Senin, 23 Januari 2012

HAL-HAL YANG TIDAK DAPAT DILIHAT OLEH MATA

“Hal-hal terindah di dunia sering kali tidak dapat dilihat oleh mata, melainkan dirasakan oleh hati.”

Aku pernah berpikir bahwa cinta adalah tentang memiliki. Tentang seseorang yang selalu pulang ke arah yang sama. Tentang dua tangan yang saling menggenggam tanpa pernah terlepas. Tentang janji yang akan tetap utuh meski musim berganti.

Waktu itu aku masih percaya bahwa setiap orang yang datang akan tinggal. Bahwa setiap pelukan akan selalu menemukan jalan pulang. Bahwa semua kisah memiliki akhir yang sama: bahagia.

Aku baru menyadari betapa naifnya pemikiran itu ketika kehidupan mulai memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya. Hidup tidak pernah bertanya apakah kita siap menerima kenyataan. Ia hanya datang, membawa pertemuan, menghadiahkan kebahagiaan, lalu diam-diam mengajarkan cara melepaskan. Aku belajar semua itu jauh sebelum mengenal arti patah hati.

***

Namaku Aluna. Ibuku pernah berkata bahwa namaku berarti cahaya bulan.

“Bulan tidak pernah bersinar untuk dirinya sendiri,” katanya suatu malam ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. “Ia memantulkan cahaya untuk menerangi langit yang gelap.”

Aku mengangguk saat itu meski belum benar-benar memahami maksudnya. Aku tumbuh di sebuah kota kecil yang dikelilingi sawah dan pepohonan. Rumah kami sederhana. Cat dindingnya mulai memudar dimakan usia, tetapi selalu terasa hangat.

Ayah bekerja sebagai guru. Ibu membuka usaha menjahit di ruang depan rumah. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku, Dimas, berbeda lima tahun dariku. Ia sering membuat rumah menjadi ramai dengan tingkah usilnya.

Hidup kami tidak mewah. Namun setiap malam, kami selalu makan bersama. Ayah selalu bertanya bagaimana hariku. Ibu akan mendengarkan semua cerita, bahkan cerita yang menurutku tidak penting.

Sejak kecil aku percaya bahwa rumah bukan tentang bangunan. Rumah adalah tempat di mana seseorang tetap ingin mendengarkanmu meskipun cerita yang kau bawa hanya tentang hujan yang turun lebih deras daripada biasanya.

***

Namaku Aluna. Ibuku pernah berkata bahwa namaku berarti cahaya bulan.

“Bulan tidak pernah bersinar untuk dirinya sendiri,” katanya suatu malam ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. “Ia memantulkan cahaya untuk menerangi langit yang gelap.”

Aku mengangguk saat itu meski belum benar-benar memahami maksudnya. Aku tumbuh di sebuah kota kecil yang dikelilingi sawah dan pepohonan. Rumah kami sederhana. Cat dindingnya mulai memudar dimakan usia, tetapi selalu terasa hangat.

Ayah bekerja sebagai guru. Ibu membuka usaha menjahit di ruang depan rumah. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku, Dimas, berbeda lima tahun dariku. Ia sering membuat rumah menjadi ramai dengan tingkah usilnya.

Hidup kami tidak mewah. Namun setiap malam, kami selalu makan bersama. Ayah selalu bertanya bagaimana hariku. Ibu akan mendengarkan semua cerita, bahkan cerita yang menurutku tidak penting.

Sejak kecil aku percaya bahwa rumah bukan tentang bangunan. Rumah adalah tempat di mana seseorang tetap ingin mendengarkanmu meskipun cerita yang kau bawa hanya tentang hujan yang turun lebih deras daripada biasanya.


Aku bukan anak yang mudah berteman. Aku lebih suka duduk di dekat jendela kelas sambil memperhatikan awan daripada berlarian di halaman sekolah. Teman-temanku sering berkata aku terlalu pendiam. Padahal sebenarnya bukan itu.

Aku hanya lebih senang mendengarkan. Menurutku, setiap orang memiliki cerita. Ada yang tertawa karena benar-benar bahagia. Ada pula yang tertawa karena tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ia sedang terluka.

Aku sering bertanya-tanya, berapa banyak senyum yang sebenarnya sedang menyembunyikan air mata? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuatku terlihat aneh di mata teman-teman seusiaku.

Namun Ayah selalu berkata, “Jangan takut menjadi berbeda. Dunia justru membutuhkan lebih banyak orang yang mau mendengarkan.”

Kalimat itu terus tinggal bersamaku.


Masa remaja datang bersama perubahan yang tidak pernah kuundang. Aku mulai mengenal perasaan iri. Aku iri melihat teman-temanku yang mudah mengungkapkan isi hati.

Mereka tertawa tanpa beban. Mereka jatuh cinta dengan sederhana. Sedangkan aku... Aku selalu memikirkan segala sesuatu terlalu dalam. Aku takut mengecewakan orang lain. Takut ditinggalkan. Takut dianggap tidak cukup. Karena itulah aku terbiasa menyimpan semuanya sendirian.

Ketika sedih, aku memilih diam. Ketika marah, aku memilih tersenyum. Ketika kecewa, aku berkata, “Tidak apa-apa.” Padahal ada banyak hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar baik-baik saja.


Satu kebiasaan yang tidak pernah berubah adalah hujan. Aku selalu menyukai hujan. Bukan karena hujan membuat dunia menjadi dingin. Melainkan karena hujan membuat semua orang berjalan lebih pelan.

Seolah-olah alam sedang meminta manusia berhenti sejenak dari kesibukannya. Aku sering duduk di teras rumah ditemani secangkir teh hangat. Mendengarkan suara air yang jatuh di genting. Mencium aroma tanah yang basah.

Menurutku, hujan adalah satu-satunya hal yang mampu membuat dunia terasa jujur. Tak ada yang berpura-pura kuat di bawah hujan. Air mata pun tak lagi terlihat berbeda.


Ketika lulus SMA, aku memutuskan merantau ke kota. Banyak orang berkata hidup di kota akan mengubah seseorang. Mungkin mereka benar. Kota mengajariku bahwa waktu berjalan jauh lebih cepat.

Orang-orang datang dan pergi tanpa sempat saling mengenal. Tetangga tidak selalu mengetahui nama orang yang tinggal di sebelah rumahnya. Setiap orang sibuk mengejar mimpinya masing-masing.

Di kota itulah aku mulai belajar hidup sendirian. Belajar memasak meski sering gagal. Belajar mencuci pakaian tengah malam. Belajar menyembunyikan rindu agar Ibu tidak ikut bersedih ketika menelepon.

“Apa kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Ibu hampir setiap malam.

“Iya, Bu.” Jawaban itu selalu sama.

Padahal sering kali aku baru saja menangis beberapa menit sebelumnya. Aku tidak ingin rumah ikut merasa sepi hanya karena aku sedang tidak baik-baik saja.


Aku mulai percaya bahwa menjadi dewasa adalah tentang berpura-pura kuat. Sampai akhirnya aku bertemu seseorang yang membuatku sadar bahwa tidak apa-apa menjadi rapuh.

Pertemuan itu terjadi pada suatu sore. Langit menggantungkan awan-awan kelabu sejak siang. Aku baru keluar dari perpustakaan kampus ketika hujan turun tanpa aba-aba.

Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Aku berdiri di bawah atap halte sambil memeluk tas ransel. Hujan selalu berhasil membuatku lupa waktu. Aku terlalu sibuk memandangi butiran air yang jatuh hingga tidak menyadari seseorang berdiri di sampingku.

“Kalau hujannya tidak berhenti, kita bisa pulang besok.”

Suara itu membuatku menoleh. Seorang lelaki mengenakan jaket biru sedang tersenyum kecil. Tangannya memegang dua gelas kopi yang masih mengepulkan uap.

Aku hanya tersenyum tipis. “Aku suka hujan.”

Ia mengangguk pelan. “Aku juga.” Tidak ada percakapan panjang setelah itu.

Kami hanya berdiri berdampingan.

***

Setiap manusia memiliki keunikannya sendiri. Tidak ada dua hati yang benar-benar berjalan dengan langkah yang sama. Namun, ketika kita menemukan seseorang yang mampu memahami cara kita memandang dunia, perjalanan terasa sedikit lebih ringan.

Namanya Aksa.

Sesederhana itu perkenalan kami dimulai. Setelah sore yang dipenuhi aroma hujan itu, aku mengira kami tidak akan pernah bertemu lagi. Kota ini terlalu luas untuk mempertemukan dua orang asing lebih dari sekali. Lagi pula, kami bahkan tidak sempat bertukar nomor telepon. Yang kubawa pulang hanyalah sebuah nama, senyum kecil yang sulit kulupakan, dan segelas kopi hangat yang perlahan kehilangan uapnya di tanganku.

Kupikir pertemuan kami akan berakhir sebagai salah satu kebetulan yang sesekali dikenang, lalu dilupakan. Namun hidup sering kali memiliki rencana yang tidak pernah kita duga.

Dua hari kemudian, aku melihatnya lagi. Saat itu aku sedang mencari buku Psikologi Perkembangan di perpustakaan kampus. Rak-rak kayu menjulang tinggi memenuhi ruangan, menyisakan lorong-lorong sempit yang dipenuhi aroma kertas dan buku-buku lama. Suasana begitu tenang. Hanya terdengar dengungan pendingin ruangan, suara langkah kaki yang sesekali melintas, dan bunyi halaman yang dibalik perlahan.

Tanganku baru saja meraih sebuah buku ketika buku lain di rak sebelah terjatuh hingga mendarat tepat di dekat kakiku. Aku membungkuk. Pada saat yang sama, seseorang ikut mengulurkan tangan. Jari kami nyaris bersentuhan.

Aku mendongak.

“Kita bertemu lagi.” Suara itu langsung kukenal.

Aksa. Ia tersenyum kecil, seolah pertemuan itu adalah hal yang wajar. Aku tidak bisa menahan senyum.

“Ternyata bukan cuma hujan yang mempertemukan kita. Tadinya aku juga berpikir begitu,” katanya pelan. “Tapi sekarang aku mulai curiga perpustakaan ini memang sengaja mempertemukan kita.”

Aku terkekeh.

“Atau jangan-jangan kita memang punya jadwal yang sama.”

“Boleh juga.”

Ia mengangguk pelan. “Daripada menyalahkan semesta.”

Aku tertawa. Percakapan itu begitu sederhana. Tidak ada topik penting. Tidak ada kalimat yang terdengar istimewa. Namun entah mengapa, semuanya terasa ringan.

Aku tidak merasakan kecanggungan yang biasanya muncul saat berbicara dengan orang yang baru dikenal. Seolah-olah kami hanya sedang melanjutkan percakapan yang sempat terhenti di bawah hujan dua hari lalu.

Aksa melirik buku yang masih kupegang. “Psikologi Perkembangan?

Aku mengangguk. “Tugas dosen.”

Ia menghela napas pelan. “Berarti kita senasib.”

“Kamu juga?”

“Iya. Besok presentasi.” Ia mengangkat buku di tangannya.

Aku tertawa kecil. “Aku bahkan belum selesai membaca referensinya.”

“Bagus.”

Aku mengernyit. “Kenapa bagus?”

“Berarti aku bukan satu-satunya yang panik.”

Aku menggeleng sambil tersenyum. Barangkali itulah tawa pertama yang kubagikan kepadanya.


Kami keluar dari perpustakaan hampir bersamaan. Langit mulai berubah jingga. Sisa hujan dua hari lalu masih meninggalkan aroma tanah basah yang samar.

“Kamu pulang naik apa?” tanyanya.

“Bus.”

Ia mengangguk. “Sama.”

Tanpa sadar kami berjalan berdampingan menuju halte. Tidak banyak yang kami bicarakan. Kadang ia bertanya tentang jurusanku. Kadang aku balik bertanya tentang tugas kuliahnya. Lebih sering lagi kami memilih diam.

Anehnya, diam itu tidak pernah terasa canggung. Ada orang-orang yang membuat kita harus terus mencari bahan pembicaraan agar suasana tidak menjadi sepi. Namun ada pula yang membuat keheningan terasa cukup. Aksa termasuk yang kedua.

Saat bus yang kutunggu datang, ia melangkah mundur memberi jalan.

“Sampai ketemu lagi.”

Aku tersenyum. “Iya.”

Bus mulai bergerak meninggalkan halte. Dari balik kaca, kulihat Aksa masih berdiri di tempatnya. Baru ketika bus berbelok meninggalkan jalan utama, sosoknya perlahan menghilang dari pandanganku.

Aku tidak tahu mengapa. Namun sepanjang perjalanan pulang, senyumku belum juga menghilang.

***

Ada orang-orang yang datang bukan untuk mengubah dunia kita. Mereka hanya mengubah cara kita memandangnya.

Aku tidak pernah benar-benar tahu kapan semuanya berubah. Tidak ada pengakuan. Tidak ada bunga. Tidak ada kalimat, Aku menyukaimu.

Perubahan itu datang perlahan, nyaris tanpa suara. Ia menyelinap di sela-sela rutinitas yang tampak biasa, lalu diam-diam menetap di dalam hati.

Suatu pagi, seperti biasa, aku terbangun ketika cahaya matahari mulai merambat masuk melalui celah tirai kamar kos. Hal pertama yang kulakukan bukanlah beranjak ke kamar mandi atau merapikan tempat tidur.

Tanganku justru mencari ponsel di atas nakas. Aku menyalakan layarnya. Kosong. Tidak ada notifikasi. Aku tersenyum kecil, merasa sedikit konyol pada diri sendiri. Sejak kapan aku mulai menunggu pesan darinya setiap pagi?

Aku meletakkan ponsel itu kembali, lalu berjalan membuka jendela. Udara masih basah oleh sisa hujan semalam. Pepohonan di halaman kos tampak lebih hijau dari biasanya. Beberapa burung kecil bertengger di kabel listrik sambil berkicau pelan.

Aku mencoba mengalihkan pikiran. Merapikan buku-buku kuliah. Melipat selimut. Mengambil handuk. Namun, sebelum sempat melangkah ke kamar mandi, suara notifikasi terdengar.

Aku spontan menoleh. Di layar ponsel, satu nama muncul. Aksa.

Selamat pagi. Jangan lupa sarapan.

Pesan itu sederhana. Tidak panjang. Tidak pula terdengar istimewa. Namun tanpa kusadari, sudut bibirku terangkat.

Aku membalas singkat. Pagi juga. Kamu sendiri sudah sarapan?

Balasannya datang hampir seketika. Belum.

Aku mengernyit. Katanya jangan lupa sarapan?

Beberapa detik kemudian muncul pesan baru. Aku mengingatkanmu dulu. Urusan aku belakangan.

Aku terkekeh pelan. Logikanya aneh. Yang penting kamu sarapan.

Aku menggeleng sambil tersenyum. Aneh sekali. Percakapan sesederhana itu mampu memperbaiki suasana hatiku sepanjang pagi.


Hari-hari berikutnya berlalu tanpa banyak kejadian besar. Namun justru di situlah semuanya berubah. Kami masih bertemu di perpustakaan. Masih duduk di bangku taman kampus ketika sore datang.

Masih berjalan berdampingan menuju halte sambil membicarakan banyak hal, mulai dari tugas kuliah, film yang baru kami tonton, sampai pertanyaan-pertanyaan aneh yang tiba-tiba muncul di kepala.

“Apa menurutmu hujan punya bau?” tanyaku suatu sore.

Aksa tertawa kecil. “Harusnya aku yang bertanya begitu.”

“Jawab saja.”

Ia berpikir sejenak. “Bukan hujannya yang punya bau. Tapi tanah yang sedang merasa lega.”

Aku menoleh. “Itu jawaban paling aneh yang pernah kudengar.”

“Tapi kamu suka, kan?”

Aku tidak menjawab. Karena diam-diam memang begitu. Aku selalu menyukai cara Aksa melihat dunia. Hal-hal yang bagiku biasa saja, di matanya selalu memiliki cerita.


Semakin lama, aku semakin mengenal kebiasaannya. Ia selalu datang lima belas menit lebih awal sebelum kelas dimulai. Katanya, terburu-buru membuat pikirannya berantakan. Ia lebih memilih menunggu daripada membuat orang lain menunggu.

Aku juga tahu bahwa setiap kali gugup, ia akan mengusap tengkuknya tanpa sadar. Setiap kali berpikir keras, alis kirinya sedikit terangkat. Dan setiap kali tertawa sungguh-sungguh, matanya akan menyipit hingga hampir tidak terlihat.

Sebaliknya, Aksa pun mulai mengenalku dengan cara yang bahkan tidak kusadari. Ia tahu aku selalu memilih duduk dekat jendela. Ia tahu aku akan memesan teh hangat, bahkan saat cuaca sedang terik. Ia tahu aku tidak suka keramaian. Ia tahu aku akan berkata, Aku baik-baik saja, justru ketika hatiku sedang paling lelah. Namun ia tidak pernah memaksaku menjelaskan.

Ia hanya menemani. Kadang dengan cerita. Kadang dengan secangkir teh. Kadang hanya dengan diam. Dan anehnya, diam bersama Aksa tidak pernah terasa kosong. Diam kami selalu penuh. Penuh pengertian. Penuh rasa aman.


Ada sore-sore ketika aku mulai menyadari bahwa langkah kakiku secara alami mencari sosoknya di antara keramaian kampus.

Ada pagi-pagi ketika senyumku muncul hanya karena melihat namanya di layar ponsel.

Ada malam-malam ketika aku baru sadar telah menceritakan banyak hal kepadanya—hal-hal yang bahkan tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.

Mungkin beginilah cinta tumbuh. Ia tidak datang membawa kembang api. Tidak mengetuk pintu hati dengan suara yang keras. Ia hadir melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Melalui perhatian yang tampak sederhana. Melalui seseorang yang selalu bertanya, “Sudah makan? atau Hati-hati di jalan.

Lalu suatu hari kita tersadar... Ada satu nama yang diam-diam menjadi alasan mengapa hari-hari terasa lebih ringan untuk dijalani. Aku belum berani menyebut perasaan itu cinta. Namun jika ada yang bertanya sejak kapan aku mulai jatuh hati kepada Aksa, mungkin aku tidak akan mampu memberikan satu tanggal pasti.

Karena cinta tidak lahir dalam satu peristiwa. Ia tumbuh sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, tanpa kusadari, seseorang yang dulu hanyalah lelaki asing yang kutemui di bawah hujan telah menjadi tempat yang paling ingin kutuju setiap kali dunia terasa melelahkan.

Dan sejak saat itu aku mengerti... Rumah tidak selalu berupa bangunan. Kadang, rumah adalah seseorang. Rumah itu bernama Aksa.

***

Tidak semua perubahan datang dengan suara yang keras. Ada yang hadir begitu pelan, hingga kita baru menyadarinya ketika semuanya telah berbeda.

Aku tidak pernah benar-benar mengingat hari ketika hubungan kami dimulai. Bukan karena hari itu tidak berarti. Justru karena semuanya terjadi begitu sederhana. Tidak ada bunga. Tidak ada makan malam dengan cahaya lilin. Tidak ada kalimat-kalimat manis yang terdengar seperti dalam film. Yang ada hanyalah kami.

Dua orang yang telah terlalu lama berjalan berdampingan hingga akhirnya menyadari bahwa kami tidak lagi ingin melangkah sendirian.

Sore itu, hujan baru saja berhenti. Bangku taman kampus masih sedikit basah. Aroma tanah yang diguyur hujan memenuhi udara, sementara langit perlahan berubah jingga. Kami duduk berdampingan, menikmati keheningan yang sejak lama terasa akrab.

Aksa memecah diam lebih dulu. “Aku boleh tanya sesuatu?”

Aku menoleh dan mengangguk pelan. “Boleh.”

Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Menurutmu... kita ini apa?”

Aku menatapnya beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak kami saling mengenal, aku melihat keraguan di wajahnya. Lelaki yang biasanya selalu tenang itu kini tampak gugup. Tangannya tanpa sadar mengusap tengkuknya, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa cemas.

“Aku tidak tahu,” Aku tersenyum kecil. “Tapi aku tahu satu hal. Aku sudah terbiasa ada kamu.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa sempat kupikirkan. Tanpa kusadari, ternyata itulah jawaban yang selama ini bersembunyi di dalam hatiku.

Aksa menundukkan kepala sebentar, lalu tersenyum. “Aku juga.” Suaranya hampir tenggelam oleh embusan angin. “Aku tidak ingin kita berhenti hanya sebagai teman.”

Jantungku berdetak lebih cepat. Bukan karena terkejut. Melainkan karena akhirnya seseorang mengucapkan apa yang diam-diam sama-sama kami rasakan.

Aku memandangnya cukup lama. Kemudian mengangguk.

“Kalau begitu...” Aku menarik napas pelan. “Kita jalanin sama-sama.”

Senyum Aksa mengembang begitu lebar hingga matanya hampir menghilang. Hari itu tidak ada pelukan. Tidak ada genggaman tangan. Tidak ada janji-janji besar. Namun entah mengapa, aku merasa telah menemukan tempat untuk pulang.


Hari-hari setelahnya berjalan dengan tenang. Tidak banyak yang berubah. Kami masih belajar bersama di perpustakaan. Masih saling berebut buku yang sama. Masih berjalan menuju halte sambil membicarakan hal-hal yang sering kali tidak penting. Masih saling mengingatkan untuk sarapan. Bedanya, kini tidak ada lagi keraguan setiap kali mata kami bertemu.

Suatu pagi Aksa datang membawa dua bungkus roti dan dua gelas teh hangat. “Aku tahu kamu belum sempat sarapan.”

Aku tertawa kecil. “Kamu ini seperti Ibu.”

“Ibumu pasti senang kalau ada yang mengingatkan.”

Aku tersenyum. “Iya.”

Sejak hari itu, sarapan bersama menjadi kebiasaan baru. Kadang hanya roti isi. Kadang bubur ayam langganan di depan kampus. Kadang sekadar teh hangat yang kami minum sambil duduk di anak tangga gedung fakultas.

Saat itu aku mulai percaya bahwa kebahagiaan memang tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Sering kali ia datang dalam bentuk perhatian-perhatian kecil yang dilakukan berulang-ulang.


Namun, seperti musim yang perlahan berganti, hubungan kami pun mulai berubah. Awalnya hampir tidak terasa. Aksa semakin sibuk. Selain kuliah, ia aktif di organisasi kampus dan bekerja paruh waktu setiap akhir pekan.

Aku memahami alasannya. Ia ingin membantu kedua orang tuanya. Ia sedang mengejar masa depan yang sejak lama diimpikannya. Karena itu, setiap kali ia berkata, “Maaf, aku harus berangkat kerja.” atau, “Nanti kita lanjut lagi, ya.”

Aku selalu mengangguk. “Tidak apa-apa.” Aku mengatakannya dengan tulus. Setidaknya, pada awalnya.

Lama-kelamaan, percakapan kami tidak lagi sepanjang dulu. Telepon yang biasanya menemani malam hingga larut kini berakhir hanya dalam beberapa menit. Pesan-pesan yang dahulu segera dibalas mulai menunggu berjam-jam.

Aku berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Kesibukan memang bisa mengubah banyak hal. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang egois. Aku tidak ingin menambah beban di pundaknya. Karena itu, aku memilih diam.


Suatu sore kami berjanji bertemu di perpustakaan. Aku datang lebih awal seperti biasa. Satu jam berlalu. Bangku di hadapanku masih kosong. Aku beberapa kali menoleh ke arah pintu masuk. Namun Aksa tak kunjung datang.

Layar ponselku tetap sunyi. Hingga ketika aku memutuskan untuk pulang, sebuah pesan akhirnya masuk.

Maaf. Aku diminta menggantikan teman kerja. Aku lupa memberi kabar.

Aku membaca pesan itu berkali-kali. Tidak ada kemarahan yang muncul. Hanya rasa kecewa yang perlahan memenuhi dada. Bukan karena ia membatalkan janji. Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku merasa tidak lagi menjadi bagian dari hal-hal yang ia ingat.


Hari-hari berikutnya, kejadian serupa mulai berulang. Janji yang tertunda. Pesan yang dibalas semakin lama. Percakapan yang semakin singkat. Tidak pernah ada pertengkaran. Tidak pernah ada suara yang meninggi. Yang ada hanyalah keheningan yang perlahan tumbuh di antara kami.

Keheningan yang mula-mula terasa biasa, lalu berubah menjadi jarak. Aku sering bertanya kepada diri sendiri. Apakah cinta memang berubah? Atau kami yang terlalu sibuk hingga lupa merawatnya?

Aku tidak menemukan jawabannya. Aku hanya tahu bahwa setiap hubungan memiliki musimnya masing-masing. Ada musim ketika bunga-bunga bermekaran. Ada musim ketika daun-daun mulai gugur. Dan tanpa kusadari, kami sedang melangkah menuju musim yang berbeda.

Saat itu aku masih percaya semuanya akan kembali seperti semula. Aku belum tahu bahwa perubahan terbesar dalam hidup sering kali tidak dimulai oleh sebuah perpisahan. Melainkan oleh hal-hal kecil yang perlahan berhenti kita sadari.


Di masa-masa ketika aku belajar berdamai, seseorang diam-diam selalu hadir.

Rendra.

***

Tidak semua perpisahan dimulai oleh pertengkaran. Ada yang lahir dari diam yang dibiarkan tumbuh terlalu lama.

Hubungan kami tidak berakhir dalam satu hari. Ia retak sedikit demi sedikit. Seperti kaca yang mula-mula hanya memiliki satu garis halus, lalu perlahan dipenuhi pecahan yang tak lagi bisa disatukan.

Setelah hari ketika Aksa lupa menemuiku di perpustakaan, aku berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya masih baik-baik saja. Mungkin ia benar-benar sibuk. Mungkin aku hanya terlalu sensitif. Mungkin semua pasangan pernah melewati masa seperti ini.

Aku terus mencari alasan agar hatiku tetap tenang. Namun, alasan tidak selalu mampu mengalahkan perasaan. Kami masih saling mengirim pesan. Masih saling mengucapkan selamat pagi. Masih bertanya apakah sudah makan. Tetapi semuanya terasa berbeda.

Percakapan kami semakin pendek. Tawa yang dulu mengalir begitu mudah kini terasa dipaksakan. Keheningan mulai mengambil tempat yang dulu diisi oleh cerita.

Aku merindukan Aksa yang dulu. Lelaki yang rela menungguiku di perpustakaan. Yang mengingatkan agar aku tidak melewatkan sarapan. Yang selalu mendengarkan setiap kali aku ingin bercerita. Kini ia masih orang yang sama. Namun entah mengapa, rasanya begitu jauh.


Suatu malam, aku akhirnya memberanikan diri bertanya. “Apa akhir-akhir ini kamu menghindariku?”

Pesanku hanya dibaca. Balasannya baru datang hampir satu jam kemudian.

Tidak. Aku cuma lagi capek.

Aku memandang layar ponsel cukup lama.

Capek. Satu kata. Sesederhana itu. Namun kata itu terasa seperti tembok yang tiba-tiba berdiri di antara kami. Aku ingin bertanya lebih banyak. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi aku takut. Takut jika jawaban yang kudengar justru menjadi awal dari akhir yang selama ini kuhindari.


Beberapa hari kemudian kami bertemu. Kami duduk di bangku taman yang sama. Tempat di mana dulu kami memutuskan untuk berjalan bersama. Namun sore itu terasa berbeda. Tidak ada cerita. Tidak ada tawa. Yang terdengar hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun kering.

“Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku pelan.

Aksa mengangguk. Tatapannya tertuju ke tanah. “Aku merasa... “ Kalimatnya menggantung. “...akhir-akhir ini kita sama-sama berubah.”

Dadaku perlahan mengencang. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu.” Ia mengusap tengkuknya. “Kita sama-sama sibuk.”

"Aku bisa mengerti itu.”

“Aku tahu.” Ia menarik napas panjang. “Aku takut terus menyakitimu.”

Aku tersenyum getir. “Kamu baru menyakitiku kalau berhenti berusaha.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Namun Aksa hanya terdiam. Diamnya lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Hari itu kami pulang dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Tidak ada yang saling menggenggam. Tidak ada yang berusaha menghentikan langkah yang lain. Seolah kami sama-sama tahu bahwa sesuatu sedang perlahan menjauh. Bukan tubuh kami. Melainkan hati kami.


Beberapa hari setelahnya, Aksa mengajakku bertemu lagi. Sore itu langit mendung. Persis seperti hari pertama kami bertemu.

“Aku minta maaf.”

Hanya tiga kata. Pendek. Sederhana. Namun cukup untuk mengubah seluruh arah hidupku.

“Aku rasa... kita sebaiknya berhenti di sini.”

Aku memandangnya. Untuk sesaat, aku berharap ia akan mengatakan bahwa semua ini hanya karena lelah. Bahwa besok semuanya akan kembali seperti dulu. Namun harapan itu tidak pernah datang.

Aku mengangguk pelan. Tidak ada air mata. Tidak ada kemarahan. Aku hanya tersenyum. Karena aku tahu, ada perpisahan yang tidak membutuhkan pertengkaran.

Kadang cinta berakhir bukan karena tidak ada rasa. Melainkan karena dua orang yang saling mencintai tidak lagi mampu berjalan ke arah yang sama.

Hari itu, kami pulang melalui jalan yang berbeda. Dan tanpa kusadari, aku sedang mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang pernah menjadi rumah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar