Kamis, 19 September 2013

CERPEN "INGATAN"


Gedung mewah ini berdiri kokoh dengan sensasi yang berbeda dari tempat lain. 

Ruangan yang tidak pernah sepi, aroma obat yang menusuk hidung, suara alat-alat penopang tubuh yang berfungsi menjaga seseorang agar bertahan hidup. Siapa yang tidak meringis, siapa yang tidak peduli. Jerit, tangis, tawa berbaur bagai sahabat. Duka cita datang tidak terduga.

Wajahnya menunjukan ketegaran. Dia berusaha menahan kantuk dimata demi mengawasi seseorang yang bertahan dalam tidur. Berharap mata itu terbuka melihat disamping “Ibu”. Sebutan yang ia rindukan. Waktu teramat pahit telah terlalui bersama. Dia tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang hidup mandiri. Wanita itu tidak menjanjikan apa-apa, tetapi setidaknya dia akan memperbaiki kesalahan. Setiap orang ingin menjalani kehidupan yang bahagia, satu pintanya “Ingin selalu bersama”.

Tepat 3 minggu, gadis itu terbaring tidak sadarkan diri. Dia sedang berjuang, menunjukan perubahan yang berarti.

“Nak. Jangan sampai kamu menyerah! Temukan jalan pulang! Tuhan menyertai. Ibu ikhlas akan pilihanmu.” Tanpa dia sadari tangan gadis itu bergerak, merasakan tangannya tergengam erat penuh kehangatan.

“Ibu.” ucapnya lirih.

Wanita cantik itu berusaha menopang dagu yang hampir saja tenggelam pada ujung ranjang. Namun sebuah suara membuat dia mendongkak.

“Apa aku bermimpi?” dia masih tidak percaya.

Dia memastikan dengan mengamati gerak bibir Nadia. Benar saja, Nadia telah sadar dari koma.

“Ibu, apa yang terjadi? Mataku kenapa?” Tubuh gemetar, menyadari matanya tertutup perban.

“Tenang ya Nad! Ibu disini, kamu akan baik-baik saja.” 

Nadia menangkap dengan jelas ucapan ibunya. Namun dia merasa tubuhnya sangat lemas.

“Aku harus bagaimana bu?” Nadia masih dalam kepanikan.

“Ibu akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Ibu akan segera kembali. Tunggu sebentar!” berusaha menenangkan

Tangannya menghapus kegelisahan di ujung mata Nadia. Kecupan menenangkan mendarat dipipi “Anakku.” Dia melangkah cepat meninggalkan ruangan untuk mencari Dokter Fatimah.

Setiap manusia tidak akan tau kehendak Tuhan. Begitupun dengan pemandangan di depan mata. Kebahagiaan yang ia rasakan berbanding terbalik dengan seseorang yang berada didalam ruangan itu. Dia hanya mengintip pada pintu yang sedikit terbuka. Pasien di ruangan tersebut telah pergi, meninggalkan kenangan untuk orang disekitar. 

“Kamu yang terbaik. Aku tidak akan mengecewakanmu. Terimakasih.” 

Dia, seseorang yang ia sayangi seperti kasihnya pada Nadia. Melihatnya terbujur kaku, saat dirinya bahagia Nadia kembali. Apa ini adil? Siapapun tidak dapat merubah kehendakNya.

***

Bibir Nadia seakan kaku mengucapkan “Ibu” bukan karena tidak pernah mengucapkan kalimat itu, tetapi saat ini dia merasa kesulitan menggerakan organ tubuh. Matanya  masih terpejam seperti ada perekat yang menghalangi. Namun pendengarannya masih tajam. Pintu diruangan berderit, seseorang berjalan mendekat.

“Ibu?”

“Aku pikir aku akan mengucapkan selamat tinggal padamu tetapi sepertinya kamu memang beruntung. Lain denganku, Tuhan mengambil yang berharga bagiku.” ucapnya dalam tangis.

“Dia menangis, itu bukan suara Ibu. Siapa dia?”

“Aku tidak ingin melihatmu. Pergilah jauh dari kehidupanku!” penuh amarah dengan suara yang bergetar.

Nadia tidak mengerti apa yang membuat perempuan itu membencinya. Dia ingin sekali bertanya, namun anggota tubuh tidak berpihak.

“Apa maksud ucapanmu? Siapa kamu?” Nadia ingin memastikan siapa dia.

 “Lantas aku harus mengenalkan diri sebagai orang yang membencimu? Kenapa kamu harus hadir di hidupku dan merusak semuanya? Kamu...” Ruangan itu menggema, tangisan pilu bagai sayatan tajam.

Betapa bencinya kamu padaku. Apa yang telah aku lakukan?” ucap Nadia gelisah penuh tanya. 

Namun tidak ada jawaban. Langkah perempuan itu berlalu, meninggalkan ruangan. Nadia tidak mendengar penjelaskan. Kali ini pintu berderit lagi, namun langkah kaki beberapa orang.

“Nadia, maaf menunggu.” suaranya sangat lembut.

“Dok, saya khawatir dengan keadaannya.” Ibu cemas.

“Baiklah Nadia, saya akan periksa keadaan kamu terlebih dahulu.” 

Peralatan dokter yang membelit tubuh, satu persatu dilepaskan oleh perawat. Dokter menyuruh Nadia menggerakan tangan dan kaki, meyakinkan semua organ tubuh berfungsi dengan baik. Hanya saja Nadia merasakan kejanggalan pada mata.

“Kenapa harus ditutup perban? Apa aku buta?” membayangkan sesuatu yang buruk terjadi.

Dokter melepas perban, Nadia mengikuti saran dokter untuk membuka mata perlahan. Bola mata menangkap seseorang yang tersenyum “Ibu”. Wajahnya berbinar, tangan menyapu dihadapan Nadia. Memastikan dia terlihat jelas. Dokter menyorotkan senter kecil, memeriksa keadaan.

“Kamu baik-baik saja. Dua minggu lagi kamu boleh pulang karena kita harus melakukan pemulihan pada organ tubuhmu. Jaga kesehatan ya Nadia!”

“Terimakasih Dok, anda telah bekerja dengan baik.” Ibu terlihat sangat bahagia.

“Sama-sama Bu. Kalau ada keluhan anda dapat menghubungi saya!” Ibu mengangguk. Dokter dan perawat meninggalkan mereka berdua.

“Terlihat jelas lelah menggurat diwajahmu, sejak kapan kamu disini? Apa selama aku terbaring? Doa, senyum, belaian tangan, kecupan hangat dikeningku. Ibu, ternyata kamu menyayangiku. Kamu memberikannya saat aku tersadar dari tidur. Aku bahkan tidak ingat. Kenapa aku berada disini? Apa aku terbangun untuk menjalani kehidupan baru?” – Nadia.

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Apa yang terjadi padaku bu?” Nadia sama sekali tidak ingat.

“Kamu sudah menjalani operasi. Sekarang kamu dalam keadaan sehat jadi tidak perlu khawatir.” ibu menjelaskan dengan sangat gugup.

“Aku tidak pernah merasa sakit. Memang aku sakit apa?”

“Ibu menemukanmu tidak sadarkan diri di kamar. Saat dirawat kamu mengalami koma dan mata mu harus dioperasi. Sekarang kamu baik-baik saja.”

“Koma? Kenapa aku tidak mengingatnya?” Nadia meringis saat berusaha mengingat.

“Jangan dipikirkan! Yang penting kamu sudah sembuh. Kita hanya perlu mengontrolnya seminggu sekali ke dokter Fatimah. Ibu akan mengantarmu.”

“Ibu, terimakasih.”

Senyum Ibu adalah senyum malaikat penjaga. Aku telah lama merindukannya.  Kini rasa sayang pada Ibu kembali utuh. Aku tidak bisa mengingat kejadian sebelum aku terbaring disini, apa aku melupakan bagian terpenting? Gadis itu, siapa dia? -Nadia.

***

Langit sore berubah mendung, seolah menangis memandang wajah seseorang. Jendela rumah itu terlalu transparan, memperlihatkan gurat sedih tatapan kosong yang mengarah pada bunga mawar di halaman rumah. Bunga itu tersentuh deras hujan tanpa bisa berbuat apa-apa. Merelakan kelopaknya jatuh satu persatu.

Dia menghembuskan nafas pada kaca, membuat sebuah kabut. Jemari perlahan menulis “ Biarkan aku mati, jika itu maumu!” 

Rintik hujan, gemuruh petir, mewakili hati. Bunga yang sejak tadi dia perhatikan, semakin menunduk terkalahkan tetesan hujan yang semakin ganas. Kasihan sekali. Langit melihat iba, bukan pada bunga tetapi pada dia yang berurai air mata menatap bunga tersebut. Perempuan yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.

“Kamu tidak pernah menyembunyikan apapun dariku Dika. Apa yang tidak aku ketahui. Bisakah kamu ceritakan?” Dika terkejut. Namun Nadia tidak melihat perubahan sikap sahabatnya.

“Aku adalah penyimpan rahasia yang baik. Seberapa keras usahamu, tidak akan menggoyahkan pendirianku.” Jawaban Dika tegas, tidak memberi pencerahan. 

Ibu saja memilih bungkam setiap diajukan pertanyaan. Kini dia mendapat perlakuan yang sama. Berapa lama sebuah persahabatan harus terjalin untuk mengetahui karakter seorang sahabat? Selama apapun itu, Nadia tidak akan tau semua hal tentang Dika. Padahal sejak kecil mereka sangat akrab, oranglain akan beranggapan kalau mereka kakak beradik. Dika dan Nadia tidak pernah menjalin hubungan meskipun keduanya saling menyayangi, mereka masih nyaman untuk menjadi sahabat.

“Dika, aku tidak tau sejak kapan ibu memilih bekerja ke rumah.” Nadia mengganti topik pembicaraan untuk mencairkan suasana.

“Sejak dia sadar kamu lah yang paling berharga. Sejak kamu sakit Nad, dia tidak pernah meninggalkanmu. Saat aku mengantarkan makanan, dia memilih tetap di dekatmu. Padahal aku bisa menggantikan.”

“Aku bersyukur ibu dapat memilih jalan yang baik. Selain itu, apa ada yang tidak aku ketahui?" Nadia masih berusaha mencari informasi.

“Tentang Alex?” tebaknya, Dika tersenyum sinis.

“Aku seperti sudah lama tidak mendengar nama itu.” menghembuskan nafas pelan.

“Dia datang ke rumah sakit saat libur sekolah. Apa kamu marah dia tidak datang hari ini?”

“Tidak, aku bahkan berharap dia tidak menemuiku lagi.” wajahnya kembali redup.

“Jangan kecewa padanya, dia sedang sibuk mempersiapkan perlombaan. Bukankah hubungan tidak akan seru jika terus bertemu?”

“Aku harus menghilang dari hidupnya.” ucap Nadia menjelaskan.

“Berhentilah berpikir negatif tentangmu! Alex tidak pernah kecewa ataupun berkata buruk. Dia datang ke rumah sakit juga atas keinginannya.” Dika berusaha membuat Nadia tenang.

“Dia bersikap seolah-olah aku memperlakukannya dengan baik karena itu aku ingin melepaskannya.”

“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Dika tidak mengerti.

“Aku hanya bisa menyakiti hatinya tetapi dia tetap berperilaku sabar. Aku merasa kasihan. Dika, bisakah kamu ceritakan bagaimana bisa aku dirawat di RS?” 

“Nad, yang penting saat ini kamu dalam keadaan sehat tidak kurang apapun!” itu tidak menjawab segala pertanyaan dalam benak Nadia.

“Tetaplah disini! Aku berharap tidak punya ingatan buruk. Aku ingin melupakan masa lalu yang mencemaskan.” Dika terdiam memandang gadis itu. Ada perasaan sedih yang dia sembunyikan selama berbicara dengannya. Namun Dika berusaha supaya semangat Nadia bisa kembali. 

***

Cahaya itu menghilang. Dia tidak tau harus berbuat apa supaya cahaya itu kembali. Bayangan? Mata menuntun mengikuti sosok itu, tetapi tidak bisa memastikan siapa dia. Kabut tebal menyembunyikan tatapan seseorang. 

Dia tidak mengerti, kenapa dia berada disini. Semakin dia mendekat pada satu titik, maka titik itu menjauh. Kenapa? padahal dia butuh penjelasan. Berharap menemukan seseorang dipadang berkabut ini tetapi tidak ada siapa-siapa yang bisa diajak berkomunikasi. Jalan keluar yang muncul lebih cepat menghilang.

Dia berjalan mengelilingi tempat yang tidak pernah di datangi. Dimana ada tempat seperti ini? seakan berjalan di tempat yang sama. Tidak ada ingatan yang menjelaskan peristiwa ini bisa terjadi. Hanya pada suara yang memanggil namanya, dia meminta penjelasan tetapi dia tidak menemukan darimana asal suara.

Nadia terbangun dalam keadaan tubuh berkeringat. Mimpi ini terulang untuk kesekian kali, setelah dia sadar dari koma.

“Mimpi.” Matanya menatap langit luar. Nadia sengaja tidak menutup jendela kamar. Malam ini dia melamun dibalik jendela.

“Aku merasa seperti orang lain. Mataku tidak berhenti mengagumimu langit. Tuhan bisakah Kau memberikan solusi terbaik?  langit gelap seakan menyadarkanku kalau semua masalah selalu ada jalan keluar. Seperti Kau ciptakan bintang menjadi setitik cahaya saat gelap datang.” Nadia tersenyum.

Di lain tempat, seorang gadis memilih duduk ditepi ranjang. Kepalanya tertunduk mencium lutut, sudut matanya tidak berhenti menetes. 

“Bisakah aku bertahan dengan rasa sakit ini? Kenapa kamu tidak menungguku sampai dewasa? Kehadirannya telah membuatku kehilanganmu. Apakah dia tetap yang terbaik bagimu? Tuhan, aku memintamu menjaganya! sampaikan pesan rinduku.”

Langit diluar sana tidak berpihak. Meskipun gelap, bulan tetap setia menerangi. Walaupun tidak dihati gadis itu. Tatapan mata memicing pada bingkai foto di meja belajar. Malam ini dia menangis lagi, mengiris hati seseorang yang mencemaskannya dibalik pintu kamar.

***

Nadia masih bertahan di gerbang sekolah. Tempat pertama kalinya dia bertemu seseorang.

###

Seorang lelaki sedang asik mengamati siswa SMA yang menyebrang menuju sekolah. Dari seragamnya dia bukan berasal dari sekolah tersebut, matanya mencari sesuatu.

“Aku tidak seberuntung kalian, tetapi aku juga tidak bodoh. Aku bisa belajar dari keadaan sekitar, ruangan yang lebih luas. Guruku adalah mereka yang aku lihat, dengar dan rasakan.” Dia berdiri dengan tegap, kakinya membuat ketukan pada tanah. Hidupnya terlihat damai. Dia tersentak melihat Nadia turun dari angkutan umum.

“Dua menit lagi gerbang sekolah akan tertutup.” Terdengar peringatan dari pak satpam.  Nadia jalan terburu-buru, lelaki itu mengikuti dari belakang.

“Sepertinya dia mengikutiku? Siapa dia? Oh Tuhan lindungi aku!” Badan Nadia menggigil. Dia melangkah cepat, sedikit berlari masuk ke sekolah.

“Hey, tunggu!” Lelaki itu memanggil Nadia tetapi satpam mencegah masuk.

###

“Apa yang terjadi?” Nadia melamun, tersadar saat seseorang menepuk pundak.

“Kenapa berdiam diri di sini?” Nadia tidak menjawab, mereka berjalan sejajar di lorong kelas.

“Selamat datang di sekolah. Apa kamu sudah merasa baikan?” Nadia mengangguk.

“Bicaralah! berhentilah membuatku khawatir!” menarik nafas, melihat gadis di samping tetap berjalan tanpa menoleh.

“Maafkan aku! Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kasalahanku?” Nadia tidak menanggapi. Alex memotong langkah gadis itu, Nadia mendongkak dengan wajah tanpa ekspresi.

“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Alex tersenyum ramah tetapi tidak mengubah ekspresi datar gadis itu.

“Selalu ada jalan keluar. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Jangan lupa hubungi aku!” Merasa tidak ada tanggapan, Alex mengelus kepala Nadia, lalu meninggalkannya sendiri. Alex adalah pacar yang baik tetapi Nadia membiarkannya berlalu.

Nadia berada di kelas, pikirannya terbawa ke dalam suasana yang sama seperti saat itu.

###

Pelajaran membosankan, murid belajar dengan tenang, tatapan mata Nadia tertuju pada pos satpam disamping gerbang sekolah. Sore itu ada pelajaran tambahan, kebetulan ruangan yang digunakan dekat sekali dengan gerbang sekolah. Murid lain fokus mendengar materi yang guru sampaikan, tetapi tidak dengan Nadia. Matanya menatap seseorang diluar jendela, dia tersenyum dan melambaikan tangan.

“Oh Tuhan, apa yang dia lakukan? Aku pikir dia tidak akan kembali.” ucap Nadia tidak percaya.

Setelah tadi pagi tidak bisa menemui gadis itu, kini dia berdiri disamping pos dengan diawasi pak satpam.

“Siapa yang sedang kamu tunggu?” Pak Satpam terus mengawasi gerak-geriknya.

“Dia.” menunjuk Nadia yang duduk di samping jendela. Nadia terlihat salah tingkah, pura-pura membaca buku tetapi sebelah matanya memperhatikan perbincangan dua lelaki diluar sana.

“Nadia? Dia cantik, pintar, tetapi sangat pendiam. Kalian ada hubungan apa? Pacaran?” selidiknya.

“Jika dia pacarku maka sainganku banyak, Pak. Setiap hari aku akan sibuk memikirkan keadaan dia, itu merepotkan. Meskipun aku menjadi lelaki beruntung karena setiap hari mendapat tatapan cemburu dari setiap orang. Hanya saja, disini aku …” ucapannya menggantung.

“Pengagum rahasia, bodyguard, babysiter atau penguntit?” tebaknya lagi.

“Tebakkan bapak meleset semua. Kami belum berkenalan, jadi wajar saja dia mengira aku pengganggu. Apa ada yang salah dengan wajahku, Pak?” memegangi wajah sambil membelokan kanan kiri.

“Zaman dulu, saat seusiamu wajah kita mirip meskipun kamu sedikit lebih tampan. Sikap kita hampir sama, tipikal orang yang tidak serius makanya sulit mengejar gadis yang disuka.”

“Apa bapak sudah menduga aku akan mendapat penolakan?” Mereka tertawa.

“Lihatlah dulu penampilanmu! Nadia takut karena mengira kamu anak yang sering tawuran.” Pak Satpam memperhatikan baju seragam yang tidak rapih.

“Don’t judge people by cover, Pak! Tenang saja pak, tujuanku kesini hanya ingin menyampaikan sesuatu.” Dia melakukan pembelaan.

“Bapak tau. Untuk mengungkapkan perasaan kan?” menatap penuh curiga.

“Bukan pak.” dia menegaskan bukan itu tujuannya.

“Anak muda zaman sekarang memang pandai berbohong.”

“Arghh, kenapa aku merasa terpojokan.” dia jengkel dan mulai gelisah, Pak satpam tertawa melihat tingkahnya.

“Tenang,  15 menit lagi pelajaran selesai.”

“Berhentilah! Aku tidak akan melukaimu.”

Dia mengejar Nadia dari gerbang sekolah. Padahal Nadia ingin segera pulang tetapi angkutan umum yang ditunggu tidak kunjung datang. Terpaksa dia berjalan untuk menghindar, tetapi pria itu tetap mengikuti.

“Nadia, apa kamu mendengarku? Tolong berhentila!” Nadia brhenti saat pria itu memanggil namanya.

“Jaga jarak denganku! Siapa kamu? Kenapa terus mengikutiku?” Nadia memberanikan diri menatap curiga.

“Namaku Ryan, aku tidak berniat jahat. Aku kesini ingin mengucapkan terimakasih padamu.”

“Terimakasih?” Nadia tidak mengerti.

“Iya, Apa kamu ingat kejadian kemarin sore? kamu adalah malaikat bagi adikku. Dia bilang kamu menolongnya saat dia ditabrak lari pengendara motor yang mengebut. Aku berterima kasih padamu, jika kamu tidak membawa adikku ke puskesmas. Mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi.” penjelasan Ryan akhirnya membuat Nadia tidak khawatir lagi.

“Jadi Kania itu adikmu?”

“Iya, kami tinggal di perumahan belakang sekolahmu. Aku kesini karena permohonan Kania yang ingin bertemu denganmu. Bisakah kamu ikut denganku?”

“Aku akan menemui Kania tetapi nanti kamu sekalian mengantarkanku pulang.” Nadia membuat kesepakatan. Kebetulan sekali dia tidak ingin berada di rumah karena Ibunya sudah kembali dari luar kota.

“Tenang saja, aku sangat bertanggungjawab. Kamu hanya perlu izin orangtua supaya mereka tidak khawatir.” Ryan menyanggupi.

Izin? Apa aku harus melakukannya? Saat aku ingin terbebas dari papan aturan. Aku tidak perlu izin untuk menjalani hidup. Dia saja tidak pernah mengabari tentang keberadaannya. Berangkat dari rumah pagi sekali dan pulang larut malam. Jadi bukankah adil jika aku juga pergi sesuka hati.” – Nadia.

 “Baiklah aku akan meminta izin terlebih dahulu.” Dia mengetik pesan, lalu mengirimnya. Dia mengirim pesan pada Dika untuk disampaikan pada Ibunya kalau dia akan menginap dirumah teman sekelas.

***

Rumah ini terasa sangat menyenangkan, penghuni rumah tersebut menyambut Nadia dengan baik. Dia ikut makan malam bersama. Om Wisnu dan tante Gia sangat baik. Mereka memiliki dua anak, Kania adalah putri kandung dan Ryan adalah anak angkat yang diadosi sejak bayi sehingga mereka menganggap Ryan seperti anak kandung juga.

Nadia berbincang bersama Kania. Dia terlihat dewasa dari umurnya. Padahal dia baru kelas 2 SMP.

“Kak, bagaimana kalau hari ini menginap saja? Bukankah kakak sudah minta izin main ke rumahku?” Tentu saja saran Kania sangat cocok dengan rencana awal Nadia.

“Aku memang sudah izin tetapi apa aku tidak mengganggumu?”

“Tentu saja tidak Kak. Aku senang kakak disini, lebih lama juga tidak apa-apa. Aku seperti punya kakak perempuan.” Kania sangat bahagia.

“Kania, kamu ini manja sekali ingin punya kakak perempuan. Apa kakakmu ini tidak cukup?” Ryan mencubit gemas pipi Kania.

“Apa boleh jika aku menginap sehari saja?" Nadia dengan berani mengatakannya.

“Boleh ya?” Kania mengatakan pada Ibunya yang baru saja ikut bergabung setelah membawa cemilan dari dapur.

“Tentu saja. Nanti Kania dan tante akan menyiapkan kamar dulu. Kania kan jarang beres-beres kamar.”

“Tolong nanti jangan berisik ya! karena bukan cuma Kak Nadia yang tidak bisa tidur. Kakak juga akan kena dampaknya.” Ryan memberi peringatan pada Adiknya, karena kamarnya berdekatan.

“Kak Ryan kan sudah terbiasa tidak tidur cepat. Jadi bukan salah Kania yang berisik karena jika dua perempuan dalam satu kamar tentu saja kami akan mengobrol. Kita kan bukan patung.” Kania meledek kakaknya.

Om wisnu dan Ryan tertawa nyaring, melihat tingkah lucu Kania yang mengoceh sambil menaiki tangga, bibirnya mencibir pada Ryan. Nadia tersenyum, merasa dirinya masuk pada bagian mereka.

“Apa kamu sudah izin pada orangtua mu, Nad?” Om Wisnu memastikan.

“Sudah om.” Nadia tetap berbohong supaya keluar dari rumah.

“Jadi mereka tidak perlu khawatir. Kami akan menjagamu dengan baik. Sekolah kamu kan dekat dari sini. Besok kamu diantar Ryan saja.”

“Terimakasih Om.”

Malam hampir larut, Nadia tidak bisa tidur. Dia memutuskan keluar dari kamar. Dia melihat seseorang duduk di balkon ruang tengah dengan jendela besar yang sengaja terbuka sehingga terlihat langit dengan beberapa bintang.

“Ryan? Apa yang kamu lakukan?” Nadia berjalan menghampiri.

“Kenapa kamu tidak tidur? Apa Kania mengganggumu?”

“Tidak, aku belum mengantuk. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga. Duduklah!” Nadia duduk di samping Ryan.

“Langit malam sangatlah indah. Tuhan menciptakan kegelapan untuk kita merenung, melupakan kegelisahan.” Ryan memandang langit dengan serius.

Nadia ikut menatap langit, merasakan kedamaian. Malam ini, mereka bercengkrama.

“Nad, kamu orangnya terlalu serius. Sesekali tersenyum dan tertawa lepas, tunjukan sisi ceriamu! Apa ada yang menganjal di hatimu?”

“Apa orang lain harus tau apa yang aku alami?”

“Katakan saja padaku! Jika itu membuat hatimu lega. Ini akan jadi rahasia kita.” Ryan menjulurkan kelingking, Nadia sepakat. 

“Janji.” Ryan meyakinkan. Entah kenapa Nadia merasa Ryan orang yang akan mengerti dirinya. 

Nadia merasa terbuang di lingkungan asing. Dia mempunyai seorang ibu yang juga berperan sebagai Ayah. Namun dia lupa anak perempuannya ini butuh kasih sayang penuh bukan materi saja. Bahkan ibunya tidak pernah menyempatkan waktu untuk mengobrol. Sehingga Nadia menghabiskan waktunya sendirian.

Saat ini Nadia  bercerita keluh kesahnya. Ryan selalu menghibur, membuat Nadia tertawa. Semenjak itu, Ryan dan Nadia sangat akrab. Bahkan setiap pulang sekolah Nadia dijemput Ryan untuk berkunjung ke rumahnya. Ryan adalah sahabat yang baik. Sebagai gantinya Nadia selalu bersembunyi dari kejaran Alex.

###

 Nadia meninggalkan kenangan itu di ingatan. Bagaimana kabar Ryan? Nadia belum sempat bertemu dengannya lagi, dia juga tidak menanyakan pada Ibu dan Dika. Ryan, dia adalah orang yang berarti baginya sejak dia datang hanya untuk mengucapkan terima kasih.

Nadia berada tepat didepan rumah keluarga Ryan. Dia menangis diluar gerbang saat tau rumah ini kosong di tinggal penghuninya.

“Ryan, aku selalu memikirkanmu. Kamu dimana?”

***

Waktu melaju seperti siput. Nadia duduk di pinggir jendela, menatap jalan yang bergerak. Kereta ini akan membawanya ke suatu tempat. Pandangannya fokus ke luar tetapi pikiran tertuju pada orang yang ingin dia temui. Air mata menghangatkan pipi. Seseorang yang duduk disamping dengan sigap menyodorkan tisu.

“Matamu terlalu berharga untuk menangis.” Nadia mengambil tisu tersebut tanpa menoleh.

“Kenapa kamu mengikutiku?”

“Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja. Tidak ada pilihan lain. Aku khawatir melihat kekasihku naik kereta sendiri tanpa tujuan.”

“Alex, aku bukan anak kecil.”

“Aku tau.” Alex menghela nafas saat matanya beradu dengan mata indah Nadia.

“Apa yang harus aku lakukan? Aku saja tidak tau.” tangisan menjelaskan amarah yang semakin meluap.

“Apa kamu juga tidak bisa tersenyum saat seseorang mengharapkannya. Apa itu saja sulit?” suara Alex terdengar mengejek, tetapi dia ingin mengembalikan semangat Nadia.

“Alex, aku telah mengecewakanmu dalam banyak hal tapi kamu tetap baik padaku. Aku lelah memaksakan perasaan ini.”

“Maaf telah memaksamu bersandiwara. Sehigga itu membebani pikiranmu.”

“Aku yang harusnya minta maaf Alex. Carilah perempuan yang sayangnya setara denganmu!” Nadia melepaskan bagian terdalam hatinya, ketenangan itu semakin terasa.

“Pada akhirnya aku merasa kecewa. Namun bisakah kita masih berteman baik?” Alex menatap Nadia, bola mata mereka saling beradu. Nadia mengangguk.

“Nad, aku sangat menghargai kejujuranmu.”

***

“Ryan. Aku disini.” Langkah kaki Nadia baru saja keluar dari gerbong kereta, namun suara nyaring berhasil menarik perhatian. Semua mata tertuju pada gadis polos yang merentangkan tangan seakan memeluk udara. Dia terlihat sangat bahagia. Namun pemuda disampingnya merasa sedih.

 “Nadia, ayo pergi!” Nadia tersadar, lalu beranjak pergi tanpa mengajak alex.

“Aku memang mudah dilupakan.” pemuda itu terlihat pasrah, mengikutinya dari belakang.

Langkah kakinya terhenti di depan sebuah rumah diatas perbukitan teh. Nadia mengetuk pintu berulang kali, Alex tidak yakin rumah ini berpenghuni karena tampak sepi.

“Mungkin tidak ada orang, kita tanya dulu pada warga disekitar sini.” ajak ALex melihat sekitar rumah hanya perkebunan.

“Ini benar alamat yang diberikan tetangga Om Wisnu.” Nadia memperlihatkan secarik kertas bertuliskan alamat.

“Tetapi tidak ada tanda-tanda mereka disini.”

“Mereka pasti didalam.” Vanesa mencoba membuka pintu. Alex menarik tangan Nadia.

“Apa yang kamu lakukan? warga bisa curiga yang tidak-tidak kamu mencoba membuka pintu rumah oranglain.”

“Aku yakin mereka ada, Tante Gia, om Wisnu, Kania, Ryan ini Nadia. Aku ingin bertemu dengan kalian. Ryan, bisakah kita bicara sebentar?” Nadia berteriak dengan suara lantang.

“Sudah Nad!” Alex tetap melarang.

“Ryan, aku sangat merindukanmu. Aku ingin berbicara denganmu, sebentar saja! Di ingatanku hanya ada kamu, tidak tau kenapa setiap malam aku gelisah, menangis sendiri dan lebih senang menatap langit persis seperti yang sering kita lakukan. Ryan...” ucapannya terhenti, tante Gia membuka pintu perlahan, Nadia reflek memeluk.

“Gadis cerewet, tante merindukanmu.” Suaranya serak, mata sembab seperti habis menangis.

“Aku juga tante.” Nadia menangis haru dalam pelukan. Rumah terlihat sepi, tante Gia baru menyadari keberadaan Alex.

“Siapa temanmu ini?”

“Saya Alex, teman Nadia.” Alex menjulurkan tangan untuk salim.

Tante Gia mempersilahkan mereka masuk. Duduk dalam keheningan.

“Yang lainnya kemana Tante?” Nadia sudah tidak sabar ingin bertemu.

“Sedang keluar sebentar nanti juga pulang. Kalian datang dari jauh, tetapi tante malah tidak menyediakan makanan. Tante bawakan cemilan dulu ya?” Geraknya terhenti, Nadia mencegahnya pergi.

“Jangan tante, kedatanganku kesini hanya untuk menemui Ryan.”

Tante Gia tertunduk. Entah kenapa Nadia merasa Tante Gia tampak pucat mendengar nama itu.

“Nad, yang kuat dan tabah ya! Ryan sudah pergi. Semenjak dia pergi Kania selalu murung, butuh beberapa minggu untuk membuatnya ceria. Sekarang dia sedang memulihkan semangatnya, untung saja disini dia punya teman-teman yang baik. Tante dan Om tidak pernah melupakan Ryan sehingga kami memilih belakang rumah untuk tempat peristirahatannya, supaya kami tetap dekat.” Tante Gia terisak. Nadia terdiam beberapa saat lalu menangis. Alex yang sudah tau kejadiannya, berusaha tegar.

 “Ryan kenapa tante?” Nadia seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

 “Mungkin keluargamu merahasiakan ini, tetapi kamu juga butuh kebenaran kan?” Nadia mengangguk lemas. Tante Gia mulai bercerita.

 “Sebelum kamu koma. Ada konflik antara kamu dan Ibumu setelah ibumu putus dengan calon ayah tirimu. Sejak kejadian itu sepertinya kamu selalu mendapat teror yang kurang menyenangkan. Hari itu hujan deras, kamu berada di rumah sendiri, Ayah tirimu datang bersama para preman mengobrak-abrik rumah. Kamu sulit dihubungi sehingga Ryan berinisiatif untuk pergi. Dia sangat terburu-buru, takut kamu dalam bahaya. Tante dan Kania berusaha melarang, karena kami sudah menghubungi polisi. Tante juga khawatir jika Ryan berangkat sendiri, apalagi Om Wisnu belum pulang dari luar kota tetapi dia memaksa pergi dan berjanji membawamu kerumah. Namun naas dalam perjalanan kembali, kalian berdua kecelakaan. Ryan jauh dari kata baik. Dia tahu kamu tidak akan bisa melihat, sehingga dia mendonorkan matanya untukmu. Tante sangat sayang padanya dan sempat terpukul tetapi kami paham betul kehidupan kami tetap berlanjut. Jika Ryan ada, dia pasti tidak suka kami dirundung duka karena dirinya. Dia pasti Bahagia melihat kita bahagia.” Tante Gia menangis tersedu. Nadia sangat terpukul, airmata terus mengalir. Dia memeluk Tante Gia.

 “Aku sangat minta maaf.” Nadia mulai diliputi rasa bersalah.

 

Terimakasih

Ini ceritaku, DILARANG COPYPASTE!

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar