“Hal-hal terindah di dunia sering kali tidak dapat
dilihat oleh mata, melainkan dirasakan oleh hati.”
Aku pernah berpikir bahwa cinta adalah
tentang memiliki. Tentang seseorang yang selalu pulang ke arah yang sama.
Tentang dua tangan yang saling menggenggam tanpa pernah terlepas. Tentang janji
yang akan tetap utuh meski musim berganti.
Waktu itu aku masih percaya bahwa setiap
orang yang datang akan tinggal. Bahwa setiap pelukan akan selalu menemukan
jalan pulang. Bahwa semua kisah memiliki akhir yang sama: bahagia.
Aku baru menyadari betapa naifnya pemikiran itu ketika kehidupan mulai memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya. Hidup tidak pernah bertanya apakah kita siap menerima kenyataan. Ia hanya datang, membawa pertemuan, menghadiahkan kebahagiaan, lalu diam-diam mengajarkan cara melepaskan. Aku belajar semua itu jauh sebelum mengenal arti patah hati.
***
Namaku Aluna. Ibuku pernah berkata bahwa
namaku berarti cahaya bulan.
“Bulan tidak pernah bersinar untuk dirinya
sendiri,” katanya suatu malam ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. “Ia
memantulkan cahaya untuk menerangi langit yang gelap.”
Aku mengangguk saat itu meski belum
benar-benar memahami maksudnya. Aku tumbuh di sebuah kota kecil yang
dikelilingi sawah dan pepohonan. Rumah kami sederhana. Cat dindingnya mulai
memudar dimakan usia, tetapi selalu terasa hangat.
Ayah bekerja sebagai guru. Ibu membuka
usaha menjahit di ruang depan rumah. Aku anak pertama dari dua bersaudara.
Adikku, Dimas, berbeda lima tahun dariku. Ia sering membuat rumah menjadi ramai
dengan tingkah usilnya.
Hidup kami tidak mewah. Namun setiap malam,
kami selalu makan bersama. Ayah selalu bertanya bagaimana hariku. Ibu akan
mendengarkan semua cerita, bahkan cerita yang menurutku tidak penting.
Sejak kecil aku percaya bahwa rumah bukan
tentang bangunan. Rumah adalah tempat di mana seseorang tetap ingin
mendengarkanmu meskipun cerita yang kau bawa hanya tentang hujan yang turun
lebih deras daripada biasanya.
***
Namaku Aluna. Ibuku pernah berkata bahwa
namaku berarti cahaya bulan.
“Bulan tidak pernah bersinar untuk dirinya
sendiri,” katanya suatu malam ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. “Ia
memantulkan cahaya untuk menerangi langit yang gelap.”
Aku mengangguk saat itu meski belum
benar-benar memahami maksudnya. Aku tumbuh di sebuah kota kecil yang
dikelilingi sawah dan pepohonan. Rumah kami sederhana. Cat dindingnya mulai
memudar dimakan usia, tetapi selalu terasa hangat.
Ayah bekerja sebagai guru. Ibu membuka
usaha menjahit di ruang depan rumah. Aku anak pertama dari dua bersaudara.
Adikku, Dimas, berbeda lima tahun dariku. Ia sering membuat rumah menjadi ramai
dengan tingkah usilnya.
Hidup kami tidak mewah. Namun setiap malam,
kami selalu makan bersama. Ayah selalu bertanya bagaimana hariku. Ibu akan
mendengarkan semua cerita, bahkan cerita yang menurutku tidak penting.
Sejak kecil aku percaya bahwa rumah bukan
tentang bangunan. Rumah adalah tempat di mana seseorang tetap ingin
mendengarkanmu meskipun cerita yang kau bawa hanya tentang hujan yang turun
lebih deras daripada biasanya.
Aku bukan anak yang mudah berteman. Aku
lebih suka duduk di dekat jendela kelas sambil memperhatikan awan daripada
berlarian di halaman sekolah. Teman-temanku sering berkata aku terlalu pendiam.
Padahal sebenarnya bukan itu.
Aku hanya lebih senang mendengarkan. Menurutku,
setiap orang memiliki cerita. Ada yang tertawa karena benar-benar bahagia. Ada
pula yang tertawa karena tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ia sedang
terluka.
Aku sering bertanya-tanya, berapa banyak
senyum yang sebenarnya sedang menyembunyikan air mata? Pertanyaan-pertanyaan
seperti itu membuatku terlihat aneh di mata teman-teman seusiaku.
Namun Ayah selalu berkata, “Jangan takut
menjadi berbeda. Dunia justru membutuhkan lebih banyak orang yang mau
mendengarkan.”
Kalimat itu terus tinggal bersamaku.
Masa remaja datang bersama perubahan yang
tidak pernah kuundang. Aku mulai mengenal perasaan iri. Aku iri melihat
teman-temanku yang mudah mengungkapkan isi hati.
Mereka tertawa tanpa beban. Mereka jatuh
cinta dengan sederhana. Sedangkan aku... Aku selalu memikirkan segala sesuatu
terlalu dalam. Aku takut mengecewakan orang lain. Takut ditinggalkan. Takut
dianggap tidak cukup. Karena itulah aku terbiasa menyimpan semuanya sendirian.
Ketika sedih, aku memilih diam. Ketika
marah, aku memilih tersenyum. Ketika kecewa, aku berkata, “Tidak apa-apa.” Padahal
ada banyak hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar baik-baik saja.
Satu kebiasaan yang tidak pernah berubah
adalah hujan. Aku selalu menyukai hujan. Bukan karena hujan membuat dunia
menjadi dingin. Melainkan karena hujan membuat semua orang berjalan lebih
pelan.
Seolah-olah alam sedang meminta manusia
berhenti sejenak dari kesibukannya. Aku sering duduk di teras rumah ditemani
secangkir teh hangat. Mendengarkan suara air yang jatuh di genting. Mencium
aroma tanah yang basah.
Menurutku, hujan adalah satu-satunya hal
yang mampu membuat dunia terasa jujur. Tak ada yang berpura-pura kuat di bawah
hujan. Air mata pun tak lagi terlihat berbeda.
Ketika lulus SMA, aku memutuskan merantau
ke kota. Banyak orang berkata hidup di kota akan mengubah seseorang. Mungkin
mereka benar. Kota mengajariku bahwa waktu berjalan jauh lebih cepat.
Orang-orang datang dan pergi tanpa sempat
saling mengenal. Tetangga tidak selalu mengetahui nama orang yang tinggal di
sebelah rumahnya. Setiap orang sibuk mengejar mimpinya masing-masing.
Di kota itulah aku mulai belajar hidup
sendirian. Belajar memasak meski sering gagal. Belajar mencuci pakaian tengah
malam. Belajar menyembunyikan rindu agar Ibu tidak ikut bersedih ketika
menelepon.
“Apa kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Ibu
hampir setiap malam.
“Iya, Bu.” Jawaban itu selalu sama.
Padahal sering kali aku baru saja menangis
beberapa menit sebelumnya. Aku tidak ingin rumah ikut merasa sepi hanya karena
aku sedang tidak baik-baik saja.
Aku mulai percaya bahwa menjadi dewasa
adalah tentang berpura-pura kuat. Sampai akhirnya aku bertemu seseorang yang
membuatku sadar bahwa tidak apa-apa menjadi rapuh.
Pertemuan itu terjadi pada suatu sore. Langit
menggantungkan awan-awan kelabu sejak siang. Aku baru keluar dari perpustakaan
kampus ketika hujan turun tanpa aba-aba.
Orang-orang berlarian mencari tempat
berteduh. Aku berdiri di bawah atap halte sambil memeluk tas ransel. Hujan
selalu berhasil membuatku lupa waktu. Aku terlalu sibuk memandangi butiran air
yang jatuh hingga tidak menyadari seseorang berdiri di sampingku.
“Kalau hujannya tidak berhenti, kita bisa
pulang besok.”
Suara itu membuatku menoleh. Seorang lelaki
mengenakan jaket biru sedang tersenyum kecil. Tangannya memegang dua gelas kopi
yang masih mengepulkan uap.
Aku hanya tersenyum tipis. “Aku suka hujan.”
Ia mengangguk pelan. “Aku juga.” Tidak ada
percakapan panjang setelah itu.
Kami hanya berdiri berdampingan.
***
“Setiap manusia memiliki keunikannya sendiri. Tidak ada dua
hati yang benar-benar berjalan dengan langkah yang sama. Namun, ketika kita
menemukan seseorang yang mampu memahami cara kita memandang dunia, perjalanan
terasa sedikit lebih ringan.”
Namanya Aksa.
Sesederhana itu perkenalan kami dimulai. Setelah
sore yang dipenuhi aroma hujan itu, aku mengira kami tidak akan pernah bertemu
lagi. Kota ini terlalu luas untuk mempertemukan dua orang asing lebih dari
sekali. Lagi pula, kami bahkan tidak sempat bertukar nomor telepon. Yang kubawa
pulang hanyalah sebuah nama, senyum kecil yang sulit kulupakan, dan segelas
kopi hangat yang perlahan kehilangan uapnya di tanganku.
Kupikir pertemuan kami akan berakhir
sebagai salah satu kebetulan yang sesekali dikenang, lalu dilupakan. Namun
hidup sering kali memiliki rencana yang tidak pernah kita duga.
Dua hari kemudian, aku melihatnya lagi. Saat
itu aku sedang mencari buku Psikologi
Perkembangan di perpustakaan kampus. Rak-rak kayu menjulang tinggi
memenuhi ruangan, menyisakan lorong-lorong sempit yang dipenuhi aroma kertas
dan buku-buku lama. Suasana begitu tenang. Hanya terdengar dengungan pendingin
ruangan, suara langkah kaki yang sesekali melintas, dan bunyi halaman yang
dibalik perlahan.
Tanganku baru saja meraih sebuah buku
ketika buku lain di rak sebelah terjatuh hingga mendarat tepat di dekat kakiku.
Aku membungkuk. Pada saat yang sama, seseorang ikut mengulurkan tangan. Jari
kami nyaris bersentuhan.
Aku mendongak.
“Kita bertemu lagi.” Suara itu langsung
kukenal.
Aksa. Ia tersenyum kecil, seolah pertemuan
itu adalah hal yang wajar. Aku tidak bisa menahan senyum.
“Ternyata bukan cuma hujan yang
mempertemukan kita. Tadinya aku juga berpikir begitu,” katanya pelan. “Tapi
sekarang aku mulai curiga perpustakaan ini memang sengaja mempertemukan kita.”
Aku terkekeh.
“Atau jangan-jangan kita memang punya
jadwal yang sama.”
“Boleh juga.”
Ia mengangguk pelan. “Daripada menyalahkan
semesta.”
Aku tertawa. Percakapan itu begitu
sederhana. Tidak ada topik penting. Tidak ada kalimat yang terdengar istimewa. Namun
entah mengapa, semuanya terasa ringan.
Aku tidak merasakan kecanggungan yang
biasanya muncul saat berbicara dengan orang yang baru dikenal. Seolah-olah kami
hanya sedang melanjutkan percakapan yang sempat terhenti di bawah hujan dua
hari lalu.
Aksa melirik buku yang masih kupegang. “Psikologi Perkembangan?”
Aku mengangguk. “Tugas dosen.”
Ia menghela napas pelan. “Berarti kita
senasib.”
“Kamu juga?”
“Iya. Besok presentasi.” Ia mengangkat buku
di tangannya.
Aku tertawa kecil. “Aku bahkan belum
selesai membaca referensinya.”
“Bagus.”
Aku mengernyit. “Kenapa bagus?”
“Berarti aku bukan satu-satunya yang panik.”
Aku menggeleng sambil tersenyum. Barangkali
itulah tawa pertama yang kubagikan kepadanya.
Kami keluar dari perpustakaan hampir
bersamaan. Langit mulai berubah jingga. Sisa hujan dua hari lalu masih
meninggalkan aroma tanah basah yang samar.
“Kamu pulang naik apa?” tanyanya.
“Bus.”
Ia mengangguk. “Sama.”
Tanpa sadar kami berjalan berdampingan
menuju halte. Tidak banyak yang kami bicarakan. Kadang ia bertanya tentang
jurusanku. Kadang aku balik bertanya tentang tugas kuliahnya. Lebih sering lagi
kami memilih diam.
Anehnya, diam itu tidak pernah terasa
canggung. Ada orang-orang yang membuat kita harus terus mencari bahan
pembicaraan agar suasana tidak menjadi sepi. Namun ada pula yang membuat
keheningan terasa cukup. Aksa termasuk yang kedua.
Saat bus yang kutunggu datang, ia melangkah
mundur memberi jalan.
“Sampai ketemu lagi.”
Aku tersenyum. “Iya.”
Bus mulai bergerak meninggalkan halte. Dari
balik kaca, kulihat Aksa masih berdiri di tempatnya. Baru ketika bus berbelok
meninggalkan jalan utama, sosoknya perlahan menghilang dari pandanganku.
Aku tidak tahu mengapa. Namun sepanjang
perjalanan pulang, senyumku belum juga menghilang.
***
“Ada orang-orang yang datang bukan untuk mengubah dunia kita.
Mereka hanya mengubah cara kita memandangnya.”
Aku tidak pernah benar-benar tahu kapan
semuanya berubah. Tidak ada pengakuan. Tidak ada bunga. Tidak ada kalimat, “Aku menyukaimu.”
Perubahan itu datang perlahan, nyaris tanpa
suara. Ia menyelinap di sela-sela rutinitas yang tampak biasa, lalu diam-diam
menetap di dalam hati.
Suatu pagi, seperti biasa, aku terbangun
ketika cahaya matahari mulai merambat masuk melalui celah tirai kamar kos. Hal
pertama yang kulakukan bukanlah beranjak ke kamar mandi atau merapikan tempat
tidur.
Tanganku justru mencari ponsel di atas
nakas. Aku menyalakan layarnya. Kosong. Tidak ada notifikasi. Aku tersenyum
kecil, merasa sedikit konyol pada diri sendiri. Sejak kapan aku mulai menunggu
pesan darinya setiap pagi?
Aku meletakkan ponsel itu kembali, lalu
berjalan membuka jendela. Udara masih basah oleh sisa hujan semalam. Pepohonan
di halaman kos tampak lebih hijau dari biasanya. Beberapa burung kecil bertengger
di kabel listrik sambil berkicau pelan.
Aku mencoba mengalihkan pikiran. Merapikan
buku-buku kuliah. Melipat selimut. Mengambil handuk. Namun, sebelum sempat
melangkah ke kamar mandi, suara notifikasi terdengar.
Aku spontan menoleh. Di layar ponsel, satu
nama muncul. Aksa.
Selamat pagi. Jangan lupa sarapan.
Pesan itu sederhana. Tidak panjang. Tidak
pula terdengar istimewa. Namun tanpa kusadari, sudut bibirku terangkat.
Aku membalas singkat. Pagi juga. Kamu sendiri sudah sarapan?
Balasannya datang hampir seketika. Belum.
Aku mengernyit. Katanya jangan lupa sarapan?
Beberapa detik kemudian muncul pesan baru. Aku mengingatkanmu dulu. Urusan aku
belakangan.
Aku terkekeh pelan. Logikanya aneh. Yang penting kamu sarapan.
Aku menggeleng sambil tersenyum. Aneh
sekali. Percakapan sesederhana itu mampu memperbaiki suasana hatiku sepanjang
pagi.
Hari-hari berikutnya berlalu tanpa banyak
kejadian besar. Namun justru di situlah semuanya berubah. Kami masih bertemu di
perpustakaan. Masih duduk di bangku taman kampus ketika sore datang.
Masih berjalan berdampingan menuju halte
sambil membicarakan banyak hal, mulai dari tugas kuliah, film yang baru kami
tonton, sampai pertanyaan-pertanyaan aneh yang tiba-tiba muncul di kepala.
“Apa menurutmu hujan punya bau?” tanyaku
suatu sore.
Aksa tertawa kecil. “Harusnya aku yang
bertanya begitu.”
“Jawab saja.”
Ia berpikir sejenak. “Bukan hujannya yang
punya bau. Tapi tanah yang sedang merasa lega.”
Aku menoleh. “Itu jawaban paling aneh yang
pernah kudengar.”
“Tapi kamu suka, kan?”
Aku tidak menjawab. Karena diam-diam memang
begitu. Aku selalu menyukai cara Aksa melihat dunia. Hal-hal yang bagiku biasa
saja, di matanya selalu memiliki cerita.
Semakin lama, aku semakin mengenal
kebiasaannya. Ia selalu datang lima belas menit lebih awal sebelum kelas
dimulai. Katanya, terburu-buru membuat pikirannya berantakan. Ia lebih memilih
menunggu daripada membuat orang lain menunggu.
Aku juga tahu bahwa setiap kali gugup, ia
akan mengusap tengkuknya tanpa sadar. Setiap kali berpikir keras, alis kirinya
sedikit terangkat. Dan setiap kali tertawa sungguh-sungguh, matanya akan
menyipit hingga hampir tidak terlihat.
Sebaliknya, Aksa pun mulai mengenalku
dengan cara yang bahkan tidak kusadari. Ia tahu aku selalu memilih duduk dekat
jendela. Ia tahu aku akan memesan teh hangat, bahkan saat cuaca sedang terik. Ia
tahu aku tidak suka keramaian. Ia tahu aku akan berkata, “Aku baik-baik saja,” justru
ketika hatiku sedang paling lelah. Namun ia tidak pernah memaksaku menjelaskan.
Ia hanya menemani. Kadang dengan cerita. Kadang
dengan secangkir teh. Kadang hanya dengan diam. Dan anehnya, diam bersama Aksa
tidak pernah terasa kosong. Diam kami selalu penuh. Penuh pengertian. Penuh
rasa aman.
Ada sore-sore ketika aku mulai menyadari
bahwa langkah kakiku secara alami mencari sosoknya di antara keramaian kampus.
Ada pagi-pagi ketika senyumku muncul hanya
karena melihat namanya di layar ponsel.
Ada malam-malam ketika aku baru sadar telah
menceritakan banyak hal kepadanya—hal-hal yang bahkan tidak pernah kuceritakan
kepada siapa pun.
Mungkin beginilah cinta tumbuh. Ia tidak
datang membawa kembang api. Tidak mengetuk pintu hati dengan suara yang keras. Ia
hadir melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Melalui perhatian yang tampak sederhana. Melalui
seseorang yang selalu bertanya, “Sudah
makan?” atau “Hati-hati
di jalan.”
Lalu suatu hari kita tersadar... Ada satu
nama yang diam-diam menjadi alasan mengapa hari-hari terasa lebih ringan untuk
dijalani. Aku belum berani menyebut perasaan itu cinta. Namun jika ada yang
bertanya sejak kapan aku mulai jatuh hati kepada Aksa, mungkin aku tidak akan
mampu memberikan satu tanggal pasti.
Karena cinta tidak lahir dalam satu
peristiwa. Ia tumbuh sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, tanpa kusadari,
seseorang yang dulu hanyalah lelaki asing yang kutemui di bawah hujan telah
menjadi tempat yang paling ingin kutuju setiap kali dunia terasa melelahkan.
Dan sejak saat itu aku mengerti... Rumah
tidak selalu berupa bangunan. Kadang, rumah adalah seseorang. Rumah itu bernama
Aksa.
***
“Tidak semua perubahan datang dengan suara yang keras. Ada yang
hadir begitu pelan, hingga kita baru menyadarinya ketika semuanya telah
berbeda.”
Aku tidak pernah benar-benar mengingat hari
ketika hubungan kami dimulai. Bukan karena hari itu tidak berarti. Justru
karena semuanya terjadi begitu sederhana. Tidak ada bunga. Tidak ada makan
malam dengan cahaya lilin. Tidak ada kalimat-kalimat manis yang terdengar
seperti dalam film. Yang ada hanyalah kami.
Dua orang yang telah terlalu lama berjalan
berdampingan hingga akhirnya menyadari bahwa kami tidak lagi ingin melangkah
sendirian.
Sore itu, hujan baru saja berhenti. Bangku
taman kampus masih sedikit basah. Aroma tanah yang diguyur hujan memenuhi
udara, sementara langit perlahan berubah jingga. Kami duduk berdampingan,
menikmati keheningan yang sejak lama terasa akrab.
Aksa memecah diam lebih dulu. “Aku boleh
tanya sesuatu?”
Aku menoleh dan mengangguk pelan. “Boleh.”
Ia menarik napas panjang, seolah sedang
mengumpulkan keberanian. “Menurutmu... kita ini apa?”
Aku menatapnya beberapa saat. Untuk pertama
kalinya sejak kami saling mengenal, aku melihat keraguan di wajahnya. Lelaki
yang biasanya selalu tenang itu kini tampak gugup. Tangannya tanpa sadar
mengusap tengkuknya, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa cemas.
“Aku tidak tahu,” Aku tersenyum kecil. “Tapi
aku tahu satu hal. Aku sudah terbiasa ada kamu.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa
sempat kupikirkan. Tanpa kusadari, ternyata itulah jawaban yang selama ini
bersembunyi di dalam hatiku.
Aksa menundukkan kepala sebentar, lalu
tersenyum. “Aku juga.” Suaranya hampir tenggelam oleh embusan angin. “Aku tidak
ingin kita berhenti hanya sebagai teman.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Bukan
karena terkejut. Melainkan karena akhirnya seseorang mengucapkan apa yang
diam-diam sama-sama kami rasakan.
Aku memandangnya cukup lama. Kemudian
mengangguk.
“Kalau begitu...” Aku menarik napas pelan. “Kita
jalanin sama-sama.”
Senyum Aksa mengembang begitu lebar hingga
matanya hampir menghilang. Hari itu tidak ada pelukan. Tidak ada genggaman
tangan. Tidak ada janji-janji besar. Namun entah mengapa, aku merasa telah
menemukan tempat untuk pulang.
Hari-hari setelahnya berjalan dengan
tenang. Tidak banyak yang berubah. Kami masih belajar bersama di perpustakaan. Masih
saling berebut buku yang sama. Masih berjalan menuju halte sambil membicarakan
hal-hal yang sering kali tidak penting. Masih saling mengingatkan untuk
sarapan. Bedanya, kini tidak ada lagi keraguan setiap kali mata kami bertemu.
Suatu pagi Aksa datang membawa dua bungkus
roti dan dua gelas teh hangat. “Aku tahu kamu belum sempat sarapan.”
Aku tertawa kecil. “Kamu ini seperti Ibu.”
“Ibumu pasti senang kalau ada yang
mengingatkan.”
Aku tersenyum. “Iya.”
Sejak hari itu, sarapan bersama menjadi
kebiasaan baru. Kadang hanya roti isi. Kadang bubur ayam langganan di depan
kampus. Kadang sekadar teh hangat yang kami minum sambil duduk di anak tangga
gedung fakultas.
Saat itu aku mulai percaya bahwa
kebahagiaan memang tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Sering kali ia
datang dalam bentuk perhatian-perhatian kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Namun, seperti musim yang perlahan
berganti, hubungan kami pun mulai berubah. Awalnya hampir tidak terasa. Aksa
semakin sibuk. Selain kuliah, ia aktif di organisasi kampus dan bekerja paruh
waktu setiap akhir pekan.
Aku memahami alasannya. Ia ingin membantu
kedua orang tuanya. Ia sedang mengejar masa depan yang sejak lama diimpikannya.
Karena itu, setiap kali ia berkata, “Maaf, aku harus berangkat kerja.” atau, “Nanti
kita lanjut lagi, ya.”
Aku selalu mengangguk. “Tidak apa-apa.” Aku
mengatakannya dengan tulus. Setidaknya, pada awalnya.
Lama-kelamaan, percakapan kami tidak lagi
sepanjang dulu. Telepon yang biasanya menemani malam hingga larut kini berakhir
hanya dalam beberapa menit. Pesan-pesan yang dahulu segera dibalas mulai
menunggu berjam-jam.
Aku berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya
baik-baik saja. Kesibukan memang bisa mengubah banyak hal. Aku tidak ingin
menjadi seseorang yang egois. Aku tidak ingin menambah beban di pundaknya. Karena
itu, aku memilih diam.
Suatu sore kami berjanji bertemu di
perpustakaan. Aku datang lebih awal seperti biasa. Satu jam berlalu. Bangku di
hadapanku masih kosong. Aku beberapa kali menoleh ke arah pintu masuk. Namun
Aksa tak kunjung datang.
Layar ponselku tetap sunyi. Hingga ketika
aku memutuskan untuk pulang, sebuah pesan akhirnya masuk.
Maaf. Aku diminta menggantikan teman kerja.
Aku lupa memberi kabar.
Aku membaca pesan itu berkali-kali. Tidak
ada kemarahan yang muncul. Hanya rasa kecewa yang perlahan memenuhi dada. Bukan
karena ia membatalkan janji. Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku merasa
tidak lagi menjadi bagian dari hal-hal yang ia ingat.
Hari-hari berikutnya, kejadian serupa mulai
berulang. Janji yang tertunda. Pesan yang dibalas semakin lama. Percakapan yang
semakin singkat. Tidak pernah ada pertengkaran. Tidak pernah ada suara yang
meninggi. Yang ada hanyalah keheningan yang perlahan tumbuh di antara kami.
Keheningan yang mula-mula terasa biasa,
lalu berubah menjadi jarak. Aku sering bertanya kepada diri sendiri. Apakah
cinta memang berubah? Atau kami yang terlalu sibuk hingga lupa merawatnya?
Aku tidak menemukan jawabannya. Aku hanya
tahu bahwa setiap hubungan memiliki musimnya masing-masing. Ada musim ketika
bunga-bunga bermekaran. Ada musim ketika daun-daun mulai gugur. Dan tanpa
kusadari, kami sedang melangkah menuju musim yang berbeda.
Saat itu aku masih percaya semuanya akan
kembali seperti semula. Aku belum tahu bahwa perubahan terbesar dalam hidup
sering kali tidak dimulai oleh sebuah perpisahan. Melainkan oleh hal-hal kecil
yang perlahan berhenti kita sadari.
Di masa-masa ketika aku belajar berdamai, seseorang diam-diam selalu
hadir.
Rendra.
***
“Tidak semua perpisahan dimulai oleh pertengkaran. Ada yang
lahir dari diam yang dibiarkan tumbuh terlalu lama.”
Hubungan kami tidak berakhir dalam satu
hari. Ia retak sedikit demi sedikit. Seperti kaca yang mula-mula hanya memiliki
satu garis halus, lalu perlahan dipenuhi pecahan yang tak lagi bisa disatukan.
Setelah hari ketika Aksa lupa menemuiku di
perpustakaan, aku berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Mungkin ia benar-benar sibuk. Mungkin aku hanya terlalu sensitif. Mungkin semua
pasangan pernah melewati masa seperti ini.
Aku terus mencari alasan agar hatiku tetap
tenang. Namun, alasan tidak selalu mampu mengalahkan perasaan. Kami masih
saling mengirim pesan. Masih saling mengucapkan selamat pagi. Masih bertanya
apakah sudah makan. Tetapi semuanya terasa berbeda.
Percakapan kami semakin pendek. Tawa yang
dulu mengalir begitu mudah kini terasa dipaksakan. Keheningan mulai mengambil
tempat yang dulu diisi oleh cerita.
Aku merindukan Aksa yang dulu. Lelaki yang
rela menungguiku di perpustakaan. Yang mengingatkan agar aku tidak melewatkan
sarapan. Yang selalu mendengarkan setiap kali aku ingin bercerita. Kini ia
masih orang yang sama. Namun entah mengapa, rasanya begitu jauh.
Suatu malam, aku akhirnya memberanikan diri
bertanya. “Apa akhir-akhir ini kamu menghindariku?”
Pesanku hanya dibaca. Balasannya baru
datang hampir satu jam kemudian.
Tidak. Aku cuma lagi capek.
Aku memandang layar ponsel cukup lama.
Capek. Satu kata. Sesederhana itu. Namun
kata itu terasa seperti tembok yang tiba-tiba berdiri di antara kami. Aku ingin
bertanya lebih banyak. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi
aku takut. Takut jika jawaban yang kudengar justru menjadi awal dari akhir yang
selama ini kuhindari.
Beberapa hari kemudian kami bertemu. Kami
duduk di bangku taman yang sama. Tempat di mana dulu kami memutuskan untuk
berjalan bersama. Namun sore itu terasa berbeda. Tidak ada cerita. Tidak ada
tawa. Yang terdengar hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun kering.
“Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku
pelan.
Aksa mengangguk. Tatapannya tertuju ke
tanah. “Aku merasa... “ Kalimatnya menggantung. “...akhir-akhir ini kita
sama-sama berubah.”
Dadaku perlahan mengencang. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak tahu.” Ia mengusap tengkuknya. “Kita
sama-sama sibuk.”
"Aku bisa mengerti itu.”
“Aku tahu.” Ia menarik napas panjang. “Aku
takut terus menyakitimu.”
Aku tersenyum getir. “Kamu baru menyakitiku
kalau berhenti berusaha.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Namun Aksa
hanya terdiam. Diamnya lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Hari itu kami pulang dengan langkah yang
lebih lambat dari biasanya. Tidak ada yang saling menggenggam. Tidak ada yang
berusaha menghentikan langkah yang lain. Seolah kami sama-sama tahu bahwa
sesuatu sedang perlahan menjauh. Bukan tubuh kami. Melainkan hati kami.
Beberapa hari setelahnya, Aksa mengajakku
bertemu lagi. Sore itu langit mendung. Persis seperti hari pertama kami
bertemu.
“Aku minta maaf.”
Hanya tiga kata. Pendek. Sederhana. Namun
cukup untuk mengubah seluruh arah hidupku.
“Aku rasa... kita sebaiknya berhenti di
sini.”
Aku memandangnya. Untuk sesaat, aku
berharap ia akan mengatakan bahwa semua ini hanya karena lelah. Bahwa besok
semuanya akan kembali seperti dulu. Namun harapan itu tidak pernah datang.
Aku mengangguk pelan. Tidak ada air mata. Tidak
ada kemarahan. Aku hanya tersenyum. Karena aku tahu, ada perpisahan yang tidak
membutuhkan pertengkaran.
Kadang cinta berakhir bukan karena tidak
ada rasa. Melainkan karena dua orang yang saling mencintai tidak lagi mampu
berjalan ke arah yang sama.
Hari itu, kami pulang melalui jalan yang
berbeda. Dan tanpa kusadari, aku sedang mengucapkan selamat tinggal kepada
seseorang yang pernah menjadi rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar