Jumat, 22 Februari 2013

DI ANTARA HUJAN DAN KENANGAN

Saat ini aku tidak tahu kamu berada di mana, atau mungkin sudah berjalan berdampingan dengan seseorang yang lain. Aku tidak datang untuk menggangumu. Aku hanya ingin mengenangmu.

Kamu hadir secepat kilat yang membelah langit. Hujan mempertemukan kita, tanpa pernah kuminta. Kamu datang membawa harapan, lalu pergi begitu saja. Sesingkat itu aku menambatkan hati, sesingkat itu pula aku belajar kehilangan.

Hingga kini, setiap kali kenangan itu kembali, aku masih belum sepenuhnya mampu bertahan. Saat seseorang perlahan membuka ruang yang lama tertutup di hatiku, aku mulai percaya bahwa hidup ini kembali memiliki arti.

Aku mengira kebahagiaan sudah berada di depan mata. Ternyata takdir memilih jalan yang berbeda. Satu peristiwa menghempaskanku mundur begitu jauh, jauh lebih cepat daripada saat aku melangkah maju.

— Alena

***

Apa kamu senang berada di tengah keramaian?

Alena tidak.

Ia bukan gadis yang gemar bergaul, berlibur ke berbagai tempat, atau mengikuti setiap tren agar dianggap tidak ketinggalan zaman. Keramaian justru membuatnya merasa semakin asing. Lelah yang ia rasakan tak pernah memadamkan tekadnya. Ia terus berusaha melawan kesedihan yang diam-diam mengikutinya ke mana pun.

Pernahkah kamu merasa harus menjadi orang lain agar diterima? Pernahkah kamu merasa berada di lingkungan yang membuatmu terus waspada, seolah setiap tatapan siap menghakimimu? Itulah yang Alena rasakan setiap hari.

Seorang gadis berdiri termenung di depan gerbang sekolah. Tatapannya kosong, entah tertuju pada apa.

“Alena.”

Tak ada jawaban.

“Alena!” Erlita mengibaskan tangan di depan wajah sahabatnya.

Alena tersentak. “Lita... sejak kapan kamu di sini?”

Erlita menyilangkan tangan di dada. “Haruskah aku menjelaskan pakai rumus matematika atau bahasa sastra yang terus kamu pelajari? Pilih yang mana?”

“Terserah. Aku sedang tidak ingin bercanda,” jawab Alena datar.

“Ini pertanyaan dari calon guru profesional, jadi aku butuh jawabanmu.” Erlita mengangkat dagunya dengan bangga. “Nah, pilih rumus yang paling cepat kamu pahami.”

Alena terkekeh tipis. “Baik, Bu Guru. Nanti saja dipraktikkan kalau sudah lulus jadi sarjana. Sepertinya masih lama.”

“Dasar si super kaku.” Erlita menjentik pelan hidung Alena. “Ngomong-ngomong, sedang apa kamu di sini?”

“Menunggumu.”

Padahal sebenarnya tidak ada yang ia tunggu. Alena hanya belum siap pergi ke tempat yang seharusnya ia datangi.

“Benarkah?” Erlita menyipitkan mata penuh curiga.

“Iya.” Alena buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Siska sama Kinar ke mana?”

“Di kosan. Kita mau ngerjain tugas bahasa Inggris dari Pak Soni. Kamu nggak jadi les privat?”

Alena hanya tersenyum tipis. “Kalau begitu, ayo!”

Erlita tidak bertanya lagi. Ia cukup mengenal Alena bahwa sahabatnya hanya akan bercerita jika benar-benar siap.

Alena mengikuti langkah Erlita menuju rumah kos Pak Toha. Berkumpul di sana sudah menjadi rutinitas mereka. Alena, Erlita, Siska, dan Kinar hampir setiap hari menghabiskan waktu bersama. Kadang mereka mengerjakan tugas, menonton film, atau sekadar tidur-tiduran di kamar Kinar.

Namun, yang paling sering memicu kegaduhan adalah permainan mereka. Siapa pun yang kalah harus rela wajahnya diolesi bedak basah. Korbannya pun tidak hanya sesama teman. Penghuni kos lain sering ikut dikejar-kejar hingga bersembunyi di kamar tidur, dapur, bahkan kamar mandi.

Meski rumah kos selalu ramai oleh teriakan dan tawa mereka, tak seorang pun benar-benar marah. Semua penghuni sudah terbiasa dengan tingkah empat gadis itu. Dan di tempat itulah... Alena merasa tidak lagi sendirian.

***

Hari Kamis. Hujan turun deras, mengguyur kota tanpa jeda. Langit mengirim mendung sebagai pertanda sebelum akhirnya menumpahkan seluruh isinya.

Berbeda dengan orang-orang yang berharap sempat mencari tempat berteduh, Alena justru lebih menyukai hujan yang datang tanpa peringatan.

Baginya, hujan adalah sahabat yang paling setia. Di balik derasnya rintik, wajah lelah dapat tersembunyi. Air mata pun akan larut, tak lagi bisa dibedakan dari tetesan hujan.

Sayangnya, tempat ini terlalu ramai. Jika ia memaksakan diri berjalan di bawah hujan, orang-orang hanya akan memandangnya seperti gadis aneh.

Bersama Siska, Alena melangkah menyusuri deretan pertokoan untuk berteduh. Langkah mereka cepat, menghindari hujan yang semakin deras. Kepala Alena terus tertunduk. Ia melewati orang-orang yang berdesakan di bawah emper toko tanpa sedikit pun mengangkat wajah.

Siska melirik sahabatnya beberapa kali. Ia ingin bertanya, tetapi sudah tahu jawaban yang akan didapat.

Aku baik-baik saja.” Kalimat itu selalu menjadi tembok yang tidak pernah berhasil ia lewati.

“Siska?” Sebuah suara memanggil dari depan toko elektronik.

Beberapa orang sedang berteduh di sana. Salah satunya adalah Hany, teman Siska semasa SMP.

Hany tidak sendiri. Di sampingnya duduk seorang lelaki yang bersandar santai di tembok toko yang sudah tutup. Jemarinya sibuk memainkan ponsel, seolah tidak peduli dengan hujan di sekelilingnya.

Siska menghampiri Hany. Percakapan mereka mengalir begitu saja, melepas rindu setelah lama tidak bertemu.

Sementara itu, Alena memilih diam. Pandangannya lurus menatap jalan yang mulai tergenang. Air hujan mengalir hingga menutupi mata kaki orang-orang yang nekat melintas.

“Kenalkan, ini sahabatku, Alena.”

Alena hanya membalas dengan senyum.

Setelah Siska dan Hany saling bertukar nomor telepon, percakapan mereka pun berakhir. Siska memahami Alena. Saat pikirannya sedang kacau, gadis itu tidak suka menunggu terlalu lama, apalagi terlibat dalam percakapan yang tidak perlu.

Setibanya di terminal angkot, Alena dan Siska berpisah. Tujuan mereka berbeda.

Alena naik ke dalam angkot yang hampir kosong. Ia menyandarkan tubuh di kursi dekat jendela, menikmati suasana yang lengang.

Tak lama kemudian, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang sudah lama tidak menghubunginya.

Luke: Jangan diam saja! Kalau kamu terus seperti ini, semuanya akan semakin buruk.

Alena menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengetik balasan.

Alena: Baiklah. Aku mau kita putus.

Pesan itu terkirim. Tidak ada penyesalan. Yang tersisa hanyalah rasa lelah.

Sering kali aku terlihat tegar, padahal aku hanya terbiasa menyimpan kecewa sendirian. Apa orang lain juga pernah ingin kembali ke masa lalu? Memperbaiki satu keputusan yang pernah mereka ambil?

Aku ingin bertanya... tetapi aku takut mendapat pertanyaan yang sama.

Alena

Tatapan Alena kembali mengarah ke luar jendela. Hujan masih setia membasahi jalanan, seolah enggan meninggalkan bumi. Angkot yang ditumpanginya melambat di depan deretan pertokoan.

Tanpa sengaja, matanya menangkap sosok yang sedang berbincang dengan Hany. Lelaki itu masih berdiri di tempat yang sama. Kabut hujan membuat wajah lelaki itu tampak samar.

Alena menyipitkan mata, berusaha mengenalinya lebih jelas.

“Dasar bodoh,” gerutunya pelan. “Kenapa aku malah memperhatikan orang yang sama sekali tidak kukenal? Sudahlah, hentikan."

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Siska muncul di layar.

“Hari ini hari keberuntunganmu, sahabat cantikku!” seru Siska begitu panggilan tersambung. Nada suaranya dipenuhi semangat.

“Maksudmu?”

“Aku punya kabar baik buatmu.”

Alena mengerutkan dahi. “Tunggu dulu. Aku baru saja memutuskan Luke, lalu tiba-tiba kamu bilang ini hari keberuntunganku?”

Ia sama sekali tidak bisa menghubungkan kedua hal itu.

“Serius?” Siska justru terdengar lega. “Alena, sudah seminggu terakhir Luke membuat senyummu menghilang. Maaf kalau aku terdengar jahat, tapi aku justru senang kalian berpisah.”

Alena mengembuskan napas panjang. “Aku sudah berusaha menjadi diriku sendiri. Tapi entah kenapa, semakin aku bertahan, semakin aku merasa menjadi orang lain. Daripada terus menyakitinya, lebih baik aku melepaskannya sekarang.”

Suara Siska melembut. “Apa pun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Jangan menoleh ke belakang terus, Alena. Teruslah melangkah sampai kamu menemukan jalan yang memang ditakdirkan untukmu.”

Sesaat kemudian, nada bicara Siska kembali ceria. “Nah, sekarang siap-siap! Kabar yang kubawa ini dijamin bikin kamu senyum lagi.”

Alena menggeleng pelan sambil tersenyum. “Aku jadi penasaran. Bagaimana aku percaya ini kabar baik? Kamu belum bilang apa-apa.”

“Nah, itu dia. “Siska tertawa kecil.

“Hampir saja aku lupa menyampaikan bagian yang paling penting.”

“Dasar pelupa,” ledek Alena.

“Sudahlah, jangan bahas aku.” Siska berdeham singkat. “Sepupu Hany... cowok yang tadi bersamanya, minta nomor kontakmu.”

Alena terdiam. Seolah ada petir yang menyambar di tengah hujan.

Secepat ini? Benarkah hati manusia bisa berubah secepat itu?

Saat aku baru saja kehilangan seseorang, mengapa Kau justru mengirim orang lain untuk mengulurkan tangan? Haruskah aku menyambutnya?

Alena

“Al... aku masih menunggu jawabanmu,” ujar Siska pelan.

Alena menarik napas panjang. “Aku belum ingin dekat dengan siapa pun. Terlalu cepat.”

“Aku tidak menyuruhmu pacaran.” Siska tertawa kecil. “Cukup berteman dulu. Siapa tahu kamu merasa nyaman.”

Alena tetap diam. Siska melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. “Jangan menutup semua pintu hanya karena satu orang pernah meninggalkanmu.”

Kalimat itu membuat keduanya sama-sama terdiam. Mereka sama-sama mengingat sesuatu yang tidak pernah diucapkan. Kesedihan sesaat melintas di wajah mereka.

Akhirnya Alena mengalah. “Baiklah... berikan saja nomor teleponku.”

Senyum Siska langsung merekah. “Terima kasih, Lena. Semoga ini menjadi awal yang baik.”

Panggilan berakhir.

Alena kembali menatap ke luar jendela. Kabut sore masih menggantung di udara. Entah mengapa... Bayangan lelaki yang tadi berdiri di depan toko itu kembali memenuhi pikirannya.

***

Malam harinya, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Alena membaca nama yang belum tersimpan itu beberapa detik, tetapi tidak segera membalas.

Ponselnya ia selipkan di bawah bantal. “Bisakah kamu menunggu sebentar?” gumamnya pelan.

“Aku baru saja melepaskan Luke. Selama ini aku hanya menjadikannya tempat pelarian, dan aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Kalau kamu memaksaku membuka hati sekarang, jangan salahkan aku kalau akhirnya aku memilih menjauh.”

Kamar kembali sunyi.

Belum waktunya. Aku memang seperti ini. Suasana hatiku mudah berubah, bahkan sering kali sulit kupahami sendiri.

Haruskah aku mengenalmu? Kalau kamu jadi aku, keputusan apa yang akan kamu ambil? Bintang paling terang... kalau memang ini jalan yang benar, temuilah aku dalam mimpi malam ini.

Alena

Ia memeluk boneka panda kesayangannya lebih erat. Kelopak matanya mulai terasa hangat.

Ponsel di bawah bantal kembali bergetar beberapa kali, tetapi Alena membiarkannya. Malam ini ia belum sanggup membaca satu pesan pun.

Hati manusia memang sulit ditebak. Bahkan diri sendiri sering kali tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan. Namun aku percaya, hidup tidak berhenti hanya karena satu kehilangan.

Di balik jalan yang penuh rintangan, selalu ada tempat untuk beristirahat. Mungkin aku hanya perlu berjalan sedikit lebih lama... sampai menemukan jalan yang benar-benar membuatku merasa pulang.

Alena

***

Alena bahkan tidak sempat sarapan pagi. Sebelum bel masuk berbunyi, ia menyempatkan diri membeli makanan di kantin.

Kantin masih lengang. Hanya beberapa siswa yang sedang menikmati sarapan. Alena memilih duduk di sudut ruangan. Namun baru beberapa suap makanan masuk ke mulutnya, suara yang sangat dikenalnya terdengar dari meja belakang. Luke bersama Aldo dan Revan.

“Ternyata dia memang pintar berpura-pura,” ucap Luke cukup keras hingga mudah didengar. “Wajahnya memang manis, tapi sifat aslinya... menyeramkan.”

Aldo menyeringai. “Akhirnya topengnya terbuka juga?”

Luke tertawa hambar. “Aku sudah berusaha jadi yang terbaik buat dia. Tapi ujung-ujungnya malah ditinggalkan begitu saja.”

“Karena ada orang lain?” tanya Aldo.

Luke mengangkat bahu. “Entahlah. Yang jelas dia menusukku dari belakang.”

Revan yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. “Kamu sudah dengar alasan dari dia?”

Luke menggeleng. “Dia bahkan tidak memberiku kesempatan.”

“Mungkin ada sesuatu yang tidak kamu tahu.”

Luke menatap Revan. “Kalau memang ada alasan, kenapa dia tidak pernah bilang?”

Revan menarik napas pelan. “Kalau kamu jadi dia, apa kamu yakin sanggup mengatakannya?”

Luke terdiam sesaat. “Setidaknya aku ingin tahu letak salahku. Kalau memang aku keliru, aku bisa memperbaikinya.”

Revan mengangguk pelan. “Kalau aku berada di posisimu...”

Ia berhenti sebentar. “Aku akan mulai dengan mengoreksi diriku sendiri.”

Kalimat itu membuat tangan Alena membeku. Sendok yang semula hendak menyuap makanan berhenti di udara. Nafsu makannya menghilang seketika.

Apa ini cara Luke membuatku merasa bersalah? Apa mereka semua menganggap aku penyebabnya? Padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Luke terlalu mengekangku. Ia sering berbohong. Terlalu mudah akrab dengan perempuan lain, tetapi marah jika aku berbicara dengan laki-laki.

Aku lelah mendengar kesombongannya dan hidup di bawah aturan yang tidak pernah kuminta. Aku tidak meninggalkannya tanpa alasan... aku hanya memilih menyelamatkan diriku sendiri.

Alena

“Van, apa kasih sayangku selama ini masih kurang? Apa dia benar-benar tidak pernah merasakan ketulusanku?” tanya Luke dengan suara lirih.

Aldo mendengus pelan. “Siapa tahu dia sudah punya orang lain. Sekarang banyak kok cewek yang begitu. Kalau sudah dapat gebetan baru, yang lama langsung dibuang.”

Revan menggeleng pelan. “Jangan asal menuduh, Do. Kita juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Luke mengembuskan napas panjang. “Apa pun alasannya, semuanya sudah berakhir.”

Revan menepuk bahu sahabatnya. “Kalau memang sudah tidak bisa dipertahankan, belajarlah mengikhlaskan. Di luar sana masih banyak perempuan yang bisa menghargai ketulusanmu.”

Luke tersenyum hambar, lalu melirik ke arah Alena.

“Benar. Mulai sekarang aku tidak peduli lagi pada perempuan munafik.”

Luke dan Aldo tertawa puas. Revan hanya menghela napas, seolah tidak sepenuhnya setuju dengan ucapan itu.

“Berengsek,” gumam Alena lirih.

Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan makanan yang bahkan belum sempat dihabiskan.

Sebenarnya ia bisa saja membungkam mulut Luke dengan membuka semua keburukan lelaki itu di hadapan teman-temannya. Namun, itu bukan caranya menyelesaikan masalah.

Biarlah mereka menghakimiku tanpa mengetahui kebenaran. Aku tidak ingin membalas keburukan dengan cara yang sama. Waktu akan membuktikan siapa yang sebenarnya keliru.

Alena


Alena duduk sambil menopang dagu. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela. Kehidupannya terlihat tenang, berbanding terbalik dengan suasana kelas yang riuh.

Jam pelajaran Kimia berlangsung tanpa kehadiran guru. Kesempatan itu dimanfaatkan sebagian murid untuk bermain ponsel, bercanda, bergosip, atau mengobrol. Hanya beberapa orang yang tetap sibuk mengerjakan tugas.

“Alena, kamu dan Siska menyembunyikan sesuatu dariku.” Kinar yang duduk di bangku depan menoleh dengan tatapan penuh selidik.

Siska langsung menutup wajahnya dengan buku.

“Maaf... aku tidak sengaja keceplosan.”

“Benar, kan?” Kinar mengangkat alis. “Kalau Siska tidak keceplosan, kalian pasti tetap merahasiakannya.”

Kini Alena semakin terpojok. Erlita yang duduk di samping Kinar ikut menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Kenapa kamu tidak jujur sama kami? Kamu sudah tidak mau berbagi cerita lagi?” tanyanya dengan wajah murung.

Alena mengembuskan napas pelan. “Memang benar. Kemarin aku putus dengan Luke. Mulai sekarang kami tidak akan saling menyapa lagi.”

Erlita segera menggenggam tangan sahabatnya.

“Sejujurnya, aku justru mendukung keputusanmu. Daripada terus melihatmu bersedih, sekarang kamu terlihat jauh lebih tenang.”

“Aku juga setuju,” sahut Kinar cepat. “Luke itu salah satu cowok paling membosankan yang pernah aku kenal. Dia tidak cocok masuk kelompok kita. Coret saja namanya, masukkan ke daftar hitam!”

Siska mengangguk mantap. “Pokoknya jangan sampai dia menyelinap lagi ke dalam lingkaran persahabatan kita.”

Alena tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya.

“Tapi...” Kinar mendadak menyeringai jahil. “Bagaimana perkembanganmu dengan sepupu temannya Hany? Cerita, dong!”

Alena menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Belum ada perkembangan.”

“Lho, memangnya kenapa?”

“Aku belum pernah membalas pesannya.”

“Apa?” Siska spontan menutup bukunya. “Ya ampun, Alena!”

“Tenang saja.” Alena tersenyum canggung. “Nanti juga aku balas kalau suasana hatiku sudah lebih baik.”

Siska memijat pelipisnya. “Alenaku sayang... sampai kapan kamu mau bersikap sedingin ini?”

Kinar terkekeh. “Ya memang begitu Alena. Siapa cowok di sekolah ini yang berani mendekat? Alena selalu memasang wajah terlalu datar. Apalagi orang yang baru kenal. Bisa-bisa langsung kabur karena pesannya tidak dibalas.”

Bruk.

Sebuah buku mendarat pelan di bahu Kinar.

“Aduh!” Kinar mengusap bahunya sambil nyengir. “Kenapa mukul aku?”

“Karena mulutmu terlalu jujur,” jawab Siska.

Melihat suasana mulai canggung, Erlita ikut menengahi.

“Bukan cuek. Alena itu hanya menjaga diri. Dia bahkan belum mengenal laki-laki itu. Wajar kalau dia masih berhati-hati.”

“Iya, tapi...” Kinar baru hendak menyela.

Erlita langsung menutup mulut Kinar dengan telapak tangannya. “Sudah. Jangan asal bicara dulu.”

Kinar hanya bisa mengangguk sambil meringis, membuat ketiga sahabatnya tertawa kecil.

Pelajaran terakhir hari itu adalah Matematika. Suasana kelas yang semula riuh seketika berubah tegang. Berhadapan dengan Bu Eli, guru yang terkenal disiplin dan rajin memberi latihan, selalu menjadi jam pelajaran yang paling melelahkan bagi sebagian besar siswa. Tugas yang diberikannya tidak pernah sedikit, sepuluh soal hanyalah permulaan.

Siapa pun yang ditunjuk oleh jari telunjuk Bu Eli harus maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal di papan tulis. Murid yang berhasil menjawab dengan benar boleh kembali ke bangkunya. Sebaliknya, mereka yang belum bisa akan tetap berdiri di depan hingga memahami penjelasan yang diberikan Bu Eli.

Beruntung, hari itu Bu Eli harus meninggalkan kelas setelah membagikan tugas kelompok. Biasanya beliau berkeliling memeriksa pekerjaan setiap kelompok, tetapi kali ini kelas XIA mendapat sedikit kebebasan.

Erlita dan Kinar sibuk membolak-balik majalah fesyen yang baru mereka beli. Siska asyik membaca novel yang diselipkan di balik buku paket Matematika. Sementara itu, Alena memanfaatkan kesempatan untuk membalas pesan yang sejak tadi menunggunya.

Ia baru menyadari bahwa membuat seseorang menunggu ternyata tidak menyenangkan. Pesan yang dikirimnya belum juga mendapat balasan.

Alena menyimpan ponselnya di sela-sela buku, mencoba kembali fokus pada tugas. Namun beberapa menit kemudian, layar ponselnya menyala.

Sebuah pesan masuk. Tanpa sadar, senyum tipis menghiasi wajahnya.

Dua jam pelajaran Matematika di hari Jumat itu berlalu begitu saja, ditemani percakapan singkat yang entah mengapa mampu memperbaiki suasana hatinya.

Kamu tahu rasanya membaca pesan dari seseorang yang sebelumnya adalah orang asing, tetapi perlahan mampu membuatmu tersenyum? Kamu bahkan ingin menyimpan kebahagiaan itu sendirian, tanpa membaginya kepada siapa pun. Aneh, bukan?

Dia, Zaki Gifansyah. Sosok yang ramah, sopan, mudah akrab, dan senang bercanda. Entah mengapa, setiap pesannya terasa mampu mengusir penatku. Namun... apa yang sebenarnya kuharapkan dari kedekatan ini?Alena

***

Percakapan mereka tak lagi sekadar menanyakan kabar. Sedikit demi sedikit, mereka mulai mengenal kehidupan satu sama lain.

Zaki sering bercerita tentang kegiatannya sepulang sekolah. Seusai membantu di bengkel milik pamannya, ia biasanya pulang menjelang malam. Meski lelah, ia selalu menyempatkan diri mengirim pesan kepada Alena. Di sela-sela obrolan, ia juga menceritakan impiannya untuk memiliki bengkel sendiri suatu hari nanti.

Sebaliknya, Alena mulai membuka sedikit ruang di dalam hidupnya. Ia bercerita tentang sahabat-sahabatnya, tugas sekolah yang sering membuatnya mengeluh, novel-novel yang gemar ia baca, hingga kebiasaannya menikmati hujan dari balik jendela kamar.

Sesekali, Zaki mengirim foto langit sore.

“Lihat, awannya mirip kapas.”

Alena hanya membalas dengan emoji senyum. Namun tanpa sepengetahuan Zaki, foto itu ia simpan di galeri ponselnya.

Malam berikutnya, giliran Alena mengirim foto langit berwarna jingga yang terlihat dari jendela kamarnya.

“Di sini juga cantik.”

Zaki tersenyum lama membaca pesan itu. Baginya, balasan sederhana itu sudah cukup membuat harinya terasa lebih baik.

Hari demi hari berlalu. Percakapan yang semula hanya berlangsung beberapa menit kini sering berakhir menjelang tengah malam.

Tidak ada rayuan.

Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan.

Mereka hanya saling bertukar cerita tentang hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari. Justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah, jarak di antara mereka perlahan menghilang.

Belum ada yang berani menyebutnya sebagai rasa suka. Namun, keduanya mulai terbiasa mencari nama satu sama lain setiap kali layar ponsel menyala.


Memasuki minggu kedua, Zaki mulai merasa pesan singkat saja tidak lagi cukup. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan, tetapi rasanya akan lebih baik jika disampaikan secara langsung.

Beberapa kali ia mengetik ajakan untuk bertemu, lalu menghapusnya kembali. Ia khawatir Alena merasa tidak nyaman.

Hingga akhirnya, pada suatu siang, setelah mengumpulkan keberanian, ia mengirim sebuah pesan.

Zaki: Aku sudah di koridor pertokoan dekat terminal. Kalau kamu tidak sibuk, boleh kita bertemu?

Ponsel Alena bergetar di atas meja belajar kos. Ia membaca pesan itu beberapa kali. Bukan karena tidak ingin bertemu. Hanya saja, baginya menyelesaikan tugas sekolah tetap lebih penting daripada memenuhi ajakan seseorang yang baru dikenalnya.

Melihat Alena hanya menatap layar ponselnya, Siska segera menghampiri. “Zaki mengirim pesan?” tanyanya penasaran.

Alena mengangguk pelan. “Iya. Dia bilang sudah menunggu di pertokoan dekat terminal.”

Siska dan Kinar saling berpandangan, lalu buru-buru membereskan buku serta lembar tugas yang berserakan di lantai.

“Ayo, cepat selesaikan, Alena!” seru Siska menyemangati.

“Iya, tinggal sedikit lagi.” Alena kembali menulis jawaban terakhir. “Memangnya kalian sudah selesai?”

“Sudah!” jawab Siska dan Kinar hampir bersamaan.

Siska tersenyum lebar. “Kalau begitu, setelah ini kita temui Zaki.”

Alena hanya mengangguk sambil menyelesaikan kalimat terakhir pada lembar tugasnya. Meski berusaha tetap tenang, sesekali matanya melirik layar ponsel yang masih menampilkan pesan dari Zaki. Ia tidak ingin membuat lelaki itu menunggu terlalu lama.

Siska tahu Alena bukan tipe orang yang mudah menerima ajakan bertemu, apalagi dari seseorang yang belum lama dikenalnya. Karena itu, ia sengaja ingin menemani sahabatnya agar Alena tidak berubah pikiran di saat terakhir.

“Sis... eh, boleh aku ikut juga?” Kinar memasang wajah memelas. “Aku penasaran ingin melihat Zaki.”

Siska terkekeh pelan. “Kinar, rumahmu di sini. Lebih baik kamu tunggu Erlita. Aku yakin dia belum selesai mengerjakan tugas.”

Kinar mengembuskan napas panjang, lalu bersandar di kursinya. “Ya sudah. Nanti jangan lupa ceritakan semuanya, ya.”

Belum sempat Siska menjawab, Kinar kembali membuka suara.

“Ini berarti Alena akhirnya berhasil melupakan Yuda. Semoga Zaki sebaik Yuda... atau bahkan lebih baik. Soalnya, sejak Yuda pergi, kamu belum pernah benar-benar membuka hati lagi.” Ucapan itu meluncur begitu saja.

Kinar sama sekali tidak menyadari perubahan raut wajah kedua sahabatnya. Senyumnya perlahan memudar ketika melihat Alena terdiam, sementara Siska menatapnya tajam seolah memberi isyarat agar tidak melanjutkan pembicaraan.

Barulah Kinar menyadari bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak diungkit.

“Eh... maaf. Aku keceplosan.”

Alena hanya mengangguk pelan. Ruangan mendadak sunyi.

Jleb...

Nama itu kembali menghantam dadaku.

Yuda.

Bagaimana mungkin aku melupakannya?

Dia adalah cinta pertamaku.

Setiap kali mendengar namanya, selalu ada bagian di dalam diriku yang kembali terasa kosong. Anehnya, aku bahkan sudah tidak mampu menangis. Seolah seluruh air mata telah habis bersama kepergiannya.

— Alena

Tanpa berkata apa-apa lagi, Alena dan Siska segera membereskan buku-buku mereka. Mereka berpamitan kepada Kinar, lalu berjalan keluar dari kamar kos.

Kinar hanya memandangi kepergian kedua sahabatnya dengan perasaan bersalah.

“Kenapa aku selalu asal bicara, sih?” gumamnya pelan sebelum kembali menatap lembar tugas yang belum selesai.


Sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka berbicara. Siska beberapa kali melirik Alena yang terus menundukkan kepala.

“Apa kamu teringat Yuda lagi?” tanyanya hati-hati. “Maaf... kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman.”

Alena tersenyum, meski matanya masih menyimpan kesedihan.

“Sudah waktunya aku membuka hati untuk hal-hal baru.”

Ia menarik napas panjang. “Bukan berarti aku melupakan Yuda. Selama ini aku terlalu larut mengenangnya. Sampai-sampai aku tidak memberi ruang bagi orang lain untuk hadir.”

Alena menatap jalan di depannya. “Itu membuatku bersikap tidak adil... pada mereka yang datang dengan ketulusan.”


Kilas balik

Tuhan... seandainya aku diberi kesempatan memilih, aku ingin memiliki waktu yang lebih panjang bersama Yuda.

Aku ingin kembali ke masa itu. Menghapus setiap rintangan yang akan memisahkan kami. Namun aku tahu, aku tidak boleh egois.

Yuda bukan milikku. Engkau hanya mempertemukannya denganku, lalu mengambilnya kembali pada waktu yang telah Engkau tentukan.

Meski begitu, aku bersyukur pernah mengenalnya. Karena Yuda akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidupku.

Saat pertama kali masuk SMA, Yuda dikenal sebagai kakak kelas yang dingin dan sulit didekati.

Alena tidak pernah melihatnya memarahi junior. Namun, hampir semua siswi mengenalnya sebagai laki-laki yang tidak pernah memberi harapan dan sering dianggap tega mematahkan perasaan perempuan yang menyukainya.

Wajahnya tampan, bahkan banyak yang menganggapnya lebih menarik daripada ketua tim basket sekolah yang selalu menjadi pusat perhatian. Setiap perempuan yang berusaha mendekat selalu ditolaknya dengan sikap datar, tanpa memberi harapan sedikit pun.

Karena itulah, hampir seluruh siswa menjulukinya "Si Hati Dingin." Namun, tidak seorang pun tahu bahwa di balik sikap dinginnya, ada seseorang yang selalu ia hubungi. Hampir setiap malam, ia mengirim pesan, menelepon, dan mengucapkan kata-kata manis hanya untuk satu gadis.

Gadis itu adalah Alena.


Semuanya berawal dari sebuah kejadian yang tidak pernah Alena duga. Hari itu, ia dan Kinar berlari kecil menuju sanggar tari setelah menerima pesan dari Kak Wilda bahwa mereka datang terlambat.

Tidak seperti biasanya, sanggar sudah dipenuhi anggota sebelum jam latihan dimulai. Begitu Alena melangkah masuk, Kak Wilda langsung menghampirinya dan menarik pergelangan tangannya.

“Kamu tahu kalau datang terlambat?” Nada bicaranya terdengar tajam.

Anehnya, Kinar justru dibiarkan bergabung dengan teman-teman yang lain, sedangkan Alena tetap berdiri di depan.

“Iya, Kak. Maaf.”

“Maaf?” Kak Wilda menatapnya tajam. “Apa semuanya selesai hanya dengan kata maaf? Kamu pikir latihan tari ini cuma permainan?”

Suara keras itu membuat seluruh isi ruangan terdiam. Semua mata tertuju pada Alena.

“Aku tidak pernah menganggap latihan ini sebagai permainan, Kak,” jawab Alena berusaha tenang. “Kalau aku tidak serius, dari awal aku tidak akan bergabung di sanggar ini.”

“Kamu memang anak pintar.” Kak Wilda menyilangkan tangan di depan dada. “Tapi kalau senior sedang berbicara, dengarkan saja! Belajar menghargai orang yang lebih dulu ada di sini.”

“Baik, Kak. Aku mengerti.”

“Kalau begitu, setelah melihat teman-temanmu menari, sekarang giliranmu. Tunjukkan gerakan yang sudah dipelajari.”

Alena melangkah ke tengah ruangan. Musik diputar. Ia mulai menari mengikuti irama.

Para senior yang semula berdiri mengelilinginya perlahan membuka barisan, membentuk sebuah lorong. Saat itulah seseorang berjalan mendekat.

Jantung Alena seolah berhenti berdetak.

“Alena...” Suara itu begitu dikenalnya.

Pemuda itu berdiri tepat di hadapannya sambil tersenyum hangat.

“Maaf atas ketidaknyamanan yang Kak Wilda lakukan.” Ia melirik ke arah para senior yang kini tersenyum menahan tawa. “Semua ini hanya sandiwara. Tidak ada yang benar-benar marah padamu.”

Ia mengangkat sebuah kotak kecil berisi kue ulang tahun, lalu menyerahkan buket bunga yang sejak tadi disembunyikan di belakang punggungnya.

“Selamat ulang tahun, Alena.”

Tubuh Alena membeku.

Tangannya gemetar hingga hampir tidak sanggup menerima buket bunga itu.

Apa aku sedang bermimpi?

Laki-laki yang selama ini hanya bisa kukagumi dari kejauhan kini berdiri tepat di hadapanku.

Dia yang selama ini selalu membuatku tersenyum lewat pesan-pesan singkat dan suara hangat di telepon... kini berdiri tepat di hadapanku.

Orang-orang mengenalnya sebagai "Si Hati Dingin." Namun bagiku... dia tidak pernah sedingin itu.

Dia tidak pernah melukai hatiku. Yuda tersenyum, lalu menatapku lekat.

“Aku bukan Jaka Tarub yang mencuri selendang demi mendapatkan bidadari. Aku hanyalah Yuda, manusia biasa yang sedang berusaha mencuri hatimu sambil memohon kepada Tuhan agar merestui langkah kita. Semoga Tuhan menakdirkan kita untuk selalu bersama.”

Sorak sorai memenuhi seluruh ruangan. Teman-teman bersiul dan bertepuk tangan. Sementara aku hanya mampu mengangguk pelan, terlalu gugup untuk mengucapkan sepatah kata pun.

Melihat anggukan itu, Yuda tersenyum lebar. Ia langsung dipeluk teman-temannya yang ikut bersorak merayakan keberhasilannya.

Sejak hari itu, aku dan Yuda hampir selalu bersama. Sahabat-sahabatku menjadi saksi kisah kami. Yuda adalah lelaki yang selalu berusaha menjaga hubungan kami. Ia lebih memilih mengalah daripada membiarkan pertengkaran tumbuh di antara kami.


Sebenarnya, aku sudah menyukai Yuda jauh sebelum hari itu. Semua berawal ketika aku mendapat hukuman mengelilingi lapangan basket karena terlambat datang ke sekolah.

Saat berlari, aku terjatuh hingga pergelangan kakiku terkilir. Di saat semua orang berlalu begitu saja, Yuda datang menghampiriku. Ia berjongkok di depanku, lalu membersihkan luka di lututku dengan hati-hati.

“Aku tidak yakin kamu sanggup berjalan sendiri,” katanya sambil berdiri. “Boleh aku mengantarmu sampai depan kelas?”

“Apa aku terlihat semanja itu?” Aku mendengus kesal. “Tidak usah membuang tenagamu untukku.”

Yuda hanya tersenyum kecil. “Bukan begitu. Aku hanya berpikir, kalau bisa membantu seseorang, kenapa harus berpura-pura tidak peduli?”

“Aku bisa berjalan sendiri.”

Aku baru melangkah beberapa langkah ketika rasa nyeri kembali menusuk pergelangan kakiku.

“Ah...”

Tanpa banyak bicara, Yuda merangkul bahuku agar aku tidak terjatuh.

“Kalau kamu mau, aku bisa menggendongmu.”

Aku langsung menatapnya tajam. “Aku bukan anak kecil.”

“Tahu.”

“Cobaan yang lebih berat saja bisa kulewati. Masa hanya karena kaki terkilir aku harus dimanja?”

Yuda terkekeh pelan. “Semangatmu memang luar biasa.”

Ia menatapku beberapa saat sebelum kembali berkata, “Tapi sehebat apa pun seseorang, tetap ada saatnya membutuhkan bantuan.”

Aku terdiam.

Yuda melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan. “Kamu selalu terlihat kuat karena tidak ingin membuat orang lain khawatir, ya?”

Aku menoleh. Entah kenapa, rasanya ia bisa membaca isi hatiku.

“Sebenarnya kita mirip.”

“Maksudmu?”

“Aku juga seperti itu.” Ia tersenyum. “Dan satu lagi...”

“Apa?”

“Hatiku selalu berdebar setiap berada di dekat perempuan yang keras kepala, penuh semangat, percaya diri, wajahnya jutek, tapi justru membuatku ingin terus melihatnya setiap hari.”

Aku mendengus pelan. “Aku tidak termasuk kriteria itu.”

“Oh, ya?”

“Iya. Jadi berhentilah mencari perhatian. Nanti kita malah digosipkan satu sekolah.”

Yuda tertawa lepas. “Menurutku... akan menyenangkan kalau kita benar-benar digosipkan.”

Itulah pertama kalinya aku melihat "Si Hati Dingin" tertawa sebahagia itu. Dan saat itulah... tanpa kusadari, hatiku mulai jatuh kepadanya.


Yuda adalah lelaki yang dewasa, penyayang, tidak egois, dan selalu membuatku merasa dihargai. Bersamanya, aku menemukan rasa nyaman yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Namun siapa sangka... di balik senyum hangatnya, tersimpan sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

Aku sering berkunjung ke rumahnya, bahkan ketika Yuda sedang tidak ada. Hubunganku dengan ibunya begitu dekat hingga beliau menganggapku seperti anak sendiri.

Suatu sore, beliau akhirnya mengatakan sesuatu yang mengubah hidupku.

“Alena...” ucapnya lirih.

“Yuda sebenarnya mengidap penyakit yang cukup serius.”

Duniaku seakan berhenti berputar. Selama ini... tak pernah sekali pun Yuda mengeluh di hadapanku.

Ia selalu tersenyum.

Selalu mengatakan dirinya baik-baik saja.


“Yud...” suaraku bergetar ketika akhirnya bertemu dengannya.

“Kalau Ibu tidak bercerita... sampai kapan kamu akan menyembunyikan semua ini dariku?”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Apa selama ini kamu pikir aku akan meninggalkanmu?”

Yuda menggeleng pelan. Tatapannya begitu tenang.

“Bukan itu yang kutakutkan.”

“Lalu?”

Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya.

“Aku justru takut...” Suaranya nyaris berbisik.“...kalau nanti akulah yang harus meninggalkanmu.”

“Jangan bilang begitu.” Air mata Alena kembali jatuh. “Aku mohon... kita akan selalu bersama. Mulai sekarang, ceritakan semua yang kamu rasakan padaku. Jangan memendam semuanya sendirian.”

Yuda tersenyum. “Alen, cobalah berpikir lebih dewasa. Tidak semua rasa sakit harus dibagikan.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin kesedihanku menjadi bebanmu. Aku lebih bahagia melihatmu tersenyum daripada ikut larut dalam kekhawatiranku.”

“Bagiku, keadaanmu jauh lebih penting daripada apa pun.” Alena menggenggam kedua tangan Yuda erat. “Jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku lagi.”

Yuda mengusap rambut Alena dengan lembut. “Sudahlah... jangan menangis.”

Ia tersenyum, meski wajahnya tampak semakin pucat. “Selama aku masih di sini, berjalanlah bersamaku. Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar pergi... jangan ikut berhenti.”

Alena menggeleng kuat. “Aku tidak mau mendengar kata itu.”

Air matanya kembali pecah. Ia memeluk Yuda erat, seolah takut kehilangan sosok yang ada di hadapannya.

Sejak hari itu, setiap pulang sekolah Alena selalu menyempatkan diri menemani Yuda menjalani pengobatan. Seusai kontrol, mereka berjalan santai mengelilingi kompleks, menikmati hal-hal sederhana yang sebelumnya terasa biasa.

Bagi Alena, setiap langkah yang mereka lalui bersama adalah cara untuk melawan ketakutan akan perpisahan.

Ia terus berharap. Berharap doa-doanya mampu mengubah takdir. Namun... tidak semua harapan berakhir seperti yang diinginkan.

Tepat pada sore hari, dimana hujan turun sangat deras, Tuhan memanggil Yuda untuk pulang. Padahal Alena telah menyiapkan begitu banyak rencana.

Liburan semester. Tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi. Masa depan yang selama ini mereka impikan bersama. Semua itu... kini hanya tinggal kenangan.


“Tidak akan ada kebahagiaan jika kamu terus meratapi kesedihan. Bangkitlah dan melangkah ke depan. Aku akan selalu bangga padamu. Meskipun nanti aku tidak lagi melihatmu atau berada di sisimu, aku tahu kamu tidak akan menyerah.”

Itulah kalimat Yuda yang masih terpatri jelas di ingatan Alena.

Ia menarik napas panjang. “Sis... waktu tidak akan menungguku.” Suaranya pelan. “Kalau aku terus hidup dalam kenangan Yuda, aku hanya akan menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan.”

Siska menoleh.

“Aku sudah terlalu lama berhenti di tempat yang sama.” Alena tersenyum getir. “Aku tidak ingin mengulang kesalahan itu lagi. Kalau kali ini aku kembali memilih lari, mungkin aku akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hidupku. Aku sudah terlalu sering mengecewakan orang-orang yang berharap kepadaku.”

Siska tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan sahabatnya. Diam-diam, matanya mulai berkaca-kaca.


Dari kejauhan, seorang pemuda duduk di depan deretan pertokoan. Tempat itu bukan sekadar tempat berteduh baginya. Di sanalah, beberapa waktu lalu, ia pertama kali melihat Alena.

Hari itu hujan turun deras. Ia hanya duduk bersandar sambil memperhatikan seorang gadis yang berjalan melewati hujan dengan wajah sendu.

Sejak saat itu, bayangan gadis itu tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.

Kini... gadis itu sedang berjalan ke arahnya.

Tuhan... kuatkan aku. Jangan biarkan aku mundur sebelum sempat menyapanya. Jangan biarkan rasa gugup ini membuatku kehilangan kesempatan.

Tangannya terasa dingin. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya. Namun ia tetap berdiri, berusaha terlihat setenang mungkin.

Jadi... ini Alena dari jarak sedekat ini. Wajahnya lebih cantik daripada yang kulihat dari kejauhan. Tatapannya teduh.

Senyumnya sederhana, tetapi mampu membuat seseorang lupa bagaimana caranya bernapas dengan tenang.

Pantas saja sejak hari itu aku terus memikirkannya. Hari ini... Tuhan akhirnya memberiku kesempatan untuk berdiri di hadapannya.

— Zaki

Di luar dugaan, percakapan mereka mengalir begitu saja. Tidak ada keheningan yang terasa canggung, seolah-olah mereka bukan dua orang yang baru beberapa waktu saling mengenal.

Awalnya, Zaki hanya menanyakan kabar Alena dan bagaimana tugas sekolahnya. Alena menjawab singkat. Namun setiap kali Zaki menanggapi dengan candaan ringan, gadis itu mulai tertawa pelan.

“Aku sempat berpikir kamu tidak akan datang,” ujar Zaki sambil tersenyum.

“Kenapa?”

“Soalnya membalas pesanmu saja harus menunggu berjam-jam.”

Alena menundukkan kepala sambil tersenyum malu. “Aku memang sering begitu.”

“Tapi akhirnya kamu datang juga.”

“Iya. Kasihan kalau kamu menunggu terlalu lama.” Jawaban sederhana itu membuat senyum Zaki semakin lebar.

Obrolan mereka kemudian mengalir tanpa arah yang pasti. Mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan sehari-hari.

“Pelajaran yang paling kamu suka apa?” tanya Zaki.

“Bahasa Indonesia.”

“Kenapa?”

“Aku suka membaca novel dan menulis cerita.”

“Berarti kamu sering ke perpustakaan?”

Alena mengangguk. “Kalau ada waktu, hampir setiap minggu.”

Zaki tersenyum. “Pantas.”

“Pantas apa lagi?”

“Jawabanmu rapi. Kayak orang yang memang suka membaca.”

Alena tertawa kecil. “Kamu suka membaca juga?”

“Jujur? Lebih sering baca buku servis motor.”

Kini giliran Alena yang tertawa lebih lepas. “Ternyata hobimu beda jauh.”

“Iya. Kalau disuruh baca novel, mungkin aku sudah tidur duluan.”

Percakapan mereka terus berlanjut. Dari pelajaran sekolah, guru yang galak, makanan favorit, sampai film yang pernah mereka tonton. Sesekali mereka saling menggoda ketika menemukan perbedaan selera, lalu kembali tertawa bersama.

“Kamu lebih suka hujan atau panas?” tanya Zaki.

“Hujan.”

“Kenapa?”

Alena mengangkat pandangan ke langit yang masih diselimuti awan kelabu. “Entahlah. Rasanya hujan selalu membuat semuanya terasa lebih tenang.”

Zaki mengangguk pelan. “Aku pertama kali melihatmu juga waktu hujan.”

Alena terkekeh pelan. “Itu cuma kebetulan.”

“Mungkin.”

Siska yang sejak tadi menikmati minumannya akhirnya ikut menyela. “Kalau aku lebih suka hujan daripada panas.”

Zaki menoleh. “Kenapa?”

“Soalnya kalau hujan, alasan tidur siang jadi lebih masuk akal.”

Mereka bertiga tertawa.

“Kirain jawabannya bakal puitis,” goda Zaki.

“Aku bukan Alena,” balas Siska cepat. “Kalau disuruh ngomong soal hujan, paling mentok bilang enak buat tidur.”

Alena menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya. “Itu memang Siska.”

“Loh, memangnya salah?” Siska pura-pura membela diri. “Kalau hujan, makan mi rebus, minum teh hangat, terus tidur. Nikmatnya dunia.”

“Kamu hobinya makan terus,” celetuk Alena.

“Ya daripada hobinya melamun lihat hujan.”

Alena langsung menoleh. “Aku tidak sesering itu.”

Siska dan Zaki saling berpandangan, lalu tertawa bersamaan.

“Tuh, dia menyangkal,” ujar Siska sambil menunjuk Alena.

Zaki tersenyum kecil. “Padahal pertama kali aku melihatmu, kamu memang sedang berdiri diam memandangi hujan.”

Alena mendesah pelan. “Kenapa semua orang memperhatikanku?"

“Soalnya kamu gampang dibaca,” jawab Siska.

“Tidak juga,” sahut Zaki pelan.

Kedua gadis itu menoleh bersamaan.

“Ada orang yang kelihatannya baik-baik saja,” lanjut Zaki, “padahal sebenarnya sedang menyimpan banyak hal.”

Suasana mendadak sedikit hening.

Alena menatap Zaki beberapa saat. Ia tidak menyangka lelaki itu bisa berkata seperti itu. Namun Zaki segera tersenyum, mengembalikan suasana.

“Untung hari ini kamu lebih banyak tersenyum.”

Ucapan itu membuat pipi Alena menghangat. Ia hanya menunduk sambil memainkan sedotan minumannya.

Dari tempat duduknya, Siska memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis. Kekhawatiran yang semula memenuhi pikirannya perlahan menghilang. Ia tidak melihat kecanggungan ataupun kepura-puraan. Yang ia lihat hanyalah dua orang yang menikmati pertemuan pertama mereka dengan tulus.

Sesekali Siska ikut menimpali ketika pembicaraan mengarah kepadanya, tetapi lebih sering membiarkan Zaki dan Alena saling mengenal.

Beberapa kali Alena tanpa sadar memainkan sedotan minumannya ketika sedang berpikir. Zaki memperhatikan kebiasaan kecil itu sambil tersenyum, tetapi tidak menggodanya.

Sebaliknya, Alena mulai menyadari bahwa Zaki adalah tipe orang yang mau mendengarkan sampai lawan bicaranya selesai. Ia tidak memotong pembicaraan, tidak sibuk memainkan ponsel, dan selalu memberi perhatian penuh pada orang yang sedang berbicara.

Hal-hal sederhana seperti itulah yang perlahan membuat Alena merasa nyaman.

Tanpa mereka sadari, waktu berlalu begitu cepat.

Tawa kecil bergantian terdengar di antara keduanya, membuat suasana sore terasa hangat. Sesekali tatapan mereka bertemu, lalu sama-sama mengalihkan pandang karena malu. Namun beberapa saat kemudian, mata mereka kembali saling mencari tanpa sengaja.

Bagi orang lain, mereka mungkin tampak seperti sepasang kekasih yang telah lama bersama. Padahal, hubungan itu bahkan belum memiliki nama. Yang tumbuh di antara mereka hanyalah rasa nyaman yang datang perlahan, tanpa dipaksa.

Pertemuan sederhana itu menjadi awal dari sesuatu yang belum mereka mengerti. Dua hati yang diam-diam mulai saling mengagumi. Dan tanpa mereka sadari, langkah kecil di sore itu kelak akan mengubah perjalanan hidup keduanya.

“Kalian baru kenal, tapi kenapa sudah seakrab ini?” Siska menggeleng pelan sambil tersenyum. “Kalau aku tidak tahu ceritanya, mungkin aku juga mengira kalian sedang pacaran.”

Alena dan Zaki saling berpandangan, lalu tertawa kecil. Melihat senyum yang kembali menghiasi wajah sahabatnya, Siska mengembuskan napas lega.

Akhirnya... Alena bisa tertawa lagi.

Setelah hampir tiga puluh menit berbincang, Siska berpamitan lebih dulu.

“Aku pulang, ya. Kalian hati-hati.”

“Aku antar Alena pulang,” ujar Zaki tanpa ragu.

Siska mengangguk.

Sepanjang perjalanan, tak banyak kata yang terucap. Namun keheningan itu tidak terasa canggung.

Sesekali mereka saling mencuri pandang, lalu tersenyum tanpa alasan. Rasanya, kebahagiaan sederhana itu sudah cukup menemani langkah mereka hingga tiba di rumah Alena.

Begitu memasuki halaman rumah, Zaki disambut dengan hangat. Ibu Alena mempersilahkannya masuk, sementara Akila, adik Alena, langsung mengajaknya mengobrol seolah mereka sudah lama saling mengenal.

Suasana rumah yang biasanya sunyi sore itu dipenuhi tawa. Zaki merasa diterima tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Sambutan hangat itu bukan tanpa alasan.

Sejak Yuda pergi, Alena lebih banyak mengurung diri di kamar. Ia jarang mengobrol dengan keluarganya, apalagi membawa seorang teman untuk dikenalkan.

Karena itulah, melihat Alena pulang sambil tersenyum bersama seseorang menjadi kebahagiaan kecil bagi mereka.

Kenapa rasanya begitu akrab?

Padahal kami baru saja bertemu. Seolah kami adalah dua orang yang pernah saling mengenal, lalu dipertemukan kembali oleh waktu.

Berat rasanya mengakhiri hari ini. Aku ingin mendengar tawanya sedikit lebih lama. Jika boleh meminta, izinkan aku menjaga senyum itu.

— Zaki

***

Tiga bulan berlalu tanpa terasa.

Bagi orang lain, tiga bulan mungkin hanyalah rentang waktu yang singkat. Namun bagi Alena dan Zaki, dua bulan dipenuhi begitu banyak pertemuan sederhana yang perlahan mengubah hubungan mereka.

Sepulang sekolah, Zaki hampir selalu menunggu Alena di depan gerbang. Mereka berjalan kaki menuju terminal sambil membahas pelajaran hari itu, saling mengeluh tentang tugas yang semakin menumpuk, atau sekadar bercanda tentang guru yang paling ditakuti di sekolah.

Sesekali mereka belajar bersama di perpustakaan umum. Zaki memang tidak terlalu menyukai pelajaran sekolah, tetapi ia selalu berusaha memahami penjelasan Alena. Sebaliknya, Alena dengan sabar membantu Zaki mengerjakan soal-soal yang sulit.

“Kalau begini terus, nilai matematikaku bisa naik,” canda Zaki.

“Asal jangan cuma mengandalkan aku.”

“Iya, Bu Guru.”

Alena hanya menggeleng sambil tersenyum.

Di hari lain, mereka menghabiskan sore di toko buku. Alena sibuk menyusuri rak demi rak, membaca sinopsis novel yang menarik perhatiannya. Zaki mengikutinya dari belakang tanpa mengeluh, meski sesekali ia tampak kebingungan melihat begitu banyak buku.

“Memangnya semua ini pernah kamu baca?” tanyanya.

“Belum.”

“Lalu kenapa betah berlama-lama di sini?”

“Karena melihat buku saja sudah membuatku senang.”

Zaki tertawa kecil. “Kalau aku, melihat orang yang senang membaca ternyata juga menyenangkan.”

Alena hanya memutar bola matanya, berusaha menyembunyikan senyum yang mulai muncul.

Tidak jarang mereka berhenti di warung bakso langganan dekat terminal. Semangkuk bakso hangat terasa jauh lebih nikmat ketika diiringi obrolan ringan yang tak pernah kehabisan topik.

“Kamu pedas?”

“Sedikit.”

“Sedikit itu berapa sendok?”

“Dua.”

“Itu bukan sedikit.”

Perdebatan kecil itu berakhir dengan tawa.

Suatu sore hujan turun lebih awal. Mereka memilih berteduh di bawah atap pertokoan, tempat pertama kali takdir mempertemukan keduanya. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Mereka hanya memandangi rintik hujan yang menari di atas jalan.

“Lucu ya.” ucap Zaki pelan.

“Apa?”

“Kalau waktu itu hujan tidak turun, mungkin kita tidak pernah saling mengenal.”

Alena tersenyum. “Mungkin.”

Menjelang ulang tahun Siska, Zaki bahkan rela menemani Alena berkeliling mencari hadiah. Mereka keluar masuk beberapa toko sebelum akhirnya menemukan sebuah tas kecil berwarna krem yang menurut Alena sangat cocok untuk sahabatnya.

“Yang ini saja.”

“Yakin?”

“Iya. Siska pasti suka.”

“Kalau begitu, aku ikut senang.”

“Kenapa?”

“Soalnya aku jadi tahu kalau memilih hadiah ternyata sesulit ini.”

Alena tertawa. “Baru tahu?”

“Mulai sekarang aku harus belajar. Siapa tahu nanti sering diminta menemani kamu lagi.”

Tanpa disadari, pertemuan-pertemuan sederhana itu menjadi bagian dari keseharian mereka. Tidak ada hari yang benar-benar istimewa. Namun justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah rasa nyaman tumbuh perlahan.

Mereka saling mengabari saat bangun pagi. Saling mengingatkan untuk makan ketika salah satu terlalu sibuk. Saling menyemangati sebelum ujian. Dan saling mencari ketika sehari saja tidak bertemu.

Tiga bulan memang bukan waktu yang panjang. Namun bagi mereka, tiga bulan itu cukup untuk membuat kehadiran satu sama lain terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itulah, ketika sore itu Zaki mengajak Alena ke sebuah taman, Alena tidak menaruh curiga sedikit pun.

Mereka duduk berdampingan di bangku panjang yang menghadap air mancur. Suasana sore terasa tenang. Gemericik air menjadi satu-satunya suara yang terdengar di antara keheningan mereka.

Zaki menarik napas panjang. “Alena...”

“Iya, kenapa?”

“Apa yang akan aku katakan mungkin terdengar terlalu cepat.”

Alena menoleh, menunggu kelanjutan ucapannya. “Aku menyukaimu.”

Alena terdiam beberapa detik. Lalu... ia tertawa kecil.

“Serius?”

Zaki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Memangnya wajahku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?”

“Bukan begitu.” Alena masih tersenyum. “Aku hanya heran. Kenapa kamu bisa menyukai seseorang secepat ini? Bukankah kita baru saling mengenal?”

Zaki menatap air mancur di depan mereka sebelum kembali menoleh.

“Aku juga tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul.”

Ia tersenyum tipis. “Aku hanya tahu... setiap bersamamu, aku merasa nyaman. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Rasanya tenang. Rasanya bahagia.”

Ia mengembuskan napas pelan. “Aku tidak ingin memendam perasaan ini terlalu lama. Kalau aku terlambat mengatakannya, mungkin aku hanya akan menyesal.”

Alena terdiam. Sementara itu, jantung Zaki berdetak semakin cepat.

Apa aku terlalu terburu-buru?

Apa dia akan menganggapku hanya sedang mempermainkan perasaan?

Jangan sampai pengakuan ini justru membuatnya menjauh dariku.

          — Zaki

Beberapa saat kemudian, Alena tersenyum. “Kalau begitu... mari kita coba menjalaninya.”

Zaki mengangkat wajahnya. “Benarkah?”

“Menurutku, kejujuran tentang perasaan selalu lebih baik daripada terus memendamnya sampai akhirnya berubah menjadi penyesalan.”

Pipi Zaki memerah. Senyumnya tak lagi bisa disembunyikan.

“Terima kasih, Alena.” Ia mengulurkan tangan. “Mulai hari ini... mari kita menjalani hubungan ini dengan saling menjaga.”

Alena menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum.


Sejak resmi bersama, Zaki selalu berusaha menjaga hubungan mereka. Ia mengantar dan menjemput Alena sekolah jika memiliki waktu luang. Ia juga akrab dengan Siska, Erlita, Kinar, bahkan keluarga Alena.

Yang paling membuat Alena nyaman adalah sikap Zaki yang tidak pernah mengekang. Ia memahami bahwa ada saat-saat ketika Alena ingin menyendiri atau menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya.

Zaki tidak pernah memaksakan kehendak. Hubungan mereka berjalan tenang. Hangat dan sederhana.

Namun... waktu perlahan mengubah banyak hal. Beberapa minggu setelah lulus SMA, Zaki memutuskan untuk bekerja. Ia tidak ingin terus bergantung pada orang tuanya. Cita-citanya memiliki usaha sendiri membuatnya menerima pekerjaan di luar kota sebagai langkah awal mengumpulkan pengalaman sekaligus biaya untuk mewujudkan impiannya.

Hari-harinya berubah drastis. Sejak pagi hingga malam, waktunya habis di tempat kerja. Setibanya di tempat tinggal, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk melakukan apa pun selain beristirahat. Meski begitu, ia selalu berusaha menyempatkan diri menghubungi Alena.

Percakapan yang dulu bisa berlangsung berjam-jam kini hanya tersisa beberapa menit.

“Sudah makan?”

“Sudah. Kamu?”

“Sudah.”

“Jangan lupa istirahat.”

“Iya.”

Sesederhana itu. Telepon yang dulu selalu hadir setiap malam perlahan berubah menjadi pesan singkat.

Pesan singkat berubah menjadi balasan yang semakin jarang. Bukan karena Zaki berhenti menyayangi Alena. Ia hanya sedang berlari mengejar masa depan yang sejak lama diimpikannya. Dalam pikirannya, semua pengorbanan itu kelak akan membawanya kembali dengan kehidupan yang lebih baik.

Namun tanpa disadari, kesibukan yang terus ia kejar perlahan menciptakan jarak. Ada malam-malam ketika ia baru sempat membuka ponsel setelah lewat tengah malam. Ia membaca setiap pesan dari Alena sambil tersenyum tipis. Berkali-kali ia berniat menelepon.

Besok malam aku akan menghubunginya.

Namun keesokan harinya pekerjaan kembali menyita seluruh waktunya. Kalimat itu terus berulang. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.

Tanpa mereka sadari, komunikasi yang dulu selalu mereka nantikan berubah menjadi kebiasaan saling menunggu. Bukan karena cinta mereka memudar. Melainkan karena mereka sedang berjalan di jalan yang berbeda, dengan beban yang juga berbeda.


Waktu berjalan begitu cepat. Aku pikir kami sedang melangkah ke arah yang sama. Ternyata, tanpa kusadari, kami mulai menempuh jalan yang berbeda. Kesibukan menggantikan percakapan.

Rindu berubah menjadi kebiasaan menunggu. Dan aku... kembali berdiri di tempat yang sama. Menunggu seseorang yang entah masih berjalan menuju arahku atau sudah memilih jalan lain.

— Alena


Hari-hari Alena perlahan kembali seperti semula.

Sepulang sekolah, ia lebih sering menghabiskan waktu di kos bersama Siska, Erlita, dan Kinar. Mereka belajar bersama, menonton film, saling bercanda, lalu pulang menjelang sore.     

Di hadapan sahabat-sahabatnya, Alena tampak baik-baik saja. Namun setiap malam, sebelum tidur, tangannya hampir selalu meraih ponsel.

Ia membuka ruang obrolannya dengan Zaki. Membaca ulang pesan-pesan lama. Tersenyum sesaat. Lalu mengembuskan napas pelan.

Sesekali Zaki masih menghubunginya.

“Maaf baru membalas. Hari ini pekerjaan sedang banyak. Jaga kesehatanmu.”

Alena selalu menjawab dengan tenang. “Aku mengerti. Jangan lupa makan. Hati-hati bekerja.”

Padahal ada begitu banyak cerita yang ingin ia sampaikan. Tentang sekolah. Tentang sahabat-sahabatnya. Tentang rindunya. Namun semua itu ia simpan sendiri.

Sampai suatu sore, Hany datang membawa kabar yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

“Alena...”

“Hm?”

“Zaki sudah pindah.”

Alena mengangkat wajah perlahan. “Pindah?”

“Iya. Dia sekarang bekerja di kota lain.”

Beberapa detik Alena hanya diam. Seolah pikirannya menolak memahami kalimat itu.

“Kenapa... dia tidak bilang padaku?”

Hany menundukkan kepala. “Aku juga tidak tahu.”

Malam itu Alena berkali-kali menghubungi nomor Zaki.

Panggilan pertama...tidak dijawab. Panggilan kedua... tetap sunyi.

Ia mengirim pesan. “Aku dengar kamu pindah.” Tidak ada balasan.

Beberapa jam kemudian ia kembali menulis. “Apa kamu baik-baik saja?” Tetap tidak ada jawaban.

Baru beberapa hari kemudian, sebuah pesan dari Zaki akhirnya masuk.

“Tuhan sedang menguji kita. Aku bersyukur kamu masih mau mendengar kabarku. Kita hanya sedang belajar menjadi lebih dewasa. Kamu beruntung dikelilingi orang-orang yang selalu menyayangimu. Tetaplah bahagia, ya.”

Alena membaca pesan itu berulang kali. Jemarinya gemetar saat mengetik balasan.

“Jangan terlalu banyak berpikir. Jaga kesehatanmu. Kesuksesan sedang menunggumu. Berbahagialah, dan kejarlah masa depan yang kamu impikan.”

Pesan itu terkirim. Namun tidak pernah mendapat balasan.

Sejak malam itu, nama Zaki tidak pernah lagi muncul di layar ponselnya. Hari berganti bulan. Bulan berganti musim. Dan tanpa benar-benar mereka sadari... hubungan yang pernah tumbuh dari sebuah hujan sore perlahan menghilang dalam keheningan.


Aku sudah terlalu akrab dengan rasa lelah. Seolah-olah ia menjadi teman yang selalu berjalan di sisiku. Aku merindukan seseorang. Sayangnya, ia memilih melangkah tanpa mengajakku.

Mungkin di situlah aku akhirnya mengerti. Tidak semua yang datang akan memilih bertahan. Dan tidak semua yang pergi akan kembali.

Zaki... Apa yang sebenarnya sedang kamu pikul sendirian? Apakah menjauh adalah caramu melindungiku... atau melepaskanku? Kalau memang ini akhir dari cerita kita... setidaknya biarkan aku mendengarnya darimu, bukan dari keheningan.

— Alena

***

Alena menutup buku yang sejak tadi dibacanya. Ia menyadari sejak beberapa menit lalu ada seseorang yang terus memperhatikannya.

“Apa kabar, Al?”

Alena mendongak. “Hany? Aku baik-baik saja?”

Hany menarik kursi di hadapan Alena, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan wajah lelah.

“Maaf kalau membuatmu risih. Sejak pulang sekolah aku mengikutimu sampai ke perpustakaan ini. Bayangkan, dua jam penuh kamu cuma membaca buku. Aku sampai hampir bosan menunggumu.”

Alena tersenyum. “Siapa yang menyuruhmu mengikutiku?”

“Ya... salahku juga. “Hany terkekeh kecil. “Alena, kamu memang jutek.”

“Kalau begitu, katakan saja tujuanmu. Memangnya kamu sedang jadi detektif?”

“Bukan.” Hany menggeleng pelan. “Zaki yang memintaku memastikan kalau kamu baik-baik saja.”

Nama itu membuat senyum Alena perlahan memudar. “Bagaimana kabarnya?”

“Dia baik. Hanya saja pekerjaannya benar-benar menyita waktunya.”

Hany mengembuskan napas panjang. “Aku sempat memarahinya. Kataku, perempuan mana yang tidak kecewa kalau didiamkan tanpa penjelasan? Tapi... dia hanya diam. Sulit sekali membaca isi pikirannya.”

Alena menatap meja beberapa saat. “Kalau suatu hari nanti dia pulang... tolong kabari aku.”

“Akan aku lakukan.”

Hany mengangguk pelan. “Aku juga sudah mencoba menanyakan hubungan kalian. Apa sebenarnya yang dia inginkan. Tapi dia memilih menghindari pembicaraan itu.”

Alena tersenyum hambar. “Jangan membebaninya lagi, Han.”

Ia menarik napas pelan. “Kurasa... cerita kami memang sudah selesai.”

Hany terdiam. Tangannya perlahan masuk ke dalam tas yang sejak tadi dibawanya.

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

“Ini.” Ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih yang sudutnya mulai sedikit kusut.

“Zaki menitipkannya sebelum berangkat.”

Alena menatap amplop itu cukup lama. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya terasa berat ketika menerima benda sederhana itu.

“Dia bilang... surat ini baru boleh kuberikan kalau suatu hari aku bertemu denganmu.”

Suasana mendadak hening. Hanya suara pendingin ruangan perpustakaan yang terdengar samar.

“Aku tidak tahu isi suratnya,” lanjut Hany lirih. “Tapi setelah memberikannya padaku... dia hanya tersenyum.”

Alena mengusap pelan permukaan amplop itu. Seolah sentuhan itu mampu membawanya kembali pada seseorang yang telah lama menghilang.

Perlahan ia membuka perekat amplop.  Di dalamnya hanya ada selembar kertas yang sudah terlipat rapi. Tulisan tangan itu... masih sangat ia kenal.

Tangannya mulai bergetar ketika membaca baris pertama.


Untuk Alena,

Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku.

Jangan pernah merasa bersalah atas apa pun yang terjadi di antara kita.

Aku yakin... kita sama-sama terluka.

Aku tahu kamu pasti kecewa karena aku memilih pergi tanpa banyak penjelasan.

Maaf.

Bukan karena aku berhenti menyayangimu. Aku hanya tidak ingin kamu ikut memikul beban yang menjadi tanggung jawabku.

Di sini aku berusaha terlihat baik-baik saja. Padahal setiap kali mengingatmu... aku tetap menangis. Aku masih mengingat sore itu.

Sore ketika hujan mempertemukan kita di depan pertokoan. Entah kenapa, sejak melihatmu untuk pertama kali, bayanganmu tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku.

Padahal saat itu... kita bahkan belum saling mengenal. Hari ketika aku memberanikan diri mengatakan bahwa aku menyukaimu... adalah salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupku.

Terima kasih... karena pernah memberi warna pada hidupku. Meski waktunya tidak panjang... setiap kenangan bersamamu akan selalu menjadi bagian terindah yang pernah kumiliki.

Jika suatu hari Tuhan mengizinkan... aku berharap kita bisa bertemu lagi. Dalam keadaan yang lebih baik.

Zaki

 

Terimakasih

Ini ceritaku. Dilarang mengcopy paste!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar