatapannya penuh amarah. “Waktu Ibu sakit, Om di
mana? Saat Ibu meninggal, Om juga tidak datang. Bertahun-tahun kami bertahan
sendiri, sekarang Om datang hanya untuk menyakiti kami?”
Om Wira terdiam.
“Judi itu sudah menghancurkan hidup Om.
Sekarang Om mau menghancurkan hidup kami juga? Karena kecerobohan Om, rumah ini
dijadikan jaminan. Lalu Om berharap kami tinggal diam?” Suara Gerda bergetar
menahan emosi.
Gerda melangkah
maju. Tangannya mengepal kuat, bersiap melayangkan tinju. Namun sebelum
pukulannya mengenai wajah Om Wira, Aldi buru-buru menahan lengannya.
“Sudah, Gerda!” seru Aldi.
“Aku tidak pernah
berharap malam ini melihat Om.”
Aku berdiri di depan kedua adikku. “Apa pun masalah Om, jangan libatkan mereka.”
Om Wira menundukkan kepala. “Om memahami kemarahan
kalian. Om tahu penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Tapi Om benar-benar
ingin memperbaiki semuanya.”
Aku menggeleng pelan. “Memperbaiki?”
tanyaku lirih. “Apa ini yang Om sebut memperbaiki? Kami sedang berusaha bertahan
sedikit demi sedikit, tetapi Om justru datang membawa beban baru.”
Aku benar-benar tidak mengerti jalan
pikirannya. Bagaimana mungkin Om tega menggadaikan rumah yang selama ini
menjadi satu-satunya tempat kami berteduh?
Om Wira menarik napas panjang sebelum
kembali berbicara. “Om sudah berusaha menebus sertifikat rumah itu. Tapi uang
Om tidak cukup untuk melunasi semuanya. Om sudah tidak punya jalan lain, Resya.
Kalau suatu saat kalian mampu... ambillah kembali rumah ini.”
Dadaku terasa sesak mendengar pengakuannya.
“Aku dan
Gerda sudah kehilangan pekerjaan. Aku tidak akan membebani Aldi, Merisa, dan
Nafira dengan kesalahan yang bukan mereka perbuat.” Suaraku
mulai bergetar. “Kami sudah memiliki masalah hidup masing-masing. Mungkin memang
beginilah takdir kami... meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat kami
pulang.”
Baru hari ini Om mengetahui bahwa aku pun
sudah tidak bekerja. Wajah Om Wira berubah pucat. Tatapannya jatuh ke lantai.
“Maafkan Om... Om
benar-benar minta maaf karena telah melukai hati kalian.”
Ruangan kembali sunyi.
Gerda menundukkan kepala. Aldi memalingkan
wajah, berusaha menyembunyikan air matanya. Bahkan mata Om Wira tampak
berkaca-kaca.
Ternyata hidup memang
tidak selalu memberi kebahagiaan. Ada kalanya ia merenggut satu per satu tempat
yang selama ini kita sebut rumah.
***
Rumah Ibu bukanlah milik kami. Kami hanya anak-anak angkat
dari seorang perempuan berhati mulia yang telah tiada. Kami tidak memiliki hak
untuk mempertahankannya.
Dengan berat hati, kami
meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh, tempat
kami belajar saling menguatkan, dan tempat terakhir kami merasakan kasih sayang
seorang ibu.
Kebahagiaan yang kami
bangun dengan susah payah seolah runtuh dalam sekejap. Namun, terus meratapi
kehilangan tidak akan mengubah kenyataan. Kami memilih menerima takdir dengan
ikhlas dan melangkah Kembali.
Berbekal rumah tua
peninggalan orang tuaku yang selama ini dirawat Mbok Parmi, kami memulai
kehidupan dari awal. Rumah itu tidak semegah rumah Ibu, tetapi setidaknya masih
memberi kami tempat untuk pulang.
“Kakak, Kak Merisa di
mana?” Nafira berlari-lari kecil menyusuri rumah.
“Mungkin di luar
membantu Kak Gerda dan Kak Aldi membereskan gudang.” Aku masih sibuk menyiapkan sarapan di
dapur.
“Fira mau ke gudang ya, Kak.”
“Boleh. Tapi lihat dari
jauh saja, ya. Gudangnya masih berdebu. Biar Kak Gerda dan Kak Aldi yang
mengangkat barang-barang berat. Fira bantu menyapu saja.”
Nafira mengangguk riang lalu berlari
keluar. Dari balik jendela dapur, aku memperhatikan adik-adikku bekerja sama
membereskan ruangan di depan rumah. Gerda mengangkat lemari tua, Aldi sibuk
memperbaiki rak kayu yang hampir roboh, sementara Merisa dan Nafira menyapu
lantai sambil saling bercanda. Sesekali tawa mereka memenuhi halaman, membuat
rumah yang lama kosong itu kembali terasa hidup.
Sudah dua bulan kami tinggal di rumah
peninggalan kedua orang tuaku. Rumah Ibu kini telah menjadi milik orang lain.
Anehnya, aku tidak lagi menyimpan keinginan untuk merebutnya kembali. Ada
kenangan yang tidak bisa dibeli ataupun dimiliki. Aku percaya, Ibu akan
memahami keputusan kami.
Rumah ini memang lebih sederhana, tetapi
cukup untuk kami berlima. Tiga kamar tidur, dua kamar mandi, sebuah ruang tamu
yang hangat, dapur kecil, serta halaman dengan gudang dan garasi tua. Bagiku,
rumah bukan tentang seberapa besar bangunannya, melainkan tentang siapa yang
mengisinya.
Gerda dan Aldi mempunyai rencana mengubah gudang
menjadi warung kecil agar aku tidak perlu bekerja jauh dari rumah lagi. Mereka
ingin aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Bermodalkan sisa
tabunganku, kami mulai membeli rak, etalase, dan sedikit demi sedikit mengisi
warung itu dengan barang dagangan.
Kini kami benar-benar memulai semuanya dari
awal. Aku percaya, Tuhan tidak selalu mengabulkan doa dengan cara yang kita
inginkan. Namun, Dia selalu menunjukkan jalan bagi mereka yang tidak berhenti
berusaha.
Syukurlah, kabar baik mulai berdatangan.
Aldi diterima bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Gerda pun
dipanggil kembali ke bengkel setelah pelaku pencurian yang sebenarnya berhasil
ditangkap. Bahkan, kini mereka berdua bisa melanjutkan kuliah di kampus yang
sama dengan biaya hasil jerih payah mereka sendiri.
Melihat mereka tersenyum, aku merasa
seluruh lelahku selama ini tidak sia-sia. Keceriaan kembali memenuhi rumah.
Tawa yang sempat hilang kini terdengar setiap hari. Tidak ada lagi kebencian
yang tersisa, hanya keluarga yang belajar saling memaafkan.
Om Wira benar-benar menepati janjinya. Sejak meninggalkan kebiasaan
berjudi dan mabuk-mabukan, beliau memilih merantau untuk bekerja. Berkat
kepandaian dan kerja kerasnya, ia dipercaya menjadi salah satu karyawan andalan
di tempat kerjanya.
Setiap bulan, sebagian gajinya selalu dikirimkan untuk membantu
kebutuhan kami. Bukan karena kami memintanya, melainkan karena beliau ingin
menebus kesalahan yang pernah dilakukan.
“Sisihkan rezeki untuk bersedekah dan jangan lupa menabung,” begitu
pesan yang selalu beliau ulang setiap kali menghubungi kami.
Saat libur panjang tiba, Om Wira tidak pernah lupa pulang. Beliau
membantu memperbaiki rumah, bermain bersama Nafira, dan menemani kami makan
malam. Sedikit demi sedikit, luka yang pernah ada mulai sembuh.
Meskipun Ibu telah tiada, kehadiran Om Wira mengingatkan kami pada kasih
sayang yang pernah beliau berikan. Untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku
belajar bahwa seseorang bisa berubah jika benar-benar ingin memperbaiki
dirinya.
Memaafkan ternyata tidak menghapus masa lalu. Namun, memaafkan memberi
kesempatan bagi masa depan untuk tumbuh lebih baik.
Jangan biarkan dendam menutup ruang bagi kasih sayang. Jangan biarkan
luka masa lalu menghentikan langkah kita. Setiap manusia pernah melakukan
kesalahan, tetapi setiap manusia juga berhak memperbaikinya. Terkadang,
kesempatan kedua adalah jalan yang Tuhan berikan agar seseorang kembali
menemukan dirinya.
Terimakasih
Ini
ceritaku... Dilarang copypaste!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar