Gedung megah itu berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk kota. Di balik dinding putihnya, kehidupan dan kematian saling berkejaran tanpa mengenal waktu.
Ruang-ruang
perawatan tak pernah benar-benar sunyi. Aroma obat dan cairan antiseptik
memenuhi udara, berpadu dengan bunyi monitor yang berdetak teratur. Langkah
tergesa para tenaga medis, tangis keluarga, serta doa-doa lirih yang
dipanjatkan di setiap sudut menjadi irama yang tak pernah berhenti.
Di tempat
itu, harapan dan keputusasaan berjalan berdampingan. Ada yang datang membawa
senyum karena orang yang dicintainya mulai membuka mata. Ada pula yang pulang
dengan hati hancur karena harus mengantarkan orang terkasih menuju
peristirahatan terakhir.
Di rumah
sakit, setiap detik dapat mengubah hidup seseorang.
***
Di salah
satu ruang perawatan, seorang wanita duduk setia di sisi ranjang pasien.
Wajahnya tampak pucat dan lelah. Lingkar hitam di bawah matanya menjadi saksi
bahwa ia sudah lama tidak menikmati tidur yang layak. Selama tiga minggu
terakhir, ia hampir tak pernah meninggalkan sisi gadis yang kini terbaring
tanpa kesadaran.
Tangannya
tak pernah lepas menggenggam jemari gadis itu, seolah takut jika ia
melepaskannya, harapan yang tersisa ikut menghilang. Tatapannya terus tertuju
pada wajah pucat tersebut.
Ada satu
panggilan sederhana yang selalu ia rindukan. Satu panggilan yang dahulu terasa
biasa, tetapi kini menjadi doa terbesar dalam hidupnya.
“Ibu.”
Ia tak
pernah meminta keajaiban yang berlebihan. Ia hanya ingin diberi kesempatan
memperbaiki kesalahan yang dulu pernah dibuat. Jika Tuhan masih berkenan...
Biarkan gadis itu membuka mata sekali lagi.
“Nak...”
bisiknya lirih sambil mengusap rambut Nadia. “Jangan menyerah. Temukan jalan
pulang. Tuhan selalu menyertaimu.”
Suaranya
mulai bergetar. “Apa pun yang terjadi... Ibu ikhlas menerima pilihanmu.” Air
mata jatuh membasahi punggung tangan Nadia.
Ruangan
kembali sunyi. Hanya terdengar bunyi monitor yang terus berdetak pelan. Wanita
itu menundukkan kepala. Kelopak matanya terasa semakin berat. Tubuhnya sudah
terlalu lelah untuk terus dipaksa bertahan.
Tanpa
sadar, dagunya bersandar di tepi ranjang. Beberapa detik berlalu. Tiba-tiba...
Jemari yang berada dalam genggamannya bergerak pelan. Wanita itu sontak
mengangkat kepala. Napasnya tercekat. Jari-jari Nadia perlahan menggenggam
tangannya. Lalu...
Sebuah
suara lirih terdengar. “Ibu...”
Hanya
satu kata. Sangat pelan. Namun, cukup untuk menghidupkan kembali harapan yang
hampir padam.
Wanita
itu membelalak. Matanya dipenuhi air mata.
“Apa...
aku sedang bermimpi?” bisiknya tak percaya. Dengan tangan yang gemetar, ia
menggenggam jemari Nadia lebih erat.
“Nad...”
Suaranya nyaris patah.
“Kamu
dengar suara Ibu?”
Ia
mengangguk sangat lemah. “Ibu...”
Air mata
wanita itu tak lagi mampu dibendung. “Iya, Sayang. Ibu di sini.”
Nadia
mencoba membuka matanya. Namun... Yang menyambutnya hanyalah kegelapan. Matanya
tertutup perban. Napasnya mulai memburu.
“Ibu...”
Suaranya terdengar panik. “Kenapa... aku tidak bisa melihat apa-apa?”
Tangannya
bergerak mencari-cari. “Ibu... Aku
takut...”
Wanita
itu segera menggenggam kedua tangan putrinya. “Tenang, Nak.” Ia berusaha tetap
tersenyum meski air matanya terus mengalir.
“Ibu di
sini. Kamu sudah sadar. Itu yang paling penting.”
Nadia
mencoba mengatur napasnya. “Aku... harus bagaimana, Bu?”
Pertanyaan
sederhana itu justru membuat hati wanita tersebut terasa diremas. Ia mengusap
pipi Nadia dengan lembut.
“Jangan
takut. Semuanya akan kita hadapi bersama.” Ia mengecup kening putrinya penuh
kasih.
“Anak Ibu
yang paling kuat.” Wanita itu menarik napas panjang, berusaha menenangkan
dirinya sendiri.
“Ibu akan
memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Ibu tidak akan pergi jauh. Tunggu
sebentar, ya.”
Nadia
mengangguk pelan.
Wanita
itu melepaskan genggaman tangan putrinya dengan berat hati, lalu berlari keluar
ruangan mencari Dokter Fatimah.
Kebahagiaan
yang baru saja memenuhi dadanya ternyata harus berbagi ruang dengan duka.
Beberapa
lorong dari tempat Nadia dirawat, seorang perawat menutup perlahan tirai sebuah
ruang perawatan lain.
Monitor
jantung yang semula berbunyi teratur kini hanya mengeluarkan nada panjang yang
memekakkan keheningan. Seorang pasien baru saja mengembuskan napas terakhirnya.
Wanita
itu berhenti melangkah. Dadanya kembali terasa sesak. Di balik dinding yang
memisahkan kedua ruangan itu, terbaring seseorang yang juga ia kasihi seperti
anaknya sendiri.
Beberapa
menit yang lalu, ia menangis karena bahagia. Kini, air mata yang sama kembali
jatuh karena kehilangan.
Hari
itu... Di rumah sakit yang sama. Tuhan mengizinkan satu kehidupan kembali membuka
mata. Dan pada saat yang hampir bersamaan. Dia memanggil kehidupan yang lain
untuk pulang.
Begitulah
takdir. Ia tidak pernah meminta izin sebelum datang. Ia tidak pernah menunggu
seseorang benar-benar siap untuk menerima kepergian ataupun kebahagiaan.
Karena di
antara hidup dan mati, manusia hanya mampu berusaha, mencintai, dan belajar
mengikhlaskan setiap ketetapan-Nya.
***
Bibir
Nadia bergerak pelan. Seluruh tubuhnya terasa begitu berat, seolah setiap
helaan napas menguras sisa tenaganya.
“Ibu...”
Suara itu nyaris tak terdengar.
Ia
mencoba membuka mata, tetapi kelopak matanya seperti terkunci. Yang ia rasakan
hanyalah balutan perban yang menutupi kedua matanya dan kegelapan yang seolah
tak berujung. Pendengarannya menjadi satu-satunya indra yang masih bisa ia
andalkan.
Ruangan
begitu sunyi. Hanya terdengar bunyi monitor jantung yang berdetak pelan di
samping ranjang.
Beberapa
saat kemudian, pintu kamar berderit. Seseorang masuk. Langkah kaki itu
terdengar perlahan, lalu berhenti tepat di sisi ranjangnya.
Nadia
mengira ibunya telah kembali. “Ibu...?”
Tak ada
jawaban.
Keheningan
beberapa detik justru membuat dadanya mulai dipenuhi kegelisahan. Lalu
terdengar suara seorang perempuan. Suara yang asing. Dipenuhi kepedihan.
“Aku
pikir hari ini aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal padamu.” Perempuan
itu menarik napas panjang.
“Ternyata
Tuhan masih membiarkanmu hidup... sementara Dia mengambil orang yang paling
berharga dalam hidupku.”
Nadia
membeku. Itu bukan suara ibunya. Siapa perempuan ini?
“Apa...
maksudmu?” bisiknya lemah. “Siapa kamu?”
Perempuan
itu tertawa lirih. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Perlu aku memperkenalkan diri?”
Ia
terdiam sesaat, seolah sedang menahan amarah yang selama ini dipendam. “Aku
adalah orang yang paling membencimu.”
Nadia
merasakan tenggorokannya tercekat. Ia berusaha mengingat suara itu. Namun, tak
ada satu pun wajah yang muncul di dalam ingatannya.
Tangis
perempuan itu kembali pecah. “Kenapa kamu harus hadir dalam hidupku? Kenapa
bukan kamu yang pergi?”
Setiap
kata yang diucapkannya terasa seperti pisau yang perlahan mengiris dada Nadia.
Air mata mengalir di balik perban yang masih membalut kedua matanya.
“Apa
salahku...?” bisiknya lirih. “Aku bahkan tidak mengenalmu....”
Namun
perempuan itu tidak menjawab. Yang terdengar hanyalah isak tangis yang perlahan
menjauh.
Beberapa
detik kemudian... Pintu kembali terbuka. Lalu tertutup perlahan. Ruangan
kembali sunyi. Meninggalkan Nadia bersama pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu
ia jawab.
Tak lama
berselang, suara langkah kaki kembali terdengar. Kali ini lebih dari satu
orang.
“Nadia,
maaf membuatmu menunggu.” Suara Dokter Fatimah terdengar lembut.
Diikuti
suara sang ibu yang masih dipenuhi kecemasan. “Dokter... bagaimana keadaan anak
saya?”
Dokter
mengangguk pelan. “Mari kita periksa kondisinya terlebih dahulu.”
Seorang
perawat mulai melepaskan kabel monitor yang masih menempel di tubuh Nadia.
Setelah itu, Dokter Fatimah memintanya menggerakkan jari-jari tangan. Kemudian
pergelangan tangan. Lengan. Kedua kaki.
Meski
tubuhnya masih terasa sangat lemah, Nadia berusaha mengikuti setiap instruksi.
“Bagus.”
Dokter tersenyum puas. “Respons saraf dan motorikmu sangat baik.”
Namun,
satu kegelisahan masih memenuhi hati Nadia.
“Dok...”
Suaranya bergetar. “Kenapa mata saya masih diperban?”
Ia
menelan ludah. “Apa... saya tidak bisa melihat lagi?”
Ibu
spontan menggenggam tangannya lebih erat. Dokter Fatimah tersenyum menenangkan.
“Jangan
buru-buru menyimpulkan.” Ia mengambil gunting kecil. “Mari kita lihat bersama.”
Dengan
sangat hati-hati, lapisan demi lapisan perban mulai dilepaskan. Nadia menahan
napas. Perlahan... Udara dingin menyentuh kelopak matanya.
“Baik...”
Dokter berbicara lembut. “Sekarang buka matamu perlahan.”
Nadia
mencoba menurut. Awalnya hanya cahaya putih yang menyilaukan. Semuanya tampak
kabur. Bayangan di depannya saling bertumpuk. Perlahan... Kabut itu mulai
menghilang. Satu wajah muncul dengan semakin jelas.
Seorang
wanita. Matanya sembab. Wajahnya tampak sangat lelah. Namun senyumnya begitu
hangat.
“Ibu...”
Air mata Nadia langsung jatuh.
Wanita
itu mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Sayang.”
Dokter
kemudian menggerakkan jemarinya ke kanan dan kiri. Nadia mampu mengikutinya.
Setelah itu, sebuah senter kecil diarahkan ke kedua pupil matanya.
“Bagus.”
Dokter Fatimah mengangguk puas. “Respons pupilmu normal.”
Beliau
kembali memeriksa beberapa bagian sebelum menutup map rekam medis. “Kondisimu
berkembang sangat baik, Nadia.”
Kalimat
itu membuat sang ibu mengembuskan napas lega.
“Kalau
proses pemulihan berjalan seperti sekarang, sekitar dua minggu lagi kamu sudah
boleh pulang. Selama itu kita fokus mengembalikan kekuatan tubuhmu. Istirahat
yang cukup, makan teratur, dan jangan terlalu memaksakan diri.”
Ibu
menangkupkan kedua tangan. “Terima kasih, Dok.” Matanya kembali berkaca-kaca.
“Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya.”
Dokter
Fatimah tersenyum hangat. “Kami hanya berusaha. Selebihnya adalah izin Tuhan.”
Beliau
menatap Nadia. “Kamu juga hebat karena mau berjuang.”
Setelah
memberikan beberapa arahan kepada perawat, dokter pun meninggalkan ruangan.
Keheningan
kembali memenuhi kamar perawatan. Namun kali ini... Keheningan itu terasa jauh
lebih hangat.
Nadia
memandangi wajah ibunya. Baru kini ia menyadari betapa lelah perempuan itu.
Lingkar hitam di bawah matanya begitu jelas. Rambutnya tampak berantakan.
Wajahnya pucat. Seolah selama berminggu-minggu ia tidak pernah benar-benar
beristirahat.
Sejak
kapan Ibu berada di sini? Apa selama aku tidak sadar... Ibu selalu menjagaku?
Doa-doa yang sempat ia dengar. Belaian lembut di rambutnya. Kecupan hangat di
keningnya.
Ternyata...
Semua itu bukan mimpi. Dadanya mendadak terasa hangat. Selama ini ia selalu
mengira ibunya tidak pernah benar-benar menyayanginya.
Kini ia
sadar... Perempuan itu justru menjadi orang yang paling setia menunggu
kepulangannya.
“Bu...”
Ibunya
menoleh sambil tersenyum. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Nadia
terdiam cukup lama. Lalu bertanya pelan, “Sebenarnya... apa yang terjadi
padaku?”
Senyum
Ibu perlahan menghilang. Wajahnya berubah tegang.
“Kamu
menjalani operasi.” Beliau berusaha terdengar tenang. “Sekarang kondisimu sudah
jauh lebih baik.”
Namun
Nadia menggeleng pelan. “Aku tidak pernah merasa sakit. Operasi apa?”
Ibu
menarik napas panjang. “Ibu menemukanmu tidak sadarkan diri di kamar. Kamu
langsung dibawa ke rumah sakit.”
Beliau
menggenggam tangan Nadia semakin erat. “Kamu koma selama tiga minggu. Dan
dokter harus melakukan operasi pada kedua matamu.”
Nadia
membeku. “Tiga... minggu?” Sulit baginya mempercayai kenyataan itu. “Kenapa...
Aku sama sekali tidak mengingat apa pun?”
Ia
memejamkan mata. Berusaha mengingat. Namun yang muncul hanyalah
potongan-potongan bayangan yang kabur.
Suara
seseorang. Tangisan. Dan... Sebuah cahaya terang. Semuanya muncul sesaat. Lalu
menghilang lagi. Kepalanya mulai berdenyut.
Melihat
putrinya kesakitan, sang ibu segera mengusap rambutnya. “Sudah. Jangan
dipaksakan. Kata dokter, ingatanmu mungkin belum pulih sepenuhnya. Yang
terpenting sekarang kamu sudah selamat.”
Nadia
mengembuskan napas perlahan. “Jadi... Aku benar-benar koma?”
Ibu
mengangguk. “Mulai hari ini kita hanya perlu kontrol rutin ke Dokter Fatimah.
Ibu akan selalu menemanimu.”
Air mata
kembali memenuhi pelupuk mata Nadia. “Terima kasih, Bu.”
Ibunya
mengecup lembut keningnya. Bagi Nadia... Kecupan itu terasa seperti pelukan
yang selama ini ia rindukan.
Aku selalu mengira Ibu tidak pernah peduli. Padahal.. Saat
aku berada di antara hidup dan mati.. Beliau tidak pernah meninggalkanku.
Lalu... Kenapa aku sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi sebelum semua
ini?
Tiba-tiba...
Sebuah suara kembali menggema di dalam kepalanya.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Nadia sontak memejamkan mata. Dadanya kembali dipenuhi kegelisahan.
Suara
perempuan itu. Tangisan penuh kebencian itu. Masih terdengar begitu jelas.
“Gadis
itu... Siapa sebenarnya dia?”
***
Langit
sore berubah kelabu, seolah ikut berduka menyaksikan seorang gadis yang berdiri
terpaku di balik jendela.
Dari
balik kaca yang bening, tatapan kosong Nadia mengarah ke halaman rumah.
Setangkai mawar merah terus dihantam hujan. Kelopaknya berguguran satu per
satu, seolah menyerah pada derasnya langit.
Nadia
mengembuskan napas pelan hingga permukaan kaca dipenuhi embun. Dengan ujung
telunjuknya, ia menuliskan sebuah kalimat.
Biarkan aku mati... jika itu maumu.
Tulisan
itu perlahan memudar, sama seperti harapan yang selama ini berusaha ia
pertahankan.
Rintik
hujan berubah semakin deras. Petir menggelegar, membelah langit yang muram.
Mawar di halaman semakin menunduk diterpa angin.
Kasihan
sekali. Entah bunga itu yang sedang diratapi langit, atau justru dirinya yang
diam-diam menangis di balik jendela.
Nadia
mengusap sudut matanya. “Kamu tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku, Dika.
Apa sebenarnya yang tidak aku ketahui? Bisakah kamu menceritakannya?”
Dika sempat
terdiam. Ada keterkejutan yang hanya muncul sesaat sebelum kembali ia
sembunyikan. “Aku adalah penyimpan rahasia yang baik,” ucapnya tenang.
“Seberapa keras pun usahamu, pendirianku tidak akan goyah.”
Jawaban
itu kembali menggantung tanpa penjelasan. Ibu memilih diam. Kini Dika melakukan
hal yang sama. Nadia mulai bertanya-tanya. Berapa lama seseorang harus mengenal
sahabatnya hingga benar-benar memahami isi hatinya?
Sejak
kecil mereka tumbuh bersama. Orang-orang bahkan sering mengira mereka kakak
beradik. Dika selalu ada di setiap fase kehidupannya. Ia menjadi teman bermain,
tempat mengadu, sekaligus orang pertama yang datang setiap kali Nadia menangis.
Mereka
tidak pernah menjadi sepasang kekasih, meski saling menyayangi. Persahabatan
itu terasa jauh lebih nyaman daripada sebuah hubungan. Namun hari ini... Untuk
pertama kalinya, Nadia merasa ada dinding yang berdiri di antara mereka. Dika
mengetahui sesuatu. Dan rahasia itu berkaitan dengan dirinya.
Suara
hujan memenuhi keheningan. Nadia kembali menatap halaman rumah.
“Dika...
aku tidak tahu sejak kapan Ibu memilih bekerja dari rumah.”
Dika ikut
memandang ke luar jendela. “Sejak beliau sadar kalau kamulah yang paling
berharga.”
Nadia
menoleh perlahan.
“Sejak
kamu sakit, beliau hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Setiap kali
aku mengantarkan makanan, beliau selalu menolak pulang. Padahal aku sudah
berkali-kali bilang akan menjagamu.”
Mata
Nadia mulai berkaca-kaca. “Berarti... selama ini Ibu benar-benar menjagaku.”
“Iya.”
Senyum
tipis akhirnya menghiasi wajah Nadia. “Aku bersyukur Ibu berubah.”
Ia
kembali memandang Dika. “Selain itu... apa masih ada yang belum aku ketahui?”
Dika
memahami arah pertanyaan itu. “Tentang Alex?”
Nama itu
membuat Nadia menarik napas panjang. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak
mendengar namanya.”
“Dia
datang menjengukmu saat libur sekolah.”
Nadia
tampak terkejut. “Benarkah?”
“Iya.
Bahkan beberapa kali dia ingin datang lagi.”
Nadia
menggeleng pelan. “Aku justru berharap dia tidak menemuiku lagi.”
“Kenapa?”
“Aku
ingin menghilang dari hidupnya.”
Dika
langsung mengernyit. “Jangan berkata seperti itu. Alex tidak pernah
menyalahkanmu. Dia juga tidak pernah mengatakan hal buruk tentangmu. Semua yang
dia lakukan murni karena keinginannya sendiri.”
“Itulah
yang membuatku semakin merasa bersalah.”
Nadia
menggenggam ujung selimut. “Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku
memperlakukannya. Kalau ternyata selama ini aku hanya menyakitinya... bukankah
lebih baik dia melupakanku?”
Dika
memandang sahabatnya cukup lama. “Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.”
Nadia
tersenyum hambar. “Lalu... bagaimana aku bisa berada di rumah sakit?”
Pertanyaan
itu membuat Dika kembali terdiam. Tangannya mengepal pelan di balik saku
celana.
“Nad...”
Suaranya terdengar begitu lirih. “Yang terpenting sekarang kamu sudah sehat.”
“Itu
bukan jawaban.” Tatapan Nadia tak berpaling sedikit pun. “Kenapa semua orang
menjawab seperti itu?”
Ruangan
kembali sunyi. Hanya suara hujan yang masih mengetuk kaca jendela. Setelah
beberapa saat, Nadia mengembuskan napas panjang.
“Kalau
memang masa laluku begitu menyakitkan...” Ia tersenyum kecil. “...mungkin Tuhan
sedang memberiku kesempatan untuk memulai hidup yang baru.”
Dika
memandang wajah sahabatnya. Senyum itu terlihat begitu tenang. Namun justru
ketenangan itulah yang membuat dadanya semakin sesak.
“Maafkan aku, Nad. Bukan karena aku tidak percaya padamu. Aku
hanya belum siap melihatmu kembali hancur ketika semua ingatan itu kembali.”
Malam
datang bersama kesunyian. Setelah Dika pulang, Nadia memejamkan mata. Rasa
lelah perlahan menyeret kesadarannya.
Lalu...
Ia kembali berada di tempat itu. Kabut putih membentang sejauh mata memandang.
Tak ada langit. Tak ada tanah. Tak ada arah. Hanya kesunyian yang menyesakkan.
Di
kejauhan, setitik cahaya tampak berpendar. Nadia berlari mengejarnya. Semakin
cepat ia berlari, cahaya itu justru semakin menjauh.
“Tunggu...”
Ia mengulurkan tangan.
Hampir
saja menyentuhnya. Namun cahaya itu kembali menghilang. Samar-samar muncul
sosok seseorang berdiri membelakanginya. Tubuhnya tinggi. Sangat samar. Seolah
hanya terdiri dari bayangan.
“Siapa
kamu?”
Sosok itu
perlahan menoleh. Namun sebelum wajahnya terlihat jelas... Kabut kembali
menelannya.
“Nadia...”
Suara itu terdengar lembut.
Ia
menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
“Nadia...”
Kali ini suara itu berasal dari arah lain.
“Nadia...”
Suara demi suara mulai berdatangan.
Ada yang
terdengar dekat. Ada pula yang begitu jauh. Sebagian terdengar menangis.
Sebagian lagi terdengar marah.
Nadia
memejamkan telinga. “Cukup...”
“Tolong...
siapa kalian?” Ia berlari tanpa arah. Namun setiap jalan yang dilewatinya
selalu membawanya kembali ke tempat semula.
Seolah ia
sedang berjalan di dalam lingkaran yang tak memiliki ujung. Di depan sana...
Samar-samar tampak sebuah pintu tua. Saat Nadia hendak mendekatinya, pintu itu
perlahan tertutup sendiri.
Gelap.
Semuanya kembali gelap.
Nadia
tersentak bangun. Napasnya memburu. Peluh membasahi dahi dan lehernya.
“Lagi...”
Ia memejamkan mata sejenak. “Mimpi itu lagi.”
Sejak
sadar dari koma, mimpi yang sama selalu datang. Hampir setiap malam. Tak pernah
benar-benar berubah. Ia bangkit perlahan lalu berjalan menuju jendela yang
sengaja dibiarkan terbuka.
Udara
malam menyentuh wajahnya. Langit tampak gelap tanpa bulan. Hanya beberapa
bintang kecil yang masih bertahan memancarkan cahaya.
“Aku
merasa seperti orang asing bagi diriku sendiri.” Tatapannya terus mengarah ke
langit.
“Ya
Allah... Kalau memang ada jalan yang harus kutemukan, tuntunlah aku.”
Nadia
tersenyum tipis. “Langit selalu gelap sebelum fajar datang. Mungkin hidupku
juga begitu. Selama masih ada setitik cahaya, aku akan tetap percaya bahwa
Engkau sedang menyiapkan jalan pulang.”
Angin
malam berembus pelan, menerbangkan helaian rambutnya.
Jauh di
dalam hatinya, Nadia belum menyadari bahwa jawaban yang selama ini ia cari
perlahan sedang mendekatinya. Bukan melalui ingatan. Melainkan melalui
seseorang yang tak pernah berhenti menunggunya mengingat segalanya.
Di sudut
kota yang lain... Malam menyelimuti sebuah rumah dengan kesunyian yang terasa
begitu pekat. Di dalam salah satu kamar, seorang gadis duduk di tepi ranjang.
Kedua lututnya dipeluk erat, sementara kepalanya tertunduk dalam. Air mata
jatuh tanpa suara, membasahi gaun yang dikenakannya.
Malam
itu, ia kembali menangis sendirian. “Bisakah aku bertahan dengan rasa sakit
ini?” bisiknya lirih.
Tak ada
yang menjawab. Yang terdengar hanyalah detak jam dinding dan isak yang berusaha
ia tahan.
“Kenapa
kamu tidak menungguku sampai aku dewasa?” Kalimat itu keluar dengan suara
bergetar. “Kehadirannya telah membuatku kehilanganmu.”
Ia
memejamkan mata. Semakin berusaha melupakan, bayangan itu justru semakin jelas
memenuhi pikirannya.
“Apakah...
dia masih menjadi orang yang paling berharga bagimu?” Bibirnya bergetar saat
mengangkat kedua tangan.
“Ya
Allah... Jagalah dia untukku. Kami tidak lagi ditakdirkan bersama.. Sampaikan
juga rinduku meski dia tak lagi berada di sisiku.”
Perlahan
kedua tangannya turun. Tatapannya beralih ke sebuah bingkai foto yang berdiri
di atas meja belajar. Dengan jemari yang gemetar, ia mengusap permukaan kaca
bingkai itu. Seolah sentuhan itu mampu mengurangi rindu yang selama ini terus
dipendam.
Air
matanya kembali menetes. “Mengapa begitu sulit melupakanmu...?”
Di luar,
langit tetap gelap. Bulan masih setia memancarkan cahayanya, tetapi sinarnya
tak mampu menerangi hati gadis itu yang merasa kehilangan.
Malam
itu... Ia kembali menangis. Tanpa disadarinya, seseorang telah berdiri cukup
lama di balik pintu kamar.
Ibunya.
Wanita itu menggenggam gagang pintu erat-erat. Beberapa kali ia ingin masuk.
Ingin memeluk putrinya. Ingin mengatakan bahwa semua luka akan sembuh pada
waktunya. Namun langkahnya tak pernah benar-benar bergerak.
Ia
tahu... Tidak semua kesedihan dapat dihapus dengan pelukan. Dan tidak semua
kehilangan dapat disembuhkan oleh kata-kata.
Air mata
perlahan mengalir di pipinya. “Maafkan Ibu...” bisiknya lirih. “Ibu
tidak mampu menghapus kesedihan di hatimu.”
Wanita
itu menatap putrinya beberapa saat lagi. Kemudian, dengan langkah pelan, ia
berbalik meninggalkan pintu kamar.
Di dalam
kamar, gadis itu masih memeluk bingkai foto erat di dadanya. Ia sama sekali
tidak menyadari bahwa ibunya baru saja datang. Dan memilih pergi agar putrinya
dapat menangis sepuasnya.
Malam
itu. Di bawah satu atap yang sama, dua perempuan memikul kesedihan yang
berbeda. Yang satu menangisi seseorang yang telah pergi. Yang satu lagi
menangisi putrinya yang belum mampu melepaskan kepergian itu.
***
Nadia
masih berdiri di depan gerbang sekolah. Tatapannya terpaku pada bangunan yang
terasa begitu asing, sekaligus akrab.
Sudah
beberapa menit ia hanya diam memandangi halaman sekolah. Entah mengapa, setiap
kali berada di tempat itu, dadanya selalu berdebar. Seolah ada sesuatu yang
tertinggal di sana. Sesuatu yang berusaha keluar dari balik ingatannya yang
hilang.
Ia
memejamkan mata. Seketika.. Suara riuh para siswa memenuhi telinganya. Deru
kendaraan yang berlalu-lalang. Peluit satpam yang bersahutan. Semuanya
terdengar begitu nyata.
Seorang
remaja laki-laki berdiri di seberang jalan sambil memperhatikan para siswa yang
memasuki gerbang sekolah. Seragam yang dikenakannya berbeda. Ia bukan murid di
sekolah itu. Tatapannya sibuk mencari seseorang.
“Aku
memang tidak seberuntung mereka,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. “Tapi
aku juga bukan orang bodoh. Sekolah bukan satu-satunya tempat untuk belajar.
Guruku adalah kehidupan, dan pelajarannya ada pada setiap orang yang kutemui.”
Ia
melirik jam tangan lusuh di pergelangan tangannya. Belum datang... Kakinya
terus mengetuk trotoar dengan gelisah.
Tak lama
kemudian, sebuah angkutan umum berhenti di depan sekolah. Seorang gadis turun
sambil merapikan tas di pundaknya.
Nadia.
Sorot mata remaja itu langsung berbinar.
Pada saat
yang bersamaan, suara satpam terdengar lantang. “Dua menit lagi gerbang sekolah
ditutup!”
Nadia
spontan mempercepat langkah.
“Hei!
Tunggu!” Remaja itu berlari mengejarnya.
Nadia
menoleh sekilas. Melihat seorang laki-laki asing berlari ke arahnya, wajahnya
langsung memucat. Apa dia mengikutiku? Siapa dia? Ya Allah...
Ia
semakin mempercepat langkah hingga berubah menjadi lari kecil menuju gerbang
sekolah.
“Hei! Aku
cuma mau bicara!” Belum sempat remaja itu mendekat, satpam sudah menghadangnya.
“Berhenti!
Kamu bukan siswa di sini.”
Remaja
itu hanya bisa berhenti. Tatapannya mengikuti punggung Nadia yang semakin
menjauh hingga menghilang di balik gerbang sekolah. Sorot matanya perlahan
meredup.
“Nadia...”
Suara seseorang membuyarkan semuanya.
Nadia
membuka mata dengan napas sedikit memburu. Ia masih berdiri di depan gerbang
sekolah. Ingatan itu menghilang begitu saja, seolah tak pernah terjadi.
“Nadia?”
Seseorang menepuk pelan pundaknya. “Kenapa melamun sendirian di sini?”
Nadia
menoleh perlahan. Di sampingnya berdiri Alex dengan wajah penuh kekhawatiran.
Tanpa menjawab, Nadia mulai melangkah memasuki area sekolah. Namun pikirannya
masih tertinggal pada sosok remaja laki-laki yang baru saja muncul dalam
kilasan ingatannya. Siapa dia? Kenapa wajahnya terasa begitu asing... tetapi
juga begitu dekat?
“Selamat
datang kembali.” Alex berjalan di sampingnya sambil tersenyum. “Apa badanmu
sudah lebih baik?”
“Iya.”
Jawaban Nadia terdengar singkat.
Alex
meliriknya sekilas. “Bicaralah sedikit. Jangan diam terus seperti ini. Aku jadi
khawatir.”
Nadia
tetap melangkah tanpa menoleh.
Alex
mengembuskan napas pelan. “Maafkan aku.”
Langkah
Nadia terhenti.
“Apa yang
harus kulakukan supaya kamu mau memaafkanku?”
Tetap
tidak ada jawaban. Alex akhirnya berdiri tepat di depannya, menghalangi langkah
Nadia.
Gadis itu
perlahan mendongakkan kepala. Tatapannya kosong. Seolah sedang memandang
seseorang yang dikenalnya... tetapi tak mampu diingat oleh hatinya.
“Ada yang
mengganggu pikiranmu?” tanya Alex lembut.
Nadia
hanya menggeleng pelan.
Alex
tersenyum, meski senyum itu menyimpan kekecewaan. “Kalau ada apa-apa, jangan
dipendam sendirian.”
Ia
mengusap pelan kepala Nadia. “Selalu ada jalan keluar. Aku tidak akan
membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian.”
Sesaat
kemudian Alex melangkah pergi. Nadia tetap berdiri di tempat. Tatapannya
mengikuti punggung Alex yang semakin menjauh.
Entah
mengapa... Dadanya tidak merasakan apa pun. Seharusnya perhatian itu membuatnya
merasa tenang. Namun yang tersisa hanyalah kehampaan. Seolah ada seseorang yang
pernah melakukan hal serupa... tetapi wajahnya tidak mampu ia ingat.
Bel
sekolah berbunyi nyaring. Nadia duduk di bangkunya. Guru mulai menjelaskan
pelajaran di depan kelas, sementara teman-temannya sibuk mencatat.
Namun
pikiran Nadia kembali mengembara. Tatapannya tanpa sadar beralih ke luar
jendela. Gerbang sekolah. Pos satpam. Jalan di depan sekolah. Pemandangan itu
kembali membuat kepalanya berdenyut pelan.
Ia
memejamkan mata sejenak. Dan tanpa disadari... Potongan kenangan lain perlahan
mulai muncul dari balik ingatannya yang selama ini terkunci.
Suasana
kelas sore itu jauh lebih sepi. Pelajaran tambahan sedang berlangsung. Sebagian
besar siswa sibuk mencatat penjelasan guru di papan tulis. Namun perhatian
Nadia justru melayang ke luar jendela.
Di dekat
pos satpam, seorang remaja laki-laki masih berdiri di tempat yang sama.
Wajahnya dihiasi senyum tipis saat pandangannya bertemu dengan Nadia. Perlahan
ia mengangkat tangan, melambaikan tangan kecil ke arah jendela kelas.
Tanpa sadar,
Nadia membalas lambaian itu. Senyum tipis ikut terukir di wajahnya. Ya Tuhan...
Kenapa dia datang lagi? Bukankah tadi pagi dia sudah pergi?
Remaja
itu tampak mengembuskan napas lega ketika melihat Nadia akhirnya menyadari
keberadaannya. Sejak tadi, Pak Satpam yang berjaga tak jauh darinya diam-diam
memperhatikan tingkah remaja itu. Akhirnya beliau menghampiri.
“Nak,”
sapanya ramah. “Dari tadi Bapak lihat kamu berdiri di sini terus. Sebenarnya
sedang menunggu siapa?”
Remaja
itu menunjuk ke arah jendela lantai dua. “Dia.”
Pak
Satpam mengikuti arah telunjuknya. “Nadia?”
Remaja
itu mengangguk pelan.
Di dalam
kelas, Nadia buru-buru membuka buku pelajaran. Ia berpura-pura membaca, padahal
dari balik halaman buku itu sebelah matanya masih sibuk mengamati percakapan
mereka.
“Nadia
itu anak baik,” ujar Pak Satpam. “Pintar, sopan, meski memang pendiam.”
Beliau
melirik Remaja itu dengan senyum usil. “Kalian pacaran?”
Remaja
itu langsung terkekeh. “Kalau dia pacar saya, mungkin setiap hari saya harus
mengusir orang yang mau mendekatinya.”
Pak
Satpam ikut tertawa. “Wah... percaya diri juga.”
Remaja
itu mengangkat bahu sambil tersenyum. “Masalahnya... kami bahkan belum saling
kenal.”
“Oh...”
Pak Satpam mengangguk-angguk mengerti. “Pantas saja tadi pagi dia langsung
lari. Mungkin dikira kamu orang iseng.”
Remaja
itu spontan meraba wajahnya sendiri. “Apa tampang saya semenyeramkan itu, Pak?”
“Bukan
wajahmu.”
“Lalu?”
Pak
Satpam menunjuk pakaian Ryan. “Itu seragammu.”
Remaja
itu ikut menunduk melihat kemejanya yang kusut, dasi yang longgar, serta sepatu
yang penuh debu.
Pak
Satpam tertawa kecil. “Kalau lihat penampilanmu sekarang, orang bisa mengira
kamu baru selesai tawuran.”
Remaja
itu langsung merapikan kerah bajunya. “Jangan menilai orang dari penampilannya,
Pak.”
“Lalu
sebenarnya tujuanmu datang ke sini apa?”
Remaja
itu tersenyum tipis. “Ada seseorang yang ingin saya temui.”
Pak Satpam
menyipitkan mata. “Ngaku saja. Mau nembak Nadia, ya?”
Remaja
itu mengusap tengkuknya sambil tertawa canggung. “Aduh... kenapa saya malah
seperti sedang diinterogasi?”
“Ya,
soalnya dari tadi kamu berdiri terus di sini.”
Remaja
itu akhirnya menghela napas. “Saya cuma ingin mengucapkan terima kasih. Setelah
itu saya langsung pulang.”
Pak
Satpam menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum. “Kalau begitu tunggu saja.
Lima belas menit lagi bel pulang berbunyi.”
“Terima
kasih, Pak.”
Bel
pulang akhirnya berbunyi.
Suasana
sekolah yang semula tenang mendadak ramai. Para siswa berhamburan keluar kelas
sambil bercanda dengan teman-temannya.
Remaja
itu segera berdiri tegak. Tatapannya sibuk mencari satu wajah yang sejak pagi
ia tunggu. Tak lama kemudian Nadia muncul dari balik kerumunan, memeluk
beberapa buku di dadanya.
Begitu
melihat Remaja itu masih berdiri di dekat gerbang, jantungnya kembali berdegup
lebih cepat. Tanpa sadar ia mempercepat Langkah, segera mengejarnya.
“Tunggu
sebentar!”
Nadia
tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju halte. Namun setelah beberapa menit
menunggu, angkutan umum yang biasa lewat tak juga datang. Terpaksa ia
melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Remaja
itu tetap mengikuti dari belakang, tetapi menjaga jarak agar Nadia tidak semakin
takut.
“Nadia...
tolong berhenti sebentar.”
Mendengar
namanya dipanggil, Nadia akhirnya menghentikan langkah. Ia berbalik dengan
tatapan penuh kewaspadaan.
“Tolong
jangan mendekat.” Suaranya terdengar tegas. “Siapa kamu? Kenapa terus
mengikutiku?”
Remaja
itu langsung mengangkat kedua tangannya. “Tenang.” Ia tersenyum ramah. “Namaku
Ryan. Aku tidak akan menyakitimu. Aku datang hanya untuk mengucapkan terima
kasih.”
Nadia
mengernyit. “Terima kasih?”
Ryan
mengangguk. “Apa kamu masih ingat kejadian kemarin sore?”
Nadia
mencoba mengingat. “Yang mana?”
“Adikku
ditabrak pengendara motor yang langsung melarikan diri.” Wajah Ryan berubah
serius. “Orang-orang hanya melihat dari jauh. Tapi kamu yang membawanya ke
puskesmas dan memastikan dia mendapat pertolongan.”
Ryan
menundukkan kepala dengan tulus. “Kalau bukan karena bantuanmu, mungkin keadaan
adikku akan jauh lebih buruk.”
Nadia
terdiam.
Perlahan
rasa takut yang sejak tadi memenuhi hatinya mulai menghilang. “Aku hanya
melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Bagi kamu mungkin itu hal biasa.”
Ryan
tersenyum hangat. “Tapi bagi keluargaku, kamu sudah menyelamatkan seseorang
yang sangat berharga.”
Untuk
pertama kalinya sejak bertemu, Nadia membalas senyumnya. “Syukurlah kalau
keadaan adikmu sudah membaik.”
“Iya.”
Ryan mengangguk. “Itulah alasan aku mencarimu sejak tadi pagi.”
Nadia
akhirnya memahami semuanya. Lelaki yang sejak pagi disangkanya berniat buruk
ternyata hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih.
“Jadi...
Kania benar-benar adikmu?”
“Iya.”
Ryan tersenyum. “Kami tinggal di perumahan belakang sekolahmu. Sebenarnya Kania
yang memaksaku datang ke sini. Dia terus meminta bertemu denganmu. Katanya dia
ingin mengucapkan terima kasih secara langsung.”
Nadia terdiam
sesaat sebelum akhirnya mengangguk. “Kalau begitu... aku akan menemuinya.”
Wajah
Ryan langsung berbinar. “Benarkah?”
“Iya.”
Nadia tersenyum tipis. “Tapi dengan satu syarat.”
Ryan
mengangkat alis. “Syarat?”
“Kamu
juga harus mengantarkanku pulang.”
Ryan
tertawa pelan. “Itu sudah pasti. Aku yang mengajakmu, berarti aku juga yang
bertanggung jawab mengantarmu sampai rumah.”
Sesaat
kemudian raut wajahnya berubah lebih serius. “Tapi kamu tetap harus meminta
izin kepada orang tuamu. Mereka pasti khawatir.”
Kalimat
itu membuat senyum Nadia perlahan memudar. Meminta izin... Kata-kata itu
bergema di kepalanya. Apa benar Ibu akan mengkhawatirkanku?
Selama
ini beliau selalu berangkat pagi dan pulang larut malam tanpa pernah
menjelaskan ke mana. Aku sering menunggu, tetapi jarang mendapat kabar. Kalau
begitu... Bukankah wajar kalau kali ini aku juga pergi tanpa banyak penjelasan?
Nadia
mengeluarkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.
Dika, tolong sampaikan kepada Ibu kalau aku pergi menginap ke
rumah temanku. Jangan khawatir!
Setelah
memastikan pesannya terkirim, Nadia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Ia
menatap Ryan dan tersenyum tipis. “Ayo.”
Ryan
mengangguk lega.
Untuk
pertama kalinya hari itu, mereka berjalan berdampingan meninggalkan gerbang
sekolah.
***
Rumah
keluarga Ryan menghadirkan suasana yang belum pernah Nadia rasakan sebelumnya.
Kehangatan menyambutnya sejak pertama kali melangkah masuk. Om Wisnu dan Tante
Gia menerima kedatangannya tanpa sedikit pun kecanggungan, seolah-olah Nadia
memang sudah lama menjadi bagian dari keluarga mereka.
Mereka
makan malam bersama di meja makan. Tawa dan obrolan ringan memenuhi ruangan. Di
keluarga itu hanya ada dua anak. Kania adalah putri kandung Om Wisnu dan Tante
Gia, sedangkan Ryan merupakan anak angkat yang mereka adopsi sejak bayi. Namun
kasih sayang yang diberikan kepada keduanya sama besarnya. Tidak ada perlakuan
yang dibedakan. Ryan telah menjadi anak mereka sepenuhnya.
Meski
baru duduk di kelas dua SMP, cara berpikir Kania jauh lebih dewasa daripada
usianya.
“Kak
Nadia...” panggil Kania pelan.
“Iya?”
“Gimana
kalau Kakak menginap di sini malam ini? Tadi Kakak juga sudah izin ke rumah,
kan?”
Nadia
tersenyum. Usul itu diam-diam memang sama dengan keinginannya.
“Aku
memang sudah meminta izin. Tapi... apa aku tidak merepotkan keluarga kalian?”
Kania
langsung menggeleng kuat. “Tentu tidak! Aku malah senang sekali kalau Kakak
menginap. Rasanya seperti punya kakak perempuan.”
“Kania...”
Ryan mencubit pelan pipi adiknya. “Memangnya punya kakak laki-laki sepertiku
kurang?”
“Kurang.”
Jawabannya begitu cepat hingga membuat semua orang tertawa.
Ryan
menggeleng pasrah. “Jawabannya selalu itu.”
Malam itu
diisi dengan obrolan yang tidak pernah membosankan. Setelah makan malam, Om
Wisnu mengajak Ryan memperbaiki keran air di halaman belakang.
Ryan
mengajak Nadia ikut melihat. “Pegang senter, ya.”
Nadia
mengangguk sambil memegang senter. Namun beberapa menit kemudian cahaya senter
justru terus mengikuti wajah Ryan.
“Hei.”
Ryan menyipitkan mata. “Senter itu buat kerannya, bukan buat mukaku.”
Nadia buru-buru
mengalihkan arah cahaya. “Maaf.”
Ryan
tertawa. “Tidak apa-apa. Untung aku belum berubah jadi artis.”
Om Wisnu
ikut tertawa. “Kalau jadi artis juga paling cuma figuran.”
Ryan
langsung memprotes. “Pah...”
Gelak
tawa kembali memenuhi halaman rumah. Nadia hanya memperhatikan. Sesederhana
itu. Mereka saling mengejek, tetapi tidak ada yang terluka. Semua terasa
hangat.
Setelah
selesai, Kania menarik Nadia menuju kamarnya. Mereka membuka album foto
keluarga.
“Ini
waktu Kak Ryan pertama kali belajar naik sepeda.”
Di foto
itu, Ryan kecil terduduk di tanah dengan lutut lecet sambil menangis.
Nadia
menahan tawa. “Dia pernah menangis juga?”
“Sering.”
Jawab Kania tanpa ragu. “Kak Ryan dulu penakut. Bahkan pernah menangis
gara-gara melihat cicak jatuh di meja.”
“Heh!”
Ryan yang baru masuk membawa semangkuk buah langsung memprotes.
“Itu
fitnah.”
“Buktinya
ada.” Kania memperlihatkan foto lain.
Ryan
langsung menutup wajahnya dengan bantal. “Tolong foto itu dimusnahkan.”
Nadia
akhirnya tertawa lepas. Tawa yang sudah lama tidak keluar dari dirinya.
Ryan
memandangnya beberapa detik. Dalam hati ia ikut tersenyum. Akhirnya... Aku
berhasil melihatmu tertawa tanpa dipaksa.
Keesokan
paginya aroma nasi goreng membangunkan Nadia. Ia turun ke dapur dan mendapati
Ryan sedang memasak bersama Tante Gia.
“Kamu
bisa memasak?” tanya Nadia heran.
Ryan
mengangkat spatula dengan bangga. “Tentu. Lumayan.”
Satu
menit kemudian...
“Ryan!”
Suara Tante Gia memenuhi dapur. “Nasi gorengnya hampir gosong!”
Ryan
langsung panik. “Aduh...”
Semua
kembali tertawa.
Bahkan Om
Wisnu sampai harus menahan perut. “Nanti kalau sudah menikah jangan masak
sendirian.”
Ryan
mengangguk pasrah. “Baik, Pah.”
“Tapi
cari istri dulu.”
Kania
langsung menyela. “Kak Ryan harus belajar masak lagi.”
Nadia
ikut tertawa melihat wajah Ryan yang semakin pasrah.
Sebelum
berangkat sekolah, Ryan mengambil dua roti dari meja makan. Satu untuk dirinya.
Satu lagi disodorkan kepada Nadia.
“Buat di
jalan.”
Nadia
menerimanya. “Terima kasih.”
“Mulai
sekarang jangan berangkat sekolah dengan perut kosong.” Kalimat sederhana itu
terdengar biasa. Namun entah mengapa membuat hati Nadia terasa hangat.
Sudah
lama tidak ada seseorang yang memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.
***
Hari-hari
berikutnya berlalu tanpa terasa. Ryan sering menunggu Nadia di depan sekolah.
Kadang mereka mampir membeli es teh. Kadang hanya duduk di taman sambil berbagi
cerita. Sesekali Ryan mengajak Nadia ke rumahnya. Kania selalu menyambut mereka
dengan wajah ceria.
Mereka
bermain ular tangga, memasak mi bersama, menyiram tanaman, atau sekadar
menonton film keluarga hingga tertidur di ruang tengah. Tanpa disadari, rumah
itu perlahan menjadi tempat yang paling ingin Nadia datangi sepulang sekolah.
Bukan karena
rumahnya sendiri tidak nyaman. Melainkan karena untuk pertama kalinya ia
merasakan seperti apa rasanya pulang. Di sana selalu ada tawa. Selalu ada
seseorang yang menanyakan apakah ia sudah makan. Selalu ada tempat untuk
bercerita. Dan selalu ada Ryan... Yang lebih banyak mendengarkan daripada
berbicara.
Suatu
malam, ketika mereka kembali duduk di balkon menikmati langit, Ryan berkata
pelan, “Nad... Kalau suatu hari nanti kamu merasa seluruh dunia
meninggalkanmu...”
Ia
menatap langit yang dipenuhi bintang. “...ingat saja masih ada satu rumah yang
pintunya selalu terbuka untukmu.”
Nadia
tidak langsung menjawab. Matanya perlahan memanas. Sudah lama sekali... Tidak
ada orang yang mengatakan kalimat sehangat itu kepadanya.
Sejak
hari itulah, sedikit demi sedikit, Nadia mulai membuka pintu hatinya. Ryan
tidak pernah memaksa. Ia hanya hadir. Dan terkadang, kehadiran yang tulus jauh
lebih menyembuhkan daripada ribuan nasihat.
Di sisi
lain, Nadia mulai menjaga jarak dari Alex. Bukan karena Alex pernah berbuat
salah. Melainkan karena ia takut, semakin lama berada di dekatnya, semakin
besar pula luka yang mungkin akan ia tinggalkan.
Kereta
melaju membelah kota, meninggalkan satu per satu bangunan yang berlalu di balik
jendela. Nadia duduk diam di kursinya. Tatapannya mengikuti pemandangan yang
terus berganti, tetapi pikirannya tertinggal di sebuah rumah yang baru saja ia
datangi.
Rumah
keluarga Ryan.
Rumah
yang pernah memberinya kehangatan, namun kini hanya menyisakan kesunyian.
Beberapa saat sebelumnya, Nadia berdiri lama di depan gerbang rumah itu.
Jemarinya menggenggam erat jeruji besi yang dingin. Halaman yang dahulu
dipenuhi tawa kini tampak lengang. Tidak ada suara Kania yang riang. Tidak ada
sapaan hangat Om Wisnu maupun Tante Gia. Bahkan pintu rumah itu tetap tertutup
rapat, seolah tak lagi menyimpan kehidupan.
Ia
berkali-kali menekan bel, berharap seseorang akan membukakan pintu. Namun yang
datang justru seorang wanita paruh baya dari rumah sebelah.
“Maaf,
Nak. Kamu mencari keluarga Pak Wisnu?”
Nadia
segera mengangguk. “Iya, Bu.”
Wanita
itu tersenyum tipis, meski sorot matanya menyiratkan rasa iba. “Mereka sudah
pindah.”
Jantung
Nadia seolah berhenti berdetak. “...Pindah?”
“Iya.”
“Ke mana,
Bu?”
Wanita
itu menggeleng pelan. “Saya juga tidak tahu. Setelah kejadian itu, mereka
langsung meninggalkan rumah ini.”
“Setelah...
kejadian?”
Wanita
itu terdiam sejenak, seolah baru menyadari telah mengucapkan sesuatu yang tidak
seharusnya.
“Sudahlah,
Nak. Saya juga tidak begitu mengerti.”
Wanita
itu kembali masuk ke rumahnya, meninggalkan Nadia yang masih berdiri mematung
di depan gerbang.
Angin
sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Nadia kembali
menggenggam jeruji gerbang. Saat itulah kepalanya mendadak berdenyut.
Sebuah
bayangan muncul begitu cepat.
“Kak
Nadia!” Suara tawa seorang gadis kecil.
“Ryan!
Cepat kejar!”
Tawa
mereka bercampur dengan suara langkah kaki yang berlari di halaman. Bayangan
itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum kembali lenyap.
Nadia
spontan memegangi kepalanya. “Kenapa...” Air matanya perlahan mengalir.
“Kenapa
aku tidak bisa mengingat lebih banyak?”
Tak ada
jawaban.
Hanya
angin yang terus berembus, membawa pergi suara yang tak sempat ia genggam
kembali.
“Ryan...”
bisiknya lirih. “Aku selalu memikirkanmu. Kamu... di mana?”
Tanpa
benar-benar sadar ke mana langkahnya membawa, Nadia berjalan hingga tiba di
stasiun.
Ia
membeli tiket pertama yang tersedia. Baginya, tujuan sudah tidak lagi penting.
Ia hanya ingin terus bergerak.
Mungkin
dengan berjalan, ia bisa menemukan jawaban yang selama ini hilang bersama
ingatannya. Kini kereta melaju perlahan meninggalkan stasiun.
Nadia
kembali menatap keluar jendela. Pohon-pohon, gedung, dan jalanan berlalu begitu
cepat. Namun, bayangan Ryan tetap tidak ikut menghilang.
Air mata
kembali mengalir tanpa dapat ia cegah. Seseorang yang duduk di sampingnya
diam-diam menyodorkan sebungkus tisu.
“Matamu
terlalu indah untuk terus menangis.”
Nadia
menerima tisu itu tanpa menoleh. “Kenapa kamu mengikutiku?”
Alex
tersenyum tipis. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
“Aku bisa
menjaga diriku sendiri.”
“Aku
tahu.” Alex mengembuskan napas pelan. “Tapi tetap saja aku tidak tenang melihat
pacarku naik kereta sendirian tanpa memberi tahu hendak pergi ke mana.”
Nadia
menggenggam erat tisu di tangannya. “Aku sendiri juga tidak tahu harus ke
mana.”
Suaranya
mulai bergetar. “Aku merasa ada seseorang yang harus kutemui. Tapi setiap kali
mencoba mengingatnya... kepalaku justru semakin sakit.”
Alex
menatap wajah Nadia yang dipenuhi kebingungan. Di balik sorot mata itu, ia
melihat seseorang yang sedang berusaha menemukan dirinya sendiri.
Ia ingin
memeluk Nadia. Ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun ia
tahu... Pelukan itu mungkin hanya akan membuat Nadia semakin merasa bersalah.
“Apa yang
harus kulakukan, Alex?” bisik Nadia.
Alex
terdiam cukup lama. Kemudian ia tersenyum kecil. “Kalau tersenyum itu terlalu
berat...”
Ia
mengangkat satu jari. “...bolehkah aku meminjam satu senyum kecil saja?”
Nadia
akhirnya menoleh.
“Satu
saja,” lanjut Alex sambil tersenyum. “Supaya aku tahu Nadia yang kukenal masih
ada.”
Sudut
bibir Nadia perlahan terangkat. Senyum itu sangat tipis. Nyaris tak terlihat.
Namun bagi Alex... Senyum kecil itu terasa lebih berharga daripada apa pun.
Ia
membalas senyum Nadia tanpa berkata apa-apa. Dalam hati, ia hanya berdoa agar
suatu hari nanti gadis di sampingnya benar-benar bisa tersenyum tanpa
menyembunyikan luka.
Kereta
terus melaju. Suara roda yang bergesekan dengan rel memenuhi keheningan di
antara mereka.
Setelah
beberapa saat, Nadia kembali membuka suara. “Alex...” Ia menundukkan kepala.
“Aku sudah terlalu sering mengecewakanmu.”
Alex
tersenyum tipis. “Kamu tidak pernah sengaja melakukannya.”
Nadia
menggeleng. “Tapi tetap saja... aku lelah terus memaksakan perasaan yang memang
tidak pernah benar-benar ada.”
Kalimat
itu membuat Alex terdiam. Sebenarnya ia sudah mengetahui jawabannya sejak lama.
Hanya saja.. Mendengarnya langsung dari bibir Nadia tetap terasa menyakitkan.
Ia
menatap pantulan wajah mereka di kaca jendela. Selama ini Nadia memang berada
di sisinya. Namun hati gadis itu... Selalu berjalan menuju seseorang yang lain.
Dan hari ini... Ia memilih berhenti mengejarnya.
Alex
mengembuskan napas panjang. “Kalau begitu...” Ia kembali menatap Nadia. “Maaf
karena selama ini aku memaksamu bertahan dalam hubungan yang tidak pernah
benar-benar membuatmu bahagia.”
Air mata
Nadia kembali jatuh. “Tidak, Alex. Aku yang seharusnya meminta maaf. Kamu sudah
menjadi orang yang sangat baik. Justru aku yang tidak mampu membalas semua
perasaanmu.”
Alex
tersenyum, meski matanya mulai memerah. “Jangan berkata begitu. Kamu pantas
mendapatkan seseorang yang mencintaimu sebesar kamu mencintainya.”
Keheningan
kembali hadir. Beberapa saat kemudian, Alex mengulurkan tangannya.
“Kalau
memang kita tidak ditakdirkan berjalan sebagai sepasang kekasih, bolehkah kita
tetap menjadi sahabat?”
Nadia
memandang tangan itu beberapa detik. Lalu ia menyambutnya. “Boleh.”
Jabat
tangan mereka berlangsung singkat. Namun cukup untuk mengakhiri sebuah hubungan
tanpa menyisakan kebencian.
Alex
mengangguk pelan. “Terima kasih, Nad.”
“Untuk
apa? Karena akhirnya kamu memilih jujur.”
Nadia
tersenyum tipis. “Terima kasih juga karena kamu pernah menyayangiku dengan
tulus.”
Kereta
terus melaju. Bukan hanya membawa mereka menuju tujuan yang berbeda. Tetapi
juga mengantar dua hati yang akhirnya memilih saling melepaskan.
Tak
seorang pun menyadari bahwa orang yang selama ini memenuhi hampir seluruh
kenangan Nadia, sudah tidak lagi menunggunya. Dan ketika seluruh ingatannya
kembali nanti yang mungkin tersisa hanyalah penyesalan karena terlambat
menyadari betapa berharganya seseorang itu.
***
“Ryan...
aku di sini!”
Baru saja
kakinya menginjak peron, Nadia spontan memanggil nama itu. Suaranya yang
lantang membuat beberapa penumpang menoleh heran.
Nadia
berdiri memandang ke segala arah. Tatapannya menyapu wajah demi wajah yang
berlalu-lalang, berharap menemukan sosok yang selama ini memenuhi pikirannya.
Namun tak
ada siapa pun. Hanya orang-orang asing yang berjalan tergesa, sibuk dengan
tujuan masing-masing. Harapan yang semula memenuhi wajah Nadia perlahan
memudar. Dadanya kembali terasa sesak.
Alex yang
berdiri di sampingnya hanya mampu mengembuskan napas pelan.
“Ayo,”
ucapnya lembut.
Nadia
mengangguk kecil, meski kakinya terasa berat untuk melangkah.
Sekitar
tiga puluh menit kemudian. Mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang berdiri
di tengah hamparan perkebunan teh. Udara pegunungan terasa sejuk. Embusan angin
membawa aroma tanah dan dedaunan yang masih basah setelah hujan.
Rumah itu
tampak bersih dan terawat. Namun terlalu sunyi. Tidak terdengar suara televisi.
Tidak ada tawa Kania. Tidak ada suara Ryan yang biasanya menyapa siapa pun yang
datang.
Nadia
melangkah mendekati pintu. Tok... Tok... Tok...
Tidak ada
jawaban.
Ia
kembali mengetuk, kali ini lebih keras. “Permisi...”
Keheningan
tetap menyelimuti rumah itu.
Alex
memandang sekeliling. “Sepertinya memang tidak ada orang di rumah.”
Nadia
menggeleng pelan. “Alamatnya tidak mungkin salah.”
Ia
mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Alex.
“Lihat.”
Alex
membaca alamat yang tertulis. “Benar. Semuanya sama persis.” Ia kembali
memandang rumah itu. “Mungkin mereka sedang pergi.”
“Tidak...”
Suara Nadia nyaris berbisik. “Mereka pasti ada.”
Dengan
putus asa, Nadia mencoba memutar gagang pintu.
“Nad!”
Alex segera menahan tangannya. “Jangan. Kita tidak boleh masuk tanpa izin.”
Nadia
menoleh. Matanya mulai dipenuhi air mata. “Aku hanya ingin bertemu mereka.”
Suaranya bergetar. “Aku hanya ingin memastikan Ryan baik-baik saja.”
Alex
terdiam. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang mampu mengalahkan kerinduan
seseorang.
Nadia
kembali menghadap rumah itu. Ia menarik napas panjang. “Tante Gia! Om Wisnu!
Kania! Ryan...” Suaranya mulai pecah. “Ini aku... Nadia. Aku datang. Kalau
kalian ada di dalam, tolong temui aku.”
Suara
Nadia menggema di antara hamparan kebun teh. Namun yang menjawab hanyalah desir
angin.
Keheningan
kembali memenuhi halaman rumah.
“Nad...”
Alex berdiri di sampingnya. “Bagaimana kalau kita bertanya kepada tetangga?”
Nadia
tetap menatap pintu rumah itu. Seolah berharap pintu itu terbuka kapan saja.
Air matanya kembali mengalir.
“Ryan...”
Suaranya semakin lirih. “Aku sangat merindukanmu.”
Ia
mengusap pipinya yang basah. “Entah kenapa... sejak aku terbangun dari koma,
ingatanku selalu membawaku kepadamu. Hampir setiap malam aku memimpikanmu. Aku
menatap langit, persis seperti yang dulu sering kita lakukan.”
Ia
menundukkan kepala. “Ryan... Tolong temui aku.”
Keheningan
menjawab doanya. Lalu... Klik. Terdengar suara kunci diputar dari balik pintu.
Pintu kayu itu terbuka perlahan. Seorang wanita berdiri di ambang pintu.
Tatapannya langsung membeku.
“N...
Nadia?” Bibir wanita itu bergetar. Seolah tidak percaya dengan sosok yang
berdiri di hadapannya.
“Tante...”
Belum
sempat berkata apa-apa lagi, Nadia langsung memeluk wanita itu erat. Tangis
yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
“Tante.
Aku merindukanmu” Isaknya tak mampu dibendung.
Wanita
itu perlahan membalas pelukan Nadia. Tangannya mengusap lembut punggung gadis
itu.
“Gadis
cerewet...” Suaranya terdengar serak. “Tante juga merindukanmu.” Pelukan itu
berlangsung cukup lama.
Saat
akhirnya mereka melepaskan pelukan, Nadia baru menyadari mata Tante Gia tampak
sembap. Seolah baru saja menangis. Tatapan itu juga menyimpan kesedihan yang
belum benar-benar sembuh.
Tante Gia
kemudian menoleh ke arah Alex yang masih berdiri tidak jauh dari gerbang.
“Siapa temanmu ini?”
Alex
segera menghampiri mereka. Ia menundukkan badan dengan sopan. “Perkenalkan,
Tante. Nama saya Alex. Teman Nadia.”
Tante Gia
membalas uluran tangannya dengan senyum tipis. “Silakan masuk.”
Rumah itu
masih sama seperti yang Nadia ingat. Rapi. Hangat. Namun suasananya terasa
berbeda. Terlalu hening. Tidak ada tawa Kania. Tidak terdengar suara Om Wisnu.
Tidak ada candaan Ryan yang biasanya memenuhi setiap sudut rumah. Kesunyian itu
justru terasa menyesakkan.
Mereka
bertiga duduk di ruang tamu. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Nadia
akhirnya membuka suara.
“Tante...”
Ia menatap wajah wanita itu penuh harap. “Om Wisnu, Kania, dan Ryan... ke
mana?”
Tante Gia
terdiam. Tatapannya perlahan jatuh ke lantai.
“Mereka
sedang keluar.” Jawabannya terdengar singkat. “Nanti juga pulang.” Beliau
memaksakan senyum.
“Kalian
pasti lelah. Tante ambilkan minuman dulu.”
Baru saja
Tante Gia hendak berdiri, Nadia buru-buru menggenggam tangannya.
“Jangan,
Tante.” Suara Nadia mulai bergetar. “Aku datang ke sini bukan untuk makan.”
Air
matanya kembali menggenang. “Aku hanya ingin bertemu Ryan.”
Ruangan
kembali diliputi keheningan. Tante Gia memandang Nadia cukup lama. Bibirnya
beberapa kali terbuka. Namun tidak ada suara yang keluar. Air mata perlahan
jatuh membasahi punggung tangan yang masih digenggam Nadia.
“Nad...”
Beliau menarik napas panjang. “Kamu harus kuat.”
Jantung
Nadia berdetak semakin cepat. Perasaan takut yang tak dapat dijelaskan mulai
memenuhi dadanya.
“Tante...”
Tante Gia
memejamkan mata. “Ryan...” Suaranya patah. “...sudah tidak bersama kami lagi.”
Dunia
Nadia seolah berhenti berputar. Semua suara mendadak menghilang. Yang tersisa
hanya denging panjang di telinganya.
“A...
apa?” Suara Nadia hampir tak terdengar.
“Tidak...”
Ia menggeleng berulang kali. “Tidak mungkin.”
Tangis
Tante Gia kembali pecah. “Sejak Ryan pergi. Kania berubah menjadi anak yang
sangat pendiam. Butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya dia mau tersenyum
lagi. Om Wisnu dan Tante belum pernah benar-benar bisa menerima kepergiannya.”
Beliau
menunduk. “Makam Ryan berada di belakang rumah. Kami ingin dia tetap dekat
dengan kami.”
Tubuh
Nadia kehilangan tenaga. Ia terduduk lemas. Air matanya mengalir tanpa suara.
Alex
hanya mampu menundukkan kepala. Ia memang sudah mengetahui semuanya. Karena
itulah ia memilih menemani Nadia datang ke tempat ini.
“Ryan...”
Suara Nadia nyaris hilang. “Kenapa...? Kenapa kamu pergi...?”
Tante Gia
menggenggam kedua tangan Nadia dengan lembut. “Mungkin keluargamu memilih
merahasiakan semuanya. Tapi sekarang, kamu berhak mengetahui kebenarannya.”
Nadia
mengangguk pelan. Air matanya tak berhenti mengalir. Dengan suara yang masih
bergetar, Tante Gia mulai menceritakan kejadian yang selama ini mereka simpan
rapat.
“Waktu
itu... sebelum kamu koma. Hubunganmu dengan ibumu sedang tidak baik. Setelah
ibumu membatalkan pernikahannya, mantan calon suaminya terus meneror kalian.
Hari itu hujan sangat deras. Kamu sendirian di rumah. Pria itu datang bersama
beberapa orang dan mengobrak-abrik rumah.”
Nadia
menggenggam kepalanya. Potongan-potongan bayangan mulai bermunculan, tetapi
masih samar.
“Kami
tiba-tiba tidak bisa menghubungimu. Ryan panik. Dia bersikeras menjemputmu.
Tante sudah melarang. Kania menangis memintanya tetap di rumah. Kami juga sudah
menghubungi polisi. Tapi Ryan berkata...”
Tante Gia
berhenti sejenak. Air matanya kembali mengalir. “Kalau Nadia benar-benar dalam
bahaya, aku tidak bisa hanya menunggu.”
Ruangan
kembali sunyi.
“Itu
kalimat terakhir yang Tante dengar darinya. Ryan berhasil menemukanmu. Dia
membawamu keluar. Tetapi... tidak jauh dari rumah, mobil yang kalian tumpangi
mengalami kecelakaan.”
Tangan
Nadia bergetar hebat.
“Ryan
mengalami luka yang sangat parah. Sedangkan kamu... masih mempunyai harapan
untuk hidup.”
Tante Gia
memejamkan mata sejenak. “Dokter mengatakan penglihatanmu tidak bisa
diselamatkan.”
Nadia
perlahan menyentuh kedua matanya. Tante Gia menggenggam tangannya lebih erat.
“Ryan
mengetahui semuanya. Keputusan terakhirnya adalah mendonorkan kedua matanya
untukmu.”
Nadia
menangis tanpa suara. “Aku...” Suaranya patah. “...melihat dunia dengan mata
Ryan.”
Tante Gia
memeluknya erat. “Kami tidak pernah menyalahkanmu, Nadia.”
Nadia
terus menggeleng. “Maaf... Aku benar-benar minta maaf.”
“Tidak
perlu meminta maaf.”
“Tapi
Ryan meninggal karena menyelamatkanku.”
“Ryan tau
dia tidak bisa di selamatkan dan memilih untuk menyelamatkanmu,” jawab Tante
Gia lembut. “Itu keputusan yang dia buat sendiri. Dan kami memilih untuk
menghormatinya.”
Nadia
terdiam.
“Tante
dan keluarga sudah mengikhlaskan Ryan. Tentu saja kami masih sedih. Kami masih
merindukannya. Mengikhlaskan bukan berarti melupakan.”
Tante Gia
mengusap tangan Nadia. “Kami percaya apa yang Ryan berikan adalah kebaikan yang
akan menjadi bekalnya di akhirat. Kalau kedua matanya bisa membuatmu kembali
melihat dunia dan menjalani hidup, kami percaya itu adalah keputusan baik yang
ingin dia tinggalkan.”
Nadia
menarik napas gemetar. “Kania...”
Tante Gia
menatapnya. “Kania juga sudah mengikhlaskan?” Tante Gia terdiam beberapa saat.
“Mungkin belum sepenuhnya.”
Nadia
menundukkan kepala. “Kania sangat kehilangan Ryan. Dia masih belajar menerima
semuanya. Bukan karena dia tidak memahami keputusan Ryan, tetapi karena dia
kehilangan kakaknya.”
Nadia
terdiam.
“Kania
sedang belajar menjadi dewasa dalam menghadapi kehilangan,” lanjut Tante Gia.
“Dia sedang belajar bahwa menerima keputusan Ryan bukan berarti dia harus
berhenti merindukannya.”
Nadia
mengusap air matanya. Tiba-tiba sebuah potongan ingatan muncul. Suara
perempuan. Suara yang sangat dikenalnya. Nadia membeku.
“Suara
itu...”
Tante Gia
menatapnya. “Suara siapa?”
Nadia
mengerutkan kening. “Suara Kania.”
Nadia
mencoba mengingat.
Sebuah
kamar rumah sakit. Dirinya terbaring dengan kedua mata tertutup perban. Saat
itu ia sempat mengira ibunya telah kembali. “Ibu...?”
Kemudian
terdengar suara seorang perempuan. Suara yang sebenarnya sangat familiar,
tetapi saat itu terasa asing karena Nadia belum mampu mengenalinya.
“Aku pikir hari ini aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal
padamu.”
Nadia
menahan napas. Ingatan itu semakin jelas.
“Ternyata Tuhan masih membiarkanmu hidup... sementara Dia
mengambil orang yang paling berharga dalam hidupku.”
Nadia
menggenggam tangannya sendiri. “Dia Kania.”
Tante Gia
tidak menjawab.
Nadia
melanjutkan dengan suara bergetar. “Waktu itu aku tidak mengenali suaranya.” Ia
menelan ludah. “Padahal aku sudah mengenal Kania.”
Nadia
memejamkan mata. “Tapi saat itu semuanya terlalu samar. Aku baru sadar setelah
mendengar cerita Tante.”
Ingatan
itu kembali mengalir. Kania menangis. Kania bertanya mengapa bukan Nadia yang
pergi. Dan kalimat yang paling membekas dalam ingatannya:
“Aku adalah orang yang paling membencimu.”
Air mata
Nadia kembali jatuh. “Sekarang aku mengerti kenapa dia berkata seperti itu.”
Tante Gia
mengangguk pelan. “Kania datang ke rumah sakit ketika hatinya masih dipenuhi
kehilangan dan kemarahan. Dia belum tahu bagaimana harus menerima semuanya.”
“Nadia
menundukkan kepala. “Dan dia tahu kalau aku...” Suaranya tercekat. “...yang
menerima mata Ryan?”
“Iya.”
Nadia
terdiam lama. “Pantas saja.”
“Apa?”
“Waktu
itu aku merasa suaranya sangat sedih. Aku mengenal Kania, tapi aku tidak bisa
mengenali suaranya dalam keadaan seperti itu.”
Nadia
mengusap kedua matanya. “Sekarang aku tahu.”
Tante Gia
menggenggam tangannya. “Kania tidak harus langsung mengikhlaskan Ryan. Dia
masih belajar.”
Nadia
mengangguk. “Mungkin aku juga harus belajar.”
“Belajar
apa?”
“Belajar
menerima bahwa aku masih hidup bukan karena aku mengambil kehidupan Ryan.”
Nadia menarik napas panjang. “Ryan memilih menyelamatkanku. Dan Kania sedang belajar
menerima pilihan kakaknya.”
Tante Gia
tersenyum tipis. “Begitu juga kamu.”
Nadia
terdiam. Kini ia memahami percakapan di rumah sakit itu dengan cara yang
berbeda. Dulu, ia hanya mendengar kemarahan seorang perempuan yang tidak ia
mengerti.
Sekarang
ia tahu, perempuan itu adalah Kania. Orang yang sudah lama dikenalnya. Adik
Ryan. Seseorang yang kehilangan kakaknya dan, pada saat yang sama, harus
berhadapan dengan kenyataan bahwa Nadia tetap hidup karena keputusan terakhir
Ryan.
Mungkin
Kania belum sepenuhnya ikhlas. Namun bukan berarti ia tidak sedang berusaha. Ia
hanya membutuhkan waktu untuk menjadi dewasa dalam menerima kehilangan. Dan
Nadia pun membutuhkan waktu untuk belajar menerima kehidupan yang telah
dipercayakan kepadanya.
“Aku
ingin bicara dengan Kania,” ujar Nadia pelan.
Tante Gia
mengangguk. “Beri dia waktu. Tapi suatu hari nanti, bicaralah dengannya.”
Nadia
mengangguk. Kali ini, ia tidak ingin menemui Kania untuk meminta pengampunan.
Ia hanya ingin mereka berdua bisa berbicara sebagai dua orang yang sama-sama
kehilangan seseorang yang mereka cintai.
***
Aku
berdiri cukup lama di depan pusara itu. Tak ada lagi air mata yang tersisa.
Hanya keheningan yang perlahan mengajarkanku menerima kenyataan.
Jemari
ini menyentuh batu nisan yang dingin, lalu perlahan meraba namamu yang terukir
di atasnya. Ryan. Nama yang dulu begitu dekat, kini hanya bisa kupanggil
melalui doa.
Angin
sore berembus lembut, menggerakkan dedaunan di sekitar pemakaman kecil itu.
Hamparan kebun teh membentang sejauh mata memandang, persis seperti langit yang
dahulu sering kita nikmati bersama.
Aku
memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi memohon agar Tuhan
mengembalikanmu. Aku hanya memohon agar Dia memberiku kekuatan untuk menjaga
semua pengorbananmu.
“Ryan...”
Terima
kasih. Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku. Terima kasih karena
telah mengajarkanku bahwa kebaikan tidak pernah meminta balasan. Dan... Terima
kasih karena memilih meninggalkan cahaya, bahkan ketika hidupmu sendiri mulai
meredup.
Perlahan
aku membuka mata. Dunia yang kulihat hari ini adalah dunia yang pernah kamu
lihat.
Langit
yang kini membentang di hadapanku pernah menjadi langit yang sama yang kamu
pandangi. Mungkin itulah alasan mengapa setiap kali aku melihat langit, hatiku
selalu merasa tenang. Karena tanpa kusadari... Sebagian dirimu masih menemaniku
memandang dunia.
Aku
tersenyum kecil. Bukan karena luka ini telah sembuh. Melainkan karena akhirnya
aku mengerti.
Mencintai
seseorang bukan berarti memintanya tetap tinggal. Terkadang... Mencintai adalah
menerima kepergiannya, lalu melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya, sebagai
bentuk penghormatan atas semua pengorbanan yang pernah ia berikan.
Aku
melangkah meninggalkan pusara itu. Setiap langkah terasa berat. Namun kali ini,
aku tidak berjalan sendirian.
Aku
membawa kenangan. Aku membawa doa. Dan aku membawa sepasang mata yang akan
kupakai untuk melihat lebih banyak kebaikan di dunia ini.
Sebab
mulai hari ini. Aku ingin hidup bukan hanya untuk diriku sendiri. Tetapi juga
untuk seseorang yang telah mengorbankan segalanya agar aku tetap bisa melihat
indahnya dunia.
Angin
kembali berembus pelan. Sementara langit sore perlahan berubah keemasan, seakan
mengantarkan seseorang pulang dengan cara yang paling indah.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai karya penulis
dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar