Kamis, 19 September 2013

AKU MELIHAT DUNIA

Gedung megah itu berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk kota. Di balik dinding putihnya, kehidupan dan kematian saling berkejaran tanpa mengenal waktu.

Ruang perawatan tak pernah benar-benar sunyi. Aroma obat memenuhi udara, berpadu dengan bunyi monitor yang berdetak teratur. Tangis keluarga, langkah tergesa para tenaga medis, dan doa yang lirih menjadi pemandangan sehari-hari. Di tempat itu, harapan dan keputusasaan berjalan berdampingan.

Seorang wanita duduk setia di sisi ranjang pasien. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia menolak memejamkan mata. Selama tiga minggu terakhir, ia tak pernah meninggalkan gadis yang terbaring tanpa kesadaran itu.

Tatapannya tak lepas dari wajah pucat gadis tersebut. Ada satu panggilan yang selalu ia rindukan, sebuah panggilan sederhana yang belum pernah cukup ia dengar.

Ibu.

Wanita itu tak pernah menjanjikan apa pun. Ia hanya ingin menebus kesalahan yang dulu tak sempat diperbaiki. Satu-satunya harapan yang ia genggam hanyalah bisa tetap bersama gadis itu.

“Nak... jangan menyerah. Temukan jalan pulang. Tuhan selalu menyertaimu. Apa pun yang terjadi, Ibu ikhlas menerima pilihanmu.”

Air mata jatuh tanpa mampu ia bendung. Sesaat kemudian, jemari gadis itu bergerak pelan. Wanita itu menahan napas ketika tangan kecil itu menggenggam jemarinya.

“Ibu...”

Suara lirih itu terdengar begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat harapan yang hampir padam kembali menyala.

Wanita itu hampir tertidur dengan dagu bertumpu di tepi ranjang. Selama tiga minggu terakhir, ia tak pernah benar-benar memejamkan mata. Tiba-tiba sebuah suara lirih membuatnya tersentak.

“Ibu...”

Ia segera mendongak. Napasnya tercekat ketika melihat bibir Nadia bergerak pelan.

“Apa... aku sedang bermimpi?” bisiknya tak percaya.

Dengan tangan gemetar, ia menggenggam jemari putrinya. “Nad... kamu dengar suara Ibu?”

Nadia mengangguk lemah. “Ibu... apa yang terjadi?” suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba membuka mata, tetapi hanya kegelapan yang menyambutnya. “Kenapa mataku...?”

Kepanikan mulai menyelimuti wajahnya. Wanita itu menggenggam tangannya lebih erat.

“Tenang, Nad. Ibu di sini. Kamu sudah sadar. Semuanya akan baik-baik saja.”

Tubuh Nadia masih gemetar. “Aku... harus bagaimana, Bu?”

Air mata wanita itu akhirnya jatuh. Ia mengusap sudut mata Nadia dengan lembut.

“Jangan takut. Ibu akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Ibu tidak akan pergi jauh. Tunggu sebentar, ya.”

Ia mengecup kening Nadia dengan penuh kasih. “Anak Ibu yang kuat...”

Setelah memastikan Nadia sedikit lebih tenang, ia bergegas keluar ruangan mencari Dokter Fatimah.

Kebahagiaan yang ia rasakan seolah bertabrakan dengan kenyataan di ruangan lain. Di balik dinding yang memisahkan mereka, terbaring seorang yang ia kasihi seperti anaknya sendiri—sebagaimana ia mengasihi Nadia.

Beberapa menit lalu ia menangis karena bahagia. Kini air mata yang sama kembali jatuh karena kehilangan.

Di tempat yang sama, Tuhan mengizinkan satu kehidupan kembali tersenyum, sementara kehidupan yang lain dipanggil untuk pulang.

Begitulah takdir. Tak pernah meminta izin sebelum datang.

***

Bibir Nadia bergerak pelan. Seluruh tubuhnya terasa begitu berat.

“Ibu...” Suaranya hampir tak terdengar.

Ia mencoba membuka mata, tetapi kelopak matanya seperti terkunci. Yang ia rasakan hanya balutan perban dan gelap yang tak berujung. Pendengarannya menjadi satu-satunya indra yang masih dapat ia andalkan.

Tiba-tiba pintu ruangan berderit. Langkah kaki seseorang mendekat.

Nadia mengira ibunya telah kembali.

“Ibu?” Tidak ada jawaban yang ia harapkan.

Sebaliknya, terdengar suara seorang perempuan yang dipenuhi kepedihan. “Aku pikir hari ini aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal padamu. Ternyata Tuhan masih membiarkanmu hidup... sementara Dia mengambil orang yang paling berharga dalam hidupku.”

Nadia membeku. Itu bukan suara ibunya. Siapa perempuan ini?

“Aku tidak ingin melihatmu lagi. Pergilah sejauh mungkin dari hidupku!”

Nadia ingin bangkit, tetapi tubuhnya tak mampu digerakkan. “Apa... maksudmu? Siapa kamu?”

Perempuan itu tertawa lirih di sela tangisnya. “Perlu aku memperkenalkan diri? Aku adalah orang yang paling membencimu.”

Tangisnya semakin pecah. “Kenapa kamu harus hadir dalam hidupku? Kenapa bukan kamu yang pergi?”

Air mata mengalir di balik perban yang membalut mata Nadia. Ia bahkan tidak mengenali suara perempuan itu.

“Apa salahku...?” bisiknya lirih.

Namun perempuan itu tidak menjawab. Yang terdengar hanya langkah kakinya yang semakin menjauh, disusul suara pintu yang menutup perlahan. Ruangan kembali sunyi, menyisakan Nadia dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Beberapa langkah kaki terdengar mendekat.

“Nadia, maaf membuatmu menunggu.” Suara Dokter Fatimah terdengar lembut.

“Dokter... saya khawatir dengan keadaannya,” ucap sang ibu penuh cemas.

Dokter mengangguk pelan. “Baik. Saya akan memeriksa kondisi Nadia terlebih dahulu.”

Perawat mulai melepaskan satu per satu kabel monitor yang menempel di tubuh Nadia. Setelah itu, dokter memintanya menggerakkan jari-jari, tangan, dan kedua kakinya. Nadia mengikuti semua arahan meski tubuhnya masih terasa lemah.

“Bagus,” ujar Dokter Fatimah sambil tersenyum. “Respons tubuhmu sangat baik.”

Namun Nadia masih diliputi kegelisahan. “Dok...” suaranya bergetar. “Kenapa mata saya masih diperban? Apa... saya tidak bisa melihat lagi?”

Sang ibu spontan menggenggam tangannya lebih erat. Dokter tersenyum menenangkan.

“Jangan buru-buru menyimpulkan. Mari kita lihat bersama.”

Dengan hati-hati, perban itu mulai dilepas. Nadia menahan napas.

“Sekarang... buka matamu perlahan.”

Cahaya samar menyelinap masuk. Semula semuanya tampak kabur. Perlahan bayangan itu menjadi semakin jelas hingga wajah seorang wanita muncul di hadapannya.

Wanita itu tersenyum di balik air mata.

“Ibu...” Nadia ikut tersenyum lega.

Dokter kemudian menggerakkan tangannya di depan wajah Nadia untuk memastikan fokus penglihatannya, lalu menyorotkan senter kecil ke kedua pupil matanya.

“Syukurlah,” ucap Dokter Fatimah. “Penglihatanmu merespons dengan baik.”

“Kondisimu sudah jauh lebih baik, Nadia,” ujar Dokter Fatimah sambil menutup berkas pemeriksaan. “Kalau perkembanganmu tetap seperti ini, sekitar dua minggu lagi kamu sudah boleh pulang. Selama itu kita akan fokus pada pemulihan kondisi tubuhmu. Jangan lupa banyak istirahat dan tetap menjaga kesehatan.”

“Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya,” ucap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.

Dokter tersenyum. “Sama-sama, Bu. Kalau ada keluhan atau perubahan kondisi, jangan ragu menghubungi saya.”

Sang ibu mengangguk pelan. Dokter dan para perawat pun meninggalkan ruangan, menyisakan keheningan yang terasa hangat.

Nadia memandangi wajah wanita di samping ranjangnya. Garis-garis lelah begitu jelas menghiasi wajah ibunya. Mata itu sembab, tetapi senyumnya tidak pernah hilang.

Sejak kapan Ibu berada di sini?

Apa selama aku tertidur, Ibu selalu menjagaku?

Doa, belaian tangan, kecupan di kening... semua terasa begitu nyata. Padahal selama ini aku mengira Ibu tidak pernah benar-benar menyayangiku.

Hatinya menghangat.

“Bu...”

Ibunya menoleh. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Nadia terdiam beberapa saat sebelum bertanya lirih. “Sebenarnya... apa yang terjadi padaku?”

Pertanyaan itu membuat wajah sang ibu berubah tegang. “Kamu menjalani operasi. Sekarang kondisimu sudah membaik, jadi jangan terlalu dipikirkan.”

Nadia menggeleng pelan. “Aku tidak pernah merasa sakit. Operasi apa?”

Sang ibu menarik napas dalam. “Ibu menemukanmu tidak sadarkan diri di kamar. Setelah dibawa ke rumah sakit... kamu koma selama tiga minggu. Dokter juga harus mengoperasi matamu.”

Nadia membeku. “Tiga... minggu?”

Sulit baginya mempercayai ucapan itu. “Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?”

Ia mencoba mengingat apa pun sebelum kejadian itu. Namun kepalanya justru berdenyut pelan.

Potongan-potongan bayangan muncul sesaat, lalu menghilang begitu saja.

Sang ibu segera menggenggam tangannya. “Sudah, jangan dipaksakan. Kata dokter, ingatanmu mungkin belum sepenuhnya kembali. Yang terpenting sekarang kamu sudah selamat.”

Nadia menghela napas perlahan. ”Jadi... aku benar-benar koma?”

Sang ibu mengangguk sambil mengusap rambutnya. “Mulai sekarang kita hanya perlu kontrol seminggu sekali ke Dokter Fatimah. Ibu akan selalu menemanimu.”

Air mata Nadia menggenang. “Terima kasih, Bu.”

Ibu tersenyum sambil mengecup keningnya. Bagi Nadia, senyum itu terasa seperti pelukan yang selama ini ia rindukan.

Aku selalu mengira Ibu tidak pernah peduli. Ternyata selama aku berada di antara hidup dan mati, beliau tidak pernah meninggalkanku. Lalu... kenapa aku sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi sebelum semua ini?

Sebuah suara tiba-tiba terlintas di benaknya. “..Aku tidak akan pernah memaafkanmu.”

Nadia memejamkan mata. Gadis itu... siapa dia?

***

Langit sore berubah kelabu, seolah ikut berduka menyaksikan seorang gadis yang berdiri terpaku di balik jendela.

Dari balik kaca yang bening, tatapan kosongnya mengarah ke halaman rumah. Setangkai mawar merah terus dihantam hujan. Kelopaknya berguguran satu per satu, seolah menyerah pada derasnya langit.

Nadia mengembuskan napas pelan hingga permukaan kaca dipenuhi embun. Dengan ujung telunjuknya, ia menuliskan sebuah kalimat. Biarkan aku mati... jika itu maumu.

Tulisan itu perlahan memudar, sama seperti harapan yang berusaha ia pertahankan.

Rintik hujan yang berubah deras, disusul gemuruh petir, seakan menyuarakan kegelisahan yang tak mampu ia ungkapkan. Mawar di halaman semakin menunduk diterpa angin.

Kasihan sekali. Entah bunga itu yang sedang diratapi langit, atau justru dirinya yang diam-diam menangis di balik jendela.

Ia mengusap sudut matanya. Bayangan percakapan dengan seseorang kembali memenuhi pikirannya.

“Kamu tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku, Dika. Apa sebenarnya yang tidak aku ketahui? Bisakah kamu menceritakannya?”

Dika tampak terkejut sesaat. Namun, ekspresi itu segera menghilang. “Aku adalah penyimpan rahasia yang baik.” Suaranya terdengar mantap. “Seberapa keras pun usahamu, pendirianku tidak akan goyah.”

Jawaban itu tidak memberi penjelasan sedikit pun. Ibu memilih diam. Kini Dika melakukan hal yang sama.

Nadia mulai bertanya-tanya. Berapa lama seseorang harus mengenal sahabatnya hingga benar-benar memahami isi hatinya?

Sejak kecil, mereka tumbuh bersama. Orang-orang bahkan sering mengira mereka kakak beradik. Dika selalu berada di sisinya dalam setiap fase kehidupan.

Mereka tidak pernah menjadi sepasang kekasih, meski saling menyayangi. Persahabatan itu terasa lebih nyaman daripada sebuah hubungan. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, Nadia merasa ada tembok yang berdiri di antara mereka. Dika mengetahui sesuatu. Dan rahasia itu berkaitan dengan dirinya.

Langit di luar masih diguyur hujan. Suara rintiknya mengisi keheningan di antara mereka.

Nadia mengalihkan pandangannya ke halaman rumah. “Dika, aku tidak tahu sejak kapan Ibu memilih bekerja dari rumah.”

Dika ikut menoleh ke arah jendela. “Sejak beliau sadar kalau kamulah yang paling berharga.”

Nadia menoleh perlahan.

“Sejak kamu sakit, beliau hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Setiap kali aku mengantarkan makanan, beliau selalu menolak pulang. Padahal aku sudah berkali-kali bilang akan menjaga kamu.”

Nadia menunduk. “Berarti... selama ini Ibu benar-benar menjagaku.”

“Iya.” Senyum tipis menghiasi wajah Nadia.

“Aku bersyukur Ibu berubah.” Ia terdiam sesaat, lalu kembali menatap Dika. “Selain itu... apa masih ada yang belum aku ketahui?”

Dika langsung memahami arah pertanyaan itu. “Tentang Alex?”

Nama itu membuat Nadia menarik napas pelan. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar namanya.”

“Dia datang menjengukmu saat libur sekolah.”

Nadia sedikit terkejut. “Benarkah?”

“Iya, dia bahkan beberapa kali ingin datang lagi.”

Nadia menggeleng pelan. “Aku justru berharap dia tidak menemuiku lagi.”

Wajah Dika berubah bingung. “Kenapa?”

“Aku ingin menghilang dari hidupnya.”

“Jangan berkata seperti itu.” Suara Dika terdengar lebih tegas. “Alex tidak pernah menyalahkanmu. Dia tidak pernah mengatakan hal buruk tentangmu. Semua yang dia lakukan murni karena keinginannya sendiri.”

“Itulah yang membuatku semakin merasa bersalah.” Nadia menggenggam ujung selimut.

“Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku memperlakukannya. Kalau ternyata selama ini aku hanya menyakitinya... bukankah lebih baik dia melupakanku?”

Dika memandang sahabatnya lama. “Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Nadia tersenyum hambar. “Lalu... bagaimana aku bisa berada di rumah sakit?”

Pertanyaan itu membuat Dika membeku. Tangannya mengepal pelan di balik saku celana. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela.

“Nad...” Suaranya terdengar lirih. “Yang terpenting sekarang kamu sudah sehat.”

“Itu bukan jawaban.” Nadia menatapnya lekat. “Kenapa semua orang menjawab seperti itu?”

Ruangan kembali sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar dari luar. Setelah beberapa saat, Nadia menghela napas panjang.

“Kalau memang masa laluku begitu menyakitkan...” katanya lirih.

“...mungkin Tuhan sedang memberiku kesempatan untuk memulai hidup yang baru.”

Dika menatap wajah Nadia. Senyum gadis itu tampak tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dadanya semakin sesak.

“Maafkan aku, Nad,” batinnya. “Bukan karena aku tidak percaya padamu. Aku hanya belum siap melihatmu kembali terluka ketika semua ingatan itu kembali.”

***

Cahaya itu perlahan menghilang. Nadia berlari mengejarnya, tetapi setiap kali tangannya hampir meraih, cahaya itu menjauh. Di sekelilingnya hanya hamparan kabut putih yang menelan segala arah.

Samar-samar, sebuah bayangan berdiri tidak jauh di depannya. Ia mempercepat langkah. Namun semakin dekat ia menghampiri, sosok itu justru semakin memudar.

“Siapa kamu?” Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berembus membawa udara dingin.

“Nadia...” Seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa.

“Nadia...” Suara itu kembali terdengar. Kali ini dari belakang.

Nadia berputar cepat. Tetap tidak ada siapa pun. Ia terus berjalan menyusuri hamparan kabut yang seolah tidak berujung. Jalan yang tadi dilewati kembali membawanya ke tempat semula.

Seperti terjebak dalam lingkaran yang tidak memiliki pintu keluar.

“Siapa kalian?” teriaknya. “Bagaimana aku bisa sampai di sini?”

Jawaban yang ditunggu tidak pernah datang. Kabut semakin tebal. Cahaya yang tadi menjadi satu-satunya petunjuk akhirnya benar-benar lenyap.


Nadia tersentak bangun. Napasnya memburu. Peluh membasahi dahi dan lehernya.

Lagi. Mimpi itu kembali menghantuinya. Sejak sadar dari koma, mimpi yang sama terus datang hampir setiap malam.

“Mimpi itu lagi...” Ia mengusap wajahnya pelan.

Rasa gelisah masih tertinggal di dadanya. Nadia bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.

Udara malam menyentuh wajahnya. Langit tampak gelap tanpa bulan. Hanya beberapa bintang kecil yang tetap bertahan memancarkan cahaya.

“Aku merasa seperti orang asing bagi diriku sendiri.” Tatapannya tidak lepas dari langit.

“Ya Allah... kalau memang ada jalan yang harus kutemukan, tuntunlah aku.” Ia tersenyum tipis.

“Langit selalu gelap sebelum fajar datang. Mungkin hidupku juga begitu. Selama masih ada setitik cahaya, aku akan percaya selalu ada jalan keluar.”

Angin malam berembus pelan, menerbangkan helaian rambutnya.


Di tempat lain...

Seorang gadis duduk di tepi ranjang. Kedua lututnya dipeluk erat. Kepalanya tertunduk. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi gaun yang dikenakannya.

Malam itu, ia kembali menangis sendirian. “Bisakah aku bertahan dengan rasa sakit ini?” bisiknya lirih.

“Kenapa kamu tidak menungguku sampai aku dewasa?” Isaknya semakin pecah.

“Kehadirannya telah membuatku kehilanganmu.”

Gadis itu memejamkan mata, seolah berharap semua luka ikut menghilang bersama air mata.

“Apa dia masih menjadi orang yang paling berharga bagimu?”

Bibirnya bergetar mengucapkan doa. “Ya Allah... jagalah dia untukku. Sampaikan juga rinduku, meski dia tak lagi bersamaku.”

Di luar, langit tetap diselimuti gelap. Anehnya, bulan masih setia memancarkan cahaya. Namun cahaya itu tak mampu menembus kelam yang memenuhi hati gadis tersebut.

Pandangannya perlahan beralih ke sebuah bingkai foto di atas meja belajar. Jemarinya menyentuh kaca bingkai itu dengan hati-hati. Air matanya kembali menetes.

Malam itu... Ia kembali menangis.

Tanpa disadari, seseorang berdiri diam di balik pintu kamar, ikut merasakan kepedihan yang selama ini dipendamnya.

***

Nadia masih berdiri di depan gerbang sekolah. Tatapannya terpaku pada bangunan yang terasa begitu asing sekaligus akrab.

Entah mengapa, setiap kali berada di tempat itu, dadanya selalu berdebar. Seolah ada kenangan yang berusaha keluar dari balik ingatannya.


Ia memejamkan mata.

Seketika...

Suara riuh para siswa.

Deru kendaraan.

Peluit satpam. Semuanya kembali terdengar.

Seorang remaja laki-laki berdiri di seberang jalan sambil memperhatikan para siswa yang berjalan memasuki gerbang sekolah.

Seragam yang dikenakannya berbeda. Ia bukan murid di sekolah itu. Tatapannya sibuk mencari seseorang.

“Aku memang tidak seberuntung mereka,” gumamnya pelan. “Tapi aku juga bukan orang bodoh. Sekolah bukan satu-satunya tempat untuk belajar. Guruku adalah kehidupan, dan pelajarannya ada pada setiap orang yang kutemui.”

Ia tersenyum. Kakinya terus mengetuk trotoar, menunggu seseorang datang.

Tak lama kemudian sebuah angkutan umum berhenti. Seorang gadis turun sambil merapikan tas sekolahnya.

Nadia. Mata remaja itu berbinar.

Di saat yang bersamaan, suara satpam terdengar lantang. “Dua menit lagi gerbang sekolah ditutup!”

Nadia langsung mempercepat langkah. Remaja itu spontan mengejarnya. “Hei! Tunggu!”

Nadia menoleh sekilas. Melihat seorang Ryan asing berlari ke arahnya, wajahnya langsung memucat.

“Apa dia mengikutiku? Siapa dia? Ya Allah...”

Ia mempercepat langkah hingga berubah menjadi lari kecil menuju gerbang sekolah.

“Hei! Aku cuma mau bicara!” Belum sempat Ryan itu mendekat, satpam sudah menghalanginya.

“Berhenti! Kamu bukan siswa di sini.”

Remaja itu hanya bisa memandang punggung Nadia yang semakin menjauh.


“Nadia.” Suara seseorang membuyarkan lamunannya.

Ternyata ia masih berdiri di depan gerbang sekolah.

“Apa yang terjadi?” Seseorang menepuk pelan pundaknya.

“Kenapa melamun sendirian di sini?”

Nadia menoleh. Tanpa menjawab, ia mulai berjalan menyusuri lorong sekolah bersama orang itu. Namun pikirannya masih tertinggal pada sosok Ryan yang baru saja muncul dalam ingatannya.

Nadia mengangguk pelan ketika memasuki gerbang sekolah.

“Selamat datang kembali.” Alex berjalan di sampingnya sambil tersenyum. “Apa badanmu sudah lebih baikan?”

“Iya.” Jawaban Nadia singkat.

Alex melirik gadis itu. “Bicaralah sedikit. Jangan diam terus seperti ini. Aku jadi khawatir.”

Nadia tetap melangkah tanpa menoleh.

Alex menghela napas pelan. “Maafkan aku.”

Langkah Nadia terhenti sesaat.

“Apa yang harus kulakukan supaya kamu mau memaafkanku?”

Tetap tidak ada jawaban. Alex akhirnya berdiri di depan Nadia, menghalangi langkahnya.

Nadia mendongakkan kepala. Tatapannya kosong. Seolah sedang melihat seseorang yang dikenalnya... tetapi tidak benar-benar diingatnya.

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Alex lembut.

Nadia hanya menggeleng pelan. Alex tersenyum, meski senyum itu menyimpan rasa kecewa.

“Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendirian.” Ia mengusap pelan kepala Nadia.

“Selalu ada jalan keluar. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian.” Sesaat kemudian Alex melangkah pergi.

Nadia tetap berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti punggung Alex yang semakin menjauh.

Entah mengapa... Dadanya tidak merasakan apa pun. Seharusnya ia merasa hangat diperlakukan seperti itu. Namun yang tersisa hanya kehampaan.


Bel sekolah berbunyi. Nadia duduk di bangkunya. Guru mulai menjelaskan pelajaran, tetapi pikirannya perlahan melayang.

Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela. Gerbang sekolah. Pos satpam. Pemandangan itu terasa begitu akrab.

Dan tanpa disadari...

Ingatan lain kembali muncul.


Suasana kelas sore itu jauh lebih sepi. Pelajaran tambahan sedang berlangsung. Sebagian besar siswa sibuk mencatat penjelasan guru. Namun Nadia justru memandang ke luar jendela.

Di dekat pos satpam... Seorang lelaki berdiri di dekat pos satpam sambil tersenyum ke arah jendela kelas. Saat mata mereka bertemu, ia mengangkat tangan. Melambaikan tangan kecil. Tanpa sadar Nadia membalasnya. Senyum tipis mengembang di wajahnya.

“Ya Tuhan...” batin Nadia. “Kenapa dia datang lagi? Bukankah tadi pagi dia sudah pergi?”

Ryan tampak lega melihat Nadia. Pak satpam yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya membuka suara.

“Nak, dari tadi Bapak lihat kamu berdiri di sini terus. Sebenarnya kamu sedang menunggu siapa?”

Ryan menunjuk ke arah jendela kelas. “Dia.”

Pak satpam mengikuti arah telunjuknya. “Nadia?”

Ryan mengangguk. Di dalam kelas, Nadia buru-buru membuka bukunya. Ia pura-pura membaca. Padahal, dari balik halaman buku, sebelah matanya terus mengamati percakapan mereka.

“Nadia itu anak baik. Pintar, cantik, tapi pendiam.” Pak satpam melirik Ryan. “Kalian pacaran?”

Ryan terkekeh pelan. “Kalau dia pacar saya, mungkin setiap hari saya harus mengusir para penggemarnya.”

Pak satpam ikut tertawa. “Wah, pede juga kamu.”

“Tapi sayangnya...” Ryan mengangkat bahu. “Kami bahkan belum saling kenal.”

Pak satpam mengangguk-angguk. “Pantas saja dia tadi lari. Mungkin dikira pengganggu.”

Ryan spontan meraba wajahnya sendiri. “Apa tampang saya semenyeramkan itu, Pak?”

Pak satpam memperhatikannya dari ujung rambut sampai sepatu. “Bukan wajahmu yang masalah.”

“Terus?”

Seragammu.”

Ryan menoleh melihat kemejanya yang kusut dan dasinya yang longgar.

Pak satpam tertawa kecil. “Lihat saja penampilanmu. Orang bisa mengira kamu habis tawuran.”

Ryan langsung merapikan kerah bajunya. “Jangan menilai orang dari penampilannya, Pak.”

“Kalau begitu, tujuanmu datang ke sini apa?”

Ryan tersenyum. “Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.”

Pak satpam menyipitkan mata. “Ngaku saja. Mau menyatakan perasaan pada Nadia, kan?”

Dia terkekeh pelan. “Bukan, Pak. Sungguh bukan itu tujuan saya.”

“Ah, anak muda sekarang. Pintar sekali menyembunyikan perasaan.”

Ryan mengusap tengkuknya sambil tersenyum canggung. “Aduh... kenapa saya jadi seperti terdakwa begini?”

Pak satpam tertawa melihat ekspresinya. “Tenang saja. Lima belas menit lagi bel pulang berbunyi.”

Dia mengembuskan napas lega. “Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu, setelah itu saya akan pergi.”

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Para siswa berhamburan keluar gerbang sekolah. Tawa dan obrolan mereka memenuhi halaman. Ryan segera mencari sosok yang sejak tadi ditunggunya.

Tak lama kemudian, Nadia melangkah keluar sambil memeluk buku di dadanya, melihat Ryan berdiri tidak jauh dari gerbang.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Tanpa berpikir panjang, ia mempercepat langkah. Ryan segera menyusul.

“Tunggu sebentar!”

Nadia tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju halte. Namun angkutan umum yang biasa lewat belum juga datang. Terpaksa ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Ryan tetap mengikuti dari belakang. “Nadia... apa kamu mendengarku? Tolong berhenti sebentar!”

Mendengar namanya dipanggil, Nadia akhirnya menghentikan langkah. Ia berbalik dengan wajah penuh waspada.

“Tolong jangan mendekat. Siapa kamu? Kenapa terus mengikutiku?”

Ryan segera mengangkat kedua tangannya, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak berniat buruk.

“Tenang. Namaku Ryan.“ Ia tersenyum ramah.

“Aku tidak akan menyakitimu. Aku datang hanya untuk mengucapkan terima kasih.”

Nadia mengernyit bingung. “Terima kasih?”

“Iya.” Ryan mengangguk. “Apa kamu masih ingat kejadian kemarin sore?”

Nadia mencoba mengingat. “Kemarin...?”

“Adikku ditabrak pengendara motor yang langsung melarikan diri.” Wajah Ryan berubah serius. “Orang-orang hanya melihat dari kejauhan. Tapi kamu yang membawanya ke puskesmas dan memastikan dia mendapat pertolongan.”

Ryan menundukkan kepala dengan tulus. “Kalau bukan karena bantuanmu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada adikku.”

Nadia terdiam. Perlahan rasa takut yang sejak tadi memenuhi hatinya mulai memudar.

“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”

“Bagi kamu mungkin itu hal biasa. “Ryan tersenyum hangat. “Tapi bagi keluargaku, kamu sudah menyelamatkan seseorang yang sangat berharga.”

Nadia akhirnya membalas senyum tipis. “Syukurlah kalau keadaan adikmu sudah membaik.”

Ryan mengangguk pelan. “Itulah alasan aku mencarimu sejak tadi pagi.”

Kini Nadia mengerti. Ryan yang semula disangkanya berniat buruk ternyata hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih.

“Jadi... Kania itu adikmu?” Ryan tersenyum.

“Iya. Kami tinggal di perumahan di belakang sekolahmu. Sebenarnya aku datang karena Kania terus memintaku membawamu ke rumah. Dia ingin bertemu langsung dan mengucapkan terima kasih.”

Nadia terdiam sejenak. “Kalau begitu... aku akan menemuinya.”

Wajah Ryan langsung berbinar. “Benarkah?”

“Iya. Tapi dengan satu syarat.”

Ryan mengangkat alis. “Syarat?”

“Kamu juga harus mengantarkanku pulang.”

Ryan terkekeh pelan. “Tentu saja. Aku bertanggung jawab mengantarmu sampai rumah.”

Ia kemudian menambahkan dengan nada serius. “Tapi kamu tetap harus meminta izin kepada orang tuamu. Mereka pasti khawatir.”

Ucapan itu membuat senyum Nadia memudar. “Meminta izin...”

Kata-kata itu bergema di kepalanya. Apa aku benar-benar harus melakukannya? Selama ini Ibu pergi sejak pagi dan pulang larut malam tanpa pernah menjelaskan ke mana. Aku selalu menunggu, tetapi jarang mendapat kabar. Kalau begitu... bukankah wajar kalau kali ini aku juga pergi tanpa banyak penjelasan?

“Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Aku akan memberi kabar.”

Ia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan.

Dika, tolong sampaikan ke Ibu kalau aku pergi ke rumah teman. Jangan khawatir, nanti aku pulang diantar.

Setelah memastikan pesannya terkirim, Nadia menatap Ryan. “Ayo.”

Ryan mengangguk sambil tersenyum lega.

***

Rumah keluarga Ryan menghadirkan suasana yang belum pernah Nadia rasakan sebelumnya. Kehangatan menyambutnya sejak pertama kali melangkah masuk. Om Wisnu dan Tante Gia menerima kedatangannya tanpa canggung, seolah-olah ia sudah lama mengenal keluarga itu.

Mereka makan malam bersama di meja makan. Tawa dan obrolan ringan mengisi ruangan. Di keluarga itu ada dua anak. Kania adalah putri kandung Om Wisnu dan Tante Gia, sedangkan Ryan merupakan anak angkat yang mereka adopsi sejak bayi. Namun, kasih sayang yang mereka berikan tidak pernah dibedakan. Ryan telah menjadi bagian dari keluarga itu sepenuhnya. Meski baru duduk di kelas dua SMP, cara berpikir Kania jauh lebih dewasa daripada usianya.

“Kak Nadia...” panggil Kania pelan.

“Iya?”

“Gimana kalau Kakak menginap di sini malam ini? Tadi Kakak juga sudah izin ke rumah, kan?” Nadia tersenyum. Usul itu sebenarnya sama dengan keinginannya sejak awal.

“Aku memang sudah meminta izin. Tapi... apa aku tidak merepotkan keluarga kalian?”

Kania langsung menggeleng kuat. “Tentu tidak! Aku malah senang sekali kalau Kakak menginap. Rasanya seperti punya kakak perempuan.”

“Kania, kamu ini memang tidak pernah menyerah ingin punya kakak perempuan.” Ia mencubit pelan pipi adiknya. “Memangnya punya kakak laki-laki sepertiku kurang?”

Kania mengusap pipinya sambil cemberut. “Kurang.”

Ryan menggeleng pasrah. “Jawabannya selalu itu.”

Semua tertawa. Nadia menatap Tante Gia yang baru datang membawa sepiring camilan hangat.

“Tante... kalau tidak merepotkan, bolehkah saya menginap semalam?”

Tante Gia tersenyum lembut. “Tentu saja boleh. Kami malah senang ada teman untuk Kania.”

Beliau menoleh kepada putrinya. “Ayo, bantu ibu merapikan kamar. Jangan sampai tamunya yang malah membereskan.”

“Iya, bu!” jawab Kania bersemangat.

Saat mereka hendak pergi, Ryan kembali bersuara. “Ingat satu lagi..." Ia menunjuk Kania sambil tersenyum usil. “Tolong jangan ngobrol sampai tengah malam. Kamar kita bersebelahan. Kalau kalian tidak tidur, nanti aku juga ikut tidak bisa tidur.”

“Tenang saja, Kak. Kalau berisik, paling cuma sedikit.”

Ryan tertawa. “Nah, itu dia yang justru membuatku khawatir.”

Suasana rumah kembali dipenuhi tawa.

“Kak Ryan kan memang sudah terbiasa tidur larut malam,” celetuk Kania sambil menyeringai. “Jadi bukan salah Kania kalau nanti berisik. Kalau dua perempuan tidur dalam satu kamar, ya pasti mengobrol. Memangnya kami patung?”

Ryan menggeleng sambil tertawa. “Kamu ini selalu punya pembelaan.”

Om Wisnu ikut tertawa melihat tingkah putrinya. Kania menjulurkan lidah jahil ke arah Ryan sebelum berlari menaiki tangga.

Nadia ikut tersenyum. Sudah lama ia tidak melihat keluarga yang saling menggoda tanpa menyakiti.

“Ngomong-ngomong, Nad,” panggil Om Wisnu setelah tawanya reda. “Kamu sudah meminta izin kepada orang tuamu?”

Senyum Nadia sedikit memudar. “Sudah, Om.”

Jawaban itu keluar begitu saja, meski ada rasa bersalah yang menyelinap di dalam hatinya. Ia tahu dirinya tidak sepenuhnya jujur.

“Syukurlah,” ujar Om Wisnu. “Berarti mereka tidak perlu khawatir. Selama di sini, anggap saja rumah sendiri. Besok Ryan sekalian mengantarmu ke sekolah.”

Ryan mengangguk. “Siap, Om.”

“Terima kasih, Om.”

Om Wisnu hanya membalas dengan senyum hangat.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadia merasakan hangatnya sebuah keluarga yang utuh. Entah mengapa, ada perasaan damai yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya. Untuk sesaat, ia lupa bahwa dirinya datang ke rumah itu sambil membawa kebohongan.

Malam semakin larut. Kania sudah terlelap, tetapi mata Nadia belum juga terpejam. Ia keluar kamar dengan langkah pelan agar tidak membangunkan siapa pun. Dari balkon ruang tengah, angin malam berembus lembut melalui jendela besar yang sengaja dibiarkan terbuka. Langit tampak cerah. Bintang-bintang bertaburan, menghiasi gelap yang tenang.

Di sana, Ryan duduk bersandar sambil menatap langit.

“Ryan?”

Ryan menoleh lalu tersenyum. “Belum tidur?”

Nadia menggeleng. “Belum mengantuk.”

Ryan menggeser duduknya. “Duduklah.”

Nadia mengambil tempat di sampingnya. Beberapa saat mereka hanya menikmati keheningan.

“Langit malam selalu indah,” ujar Ryan pelan. “Menurutku, Tuhan menciptakan malam supaya manusia punya waktu berhenti sejenak... merenung... lalu berdamai dengan dirinya sendiri.”

Nadia ikut mendongak. “Kalau begitu... kenapa masih banyak orang yang menangis di malam hari?”

Ryan tersenyum. “Karena tidak semua orang langsung menemukan jawaban.”

Hening kembali menyelimuti mereka.

“Nad, kamu terlalu sering menyembunyikan perasaan.”

Nadia menoleh. “Begitukah?”

“Iya. Kamu lebih sering tersenyum sopan daripada tersenyum karena benar-benar bahagia.”

Kalimat itu membuat Nadia terdiam.

“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

“Apa semua orang harus tahu masalahku?”

Ryan menggeleng. “Tidak.”

“Lalu kenapa bertanya?”

“Karena kadang seseorang hanya butuh didengarkan.” Ryan mengangkat tangan, lalu menjulurkan jari kelingkingnya. “Kalau kamu mau bercerita... aku janji semua akan berhenti di sini.”

Nadia menatap kelingking itu beberapa detik. Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa ada seseorang yang benar-benar ingin mendengarkan tanpa menghakimi.

Perlahan ia mengaitkan kelingkingnya dengan milik Ryan. “Janji.”

Ryan tersenyum. “Janji.”

Malam itu menjadi awal Nadia membuka sedikit demi sedikit pintu yang selama ini ia tutup rapat.

Ia bercerita tentang kesepiannya. Tentang ibunya yang harus bekerja siang dan malam demi memenuhi kebutuhan mereka. Nadia tidak pernah membenci ibunya, tetapi ia merindukan waktu-waktu sederhana yang tidak bisa dibeli dengan uang—makan bersama, mengobrol sebelum tidur, atau sekadar ditemani saat hatinya sedang rapuh.

Ryan tidak banyak memberi nasihat. Ia lebih sering mendengarkan. Sesekali menyelipkan candaan yang membuat Nadia tersenyum, bahkan tertawa lepas.

Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Ryan menjadi teman yang selalu menyambut Nadia sepulang sekolah. Sering kali ia mengajak Nadia singgah ke rumah sebelum pulang, sementara keluarga kecil itu perlahan menerima Nadia seperti anggota keluarga sendiri.

Di sisi lain, Nadia mulai menjaga jarak dari Alex. Bukan karena Alex pernah berbuat salah. Melainkan karena ia takut semakin lama berada di dekatnya, semakin besar pula luka yang mungkin akan ia tinggalkan.


Kenangan itu perlahan memudar, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Setelah sadar dari koma, banyak hal yang terlupakan. Namun, ada satu nama yang terus muncul di benaknya.

Ryan.

Ryan yang pernah mengajarinya bahwa malam bukan hanya tentang gelap, melainkan juga tentang harapan. Tanpa benar-benar memahami alasan di balik kerinduannya, langkah Nadia membawanya ke sebuah rumah yang terasa begitu akrab.

Rumah keluarga Ryan. Namun, gerbang itu terkunci rapat. Halaman yang dulu dipenuhi tawa kini tampak sunyi. Tidak ada suara Kania, tidak ada sapaan Om Wisnu, ataupun Tante Gia.

Nadia menggenggam erat jeruji gerbang. Dadanya terasa sesak. Air mata perlahan jatuh tanpa mampu ia tahan.

“Ryan, aku selalu memikirkanmu. Kamu... di mana?” bisiknya lirih.

Tidak ada jawaban. Hanya desir angin yang berembus pelan, membawa pergi suaranya bersama kenangan yang masih tertinggal di rumah itu.

***

Waktu terasa berjalan lambat. Kereta melaju membelah kota, sementara Nadia duduk di sisi jendela. Tatapannya mengikuti pemandangan yang terus berganti, tetapi pikirannya jauh berada di tempat lain.

Air mata perlahan mengalir di pipinya. Seseorang yang duduk di sampingnya diam-diam menyodorkan sebungkus tisu.

“Matamu terlalu indah untuk terus menangis.”

Nadia mengambil tisu itu tanpa menoleh. “Kenapa kamu mengikutiku?”

Alex tersenyum tipis. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Aku tahu.” Alex mengembuskan napas pelan. “Tapi tetap saja aku tidak tenang melihat pacarku naik kereta sendirian tanpa memberi tahu tujuannya.”

Nadia menggenggam erat tisu di tangannya. “Aku sendiri tidak tahu harus ke mana...”

Suara Nadia mulai bergetar.

“Aku merasa ada seseorang yang harus kutemui. Tapi setiap kali mencoba mengingatnya... kepalaku justru semakin sakit.”

Alex memandang wajah Nadia yang dipenuhi kebingungan. Ia ingin memeluk gadis itu. Namun, ia takut Nadia akan semakin menjauh.

“Apa yang harus kulakukan, Alex?” bisik Nadia.

Air matanya kembali jatuh. Alex terdiam beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil, meski matanya menyimpan kesedihan.

“Kalau tersenyum itu terlalu berat... Ia mengangkat satu jari. “...bolehkah aku meminjam satu senyum kecil saja?”

Nadia menatapnya heran.

“Satu saja.” Alex ikut mengembangkan senyum tipis. “Supaya aku tahu Nadia yang kukenal masih ada.”

Sudut bibir Nadia bergerak pelan. Senyum itu nyaris tak terlihat. Namun bagi Alex... Itu sudah lebih dari cukup. Alex membalas senyum kecil Nadia tanpa berkata apa-apa. Di dalam hatinya, ia hanya berharap gadis di sampingnya suatu hari nanti bisa benar-benar tersenyum lagi.

Kereta terus melaju. Suara roda yang bergesekan dengan rel memenuhi keheningan di antara mereka. Setelah beberapa saat, Nadia akhirnya membuka suara.

“Alex...” Nadia menundukkan kepala. “Aku sudah terlalu sering mengecewakanmu.”

Alex tersenyum. “Kamu tidak pernah sengaja melakukannya.”

Nadia menggeleng pelan. ”Tapi tetap saja... aku lelah terus memaksakan perasaan yang tidak pernah benar-benar ada.”

Kalimat itu membuat Alex terdiam. Ia sudah menduga hari ini akan tiba.

Hanya saja, mendengarnya langsung dari bibir Nadia tetap terasa menyakitkan.

Alex mengembuskan napas panjang. “Kalau begitu...”

Ia menatap keluar jendela sejenak sebelum kembali memandang Nadia. “Maaf karena selama ini aku memaksamu bertahan dalam hubungan yang membuatmu tidak bahagia.”

Air mata Nadia kembali jatuh. “Tidak, Alex. Aku yang seharusnya meminta maaf."

Ia menggenggam kedua tangannya sendiri.

“Kamu sudah menjadi orang yang sangat baik. Justru aku yang tidak mampu membalas semua perasaanmu.”

Alex tersenyum, meski matanya mulai memerah. “Jangan berkata begitu! Kamu pantas mendapatkan seseorang yang mencintaimu sebesar kamu mencintainya.”

Suasana kembali hening.

Kereta masih melaju tanpa peduli pada perpisahan yang sedang terjadi di dalam salah satu gerbongnya.

Beberapa saat kemudian, Alex mengulurkan tangan.

“Kalau memang kita tidak ditakdirkan berjalan sebagai sepasang kekasih, bolehkah kita tetap menjadi sahabat?"

Nadia menatap tangan itu beberapa detik. Lalu ia menyambutnya.

“Boleh.”

Jabat tangan mereka berlangsung singkat. Namun cukup untuk mengakhiri sebuah hubungan tanpa kebencian.

Alex mengangguk pelan. “Terima kasih, Nad.”

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya kamu memilih jujur.”

Nadia tersenyum. “Terima kasih juga... karena kamu pernah menyayangiku dengan tulus.”

Kereta terus melaju. Kali ini, bukan hanya membawa mereka menuju tujuan yang berbeda, tetapi juga mengantar dua hati yang akhirnya memilih melepaskan.

***

“Ryan... aku di sini!”

Baru saja kakinya menginjak peron, Nadia spontan memanggil nama itu. Suara lantangnya membuat beberapa penumpang menoleh heran. Nadia berdiri memandang ke segala arah. Berharap menemukan sosok yang selama ini memenuhi pikirannya.

Namun...

Tak ada siapa pun.

Hanya lalu-lalang orang asing yang sibuk dengan tujuan masing-masing.

Harapan di wajah Nadia perlahan memudar. Alex yang berdiri di sampingnya hanya mampu menghela napas pelan.

“Ayo,” ucapnya lembut.

Nadia mengangguk kecil.

Mereka meninggalkan stasiun menuju alamat yang diberikan tetangga keluarga Om Wisnu.


30 menit kemudian...

Langkah mereka berhenti di depan sebuah rumah yang berdiri di atas perbukitan teh.

Udara pegunungan terasa sejuk. Angin membawa aroma dedaunan basah. Rumah itu tampak tenang. Terlalu tenang. Halamannya bersih, tetapi pintunya tertutup rapat. Tidak terdengar suara televisi. Tidak ada tawa Kania. Tidak ada suara Ryan.

Nadia mengetuk pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Kali ini lebih keras.

“Permisi...” Tetap sunyi.

Alex memandang sekeliling. “Sepertinya tidak ada orang di rumah.”

Nadia menggeleng. “Alamatnya tidak mungkin salah.” Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku tasnya.

“Lihat.”

Alex membaca alamat yang tertulis.

Benar. Sama persis dengan rumah yang ada di depan mereka.

“Mungkin mereka sedang pergi,” ujar Alex pelan.

Nadia menggigit bibirnya. “Tidak...”

Ia menatap pintu itu tanpa berkedip. “Mereka pasti ada.”

Seolah kehilangan kesabaran, Nadia meraih gagang pintu dan mencoba membukanya. Alex segera menahan tangannya.

“Nad, jangan! Kita tidak boleh masuk tanpa izin.”

Nadia menatap Alex dengan mata yang mulai dipenuhi air mata. “Aku hanya ingin bertemu mereka.”

Suaranya nyaris berbisik. “Aku hanya ingin memastikan Ryan baik-baik saja.”

Alex terdiam. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang bisa menghentikan kerinduan seseorang. Nadia kembali menghadap rumah itu. Lalu menarik napas dalam.

“Tante Gia! Om Wisnu! Kania! Ryan...” Ia menahan isak.

“Ini aku... Nadia. Aku datang. Kalau kalian ada di dalam... Tolong temui aku.” Suara Nadia menggema di antara hamparan kebun teh.

Namun yang menjawab...Hanyalah desir angin.

Alex perlahan berdiri di samping Nadia. “Nad... Kita cari tahu ke warga sekitar, ya.”

Nadia tetap memandangi rumah itu. Seolah berharap pintu yang tertutup rapat itu terbuka kapan saja. Namun... Rumah itu tetap sunyi.

Air mata kembali mengalir. “Ryan...”

Suaranya bergetar. “Aku sangat merindukanmu.”

Ia mengusap pipinya yang basah. “Aku hanya ingin berbicara denganmu... sebentar saja.”

Nadia menatap langit yang mulai diselimuti awan. “Entah kenapa, sejak terbangun dari koma, ingatanku selalu membawaku kepadamu. Hampir setiap malam aku menangis tanpa tahu alasannya. Aku menatap langit... persis seperti yang dulu sering kita lakukan.”

Ia menarik napas panjang. “Ryan... Tolong temui aku.”

Keheningan menyelimuti halaman rumah. Hanya suara angin yang berembus pelan di antara hamparan kebun teh. Lalu... Terdengar bunyi kunci diputar dari balik pintu.

Klik.

Pintu kayu itu terbuka perlahan. Seorang wanita berdiri di ambang pintu.

“Tante...” bisik Nadia.

Belum sempat berkata apa-apa lagi, ia langsung memeluk wanita itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.

“Gadis cerewet...” suara Tante Gia terdengar serak. “Tante juga merindukanmu.”

Pelukan itu berlangsung lama. Nadia baru menyadari mata Tante Gia tampak sembap, seolah baru saja menangis. Saat melepaskan pelukan, Tante Gia melirik ke arah Alex yang berdiri tidak jauh dari gerbang.

“Siapa temanmu ini?”

Alex melangkah mendekat lalu menundukkan badan dengan sopan. “Perkenalkan, Tante. Nama saya Alex. Teman Nadia.”

Tante Gia membalas uluran tangannya dengan senyum tipis. “Silakan masuk.”

Rumah ini sangat rapih. Namun suasananya terasa berbeda. Terlalu sunyi. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Tak ada suara tawa Kania. Tak ada candaan Ryan. Tak ada sapaan Om Wisnu.

Nadia mulai merasa ada yang tidak beres. “Tante...”

Ia menatap wajah Tante Gia dengan penuh harap. “Om Wisnu, Kania, dan Ryan... ke mana?”

Tante Gia terdiam beberapa saat. “Mereka sedang keluar.” Jawabannya singkat.

“Nanti juga pulang.” Beliau mencoba tersenyum.

“Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh. Tante ambilkan minuman dan camilan dulu.”

Beliau baru saja hendak berdiri ketika Nadia buru-buru menggenggam tangannya.

“Jangan, Tante. “Suara Nadia hampir berubah menjadi isak. “Aku datang ke sini bukan untuk makan.”

Tatapannya mulai berkaca-kaca. “Aku hanya ingin bertemu Ryan.”

Ruangan kembali diliputi keheningan. Tante Gia menatap Nadia cukup lama. Sorot matanya dipenuhi keraguan. Seolah ada sesuatu yang ingin diucapkan... Namun bibirnya berkali-kali gagal mengeluarkan suara.

Perlahan beliau menundukkan kepala. Air mata jatuh membasahi punggung tangannya.

“Nad...” Suaranya bergetar. “Kamu harus kuat.”

Jantung Nadia berdetak semakin cepat. Entah mengapa, firasat buruk mulai memenuhi dadanya.

“Tante...”

“Ryan...” Nama itu membuat Tante Gia kembali terisak. “...sudah pergi.”

Dunia Nadia seolah berhenti berputar. Ia mematung. Pendengarannya mendadak berdengung.

“Apa...?” Suara Nadia hampir tak terdengar. “Tidak... Tidak mungkin.”

Tante Gia menangis sambil menggeleng pelan. “Sejak Ryan pergi, Kania berubah menjadi anak yang pendiam. Butuh waktu berminggu-minggu sampai akhirnya dia mau kembali tersenyum.”

Beliau menarik napas panjang. “Om Wisnu dan Tante juga belum pernah benar-benar bisa melupakan Ryan.”

Air mata kembali jatuh. “Makamnya ada di belakang rumah. Kami ingin tetap dekat dengannya.”

Nadia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah. Alex yang sejak tadi hanya diam ikut menundukkan kepala. Ia sudah mengetahui semua itu. Karena itulah ia memilih menemani Nadia datang ke tempat ini.

“Ryan...” Nadia menangis semakin keras. “Kenapa...? Kenapa dia bisa...”

Tante Gia menggenggam kedua tangan Nadia. “Mungkin keluargamu memilih merahasiakan semuanya. Tapi sekarang... Kamu berhak mengetahui kebenarannya.”

Nadia mengangguk lemah. Tante Gia mulai bercerita.

“Waktu itu... sebelum kamu koma. Hubunganmu dengan ibumu sedang tidak baik. Setelah ibumu membatalkan pernikahannya, mantan calon suaminya terus meneror kalian. Hari itu hujan sangat deras. Kamu sendirian di rumah. Pria itu datang bersama beberapa orang dan mengobrak-abrik rumah.”

Nadia menggenggam kepalanya. Potongan-potongan bayangan mulai bermunculan. Namun masih samar.

“Kami tiba-tiba tidak bisa menghubungimu. Ryan panik. Dia bersikeras menjemputmu. Tante sudah melarang. Kania menangis memintanya tetap di rumah. Kami juga sudah menghubungi polisi. Tapi Ryan berkata...”

Tante Gia berhenti sejenak. Air matanya kembali mengalir.

“Kalau Nadia benar-benar dalam bahaya, aku tidak bisa hanya menunggu.”

Ruangan kembali sunyi.

“Itu kalimat terakhir yang Tante dengar darinya.”

Nadia mulai terisak.

“Ryan berhasil menemukanmu. Dia membawamu keluar. Tetapi... Tidak jauh dari rumah... Mobil yang kalian tumpangi mengalami kecelakaan.”

Tangan Nadia bergetar hebat. “Ryan mengalami luka yang sangat parah. Sedangkan kamu... Masih mempunyai harapan untuk hidup.”

Tante Gia memejamkan mata. “Dokter mengatakan penglihatanmu tidak bisa diselamatkan.”

Nadia perlahan menyentuh kedua matanya. Seolah baru menyadari sesuatu. Tante Gia menggenggam tangan Nadia lebih erat.

“Ryan mengetahui semuanya. Keputusan terakhirnya adalah mendonorkan kedua matanya untukmu.”

Ruangan mendadak sunyi. Tak ada satu pun yang mampu berkata-kata. Nadia menangis tanpa suara. Perlahan kedua tangannya menutupi wajah.

“Aku... “Suaranya patah. “...melihat dunia dengan mata Ryan.”

Kalimat itu membuat Tante Gia memeluk Nadia erat. “Kami tidak pernah menyalahkanmu. Ryan membuat pilihan itu karena dia menginginkannya.”

Namun Nadia terus menggeleng. Air matanya tak kunjung berhenti.

“Maaf... Aku benar-benar minta maaf.”


Aku akhirnya memahami satu hal. Manusia tidak benar-benar pergi ketika tubuhnya tiada. Mereka tetap hidup dalam setiap kebaikan yang pernah ditinggalkan.

Ryan hidup dalam keberanianku.

Dalam setiap langkah yang kuambil.

Dalam setiap langit yang kupandangi.

Dan...

Dalam kedua mata yang kini kupakai melihat dunia.

Aku mengusap batu nisan itu perlahan.

“Terima kasih sudah menjadi rumah yang mengajarkanku arti pulang.”

Angin berembus lembut. Langit sore tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Aku melangkah pergi tanpa membawa penyesalan.

Sebab aku tahu... Cinta sejati tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Kadang, cinta justru memilih tinggal... dalam kenangan yang tak pernah mati.

 

Terimakasih

Ini ceritaku, DILARANG COPYPASTE!

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar