Senin, 09 Agustus 2021

DI HADAPAN ALLAH, LUKA ITU KUSERAHKAN

 

Rumah tangga tidak selalu runtuh karena cinta telah hilang. Terkadang, cinta masih tinggal. Namun, kejujuran telah lebih dulu pergi. 

Yang tersisa hanyalah dua orang yang harus memutuskan: menyerah pada luka, atau perlahan menyusun kembali kepercayaan yang pernah runtuh.

Ini bukan kisah tentang seorang perempuan yang kalah oleh perempuan lain. Ini adalah kisah tentang seseorang yang belajar bahwa memaafkan tidak berarti menghapus kesalahan atau membebaskan seseorang dari konsekuensinya.

Sebab setiap perbuatan memiliki pertanggungjawaban sendiri. Dan setiap luka, pada waktunya, akan menemukan jalan menuju kesembuhan. Selama hati masih bersedia kembali, berserah, dan pulang kepada Tuhan.

***

Festival Seni Sastra Selaras akhirnya usai. Selama tiga hari, Gedung Selaras dipenuhi para penulis, seniman, musisi, dan pencinta sastra dari berbagai kota.

Kini suasana itu surut. Stand-stand pameran dibongkar satu per satu, spanduk diturunkan, dan suara langkah para panitia perlahan menghilang dari lorong-lorong gedung. Di Komunitas Pena Ajaib, beberapa meja masih dipenuhi naskah yang menunggu giliran dibaca.

Sebagai editor sekaligus salah satu pengurus komunitas, Jihan menjalani hari-harinya di antara naskah. Pagi dihabiskannya di penerbit independen; menjelang sore, ia berpindah ke sekretariat Pena Ajaib.

Menjelang sore, ia melanjutkan aktivitas di sekretariat Pena Ajaib, tempat para penulis muda berkumpul untuk berdiskusi, saling mengkritik karya, dan belajar bersama.

Di atas meja kerjanya bertumpuk berbagai naskah yang menunggu untuk dibaca. Cerpen. Puisi. Novel. Esai.

Setiap naskah harus dibaca dengan teliti sebelum sampai kepada pembaca. Di meja Jihan, cerita-cerita itu datang silih berganti. Ia menemukan kesedihan, kemarahan, dan harapan di antara kalimat-kalimat yang ditulis orang lain. Mungkin itu sebabnya ia lebih mudah memahami seseorang melalui tulisan daripada percakapan.

“Jihan.” Suara Diva membuyarkan lamunannya. “Kamu tidak bosan dari tadi baca naskah terus?”

Jihan mengangkat wajah. “Kalau aku bosan, siapa yang mau mengoreksi tulisan mereka?”

Diva mengembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil di sudut ruangan. “Aku salut sama kamu.”

Jihan tersenyum. “Kenapa?”

“Soalnya kamu masih bisa nulis cerita cinta.” Diva tersenyum usil. “Padahal hidupmu sendiri isinya patah hati.”

Jihan tersenyum kecil. “Ternyata kamu baca semua ceritaku.”

“Jelas.” Diva menopang dagunya. “Dan aku sadar satu hal.”

“Apa?”

“Hampir semua tokoh perempuanmu selalu ditinggalkan.”

Senyum di wajah Jihan perlahan memudar. Ia tidak segera menjawab. Diva tidak sepenuhnya salah. Sebagian besar tokoh yang lahir dalam cerita-ceritanya memang merupakan serpihan pengalaman yang selama ini ia simpan rapat.

Mungkin nama mereka berbeda. Mungkin jalan hidup mereka tidak sepenuhnya sama. Namun rasa kehilangan, penantian, dan harapan yang tertulis di setiap halaman selalu berasal dari tempat yang sama.

Dari hati Jihan sendiri.

***

Bryan bukan lelaki pertama yang hadir dalam kehidupan Jihan. Sebelumnya, ada hubungan yang kandas karena jarak, ada yang berakhir karena seseorang memilih perempuan lain, dan ada pula yang berhenti tanpa penjelasan. Lama-lama, Jihan belajar tidak menanyakan alasan kepada orang yang sudah memilih pergi.

Setiap kali Jihan mulai percaya kepada seseorang, selalu ada keadaan yang membuat hubungan itu berakhir. Lambat laun, ia mulai terbiasa dengan perpisahan.

Lalu Bryan datang. Ia bukan lelaki yang pandai merangkai janji. Ia hanya hadir—menemani hari-hari yang biasa, mendengarkan ketika Jihan ingin bercerita, dan tidak banyak bertanya ketika Jihan memilih diam.

Ia menemani Jihan melewati hari-hari yang sederhana. Mendengarkan setiap keluh kesahnya. Mendukung mimpi-mimpinya. Dan tanpa disadari, perlahan mengembalikan kepercayaan yang sempat hilang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jihan mulai percaya. Mungkin kali ini ia tidak akan ditinggalkan.

Namun takdir kembali memiliki rencana yang berbeda. Suatu sore, Bryan datang ke rumah Jihan. Mereka duduk berdampingan di teras, di atas dua bangku besi bercat putih yang selama ini menjadi saksi begitu banyak percakapan. Bryan menundukkan kepala cukup lama. Seolah mencari keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang telah lama ia simpan.

“Aku harus pindah ke Cilacap.”

Jihan menoleh. “Kenapa?”

“Ayah sudah tidak sanggup mengurus usaha sendirian.”

Jihan terdiam. Begitu banyak kalimat ingin keluar dari bibirnya. Meminta Bryan bertahan. Meyakinkannya bahwa mereka masih bisa mencari jalan lain. Namun ia sadar, tidak semua orang memiliki pilihan.

Bryan menatap Jihan dengan sorot mata penuh penyesalan. “Aku datang buat pamit.”

Jihan menunduk. Jemarinya berhenti memainkan ujung lengan bajunya. Bryan menarik napas sebelum melanjutkan.

“Dan. kurasa kita sebaiknya mengakhiri hubungan ini.”

Jihan menundukkan kepala. Tak ada pertengkaran. Tak ada orang ketiga. Tak ada kebencian. Yang ada hanyalah keadaan yang memaksa dua orang saling melepaskan.

“Maaf.” Hanya satu kata itu yang mampu diucapkan Bryan.

Jihan tidak berusaha menahannya. Ia hanya memandangi langkah Bryan yang semakin menjauh hingga menghilang di ujung jalan.

Sore itu langit berubah jingga. Bryan berjalan menuju ujung jalan tanpa sekali pun menoleh. Jihan tetap berdiri di teras sampai sosoknya hilang di balik tikungan. Baru setelah itu ia masuk ke rumah dan menutup pintu perlahan.

Sejak hari itu, bangku besi di teras rumah terasa berbeda. Jihan masih duduk di sana sesekali, tetapi tidak pernah lagi menunggu langkah Bryan muncul dari ujung jalan.

***

Waktu berjalan. Nama Bryan semakin jarang muncul dalam percakapan, lalu perlahan berhenti muncul sama sekali. Jihan mengisi hari-harinya dengan naskah, rapat komunitas, dan halaman-halaman yang belum selesai ditulis. Tidak semua kehilangan harus dikejar jawabannya.

Kesibukan itu perlahan mengajarkannya bahwa tidak setiap kehilangan harus disesali. Ada perpisahan yang, meski menyakitkan, justru mengantar seseorang menemukan jalan hidup yang baru.

Suatu sore, setelah menyelesaikan penyuntingan naskah terakhir, Jihan menutup laptopnya sambil meregangkan tubuh. Ia meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping meja.

Dua notifikasi dari media sosial memenuhi layar. Pengirimnya adalah seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Jihan sempat ragu. Ia bukan tipe orang yang mudah membuka percakapan dengan orang asing. Namun entah mengapa, sore itu jemarinya memilih menekan tombol buka.

Ia belum tahu. Balasan sederhana yang dikirim hari itu akan menjadi awal dari kisah yang mengubah seluruh jalan hidupnya. Nama pengirim pesan itu hanya satu. Firza.

πŸ—¨ Suka naik gunung?

Jihan mengernyit kecil. Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana, tetapi cukup membuat rasa penasarannya terusik.

Ia membuka profil Firza. Berandanya dipenuhi foto-foto pegunungan. Hamparan awan putih yang menggantung di atas puncak. Langit jingga menjelang matahari terbit. Tenda yang berdiri di tengah padang rumput. Sesekali tampak secangkir kopi di atas batu dengan latar lembah yang diselimuti kabut.

Jihan tersenyum tipis. Rupanya Firza menyadari bahwa beberapa kali ia memberi tanda suka pada unggahan-unggahannya.

Setelah berpikir beberapa saat, Jihan mulai mengetik.

πŸ—¨ Aku suka. Meski belum pernah mendaki gunung.

Balasan datang kurang dari semenit.

πŸ—¨ Berarti kita punya hobi yang sama.

Jihan terkekeh pelan.

πŸ—¨Sepertinya tidak juga. Aku lebih suka menikmati fotonya daripada benar-benar mendaki.

Tak lama kemudian muncul emoji tertawa.

πŸ—¨Kalau begitu, suatu hari nanti aku yang akan menunjukkan pemandangannya secara langsung.

Jihan hanya menggeleng sambil tersenyum. Kalimat itu terdengar seperti candaan. Namun entah mengapa, percakapan dengan lelaki asing itu terasa begitu ringan. Tidak ada rayuan, tidak ada kata-kata berlebihan. Hanya percakapan sederhana yang membuat sore terasa lebih singkat.

Mereka hanya berbicara tentang hal-hal sederhana. Tentang gunung-gunung yang ingin dikunjungi. Tentang kamera yang mampu mengabadikan matahari terbit. Tentang kopi yang lebih nikmat diminum di udara dingin. Dan tentang perjalanan yang, menurut Firza, selalu menyimpan cerita di setiap langkahnya.


Hari-hari berikutnya, nama Firza semakin sering muncul di layar ponsel Jihan. Hampir setiap pagi, lelaki itu mengirim ucapan selamat pagi. Menjelang sore, ia membagikan foto langit yang sedang berubah warna. Sesekali ia mengirim foto secangkir kopi hangat sambil bertanya,

Hari ini lagi menyunting naskah atau menulis cerita baru?

Jihan memang tidak pandai memulai percakapan. Ia lebih sering menjadi pendengar daripada pembicara. Namun anehnya, setiap kali Firza menghubunginya, selalu ada saja hal yang membuat obrolan mereka bertahan hingga larut malam.

Perbedaan itu justru membuat percakapan mereka mengalir. Firza mudah bercerita; Jihan lebih suka mendengarkan. Ketika Firza berhenti untuk mencari topik baru, Jihan biasanya sudah menemukan satu pertanyaan kecil yang membuat percakapan berlanjut.

Ia lebih banyak mendengarkan. Namun ketika berbicara, selalu ada ketulusan yang membuat Firza merasa nyaman. Tanpa mereka sadari, percakapan yang semula hanya berawal dari sebuah foto gunung perlahan berubah menjadi kebiasaan yang selalu mereka nantikan setiap hari.

***

Hampir dua minggu setelah saling berkirim pesan, sebuah panggilan video tiba-tiba muncul di layar ponsel Jihan.

Firza menelepon.

Jihan memandangi layar itu beberapa saat. Ragu. Mereka bahkan belum pernah bertemu. Haruskah ia mengangkat panggilan dari seseorang yang baru dikenalnya lewat media sosial?

Belum sempat mengambil keputusan, panggilan itu terputus. Beberapa detik kemudian muncul sebuah pesan.

Maaf, kepencet.

Jihan tersenyum kecil. Namun tak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Nama yang sama kembali muncul. Kali ini disertai pesan lain.

Kalau keberatan, enggak usah diangkat. Aku cuma penasaran seperti apa wajah dan suara penulis yang ceritanya sering bikin orang ikut hanyut.

Entah mengapa, kalimat itu membuat Jihan merasa tenang. Perlahan ia menekan tombol terima.

“Halo.” Suara Firza terdengar pelan. Sama gugupnya.

“Halo.”

Beberapa detik pertama dipenuhi keheningan. Lalu Firza tertawa kecil.

“Ternyata kamu persis seperti yang kubayangkan.”

“Memangnya seperti apa?”

“Tenang.” Firza tersenyum.  “tapi kelihatannya menyimpan banyak cerita.”

Jihan ikut tersenyum. Malam itu mereka berbicara hampir satu jam. Tentang pekerjaan. Tentang buku-buku yang sedang dibaca. Tentang gunung yang ingin didaki. Tentang mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan.

Tanpa disadari, panggilan sederhana itu menjadi awal kedekatan yang perlahan mengubah hidup mereka.

***

Hampir tiga bulan berlalu sejak percakapan pertama. Pesan-pesan yang semula hanya membahas gunung, fotografi, dan perjalanan kini berubah menjadi cerita tentang keseharian.

Firza hampir selalu menghubungi Jihan sepulang kerja. Sementara Jihan biasanya membalas setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai editor dan aktivitas di Komunitas Pena Ajaib.

Mereka mulai terbiasa saling mengirim foto. Firza mengirim pemandangan kota yang ia lewati. Jihan membalas dengan foto tumpukan naskah di atas meja kerjanya. Meski belum pernah bertemu secara langsung, keduanya merasa seolah telah saling mengenal sejak lama.

Suatu malam, saat mereka kembali melakukan panggilan video, Firza berkata pelan, “Aku ingin ke Bandung.”

Jihan mengangkat wajah. “Untuk mendaki?”

Firza menggeleng sambil tersenyum. “Bukan.”

“Lalu?”

“Aku ingin bertemu kamu.”

Jihan terdiam. “Serius?”

“Iya.” Firza mengangguk mantap. “Kalau kita memang ingin saling mengenal lebih jauh, rasanya tidak cukup cuma lewat layar ponsel.”

Jihan terdiam cukup lama. Jarinya berhenti di atas layar ponsel. Ia membaca kalimat itu sekali lagi sebelum tersenyum sendiri.

Firza tersenyum hangat. “Aku ingin memastikan kalau perempuan yang selama ini menemaniku bercerita benar-benar ada.”

 

Seminggu kemudian. Firza benar-benar datang ke Bandung. Karena sedang libur, Jihan menunggunya di sebuah halte yang tak jauh dari rumah.

Sejak tadi ia berkali-kali melirik jam tangan. Sesekali ia merapikan rambutnya sendiri. Gugup. Penasaran. Dan sedikit takut jika kenyataan tak seindah bayangannya.

Tak lama kemudian, sebuah bus berhenti di depan halte. Seorang lelaki bertubuh tinggi turun sambil membawa ransel merah di punggungnya. Ia mengenakan jaket biru tua dan celana jins sederhana.

Tatapannya langsung menemukan sosok Jihan. Senyumnya mengembang. “Jihan?”

Jihan berdiri perlahan. “Firza?”

Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang. Lalu Firza mengulurkan tangan.

“Akhirnya kita benar-benar bertemu.”

Jihan menyambut tangannya. Anehnya, ia tidak lagi memikirkan bagaimana seharusnya bersikap. Beberapa menit kemudian mereka sudah berjalan sambil membicarakan perjalanan Firza, seolah percakapan di layar ponsel tadi belum pernah berhenti.


Setelah berbincang sebentar, mereka menuju rumah Jihan. Ayah dan Ibu Jihan menyambut Firza dengan hangat. Firza menyerahkan buah tangan khas daerah asalnya sebagai tanda hormat.

“Silakan masuk, Nak,” ujar Ayah Jihan sambil mempersilahkannya duduk.

“Terima kasih, Pak.”

Suasana ruang tamu perlahan mencair. Firza banyak menceritakan dirinya. Sebaliknya, ia juga lebih sering mendengarkan. Jika ditanya, ia menjawab dengan tenang, sopan, dan penuh rasa hormat.

“Jauh-jauh datang ke Bandung pasti capek,” kata Ayah Jihan. “Istirahat dulu saja.”

Firza tersenyum. “Terima kasih, Pak.” Ia menoleh sekilas kepada Jihan sebelum kembali berkata, “Saya sudah diizinkan untuk menginap semalam di sini. Saya ingin bersilaturahmi sekaligus mengenal Bapak dan Ibu lebih dekat, kalau memang tidak merepotkan.”

Ayah dan Ibu Jihan saling berpandangan. Kemudian tersenyum.

“Tidak merepotkan sama sekali. Anggap saja rumah sendiri.”

“Terima kasih banyak, Bu.”

Malam itu, piring-piring bergeser dari satu tangan ke tangan lain. Ayah Jihan beberapa kali bertanya tentang perjalanan Firza, sementara Ibu Jihan menambahkan lauk ke piring tamunya. Ketika makan malam selesai, tidak ada lagi jarak yang terasa di antara mereka.


Setelah suasana rumah mulai tenang, Firza mengajak Jihan duduk di teras. Angin malam berembus pelan.

“Ternyata kamu lebih pendiam dibanding waktu video call.”

Jihan tersenyum. “Dan kamu ternyata memang lebih banyak bicara.”

Firza tertawa. “Syukurlah. Berarti aku tidak mengecewakan.”

Firza selalu menemukan sesuatu untuk dibicarakan. Jihan lebih banyak mendengarkan, sesekali tertawa ketika cerita lelaki itu mulai melebar ke mana-mana. Malam semakin larut. Tidak satu pun dari mereka terburu-buru mengakhiri percakapan.

Ia belum tahu bahwa lelaki di hadapannya menyimpan sebuah rahasia. Rahasia yang kelak menguji cinta, kejujuran, dan pengampunan mereka.

***

Sejak pertemuan itu, hubungan Jihan dan Firza semakin dekat. Bagi Jihan, kedekatan itu terasa berbeda dari hubungan-hubungan sebelumnya. Firza tidak sekadar hadir ketika ia sedang bahagia; lelaki itu juga bersedia mendengarkan ketika Jihan sedang lelah dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa.

Jihan mulai membayangkan masa depan. Firza pun mulai berbicara tentang hal yang sama. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Dan tentang keinginannya membangun rumah tangga suatu hari nanti.

Jihan mulai membiarkan Firza masuk lebih jauh ke dalam hidupnya. Ia tidak lagi memeriksa ulang setiap janji atau mencari alasan untuk menjaga jarak. Hanya ada beberapa hal kecil yang sesekali membuatnya berhenti sejenak.

Kadang Firza menghilang selama berjam-jam. Pesan yang dikirim Jihan hanya terbaca, sementara panggilannya tidak diangkat. Panggilan telepon tak pernah diangkat. Ketika akhirnya menghubungi kembali, Firza selalu memiliki penjelasan.

“Maaf, tadi rapat sampai malam.” Atau, “Ponselku kehabisan baterai.” Kadang ia berkata, “Aku lagi nemenin teman.” Semua alasan itu terdengar masuk akal.

Jihan tidak pernah memaksanya menjelaskan lebih jauh. Baginya, setiap orang berhak memiliki kesibukan dan ruang pribadinya sendiri. Ia memilih percaya. Tanpa disadari, kepercayaan itu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.


Pada saat yang sama, di kota lain, ponsel Firza berdering. Nama yang muncul di layar membuat tangannya berhenti di udara sejenak.

Nama Lea muncul di layar. Firza memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menerima panggilan itu.

“Kenapa baru diangkat?” Suara Lea terdengar kesal.

“Aku lagi sibuk.”

“Kamu selalu sibuk.”

Firza mengembuskan napas pelan. “Ada apa?”

Lea tertawa kecil. “Aku cuma kangen.”

Firza memilih diam. Hubungan mereka sebenarnya telah lama berubah. Saat pertama mengenal Lea, Firza percaya bahwa perempuan itu adalah sosok yang masih sendiri.

Mereka sempat dekat. Sering berbagi cerita tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan. Namun, seiring berjalannya waktu, kedekatan itu mulai berubah menjadi sesuatu yang membuat Firza merasa tidak nyaman.

Lea menjadi semakin posesif. Ia menghubungi Firza hampir setiap hari. Bukan hanya melalui pesan. Tetapi juga panggilan video hingga larut malam. Sesekali ia mengirim swafoto sambil meminta pendapat. Tak jarang pula ia melontarkan kalimat-kalimat yang bernada menggoda.

Firza perlahan mulai menjaga jarak. Ia telah bertekad menjalani hubungan yang serius dengan Jihan. Baginya, apa pun yang berasal dari masa lalu harus benar-benar berakhir. Namun, kenyataannya tidak sesederhana yang ia bayangkan.

Semakin Firza menjauh, semakin keras Lea berusaha mendekat. Firza mulai jarang membalas pesan. Kalaupun menjawab, hanya seperlunya. Ia berharap sikap dinginnya cukup menjadi isyarat bahwa semuanya telah selesai.

Sayangnya. Lea justru menolak memahami isyarat itu.

***

Suatu malam, ponsel Firza kembali bergetar. Nama Lea muncul di layar. Firza membuka pesan itu dengan perasaan tak tenang.

Lea: Kamu berubah sejak kenal Jihan.

Firza tidak langsung membalas. Beberapa detik kemudian, pesan lain kembali masuk.

Lea: Jangan pura-pura lupa sama semua yang pernah terjadi di antara kita.

Firza menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetik.

Firza: Hubungan kita seharusnya sudah selesai.

Tak lama kemudian, panggilan masuk. Firza sempat membiarkannya berdering. Namun ia tahu, jika panggilan itu diabaikan, Lea akan terus menghubunginya. Dengan berat hati, ia mengangkat telepon.

“Apa lagi, Lea?”

Suara perempuan itu terdengar tenang. “Kamu benar-benar mau menikahi Jihan?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

“Aku sudah menentukan pilihanku.”

Beberapa detik hanya diisi keheningan. Lalu Lea tertawa pelan. “Ternyata kamu tega juga ninggalin aku.”

Firza memejamkan mata. “Aku tidak pernah menjanjikan apa pun.”

“Tapi kamu pernah bilang nyaman sama aku.”

“Itu dulu.” Suara Firza terdengar lelah. “Sekarang semuanya sudah berbeda.”

Nada bicara Lea perlahan berubah. “Dengar baik-baik, Firza. Kalau aku tidak bisa memilikimu. Jihan juga tidak akan hidup setenang yang kamu bayangkan.”

Firza langsung menegakkan tubuh. “Maksudmu apa?”

Lea kembali tertawa. “Aku masih simpan semua rahasia kita. Semua kenangan kita.”

Wajah Firza seketika memucat. “Lea. jangan lakukan itu.”

“Kenapa?” Lea tersenyum sinis di balik telepon. “Kamu takut Jihan tahu siapa dirimu yang sebenarnya?”

Firza menggenggam ponselnya semakin erat. “Aku cuma ingin mengakhiri semuanya dengan baik.”

“Terlambat.” Suara Lea kini terdengar dingin. “Aku sudah terlalu jauh mempertahankanmu untuk menyerah begitu saja.”

Sambungan terputus. Layar ponsel kembali gelap. Firza tidak langsung meletakkannya. Ibu jarinya masih berada di atas nama Lea, seolah satu sentuhan saja bisa mengubah sesuatu yang sudah terlanjur terjadi.


Lea tidak berhenti pada ancaman. Diam-diam, ia mulai mencari tahu kehidupan Jihan. Media sosialnya. Tempatnya bekerja. Komunitas yang diikutinya. Bahkan lingkungan keluarganya.

Semakin banyak informasi yang ia kumpulkan, semakin besar keinginannya untuk menghancurkan hubungan mereka.

Hingga akhirnya Lea menyusun rencana yang jauh lebih berani. Ia meminta seorang kenalannya bernama Rani berpura-pura menjadi kakaknya. Bersama perempuan itu, Lea mendatangi rumah orang tua Firza.

Di hadapan keluarga Firza, ia menampilkan diri sebagai perempuan yang merasa dikhianati. Dengan tenang ia mengaku pernah memiliki hubungan yang serius dengan Firza. Bahkan ia mengatakan bahwa keluarganya telah mengetahui hubungan itu sejak lama.

Lea menyampaikan semuanya tanpa ragu. Ia tidak perlu meninggikan suara. Justru ketenangannya membuat kebohongan itu terdengar meyakinkan bagi orang yang belum mengetahui ceritanya.

Lea berharap keluarga Firza mulai meragukan hubungan putra mereka dengan Jihan. Baginya, jika restu keluarga goyah, rencana pernikahan itu akan memiliki celah untuk runtuh. Ia tahu, semakin banyak orang yang meragukan Jihan, semakin mudah ia membuat kebohongannya terdengar seperti kebenaran.

Beruntung, keluarga Firza tidak langsung mempercayai semua ucapannya. Mereka memilih meminta penjelasan langsung kepada Firza. Namun sejak hari itu, Firza sadar. Lea tidak lagi sekadar ingin mempertahankan masa lalu. Perempuan itu kini berusaha menghancurkan masa depan yang sedang ia bangun.


Sementara itu, Jihan masih menyusun rencana pernikahan, memilih kain, memeriksa daftar tamu, dan sesekali tersenyum ketika Firza mengirim pesan. Tidak satu pun dari rutinitas itu memberitahunya bahwa ada sesuatu yang sedang bergerak di belakangnya.

Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa, di balik hubungan yang tampak baik-baik saja, seseorang sedang berusaha meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja ia bangun.

Di sisi lain, Firza hidup dalam dua ketakutan. Takut kehilangan Jihan. Dan lebih takut lagi jika seluruh rahasia yang selama ini ia pendam terbongkar sebelum ia sempat mengatakannya sendiri. Namun waktu tidak pernah menunggu siapa pun.

Semakin lama ia menunda kejujuran. Semakin dekat pula saat ketika kebenaran akan datang bukan dari mulutnya, melainkan dari orang yang ingin menghancurkan segalanya.

 

***

Beberapa bulan setelah pertemuan pertama mereka di Bandung, hubungan Jihan dan Firza berkembang semakin serius. Jarak tak lagi menjadi penghalang. Mereka mulai saling mengenal lebih dalam—keluarga, kebiasaan, hingga impian yang ingin diwujudkan bersama.

Firza semakin sering datang ke Bandung. Bukan lagi sekadar melepas rindu, melainkan untuk meyakinkan kedua orang tua Jihan bahwa niatnya benar-benar tulus.

Suatu sore, Firza menelepon Jihan. “Aku akan datang akhir pekan ini.”

Jihan tersenyum. “Sendirian?”

Firza sengaja menggantung jawabannya beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Tidak. Aku datang bersama keluargaku.”

Jantung Jihan berdegup lebih cepat. “Maksudmu.?”

Firza tersenyum. “Aku ingin meminta izin kepada Ayah dan Ibumu.”

 

Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Rumah Jihan tampak lebih ramai daripada biasanya. Ibunya sibuk menyiapkan hidangan, sementara Ayah beberapa kali keluar rumah memastikan para tamu tidak kesulitan menemukan alamat.

Di kamar, Jihan duduk di tepi ranjang. Ia menatap kedua tangannya sendiri, lalu meremas ujung selimut. Dari ruang depan terdengar suara keluarga yang sedang berbincang.

“Sudah siap?” tanya Ibunya sambil tersenyum hangat.

Jihan mengangguk pelan, meski gugup masih jelas tergambar di wajahnya.

Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Firza datang bersama kedua orang tuanya serta beberapa anggota keluarga. Mereka membawa buah tangan dan seserahan sederhana sebagai bentuk penghormatan.

Suasana ruang tamu segera dipenuhi sapaan hangat. Perkenalan berlangsung akrab. Ayah Jihan memperhatikan Firza yang duduk tegak dengan sikap sopan. Ia tidak banyak berbicara, tetapi setiap pertanyaan dijawab dengan tenang dan penuh hormat.

Beberapa saat kemudian, Ayah Firza membuka pembicaraan. “Kedatangan kami hari ini membawa satu tujuan.”

Beliau menoleh kepada Jihan, lalu kembali memandang kedua orang tuanya. “Jika Bapak dan Ibu berkenan, kami ingin meminang putri Bapak untuk menjadi bagian dari keluarga kami.”

Ruangan seketika hening. Jihan menundukkan kepala. Pipi gadis itu memerah. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.

Ayah Jihan tersenyum hangat. Beliau melirik putrinya sejenak sebelum menjawab, “Kalau memang itu yang terbaik untuk mereka berdua, insyaallah kami merestuinya.”

Ucapan itu disambut senyum lega dari kedua keluarga. Firza menatap Jihan. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata yang terucap. Namun senyum kecil di wajah keduanya telah mewakili seluruh rasa syukur yang memenuhi hati.

Tak seorang pun menyadari bahwa kebahagiaan yang baru saja dimulai suatu hari nanti akan diuji oleh masa lalu yang belum benar-benar selesai.


Malam itu, setelah rumah kembali sepi, Jihan masih duduk di teras. Gelas teh di sampingnya sudah dingin. Ponselnya menyala ketika pesan dari Firza masuk.

Angin malam berembus pelan. Langit dipenuhi bintang. Suasana yang tenang membuatnya kembali mengingat perjalanan hidup yang telah dilaluinya.

Ponselnya bergetar.

Firza: Terima kasih sudah mempercayaiku.

Senyum tipis menghiasi wajah Jihan.

Jihan: Terima kasih sudah datang dengan cara yang paling baik.

Tak lama kemudian balasan kembali masuk.

Firza: Aku akan menjagamu seumur hidup.

Jihan membaca kalimat itu dua kali. Lalu ia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di samping gelas teh. Untuk beberapa saat ia hanya duduk memandangi halaman rumah.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah malam itu. Untuk pertama kalinya, ketidakpastian tidak terasa menakutkan. Ia hanya ingin menikmati satu malam ketika semuanya tampak sederhana.

Tanpa disadari, malam itu Jihan menutup lembar terakhir masa lalunya. Dan bersiap membuka babak baru yang diyakininya akan dipenuhi kebahagiaan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa seseorang di luar sana sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan semua keyakinan itu.

***

Beberapa bulan kemudian, hari yang dinantikan akhirnya tiba. Sejak pagi rumah Jihan telah dipenuhi keluarga dan kerabat. Sebagai anak perempuan pertama, hari pernikahannya dipersiapkan dengan penuh kasih sayang.

Ibunya memastikan setiap detail berjalan sebagaimana mestinya. Ayah sibuk menyambut tamu yang terus berdatangan. Doa, tawa, dan haru memenuhi setiap sudut rumah.

Di depan cermin, Jihan merapikan ujung kerudungnya. Gaun putih gading itu jatuh rapi hingga ke lantai. Ia menyentuh cincin yang masih berada di kotaknya, lalu menarik napas pelan ketika suara keluarga terdengar dari luar kamar.

Pintu kamar terbuka perlahan. Ibunya menghampiri sambil tersenyum hangat. Beliau membelai rambut putrinya dengan lembut.

“Anak Ibu sudah benar-benar dewasa.”

Jihan menatap ibunya melalui cermin. Sesaat ia tidak mampu menjawab. Ia bangkit, lalu memeluk perempuan yang sejak tadi berdiri di belakangnya.

“Terima kasih, Bu. sudah selalu menemani Jihan sampai hari ini.”

Ibunya mengusap punggung putrinya perlahan. “Mulai hari ini, ada seseorang yang akan menjagamu menggantikan Ayah dan Ibu.”

Jihan mengangguk. Ia mengusap sudut matanya sebelum tersenyum kepada ibunya.


Akad nikah berlangsung dengan khidmat. Firza mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas. Suara “sah” yang menggema dari para saksi disambut ucapan syukur dan isak haru para tamu undangan.

Firza menundukkan kepala setelah ijab kabul dinyatakan sah. Ia menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Jihan untuk pertama kalinya sebagai suaminya.

Setelah akad selesai, resepsi berlangsung hangat. Tawa keluarga, doa para sahabat, dan senyum kedua mempelai memenuhi ruangan. Hari itu menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidup mereka.


Beberapa hari setelah resmi menjadi suami istri, Jihan dan Firza menempati rumah sederhana yang telah mereka siapkan bersama. Rumah itu tidak besar. Hanya memiliki dua kamar, ruang tamu mungil, dan dapur yang menyatu dengan ruang makan. Namun bagi mereka, rumah itu sudah lebih dari cukup untuk memulai kehidupan baru.

Hari-hari pertama dipenuhi berbagai penyesuaian. Jihan belajar memasak makanan kesukaan Firza. Sesekali masakannya terlalu asin. Kadang pula nasi yang dimasaknya terlalu lembek. Namun Firza tidak pernah mengeluh.

Ia selalu menghabiskan makanan di piringnya sambil tersenyum. “Kalau begini terus, aku bisa cepat gemuk.”

Jihan memukul pelan lengan suaminya. “Itu sindiran atau pujian?”

Firza tertawa kecil. “Pujian. Soalnya setiap pulang kerja, aku selalu ingin cepat sampai rumah.”

“Kenapa?”

Firza menatap istrinya sambil tersenyum lembut. “Karena ada kamu.”

Pipi Jihan langsung memerah. Firza memang bukan lelaki yang pandai merangkai kata-kata romantis. Namun kalimat-kalimat sederhananya selalu berhasil membuat hati Jihan menghangat.

Mereka mulai terbiasa berbagi tugas. Firza menyapu lantai sebelum berangkat bekerja. Jihan membereskan dapur. Pada akhir pekan Firza pergi ke pasar, lalu sesekali membawa pulang bunga kecil untuk diletakkan di ruang tamu.

Malam hari menjadi waktu favorit mereka. Mereka duduk di teras ditemani secangkir kopi hangat. Firza bercerita tentang pekerjaannya. Jihan membacakan naskah yang baru selesai ditulisnya. Firza selalu menjadi pembaca pertama.

“Aku bangga punya istri yang tidak pernah berhenti bermimpi.”

Ucapan sederhana itu membuat Jihan merasa seluruh perjuangannya selama ini dihargai. Untuk pertama kalinya. Ia benar-benar merasa memiliki rumah.

***

Hari-hari berlalu dengan tenang. Rumah kecil itu semakin dipenuhi tawa. Sesekali mereka berbeda pendapat, tetapi tidak pernah berlarut-larut. Salah satu akan lebih dulu mengalah. Kemudian saling meminta maaf.

Firza tampak berubah. Ia lebih sabar. Lebih perhatian. Dan selalu berusaha menjadi suami yang pantas dipercaya.

Sedikit demi sedikit, keraguan yang dulu pernah muncul di hati Jihan mulai menghilang. Jika ada orang yang melihat kehidupan mereka dari luar, tak seorang pun akan menyangka bahwa rumah tangga itu pernah dibangun di atas masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Seolah-olah Firza benar-benar telah meninggalkan semua kesalahannya. Namun, jauh dari rumah kecil itu, seseorang masih belum menerima kenyataan.

Lea.

Perempuan itu menatap foto pernikahan Jihan dan Firza yang diunggah salah seorang kerabat di media sosial. Tatapannya tak bergeser sedikit pun. Jemarinya menggenggam ponsel semakin erat. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.

“Jadi. kalian benar-benar menikah.”

Lea mengusap perlahan layar ponselnya, tepat pada wajah Firza yang tersenyum di foto pernikahan.

“Aku sudah bilang aku tidak akan menyerah semudah itu.”

Ia mematikan layar ponselnya. Tatapannya kosong. Namun, di balik ketenangan itu, sebuah rencana perlahan mulai disusun. Baginya, pernikahan Firza dan Jihan bukanlah akhir dari segalanya. Melainkan awal dari permainan yang baru.

***

Satu bulan setelah pernikahan, Jihan mengetahui bahwa dirinya hamil. Kabar itu membawa kebahagiaan bagi kedua keluarga. Firza tampak begitu menjaga istrinya. Ia melarang Jihan mengangkat barang-barang berat, selalu mengingatkan waktu makan, bahkan hampir setiap siang menelepon hanya untuk memastikan kondisi Jihan dan calon bayi mereka baik-baik saja.

Perhatian-perhatian kecil itu membuat Jihan semakin yakin bahwa ia telah memilih lelaki yang tepat.


Siang itu Firza sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan. Jihan menghabiskan waktu sendirian di rumah ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nomor yang muncul tidak dikenalnya. Ia ragu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Halo?” Suara seorang perempuan terdengar dari seberang telepon. “Maaf. apakah ini benar nomor Jihan?”

“Iya, benar. Dengan siapa, ya?”

Perempuan itu terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Namaku Lea.”

Nama itu terdengar asing di telinga Jihan.

“Maaf, Mbak Lea. Ada yang bisa saya bantu?”

Terdengar helaan napas pelan. “Sebenarnya aku menghubungimu karena ada urusan yang belum selesai dengan Firza.”

Jihan mulai memusatkan perhatian. “Urusan apa?”

“Hanya soal uang.”

“Uang?”

“Iya.” Lea tertawa kecil. “Dulu Firza pernah meminjam uang dariku. Nilainya memang tidak besar. Hanya satu juta rupiah.”

Jihan tampak terkejut. “Maaf. saya benar-benar tidak tahu.”

“Tidak apa-apa.” Nada suara Lea tetap tenang. “Mungkin dia memang belum sempat menceritakannya.”

Beberapa detik hanya diisi keheningan. Kemudian Lea kembali berkata, “Mas Firza memang kadang begitu.”

Kalimat itu sederhana. Namun cara Lea mengucapkannya terdengar begitu akrab. Seolah-olah ia mengenal Firza jauh lebih lama daripada Jihan. Perasaan tidak nyaman mulai muncul. Jihan mencoba menepisnya. Mungkin perempuan itu memang hanya teman lama suaminya.

Sejak percakapan itu, Jihan mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.

Beberapa detik hanya terdengar suara napas dari seberang telepon. Kemudian Lea kembali berbicara.

“Firza sering bercerita tentangmu.”

Jihan tersenyum tipis. “Oh ya?”

“Iya. Sebelum kalian menikah, dia beberapa kali menunjukkan fotomu.”

Jihan mulai mengernyit. “Mbak memang sudah lama kenal Firza?”

“Cukup lama.” Suara Lea tetap terdengar tenang. “Firza memang seperti itu. Kalau seseorang sudah dianggap penting olehnya, dia akan sangat perhatian. Dulu. aku juga sering merasakan itu.”

Jihan diam. Ia menatap layar ponsel, lalu ke pintu rumah yang tertutup. Ada banyak pertanyaan, tetapi belum satu pun yang berani ia ucapkan.

“Sebenarnya aku tidak pernah kekurangan. Bapakku seorang lurah. Aku anak satu-satunya. Aku punya usaha sendiri. Mobil ada. Rumah juga ada.” Lea terkekeh pelan. “Jadi uang satu juta itu bukan alasan aku menghubungimu.”

“Lalu. kenapa Mbak menelepon saya?”

Suara Lea berubah lebih pelan. “Aku hanya ingin mengenal perempuan yang dipilih Firza.”

Jihan terdiam. “Maksud Mbak?”

“Sepertinya kamu sangat menyayanginya.”

Jihan tidak menjawab.

“Itulah sebabnya aku jadi kasihan.”

Jantung Jihan berdegup lebih cepat. “Kasihan?”

“Iya. Apa Firza tidak pernah bercerita tentang masa lalunya?”

“Hanya sedikit.”

Lea mengembuskan napas panjang. “Berarti dia memang memilih diam.”

Keheningan kembali memenuhi sambungan telepon. Jihan menggenggam ponselnya semakin erat.

“Mbak sebenarnya ingin mengatakan apa?”

“Aku tidak berniat merusak rumah tangga kalian. Tapi menurutku seorang istri berhak mengetahui siapa lelaki yang dinikahinya.”

Jihan mengusap telapak tangannya pada kain celana. Suara Lea tetap tenang di seberang sana.

“Saat kamu mulai mengenal Firza, aku juga masih menjadi bagian dari hidupnya.”

Napas Jihan tercekat. “Apa maksud Mbak?”

Lea tidak langsung menjawab. “Coba saja tanyakan sendiri kepadanya. Dia pasti mengenalku.”

Sambungan terputus. Jihan tetap memegang ponselnya beberapa detik sebelum meletakkannya di meja. Tangannya kemudian berpindah ke perut yang mulai membesar.

Jihan menatap layar ponselnya. Ia ingin segera menelepon Firza dan menuntut penjelasan, tetapi ada bagian dalam dirinya yang menahan. Ia tidak ingin membangun kesimpulan dari cerita orang lain.

Jika memang ada masa lalu yang harus ia ketahui, ia ingin mendengarnya langsung dari suaminya—meski ia belum tahu apakah dirinya siap menerima jawabannya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasakan ketakutan yang belum pernah hadir sebelumnya.

***

Sejak hari itu, rutinitas rumah tetap berjalan. Jihan memasak, membersihkan rumah, menyiapkan pakaian Firza. Hanya saja, beberapa pekerjaan selesai tanpa ia sadari kapan dimulainya. Ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah, tangannya selalu berhenti sejenak.

Senyumnya menjadi semakin tipis. Tatapannya lebih sering kosong. Jika dulu ia selalu menunggu suara kendaraan Firza dengan perasaan bahagia, kini setiap suara mesin yang berhenti di depan rumah justru membuat dadanya berdebar.

Bukan karena rindu. Melainkan karena ia tidak lagi tahu harus memandang suaminya sebagai siapa. Firza beberapa kali menyadari perubahan itu.

“Kamu kelihatan capek.”

Jihan hanya menggeleng. “Kamu kurang enak badan?”

“Tidak.”

“Ada yang mengganggu pikiranmu?”

Jihan kembali tersenyum kecil. “Aku tidak apa-apa.”

Firza mengangguk pelan, meski hatinya tidak benar-benar tenang. Ia mengenal Jihan sebagai perempuan yang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Karena itu, senyum yang terlalu dipaksakan justru membuatnya semakin gelisah.

Beberapa kali ia ingin bertanya lebih jauh. Namun setiap kali melihat tangan Jihan mengusap perut yang mulai membesar, keberaniannya kembali surut. Ia tidak ingin istrinya merasa tertekan.


Malam menjadi satu-satunya waktu ketika Jihan tidak perlu berpura-pura. Setelah Firza tertidur, ia menatap langit-langit kamar. Sesekali pandangannya jatuh kepada lelaki di sebelahnya, lalu kembali ke kegelapan.

Wajah yang sama dengan lelaki yang pernah datang menemui kedua orang tuanya. Yang mengucapkan ijab kabul dengan penuh keyakinan. Yang setiap pagi selalu mengusap kepalanya sebelum berangkat bekerja. Namun kini, yang terlintas di benaknya bukan lagi kelembutan itu.

Melainkan deretan percakapan yang pernah dibacanya. Foto-foto yang masih tersimpan. Dan kalimat-kalimat yang dahulu mungkin pernah diucapkan Firza kepada perempuan lain dengan ketulusan yang sama.

Jihan mencoba tidur. Percakapan itu justru datang satu per satu: nama Lea, jeda Firza sebelum menjawab, dan satu kalimat yang belum terjawab. Ia membuka mata lagi.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa luka tidak selalu berasal dari kejadian yang sedang berlangsung. Kadang, luka justru lahir dari masa lalu yang terlambat diketahui.

***

Beberapa hari kemudian, ponsel Jihan kembali bergetar. Nomor yang sama. Lea.

Jihan melihat layar ponselnya tanpa menyentuhnya. Pesan pertama dibiarkan terbaca sebagai notifikasi. Ketika pesan kedua masuk, ia mematikan data seluler dan membalikkan ponsel itu.

Satu pesan lagi masuk. Jihan tetap tidak membukanya. Ia mematikan data seluler, lalu meletakkan ponsel di atas meja.

“Cukup.” Suaranya nyaris tidak terdengar. Ia membalikkan ponsel dan menaruhnya jauh dari jangkauan.

Tangannya berhenti di atas perut. Beberapa detik kemudian, ia menarik napas dan menatap ke arah jendela.

“Aku harus kuat demi kamu.”

Untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi, Jihan memutuskan berhenti mencari kebenaran dari perempuan yang jelas ingin menghancurkan rumah tangganya.

Jika masih ada jawaban yang harus ia dengar. jawaban itu harus datang dari suaminya sendiri.


Hari-hari berikutnya terasa berjalan lambat. Lea masih beberapa kali mencoba menghubunginya. Namun seluruh nomor yang digunakan perempuan itu satu per satu diblokir.

Jihan tidak ingin lagi membuka luka yang sama. Namun, memblokir Lea ternyata tidak serta-merta menghapus kegelisahan di dalam hatinya. Kini musuh terbesarnya bukan lagi pesan-pesan yang datang dari luar.

Melainkan pikirannya sendiri. Setiap kali Firza tersenyum, Jihan teringat foto-foto lama yang pernah dilihatnya. Setiap kali Firza berkata, “Aku sayang kamu,” Jihan justru memikirkan kalimat serupa juga pernah diucapkan suaminya kepada perempuan lain.

Luka itu tidak lagi hidup karena Lea. Melainkan karena bayangan yang terus berputar di dalam kepalanya.

***

Suatu pagi, Firza mengajak Jihan memeriksakan kandungannya. Sejak mengetahui dirinya hamil, setiap kontrol ke dokter selalu menjadi momen yang paling mereka nantikan. Namun kali ini suasananya berbeda.

Sepanjang perjalanan, hanya suara mesin mobil yang menemani mereka. Firza beberapa kali melirik ke arah istrinya.

“Kamu mual?”

Jihan menggeleng.

“Capek?”

“Tidak.”

“Kamu yakin baik-baik saja?”

“Iya.”

Jawaban Jihan selalu pendek. Firza beberapa kali meliriknya, tetapi perempuan itu memilih melihat jalan di luar jendela. Ketika mobil berhenti di lampu merah, ia pura-pura membaca pesan di ponselnya.


Pemeriksaan berlangsung lancar. Dokter tersenyum setelah meninjau hasil pemeriksaan.

“Alhamdulillah. Kondisi ibu dan bayinya sehat. Perkembangannya juga sangat baik.”

Firza mengembuskan napas lega. Senyum syukur perlahan menghiasi wajahnya. Untuk sesaat, beban yang selama beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya seolah menghilang. Baginya, tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan Jihan dan calon buah hati mereka.

Firza menggenggam tangannya. Jihan membiarkannya beberapa detik, lalu menarik tangan itu untuk merapikan ujung bajunya. Firza tidak mengatakan apa-apa.

Firza menoleh. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu di mata istrinya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan kemarahan. Bukan pula kebencian. Melainkan kepercayaan yang perlahan memudar.

Sejak hari itu, Firza mulai menyadari bahwa rumah tangga mereka sedang berubah. Ia belum mengetahui penyebabnya. Namun ia dapat merasakan jarak yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Rahasia itu belum hilang. Ia hanya menunggu sampai seseorang membuka pintunya.


Suatu sore, ketika Firza sedang bekerja, ponsel Jihan kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang belum dikenalnya. Dengan perasaan tidak menentu, ia membukanya.

Lea: Aku hamil.

Jihan membaca kalimat itu sekali. Lalu sekali lagi. Ponsel di tangannya tetap menyala ketika pesan berikutnya muncul.

Lea: Kalau sesuatu terjadi padaku, bilang sama Firza supaya bertanggung jawab.

Ia menatap layar tanpa bergerak. Jika benar, siapa anak itu? Jika bohong, mengapa Lea memilih kalimat tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itu datang bersamaan.

Jihan menelepon. Nomor itu tidak aktif. Ia mengetik satu pesan: “Tolong jelaskan.” Tidak ada balasan.

Jihan perlahan terduduk di lantai ruang tamu. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang tengah mengandung kehidupan kecil.

Jihan duduk di lantai ruang tamu. Punggungnya bersandar pada sofa. Rumah itu tetap sama—jam dinding, meja, tirai—tetapi untuk pertama kalinya semuanya terasa asing.


Malam itu Firza baru saja meletakkan tas kerjanya ketika Jihan berdiri di hadapannya. Wajah perempuan itu pucat. Matanya sembap.

“Firza.” Suaranya bergetar. “Kita harus bicara.”

Firza langsung menghentikan langkahnya. “Ada apa?”

Tanpa banyak kata, Jihan menyerahkan ponselnya. “Lihat sendiri.”

Firza membaca pesan-pesan itu. Raut wajahnya perlahan berubah tegang. “Itu tidak benar.”

Jihan menatapnya lekat. “Kalau memang tidak benar jawab satu pertanyaanku dengan jujur.”

Firza terdiam. Jihan menggigit bibirnya, menahan tangis yang sejak tadi ingin pecah.

“Apakah kamu pernah tidur dengan Lea?”

Ruangan mendadak sunyi. Firza memejamkan mata. Tangannya mengepal kuat. Beberapa detik berlalu tanpa satu pun jawaban. Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling ditakuti Jihan.

Hingga akhirnya Firza mengembuskan napas panjang. “Iya.”

Jihan tidak langsung menjawab. Ia menatap meja di antara mereka, lalu perlahan mengangkat wajah.

Firza segera melanjutkan. “Itu terjadi jauh sebelum aku melamarmu. Aku sudah mengakhirinya. Aku benar-benar tidak tahu apakah dia hamil atau tidak. Tapi sejak kita menikah, aku tidak pernah lagi menghubunginya.”

Namun, Jihan tidak lagi mampu menerima penjelasan itu dengan tenang. Kepalanya berdengung. Suara Firza terdengar semakin jauh. Yang tertinggal di benaknya hanyalah satu kenyataan. Lelaki yang selama ini ia percaya ternyata pernah membagi hatinya kepada perempuan lain, pada saat ia sendiri sedang membangun mimpi tentang masa depan bersama.

Malam itu, sesuatu di dalam diri Jihan runtuh. Bukan hanya kepercayaannya kepada Firza, melainkan keyakinannya bahwa rumah tangga mereka dibangun di atas kejujuran.

***

Malam-malam berikutnya menjadi jauh lebih berat. Firza terus berusaha menjelaskan semuanya. Ia mengaku telah mengakhiri hubungannya dengan Lea sebelum akad nikah. Ia juga bersikeras tidak mengetahui apakah kabar kehamilan itu benar atau hanya kebohongan baru. Namun setiap penjelasan justru melahirkan pertanyaan baru.

“Apa masih ada yang belum kamu ceritakan?” tanya Jihan lirih.

Firza kembali terdiam. Keheningan itu telah menjadi jawaban yang paling ditakuti Jihan. Dengan suara pelan, Firza akhirnya mengakui bahwa saat mulai mengenal Jihan, ia memang belum sepenuhnya menutup hubungannya dengan Lea.

Ia telah memilih Jihan sebagai perempuan yang ingin dinikahinya. Namun sebelum semuanya benar-benar selesai, ia masih beberapa kali menemui Lea. Bukan karena cintanya belum berakhir.

Melainkan karena setiap kali ia mencoba pergi, Lea selalu mengancam akan membuka hubungan mereka kepada Jihan.

“Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri,” ucap Firza dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku takut kehilanganmu. Aku yakin semuanya akan selesai sebelum kita menikah.”

Jihan tersenyum hambar. “Kamu tidak kehilangan aku karena masa lalumu, Firza.”

Ia menarik napas panjang. “Kamu kehilangan kepercayaanku karena memilih menyembunyikannya.”

Kalimat itu membuat Firza terdiam. Tidak ada lagi pembelaan. Ia sadar, tidak ada alasan yang mampu menghapus luka yang telah terlanjur ia berikan.

***

Hari-hari berikutnya berjalan tanpa pertengkaran. Justru keheninganlah yang perlahan menguasai rumah mereka. Tidak ada lagi perdebatan. Tidak ada lagi tangisan yang meledak.

Jihan berhenti bertanya. Firza berhenti menjelaskan. Di antara mereka hanya tersisa jarak yang tidak terlihat, tetapi terasa begitu nyata.

Hingga suatu hari. harapan yang selama ini mereka jaga berubah menjadi duka. Jihan mengalami pendarahan. Dengan tangan yang terus gemetar, Firza membawanya ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan ia terus menggenggam tangan istrinya. “Jihan. bertahan, ya.”

Namun takdir berkata lain. Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang tindakan. Sorot matanya telah lebih dulu menyampaikan kabar yang tidak ingin didengar siapa pun.

“Maaf, Pak. kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun janin Ibu tidak dapat diselamatkan.”

Kalimat itu menghantam keduanya tanpa ampun. Firza menundukkan kepala. Tangannya perlahan terlepas dari kursi yang sejak tadi digenggam begitu erat.

Di balik pintu ruang perawatan, Jihan memandang langit-langit. Tidak ada suara dari bibirnya. Tangannya hanya menggenggam ujung selimut.


Hari-hari terus berlalu. Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam. Rumah mereka tetap berdiri seperti biasa. Sarapan masih tersaji setiap pagi. Lampu teras masih dinyalakan setiap malam.

Semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Namun kehangatan yang dahulu memenuhi rumah itu perlahan menghilang. Jihan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri. Ia merapikan rumah. Menyiram tanaman. Menyiapkan pakaian Firza.

Semua dilakukan dengan tenang. Tanpa keluhan. Namun juga tanpa senyum. Firza menyadari perubahan itu. Jihan tidak lagi mengajaknya berbincang tentang hal-hal sederhana. Tidak lagi meminta pendapatnya tentang cerita yang sedang ditulis.

Tidak lagi tertawa karena candaan-candaan kecil yang dahulu menghidupkan rumah mereka. Yang tersisa hanyalah dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama tetapi masing-masing sedang berjuang menghadapi luka dengan caranya sendiri.

***

Suatu malam, Firza terbangun ketika mendapati sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Ia bangkit dan mencari Jihan ke seluruh ruangan. Lampu ruang kerja masih menyala. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Jihan duduk membelakanginya.

Di atas meja tergeletak laptop yang telah lama tak disentuh. Di sampingnya terdapat sebuah buku catatan dan pena yang dahulu hampir tak pernah lepas dari tangannya.

Perlahan, Jihan membuka halaman pertama. Ia menatap kertas kosong itu cukup lama. Jemarinya menggenggam pena, seolah ingin kembali menulis. Namun beberapa saat kemudian pena itu perlahan diletakkan kembali.

Pena itu berhenti di atas halaman. Jihan menunggu satu kalimat muncul, tetapi yang jatuh lebih dulu adalah setetes air mata. Ia mengusapnya dengan punggung tangan, lalu mencoba lagi.

Firza berdiri di ambang pintu. Tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi. Ia tidak masuk. Malam itu ia memilih membiarkan Jihan sendirian bersama halaman kosong di depannya.

Malam itu, Firza memilih melakukan sesuatu yang selama ini jarang ia lakukan. Ia berlutut di ruang tamu. Mengangkat kedua tangannya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi ia menangis di hadapan Tuhan.

***

Beberapa hari kemudian, sebuah nomor tak dikenal kembali menghubungi Jihan. Awalnya ia mengira pesan itu berasal dari Lea. Namun kali ini isinya berbeda.

Maaf mengganggu. Saya Rani. Saya perempuan yang pernah datang bersama Lea ke rumah orang tua Firza dan mengaku sebagai kakaknya. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan.

Jihan membaca pesan itu dua kali. Jarinya sempat bergerak ke ikon hapus, lalu berhenti ketika matanya menangkap nama pengirim.

Namun kalimat, “Saya perempuan yang pernah datang bersama Lea.” membuat jemarinya terhenti.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia membalas. Di mana kita bisa bertemu?

Jihan tidak tahu apa yang akan ia temukan dalam pertemuan itu. Ia hanya tahu satu hal: ia sudah terlalu lama hidup di antara dua versi kebenaran. Ia tidak ingin lagi mengambil keputusan berdasarkan ketakutan.

Mereka pun sepakat bertemu di sebuah kedai kopi yang tenang pada sore hari.


Rani telah menunggu ketika Jihan tiba. Begitu melihat Jihan, ia segera berdiri. Belum sempat Jihan duduk, perempuan itu lebih dulu menundukkan kepala.

“Maafkan saya.” Suaranya bergetar. “Saya tahu permintaan maaf ini tidak akan menghapus apa pun. Tapi saya tetap harus mengatakannya.”

Jihan hanya menatapnya tanpa berkata-kata.

“Saya orang yang mengantar Lea ke rumah orang tua Firza. Saya juga yang berpura-pura menjadi kakaknya.”

Jihan menarik napas pelan. “Kenapa Mbak melakukan itu?”

Rani memejamkan mata sejenak. “Karena saya mempercayai semua cerita Lea. Dia menangis di depan saya. Dia mengatakan Firza telah mempermainkannya. Dia bilang hanya ingin meminta penjelasan kepada keluarga Firza. Saya benar-benar mengira dia adalah korban.”

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Saya sama sekali tidak tahu kalau semua itu hanya kebohongan.”

Jihan tetap diam.

Rani kembali melanjutkan. “Saya baru mengetahui kenyataan yang sebenarnya beberapa minggu kemudian.” Suaranya terputus.

“Sejak saat itu saya tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Saya memang tidak menyebabkan semua itu. Tapi saya ikut membantu Lea berbohong.”

Dengan tangan gemetar, Rani mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam tasnya.

“Saya datang bukan untuk membela Firza. Karena dia tetap melakukan kesalahan. Saya hanya ingin kamu mengetahui seluruh kenyataan.”

Perlahan ia mendorong map itu ke hadapan Jihan.

“Saya tidak ingin kamu terus hidup dalam kebohongan.”

Jihan membuka map tersebut. Lembar pertama membuat napasnya tercekat. Buku nikah. Di bawahnya terdapat Kartu Keluarga. Lalu fotokopi akta kelahiran seorang anak laki-laki.

Tangannya mulai bergetar. “Lea, sudah menikah?”

Rani mengangguk pelan. “Sudah hampir sepuluh tahun. Dan dia memiliki seorang anak.”

Jihan menatap dokumen itu tanpa berkedip. Ia membalik lembar pertama, lalu kedua. Rani menggeser beberapa cetakan percakapan ke hadapannya.

“Ini sebagian percakapan yang pernah Lea kirimkan kepada saya. Dia sering menceritakan semua yang dilakukannya.”

Jihan mulai membacanya. Semakin lama wajahnya semakin pucat. Dari percakapan itu terlihat jelas bahwa Lea berkali-kali lebih dahulu menghubungi Firza.

Ia mengaku sedang sakit. Mengaku kesepian. Mengaku tidak memiliki siapa-siapa. Bahkan beberapa kali sengaja mengirim foto dan pesan bernada menggoda agar Firza tetap memberinya perhatian. Namun semakin mendekati hari pertunangan Firza dengan Jihan, isi percakapan mulai berubah.

Aku mau fokus sama perempuan yang akan jadi istriku.

Tolong jangan hubungi aku lagi.

Kita sudah selesai, Lea.

Tetapi Lea tidak pernah benar-benar berhenti. Ia berganti nomor telepon. Menghubungi Firza melalui media sosial. Bahkan membuat beberapa akun baru hanya agar pesannya tetap terbaca.

“Saya berkali-kali menyuruh Lea berhenti. Tapi dia tidak pernah mau. Dia selalu berkata Firza seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak rela melihat Firza hidup bahagia bersama perempuan lain.”

Rani menundukkan kepalanya. “Yang paling saya sesali. Lea memilih menghancurkan rumah tangga kalian. Ia sengaja mengaku masih lajang. Sengaja mengatakan Firza masih berhubungan dengannya setelah menikah. Padahal semua itu tidak benar.”

Jihan menyusun lembar-lembar itu di atas meja. Telepon pertama. Pesan-pesan. Foto lama. Pengakuan tentang kehamilan. Satu per satu, semuanya menemukan tempatnya.

Semuanya ternyata merupakan bagian dari kebohongan yang sengaja dirancang untuk menghancurkan kepercayaannya kepada Firza.

Rani menatap Jihan dengan mata yang memerah. “Aku tidak mengatakan Firza tidak bersalah. Ia tetap bersalah. Ia pernah menjalin hubungan dengan Lea. Ia juga salah karena tidak jujur kepadamu sejak awal. Namun setelah bertunangan denganmu, Firza benar-benar berkali-kali berusaha mengakhiri semuanya.”

Jihan menutup map itu. Tidak ada kelegaan yang datang. Hanya sebuah kejelasan yang selama ini ia cari.

Lea memang memanipulasi banyak hal. Ia berbohong tentang status pernikahannya. Berbohong tentang kehamilannya. Berbohong bahwa Firza masih menjalin hubungan dengannya setelah menikah.

Namun di sisi lain. Firza tetap bukan lelaki yang sepenuhnya benar. Ia pernah membuka ruang bagi Lea untuk masuk ke dalam hidupnya. Ia pernah memilih diam ketika seharusnya berkata jujur. Dan ketakutan kehilangan perempuan yang dicintainya perlahan berubah menjadi kebohongan yang meruntuhkan kepercayaan istrinya.

Jihan tidak mengusap air matanya kali ini. Ia membiarkannya jatuh. Anak itu tetap tidak akan kembali. Kepercayaannya juga belum pulih. Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berjalan di antara cerita yang saling bertentangan.

Bukan kebenaran yang dibentuk oleh kebohongan Lea. Dan bukan pula kebenaran yang selama ini disembunyikan Firza. Untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi. Jihan tidak lagi melihat dirinya sebagai korban dari satu orang.

Ia melihat dua kenyataan yang berjalan berdampingan. Seorang perempuan yang sengaja menghancurkan. Dan seorang suami yang pernah memilih menyembunyikan kebenaran.

Di antara keduanya. ia harus menentukan sendiri jalan yang akan dipilih untuk melanjutkan hidupnya.


Malam itu Jihan pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang, meski belum benar-benar damai. Tidak ada rasa lega. Tidak pula keinginan untuk segera memaafkan. Yang berubah hanyalah cara ia memandang semua yang telah terjadi.

Selama ini ia mengira Firza adalah lelaki yang dengan sengaja mempermainkan dua perempuan sekaligus. Kini ia memahami kenyataan yang jauh lebih rumit. Firza memang bersalah. Ia pernah membuka ruang bagi Lea, membiarkan hubungan yang keliru itu berlangsung lebih lama daripada seharusnya, dan terlalu takut berkata jujur sebelum semuanya terlambat.

Dari semua yang didengarnya, satu hal menjadi jelas bagi Jihan: setelah menikah, Firza tidak kembali kepada Lea. Kebohongan tentang hubungan yang masih berlanjut telah sengaja dipelihara untuk menghancurkan rumah tangga mereka.

Karena ketika ia tidak mampu memiliki Firza. ia memilih menghancurkan perempuan yang berhasil memilikinya.

***

Hari-hari berikutnya tetap berjalan. Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam. Luka yang begitu dalam tidak mungkin sembuh hanya karena satu penjelasan.

Begitu pula kepercayaan. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan pembuktian yang tidak sebentar.

Firza seolah memahami hal itu. Ia tidak lagi memaksa Jihan untuk memaafkannya. Tidak lagi mencari pembenaran. Tidak lagi mengulang permintaan maaf yang sama. Ia memilih memperbaiki semuanya melalui tindakan.

Firza mulai menutup semua pintu yang pernah ia biarkan terbuka. Nomor lama dihapus. Akun yang tidak lagi perlu dibersihkan. Ia tidak meminta Jihan menyaksikan semua itu; ia hanya melakukannya.

Bukan karena diminta. Melainkan karena ia sadar bahwa kepercayaan tidak mungkin tumbuh di atas bayang-bayang yang belum benar-benar diselesaikan. Firza juga mulai mengikuti konseling pernikahan. Bukan agar Jihan segera memaafkannya. Melainkan karena ia ingin memperbaiki dirinya sendiri.

Ia belajar menunggu ketika Jihan belum siap bicara. Tidak menyela. Tidak mencari alasan. Jika sebuah kesalahan pernah dibuat dalam satu keputusan, ia tahu memperbaikinya mungkin membutuhkan ribuan keputusan kecil setelahnya.

Hubungannya dengan keluarga Jihan pun semakin dekat. Ia sering menemani Ayah Jihan memperbaiki halaman rumah. Membantu Ibu Jihan berbelanja. Bukan untuk mengambil hati mereka. Melainkan karena ia ingin menunjukkan bahwa penyesalannya bukan sekadar kata-kata.

Sementara itu, Jihan mulai memperhatikan semua perubahan itu. Firza tidak pernah lagi berkata, “Percayalah kepadaku.”

Ia hanya hadir. Setiap hari. Tanpa banyak bicara. Kadang mereka duduk berdampingan di teras sambil menikmati secangkir kopi. Kadang berjalan sore tanpa tujuan. Kadang hanya memandangi hujan dari balik jendela.

Keheningan masih ada. Bedanya, kini mereka tidak buru-buru mengisinya. Ada ruang untuk bernapas, untuk mengingat, dan untuk membiarkan waktu melakukan bagian yang tidak bisa dilakukan oleh kata-kata.


Suatu sore, Jihan memasuki ruang kerjanya. Ruangan itu telah lama kehilangan kehidupan. Laptop masih berada di tempat semula. Tumpukan naskah tersusun rapi, seolah menunggu pemiliknya kembali.

Ia duduk perlahan. Membuka laptop yang telah berbulan-bulan tidak pernah dinyalakan. Layar menampilkan naskah terakhir yang ditulis sebelum hidupnya berubah. Kursor masih berkedip di akhir kalimat yang belum selesai.

Jihan menatap kursor yang berkedip. Jemarinya akhirnya bergerak. Satu kata muncul. Ia berhenti. Lalu menulis satu kalimat lagi. Kali ini ia tidak menghapusnya.

Ia menarik napas. Halaman itu belum penuh. Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang bergerak lagi di dalam dirinya.

Di ambang pintu, Firza berdiri diam. Ia melihat Jihan terus mengetik. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada ucapan selamat. Hanya suara papan ketik yang kembali terdengar setelah berbulan-bulan sunyi.

Bukan berarti ia sudah melupakan semuanya. Ia hanya mulai menemukan kembali bagian dirinya yang sempat hilang.

***

Beberapa tahun berlalu. Kehidupan mereka tidak kembali seperti semula; ia tumbuh menjadi sesuatu yang baru. Jihan menulis lagi. Ada hari-hari ketika masa lalu masih datang, tetapi kini ia tahu bagaimana menaruhnya tanpa membiarkannya menguasai seluruh hidup.

Setiap halaman yang ditulisnya menjadi saksi bahwa seseorang boleh hancur, tetapi tidak harus berhenti melangkah. Naskah demi naskah lahir dari tangannya.

Hingga suatu hari, novel pertamanya resmi diterbitkan. Pada acara peluncuran buku, Firza duduk di barisan paling depan. Tatapannya tak pernah lepas dari perempuan yang berdiri di atas panggung.

Perempuan yang pernah duduk berjam-jam di depan halaman kosong itu kini berdiri di atas panggung dengan bukunya sendiri di tangan.

Usai acara, Firza membeli satu eksemplar novel itu. Tangannya sedikit bergetar ketika membuka halaman persembahan.

Di sana tertulis,

Untuk seseorang yang pernah membuatku hancur. Dan memilih tetap tinggal ketika belajar memperbaiki semuanya.

Firza menutup buku itu perlahan. Ia tidak segera berkata apa-apa. Jihan datang dan duduk di sampingnya.

“Rumah tangga kita memang tidak sempurna.”

Firza mengangguk pelan.

“Dan mungkin tidak akan pernah sempurna.” Jihan menggenggam tangan suaminya. “Tapi kali ini, jangan ada lagi kebohongan.”

Firza membalas genggaman itu. “Insyaallah.”

Satu kata itu terdengar sederhana. Namun kali ini bukan lagi sebuah janji. Melainkan komitmen yang lahir dari penyesalan, kejujuran, dan perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama.

***

Beberapa waktu kemudian, Allah memberi Jihan dan Firza kesempatan untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci.

Di hadapan Ka'bah, Jihan mengangkat kedua tangan. Lama ia diam sebelum mulai berdoa. Di tempat itu, ia tidak lagi ingin menghitung siapa yang paling bersalah. Ia hanya ingin menyerahkan sesuatu yang selama bertahun-tahun dibawanya sendiri.

Ia memohon agar keluarganya selalu diberi kesehatan, keteguhan iman, dan keberkahan. Kemudian untuk terakhir kalinya. Jihan menyebut satu nama yang pernah memenuhi hidupnya dengan luka.

Lea.

Namun kali ini tidak ada lagi kebencian, juga tidak ada keinginan untuk membalas.

Yang tersisa hanyalah kepasrahan kepada Allah. Dengan suara lirih ia berdoa,

“Ya Allah. Engkau mengetahui semua yang pernah terjadi. Engkau mengetahui air mata yang tak pernah mampu hamba ceritakan kepada siapa pun. Jika ada hak hamba yang pernah dizalimi, maka hanya kepada-Mu hamba menyerahkannya. Engkaulah seadil-adilnya Hakim. Berilah setiap orang balasan sesuai amalnya. Dan tuntunlah kami agar tidak lagi menjadi penyebab luka bagi sesama.”

Jihan menurunkan tangannya. Ia masih mengingat semuanya. Tidak ada satu pun luka yang tiba-tiba hilang. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus membawa seluruh beban itu sendirian.

Ia memahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang sama. Ada orang yang cukup dilepaskan dari hati, lalu urusannya diserahkan kepada Allah. Ada kehilangan yang tidak bisa diganti, tetapi bisa diterima perlahan.

Dengan langkah tenang, Jihan meninggalkan pelataran Masjidil Haram. Di sampingnya, Firza berjalan dalam diam. Mereka saling menggenggam tangan. Bukan sebagai dua manusia yang memiliki kisah cinta sempurna. Melainkan sebagai dua insan yang pernah jatuh. Pernah kehilangan. Pernah saling melukai. Lalu memilih bertumbuh bersama.

Karena akhirnya mereka memahami: rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga yang tidak pernah terluka. Ia adalah rumah tangga yang, setelah badai berlalu, memilih membangun kembali dengan kejujuran, ikhtiar, dan Allah sebagai tempat kembali.

***

Beberapa kisah berakhir ketika dua tokohnya akhirnya saling memiliki. Namun kisah ini menemukan maknanya jauh setelah itu. Ketika mereka belajar bahwa cinta bukan hanya tentang bertahan.

Cinta juga tentang keberanian untuk jujur. Tentang kesediaan mengakui kesalahan. Tentang belajar memaafkan tanpa mengingkari luka. Dan tentang memahami bahwa tidak semua hal harus diselesaikan oleh manusia.

Ada luka yang harus diobati dengan waktu. Ada kehilangan yang hanya bisa diterima dengan ikhlas. Dan ada keadilan yang paling baik diserahkan kepada Allah.

Manusia hanya melihat bagian yang tampak. Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik setiap kesalahan, kehilangan, dan hati yang berusaha pulang.

Di hadapan Allah, luka itu akhirnya kuserahkan. Bukan karena semuanya telah kulupakan, melainkan karena aku memilih untuk tidak lagi menjadi tawanan masa lalu.

 

Tamat

 

Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar