Saat ini aku tidak tahu kamu berada di mana. Mungkin kamu sedang
mengejar mimpi yang dulu sering kamu ceritakan.
Kamu hadir secepat kilat yang membelah langit. Tanpa
aba-aba. Tanpa sempat kupersiapkan hati.
Hujan mempertemukan kita, seolah semesta sedang mempermainkan
dua orang asing yang tidak pernah tahu bahwa suatu hari nanti mereka akan
saling merindukan.
Kamu datang membawa harapan. Membuatku percaya
bahwa luka juga bisa sembuh. Bahwa seseorang bisa hadir hanya untuk mengajarkan
bagaimana rasanya kembali tersenyum.
Namun... Secepat kedatanganmu, secepat itu pula
kamu pergi. Aku bahkan belum sempat belajar mempertahankanmu. Yang tersisa
hanyalah kenangan.
Kenangan yang diam-diam tumbuh menjadi tempat
paling sering kukunjungi ketika malam datang. Hingga kini, setiap kali hujan
turun, aku masih bertanya-tanya... Apakah semesta juga sedang mengingatmu? Ataukah
hanya aku yang belum benar-benar pulang dari masa lalu?
Lalu seseorang datang. Perlahan. Tanpa memaksa. Ia
mengetuk pintu hati yang selama ini kukunci rapat. Sedikit demi sedikit, ia
mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu berhenti pada satu kehilangan.
Aku mulai percaya bahwa kebahagiaan masih mungkin
datang untuk kedua kalinya. Aku mengira takdir akhirnya berpihak kepadaku.
Namun ternyata... Takdir hanya sedang mengajarkanku
cara kehilangan yang berbeda. Satu peristiwa meruntuhkan semua harapan yang
baru saja kubangun. Menghempaskanku jauh lebih keras daripada saat pertama kali
aku jatuh.
Dan sejak hari itu... Aku memahami satu hal. Yang
paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang. Melainkan ketika kita harus
tetap hidup sambil membawa kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
— Alena
Apa kamu senang berada di tengah keramaian? Alena tidak. Baginya,
keramaian bukan tempat untuk merasa hidup. Justru di tengah begitu banyak
orang, ia sering merasa menjadi orang yang paling kesepian.
Ia bukan gadis yang gemar berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
mengejar tren, atau berusaha menjadi pusat perhatian agar dianggap ada. Ia
lebih menyukai sudut-sudut yang tenang.
Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura.
Namun hidup tidak pernah bertanya apa yang kita sukai. Kadang kita dipaksa
bertahan di lingkungan yang membuat napas terasa berat. Lingkungan yang membuat
kita terus berhati-hati pada setiap ucapan.
Seolah satu kesalahan kecil saja sudah cukup untuk membuat semua orang
berpaling. Pernahkah kamu merasa harus menjadi orang lain agar diterima? Pernahkah
kamu tersenyum hanya agar tidak ada yang bertanya apakah kamu baik-baik saja? Pernahkah
kamu merasa berada di tengah banyak orang, tetapi tidak benar-benar memiliki
tempat untuk pulang?
Itulah yang Alena rasakan hampir setiap hari. Seorang gadis berdiri
termenung di depan gerbang. Tatapannya kosong. Entah sedang melihat halaman
yang dipenuhi orang, atau justru menatap kenangan yang tak dapat dilihat siapa
pun.
“Alena.” Tak ada jawaban. “Alena!” Sebuah tangan melambai tepat di depan
wajahnya.
Alena tersentak. “Lita... sejak kapan kamu di sini?”
Erlita mengembuskan napas panjang sambil menyilangkan kedua tangan di
dada. “Haruskah aku menjelaskan pakai rumus matematika? Atau bahasa asing yang
setiap hari kamu pelajari? Pilih saja.”
Alena menggeleng pelan. “Terserah. Aku sedang tidak ingin bercanda.”
“Jawaban salah.” Erlita mengangkat dagunya dengan gaya sok serius. “Ini
pertanyaan dari calon guru profesional. Jadi jawab yang benar.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Alena terangkat. “Baik, Bu
Guru. Nanti saja praktik mengajarnya kalau sudah benar-benar lulus. Sekarang
masih jauh.”
“Dasar si paling kaku.” Erlita menjentik pelan hidung sahabatnya. “Ngomong-ngomong,
sejak tadi kamu ngapain berdiri sendirian di sini?”
“Menunggumu.”
Padahal... Tidak ada siapa pun yang sebenarnya ia tunggu. Ia hanya belum
siap melangkah menuju tempat yang seharusnya ia datangi.
“Benarkah?” Erlita menyipitkan mata penuh curiga.
“Iya.” Alena buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Siska sama Kinar ke
mana?”
“Di kosan. Kita mau ngerjain tugas bahasa Inggris dari Pak Soni. Kamu
nggak jadi les privat?”
Alena hanya mengulas senyum tipis.
“Kalau begitu... ayo.” Erlita tidak bertanya lagi. Ia cukup mengenal
Alena untuk memahami satu hal.
Ada luka yang tidak akan keluar meski dipaksa dengan seribu pertanyaan. Luka
itu hanya akan bercerita ketika pemiliknya benar-benar siap. Mereka pun
berjalan menuju rumah kos Pak Toha. Tempat sederhana yang, tanpa disadari,
perlahan menjadi rumah kedua bagi Alena.
Di sanalah ia bertemu Siska dan Kinar. Mereka belajar bersama,
mengerjakan tugas, saling mengejek, tertawa hingga larut malam, bahkan berebut
camilan yang sebenarnya dibeli untuk dimakan bersama.
Permainan bedak basah hampir selalu menjadi penutup setiap kebersamaan
mereka. Siapa yang kalah harus rela wajahnya diputihkan tanpa ampun. Korbannya
tidak hanya sesama penghuni kamar. Anak-anak kos lain sering ikut dikejar
sampai bersembunyi di dapur, ruang tamu, bahkan kamar mandi.
Lucunya, tidak ada yang benar-benar marah. Rumah kos itu terlalu penuh
tawa untuk menyimpan dendam. Dan tanpa disadari...
Di tempat sederhana itulah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Alena menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Perasaan pulang.
***
Hari Kamis. Hujan turun tanpa jeda, mengguyur kota hingga langit seolah
kehilangan batas. Awan kelabu bergantung rendah, lalu perlahan menumpahkan
seluruh isinya.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang bergegas mencari tempat berteduh,
Alena justru menyukai hujan yang datang tanpa peringatan.
Baginya, hujan adalah sahabat paling setia. Di balik derasnya rintik,
wajah lelah dapat disembunyikan. Air mata pun akan larut bersama hujan, tak
lagi dapat dibedakan mana yang berasal dari langit dan mana yang berasal dari
hati.
Sayangnya, tempat ini terlalu ramai. Jika ia sengaja berjalan di bawah
hujan, orang-orang hanya akan memandangnya seperti gadis aneh.
Bersama Siska, Alena menyusuri deretan pertokoan untuk mencari tempat
berteduh. Langkah mereka dipercepat, menghindari hujan yang semakin deras.
Sejak tadi kepala Alena terus tertunduk. Ia melewati kerumunan orang tanpa
sekali pun mengangkat wajah.
Siska beberapa kali melirik sahabatnya. Ada banyak hal yang ingin ia
tanyakan, tetapi ia sudah hafal jawaban yang akan diterimanya.
“Aku baik-baik saja.” Kalimat itu selalu menjadi dinding yang tak pernah
berhasil ia lewati.
“Siska?” Suara seseorang memanggil dari depan sebuah toko elektronik.
Beberapa orang sedang berteduh di sana. Salah satunya adalah Hany, teman
Siska semasa SMP. Hany tidak sendiri. Di sampingnya duduk seorang lelaki yang bersandar
santai di tembok toko yang sudah tutup. Jemarinya sibuk memainkan ponsel,
seolah hujan di sekitarnya bukan sesuatu yang menarik perhatian.
Siska segera menghampiri Hany. Percakapan mereka mengalir hangat,
melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu.
Sementara itu, Alena memilih diam. Tatapannya lurus mengarah ke jalan
yang mulai tergenang. Air hujan mengalir deras hingga menutupi mata kaki
orang-orang yang tetap memaksakan diri melintas.
“Kenalkan, ini sahabatku, Alena.”
Alena hanya membalas dengan senyum tipis.
Tak lama kemudian, Hany dan Siska saling bertukar nomor telepon.
Percakapan mereka pun berakhir.
Siska memahami Alena. Saat pikirannya sedang penuh, gadis itu tidak suka
menunggu terlalu lama, apalagi terlibat dalam obrolan yang menurutnya tidak
penting.
Setibanya di terminal angkot, mereka berpisah karena tujuan yang
berbeda. Alena naik ke dalam angkot yang hampir kosong. Ia memilih duduk di
dekat jendela. Kota yang basah oleh hujan perlahan bergerak mundur seiring
kendaraan mulai melaju.
Tak lama kemudian, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk dari
seseorang yang sudah lama tidak menghubunginya.
Luke: Jangan
diam saja. Kalau kamu terus seperti ini, semuanya akan semakin buruk.
Alena menatap pesan itu cukup lama. Lalu, tanpa banyak berpikir,
jemarinya mulai mengetik.
Alena: Baiklah.
Aku mau kita putus.
Pesan itu terkirim. Tidak ada penyesalan. Yang tersisa hanyalah
kelelahan.
Sering kali aku terlihat tegar. Padahal, aku hanya
terbiasa menyimpan kecewa sendirian. Apa
semua orang pernah berharap bisa kembali ke masa lalu? Memperbaiki satu
keputusan yang ternyata membawa luka? Aku ingin bertanya... tetapi aku
takut menerima jawaban yang sama.
— Alena
Tatapan Alena kembali tertuju ke luar jendela. Hujan masih turun tanpa
tanda akan berhenti.
Saat angkot melambat di depan deretan pertokoan, tanpa sengaja matanya
menangkap sosok yang beberapa menit lalu berbincang bersama Hany. Lelaki itu
masih berdiri di tempat yang sama. Kabut hujan membuat wajahnya tampak samar.
Alena menyipitkan mata. “Dasar bodoh,” gumamnya pelan. “Kenapa aku
malah memperhatikan orang yang sama sekali tidak kukenal?”
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Siska muncul di layar.
“Hari ini hari keberuntunganmu, sahabat cantikku!” seru Siska penuh
semangat begitu panggilan tersambung.
“Maksudmu?”
“Aku punya kabar baik.”
Alena mengernyit. “Tunggu dulu. Baru beberapa menit yang lalu aku
memutuskan Luke, sekarang kamu bilang ini hari keberuntunganku?”
Siska justru terdengar lega. “Serius?”
“Iya.”
“Alena... maaf kalau aku terdengar jahat, tapi aku justru senang kalian
berpisah. Sudah seminggu terakhir aku lihat senyummu menghilang gara-gara Luke.”
Alena mengembuskan napas panjang. “Aku sudah berusaha menjadi diriku
sendiri. Tapi semakin bertahan, aku justru semakin merasa menjadi orang lain.
Daripada terus saling menyakiti, lebih baik semuanya selesai sekarang.”
Suara Siska melembut. “Apa pun keputusanmu, aku akan tetap mendukungmu.”
Ia berhenti sejenak. “Jangan terus melihat ke belakang, Lena. Teruslah
berjalan sampai kamu menemukan jalan yang memang ditakdirkan untukmu.”
Beberapa detik kemudian, nada bicaranya kembali ceria.
“Nah... sekarang siap-siap. Kabar yang kubawa ini dijamin bikin kamu
senyum.”
Alena tersenyum tipis. “Aku jadi penasaran.”
“Hampir saja aku lupa bagian terpentingnya.”
“Dasar pelupa.”
“Sepupu Hany... cowok yang tadi bersamanya...” Siska sengaja menggantung
kalimatnya. “...minta nomor teleponmu.”
Alena terdiam.
Seolah ada petir yang menyambar di tengah hujan. Secepat
ini? Benarkah hati manusia bisa berubah secepat itu? Saat aku baru saja
kehilangan seseorang, mengapa Kau justru mengirim orang lain untuk mengetuk
pintu yang bahkan belum sempat kututup rapat? Haruskah aku membukanya?
— Alena
“Al...” suara Siska kembali terdengar. “Aku masih menunggu jawabanmu.”
Alena menarik napas panjang. “Aku belum ingin dekat dengan siapa pun. Terlalu
cepat.”
Siska tertawa pelan. “Aku tidak menyuruhmu pacaran. Cukup berteman. Siapa
tahu kamu merasa nyaman.”
Alena tetap diam.
“Jangan menutup semua pintu hanya karena pernah kehilangan.”
Kalimat itu membuat keduanya terdiam. Masing-masing larut dalam
pikirannya sendiri.
Akhirnya Alena mengalah. “Baiklah. Berikan saja nomor teleponku.”
Senyum Siska langsung mengembang. “Terima kasih, Lena. Semoga ini
menjadi awal yang baik.”
Panggilan pun berakhir.
Alena kembali memandang hujan di balik jendela. Entah mengapa... Bayangan
lelaki yang tadi berdiri di depan toko kembali memenuhi pikirannya.
Malam harinya, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Alena
membaca nama pengirim itu beberapa saat, tetapi tidak segera membalas. Ponselnya
ia selipkan di bawah bantal.
“Bisakah kamu menunggu sebentar?” gumamnya lirih.
“Aku baru saja melepaskan Luke. Selama ini aku hanya menjadikannya
tempat pelarian. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.”
Ia memejamkan mata. “Kalau kamu benar-benar berniat mengenalku...
biarkan semuanya berjalan dengan waktunya.”
Belum waktunya. Suasana hatiku mudah berubah. Bahkan
aku sendiri sering kali tidak memahami apa yang sebenarnya kuinginkan. Haruskah
aku mengenalmu? Kalau
kamu berada di posisiku, keputusan apa yang akan kamu ambil? Bintang
paling terang... kalau memang ini jalan yang benar, temuilah aku dalam mimpi
malam ini.
— Alena
Ia memeluk boneka panda kesayangannya lebih erat. Kelopak matanya
perlahan terasa berat. Ponsel di bawah bantal kembali bergetar beberapa kali. Namun
malam itu, Alena memilih membiarkannya. Bukan karena ia tidak peduli.
Melainkan karena ia ingin memastikan bahwa siapa pun yang mengetuk pintu
hatinya nanti, bukan lagi sekadar pelarian dari seseorang yang telah pergi.
Di luar, hujan masih turun dengan tenang. Seolah langit sedang berbisik
bahwa setiap kehilangan selalu membawa awal yang baru. Dan tanpa Alena sadari,
pesan-pesan yang ia abaikan malam itu adalah awal dari pertemuan yang kelak
akan mengubah seluruh jalan hidupnya.
***
Alena bahkan tidak sempat sarapan pagi. Sebelum bel masuk berbunyi, ia
menyempatkan diri membeli nasi uduk di kantin sekolah. Suasana kantin masih
lengang. Hanya beberapa siswa yang sedang menikmati sarapan sambil mengobrol
santai.
Alena memilih duduk di sudut ruangan. Ia berharap bisa menghabiskan
sarapannya dengan tenang sebelum pelajaran dimulai. Namun, baru beberapa suap
makanan masuk ke mulutnya, sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar dari
meja di belakang.
Luke. Ia duduk bersama Aldo dan Revan.
“Ternyata dia memang pintar berpura-pura,” ucap Luke dengan suara yang
cukup keras hingga mudah terdengar. “Kelihatannya lembut, tapi ternyata mudah
sekali meninggalkan orang.”
Aldo menyeringai. “Jadi akhirnya topengnya kebuka juga?”
Luke tersenyum hambar. “Aku benar-benar tidak menyangka. Selama ini aku
selalu berusaha mengerti dia. Tapi ujung-ujungnya malah ditinggal begitu aja.”
“Karena ada cowok lain?” tanya Aldo santai.
Luke mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Tapi orang tidak mungkin berubah
secepat itu tanpa alasan.”
Sendok di tangan Alena berhenti di udara. Nafsu makannya lenyap seketika.
Apa ini caranya membuatku merasa bersalah? Apa mereka semua menganggap aku penyebab
semuanya? Padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Luke terlalu
mengekangku. Ia sering berbohong. Mudah akrab dengan perempuan lain,
tetapi marah ketika aku berbicara dengan laki-laki.
Aku lelah hidup mengikuti aturan yang tidak pernah
kuminta. Aku tidak meninggalkannya
tanpa alasan. Aku hanya sedang menyelamatkan diriku sendiri.
— Alena
Revan yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. “Kamu sudah dengar alas
an darinya?”
Luke menggeleng. “Dia bahkan tidak kasih aku kesempatan buat mengerti.”
“Mungkin...” Revan menarik napas pelan. “Ada sesuatu yang belum kamu
tahu.”
Luke menatap sahabatnya. “Kalau memang ada alasan, kenapa dia tidak
bilang?”
Revan terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Karena tidak semua orang
sanggup menjelaskan luka yang mereka rasakan.”
Luke memalingkan wajah. “Setidaknya aku ingin tahu letak salahku. Kalau
memang aku yang keliru, aku masih bisa memperbaikinya.”
Revan mengangguk pelan. “Kalau aku ada di posisimu...” Ia berhenti
sejenak. “...aku akan mulai dengan bertanya pada diriku sendiri. Jangan-jangan
ada sesuatu yang selama ini tidak kusadari.”
Luke tidak segera menjawab.
Aldo justru mendengus pelan. “Ah, Van. Kamu terlalu membela dia.
Menurutku sih jelas. Dia pasti udah punya gebetan baru. Sekarang banyak yang
begitu. Begitu ada yang lebih menarik, langsung ninggalin yang lama.”
Revan menggeleng. “Jangan asal menuduh. Kita cuma dengar satu sisi
cerita.”
Luke mengembuskan napas panjang. “Mau apa pun alasannya. Semuanya sudah
selesai.”
Revan menepuk bahu sahabatnya. “Kalau memang hubungan itu sudah
berakhir, belajarlah mengikhlaskan. Memaksa seseorang bertahan juga bukan
bentuk cinta.”
Luke tersenyum tipis, lalu tanpa sengaja menoleh ke arah Alena. Tatapan
mereka bertemu sesaat.
“Benar.” Suaranya terdengar datar. “Mulai sekarang aku tidak peduli lagi
sama perempuan yang tidak tahu menghargai ketulusan.”
Aldo terkekeh pelan. Revan hanya menghela napas. Ia tahu ucapan itu
sengaja ditujukan kepada seseorang.
Alena mengepalkan jemarinya di bawah meja. “Berengsek...” gumamnya
lirih. Ia berdiri perlahan.
Sarapan yang baru dimakannya beberapa suap itu ditinggalkan begitu saja.
Sebenarnya ia bisa saja menghampiri meja Luke. Ia bisa membuka semua kebohongan
yang selama ini disembunyikan lelaki itu. Namun Itu bukan cara yang ingin ia
pilih.
Biarlah mereka menilaiku dari cerita yang mereka
dengar. Aku tidak ingin membalas
keburukan dengan keburukan. Orang yang benar tidak selalu harus menang dalam
setiap perdebatan. Kadang, diam adalah cara terbaik menjaga harga diri. Dan
waktu... selalu tahu kepada siapa kebenaran akan berpihak.
— Alena
Alena duduk sambil menopang dagu. Tatapannya kosong mengarah ke luar
jendela. Kehidupannya tampak tenang, berbanding terbalik dengan suasana kelas
yang riuh.
Jam pelajaran Kimia berlangsung tanpa kehadiran guru. Kesempatan itu
dimanfaatkan sebagian besar siswa untuk bermain ponsel, bercanda, bergosip,
atau sekadar mengobrol. Hanya beberapa orang yang tetap sibuk mengerjakan
tugas.
“Alena.” Suara Kinar membuyarkan lamunannya.
“Kamu sama Siska menyembunyikan sesuatu dariku.” Kinar yang duduk di
bangku depan menoleh dengan tatapan penuh selidik.
Siska spontan menutup wajahnya dengan buku. “Maaf... aku tidak sengaja
keceplosan.”
“Jadi benar?” Kinar mengangkat sebelah alis. “Kalau Siska tidak keceplosan,
kalian bakal terus merahasiakannya?”
Kini Alena merasa semakin terpojok. Erlita yang duduk di samping Kinar
ikut menoleh dengan wajah murung.
“Kenapa kamu tidak cerita sama kami?” tanyanya pelan. “Apa sekarang kamu
sudah tidak menganggap kami tempat berbagi?”
Alena mengembuskan napas panjang. “Bukan begitu.” Ia tersenyum tipis. “Kemarin
aku memang putus sama Luke.”
Suasana mendadak hening.
“Mulai sekarang... kami memilih berjalan di jalan masing-masing.”
Erlita langsung menggenggam tangan sahabatnya. “Kalau boleh jujur...” Ia
tersenyum lembut. “...aku justru mendukung keputusanmu.”
Alena menatapnya heran. “Akhir-akhir ini kamu sering terlihat memaksakan
diri untuk tersenyum. Hari ini, meski kamu kelihatan lelah, wajahmu justru jauh
lebih tenang.”
Alena hanya membalas dengan senyum kecil.
“Aku juga setuju!” sahut Kinar bersemangat. “Luke itu salah satu cowok
paling membosankan yang pernah aku kenal. Mulai sekarang namanya resmi dicoret
dari daftar calon teman tongkrongan kita!”
Siska langsung mengacungkan jempol. “Setuju.”
“Pokoknya jangan sampai dia menyelinap lagi ke lingkaran persahabatan
kita.” Kinar bersemangat.
Alena tak kuasa menahan tawa melihat tingkah ketiga sahabatnya.
“Tapi...” Kinar mendadak menyeringai jahil. “Bagaimana perkembanganmu
sama sepupu temannya Hany? Cerita, dong.”
Alena menggaruk pelipisnya. “Belum ada perkembangan.”
“Lho? Kenapa?”
“Aku...” Ia tersenyum canggung. “...belum membalas pesannya.”
“Apa?!” Siska spontan menurunkan bukunya. “Ya ampun, Alena!”
“Tenang saja. Nanti juga aku balas kalau suasana hatiku sudah lebih
baik.”
Siska memijat pelipisnya. “Alenaku yang baik... Sampai kapan kamu mau sedingin
ini?”
Kinar ikut terkekeh. “Ya memang begitu Alena. Wajahnya saja sudah susah
didekati. Ditambah pesannya tidak dibalas. Kasihan itu cowok.”
Bruk. Sebuah buku mendarat pelan di bahu Kinar.
“Aduh!” Kinar mengusap bahunya sambil meringis. “Kenapa aku yang jadi
korban?”
“Karena mulutmu terlalu jujur,” jawab Siska santai.
Melihat keduanya mulai berdebat, Erlita buru-buru menengahi. “Bukan
cuek. Alena cuma sedang berhati-hati. Ia bahkan belum benar-benar mengenal
laki-laki itu. Kalau dia memilih menjaga jarak dulu, menurutku itu wajar.”
“Iya, tapi—” Belum sempat Kinar melanjutkan ucapannya, Erlita langsung
menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Sudah. Jangan asal berkomentar.”
Kinar hanya bisa mengangguk sambil meringis. Melihat ekspresi sahabatnya,
mereka bertiga pun tertawa.
Pelajaran terakhir hari itu adalah Matematika. Suasana kelas yang semula
riuh mendadak berubah tegang. Berhadapan dengan Bu Eli, guru yang terkenal
disiplin dan gemar memberikan latihan, selalu menjadi jam pelajaran yang paling
melelahkan bagi sebagian besar siswa.
Lima belas soal hanyalah permulaan. Siapa pun yang ditunjuk harus maju
ke depan kelas dan menyelesaikan soal di papan tulis. Mereka baru diizinkan
kembali ke bangku setelah berhasil menemukan jawaban yang benar.
Beruntung, hari itu Bu Eli harus menghadiri rapat mendadak. Beliau hanya
membagikan tugas kelompok sebelum meninggalkan kelas. Kesempatan itu langsung
dimanfaatkan para siswa.
Erlita dan Kinar sibuk membolak-balik majalah fesyen yang baru mereka
beli. Siska membaca novel yang disembunyikan di balik buku Matematika. Sementara
itu, Alena membuka ponselnya. Ia menatap satu nama yang sejak tadi memenuhi
pikirannya.
Zaki. Pesan terakhir dari laki-laki itu masih belum ia balas. Entah
mengapa, baru kali ini Alena menyadari bahwa membuat seseorang menunggu
ternyata tidak menyenangkan.
Ia menarik napas pelan, lalu mulai mengetik.
Alena “Maaf.
Baru sempat membalas.”
Beberapa detik berlalu. Belum ada balasan. Alena tersenyum kecil. “Pantas
saja rasanya tidak enak,” batinnya. “Ternyata menunggu balasan memang
sesulit ini.”
Ia meletakkan kembali ponselnya dan berusaha fokus mengerjakan tugas. Namun
tak lama kemudian... Layar ponselnya kembali menyala.
Zaki akhirnya dibalas juga. Tanpa sadar, sudut bibir Alena
terangkat.
Alena “Maaf.
Aku sedang banyak pikiran.”
Tak sampai satu menit kemudian...
Zaki “Berarti
aku beruntung.”
Alena “Kenapa?”
Zaki “Karena
di tengah banyaknya pikiranmu, kamu masih menyempatkan membalas pesanku.
Alena terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari
terakhir, ia benar-benar tersenyum. Percakapan mereka tidak membahas hal-hal
penting. Hanya obrolan ringan. Tentang hujan. Tentang tugas sekolah. Tentang
guru yang terkenal galak. Tentang makanan favorit. Hal-hal sederhana yang
biasanya tak berarti apa-apa.
Namun entah mengapa... Dua jam pelajaran Matematika terasa berlalu
begitu cepat.
Kamu pernah merasakan hal seperti ini? Pesan dari seseorang yang awalnya hanyalah
orang asing, perlahan mampu memperbaiki suasana hatimu. Bukan karena
kata-katanya luar biasa. Melainkan karena kehadirannya datang di waktu yang
tepat.
Namanya Zaki Gifansyah. Entah mengapa, setiap pesan darinya membuatku
merasa hidupku tidak sesuram kemarin. Tapi... aku belum ingin menyebut
ini sebagai awal dari sesuatu.
Mungkin... ini hanya sebuah pertemanan. Atau mungkin, Tuhan sedang mengajarkanku bahwa
setelah kehilangan, selalu ada kesempatan untuk kembali tersenyum.
— Alena
***
Percakapan mereka tak lagi sekadar saling menanyakan kabar. Sedikit demi
sedikit, mereka mulai mengenal kehidupan masing-masing.
Zaki sering bercerita tentang kegiatannya sepulang sekolah. Seusai
membantu di bengkel milik pamannya, ia biasanya baru tiba di rumah menjelang
malam. Meski lelah, ia selalu menyempatkan diri mengirim pesan kepada Alena. Di
sela-sela obrolan, ia juga menceritakan impiannya untuk memiliki bengkel
sendiri suatu hari nanti.
Sebaliknya, Alena mulai membuka sedikit ruang di dalam hidupnya. Ia
bercerita tentang sahabat-sahabatnya, tugas sekolah yang kerap membuatnya
mengeluh, novel-novel yang gemar ia baca, hingga kebiasaannya menikmati hujan
dari balik jendela kamar.
Sesekali, Zaki mengirim foto langit sore. “Lihat, awannya mirip
kapas.”
Alena hanya membalas dengan emoji senyum. Namun tanpa sepengetahuan
Zaki, foto itu diam-diam ia simpan di galeri ponselnya.
Malam berikutnya, giliran Alena mengirim foto langit berwarna jingga
dari jendela kamarnya. “Di sini juga cantik.”
Zaki tersenyum cukup lama membaca pesan itu. Baginya, balasan sederhana
itu sudah mampu membuat hari yang melelahkan terasa jauh lebih ringan.
Hari demi hari berlalu. Percakapan yang semula hanya berlangsung
beberapa menit kini sering berakhir menjelang tengah malam. Tidak ada rayuan. Tidak
ada kata-kata manis yang berlebihan.
Mereka hanya saling bertukar cerita tentang hal-hal sederhana yang
terjadi setiap hari. Anehnya, justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah
jarak di antara mereka perlahan memudar.
Belum ada yang berani menyebutnya sebagai rasa suka. Namun, tanpa
disadari, keduanya mulai terbiasa mencari nama satu sama lain setiap kali layar
ponsel menyala.
Memasuki minggu kedua, Zaki mulai merasa pesan singkat saja tidak lagi
cukup. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan, tetapi rasanya akan lebih baik
jika disampaikan secara langsung.
Beberapa kali ia mengetik ajakan untuk bertemu, lalu menghapusnya
kembali. Ia khawatir Alena merasa tidak nyaman.
Hingga akhirnya, pada suatu siang, setelah mengumpulkan keberanian, ia
mengirim sebuah pesan.
Zaki: Aku
sudah di koridor pertokoan dekat terminal. Kalau kamu tidak sibuk, boleh kita
bertemu?
Ponsel Alena bergetar di atas meja belajar kos. Ia membaca pesan itu
berulang kali. Bukan karena tidak ingin bertemu. Hanya saja, baginya
menyelesaikan tugas sekolah tetap lebih penting daripada memenuhi ajakan
seseorang yang baru dikenalnya.
Melihat Alena hanya menatap layar ponselnya, Siska segera menghampiri. “Zaki
mengirim pesan?” tanyanya penasaran.
Alena mengangguk pelan. “Iya. Dia bilang sudah menunggu di pertokoan
dekat terminal.”
Siska dan Kinar saling berpandangan, lalu buru-buru membereskan buku
serta lembar tugas yang berserakan di lantai.
“Ayo, cepat selesaikan, Alena!” seru Siska penuh semangat.
“Iya, tinggal sedikit lagi.”
“Kalau begitu, setelah ini kita temui Zaki.”
Alena mengangguk pelan. Sesekali matanya kembali melirik layar ponsel
yang masih menampilkan pesan dari Zaki. Ia tidak ingin membuat lelaki itu
menunggu terlalu lama.
Siska memahami sahabatnya. Alena bukan tipe orang yang mudah menerima ajakan
bertemu, apalagi dengan seseorang yang baru dikenalnya. Karena itu, ia sengaja
ingin menemani Alena agar tidak merasa canggung.
“Sis... boleh aku ikut juga?” Kinar memasang wajah memelas. “Aku
penasaran ingin melihat Zaki.”
Siska tertawa kecil. “Kinar, rumahmu di sini. Lebih baik kamu tunggu
Erlita. Aku yakin dia belum selesai mengerjakan tugas.”
Kinar mengembuskan napas panjang. “Ya sudah. Nanti jangan lupa ceritakan
semuanya.”
Suasana kembali ringan. Namun, tanpa berpikir panjang, Kinar kembali membuka
suara.
“Ini berarti Alena akhirnya berhasil melupakan Yuda. Semoga Zaki sebaik
Yuda... atau bahkan lebih baik. Soalnya, sejak Yuda pergi, kamu belum pernah
benar-benar membuka hati lagi.” Kalimat itu meluncur begitu saja.
Senyum Siska perlahan menghilang. Tatapannya langsung beralih kepada
Kinar, seolah memintanya berhenti. Kinar baru menyadari kesalahannya.
“Eh...” Ia menutup mulutnya sendiri. “Maaf... aku tidak sengaja.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tak ada lagi candaan. Tak ada lagi tawa. Alena tetap menundukkan kepala.
Tangannya masih memegang ponsel, tetapi layar yang sejak tadi ia tatap kini
mulai tampak buram. Bukan karena cahaya layar yang berubah. Melainkan karena
matanya mulai dipenuhi air.
Yuda. Nama itu
kembali mengetuk pintu hatinya. Nama yang selama ini berusaha ia kubur sedalam
mungkin. Nama yang selalu berhasil membuat seluruh keberaniannya runtuh hanya
dalam satu detik.
Ia menggenggam ponselnya semakin erat. Pesan dari Zaki masih terpampang
di layar. Namun pikirannya telah kembali pada seseorang yang telah lama pergi.
Apa benar aku sudah siap membuka lembaran baru? Kalau memang sudah, mengapa hanya dengan
mendengar namamu... hatiku masih terasa sesak?
Yuda... Bagaimana
mungkin aku melupakanmu? Kaulah cinta pertama yang mengajariku arti
bahagia. Dan juga orang pertama yang mengajariku bahwa kehilangan bisa mengubah
seseorang untuk waktu yang sangat lama.
Aneh... sekarang aku bahkan sudah tidak mampu
menangis. Seolah seluruh air mataku
telah habis bersamamu.
— Alena
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alena dan Siska segera membereskan buku-buku
mereka. Setelah berpamitan kepada Kinar, keduanya melangkah keluar dari kamar
kos.
Kinar hanya memandangi kepergian kedua sahabatnya dengan perasaan
bersalah. “Kenapa aku selalu asal bicara, sih?” gumamnya pelan.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu kembali menatap lembar tugas yang
belum selesai.
Sepanjang perjalanan menuju koridor pertokoan, tak satu pun dari mereka
berbicara. Siska beberapa kali melirik Alena yang berjalan dengan kepala
tertunduk. Ia tahu, nama yang baru saja disebut Kinar kembali membuka luka yang
belum benar-benar sembuh.
“Apa kamu teringat Yuda lagi?” tanyanya hati-hati.
Alena tersenyum tipis. “Sedikit.”
“Maaf... kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman.”
Alena menggeleng pelan. “Bukan salahmu.”
Ia menarik napas panjang sebelum kembali berbicara. “Selama ini aku
terlalu lama hidup bersama kenangan.”
Tatapannya lurus ke depan. “Aku tidak ingin melupakan Yuda.” Suara Alena
mulai melemah. “Tapi... aku juga tidak bisa terus tinggal di masa lalu.”
Siska menggenggam pelan lengan sahabatnya. “Yuda pasti juga ingin
melihatmu bahagia.”
Alena hanya mengangguk. “Mungkin...” Ia tersenyum kecil. “Sudah waktunya
aku memberi kesempatan pada hidup untuk menghadirkan cerita yang baru.”
Kenangan yang selama ini berusaha Alena kubur perlahan kembali memenuhi pikirannya.
Tuhan... Seandainya
aku diberi kesempatan memilih... Aku ingin memiliki waktu yang lebih
panjang bersamanya. Aku ingin kembali ke masa itu. Menghapus setiap
rintangan yang pada akhirnya memisahkan kami. Namun aku tahu... Aku
tidak boleh egois.
Yuda bukan milikku. Engkau hanya mempertemukannya denganku... lalu
mengambilnya kembali pada waktu yang telah Engkau tetapkan.
Meski begitu, aku tetap bersyukur pernah
mengenalnya. Karena
sampai kapan pun... Yuda akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidupku.
Aku masih ingat pertama kali melihatnya. Seorang kakak kelas berdiri di
depan ruang sanggar dengan wajah datar. Banyak siswi diam-diam
memperhatikannya, tetapi tak seorang pun berani mendekat.
Namanya... Yuda. Di sekolah, hampir semua orang mengenalnya sebagai “Si
Hati Dingin.” Katanya, tidak ada perempuan yang pernah berhasil membuatnya
membuka hati.
Setiap kali ada yang mencoba mendekat, ia selalu menolak dengan cara
yang sopan, tetapi tegas. Tidak pernah memberi harapan yang tidak bisa ia
tepati. Namun.. Tak seorang pun tahu bahwa di balik sikap dinginnya, ada satu
orang yang selalu memenuhi pikirannya.
Setiap malam, ia mengirim pesan. Menelepon. Mengucapkan selamat tidur. Mendoakan
agar esok hariku berjalan dengan baik. Orang itu... Adalah aku.
Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah
kuduga. Hari itu aku dan Kinar berlari kecil menuju sanggar tari setelah
menerima pesan dari Kak Wilda yang mengatakan bahwa kami datang terlambat.
Begitu memasuki ruangan, suasana terasa berbeda. Semua anggota sanggar
sudah berkumpul. Mereka berdiri rapi sambil memandang ke arahku. Belum sempat
aku bertanya apa yang terjadi, Kak Wilda berjalan cepat menghampiri lalu
menarik pergelangan tanganku.
“Kamu tahu kalau datang terlambat?” Nada suaranya terdengar tajam.
“Iya, Kak. Maaf.”
“Maaf?” Tatapannya semakin serius. “Apa semuanya selesai hanya dengan
kata maaf? Kamu pikir latihan tari ini cuma permainan?”
Suasana mendadak hening. Puluhan pasang mata tertuju kepadaku. Jantungku
berdegup semakin cepat.
“Aku tidak pernah menganggap latihan ini sebagai permainan, Kak.” Aku
berusaha menjawab setenang mungkin. “Kalau aku tidak serius, sejak awal aku
tidak akan bergabung di sanggar ini.”
“Kamu memang anak pintar.” Kak Wilda menyilangkan tangan. “Tapi kalau
senior sedang berbicara, dengarkan saja.”
“Baik, Kak.”
“Kalau begitu...” Beliau menunjuk ke tengah ruangan. “Tunjukkan gerakan
yang sudah dipelajari.”
Aku melangkah perlahan ke tengah. Musik mulai diputar. Aku mulai menari.
Namun beberapa detik kemudian... Musik tiba-tiba berhenti.
Para senior yang sejak tadi mengelilingiku perlahan membuka barisan,
membentuk sebuah lorong. Aku menghentikan gerakan. Belum sempat bertanya... Seseorang
berjalan mendekat dari ujung lorong itu.
Jantungku seolah berhenti berdetak. Pemuda itu tersenyum hangat.
“Alena...” Suara itu begitu kukenal.
Ia berhenti tepat di hadapanku. “Maaf atas ketidaknyamanan yang Kak
Wilda lakukan.”
Ia melirik para senior yang kini mulai tertawa. “Semua ini hanya
sandiwara. Tidak ada yang benar-benar marah padamu.”
Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil berisi kue ulang tahun. Sementara
di tangan satunya. Sebuket bunga yang sejak tadi disembunyikan di balik
punggungnya.
Ia menyerahkannya kepadaku. “Selamat ulang tahun... Alena.”
Aku membeku. Tanganku gemetar ketika menerima bunga itu. Apa aku sedang
bermimpi? Laki-laki yang selama ini hanya bisa kukagumi dari kejauhan... Kini
berdiri tepat di depanku.
Laki-laki yang dikenal semua orang sebagai Si Hati Dingin... Justru
menjadi orang yang paling hangat untukku.
Yuda tersenyum, lalu menatapku lekat. “Aku bukan Jaka Tarub yang mencuri
selendang demi mendapatkan bidadari.”
Ia tersenyum kecil. “Aku hanya Yuda. Manusia biasa yang sedang berusaha
mencuri hatimu sambil memohon kepada Tuhan agar merestui langkah kita. Semoga
suatu hari nanti Tuhan benar-benar menakdirkan kita berjalan bersama.”
Sorak sorai langsung memenuhi seluruh ruangan. Teman-teman bersiul. Bertepuk
tangan. Tertawa.
Sementara aku... Hanya mampu menganggukkan kepala pelan. Terlalu gugup
untuk mengucapkan sepatah kata pun. Melihat anggukan itu, senyum Yuda
mengembang semakin lebar. Teman-temannya langsung memeluknya sambil bersorak,
seolah ia baru saja memenangkan perlombaan terbesar dalam hidupnya.
Dan sejak hari itu... Kisah kami dimulai.
Sebenarnya, aku sudah menyukai Yuda jauh sebelum hari itu. Semua berawal
ketika aku mendapat hukuman mengelilingi lapangan basket karena terlambat
datang ke sekolah.
Di putaran terakhir, langkahku terpeleset. Pergelangan kakiku terkilir
hingga aku terduduk di pinggir lapangan. Banyak siswa berlalu begitu saja. Hanya
satu orang yang berhenti.
Yuda. Ia berjongkok di hadapanku, mengeluarkan sapu tangan dari saku,
lalu membersihkan luka di lututku dengan hati-hati.
“Aku rasa kamu tidak akan kuat berjalan sendiri,” ucapnya lembut. “Boleh
aku mengantarmu ke kelas?”
Aku mendengus pelan. “Aku tidak semanja itu.”
Yuda hanya tersenyum. “Bukan karena kamu lemah.”
“Lalu?”
“Karena semua orang berhak ditolong.”
Aku mencoba berdiri sendiri. Baru beberapa langkah berjalan, rasa nyeri
kembali menusuk pergelangan kakiku.
“Ah...” Tubuhku hampir kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Yuda
menahan bahuku.
“Sudah kubilang.”
“Aku masih bisa.”
“Kalau begitu, anggap saja aku yang keras kepala.”
Aku menatapnya kesal. “Kamu memang keras kepala.”
“Terima kasih.”
Aku menghela napas panjang. “Bukannya tersinggung, malah mengucapkan
terima kasih.”
“Karena itu berarti kita sama.”
“Maksudnya?”
“Kita sama-sama keras kepala.”
Aku tidak bisa menahan senyum. Itulah pertama kalinya aku melihat lelaki
yang dijuluki Si Hati Dingin tersenyum selembut itu.
Sejak hari itu kami mulai sering bertemu. Awalnya hanya saling menyapa
ketika berpapasan di koridor sekolah. Lalu mengobrol sepulang latihan. Kemudian
saling bertukar pesan setiap malam.
Entah sejak kapan... Aku mulai menunggu notifikasi darinya.
Yuda bukan lelaki yang pandai merangkai kata-kata romantis. Namun ia
selalu hadir di saat yang tepat. Ketika aku lupa membawa payung, ia diam-diam
meminjamkan miliknya. Saat aku kelelahan mengerjakan tugas, ia datang membawa
roti dan segelas susu. Ketika aku marah, ia tidak pernah membalas dengan emosi.
Ia hanya tersenyum, lalu berkata, “Kalau kamu sudah selesai marah,
baru kita bicara.”
Bersamanya... Aku belajar bahwa dicintai bukan tentang menerima hadiah
mahal atau kata-kata indah. Melainkan tentang merasa aman. Merasa dihargai. Dan
merasa pulang.
Namun... Siapa sangka, di balik senyumnya yang selalu tenang, Yuda
menyimpan rahasia yang tidak pernah ia ceritakan kepadaku.
Aku sering berkunjung ke rumahnya. Bahkan ketika Yuda sedang tidak
berada di rumah. Hubunganku dengan ibunya begitu dekat hingga beliau
menganggapku seperti anak sendiri.
Suatu sore, setelah mengantarkan teh ke ruang tamu, beliau duduk di
hadapanku. Tatapannya tampak berbeda.
“Alena...” Beliau menggenggam tanganku. “Sebenarnya ada sesuatu yang
harus kamu ketahui.”
Entah mengapa... Dadaku tiba-tiba terasa sesak.
“Yuda...” Beliau berhenti sejenak. “...mengidap penyakit yang cukup
serius.”
Dunia seolah berhenti berputar. Aku menatap beliau tanpa mampu berkata
apa-apa. Selama ini... Tak pernah sekali pun Yuda mengeluh di hadapanku. Ia
selalu tersenyum. Selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
“Yud...” Suaraku bergetar ketika akhirnya bertemu dengannya. “Kalau Ibu
tidak bercerita... sampai kapan kamu akan menyembunyikan semua ini dariku?”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Apa kamu pikir aku akan meninggalkanmu?”
Yuda menggeleng pelan. “Bukan itu.”
“Lalu?”
Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya. “Aku hanya takut...” Suaranya
hampir tak terdengar. “...akulah yang lebih dulu meninggalkanmu.”
“Jangan bicara seperti itu.” Aku menggenggam kedua tangannya erat. “Aku
ingin menemanimu. Mulai sekarang, jangan sembunyikan apa pun lagi dariku.”
Yuda tersenyum tipis. “Alen... Tidak semua rasa sakit harus dibagi.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin melihatmu ikut terluka.”
Aku menggeleng kuat. “Kalau mencintai seseorang berarti ikut menanggung
lukanya, maka biarkan aku melakukannya.”
Yuda memandangku lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang sampai sekarang
masih kuingat dengan jelas.
“Kalau begitu... Selama aku masih di sini berjalanlah bersamaku. Dan
jika suatu hari nanti aku benar-benar pergi. Jangan ikut berhenti.”
Aku langsung memeluknya erat. Seolah dengan memeluknya lebih kuat... Aku
bisa menahan waktu agar tidak bergerak.
Sejak hari itu, setiap pulang sekolah aku selalu menemaninya menjalani
pengobatan. Kadang kami hanya duduk di taman rumah sakit. Kadang berjalan pelan
mengelilingi kompleks. Kadang membeli es krim, meski dokter sering melarangnya
terlalu banyak makan makanan manis. Kami mulai belajar menghargai hal-hal sederhana.
Matahari sore. Hujan yang turun tiba-tiba. Secangkir cokelat hangat. Dan
waktu... Yang ternyata jauh lebih berharga daripada apa pun. Aku terus berdoa. Berharap
Tuhan berbaik hati mengubah takdir.
Namun.. Tidak semua doa berakhir sesuai harapan. Tepat pada hari jadi
hubungan kami yang kedua. Tuhan memanggil Yuda pulang. Padahal aku telah
menyiapkan begitu banyak rencana. Liburan semester. Daftar tempat yang ingin
kami kunjungi. Impian-impian kecil yang kami tulis di buku catatan.
Kini semuanya tinggal kenangan.
“Tidak akan ada kebahagiaan jika kamu terus hidup dalam kesedihan.
Bangkitlah dan melangkahlah ke depan. Aku akan selalu bangga padamu. Meskipun
suatu hari nanti aku tidak lagi melihatmu atau berada di sisimu, aku tahu kamu tidak
akan menyerah.”
Kalimat Yuda itu masih tersimpan jelas dalam ingatan Alena. Ia menarik
napas panjang. Pandangannya tertuju pada jalan yang terbentang di depan mereka.
“Sis...” suaranya pelan. “Waktu tidak akan pernah menungguku.”
Siska menoleh. “Kalau aku terus hidup dalam kenangan Yuda, aku hanya
akan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku.”
Alena tersenyum kecil. Senyum yang masih menyimpan luka, tetapi kali ini
tidak sepenuhnya dipenuhi kesedihan.
“Aku tidak akan pernah melupakan Yuda. Dia tetap menjadi seseorang yang
sangat berarti dalam hidupku.”
Ia berhenti sejenak. “Tapi aku juga tidak ingin terus berhenti di tempat
yang sama.”
Alena menunduk. “Selama ini aku terlalu takut membuka hati. Takut
terluka lagi. Takut mengecewakan orang yang datang dengan niat baik.”
Siska hanya diam, membiarkan sahabatnya menyelesaikan apa yang selama
ini tersimpan di dalam hati.
“Kalau kali ini aku kembali memilih lari, mungkin aku akan kehilangan
kesempatan untuk memperbaiki hidupku.”
Alena menarik napas perlahan. “Aku ingin belajar menerima bahwa
kehilangan seseorang bukan berarti hidupku juga harus berhenti.”
Siska menggenggam tangan sahabatnya. “Kamu tidak harus melupakan Yuda
untuk bisa bahagia lagi, Len.”
Mata Alena mulai berkaca-kaca. “Terima kasih, Sis.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alena merasa tidak harus
melawan semuanya sendirian.
Dari kejauhan, seorang pemuda berdiri di depan deretan pertokoan. Tempat
itu bukan sekadar tempat berteduh baginya. Di sanalah, beberapa waktu lalu, ia
pertama kali melihat Alena.
Hari itu hujan turun begitu deras. Ia hanya duduk bersandar sambil
memperhatikan seorang gadis yang berjalan melewati hujan dengan wajah yang
terlihat begitu jauh.
Entah mengapa, bayangan gadis itu terus tersimpan dalam pikirannya. Dan
sekarang... Gadis itu berjalan mendekat.
Beberapa langkah kemudian mereka tiba di deretan pertokoan dekat
terminal. Di bawah atap toko yang sudah tutup, seorang pemuda berdiri sambil
sesekali melihat layar ponselnya. Begitu melihat Alena datang, ia segera
memasukkan ponselnya ke saku dan merapikan rambut yang sedikit berantakan.
“Kamu... Alena?”
Alena mengangguk pelan. “Iya.”
Pemuda itu tersenyum ramah. “Perkenalkan, aku Zaki.”
Senyumnya sederhana. Tidak dibuat-buat. Entah mengapa... Untuk sesaat,
waktu seolah berhenti. Ada sesuatu pada senyum itu yang terasa begitu akrab. Bukan
wajahnya. Bukan suaranya. Melainkan ketulusan yang terpancar dari sorot
matanya. Dan tanpa diminta...
Zaki menarik napas pelan. Tuhan... kuatkan aku hari ini. Jangan
biarkan rasa gugup membuatku kehilangan kesempatan untuk mengenalnya.
Tangannya terasa dingin. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun
ia tetap berdiri, berusaha terlihat tenang.
Jadi... Ini Alena dari jarak sedekat ini. Bukan
lagi seseorang yang kulihat dari kejauhan saat hujan. Ada sesuatu dalam dirinya
yang membuatku penasaran. Tatapannya terlihat tenang, tetapi seperti menyimpan
banyak cerita.
Senyumnya sederhana. Namun entah mengapa, senyum
itu membuat suasana terasa lebih hangat. Mungkin inilah alasan mengapa sejak
hari itu aku terus mengingatnya.
Hari ini... Tuhan memberiku kesempatan untuk
mengenalnya.
— Zaki
Di luar dugaan, percakapan mereka berjalan begitu saja. Tidak ada
keheningan panjang yang membuat canggung. Tidak ada rasa seperti sedang
berbicara dengan seseorang yang baru dikenal.
Awalnya, Zaki hanya menanyakan kabar Alena dan tugas sekolahnya. Seperti
biasa, Alena menjawab singkat. Namun setiap kali Zaki memberikan candaan kecil,
tanpa sadar sudut bibir Alena mulai terangkat.
“Aku sempat berpikir kamu tidak akan datang,” ujar Zaki sambil
tersenyum.
“Kenapa?”
“Soalnya membalas pesanku saja harus menunggu berjam-jam.”
Alena menunduk malu. “Aku memang sering begitu.”
“Tapi akhirnya kamu datang juga.”
“Iya. Kasihan kalau kamu menunggu terlalu lama.” Jawaban sederhana itu
membuat Zaki tersenyum.
Bagi Alena, mungkin itu hanya sebuah kalimat biasa. Namun bagi Zaki, itu
adalah tanda kecil bahwa Alena mulai memberi kesempatan. Percakapan mereka
kemudian mengalir ke berbagai hal. Tentang sekolah. Tentang keluarga. Tentang
kebiasaan kecil. Tentang mimpi yang ingin mereka capai suatu hari nanti.
“Pelajaran yang paling kamu suka apa?” tanya Zaki.
“Bahasa Indonesia.”
“Kenapa?”
“Aku suka membaca novel dan menulis cerita.”
“Berarti kamu sering ke perpustakaan?”
Alena mengangguk. “Kalau ada waktu, hampir setiap minggu.”
Zaki tersenyum. “Pantas.”
Alena mengerutkan dahi. “Pantas apa?”
“Cara kamu menjawab. Rapi. Kelihatan seperti orang yang suka membaca.”
Alena tertawa kecil. “Kamu suka membaca juga?”
Zaki berpikir sebentar. “Jujur? Lebih sering membaca buku servis motor.”
Kini Alena tertawa lebih lepas. “Ternyata hobimu berbeda jauh.”
“Iya. Kalau disuruh membaca novel, mungkin aku sudah tidur duluan.”
Siska yang sejak tadi menikmati minumannya akhirnya ikut menyela. “Kalau
aku lebih suka hujan daripada panas.”
Zaki menoleh. “Kenapa?”
“Soalnya kalau hujan, alasan tidur siang jadi lebih masuk akal.”
Mereka bertiga tertawa.
“Kirain jawabannya bakal puitis,” goda Zaki.
“Aku bukan Alena,” jawab Siska cepat. “Kalau ditanya soal hujan, paling
jawabanku cuma satu: enak buat tidur.”
Alena menggeleng pelan. “Itu memang Siska.”
“Memangnya salah?” Siska pura-pura membela diri. “Kalau hujan, makan mi
rebus, minum teh hangat, terus tidur. Hidup sudah sempurna.”
“Kamu hobinya makan terus,” celetuk Alena.
“Daripada hobimu melamun melihat hujan.”
Alena langsung menoleh. “Aku tidak sesering itu.”
Siska dan Zaki saling berpandangan, lalu tertawa bersamaan.
“Tuh, dia menyangkal,” ujar Siska sambil menunjuk Alena.
Zaki tersenyum kecil. “Padahal pertama kali aku melihatmu, kamu memang
sedang berdiri diam memandangi hujan.”
Alena mendesah pelan. “Kenapa semua orang memperhatikanku?”
“Soalnya kamu gampang dibaca,” jawab Siska.
“Tidak juga,” sahut Zaki.
Kedua gadis itu menoleh bersamaan.
“Ada orang yang terlihat baik-baik saja,” lanjut Zaki pelan, “padahal sebenarnya
sedang menyimpan banyak hal.”
Suasana mendadak sedikit hening. Alena menatap Zaki beberapa saat. Ia
tidak menyangka lelaki itu bisa memahami sesuatu yang selama ini jarang orang
sadari. Namun Zaki segera tersenyum agar suasana tidak menjadi terlalu serius.
“Untung hari ini kamu lebih banyak tersenyum.”
Kalimat sederhana itu membuat Alena sedikit salah tingkah. Ia hanya
menunduk sambil memainkan sedotan minumannya.
Dari tempat duduknya, Siska memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis.
Ia tidak melihat Alena melupakan Yuda. Ia juga tidak melihat Zaki berusaha
menggantikan seseorang dari masa lalu. Yang ia lihat hanyalah dua orang yang
sedang belajar mengenal satu sama lain.
Waktu berlalu tanpa terasa. Hampir dua jam mereka duduk di tempat itu. Mereka
berbagi cerita tentang hal-hal sederhana yang selama ini sering dianggap tidak
penting.
Senja perlahan turun. Langit yang sejak siang dipenuhi mendung akhirnya
memperlihatkan semburat jingga di ufuk barat.
Siska melihat jam tangannya. “Len, sudah hampir Magrib.”
Alena ikut melihat layar ponselnya. “Ternyata sudah selama ini.”
Zaki tertawa kecil. “Berarti obrolanku tidak terlalu membosankan.”
Alena mengangkat bahu. “Boleh lah.”
“Hanya boleh?”
“Jangan besar kepala.”
Mereka kembali tertawa. Beberapa saat kemudian, mereka berdiri.
“Kalau begitu kami pulang dulu,” ujar Siska.
Zaki mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
Alena dan Siska mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Namun baru
beberapa langkah...
“Alena.”
Alena berhenti dan menoleh. Zaki tampak ragu beberapa detik sebelum
mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah novel.
“Aku ingat kamu pernah bilang suka membaca.” Ia mengulurkan buku itu. “Kalau
kamu mau... pinjam dulu.”
Alena menatap novel tersebut. “Aku takut merusaknya.”
“Tidak apa-apa.”
“Kalau rusak?”
Zaki tersenyum kecil. “Berarti nanti kamu harus cerita bagaimana
pendapatmu tentang buku ini.”
Alena terdiam. Bukan rayuan. Bukan kata-kata yang dibuat agar terdengar
istimewa. Hanya sebuah alasan sederhana untuk kembali berbicara.
“Baiklah,” jawab Alena akhirnya.
Zaki tersenyum.
“Terima kasih.” Alena melihat novel itu sekali lagi.
“Terima kasih juga.”
Sepanjang perjalanan pulang, Alena terus memegang novel pemberian Zaki. Ia
bahkan belum membuka halaman pertamanya. Namun entah mengapa, ada rasa hangat
yang sulit dijelaskan. Bukan karena bukunya. Melainkan karena seseorang
mengingat hal kecil yang pernah ia ucapkan.
“Aku suka membaca novel.” Kalimat sederhana itu ternyata tidak hanya
didengar. Ia diingat. Selama ini Alena mengira perhatian harus datang melalui
hal-hal besar. Janji. Kata-kata indah. Perbuatan luar biasa.
Namun hari ini ia belajar... Terkadang seseorang bisa membuat kita
merasa dihargai hanya dengan mengingat hal kecil yang hampir kita lupakan. Dan
untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Alena pulang tanpa merasa sedang
berlari dari masa lalu.
Ia tidak sedang melupakan Yuda. Ia hanya mulai memahami bahwa kenangan
tidak selalu harus menjadi tempat untuk menetap. Ada masa lalu yang cukup
dikenang. Ada luka yang perlahan bisa sembuh. Dan ada kesempatan baru yang
mungkin Tuhan hadirkan bukan untuk menggantikan seseorang. Melainkan untuk
menemani langkah berikutnya.
Sore itu, Alena hanya membawa sebuah novel di tangannya. Namun tanpa ia
sadari. Ia juga membawa sesuatu yang sudah lama hilang. Harapan.
“Boleh aku antar Alena pulang?” ujar Zaki ketika melihat Siska sudah
bersiap untuk pergi lebih dulu.
Siska menatap mereka berdua sebentar, lalu tersenyum kecil. “Baik.
Hati-hati, ya.”
Zaki mengangguk.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Namun keheningan
di antara mereka tidak terasa canggung. Sesekali Alena melirik ke arah jalan,
begitu juga dengan Zaki. Ketika pandangan mereka bertemu, keduanya hanya
tersenyum kecil lalu kembali melihat ke depan.
Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada kalimat istimewa. Tetapi entah
mengapa, suasana sederhana itu terasa nyaman.
Hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Alena. Zaki sempat terlihat
ragu ketika berdiri di depan pagar. Namun keraguan itu segera hilang ketika
pintu rumah terbuka dan ibu Alena menyambutnya dengan ramah.
“Masuk dulu, Nak.”
Akila, adik Alena, bahkan langsung mengajaknya berbicara tanpa merasa
canggung. Dalam sekejap, suasana rumah yang biasanya tenang sore itu menjadi
lebih hangat oleh percakapan kecil dan tawa sederhana.
Zaki merasa diterima. Bukan karena ia berusaha menjadi seseorang yang
sempurna. Melainkan karena ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Sementara itu, dari dalam rumah, keluarga Alena diam-diam merasakan
perubahan kecil yang terjadi. Sejak Yuda pergi, Alena lebih sering menghabiskan
waktu sendiri. Ia jarang bercerita, jarang membawa teman pulang, dan lebih
banyak menyimpan apa pun yang ia rasakan. Karena itu, melihat Alena pulang
dengan wajah yang lebih cerah menjadi kebahagiaan kecil bagi mereka.
Malam itu, ketika mengingat kembali pertemuan
mereka, Zaki tersenyum sendiri. Kenapa rasanya begitu nyaman? Padahal hari ini
adalah pertama kalinya aku mengenalnya lebih dekat.
Mungkin karena sejak awal aku tidak merasa harus
berpura-pura di depannya. Aku hanya menjadi diriku sendiri. Dan dia pun
perlahan mulai menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hari
ini. Aku juga tidak ingin terburu-buru memberi arti pada sesuatu yang baru
dimulai. Namun jika Tuhan kembali mempertemukanku dengannya...
Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan untuk
menghapus masa lalunya. Bukan untuk menggantikan seseorang yang pernah berarti dalam
hidupnya. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa membuat harinya sedikit
lebih ringan.
— Zaki
***
Dua bulan berlalu tanpa terasa. Bagi orang lain, dua bulan mungkin
hanyalah rentang waktu yang singkat. Namun bagi Alena dan Zaki, dua bulan itu
dipenuhi banyak pertemuan sederhana yang perlahan mengubah cara mereka melihat
satu sama lain.
Sepulang sekolah, Zaki hampir selalu menunggu Alena di depan gerbang. Mereka
pulang Bersama sambil membahas pelajaran hari itu, mengeluhkan tugas yang
semakin menumpuk, atau sekadar bercanda tentang guru yang paling ditakuti di
sekolah.
Hal-hal sederhana. Namun entah mengapa, justru hal-hal kecil itulah yang
mulai dinantikan Alena setiap hari.
Sesekali mereka belajar bersama di perpustakaan umum. Zaki memang tidak
terlalu menyukai pelajaran sekolah, tetapi ia selalu berusaha memahami
penjelasan Alena. Sebaliknya, Alena dengan sabar membantu Zaki mengerjakan
soal-soal yang sulit.
“Kalau begini terus, nilai matematikaku bisa naik,” canda Zaki.
“Asal jangan cuma mengandalkan aku.”
“Iya, Bu Guru.”
Alena hanya menggeleng sambil tersenyum. Senyum yang dulu begitu jarang
terlihat.
Di hari lain, mereka menghabiskan sore di toko buku. Alena sibuk
menyusuri rak demi rak, membaca sinopsis novel yang menarik perhatiannya.
Sementara Zaki mengikutinya dari belakang tanpa mengeluh, meski sesekali
terlihat bingung melihat begitu banyak buku.
“Memangnya semua ini pernah kamu baca?” tanyanya.
“Belum.”
“Lalu kenapa betah berlama-lama di sini?”
“Karena melihat buku saja sudah membuatku senang.”
Zaki tersenyum kecil. “Kalau aku, melihat orang yang senang membaca
ternyata juga menyenangkan.”
Alena hanya memutar bola matanya, berusaha menyembunyikan senyum yang
mulai muncul.
Tidak jarang mereka berhenti di warung bakso langganan dekat terminal. Semangkuk
bakso hangat terasa jauh lebih nikmat ketika diiringi obrolan ringan yang tidak
pernah kehabisan topik.
“Kamu suka pedas?” tanya Alena.
“Sedikit.”
“Sedikit itu berapa sendok?”
“Dua.”
“Itu bukan sedikit.” Perdebatan kecil itu selalu berakhir dengan tawa.
Suatu sore, hujan turun lebih awal. Mereka memilih berteduh di bawah
atap pertokoan, tempat pertama kali takdir mempertemukan mereka. Beberapa saat
mereka hanya diam, menikmati suara rintik hujan yang jatuh di atas jalan.
“Lucu, ya,” ucap Zaki pelan.
“Apa?”
“Kalau waktu itu hujan tidak turun, mungkin kita tidak pernah saling
mengenal.”
Alena menatap hujan di depan mereka. “Mungkin memang harus seperti itu.”
Zaki menoleh. “Maksudnya?”
Alena tersenyum kecil. “Mungkin ada beberapa pertemuan yang memang
datang di waktu yang tepat.”
Zaki tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Karena ia tahu, bagi Alena,
kalimat itu bukan sekadar tentang dirinya. Tetapi juga tentang perjalanan
panjang yang sudah dilalui gadis itu.
Menjelang ulang tahun Siska, Zaki bahkan rela menemani Alena berkeliling
mencari hadiah. Mereka keluar masuk beberapa toko sebelum akhirnya menemukan
sebuah tas kecil berwarna krem yang menurut Alena sangat cocok untuk
sahabatnya.
“Yang ini saja.”
“Yakin?”
“Iya. Siska pasti suka.”
Zaki mengangguk. “Kalau begitu, aku ikut senang.”
“Kenapa?”
“Soalnya aku jadi tahu kalau memilih hadiah ternyata sesulit ini.”
Alena tertawa. “Baru tahu?”
“Mulai sekarang aku harus belajar. Siapa tahu nanti sering diminta
menemani kamu lagi.”
Alena hanya tersenyum kecil mendengar jawabannya.
Tanpa disadari, pertemuan-pertemuan sederhana itu mulai menjadi bagian
dari keseharian mereka. Tidak ada hari yang benar-benar istimewa. Tidak ada
kejadian besar yang mengubah segalanya. Namun justru dari kebiasaan-kebiasaan
kecil itulah rasa nyaman tumbuh perlahan.
Mereka saling mengabari ketika bangun pagi. Saling mengingatkan untuk
makan ketika salah satu terlalu sibuk. Saling menyemangati sebelum ujian. Dan
saling mencari ketika sehari saja tidak bertemu.
Dua bulan memang bukan waktu yang panjang. Namun dua bulan cukup untuk
membuat kehadiran seseorang terasa berbeda. Bagi Zaki, Alena adalah seseorang
yang ingin ia kenal lebih jauh.
Bagi Alena, Zaki adalah seseorang yang membuatnya kembali mengerti bahwa
hidup masih menyimpan banyak hal baik. Meski begitu, jauh di dalam hatinya,
Alena masih menyimpan satu ketakutan. Takut jika kebahagiaan baru ini akan
kembali hilang. Karena ia pernah belajar.. Semakin seseorang berarti, semakin
besar pula rasa takut untuk kehilangan. Namun kali ini, Alena memilih tidak
melarikan diri.
Ia ingin mencoba berjalan. Pelan-pelan. Satu langkah demi satu langkah.
***
Ketika suatu sore Zaki mengajak Alena ke sebuah taman, Alena tidak
menaruh curiga sedikit pun. Mereka duduk berdampingan di bangku panjang yang
menghadap air mancur. Suasana sore terasa tenang. Angin berhembus pelan,
membawa suara gemericik air yang membuat tempat itu terasa semakin damai.
Beberapa saat mereka hanya menikmati keheningan. Hingga akhirnya Zaki
menarik napas panjang.
“Alena...”
“Iya?”
“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Nada suara Zaki membuat Alena
menoleh. Ada keseriusan yang berbeda dari biasanya.
“Apa?”
Zaki terdiam sejenak. Seolah ia sedang menyusun kata-kata agar tidak terdengar
terburu-buru.
“Mungkin apa yang akan aku katakan terdengar terlalu cepat.”
Alena tidak menjawab. Ia hanya menunggu.
“Aku menyukaimu.” Kalimat itu membuat Alena terdiam.
Bukan karena ia tidak pernah membayangkan hal itu. Namun karena setelah
sekian lama, ada seseorang yang berani datang membawa perasaan baru ke dalam
hidupnya.
Beberapa detik kemudian, Alena tersenyum kecil. “Serius?”
Zaki menggaruk tengkuknya sambil tertawa kecil. “Memangnya wajahku
terlihat seperti sedang bercanda?”
“Bukan begitu.” Alena menunduk sebentar. “Aku hanya merasa... semuanya
terasa cepat.”
Zaki mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Kita baru mengenal satu sama lain beberapa bulan.”
“Iya.”
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
Zaki menatap air mancur di depan mereka. “Aku juga tidak tahu apakah ini
bisa disebut yakin.” Ia tersenyum kecil. “Aku hanya tahu bahwa setiap
bersamamu, aku merasa nyaman. Aku bisa menjadi diriku sendiri.”
Zaki berhenti sebentar. “Aku suka caramu memperhatikan orang lain. Aku
suka caramu tetap berusaha kuat meskipun sebenarnya kamu sering menyimpan
banyak hal sendirian.”
Alena terdiam. Ia tidak menyangka Zaki memperhatikan hal-hal kecil yang
bahkan jarang orang sadari.
“Aku tidak mengatakan ini karena ingin menggantikan seseorang dalam
hidupmu.”
Alena langsung menoleh. Zaki tahu. Ia tahu bahwa ada seseorang yang
masih memiliki tempat khusus di hati Alena.
“Aku tahu Yuda pernah menjadi seseorang yang sangat berarti bagimu.”
Nama itu masih terasa berat untuk didengar. Namun kali ini, Alena tidak
langsung menunduk seperti dulu.
“Tapi aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa perasaanku tidak ada.” Zaki
menarik napas perlahan. “Aku hanya ingin kamu tahu.”
Suasana kembali hening. Sementara itu, jantung Zaki berdetak lebih
cepat.
Apa aku terlalu terburu-buru? Apa
kejujuranku justru akan membuatnya menjauh?
— Zaki
Alena menatap tangannya sendiri. Ada bagian dari dirinya yang masih
ingin mundur. Bukan karena Zaki. Melainkan karena rasa takut yang belum
sepenuhnya hilang.
Ia takut membuka hati. Takut kembali kehilangan. Takut membiarkan
seseorang menjadi penting dalam hidupnya.
“Aku senang kamu jujur kepadaku, Zak.”
Zaki menatapnya.
“Tapi aku ingin kamu memahami satu hal.”
“Apa?”
“Aku masih belajar.” Alena tersenyum kecil. “Aku masih belajar menerima
bahwa hidup terus berjalan. Aku masih belajar bahwa bahagia lagi bukan berarti
aku melupakan seseorang yang pernah berarti.”
Zaki hanya diam mendengarkan.
“Aku tidak bisa memberikan jawaban seperti yang mungkin kamu harapkan
sekarang.” Alena menarik napas. “Tapi aku juga tidak ingin kehilangan seseorang
yang sudah membuatku merasa nyaman.”
Senyum kecil muncul di wajah Zaki. “Jadi...?”
Alena menatapnya. “Bolehkah kita tetap berjalan seperti ini? Saling
mengenal lebih jauh. Tanpa terburu-buru.”
Zaki mengangguk. “Tentu.” Ia tersenyum. “Menurutku, sesuatu yang baik
tidak harus dipaksa berjalan cepat.”
Alena membalas senyumnya. “Terima kasih sudah memahami.”
“Terima kasih juga karena sudah memberiku kesempatan.”
Sore itu, mereka tidak membuat janji besar. Tidak ada status yang
berubah. Tidak ada kata-kata yang mengikat. Namun untuk pertama kalinya. Alena
tidak merasa takut ketika melihat kemungkinan baru di depan dirinya. Dan bagi
Zaki, kesempatan kecil untuk tetap berada di dekat Alena sudah lebih dari
cukup.
Sejak hari itu, hubungan Alena dan Zaki perlahan berubah. Mereka belum
menyebut hubungan mereka sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kedekatan. Namun
keduanya mulai memahami bahwa ada rasa nyaman yang tumbuh di antara mereka.
Zaki tetap hadir seperti biasanya. Ia menemani Alena ketika memiliki
waktu luang. Ia mulai dekat dengan Siska, Erlita, dan Kinar. Bahkan keluarga
Alena pun perlahan mengenalnya sebagai seseorang yang sering menemani putri
mereka. Namun hal yang paling membuat Alena merasa nyaman bukanlah perhatian
besar yang Zaki berikan.
Melainkan caranya menghargai ruang yang ia miliki. Zaki tidak pernah
memaksa Alena untuk selalu bercerita. Ia tidak bertanya berulang kali ketika
Alena sedang ingin sendiri. Ia juga tidak merasa tersisihkan ketika Alena
memilih menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya.
Suatu hari, ketika melihat Alena yang sedang sibuk dengan pikirannya
sendiri, Zaki hanya berkata, “Kalau kamu butuh waktu sendiri, bilang saja.”
Alena menatapnya. “Kamu tidak keberatan?”
Zaki tersenyum. “Kenapa harus keberatan?” Ia menatap Alena dengan
tenang. “Aku ingin kamu bersamaku karena kamu mau, bukan karena merasa harus.”
Kalimat sederhana itu membuat Alena terdiam. Dulu, ia mengira mencintai
seseorang berarti harus selalu takut kehilangan. Harus selalu menjaga agar
tidak mengecewakan. Harus selalu berusaha menjadi seseorang yang diharapkan. Namun
bersama Zaki, ia mulai memahami sesuatu.
Bahwa hubungan tidak selalu tentang rasa takut. Tidak selalu tentang
menggenggam terlalu erat. Kadang, hubungan adalah tentang dua orang yang saling
menghargai. Memberi ruang. Dan tetap memilih untuk kembali.
Hubungan mereka berjalan perlahan. Tidak sempurna. Tidak selalu tanpa
masalah. Namun hangat dan sederhana. Dan dari kesederhanaan itulah, Alena mulai
percaya.
Mungkin kali ini, ia tidak harus selalu bersiap untuk kehilangan.
***
Namun... waktu perlahan mengubah banyak hal. Beberapa minggu setelah
lulus SMA, Zaki memutuskan untuk bekerja. Keputusan itu bukan karena ia ingin
menjauh dari Alena. Justru sebaliknya, ada alasan besar yang membuatnya berani
mengambil langkah tersebut.
Sejak dulu, Zaki memiliki impian untuk membangun usaha sendiri. Ia ingin
memiliki sesuatu yang bisa ia banggakan, bukan hanya untuk dirinya sendiri,
tetapi juga untuk orang-orang yang ia sayangi.
Karena itulah, ketika sebuah kesempatan bekerja di luar kota datang, ia
memilih menerimanya.
“Aku mungkin akan sibuk,” ujar Zaki saat itu. “Tapi aku janji, aku tetap
akan berusaha meluangkan waktu untukmu.”
Alena hanya tersenyum. “Aku percaya.”
Saat itu, mereka masih yakin bahwa jarak bukanlah sesuatu yang sulit
untuk dilewati. Namun mereka lupa. Bahwa terkadang bukan jarak yang membuat
seseorang terasa jauh. Melainkan waktu yang perlahan berubah.
Hari-hari Zaki mulai dipenuhi pekerjaan. Sejak pagi hingga malam,
waktunya habis di tempat kerja. Ketika sampai di tempat tinggal, tubuhnya sudah
terlalu lelah untuk melakukan banyak hal.
Meski begitu, ia selalu berusaha mencari waktu untuk menghubungi Alena. Awalnya,
percakapan mereka masih seperti dulu. Mereka bercerita tentang hari
masing-masing. Tentang pekerjaan Zaki. Tentang kegiatan Alena. Tentang hal-hal
kecil yang membuat mereka merasa tetap dekat.
Namun perlahan. Waktu yang mereka miliki semakin sedikit. Percakapan
yang dulu bisa berlangsung berjam-jam berubah menjadi beberapa menit.
“Sudah makan?”
“Sudah. Kamu?”
“Sudah.”
“Jangan lupa istirahat.”
“Iya. Kamu juga.”
Kalimat-kalimat sederhana itu masih menunjukkan perhatian. Namun bagi
Alena, ada sesuatu yang mulai terasa berbeda. Telepon yang dulu selalu ia
tunggu setiap malam perlahan berubah menjadi pesan singkat. Pesan singkat pun
mulai datang lebih jarang.
Bukan karena Zaki berhenti menyayangi Alena. Bukan karena ia mulai
bosan. Tetapi karena ia sedang berusaha mengejar sesuatu yang menurutnya
penting untuk masa depan mereka.
Dalam pikirannya, semua kerja keras ini adalah cara untuk membuktikan
bahwa suatu hari nanti ia mampu memberikan kehidupan yang lebih baik. Namun
tanpa ia sadari. Kesibukan yang ia kejar perlahan menciptakan jarak yang tidak
terlihat.
Ada malam ketika Zaki baru membuka ponselnya setelah tengah malam. Ia
melihat pesan dari Alena yang sudah beberapa jam lalu dikirim.
“Sudah makan malam?”
Zaki tersenyum kecil. Ia mengetik balasan. “Maaf baru membalas. Tadi
sangat sibuk.”
Lalu ia berhenti sejenak. Berkali-kali ia ingin menelepon. Namun rasa
lelah selalu mengalahkannya. Besok malam aku akan menghubunginya lebih lama. Itu
yang selalu ia pikirkan.
Namun keesokan harinya, pekerjaan kembali mengambil seluruh waktunya. Hari
berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tanpa mereka sadari, komunikasi yang
dulu menjadi bagian paling menyenangkan dalam hubungan mereka perlahan berubah
menjadi sesuatu yang mereka tunggu-tunggu.
Bukan karena rasa sayang mereka hilang. Bukan karena mereka tidak
peduli. Tetapi karena mereka mulai berjalan di jalan yang berbeda.
Zaki dengan perjuangannya mengejar masa depan. Alena dengan kehidupannya
yang perlahan kembali ia bangun. Dan di antara keduanya. Ada jarak yang semakin
sulit dijelaskan.
***
Waktu berjalan begitu cepat. Aku pikir kami masih
melangkah ke arah yang sama. Aku pikir jarak hanya sementara. Namun tanpa
kusadari. Kami mulai berjalan di jalan yang berbeda. Kesibukan perlahan
menggantikan percakapan.
Rindu berubah menjadi kebiasaan menunggu. Dan aku. Kembali
berdiri di tempat yang sama. Menunggu seseorang yang tidak tahu apakah masih
berjalan ke arahku, atau perlahan memilih menjauh.
— Alena
Hari-hari Alena perlahan kembali seperti sebelumnya. Sepulang sekolah,
ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Siska, Erlita, dan Kinar. Mereka
belajar bersama, menonton film, bercanda tentang hal-hal kecil, lalu pulang
ketika sore mulai turun.
Di depan sahabat-sahabatnya, Alena tetap terlihat seperti biasa. Ia
tertawa. Ia ikut berbicara. Ia bahkan masih mampu tersenyum. Namun ketika malam
datang dan semuanya menjadi sunyi.
Tangannya hampir selalu mencari ponsel. Ia membuka ruang percakapannya
dengan Zaki. Membaca pesan-pesan lama. Pesan tentang hal kecil. Tentang
makanan. Tentang tugas sekolah. Tentang bagaimana Zaki selalu mengingatkannya
untuk tidak lupa menjaga kesehatan.
Tanpa sadar, ia tersenyum. Namun beberapa detik kemudian, senyum itu
menghilang. Karena layar ponselnya tetap diam.
Sesekali Zaki masih menghubunginya. “Maaf baru membalas. Hari ini
pekerjaanku banyak sekali. Kamu jangan lupa istirahat, ya.”
Alena selalu membalas dengan tenang. “Aku mengerti. Kamu juga jangan
lupa makan. Hati-hati bekerja.”
Ia tidak pernah menyalahkan Zaki. Tidak pernah marah. Karena ia tahu
Zaki sedang berjuang. Namun ada banyak cerita yang ingin ia bagikan. Tentang
sekolah. Tentang sahabat-sahabatnya. Tentang hal kecil yang biasanya menjadi
bahan percakapan mereka. Dan yang paling ia rindukan. Adalah mendengar suara
Zaki. Tetapi semua itu hanya ia simpan sendiri.
Sampai suatu sore, Hany datang membawa sebuah kabar yang membuat Alena
terdiam.
“Alena...”
“Hm?”
“Zaki pindah kerja.”
Alena yang sedang membaca buku perlahan mengangkat wajah. “Pindah?”
“Iya. Katanya dia mendapat kesempatan bekerja di kota lain.”
Beberapa detik Alena hanya diam. Bukan karena Zaki pindah. Tetapi karena
ada satu pertanyaan yang langsung muncul dalam pikirannya.
“Kenapa... dia tidak bilang padaku?”
Hany terdiam. “Aku juga tidak tahu, Len.”
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah lama, Alena merasa takut. Bukan
takut kehilangan Zaki. Tetapi takut kembali mengalami hal yang sama seperti
dulu. Kehilangan seseorang tanpa sempat mempersiapkan diri. Ia mencoba
menghubungi nomor Zaki. Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua masih
sama.
Ia mengirim pesan. “Aku dengar kamu pindah.”
Tidak ada balasan.
Beberapa jam kemudian, ia kembali menulis. “Kamu baik-baik saja?”
Tetap tidak ada jawaban. Sampai beberapa hari kemudian. Sebuah pesan
akhirnya masuk.
“Maaf, Len. Beberapa hari ini semuanya terasa kacau. Aku ingin
memberitahumu langsung, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
Alena membaca pesan itu perlahan.
“Aku tahu akhir-akhir ini aku jarang ada untukmu. Aku tahu aku membuatmu
menunggu. Aku tidak pernah berniat menjauh. Aku hanya sedang berusaha
menyelesaikan sesuatu untuk masa depanku.”
Beberapa saat kemudian, pesan berikutnya masuk.
“Jangan berhenti menjadi Alena yang aku kenal. Tetaplah bahagia. Kejar
hal-hal yang kamu impikan. Dan jangan pernah merasa sendirian.”
Air mata Alena jatuh tanpa ia sadari. Ia mengetik balasan. “Aku tidak
pernah meminta kamu menyerah dengan impianmu, Zak.”
Pesan itu terkirim. Namun tidak pernah mendapat balasan. Hari berganti
minggu Minggu berganti bulan. Dan perlahan. Hubungan yang tumbuh dari sebuah
hujan sore itu mulai kehilangan suaranya.
Bukan karena tidak ada rasa. Tetapi karena dua orang yang sama-sama
berusaha bertahan, justru tidak tahu bagaimana cara saling menggenggam.
***
Aku sudah terlalu akrab dengan rasa lelah. Bukan
karena menunggu. Tetapi karena terus bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya sedang
kamu perjuangkan sendirian, Zaki? Apakah menjauh adalah caramu melindungiku? Atau
caramu melepaskanku?
Aku tidak pernah meminta kamu memilih antara aku
dan mimpimu. Aku hanya ingin tetap menjadi bagian kecil dari perjalananmu. Namun
mungkin, tidak semua orang yang kita sayangi tahu bagaimana cara tetap tinggal.
Dan tidak semua perpisahan terjadi karena seseorang berhenti mencintai.
Kadang ada dua orang yang masih saling peduli,
tetapi berjalan terlalu jauh hingga akhirnya tidak lagi menemukan jalan untuk
kembali.
— Alena
Alena menutup buku yang sejak tadi dibacanya. Ia baru menyadari bahwa
beberapa menit terakhir ada seseorang yang terus memperhatikannya dari
kejauhan.
“Apa kabar, Al?”
Alena mendongak. “Hany? Aku baik-baik saja.”
Hany menarik kursi di hadapan Alena, lalu duduk dengan wajah lelah. “Maaf
kalau membuatmu tidak nyaman.” Ia menghela napas. “Sejak pulang sekolah aku
mengikutimu sampai perpustakaan ini. Dua jam penuh kamu hanya membaca buku. Aku
sampai hampir menyerah menunggumu.”
Alena tersenyum kecil. “Siapa yang menyuruhmu mengikutiku?”
“Ya... sebenarnya itu salahku juga.” Hany terkekeh. “Tapi serius, Alena.
Kamu memang sulit ditebak.”
“Kalau begitu langsung saja katakan tujuanmu. Jangan bilang kamu sedang
menjadi detektif.”
“Bukan.” Hany menggeleng pelan. “Zaki yang memintaku memastikan kamu
baik-baik saja.”
Nama itu membuat senyum Alena perlahan menghilang. “Bagaimana kabarnya?”
“Dia baik.” Hany berhenti sebentar. “Hanya saja pekerjaannya benar-benar
menyita waktunya.”
Alena menunduk. “Dia masih bekerja keras?”
“Iya.” Hany memainkan ujung jarinya. “Aku pernah memarahinya.”
Alena menatap Hany.
“Aku bilang, perempuan mana yang tidak kecewa kalau terus menunggu tanpa
mendapat penjelasan?” Hany tersenyum tipis. “Tapi dia hanya diam.”
“Zaki memang begitu. Sulit sekali membuatnya mengatakan apa yang
sebenarnya ada di pikirannya.”
Ia tahu. Itulah salah satu hal yang dulu membuatnya kagum pada Zaki. Namun
terkadang, sifat yang sama juga menjadi sesuatu yang membuatnya terluka.
“Kalau suatu hari nanti dia pulang...” suara Alena pelan.
Hany memperhatikannya.
“Tolong kabari aku.”
Hany mengangguk. “Akan aku lakukan.”
Beberapa saat mereka hanya diam. Kemudian Hany kembali berbicara. “Aku
juga pernah bertanya kepadanya tentang hubungan kalian.”
Alena mengangkat wajah. “Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dia
inginkan.”
Hany menarik napas. “Tapi dia selalu menghindari pembicaraan itu.”
Alena tersenyum kecil, meski matanya terlihat sedih. “Jangan
membebaninya lagi, Han.”
Ia melihat keluar jendela perpustakaan. “Mungkin... cerita kami memang
sudah sampai di sini.”
Hany terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia tahu, di balik
kata-kata tenang Alena, masih ada seseorang yang diam-diam ia tunggu.
Perlahan, tangan Hany masuk ke dalam tas yang sejak tadi dibawanya. “Ada
satu hal lagi.”
Alena menoleh. “Apa?”
Hany mengeluarkan sebuah amplop putih. Sudutnya sedikit kusut, seolah
sudah lama disimpan.
“Ini dari Zaki.”
Alena membeku. “Dari Zaki?”
Hany mengangguk. “Dia menitipkannya sebelum berangkat.”
Tatapan Alena tidak berpindah dari amplop itu. Tangannya terasa berat
ketika menerima benda sederhana tersebut.
“Dia bilang... surat ini baru boleh kuberikan kalau suatu hari aku
bertemu denganmu.”
Suasana perpustakaan mendadak terasa lebih sunyi. Hanya suara pendingin
ruangan yang terdengar samar.
“Aku tidak tahu apa isinya,” lanjut Hany pelan. “Tapi setelah
menitipkannya, dia hanya tersenyum.”
Alena mengusap permukaan amplop itu perlahan. Ada banyak hal yang ingin
ia tanyakan. Kenapa pergi tanpa berkata? Kenapa membiarkanku menunggu? Kenapa
memilih diam?
Namun semua pertanyaan itu seakan berhenti ketika melihat tulisan tangan
di bagian depan amplop. Tulisan yang sangat ia kenal. Perlahan, ia membuka
perekat amplop tersebut. Di dalamnya hanya ada selembar kertas yang terlipat
rapi.
Tangannya mulai bergetar. Karena sebelum membaca isinya. Ia sudah tahu
satu hal. Surat itu berasal dari seseorang yang selama ini masih ia tunggu.
Perlahan, Alena membuka lipatan kertas itu. Matanya berhenti pada baris
pertama.
“Alena...”
Napasnya tertahan.
Untuk Alena,
Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku. Aku ingin kamu tahu satu
hal... jangan pernah merasa bersalah atas apa pun yang terjadi di antara kita.
Aku percaya, kita sama-sama sudah berusaha memberikan yang terbaik.
Aku tahu kamu mungkin kecewa karena aku memilih pergi tanpa menjelaskan
banyak hal. Aku minta maaf.
Bukan karena aku berhenti menyayangimu. Bukan juga karena aku ingin
menjauh darimu. Justru karena aku peduli, aku tidak ingin kamu ikut memikul
beban yang sedang aku hadapi.
Saat aku memilih pergi, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku
katakan. Ada banyak pesan yang ingin aku kirimkan. Namun setiap kali aku ingin
menghubungimu, aku selalu merasa bahwa aku belum bisa memberikan kepastian yang
layak kamu dapatkan.
Aku masih mengingat sore itu. Sore ketika hujan mempertemukan kita di
depan pertokoan. Saat itu aku hanya melihat seorang gadis yang berdiri
sendirian di tengah hujan dengan wajah penuh kesedihan. Aku tidak pernah
menyangka bahwa pertemuan sederhana itu akan membawa seseorang yang begitu
berarti dalam hidupku.
Hari ketika aku memberanikan diri mengatakan bahwa aku menyukaimu adalah
salah satu hari yang tidak akan pernah aku lupakan.
Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk mengenalmu.
Terima kasih karena sudah membuatku merasakan kembali bagaimana rasanya
menunggu kabar seseorang, tersenyum karena hal kecil, dan memiliki alasan untuk
pulang dengan perasaan bahagia.
Maaf jika pada akhirnya caraku menjaga kamu justru membuatmu terluka. Aku
tidak tahu bagaimana akhir dari cerita kita nanti. Namun aku selalu berharap
kamu tetap menjadi Alena yang aku kenal. Seseorang yang kuat. Seseorang yang
selalu berusaha bangkit meskipun pernah kehilangan banyak hal.
Jika suatu hari Tuhan memberi kita kesempatan untuk bertemu lagi, aku
berharap saat itu kita sudah menjadi versi terbaik dari diri kita
masing-masing.
Terima kasih sudah pernah menjadi bagian indah dalam hidupku.
— Zaki
Alena melipat kembali surat itu dengan hati-hati. Untuk beberapa saat,
ia hanya duduk diam di sudut perpustakaan. Tidak ada tangisan yang pecah
seperti dulu. Tidak ada rasa marah karena seseorang memilih pergi. Yang ada
hanya rasa sesak yang perlahan berubah menjadi pengertian.
Selama ini ia berpikir bahwa ditinggalkan berarti tidak cukup berharga
untuk dipertahankan. Namun hari itu ia belajar sesuatu. Terkadang seseorang
pergi bukan karena kita tidak berarti. Terkadang mereka pergi karena sedang
berusaha menyelesaikan sesuatu yang tidak mampu mereka bagi.
Alena menatap surat itu sekali lagi. Zaki pernah datang ketika ia masih
sibuk berdamai dengan masa lalu. Ia tidak menghapus luka yang pernah ada,
tetapi ia mengajarkan bahwa hati yang pernah hancur tetap bisa merasakan
bahagia.
Dan meskipun cerita mereka tidak berjalan seperti yang ia bayangkan,
Alena tetap bersyukur pernah mengenalnya. Karena ada orang-orang yang hadir
bukan untuk selamanya tinggal. Ada yang hadir untuk mengajarkan kita cara
tersenyum kembali.
Sore itu, Alena keluar dari perpustakaan dengan langkah yang lebih
ringan. Ia masih menyimpan kenangan tentang Yuda. Ia juga masih menyimpan
cerita tentang Zaki.
Namun kali ini, ia tidak lagi menjadikan kehilangan sebagai alasan untuk
berhenti berjalan. Ia memilih melanjutkan hidup. Bukan karena ia melupakan
mereka. Melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa mencintai seseorang tidak
selalu berarti harus terus menunggu.
Kadang-kadang, bentuk cinta yang paling tulus adalah mendoakan seseorang
dari kejauhan dan tetap memilih menjadi bahagia.
Langit sore mulai berubah warna ketika Alena berjalan pulang. Dulu,
hujan adalah tempat ia menyimpan kesedihan. Namun sekarang, setiap kali hujan
turun, ia ingin mengingat satu hal:
Bahwa pernah ada seseorang yang datang di tengah hujan, menggenggam
harapannya yang hampir hilang, lalu mengajarkannya bahwa hidup masih memiliki
banyak cerita untuk ditulis.
Dan mungkin.. cerita terbaiknya belum selesai. Karena selama seseorang
masih mau melangkah, selalu ada kemungkinan untuk menemukan bahagia yang baru.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai
karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa
izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar