Kamis, 19 September 2013

AKU MELIHAT DUNIA

Gedung megah itu berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk kota. Di balik dinding putihnya, kehidupan dan kematian saling berkejaran tanpa mengenal waktu.

Ruang-ruang perawatan tak pernah benar-benar sunyi. Aroma obat dan cairan antiseptik memenuhi udara, berpadu dengan bunyi monitor yang berdetak teratur. Langkah tergesa para tenaga medis, tangis keluarga, serta doa-doa lirih yang dipanjatkan di setiap sudut menjadi irama yang tak pernah berhenti.

Di tempat itu, harapan dan keputusasaan berjalan berdampingan. Ada yang datang membawa senyum karena orang yang dicintainya mulai membuka mata. Ada pula yang pulang dengan hati hancur karena harus mengantarkan orang terkasih menuju peristirahatan terakhir.

Di rumah sakit, setiap detik dapat mengubah hidup seseorang.

***

Di salah satu ruang perawatan, seorang wanita duduk setia di sisi ranjang pasien. Wajahnya tampak pucat dan lelah. Lingkar hitam di bawah matanya menjadi saksi bahwa ia sudah lama tidak menikmati tidur yang layak. Selama tiga minggu terakhir, ia hampir tak pernah meninggalkan sisi gadis yang kini terbaring tanpa kesadaran.

Tangannya tak pernah lepas menggenggam jemari gadis itu, seolah takut jika ia melepaskannya, harapan yang tersisa ikut menghilang. Tatapannya terus tertuju pada wajah pucat tersebut.

Ada satu panggilan sederhana yang selalu ia rindukan. Satu panggilan yang dahulu terasa biasa, tetapi kini menjadi doa terbesar dalam hidupnya.

“Ibu.”

Ia tak pernah meminta keajaiban yang berlebihan. Ia hanya ingin diberi kesempatan memperbaiki kesalahan yang dulu pernah dibuat. Jika Tuhan masih berkenan... Biarkan gadis itu membuka mata sekali lagi.

“Nak...” bisiknya lirih sambil mengusap rambut Nadia. “Jangan menyerah. Temukan jalan pulang. Tuhan selalu menyertaimu.”

Suaranya mulai bergetar. “Apa pun yang terjadi... Ibu ikhlas menerima pilihanmu.” Air mata jatuh membasahi punggung tangan Nadia.

Ruangan kembali sunyi. Hanya terdengar bunyi monitor yang terus berdetak pelan. Wanita itu menundukkan kepala. Kelopak matanya terasa semakin berat. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk terus dipaksa bertahan.

Tanpa sadar, dagunya bersandar di tepi ranjang. Beberapa detik berlalu. Tiba-tiba... Jemari yang berada dalam genggamannya bergerak pelan. Wanita itu sontak mengangkat kepala. Napasnya tercekat. Jari-jari Nadia perlahan menggenggam tangannya. Lalu...

Sebuah suara lirih terdengar. “Ibu...”

Hanya satu kata. Sangat pelan. Namun, cukup untuk menghidupkan kembali harapan yang hampir padam.

Wanita itu membelalak. Matanya dipenuhi air mata.

“Apa... aku sedang bermimpi?” bisiknya tak percaya. Dengan tangan yang gemetar, ia menggenggam jemari Nadia lebih erat.

“Nad...” Suaranya nyaris patah.

“Kamu dengar suara Ibu?”

Ia mengangguk sangat lemah. “Ibu...”

Air mata wanita itu tak lagi mampu dibendung. “Iya, Sayang. Ibu di sini.”

Nadia mencoba membuka matanya. Namun... Yang menyambutnya hanyalah kegelapan. Matanya tertutup perban. Napasnya mulai memburu.

“Ibu...” Suaranya terdengar panik. “Kenapa... aku tidak bisa melihat apa-apa?”

Tangannya bergerak mencari-cari. “Ibu... Aku takut...”         

Wanita itu segera menggenggam kedua tangan putrinya. “Tenang, Nak.” Ia berusaha tetap tersenyum meski air matanya terus mengalir.

“Ibu di sini. Kamu sudah sadar. Itu yang paling penting.”

Nadia mencoba mengatur napasnya. “Aku... harus bagaimana, Bu?”

Pertanyaan sederhana itu justru membuat hati wanita tersebut terasa diremas. Ia mengusap pipi Nadia dengan lembut.

“Jangan takut. Semuanya akan kita hadapi bersama.” Ia mengecup kening putrinya penuh kasih.

“Anak Ibu yang paling kuat.” Wanita itu menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Ibu akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Ibu tidak akan pergi jauh. Tunggu sebentar, ya.”

Nadia mengangguk pelan.

Wanita itu melepaskan genggaman tangan putrinya dengan berat hati, lalu berlari keluar ruangan mencari Dokter Fatimah.


Kebahagiaan yang baru saja memenuhi dadanya ternyata harus berbagi ruang dengan duka.

Beberapa lorong dari tempat Nadia dirawat, seorang perawat menutup perlahan tirai sebuah ruang perawatan lain.

Monitor jantung yang semula berbunyi teratur kini hanya mengeluarkan nada panjang yang memekakkan keheningan. Seorang pasien baru saja mengembuskan napas terakhirnya.

Wanita itu berhenti melangkah. Dadanya kembali terasa sesak. Di balik dinding yang memisahkan kedua ruangan itu, terbaring seseorang yang juga ia kasihi seperti anaknya sendiri.

Beberapa menit yang lalu, ia menangis karena bahagia. Kini, air mata yang sama kembali jatuh karena kehilangan.

Hari itu... Di rumah sakit yang sama. Tuhan mengizinkan satu kehidupan kembali membuka mata. Dan pada saat yang hampir bersamaan. Dia memanggil kehidupan yang lain untuk pulang.

Begitulah takdir. Ia tidak pernah meminta izin sebelum datang. Ia tidak pernah menunggu seseorang benar-benar siap untuk menerima kepergian ataupun kebahagiaan.

Karena di antara hidup dan mati, manusia hanya mampu berusaha, mencintai, dan belajar mengikhlaskan setiap ketetapan-Nya.

***

Bibir Nadia bergerak pelan. Seluruh tubuhnya terasa begitu berat, seolah setiap helaan napas menguras sisa tenaganya.

“Ibu...” Suara itu nyaris tak terdengar.

Ia mencoba membuka mata, tetapi kelopak matanya seperti terkunci. Yang ia rasakan hanyalah balutan perban yang menutupi kedua matanya dan kegelapan yang seolah tak berujung. Pendengarannya menjadi satu-satunya indra yang masih bisa ia andalkan.

Ruangan begitu sunyi. Hanya terdengar bunyi monitor jantung yang berdetak pelan di samping ranjang.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar berderit. Seseorang masuk. Langkah kaki itu terdengar perlahan, lalu berhenti tepat di sisi ranjangnya.

Nadia mengira ibunya telah kembali. “Ibu...?”

Tak ada jawaban.

Keheningan beberapa detik justru membuat dadanya mulai dipenuhi kegelisahan. Lalu terdengar suara seorang perempuan. Suara yang asing. Dipenuhi kepedihan.

“Aku pikir hari ini aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal padamu.” Perempuan itu menarik napas panjang.

“Ternyata Tuhan masih membiarkanmu hidup... sementara Dia mengambil orang yang paling berharga dalam hidupku.”

Nadia membeku. Itu bukan suara ibunya. Siapa perempuan ini?

“Apa... maksudmu?” bisiknya lemah. “Siapa kamu?”

Perempuan itu tertawa lirih. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. “Perlu aku memperkenalkan diri?”

Ia terdiam sesaat, seolah sedang menahan amarah yang selama ini dipendam. “Aku adalah orang yang paling membencimu.”

Nadia merasakan tenggorokannya tercekat. Ia berusaha mengingat suara itu. Namun, tak ada satu pun wajah yang muncul di dalam ingatannya.

Tangis perempuan itu kembali pecah. “Kenapa kamu harus hadir dalam hidupku? Kenapa bukan kamu yang pergi?”

Setiap kata yang diucapkannya terasa seperti pisau yang perlahan mengiris dada Nadia. Air mata mengalir di balik perban yang masih membalut kedua matanya.

“Apa salahku...?” bisiknya lirih. “Aku bahkan tidak mengenalmu....”

Namun perempuan itu tidak menjawab. Yang terdengar hanyalah isak tangis yang perlahan menjauh.

Beberapa detik kemudian... Pintu kembali terbuka. Lalu tertutup perlahan. Ruangan kembali sunyi. Meninggalkan Nadia bersama pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia jawab.


Tak lama berselang, suara langkah kaki kembali terdengar. Kali ini lebih dari satu orang.

“Nadia, maaf membuatmu menunggu.” Suara Dokter Fatimah terdengar lembut.

Diikuti suara sang ibu yang masih dipenuhi kecemasan. “Dokter... bagaimana keadaan anak saya?”

Dokter mengangguk pelan. “Mari kita periksa kondisinya terlebih dahulu.”

Seorang perawat mulai melepaskan kabel monitor yang masih menempel di tubuh Nadia. Setelah itu, Dokter Fatimah memintanya menggerakkan jari-jari tangan. Kemudian pergelangan tangan. Lengan. Kedua kaki.

Meski tubuhnya masih terasa sangat lemah, Nadia berusaha mengikuti setiap instruksi.

“Bagus.” Dokter tersenyum puas. “Respons saraf dan motorikmu sangat baik.”

Namun, satu kegelisahan masih memenuhi hati Nadia.

“Dok...” Suaranya bergetar. “Kenapa mata saya masih diperban?”

Ia menelan ludah. “Apa... saya tidak bisa melihat lagi?”

Ibu spontan menggenggam tangannya lebih erat. Dokter Fatimah tersenyum menenangkan.

“Jangan buru-buru menyimpulkan.” Ia mengambil gunting kecil. “Mari kita lihat bersama.”

Dengan sangat hati-hati, lapisan demi lapisan perban mulai dilepaskan. Nadia menahan napas. Perlahan... Udara dingin menyentuh kelopak matanya.

“Baik...” Dokter berbicara lembut. “Sekarang buka matamu perlahan.”

Nadia mencoba menurut. Awalnya hanya cahaya putih yang menyilaukan. Semuanya tampak kabur. Bayangan di depannya saling bertumpuk. Perlahan... Kabut itu mulai menghilang. Satu wajah muncul dengan semakin jelas.

Seorang wanita. Matanya sembab. Wajahnya tampak sangat lelah. Namun senyumnya begitu hangat.

“Ibu...” Air mata Nadia langsung jatuh.

Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Sayang.”

Dokter kemudian menggerakkan jemarinya ke kanan dan kiri. Nadia mampu mengikutinya. Setelah itu, sebuah senter kecil diarahkan ke kedua pupil matanya.

“Bagus.” Dokter Fatimah mengangguk puas. “Respons pupilmu normal.”

Beliau kembali memeriksa beberapa bagian sebelum menutup map rekam medis. “Kondisimu berkembang sangat baik, Nadia.”

Kalimat itu membuat sang ibu mengembuskan napas lega.

“Kalau proses pemulihan berjalan seperti sekarang, sekitar dua minggu lagi kamu sudah boleh pulang. Selama itu kita fokus mengembalikan kekuatan tubuhmu. Istirahat yang cukup, makan teratur, dan jangan terlalu memaksakan diri.”

Ibu menangkupkan kedua tangan. “Terima kasih, Dok.” Matanya kembali berkaca-kaca. “Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya.”

Dokter Fatimah tersenyum hangat. “Kami hanya berusaha. Selebihnya adalah izin Tuhan.”

Beliau menatap Nadia. “Kamu juga hebat karena mau berjuang.”

Setelah memberikan beberapa arahan kepada perawat, dokter pun meninggalkan ruangan.

Keheningan kembali memenuhi kamar perawatan. Namun kali ini... Keheningan itu terasa jauh lebih hangat.

Nadia memandangi wajah ibunya. Baru kini ia menyadari betapa lelah perempuan itu. Lingkar hitam di bawah matanya begitu jelas. Rambutnya tampak berantakan. Wajahnya pucat. Seolah selama berminggu-minggu ia tidak pernah benar-benar beristirahat.

Sejak kapan Ibu berada di sini? Apa selama aku tidak sadar... Ibu selalu menjagaku? Doa-doa yang sempat ia dengar. Belaian lembut di rambutnya. Kecupan hangat di keningnya.

Ternyata... Semua itu bukan mimpi. Dadanya mendadak terasa hangat. Selama ini ia selalu mengira ibunya tidak pernah benar-benar menyayanginya.

Kini ia sadar... Perempuan itu justru menjadi orang yang paling setia menunggu kepulangannya.

“Bu...”

Ibunya menoleh sambil tersenyum. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Nadia terdiam cukup lama. Lalu bertanya pelan, “Sebenarnya... apa yang terjadi padaku?”

Senyum Ibu perlahan menghilang. Wajahnya berubah tegang.

“Kamu menjalani operasi.” Beliau berusaha terdengar tenang. “Sekarang kondisimu sudah jauh lebih baik.”

Namun Nadia menggeleng pelan. “Aku tidak pernah merasa sakit. Operasi apa?”

Ibu menarik napas panjang. “Ibu menemukanmu tidak sadarkan diri di kamar. Kamu langsung dibawa ke rumah sakit.”

Beliau menggenggam tangan Nadia semakin erat. “Kamu koma selama tiga minggu. Dan dokter harus melakukan operasi pada kedua matamu.”

Nadia membeku. “Tiga... minggu?” Sulit baginya mempercayai kenyataan itu. “Kenapa... Aku sama sekali tidak mengingat apa pun?”

Ia memejamkan mata. Berusaha mengingat. Namun yang muncul hanyalah potongan-potongan bayangan yang kabur.

Suara seseorang. Tangisan. Dan... Sebuah cahaya terang. Semuanya muncul sesaat. Lalu menghilang lagi. Kepalanya mulai berdenyut.

Melihat putrinya kesakitan, sang ibu segera mengusap rambutnya. “Sudah. Jangan dipaksakan. Kata dokter, ingatanmu mungkin belum pulih sepenuhnya. Yang terpenting sekarang kamu sudah selamat.”

Nadia mengembuskan napas perlahan. “Jadi... Aku benar-benar koma?”

Ibu mengangguk. “Mulai hari ini kita hanya perlu kontrol rutin ke Dokter Fatimah. Ibu akan selalu menemanimu.”

Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Nadia. “Terima kasih, Bu.”

Ibunya mengecup lembut keningnya. Bagi Nadia... Kecupan itu terasa seperti pelukan yang selama ini ia rindukan.

 Aku selalu mengira Ibu tidak pernah peduli. Padahal.. Saat aku berada di antara hidup dan mati.. Beliau tidak pernah meninggalkanku. Lalu... Kenapa aku sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi sebelum semua ini?

Tiba-tiba... Sebuah suara kembali menggema di dalam kepalanya.

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Nadia sontak memejamkan mata. Dadanya kembali dipenuhi kegelisahan.

Suara perempuan itu. Tangisan penuh kebencian itu. Masih terdengar begitu jelas.

“Gadis itu... Siapa sebenarnya dia?”

***

Langit sore berubah kelabu, seolah ikut berduka menyaksikan seorang gadis yang berdiri terpaku di balik jendela.

Dari balik kaca yang bening, tatapan kosong Nadia mengarah ke halaman rumah. Setangkai mawar merah terus dihantam hujan. Kelopaknya berguguran satu per satu, seolah menyerah pada derasnya langit.

Nadia mengembuskan napas pelan hingga permukaan kaca dipenuhi embun. Dengan ujung telunjuknya, ia menuliskan sebuah kalimat.

Biarkan aku mati... jika itu maumu.

Tulisan itu perlahan memudar, sama seperti harapan yang selama ini berusaha ia pertahankan.

Rintik hujan berubah semakin deras. Petir menggelegar, membelah langit yang muram. Mawar di halaman semakin menunduk diterpa angin.

Kasihan sekali. Entah bunga itu yang sedang diratapi langit, atau justru dirinya yang diam-diam menangis di balik jendela.

Nadia mengusap sudut matanya. “Kamu tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku, Dika. Apa sebenarnya yang tidak aku ketahui? Bisakah kamu menceritakannya?”

Dika sempat terdiam. Ada keterkejutan yang hanya muncul sesaat sebelum kembali ia sembunyikan. “Aku adalah penyimpan rahasia yang baik,” ucapnya tenang. “Seberapa keras pun usahamu, pendirianku tidak akan goyah.”

Jawaban itu kembali menggantung tanpa penjelasan. Ibu memilih diam. Kini Dika melakukan hal yang sama. Nadia mulai bertanya-tanya. Berapa lama seseorang harus mengenal sahabatnya hingga benar-benar memahami isi hatinya?

Sejak kecil mereka tumbuh bersama. Orang-orang bahkan sering mengira mereka kakak beradik. Dika selalu ada di setiap fase kehidupannya. Ia menjadi teman bermain, tempat mengadu, sekaligus orang pertama yang datang setiap kali Nadia menangis.

Mereka tidak pernah menjadi sepasang kekasih, meski saling menyayangi. Persahabatan itu terasa jauh lebih nyaman daripada sebuah hubungan. Namun hari ini... Untuk pertama kalinya, Nadia merasa ada dinding yang berdiri di antara mereka. Dika mengetahui sesuatu. Dan rahasia itu berkaitan dengan dirinya.

Suara hujan memenuhi keheningan. Nadia kembali menatap halaman rumah.

“Dika... aku tidak tahu sejak kapan Ibu memilih bekerja dari rumah.”

Dika ikut memandang ke luar jendela. “Sejak beliau sadar kalau kamulah yang paling berharga.”

Nadia menoleh perlahan.

“Sejak kamu sakit, beliau hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Setiap kali aku mengantarkan makanan, beliau selalu menolak pulang. Padahal aku sudah berkali-kali bilang akan menjagamu.”

Mata Nadia mulai berkaca-kaca. “Berarti... selama ini Ibu benar-benar menjagaku.”

“Iya.”

Senyum tipis akhirnya menghiasi wajah Nadia. “Aku bersyukur Ibu berubah.”

Ia kembali memandang Dika. “Selain itu... apa masih ada yang belum aku ketahui?”

Dika memahami arah pertanyaan itu. “Tentang Alex?”

Nama itu membuat Nadia menarik napas panjang. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar namanya.”

“Dia datang menjengukmu saat libur sekolah.”

Nadia tampak terkejut. “Benarkah?”

“Iya. Bahkan beberapa kali dia ingin datang lagi.”

Nadia menggeleng pelan. “Aku justru berharap dia tidak menemuiku lagi.”

“Kenapa?”

“Aku ingin menghilang dari hidupnya.”

Dika langsung mengernyit. “Jangan berkata seperti itu. Alex tidak pernah menyalahkanmu. Dia juga tidak pernah mengatakan hal buruk tentangmu. Semua yang dia lakukan murni karena keinginannya sendiri.”

“Itulah yang membuatku semakin merasa bersalah.”

Nadia menggenggam ujung selimut. “Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku memperlakukannya. Kalau ternyata selama ini aku hanya menyakitinya... bukankah lebih baik dia melupakanku?”

Dika memandang sahabatnya cukup lama. “Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Nadia tersenyum hambar. “Lalu... bagaimana aku bisa berada di rumah sakit?”

Pertanyaan itu membuat Dika kembali terdiam. Tangannya mengepal pelan di balik saku celana.

“Nad...” Suaranya terdengar begitu lirih. “Yang terpenting sekarang kamu sudah sehat.”

“Itu bukan jawaban.” Tatapan Nadia tak berpaling sedikit pun. “Kenapa semua orang menjawab seperti itu?”

Ruangan kembali sunyi. Hanya suara hujan yang masih mengetuk kaca jendela. Setelah beberapa saat, Nadia mengembuskan napas panjang.

“Kalau memang masa laluku begitu menyakitkan...” Ia tersenyum kecil. “...mungkin Tuhan sedang memberiku kesempatan untuk memulai hidup yang baru.”

Dika memandang wajah sahabatnya. Senyum itu terlihat begitu tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dadanya semakin sesak.

“Maafkan aku, Nad. Bukan karena aku tidak percaya padamu. Aku hanya belum siap melihatmu kembali hancur ketika semua ingatan itu kembali.”


Malam datang bersama kesunyian. Setelah Dika pulang, Nadia memejamkan mata. Rasa lelah perlahan menyeret kesadarannya.

Lalu... Ia kembali berada di tempat itu. Kabut putih membentang sejauh mata memandang. Tak ada langit. Tak ada tanah. Tak ada arah. Hanya kesunyian yang menyesakkan.

Di kejauhan, setitik cahaya tampak berpendar. Nadia berlari mengejarnya. Semakin cepat ia berlari, cahaya itu justru semakin menjauh.

“Tunggu...” Ia mengulurkan tangan.

Hampir saja menyentuhnya. Namun cahaya itu kembali menghilang. Samar-samar muncul sosok seseorang berdiri membelakanginya. Tubuhnya tinggi. Sangat samar. Seolah hanya terdiri dari bayangan.

“Siapa kamu?”

Sosok itu perlahan menoleh. Namun sebelum wajahnya terlihat jelas... Kabut kembali menelannya.

“Nadia...” Suara itu terdengar lembut.

Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.

“Nadia...” Kali ini suara itu berasal dari arah lain.

“Nadia...” Suara demi suara mulai berdatangan.

Ada yang terdengar dekat. Ada pula yang begitu jauh. Sebagian terdengar menangis. Sebagian lagi terdengar marah.

Nadia memejamkan telinga. “Cukup...”

“Tolong... siapa kalian?” Ia berlari tanpa arah. Namun setiap jalan yang dilewatinya selalu membawanya kembali ke tempat semula.

Seolah ia sedang berjalan di dalam lingkaran yang tak memiliki ujung. Di depan sana... Samar-samar tampak sebuah pintu tua. Saat Nadia hendak mendekatinya, pintu itu perlahan tertutup sendiri.

Gelap. Semuanya kembali gelap.


Nadia tersentak bangun. Napasnya memburu. Peluh membasahi dahi dan lehernya.

“Lagi...” Ia memejamkan mata sejenak. “Mimpi itu lagi.”

Sejak sadar dari koma, mimpi yang sama selalu datang. Hampir setiap malam. Tak pernah benar-benar berubah. Ia bangkit perlahan lalu berjalan menuju jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.

Udara malam menyentuh wajahnya. Langit tampak gelap tanpa bulan. Hanya beberapa bintang kecil yang masih bertahan memancarkan cahaya.

“Aku merasa seperti orang asing bagi diriku sendiri.” Tatapannya terus mengarah ke langit.

“Ya Allah... Kalau memang ada jalan yang harus kutemukan, tuntunlah aku.”

Nadia tersenyum tipis. “Langit selalu gelap sebelum fajar datang. Mungkin hidupku juga begitu. Selama masih ada setitik cahaya, aku akan tetap percaya bahwa Engkau sedang menyiapkan jalan pulang.”

Angin malam berembus pelan, menerbangkan helaian rambutnya.

Jauh di dalam hatinya, Nadia belum menyadari bahwa jawaban yang selama ini ia cari perlahan sedang mendekatinya. Bukan melalui ingatan. Melainkan melalui seseorang yang tak pernah berhenti menunggunya mengingat segalanya.


Di sudut kota yang lain... Malam menyelimuti sebuah rumah dengan kesunyian yang terasa begitu pekat. Di dalam salah satu kamar, seorang gadis duduk di tepi ranjang. Kedua lututnya dipeluk erat, sementara kepalanya tertunduk dalam. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi gaun yang dikenakannya.

Malam itu, ia kembali menangis sendirian. “Bisakah aku bertahan dengan rasa sakit ini?” bisiknya lirih.

Tak ada yang menjawab. Yang terdengar hanyalah detak jam dinding dan isak yang berusaha ia tahan.

“Kenapa kamu tidak menungguku sampai aku dewasa?” Kalimat itu keluar dengan suara bergetar. “Kehadirannya telah membuatku kehilanganmu.”

Ia memejamkan mata. Semakin berusaha melupakan, bayangan itu justru semakin jelas memenuhi pikirannya.

“Apakah... dia masih menjadi orang yang paling berharga bagimu?” Bibirnya bergetar saat mengangkat kedua tangan.

“Ya Allah... Jagalah dia untukku. Kami tidak lagi ditakdirkan bersama.. Sampaikan juga rinduku meski dia tak lagi berada di sisiku.”

Perlahan kedua tangannya turun. Tatapannya beralih ke sebuah bingkai foto yang berdiri di atas meja belajar. Dengan jemari yang gemetar, ia mengusap permukaan kaca bingkai itu. Seolah sentuhan itu mampu mengurangi rindu yang selama ini terus dipendam.

Air matanya kembali menetes. “Mengapa begitu sulit melupakanmu...?”

Di luar, langit tetap gelap. Bulan masih setia memancarkan cahayanya, tetapi sinarnya tak mampu menerangi hati gadis itu yang merasa kehilangan.

Malam itu... Ia kembali menangis. Tanpa disadarinya, seseorang telah berdiri cukup lama di balik pintu kamar.

Ibunya. Wanita itu menggenggam gagang pintu erat-erat. Beberapa kali ia ingin masuk. Ingin memeluk putrinya. Ingin mengatakan bahwa semua luka akan sembuh pada waktunya. Namun langkahnya tak pernah benar-benar bergerak.

Ia tahu... Tidak semua kesedihan dapat dihapus dengan pelukan. Dan tidak semua kehilangan dapat disembuhkan oleh kata-kata.

Air mata perlahan mengalir di pipinya. “Maafkan Ibu...” bisiknya lirih. “Ibu tidak mampu menghapus kesedihan di hatimu.”

Wanita itu menatap putrinya beberapa saat lagi. Kemudian, dengan langkah pelan, ia berbalik meninggalkan pintu kamar.

Di dalam kamar, gadis itu masih memeluk bingkai foto erat di dadanya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ibunya baru saja datang. Dan memilih pergi agar putrinya dapat menangis sepuasnya.

Malam itu. Di bawah satu atap yang sama, dua perempuan memikul kesedihan yang berbeda. Yang satu menangisi seseorang yang telah pergi. Yang satu lagi menangisi putrinya yang belum mampu melepaskan kepergian itu.

***

Nadia masih berdiri di depan gerbang sekolah. Tatapannya terpaku pada bangunan yang terasa begitu asing, sekaligus akrab.

Sudah beberapa menit ia hanya diam memandangi halaman sekolah. Entah mengapa, setiap kali berada di tempat itu, dadanya selalu berdebar. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di sana. Sesuatu yang berusaha keluar dari balik ingatannya yang hilang.

Ia memejamkan mata. Seketika.. Suara riuh para siswa memenuhi telinganya. Deru kendaraan yang berlalu-lalang. Peluit satpam yang bersahutan. Semuanya terdengar begitu nyata.


Seorang remaja laki-laki berdiri di seberang jalan sambil memperhatikan para siswa yang memasuki gerbang sekolah. Seragam yang dikenakannya berbeda. Ia bukan murid di sekolah itu. Tatapannya sibuk mencari seseorang.

“Aku memang tidak seberuntung mereka,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. “Tapi aku juga bukan orang bodoh. Sekolah bukan satu-satunya tempat untuk belajar. Guruku adalah kehidupan, dan pelajarannya ada pada setiap orang yang kutemui.”

Ia melirik jam tangan lusuh di pergelangan tangannya. Belum datang... Kakinya terus mengetuk trotoar dengan gelisah.

Tak lama kemudian, sebuah angkutan umum berhenti di depan sekolah. Seorang gadis turun sambil merapikan tas di pundaknya.

Nadia. Sorot mata remaja itu langsung berbinar.

Pada saat yang bersamaan, suara satpam terdengar lantang. “Dua menit lagi gerbang sekolah ditutup!”

Nadia spontan mempercepat langkah.

“Hei! Tunggu!” Remaja itu berlari mengejarnya.

Nadia menoleh sekilas. Melihat seorang laki-laki asing berlari ke arahnya, wajahnya langsung memucat. Apa dia mengikutiku? Siapa dia? Ya Allah...

Ia semakin mempercepat langkah hingga berubah menjadi lari kecil menuju gerbang sekolah.

“Hei! Aku cuma mau bicara!” Belum sempat remaja itu mendekat, satpam sudah menghadangnya.

“Berhenti! Kamu bukan siswa di sini.”

Remaja itu hanya bisa berhenti. Tatapannya mengikuti punggung Nadia yang semakin menjauh hingga menghilang di balik gerbang sekolah. Sorot matanya perlahan meredup.


“Nadia...” Suara seseorang membuyarkan semuanya.

Nadia membuka mata dengan napas sedikit memburu. Ia masih berdiri di depan gerbang sekolah. Ingatan itu menghilang begitu saja, seolah tak pernah terjadi.

“Nadia?” Seseorang menepuk pelan pundaknya. “Kenapa melamun sendirian di sini?”

Nadia menoleh perlahan. Di sampingnya berdiri Alex dengan wajah penuh kekhawatiran. Tanpa menjawab, Nadia mulai melangkah memasuki area sekolah. Namun pikirannya masih tertinggal pada sosok remaja laki-laki yang baru saja muncul dalam kilasan ingatannya. Siapa dia? Kenapa wajahnya terasa begitu asing... tetapi juga begitu dekat?

“Selamat datang kembali.” Alex berjalan di sampingnya sambil tersenyum. “Apa badanmu sudah lebih baik?”

“Iya.” Jawaban Nadia terdengar singkat.

Alex meliriknya sekilas. “Bicaralah sedikit. Jangan diam terus seperti ini. Aku jadi khawatir.”

Nadia tetap melangkah tanpa menoleh.

Alex mengembuskan napas pelan. “Maafkan aku.”

Langkah Nadia terhenti.

“Apa yang harus kulakukan supaya kamu mau memaafkanku?”

Tetap tidak ada jawaban. Alex akhirnya berdiri tepat di depannya, menghalangi langkah Nadia.

Gadis itu perlahan mendongakkan kepala. Tatapannya kosong. Seolah sedang memandang seseorang yang dikenalnya... tetapi tak mampu diingat oleh hatinya.

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Alex lembut.

Nadia hanya menggeleng pelan.

Alex tersenyum, meski senyum itu menyimpan kekecewaan. “Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendirian.”

Ia mengusap pelan kepala Nadia. “Selalu ada jalan keluar. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian.”

Sesaat kemudian Alex melangkah pergi. Nadia tetap berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti punggung Alex yang semakin menjauh.

Entah mengapa... Dadanya tidak merasakan apa pun. Seharusnya perhatian itu membuatnya merasa tenang. Namun yang tersisa hanyalah kehampaan. Seolah ada seseorang yang pernah melakukan hal serupa... tetapi wajahnya tidak mampu ia ingat.


Bel sekolah berbunyi nyaring. Nadia duduk di bangkunya. Guru mulai menjelaskan pelajaran di depan kelas, sementara teman-temannya sibuk mencatat.

Namun pikiran Nadia kembali mengembara. Tatapannya tanpa sadar beralih ke luar jendela. Gerbang sekolah. Pos satpam. Jalan di depan sekolah. Pemandangan itu kembali membuat kepalanya berdenyut pelan.

Ia memejamkan mata sejenak. Dan tanpa disadari... Potongan kenangan lain perlahan mulai muncul dari balik ingatannya yang selama ini terkunci.


Suasana kelas sore itu jauh lebih sepi. Pelajaran tambahan sedang berlangsung. Sebagian besar siswa sibuk mencatat penjelasan guru di papan tulis. Namun perhatian Nadia justru melayang ke luar jendela.

Di dekat pos satpam, seorang remaja laki-laki masih berdiri di tempat yang sama. Wajahnya dihiasi senyum tipis saat pandangannya bertemu dengan Nadia. Perlahan ia mengangkat tangan, melambaikan tangan kecil ke arah jendela kelas.

Tanpa sadar, Nadia membalas lambaian itu. Senyum tipis ikut terukir di wajahnya. Ya Tuhan... Kenapa dia datang lagi? Bukankah tadi pagi dia sudah pergi?

Remaja itu tampak mengembuskan napas lega ketika melihat Nadia akhirnya menyadari keberadaannya. Sejak tadi, Pak Satpam yang berjaga tak jauh darinya diam-diam memperhatikan tingkah remaja itu. Akhirnya beliau menghampiri.

“Nak,” sapanya ramah. “Dari tadi Bapak lihat kamu berdiri di sini terus. Sebenarnya sedang menunggu siapa?”

Remaja itu menunjuk ke arah jendela lantai dua. “Dia.”

Pak Satpam mengikuti arah telunjuknya. “Nadia?”

Remaja itu mengangguk pelan.

Di dalam kelas, Nadia buru-buru membuka buku pelajaran. Ia berpura-pura membaca, padahal dari balik halaman buku itu sebelah matanya masih sibuk mengamati percakapan mereka.

“Nadia itu anak baik,” ujar Pak Satpam. “Pintar, sopan, meski memang pendiam.”

Beliau melirik Remaja itu dengan senyum usil. “Kalian pacaran?”

Remaja itu langsung terkekeh. “Kalau dia pacar saya, mungkin setiap hari saya harus mengusir orang yang mau mendekatinya.”

Pak Satpam ikut tertawa. “Wah... percaya diri juga.”

Remaja itu mengangkat bahu sambil tersenyum. “Masalahnya... kami bahkan belum saling kenal.”

“Oh...” Pak Satpam mengangguk-angguk mengerti. “Pantas saja tadi pagi dia langsung lari. Mungkin dikira kamu orang iseng.”

Remaja itu spontan meraba wajahnya sendiri. “Apa tampang saya semenyeramkan itu, Pak?”

“Bukan wajahmu.”

“Lalu?”

Pak Satpam menunjuk pakaian Ryan. “Itu seragammu.”

Remaja itu ikut menunduk melihat kemejanya yang kusut, dasi yang longgar, serta sepatu yang penuh debu.

Pak Satpam tertawa kecil. “Kalau lihat penampilanmu sekarang, orang bisa mengira kamu baru selesai tawuran.”

Remaja itu langsung merapikan kerah bajunya. “Jangan menilai orang dari penampilannya, Pak.”

“Lalu sebenarnya tujuanmu datang ke sini apa?”

Remaja itu tersenyum tipis. “Ada seseorang yang ingin saya temui.”

Pak Satpam menyipitkan mata. “Ngaku saja. Mau nembak Nadia, ya?”

Remaja itu mengusap tengkuknya sambil tertawa canggung. “Aduh... kenapa saya malah seperti sedang diinterogasi?”

“Ya, soalnya dari tadi kamu berdiri terus di sini.”

Remaja itu akhirnya menghela napas. “Saya cuma ingin mengucapkan terima kasih. Setelah itu saya langsung pulang.”

Pak Satpam menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum. “Kalau begitu tunggu saja. Lima belas menit lagi bel pulang berbunyi.”

“Terima kasih, Pak.”


Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suasana sekolah yang semula tenang mendadak ramai. Para siswa berhamburan keluar kelas sambil bercanda dengan teman-temannya.

Remaja itu segera berdiri tegak. Tatapannya sibuk mencari satu wajah yang sejak pagi ia tunggu. Tak lama kemudian Nadia muncul dari balik kerumunan, memeluk beberapa buku di dadanya.        

Begitu melihat Remaja itu masih berdiri di dekat gerbang, jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Tanpa sadar ia mempercepat Langkah, segera mengejarnya.

“Tunggu sebentar!”

Nadia tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju halte. Namun setelah beberapa menit menunggu, angkutan umum yang biasa lewat tak juga datang. Terpaksa ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Remaja itu tetap mengikuti dari belakang, tetapi menjaga jarak agar Nadia tidak semakin takut.

“Nadia... tolong berhenti sebentar.”

Mendengar namanya dipanggil, Nadia akhirnya menghentikan langkah. Ia berbalik dengan tatapan penuh kewaspadaan.

“Tolong jangan mendekat.” Suaranya terdengar tegas. “Siapa kamu? Kenapa terus mengikutiku?”

Remaja itu langsung mengangkat kedua tangannya. “Tenang.” Ia tersenyum ramah. “Namaku Ryan. Aku tidak akan menyakitimu. Aku datang hanya untuk mengucapkan terima kasih.”

Nadia mengernyit. “Terima kasih?”

Ryan mengangguk. “Apa kamu masih ingat kejadian kemarin sore?”

Nadia mencoba mengingat. “Yang mana?”

“Adikku ditabrak pengendara motor yang langsung melarikan diri.” Wajah Ryan berubah serius. “Orang-orang hanya melihat dari jauh. Tapi kamu yang membawanya ke puskesmas dan memastikan dia mendapat pertolongan.”

Ryan menundukkan kepala dengan tulus. “Kalau bukan karena bantuanmu, mungkin keadaan adikku akan jauh lebih buruk.”

Nadia terdiam.

Perlahan rasa takut yang sejak tadi memenuhi hatinya mulai menghilang. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Bagi kamu mungkin itu hal biasa.”

Ryan tersenyum hangat. “Tapi bagi keluargaku, kamu sudah menyelamatkan seseorang yang sangat berharga.”

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, Nadia membalas senyumnya. “Syukurlah kalau keadaan adikmu sudah membaik.”

“Iya.” Ryan mengangguk. “Itulah alasan aku mencarimu sejak tadi pagi.”

Nadia akhirnya memahami semuanya. Lelaki yang sejak pagi disangkanya berniat buruk ternyata hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih.

“Jadi... Kania benar-benar adikmu?”

“Iya.” Ryan tersenyum. “Kami tinggal di perumahan belakang sekolahmu. Sebenarnya Kania yang memaksaku datang ke sini. Dia terus meminta bertemu denganmu. Katanya dia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung.”

Nadia terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. “Kalau begitu... aku akan menemuinya.”

Wajah Ryan langsung berbinar. “Benarkah?”

“Iya.” Nadia tersenyum tipis. “Tapi dengan satu syarat.”

Ryan mengangkat alis. “Syarat?”

“Kamu juga harus mengantarkanku pulang.”

Ryan tertawa pelan. “Itu sudah pasti. Aku yang mengajakmu, berarti aku juga yang bertanggung jawab mengantarmu sampai rumah.”

Sesaat kemudian raut wajahnya berubah lebih serius. “Tapi kamu tetap harus meminta izin kepada orang tuamu. Mereka pasti khawatir.”

Kalimat itu membuat senyum Nadia perlahan memudar. Meminta izin... Kata-kata itu bergema di kepalanya. Apa benar Ibu akan mengkhawatirkanku?

Selama ini beliau selalu berangkat pagi dan pulang larut malam tanpa pernah menjelaskan ke mana. Aku sering menunggu, tetapi jarang mendapat kabar. Kalau begitu... Bukankah wajar kalau kali ini aku juga pergi tanpa banyak penjelasan?

Nadia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.

Dika, tolong sampaikan kepada Ibu kalau aku pergi menginap ke rumah temanku. Jangan khawatir!

Setelah memastikan pesannya terkirim, Nadia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Ia menatap Ryan dan tersenyum tipis. “Ayo.”

Ryan mengangguk lega.

Untuk pertama kalinya hari itu, mereka berjalan berdampingan meninggalkan gerbang sekolah.

***

Rumah keluarga Ryan menghadirkan suasana yang belum pernah Nadia rasakan sebelumnya. Kehangatan menyambutnya sejak pertama kali melangkah masuk. Om Wisnu dan Tante Gia menerima kedatangannya tanpa sedikit pun kecanggungan, seolah-olah Nadia memang sudah lama menjadi bagian dari keluarga mereka.

Mereka makan malam bersama di meja makan. Tawa dan obrolan ringan memenuhi ruangan. Di keluarga itu hanya ada dua anak. Kania adalah putri kandung Om Wisnu dan Tante Gia, sedangkan Ryan merupakan anak angkat yang mereka adopsi sejak bayi. Namun kasih sayang yang diberikan kepada keduanya sama besarnya. Tidak ada perlakuan yang dibedakan. Ryan telah menjadi anak mereka sepenuhnya.

Meski baru duduk di kelas dua SMP, cara berpikir Kania jauh lebih dewasa daripada usianya.

“Kak Nadia...” panggil Kania pelan.

“Iya?”

“Gimana kalau Kakak menginap di sini malam ini? Tadi Kakak juga sudah izin ke rumah, kan?”

Nadia tersenyum. Usul itu diam-diam memang sama dengan keinginannya.

“Aku memang sudah meminta izin. Tapi... apa aku tidak merepotkan keluarga kalian?”

Kania langsung menggeleng kuat. “Tentu tidak! Aku malah senang sekali kalau Kakak menginap. Rasanya seperti punya kakak perempuan.”

“Kania...” Ryan mencubit pelan pipi adiknya. “Memangnya punya kakak laki-laki sepertiku kurang?”

“Kurang.” Jawabannya begitu cepat hingga membuat semua orang tertawa.

Ryan menggeleng pasrah. “Jawabannya selalu itu.”


Malam itu diisi dengan obrolan yang tidak pernah membosankan. Setelah makan malam, Om Wisnu mengajak Ryan memperbaiki keran air di halaman belakang.

Ryan mengajak Nadia ikut melihat. “Pegang senter, ya.”

Nadia mengangguk sambil memegang senter. Namun beberapa menit kemudian cahaya senter justru terus mengikuti wajah Ryan.

“Hei.” Ryan menyipitkan mata. “Senter itu buat kerannya, bukan buat mukaku.”

Nadia buru-buru mengalihkan arah cahaya. “Maaf.”

Ryan tertawa. “Tidak apa-apa. Untung aku belum berubah jadi artis.”

Om Wisnu ikut tertawa. “Kalau jadi artis juga paling cuma figuran.”

Ryan langsung memprotes. “Pah...”

Gelak tawa kembali memenuhi halaman rumah. Nadia hanya memperhatikan. Sesederhana itu. Mereka saling mengejek, tetapi tidak ada yang terluka. Semua terasa hangat.


Setelah selesai, Kania menarik Nadia menuju kamarnya. Mereka membuka album foto keluarga.

“Ini waktu Kak Ryan pertama kali belajar naik sepeda.”

Di foto itu, Ryan kecil terduduk di tanah dengan lutut lecet sambil menangis.

Nadia menahan tawa. “Dia pernah menangis juga?”

“Sering.” Jawab Kania tanpa ragu. “Kak Ryan dulu penakut. Bahkan pernah menangis gara-gara melihat cicak jatuh di meja.”

“Heh!” Ryan yang baru masuk membawa semangkuk buah langsung memprotes.

“Itu fitnah.”

“Buktinya ada.” Kania memperlihatkan foto lain.

Ryan langsung menutup wajahnya dengan bantal. “Tolong foto itu dimusnahkan.”

Nadia akhirnya tertawa lepas. Tawa yang sudah lama tidak keluar dari dirinya.

Ryan memandangnya beberapa detik. Dalam hati ia ikut tersenyum. Akhirnya... Aku berhasil melihatmu tertawa tanpa dipaksa.


Keesokan paginya aroma nasi goreng membangunkan Nadia. Ia turun ke dapur dan mendapati Ryan sedang memasak bersama Tante Gia.

“Kamu bisa memasak?” tanya Nadia heran.

Ryan mengangkat spatula dengan bangga. “Tentu. Lumayan.”

Satu menit kemudian...

“Ryan!” Suara Tante Gia memenuhi dapur. “Nasi gorengnya hampir gosong!”

Ryan langsung panik. “Aduh...”

Semua kembali tertawa.

Bahkan Om Wisnu sampai harus menahan perut. “Nanti kalau sudah menikah jangan masak sendirian.”

Ryan mengangguk pasrah. “Baik, Pah.”

“Tapi cari istri dulu.”

Kania langsung menyela. “Kak Ryan harus belajar masak lagi.”

Nadia ikut tertawa melihat wajah Ryan yang semakin pasrah.


Sebelum berangkat sekolah, Ryan mengambil dua roti dari meja makan. Satu untuk dirinya. Satu lagi disodorkan kepada Nadia.

“Buat di jalan.”

Nadia menerimanya. “Terima kasih.”

“Mulai sekarang jangan berangkat sekolah dengan perut kosong.” Kalimat sederhana itu terdengar biasa. Namun entah mengapa membuat hati Nadia terasa hangat.

Sudah lama tidak ada seseorang yang memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.

***

Hari-hari berikutnya berlalu tanpa terasa. Ryan sering menunggu Nadia di depan sekolah. Kadang mereka mampir membeli es teh. Kadang hanya duduk di taman sambil berbagi cerita. Sesekali Ryan mengajak Nadia ke rumahnya. Kania selalu menyambut mereka dengan wajah ceria.

Mereka bermain ular tangga, memasak mi bersama, menyiram tanaman, atau sekadar menonton film keluarga hingga tertidur di ruang tengah. Tanpa disadari, rumah itu perlahan menjadi tempat yang paling ingin Nadia datangi sepulang sekolah.

Bukan karena rumahnya sendiri tidak nyaman. Melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasakan seperti apa rasanya pulang. Di sana selalu ada tawa. Selalu ada seseorang yang menanyakan apakah ia sudah makan. Selalu ada tempat untuk bercerita. Dan selalu ada Ryan... Yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Suatu malam, ketika mereka kembali duduk di balkon menikmati langit, Ryan berkata pelan, “Nad... Kalau suatu hari nanti kamu merasa seluruh dunia meninggalkanmu...”

Ia menatap langit yang dipenuhi bintang. “...ingat saja masih ada satu rumah yang pintunya selalu terbuka untukmu.”

Nadia tidak langsung menjawab. Matanya perlahan memanas. Sudah lama sekali... Tidak ada orang yang mengatakan kalimat sehangat itu kepadanya.

Sejak hari itulah, sedikit demi sedikit, Nadia mulai membuka pintu hatinya. Ryan tidak pernah memaksa. Ia hanya hadir. Dan terkadang, kehadiran yang tulus jauh lebih menyembuhkan daripada ribuan nasihat.

Di sisi lain, Nadia mulai menjaga jarak dari Alex. Bukan karena Alex pernah berbuat salah. Melainkan karena ia takut, semakin lama berada di dekatnya, semakin besar pula luka yang mungkin akan ia tinggalkan.


Kereta melaju membelah kota, meninggalkan satu per satu bangunan yang berlalu di balik jendela. Nadia duduk diam di kursinya. Tatapannya mengikuti pemandangan yang terus berganti, tetapi pikirannya tertinggal di sebuah rumah yang baru saja ia datangi.

Rumah keluarga Ryan.

Rumah yang pernah memberinya kehangatan, namun kini hanya menyisakan kesunyian. Beberapa saat sebelumnya, Nadia berdiri lama di depan gerbang rumah itu. Jemarinya menggenggam erat jeruji besi yang dingin. Halaman yang dahulu dipenuhi tawa kini tampak lengang. Tidak ada suara Kania yang riang. Tidak ada sapaan hangat Om Wisnu maupun Tante Gia. Bahkan pintu rumah itu tetap tertutup rapat, seolah tak lagi menyimpan kehidupan.

Ia berkali-kali menekan bel, berharap seseorang akan membukakan pintu. Namun yang datang justru seorang wanita paruh baya dari rumah sebelah.

“Maaf, Nak. Kamu mencari keluarga Pak Wisnu?”

Nadia segera mengangguk. “Iya, Bu.”

Wanita itu tersenyum tipis, meski sorot matanya menyiratkan rasa iba. “Mereka sudah pindah.”

Jantung Nadia seolah berhenti berdetak. “...Pindah?”

“Iya.”

“Ke mana, Bu?”

Wanita itu menggeleng pelan. “Saya juga tidak tahu. Setelah kejadian itu, mereka langsung meninggalkan rumah ini.”

“Setelah... kejadian?”

Wanita itu terdiam sejenak, seolah baru menyadari telah mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya.

“Sudahlah, Nak. Saya juga tidak begitu mengerti.”

Wanita itu kembali masuk ke rumahnya, meninggalkan Nadia yang masih berdiri mematung di depan gerbang.

Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Nadia kembali menggenggam jeruji gerbang. Saat itulah kepalanya mendadak berdenyut.

Sebuah bayangan muncul begitu cepat.

“Kak Nadia!” Suara tawa seorang gadis kecil.

“Ryan! Cepat kejar!”

Tawa mereka bercampur dengan suara langkah kaki yang berlari di halaman. Bayangan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum kembali lenyap.

Nadia spontan memegangi kepalanya. “Kenapa...” Air matanya perlahan mengalir.

“Kenapa aku tidak bisa mengingat lebih banyak?”

Tak ada jawaban.

Hanya angin yang terus berembus, membawa pergi suara yang tak sempat ia genggam kembali.

“Ryan...” bisiknya lirih. “Aku selalu memikirkanmu. Kamu... di mana?”


Tanpa benar-benar sadar ke mana langkahnya membawa, Nadia berjalan hingga tiba di stasiun.

Ia membeli tiket pertama yang tersedia. Baginya, tujuan sudah tidak lagi penting. Ia hanya ingin terus bergerak.

Mungkin dengan berjalan, ia bisa menemukan jawaban yang selama ini hilang bersama ingatannya. Kini kereta melaju perlahan meninggalkan stasiun.

Nadia kembali menatap keluar jendela. Pohon-pohon, gedung, dan jalanan berlalu begitu cepat. Namun, bayangan Ryan tetap tidak ikut menghilang.

Air mata kembali mengalir tanpa dapat ia cegah. Seseorang yang duduk di sampingnya diam-diam menyodorkan sebungkus tisu.

“Matamu terlalu indah untuk terus menangis.”

Nadia menerima tisu itu tanpa menoleh. “Kenapa kamu mengikutiku?”

Alex tersenyum tipis. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Aku tahu.” Alex mengembuskan napas pelan. “Tapi tetap saja aku tidak tenang melihat pacarku naik kereta sendirian tanpa memberi tahu hendak pergi ke mana.”

Nadia menggenggam erat tisu di tangannya. “Aku sendiri juga tidak tahu harus ke mana.”

Suaranya mulai bergetar. “Aku merasa ada seseorang yang harus kutemui. Tapi setiap kali mencoba mengingatnya... kepalaku justru semakin sakit.”

Alex menatap wajah Nadia yang dipenuhi kebingungan. Di balik sorot mata itu, ia melihat seseorang yang sedang berusaha menemukan dirinya sendiri.

Ia ingin memeluk Nadia. Ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun ia tahu... Pelukan itu mungkin hanya akan membuat Nadia semakin merasa bersalah.

“Apa yang harus kulakukan, Alex?” bisik Nadia.

Alex terdiam cukup lama. Kemudian ia tersenyum kecil. “Kalau tersenyum itu terlalu berat...”

Ia mengangkat satu jari. “...bolehkah aku meminjam satu senyum kecil saja?”

Nadia akhirnya menoleh.

“Satu saja,” lanjut Alex sambil tersenyum. “Supaya aku tahu Nadia yang kukenal masih ada.”

Sudut bibir Nadia perlahan terangkat. Senyum itu sangat tipis. Nyaris tak terlihat. Namun bagi Alex... Senyum kecil itu terasa lebih berharga daripada apa pun.

Ia membalas senyum Nadia tanpa berkata apa-apa. Dalam hati, ia hanya berdoa agar suatu hari nanti gadis di sampingnya benar-benar bisa tersenyum tanpa menyembunyikan luka.

Kereta terus melaju. Suara roda yang bergesekan dengan rel memenuhi keheningan di antara mereka.

Setelah beberapa saat, Nadia kembali membuka suara. “Alex...” Ia menundukkan kepala. “Aku sudah terlalu sering mengecewakanmu.”

Alex tersenyum tipis. “Kamu tidak pernah sengaja melakukannya.”

Nadia menggeleng. “Tapi tetap saja... aku lelah terus memaksakan perasaan yang memang tidak pernah benar-benar ada.”

Kalimat itu membuat Alex terdiam. Sebenarnya ia sudah mengetahui jawabannya sejak lama. Hanya saja.. Mendengarnya langsung dari bibir Nadia tetap terasa menyakitkan.

Ia menatap pantulan wajah mereka di kaca jendela. Selama ini Nadia memang berada di sisinya. Namun hati gadis itu... Selalu berjalan menuju seseorang yang lain. Dan hari ini... Ia memilih berhenti mengejarnya.

Alex mengembuskan napas panjang. “Kalau begitu...” Ia kembali menatap Nadia. “Maaf karena selama ini aku memaksamu bertahan dalam hubungan yang tidak pernah benar-benar membuatmu bahagia.”

Air mata Nadia kembali jatuh. “Tidak, Alex. Aku yang seharusnya meminta maaf. Kamu sudah menjadi orang yang sangat baik. Justru aku yang tidak mampu membalas semua perasaanmu.”

Alex tersenyum, meski matanya mulai memerah. “Jangan berkata begitu. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang mencintaimu sebesar kamu mencintainya.”

Keheningan kembali hadir. Beberapa saat kemudian, Alex mengulurkan tangannya.

“Kalau memang kita tidak ditakdirkan berjalan sebagai sepasang kekasih, bolehkah kita tetap menjadi sahabat?”

Nadia memandang tangan itu beberapa detik. Lalu ia menyambutnya. “Boleh.”

Jabat tangan mereka berlangsung singkat. Namun cukup untuk mengakhiri sebuah hubungan tanpa menyisakan kebencian.

Alex mengangguk pelan. “Terima kasih, Nad.”

“Untuk apa? Karena akhirnya kamu memilih jujur.”

Nadia tersenyum tipis. “Terima kasih juga karena kamu pernah menyayangiku dengan tulus.”

Kereta terus melaju. Bukan hanya membawa mereka menuju tujuan yang berbeda. Tetapi juga mengantar dua hati yang akhirnya memilih saling melepaskan.

Tak seorang pun menyadari bahwa orang yang selama ini memenuhi hampir seluruh kenangan Nadia, sudah tidak lagi menunggunya. Dan ketika seluruh ingatannya kembali nanti yang mungkin tersisa hanyalah penyesalan karena terlambat menyadari betapa berharganya seseorang itu.

***

“Ryan... aku di sini!”

Baru saja kakinya menginjak peron, Nadia spontan memanggil nama itu. Suaranya yang lantang membuat beberapa penumpang menoleh heran.

Nadia berdiri memandang ke segala arah. Tatapannya menyapu wajah demi wajah yang berlalu-lalang, berharap menemukan sosok yang selama ini memenuhi pikirannya.

Namun tak ada siapa pun. Hanya orang-orang asing yang berjalan tergesa, sibuk dengan tujuan masing-masing. Harapan yang semula memenuhi wajah Nadia perlahan memudar. Dadanya kembali terasa sesak.

Alex yang berdiri di sampingnya hanya mampu mengembuskan napas pelan.

“Ayo,” ucapnya lembut.

Nadia mengangguk kecil, meski kakinya terasa berat untuk melangkah.


Sekitar tiga puluh menit kemudian. Mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang berdiri di tengah hamparan perkebunan teh. Udara pegunungan terasa sejuk. Embusan angin membawa aroma tanah dan dedaunan yang masih basah setelah hujan.

Rumah itu tampak bersih dan terawat. Namun terlalu sunyi. Tidak terdengar suara televisi. Tidak ada tawa Kania. Tidak ada suara Ryan yang biasanya menyapa siapa pun yang datang.

Nadia melangkah mendekati pintu. Tok... Tok... Tok...

Tidak ada jawaban.

Ia kembali mengetuk, kali ini lebih keras. “Permisi...”

Keheningan tetap menyelimuti rumah itu.

Alex memandang sekeliling. “Sepertinya memang tidak ada orang di rumah.”

Nadia menggeleng pelan. “Alamatnya tidak mungkin salah.”

Ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Alex. “Lihat.”

Alex membaca alamat yang tertulis. “Benar. Semuanya sama persis.” Ia kembali memandang rumah itu. “Mungkin mereka sedang pergi.”

“Tidak...” Suara Nadia nyaris berbisik. “Mereka pasti ada.”

Dengan putus asa, Nadia mencoba memutar gagang pintu.

“Nad!” Alex segera menahan tangannya. “Jangan. Kita tidak boleh masuk tanpa izin.”

Nadia menoleh. Matanya mulai dipenuhi air mata. “Aku hanya ingin bertemu mereka.” Suaranya bergetar. “Aku hanya ingin memastikan Ryan baik-baik saja.”

Alex terdiam. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang mampu mengalahkan kerinduan seseorang.

Nadia kembali menghadap rumah itu. Ia menarik napas panjang. “Tante Gia! Om Wisnu! Kania! Ryan...” Suaranya mulai pecah. “Ini aku... Nadia. Aku datang. Kalau kalian ada di dalam, tolong temui aku.”

Suara Nadia menggema di antara hamparan kebun teh. Namun yang menjawab hanyalah desir angin.

Keheningan kembali memenuhi halaman rumah.

“Nad...” Alex berdiri di sampingnya. “Bagaimana kalau kita bertanya kepada tetangga?”

Nadia tetap menatap pintu rumah itu. Seolah berharap pintu itu terbuka kapan saja. Air matanya kembali mengalir.

“Ryan...” Suaranya semakin lirih. “Aku sangat merindukanmu.”

Ia mengusap pipinya yang basah. “Entah kenapa... sejak aku terbangun dari koma, ingatanku selalu membawaku kepadamu. Hampir setiap malam aku memimpikanmu. Aku menatap langit, persis seperti yang dulu sering kita lakukan.”

Ia menundukkan kepala. “Ryan... Tolong temui aku.”

Keheningan menjawab doanya. Lalu... Klik. Terdengar suara kunci diputar dari balik pintu. Pintu kayu itu terbuka perlahan. Seorang wanita berdiri di ambang pintu. Tatapannya langsung membeku.

“N... Nadia?” Bibir wanita itu bergetar. Seolah tidak percaya dengan sosok yang berdiri di hadapannya.

“Tante...”

Belum sempat berkata apa-apa lagi, Nadia langsung memeluk wanita itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.

“Tante. Aku merindukanmu” Isaknya tak mampu dibendung.

Wanita itu perlahan membalas pelukan Nadia. Tangannya mengusap lembut punggung gadis itu.

“Gadis cerewet...” Suaranya terdengar serak. “Tante juga merindukanmu.” Pelukan itu berlangsung cukup lama.

Saat akhirnya mereka melepaskan pelukan, Nadia baru menyadari mata Tante Gia tampak sembap. Seolah baru saja menangis. Tatapan itu juga menyimpan kesedihan yang belum benar-benar sembuh.

Tante Gia kemudian menoleh ke arah Alex yang masih berdiri tidak jauh dari gerbang. “Siapa temanmu ini?”

Alex segera menghampiri mereka. Ia menundukkan badan dengan sopan. “Perkenalkan, Tante. Nama saya Alex. Teman Nadia.”

Tante Gia membalas uluran tangannya dengan senyum tipis. “Silakan masuk.”


Rumah itu masih sama seperti yang Nadia ingat. Rapi. Hangat. Namun suasananya terasa berbeda. Terlalu hening. Tidak ada tawa Kania. Tidak terdengar suara Om Wisnu. Tidak ada candaan Ryan yang biasanya memenuhi setiap sudut rumah. Kesunyian itu justru terasa menyesakkan.

 Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Nadia akhirnya membuka suara.

“Tante...” Ia menatap wajah wanita itu penuh harap. “Om Wisnu, Kania, dan Ryan... ke mana?”

Tante Gia terdiam. Tatapannya perlahan jatuh ke lantai.

“Mereka sedang keluar.” Jawabannya terdengar singkat. “Nanti juga pulang.” Beliau memaksakan senyum.

“Kalian pasti lelah. Tante ambilkan minuman dulu.”

Baru saja Tante Gia hendak berdiri, Nadia buru-buru menggenggam tangannya.

“Jangan, Tante.” Suara Nadia mulai bergetar. “Aku datang ke sini bukan untuk makan.”

Air matanya kembali menggenang. “Aku hanya ingin bertemu Ryan.”

Ruangan kembali diliputi keheningan. Tante Gia memandang Nadia cukup lama. Bibirnya beberapa kali terbuka. Namun tidak ada suara yang keluar. Air mata perlahan jatuh membasahi punggung tangan yang masih digenggam Nadia.

“Nad...” Beliau menarik napas panjang. “Kamu harus kuat.”

Jantung Nadia berdetak semakin cepat. Perasaan takut yang tak dapat dijelaskan mulai memenuhi dadanya.

“Tante...”

Tante Gia memejamkan mata. “Ryan...” Suaranya patah. “...sudah tidak bersama kami lagi.”

Dunia Nadia seolah berhenti berputar. Semua suara mendadak menghilang. Yang tersisa hanya denging panjang di telinganya.

“A... apa?” Suara Nadia hampir tak terdengar.

“Tidak...” Ia menggeleng berulang kali. “Tidak mungkin.”

Tangis Tante Gia kembali pecah. “Sejak Ryan pergi. Kania berubah menjadi anak yang sangat pendiam. Butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya dia mau tersenyum lagi. Om Wisnu dan Tante belum pernah benar-benar bisa menerima kepergiannya.”

Beliau menunduk. “Makam Ryan berada di belakang rumah. Kami ingin dia tetap dekat dengan kami.”

Tubuh Nadia kehilangan tenaga. Ia terduduk lemas. Air matanya mengalir tanpa suara.

Alex hanya mampu menundukkan kepala. Ia memang sudah mengetahui semuanya. Karena itulah ia memilih menemani Nadia datang ke tempat ini.

“Ryan...” Suara Nadia nyaris hilang. “Kenapa...? Kenapa kamu pergi...?”

Tante Gia menggenggam kedua tangan Nadia dengan lembut. “Mungkin keluargamu memilih merahasiakan semuanya. Tapi sekarang, kamu berhak mengetahui kebenarannya.”

Nadia mengangguk pelan. Air matanya tak berhenti mengalir. Dengan suara yang masih bergetar, Tante Gia mulai menceritakan kejadian yang selama ini mereka simpan rapat.

“Waktu itu... sebelum kamu koma. Hubunganmu dengan ibumu sedang tidak baik. Setelah ibumu membatalkan pernikahannya, mantan calon suaminya terus meneror kalian. Hari itu hujan sangat deras. Kamu sendirian di rumah. Pria itu datang bersama beberapa orang dan mengobrak-abrik rumah.”

Nadia menggenggam kepalanya. Potongan-potongan bayangan mulai bermunculan, tetapi masih samar.

“Kami tiba-tiba tidak bisa menghubungimu. Ryan panik. Dia bersikeras menjemputmu. Tante sudah melarang. Kania menangis memintanya tetap di rumah. Kami juga sudah menghubungi polisi. Tapi Ryan berkata...”

Tante Gia berhenti sejenak. Air matanya kembali mengalir. “Kalau Nadia benar-benar dalam bahaya, aku tidak bisa hanya menunggu.”

Ruangan kembali sunyi.

“Itu kalimat terakhir yang Tante dengar darinya. Ryan berhasil menemukanmu. Dia membawamu keluar. Tetapi... tidak jauh dari rumah, mobil yang kalian tumpangi mengalami kecelakaan.”

Tangan Nadia bergetar hebat.

“Ryan mengalami luka yang sangat parah. Sedangkan kamu... masih mempunyai harapan untuk hidup.”

Tante Gia memejamkan mata sejenak. “Dokter mengatakan penglihatanmu tidak bisa diselamatkan.”

Nadia perlahan menyentuh kedua matanya. Tante Gia menggenggam tangannya lebih erat.

“Ryan mengetahui semuanya. Keputusan terakhirnya adalah mendonorkan kedua matanya untukmu.”

Nadia menangis tanpa suara. “Aku...” Suaranya patah. “...melihat dunia dengan mata Ryan.”

Tante Gia memeluknya erat. “Kami tidak pernah menyalahkanmu, Nadia.”

Nadia terus menggeleng. “Maaf... Aku benar-benar minta maaf.”

“Tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi Ryan meninggal karena menyelamatkanku.”

“Ryan tau dia tidak bisa di selamatkan dan memilih untuk menyelamatkanmu,” jawab Tante Gia lembut. “Itu keputusan yang dia buat sendiri. Dan kami memilih untuk menghormatinya.”

Nadia terdiam.

“Tante dan keluarga sudah mengikhlaskan Ryan. Tentu saja kami masih sedih. Kami masih merindukannya. Mengikhlaskan bukan berarti melupakan.”

Tante Gia mengusap tangan Nadia. “Kami percaya apa yang Ryan berikan adalah kebaikan yang akan menjadi bekalnya di akhirat. Kalau kedua matanya bisa membuatmu kembali melihat dunia dan menjalani hidup, kami percaya itu adalah keputusan baik yang ingin dia tinggalkan.”

Nadia menarik napas gemetar. “Kania...”

Tante Gia menatapnya. “Kania juga sudah mengikhlaskan?” Tante Gia terdiam beberapa saat. “Mungkin belum sepenuhnya.”

Nadia menundukkan kepala. “Kania sangat kehilangan Ryan. Dia masih belajar menerima semuanya. Bukan karena dia tidak memahami keputusan Ryan, tetapi karena dia kehilangan kakaknya.”

Nadia terdiam.

“Kania sedang belajar menjadi dewasa dalam menghadapi kehilangan,” lanjut Tante Gia. “Dia sedang belajar bahwa menerima keputusan Ryan bukan berarti dia harus berhenti merindukannya.”

Nadia mengusap air matanya. Tiba-tiba sebuah potongan ingatan muncul. Suara perempuan. Suara yang sangat dikenalnya. Nadia membeku.

“Suara itu...”

Tante Gia menatapnya. “Suara siapa?”

Nadia mengerutkan kening. “Suara Kania.”

Nadia mencoba mengingat.


Sebuah kamar rumah sakit. Dirinya terbaring dengan kedua mata tertutup perban. Saat itu ia sempat mengira ibunya telah kembali. “Ibu...?”

Kemudian terdengar suara seorang perempuan. Suara yang sebenarnya sangat familiar, tetapi saat itu terasa asing karena Nadia belum mampu mengenalinya.

“Aku pikir hari ini aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal padamu.”

Nadia menahan napas. Ingatan itu semakin jelas.

“Ternyata Tuhan masih membiarkanmu hidup... sementara Dia mengambil orang yang paling berharga dalam hidupku.”

Nadia menggenggam tangannya sendiri. “Dia Kania.”

Tante Gia tidak menjawab.

Nadia melanjutkan dengan suara bergetar. “Waktu itu aku tidak mengenali suaranya.” Ia menelan ludah. “Padahal aku sudah mengenal Kania.”

Nadia memejamkan mata. “Tapi saat itu semuanya terlalu samar. Aku baru sadar setelah mendengar cerita Tante.”

Ingatan itu kembali mengalir. Kania menangis. Kania bertanya mengapa bukan Nadia yang pergi. Dan kalimat yang paling membekas dalam ingatannya:

“Aku adalah orang yang paling membencimu.”

Air mata Nadia kembali jatuh. “Sekarang aku mengerti kenapa dia berkata seperti itu.”

Tante Gia mengangguk pelan. “Kania datang ke rumah sakit ketika hatinya masih dipenuhi kehilangan dan kemarahan. Dia belum tahu bagaimana harus menerima semuanya.”

“Nadia menundukkan kepala. “Dan dia tahu kalau aku...” Suaranya tercekat. “...yang menerima mata Ryan?”

“Iya.”

Nadia terdiam lama. “Pantas saja.”

“Apa?”

“Waktu itu aku merasa suaranya sangat sedih. Aku mengenal Kania, tapi aku tidak bisa mengenali suaranya dalam keadaan seperti itu.”

Nadia mengusap kedua matanya. “Sekarang aku tahu.”

Tante Gia menggenggam tangannya. “Kania tidak harus langsung mengikhlaskan Ryan. Dia masih belajar.”

Nadia mengangguk. “Mungkin aku juga harus belajar.”

“Belajar apa?”

“Belajar menerima bahwa aku masih hidup bukan karena aku mengambil kehidupan Ryan.” Nadia menarik napas panjang. “Ryan memilih menyelamatkanku. Dan Kania sedang belajar menerima pilihan kakaknya.”

Tante Gia tersenyum tipis. “Begitu juga kamu.”

Nadia terdiam. Kini ia memahami percakapan di rumah sakit itu dengan cara yang berbeda. Dulu, ia hanya mendengar kemarahan seorang perempuan yang tidak ia mengerti.

Sekarang ia tahu, perempuan itu adalah Kania. Orang yang sudah lama dikenalnya. Adik Ryan. Seseorang yang kehilangan kakaknya dan, pada saat yang sama, harus berhadapan dengan kenyataan bahwa Nadia tetap hidup karena keputusan terakhir Ryan.

Mungkin Kania belum sepenuhnya ikhlas. Namun bukan berarti ia tidak sedang berusaha. Ia hanya membutuhkan waktu untuk menjadi dewasa dalam menerima kehilangan. Dan Nadia pun membutuhkan waktu untuk belajar menerima kehidupan yang telah dipercayakan kepadanya.

“Aku ingin bicara dengan Kania,” ujar Nadia pelan.

Tante Gia mengangguk. “Beri dia waktu. Tapi suatu hari nanti, bicaralah dengannya.”

Nadia mengangguk. Kali ini, ia tidak ingin menemui Kania untuk meminta pengampunan. Ia hanya ingin mereka berdua bisa berbicara sebagai dua orang yang sama-sama kehilangan seseorang yang mereka cintai.

***

Aku berdiri cukup lama di depan pusara itu. Tak ada lagi air mata yang tersisa. Hanya keheningan yang perlahan mengajarkanku menerima kenyataan.

Jemari ini menyentuh batu nisan yang dingin, lalu perlahan meraba namamu yang terukir di atasnya. Ryan. Nama yang dulu begitu dekat, kini hanya bisa kupanggil melalui doa.

Angin sore berembus lembut, menggerakkan dedaunan di sekitar pemakaman kecil itu. Hamparan kebun teh membentang sejauh mata memandang, persis seperti langit yang dahulu sering kita nikmati bersama.

Aku memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi memohon agar Tuhan mengembalikanmu. Aku hanya memohon agar Dia memberiku kekuatan untuk menjaga semua pengorbananmu.

“Ryan...”

Terima kasih. Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku. Terima kasih karena telah mengajarkanku bahwa kebaikan tidak pernah meminta balasan. Dan... Terima kasih karena memilih meninggalkan cahaya, bahkan ketika hidupmu sendiri mulai meredup.

Perlahan aku membuka mata. Dunia yang kulihat hari ini adalah dunia yang pernah kamu lihat.

Langit yang kini membentang di hadapanku pernah menjadi langit yang sama yang kamu pandangi. Mungkin itulah alasan mengapa setiap kali aku melihat langit, hatiku selalu merasa tenang. Karena tanpa kusadari... Sebagian dirimu masih menemaniku memandang dunia.

Aku tersenyum kecil. Bukan karena luka ini telah sembuh. Melainkan karena akhirnya aku mengerti.

Mencintai seseorang bukan berarti memintanya tetap tinggal. Terkadang... Mencintai adalah menerima kepergiannya, lalu melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya, sebagai bentuk penghormatan atas semua pengorbanan yang pernah ia berikan.

Aku melangkah meninggalkan pusara itu. Setiap langkah terasa berat. Namun kali ini, aku tidak berjalan sendirian.

Aku membawa kenangan. Aku membawa doa. Dan aku membawa sepasang mata yang akan kupakai untuk melihat lebih banyak kebaikan di dunia ini.

Sebab mulai hari ini. Aku ingin hidup bukan hanya untuk diriku sendiri. Tetapi juga untuk seseorang yang telah mengorbankan segalanya agar aku tetap bisa melihat indahnya dunia.

Angin kembali berembus pelan. Sementara langit sore perlahan berubah keemasan, seakan mengantarkan seseorang pulang dengan cara yang paling indah.

 

Tamat


Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar