Rumah tangga tidak selalu runtuh karena cinta telah hilang. Terkadang, cinta masih tinggal. Namun, kejujuran telah lebih dulu pergi.
Yang tersisa hanyalah dua
orang yang harus memutuskan: menyerah pada luka, atau perlahan menyusun kembali
kepercayaan yang pernah runtuh.
Ini bukan kisah tentang
seorang perempuan yang kalah oleh perempuan lain. Ini adalah kisah tentang
seseorang yang belajar bahwa memaafkan tidak berarti menghapus kesalahan atau
membebaskan seseorang dari konsekuensinya.
Sebab setiap perbuatan
memiliki pertanggungjawaban sendiri. Dan setiap luka, pada waktunya, akan
menemukan jalan menuju kesembuhan. Selama hati masih bersedia kembali,
berserah, dan pulang kepada Tuhan.
***
Festival Seni Sastra
Selaras akhirnya usai. Selama tiga hari, Gedung Selaras dipenuhi para penulis,
seniman, musisi, dan pencinta sastra dari berbagai kota.
Kini suasana itu surut.
Stand-stand pameran dibongkar satu per satu, spanduk diturunkan, dan suara
langkah para panitia perlahan menghilang dari lorong-lorong gedung. Di
Komunitas Pena Ajaib, beberapa meja masih dipenuhi naskah yang menunggu giliran
dibaca.
Sebagai editor sekaligus
salah satu pengurus komunitas, Jihan menjalani hari-harinya di antara naskah.
Pagi dihabiskannya di penerbit independen; menjelang sore, ia berpindah ke
sekretariat Pena Ajaib.
Menjelang sore, ia
melanjutkan aktivitas di sekretariat Pena Ajaib, tempat para penulis muda
berkumpul untuk berdiskusi, saling mengkritik karya, dan belajar bersama.
Di atas meja kerjanya
bertumpuk berbagai naskah yang menunggu untuk dibaca. Cerpen. Puisi. Novel.
Esai.
Setiap naskah harus dibaca
dengan teliti sebelum sampai kepada pembaca. Di meja Jihan, cerita-cerita itu
datang silih berganti. Ia menemukan kesedihan, kemarahan, dan harapan di antara
kalimat-kalimat yang ditulis orang lain. Mungkin itu sebabnya ia lebih mudah
memahami seseorang melalui tulisan daripada percakapan.
“Jihan.” Suara Diva
membuyarkan lamunannya. “Kamu tidak bosan dari tadi baca naskah terus?”
Jihan mengangkat wajah.
“Kalau aku bosan, siapa yang mau mengoreksi tulisan mereka?”
Diva mengembuskan napas
panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil di sudut ruangan. “Aku salut
sama kamu.”
Jihan tersenyum. “Kenapa?”
“Soalnya kamu masih bisa
nulis cerita cinta.” Diva tersenyum usil. “Padahal hidupmu sendiri isinya patah
hati.”
Jihan tersenyum kecil.
“Ternyata kamu baca semua ceritaku.”
“Jelas.” Diva menopang
dagunya. “Dan aku sadar satu hal.”
“Apa?”
“Hampir semua tokoh
perempuanmu selalu ditinggalkan.”
Senyum di wajah Jihan
perlahan memudar. Ia tidak segera menjawab. Diva tidak sepenuhnya salah.
Sebagian besar tokoh yang lahir dalam cerita-ceritanya memang merupakan
serpihan pengalaman yang selama ini ia simpan rapat.
Mungkin nama mereka
berbeda. Mungkin jalan hidup mereka tidak sepenuhnya sama. Namun rasa kehilangan,
penantian, dan harapan yang tertulis di setiap halaman selalu berasal dari
tempat yang sama.
Dari hati Jihan sendiri.
***
Bryan bukan lelaki pertama
yang hadir dalam kehidupan Jihan. Sebelumnya, ada hubungan yang kandas karena
jarak, ada yang berakhir karena seseorang memilih perempuan lain, dan ada pula
yang berhenti tanpa penjelasan. Lama-lama, Jihan belajar tidak menanyakan
alasan kepada orang yang sudah memilih pergi.
Setiap kali Jihan mulai
percaya kepada seseorang, selalu ada keadaan yang membuat hubungan itu
berakhir. Lambat laun, ia mulai terbiasa dengan perpisahan.
Lalu Bryan datang. Ia
bukan lelaki yang pandai merangkai janji. Ia hanya hadir—menemani hari-hari
yang biasa, mendengarkan ketika Jihan ingin bercerita, dan tidak banyak bertanya
ketika Jihan memilih diam.
Ia menemani Jihan melewati
hari-hari yang sederhana. Mendengarkan setiap keluh kesahnya. Mendukung
mimpi-mimpinya. Dan tanpa disadari, perlahan mengembalikan kepercayaan yang
sempat hilang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jihan mulai percaya.
Mungkin kali ini ia tidak akan ditinggalkan.
Namun takdir kembali
memiliki rencana yang berbeda. Suatu sore, Bryan datang ke rumah Jihan. Mereka
duduk berdampingan di teras, di atas dua bangku besi bercat putih yang selama
ini menjadi saksi begitu banyak percakapan. Bryan menundukkan kepala cukup
lama. Seolah mencari keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang telah lama ia
simpan.
“Aku harus pindah ke
Cilacap.”
Jihan menoleh. “Kenapa?”
“Ayah sudah tidak sanggup
mengurus usaha sendirian.”
Jihan terdiam. Begitu
banyak kalimat ingin keluar dari bibirnya. Meminta Bryan bertahan.
Meyakinkannya bahwa mereka masih bisa mencari jalan lain. Namun ia sadar, tidak
semua orang memiliki pilihan.
Bryan menatap Jihan dengan
sorot mata penuh penyesalan. “Aku datang buat pamit.”
Jihan menunduk. Jemarinya
berhenti memainkan ujung lengan bajunya. Bryan menarik napas sebelum
melanjutkan.
“Dan. kurasa kita
sebaiknya mengakhiri hubungan ini.”
Jihan menundukkan kepala.
Tak ada pertengkaran. Tak ada orang ketiga. Tak ada kebencian. Yang ada
hanyalah keadaan yang memaksa dua orang saling melepaskan.
“Maaf.” Hanya satu kata
itu yang mampu diucapkan Bryan.
Jihan tidak berusaha
menahannya. Ia hanya memandangi langkah Bryan yang semakin menjauh hingga menghilang
di ujung jalan.
Sore itu langit berubah
jingga. Bryan berjalan menuju ujung jalan tanpa sekali pun menoleh. Jihan tetap
berdiri di teras sampai sosoknya hilang di balik tikungan. Baru setelah itu ia
masuk ke rumah dan menutup pintu perlahan.
Sejak hari itu, bangku
besi di teras rumah terasa berbeda. Jihan masih duduk di sana sesekali, tetapi
tidak pernah lagi menunggu langkah Bryan muncul dari ujung jalan.
***
Waktu berjalan. Nama Bryan
semakin jarang muncul dalam percakapan, lalu perlahan berhenti muncul sama
sekali. Jihan mengisi hari-harinya dengan naskah, rapat komunitas, dan
halaman-halaman yang belum selesai ditulis. Tidak semua kehilangan harus
dikejar jawabannya.
Kesibukan itu perlahan
mengajarkannya bahwa tidak setiap kehilangan harus disesali. Ada perpisahan
yang, meski menyakitkan, justru mengantar seseorang menemukan jalan hidup yang
baru.
Suatu sore, setelah
menyelesaikan penyuntingan naskah terakhir, Jihan menutup laptopnya sambil
meregangkan tubuh. Ia meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping meja.
Dua notifikasi dari media
sosial memenuhi layar. Pengirimnya adalah seseorang yang sama sekali tidak
dikenalnya. Jihan sempat ragu. Ia bukan tipe orang yang mudah membuka
percakapan dengan orang asing. Namun entah mengapa, sore itu jemarinya memilih
menekan tombol buka.
Ia belum tahu. Balasan
sederhana yang dikirim hari itu akan menjadi awal dari kisah yang mengubah
seluruh jalan hidupnya. Nama pengirim pesan itu hanya satu. Firza.
π¨ Suka naik gunung?
Jihan mengernyit kecil.
Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana, tetapi cukup membuat rasa
penasarannya terusik.
Ia membuka profil Firza.
Berandanya dipenuhi foto-foto pegunungan. Hamparan awan putih yang menggantung
di atas puncak. Langit jingga menjelang matahari terbit. Tenda yang berdiri di
tengah padang rumput. Sesekali tampak secangkir kopi di atas batu dengan latar
lembah yang diselimuti kabut.
Jihan tersenyum tipis.
Rupanya Firza menyadari bahwa beberapa kali ia memberi tanda suka pada
unggahan-unggahannya.
Setelah berpikir beberapa
saat, Jihan mulai mengetik.
π¨ Aku suka. Meski belum pernah mendaki gunung.
Balasan datang kurang dari
semenit.
π¨ Berarti kita punya hobi yang sama.
Jihan terkekeh pelan.
π¨Sepertinya tidak juga. Aku lebih suka
menikmati fotonya daripada benar-benar mendaki.
Tak lama kemudian muncul
emoji tertawa.
π¨Kalau begitu, suatu hari nanti aku yang akan
menunjukkan pemandangannya secara langsung.
Jihan hanya menggeleng
sambil tersenyum. Kalimat itu terdengar seperti candaan. Namun entah mengapa,
percakapan dengan lelaki asing itu terasa begitu ringan. Tidak ada rayuan,
tidak ada kata-kata berlebihan. Hanya percakapan sederhana yang membuat sore
terasa lebih singkat.
Mereka hanya berbicara
tentang hal-hal sederhana. Tentang gunung-gunung yang ingin dikunjungi. Tentang
kamera yang mampu mengabadikan matahari terbit. Tentang kopi yang lebih nikmat
diminum di udara dingin. Dan tentang perjalanan yang, menurut Firza, selalu
menyimpan cerita di setiap langkahnya.
Hari-hari berikutnya, nama
Firza semakin sering muncul di layar ponsel Jihan. Hampir setiap pagi, lelaki
itu mengirim ucapan selamat pagi. Menjelang sore, ia membagikan foto langit
yang sedang berubah warna. Sesekali ia mengirim foto secangkir kopi hangat
sambil bertanya,
Hari ini
lagi menyunting naskah atau menulis cerita baru?
Jihan memang tidak pandai
memulai percakapan. Ia lebih sering menjadi pendengar daripada pembicara. Namun
anehnya, setiap kali Firza menghubunginya, selalu ada saja hal yang membuat
obrolan mereka bertahan hingga larut malam.
Perbedaan itu justru
membuat percakapan mereka mengalir. Firza mudah bercerita; Jihan lebih suka
mendengarkan. Ketika Firza berhenti untuk mencari topik baru, Jihan biasanya
sudah menemukan satu pertanyaan kecil yang membuat percakapan berlanjut.
Ia lebih banyak
mendengarkan. Namun ketika berbicara, selalu ada ketulusan yang membuat Firza
merasa nyaman. Tanpa mereka sadari, percakapan yang semula hanya berawal dari
sebuah foto gunung perlahan berubah menjadi kebiasaan yang selalu mereka
nantikan setiap hari.
***
Hampir dua minggu setelah
saling berkirim pesan, sebuah panggilan video tiba-tiba muncul di layar ponsel
Jihan.
Firza menelepon.
Jihan memandangi layar itu
beberapa saat. Ragu. Mereka bahkan belum pernah bertemu. Haruskah ia mengangkat
panggilan dari seseorang yang baru dikenalnya lewat media sosial?
Belum sempat mengambil
keputusan, panggilan itu terputus. Beberapa detik kemudian muncul sebuah pesan.
Maaf,
kepencet.
Jihan tersenyum kecil.
Namun tak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Nama yang sama kembali
muncul. Kali ini disertai pesan lain.
Kalau
keberatan, enggak usah diangkat. Aku cuma penasaran seperti apa wajah dan suara
penulis yang ceritanya sering bikin orang ikut hanyut.
Entah mengapa, kalimat itu
membuat Jihan merasa tenang. Perlahan ia menekan tombol terima.
“Halo.” Suara Firza
terdengar pelan. Sama gugupnya.
“Halo.”
Beberapa detik pertama
dipenuhi keheningan. Lalu Firza tertawa kecil.
“Ternyata kamu persis
seperti yang kubayangkan.”
“Memangnya seperti apa?”
“Tenang.” Firza tersenyum.
“tapi kelihatannya menyimpan banyak
cerita.”
Jihan ikut tersenyum.
Malam itu mereka berbicara hampir satu jam. Tentang pekerjaan. Tentang
buku-buku yang sedang dibaca. Tentang gunung yang ingin didaki. Tentang
mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan.
Tanpa disadari, panggilan
sederhana itu menjadi awal kedekatan yang perlahan mengubah hidup mereka.
***
Hampir tiga bulan berlalu
sejak percakapan pertama. Pesan-pesan yang semula hanya membahas gunung,
fotografi, dan perjalanan kini berubah menjadi cerita tentang keseharian.
Firza hampir selalu
menghubungi Jihan sepulang kerja. Sementara Jihan biasanya membalas setelah
menyelesaikan pekerjaannya sebagai editor dan aktivitas di Komunitas Pena
Ajaib.
Mereka mulai terbiasa
saling mengirim foto. Firza mengirim pemandangan kota yang ia lewati. Jihan
membalas dengan foto tumpukan naskah di atas meja kerjanya. Meski belum pernah
bertemu secara langsung, keduanya merasa seolah telah saling mengenal sejak
lama.
Suatu malam, saat mereka kembali
melakukan panggilan video, Firza berkata pelan, “Aku ingin ke Bandung.”
Jihan mengangkat wajah.
“Untuk mendaki?”
Firza menggeleng sambil
tersenyum. “Bukan.”
“Lalu?”
“Aku ingin bertemu kamu.”
Jihan terdiam. “Serius?”
“Iya.” Firza mengangguk
mantap. “Kalau kita memang ingin saling mengenal lebih jauh, rasanya tidak
cukup cuma lewat layar ponsel.”
Jihan terdiam cukup lama.
Jarinya berhenti di atas layar ponsel. Ia membaca kalimat itu sekali lagi
sebelum tersenyum sendiri.
Firza tersenyum hangat.
“Aku ingin memastikan kalau perempuan yang selama ini menemaniku bercerita
benar-benar ada.”
Seminggu kemudian. Firza
benar-benar datang ke Bandung. Karena sedang libur, Jihan menunggunya di sebuah
halte yang tak jauh dari rumah.
Sejak tadi ia berkali-kali
melirik jam tangan. Sesekali ia merapikan rambutnya sendiri. Gugup. Penasaran.
Dan sedikit takut jika kenyataan tak seindah bayangannya.
Tak lama kemudian, sebuah
bus berhenti di depan halte. Seorang lelaki bertubuh tinggi turun sambil
membawa ransel merah di punggungnya. Ia mengenakan jaket biru tua dan celana
jins sederhana.
Tatapannya langsung
menemukan sosok Jihan. Senyumnya mengembang. “Jihan?”
Jihan berdiri perlahan.
“Firza?”
Untuk beberapa detik
mereka hanya saling memandang. Lalu Firza mengulurkan tangan.
“Akhirnya kita benar-benar
bertemu.”
Jihan menyambut tangannya.
Anehnya, ia tidak lagi memikirkan bagaimana seharusnya bersikap. Beberapa menit
kemudian mereka sudah berjalan sambil membicarakan perjalanan Firza, seolah
percakapan di layar ponsel tadi belum pernah berhenti.
Setelah berbincang
sebentar, mereka menuju rumah Jihan. Ayah dan Ibu Jihan menyambut Firza dengan
hangat. Firza menyerahkan buah tangan khas daerah asalnya sebagai tanda hormat.
“Silakan masuk, Nak,” ujar
Ayah Jihan sambil mempersilahkannya duduk.
“Terima kasih, Pak.”
Suasana ruang tamu
perlahan mencair. Firza banyak menceritakan dirinya. Sebaliknya, ia juga lebih
sering mendengarkan. Jika ditanya, ia menjawab dengan tenang, sopan, dan penuh
rasa hormat.
“Jauh-jauh datang ke
Bandung pasti capek,” kata Ayah Jihan. “Istirahat dulu saja.”
Firza tersenyum. “Terima
kasih, Pak.” Ia menoleh sekilas kepada Jihan sebelum kembali berkata, “Saya
sudah diizinkan untuk menginap semalam di sini. Saya ingin bersilaturahmi
sekaligus mengenal Bapak dan Ibu lebih dekat, kalau memang tidak merepotkan.”
Ayah dan Ibu Jihan saling
berpandangan. Kemudian tersenyum.
“Tidak merepotkan sama
sekali. Anggap saja rumah sendiri.”
“Terima kasih banyak, Bu.”
Malam itu, piring-piring
bergeser dari satu tangan ke tangan lain. Ayah Jihan beberapa kali bertanya
tentang perjalanan Firza, sementara Ibu Jihan menambahkan lauk ke piring
tamunya. Ketika makan malam selesai, tidak ada lagi jarak yang terasa di antara
mereka.
Setelah suasana rumah
mulai tenang, Firza mengajak Jihan duduk di teras. Angin malam berembus pelan.
“Ternyata kamu lebih
pendiam dibanding waktu video call.”
Jihan tersenyum. “Dan kamu
ternyata memang lebih banyak bicara.”
Firza tertawa. “Syukurlah.
Berarti aku tidak mengecewakan.”
Firza selalu menemukan
sesuatu untuk dibicarakan. Jihan lebih banyak mendengarkan, sesekali tertawa
ketika cerita lelaki itu mulai melebar ke mana-mana. Malam semakin larut. Tidak
satu pun dari mereka terburu-buru mengakhiri percakapan.
Ia belum tahu bahwa lelaki
di hadapannya menyimpan sebuah rahasia. Rahasia yang kelak menguji cinta,
kejujuran, dan pengampunan mereka.
***
Sejak pertemuan itu,
hubungan Jihan dan Firza semakin dekat. Bagi Jihan, kedekatan itu terasa
berbeda dari hubungan-hubungan sebelumnya. Firza tidak sekadar hadir ketika ia
sedang bahagia; lelaki itu juga bersedia mendengarkan ketika Jihan sedang lelah
dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Jihan mulai membayangkan
masa depan. Firza pun mulai berbicara tentang hal yang sama. Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga. Dan tentang keinginannya membangun rumah tangga suatu hari
nanti.
Jihan mulai membiarkan
Firza masuk lebih jauh ke dalam hidupnya. Ia tidak lagi memeriksa ulang setiap
janji atau mencari alasan untuk menjaga jarak. Hanya ada beberapa hal kecil
yang sesekali membuatnya berhenti sejenak.
Kadang Firza menghilang
selama berjam-jam. Pesan yang dikirim Jihan hanya terbaca, sementara
panggilannya tidak diangkat. Panggilan telepon tak pernah diangkat. Ketika
akhirnya menghubungi kembali, Firza selalu memiliki penjelasan.
“Maaf, tadi rapat sampai
malam.” Atau, “Ponselku kehabisan baterai.” Kadang ia berkata, “Aku lagi
nemenin teman.” Semua alasan itu terdengar masuk akal.
Jihan tidak pernah
memaksanya menjelaskan lebih jauh. Baginya, setiap orang berhak memiliki
kesibukan dan ruang pribadinya sendiri. Ia memilih percaya. Tanpa disadari,
kepercayaan itu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Pada saat yang sama, di
kota lain, ponsel Firza berdering. Nama yang muncul di layar membuat tangannya
berhenti di udara sejenak.
Nama Lea muncul di layar.
Firza memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menerima panggilan itu.
“Kenapa baru diangkat?”
Suara Lea terdengar kesal.
“Aku lagi sibuk.”
“Kamu selalu sibuk.”
Firza mengembuskan napas
pelan. “Ada apa?”
Lea tertawa kecil. “Aku
cuma kangen.”
Firza memilih diam.
Hubungan mereka sebenarnya telah lama berubah. Saat pertama mengenal Lea, Firza
percaya bahwa perempuan itu adalah sosok yang masih sendiri.
Mereka sempat dekat.
Sering berbagi cerita tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan. Namun,
seiring berjalannya waktu, kedekatan itu mulai berubah menjadi sesuatu yang
membuat Firza merasa tidak nyaman.
Lea menjadi semakin
posesif. Ia menghubungi Firza hampir setiap hari. Bukan hanya melalui pesan.
Tetapi juga panggilan video hingga larut malam. Sesekali ia mengirim swafoto
sambil meminta pendapat. Tak jarang pula ia melontarkan kalimat-kalimat yang
bernada menggoda.
Firza perlahan mulai
menjaga jarak. Ia telah bertekad menjalani hubungan yang serius dengan Jihan. Baginya,
apa pun yang berasal dari masa lalu harus benar-benar berakhir. Namun,
kenyataannya tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Semakin Firza menjauh,
semakin keras Lea berusaha mendekat. Firza mulai jarang membalas pesan.
Kalaupun menjawab, hanya seperlunya. Ia berharap sikap dinginnya cukup menjadi
isyarat bahwa semuanya telah selesai.
Sayangnya. Lea justru
menolak memahami isyarat itu.
***
Suatu malam, ponsel Firza
kembali bergetar. Nama Lea muncul di layar. Firza membuka pesan itu dengan
perasaan tak tenang.
Lea: Kamu berubah sejak
kenal Jihan.
Firza tidak langsung
membalas. Beberapa detik kemudian, pesan lain kembali masuk.
Lea: Jangan pura-pura lupa
sama semua yang pernah terjadi di antara kita.
Firza menarik napas
panjang sebelum akhirnya mengetik.
Firza: Hubungan kita
seharusnya sudah selesai.
Tak lama kemudian,
panggilan masuk. Firza sempat membiarkannya berdering. Namun ia tahu, jika
panggilan itu diabaikan, Lea akan terus menghubunginya. Dengan berat hati, ia
mengangkat telepon.
“Apa lagi, Lea?”
Suara perempuan itu
terdengar tenang. “Kamu benar-benar mau menikahi Jihan?”
“Iya.”
“Kamu yakin?”
“Aku sudah menentukan
pilihanku.”
Beberapa detik hanya diisi
keheningan. Lalu Lea tertawa pelan. “Ternyata kamu tega juga ninggalin aku.”
Firza memejamkan mata.
“Aku tidak pernah menjanjikan apa pun.”
“Tapi kamu pernah bilang
nyaman sama aku.”
“Itu dulu.” Suara Firza
terdengar lelah. “Sekarang semuanya sudah berbeda.”
Nada bicara Lea perlahan
berubah. “Dengar baik-baik, Firza. Kalau aku tidak bisa memilikimu. Jihan juga
tidak akan hidup setenang yang kamu bayangkan.”
Firza langsung menegakkan
tubuh. “Maksudmu apa?”
Lea kembali tertawa. “Aku
masih simpan semua rahasia kita. Semua kenangan kita.”
Wajah Firza seketika
memucat. “Lea. jangan lakukan itu.”
“Kenapa?” Lea tersenyum
sinis di balik telepon. “Kamu takut Jihan tahu siapa dirimu yang sebenarnya?”
Firza menggenggam
ponselnya semakin erat. “Aku cuma ingin mengakhiri semuanya dengan baik.”
“Terlambat.” Suara Lea
kini terdengar dingin. “Aku sudah terlalu jauh mempertahankanmu untuk menyerah
begitu saja.”
Sambungan terputus. Layar
ponsel kembali gelap. Firza tidak langsung meletakkannya. Ibu jarinya masih
berada di atas nama Lea, seolah satu sentuhan saja bisa mengubah sesuatu yang
sudah terlanjur terjadi.
Lea tidak berhenti pada
ancaman. Diam-diam, ia mulai mencari tahu kehidupan Jihan. Media sosialnya.
Tempatnya bekerja. Komunitas yang diikutinya. Bahkan lingkungan keluarganya.
Semakin banyak informasi
yang ia kumpulkan, semakin besar keinginannya untuk menghancurkan hubungan
mereka.
Hingga akhirnya Lea
menyusun rencana yang jauh lebih berani. Ia meminta seorang kenalannya bernama
Rani berpura-pura menjadi kakaknya. Bersama perempuan itu, Lea mendatangi rumah
orang tua Firza.
Di hadapan keluarga Firza,
ia menampilkan diri sebagai perempuan yang merasa dikhianati. Dengan tenang ia
mengaku pernah memiliki hubungan yang serius dengan Firza. Bahkan ia mengatakan
bahwa keluarganya telah mengetahui hubungan itu sejak lama.
Lea menyampaikan semuanya
tanpa ragu. Ia tidak perlu meninggikan suara. Justru ketenangannya membuat
kebohongan itu terdengar meyakinkan bagi orang yang belum mengetahui ceritanya.
Lea berharap keluarga
Firza mulai meragukan hubungan putra mereka dengan Jihan. Baginya, jika restu
keluarga goyah, rencana pernikahan itu akan memiliki celah untuk runtuh. Ia
tahu, semakin banyak orang yang meragukan Jihan, semakin mudah ia membuat
kebohongannya terdengar seperti kebenaran.
Beruntung, keluarga Firza
tidak langsung mempercayai semua ucapannya. Mereka memilih meminta penjelasan
langsung kepada Firza. Namun sejak hari itu, Firza sadar. Lea tidak lagi
sekadar ingin mempertahankan masa lalu. Perempuan itu kini berusaha
menghancurkan masa depan yang sedang ia bangun.
Sementara itu, Jihan masih
menyusun rencana pernikahan, memilih kain, memeriksa daftar tamu, dan sesekali
tersenyum ketika Firza mengirim pesan. Tidak satu pun dari rutinitas itu
memberitahunya bahwa ada sesuatu yang sedang bergerak di belakangnya.
Ia sama sekali tidak
mengetahui bahwa, di balik hubungan yang tampak baik-baik saja, seseorang
sedang berusaha meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja ia bangun.
Di sisi lain, Firza hidup
dalam dua ketakutan. Takut kehilangan Jihan. Dan lebih takut lagi jika seluruh
rahasia yang selama ini ia pendam terbongkar sebelum ia sempat mengatakannya
sendiri. Namun waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Semakin lama ia menunda
kejujuran. Semakin dekat pula saat ketika kebenaran akan datang bukan dari
mulutnya, melainkan dari orang yang ingin menghancurkan segalanya.
***
Beberapa bulan setelah
pertemuan pertama mereka di Bandung, hubungan Jihan dan Firza berkembang
semakin serius. Jarak tak lagi menjadi penghalang. Mereka mulai saling mengenal
lebih dalam—keluarga, kebiasaan, hingga impian yang ingin diwujudkan bersama.
Firza semakin sering
datang ke Bandung. Bukan lagi sekadar melepas rindu, melainkan untuk meyakinkan
kedua orang tua Jihan bahwa niatnya benar-benar tulus.
Suatu sore, Firza
menelepon Jihan. “Aku akan datang akhir pekan ini.”
Jihan tersenyum.
“Sendirian?”
Firza sengaja menggantung
jawabannya beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Tidak. Aku datang bersama
keluargaku.”
Jantung Jihan berdegup
lebih cepat. “Maksudmu.?”
Firza tersenyum. “Aku
ingin meminta izin kepada Ayah dan Ibumu.”
Hari yang dinantikan
akhirnya tiba. Rumah Jihan tampak lebih ramai daripada biasanya. Ibunya sibuk
menyiapkan hidangan, sementara Ayah beberapa kali keluar rumah memastikan para
tamu tidak kesulitan menemukan alamat.
Di kamar, Jihan duduk di
tepi ranjang. Ia menatap kedua tangannya sendiri, lalu meremas ujung selimut.
Dari ruang depan terdengar suara keluarga yang sedang berbincang.
“Sudah siap?” tanya Ibunya
sambil tersenyum hangat.
Jihan mengangguk pelan,
meski gugup masih jelas tergambar di wajahnya.
Tak lama kemudian
terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Firza datang bersama kedua
orang tuanya serta beberapa anggota keluarga. Mereka membawa buah tangan dan
seserahan sederhana sebagai bentuk penghormatan.
Suasana ruang tamu segera
dipenuhi sapaan hangat. Perkenalan berlangsung akrab. Ayah Jihan memperhatikan
Firza yang duduk tegak dengan sikap sopan. Ia tidak banyak berbicara, tetapi
setiap pertanyaan dijawab dengan tenang dan penuh hormat.
Beberapa saat kemudian,
Ayah Firza membuka pembicaraan. “Kedatangan kami hari ini membawa satu tujuan.”
Beliau menoleh kepada
Jihan, lalu kembali memandang kedua orang tuanya. “Jika Bapak dan Ibu berkenan,
kami ingin meminang putri Bapak untuk menjadi bagian dari keluarga kami.”
Ruangan seketika hening.
Jihan menundukkan kepala. Pipi gadis itu memerah. Jemarinya saling menggenggam
di atas pangkuan.
Ayah Jihan tersenyum
hangat. Beliau melirik putrinya sejenak sebelum menjawab, “Kalau memang itu
yang terbaik untuk mereka berdua, insyaallah kami merestuinya.”
Ucapan itu disambut senyum
lega dari kedua keluarga. Firza menatap Jihan. Tatapan mereka bertemu. Tidak
ada kata-kata yang terucap. Namun senyum kecil di wajah keduanya telah mewakili
seluruh rasa syukur yang memenuhi hati.
Tak seorang pun menyadari
bahwa kebahagiaan yang baru saja dimulai suatu hari nanti akan diuji oleh masa
lalu yang belum benar-benar selesai.
Malam itu, setelah rumah
kembali sepi, Jihan masih duduk di teras. Gelas teh di sampingnya sudah dingin.
Ponselnya menyala ketika pesan dari Firza masuk.
Angin malam berembus
pelan. Langit dipenuhi bintang. Suasana yang tenang membuatnya kembali
mengingat perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
Ponselnya bergetar.
Firza: Terima kasih sudah
mempercayaiku.
Senyum tipis menghiasi wajah
Jihan.
Jihan: Terima kasih sudah
datang dengan cara yang paling baik.
Tak lama kemudian balasan
kembali masuk.
Firza: Aku akan menjagamu
seumur hidup.
Jihan membaca kalimat itu
dua kali. Lalu ia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di samping gelas
teh. Untuk beberapa saat ia hanya duduk memandangi halaman rumah.
Ia tidak tahu apa yang
akan terjadi setelah malam itu. Untuk pertama kalinya, ketidakpastian tidak
terasa menakutkan. Ia hanya ingin menikmati satu malam ketika semuanya tampak
sederhana.
Tanpa disadari, malam itu
Jihan menutup lembar terakhir masa lalunya. Dan bersiap membuka babak baru yang
diyakininya akan dipenuhi kebahagiaan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa
seseorang di luar sana sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan semua
keyakinan itu.
***
Beberapa bulan kemudian,
hari yang dinantikan akhirnya tiba. Sejak pagi rumah Jihan telah dipenuhi
keluarga dan kerabat. Sebagai anak perempuan pertama, hari pernikahannya
dipersiapkan dengan penuh kasih sayang.
Ibunya memastikan setiap
detail berjalan sebagaimana mestinya. Ayah sibuk menyambut tamu yang terus
berdatangan. Doa, tawa, dan haru memenuhi setiap sudut rumah.
Di depan cermin, Jihan
merapikan ujung kerudungnya. Gaun putih gading itu jatuh rapi hingga ke lantai.
Ia menyentuh cincin yang masih berada di kotaknya, lalu menarik napas pelan
ketika suara keluarga terdengar dari luar kamar.
Pintu kamar terbuka
perlahan. Ibunya menghampiri sambil tersenyum hangat. Beliau membelai rambut
putrinya dengan lembut.
“Anak Ibu sudah benar-benar
dewasa.”
Jihan menatap ibunya
melalui cermin. Sesaat ia tidak mampu menjawab. Ia bangkit, lalu memeluk
perempuan yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
“Terima kasih, Bu. sudah
selalu menemani Jihan sampai hari ini.”
Ibunya mengusap punggung
putrinya perlahan. “Mulai hari ini, ada seseorang yang akan menjagamu
menggantikan Ayah dan Ibu.”
Jihan mengangguk. Ia
mengusap sudut matanya sebelum tersenyum kepada ibunya.
Akad nikah berlangsung
dengan khidmat. Firza mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas. Suara
“sah” yang menggema dari para saksi disambut ucapan syukur dan isak haru para
tamu undangan.
Firza menundukkan kepala
setelah ijab kabul dinyatakan sah. Ia menarik napas panjang, lalu menggenggam
tangan Jihan untuk pertama kalinya sebagai suaminya.
Setelah akad selesai,
resepsi berlangsung hangat. Tawa keluarga, doa para sahabat, dan senyum kedua
mempelai memenuhi ruangan. Hari itu menjadi salah satu hari paling bahagia
dalam hidup mereka.
Beberapa hari setelah
resmi menjadi suami istri, Jihan dan Firza menempati rumah sederhana yang telah
mereka siapkan bersama. Rumah itu tidak besar. Hanya memiliki dua kamar, ruang
tamu mungil, dan dapur yang menyatu dengan ruang makan. Namun bagi mereka,
rumah itu sudah lebih dari cukup untuk memulai kehidupan baru.
Hari-hari pertama dipenuhi
berbagai penyesuaian. Jihan belajar memasak makanan kesukaan Firza. Sesekali
masakannya terlalu asin. Kadang pula nasi yang dimasaknya terlalu lembek. Namun
Firza tidak pernah mengeluh.
Ia selalu menghabiskan
makanan di piringnya sambil tersenyum. “Kalau begini terus, aku bisa cepat
gemuk.”
Jihan memukul pelan lengan
suaminya. “Itu sindiran atau pujian?”
Firza tertawa kecil.
“Pujian. Soalnya setiap pulang kerja, aku selalu ingin cepat sampai rumah.”
“Kenapa?”
Firza menatap istrinya
sambil tersenyum lembut. “Karena ada kamu.”
Pipi Jihan langsung
memerah. Firza memang bukan lelaki yang pandai merangkai kata-kata romantis.
Namun kalimat-kalimat sederhananya selalu berhasil membuat hati Jihan menghangat.
Mereka mulai terbiasa
berbagi tugas. Firza menyapu lantai sebelum berangkat bekerja. Jihan
membereskan dapur. Pada akhir pekan Firza pergi ke pasar, lalu sesekali membawa
pulang bunga kecil untuk diletakkan di ruang tamu.
Malam hari menjadi waktu
favorit mereka. Mereka duduk di teras ditemani secangkir kopi hangat. Firza
bercerita tentang pekerjaannya. Jihan membacakan naskah yang baru selesai
ditulisnya. Firza selalu menjadi pembaca pertama.
“Aku bangga punya istri
yang tidak pernah berhenti bermimpi.”
Ucapan sederhana itu
membuat Jihan merasa seluruh perjuangannya selama ini dihargai. Untuk pertama
kalinya. Ia benar-benar merasa memiliki rumah.
***
Hari-hari berlalu dengan
tenang. Rumah kecil itu semakin dipenuhi tawa. Sesekali mereka berbeda pendapat,
tetapi tidak pernah berlarut-larut. Salah satu akan lebih dulu mengalah.
Kemudian saling meminta maaf.
Firza tampak berubah. Ia
lebih sabar. Lebih perhatian. Dan selalu berusaha menjadi suami yang pantas
dipercaya.
Sedikit demi sedikit,
keraguan yang dulu pernah muncul di hati Jihan mulai menghilang. Jika ada orang
yang melihat kehidupan mereka dari luar, tak seorang pun akan menyangka bahwa
rumah tangga itu pernah dibangun di atas masa lalu yang belum sepenuhnya
selesai.
Seolah-olah Firza benar-benar
telah meninggalkan semua kesalahannya. Namun, jauh dari rumah kecil itu,
seseorang masih belum menerima kenyataan.
Lea.
Perempuan itu menatap foto
pernikahan Jihan dan Firza yang diunggah salah seorang kerabat di media sosial.
Tatapannya tak bergeser sedikit pun. Jemarinya menggenggam ponsel semakin erat.
Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
“Jadi. kalian benar-benar
menikah.”
Lea mengusap perlahan
layar ponselnya, tepat pada wajah Firza yang tersenyum di foto pernikahan.
“Aku sudah bilang aku
tidak akan menyerah semudah itu.”
Ia mematikan layar
ponselnya. Tatapannya kosong. Namun, di balik ketenangan itu, sebuah rencana
perlahan mulai disusun. Baginya, pernikahan Firza dan Jihan bukanlah akhir dari
segalanya. Melainkan awal dari permainan yang baru.
***
Satu bulan setelah
pernikahan, Jihan mengetahui bahwa dirinya hamil. Kabar itu membawa kebahagiaan
bagi kedua keluarga. Firza tampak begitu menjaga istrinya. Ia melarang Jihan
mengangkat barang-barang berat, selalu mengingatkan waktu makan, bahkan hampir
setiap siang menelepon hanya untuk memastikan kondisi Jihan dan calon bayi
mereka baik-baik saja.
Perhatian-perhatian kecil
itu membuat Jihan semakin yakin bahwa ia telah memilih lelaki yang tepat.
Siang itu Firza sedang berada
di luar kota karena urusan pekerjaan. Jihan menghabiskan waktu sendirian di
rumah ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nomor yang muncul tidak dikenalnya.
Ia ragu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Halo?” Suara seorang
perempuan terdengar dari seberang telepon. “Maaf. apakah ini benar nomor
Jihan?”
“Iya, benar. Dengan siapa,
ya?”
Perempuan itu terdiam
beberapa detik sebelum menjawab.
“Namaku Lea.”
Nama itu terdengar asing
di telinga Jihan.
“Maaf, Mbak Lea. Ada yang
bisa saya bantu?”
Terdengar helaan napas
pelan. “Sebenarnya aku menghubungimu karena ada urusan yang belum selesai
dengan Firza.”
Jihan mulai memusatkan
perhatian. “Urusan apa?”
“Hanya soal uang.”
“Uang?”
“Iya.” Lea tertawa kecil.
“Dulu Firza pernah meminjam uang dariku. Nilainya memang tidak besar. Hanya
satu juta rupiah.”
Jihan tampak terkejut.
“Maaf. saya benar-benar tidak tahu.”
“Tidak apa-apa.” Nada
suara Lea tetap tenang. “Mungkin dia memang belum sempat menceritakannya.”
Beberapa detik hanya diisi
keheningan. Kemudian Lea kembali berkata, “Mas Firza memang kadang begitu.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cara Lea mengucapkannya terdengar begitu akrab. Seolah-olah ia mengenal
Firza jauh lebih lama daripada Jihan. Perasaan tidak nyaman mulai muncul. Jihan
mencoba menepisnya. Mungkin perempuan itu memang hanya teman lama suaminya.
Sejak percakapan itu,
Jihan mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Beberapa detik hanya
terdengar suara napas dari seberang telepon. Kemudian Lea kembali berbicara.
“Firza sering bercerita
tentangmu.”
Jihan tersenyum tipis. “Oh
ya?”
“Iya. Sebelum kalian
menikah, dia beberapa kali menunjukkan fotomu.”
Jihan mulai mengernyit.
“Mbak memang sudah lama kenal Firza?”
“Cukup lama.” Suara Lea
tetap terdengar tenang. “Firza memang seperti itu. Kalau seseorang sudah
dianggap penting olehnya, dia akan sangat perhatian. Dulu. aku juga sering
merasakan itu.”
Jihan diam. Ia menatap
layar ponsel, lalu ke pintu rumah yang tertutup. Ada banyak pertanyaan, tetapi
belum satu pun yang berani ia ucapkan.
“Sebenarnya aku tidak
pernah kekurangan. Bapakku seorang lurah. Aku anak satu-satunya. Aku punya
usaha sendiri. Mobil ada. Rumah juga ada.” Lea terkekeh pelan. “Jadi uang satu
juta itu bukan alasan aku menghubungimu.”
“Lalu. kenapa Mbak
menelepon saya?”
Suara Lea berubah lebih
pelan. “Aku hanya ingin mengenal perempuan yang dipilih Firza.”
Jihan terdiam. “Maksud
Mbak?”
“Sepertinya kamu sangat
menyayanginya.”
Jihan tidak menjawab.
“Itulah sebabnya aku jadi
kasihan.”
Jantung Jihan berdegup
lebih cepat. “Kasihan?”
“Iya. Apa Firza tidak
pernah bercerita tentang masa lalunya?”
“Hanya sedikit.”
Lea mengembuskan napas
panjang. “Berarti dia memang memilih diam.”
Keheningan kembali
memenuhi sambungan telepon. Jihan menggenggam ponselnya semakin erat.
“Mbak sebenarnya ingin
mengatakan apa?”
“Aku tidak berniat merusak
rumah tangga kalian. Tapi menurutku seorang istri berhak mengetahui siapa
lelaki yang dinikahinya.”
Jihan mengusap telapak
tangannya pada kain celana. Suara Lea tetap tenang di seberang sana.
“Saat kamu mulai mengenal
Firza, aku juga masih menjadi bagian dari hidupnya.”
Napas Jihan tercekat. “Apa
maksud Mbak?”
Lea tidak langsung
menjawab. “Coba saja tanyakan sendiri kepadanya. Dia pasti mengenalku.”
Sambungan terputus. Jihan
tetap memegang ponselnya beberapa detik sebelum meletakkannya di meja.
Tangannya kemudian berpindah ke perut yang mulai membesar.
Jihan
menatap layar ponselnya. Ia ingin segera menelepon Firza dan menuntut
penjelasan, tetapi ada bagian dalam dirinya yang menahan. Ia tidak ingin
membangun kesimpulan dari cerita orang lain.
Jika
memang ada masa lalu yang harus ia ketahui, ia ingin mendengarnya langsung dari
suaminya—meski ia belum tahu apakah dirinya siap menerima jawabannya.
Untuk pertama kalinya
sejak menikah, ia merasakan ketakutan yang belum pernah hadir sebelumnya.
***
Sejak hari itu, rutinitas
rumah tetap berjalan. Jihan memasak, membersihkan rumah, menyiapkan pakaian
Firza. Hanya saja, beberapa pekerjaan selesai tanpa ia sadari kapan dimulainya.
Ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah, tangannya selalu berhenti
sejenak.
Senyumnya menjadi semakin
tipis. Tatapannya lebih sering kosong. Jika dulu ia selalu menunggu suara
kendaraan Firza dengan perasaan bahagia, kini setiap suara mesin yang berhenti
di depan rumah justru membuat dadanya berdebar.
Bukan karena rindu.
Melainkan karena ia tidak lagi tahu harus memandang suaminya sebagai siapa.
Firza beberapa kali menyadari perubahan itu.
“Kamu kelihatan capek.”
Jihan hanya menggeleng.
“Kamu kurang enak badan?”
“Tidak.”
“Ada yang mengganggu
pikiranmu?”
Jihan kembali tersenyum
kecil. “Aku tidak apa-apa.”
Firza mengangguk pelan,
meski hatinya tidak benar-benar tenang. Ia mengenal Jihan sebagai perempuan
yang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Karena itu, senyum yang terlalu
dipaksakan justru membuatnya semakin gelisah.
Beberapa kali ia ingin
bertanya lebih jauh. Namun setiap kali melihat tangan Jihan mengusap perut yang
mulai membesar, keberaniannya kembali surut. Ia tidak ingin istrinya merasa
tertekan.
Malam menjadi satu-satunya
waktu ketika Jihan tidak perlu berpura-pura. Setelah Firza tertidur, ia menatap
langit-langit kamar. Sesekali pandangannya jatuh kepada lelaki di sebelahnya,
lalu kembali ke kegelapan.
Wajah yang sama dengan
lelaki yang pernah datang menemui kedua orang tuanya. Yang mengucapkan ijab
kabul dengan penuh keyakinan. Yang setiap pagi selalu mengusap kepalanya
sebelum berangkat bekerja. Namun kini, yang terlintas di benaknya bukan lagi
kelembutan itu.
Melainkan deretan
percakapan yang pernah dibacanya. Foto-foto yang masih tersimpan. Dan
kalimat-kalimat yang dahulu mungkin pernah diucapkan Firza kepada perempuan
lain dengan ketulusan yang sama.
Jihan mencoba tidur.
Percakapan itu justru datang satu per satu: nama Lea, jeda Firza sebelum
menjawab, dan satu kalimat yang belum terjawab. Ia membuka mata lagi.
Untuk pertama kalinya, ia
menyadari bahwa luka tidak selalu berasal dari kejadian yang sedang
berlangsung. Kadang, luka justru lahir dari masa lalu yang terlambat diketahui.
***
Beberapa hari kemudian,
ponsel Jihan kembali bergetar. Nomor yang sama. Lea.
Jihan melihat layar
ponselnya tanpa menyentuhnya. Pesan pertama dibiarkan terbaca sebagai
notifikasi. Ketika pesan kedua masuk, ia mematikan data seluler dan membalikkan
ponsel itu.
Satu pesan lagi masuk.
Jihan tetap tidak membukanya. Ia mematikan data seluler, lalu meletakkan ponsel
di atas meja.
“Cukup.” Suaranya nyaris
tidak terdengar. Ia membalikkan ponsel dan menaruhnya jauh dari jangkauan.
Tangannya berhenti di atas
perut. Beberapa detik kemudian, ia menarik napas dan menatap ke arah jendela.
“Aku harus kuat demi
kamu.”
Untuk pertama kalinya
sejak semua itu terjadi, Jihan memutuskan berhenti mencari kebenaran dari
perempuan yang jelas ingin menghancurkan rumah tangganya.
Jika masih ada jawaban
yang harus ia dengar. jawaban itu harus datang dari suaminya sendiri.
Hari-hari berikutnya
terasa berjalan lambat. Lea masih beberapa kali mencoba menghubunginya. Namun
seluruh nomor yang digunakan perempuan itu satu per satu diblokir.
Jihan tidak ingin lagi
membuka luka yang sama. Namun, memblokir Lea ternyata tidak serta-merta
menghapus kegelisahan di dalam hatinya. Kini musuh terbesarnya bukan lagi
pesan-pesan yang datang dari luar.
Melainkan pikirannya
sendiri. Setiap kali Firza tersenyum, Jihan teringat foto-foto lama yang pernah
dilihatnya. Setiap kali Firza berkata, “Aku sayang kamu,” Jihan justru
memikirkan kalimat serupa juga pernah diucapkan suaminya kepada perempuan lain.
Luka itu tidak lagi hidup
karena Lea. Melainkan karena bayangan yang terus berputar di dalam kepalanya.
***
Suatu pagi, Firza mengajak
Jihan memeriksakan kandungannya. Sejak mengetahui dirinya hamil, setiap kontrol
ke dokter selalu menjadi momen yang paling mereka nantikan. Namun kali ini
suasananya berbeda.
Sepanjang perjalanan,
hanya suara mesin mobil yang menemani mereka. Firza beberapa kali melirik ke
arah istrinya.
“Kamu mual?”
Jihan menggeleng.
“Capek?”
“Tidak.”
“Kamu yakin baik-baik
saja?”
“Iya.”
Jawaban Jihan selalu
pendek. Firza beberapa kali meliriknya, tetapi perempuan itu memilih melihat
jalan di luar jendela. Ketika mobil berhenti di lampu merah, ia pura-pura
membaca pesan di ponselnya.
Pemeriksaan berlangsung
lancar. Dokter tersenyum setelah meninjau hasil pemeriksaan.
“Alhamdulillah. Kondisi
ibu dan bayinya sehat. Perkembangannya juga sangat baik.”
Firza mengembuskan napas
lega. Senyum syukur perlahan menghiasi wajahnya. Untuk sesaat, beban yang
selama beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya seolah menghilang. Baginya,
tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan Jihan dan calon buah hati
mereka.
Firza menggenggam
tangannya. Jihan membiarkannya beberapa detik, lalu menarik tangan itu untuk
merapikan ujung bajunya. Firza tidak mengatakan apa-apa.
Firza menoleh. Tatapan
mereka bertemu. Ada sesuatu di mata istrinya yang belum pernah ia lihat
sebelumnya. Bukan kemarahan. Bukan pula kebencian. Melainkan kepercayaan yang
perlahan memudar.
Sejak hari itu, Firza
mulai menyadari bahwa rumah tangga mereka sedang berubah. Ia belum mengetahui
penyebabnya. Namun ia dapat merasakan jarak yang perlahan tumbuh di antara
mereka.
Rahasia itu belum hilang.
Ia hanya menunggu sampai seseorang membuka pintunya.
Suatu sore, ketika Firza
sedang bekerja, ponsel Jihan kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor
yang belum dikenalnya. Dengan perasaan tidak menentu, ia membukanya.
Lea: Aku hamil.
Jihan membaca kalimat itu
sekali. Lalu sekali lagi. Ponsel di tangannya tetap menyala ketika pesan berikutnya
muncul.
Lea: Kalau sesuatu terjadi
padaku, bilang sama Firza supaya bertanggung jawab.
Ia menatap layar tanpa
bergerak. Jika benar, siapa anak itu? Jika bohong, mengapa Lea memilih kalimat
tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itu datang bersamaan.
Jihan menelepon. Nomor itu
tidak aktif. Ia mengetik satu pesan: “Tolong jelaskan.” Tidak ada balasan.
Jihan perlahan terduduk di
lantai ruang tamu. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang tengah mengandung
kehidupan kecil.
Jihan duduk di lantai
ruang tamu. Punggungnya bersandar pada sofa. Rumah itu tetap sama—jam dinding,
meja, tirai—tetapi untuk pertama kalinya semuanya terasa asing.
Malam itu Firza baru saja
meletakkan tas kerjanya ketika Jihan berdiri di hadapannya. Wajah perempuan itu
pucat. Matanya sembap.
“Firza.” Suaranya
bergetar. “Kita harus bicara.”
Firza langsung
menghentikan langkahnya. “Ada apa?”
Tanpa banyak kata, Jihan
menyerahkan ponselnya. “Lihat sendiri.”
Firza membaca pesan-pesan
itu. Raut wajahnya perlahan berubah tegang. “Itu tidak benar.”
Jihan menatapnya lekat.
“Kalau memang tidak benar jawab satu pertanyaanku dengan jujur.”
Firza terdiam. Jihan
menggigit bibirnya, menahan tangis yang sejak tadi ingin pecah.
“Apakah kamu pernah tidur
dengan Lea?”
Ruangan mendadak sunyi.
Firza memejamkan mata. Tangannya mengepal kuat. Beberapa detik berlalu tanpa
satu pun jawaban. Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling ditakuti
Jihan.
Hingga akhirnya Firza
mengembuskan napas panjang. “Iya.”
Jihan tidak langsung
menjawab. Ia menatap meja di antara mereka, lalu perlahan mengangkat wajah.
Firza segera melanjutkan.
“Itu terjadi jauh sebelum aku melamarmu. Aku sudah mengakhirinya. Aku
benar-benar tidak tahu apakah dia hamil atau tidak. Tapi sejak kita menikah,
aku tidak pernah lagi menghubunginya.”
Namun, Jihan tidak lagi
mampu menerima penjelasan itu dengan tenang. Kepalanya berdengung. Suara Firza
terdengar semakin jauh. Yang tertinggal di benaknya hanyalah satu kenyataan.
Lelaki yang selama ini ia percaya ternyata pernah membagi hatinya kepada
perempuan lain, pada saat ia sendiri sedang membangun mimpi tentang masa depan
bersama.
Malam itu, sesuatu di
dalam diri Jihan runtuh. Bukan hanya kepercayaannya kepada Firza, melainkan
keyakinannya bahwa rumah tangga mereka dibangun di atas kejujuran.
***
Malam-malam berikutnya
menjadi jauh lebih berat. Firza terus berusaha menjelaskan semuanya. Ia mengaku
telah mengakhiri hubungannya dengan Lea sebelum akad nikah. Ia juga bersikeras
tidak mengetahui apakah kabar kehamilan itu benar atau hanya kebohongan baru.
Namun setiap penjelasan justru melahirkan pertanyaan baru.
“Apa masih ada yang belum
kamu ceritakan?” tanya Jihan lirih.
Firza kembali terdiam.
Keheningan itu telah menjadi jawaban yang paling ditakuti Jihan. Dengan suara
pelan, Firza akhirnya mengakui bahwa saat mulai mengenal Jihan, ia memang belum
sepenuhnya menutup hubungannya dengan Lea.
Ia telah memilih Jihan
sebagai perempuan yang ingin dinikahinya. Namun sebelum semuanya benar-benar
selesai, ia masih beberapa kali menemui Lea. Bukan karena cintanya belum
berakhir.
Melainkan karena setiap
kali ia mencoba pergi, Lea selalu mengancam akan membuka hubungan mereka kepada
Jihan.
“Aku pikir aku bisa
menyelesaikannya sendiri,” ucap Firza dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku
takut kehilanganmu. Aku yakin semuanya akan selesai sebelum kita menikah.”
Jihan tersenyum hambar.
“Kamu tidak kehilangan aku karena masa lalumu, Firza.”
Ia menarik napas panjang.
“Kamu kehilangan kepercayaanku karena memilih menyembunyikannya.”
Kalimat itu membuat Firza
terdiam. Tidak ada lagi pembelaan. Ia sadar, tidak ada alasan yang mampu
menghapus luka yang telah terlanjur ia berikan.
***
Hari-hari berikutnya
berjalan tanpa pertengkaran. Justru keheninganlah yang perlahan menguasai rumah
mereka. Tidak ada lagi perdebatan. Tidak ada lagi tangisan yang meledak.
Jihan berhenti bertanya.
Firza berhenti menjelaskan. Di antara mereka hanya tersisa jarak yang tidak
terlihat, tetapi terasa begitu nyata.
Hingga suatu hari. harapan
yang selama ini mereka jaga berubah menjadi duka. Jihan mengalami pendarahan.
Dengan tangan yang terus gemetar, Firza membawanya ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ia
terus menggenggam tangan istrinya. “Jihan. bertahan, ya.”
Namun takdir berkata lain.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang tindakan. Sorot matanya telah
lebih dulu menyampaikan kabar yang tidak ingin didengar siapa pun.
“Maaf, Pak. kami sudah
berusaha semaksimal mungkin. Namun janin Ibu tidak dapat diselamatkan.”
Kalimat itu menghantam
keduanya tanpa ampun. Firza menundukkan kepala. Tangannya perlahan terlepas
dari kursi yang sejak tadi digenggam begitu erat.
Di balik pintu ruang
perawatan, Jihan memandang langit-langit. Tidak ada suara dari bibirnya.
Tangannya hanya menggenggam ujung selimut.
Hari-hari terus berlalu.
Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam. Rumah mereka tetap berdiri
seperti biasa. Sarapan masih tersaji setiap pagi. Lampu teras masih dinyalakan
setiap malam.
Semuanya tampak berjalan
sebagaimana mestinya. Namun kehangatan yang dahulu memenuhi rumah itu perlahan
menghilang. Jihan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri. Ia merapikan
rumah. Menyiram tanaman. Menyiapkan pakaian Firza.
Semua dilakukan dengan
tenang. Tanpa keluhan. Namun juga tanpa senyum. Firza menyadari perubahan itu.
Jihan tidak lagi mengajaknya berbincang tentang hal-hal sederhana. Tidak lagi
meminta pendapatnya tentang cerita yang sedang ditulis.
Tidak lagi tertawa karena
candaan-candaan kecil yang dahulu menghidupkan rumah mereka. Yang tersisa
hanyalah dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama tetapi masing-masing
sedang berjuang menghadapi luka dengan caranya sendiri.
***
Suatu malam, Firza
terbangun ketika mendapati sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Ia bangkit
dan mencari Jihan ke seluruh ruangan. Lampu ruang kerja masih menyala. Melalui
celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Jihan duduk membelakanginya.
Di atas meja tergeletak
laptop yang telah lama tak disentuh. Di sampingnya terdapat sebuah buku catatan
dan pena yang dahulu hampir tak pernah lepas dari tangannya.
Perlahan, Jihan membuka
halaman pertama. Ia menatap kertas kosong itu cukup lama. Jemarinya menggenggam
pena, seolah ingin kembali menulis. Namun beberapa saat kemudian pena itu
perlahan diletakkan kembali.
Pena itu berhenti di atas
halaman. Jihan menunggu satu kalimat muncul, tetapi yang jatuh lebih dulu
adalah setetes air mata. Ia mengusapnya dengan punggung tangan, lalu mencoba
lagi.
Firza berdiri di ambang
pintu. Tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi. Ia tidak masuk. Malam itu
ia memilih membiarkan Jihan sendirian bersama halaman kosong di depannya.
Malam itu, Firza memilih
melakukan sesuatu yang selama ini jarang ia lakukan. Ia berlutut di ruang tamu.
Mengangkat kedua tangannya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi
ia menangis di hadapan Tuhan.
***
Beberapa hari kemudian,
sebuah nomor tak dikenal kembali menghubungi Jihan. Awalnya ia mengira pesan
itu berasal dari Lea. Namun kali ini isinya berbeda.
Maaf mengganggu. Saya
Rani. Saya perempuan yang pernah datang bersama Lea ke rumah orang tua Firza
dan mengaku sebagai kakaknya. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Tolong beri
saya kesempatan untuk menjelaskan.
Jihan membaca pesan itu
dua kali. Jarinya sempat bergerak ke ikon hapus, lalu berhenti ketika matanya
menangkap nama pengirim.
Namun kalimat, “Saya
perempuan yang pernah datang bersama Lea.” membuat jemarinya terhenti.
Setelah berpikir cukup
lama, akhirnya ia membalas. Di mana kita bisa bertemu?
Jihan tidak tahu apa yang akan ia
temukan dalam pertemuan itu. Ia hanya tahu satu hal: ia sudah terlalu lama
hidup di antara dua versi kebenaran. Ia tidak ingin lagi mengambil keputusan
berdasarkan ketakutan.
Mereka pun sepakat bertemu
di sebuah kedai kopi yang tenang pada sore hari.
Rani telah menunggu ketika
Jihan tiba. Begitu melihat Jihan, ia segera berdiri. Belum sempat Jihan duduk,
perempuan itu lebih dulu menundukkan kepala.
“Maafkan saya.” Suaranya
bergetar. “Saya tahu permintaan maaf ini tidak akan menghapus apa pun. Tapi
saya tetap harus mengatakannya.”
Jihan hanya menatapnya
tanpa berkata-kata.
“Saya orang yang mengantar
Lea ke rumah orang tua Firza. Saya juga yang berpura-pura menjadi kakaknya.”
Jihan menarik napas pelan.
“Kenapa Mbak melakukan itu?”
Rani memejamkan mata
sejenak. “Karena saya mempercayai semua cerita Lea. Dia menangis di depan saya.
Dia mengatakan Firza telah mempermainkannya. Dia bilang hanya ingin meminta
penjelasan kepada keluarga Firza. Saya benar-benar mengira dia adalah korban.”
Air mata mulai menggenang
di pelupuk matanya. “Saya sama sekali tidak tahu kalau semua itu hanya
kebohongan.”
Jihan tetap diam.
Rani kembali melanjutkan.
“Saya baru mengetahui kenyataan yang sebenarnya beberapa minggu kemudian.”
Suaranya terputus.
“Sejak saat itu saya tidak
pernah bisa tidur dengan tenang. Saya memang tidak menyebabkan semua itu. Tapi
saya ikut membantu Lea berbohong.”
Dengan tangan gemetar,
Rani mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam tasnya.
“Saya datang bukan untuk
membela Firza. Karena dia tetap melakukan kesalahan. Saya hanya ingin kamu mengetahui
seluruh kenyataan.”
Perlahan ia mendorong map
itu ke hadapan Jihan.
“Saya tidak ingin kamu
terus hidup dalam kebohongan.”
Jihan membuka map
tersebut. Lembar pertama membuat napasnya tercekat. Buku nikah. Di bawahnya
terdapat Kartu Keluarga. Lalu fotokopi akta kelahiran seorang anak laki-laki.
Tangannya mulai bergetar.
“Lea, sudah menikah?”
Rani mengangguk pelan.
“Sudah hampir sepuluh tahun. Dan dia memiliki seorang anak.”
Jihan menatap dokumen itu
tanpa berkedip. Ia membalik lembar pertama, lalu kedua. Rani menggeser beberapa
cetakan percakapan ke hadapannya.
“Ini sebagian percakapan
yang pernah Lea kirimkan kepada saya. Dia sering menceritakan semua yang
dilakukannya.”
Jihan mulai membacanya.
Semakin lama wajahnya semakin pucat. Dari percakapan itu terlihat jelas bahwa
Lea berkali-kali lebih dahulu menghubungi Firza.
Ia mengaku sedang sakit.
Mengaku kesepian. Mengaku tidak memiliki siapa-siapa. Bahkan beberapa kali
sengaja mengirim foto dan pesan bernada menggoda agar Firza tetap memberinya
perhatian. Namun semakin mendekati hari pertunangan Firza dengan Jihan, isi
percakapan mulai berubah.
Aku mau fokus sama
perempuan yang akan jadi istriku.
Tolong jangan hubungi aku
lagi.
Kita sudah selesai, Lea.
Tetapi Lea tidak pernah
benar-benar berhenti. Ia berganti nomor telepon. Menghubungi Firza melalui
media sosial. Bahkan membuat beberapa akun baru hanya agar pesannya tetap
terbaca.
“Saya berkali-kali
menyuruh Lea berhenti. Tapi dia tidak pernah mau. Dia selalu berkata Firza
seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak rela melihat Firza hidup bahagia bersama
perempuan lain.”
Rani menundukkan
kepalanya. “Yang paling saya sesali. Lea memilih menghancurkan rumah tangga
kalian. Ia sengaja mengaku masih lajang. Sengaja mengatakan Firza masih
berhubungan dengannya setelah menikah. Padahal semua itu tidak benar.”
Jihan menyusun
lembar-lembar itu di atas meja. Telepon pertama. Pesan-pesan. Foto lama.
Pengakuan tentang kehamilan. Satu per satu, semuanya menemukan tempatnya.
Semuanya ternyata
merupakan bagian dari kebohongan yang sengaja dirancang untuk menghancurkan
kepercayaannya kepada Firza.
Rani menatap Jihan dengan
mata yang memerah. “Aku tidak mengatakan Firza tidak bersalah. Ia tetap
bersalah. Ia pernah menjalin hubungan dengan Lea. Ia juga salah karena tidak
jujur kepadamu sejak awal. Namun setelah bertunangan denganmu, Firza
benar-benar berkali-kali berusaha mengakhiri semuanya.”
Jihan menutup map itu.
Tidak ada kelegaan yang datang. Hanya sebuah kejelasan yang selama ini ia cari.
Lea memang memanipulasi
banyak hal. Ia berbohong tentang status pernikahannya. Berbohong tentang
kehamilannya. Berbohong bahwa Firza masih menjalin hubungan dengannya setelah
menikah.
Namun di sisi lain. Firza
tetap bukan lelaki yang sepenuhnya benar. Ia pernah membuka ruang bagi Lea
untuk masuk ke dalam hidupnya. Ia pernah memilih diam ketika seharusnya berkata
jujur. Dan ketakutan kehilangan perempuan yang dicintainya perlahan berubah
menjadi kebohongan yang meruntuhkan kepercayaan istrinya.
Jihan tidak mengusap air
matanya kali ini. Ia membiarkannya jatuh. Anak itu tetap tidak akan kembali.
Kepercayaannya juga belum pulih. Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya, ia
tidak lagi berjalan di antara cerita yang saling bertentangan.
Bukan kebenaran yang
dibentuk oleh kebohongan Lea. Dan bukan pula kebenaran yang selama ini
disembunyikan Firza. Untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi. Jihan tidak
lagi melihat dirinya sebagai korban dari satu orang.
Ia melihat dua kenyataan
yang berjalan berdampingan. Seorang perempuan yang sengaja menghancurkan. Dan
seorang suami yang pernah memilih menyembunyikan kebenaran.
Di antara keduanya. ia
harus menentukan sendiri jalan yang akan dipilih untuk melanjutkan hidupnya.
Malam itu Jihan pulang
dengan hati yang sedikit lebih tenang, meski belum benar-benar damai. Tidak ada
rasa lega. Tidak pula keinginan untuk segera memaafkan. Yang berubah hanyalah
cara ia memandang semua yang telah terjadi.
Selama ini ia mengira
Firza adalah lelaki yang dengan sengaja mempermainkan dua perempuan sekaligus.
Kini ia memahami kenyataan yang jauh lebih rumit. Firza memang bersalah. Ia
pernah membuka ruang bagi Lea, membiarkan hubungan yang keliru itu berlangsung
lebih lama daripada seharusnya, dan terlalu takut berkata jujur sebelum
semuanya terlambat.
Dari semua yang
didengarnya, satu hal menjadi jelas bagi Jihan: setelah menikah, Firza tidak
kembali kepada Lea. Kebohongan tentang hubungan yang masih berlanjut telah
sengaja dipelihara untuk menghancurkan rumah tangga mereka.
Karena ketika ia tidak
mampu memiliki Firza. ia memilih menghancurkan perempuan yang berhasil
memilikinya.
***
Hari-hari berikutnya tetap
berjalan. Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam. Luka yang begitu
dalam tidak mungkin sembuh hanya karena satu penjelasan.
Begitu pula kepercayaan.
Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan pembuktian yang tidak sebentar.
Firza seolah memahami hal
itu. Ia tidak lagi memaksa Jihan untuk memaafkannya. Tidak lagi mencari
pembenaran. Tidak lagi mengulang permintaan maaf yang sama. Ia memilih memperbaiki
semuanya melalui tindakan.
Firza mulai menutup semua
pintu yang pernah ia biarkan terbuka. Nomor lama dihapus. Akun yang tidak lagi
perlu dibersihkan. Ia tidak meminta Jihan menyaksikan semua itu; ia hanya
melakukannya.
Bukan karena diminta.
Melainkan karena ia sadar bahwa kepercayaan tidak mungkin tumbuh di atas
bayang-bayang yang belum benar-benar diselesaikan. Firza juga mulai mengikuti
konseling pernikahan. Bukan agar Jihan segera memaafkannya. Melainkan karena ia
ingin memperbaiki dirinya sendiri.
Ia belajar menunggu ketika
Jihan belum siap bicara. Tidak menyela. Tidak mencari alasan. Jika sebuah
kesalahan pernah dibuat dalam satu keputusan, ia tahu memperbaikinya mungkin
membutuhkan ribuan keputusan kecil setelahnya.
Hubungannya dengan keluarga
Jihan pun semakin dekat. Ia sering menemani Ayah Jihan memperbaiki halaman
rumah. Membantu Ibu Jihan berbelanja. Bukan untuk mengambil hati mereka.
Melainkan karena ia ingin menunjukkan bahwa penyesalannya bukan sekadar
kata-kata.
Sementara itu, Jihan mulai
memperhatikan semua perubahan itu. Firza tidak pernah lagi berkata, “Percayalah
kepadaku.”
Ia hanya hadir. Setiap
hari. Tanpa banyak bicara. Kadang mereka duduk berdampingan di teras sambil
menikmati secangkir kopi. Kadang berjalan sore tanpa tujuan. Kadang hanya
memandangi hujan dari balik jendela.
Keheningan masih ada.
Bedanya, kini mereka tidak buru-buru mengisinya. Ada ruang untuk bernapas,
untuk mengingat, dan untuk membiarkan waktu melakukan bagian yang tidak bisa
dilakukan oleh kata-kata.
Suatu sore, Jihan memasuki
ruang kerjanya. Ruangan itu telah lama kehilangan kehidupan. Laptop masih
berada di tempat semula. Tumpukan naskah tersusun rapi, seolah menunggu
pemiliknya kembali.
Ia duduk perlahan. Membuka
laptop yang telah berbulan-bulan tidak pernah dinyalakan. Layar menampilkan
naskah terakhir yang ditulis sebelum hidupnya berubah. Kursor masih berkedip di
akhir kalimat yang belum selesai.
Jihan menatap kursor yang
berkedip. Jemarinya akhirnya bergerak. Satu kata muncul. Ia berhenti. Lalu menulis
satu kalimat lagi. Kali ini ia tidak menghapusnya.
Ia menarik napas. Halaman
itu belum penuh. Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu
yang bergerak lagi di dalam dirinya.
Di ambang pintu, Firza
berdiri diam. Ia melihat Jihan terus mengetik. Tidak ada tepuk tangan, tidak
ada ucapan selamat. Hanya suara papan ketik yang kembali terdengar setelah
berbulan-bulan sunyi.
Bukan berarti ia sudah
melupakan semuanya. Ia hanya mulai menemukan kembali bagian dirinya yang sempat
hilang.
***
Beberapa tahun berlalu.
Kehidupan mereka tidak kembali seperti semula; ia tumbuh menjadi sesuatu yang
baru. Jihan menulis lagi. Ada hari-hari ketika masa lalu masih datang, tetapi
kini ia tahu bagaimana menaruhnya tanpa membiarkannya menguasai seluruh hidup.
Setiap halaman yang
ditulisnya menjadi saksi bahwa seseorang boleh hancur, tetapi tidak harus
berhenti melangkah. Naskah demi naskah lahir dari tangannya.
Hingga suatu hari, novel
pertamanya resmi diterbitkan. Pada acara peluncuran buku, Firza duduk di
barisan paling depan. Tatapannya tak pernah lepas dari perempuan yang berdiri
di atas panggung.
Perempuan yang pernah
duduk berjam-jam di depan halaman kosong itu kini berdiri di atas panggung
dengan bukunya sendiri di tangan.
Usai acara, Firza membeli
satu eksemplar novel itu. Tangannya sedikit bergetar ketika membuka halaman
persembahan.
Di sana tertulis,
Untuk
seseorang yang pernah membuatku hancur. Dan memilih tetap tinggal ketika
belajar memperbaiki semuanya.
Firza menutup buku itu
perlahan. Ia tidak segera berkata apa-apa. Jihan datang dan duduk di
sampingnya.
“Rumah tangga kita memang
tidak sempurna.”
Firza mengangguk pelan.
“Dan mungkin tidak akan
pernah sempurna.” Jihan menggenggam tangan suaminya. “Tapi kali ini, jangan ada
lagi kebohongan.”
Firza membalas genggaman
itu. “Insyaallah.”
Satu kata itu terdengar
sederhana. Namun kali ini bukan lagi sebuah janji. Melainkan komitmen yang
lahir dari penyesalan, kejujuran, dan perjalanan panjang yang telah mereka
lalui bersama.
***
Beberapa waktu kemudian,
Allah memberi Jihan dan Firza kesempatan untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci.
Di hadapan Ka'bah, Jihan
mengangkat kedua tangan. Lama ia diam sebelum mulai berdoa. Di tempat itu, ia
tidak lagi ingin menghitung siapa yang paling bersalah. Ia hanya ingin
menyerahkan sesuatu yang selama bertahun-tahun dibawanya sendiri.
Ia memohon agar
keluarganya selalu diberi kesehatan, keteguhan iman, dan keberkahan. Kemudian
untuk terakhir kalinya. Jihan menyebut satu nama yang pernah memenuhi hidupnya
dengan luka.
Lea.
Namun kali ini tidak ada
lagi kebencian, juga tidak ada keinginan untuk membalas.
Yang tersisa hanyalah kepasrahan kepada
Allah. Dengan suara lirih ia berdoa,
“Ya
Allah. Engkau mengetahui semua yang pernah terjadi. Engkau mengetahui air mata
yang tak pernah mampu hamba ceritakan kepada siapa pun. Jika ada hak hamba yang
pernah dizalimi, maka hanya kepada-Mu hamba menyerahkannya. Engkaulah
seadil-adilnya Hakim. Berilah setiap orang balasan sesuai amalnya. Dan
tuntunlah kami agar tidak lagi menjadi penyebab luka bagi sesama.”
Jihan menurunkan
tangannya. Ia masih mengingat semuanya. Tidak ada satu pun luka yang tiba-tiba
hilang. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus membawa seluruh
beban itu sendirian.
Ia memahami bahwa
memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang sama. Ada orang yang
cukup dilepaskan dari hati, lalu urusannya diserahkan kepada Allah. Ada
kehilangan yang tidak bisa diganti, tetapi bisa diterima perlahan.
Dengan langkah tenang,
Jihan meninggalkan pelataran Masjidil Haram. Di sampingnya, Firza berjalan
dalam diam. Mereka saling menggenggam tangan. Bukan sebagai dua manusia yang
memiliki kisah cinta sempurna. Melainkan sebagai dua insan yang pernah jatuh.
Pernah kehilangan. Pernah saling melukai. Lalu memilih bertumbuh bersama.
Karena akhirnya mereka
memahami: rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga yang tidak pernah terluka.
Ia adalah rumah tangga yang, setelah badai berlalu, memilih membangun kembali
dengan kejujuran, ikhtiar, dan Allah sebagai tempat kembali.
***
Beberapa
kisah berakhir ketika dua tokohnya akhirnya saling memiliki. Namun kisah ini
menemukan maknanya jauh setelah itu. Ketika mereka belajar bahwa cinta bukan
hanya tentang bertahan.
Cinta juga
tentang keberanian untuk jujur. Tentang kesediaan mengakui kesalahan. Tentang
belajar memaafkan tanpa mengingkari luka. Dan tentang memahami bahwa tidak
semua hal harus diselesaikan oleh manusia.
Ada luka
yang harus diobati dengan waktu. Ada kehilangan yang hanya bisa diterima dengan
ikhlas. Dan ada keadilan yang paling baik diserahkan kepada Allah.
Manusia
hanya melihat bagian yang tampak. Allah mengetahui apa yang tersembunyi di
balik setiap kesalahan, kehilangan, dan hati yang berusaha pulang.
Di hadapan
Allah, luka itu akhirnya kuserahkan. Bukan karena semuanya telah kulupakan,
melainkan karena aku memilih untuk tidak lagi menjadi tawanan masa lalu.
Tamat
Terima kasih telah membaca
kisah ini. Mohon hargai karya penulis dengan tidak memperbanyak atau
mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar