
Gedung mewah ini berdiri kokoh dengan
sensasi yang berbeda dari tempat lain.
Ruangan
yang tidak pernah sepi, aroma obat yang menusuk hidung, suara alat-alat
penopang tubuh yang berfungsi menjaga seseorang agar bertahan hidup. Siapa yang
tidak meringis, siapa yang tidak peduli. Jerit, tangis, tawa berbaur bagai
sahabat. Duka cita datang tidak terduga.
Wajahnya
menunjukan ketegaran. Dia berusaha menahan kantuk dimata demi mengawasi
seseorang yang bertahan dalam tidur. Berharap mata itu terbuka melihat
disamping “Ibu”. Sebutan yang ia rindukan. Waktu teramat pahit
telah terlalui bersama. Dia tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang hidup
mandiri. Wanita itu tidak menjanjikan apa-apa, tetapi setidaknya dia akan
memperbaiki kesalahan. Setiap orang ingin menjalani kehidupan yang bahagia,
satu pintanya “Ingin selalu bersama”.
Tepat
3 minggu, gadis itu terbaring tidak sadarkan diri. Dia sedang berjuang,
menunjukan perubahan yang berarti.
“Nak.
Jangan sampai kamu menyerah! Temukan jalan pulang! Tuhan menyertai. Ibu ikhlas
akan pilihanmu.” Tanpa dia sadari tangan gadis itu bergerak, merasakan
tangannya tergengam erat penuh kehangatan.
“Ibu.”
ucapnya lirih.
Wanita
cantik itu berusaha menopang dagu yang hampir saja tenggelam pada ujung
ranjang. Namun sebuah suara membuat dia mendongkak.
“Apa
aku bermimpi?” dia
masih tidak percaya.
Dia
memastikan dengan mengamati gerak bibir Nadia. Benar saja, Nadia telah sadar
dari koma.
“Ibu,
apa yang terjadi? Mataku kenapa?” Tubuh gemetar, menyadari matanya tertutup
perban.
“Tenang
ya Nad! Ibu disini, kamu akan baik-baik saja.”
Nadia
menangkap dengan jelas ucapan ibunya. Namun dia merasa tubuhnya sangat lemas.
“Aku
harus bagaimana bu?” Nadia masih dalam kepanikan.
“Ibu
akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Ibu akan segera kembali.
Tunggu sebentar!” berusaha menenangkan
Tangannya
menghapus kegelisahan di ujung mata Nadia. Kecupan menenangkan mendarat
dipipi “Anakku.” Dia melangkah cepat meninggalkan ruangan
untuk mencari Dokter Fatimah.
Setiap
manusia tidak akan tau kehendak Tuhan. Begitupun dengan pemandangan di depan
mata. Kebahagiaan yang ia rasakan berbanding terbalik dengan seseorang yang
berada didalam ruangan itu. Dia hanya mengintip pada pintu yang sedikit
terbuka. Pasien di ruangan tersebut telah pergi, meninggalkan kenangan untuk
orang disekitar.
“Kamu
yang terbaik. Aku tidak akan mengecewakanmu. Terimakasih.”
Dia,
seseorang yang ia sayangi seperti kasihnya pada Nadia. Melihatnya terbujur
kaku, saat dirinya bahagia Nadia kembali. Apa ini adil? Siapapun tidak dapat
merubah kehendakNya.
***
Bibir Nadia
seakan kaku mengucapkan “Ibu” bukan karena tidak pernah mengucapkan kalimat
itu, tetapi saat ini dia merasa kesulitan menggerakan organ tubuh.
Matanya masih terpejam seperti ada perekat yang menghalangi. Namun
pendengarannya masih tajam. Pintu diruangan berderit, seseorang berjalan mendekat.
“Ibu?”
“Aku
pikir aku akan mengucapkan selamat tinggal padamu tetapi sepertinya kamu memang
beruntung. Lain denganku, Tuhan mengambil yang berharga bagiku.” ucapnya dalam
tangis.
“Dia
menangis, itu bukan suara Ibu. Siapa dia?”
“Aku
tidak ingin melihatmu. Pergilah jauh dari kehidupanku!” penuh amarah dengan
suara yang bergetar.
Nadia
tidak mengerti apa yang membuat perempuan itu membencinya. Dia ingin sekali
bertanya, namun anggota tubuh tidak berpihak.
“Apa
maksud ucapanmu? Siapa kamu?” Nadia ingin memastikan siapa dia.
“Lantas
aku harus mengenalkan diri sebagai orang yang membencimu? Kenapa kamu harus
hadir di hidupku dan merusak semuanya? Kamu...” Ruangan itu menggema, tangisan
pilu bagai sayatan tajam.
“Betapa bencinya kamu padaku. Apa yang
telah aku lakukan?” ucap Nadia gelisah penuh tanya.
Namun
tidak ada jawaban. Langkah perempuan itu berlalu, meninggalkan ruangan. Nadia
tidak mendengar penjelaskan. Kali ini pintu berderit lagi, namun langkah kaki
beberapa orang.
“Nadia,
maaf menunggu.” suaranya sangat lembut.
“Dok,
saya khawatir dengan keadaannya.” Ibu cemas.
“Baiklah
Nadia, saya akan periksa keadaan kamu terlebih dahulu.”
Peralatan
dokter yang membelit tubuh, satu persatu dilepaskan oleh perawat. Dokter
menyuruh Nadia menggerakan tangan dan kaki, meyakinkan semua organ tubuh
berfungsi dengan baik. Hanya saja Nadia merasakan kejanggalan pada mata.
“Kenapa
harus ditutup perban? Apa aku buta?” membayangkan sesuatu yang buruk terjadi.
Dokter
melepas perban, Nadia mengikuti saran dokter untuk membuka mata perlahan. Bola
mata menangkap seseorang yang tersenyum “Ibu”. Wajahnya berbinar, tangan
menyapu dihadapan Nadia. Memastikan dia terlihat jelas. Dokter menyorotkan
senter kecil, memeriksa keadaan.
“Kamu
baik-baik saja. Dua minggu lagi kamu boleh pulang karena kita harus melakukan
pemulihan pada organ tubuhmu. Jaga kesehatan ya Nadia!”
“Terimakasih
Dok, anda telah bekerja dengan baik.” Ibu terlihat sangat bahagia.
“Sama-sama
Bu. Kalau ada keluhan anda dapat menghubungi saya!” Ibu mengangguk. Dokter dan
perawat meninggalkan mereka berdua.
“Terlihat
jelas lelah menggurat diwajahmu, sejak kapan kamu disini? Apa selama aku
terbaring? Doa, senyum, belaian tangan, kecupan hangat dikeningku. Ibu,
ternyata kamu menyayangiku. Kamu memberikannya saat aku tersadar dari tidur.
Aku bahkan tidak ingat. Kenapa aku berada disini? Apa aku terbangun untuk
menjalani kehidupan baru?” – Nadia.
“Apa
yang kamu pikirkan?”
“Apa
yang terjadi padaku bu?” Nadia sama sekali tidak ingat.
“Kamu
sudah menjalani operasi. Sekarang kamu dalam keadaan sehat jadi tidak perlu
khawatir.” ibu menjelaskan dengan sangat gugup.
“Aku
tidak pernah merasa sakit. Memang aku sakit apa?”
“Ibu
menemukanmu tidak sadarkan diri di kamar. Saat dirawat kamu mengalami koma dan
mata mu harus dioperasi. Sekarang kamu baik-baik saja.”
“Koma?
Kenapa aku tidak mengingatnya?” Nadia meringis saat berusaha mengingat.
“Jangan
dipikirkan! Yang penting kamu sudah sembuh. Kita hanya perlu mengontrolnya
seminggu sekali ke dokter Fatimah. Ibu akan mengantarmu.”
“Ibu,
terimakasih.”
Senyum
Ibu adalah senyum malaikat penjaga. Aku telah lama merindukannya. Kini
rasa sayang pada Ibu kembali utuh. Aku tidak bisa mengingat kejadian sebelum
aku terbaring disini, apa aku melupakan bagian terpenting? Gadis itu, siapa
dia? -Nadia.
***
Langit
sore berubah mendung, seolah menangis memandang wajah seseorang. Jendela rumah
itu terlalu transparan, memperlihatkan gurat sedih tatapan kosong yang mengarah
pada bunga mawar di halaman rumah. Bunga itu tersentuh deras hujan tanpa bisa
berbuat apa-apa. Merelakan kelopaknya jatuh satu persatu.
Dia
menghembuskan nafas pada kaca, membuat sebuah kabut. Jemari perlahan
menulis “ Biarkan aku mati, jika itu maumu!”
Rintik
hujan, gemuruh petir, mewakili hati. Bunga yang sejak tadi dia perhatikan,
semakin menunduk terkalahkan tetesan hujan yang semakin ganas. Kasihan sekali.
Langit melihat iba, bukan pada bunga tetapi pada dia yang berurai air mata
menatap bunga tersebut. Perempuan yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu
tidak pernah menyembunyikan apapun dariku Dika. Apa yang tidak aku ketahui.
Bisakah kamu ceritakan?” Dika terkejut. Namun Nadia tidak melihat perubahan
sikap sahabatnya.
“Aku
adalah penyimpan rahasia yang baik. Seberapa keras usahamu, tidak akan
menggoyahkan pendirianku.” Jawaban Dika tegas, tidak memberi pencerahan.
Ibu
saja memilih bungkam setiap diajukan pertanyaan. Kini dia mendapat perlakuan
yang sama. Berapa lama sebuah persahabatan harus terjalin untuk mengetahui
karakter seorang sahabat? Selama apapun itu, Nadia tidak akan tau semua hal
tentang Dika. Padahal sejak kecil mereka sangat akrab, oranglain akan
beranggapan kalau mereka kakak beradik. Dika dan Nadia tidak pernah menjalin
hubungan meskipun keduanya saling menyayangi, mereka masih nyaman untuk menjadi
sahabat.
“Dika,
aku tidak tau sejak kapan ibu memilih bekerja ke rumah.” Nadia mengganti topik
pembicaraan untuk mencairkan suasana.
“Sejak
dia sadar kamu lah yang paling berharga. Sejak kamu sakit Nad, dia tidak pernah
meninggalkanmu. Saat aku mengantarkan makanan, dia memilih tetap di dekatmu.
Padahal aku bisa menggantikan.”
“Aku
bersyukur ibu dapat memilih jalan yang baik. Selain itu, apa ada yang tidak aku
ketahui?" Nadia masih berusaha mencari informasi.
“Tentang
Alex?” tebaknya, Dika tersenyum sinis.
“Aku
seperti sudah lama tidak mendengar nama itu.” menghembuskan nafas pelan.
“Dia
datang ke rumah sakit saat libur sekolah. Apa kamu marah dia tidak datang hari
ini?”
“Tidak,
aku bahkan berharap dia tidak menemuiku lagi.” wajahnya kembali redup.
“Jangan
kecewa padanya, dia sedang sibuk mempersiapkan perlombaan. Bukankah hubungan
tidak akan seru jika terus bertemu?”
“Aku
harus menghilang dari hidupnya.” ucap Nadia menjelaskan.
“Berhentilah
berpikir negatif tentangmu! Alex tidak pernah kecewa ataupun berkata buruk. Dia
datang ke rumah sakit juga atas keinginannya.” Dika berusaha membuat Nadia
tenang.
“Dia
bersikap seolah-olah aku memperlakukannya dengan baik karena itu aku ingin
melepaskannya.”
“Kenapa
kamu berpikir seperti itu?” Dika tidak mengerti.
“Aku
hanya bisa menyakiti hatinya tetapi dia tetap berperilaku sabar. Aku merasa
kasihan. Dika, bisakah kamu ceritakan bagaimana bisa aku dirawat di RS?”
“Nad,
yang penting saat ini kamu dalam keadaan sehat tidak kurang apapun!” itu tidak
menjawab segala pertanyaan dalam benak Nadia.
“Tetaplah
disini! Aku berharap tidak punya ingatan buruk. Aku ingin melupakan masa lalu
yang mencemaskan.” Dika terdiam memandang gadis itu. Ada perasaan sedih yang
dia sembunyikan selama berbicara dengannya. Namun Dika berusaha supaya semangat
Nadia bisa kembali.
***
Cahaya
itu menghilang. Dia tidak tau harus berbuat apa supaya cahaya itu kembali.
Bayangan? Mata menuntun mengikuti sosok itu, tetapi tidak bisa memastikan siapa
dia. Kabut tebal menyembunyikan tatapan seseorang.
Dia
tidak mengerti, kenapa dia berada disini. Semakin dia mendekat pada satu
titik, maka titik itu menjauh. Kenapa? padahal dia butuh penjelasan. Berharap
menemukan seseorang dipadang berkabut ini tetapi tidak ada siapa-siapa yang
bisa diajak berkomunikasi. Jalan keluar yang muncul lebih cepat menghilang.
Dia
berjalan mengelilingi tempat yang tidak pernah di datangi. Dimana ada tempat
seperti ini? seakan berjalan di tempat yang sama. Tidak ada ingatan yang
menjelaskan peristiwa ini bisa terjadi. Hanya pada suara yang memanggil
namanya, dia meminta penjelasan tetapi dia tidak menemukan darimana asal suara.
Nadia
terbangun dalam keadaan tubuh berkeringat. Mimpi ini terulang untuk kesekian
kali, setelah dia sadar dari koma.
“Mimpi.”
Matanya menatap langit luar. Nadia sengaja tidak menutup jendela kamar. Malam
ini dia melamun dibalik jendela.
“Aku
merasa seperti orang lain. Mataku tidak berhenti mengagumimu langit. Tuhan
bisakah Kau memberikan solusi terbaik? langit gelap seakan
menyadarkanku kalau semua masalah selalu ada jalan keluar. Seperti Kau ciptakan
bintang menjadi setitik cahaya saat gelap datang.” Nadia tersenyum.
Di
lain tempat, seorang gadis memilih duduk ditepi ranjang. Kepalanya tertunduk
mencium lutut, sudut matanya tidak berhenti menetes.
“Bisakah
aku bertahan dengan rasa sakit ini? Kenapa kamu tidak menungguku sampai
dewasa? Kehadirannya telah membuatku kehilanganmu. Apakah dia tetap yang
terbaik bagimu? Tuhan, aku memintamu menjaganya! sampaikan pesan rinduku.”
Langit
diluar sana tidak berpihak. Meskipun gelap, bulan tetap setia menerangi.
Walaupun tidak dihati gadis itu. Tatapan mata memicing pada bingkai foto di
meja belajar. Malam ini dia menangis lagi, mengiris hati seseorang yang
mencemaskannya dibalik pintu kamar.
***
Nadia
masih bertahan di gerbang sekolah. Tempat pertama kalinya dia bertemu
seseorang.
###
Seorang
lelaki sedang asik mengamati siswa SMA yang menyebrang menuju sekolah. Dari
seragamnya dia bukan berasal dari sekolah tersebut, matanya mencari sesuatu.
“Aku
tidak seberuntung kalian, tetapi aku juga tidak bodoh. Aku bisa belajar dari
keadaan sekitar, ruangan yang lebih luas. Guruku adalah mereka yang aku lihat,
dengar dan rasakan.” Dia
berdiri dengan tegap, kakinya membuat ketukan pada tanah. Hidupnya terlihat
damai. Dia tersentak melihat Nadia turun dari angkutan umum.
“Dua
menit lagi gerbang sekolah akan tertutup.” Terdengar peringatan dari pak
satpam. Nadia jalan terburu-buru, lelaki itu mengikuti dari
belakang.
“Sepertinya
dia mengikutiku? Siapa dia? Oh Tuhan lindungi aku!” Badan Nadia menggigil. Dia
melangkah cepat, sedikit berlari masuk ke sekolah.
“Hey,
tunggu!” Lelaki itu memanggil Nadia tetapi satpam mencegah masuk.
###
“Apa
yang terjadi?” Nadia melamun, tersadar saat seseorang menepuk pundak.
“Kenapa
berdiam diri di sini?” Nadia tidak menjawab, mereka berjalan sejajar di lorong
kelas.
“Selamat
datang di sekolah. Apa kamu sudah merasa baikan?” Nadia mengangguk.
“Bicaralah!
berhentilah membuatku khawatir!” menarik nafas, melihat gadis di samping tetap
berjalan tanpa menoleh.
“Maafkan
aku! Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kasalahanku?” Nadia tidak
menanggapi. Alex memotong langkah gadis itu, Nadia mendongkak dengan wajah
tanpa ekspresi.
“Apa
ada yang mengganggu pikiranmu?” Alex tersenyum ramah tetapi tidak mengubah
ekspresi datar gadis itu.
“Selalu
ada jalan keluar. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Jangan lupa hubungi
aku!” Merasa tidak ada tanggapan, Alex mengelus kepala Nadia,
lalu meninggalkannya sendiri. Alex adalah pacar yang baik tetapi Nadia
membiarkannya berlalu.
Nadia
berada di kelas, pikirannya terbawa ke dalam suasana yang sama seperti saat
itu.
###
Pelajaran
membosankan, murid belajar dengan tenang, tatapan mata Nadia tertuju pada pos
satpam disamping gerbang sekolah. Sore itu ada pelajaran tambahan, kebetulan
ruangan yang digunakan dekat sekali dengan gerbang sekolah. Murid lain fokus
mendengar materi yang guru sampaikan, tetapi tidak dengan Nadia. Matanya
menatap seseorang diluar jendela, dia tersenyum dan melambaikan tangan.
“Oh
Tuhan, apa yang dia lakukan? Aku pikir dia tidak akan kembali.” ucap Nadia
tidak percaya.
Setelah
tadi pagi tidak bisa menemui gadis itu, kini dia berdiri disamping pos dengan
diawasi pak satpam.
“Siapa
yang sedang kamu tunggu?” Pak Satpam terus mengawasi gerak-geriknya.
“Dia.”
menunjuk Nadia yang duduk di samping jendela. Nadia terlihat salah tingkah,
pura-pura membaca buku tetapi sebelah matanya memperhatikan perbincangan dua
lelaki diluar sana.
“Nadia?
Dia cantik, pintar, tetapi sangat pendiam. Kalian ada hubungan apa? Pacaran?”
selidiknya.
“Jika
dia pacarku maka sainganku banyak, Pak. Setiap hari aku akan sibuk memikirkan
keadaan dia, itu merepotkan. Meskipun aku menjadi lelaki beruntung karena
setiap hari mendapat tatapan cemburu dari setiap orang. Hanya saja, disini aku
…” ucapannya menggantung.
“Pengagum
rahasia, bodyguard, babysiter atau penguntit?” tebaknya lagi.
“Tebakkan
bapak meleset semua. Kami belum berkenalan, jadi wajar saja dia mengira aku
pengganggu. Apa ada yang salah dengan wajahku, Pak?” memegangi wajah sambil
membelokan kanan kiri.
“Zaman
dulu, saat seusiamu wajah kita mirip meskipun kamu sedikit lebih tampan. Sikap
kita hampir sama, tipikal orang yang tidak serius makanya sulit mengejar gadis
yang disuka.”
“Apa
bapak sudah menduga aku akan mendapat penolakan?” Mereka tertawa.
“Lihatlah
dulu penampilanmu! Nadia takut karena mengira kamu anak yang sering tawuran.”
Pak Satpam memperhatikan baju seragam yang tidak rapih.
“Don’t
judge people by cover, Pak! Tenang saja pak, tujuanku kesini hanya ingin
menyampaikan sesuatu.” Dia melakukan pembelaan.
“Bapak
tau. Untuk mengungkapkan perasaan kan?” menatap penuh curiga.
“Bukan
pak.” dia menegaskan bukan itu tujuannya.
“Anak
muda zaman sekarang memang pandai berbohong.”
“Arghh,
kenapa aku merasa terpojokan.” dia jengkel dan mulai gelisah, Pak satpam
tertawa melihat tingkahnya.
“Tenang,
15 menit lagi pelajaran selesai.”
“Berhentilah!
Aku tidak akan melukaimu.”
Dia mengejar
Nadia dari gerbang sekolah. Padahal Nadia ingin segera pulang tetapi angkutan
umum yang ditunggu tidak kunjung datang. Terpaksa dia berjalan untuk
menghindar, tetapi pria itu tetap mengikuti.
“Nadia,
apa kamu mendengarku? Tolong berhentila!” Nadia brhenti saat pria itu memanggil
namanya.
“Jaga
jarak denganku! Siapa kamu? Kenapa terus mengikutiku?” Nadia memberanikan diri
menatap curiga.
“Namaku
Ryan, aku tidak berniat jahat. Aku kesini ingin mengucapkan terimakasih padamu.”
“Terimakasih?”
Nadia tidak mengerti.
“Iya,
Apa kamu ingat kejadian kemarin sore? kamu adalah malaikat bagi adikku. Dia
bilang kamu menolongnya saat dia ditabrak lari pengendara motor yang mengebut.
Aku berterima kasih padamu, jika kamu tidak membawa adikku ke puskesmas.
Mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi.” penjelasan Ryan akhirnya membuat
Nadia tidak khawatir lagi.
“Jadi
Kania itu adikmu?”
“Iya,
kami tinggal di perumahan belakang sekolahmu. Aku kesini karena permohonan
Kania yang ingin bertemu denganmu. Bisakah kamu ikut denganku?”
“Aku
akan menemui Kania tetapi nanti kamu sekalian mengantarkanku pulang.” Nadia
membuat kesepakatan. Kebetulan sekali dia tidak ingin berada di rumah karena
Ibunya sudah kembali dari luar kota.
“Tenang
saja, aku sangat bertanggungjawab. Kamu hanya perlu izin orangtua supaya mereka
tidak khawatir.” Ryan menyanggupi.
“Izin?
Apa aku harus melakukannya? Saat aku ingin terbebas dari papan aturan. Aku
tidak perlu izin untuk menjalani hidup. Dia saja tidak pernah mengabari tentang
keberadaannya. Berangkat dari rumah pagi sekali dan pulang larut malam. Jadi
bukankah adil jika aku juga pergi sesuka hati.” – Nadia.
“Baiklah
aku akan meminta izin terlebih dahulu.” Dia mengetik pesan, lalu mengirimnya. Dia
mengirim pesan pada Dika untuk disampaikan pada Ibunya kalau dia akan menginap
dirumah teman sekelas.
***
Rumah
ini terasa sangat menyenangkan, penghuni rumah tersebut menyambut Nadia dengan
baik. Dia ikut makan malam bersama. Om Wisnu dan tante Gia sangat baik. Mereka
memiliki dua anak, Kania adalah putri kandung dan Ryan adalah anak angkat yang
diadosi sejak bayi sehingga mereka menganggap Ryan seperti anak kandung juga.
Nadia
berbincang bersama Kania. Dia terlihat dewasa dari umurnya. Padahal dia baru
kelas 2 SMP.
“Kak,
bagaimana kalau hari ini menginap saja? Bukankah kakak sudah minta izin main ke
rumahku?” Tentu saja saran Kania sangat cocok dengan rencana awal Nadia.
“Aku
memang sudah izin tetapi apa aku tidak mengganggumu?”
“Tentu
saja tidak Kak. Aku senang kakak disini, lebih lama juga tidak apa-apa. Aku
seperti punya kakak perempuan.” Kania sangat bahagia.
“Kania,
kamu ini manja sekali ingin punya kakak perempuan. Apa kakakmu ini tidak
cukup?” Ryan mencubit gemas pipi Kania.
“Apa
boleh jika aku menginap sehari saja?" Nadia dengan berani mengatakannya.
“Boleh
ya?” Kania mengatakan pada Ibunya yang baru saja ikut bergabung setelah membawa
cemilan dari dapur.
“Tentu
saja. Nanti Kania dan tante akan menyiapkan kamar dulu. Kania kan jarang
beres-beres kamar.”
“Tolong
nanti jangan berisik ya! karena bukan cuma Kak Nadia yang tidak bisa tidur.
Kakak juga akan kena dampaknya.” Ryan memberi peringatan pada Adiknya, karena
kamarnya berdekatan.
“Kak
Ryan kan sudah terbiasa tidak tidur cepat. Jadi bukan salah Kania yang berisik
karena jika dua perempuan dalam satu kamar tentu saja kami akan mengobrol.
Kita kan bukan patung.” Kania meledek kakaknya.
Om
wisnu dan Ryan tertawa nyaring, melihat tingkah lucu Kania yang mengoceh sambil
menaiki tangga, bibirnya mencibir pada Ryan. Nadia tersenyum, merasa dirinya
masuk pada bagian mereka.
“Apa
kamu sudah izin pada orangtua mu, Nad?” Om Wisnu memastikan.
“Sudah
om.” Nadia tetap berbohong supaya keluar dari rumah.
“Jadi
mereka tidak perlu khawatir. Kami akan menjagamu dengan baik. Sekolah kamu kan
dekat dari sini. Besok kamu diantar Ryan saja.”
“Terimakasih
Om.”
Malam
hampir larut, Nadia tidak bisa tidur. Dia memutuskan keluar dari kamar. Dia
melihat seseorang duduk di balkon ruang tengah dengan jendela besar yang
sengaja terbuka sehingga terlihat langit dengan beberapa bintang.
“Ryan?
Apa yang kamu lakukan?” Nadia berjalan menghampiri.
“Kenapa
kamu tidak tidur? Apa Kania mengganggumu?”
“Tidak,
aku belum mengantuk. Bagaimana denganmu?”
“Aku
juga. Duduklah!” Nadia duduk di samping Ryan.
“Langit
malam sangatlah indah. Tuhan menciptakan kegelapan untuk kita merenung,
melupakan kegelisahan.” Ryan memandang langit dengan serius.
Nadia
ikut menatap langit, merasakan kedamaian. Malam ini, mereka bercengkrama.
“Nad,
kamu orangnya terlalu serius. Sesekali tersenyum dan tertawa lepas, tunjukan
sisi ceriamu! Apa ada yang menganjal di hatimu?”
“Apa
orang lain harus tau apa yang aku alami?”
“Katakan
saja padaku! Jika itu membuat hatimu lega. Ini akan jadi rahasia kita.” Ryan
menjulurkan kelingking, Nadia sepakat.
“Janji.”
Ryan meyakinkan. Entah kenapa Nadia merasa Ryan orang yang akan mengerti
dirinya.
Nadia
merasa terbuang di lingkungan asing. Dia mempunyai seorang ibu yang juga
berperan sebagai Ayah. Namun dia lupa anak perempuannya ini butuh kasih sayang
penuh bukan materi saja. Bahkan ibunya tidak pernah menyempatkan waktu untuk
mengobrol. Sehingga Nadia menghabiskan waktunya sendirian.
Saat
ini Nadia bercerita keluh kesahnya. Ryan selalu menghibur, membuat Nadia
tertawa. Semenjak itu, Ryan dan Nadia sangat akrab. Bahkan setiap pulang
sekolah Nadia dijemput Ryan untuk berkunjung ke rumahnya. Ryan adalah sahabat
yang baik. Sebagai gantinya Nadia selalu bersembunyi dari kejaran Alex.
###
Nadia
meninggalkan kenangan itu di ingatan. Bagaimana kabar Ryan? Nadia belum
sempat bertemu dengannya lagi, dia juga tidak menanyakan pada Ibu dan Dika. Ryan,
dia adalah orang yang berarti baginya sejak dia datang hanya untuk mengucapkan
terima kasih.
Nadia
berada tepat didepan rumah keluarga Ryan. Dia menangis diluar gerbang saat tau
rumah ini kosong di tinggal penghuninya.
“Ryan,
aku selalu memikirkanmu. Kamu dimana?”
***
Waktu
melaju seperti siput. Nadia duduk di pinggir jendela, menatap jalan yang
bergerak. Kereta ini akan membawanya ke suatu tempat. Pandangannya fokus ke
luar tetapi pikiran tertuju pada orang yang ingin dia temui. Air mata
menghangatkan pipi. Seseorang yang duduk disamping dengan sigap menyodorkan
tisu.
“Matamu
terlalu berharga untuk menangis.” Nadia mengambil tisu tersebut tanpa menoleh.
“Kenapa
kamu mengikutiku?”
“Aku
ingin memastikan kamu baik-baik saja. Tidak ada pilihan lain. Aku khawatir
melihat kekasihku naik kereta sendiri tanpa tujuan.”
“Alex,
aku bukan anak kecil.”
“Aku
tau.” Alex menghela nafas saat matanya beradu dengan mata indah Nadia.
“Apa
yang harus aku lakukan? Aku saja tidak tau.” tangisan menjelaskan amarah yang
semakin meluap.
“Apa
kamu juga tidak bisa tersenyum saat seseorang mengharapkannya. Apa itu saja
sulit?” suara Alex terdengar mengejek, tetapi dia ingin mengembalikan semangat
Nadia.
“Alex,
aku telah mengecewakanmu dalam banyak hal tapi kamu tetap baik padaku. Aku
lelah memaksakan perasaan ini.”
“Maaf
telah memaksamu bersandiwara. Sehigga itu membebani pikiranmu.”
“Aku
yang harusnya minta maaf Alex. Carilah perempuan yang sayangnya setara
denganmu!” Nadia melepaskan bagian terdalam hatinya, ketenangan itu semakin
terasa.
“Pada
akhirnya aku merasa kecewa. Namun bisakah kita masih berteman baik?” Alex
menatap Nadia, bola mata mereka saling beradu. Nadia mengangguk.
“Nad,
aku sangat menghargai kejujuranmu.”
***
“Ryan.
Aku disini.” Langkah kaki Nadia baru saja keluar dari gerbong kereta,
namun suara nyaring berhasil menarik perhatian. Semua mata tertuju pada gadis
polos yang merentangkan tangan seakan memeluk udara. Dia terlihat sangat
bahagia. Namun pemuda disampingnya merasa sedih.
“Nadia,
ayo pergi!” Nadia tersadar, lalu beranjak pergi tanpa mengajak alex.
“Aku
memang mudah dilupakan.” pemuda itu terlihat pasrah, mengikutinya dari
belakang.
Langkah
kakinya terhenti di depan sebuah rumah diatas perbukitan teh. Nadia mengetuk
pintu berulang kali, Alex tidak yakin rumah ini berpenghuni karena tampak sepi.
“Mungkin
tidak ada orang, kita tanya dulu pada warga disekitar sini.” ajak ALex melihat
sekitar rumah hanya perkebunan.
“Ini
benar alamat yang diberikan tetangga Om Wisnu.” Nadia memperlihatkan secarik
kertas bertuliskan alamat.
“Tetapi
tidak ada tanda-tanda mereka disini.”
“Mereka
pasti didalam.” Vanesa mencoba membuka pintu. Alex menarik tangan Nadia.
“Apa
yang kamu lakukan? warga bisa curiga yang tidak-tidak kamu mencoba membuka
pintu rumah oranglain.”
“Aku
yakin mereka ada, Tante Gia, om Wisnu, Kania, Ryan ini Nadia. Aku ingin bertemu
dengan kalian. Ryan, bisakah kita bicara sebentar?” Nadia berteriak dengan
suara lantang.
“Sudah
Nad!” Alex tetap melarang.
“Ryan,
aku sangat merindukanmu. Aku ingin berbicara denganmu, sebentar saja! Di
ingatanku hanya ada kamu, tidak tau kenapa setiap malam aku gelisah, menangis
sendiri dan lebih senang menatap langit persis seperti yang sering kita
lakukan. Ryan...” ucapannya terhenti, tante Gia membuka pintu perlahan, Nadia
reflek memeluk.
“Gadis
cerewet, tante merindukanmu.” Suaranya serak, mata sembab seperti habis
menangis.
“Aku
juga tante.” Nadia menangis haru dalam pelukan. Rumah terlihat sepi, tante Gia
baru menyadari keberadaan Alex.
“Siapa
temanmu ini?”
“Saya
Alex, teman Nadia.” Alex menjulurkan tangan untuk salim.
Tante
Gia mempersilahkan mereka masuk. Duduk dalam keheningan.
“Yang
lainnya kemana Tante?” Nadia sudah tidak sabar ingin bertemu.
“Sedang
keluar sebentar nanti juga pulang. Kalian datang dari jauh, tetapi tante malah
tidak menyediakan makanan. Tante bawakan cemilan dulu ya?” Geraknya terhenti,
Nadia mencegahnya pergi.
“Jangan
tante, kedatanganku kesini hanya untuk menemui Ryan.”
Tante
Gia tertunduk. Entah kenapa Nadia merasa Tante Gia tampak pucat mendengar nama
itu.
“Nad,
yang kuat dan tabah ya! Ryan sudah pergi. Semenjak dia pergi Kania selalu
murung, butuh beberapa minggu untuk membuatnya ceria. Sekarang dia sedang
memulihkan semangatnya, untung saja disini dia punya teman-teman yang baik. Tante
dan Om tidak pernah melupakan Ryan sehingga kami memilih belakang rumah untuk
tempat peristirahatannya, supaya kami tetap dekat.” Tante Gia terisak. Nadia
terdiam beberapa saat lalu menangis. Alex yang sudah tau kejadiannya, berusaha
tegar.
“Ryan
kenapa tante?” Nadia seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Mungkin
keluargamu merahasiakan ini, tetapi kamu juga butuh kebenaran kan?” Nadia
mengangguk lemas. Tante Gia mulai bercerita.
“Sebelum
kamu koma. Ada konflik antara kamu dan Ibumu setelah ibumu putus dengan calon
ayah tirimu. Sejak kejadian itu sepertinya kamu selalu mendapat teror yang
kurang menyenangkan. Hari itu hujan deras, kamu berada di rumah sendiri, Ayah
tirimu datang bersama para preman mengobrak-abrik rumah. Kamu sulit dihubungi
sehingga Ryan berinisiatif untuk pergi. Dia sangat terburu-buru, takut kamu
dalam bahaya. Tante dan Kania berusaha melarang, karena kami sudah menghubungi
polisi. Tante juga khawatir jika Ryan berangkat sendiri, apalagi Om Wisnu belum
pulang dari luar kota tetapi dia memaksa pergi dan berjanji membawamu kerumah.
Namun naas dalam perjalanan kembali, kalian berdua kecelakaan. Ryan jauh dari
kata baik. Dia tahu kamu tidak akan bisa melihat, sehingga dia mendonorkan
matanya untukmu. Tante sangat sayang padanya dan sempat terpukul tetapi kami
paham betul kehidupan kami tetap berlanjut. Jika Ryan ada, dia pasti tidak suka
kami dirundung duka karena dirinya. Dia pasti Bahagia melihat kita bahagia.” Tante
Gia menangis tersedu. Nadia sangat terpukul, airmata terus mengalir. Dia
memeluk Tante Gia.
“Aku
sangat minta maaf.” Nadia mulai diliputi rasa bersalah.
Terimakasih
Ini
ceritaku, DILARANG COPYPASTE!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar