“Hal-hal terindah di dunia sering kali tidak dapat
dilihat oleh mata, melainkan dirasakan oleh hati.”
Aku pernah berpikir bahwa cinta adalah
tentang memiliki. Tentang seseorang yang selalu pulang ke arah yang sama.
Tentang dua tangan yang saling menggenggam tanpa pernah terlepas. Tentang janji
yang akan tetap utuh meski musim berganti.
Waktu itu aku masih percaya bahwa setiap
orang yang datang akan tinggal. Bahwa setiap pelukan akan selalu menemukan
jalan pulang. Bahwa semua kisah memiliki akhir yang sama: bahagia.
Aku baru menyadari betapa naifnya pemikiran itu ketika kehidupan mulai memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya. Hidup tidak pernah bertanya apakah kita siap menerima kenyataan. Ia hanya datang, membawa pertemuan, menghadiahkan kebahagiaan, lalu diam-diam mengajarkan cara melepaskan. Aku belajar semua itu jauh sebelum mengenal arti patah hati.
***
Namaku Aluna. Ibuku pernah berkata bahwa
namaku berarti cahaya bulan.
“Bulan tidak pernah bersinar untuk dirinya
sendiri,” katanya suatu malam ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. “Ia
memantulkan cahaya untuk menerangi langit yang gelap.”
Aku mengangguk saat itu meski belum
benar-benar memahami maksudnya. Aku tumbuh di sebuah kota kecil yang
dikelilingi sawah dan pepohonan. Rumah kami sederhana. Cat dindingnya mulai
memudar dimakan usia, tetapi selalu terasa hangat.
Ayah bekerja sebagai guru. Ibu membuka
usaha menjahit di ruang depan rumah. Aku anak pertama dari dua bersaudara.
Adikku, Dimas, berbeda lima tahun dariku. Ia sering membuat rumah menjadi ramai
dengan tingkah usilnya.
Hidup kami tidak mewah. Namun setiap malam,
kami selalu makan bersama. Ayah selalu bertanya bagaimana hariku. Ibu akan
mendengarkan semua cerita, bahkan cerita yang menurutku tidak penting.
Sejak kecil aku percaya bahwa rumah bukan
tentang bangunan. Rumah adalah tempat di mana seseorang tetap ingin
mendengarkanmu meskipun cerita yang kau bawa hanya tentang hujan yang turun
lebih deras daripada biasanya.
Aku bukan anak yang mudah berteman. Aku
lebih suka duduk di dekat jendela kelas sambil memperhatikan awan daripada
berlarian di halaman sekolah. Teman-temanku sering berkata aku terlalu pendiam.
Padahal sebenarnya bukan itu.
Aku hanya lebih senang mendengarkan. Menurutku,
setiap orang memiliki cerita. Ada yang tertawa karena benar-benar bahagia. Ada
pula yang tertawa karena tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ia sedang
terluka.
Aku sering bertanya-tanya, berapa banyak
senyum yang sebenarnya sedang menyembunyikan air mata? Pertanyaan-pertanyaan
seperti itu membuatku terlihat aneh di mata teman-teman seusiaku.
Namun Ayah selalu berkata, “Jangan takut
menjadi berbeda. Dunia justru membutuhkan lebih banyak orang yang mau
mendengarkan.”
Kalimat itu terus tinggal bersamaku.
Masa remaja datang bersama perubahan yang
tidak pernah kuundang. Aku mulai mengenal perasaan iri. Aku iri melihat
teman-temanku yang mudah mengungkapkan isi hati.
Mereka tertawa tanpa beban. Mereka jatuh
cinta dengan sederhana. Sedangkan aku. Aku selalu memikirkan segala sesuatu
terlalu dalam. Aku takut mengecewakan orang lain. Takut ditinggalkan. Takut
dianggap tidak cukup. Karena itulah aku terbiasa menyimpan semuanya sendirian.
Ketika sedih, aku memilih diam. Ketika
marah, aku memilih tersenyum. Ketika kecewa, aku berkata, “Tidak apa-apa.” Padahal
ada banyak hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar baik-baik saja.
Satu kebiasaan yang tidak pernah berubah
adalah hujan. Aku selalu menyukai hujan. Bukan karena hujan membuat dunia
menjadi dingin. Melainkan karena hujan membuat semua orang berjalan lebih
pelan.
Seolah-olah alam sedang meminta manusia
berhenti sejenak dari kesibukannya. Aku sering duduk di teras rumah ditemani
secangkir teh hangat. Mendengarkan suara air yang jatuh di genting. Mencium
aroma tanah yang basah.
Menurutku, hujan adalah satu-satunya hal
yang mampu membuat dunia terasa jujur. Tak ada yang berpura-pura kuat di bawah
hujan. Air mata pun tak lagi terlihat berbeda.
Ketika lulus SMA, aku memutuskan merantau
ke kota. Banyak orang berkata hidup di kota akan mengubah seseorang. Mungkin
mereka benar. Kota mengajariku bahwa waktu berjalan jauh lebih cepat.
Orang-orang datang dan pergi tanpa sempat
saling mengenal. Tetangga tidak selalu mengetahui nama orang yang tinggal di
sebelah rumahnya. Setiap orang sibuk mengejar mimpinya masing-masing.
Di kota itulah aku mulai belajar hidup
sendirian. Belajar memasak meski sering gagal. Belajar mencuci pakaian tengah
malam. Belajar menyembunyikan rindu agar Ibu tidak ikut bersedih ketika
menelepon.
“Apa kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Ibu
hampir setiap malam.
“Iya, Bu.” Jawaban itu selalu sama.
Padahal sering kali aku baru saja menangis
beberapa menit sebelumnya. Aku tidak ingin rumah ikut merasa sepi hanya karena
aku sedang tidak baik-baik saja.
Aku mulai percaya bahwa menjadi dewasa
adalah tentang berpura-pura kuat. Sampai akhirnya aku bertemu seseorang yang
membuatku sadar bahwa tidak apa-apa menjadi rapuh.
Pertemuan itu terjadi pada suatu sore. Langit
menggantungkan awan-awan kelabu sejak siang. Aku baru keluar dari perpustakaan
kampus ketika hujan turun tanpa aba-aba.
Orang-orang berlarian mencari tempat
berteduh. Aku berdiri di bawah atap halte sambil memeluk tas ransel. Hujan
selalu berhasil membuatku lupa waktu. Aku terlalu sibuk memandangi butiran air
yang jatuh hingga tidak menyadari seseorang berdiri di sampingku.
“Kalau hujannya tidak berhenti, kita bisa
pulang besok.”
Suara itu membuatku menoleh. Seorang lelaki
mengenakan jaket biru sedang tersenyum kecil. Tangannya memegang dua gelas kopi
yang masih mengepulkan uap.
Aku hanya tersenyum tipis. “Aku suka hujan.”
Ia mengangguk pelan. “Aku juga.” Tidak ada
percakapan panjang setelah itu.
Kami hanya berdiri berdampingan.
***
“Setiap manusia memiliki keunikannya sendiri. Tidak ada dua
hati yang benar-benar berjalan dengan langkah yang sama. Namun, ketika kita
menemukan seseorang yang mampu memahami cara kita memandang dunia, perjalanan
terasa sedikit lebih ringan.”
Namanya Aksa.
Sesederhana itu perkenalan kami dimulai. Setelah sore yang dipenuhi aroma hujan itu, aku mengira kami tidak akan pernah bertemu lagi. Kota ini terlalu luas untuk mempertemukan dua orang asing lebih dari sekali.
Lagi pula, kami bahkan tidak sempat bertukar nomor telepon. Yang kubawa
pulang hanyalah sebuah nama, senyum kecil yang sulit kulupakan, dan segelas
kopi hangat yang perlahan kehilangan uapnya di tanganku.
Kupikir pertemuan kami akan berakhir
sebagai salah satu kebetulan yang sesekali dikenang, lalu dilupakan. Namun
hidup sering kali memiliki rencana yang tidak pernah kita duga.
Dua hari kemudian, aku melihatnya lagi. Saat
itu aku sedang mencari buku Psikologi
Perkembangan di perpustakaan kampus. Rak-rak kayu menjulang tinggi
memenuhi ruangan, menyisakan lorong-lorong sempit yang dipenuhi aroma kertas
dan buku-buku lama. Suasana begitu tenang. Hanya terdengar suara pendingin
ruangan, suara langkah kaki yang sesekali melintas, dan bunyi halaman yang
dibalik perlahan.
Tanganku baru saja meraih sebuah buku
ketika buku lain di rak sebelah terjatuh hingga mendarat tepat di dekat kakiku.
Aku membungkuk. Pada saat yang sama, seseorang ikut mengulurkan tangan. Jari
kami nyaris bersentuhan.
Aku mendongak.
“Kita bertemu lagi.”
Suara itu langsung kukenal. Aksa. Ia tersenyum kecil, seolah pertemuan itu adalah hal yang wajar. Aku tidak bisa menahan senyum.
“Ternyata bukan cuma hujan yang
mempertemukan kita. Tadinya aku juga berpikir begitu,” katanya pelan. “Tapi
sekarang aku mulai curiga perpustakaan ini memang sengaja mempertemukan kita.”
Aku terkekeh. “Atau jangan-jangan kita memang punya jadwal yang sama.”
“Boleh juga.” Ia mengangguk pelan. “Daripada menyalahkan semesta.”
Aku tertawa. Percakapan itu begitu
sederhana. Tidak ada topik penting. Tidak ada kalimat yang terdengar istimewa. Namun
entah mengapa, semuanya terasa ringan.
Aku tidak merasakan kecanggungan yang
biasanya muncul saat berbicara dengan orang yang baru dikenal. Seolah-olah kami
hanya sedang melanjutkan percakapan yang sempat terhenti di bawah hujan dua
hari lalu.
Aksa melirik buku yang masih kupegang. “Psikologi Perkembangan?”
Aku mengangguk. “Tugas dosen.”
Ia menghela napas pelan. “Berarti kita
senasib.”
“Kamu juga?”
“Iya. Besok presentasi.” Ia mengangkat buku
di tangannya.
Aku tertawa kecil. “Aku bahkan belum
selesai membaca referensinya.”
“Bagus.”
Aku mengernyit. “Kenapa bagus?”
“Berarti aku bukan satu-satunya yang panik.”
Aku menggeleng sambil tertawa. Barangkali
itulah tawa pertama yang kubagikan kepadanya.
Kami keluar dari perpustakaan hampir
bersamaan. Langit mulai berubah jingga. Sisa hujan dua hari lalu masih
meninggalkan aroma tanah basah yang samar.
“Kamu pulang naik apa?” tanyanya.
“Bus.”
Ia mengangguk. “Sama.”
Tanpa sadar kami berjalan berdampingan
menuju halte. Tidak banyak yang kami bicarakan. Kadang ia bertanya tentang
jurusanku. Kadang aku balik bertanya tentang tugas kuliahnya. Lebih sering lagi
kami memilih diam.
Anehnya, diam itu tidak pernah terasa
canggung. Ada orang-orang yang membuat kita harus terus mencari bahan
pembicaraan agar suasana tidak menjadi sepi. Namun ada pula yang membuat
keheningan terasa cukup. Aksa termasuk yang kedua.
Saat bus yang kutunggu datang, ia melangkah
mundur memberi jalan.
“Sampai ketemu lagi.”
Aku tersenyum. “Iya.”
Bus mulai bergerak meninggalkan halte. Dari
balik kaca, kulihat Aksa masih berdiri di tempatnya. Baru ketika bus berbelok
meninggalkan jalan utama, sosoknya perlahan menghilang dari pandanganku.
Aku tidak tahu mengapa. Namun sepanjang
perjalanan pulang, senyumku belum juga menghilang.
***
“Ada orang-orang yang datang bukan untuk mengubah dunia kita.
Mereka hanya mengubah cara kita memandangnya.”
Aku tidak pernah benar-benar tahu kapan
semuanya berubah. Tidak ada pengakuan. Tidak ada bunga. Tidak ada kalimat, “Aku menyukaimu.”
Perubahan itu datang perlahan, nyaris tanpa
suara. Ia menyelinap di sela-sela rutinitas yang tampak biasa, lalu diam-diam
menetap di dalam hati.
Suatu pagi, seperti biasa, aku terbangun
ketika cahaya matahari mulai merambat masuk melalui celah tirai kamar kos. Hal
pertama yang kulakukan bukanlah beranjak ke kamar mandi atau merapikan tempat
tidur.
Tanganku justru mencari ponsel di atas
nakas. Aku menyalakan layarnya. Kosong. Tidak ada notifikasi. Aku tersenyum
kecil, merasa sedikit konyol pada diri sendiri. Sejak kapan aku mulai menunggu
pesan darinya setiap pagi?
Aku meletakkan ponsel itu kembali, lalu
berjalan membuka jendela. Udara masih basah oleh sisa hujan semalam. Pepohonan
di halaman kos tampak lebih hijau dari biasanya. Beberapa burung kecil bertengger
di kabel listrik sambil berkicau pelan.
Aku mencoba mengalihkan pikiran. Merapikan buku-buku kuliah. Melipat selimut. Mengambil handuk. Namun, sebelum sempat melangkah ke kamar mandi, suara notifikasi terdengar.
Aku spontan menoleh. Di layar ponsel, satu nama muncul. Aksa.
Selamat pagi. Jangan lupa sarapan.
Pesan itu sederhana. Tidak panjang. Tidak
pula terdengar istimewa. Namun tanpa kusadari, sudut bibirku terangkat.
Aku membalas singkat. Pagi juga. Kamu sendiri sudah sarapan?
Balasannya datang hampir seketika. Belum.
Aku mengernyit. Katanya jangan lupa sarapan?
Beberapa detik kemudian muncul pesan baru. Aku mengingatkanmu dulu. Urusan aku
belakangan.
Aku terkekeh pelan. Logikanya aneh. Yang penting kamu sarapan.
Aku menggeleng sambil tersenyum. Aneh
sekali. Percakapan sesederhana itu mampu memperbaiki suasana hatiku sepanjang
pagi.
Hari-hari berikutnya berlalu tanpa banyak
kejadian besar. Namun justru di situlah semuanya berubah. Kami masih bertemu di
perpustakaan. Masih duduk di bangku taman kampus ketika sore datang.
Masih berjalan berdampingan menuju halte
sambil membicarakan banyak hal, mulai dari tugas kuliah, film yang baru kami
tonton, sampai pertanyaan-pertanyaan aneh yang tiba-tiba muncul di kepala.
“Apa menurutmu hujan punya bau?” tanyaku
suatu sore.
Aksa tertawa kecil. “Harusnya aku yang
bertanya begitu.”
“Jawab saja.”
Ia berpikir sejenak. “Bukan hujannya yang
punya bau. Tapi tanah yang sedang merasa lega.”
Aku menoleh. “Itu jawaban paling aneh yang
pernah kudengar.”
“Tapi kamu suka, kan?”
Aku tidak menjawab. Karena diam-diam memang
begitu. Aku selalu menyukai cara Aksa melihat dunia. Hal-hal yang bagiku biasa
saja, di matanya selalu memiliki cerita.
Semakin lama, aku semakin mengenal
kebiasaannya. Ia selalu datang lima belas menit lebih awal sebelum kelas
dimulai. Katanya, terburu-buru membuat pikirannya berantakan. Ia lebih memilih
menunggu daripada membuat orang lain menunggu.
Aku juga tahu bahwa setiap kali gugup, ia
akan mengusap tengkuknya tanpa sadar. Setiap kali berpikir keras, alis kirinya
sedikit terangkat. Dan setiap kali tertawa sungguh-sungguh, matanya akan
menyipit hingga hampir tidak terlihat.
Sebaliknya, Aksa pun mulai mengenalku
dengan cara yang bahkan tidak kusadari. Ia tahu aku selalu memilih duduk dekat
jendela. Ia tahu aku akan memesan teh hangat, bahkan saat cuaca sedang terik. Ia
tahu aku tidak suka keramaian. Ia tahu aku akan berkata, “Aku baik-baik saja,” justru
ketika hatiku sedang paling lelah. Namun ia tidak pernah memaksaku menjelaskan.
Ia hanya menemani. Kadang dengan cerita. Kadang
dengan secangkir teh. Kadang hanya dengan diam. Dan anehnya, diam bersama Aksa
tidak pernah terasa kosong. Diam kami selalu penuh. Penuh pengertian. Penuh
rasa aman.
Ada sore-sore ketika aku mulai menyadari
bahwa langkah kakiku secara alami mencari sosoknya di antara keramaian kampus.
Ada pagi-pagi ketika senyumku muncul hanya
karena melihat namanya di layar ponsel.
Ada malam-malam ketika aku baru sadar telah
menceritakan banyak hal kepadanya—hal-hal yang bahkan tidak pernah kuceritakan
kepada siapa pun.
Mungkin beginilah cinta tumbuh. Ia tidak
datang membawa kembang api. Tidak mengetuk pintu hati dengan suara yang keras. Ia
hadir melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Melalui perhatian yang tampak sederhana. Melalui seseorang yang selalu bertanya, “Sudah makan?” atau “Hati-hati di jalan.” Lalu suatu hari kita tersadar... Ada satu nama yang diam-diam menjadi alasan mengapa hari-hari terasa lebih ringan untuk dijalani. Aku belum berani menyebut perasaan itu cinta.
Namun jika ada yang bertanya sejak kapan aku mulai jatuh hati kepada Aksa, mungkin aku tidak akan mampu memberikan satu tanggal pasti. Karena cinta tidak lahir dalam satu peristiwa. Ia tumbuh sedikit demi sedikit.
Hingga akhirnya, tanpa kusadari, seseorang yang dulu hanyalah lelaki asing yang kutemui di bawah hujan telah menjadi tempat yang paling ingin kutuju setiap kali dunia terasa melelahkan. Dan sejak saat itu aku mengerti. Rumah tidak selalu berupa bangunan. Kadang, rumah adalah seseorang. Rumah itu bernama Aksa.
***
“Tidak semua perubahan datang dengan suara yang keras. Ada yang
hadir begitu pelan, hingga kita baru menyadarinya ketika semuanya telah
berbeda.”
Aku tidak pernah benar-benar mengingat hari
ketika hubungan kami dimulai. Bukan karena hari itu tidak berarti. Justru
karena semuanya terjadi begitu sederhana. Tidak ada bunga. Tidak ada makan
malam dengan cahaya lilin. Tidak ada kalimat-kalimat manis yang terdengar
seperti dalam film. Yang ada hanyalah kami.
Dua orang yang telah terlalu lama berjalan
berdampingan hingga akhirnya menyadari bahwa kami tidak lagi ingin melangkah
sendirian.
Sore itu, hujan baru saja berhenti. Bangku
taman kampus masih sedikit basah. Aroma tanah yang diguyur hujan memenuhi
udara, sementara langit perlahan berubah jingga. Kami duduk berdampingan,
menikmati keheningan yang sejak lama terasa akrab.
Aksa memecah diam lebih dulu. “Aku boleh
tanya sesuatu?”
Aku menoleh dan mengangguk pelan. “Boleh.”
Ia menarik napas panjang, seolah sedang
mengumpulkan keberanian. “Menurutmu... kita ini apa?”
Aku menatapnya beberapa saat. Untuk pertama
kalinya sejak kami saling mengenal, aku melihat keraguan di wajahnya. Lelaki
yang biasanya selalu tenang itu kini tampak gugup. Tangannya tanpa sadar
mengusap tengkuknya, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa cemas.
“Aku tidak tahu,” Aku tersenyum kecil. “Tapi
aku tahu satu hal. Aku sudah terbiasa ada kamu.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa
sempat kupikirkan. Tanpa kusadari, ternyata itulah jawaban yang selama ini
bersembunyi di dalam hatiku.
Aksa menundukkan kepala sebentar, lalu
tersenyum. “Aku juga.” Suaranya hampir tenggelam oleh embusan angin. “Aku tidak
ingin kita berhenti hanya sebagai teman.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Bukan
karena terkejut. Melainkan karena akhirnya seseorang mengucapkan apa yang
diam-diam sama-sama kami rasakan.
Aku memandangnya cukup lama. Kemudian mengangguk. “Kalau begitu...” Aku menarik napas pelan. “Kita jalanin sama-sama.”
Senyum Aksa mengembang begitu lebar hingga
matanya hampir menghilang. Hari itu tidak ada pelukan. Tidak ada genggaman
tangan. Tidak ada janji-janji besar. Namun entah mengapa, aku merasa telah
menemukan tempat untuk pulang.
Hari-hari setelahnya berjalan dengan
tenang. Tidak banyak yang berubah. Kami masih belajar bersama di perpustakaan. Masih
saling berebut buku yang sama. Masih berjalan menuju halte sambil membicarakan
hal-hal yang sering kali tidak penting. Masih saling mengingatkan untuk
sarapan. Bedanya, kini tidak ada lagi keraguan setiap kali mata kami bertemu.
Suatu pagi Aksa datang membawa dua bungkus
roti dan dua gelas teh hangat. “Aku tahu kamu belum sempat sarapan.”
Aku tertawa kecil. “Kamu ini seperti Ibu.”
“Ibumu pasti senang kalau ada yang
mengingatkan.”
Aku tersenyum. “Iya.”
Sejak hari itu, sarapan bersama menjadi
kebiasaan baru. Kadang hanya roti isi. Kadang bubur ayam langganan di depan
kampus. Kadang sekadar teh hangat yang kami minum sambil duduk di anak tangga
gedung fakultas.
Saat itu aku mulai percaya bahwa
kebahagiaan memang tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Sering kali ia
datang dalam bentuk perhatian-perhatian kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Namun, seperti musim yang perlahan
berganti, hubungan kami pun mulai berubah. Awalnya hampir tidak terasa. Aksa
semakin sibuk. Selain kuliah, ia aktif di organisasi kampus dan bekerja paruh
waktu setiap akhir pekan.
Aku memahami alasannya. Ia ingin membantu
kedua orang tuanya. Ia sedang mengejar masa depan yang sejak lama diimpikannya.
Karena itu, setiap kali ia berkata, “Maaf, aku harus berangkat kerja.” atau, “Nanti
kita lanjut lagi, ya.”
Aku selalu mengangguk. “Tidak apa-apa.” Aku
mengatakannya dengan tulus. Setidaknya, pada awalnya.
Lama-kelamaan, percakapan kami tidak lagi
sepanjang dulu. Telepon yang biasanya menemani malam hingga larut kini berakhir
hanya dalam beberapa menit. Pesan-pesan yang dahulu segera dibalas mulai
menunggu berjam-jam.
Aku berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya
baik-baik saja. Kesibukan memang bisa mengubah banyak hal. Aku tidak ingin
menjadi seseorang yang egois. Aku tidak ingin menambah beban di pundaknya. Karena
itu, aku memilih diam.
Suatu sore kami berjanji bertemu di
perpustakaan. Aku datang lebih awal seperti biasa. Satu jam berlalu. Bangku di
hadapanku masih kosong. Aku beberapa kali menoleh ke arah pintu masuk. Namun
Aksa tak kunjung datang.
Layar ponselku tetap sunyi. Hingga ketika
aku memutuskan untuk pulang, sebuah pesan akhirnya masuk.
Maaf. Aku diminta menggantikan teman kerja.
Aku lupa memberi kabar.
Aku membaca pesan itu berkali-kali. Tidak
ada kemarahan yang muncul. Hanya rasa kecewa yang perlahan memenuhi dada. Bukan
karena ia membatalkan janji. Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku merasa
tidak lagi menjadi bagian dari hal-hal yang ia ingat.
Hari-hari berikutnya, kejadian serupa mulai
berulang. Janji yang tertunda. Pesan yang dibalas semakin lama. Percakapan yang
semakin singkat. Tidak pernah ada pertengkaran. Tidak pernah ada suara yang
meninggi. Yang ada hanyalah keheningan yang perlahan tumbuh di antara kami.
Keheningan yang mula-mula terasa biasa,
lalu berubah menjadi jarak. Aku sering bertanya kepada diri sendiri. Apakah
cinta memang berubah? Atau kami yang terlalu sibuk hingga lupa merawatnya?
Aku tidak menemukan jawabannya. Aku hanya
tahu bahwa setiap hubungan memiliki musimnya masing-masing. Ada musim ketika
bunga-bunga bermekaran. Ada musim ketika daun-daun mulai gugur. Dan tanpa
kusadari, kami sedang melangkah menuju musim yang berbeda.
Saat itu aku masih percaya semuanya akan
kembali seperti semula. Aku belum tahu bahwa perubahan terbesar dalam hidup
sering kali tidak dimulai oleh sebuah perpisahan. Melainkan oleh hal-hal kecil
yang perlahan berhenti kita sadari.
Di masa-masa ketika aku belajar berdamai, seseorang diam-diam selalu
hadir.
Rendra.
***
“Tidak semua perpisahan dimulai oleh pertengkaran. Ada yang
lahir dari diam yang dibiarkan tumbuh terlalu lama.”
Hubungan kami tidak berakhir dalam satu
hari. Ia retak sedikit demi sedikit. Seperti kaca yang mula-mula hanya memiliki
satu garis halus, lalu perlahan dipenuhi pecahan yang tak lagi bisa disatukan.
Setelah hari ketika Aksa lupa menemuiku di
perpustakaan, aku berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Mungkin ia benar-benar sibuk. Mungkin aku hanya terlalu sensitif. Mungkin semua
pasangan pernah melewati masa seperti ini.
Aku terus mencari alasan agar hatiku tetap
tenang. Namun, alasan tidak selalu mampu mengalahkan perasaan. Kami masih
saling mengirim pesan. Masih saling mengucapkan selamat pagi. Masih bertanya
apakah sudah makan. Tetapi semuanya terasa berbeda.
Percakapan kami semakin pendek. Tawa yang
dulu mengalir begitu mudah kini terasa dipaksakan. Keheningan mulai mengambil
tempat yang dulu diisi oleh cerita.
Aku merindukan Aksa yang dulu. Lelaki yang
rela menungguiku di perpustakaan. Yang mengingatkan agar aku tidak melewatkan
sarapan. Yang selalu mendengarkan setiap kali aku ingin bercerita. Kini ia
masih orang yang sama. Namun entah mengapa, rasanya begitu jauh.
Suatu malam, aku akhirnya memberanikan diri
bertanya. “Apa akhir-akhir ini kamu menghindariku?”
Pesanku hanya dibaca. Balasannya baru
datang hampir satu jam kemudian.
Tidak. Aku cuma lagi capek.
Aku memandang layar ponsel cukup lama. Capek. Satu kata. Sesederhana itu.
Namun kata itu terasa seperti tembok yang tiba-tiba berdiri di antara kami. Aku ingin bertanya lebih banyak. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi aku takut. Takut jika jawaban yang kudengar justru menjadi awal dari akhir yang selama ini kuhindari.
Beberapa hari kemudian kami bertemu. Kami
duduk di bangku taman yang sama. Tempat di mana dulu kami memutuskan untuk
berjalan bersama. Namun sore itu terasa berbeda. Tidak ada cerita. Tidak ada
tawa. Yang terdengar hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun kering.
“Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku
pelan.
Aksa mengangguk. Tatapannya tertuju ke
tanah. “Aku merasa... “ Kalimatnya menggantung. “...akhir-akhir ini kita
sama-sama berubah.”
Dadaku perlahan mengencang. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak tahu.” Ia mengusap tengkuknya. “Kita
sama-sama sibuk.”
“Aku bisa mengerti itu.”
“Aku tahu.” Ia menarik napas panjang. “Aku
takut terus menyakitimu.”
Aku tersenyum getir. “Kamu baru menyakitiku
kalau berhenti berusaha.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Namun Aksa
hanya terdiam. Diamnya lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Hari itu kami pulang dengan langkah yang
lebih lambat dari biasanya. Tidak ada yang saling menggenggam. Tidak ada yang
berusaha menghentikan langkah yang lain. Seolah kami sama-sama tahu bahwa
sesuatu sedang perlahan menjauh. Bukan tubuh kami. Melainkan hati kami.
Beberapa hari setelahnya, Aksa mengajakku
bertemu lagi. Sore itu langit mendung. Persis seperti hari pertama kami
bertemu.
“Aku minta maaf.”
Hanya tiga kata. Pendek. Sederhana. Namun
cukup untuk mengubah seluruh arah hidupku.
“Aku rasa... kita sebaiknya berhenti di
sini.”
Aku memandangnya. Untuk sesaat, aku
berharap ia akan mengatakan bahwa semua ini hanya karena lelah. Bahwa besok
semuanya akan kembali seperti dulu. Namun harapan itu tidak pernah datang.
Aku mengangguk pelan. Tidak ada air mata. Tidak
ada kemarahan. Aku hanya tersenyum. Karena aku tahu, ada perpisahan yang tidak
membutuhkan pertengkaran.
Kadang cinta berakhir bukan karena tidak
ada rasa. Melainkan karena dua orang yang saling mencintai tidak lagi mampu
berjalan ke arah yang sama.
Hari itu, kami pulang melalui jalan yang
berbeda. Dan tanpa kusadari, aku sedang mengucapkan selamat tinggal kepada
seseorang yang pernah menjadi rumah.
***
“Ada kalanya melepaskan bukan berarti berhenti mencintai.
Melepaskan adalah cara terakhir kita menjaga cinta agar tidak berubah menjadi
luka yang terus-menerus berdarah.”
Orang sering berkata bahwa waktu akan menyembuhkan. Aku dulu tidak percaya. Bagiku, waktu hanya memperpanjang rindu. Membuat kenangan semakin banyak, sementara orang yang kurindukan justru semakin jauh.
Namun perlahan aku memahami sesuatu. Yang menyembuhkan bukanlah waktu. Melainkan keberanian untuk berhenti menunggu sesuatu yang tak lagi berjalan menuju kita.
Hari-hariku
mulai berubah. Aku tidak lagi memeriksa ponsel setiap beberapa menit. Aku mulai
kembali membaca buku-buku yang lama terbengkalai. Aku kembali duduk di bangku
taman kampus seorang diri tanpa berharap melihat sosok Aksa muncul dari
kejauhan.
Sesekali kenangan itu tetap datang. Tentang
sore di bawah hujan. Tentang dua gelas minuman hangat. Tentang
percakapan-percakapan sederhana yang dulu terasa begitu berarti.
Kenangan memang tidak pernah benar-benar
pergi. Ia hanya belajar hidup berdampingan dengan waktu.
Suatu
sore, setelah menyelesaikan kelas terakhir, aku berjalan melewati jalan kecil
di samping perpustakaan. Langit sedang cerah. Angin bertiup pelan, membawa
aroma dedaunan yang baru selesai disiram hujan semalam.
Saat itulah langkahku terhenti. Di seberang
jalan, aku melihat seseorang yang sangat kukenal.
Aksa. Ia sedang berjalan berdampingan dengan seorang perempuan. Perempuan
itu tertawa kecil ketika Aksa mengatakan sesuatu. Lalu Aksa ikut tertawa. Tatapan
matanya lembut. Begitu lembut. Tatapan yang dulu sering kutemukan ketika ia
memandangku.
Mereka berhenti di depan sebuah kedai kopi.
Aksa membuka pintu lebih dahulu, mempersilakan perempuan itu masuk. Gerakan
sederhana. Namun cukup untuk membuat dadaku kembali dipenuhi kenangan.
Aku berdiri cukup lama. Tidak berniat
menghampiri. Tidak juga berniat bersembunyi. Aku hanya memperhatikan dari
kejauhan.
Beberapa
bulan yang lalu, mungkin aku akan menangis. Mungkin aku akan bertanya-tanya
mengapa semua itu bukan lagi aku. Mungkin aku akan pulang dengan hati yang
kembali hancur.
Namun sore itu berbeda. Dadaku memang masih
terasa sesak. Masih ada ruang kecil yang berdenyut pelan setiap kali mengingat
semua yang pernah kami lalui. Tetapi untuk pertama kalinya, rasa sesak itu
tidak disertai kebencian.
Aku
hanya tersenyum kecil. Lalu, tanpa suara, aku berbisik di dalam hati. “Semoga kamu bahagia, Aksa.”
Sesederhana itu. Tidak ada air mata. Tidak
ada amarah. Hanya sebuah doa yang akhirnya mampu kulepaskan dengan tulus. Saat
itu aku mengerti sesuatu yang selama ini sulit kuterima.
Cinta yang besar bukanlah tentang memiliki
seseorang sampai akhir hidup. Cinta adalah ketika kepedulian tetap tinggal
meski kebersamaan telah pergi. Cinta adalah ketika kita tetap berharap ia
baik-baik saja, meskipun kebahagiaannya tidak lagi berjalan bersama kita. Dan
ternyata... Mendoakan seseorang tanpa berharap ia kembali adalah bentuk cinta
yang paling dewasa.
Malam
harinya aku duduk di balkon kamar kos. Langit tampak bersih. Bintang-bintang
bermunculan satu per satu. Rendra datang membawa dua gelas teh hangat.
Sejak beberapa bulan terakhir, ia memang sering menemaniku. Ia tidak pernah memaksaku bercerita. Ia hanya hadir. Kadang kami mengobrol. Kadang hanya menikmati malam dalam diam. Ia duduk di sampingku, menyerahkan salah satu gelas.
“Aku
lihat kamu lebih banyak tersenyum akhir-akhir ini.”
Aku
menerima teh itu. “Mungkin.”
Rendra menatap langit beberapa saat sebelum
akhirnya bertanya, “Kalau boleh jujur. Apa kamu masih mencintainya?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku
memandangi permukaan teh yang masih mengepulkan uap. Mencari jawaban yang
bahkan selama ini belum pernah benar-benar kupikirkan.
Lalu aku tersenyum. Pelan. “Aku tidak tahu.”
Rendra mengangguk kecil. “Lalu kenapa kamu
tersenyum?”
Aku mengembuskan napas panjang. “Karena
sekarang aku bisa mengingatnya tanpa menangis.”
Rendra ikut tersenyum. Tidak mengatakan apa
pun lagi. Barangkali ia tahu bahwa beberapa jawaban memang tidak membutuhkan
penjelasan.
Malam itu
aku menyadari satu hal yang selama ini gagal kupahami. Mencintai bukan berarti
harus melupakan. Tidak semua kenangan perlu dihapus. Tidak semua nama harus
dibenci agar kita bisa melanjutkan hidup.
Kadang yang perlu kita lakukan hanyalah
memaafkan. Memaafkan orang lain. Memaafkan diri sendiri. Dan menerima bahwa
tidak semua kisah diciptakan untuk berakhir dengan kebersamaan.
Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan
bagaimana rasanya dicintai. Ada yang pergi agar kita belajar mencintai dengan
cara yang lebih bijaksana.
Aku tersenyum memandang langit. Untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, nama Aksa tidak lagi terasa seperti luka. Ia
telah berubah menjadi sebuah kenangan, bagaimanapun bentuknya,
selalu pantas disyukuri.
***
“Tidak semua air mata terlihat. Ada yang jatuh di pipi. Ada
pula yang diam-diam mengendap di dalam hati selama bertahun-tahun. Namun hidup
selalu memiliki cara untuk mengeringkannya. Sedikit demi sedikit. Lewat waktu.
Lewat orang-orang yang datang tanpa banyak janji. Lewat doa-doa yang diam-diam
dipanjatkan setiap malam.”
Aku
pernah mengira bahwa setelah kehilangan seseorang, hidup akan berhenti sejenak.
Nyatanya tidak.
Matahari tetap terbit setiap pagi. Mahasiswa
tetap memenuhi koridor kampus. Bus kota tetap datang tepat waktu. Hujan masih
turun tanpa peduli siapa yang sedang patah hati.
Dunia tidak pernah berhenti hanya karena
ada satu hati yang sedang belajar pulih. Dan mungkin, justru itulah cara hidup
mengajarkan keberanian. Bahwa kita tetap harus melangkah, meskipun langkah itu
terasa berat.
Hari-hariku
perlahan menemukan ritmenya kembali. Aku mulai kembali menikmati hal-hal kecil
yang dulu sempat kulupakan. Membaca novel di sudut perpustakaan. Menikmati teh
hangat sebelum kelas dimulai. Duduk sendirian di taman kampus sambil memandangi
langit sore.
Sesekali kenangan tentang Aksa masih
datang. Namun kini kenangan itu tidak lagi memaksaku berhenti berjalan. Ia
hanya datang, menyapa sebentar, lalu pergi. Seperti hujan yang singgah sesaat
sebelum langit kembali cerah.
Di
masa-masa itulah Rendra semakin sering hadir. Ia bukan tipe orang yang pandai
merangkai kalimat indah. Bahkan terkadang jawabannya terlalu singkat. Namun
entah mengapa, kehadirannya selalu terasa menenangkan.
Suatu sore aku duduk sendirian di taman
kampus. Di bangku yang dulu sering kutempati bersama Aksa. Aku tidak sedang
menangis. Hanya ingin menikmati angin sore. Beberapa menit kemudian seseorang
duduk di sebelahku.
Rendra. Ia membawa dua gelas teh hangat. Tanpa bertanya, ia menyodorkan salah satunya kepadaku.
“Aku tidak pesan,” kataku.
“Aku
tahu.”
“Lalu
kenapa beli dua?”
“Kalau ternyata kamu datang, aku tidak
perlu minum sendirian.”
Aku tertawa kecil. Logikanya sederhana. Tetapi
cukup membuat sore itu terasa lebih hangat.
Rendra tidak pernah bertanya bagaimana
kabarku. Bukan karena ia tidak peduli. Justru karena ia tahu bahwa beberapa
pertanyaan hanya akan membuka luka yang sedang berusaha sembuh.
Sebagai
gantinya, ia selalu membicarakan hal-hal sederhana. Tentang dosen yang terlalu
banyak memberi tugas. Tentang pertandingan sepak bola semalam. Tentang warung
makan baru yang katanya murah tetapi porsinya banyak.
Kadang aku hanya mendengarkan. Kadang ikut
tertawa. Tanpa kusadari, sudah lama aku tidak tertawa selepas itu.
Suatu
hari aku berkata, “Aku baik-baik saja.”
Rendra memandangku beberapa detik. Lalu
mengangguk pelan. “Kalau memang begitu, syukurlah.”
Aku mengernyit. “Kamu tidak percaya?”
“Aku percaya.”
“Terus
kenapa wajahmu begitu?”
Ia
tersenyum tipis. “Karena biasanya orang yang benar-benar baik-baik saja tidak perlu
meyakinkan siapa pun.”
Aku terdiam. Lagi-lagi ia berhasil membaca
sesuatu yang bahkan tidak sempat kuucapkan.
Ada
hari ketika semua kenangan datang bersamaan. Hari ulang tahunku. Hari pertama
kuliah. Hari ketika hujan turun deras. Hari-hari yang dulu selalu
mengingatkanku pada Aksa. Pada hari-hari seperti itu aku sering memilih diam.
Suatu
malam aku mengirim pesan kepada Rendra. “Aku sedang ingin
sendiri.”
Balasannya datang beberapa menit kemudian. “Oke.” Hanya satu kata.
Aku menghela napas. Mungkin memang
seharusnya begitu. Namun sekitar setengah jam kemudian terdengar ketukan pelan
di pintu kos.
Aku membuka pintu. Rendra berdiri sambil
membawa sekantong roti dan dua gelas teh hangat.
“Aku kan bilang ingin sendiri.”
“Iya. Aku
tidak masuk.” Ia meletakkan kantong itu di depan pintu. “Kamu bisa sendiri. Tapi
tidak boleh lapar.”
Belum sempat aku berkata apa-apa, ia sudah
berbalik pergi. Aku memandangi punggungnya hingga menghilang di ujung lorong.
Malam itu, tanpa kusadari, aku menangis
lagi. Bukan karena sedih. Melainkan karena terharu. Ternyata masih ada orang
yang peduli tanpa memaksakan diri untuk dimengerti.
Barulah aku memahami arti seorang teman
sejati. Mereka memahami saat kita berkata, “Aku
lupa.”
Mereka tetap menunggu
ketika kita berkata, “Tunggu
sebentar.”
Mereka tetap tinggal
ketika kita berkata, “Biarkan aku
sendiri.” Dan mereka tetap mengetuk pintu hati kita,
bahkan ketika kita belum sempat memintanya datang.
Aku belum pernah memandang Rendra sebagai
seseorang yang lebih dari teman. Setidaknya, saat itu aku masih meyakini
demikian. Namun hidup selalu penuh kejutan. Kadang, orang yang diam-diam
memperbaiki kepingan hati kita bukanlah orang yang datang membawa janji.
Melainkan mereka yang memilih tetap tinggal ketika semua orang lain telah pergi. Dan tanpa kusadari, ada satu pintu di dalam hatiku yang perlahan terbuka kembali. Bukan karena aku telah melupakan masa lalu. Melainkan karena akhirnya aku percaya... Bahwa setelah kehilangan, hidup masih mungkin menghadirkan harapan.
***
“Kadang kita terlalu sibuk meratapi seseorang yang pergi,
hingga lupa bahwa masih ada banyak orang yang memilih tetap tinggal.”
Hidup
memiliki cara yang aneh untuk mengajarkan rasa syukur. Sering kali kita baru menyadari
siapa yang benar-benar berarti setelah berhenti mengejar mereka yang memilih
pergi.
Aku pernah mengira kehilangan Aksa adalah
akhir dari segalanya. Padahal, tanpa kusadari, hidup masih menyisakan begitu
banyak pelukan yang belum sempat kurasakan.
Libur
semester akhirnya tiba. Setelah berbulan-bulan menetap di kota, aku memutuskan
pulang. Rumah menyambutku dengan aroma masakan Ibu yang selalu sama. Ayah masih
duduk di kursi bambu di teras sambil membaca koran. Dimas, yang kini tumbuh
jauh lebih tinggi daripada terakhir kali kulihat, langsung berlari memelukku.
“Akhirnya pulang juga. “Aku tersenyum.
Sesederhana itu. Tidak ada pertanyaan
tentang nilai kuliah. Tidak ada pertanyaan tentang hidupku. Hanya pelukan yang
membuat semua rasa lelah seolah luruh begitu saja.
Barangkali beginilah rasanya pulang. Rumah
tidak selalu menyelesaikan semua masalah. Namun rumah selalu membuat kita
merasa tidak harus menghadapinya sendirian.
Malam
itu kami makan bersama. Ayah bercerita tentang murid-muridnya. Ibu mengeluhkan
mesin jahit yang mulai sering rusak. Dimas sibuk menceritakan pertandingan
futsal di sekolahnya. Aku lebih banyak mendengarkan. Sama seperti dulu.
Di tengah obrolan, Ibu tiba-tiba menatapku.
“Kamu sekarang kelihatan lebih tenang.”
Aku menghentikan sendokku. “Memangnya dulu
tidak?”
“Dulu senyummu seperti dipaksakan.”
Aku
tidak langsung menjawab. Ibu memang selalu tahu hal-hal yang bahkan tidak
pernah kuceritakan. Ia tidak bertanya apa yang telah terjadi. Ia hanya meraih
tanganku di atas meja dan menggenggamnya pelan. Kadang cinta memang tidak
membutuhkan banyak kata.
Beberapa
hari kemudian aku mengajak Ayah berjalan di tepi pantai, tempat yang sering
kami datangi sejak aku kecil.
Langit
mulai berubah jingga. Ombak datang silih berganti, menghapus jejak kaki yang
kami tinggalkan di pasir.
“Ayah,” kataku pelan.
“Iya?”
“Kenapa
ya... orang yang kita sayang tidak selalu bisa tinggal?”
Ayah
tersenyum kecil. Ia memandang laut cukup lama sebelum menjawab. “Karena hidup
bukan tentang siapa yang selalu tinggal.”
“Lalu tentang apa?”
“Tentang
siapa yang berhasil membuatmu menjadi manusia yang lebih baik.”
Aku
memandang wajahnya. “Kalau mereka pergi?”
“Maka bersyukurlah. Karena berarti mereka
pernah datang dan memberimu pengalaman.”
Aku terdiam. Kalimat itu sederhana. Namun
terasa begitu dalam.
Menjelang
senja aku berdiri sendirian di bibir pantai. Angin laut meniup rambutku
perlahan. Matahari turun sedikit demi sedikit menuju garis cakrawala.
Aku
mengingat semua yang pernah terjadi. Tentang hujan yang mempertemukanku dengan
Aksa. Tentang bangku taman kampus. Tentang secangkir teh hangat. Tentang tawa
yang pernah memenuhi hari-hariku. Tentang perpisahan yang mengajarkanku arti
kehilangan. Tentang air mata yang diam-diam jatuh ketika tidak ada seorang pun
melihat.
Aku
memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, kenangan-kenangan itu tidak lagi terasa
berat. Mereka hanya menjadi bagian dari perjalanan yang pernah kulalui. Aku
tidak lagi berharap Aksa kembali. Aku juga tidak lagi bertanya mengapa semuanya
harus berakhir. Aku hanya bersyukur karena pernah mengenalnya.
Karena
tanpa dirinya, mungkin aku tidak akan pernah memahami bahwa cinta bukan sekadar
tentang memiliki. Cinta adalah tentang menjadi manusia yang lebih baik setelah
seseorang pergi.
Malam
sebelum kembali ke kota, ponselku berbunyi. Pesan dari Rendra. “Besok jadi berangkat?”
“Iya.”
“Hati-hati di jalan.”
Aku
tersenyum. Pesannya selalu sederhana. Tidak pernah berlebihan. Namun entah
mengapa, selalu berhasil membuatku merasa tenang.
Aku membalas singkat. “Terima kasih.”
Beberapa detik kemudian balasan datang. “Sampai ketemu lagi.”
Aku memandang layar ponsel beberapa saat. Lalu
tanpa sadar tersenyum. Mungkin benar. Hidup selalu mengambil seseorang dari
kita. Namun di saat yang sama, ia juga menghadirkan orang-orang yang memilih
tetap tinggal.
Orang-orang yang tidak banyak berjanji. Tidak
selalu pandai menghibur. Tetapi diam-diam menjaga kita agar tidak kehilangan
arah. Dan akhirnya aku mengerti. Bukan mereka yang datang lalu pergi yang
paling menentukan hidup kita.
Melainkan mereka yang tetap ada, bahkan
ketika kita merasa tidak lagi pantas untuk ditemani. Mereka adalah rumah yang
sesungguhnya. Bukan karena mereka mampu menghapus luka. Melainkan karena mereka
mengajarkan bahwa setelah kehilangan, kita masih bisa kembali merasa utuh.
***
“Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan adalah menerima
bahwa masa lalu tidak dapat diubah, tetapi masa depan masih bisa ditentukan.”
Ada masa
ketika aku mengira luka harus benar-benar hilang agar seseorang bisa disebut
telah sembuh. Aku menunggu hari ketika nama Aksa tidak lagi terlintas di
kepalaku. Aku menunggu hari ketika kenangan itu benar-benar lenyap.
Hari itu
tidak pernah datang. Yang datang justru sesuatu yang lain. Penerimaan.
Aku
mulai memahami bahwa beberapa orang memang tidak ditakdirkan tinggal selamanya.
Mereka datang membawa pelajaran. Lalu pergi ketika pelajaran itu selesai.
Dulu aku selalu bertanya mengapa pertemuan
yang begitu indah harus berakhir dengan perpisahan. Kini aku tidak lagi mencari
jawabannya. Karena ternyata tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Ada
yang cukup diterima.
Suatu
sore aku kembali membuka kotak kecil yang selama ini kusimpan di dalam lemari. Di
dalamnya masih ada tiket bioskop yang pernah kami tonton bersama. Nota
pembelian dua gelas teh hangat. Pembatas buku yang pernah diberikan Aksa. Dan
sebuah foto yang kami ambil tanpa sengaja ketika hujan turun di taman kampus.
Aku
memandangi semuanya satu per satu. Dulu benda-benda itu selalu berhasil
membuatku menangis. Kini tidak lagi. Aku tersenyum. Bukan karena aku ingin
mengulang semuanya. Melainkan karena aku bersyukur pernah mengalaminya.
Perlahan
aku memasukkan kembali semua kenangan itu ke dalam kotaknya. Bukan untuk
menguburnya. Melainkan untuk memberinya tempat yang pantas. Tidak lagi di dalam
luka. Melainkan di dalam ingatan.
Malam
itu aku menelepon Ibu. “Kamu terdengar bahagia,” katanya.
Aku tersenyum. “Mungkin karena aku akhirnya
berhenti melawan masa lalu.”
Ibu terdiam beberapa saat. “Lalu sekarang?”
“Sekarang aku cuma ingin menjalani hidup.”
“Tidak
menyesal?”
Aku
memandang langit dari balik jendela kamar. “Tidak. Karena kalau semua itu tidak
pernah terjadi, mungkin aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang.”
Ibu tertawa kecil. “Nah, itu anak Ibu.”
Beberapa
hari kemudian aku bertemu Rendra di taman kampus. Kami duduk di bangku yang
sama seperti biasanya. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, kali ini aku
merasa jauh lebih ringan.
“Aku
boleh tanya sesuatu?” kata Rendra.
“Boleh.”
“Kalau bisa mengulang waktu...” Ia berhenti
sejenak. “...apa kamu masih akan memilih bertemu Aksa?”
Aku memandang langit yang mulai berubah
jingga. Pertanyaan itu tidak mudah. Namun anehnya, jawabannya datang begitu
saja.
“Iya.”
Rendra
menoleh. “Padahal kamu tahu akhirnya akan seperti itu?”
Aku mengangguk. “ Iya.” Aku tersenyum. “Karena bukan cuma luka yang dia tinggalkan.”
Rendra menunggu jawabanku.
“Ada banyak hal baik yang juga kutemukan. Aku belajar mencintai. Aku belajar kehilangan. Aku belajar melepaskan.” Aku menarik napas pelan. “Dan yang paling penting, Aku belajar mengenal diriku sendiri.”
Rendra tersenyum. “Jawaban yang bagus.”
“Bukan jawaban yang bagus. Itu jawaban yang
akhirnya bisa kuterima.”
Dalam
perjalanan pulang, aku menyadari bahwa memaafkan ternyata bukan hadiah yang
kita berikan kepada orang lain. Memaafkan adalah hadiah yang kita berikan
kepada diri sendiri. Karena selama kita terus menggenggam amarah, luka akan
tetap tinggal.
Namun
ketika kita memilih melepaskannya, hati perlahan menemukan ruang untuk bernapas
kembali. Kini aku percaya. Orang yang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah
jatuh. Orang yang kuat adalah mereka yang berkali-kali jatuh, tetapi tetap
memilih berdiri.
Aku
juga percaya bahwa penyesalan tidak perlu dipelihara terlalu lama. Sebab setiap
pilihan, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, telah membentuk diriku
menjadi perempuan yang lebih dewasa.
Aku tidak lagi ingin mengubah masa lalu. Aku
hanya ingin menghargainya. Karena setiap luka yang pernah singgah telah
mengajarkanku satu hal yang paling berharga.
Bahwa hidup bukan tentang memiliki kisah
yang sempurna. Melainkan tentang belajar mencintai, kehilangan, memaafkan, lalu
tetap melangkah dengan hati yang lebih lapang.
Malam
itu, sebelum memejamkan mata, aku tersenyum kepada diriku sendiri. Bukan karena
hidup akhirnya menjadi mudah. Melainkan karena akhirnya aku mampu berkata
dengan tulus,
“Aku sudah memaafkan semuanya.”
Bahkan...
Diriku sendiri.
***
“Hati yang pernah terluka tidak kehilangan kemampuannya untuk
mencintai. Ia hanya belajar lebih berhati-hati ketika membuka pintunya kembali.”
Musim
terus berganti. Tanpa kusadari, satu tahun telah berlalu sejak hari ketika aku
memutuskan melepaskan Aksa. Waktu memang tidak menghapus semua kenangan. Namun
ia mengajarkanku cara hidup berdampingan dengannya.
Kini aku
dapat melewati jalan menuju perpustakaan tanpa lagi berharap melihat sosok yang
pernah begitu akrab. Aku dapat menikmati hujan tanpa harus mengingat
perpisahan. Aku dapat tersenyum ketika mendengar lagu yang dulu sering kami
dengarkan bersama.
Luka
itu masih menjadi bagian dari hidupku. Tetapi ia tidak lagi mengendalikan
hidupku.
Rendra
masih menjadi orang yang paling sering kutemui. Tidak ada yang berubah dari
dirinya. Ia tetap datang lebih awal ketika kami berjanji bertemu. Tetap membawa
teh hangat karena tahu aku tidak terlalu menyukai kopi. Tetap mendengarkan
sampai aku selesai berbicara. Dan tetap diam ketika aku membutuhkan keheningan.
Aneh
sekali. Semua hal yang dulu kulihat sebagai perhatian seorang sahabat, perlahan
mulai terasa berbeda. Bukan karena Rendra berubah. Melainkan karena aku mulai
melihatnya dengan cara yang baru.
Suatu
sore kami berjalan pulang setelah menghadiri seminar kampus. Langit mendung,
tetapi belum turun hujan.
“Aku boleh tanya sesuatu?” kata Rendra.
Aku
mengangguk.
“Kamu
masih takut jatuh cinta?”
Langkahku
terhenti sesaat. Pertanyaan itu sederhana. Namun jawabannya ternyata tidak. Aku
memandang jalan di depan kami.
“Aku
takut.”
Rendra
tidak tampak terkejut. “Takut terluka lagi?”
Aku menggeleng pelan. “Bukan. Aku takut
membuat seseorang menunggu terlalu lama.”
Rendra tersenyum kecil. “Kalau orang itu
memang ingin menunggu?”
Aku menoleh. Tatapannya tetap setenang
biasanya. Tidak mendesak. Tidak meminta jawaban.
Aku hanya mengembuskan napas pelan. “Aku
belum tahu.”
“Iya.” Rendra mengangguk. “Perasaan bukan
perlombaan.”
Aku terdiam.
“Tidak ada
yang harus menang lebih cepat.”
Kalimat
itu tinggal lama di dalam kepalaku.
Hari-hari
berikutnya tidak banyak berubah. Kami tetap berteman. Tetap saling mengirim
pesan. Tetap tertawa pada hal-hal yang sederhana. Namun kali ini aku mulai
menyadari sesuatu. Aku tidak lagi berbicara tentang Aksa setiap kali kami
bertemu. Bukan karena aku berusaha melupakan. Melainkan karena hidupku mulai
dipenuhi cerita-cerita baru.
Tentang mimpi. Tentang pekerjaan. Tentang
keluarga. Tentang rencana-rencana yang dulu sempat kutunda. Dan di antara semua
cerita itu, Rendra selalu menjadi pendengar yang baik.
Suatu
malam aku kembali duduk di balkon kamar kos. Hujan turun perlahan. Aku
tersenyum mengingat betapa banyak hal dalam hidupku selalu dimulai oleh hujan. Dulu
aku menganggap hujan hanya membawa kenangan. Kini aku melihatnya berbeda.
Hujan tidak pernah memilih kepada siapa ia
turun. Ia hanya datang, lalu memberi kesempatan bagi bumi untuk kembali tumbuh.
Barangkali hati manusia juga begitu. Ia perlu melewati musim-musim yang panjang
sebelum akhirnya siap berbunga kembali.
Beberapa
hari kemudian Rendra mengajakku menghadiri festival buku. Kami menghabiskan
waktu berjam-jam berkeliling dari satu stan ke stan lain. Sesekali ia
menunjukkan buku yang menurutnya akan kusukai. Sesekali aku menggodanya karena
selalu membeli buku yang terlalu tebal.
Saat
matahari mulai tenggelam, kami duduk di bangku taman sambil membawa
kantong-kantong berisi buku.
“Aku
senang hari ini,” kataku.
“Aku
juga.”
“Terima
kasih.”
“Untuk
apa?”
“Sudah
tetap ada.”
Rendra
tersenyum. ”Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Itu justru yang paling berarti.”
Ia
memandangku beberapa saat. Lalu berkata pelan, “Aku tidak pernah berniat
menggantikan siapa pun.”
Aku menoleh.
“Aku
cuma ingin menjadi seseorang yang bisa menemanimu berjalan.”
Dadaku
terasa hangat. Tidak bergemuruh seperti ketika pertama kali jatuh cinta kepada
Aksa. Tidak membuatku gugup. Yang kurasakan justru ketenangan. Dan mungkin. Cinta
yang dewasa memang tidak selalu datang dengan ledakan perasaan.
Kadang
ia hadir seperti rumah. Tenang. Hangat. Dan membuat kita ingin pulang.
Malam
itu aku menulis satu kalimat di halaman terakhir buku harianku.
“Mungkin hatiku belum sepenuhnya siap. Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak lagi takut jika suatu
hari nanti seseorang mengetuk pintunya."
Kini aku percaya. Jika suatu hari cinta
kembali datang, aku tidak ingin lagi mencintai dengan rasa takut kehilangan. Aku
ingin mencintai dengan penuh syukur. Bukan karena aku yakin semuanya akan
bertahan selamanya. Melainkan karena aku memahami bahwa setiap pertemuan adalah
anugerah, selama kita menjalaninya dengan tulus.
Aku percaya cinta sejati tidak selalu
datang paling cepat. Kadang ia tiba setelah penantian yang panjang. Setelah
luka sembuh. Setelah hati selesai berdamai. Dan ketika saat itu tiba, aku ingin
menyambutnya bukan sebagai seseorang yang sedang mencari kebahagiaan dari orang
lain.
Aku
ingin menyambutnya sebagai perempuan yang telah menemukan kebahagiaan di dalam
dirinya sendiri. Sebab hanya hati yang telah utuh yang mampu mencintai tanpa
kehilangan dirinya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aku siap
membuka pintu itu kembali.
Bukan untuk masa lalu. Melainkan untuk hari
esok yang belum kutahu bagaimana akhirnya. Namun kali ini, aku tidak lagi
merasa takut.
***
“Hal-hal terindah di dunia sering kali tidak dapat dilihat oleh
mata, melainkan dirasakan oleh hati.”
Dulu aku
mengira kalimat itu hanya terdengar indah. Aku belum benar-benar memahami maknanya.
Bagiku, kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa kulihat.
Sepasang
tangan yang saling menggenggam. Seseorang yang selalu pulang. Senyum yang
selalu menungguku di setiap akhir hari. Aku pernah percaya bahwa cinta hanya
akan berarti jika berhasil dimiliki. Aku pernah mengira kehilangan adalah akhir
dari segalanya.
Namun hidup, dengan caranya yang tidak pernah bisa ditebak, mengajarkanku begitu banyak hal. Ia mempertemukanku dengan seseorang yang membuatku percaya bahwa dunia bisa terasa lebih hangat. Lalu, pada waktu yang tidak pernah kupilih, hidup juga mengajarkanku bagaimana rasanya melepaskan.
Saat itu aku sempat berpikir bahwa hatiku
tidak akan pernah benar-benar pulih. Aku salah. Hati memang tidak kembali
seperti semula. Ia justru tumbuh menjadi sesuatu yang lebih kuat.
Kini,
ketika aku mengingat semua perjalanan itu, yang paling kuingat bukan lagi rasa
sakitnya. Melainkan pelajaran-pelajaran yang lahir darinya.
Aku belajar bahwa rumah bukan selalu tempat
kita tinggal. Kadang rumah adalah seseorang yang membuat kita merasa diterima.
Aku belajar bahwa cinta bukan sekadar
tentang memiliki. Melainkan tentang keberanian untuk tetap mendoakan seseorang,
bahkan ketika jalannya tidak lagi searah dengan kita.
Aku belajar bahwa kehilangan bukan musuh. Ia
adalah guru yang mengajarkan betapa berharganya setiap pertemuan.
Aku belajar bahwa memaafkan bukan berarti
membenarkan semua luka. Memaafkan adalah membebaskan diri dari beban yang
terlalu lama kugenggam.
Dan yang paling penting...
Aku belajar bahwa kebahagiaan tidak pernah
benar-benar pergi. Ia hanya menunggu sampai kita berhenti mencarinya di tempat
yang salah.
Aku
masih menyukai hujan. Masih menikmati secangkir teh hangat di sore hari. Masih
sering berhenti beberapa menit hanya untuk memandangi langit menjelang senja. Ada
banyak hal dalam diriku yang tidak berubah. Namun ada satu hal yang kini
berbeda.
Aku.
Aku
tidak lagi menjadi perempuan yang takut kehilangan. Aku tidak lagi merasa harus
mempertahankan semua orang agar bisa bahagia. Aku tidak lagi mengukur nilai
diriku dari siapa yang memilih tinggal atau pergi. Aku akhirnya mengerti bahwa
menjadi utuh tidak bergantung pada kehadiran orang lain.
Ia
lahir ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri.
Sesekali
aku masih bertemu Aksa. Kami saling tersenyum. Tidak lebih. Tidak kurang. Tak
ada lagi pertanyaan tentang masa lalu. Tak ada lagi penyesalan yang harus
dibicarakan. Yang tersisa hanyalah rasa syukur karena kami pernah menjadi
bagian dari perjalanan satu sama lain.
Sesederhana itu. Dan ternyata... Sesederhana
itu pula hati bisa menemukan kedamaian.
Rendra
masih berjalan di sisiku. Tidak pernah memaksaku melupakan masa lalu. Tidak
pernah meminta menjadi pengganti siapa pun.
Ia
hanya hadir. Sebagaimana biasanya. Dengan perhatian-perhatian kecil yang tidak
pernah meminta balasan. Aku tidak tahu bagaimana masa depan akan membawa kami. Dan
untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus mengetahui jawabannya. Karena
hidup tidak selalu meminta kita memiliki kepastian. Kadang yang perlu kita
lakukan hanyalah melangkah dengan hati yang penuh syukur.
Pagi
itu aku kembali berjalan melewati taman kampus. Tempat yang dulu menjadi saksi
begitu banyak cerita. Bangku kayu itu masih ada. Pohon-pohon masih berdiri
dengan teduh. Angin masih berembus membawa aroma tanah yang basah sehabis
hujan.
Aku
tersenyum. Hidup ternyata tetap berjalan. Dan syukurlah... Aku memilih ikut
melangkah bersamanya. Aku mengangkat wajah, membiarkan sinar matahari menyentuh
kulitku.
Di kejauhan, langit tampak begitu luas. Seperti
kehidupan yang masih menyimpan begitu banyak kemungkinan.
Aku menarik napas panjang. Lalu melanjutkan
langkah. Bukan untuk mengejar seseorang. Bukan pula untuk melupakan siapa pun. Melainkan
untuk menyambut hari-hari baru dengan hati yang telah belajar menerima. Karena
kini aku tahu... Cinta akan datang dan pergi. Manusia akan bertemu lalu
berpisah.
Musim akan terus berganti. Namun selama
hati masih mampu bersyukur, selalu akan ada alasan untuk kembali percaya.
Kini aku mengerti apa yang pernah Ibu
katakan bertahun-tahun lalu. Bahwa bulan tidak bersinar untuk dirinya sendiri. Ia
memantulkan cahaya agar langit yang gelap tetap memiliki harapan. Mungkin
manusia pun demikian.
Luka
yang pernah kita alami bukan untuk membuat kita selamanya hidup dalam
kesedihan. Melainkan agar suatu hari nanti kita mampu menjadi cahaya bagi hati
yang sedang kehilangan arah. Dan jika suatu hari seseorang bertanya kepadaku,
apa hal terindah yang pernah kupelajari tentang hidup, aku akan tersenyum dan
menjawab,
Bahwa cinta bukanlah tentang siapa yang
akhirnya tinggal. Bukan pula tentang seberapa lama seseorang menemani. Cinta
adalah tentang bagaimana setiap pertemuan, setiap kehilangan, setiap air mata,
dan setiap pengampunan membentuk kita menjadi manusia yang lebih mampu
mencintai.
Sebab
pada akhirnya...
Hal-hal terindah di dunia memang tidak
dapat dilihat oleh mata.
Ia hanya dapat dirasakan oleh
hati yang telah belajar mencintai, memaafkan, kehilangan, dan tetap percaya
bahwa esok selalu menyimpan harapan yang baru.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai
karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa
izin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar