Gedung megah itu berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk kota.
Di balik dinding putihnya, kehidupan dan kematian saling berkejaran tanpa
mengenal waktu.
Ruang perawatan tak
pernah benar-benar sunyi. Aroma obat memenuhi udara, berpadu dengan bunyi
monitor yang berdetak teratur. Tangis keluarga, langkah tergesa para tenaga
medis, dan doa yang lirih menjadi pemandangan sehari-hari. Di tempat itu,
harapan dan keputusasaan berjalan berdampingan.
Seorang wanita duduk setia di sisi ranjang
pasien. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia menolak memejamkan mata. Selama tiga
minggu terakhir, ia tak pernah meninggalkan gadis yang terbaring tanpa
kesadaran itu.
Tatapannya tak lepas dari wajah pucat gadis
tersebut. Ada satu panggilan yang selalu ia rindukan, sebuah panggilan
sederhana yang belum pernah cukup ia dengar.
Ibu.
Wanita itu tak pernah menjanjikan apa pun.
Ia hanya ingin menebus kesalahan yang dulu tak sempat diperbaiki. Satu-satunya
harapan yang ia genggam hanyalah bisa tetap bersama gadis itu.
“Nak... jangan menyerah. Temukan jalan
pulang. Tuhan selalu menyertaimu. Apa pun yang terjadi, Ibu ikhlas menerima
pilihanmu.”
Air mata jatuh tanpa mampu ia bendung. Sesaat kemudian, jemari gadis itu bergerak pelan. Wanita
itu menahan napas ketika tangan kecil itu menggenggam jemarinya.
“Ibu...”
Suara lirih itu terdengar begitu pelan,
tetapi cukup untuk membuat harapan yang hampir padam kembali menyala.
Wanita itu hampir tertidur dengan dagu bertumpu di tepi ranjang. Selama
tiga minggu terakhir, ia tak pernah benar-benar memejamkan mata. Tiba-tiba
sebuah suara lirih membuatnya tersentak.
“Ibu...”
Ia segera mendongak. Napasnya tercekat
ketika melihat bibir Nadia bergerak pelan.
“Apa... aku sedang bermimpi?” bisiknya tak percaya.
Dengan tangan gemetar,
ia menggenggam jemari putrinya. “Nad... kamu dengar suara Ibu?”
Nadia mengangguk lemah. “Ibu... apa yang terjadi?”
suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba membuka mata, tetapi hanya kegelapan
yang menyambutnya. “Kenapa mataku...?”
Kepanikan mulai menyelimuti wajahnya. Wanita
itu menggenggam tangannya lebih erat.
“Tenang, Nad. Ibu di
sini. Kamu sudah sadar. Semuanya akan baik-baik saja.”
Tubuh Nadia masih
gemetar. “Aku...
harus bagaimana, Bu?”
Air mata wanita itu akhirnya jatuh. Ia
mengusap sudut mata Nadia dengan lembut.
“Jangan takut. Ibu akan memanggil dokter
untuk memeriksa keadaanmu. Ibu tidak akan pergi jauh. Tunggu sebentar, ya.”
Ia mengecup kening
Nadia dengan penuh kasih. “Anak Ibu yang kuat...”
Setelah memastikan Nadia sedikit lebih
tenang, ia bergegas keluar ruangan mencari Dokter Fatimah.
Kebahagiaan yang ia rasakan seolah
bertabrakan dengan kenyataan di ruangan lain. Di balik dinding yang memisahkan
mereka, terbaring seorang yang ia kasihi seperti anaknya sendiri—sebagaimana ia
mengasihi Nadia.
Beberapa menit lalu ia
menangis karena bahagia. Kini air mata yang sama kembali jatuh karena
kehilangan.
Di tempat yang sama, Tuhan mengizinkan satu
kehidupan kembali tersenyum, sementara kehidupan yang lain dipanggil untuk
pulang.
Begitulah takdir. Tak pernah meminta izin
sebelum datang.
***
Bibir Nadia bergerak pelan. Seluruh
tubuhnya terasa begitu berat.
“Ibu...” Suaranya hampir tak terdengar.
Ia mencoba membuka mata, tetapi kelopak
matanya seperti terkunci. Yang ia rasakan hanya balutan perban dan gelap yang
tak berujung. Pendengarannya menjadi satu-satunya indra yang masih dapat ia
andalkan.
Tiba-tiba pintu ruangan
berderit. Langkah kaki seseorang mendekat.
Nadia
mengira ibunya telah kembali.
“Ibu?” Tidak ada jawaban yang ia harapkan.
Sebaliknya, terdengar
suara seorang perempuan yang dipenuhi kepedihan. “Aku pikir hari ini aku
datang untuk mengucapkan selamat tinggal padamu. Ternyata Tuhan masih
membiarkanmu hidup... sementara Dia mengambil orang yang paling berharga dalam
hidupku.”
Nadia membeku. Itu bukan suara ibunya. Siapa perempuan ini?
“Aku tidak ingin
melihatmu lagi. Pergilah sejauh mungkin dari hidupku!”
Nadia ingin bangkit,
tetapi tubuhnya tak mampu digerakkan. “Apa... maksudmu? Siapa kamu?”
Perempuan itu tertawa lirih di sela
tangisnya. “Perlu
aku memperkenalkan diri? Aku adalah orang yang paling membencimu.”
Tangisnya semakin pecah. “Kenapa kamu harus hadir
dalam hidupku? Kenapa bukan kamu yang pergi?”
Air mata mengalir di balik perban yang
membalut mata Nadia. Ia bahkan tidak mengenali suara perempuan itu.
“Apa salahku...?” bisiknya lirih.
Namun perempuan itu
tidak menjawab. Yang terdengar hanya langkah kakinya yang semakin menjauh,
disusul suara pintu yang menutup perlahan. Ruangan kembali sunyi, menyisakan
Nadia dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab.
Tak lama kemudian, pintu
kembali terbuka. Beberapa langkah kaki terdengar mendekat.
“Nadia, maaf membuatmu menunggu.” Suara Dokter Fatimah terdengar lembut.
“Dokter... saya khawatir dengan keadaannya,” ucap sang ibu penuh cemas.
Dokter mengangguk
pelan. “Baik.
Saya akan memeriksa kondisi Nadia terlebih dahulu.”
Perawat mulai melepaskan satu per satu
kabel monitor yang menempel di tubuh Nadia. Setelah itu, dokter memintanya
menggerakkan jari-jari, tangan, dan kedua kakinya. Nadia mengikuti semua arahan
meski tubuhnya masih terasa lemah.
“Bagus,” ujar Dokter Fatimah sambil tersenyum. “Respons tubuhmu sangat baik.”
Namun Nadia masih
diliputi kegelisahan. “Dok...” suaranya bergetar. “Kenapa mata saya masih diperban? Apa... saya tidak bisa
melihat lagi?”
Sang ibu spontan menggenggam tangannya
lebih erat. Dokter tersenyum menenangkan.
“Jangan buru-buru
menyimpulkan. Mari kita lihat bersama.”
Dengan hati-hati,
perban itu mulai dilepas. Nadia menahan napas.
“Sekarang... buka matamu
perlahan.”
Cahaya samar menyelinap
masuk. Semula semuanya tampak kabur. Perlahan bayangan itu menjadi semakin
jelas hingga wajah seorang wanita muncul di hadapannya.
Wanita itu tersenyum di
balik air mata.
“Ibu...” Nadia ikut tersenyum lega.
Dokter kemudian menggerakkan tangannya di
depan wajah Nadia untuk memastikan fokus penglihatannya, lalu menyorotkan
senter kecil ke kedua pupil matanya.
“Syukurlah,” ucap Dokter Fatimah. “Penglihatanmu merespons dengan baik.”
“Kondisimu sudah jauh lebih baik, Nadia,” ujar Dokter Fatimah sambil menutup berkas
pemeriksaan. “Kalau perkembanganmu tetap seperti ini, sekitar dua minggu
lagi kamu sudah boleh pulang. Selama itu kita akan fokus pada pemulihan kondisi
tubuhmu. Jangan lupa banyak istirahat dan tetap menjaga kesehatan.”
“Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah menyelamatkan anak
saya,” ucap sang ibu
dengan mata berkaca-kaca.
Dokter tersenyum. “Sama-sama, Bu. Kalau ada
keluhan atau perubahan kondisi, jangan ragu menghubungi saya.”
Sang ibu mengangguk pelan. Dokter dan para
perawat pun meninggalkan ruangan, menyisakan keheningan yang terasa hangat.
Nadia memandangi wajah wanita di samping
ranjangnya. Garis-garis lelah begitu jelas menghiasi wajah ibunya. Mata itu
sembab, tetapi senyumnya tidak pernah hilang.
Sejak kapan Ibu berada di sini?
Apa
selama aku tertidur, Ibu selalu menjagaku?
Doa,
belaian tangan, kecupan di kening... semua terasa begitu nyata. Padahal selama
ini aku mengira Ibu tidak pernah benar-benar menyayangiku.
Hatinya menghangat.
“Bu...”
Ibunya menoleh. “Apa yang sedang kamu
pikirkan?”
Nadia terdiam beberapa saat sebelum
bertanya lirih. “Sebenarnya... apa yang terjadi padaku?”
Pertanyaan itu membuat wajah sang ibu
berubah tegang. “Kamu menjalani operasi. Sekarang kondisimu sudah membaik, jadi jangan
terlalu dipikirkan.”
Nadia menggeleng pelan. “Aku tidak pernah merasa
sakit. Operasi apa?”
Sang ibu menarik napas dalam. “Ibu menemukanmu tidak
sadarkan diri di kamar. Setelah dibawa ke rumah sakit... kamu koma selama tiga
minggu. Dokter juga harus mengoperasi matamu.”
Nadia membeku. “Tiga... minggu?”
Sulit baginya mempercayai ucapan itu. “Kenapa aku sama sekali
tidak mengingatnya?”
Ia mencoba mengingat apa pun sebelum
kejadian itu. Namun kepalanya justru berdenyut pelan.
Potongan-potongan
bayangan muncul sesaat, lalu menghilang begitu saja.
Sang ibu segera menggenggam tangannya. “Sudah, jangan
dipaksakan. Kata dokter, ingatanmu mungkin belum sepenuhnya kembali. Yang
terpenting sekarang kamu sudah selamat.”
Nadia menghela napas perlahan. ”Jadi... aku benar-benar
koma?”
Sang ibu mengangguk sambil mengusap
rambutnya. “Mulai
sekarang kita hanya perlu kontrol seminggu sekali ke Dokter Fatimah. Ibu akan
selalu menemanimu.”
Air mata Nadia menggenang. “Terima kasih, Bu.”
Ibu tersenyum sambil mengecup keningnya. Bagi
Nadia, senyum itu terasa seperti pelukan yang selama ini ia rindukan.
Aku selalu mengira Ibu tidak pernah peduli. Ternyata
selama aku berada di antara hidup dan mati, beliau tidak pernah meninggalkanku.
Lalu... kenapa aku sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi sebelum semua
ini?
Sebuah suara tiba-tiba
terlintas di benaknya. “..Aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
Nadia memejamkan mata. Gadis itu... siapa dia?
***
Langit sore berubah
kelabu, seolah ikut berduka menyaksikan seorang gadis yang berdiri terpaku di
balik jendela.
Dari balik kaca yang
bening, tatapan kosongnya mengarah ke halaman rumah. Setangkai mawar merah terus
dihantam hujan. Kelopaknya berguguran satu per satu, seolah menyerah pada
derasnya langit.
Nadia mengembuskan napas
pelan hingga permukaan kaca dipenuhi embun. Dengan ujung telunjuknya, ia
menuliskan sebuah kalimat. Biarkan
aku mati... jika itu maumu.
Tulisan itu perlahan memudar, sama seperti
harapan yang berusaha ia pertahankan.
Rintik hujan yang
berubah deras, disusul gemuruh petir, seakan menyuarakan kegelisahan yang tak
mampu ia ungkapkan. Mawar di halaman semakin menunduk diterpa angin.
Kasihan sekali. Entah
bunga itu yang sedang diratapi langit, atau justru dirinya yang diam-diam
menangis di balik jendela.
Ia mengusap sudut matanya. Bayangan
percakapan dengan seseorang kembali memenuhi pikirannya.
“Kamu tidak pernah
menyembunyikan apa pun dariku, Dika. Apa sebenarnya yang tidak aku ketahui?
Bisakah kamu menceritakannya?”
Dika tampak terkejut
sesaat. Namun, ekspresi itu segera menghilang. “Aku adalah penyimpan rahasia yang baik.”
Suaranya terdengar mantap. “Seberapa keras pun
usahamu, pendirianku tidak akan goyah.”
Jawaban itu tidak memberi penjelasan
sedikit pun. Ibu memilih diam. Kini Dika melakukan hal yang sama.
Nadia mulai bertanya-tanya. Berapa lama
seseorang harus mengenal sahabatnya hingga benar-benar memahami isi hatinya?
Sejak kecil, mereka tumbuh bersama.
Orang-orang bahkan sering mengira mereka kakak beradik. Dika selalu berada di
sisinya dalam setiap fase kehidupan.
Mereka tidak pernah
menjadi sepasang kekasih, meski saling menyayangi. Persahabatan itu terasa
lebih nyaman daripada sebuah hubungan. Namun hari ini, untuk pertama kalinya,
Nadia merasa ada tembok yang berdiri di antara mereka. Dika mengetahui sesuatu.
Dan rahasia itu berkaitan dengan dirinya.
Langit di luar
masih diguyur hujan. Suara rintiknya mengisi keheningan di antara mereka.
Nadia mengalihkan
pandangannya ke halaman rumah. “Dika, aku tidak tahu sejak kapan Ibu memilih
bekerja dari rumah.”
Dika ikut menoleh ke arah jendela. “Sejak
beliau sadar kalau kamulah yang paling berharga.”
Nadia menoleh perlahan.
“Sejak kamu sakit,
beliau hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Setiap kali aku
mengantarkan makanan, beliau selalu menolak pulang. Padahal aku sudah
berkali-kali bilang akan menjaga kamu.”
Nadia menunduk. “Berarti...
selama ini Ibu benar-benar menjagaku.”
“Iya.” Senyum tipis menghiasi wajah Nadia.
“Aku bersyukur Ibu berubah.” Ia terdiam
sesaat, lalu kembali menatap Dika. “Selain itu... apa masih ada yang belum aku
ketahui?”
Dika langsung memahami arah pertanyaan itu.
“Tentang Alex?”
Nama itu membuat Nadia menarik napas pelan.
“Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar namanya.”
“Dia datang menjengukmu saat libur sekolah.”
Nadia sedikit terkejut.
“Benarkah?”
“Iya, dia bahkan beberapa kali ingin datang
lagi.”
Nadia menggeleng pelan. “Aku justru
berharap dia tidak menemuiku lagi.”
Wajah Dika berubah bingung. “Kenapa?”
“Aku ingin menghilang dari hidupnya.”
“Jangan berkata seperti
itu.” Suara Dika terdengar lebih tegas. “Alex tidak pernah menyalahkanmu. Dia
tidak pernah mengatakan hal buruk tentangmu. Semua yang dia lakukan murni
karena keinginannya sendiri.”
“Itulah yang membuatku semakin merasa
bersalah.” Nadia menggenggam ujung selimut.
“Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku
memperlakukannya. Kalau ternyata selama ini aku hanya menyakitinya... bukankah
lebih baik dia melupakanku?”
Dika memandang
sahabatnya lama. “Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.”
Nadia tersenyum hambar. “Lalu... bagaimana
aku bisa berada di rumah sakit?”
Pertanyaan itu membuat Dika membeku. Tangannya
mengepal pelan di balik saku celana. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela.
“Nad...” Suaranya
terdengar lirih. “Yang terpenting sekarang kamu sudah sehat.”
“Itu bukan jawaban.” Nadia menatapnya
lekat. “Kenapa semua orang menjawab seperti itu?”
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara hujan
yang terdengar dari luar. Setelah beberapa saat, Nadia menghela napas panjang.
“Kalau memang masa laluku begitu
menyakitkan...” katanya lirih.
“...mungkin Tuhan sedang memberiku
kesempatan untuk memulai hidup yang baru.”
Dika menatap wajah Nadia. Senyum gadis itu
tampak tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dadanya semakin
sesak.
“Maafkan aku, Nad,” batinnya. “Bukan karena aku tidak percaya padamu. Aku hanya belum siap
melihatmu kembali terluka ketika semua ingatan itu kembali.”
***
Cahaya itu perlahan menghilang. Nadia berlari
mengejarnya, tetapi setiap kali tangannya hampir meraih, cahaya itu menjauh. Di
sekelilingnya hanya hamparan kabut putih yang menelan segala arah.
Samar-samar, sebuah bayangan berdiri tidak jauh di
depannya. Ia mempercepat langkah. Namun semakin dekat ia menghampiri, sosok itu
justru semakin memudar.
“Siapa kamu?” Tidak ada jawaban. Hanya suara angin
yang berembus membawa udara dingin.
“Nadia...” Seseorang memanggil namanya. Ia menoleh
ke kanan. Tidak ada siapa-siapa.
“Nadia...” Suara itu kembali terdengar. Kali ini
dari belakang.
Nadia berputar cepat. Tetap tidak ada siapa pun. Ia
terus berjalan menyusuri hamparan kabut yang seolah tidak berujung. Jalan yang
tadi dilewati kembali membawanya ke tempat semula.
Seperti terjebak dalam lingkaran yang tidak
memiliki pintu keluar.
“Siapa kalian?” teriaknya. “Bagaimana aku bisa
sampai di sini?”
Jawaban yang ditunggu tidak pernah datang. Kabut
semakin tebal. Cahaya yang tadi menjadi satu-satunya petunjuk akhirnya
benar-benar lenyap.
Nadia tersentak bangun. Napasnya memburu. Peluh
membasahi dahi dan lehernya.
Lagi. Mimpi itu kembali menghantuinya. Sejak sadar
dari koma, mimpi yang sama terus datang hampir setiap malam.
“Mimpi itu lagi...” Ia mengusap wajahnya pelan.
Rasa gelisah masih tertinggal di dadanya. Nadia
bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju jendela yang sengaja dibiarkan
terbuka.
Udara malam menyentuh wajahnya. Langit tampak gelap
tanpa bulan. Hanya beberapa bintang kecil yang tetap bertahan memancarkan
cahaya.
“Aku merasa seperti orang asing bagi diriku
sendiri.” Tatapannya tidak lepas dari langit.
“Ya Allah... kalau memang ada jalan yang harus
kutemukan, tuntunlah aku.” Ia tersenyum tipis.
“Langit selalu gelap sebelum fajar datang. Mungkin
hidupku juga begitu. Selama masih ada setitik cahaya, aku akan percaya selalu
ada jalan keluar.”
Angin malam berembus pelan, menerbangkan helaian
rambutnya.
Di tempat lain...
Seorang gadis duduk di
tepi ranjang. Kedua lututnya dipeluk erat. Kepalanya tertunduk. Air mata jatuh
tanpa suara, membasahi gaun yang dikenakannya.
Malam itu, ia kembali
menangis sendirian. “Bisakah aku bertahan dengan rasa sakit ini?”
bisiknya lirih.
“Kenapa kamu tidak
menungguku sampai aku dewasa?” Isaknya
semakin pecah.
“Kehadirannya telah
membuatku kehilanganmu.”
Gadis itu memejamkan
mata, seolah berharap semua luka ikut menghilang bersama air mata.
“Apa dia masih menjadi orang yang paling
berharga bagimu?”
Bibirnya bergetar mengucapkan doa. “Ya Allah... jagalah dia
untukku. Sampaikan juga rinduku, meski dia tak lagi bersamaku.”
Di luar, langit tetap diselimuti gelap. Anehnya,
bulan masih setia memancarkan cahaya. Namun cahaya itu tak mampu menembus kelam
yang memenuhi hati gadis tersebut.
Pandangannya perlahan beralih
ke sebuah bingkai foto di atas meja belajar. Jemarinya menyentuh kaca bingkai
itu dengan hati-hati. Air matanya kembali menetes.
Malam itu... Ia kembali menangis.
Tanpa disadari, seseorang berdiri diam di balik pintu kamar, ikut merasakan kepedihan yang selama ini dipendamnya.
***
Nadia masih berdiri di depan gerbang sekolah. Tatapannya
terpaku pada bangunan yang terasa begitu asing sekaligus akrab.
Entah mengapa, setiap kali berada di tempat itu,
dadanya selalu berdebar. Seolah ada kenangan yang berusaha keluar dari balik
ingatannya.
Ia memejamkan mata.
Seketika...
Suara riuh para siswa.
Deru kendaraan.
Peluit satpam. Semuanya kembali terdengar.
Seorang remaja laki-laki berdiri di seberang jalan
sambil memperhatikan para siswa yang berjalan memasuki gerbang sekolah.
Seragam yang dikenakannya berbeda. Ia bukan murid
di sekolah itu. Tatapannya sibuk mencari seseorang.
“Aku memang tidak seberuntung mereka,” gumamnya
pelan. “Tapi aku juga bukan orang bodoh. Sekolah bukan satu-satunya tempat
untuk belajar. Guruku adalah kehidupan, dan pelajarannya ada pada setiap orang
yang kutemui.”
Ia tersenyum. Kakinya terus mengetuk trotoar,
menunggu seseorang datang.
Tak lama kemudian sebuah angkutan umum berhenti. Seorang
gadis turun sambil merapikan tas sekolahnya.
Nadia. Mata
remaja itu berbinar.
Di saat yang bersamaan, suara satpam terdengar
lantang. “Dua menit lagi gerbang sekolah ditutup!”
Nadia langsung mempercepat langkah. Remaja itu
spontan mengejarnya. “Hei! Tunggu!”
Nadia menoleh sekilas. Melihat seorang Ryan asing
berlari ke arahnya, wajahnya langsung memucat.
“Apa dia mengikutiku? Siapa dia? Ya Allah...”
Ia mempercepat langkah hingga berubah menjadi lari
kecil menuju gerbang sekolah.
“Hei! Aku cuma mau bicara!” Belum sempat Ryan itu
mendekat, satpam sudah menghalanginya.
“Berhenti! Kamu bukan siswa di sini.”
Remaja itu hanya bisa memandang punggung Nadia yang
semakin menjauh.
“Nadia.” Suara seseorang membuyarkan lamunannya.
Ternyata ia masih berdiri di depan gerbang sekolah.
“Apa yang terjadi?” Seseorang menepuk pelan
pundaknya.
“Kenapa melamun sendirian di sini?”
Nadia menoleh. Tanpa menjawab, ia mulai berjalan
menyusuri lorong sekolah bersama orang itu. Namun pikirannya masih tertinggal
pada sosok Ryan yang baru saja muncul dalam ingatannya.
Nadia mengangguk pelan ketika memasuki gerbang
sekolah.
“Selamat datang kembali.” Alex berjalan di
sampingnya sambil tersenyum. “Apa badanmu sudah lebih baikan?”
“Iya.” Jawaban Nadia singkat.
Alex melirik gadis itu. “Bicaralah sedikit. Jangan
diam terus seperti ini. Aku jadi khawatir.”
Nadia tetap melangkah tanpa menoleh.
Alex menghela napas pelan. “Maafkan aku.”
Langkah Nadia terhenti sesaat.
“Apa yang harus kulakukan supaya kamu mau
memaafkanku?”
Tetap tidak ada jawaban. Alex akhirnya berdiri di
depan Nadia, menghalangi langkahnya.
Nadia mendongakkan kepala. Tatapannya kosong. Seolah
sedang melihat seseorang yang dikenalnya... tetapi tidak benar-benar
diingatnya.
“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Alex lembut.
Nadia hanya menggeleng pelan. Alex tersenyum, meski
senyum itu menyimpan rasa kecewa.
“Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendirian.” Ia
mengusap pelan kepala Nadia.
“Selalu ada jalan keluar. Aku tidak akan
membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian.” Sesaat kemudian Alex melangkah
pergi.
Nadia tetap berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti
punggung Alex yang semakin menjauh.
Entah mengapa... Dadanya tidak merasakan apa pun. Seharusnya
ia merasa hangat diperlakukan seperti itu. Namun yang tersisa hanya kehampaan.
Bel sekolah berbunyi. Nadia duduk di bangkunya. Guru
mulai menjelaskan pelajaran, tetapi pikirannya perlahan melayang.
Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela. Gerbang
sekolah. Pos satpam. Pemandangan itu terasa begitu akrab.
Dan tanpa disadari...
Ingatan lain kembali muncul.
Suasana kelas sore itu jauh lebih sepi. Pelajaran
tambahan sedang berlangsung. Sebagian besar siswa sibuk mencatat penjelasan
guru. Namun Nadia justru memandang ke luar jendela.
Di dekat pos satpam... Seorang lelaki
berdiri di dekat pos satpam sambil tersenyum ke arah jendela kelas. Saat mata
mereka bertemu, ia mengangkat tangan. Melambaikan tangan kecil. Tanpa sadar
Nadia membalasnya. Senyum tipis mengembang di wajahnya.
“Ya Tuhan...” batin Nadia. “Kenapa dia datang lagi? Bukankah tadi pagi dia sudah pergi?”
Ryan tampak lega melihat Nadia. Pak satpam
yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya membuka suara.
“Nak, dari tadi Bapak lihat kamu berdiri di
sini terus. Sebenarnya kamu sedang menunggu siapa?”
Ryan menunjuk ke arah
jendela kelas. “Dia.”
Pak satpam mengikuti arah telunjuknya. “Nadia?”
Ryan mengangguk. Di dalam kelas, Nadia
buru-buru membuka bukunya. Ia pura-pura membaca. Padahal, dari balik halaman
buku, sebelah matanya terus mengamati percakapan mereka.
“Nadia itu anak baik.
Pintar, cantik, tapi pendiam.”
Pak satpam melirik Ryan. “Kalian pacaran?”
Ryan terkekeh pelan. “Kalau dia pacar saya,
mungkin setiap hari saya harus mengusir para penggemarnya.”
Pak satpam ikut tertawa. “Wah, pede juga kamu.”
“Tapi sayangnya...” Ryan mengangkat bahu. “Kami bahkan belum saling kenal.”
Pak satpam
mengangguk-angguk. “Pantas saja dia tadi lari. Mungkin dikira pengganggu.”
Ryan spontan meraba wajahnya sendiri. “Apa tampang saya
semenyeramkan itu, Pak?”
Pak satpam memperhatikannya dari ujung
rambut sampai sepatu. “Bukan wajahmu yang masalah.”
“Terus?”
“Seragammu.”
Ryan menoleh melihat kemejanya yang kusut
dan dasinya yang longgar.
Pak satpam tertawa kecil. “Lihat saja penampilanmu.
Orang bisa mengira kamu habis tawuran.”
Ryan langsung merapikan kerah bajunya. “Jangan menilai orang
dari penampilannya, Pak.”
“Kalau begitu, tujuanmu
datang ke sini apa?”
Ryan tersenyum. “Ada sesuatu yang ingin
saya sampaikan.”
Pak satpam menyipitkan mata. “Ngaku saja. Mau
menyatakan perasaan pada Nadia, kan?”
Dia terkekeh pelan. “Bukan, Pak. Sungguh bukan itu
tujuan saya.”
“Ah, anak muda sekarang. Pintar sekali
menyembunyikan perasaan.”
Ryan mengusap tengkuknya sambil tersenyum canggung.
“Aduh... kenapa saya jadi seperti terdakwa begini?”
Pak satpam tertawa melihat ekspresinya. “Tenang
saja. Lima belas menit lagi bel pulang berbunyi.”
Dia mengembuskan napas lega. “Terima kasih, Pak.
Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu, setelah itu saya akan pergi.”
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Para siswa berhamburan keluar gerbang sekolah. Tawa
dan obrolan mereka memenuhi halaman. Ryan segera mencari sosok yang sejak tadi
ditunggunya.
Tak lama kemudian, Nadia melangkah keluar sambil
memeluk buku di dadanya, melihat Ryan berdiri tidak jauh dari gerbang.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Tanpa berpikir
panjang, ia mempercepat langkah. Ryan segera menyusul.
“Tunggu sebentar!”
Nadia tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju
halte. Namun angkutan umum yang biasa lewat belum juga datang. Terpaksa ia
melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Ryan tetap mengikuti dari belakang. “Nadia... apa
kamu mendengarku? Tolong berhenti sebentar!”
Mendengar namanya dipanggil, Nadia akhirnya
menghentikan langkah. Ia berbalik dengan wajah penuh waspada.
“Tolong jangan mendekat. Siapa kamu? Kenapa terus
mengikutiku?”
Ryan segera mengangkat kedua tangannya, berusaha
menunjukkan bahwa ia tidak berniat buruk.
“Tenang. Namaku Ryan.“ Ia tersenyum ramah.
“Aku tidak akan menyakitimu. Aku datang hanya untuk
mengucapkan terima kasih.”
Nadia mengernyit bingung. “Terima kasih?”
“Iya.” Ryan mengangguk. “Apa kamu masih ingat
kejadian kemarin sore?”
Nadia mencoba mengingat. “Kemarin...?”
“Adikku ditabrak pengendara motor yang langsung melarikan
diri.” Wajah Ryan berubah serius. “Orang-orang hanya melihat dari kejauhan.
Tapi kamu yang membawanya ke puskesmas dan memastikan dia mendapat pertolongan.”
Ryan menundukkan kepala dengan tulus. “Kalau bukan
karena bantuanmu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada adikku.”
Nadia terdiam. Perlahan rasa takut yang sejak tadi
memenuhi hatinya mulai memudar.
“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”
“Bagi kamu mungkin itu hal biasa. “Ryan tersenyum
hangat. “Tapi bagi keluargaku, kamu sudah menyelamatkan seseorang yang sangat
berharga.”
Nadia akhirnya membalas senyum tipis. “Syukurlah
kalau keadaan adikmu sudah membaik.”
Ryan mengangguk
pelan. “Itulah alasan aku mencarimu sejak tadi pagi.”
Kini Nadia mengerti. Ryan yang semula
disangkanya berniat buruk ternyata hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih.
“Jadi... Kania itu adikmu?” Ryan tersenyum.
“Iya. Kami tinggal di perumahan di belakang
sekolahmu. Sebenarnya aku datang karena Kania terus memintaku membawamu ke
rumah. Dia ingin bertemu langsung dan mengucapkan terima kasih.”
Nadia terdiam sejenak. “Kalau begitu... aku
akan menemuinya.”
Wajah Ryan langsung berbinar. “Benarkah?”
“Iya. Tapi dengan satu syarat.”
Ryan mengangkat alis. “Syarat?”
“Kamu juga harus mengantarkanku pulang.”
Ryan terkekeh pelan. “Tentu
saja. Aku bertanggung jawab mengantarmu sampai rumah.”
Ia kemudian menambahkan dengan nada serius.
“Tapi kamu tetap harus meminta izin kepada orang tuamu. Mereka pasti khawatir.”
Ucapan itu membuat senyum Nadia memudar. “Meminta izin...”
Kata-kata itu bergema di kepalanya. Apa aku benar-benar harus melakukannya? Selama
ini Ibu pergi sejak pagi dan pulang larut malam tanpa pernah menjelaskan ke
mana. Aku selalu menunggu, tetapi jarang mendapat kabar. Kalau begitu...
bukankah wajar kalau kali ini aku juga pergi tanpa banyak penjelasan?
“Baiklah,” ucapnya
akhirnya. “Aku akan memberi kabar.”
Ia mengeluarkan
ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan.
Dika, tolong sampaikan
ke Ibu kalau aku pergi ke rumah teman. Jangan khawatir, nanti aku pulang
diantar.
Setelah memastikan
pesannya terkirim, Nadia menatap Ryan. “Ayo.”
Ryan mengangguk sambil tersenyum lega.
***
Rumah keluarga Ryan
menghadirkan suasana yang belum pernah Nadia rasakan sebelumnya. Kehangatan
menyambutnya sejak pertama kali melangkah masuk. Om Wisnu dan Tante Gia
menerima kedatangannya tanpa canggung, seolah-olah ia sudah lama mengenal
keluarga itu.
Mereka makan malam bersama di meja makan.
Tawa dan obrolan ringan mengisi ruangan. Di keluarga itu ada dua anak. Kania
adalah putri kandung Om Wisnu dan Tante Gia, sedangkan Ryan merupakan anak
angkat yang mereka adopsi sejak bayi. Namun, kasih sayang yang mereka berikan
tidak pernah dibedakan. Ryan telah menjadi bagian dari keluarga itu sepenuhnya.
Meski baru duduk di kelas dua SMP, cara berpikir Kania jauh lebih dewasa
daripada usianya.
“Kak Nadia...” panggil Kania pelan.
“Iya?”
“Gimana kalau Kakak menginap di sini malam
ini? Tadi Kakak juga sudah izin ke rumah, kan?” Nadia tersenyum. Usul itu
sebenarnya sama dengan keinginannya sejak awal.
“Aku memang sudah meminta izin. Tapi... apa
aku tidak merepotkan keluarga kalian?”
Kania langsung menggeleng kuat. “Tentu
tidak! Aku malah senang sekali kalau Kakak menginap. Rasanya seperti punya
kakak perempuan.”
“Kania, kamu ini memang tidak pernah
menyerah ingin punya kakak perempuan.” Ia mencubit pelan pipi adiknya. “Memangnya
punya kakak laki-laki sepertiku kurang?”
Kania mengusap pipinya sambil cemberut. “Kurang.”
Ryan menggeleng pasrah. “Jawabannya selalu
itu.”
Semua tertawa. Nadia menatap Tante Gia yang
baru datang membawa sepiring camilan hangat.
“Tante... kalau tidak merepotkan, bolehkah
saya menginap semalam?”
Tante Gia tersenyum lembut. “Tentu saja
boleh. Kami malah senang ada teman untuk Kania.”
Beliau menoleh kepada putrinya. “Ayo, bantu
ibu merapikan kamar. Jangan sampai tamunya yang malah membereskan.”
“Iya, bu!” jawab Kania bersemangat.
Saat mereka hendak pergi, Ryan kembali
bersuara. “Ingat satu lagi..." Ia menunjuk Kania sambil tersenyum usil. “Tolong
jangan ngobrol sampai tengah malam. Kamar kita bersebelahan. Kalau kalian tidak
tidur, nanti aku juga ikut tidak bisa tidur.”
“Tenang saja, Kak. Kalau berisik, paling
cuma sedikit.”
Ryan tertawa. “Nah, itu dia yang justru
membuatku khawatir.”
Suasana rumah
kembali dipenuhi tawa.
“Kak Ryan kan memang sudah terbiasa tidur
larut malam,” celetuk Kania sambil menyeringai. “Jadi bukan salah Kania kalau
nanti berisik. Kalau dua perempuan tidur dalam satu kamar, ya pasti mengobrol.
Memangnya kami patung?”
Ryan menggeleng sambil tertawa. “Kamu ini
selalu punya pembelaan.”
Om Wisnu ikut tertawa melihat tingkah
putrinya. Kania menjulurkan lidah jahil ke arah Ryan sebelum berlari menaiki
tangga.
Nadia ikut tersenyum. Sudah lama ia tidak
melihat keluarga yang saling menggoda tanpa menyakiti.
“Ngomong-ngomong, Nad,” panggil Om Wisnu
setelah tawanya reda. “Kamu sudah meminta izin kepada orang tuamu?”
Senyum Nadia sedikit memudar. “Sudah, Om.”
Jawaban itu keluar begitu saja, meski ada
rasa bersalah yang menyelinap di dalam hatinya. Ia tahu dirinya tidak
sepenuhnya jujur.
“Syukurlah,” ujar Om Wisnu. “Berarti mereka
tidak perlu khawatir. Selama di sini, anggap saja rumah sendiri. Besok Ryan
sekalian mengantarmu ke sekolah.”
Ryan mengangguk. “Siap, Om.”
“Terima kasih, Om.”
Om Wisnu hanya membalas dengan senyum
hangat.
Malam itu, untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, Nadia merasakan hangatnya sebuah keluarga
yang utuh. Entah mengapa, ada perasaan damai yang perlahan mengisi ruang kosong
di hatinya. Untuk sesaat, ia lupa bahwa dirinya datang ke rumah itu sambil
membawa kebohongan.
Malam semakin larut. Kania sudah terlelap,
tetapi mata Nadia belum juga terpejam. Ia keluar kamar dengan langkah pelan
agar tidak membangunkan siapa pun. Dari balkon ruang tengah, angin malam
berembus lembut melalui jendela besar yang sengaja dibiarkan terbuka. Langit
tampak cerah. Bintang-bintang bertaburan, menghiasi gelap yang tenang.
Di sana, Ryan duduk bersandar sambil
menatap langit.
“Ryan?”
Ryan menoleh lalu tersenyum. “Belum tidur?”
Nadia menggeleng. “Belum mengantuk.”
Ryan menggeser duduknya. “Duduklah.”
Nadia mengambil tempat di sampingnya. Beberapa
saat mereka hanya menikmati keheningan.
“Langit malam selalu indah,” ujar Ryan
pelan. “Menurutku, Tuhan menciptakan malam supaya manusia punya waktu berhenti
sejenak... merenung... lalu berdamai dengan dirinya sendiri.”
Nadia ikut mendongak. “Kalau begitu...
kenapa masih banyak orang yang menangis di malam hari?”
Ryan tersenyum. “Karena tidak semua orang
langsung menemukan jawaban.”
Hening kembali menyelimuti mereka.
“Nad, kamu terlalu sering menyembunyikan
perasaan.”
Nadia menoleh. “Begitukah?”
“Iya. Kamu lebih sering tersenyum sopan
daripada tersenyum karena benar-benar bahagia.”
Kalimat itu membuat Nadia terdiam.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”
“Apa semua orang harus tahu masalahku?”
Ryan menggeleng. “Tidak.”
“Lalu kenapa bertanya?”
“Karena kadang seseorang hanya butuh
didengarkan.” Ryan mengangkat tangan, lalu menjulurkan jari kelingkingnya. “Kalau
kamu mau bercerita... aku janji semua akan berhenti di sini.”
Nadia menatap kelingking itu beberapa
detik. Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa ada seseorang yang
benar-benar ingin mendengarkan tanpa menghakimi.
Perlahan ia mengaitkan kelingkingnya dengan
milik Ryan. “Janji.”
Ryan tersenyum. “Janji.”
Malam itu menjadi awal Nadia membuka
sedikit demi sedikit pintu yang selama ini ia tutup rapat.
Ia bercerita tentang kesepiannya. Tentang
ibunya yang harus bekerja siang dan malam demi memenuhi kebutuhan mereka. Nadia
tidak pernah membenci ibunya, tetapi ia merindukan waktu-waktu sederhana yang
tidak bisa dibeli dengan uang—makan bersama, mengobrol sebelum tidur, atau
sekadar ditemani saat hatinya sedang rapuh.
Ryan tidak banyak memberi nasihat. Ia lebih
sering mendengarkan. Sesekali menyelipkan candaan yang membuat Nadia tersenyum,
bahkan tertawa lepas.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Ryan
menjadi teman yang selalu menyambut Nadia sepulang sekolah. Sering kali ia
mengajak Nadia singgah ke rumah sebelum pulang, sementara keluarga kecil itu
perlahan menerima Nadia seperti anggota keluarga sendiri.
Di sisi lain, Nadia
mulai menjaga jarak dari Alex. Bukan karena Alex pernah berbuat salah. Melainkan
karena ia takut semakin lama berada di dekatnya, semakin besar pula luka yang
mungkin akan ia tinggalkan.
Kenangan itu
perlahan memudar, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Setelah sadar dari
koma, banyak hal yang terlupakan. Namun, ada satu nama yang terus muncul di
benaknya.
Ryan.
Ryan yang pernah mengajarinya bahwa malam
bukan hanya tentang gelap, melainkan juga tentang harapan. Tanpa benar-benar
memahami alasan di balik kerinduannya, langkah Nadia membawanya ke sebuah rumah
yang terasa begitu akrab.
Rumah keluarga Ryan. Namun, gerbang itu
terkunci rapat. Halaman yang dulu dipenuhi tawa kini tampak sunyi. Tidak ada
suara Kania, tidak ada sapaan Om Wisnu, ataupun Tante Gia.
Nadia menggenggam erat jeruji gerbang. Dadanya
terasa sesak. Air mata perlahan jatuh tanpa mampu ia tahan.
“Ryan, aku selalu memikirkanmu. Kamu... di
mana?” bisiknya lirih.
Tidak ada jawaban. Hanya desir angin yang
berembus pelan, membawa pergi suaranya bersama kenangan yang masih tertinggal
di rumah itu.
***
Waktu terasa
berjalan lambat. Kereta melaju membelah kota, sementara Nadia duduk di sisi
jendela. Tatapannya mengikuti pemandangan yang terus berganti, tetapi
pikirannya jauh berada di tempat lain.
Air mata perlahan
mengalir di pipinya. Seseorang yang duduk di sampingnya diam-diam menyodorkan
sebungkus tisu.
“Matamu terlalu indah untuk terus menangis.”
Nadia mengambil tisu itu tanpa menoleh. “Kenapa
kamu mengikutiku?”
Alex tersenyum tipis. “Aku hanya ingin
memastikan kamu baik-baik saja.”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Aku tahu.” Alex mengembuskan napas pelan. “Tapi
tetap saja aku tidak tenang melihat pacarku naik kereta sendirian tanpa memberi
tahu tujuannya.”
Nadia menggenggam erat tisu di tangannya. “Aku
sendiri tidak tahu harus ke mana...”
Suara Nadia mulai bergetar.
“Aku merasa ada seseorang yang harus
kutemui. Tapi setiap kali mencoba mengingatnya... kepalaku justru semakin
sakit.”
Alex memandang wajah Nadia yang dipenuhi
kebingungan. Ia ingin memeluk gadis itu. Namun, ia takut Nadia akan semakin
menjauh.
“Apa yang harus kulakukan, Alex?” bisik
Nadia.
Air matanya kembali jatuh. Alex terdiam
beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil, meski matanya menyimpan kesedihan.
“Kalau tersenyum itu terlalu berat... Ia
mengangkat satu jari. “...bolehkah aku meminjam satu senyum kecil saja?”
Nadia menatapnya heran.
“Satu saja.” Alex ikut mengembangkan senyum
tipis. “Supaya aku tahu Nadia yang kukenal masih ada.”
Sudut bibir Nadia bergerak pelan. Senyum
itu nyaris tak terlihat. Namun bagi Alex... Itu sudah lebih dari cukup. Alex
membalas senyum kecil Nadia tanpa berkata apa-apa. Di dalam hatinya, ia hanya
berharap gadis di sampingnya suatu hari nanti bisa benar-benar tersenyum lagi.
Kereta terus melaju. Suara roda yang
bergesekan dengan rel memenuhi keheningan di antara mereka. Setelah beberapa
saat, Nadia akhirnya membuka suara.
“Alex...” Nadia menundukkan kepala. “Aku
sudah terlalu sering mengecewakanmu.”
Alex tersenyum. “Kamu tidak pernah sengaja
melakukannya.”
Nadia menggeleng pelan. ”Tapi tetap saja...
aku lelah terus memaksakan perasaan yang tidak pernah benar-benar ada.”
Kalimat itu membuat Alex terdiam. Ia sudah
menduga hari ini akan tiba.
Hanya
saja, mendengarnya langsung dari bibir Nadia tetap terasa menyakitkan.
Alex mengembuskan napas panjang. “Kalau
begitu...”
Ia menatap keluar jendela sejenak sebelum
kembali memandang Nadia. “Maaf karena selama ini aku memaksamu bertahan dalam
hubungan yang membuatmu tidak bahagia.”
Air mata Nadia kembali jatuh. “Tidak, Alex.
Aku yang seharusnya meminta maaf."
Ia menggenggam kedua tangannya sendiri.
“Kamu sudah menjadi orang yang sangat baik.
Justru aku yang tidak mampu membalas semua perasaanmu.”
Alex tersenyum, meski matanya mulai
memerah. “Jangan berkata begitu! Kamu pantas mendapatkan seseorang yang
mencintaimu sebesar kamu mencintainya.”
Suasana kembali hening.
Kereta masih melaju tanpa peduli pada
perpisahan yang sedang terjadi di dalam salah satu gerbongnya.
Beberapa saat kemudian, Alex mengulurkan
tangan.
“Kalau memang kita tidak ditakdirkan
berjalan sebagai sepasang kekasih, bolehkah kita tetap menjadi sahabat?"
Nadia menatap tangan itu beberapa detik. Lalu
ia menyambutnya.
“Boleh.”
Jabat tangan mereka berlangsung singkat. Namun
cukup untuk mengakhiri sebuah hubungan tanpa kebencian.
Alex mengangguk pelan. “Terima kasih, Nad.”
“Untuk apa?”
“Karena akhirnya kamu memilih jujur.”
Nadia tersenyum. “Terima kasih juga...
karena kamu pernah menyayangiku dengan tulus.”
Kereta terus melaju. Kali ini, bukan hanya
membawa mereka menuju tujuan yang berbeda, tetapi juga mengantar dua hati yang
akhirnya memilih melepaskan.
***
“Ryan... aku di sini!”
Baru saja kakinya menginjak peron, Nadia spontan
memanggil nama itu. Suara lantangnya membuat beberapa penumpang menoleh heran. Nadia
berdiri memandang ke segala arah. Berharap menemukan sosok yang selama ini
memenuhi pikirannya.
Namun...
Tak ada siapa pun.
Hanya lalu-lalang orang asing yang sibuk dengan
tujuan masing-masing.
Harapan di wajah Nadia perlahan memudar. Alex yang
berdiri di sampingnya hanya mampu menghela napas pelan.
“Ayo,” ucapnya lembut.
Nadia mengangguk kecil.
Mereka meninggalkan stasiun menuju alamat yang
diberikan tetangga keluarga Om Wisnu.
30 menit kemudian...
Langkah mereka berhenti di depan sebuah rumah yang
berdiri di atas perbukitan teh.
Udara pegunungan terasa sejuk. Angin membawa aroma
dedaunan basah. Rumah itu tampak tenang. Terlalu tenang. Halamannya bersih,
tetapi pintunya tertutup rapat. Tidak terdengar suara televisi. Tidak ada tawa
Kania. Tidak ada suara Ryan.
Nadia mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Kali ini lebih
keras.
“Permisi...” Tetap sunyi.
Alex memandang sekeliling. “Sepertinya tidak ada
orang di rumah.”
Nadia menggeleng. “Alamatnya tidak mungkin salah.” Ia
mengeluarkan secarik kertas dari saku tasnya.
“Lihat.”
Alex membaca alamat yang tertulis.
Benar. Sama persis dengan rumah yang ada di depan
mereka.
“Mungkin mereka sedang pergi,” ujar Alex pelan.
Nadia menggigit bibirnya. “Tidak...”
Ia menatap pintu itu tanpa berkedip. “Mereka pasti
ada.”
Seolah kehilangan kesabaran, Nadia meraih gagang
pintu dan mencoba membukanya. Alex segera menahan tangannya.
“Nad, jangan! Kita tidak boleh masuk tanpa izin.”
Nadia menatap Alex dengan mata yang mulai dipenuhi
air mata. “Aku hanya ingin bertemu mereka.”
Suaranya nyaris berbisik. “Aku hanya ingin memastikan
Ryan baik-baik saja.”
Alex terdiam. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang
bisa menghentikan kerinduan seseorang. Nadia kembali menghadap rumah itu. Lalu
menarik napas dalam.
“Tante Gia! Om Wisnu! Kania! Ryan...” Ia menahan
isak.
“Ini aku... Nadia. Aku datang. Kalau kalian ada di
dalam... Tolong temui aku.” Suara Nadia menggema di antara hamparan kebun teh.
Namun yang menjawab...Hanyalah desir angin.
Alex perlahan berdiri di samping Nadia. “Nad... Kita
cari tahu ke warga sekitar, ya.”
Nadia tetap
memandangi rumah itu. Seolah berharap pintu yang tertutup rapat itu terbuka
kapan saja. Namun... Rumah itu tetap sunyi.
Air mata kembali mengalir. “Ryan...”
Suaranya bergetar. “Aku sangat
merindukanmu.”
Ia mengusap pipinya yang basah. “Aku hanya
ingin berbicara denganmu... sebentar saja.”
Nadia menatap langit yang mulai diselimuti
awan. “Entah kenapa, sejak terbangun dari koma, ingatanku selalu membawaku
kepadamu. Hampir setiap malam aku menangis tanpa tahu alasannya. Aku menatap
langit... persis seperti yang dulu sering kita lakukan.”
Ia menarik napas panjang. “Ryan... Tolong
temui aku.”
Keheningan menyelimuti halaman rumah. Hanya
suara angin yang berembus pelan di antara hamparan kebun teh. Lalu... Terdengar
bunyi kunci diputar dari balik pintu.
Klik.
Pintu kayu itu terbuka perlahan. Seorang
wanita berdiri di ambang pintu.
“Tante...” bisik Nadia.
Belum sempat berkata apa-apa lagi, ia
langsung memeluk wanita itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya
pecah.
“Gadis cerewet...” suara Tante Gia
terdengar serak. “Tante juga merindukanmu.”
Pelukan itu berlangsung lama. Nadia baru
menyadari mata Tante Gia tampak sembap, seolah baru saja menangis. Saat
melepaskan pelukan, Tante Gia melirik ke arah Alex yang berdiri tidak jauh dari
gerbang.
“Siapa temanmu ini?”
Alex melangkah mendekat lalu menundukkan
badan dengan sopan. “Perkenalkan, Tante. Nama saya Alex. Teman Nadia.”
Tante Gia membalas uluran tangannya dengan
senyum tipis. “Silakan masuk.”
Rumah ini sangat rapih. Namun suasananya
terasa berbeda. Terlalu sunyi. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Tak ada
suara tawa Kania. Tak ada candaan Ryan. Tak ada sapaan Om Wisnu.
Nadia mulai merasa ada yang tidak beres. “Tante...”
Ia menatap wajah Tante Gia dengan penuh
harap. “Om Wisnu, Kania, dan Ryan... ke mana?”
Tante Gia terdiam beberapa saat. “Mereka
sedang keluar.” Jawabannya singkat.
“Nanti juga pulang.” Beliau mencoba
tersenyum.
“Kalian pasti lelah setelah perjalanan
jauh. Tante ambilkan minuman dan camilan dulu.”
Beliau baru saja hendak berdiri ketika
Nadia buru-buru menggenggam tangannya.
“Jangan, Tante. “Suara Nadia hampir berubah
menjadi isak. “Aku datang ke sini bukan untuk makan.”
Tatapannya mulai berkaca-kaca. “Aku hanya
ingin bertemu Ryan.”
Ruangan kembali diliputi keheningan. Tante
Gia menatap Nadia cukup lama. Sorot matanya dipenuhi keraguan. Seolah ada
sesuatu yang ingin diucapkan... Namun bibirnya berkali-kali gagal mengeluarkan
suara.
Perlahan beliau menundukkan kepala. Air
mata jatuh membasahi punggung tangannya.
“Nad...” Suaranya bergetar. “Kamu harus
kuat.”
Jantung Nadia berdetak semakin cepat. Entah
mengapa, firasat buruk mulai memenuhi dadanya.
“Tante...”
“Ryan...” Nama itu membuat Tante Gia
kembali terisak. “...sudah pergi.”
Dunia Nadia seolah berhenti berputar. Ia
mematung. Pendengarannya mendadak berdengung.
“Apa...?” Suara Nadia hampir tak terdengar.
“Tidak... Tidak mungkin.”
Tante Gia menangis sambil menggeleng pelan.
“Sejak Ryan pergi, Kania berubah menjadi anak yang pendiam. Butuh waktu berminggu-minggu
sampai akhirnya dia mau kembali tersenyum.”
Beliau menarik napas panjang. “Om Wisnu dan
Tante juga belum pernah benar-benar bisa melupakan Ryan.”
Air mata kembali jatuh. “Makamnya ada di
belakang rumah. Kami ingin tetap dekat dengannya.”
Nadia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Tangisnya pecah. Alex yang sejak tadi hanya diam ikut menundukkan kepala. Ia
sudah mengetahui semua itu. Karena itulah ia memilih menemani Nadia datang ke
tempat ini.
“Ryan...” Nadia menangis semakin keras. “Kenapa...?
Kenapa dia bisa...”
Tante Gia menggenggam kedua tangan Nadia. “Mungkin
keluargamu memilih merahasiakan semuanya. Tapi sekarang... Kamu berhak
mengetahui kebenarannya.”
Nadia mengangguk lemah. Tante Gia mulai
bercerita.
“Waktu itu... sebelum kamu koma. Hubunganmu
dengan ibumu sedang tidak baik. Setelah ibumu membatalkan pernikahannya, mantan
calon suaminya terus meneror kalian. Hari itu hujan sangat deras. Kamu
sendirian di rumah. Pria itu datang bersama beberapa orang dan mengobrak-abrik
rumah.”
Nadia menggenggam kepalanya. Potongan-potongan
bayangan mulai bermunculan. Namun masih samar.
“Kami tiba-tiba tidak bisa menghubungimu. Ryan
panik. Dia bersikeras menjemputmu. Tante sudah melarang. Kania menangis
memintanya tetap di rumah. Kami juga sudah menghubungi polisi. Tapi Ryan
berkata...”
Tante Gia berhenti sejenak. Air matanya
kembali mengalir.
“Kalau Nadia benar-benar dalam bahaya, aku
tidak bisa hanya menunggu.”
Ruangan kembali sunyi.
“Itu kalimat terakhir yang Tante dengar
darinya.”
Nadia mulai terisak.
“Ryan berhasil menemukanmu. Dia membawamu
keluar. Tetapi... Tidak jauh dari rumah... Mobil yang kalian tumpangi mengalami
kecelakaan.”
Tangan Nadia bergetar hebat. “Ryan
mengalami luka yang sangat parah. Sedangkan kamu... Masih mempunyai harapan
untuk hidup.”
Tante Gia memejamkan mata. “Dokter
mengatakan penglihatanmu tidak bisa diselamatkan.”
Nadia perlahan menyentuh kedua matanya. Seolah
baru menyadari sesuatu. Tante Gia menggenggam tangan Nadia lebih erat.
“Ryan mengetahui semuanya. Keputusan
terakhirnya adalah mendonorkan kedua matanya untukmu.”
Ruangan mendadak sunyi. Tak ada satu pun
yang mampu berkata-kata. Nadia menangis tanpa suara. Perlahan kedua tangannya
menutupi wajah.
“Aku... “Suaranya patah. “...melihat dunia dengan
mata Ryan.”
Kalimat itu membuat Tante Gia memeluk Nadia
erat. “Kami tidak pernah menyalahkanmu. Ryan membuat pilihan itu karena dia
menginginkannya.”
Namun Nadia terus menggeleng. Air matanya
tak kunjung berhenti.
“Maaf... Aku benar-benar minta maaf.”
Aku akhirnya
memahami satu hal. Manusia tidak benar-benar pergi ketika tubuhnya tiada. Mereka
tetap hidup dalam setiap kebaikan yang pernah ditinggalkan.
Ryan hidup dalam keberanianku.
Dalam setiap langkah yang kuambil.
Dalam setiap langit yang kupandangi.
Dan...
Dalam kedua mata yang kini kupakai melihat
dunia.
Aku mengusap batu nisan itu perlahan.
“Terima kasih sudah menjadi rumah yang
mengajarkanku arti pulang.”
Angin berembus lembut. Langit sore tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Aku melangkah pergi tanpa membawa
penyesalan.
Sebab aku tahu... Cinta sejati tidak selalu
berakhir dengan kebersamaan. Kadang, cinta justru memilih tinggal... dalam
kenangan yang tak pernah mati.
Terimakasih
Ini
ceritaku, DILARANG COPYPASTE!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar