Jumat, 22 Februari 2013

CERPEN "ISYARAT DIA DATANG"




Saat ini aku tidak tahu kamu disana berpasangan dengan siapa. 

Aku hanya ingin mengenang. Kamu yang tidak terduga datang secepat cahaya petir. Hujan yang mempertemukan kita.

Harapan menumbuhkan kebahagiaan adalah alur hidup yang diinginkan. Seseorang datang tanpa aku minta. Namun secepat inikah aku harus kehilangan? Sesingkat aku menambatkan hati, pada orang yang memberikan harapan kosong. Aku tidak sanggup bertahan ketika waktu kembali mengingat.

Saat kehadiran seseorang perlahan membuka ruang yang telah lama tertutup, aku mulai menyadari hidupku sangat bermakna. Aku yakin kebahagiaan semakin dekat, tetapi siapa yang mengetahui jalan hidup selanjutnya. Ketika hantaman keras membuatku mundur bahkan sangat cepat. - Alena.

Apa kamu senang berada di tempat ramai? Pertanyaan ini tidak boleh tertuju pada seseorang. Dia tidak seperti remaja lain, yang sibuk berinteraksi supaya namanya dikenal, jalan atau liburan kesana kemari untuk menambah teman, dan melakukan apapun yang berhubungan dengan tren remaja saat ini supaya tidak di cap anak jadul.

Lelah yang aku alami tidak menyurutkan setiap tekad. Aku tidak menyerah melawan kesedihan yang membayangi. Demi mereka, ayah dan ibu. Sejak sekolah dasar sampai SMA sudah masuk sekolah berkualitas. Mereka bangga tetapi waktuku terkuras untuk belajar. Kamu tahu rasanya bersaing? Kamu tahu rasanya bersikap jadi oranglain? Kamu tahu rasanya berada dilingkungan asing, seakan mata mereka siap menerkammu jika kamu tidak cerdik? - Alena.

Seorang gadis termenung, tidak tahu kemana arah tatapannya, kaki terpaku di depan gerbang sekolah.

 “Alena.” tidak ada jawaban. Sehingga dia perlu mengulang untuk meyadarkan sahabatnya. Padahal sejak tadi dia berada di sampingnya. “Apa yang kamu lakukan?” Erlita mengibaskan tangan di depan wajah gadis itu.

“Lita, sejak kapan kamu disini?”

“Haruskah aku menjelaskan dengan rumus matematika atau bahasa asing yang terus kamu pelajari? Pilih mana?”

“Terserah, aku tidak ingin bercanda.” jawabnya santai.

“Ini pertanyaan dari calon guru profesional jadi aku perlu tanggapanmu. Pilih rumus mana yang cepat kamu pahami?”

“Iya Ibu guru, nanti saja kamu praktekan saat lulus menjadi sarjana! Sepertinya masih lama."

“Si super kaku. Aku kan sedang berlatih sedikit demi sedikit. Kamunya serius sekali.” Erlita menjentrikan jari pada hidung Alena. “Apa yang kamu lakukan disini?”

“Menunggumu.” Sebenarnya tidak ada yang dia tunggu. Alena hanya tidak ingin pergi ke tempat yang harus ia tuju. 

“Benarkah?” tanya Erlita penuh curiga.

“Iya, kemana Siska dan Kinar?”

“Mereka di kosan. Kita akan mengerjakan tugas bahasa Inggris dari Pak Soni. Apa kamu tidak les private?“ Alena hanya membalas dengan senyuman.

“Kalau begitu ayo pergi!“ Erlita paham akan situasi sahabatnya itu. Alena mengikuti langkah kaki Erlita menuju kosan.

 Sudah jadi rutinitas Alena, Siska dan Erlita berkumpul di kosan Kinar. Kegiatan mereka yaitu menonton film, mengerjakan tugas atau tidur di kamar Kinar. Kadang mereka melakukan kebiasaan konyol, mengoleskan bedak basah pada siapa saja sampai berlarian mencari korban. Hal itu membuat keributan dalam rumah kos, ada yang mengunci diri di kamar, dapur, bahkan toilet. Semua penghuni kos sudah terbiasa dengan kegaduhan. Saat itulah Alena tidak merasa kesepian karena mengenal mereka.

Di hari kamis, hujan turun deras. Hujan memberi jeda waktu pada langit, mendung isyarat bahwa siapapun menyadari akan kedatangannya. Namun seorang gadis mengenakan seragam sekolah lebih senang hujan mengguyurnya tiba-tiba. Baginya hujan sapaan teduh, menyembunyikan wajah letih dalam kabut, menyatukan air mata dalam rintik. 

Namun tempat ini terlalu ramai, dia akan diperhatikan sebagai orang aneh jika memaksakan diri berjalan menyusuri hujan untuk menangis.

Dia mengikuti langkah Siska melewati pertokoan menghindari sapaan langit yang akan membasahi. Langkah terburu-buru seakan tidak ingin bercengkrama dengan bising. Wajah Alena tertunduk melewati setiap orang yang berteduh di emper toko. Siska disamping tidak berani bertanya, jawaban yang sama akan dia terima. “Aku baik-baik saja.”

 “Siska?” Di luar toko elektronik, banyak orang berteduh. Salah satu dari mereka adalah Hany, teman Siska saat SMP. Dia tidak sendiri, ada lelaki yang menemani duduk bersandar di tembok toko yang sudah tutup itu. Dia sibuk memainkan ponsel. Siska tidak mengenalinya, jadi tidak memperhatikan.

Mereka bercengkrama cukup lama. Alena yang tidak mau terlibat, memilih diam. Tatapannya lurus pada jalan yang sudah dipenuhi air setinggi mata kaki.

“Kenalkan ini sahabatku, Alena.” Alena tersenyum. Setelah Siska dan Hany bertukar nomer telepon, mereka mengakhiri perbincang. Siska tahu Alena tidak suka menunggu lama bahkan tidak akan melakukan interaksi ketika hati sedang kacau.

Tiba di terminal angkot, Alena dan Siska memisahkan diri. Mereka naik mobil jurusan berbeda. Alena bersandar di kursi penumpang dengan santai, karena tidak banyak orang yang naik hari ini.

 Layar ponsel berkedip, menandakan satu pesan telah masuk. Dia mendapat pesan dari seseorang yang sudah lama tidak memberi kabar.

 Luke: Aku tidak pernah memaksamu menjadi seseorang yang aku harapkan. Jangan diam saja! Jika kamu bersikap seperti ini, semuanya menjadi lebih buruk.

Alena: Baiklah, aku mau kita putus.

 Lelah seakan milikku yang terlihat tegar. Aku sering kali menyimpan kecewa dalam mengambil keputusan. Apakah oranglain mengalami hal yang sama? Apa oranglain punya pemikiran ingin kembali ke masa lalu, memperbaiki sesuatu yang pernah terjadi? aku tidak berani menanyakan karena takut orang akan membalikan pertanyaan itu. Haruskah aku jelaskan?- Alena.

Mata coklat berubah teduh, menatap hujan yang enggan meninggalkan bumi. Tempat pemberhentian mobil yang ditumpangi Alena sejajar kearah pertokoan. Meskipun disana banyak orang tetapi matanya memperhatikan sosok yang berbincang bersama Hany. Wajahnya terhalang kabut sehingga bola mata Alena memicing untuk memperjelas.

“Dasar bodoh! Kenapa aku memperhatikan orang yang sama sekali tidak aku kenal? bodoh hentikan!” gerutunya.

 Ponsel Alena bergetar, muncul nama Siska dilayar.

“Ini hari keberuntunganmu sahabat cantikku.” terdengar lonjakan kebahagiaan di ujung telepon.

 “Apa maksudmu?”

“Aku punya kabar baik untukmu.” Siska penuh semangat ingin memberitahu kabar itu. Namun Alena segera memotong pembicaraan. “Tunggu, Aku baru saja memutuskan Luke. Lalu secepat ini aku dapat kabar baik?” Alena mencoba mencerna ucapan sahabatnya, tidak sinkron dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini.

“Serius? Alena, sudah seminggu Luke membungkam senyummu. Aku merasa bahagia mendengar kalian putus. Maaf jika terdengar jujur!” Siska berkata serius.

“Aku selalu berusaha menjadi diriku. Namun malah terlihat seperti bukan diriku yang sebenarnya. Bukankah lebih baik melepaskan Luke daripada menyakitinya lebih jauh?”

“Aku akan selalu ada untuk mendukungmu. Jangan menyesal, melangkahlah terus kedepan! Carilah jalan terbaikmu! Hari ini aku yakin membuatmu bahagia. Ayo, tidak percaya kan?” Siska yang awalnya tampak serius kembali kemode awal, iseng pada sahabatnya.

 “Bagaimana aku bisa percaya? kamu tidak mengatakan apa-apa.”

 “Aku hampir melupakan hal penting yang harus aku sampaikan.”

 “Kebiasaan.” ucap Alena meledek.

“Sudahlah, jangan bahas tentang aku! Ini kabar baik. Sepupu Hany, cowok yang bersamanya tadi meminta nomor kontakmu. Bagaimana?”

Kabar yang tidak dapat diprediksi terjadi bagai petir yang datang tidak terduga. Secepat ini? Tuhan, Engkau mampu membolak balikkan hati. Seseorang membuka telapak tangan saat aku terjatuh, haruskah aku menyambutnya.

 “Al, aku menunggu jawabanmu!” Siska kembali memastikan

“Aku baru saja putus. Tidak berminat dekat dengan oranglain secepat ini.” jawabnya cepat.

“Alena, siapa tahu kamu akan nyaman dengan memulai pertemanan. Jangan biarkan aku membahas ini lagi!” Siska terdengar memohon. Namun dua gadis itu terpaku dalam ingatan yang sangat dalam, ada kesedihan yang terpancar dari wajah keduanya.

“Baiklah, akan aku coba. Silahkan kamu berikan nomorku!” 

“Terimakasih Alena, aku akan mendukungmu!” Kabut soret memang menenggelamkan wajahnya tetapi tidak bagi Alena yang diam-diam mengamati.

Malam hari, Alena mendapat pesan dari nomer baru. Dia tidak segera membalasnya. 

“Bisakah kamu menunggu? Aku baru saja melepas Luke yang selama ini menjadi pelarian. Kejadian ini tidak boleh terulang lagi. Bersabarlah sebentar! jika kamu memaksa. Jangan salahkan aku jika aku memilih menjauh!” Alena berbicara pada ponsel yang dia sembunyikan di bawah bantal.

 Belum waktunya, aku memang sudah terbiasa seperti ini. Cewek moody, yang gampang berubah suasana hati. Kita tidak pernah tahu, sesuatu yang kita tetapkan akan berubah dalam hitungan detik. Haruskah aku mengenalnya? akankah kamu setuju? Jawablah pertanyaanku! bintang yang paling terang, munculah dalam mimpi agar aku yakin dengan keputusan melepasmu. - Alena.

 Alena memeluk boneka panda kesayangan, matanya berair. Dia terbaring, merasakan getaran di handphone. Dia mengirim beberapa pesan tetapi Alena tidak peduli.

Hati sulit di tebak dan dimengerti oleh diri sendiri apalagi oranglain. Kita tahu hidup tidak sesingkat yang terpikirkan. Kadang bahagia datang saat duka hampir mengubur kepercayaan diri. Keterpurukan bukanlah hidup yang harus disesali. Berpikirlah hidup masih panjang, dan jalan yang terlalui tidak selamanya rintangan tetapi ada tempat peristirahatan yang penuh dengan kenyamanan. Untuk menuju ke sana, laluilah jalan-jalan terang bukan gelap pembawa kecemasan!- Alena.

***

Alena tidak sempat sarapan, sehingga menyempatkan diri datang ke kantin. Namun dia tidak menyangka akan mendapat bonus yang mengenyangkan dari Luke. 

Kantin masih sepi hanya beberapa siswa berada di sana. Tidak jauh dari tempat Alena, Luke dan teman-temannya memperhatikan dia yang duduk sendiri. Sepertinya Luke bersiap untuk mempermalukan Alena.

“Gadis bermuka dua. Aku akui dia berwajah manis tetapi sikapnya menyeramkan. Senang menusuk orang dari belakang.” Luke menghentikan ucapan. Seakan sebuah skenario, temannya menimpali.

“Jadi ketahuan belangnya. Apa dia sengaja membuka topeng dihadapanmu?” Tatapan sinis Aldo jelas tertuju pada seseorang.

“Kita berusaha memberikan yang terbaik. Namun entah apa yang ada dipikirannya sehingga berbalik berperilaku jahat.”

“Kehancuran?” Jawab Aldo dan Revan serempak.

 “Jangan coba-coba menghancurkan perasaan orang lain!” ujar Luke penuh amarah.

 “Apa kamu tidak salah sangka?” Revan kembali mempertanyakan kebenarannya.

 “Tentu saja, itu nyata. Aku bersikap baik tetapi ini balasan yang aku terima. Sungguh dimana letak hati nuraninya?” jelas Luke.

“Mungkin ada alasan kenapa dia seperti itu. Pernahkah kamu tanyakan apa dia bahagia?” Revan menatap Alena iba. Dia melihat gadis itu berhenti menyentuh makanan, menahan tangis.

 “Jika dia tidak bahagia, setidaknya jangan menyakiti perasaan orang lain. Apa sulit memberi alasan?”

 “Apa yang akan kamu lakukan setelah mendengar alasannya?” Revan kembali bertanya.

 “Setidaknya aku tahu kesalahanku. Aku bisa introfeksi diri. Jangan mengacuhkan seseorang tanpa alasan! Dia harusnya paham rasanya di tinggalkan. Bagaimana jika kamu berada di posisiku, Van?”

 “Apa aku melakukan kesalahan yang tidak bisa dia maafkan? Itu yang akan aku tanyakan padanya, sebelum dia menjelaskan apa-apa.” Hati Alena tersengat.

 Apa Revan membelaku? Atau mungkin ini taktik dia supaya aku dan Luke bisa kembali. Aku tidak akan melakukannya. Oranglain pasti mengira aku yang salah tanpa tahu kebenarannya. Luke menyiksaku, dia overprotektif, pembohong, sering jalan dengan perempuan lain dan kata-katanya yang selalu menyombongkan diri membuatku muak.

 “Van, selama ini aku berusaha menjaga hubungan supaya tetap nyaman. Apa kasih sayangku selama ini tidak cukup? Apa dia tidak bisa merasakan ketulusan seseorang?”

 “Mungkin dia memiliki kekasih lain. Cewek sekarang kan kalau punya gebetan baru, yang lama pasti dibuang.” Ledek Aldo.

“Sudahlah kalau begitu tinggalkan saja! Diluar sana ada banyak perempuan kok.” ujar Revan menimpali.

 “Benar, sekarang aku tidak peduli pada cewek munafik.” Luke dan Aldo tertawa puas, Revan tersenyum sinis.

 “Berengsek.” Alena mengumpat, lalu memilih pergi.

 Dia bisa saja membungkam mulut Luke, membocorkan keburukannya di hadapan semua orang tetapi dia bukan orang yang senang mencari masalah.

Alena duduk melamun, menopang dagu. Kehidupannya terlihat damai, berbeda dengan teman-teman sekelas. Pelajaran kimia tanpa kehadiran guru, digunakan murid untuk bersantai seperti bermain hp, bersendagurau, bergosip tetapi ada juga sekumpulan orang yang tetap mengerjakan tugas.

  “Alena, kamu dan Siska menyembunyikan sesuatu dariku.” Selidik Kinar yang duduk didepan.

 “Maaf, aku tidak sengaja membocorkannya.” Siska menyembunyikan wajah pada buku.

 “Benarkan, jika tadi Siska tidak keceplosan mungkin kalian tetap merahasiakannya.”

 Posisi Alena kian terpojok ketika tatapan curiga Erlita yang duduk di sebelah Kinar mengarah padanya. “Kenapa kamu tidak jujur padaku? Kamu tidak mau berbagi cerita lagi?”

 “Memang benar kemarin aku putus dengan Luke. Kami bahkan tidak bertegursapa.” Jelas Alena tanpa basa-basi.

 “Sejujurnya, aku mendukungmu putus daripada melihatmu bersedih. Sekarang kamu terlihat lebih tenang.” Erlita menggenggam tangan Alena, menguatkan hati sahabatnya.

 “Dia salah satu cowok membosankan yang pernah aku kenal. Dia tidak cocok kalau bergabung dengan kita. Singkirkan dia dan masukkan dalam daftar hitam!” Kinar mengedipkan sebelah mata.

 “Setuju, jangan sampai cowok itu menyelinap lagi di antara kita.” Siska membenarkan ucapan Kinar. 

”Lalu bagaimana perkembanganmu dengan sepupu teman Siska? Ceritakan!” desak Kinar.

“Tentang itu. Aku belum pernah membalas pesannya.” tersenyum canggung. 

“Ya ampun Alen.. Apa yang sedang terjadi?” Siska berhenti membaca buku.

 “Tenang! aku akan membalasnya kalau moodku bagus!”

 “Alenaku sayang. Sampai kapan kamu akan bersikap cuek seperti ini?” Siska menatap Alena tajam.

 “Alena kan memang terkenal cuek. Cowok disini saja tidak berani mendekati karena itu. Apalagi dia yang baru kenal, bisa jadi dia akan menjauh karena tidak direspon.” Celetuk Kinar. Siska memukulkan buku pada bahu Kinar. Kinar mulai merasa ada yang salah dari ucapannya, hanya berani tersenyum memamerkan barisan giginya.

 “Bukan cuek tetapi lebih tepatnya menjaga sikap. Kita bahkan belum tahu si cowok itu, wajar saja jika Alena tetap waspada daripada jadi cewek gampangan.” Erlita membela.

 “Tetapi...” Erlita segera membungkam mulut Kinar yang sering keceplosan.

 Pelajaran terakhir hari ini mengerjakan soal matematika, suasana kelas berubah menjadi tegang. Berhadapan dengan guru rajin bernama Bu Eli adalah waktu yang paling membosankan. Bu Eli sering memberi tugas tidak cuma 15 soal tetapi lebih. 

 Siapapun yang mendapat jari telunjuk Bu Eli, dia harus memaksakan diri menuju papan tulis. Bagi siswa yang menjawab soal dengan benar, dia bisa duduk tenang tetapi siswa yang tidak bisa mengerjakan soal tersebut, dia akan berdiri di depan papan tulis dengan ajaran Bu Eli sampai mengerti.

 Hari ini Bu Eli meninggalkan ruangan setelah memberikan tugas kelompok. Biasanya dia mengitari setiap bangku untuk melihat hasil kerja murid tetapi keberuntungan sedang berpihak pada kelas XIA. Erlita dan Kinar sibuk membahas majalah fashion yang baru mereka beli dan Siska membaca novel pada selipan buku paket matematika. Sedangkan Alena punya kesempatan untuk membalas pesan.

 Alena menyadari kalau menunggu itu membosankan. Pesannya tidak satupun mendapat balasan. Alena menunggu dalam cemas. Tidak lama setelah menyimpan ponsel diselipan buku, layarnya menyala. Dua jam pelajaran matematika di hari Jumat ini terlewati Alena dengan perasaan senang.

 Kamu tahu rasanya membaca pesan dari orang asing? tapi mampu membuatmu bahagia. Kamu bahkan tidak mau berbagi kebahagiaan itu pada orang lain. Bukankah itu aneh? Dia, Zaki Gifansyah. Pria yang ramah, sopan, mudah akrab, dan senang bercanda. Apa yang kamu harapkan dari kedekatan ini? - Alena.

 Ketika Alena dan sahabat-sahabatnya berada di kosan, Zaki mengirim pesan ingin bertemu. Alena tidak keberatan tetapi baginya menyelesaikan tugas lebih penting. Selesai jumatan Zaki sudah menunggu di tempat pertama kali mereka bertemu. Siska, dan Kinar yang mengetahui hal itu malah terburu-buru mengerjakan tugas. Terbalik dengan Alena yang terlihat santai sekali.

“Ayo cepat selesaikan Alena!” Siska memberi semangat pada Alena.

“Iya, sedikit lagi. Memang kalian sudah selesai? tanya Alena.

“Sudah.” jawab Siska dan Kinar berbarengan.

“Setelah ini, ayo kita menemui Zaki!” Siska tahu, Alena bukan orang yang gampang diajak bertemu apalagi oleh orang yang tidak dikenal. Siska berinisiatif menemani sahabatnya itu sebelum dia berubah pikiran, tidak akan menemuinya.

“Bolehkah aku ikut? Siska, aku juga ingin melihat Zaki.” wajah Kinar memelas. 

“Kinar, rumahmu disini. Lebih baik kamu tunggu Erlita, aku yakin dia belum mengerjakan tugas!”

 “Baiklah, aku hanya perlu mendengar cerita baru. Ini berarti Alena sudah berhasil melupakan Yuda. Semoga dia baik seperti Yuda atau bahkan lebih baik. Supaya kamu bisa melupakan si pangeran Yuda. Sudah lama kamu tidak benar-benar pacaran semenjak Yuda pergi. Semoga hubunganmu kali ini bisa bertahan lama!” 

Kinar berbicara tanpa jeda, tidak menyadari sesuatu. Wajahnya tetap polos tanpa mengerti arti wajah dua sahabatnya yang kaget.

 Jleb, rasanya jantungku dihatam benda keras saat mendengar nama itu. Aku tidak melupakan dia, Yuda. Bagaimana bisa aku melupakan cinta pertamaku tetapi setiap kali mendengar nama itu, hatiku merasa sangat sedih. - Alena.

Siska dan Alena segera membereskan peralatan sekolah, meninggalkan Kinar yang kembali menulis. 

Apa yang aku rasakan? Entah kenapa aku ingin menangis, namun air mata ini telah mengering. - Alena.

 Mereka berjalan tergesa-gesa, Siska tidak tahu apa yang dipikirkan sahabatnya. Alena menatap kosong langkah kakinya.

 “Apa kamu mengingat dia lagi? Maaf aku menanyakan hal ini. Apa perkataan Kinar membuatmu bersedih?”

 “Tidak, Kinar benar. Sudah saatnya aku terbuka dengan hal baru. Meskipun aku tidak pernah melupakan Yuda. Salahnya, aku terlalu larut mengenang Yuda sampai tidak memberikan ruang di hatiku untuk oranglain. Itu membuatku menjadi jahat.”

 #Tuhan, jika aku dapat memilih. Aku ingin merasakan waktu panjang bersama Yuda. Kembali kemasa itu. Menghapus semua rintangan yang akan terjadi, supaya tidak ada waktu yang memisahkan kami tetapi aku tidak boleh egois. Tuhan, aku tahu Yuda bukan milikku. Engkau punya kuasa untuk mengambilnya kapanpun. Yuda, Engkau kenalkan padaku sebagai kenangan yang paling berharga. Aku bahagia sampai aku tidak sanggup membuangnya.

 Pertama kali masuk SMA, Yuda dikenal sebagai kakak senior berhati dingin. Alena tidak pernah melihat dia marah pada junior tetapi orang sering membicarakannya sebagai cowok tidak berperasaan, hanya bisa melukai hati perempuan. Wajahnya tampan, lebih tampan dari ketua basket sekolah yang seharusnya menjadi incaran.

 Yuda menolak wanita yang mendekati dengan sikap cuek. Karena itulah, dia mendapat julukan “si hati dingin”. 

Namun tidak ada yang tahu, dia sering mengirim pesan dan menelepon seseorang dengan romantis.

Berawal dari Alena mengalami kejadian yang tidak terduga. Dia dan Kinar berjalan terburu-buru ke sanggar tari setelah mendapat pesan dari Kak Wilda bahwa mereka berdua datang terlambat. Tidak biasanya sanggar sudah dipadati orang sebelum jam latihan dimulai. Kak Wilda menarik tangan Alena.

 “Kamu tahu datang terlambat?” sepertinya kemarahan Kak Wilda hanya tertuju pada Alena karena Kinar langsung disuruh latihan bersama yang lain.

 “Iya Kak, maaf.”

 “Maaf? Apa akan selesai begitu saja setelah mengucapkan maaf. Kamu pikir latihan tari ini cuma permainan?” semua mata tertuju pada Alena.

“Aku tidak pernah menganggap latihan ini pemainan. Ini hobiku dan sejak kecil aku berusaha keras supaya bisa menari dengan baik. Jika hati tidak serius di bidang ini, dari awal aku tidak akan ikut bergabung. Percuma saja memaksakan diri, tidak akan ada manfaatnya.” ucap Alena membela diri.

 “Aku tahu kamu anak pintar tetapi dengarkan saja jika seniormu sedang berbicara! Tidak tahu sopan santun. Bersikaplah seperti junior pada senior! Jangan besar kepala dan berani melawanku hanya karena keakraban kita di luar sekolah!”

 “Baik Kak, aku mengerti.”

 “Sekarang setelah memperhatikan teman-temanmu menari, kamu ulangi gerakan mereka! Tunjukkan pada senior disini!”

 Alena berdiri ditengah ruangan, menunjukankan tariannya pada senior dan teman-temannya. Para senior diposisi kiri dan kanan, membuat barisan. Kemudian membuat lingkaran, lalu membuka formasi. Seseorang datang menghampiri.

“Alena, maaf atas ketidaknyamanan yang telah Kak Wilda lakukan. Semua kejadiaan ini hanya rekaan. Tidak ada yang menyalahkanmu. Aku sengaja meminta bantuan Wilda untuk berpura-pura memarahimu.” ucapnya sambil memberikan kue ulangtahun dan buket bunga.

Apa yang dia lakukan membuat kakiku hampir saja tidak mampu menopang badan, gemetar. Apa aku bermimpi? Tuhan, pria yang aku sukai, sekarang berada di hadapannku. Dia yang selalu membuat aku bahagia dengan kata-kata di sms atau telepon, sekarang berbicara langsung padaku. Aku bahkan menutup telinga jika mendengar namanya disebut sebagai si berhati dingin karena dia tidak pernah melukai hatiku.

 “Aku bukan jaka tarub yang mencuri selendang karena menginginkan bidadari. Aku adalah Yuda yang berusaha mencuri hatimu, meminta Tuhan merestui hubungan kita. Semoga Tuhan menakdirkan kita selalu bersama.” seisi ruangan bersorak, Alena hanya mengangguk seakan membalas jawaban Yuda, sehingga dia bersorak bahagia memeluk teman-temannya.

Semenjak itu Alena selalu bersama yuda. Sahabat-sahabat Alena mengetahui kisah romantis mereka berdua. Yuda jadi yang terbaik, menjaga komunikasi dan sebisa mungkin menghindari pertengkaran.

 Alena menyukai Yuda sejak pertama kali dia mendapat hukuman mengelilingi lapangan basket karena terlambat datang ke sekolah. Yuda mengobati luka di kaki Alena saat terjatuh.

 “Aku tidak yakin kamu benar-benar kuat berjalan sendiri. Apa kamu mau aku antar sampai depan kelas?” Yuda mengikuti Alena yang jalannya pincang akibat terkilir.

 “Kamu pikir aku semanja itu? Tidak perlu khawatir dan jangan membuang tenagamu!”

 “Tidak juga. Aku tidak keberatan membantumu. Bukankah lebih baik menolong daripada bersikap tidak acuh.”

 “Ya aku tahu tetapi aku bisa jalan sendiri.” Tiba-tiba Alena meringis, spontan Yuda mengalungkan tangan Alena kelehernya.

 “Jika kamu mau, aku akan menggendongmu.” tawarnya lagi.

 “Aku bukan anak kecil. Cobaan berat saja bisa aku lewati, tidak mungkin luka kecil seperti ini saja membuatku manja.”

 “Ucapanmu ada benarnya tetapi hidup itu tetap membutuhkan membantu. Kamu terlihat baik-baik saja karena tidak mau oranglain khawatir. Rasanya kita punya sikap yang sama. Hatiku jadi berdebar ketika berdekatan dengan wanita yang punya semangat tinggi, percaya diri, jutek dan wajahnya tidak membosankan. Apa kamu termasuk kedalam kriteria itu?”

 “Aku tidak peduli! Aku tidak termasuk kriteriamu. Jadi jangan mencari perhatian! kamu bisa membawaku kedalam masalah. Apa kamu tidak takut kita digosipkan?”

 “Rasanya akan menyenangkan jika kita benar-benar digosipkan.” Yuda tertawa geli. Itulah pertama kalinya, pria dengan julukan berhati dingin berhasil meluluhkan hati Alena karena pria itu terlihat tulus saat tertawa.

Yuda sangat dewasa, penyayang, tidak egois, perhatiaan membuat Alena nyaman tetapi siapa yang tahu, dibalik zona nyaman itu ada rahasia yang selama ini tersembunyi.

 Alena sering berkunjung ke rumah Yuda, meskipun Yuda tidak ada. Dia sangat akrab dengan Ibu Yuda. Sehingga Ibu Yuda merasa tidak perlu ada rahasia yang disembunyikan. Yuda sakit parah tetapi dia tidak pernah sedikitpun mengeluh dihadapannya.

 “Yud, jika Ibumu tidak cerita, sampai kapan kamu akan merahasiakannya? Apa selama ini kamu belum yakin atau berpikir aku akan meninggalkanmu?” isak tangis tidak bisa dibendung.

 “Justru aku takut kalau aku yang akan meninggalkanmu.”

 “Jangan katakan itu! Aku mohon! Kita akan selalu bersama. Mulai sekarang berbagilah keluh kesah padaku jangan disimpan sendiri!”

 “Alen, berpikirlah dewasa! ada hal yang tidak perlu aku bagi, kesedihan, amarah, rasa sakit dan kebencian. Aku membuang rasa itu untuk melihatmu bahagia. Aku tidak ingin mengecewakanmu.”

 “Saat ini keadaaanmu yang paling penting, Yud. Jangan pernah merahasiakan apa-apa dariku!” Alena memeluk erat Yuda. Dia mengusap lambut Alena pelan.

 “Berhentilah menangis! Tetaplah melangkah bersama sampai aku pergi, setelah itu lanjutkan kebahagiananmu!” Alena semakin menangis.

Setiap pulang sekolah, Alena menyempatkan diri menemani Yuda berobat dan mengajak jalan-jalan di sekitar komplek. Dia takut jika meninggalkan Yuda terlalu lama. Alena berusaha menemaninya melewati masa-masa sulit, berharap yang terbaik.

Namun kebahagiaan tidak bertahan lama. Tuhan mengambil Yuda tepat di anniversary kedua. Padahal Alena sudah merencanakan liburan semester bersama.#

 “Tidak akan ada kebahagiaan jika kamu meratapi kesedihan. Bangkitlah dan melangkah kedepan! Aku selalu bangga padamu. Meskipun aku tidak melihatmu atau berada disampingmu lagi tetapi aku tahu kamu tidak akan menyerah." Kata-kata yang aku ingat dari kekasihku. Yuda menginginkanku bahagia.

 “Sis, waktu? Aku tidak mau mengalaminya lagi. Semakin lama aku berpikir tentang Yuda, waktuku dengan yang lain akan semakin singkat. Aku akan berlari jika aku gagal mengambil kesempatan untuk memperbaiki kesalahan lagi. Aku sudah banyak mengecewakan orang-orang yang berharap padaku. Siska tidak mengatakan apa-apa. Alena bahkan tidak sadar sudut mata Siska berair. 

Dari kejauhan terlihat Zaki duduk di pertokoan, tempat pertama kali mereka tidak sengaja bertemu. Tempat dia berteduh, duduk tertunduk dan diam-diam memperhatikan Alena yang berjalan melewatinya. Ketika suara petir bergemuruh berpacu bersamaan detak jantungnya, berusaha menyibak kabut yang menutupi pandangan pada Alena.

 Tuhan, kuatkan aku menemuinya! Biarkan langkah ini tidak tersendat! Jangan biarkan aku berbalik menjauh, tetaplah tuntun aku lebih dekat! Tanganku gemetar, rasanya keringat dingin bercucuran tetapi dia berdiri dengan wajah tenang. Dia yang mengganggu pikiran. Kini dia datang menemuiku. Sedekat ini? Wajah lucu, putih bersih melebihiku. Senyumnya ramah, dapat meluluhkan hati siapa saja. Sekarang aku bisa menatapnya sedekat ini. Saat ini aku bersama seseorang, berharap Tuhan memberi waktu yang terbaik untuk kami.- Zaki.

 Diluar dugaan, mereka akrab dan tidak terlihat canggung seperti sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau. Tidak ada yang bisa disembunyikan, tatapan saling mengagumi Zaki dan Alena.

  “Kalian baru kenal kenapa bisa seakrab ini? aku beranggapan kalian pacaran, apalagi orang lain.” Siska hanya menghela nafas. Namun dia sangat bahagia, melihat Alena tertawa lepas.

 Tiga puluh menit mereka berbincang, Siska pamit pulang. Zaki menawarkan diri mengantar Alena.

 Sepanjang perjalanan, hati mereka tidak dapat menutupi kebahagiaan. Dirumah Alena, Zaki seperti tamu istimewa. Ibu dan Akila, adik Alena juga antusias berbincang bersama Zaki. Sehingga Zaki merasa nyaman. Bukan tanpa alasan keluarga Alena memberikan sambutan yang baik. Semenjak Yuda pergi Alena jarang mengobrol dan tidak pernah mengajak seseorang untuk dikenalkan.  

 Kenapa bisa mereka seakrab ini? Kami seperti keluarga lama, rindu menyapa. Berat rasanya meninggalkan moment ini. Tawanya itu, Tuhan biarkan aku melihatnya lebih lama!- Zaki

***

 Sepulang sekolah Zaki mengajak Alena ke taman. Mereka duduk pada kursi panjang di pinggir air mancur. Zaki memulai pembicaraan pada pokok yang tidak terduga.

 “Alena, ini terkesan buru-buru tetapi aku sudah tidak bisa menyimpan perasaan ini. Aku menyukaimu.”

 “Serius?” Alena tertawa.

 “Apa wajahku terlihat seperti orang bercanda?” Zaki bingung.

 “Tidak, hanya aku heran. Kenapa kamu secepat ini mengatakan suka? padahal kita baru kenal.”

 “Aku merasa nyaman, bahagia dan tenang jika berada di dekatmu. Aku berharap kamu mempunyai perasaan yang sama. Apa ini bukan waktu yang tepat? Maaf.”

 Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa aku terlalu berani? Apa wajahku seperti orang yang mempermainkan perasaan. Jangan biarkan dia membenciku karena ini! Apa dia tidak menyukaiku? - Zaki

 “Mari kita coba jalani. Jujur tentang perasaan itu lebih baik. Daripada kamu menyembunyikannya, sampai berakhir pada penyesalan..” ucap Alena membuat pipi Zaki merah merona 

 “Terimakasih Alena. Mari memulai suatu hubungan dengan baik.”

Semenjak jadian, Zaki menjaga komunikasi, mengantar jemput Alena ke sekolah dan jalan-jalan bersama sahabat-sahabat Alena. Mereka akrab dengan baik. Zaki memberikan cukup ruang untuk Alena karena dia tahu ada waktu dimana Alena hanya ingin bersama sahabat-sahabatnya. Zaki tidak pernah egois apalagi dia sendiri sedang memulai kesibukannya setelah lulus SMA.

 Waktu terasa cepat ketika kami lalui bersama tetapi kisahku seperti berputar. Aku mulai kehilangan tujuanku bersamanya. Dia mengganti waktu menghubungiku dengan sibuk pada pekerjaan. - Alena

 Alena melewati hari tanpa Zaki, bermain di kosan sampai sore, belajar, dan tidur lebih cepat. Zaki sesekali menghubungi Alena, berharap gadis itu mengerti kesibukannya.

 Hingga waktu itu tiba, Hany mengabari Alena kalau Zaki sudah pindah, dia bekerja di luar kota. Alena merasa kecewa, Zaki tidak berpamitan. Ketika Alena menghubungi, tidak di respon.

Zaki, secepat inikah kamu berubah? Meninggalkan garis waktu yang kita punya. Apa ini tujuannya? Bersinggah lalu pergi tanpa penjelasan sedikit saja. Kenapa kamu seperti ini? Ini lebih menyakitkan, Yuda meninggalkanku dengan pesan tetapi kamu diam tanpa mengucapkan kata perpisahan.

Kamu mengacuhkanku seperti ini. Kesibukan telah menyingkirkanku. Apa aku harus bersabar? menunggumu kembali. Tanpa tahu apa yang kamu lakukan diluar sana. Aku tidak yakin, semua akan lebih menyakitkan. - Alena.

Tuhan, sedang mengujiku. Aku bersyukur dan berusaha tegar. Pasti ada pelajaran penting yang bisa aku ambil dari masalah ini. Aku ingin kita sama-sama bersikap dewasa. Kamu sangat beruntung Al. Orangtuamu mendukung kamu untuk sekolah. Mereka pasti akan berusaha menyekolahkanmu sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Selanjutnya tinggal usahamu. Apa kamu akan tergantung pada mereka? atau kerja keras mereka untuk membiayaimu akan terganti dengan kesuksesan.” pesan terakhir Zaki.

Bulan terus berlanjut, Zaki semakin menjauh. Mereka sudah jarang komunikasi. Alena mengirim pesan singkat terakhir, tanpa balasan.

Pesan dari Alena: Jangan banyak pikiran! Jaga kesehatan! Kesuksesan ada ditanganmu. Berbahagialah! Kejarlah masa depanmu!” Alena kembali ke aktifitas semula, tanpa harapan mendapat kabar dari Zaki.

Aku bersahabat dengan lelah, mungkin dia pacar setia. Lelah temani aku! Aku merindukan seseorang tetapi dia tidak pernah memberi kabar. Itulah yang meyakinkanku kalau tidak ada rasa sayang dan perjuanganku sudah selesai.

Zaki, apa yang membebanimu? pernahkah kita menjanjikan untuk selalu bersama? Apakah kita mengakhiri hubungan ini? Semua menggantung. Akankah kamu kembali? Apakah tujuanmu menjauh karena ingin melepaskanku? Katakan sesuatu! - Alena.

 ***

Alena menutup buku yang sejak tadi dibaca karena dia sadar seseorang mengawasinya. Dia datang menghampiri.

“Apa kabar Al?” ucapnya canggung.

“Baik.”

“Maaf membuatmu risih. Sejak pulang sekolah aku mengikutimu sampai ke perpustakaan umum, menunggumu yang dua jam lamanya membaca buku. Ini sungguh melelahkan.” Hany merebahkan tubuhnya di meja.

 “Salah siapa mengikutiku?” Alena masih terlihat santai.

 “Alena, kamu jutek sekali.” Hany memamerkan barisan giginya.

 “Ada apa mengikutiku? memangnya kamu detektif.” Alena tersenyum tipis.

 “Zaki ingin aku memastikan kalau kamu dalam keadaan baik.”

 “Apa dia baik-baik saja?”

 “Baik. Meskipun sibuk dengan pekerjaan tetapi ada moment dia menanyakan kabarmu. Aku bilang padanya, seorang perempuan pasti kecewa jika ada pria yang mendiamkan tanpa sebab tetapi tidak ada tanggapan. Dia memang sulit dimengerti.” jelas Hany.

“Jika dia pulang, tolong kabari aku!”

“Baiklah, aku tahu kalian dalam masa yang sulit. Aku juga tidak berani menanyakan kejelasan hubungan kalian karena dia tidak ingin membahasnya.”

“Jangan membebaninya! Kita benar-benar sudah berakhir.”

“Sayang sekali. Dia menitipkan surat ini.” Hany memberikan aku secarik amplop.

 

Terima kasih sudah hadir dalam kisahku. Tidak perlu merasa bersalah, kita merasakan luka yang sama. Kebahagian yang kamu berikan lebih berarti dibanding mengingat rasa kecewa. Aku berusaha tegar, meskipun tangisan itu selalu ada bila terlintas bayanganmu diingatan. Setiap hari aku melewati pertokoan itu, melihat kamu menunggu, tersenyum menyambut kedatanganku tetapi itu hanya bayangan.

 

Cintaku berawal dari hujan sore itu, tidak ada yang menduga. Hujan mengisyaratkan kita bertemu. Lubuk hati menyimpan namamu. Kamu yang jauh disana, belum tentu memikirkanku. Aku tidak bisa berharap lebih. Pertama kali mendengar pengakuanmu menyukaiku, hari itu menjadi hari bahagia. Maaf membuatmu kecewa. Terima kasih telah mewarnai hidupku, meski singkat. Aku berharap kita bertemu lagi.

 

Terimakasih

Ini ceritaku. Dilarang mengcopy!!

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar