
Saat
ini aku tidak tahu kamu disana berpasangan dengan siapa.
Aku
hanya ingin mengenang. Kamu yang tidak terduga datang secepat cahaya
petir. Hujan yang mempertemukan kita.
Seseorang
datang tanpa aku minta. Namun secepat ini juga aku harus kehilangan. Sesingkat
aku menambatkan hati pada orang yang memberikan harapan kosong. Aku tidak
sanggup bertahan ketika waktu kembali mengingat.
Saat
kehadiran seseorang perlahan membuka ruang yang tertutup, aku mulai menyadari
hidupku sangat bermakna. Aku yakin kebahagiaan semakin dekat, tetapi siapa yang
mengetahui jalan hidup selanjutnya. Ketika hantaman keras membuatku mundur
bahkan sangat cepat. - Alena.
Apa
kamu senang berada di tempat ramai? Pertanyaan ini tidak boleh tertuju pada
seseorang. Dia tidak seperti remaja lain, yang sibuk berinteraki, jalan atau
liburan kesana kemari untuk menambah teman, dan melakukan apapun yang
berhubungan dengan tren remaja saat ini supaya tidak di cap anak jadul.
Lelah
yang aku alami tidak menyurutkan setiap tekad. Aku tidak menyerah melawan
kesedihan yang membayangi. Kamu tahu rasanya bersaing? Kamu tahu rasanya
bersikap jadi oranglain? Kamu tahu rasanya berada dilingkungan asing, seakan
mata mereka siap menerkammu jika kamu tidak cerdik? - Alena.
Seorang
gadis termenung, tidak tahu kemana arah tatapannya, kaki terpaku di depan
gerbang sekolah.
“Alena.”
tidak ada jawaban. Sehingga dia perlu mengulang untuk meyadarkan sahabatnya
itu. “Apa yang kamu lakukan?” Erlita mengibaskan tangan di depan
wajah gadis itu.
“Lita,
sejak kapan kamu disini?”
“Haruskah
aku menjelaskan dengan rumus matematika atau bahasa asing yang terus kamu
pelajari? Pilih mana?”
“Terserah,
aku tidak ingin bercanda.” jawabnya santai seakan tidak peduli.
“Ini
pertanyaan dari calon guru profesional jadi aku perlu tanggapanmu. Pilih rumus
mana yang cepat kamu pahami?” ucapnya dengan bangga.
“Iya
Ibu guru, nanti saja kamu praktekan saat lulus menjadi sarjana! Sepertinya
masih lama."
“Si
super kaku. Aku kan sedang berlatih sedikit demi sedikit. Kamunya serius
sekali.” Erlita menjentrikan jari pada hidung Alena. “Apa yang kamu
lakukan disini?”
“Menunggumu.”
Sebenarnya tidak ada yang dia tunggu. Alena hanya tidak ingin pergi ke tempat
yang harus ia tuju.
“Benarkah?”
tanya Erlita penuh curiga.
“Iya,
kemana Siska dan Kinar?” dia mengalihkan perhatian Erlita.
“Mereka
di kosan. Kita akan mengerjakan tugas bahasa Inggris dari Pak Soni. Apa kamu
tidak les private?“ Alena hanya membalas dengan senyuman.
“Kalau
begitu ayo pergi!“ Erlita paham akan situasi sahabatnya. Alena mengikuti
langkah kaki Erlita menuju kosan.
Sudah
jadi rutinitas Alena, Siska dan Erlita berkumpul di kosan Pak Toha. Kegiatan
mereka yaitu menonton film, mengerjakan tugas atau tidur di kamar Kinar. Kadang
mereka melakukan kebiasaan konyol, mengoleskan bedak basah saat bermain game
pada siapa saja sampai mereka berlarian mencari korban. Hal itu membuat
keributan dalam rumah kos, ada yang mengunci diri di kamar, dapur, bahkan
toilet. Semua penghuni kos sudah terbiasa dengan kegaduhan. Saat itulah Alena
tidak merasa kesepian karena mengenal mereka.
Di
hari kamis, hujan turun deras. Hujan memberi jeda waktu pada langit, mendung
isyarat bahwa siapapun menyadari akan kedatangannya. Namun seorang gadis
mengenakan seragam sekolah lebih senang hujan mengguyurnya tiba-tiba. Baginya
hujan sapaan teduh, menyembunyikan wajah letih dalam kabut, menyatukan air mata
dalam rintik.
Namun
tempat ini terlalu ramai, dia akan diperhatikan sebagai orang aneh jika
memaksakan diri berjalan menyusuri hujan untuk menangis.
Dia
mengikuti langkah Siska melewati pertokoan menghindari sapaan langit yang akan
membasahi. Langkah terburu-buru seakan tidak ingin bercengkrama dengan
bising. Wajah Alena tertunduk melewati setiap orang yang berteduh di emper
toko. Siska disamping tidak berani bertanya, jawaban yang sama akan dia terima. “Aku
baik-baik saja.”
“Siska?” Di
luar toko elektronik, banyak orang berteduh. Salah satu dari mereka adalah
Hany, teman Siska saat SMP. Dia tidak sendiri, ada lelaki yang menemani duduk
bersandar di tembok toko yang sudah tutup itu. Dia sibuk memainkan ponsel.
Siska tidak mengenalinya, jadi tidak memperhatikan.
Mereka
bercengkrama cukup lama. Alena yang tidak mau terlibat, memilih diam.
Tatapannya lurus pada jalan yang sudah dipenuhi air setinggi mata kaki.
“Kenalkan
ini sahabatku, Alena.” Alena tersenyum. Setelah Siska dan Hany bertukar nomer
telepon, mereka mengakhiri perbincang. Siska tahu Alena tidak suka menunggu
lama bahkan tidak akan melakukan interaksi ketika hati sedang kacau.
Tiba
di terminal angkot, Alena dan Siska memisahkan diri. Mereka naik mobil jurusan
berbeda. Alena bersandar di kursi penumpang dengan santai, karena tidak banyak
orang yang naik hari ini.
Layar
ponsel berkedip, menandakan satu pesan telah masuk. Dia mendapat pesan dari
seseorang yang sudah lama tidak memberi kabar.
Luke:
Jangan diam saja! Jika kamu bersikap seperti ini, semua akan menjadi lebih
buruk.
Alena:
Baiklah, aku mau kita putus.
Lelah
seakan milikku yang terlihat tegar. Aku sering kali menyimpan kecewa dalam
mengambil keputusan. Apakah oranglain mengalami hal yang sama? Apa oranglain
punya pemikiran ingin kembali ke masa lalu, memperbaiki sesuatu yang pernah
terjadi? aku tidak berani menanyakan karena takut orang akan membalikan
pertanyaan itu. Haruskah aku jelaskan?- Alena.
Mata
coklat berubah teduh, menatap hujan yang enggan meninggalkan bumi. Tempat
pemberhentian mobil yang ditumpangi Alena sejajar kearah pertokoan. Meskipun
disana banyak orang tetapi matanya memperhatikan sosok yang berbincang bersama
Hany. Wajahnya terhalang kabut sehingga bola mata Alena memicing untuk
memperjelas.
“Dasar
bodoh! Kenapa aku memperhatikan orang yang sama sekali tidak aku kenal? bodoh
hentikan!” gerutunya.
Ponsel
Alena bergetar membuatnya sedikit kaget, muncul nama Siska dilayar.
“Ini
hari keberuntunganmu sahabat cantikku.” terdengar lonjakan kebahagiaan di ujung
telepon.
“Apa
maksudmu?”
“Aku
punya kabar baik untukmu.” Siska penuh semangat ingin memberitahu kabar
itu. Namun Alena segera memotong pembicaraan. “Tunggu, Aku baru saja
memutuskan Luke. Lalu secepat ini aku dapat kabar baik?” Alena mencoba mencerna
ucapan sahabatnya, tidak sinkron dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
“Serius?
Alena, sudah seminggu Luke membungkam senyummu. Aku merasa bahagia
mendengar kalian putus. Maaf jika terdengar jujur!” Siska berkata serius.
“Aku
selalu berusaha menjadi diriku. Namun malah terlihat seperti bukan diriku.
Bukankah lebih baik melepaskan Luke daripada menyakitinya lebih jauh?”
“Aku
akan selalu ada untuk mendukungmu. Jangan menyesal, melangkahlah terus kedepan!
Carilah jalan terbaikmu! Hari ini aku yakin membuatmu bahagia. Ayo, tidak
percaya kan?” Siska yang awalnya tampak serius kembali kemode awal, iseng pada
sahabatnya.
“Bagaimana
aku bisa percaya? kamu tidak mengatakan apa-apa.”
“Aku
hampir melupakan hal penting yang harus aku sampaikan.”
“Kebiasaan.”
ucap Alena meledek.
“Sudahlah,
jangan bahas tentang aku! Ini kabar baik. Sepupu Hany, cowok yang bersamanya
meminta nomor kontakmu. Bagaimana?”
Kabar
yang tidak dapat diprediksi terjadi bagai petir yang datang tidak terduga.
Secepat ini? Tuhan, Engkau mampu membolak balikkan hati. Seseorang membuka
telapak tangan saat aku terjatuh, haruskah aku menyambutnya? - Alena.
“Al,
aku menunggu jawabanmu!” Siska kembali memastikan
“Aku
tidak berminat dekat dengan oranglain secepat ini.” jawabnya cepat.
“Alena,
siapa tahu kamu akan nyaman dengan memulai pertemanan. Jangan biarkan aku
membahas ini lagi!” Siska terdengar memohon. Namun dua gadis itu terpaku dalam
ingatan yang sangat dalam, ada kesedihan yang terpancar dari wajah keduanya.
“Baiklah,
akan aku coba. Silahkan kamu berikan nomorku!”
“Terimakasih
Alena, aku akan mendukungmu!” Siska memberi semangat.
Kabut
soret memang menenggelamkan wajahnya tetapi Alena diam-diam mengamati.
***
Malam
hari, Alena mendapat pesan dari nomer baru. Dia tidak segera membalas.
“Bisakah
kamu menunggu? Aku baru saja melepas Luke yang selama ini menjadi pelarian.
Kejadian ini tidak boleh terulang lagi. Bersabarlah sebentar! jika kamu
memaksa. Jangan salahkan aku jika aku memilih menjauh!” Alena berbicara pada
ponsel yang dia sembunyikan di bawah bantal.
Belum
waktunya, aku memang sudah terbiasa seperti ini. Cewek moody, yang gampang
berubah suasana hati. Haruskah aku mengenalnya? akankah kamu setuju?
Jawablah pertanyaanku! bintang yang paling terang, munculah dalam mimpi agar
aku yakin dengan keputusan.
- Alena.
Alena
memeluk boneka panda kesayangan, matanya berair. Dia terbaring, merasakan
getaran di handphone. Dia mengirim beberapa pesan tetapi Alena tidak peduli.
Hati
sulit di tebak dan dimengerti oleh diri sendiri apalagi oranglain. Kita tahu
hidup tidak sesingkat yang terpikirkan. Kadang bahagia datang saat duka hampir
mengubur kepercayaan diri. Keterpurukan bukanlah hidup yang harus
disesali. Berpikirlah hidup masih panjang, dan jalan yang terlalui tidak
selamanya rintangan tetapi ada tempat peristirahatan yang penuh dengan
kenyamanan. Untuk menuju ke sana, laluilah jalan-jalan terang bukan gelap
pembawa kecemasan!- Alena.
***
Alena
tidak sempat sarapan, sehingga menyempatkan diri datang ke kantin. Namun dia
tidak menyangka akan mendapat bonus yang mengenyangkan dari Luke.
Kantin
masih sepi hanya beberapa siswa berada di sana. Tidak jauh dari tempat Alena,
Luke dan teman-temannya memperhatikan dia yang duduk sendiri. Sepertinya Luke
bersiap untuk mempermalukan Alena.
“Gadis
bermuka dua. Aku akui dia berwajah manis tetapi sikapnya menyeramkan. Senang
menusuk orang dari belakang.” Luke menghentikan ucapan. Seakan sebuah skenario,
temannya menimpali.
“Jadi
ketahuan belangnya. Apa dia sengaja membuka topeng dihadapanmu?” Tatapan sinis
Aldo jelas tertuju pada Alena.
“Kita
berusaha memberikan yang terbaik. Namun entah apa yang ada dipikirannya
sehingga berbalik berperilaku jahat.”
“Kehancuran
hati?” Jawab Aldo dan Revan serempak.
“Jika
pernah terluka, harusnya tau gimana rasa tersakiti!” ujar Luke penuh amarah.
“Apa
kamu tidak salah sangka?” Revan kembali mempertanyakan kebenarannya.
“Maksudmu
aku yang salah. Aku bersikap baik tetapi dibalas sebaliknya. Sungguh dimana
letak hati nuraninya?” jelas Luke.
“Mungkin
ada alasan kenapa dia seperti itu. Pernahkah kamu tanyakan apa dia bahagia?”
Revan menatap Alena iba. Dia melihat gadis itu berhenti menyentuh makanan.
“Jika
dia tidak bahagia, setidaknya jangan menyakiti perasaan. Apa sulit memberi
alasan meninggalkanku?”
“Apa
yang akan kamu lakukan setelah mendengar alasannya?” Revan kembali ingin tahu.
“Setidaknya
aku tahu kesalahanku. Aku bisa introfeksi diri. Bagaimana jika kamu berada di
posisiku, Van?”
“Introfeksi
diri.” jawab Revan, hati Alena seperti tersengat.
Apa
ini taktik dia supaya aku dan Luke bisa kembali? Aku tidak akan melakukannya.
Oranglain pasti mengira aku yang salah tanpa tahu kebenarannya. Luke
menyiksaku, dia overprotektif, pembohong, sering jalan dengan perempuan lain
dan kata-katanya yang selalu menyombongkan diri membuatku muak. – Alena.
“Van,
Apa kasih sayangku selama ini tidak cukup? Apa dia tidak bisa merasakan
ketulusan seseorang?”
“Mungkin
dia memiliki kekasih lain. Cewek sekarang kan kalau punya gebetan baru, yang
lama pasti dibuang.” Ledek Aldo.
“Sudahlah
kalau begitu tinggalkan saja! Diluar sana ada banyak perempuan kok.” ujar Revan
menimpali.
“Benar,
sekarang aku tidak peduli pada cewek munafik.” Luke dan Aldo tertawa puas,
Revan tersenyum sinis.
“Berengsek.”
Alena mengumpat, lalu memilih pergi.
Dia bisa
saja membungkam mulut Luke, membocorkan keburukannya di hadapan semua orang
tetapi dia bukan orang yang senang mencari masalah.
Alena
duduk melamun, menopang dagu. Kehidupannya terlihat damai, berbeda dengan
teman-teman di kelas. Pelajaran kimia tanpa kehadiran guru, digunakan murid
untuk bersantai seperti bermain hp, bersendagurau, bergosip tetapi ada juga
sekumpulan orang yang tetap mengerjakan tugas.
“Alena,
kamu dan Siska menyembunyikan sesuatu dariku.” Selidik Kinar yang duduk
didepan.
“Maaf,
aku tidak sengaja membocorkannya.” Siska menyembunyikan wajah pada buku.
“Benarkan,
jika tadi Siska tidak keceplosan mungkin kalian tetap merahasiakannya.”
Posisi
Alena kian terpojok ketika tatapan curiga Erlita yang duduk di sebelah Kinar
mengarah padanya. “Kenapa kamu tidak jujur padaku? Kamu tidak mau berbagi
cerita lagi?” ujar Erlita dengan muka sedih.
“Memang
benar kemarin aku putus dengan Luke. Bahkan tidak akan bertegursapa lagi.”
Jelas Alena tanpa basa-basi.
“Sejujurnya,
aku mendukungmu putus daripada melihatmu bersedih. Sekarang kamu terlihat lebih
tenang.” Erlita menggenggam tangan Alena, menguatkan hati sahabatnya.
“Dia
salah satu cowok membosankan yang pernah aku kenal. Dia tidak cocok kalau
bergabung dengan kita. Singkirkan dia dan masukkan dalam daftar hitam!” Kinar
mengacungkan jempol, sahabat-sahabatnya mengangguk tanda setuju.
“Jangan
sampai cowok itu menyelinap lagi di antara kita.” Siska menambahkan ucapan
Kinar.
”Lalu
bagaimana perkembanganmu dengan sepupu teman Siska? Ceritakan!” desak Kinar.
“Tentang
itu. Aku belum pernah membalas pesannya.” tersenyum canggung.
“Ya
ampun Alen.. Apa yang sedang terjadi?” Siska berhenti membaca buku.
“Tenang!
aku akan membalasnya kalau moodku bagus!”
“Alenaku
sayang. Sampai kapan kamu akan bersikap cuek seperti ini?” Siska menatap Alena
tajam.
“Alena
kan memang terkenal cuek. Cowok disini saja tidak berani mendekati karena itu.
Apalagi dia yang baru kenal, bisa jadi dia akan menjauh karena tidak direspon.”
Celetuk Kinar. Siska memukulkan buku pada bahu Kinar. Kinar mulai merasa ada
yang salah dari ucapannya, hanya berani tersenyum memamerkan barisan gigi.
“Bukan
cuek tetapi lebih tepatnya menjaga sikap. Kita bahkan belum tahu si cowok itu,
wajar saja jika Alena tetap waspada.” Erlita membela.
“Tetapi...”
Erlita segera membungkam mulut Kinar yang sering keceplosan.
Pelajaran
terakhir hari ini mengerjakan soal matematika, suasana kelas berubah menjadi
tegang. Berhadapan dengan guru rajin bernama Bu Eli adalah waktu yang paling
membosankan. Bu Eli sering memberi tugas tidak cuma 15 soal tetapi lebih.
Siapapun
yang mendapat jari telunjuk Bu Eli, dia harus memaksakan diri menuju papan
tulis. Bagi siswa yang menjawab soal dengan benar, dia bisa duduk tenang tetapi
siswa yang tidak bisa mengerjakan soal tersebut, dia akan berdiri di depan
papan tulis dengan ajaran Bu Eli sampai mengerti.
Hari
ini Bu Eli meninggalkan ruangan setelah memberikan tugas kelompok. Biasanya dia
mengitari setiap bangku untuk melihat hasil kerja murid tetapi keberuntungan
sedang berpihak pada kelas XIA. Erlita dan Kinar sibuk membahas majalah fashion
yang baru mereka beli dan Siska membaca novel pada selipan buku paket
matematika. Sedangkan Alena punya kesempatan untuk membalas pesan.
Alena
menyadari kalau menunggu itu membosankan. Pesannya tidak mendapat
balasan. Tidak lama setelah menyimpan ponsel diselipan buku, layarnya
menyala. Dua jam pelajaran matematika di hari Jumat ini terlewati Alena dengan
perasaan senang.
Kamu
tahu rasanya membaca pesan dari orang asing? tapi mampu membuatmu tersenyum.
Kamu bahkan tidak mau berbagi kebahagiaan itu pada orang lain. Bukankah itu
aneh? Dia, Zaki Gifansyah. Pria yang ramah, sopan, mudah akrab, dan senang
bercanda. Apa yang kamu harapkan dari kedekatan ini? - Alena.
Ketika
Alena dan sahabat-sahabatnya berada di kosan, Zaki mengirim pesan ingin
bertemu. Alena tidak keberatan tetapi baginya menyelesaikan tugas lebih penting.
Selesai jumatan Zaki sudah menunggu dikoridor toko sebelum terminal, tempat
pertama kali mereka bertemu. Siska, dan Kinar yang mengetahui hal itu malah
terburu-buru mengerjakan tugas.
“Ayo
cepat selesaikan Alena!” Siska memberi semangat pada Alena.
“Iya,
sedikit lagi. Memang kalian sudah selesai?” tanya Alena.
“Sudah.”
jawab Siska dan Kinar berbarengan.
“Setelah
ini, ayo kita menemui Zaki!” Siska tahu, Alena bukan orang yang gampang
diajak bertemu apalagi oleh orang yang tidak dikenal. Siska berinisiatif
menemani sahabatnya itu sebelum dia berubah pikiran.
“Bolehkah
aku ikut? Siska, aku juga ingin melihat Zaki.” wajah Kinar memelas.
“Kinar,
rumahmu disini. Lebih baik kamu tunggu Erlita, aku yakin dia belum mengerjakan
tugas!”
“Baiklah,
aku hanya perlu mendengar cerita baru. Ini berarti Alena sudah berhasil
melupakan Yuda. Semoga dia baik seperti Yuda atau bahkan lebih baik. Sudah lama
kamu tidak benar-benar pacaran semenjak Yuda pergi. Semoga hubunganmu kali ini
bisa bertahan lama!”
Kinar
berbicara tanpa jeda, tidak menyadari sesuatu. Wajahnya tetap polos tanpa
mengerti arti wajah dua sahabatnya yang kaget.
Jleb,
rasanya jantungku dihatam benda keras saat mendengar nama itu. Aku tidak
melupakan dia, Yuda. Bagaimana bisa aku melupakan cinta pertamaku tetapi setiap
kali mendengar nama itu, hatiku sangat sedih. Apa yang aku rasakan? Entah
kenapa aku ingin menangis, namun air mata ini telah mengering. – Alena.
Siska
dan Alena segera membereskan peralatan sekolah, meninggalkan Kinar yang kembali
menulis.
Mereka
berjalan tergesa-gesa, Siska tidak tahu apa yang dipikirkan sahabatnya. Alena
menatap kosong langkah kakinya.
“Apa
kamu mengingat dia lagi? Maaf aku menanyakan hal ini.”
“Sudah
saatnya aku terbuka dengan hal baru. Meskipun aku tidak pernah melupakan Yuda.
Selama ini, aku terlalu larut mengenang Yuda sampai tidak memberikan ruang di
hatiku untuk oranglain. Itu membuatku menjadi jahat.”
###
Tuhan,
jika aku dapat memilih. Aku ingin merasakan waktu panjang bersama Yuda. Kembali
kemasa itu. Menghapus semua rintangan yang akan terjadi, supaya tidak ada waktu
yang memisahkan kami tetapi aku tidak boleh egois. Tuhan, aku tahu Yuda bukan
milikku. Engkau punya kuasa untuk mengambilnya kapanpun. Yuda, Engkau kenalkan
padaku sebagai kenangan yang paling berharga. Aku bahagia sampai aku tidak
sanggup membuangnya.
Pertama
kali masuk SMA, Yuda dikenal sebagai kakak senior berhati dingin. Alena tidak
pernah melihat dia marah pada junior tetapi orang sering membicarakannya
sebagai cowok tidak berperasaan, hanya bisa melukai hati perempuan. Wajahnya
tampan, lebih tampan dari ketua basket sekolah yang seharusnya menjadi incaran.
Yuda
menolak wanita yang mendekati dengan sikap cuek. Karena itulah, dia mendapat
julukan “si hati dingin”.
Namun
tidak ada yang tahu, dia sering mengirim pesan dan menelepon seseorang dengan
romantis.
Berawal
dari Alena mengalami kejadian yang tidak terduga. Dia dan Kinar berjalan
terburu-buru ke sanggar tari setelah mendapat pesan dari Kak Wilda bahwa mereka
berdua datang terlambat. Tidak biasanya sanggar sudah dipadati orang sebelum
jam latihan dimulai. Kak Wilda menarik tangan Alena.
“Kamu
tahu datang terlambat?” sepertinya kemarahan Kak Wilda hanya tertuju pada Alena
karena Kinar langsung disuruh latihan bersama yang lain.
“Iya
Kak, maaf.”
“Maaf?
Apa akan selesai begitu saja setelah mengucapkan maaf. Kamu pikir latihan tari
ini cuma permainan?” suaranya yang keras membuat semua mata tertuju pada Alena.
“Aku
tidak pernah menganggap latihan ini pemainan. Jika hati tidak serius di bidang
ini, dari awal aku tidak akan ikut bergabung. Jika aku memaksakan diri, nanti
tidak ada manfaatnya.” ucap Alena membela diri.
“Aku
tahu kamu anak pintar tetapi dengarkan saja jika seniormu sedang berbicara!
Tidak tahu sopan santun!” bentaknya lagi.
“Baik
Kak, aku mengerti.”
“Sekarang
setelah memperhatikan teman-temanmu menari, kamu ulangi gerakan mereka!
Tunjukkan pada senior disini!”
Alena
berdiri ditengah ruangan, menunjukankan tarian pada senior dan teman-temannya.
Para senior diposisi kiri dan kanan, membuat membuat lingkaran, lalu membuka
formasi. Seseorang datang menghampiri.
“Alena,
maaf atas ketidaknyamanan yang telah Kak Wilda lakukan. Semua kejadiaan ini
hanya rekaan. Tidak ada yang menyalahkanmu. Aku sengaja meminta bantuan Wilda
untuk berpura-pura memarahimu.” ucapnya sambil memberikan kue ulangtahun dan
buket bunga.
Apa
yang dia lakukan membuat kakiku hampir saja tidak mampu menopang badan,
gemetar. Apa aku bermimpi? Tuhan, pria yang aku sukai, sekarang berada di
hadapannku. Dia yang selalu membuat aku bahagia dengan kata-kata di sms atau
telepon, sekarang berbicara langsung padaku. Aku bahkan menutup telinga jika
mendengar namanya disebut sebagai si hati dingin karena dia tidak pernah
melukai hatiku.
“Aku bukan Jaka tarub yang mencuri
selendang untuk mendapatkan bidadari. Aku adalah Yuda si manusia biasa yang
berusaha mencuri hatimu, meminta Tuhan merestui. Semoga Tuhan menakdirkan kita
selalu bersama.” seisi ruangan bersorak, Alena hanya mengangguk seakan membalas
jawaban Yuda, sehingga dia bersorak bahagia memeluk teman-temannya.
Semenjak
itu Alena selalu bersama Yuda. Sahabat-sahabat Alena mengetahui kisah romantis
mereka berdua. Yuda jadi yang terbaik dan sebisa mungkin menghindari
pertengkaran.
Alena
menyukai Yuda sejak pertama kali dia mendapat hukuman mengelilingi lapangan
basket karena terlambat datang ke sekolah. Yuda mengobati luka di kaki Alena
saat terjatuh.
“Aku
tidak yakin kamu benar-benar kuat berjalan sendiri. Apa kamu mau aku antar sampai
depan kelas?” Yuda mengikuti Alena yang jalannya pincang akibat terkilir.
“Kamu
pikir aku semanja itu? Tidak perlu khawatir dan jangan membuang tenagamu!”
Alena merasa jengkel diikuti.
“Tidak
juga. Aku tidak keberatan membantumu. Bukankah lebih baik menolong daripada
bersikap tidak acuh.” jawab Yuda dengan tenang.
“Iya,
aku tahu tetapi aku bisa jalan sendiri.” Tiba-tiba Alena meringis, spontan Yuda
mengalungkan tangan Alena kelehernya.
“Jika
kamu mau, aku akan menggendongmu.” tawarnya lagi dengan wajah tengil.
“Aku
bukan anak kecil. Cobaan berat saja bisa aku lewati, tidak mungkin luka kecil
seperti ini saja membuatku manja.” dengan penuh percaya diri. Namun tetap
berpegangan pada pundak Yuda.
“Ucapanmu
ada benarnya tetapi hidup itu tetap membutuhkan bantuan. Kamu terlihat
baik-baik saja karena tidak mau oranglain khawatir? Rasanya kita punya sikap
yang sama. Hatiku jadi berdebar ketika berdekatan dengan wanita yang punya
semangat tinggi, terus percaya diri, wajah jutek tapi tidak membosankan jika
dipandang setiap hari. Apa kamu termasuk kedalam kriteria itu?”
“Aku
tidak peduli! Aku tidak termasuk kriteriamu. Jadi jangan mencari perhatian!
kamu bisa membawaku kedalam masalah. Apa kamu tidak takut kita digosipkan?”
“Rasanya
akan menyenangkan jika kita benar-benar digosipkan.” Yuda tertawa geli. Itulah
pertama kalinya, pria dengan julukan berhati dingin berhasil meluluhkan hati
Alena karena pria itu terlihat tulus saat tertawa.
Yuda
sangat dewasa, penyayang, tidak egois, perhatiaan membuat Alena nyaman tetapi
siapa yang tahu, dibalik zona nyaman itu ada rahasia yang selama ini
tersembunyi.
Alena
sering berkunjung ke rumah Yuda, meskipun Yuda tidak ada. Dia sangat akrab
dengan Ibu Yuda. Sehingga Ibu Yuda merasa tidak perlu ada rahasia yang
disembunyikan. Dia menceritakan jika Yuda sebenarnya sakit parah. Oranglain
tidak akan tahu karena Yuda tidak pernah sedikitpun mengeluh.
“Yud,
jika Ibumu tidak cerita, sampai kapan kamu akan merahasiakannya? Apa selama ini
kamu berpikir aku akan meninggalkanmu?” isak tangis Alena tidak bisa dibendung.
“Justru
aku takut kalau aku yang akan meninggalkanmu.” Yuda tidak tega melihat Alena
yang terpukul.
“Jangan
katakan itu! Aku mohon! Kita akan selalu bersama. Mulai sekarang berbagilah
keluh kesah padaku jangan disimpan sendiri!”
“Alen,
berpikirlah dewasa! ada hal negatif yang tidak perlu aku bagi. Aku membuang
rasa itu untuk melihatmu bahagia. Aku tidak ingin mengecewakanmu.”
“Saat
ini keadaaanmu yang paling penting, Yud. Jangan pernah merahasiakan apa-apa
dariku!” Alena memeluk erat Yuda. Dia mengusap rambut Alena pelan.
“Berhentilah
menangis! Tetaplah melangkah bersama sampai aku pergi, setelah itu lanjutkan
kebahagiananmu!” Alena semakin menangis.
Setiap
pulang sekolah, Alena menyempatkan diri menemani Yuda berobat dan mengajak
jalan-jalan di sekitar komplek. Alena berusaha menemaninya melewati masa-masa
sulit, berharap yang terbaik.
Namun
kebahagiaan tidak bertahan lama. Tuhan mengambil Yuda tepat di anniversary
kedua. Padahal Alena sudah merencanakan liburan semester bersama.
###
“Tidak
akan ada kebahagiaan jika kamu meratapi kesedihan. Bangkitlah dan melangkah
kedepan! Aku selalu bangga padamu. Meskipun aku tidak melihatmu atau berada
disampingmu lagi tetapi aku tahu kamu tidak akan menyerah." Kata-kata yang
aku ingat dari kekasihku, Yuda.
“Sis,
waktu? Aku tidak mau mengalaminya lagi. Semakin lama aku berpikir tentang Yuda,
waktuku dengan yang lain akan semakin singkat. Aku akan berlari jika aku gagal
mengambil kesempatan untuk memperbaiki kesalahan lagi. Aku sudah banyak
mengecewakan orang-orang yang berharap padaku.” Siska tidak mengatakan
apa-apa. Alena bahkan tidak sadar sudut mata Siska berair.
Dari
kejauhan terlihat Zaki duduk di depan pertokoan, tempat pertama kali mereka
tidak sengaja bertemu. Tempat dia berteduh, duduk tertunduk dan diam-diam
memperhatikan Alena yang berjalan melewatinya. Ketika suara petir
bergemuruh berpacu bersamaan detak jantungnya, berusaha menyibak kabut yang
menutupi pandangan pada Alena.
Tuhan,
kuatkan aku menemuinya! Jangan biarkan aku berbalik menjauh, tetaplah tuntun
aku lebih dekat! Tanganku gemetar, rasanya keringat dingin bercucuran tetapi
dia berdiri dengan wajah tenang. Dia yang mengganggu pikiran. Kini dia datang
menemuiku. Sedekat ini? Wajah lucu, putih bersih. Senyumnya ramah, dapat
meluluhkan hati siapa saja. Sekarang aku bisa menatapnya sedekat ini. Saat ini
aku bersama seseorang, berharap Tuhan memberi waktu yang terbaik untuk kami.-
Zaki.
Diluar
dugaan, mereka akrab dan tidak terlihat canggung seperti sepasang kekasih yang
sedang bersenda gurau. Tidak ada yang bisa disembunyikan, tatapan saling
mengagumi Zaki dan Alena.
“Kalian
baru kenal kenapa bisa seakrab ini? aku beranggapan kalian pacaran, apalagi
orang lain.” Siska hanya menghela nafas. Namun dia sangat bahagia, melihat
Alena tertawa lepas.
Tiga
puluh menit mereka berbincang, Siska pamit pulang. Zaki menawarkan diri
mengantar Alena.
Sepanjang
perjalanan, hati mereka tidak dapat menutupi kebahagiaan. Dirumah Alena, Zaki
seperti tamu istimewa. Ibu dan Akila, adik Alena juga antusias berbincang
bersama Zaki. Sehingga Zaki merasa nyaman. Bukan tanpa alasan keluarga Alena
memberikan sambutan yang baik. Semenjak Yuda pergi Alena jarang keluar kamar
untuk mengobrol dan tidak pernah mengajak seseorang untuk dikenalkan.
Kenapa
bisa mereka seakrab ini? Kami seperti keluarga lama, rindu menyapa. Berat
rasanya meninggalkan moment ini. Tawanya itu, Tuhan biarkan aku melihatnya
lebih lama!- Zaki
***
Sepulang
sekolah Zaki mengajak Alena ke taman. Mereka duduk pada kursi panjang di
pinggir air mancur.
“Alena,
ini terkesan buru-buru tetapi aku sudah tidak bisa menyimpan perasaan ini. Aku
menyukaimu.”
“Serius?”
Alena tertawa.
“Apa
wajahku terlihat seperti orang bercanda?” Zaki bingung.
“Tidak,
hanya aku heran. Kenapa kamu secepat ini mengatakan suka? padahal kita baru
kenal.” Alena masih belum percaya pada apa yang dikatakan Zaki.
“Aku
merasa nyaman, bahagia dan tenang jika berada di dekatmu. Aku berharap kamu
mempunyai perasaan yang sama. Apa ini bukan waktu yang tepat mengatakannya?
Maaf.”
Oh
Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa aku terlalu berani? Apa wajahku seperti
orang yang mempermainkan perasaan. Jangan biarkan dia membenciku karena ini!
Apa dia tidak menyukaiku? – Zaki.
“Mari
kita coba jalani! Jujur tentang perasaan itu lebih baik. Daripada kamu
menyembunyikannya, sampai berakhir pada penyesalan.” ucap Alena membuat pipi
Zaki memerah.
“Terimakasih
Alena. Mari memulai suatu hubungan dengan baik.”
Semenjak
jadian, Zaki menjaga komunikasi, mengantar jemput Alena ke sekolah dan
jalan-jalan bersama sahabat-sahabat Alena. Mereka akrab dengan baik. Zaki
memberikan cukup ruang untuk Alena karena dia tahu ada waktu dimana Alena ingin
sendiri atau bersama sahabat-sahabatnya. Zaki tidak pernah egois apalagi dia
sendiri sedang memulai kesibukan setelah lulus SMA.
Waktu
terasa cepat ketika kami lalui tetapi kisahku seperti berputar pada pusat
dimana aku berdiri sendiri. Kami mulai kehilangan tujuan bersama. Dia mengganti
waktu menghubungiku dengan kesibukan tanpa jeda. – Alena.
Alena
melewati hari tanpa Zaki, bermain di kosan sampai sore, belajar, dan tidur
lebih cepat. Sahabat-sahabatnya selalu menghibur dan memberi semangat. Zaki
sesekali menghubungi Alena, berharap gadis itu mengerti kesibukannya.
Hingga
waktu itu tiba, Hany mengabari Alena kalau Zaki sudah pindah. Alena merasa
kecewa, Zaki tidak berpamitan. Ketika Alena menghubungi, dia tidak di respon.
Zaki,
secepat inikah kamu berubah? Meninggalkan garis waktu yang kita punya. Apa ini
tujuannya? Bersinggah lalu pergi tanpa penjelasan sedikit saja. Kenapa kamu
seperti ini? Ini lebih menyakitkan, kamu diam tanpa mengucapkan kata
perpisahan. Kamu mengacuhkanku seperti ini. Apa aku harus bertahan?
menunggumu kembali. Tanpa tahu apa yang kamu lakukan diluar sana. - Alena.
“Tuhan,
sedang menguji kita. Aku tetap bersyukur kamu masih memberi kabar padaku, namun
satu sisi kita sama-sama berusaha tegar. Pasti ada pelajaran penting yang bisa
kita ambil dari masalah ini. Aku ingin kita bersikap dewasa. Kamu sangat
beruntung Al, berada di sekitar orang-orang yang menyayangimu.” pesan terakhir
Zaki.
Bulan
terus berlanjut, Zaki semakin menjauh. Mereka sudah jarang komunikasi. Alena
mengirim pesan singkat terakhir, tanpa balasan.
Pesan
dari Alena: Jangan banyak pikiran! Jaga kesehatan! Kesuksesan ada ditanganmu.
Berbahagialah! Kejarlah masa depan yang kamu impikan!” Alena kembali ke
aktifitas semula, tanpa harapan mendapat kabar dari Zaki.
Aku
bersahabat dengan lelah, mungkin dia pacar setia. Temani aku! Aku merindukan
seseorang tetapi dia seakan tidak mau mengajakku di setiap langkahnya. Itulah
yang meyakinkanku kalau tidak ada rasa sayang dan perjuanganku sudah selesai.
Zaki,
apa yang membebanimu? Pernahkah kita berjanji untuk selalu bersama? Apakah kita
mengakhiri hubungan ini? Semua menggantung. Akankah kamu kembali? Apakah
tujuanmu menjauh karena ingin melepaskanku? Katakan sesuatu! - Alena.
***
Alena
menutup buku yang sejak tadi dibaca karena dia sadar seseorang mengawasi.
“Apa
kabar Al?” ucapnya canggung.
“Baik.”
“Maaf
membuatmu risih. Sejak pulang sekolah aku mengikutimu sampai ke perpustakaan
umum, menunggumu yang dua jam lamanya membaca buku. Ini sungguh melelahkan.”
Hany merebahkan tubuhnya di meja.
“Salah
siapa mengikutiku?” Alena masih terlihat santai.
“Alena,
kamu jutek sekali.” Hany memamerkan barisan giginya.
“Ada
apa mengikutiku? memangnya kamu detektif.” Alena tersenyum tipis.
“Zaki
ingin aku memastikan kalau kamu dalam keadaan baik.”
“Apa
dia baik-baik saja?” Alena ingin tahu banyak tentang Zaki, namun percuma saja.
“Baik.
Meskipun sibuk dengan pekerjaan. Aku bilang padanya, seorang perempuan
pasti kecewa jika ada pria yang mendiamkan tanpa sebab tetapi tidak ada
tanggapan. Dia memang sulit dimengerti.” jelas Hany.
“Jika
dia pulang, tolong kabari aku!”
“Baiklah,
aku tahu kalian dalam masa yang sulit. Aku juga sudah menanyakan kejelasan
hubungan kalian tetapi dia tidak ingin membahasnya.”
“Jangan
membebaninya! Kita benar-benar sudah berakhir.”
“Sayang
sekali. Dia menitipkan surat ini.” Hany memberikan aku secarik amplop.
Terima
kasih sudah hadir dalam kisahku. Tidak perlu merasa bersalah. Kita merasakan
luka yang sama. Kamu pasti kecewa dengan apa yang aku lakukan. Aku disini
berusaha tegar, meskipun tangisan itu selalu ada bila terlintas bayanganmu
diingatan. Mengenang pertokoan itu, seperti melihat kamu menunggu, menyambut
kedatanganku dengan tersenyum.
Cintaku
berawal dari hujan sore itu, tidak ada yang menduga. Hujan mengisyaratkan kita
bertemu. Lubuk hati menyimpan sosokmu. Kamu yang tidak aku kenal, namun entah
kenapa aku memikirkanmu. Aku tidak bisa berharap lebih. Pertama kali
memberanikan diri mengatakan aku menyukaimu, hari itu menjadi hari paling
bahagia. Terima kasih telah mewarnai hidupku, meski singkat. Kebahagian
yang kamu berikan sangat berarti untukku. Aku berharap kita bertemu lagi.
- Zaki.
Terimakasih
Ini
ceritaku. Dilarang mengcopy paste!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar