
Tidak dapat dipungkiri setiap orang mempunyai
bagian indah dan buruk dalam hidup.
Ada saat dimana seseorang menujukan sikap dengan
raut wajah bukan perkataan. Kalimat yang ditulis seorang gadis pada
lembar pertama dalam sebuah diary. Tiara lupa kapan terakhir kali menulis, dia
sedang memulai lagi.
***
Kita tidak pernah bisa hidup sendiri. Kita perlu
seseorang karena bersama mereka kita memulai kehidupan.
Bipp..bipp... Suara itu terdengar berulang kali.
Tiara memaksakan diri meraih ponsel di atas meja.
“Jam tujuh pagi, oh Tuhan ini hari minggu. Adakah
orang selain dia?” Tiara menekan tanda jawab. Belum juga menarik napas untuk
mengomel, teriakan kencang di telinga berhasil membungkamnya.
“Bangun Lemot, kamu masih tidur? Kasihan sekali
rezekimu di patuk ayam.”
“Jangan bertele-tele! langsung saja, ada apa?”
namun suara Tiara tidak kalah nyaring.
“Galak sekali. Aku kelaparan, kak Juna masak apa?
aku akan datang ke rumah.”
“Bawel!” Suara Dirga tidak mampu menghilangkan
kantuk yang memberatkan mata.
“Dasar bocah dibangunkan bukan bilang terima kasih,
malah ketus.”
“Telepon lagi kalau aku sudah siap bangun, oke!”
“Kapan?”
Tiara tidak menjawab, menutup panggilan, lalu
mematikan ponsel. Dia kembali menyandarkan kepala pada bantal untuk tidur.
***
Seharian ini Tiara fokus pada laptop. Dia duduk
santai tetapi siapa yang tahu otaknya sedang bergulat dengan tugas kuliah.
Jemari cantik menggantung di atas tanda enter.
“Sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku sudah mandi,
makan lalu kembali ke kamar dan persediaan cemilan masih banyak.” Bibir
berceloteh, mata berhenti menyusuri setiap kata dalam dokumen. Dia sangat
teliti, satu kata salah saja rambut akan berantakan.
Tiara menepuk kening. “Oh Tuhan, dimana ponselku?”
Setelah berhasil membuat kamar berantakan seperti
kapal pecah. Dia menemukan ponsel di bawah tempat tidur. Ketika
diaktifkan ada empat pesan memenuhi layar dari Dirga.
Pesan ke 1: Aku sedikit terlambat karena ada perlu
dengan Lista.
Pesan ke 2: Lemot, aku telah mengambil keputusan
yang menurutku terbaik. Bisakah kita bicara?
Pesan ke 3: Ra, kenapa tidak aktif ?
Pesan ke 4: Lemot, kenapa bersikap menjengkelkan
seperti ini? membuatku kesal tingkat negara.
Tiara menunjukan ekspresi datar. Dia terbiasa
menghadapi kemarahan Dirga. Pesan dari Tiara: Kalau sudah membaik, nanti
sore aku tunggu di rumah.
Berprilakulah seperti biasa sesudah kamu marah!
Jangan mengungkit alasan kemarahan! Pelajari kesalahan kamu sebelumnya, tidak
perlu menyalahkan oranglain! Bercerminlah! lakukan yang terbaik, jika kamu
sudah tahu dimana letak kesalahan!
“Ara, Dirga menunggu di bawah.” Juna memanggil dari
lantai 1. Sebelum dia kembali ke kamar.
“Iya kak, aku akan segera menemuinya.” Tiara
menuruni tangga dengan anggun. Dia menemukan Dirga duduk santai di ruang makan.
“Enak, datang kesini langsung makan?” Tiara melotot
saat tahu jatah makanannya telah habis.
“Hatiku sedang hampa, Ra. Aku tidak akan membiarkan
hal itu terjadi pada perutku.” dia mengelus bagian perut, pertanda kenyang.
“Baiklah, aku sering mendengar ini dari tuan Dirga.
Aku mengomelpun makanan itu tidak akan kembali di atas meja.”
Dirga tertawa puas, melihat ekspresi sedih Tiara
menatap piring yang sudah kosong.
“Lista bilang aku sulit dimengerti, komunikasi
antara kita sudah tidak sejalan. Apa aku berubah? Aku tetap Dirga yang apa
adanya, ganteng, baik dan ada banyak hal yang wanita suka.”
“Terlalu percaya diri. Mungkin kamu telah melakukan
kesalahan.” Tiara menanggapi dengan ketus.
“Ra, lelaki protektif karena sayang,
mengantisipasi ceweknya membuat kesalahan. Cewek beranggapan dikekang. Aku cuek
merasa tidak disayang, serba salah.”
“Tingkah laku yang kita anggap baik kadang tidak
sesuai keinginan pasangan. Apa kamu tidak sayang Lista sehingga bersikap
sepasrah ini?” mengamati wajah Dirga yang terlihat santai setelah putus.
“Tidak mungkin orang menjalani hubungan tanpa rasa
sayang. Namun keputusan akhirnya aku dan Lista memilih untuk berteman. Meskipun
kenyataannya pertemanan setelah putus itu tidak mungkin terjadi.”
“Kenapa tidak berusaha bertahan?”
“Tidak perlu memaksa hati bila kita sendiri atau
oranglain merasa tidak nyaman. Jika bukan jodoh sekuat apapun usahaku, kita
tidak akan bersatu. Jika sudah waktunya, terjadilah kuasa Tuhan yang tidak
terduga. Tinggal doa dan usahanya saja yang diperkuat.”
Dirga bukan hanya mengutarakan masalah tetapi di
balik itu ada pelajaran yang bisa Tiara pahami.
“Apa di depanku, kamu berpura-pura tegar?” Tiara
menyelidiki wajah Dirga.
“Ra, aku memang lelaki tegar.” dengan penuh percaya
diri.
“Aku tidak yakin. Apa sedikitpun kamu tidak
menyesal memutuskan Lista?”
“Menyesal hanya akan menyiksa diri. Bayangkan saja
jika aku meratapi perpisahan ini sedangkan dia bahagia, sudah jelas aku yang
rugi. Jadi apapun keputusan yang sudah aku ambil, aku akan bersikap lapang dada
tanpa benci yang bisa saja merusak hati. Lagipula aku tidak siap hubungan jarak
jauh.”
“Memang sulit jika belum pernah menjalani hubungan
jarak jauh.”
“Itu kamu paham. Apa kak Juna kembali ke kamar?”
“Iya, dia sibuk dengan pekerjaan kantor.”
“Aku akan meminta izin untuk menginap di malam
terakhirku.”
“Jangan berbicara seperti itu! Apa kamu pulang ke
kampung halaman untuk melupakanku?”
”Tentu saja tidak. Mana mungkin aku melupakan gadis
bawel.” Dirga berlalu dengan senyuman, meninggalkan Tiara terpaku di depan meja
makan.
***
Lelah memaksakan hati bersama orang yang tidak tau
kenyamanan. Berjalan ke arahnya seperti menempuh jalan gelap dan seram. Menatap
matanya seperti menghadapi serigala yang siap menerkam. Setiap perkataan
seperti petir menyambar telinga, nada bicara yang menghakimi, memojokan dan
memaki. Tidak ada yang berarti. Apa ini yang dinamakan sayang?
Tiara memandang langit hitam, ruang yang membawa
pikiran ke alam sunyi. Balkon adalah tempat nyaman kedua setelah kamar. Lagu
coldplay mengalun merdu, dilayar ponsel tertera nama Noval.
Noval Ardiaga. Nama berwibawa tetapi tidak cocok
jika disesuaikan dengan kepribadian Noval. Lelaki keras kepala, pemarah,
pencemburu dan pemilik hati yang sensitif.
“Tiara, apa yang kamu lakukan? Turunlah!” Tiara
mendapati seseorang menunggu di halaman rumah.
“Baiklah, tunggu!” dengan penuh semangat dia
mempercepat langkah kakinya. Belum sempat Tiara tersenyum menyambut kedatangan
kekasihnya. Dia sudah terlebih dulu disuguhi wajah masam.
“Bagaimana responmu Dirga putus dengan Lista?”
Noval langsung saja mengajukan pertanyaan.
“Darimana kamu tau?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan! Apa alasan mereka
putus?” wajahnya penuh selidik.
“Mereka berpisah karena tidak siap menjalani
hubungan jarak jauh. Besok Dirga akan kembali ke kampung halaman.” Tiara masih
santai menanggapi Noval.
“Akan lebih baik, dia pergi tanpa kembali.”
jawabnya dengan ekspresi yang datar, lebih tepatnya kesal. Sehingga memancing
amarah Tiara.
“Apa kebencian tanpa alasanmu belum menghilang?
Padahal dia bersikap baik padamu. Bisakah kamu memperlakukan orang sebagaimana
dia memperlakukanmu! Jangan seegois ini!”
“Kamu membelanya? Aku tahu, kamu pasti senang
mereka putus. Kenyataannya kamu berharap Dirga suka padamu. Bertekuk lututlah
dan memohon!” nadanya mulai meninggi.
“Aku bosan mendengar tuduhan ini. Bisakah kamu
menghargai perasaanku?” Tiara tau bagaimana menghadapi Noval. Noval tidak suka
disalahkan, namun Tiara perlu membela diri.
“Kamu tidak suka?” ledeknya.
“Iya, kamu selalu mencari kesalahanku lalu
membahasnya berulang kali. Padahal apa yang kamu lihat selama ini adalah
jawaban dari keraguanmu. Apa yang membuatmu tidak percaya kami berteman?”
“Berteman? Apa itu yang orang pikirkan setelah
melihat kebersamaan kalian? Tidak, orang berpikir kalian menjalin hubungan.
Teman itu bersikap sewajarnya bukan selalu terlihat bersama dibanding dengan
kekasihnya.” Noval memojokkan Tiara.
“Apa ketakutanmu selama ini jadi kenyataan? Tidak
kan. Kamu mendengar kabar dari luar dan menyiksa diri dengan pikiran buruk
sehingga apa yang aku lakukan tetaplah salah.”
“Bagus sekali omonganmu, pembangkang. Aku tidak
setuju kamu dekat dengan Dirga yang secara tertang-terangan menyukaimu.
Jangan-jangan kamu juga sedang berusaha mendapatkan hati Dirga.” Noval
menajamkan mata.
“Silahkan berpikiran seperti itu. Kamu sudah tidak
percaya lagi padaku. Itu hak mu!” Jika Tiara balas dengan umpatan, kemungkinan dia
yang akan menangis.
“Aku tidak akan seperti ini kalau kamu menuruti
perkataanku untuk tidak dekat dengan teman lelaki.”
“Dirga temanku sejak pertama kali dia tinggal di
kontrakan samping rumah. Tidak ada alasan untuk memutuskan tali silaturahmi.”
“Munafik, ini bukan peringatan pertama atau kedua
kali. Dulu sebelum dia hadir, hubungan kita baik-baik saja. Kita mau serius
tetapi sikap kamu meragukan. Kamu dekat dengan Dirga, menunjukan kamu brengsek.
Pikir pake otak! memang lelaki mana yang tidak sakit hati.” suaranya mulai
bergetar.
“Pernahkah aku curiga padamu? Sekalipun tidak. Aku
selalu mengabarkan semua kegiatanku. Begitupun saat bersama Dirga. Aku tidak
merahasiakan apa-apa.”
“Apa ucapanmu bisa dipercaya? Aku rasa tidak.”
“Kamu menutup kepercayaan itu. Aku membebaskanmu
berteman dengan siapa saja karena aku membuang rasa curiga.”
“Kamu? Apa pantas kalian disebut teman, munafik.”
Noval tidak dapat menahan diri.
“Caramu menilai seseorang, sangat tidak pantas.
Dirga dirumah memang bisa seharian tetapi lebih sering mengobrol dengan kak
Juna.”
“Alasan. Jangan berbicara seolah-olah kamu yang
paling benar dan mengajariku! Lelaki itu ingin mencari perhatian. Jangan jadi
tolol! Bukannya kamu senang dia sering kerumah.” Noval memperlihatkan senyum
sinisnya.
Air di ujung mata Tiara mengering. Perkataan lembut
atau permohonan maaf tidak berarti. Diam lebih menjelaskan
ketidaksukaan. Tiara melangkah pergi, menjauhi Noval yang mengomel.
“Aku belum selesai. Apa kamu tidak dengar?”
“Bisakah kamu berbicara lembut pada perempuan?”
mata Tiara mendelik.
“Kamu pikir aku marah tanpa alasan. Menghindar saja
terus!”
Noval melajukan motor dengan cepat. Malam yang
dingin berhasil membekukan hati Tiara.
***
Tidak bisakah kamu pahami aku? Aku sangat
menghormatimu. Aku yang bersamamu adalah perempuan yang tidak pernah
menyembunyikan apapun. Aku tidak mau menjadi oranglain untuk terlihat baik.
Namun kepercayaanmu telah sirna sehingga aku menjadi yang terburuk dalam segala
hal.
Kamu selalu membanggakan kekasih oranglain. Apa aku
tidak berarti apa-apa? Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu bahagia?
Setiap ucapan dan kelakuanku selalu salah. Apa yang terjadi? Apakah aku pantas
untuk dimaki?
Cahaya redup menyembunyikan seorang gadis. Dia
melindungi telinga dengan earphone. Pilihan paling efektif yaitu mendengarkan
lagu rock dan menyanyikan lagu tersebut dengan suara keras. Namun suara yang
menggelegar telah mengusik kenyamanan oranglain.
Panggilan masuk di ponsel berhasil menyadarkan. “Kenapa
telepon? Memang Kakak dimana? Aku belum mengunci pagar.”
“Heh bocah, sejak tadi Abangmu ini ada dirumah.
Nyanyianmu sangat mengganggu. Suara kodok di dekat kolam ikan jauh lebih bagus.
Berhenti pamer suara, ini sudah malam. Oke!”
“Iya, maaf.” Dia mematikan sambungan. Juna terkejut
dengan tanggapan santai adiknya.
“Tumben bocah ini tidak bawel.”
Biasanya Tiara membalas omelan kak Juna tetapi saat
ini perasaannya terluka. Dia menatap kalender kecil di atas meja.
“Tanggal yang buruk di tahun ini, bulan april.”
Tiara menutupi tanggal dengan tulisan berduka.
Aku pernah merasa terpuruk di bulan april tahun
lalu. Orangtuaku terkena demam berdarah. Mereka dirawat selama dua minggu di
rumah sakit. Aku benar-benar takut kehilangan. Tahun ini, di bulan yang sama.
Aku merasakan kesedihan lagi tetapi tidak ada alasan untuk terpuruk. Aku yakin
ini bukan masalah yang sulit.
Dia sengaja memberikan tanda disetiap tanggal
sebagai pengingat. Baru saja menghela nafas, seseorang mengetuk pintu.
“Ra, boleh aku masuk?”
“Masuk saja!” Tiara duduk di bawah ranjang.
Dirga menggigil, kemurungan Tiara membuat suasana kamar menjadi seram.
“Hey.” Tidak ada jawaban, Dirga duduk dihadapannya,
memandangi wajah gadis itu.
“Apa yang terjadi?” selidiknya.
“Tidak apa-apa.” Tiara semakin menenggelamkan wajah
pada rambut panjang yang tergerai.
“Harusnya seorang gadis bahagia setelah bertemu
kekasih.”
“Bisakah aku melupakan ini. Aku sudah biasa
mendengar dia menghakimi. Sedikit kesalahan saja, aku akan mendapat kritik
dahsyat.”
“Kenapa dia seperti itu?”
“Dia memancing perdebatan. Bisakah aku diperlakukan
baik? Umur tidak menjamin seseorang dewasa. Tidak akan ada acara yang
sudah kami rencanakan. Kenapa mudah sekali seseorang mengucapkan janji, tapi
tidak untuk di tepati.” Tiara menatap Dirga dengan tangisan yang pecah,
mengetuk iba Dirga.
“Tadi aku mendapat telepon dari Bunda yang
menyampaikan pesan dari Noval. Beliau tidak menyangka ini akan terjadi tetapi
aku setuju dengan keputusan Noval.”
“Apa kak Juna sudah tahu? Bagaimana reaksi
orangtuamu?”
“Kak Juna belum tahu, justru yang tahu pertama kali
adalah orangtuaku. Bunda terlebih dulu membicarakan masalah ini pada mereka.
Mereka sempat khawatir dengan keadaanku tetapi aku pastikan ini jalan keluar
terbaik. Orangtuaku mengerti.”
“Kamu selalu ceria, sulit untukku menebak orang
sepertimu. Jangan di pendam sendiri, kamu pasti lelah.” Dirga mengelus lembut
kepala Tiara.
“Aku dan Noval nantinya akan punya kehidupan
masing-masing. Bertemu dengannya seperti orang asing yang tidak pernah
berjumpa.”
“Perpisahan bukan halangan untuk saling
bertegursapa. Kita tidak tau rencana Allah untuk hidup kita. Ada kemungkinan
Allah menjauhkanmu dari dia karena tidak mau kamu semakin terluka atau bisa
saja dia masih jodohmu yang perlu memantaskan diri.” Dirga menyemangati Tiara.
“Dir, terima kasih sudah mau mendengar ceritaku.”
“Sama-sama lemot.” Dirga mengacak-acak rambut
Tiara, keduanya tertawa lega.
***
Menjalani kehidupan ini, kita belajar untuk tegar,
ikhlas, lapang dada dan semangat. Dengan menyebut namaMu dalam setiap helaan
napas, kebahagian dan kesedihan yang aku rasakan adalah anugerah. Engkau tidak
akan memberi cobaan di luar kemampuan.
Ketika cobaan itu datang bertubi-tubi. Sebagai
manusia, Bolehkah menangis, berteriak, mengeluh dan meratap? Ketika orang di
sekitar seakan buta dan tuli. Apakah mereka ingin aku meminta belas kasih? Aku
tidak akan memohon. Aku memilikimu Allah. Di sini, dimanapun aku berada. Engkau
akan senantiasa membantu.
Sebulan tanpa kabar. Dirga kembali ke daerah asal,
berkumpul bersama keluarga dan melanjutkan kuliah setelah menunda karena fokus
bekerja. Tiara tidak tahu nomer kontak Dirga yang baru, begitupun kak Juna.
Tiara membuka media sosial, tidak lama ada chat
masuk.
“Boleh minta nomer kamu?”
“Untuk apa? Aku jarang membalas pesan, apalagi
kalau lagi moody.”
“Sebagai tanda pertemanan. Aku bisa mengatasi orang
yang sering moody. ”
Tiara tidak pernah memberitahu nomernya pada
sembarang orang. “Tidak mau.” Tiara tetap teguh pendirian.
“Ayolah, jika kamu merasa terganggu, block saja
nomerku. Bagaimana?”
“Gimana kalau kita tebak-tebakan dulu?”
“Boleh, apa tebakkannya?”
“Sejak bulan apa aku memulai posting di blog? (itu
nomer awal). Tanggal berapa Kakakku (Trian Arbijuna) pertama kali memposting
video ke youtobe? tanggal berapa Coldplay konser pertama kali di Indonesia? Aku
mempunyai berapa saudara? Berapa nomer rumahku? Berapa dua angka terakhir
dari perkalian 2011x19? Jawabannya!” Tiara sengaja memberikan tebakan yang
tidak akan mudah dijawab.
“Beri aku waktu untuk menjawab!”
“Baiklah.” Tiara yakin orang itu tidak akan
berhasil.
“Nomermu -------------------.
Benarkan? Terimakasih Lemot.”
“Dirga?”
”Maaf, baru mengabari. Ponselku menghilang saat
perjalanan pulang. Setelah itu aktifitasku padat, aku harap kamu mengerti.”
“Terimakasih sudah memberi kabar.” Tiara tersenyum
bahagia.
“Iya, Kak Juna apa kabar?”
“Baik. Seminggu lagi dia akan menikah dengan Teh
Giska.”
“Nanti sekalian kirim nomer kak Juna! Apa kamu
tetap tinggal disana?”
“Iya, aku akan pulang ke rumah orangtua kalau sudah
selesai kuliah.”
“Jangan dulu pindah kota sebelum aku berkunjung
lagi!” Dirga tidak datang ke rumah Tiara seperti biasa tetapi tidak ada
alasan untuk tidak memberi kabar.
“Apa karena tidak ada aku disana kamu selalu
galau?” Dirga selalu percaya diri.
“Kamu sering stalking ya?”
“Bagaimana tidak diperhatikan jika jejaring sosial
sudah penuh dengan statusmu.”
“Apa kamu punya obat yang manjur untuk
menghilangkan rasa galau?”
“Ada, minum baygon! Gratis tuh.” Ledeknya.
“Hanya orang gila yang meminum cairan itu. Aku bisa
melaporkanmu pada polisi atas tindakan KdP.”
“Apa maksud KdP?”
“Kekerasan dalam Pertemanan.”
“Apa ucapanku melukai? ini tidak bisa dibilang
kekerasan.”
“Jelas saja. Bagaimana jka aku melakukan apa yang
kamu katakan?”
“Aku yakin kamu masih percaya hukum Tuhan.”
“Semakin jauh dariku, kamu semakin pintar.”
“Aku bukan kamu, si lemot.”
“Aku pintar bukan si oon, tukang tanya ini itu.
Ternyata sikap menjengkelkanmu belum menghilang, Dir.”
“Aku tahu kamu marah. Jika sudah tenang, hubungi
aku lagi!”
”Baiklah.” Tiara menutup laptop, pergi meninggalkan
perpustakaan kampus. Dia tidak marah, namun waktunya membalas chat dari Dirga
telah habis. Dia harus segera ke kelas.
***
Aku selalu mendengar keluh kesah setiap orang.
Tanpa mengenal waktu, tanpa jeda. Aku cukup tersenyum dan memberi saran. Kamu
pikir itu mudah dilakukan saat suasana hati buruk?
Lihatlah aku! Yang kamu tahu aku cukup tegar,
memberikan kamu solusi seakan aku bijaksana dalam menghadapi masalah. Nyatanya,
aku diam ketika raga terperosok ke dasar sumur. Untuk keluar dari dasar harus
bertumpu pada diri sendiri. Percuma berteriak meminta tolong pada oranglain
karena mereka tidak akan peduli. Hanya sebagian orang jadi pendengar yang baik,
kebanyakan mereka adalah pembicara yang hebat. Ingin di dengar tetapi sulit
mendengar.
“Kemana saja Lemot?”
“Aku malas membalas chat. Telepon saja!” Dirga
menuruti permintaan Tiara.
“Ara, apa kamu lihat statusku? Sekarang hubunganku
di gantung.”
“Beberapa hari kamu mengomel lewat
status. Kamu sudah tau perempuan sensitif, statusmu bukan mengajak baikkan
malah mengundang pertengkaran.”
“Usaha aku membujuk dia sampai mulut berbusa sama
sekali tidak berarti.”
“Itu mulut kenapa tidak dijadikan mesin cuci
sekalian?” Tiara mulai jengkel, Dirga tertawa.
“Ini serius, tidak ada yang perlu ditertawakan!”
tegas Tiara.
“Iya maaf, terus aku harus bagaimana?”
“Jangan menunjukan emosi kamu ke dia apalagi
didepan publik! Tunjukan betapa pengertian dan sayangnya kamu!”
“Ceritanya, kita cinta lama bersemi kembali. Jadi
aku tahu gimana sikap dia. Dia saja bilang: Aku tidak tahu kenapa
bersikap cuek membuat aku santai. Dia santai aku terlupakan.”
“Miris sekali nasibmu, nak.” Tiara meledek Dirga.
“Begitulah, anakmu butuh pembelaan. Kemarin
dia upload foto suap-suapan dengan lelaki. Pacar mana yang tidak murka. Coba
bayangkan kamu jadi korban?”
“Kenapa harus aku yang berada di bagian tersedih?
Aku akan menerima tawaran scene yang senang saja.”
“Semua orang juga mau seperti itu. Ara, kita
longdistance tetapi dia tidak jaga sikap. Kedepannya mana bisa aku percaya
dia.”
“Aku pikir kamu anti longdistance.”
“Kita longdistance karena dia kuliah diluar daerah
yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Kita masih tinggal di satu komplek, bukan
beda kota.”
“Oh, jadi apa kendala semenjak longdistance?”
“Dia selalu ada alasan jika bertemu.
Bilangnya: maaf aku tidak bisa lama-lama karena setelah ini ada jam
kuliah. Aku sedang kumpul dengan teman, nanti aku hubungi kamu. Kita ketemu
lain waktu saja, aku cape. Ya aku tahu dia sibuk tetapi menyempatkan
sebentar, apa sesulit itu?”
“Memilih bertahan dengan sikap dia itu keputusanmu.
Ini pelajaran supaya kamu lebih memahami dia. Tidak ada yang sempurna, manusia
tidak luput dari salah. Tidak ada manusia yang memiliki sikap sesuai yang kita
mau.”
“Ini yang kedua kali. Sudah lama kita berpisah, aku
sengaja mendatangi rumahnya untuk silaturahmi. Hingga aku menunggu kesempatan.
Dia janji akan menjaga sikap. Namun kini kesalahannya terulang.”
“Kamu sudah bicara langsung, membahas masalah
kalian?”
“Sudah. Ketika aku bahas, dia menjadi keras kepala
kalau salah tidak mau disalahkan.”
“Longdistance atau tidak bukan jaminan hubungan
akan baik. Kalian harus saling percaya, menjaga komunikasi, kondisikan hubungan
dalam zona nyaman bukan mendahulukan ego masing-masing.”
“Iya nyaman persis hidup kamu saat ini.”
“Apapun yang terjadi anggap saja ujian. Mampu atau
tidak melewatinya, hasilnya akan berpengaruh pada kehidupan sendiri bahkan
melibatkan oranglain. Mau mundur atau hadapi?”
“Aku memilih untuk menghadapi ujian ini, Ra. Apa
yang harus aku lakukan untuk merebut hatinya?”
“Luluhkan sikap keras bukan dengan cara keras!
Jangan biarkan sikap buruk kamu yang dulu terjadi lagi! Buatlah dia merasa kamu
tidak posesif!”
“Aku membebaskan, asal jangan kelewat batas! Sudah
jelas dia tidak tahu aturan, masa upload foto seperti itu. Aku mau percaya
bagaimana.”
“Apa yang kamu mau dari hubungan kalian? Katakan
padanya!”
“Aku ingin ada komitmen dan tanggungjawab. Apa
salahnya, kita sudah dewasa. Serius sedikit tidak salah kan?”
“Dir, jika masalah ini membuatmu menyerah, maka
masalah-masalah selanjutnya juga tidak bisa teratasi. Untuk kebaikan hubungan
kalian aku sarankan kalian untuk bertemu, membicarakan masalah kalian dengan
kepala dingin. Ingat publik tidak perlu tau masalah yang kalian hadapi! Jangan
lari dari masalah!”
“Iya lemot. Terimakasih. Kamu tidak kuliah?”
“Ini juga mau berangkat kuliah.”
“Belajar yang rajin! Dikelas jangan Lemot!”
“Akan aku usahakan supaya fokus.”
***
Sebulan berlalu, Tiara mempunyai teman baru di
rumah. Waktu luang Teh Giska selalu membuat kue. Terkadang mereka mendapat
pesanan dari tetangga, dua tangan tidaklah cukup.
Tiara mengucek mata, menatap ke luar jendela, tirai
sengaja dibuka sejak malam. “Alhamdulillah, sejuk sekali. Pagi langit,
pagi dingin, pagi hujan, pagi seseorang yang akan menjadi pendampingku. Semoga
Allah memudahkan jalan kita hari ini.”
Tiara menurunkan kedua kaki ke bawah ranjang.
Ketika dia akan berdiri, tiba-tiba ponsel didekat bantal berdering. Dia membaca
beberapa pesan yang dikirim dari nama yang sama, Dirga. Tidak lama ada pesan
baru.
“Pasti belum mandi.”
“Iya, baru beranjak dari kasur, lihat layar ponsel,
gila pesan banyak banget kalau tidak segera dibalas takut di bilang artis
sombong.”
“Haduh, pantesan ada aroma tidak enak. Kalimat
selanjutnya tidak terbaca, sebagian teks rusak. ”
“Ya lupakan saja."
“Ra, cepat mandi! Nanti aroma wangi gadis lemot
bakal terhirup sampai sini. Aku tambah kangen.”
“Aku mandi juga bukan karena menuruti permintaanmu.”
“Iya aku tau. Apa acaramu hari ini?”
Tiara menuruni tangga menuju dapur, membantu Teh
Giska merapihkan kue kedalam dus. Belum juga Tiara mengetik pesan balasan,
Dirga menelepon.
“Lemot” nadanya merajuk seperti anak kecil
ditinggal pergi ibunya.
“Kunaon?” Tiara membalasnya dengan nada tinggi yang
bisa memekikan telinga.
“Yeh.. Satu tahun bales smsna.”
“Aku lagi sibuk membantu Teh Giska. Baru juga
ditinggal beberapa menit. Jangan takut kehilangan!”
“Lah teuing, dasar Lemot bikin emosi. Aku daritadi
tuh mau tanya.”
“Iya, ada apa?”
“Kalau mau mention di twitter gimana?”
“Cari tulisan refly!”
“Gimana tambah followers?”
“Follow aku @TDianti_ atau @Dianti_08 , ambil di
followed atau kamu search sendiri mau siapa yang di follow.”
“Menulis status tetapi muncul di facebook gimana?”
“Ribet, dieukeun geura alamat jeung pasword
twitterna!”
“Ulah teuing engke nu aya twitter anyar urang
rajit. Lalu bagimana caranya?”
“Cara apa?”
“Perlu dijitak biar tidak lemot? Gimana cara
terhubung ke facebook? Sama Gimana cara memasang background, pakai gambar
sendiri?”
“Kalau background ke setting, design, terus
dibagian bawah change background image, cari gambar yang akan digunakan, sudah
selesai tinggal save change.”
“Aku coba dulu.”
“Sudah di coba?”
“Iya, cuma terhubung ke facebook disconect. Coba
Lemot lihat berubah tidak?”
“Apanya yang berubah? Kalau mengajukan pertanyaan
jangan borongan! aku jadi bingung.”
“Si Lemot! Tugasmu sudah selesai, terima kasih
mentorku.”
***
Tiara sibuk dengan tugas dari kampus. Dia tidak ada
waktu untuk bermalas-malasan. Setelah menyelesaikan tugas, dia segera
menyapu halaman karena nanti sore ada acara arisan keluarga Teh Giska. Jika dia
tidak melakukan apa-apa, kak Juna akan mengomel.
Tiara bersandar pada pohon di samping kolam ikan.
Tanpa sadar matanya terpejam, keheningan pelan-pelan mengajak terlelap. Namun
panggilan di ponsel berhasil membuyarkan kantuk.
“Kemana saja lemot? Cewek aku belum ada kabar.
Tadi waktu di kampus tidak bilang kalau keserempet. Aku malah mendengar ini
dari oranglain.” Dirga kesal.
“Tidak memberi kabar bukan berarti melupakan.
Mungkin ada alasan kenapa dia tidak cerita.”
“Alasan apa?”
“Dia tidak mau kamu khawatir, baik sekali bukan?”
“Baik? Harusnya dia bilang kalau ada masalah. Apa
fungsi aku sebagai pacar cuma status saja?”
Tiara tidak bermaksud menggurui tetapi dia ingat
sering mendapat prasangka buruk dari Noval. Setiap perempuan tidak ingin
diperlakukan seperti itu. Mereka butuh privasi dan dipercaya.
“Dia tau pacarnya adalah lelaki cerewet. Meskipun
kamu mendengar berita dari orang lain, apa ada yang salah? Yang penting
sekarang kamu beri dia perhatian.” Tiara menggerutu kesal.
“Baiklah. Aku akan minta maaf karena khawatir
berlebihan sehingga membuatnya tidak nyaman. Apa yang akan kamu lakukan setelah
aku menutup telepon?”
“Aku akan mandi untuk menghadiri acara penting.”
“Ada janji sama pacar?”
“Siapa yang pacaran? Penggosip. Hari ini ada acara
arisan keluarga Teh Giska.”
“Aku dengar Noval sudah punya pacar.”
“Iya, aku ikut senang.” suara Tiara mengecil.
“Kapan kamu melangkah juga? Aku ingatkan lagi,
carilah lelaki yang baik, menjaga, memahami dan menerima. Perempuan tidak hanya
menunggu tapi juga harus mencari. ”
“Dir, saat ini aku ingin punya pasangan dengan tujuan
yang sama yaitu serius bukan tentang pacar.”
“Aku sangat mendukungmu! Jika kamu menemukannya,
kenalkan padaku. Biar aku bisikan kalau kamu adalah perempuan baik.”
“Tidak perlu, dia akan tau sendiri bagaimana
sikapku karena belum tentu penilaian orang sama.”
“Iya Ra, aku salah satu orang yang merasakan
kebaikanmu.”
“Alhamdulillah, ada apa nih?”
“Aku hanya ingin memujimu saja. Orang yang selalu
bersikap tegar.”
“Sudahlah Dir, aku harus segera mandi.”
“Baiklah gadis lemot.”
Panggilan terputus, Tiara beranjak masuk untuk
bersiap-siap.
***
Cara Allah menyampaikan rasa sayangnya memang
sangat luar biasa. Aku tidak mengharuskan dia berada di sampingku. Dengan
melihat dia tersenyum dan tertawa, aku merasa sudah membahagiakan seseorang.
“Gama, apa yang kamu lakukan? kita sudah melewati
jalan ini.”
“Benarkah?” Gama benar-benar tidak merasa kalau
sudah melewati jalan ini sebelumnya.
“Apa kamu mengantuk?” aku sangat khawatir.
“Tidak, aku masih terjaga. Apa ada tempat yang
ingin kamu kunjungi?”
“Aku jarang keluar rumah, tidak tau jalan apalagi
tempat nongkrong.” aku hanya bisa tertawa kaku. Jangan tanya padaku
tentang tempat karena aku tifikal orang yang senang menghabiskan waktu dirumah.
“Kita seperti orang yang tersesat di kota sendiri.
Mungkin kamu pikir tingkahku sangat aneh.” Tanyanya. Dia menghentikan motor di
pinggir jalan.
“Aku pikir kamu mengajak jalan karena sudah
menentukan tempat.”
“Ra, aku terlalu terburu-buru mengajakmu pergi saat
tau hari ini kamu ada waktu luang.”
“Santai saja! Aku malah mengkhawatirkan keadaanmu.
Kamu butuh istirahat karena baru saja pulang kerja.”
“Tidak masalah, aku baik-baik saja. Aku hanya tidak
tahu kemana tujuan kita.”
“Kita tidak perlu mencari tempat yang jauh. Berada
disini saja aku sudah senang, apalagi melihat pemandangan kota di malam hari.
Yang penting kita punya waktu untuk mengobrol.”
”Ini pertama kali kita jalan bersama. Aku sangat
gugup sampai lupa harus berhenti. Aku ingin terus memutari jalan yang sama,
tidak bosan asalkan bersamamu.” Gama tersenyum membuat jantungku berdegup
kencang.
“Jangan berbicara seperti itu nanti ada yang salah
tingkah!”
Gama tertawa. “Ra, aku senang meskipun tanpa
persiapan. Setidaknya aku bisa mengatakan apa yang ingin aku sampaikan secara
langsung.” Aku tidak mampu berbicara.
“Jangan melamun! kita istirahat sebentar disini
tidak masalah kan?”
“Iya tidak apa-apa.” Aku mengikuti Gama duduk di
tepi jalan tidak jauh dari Masjid Agung, dekat taman kota.
Setelah mengobrol beberapa menit, Gama
meninggalkanku sendiri. Setelah itu, dia datang membawa es krim.
“Gam, kamu lucu sekali saat makan es krim.”
wajahnya memerah, aku jadi serba salah.
“Kamu pasti mendengar kabar di kampus kalau aku ini
playboy, Ra. Bagaimana pendapat kamu ketika mendengarnya?”
“Aku tidak pernah berkomentar. Bukan tutup telinga
atau membelamu, tetapi aku tidak suka orang menilai tanpa berkaca pada dirinya
sendiri. Setiap manusia berhak menjalani kehidupan sesuai pilihan. Dan
harus terima resiko yang dia dapat dari pilihan itu, bisa saja baik atau
sebaliknya. Baik juga belum tentu orang suka. Namun setidaknya kamu berguna.
Lain jika kamu menjalani kehidupan yang buruk, hidupmu hanya akan dibalut
penyesalan.” sekilas aku melihat Gama tersenyum simpul, lalu
wajahnya serius.
“Benar Ra, sebelumnya aku mau minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Aku tau kamu pernah didatangi beberapa perempuan
yang dekat denganku. Mereka yang tidak paham kalau kamu sahabatku, sehingga
menjadikamu sasaran kemarahan.”
“Kamu tidak perlu khawatir. Pertama kali di marahi
pacarmu waktu SMA, menjadikanku terbiasa. Aku tidak heran kamu bisa dekat
dengan banyak perempuan. Kamu punya daya tarik sendiri.” Aku mengatakan
apa yang terlintas dikepalaku.
“Keberanianku untuk menggoda jika dibandingkan es
krim juga lebih cepat meleleh.” kami tertawa.
Aku sedikit ragu, memang dia terlihat cuek namun
selama kami duduk ada beberapa perempuan tidak lepas memperhatikan. Namun Gama
mengalihkan pandangan dengan fokus berbicara padaku.
“Kita harus segera pergi ke tempat yang spesial
untuk perempuan.” ajaknya.
“Baiklah, aku ikut.” Aku mengikutinya dengan penuh
semangat.
Kami masuk toko, disana lebih banyak pernak-pernik
yang berhubungan dengan perempuan.
“Apa tidak salah kita datang ke tempat ini?”
“Tidak. Memang kenapa?”
“Jangan bilang kamu mau mengenakan aksesories.”
“Maksudmu mengenakan ini?” Gama memakai bando
berbentuk telinga kelinci, menirukan gaya imut. Seketika kami tertawa.
“Pakailah sampai kita pulang!” pintaku.
“Aku tidak akan melakukannya meskipun kamu
merengek. Ini untukmu saja, pasti lucu jika kamu yang pakai.”
“Ini tidak akan cocok. Aku tidak percaya
diri.”
“Kamu harus percaya diri! Kamu istimewa, siapa yang
akan meyakini kelebihan maupun kekuranganmu jika bukan kamu sendiri.”
“Akan aku coba.” Gama memakaikan bando itu
dikepalaku.
Kami berkeliling di toko, membuat kegaduhan,
mencoba berbagai barang. Setelah itu, Gama menarik tanganku pada rak boneka.
“Lihatlah boneka itu! Apa kamu suka?”
”Lucu sekali, warnanya bagus, bulunya sangat
lembut.”
Tanpa diduga, Gama memesan boneka
itu. “Simpanlah! Aku memberi boneka ini tanpa maksud apa-apa. Aku tidak
mau kamu berpikir ini jaminan agar kita bersama. Ini milikmu, tidak ada sangkut
paut denganku!”
“Terimakasih Gama.”
Perjalanan singkat yang berkesan.
***
Tiara menutup diary. Gama adalah lelaki baik tetapi
hubungan mereka tidak lebih dari sahabat. Tiara menghempaskan badan di atas
tempat tidur. Ada panggilan masuk diponsel.
“Lemot?” suaranya pelan.
“Iya, ceritakan saja!” Tiara sudah paham mood Dirga
seperti apa.
“Aku tidak ada masalah. Gimana jadi jalan?” Dirga
mengalihkan pembicaraan. Namun Tiara tetap tidak bisa mengacuhkan perasaan
Dirga.
“Bohong, ceritakan ada apa? Aku baru sampai rumah
15 menit yang lalu.”
“Kamu jika tidak dihubungi duluan, tenggelam tanpa
kabar. Apa kamu lihat status hubunganku?”
“Seharian aku tidak membuka media sosial. Apa yang
terjadi?”
“Dia mengganti status hubungan.”
“Tenangkan hatimu! seseorang yang mencintai memang
harus lebih sabar. Bahkan pengorbanan mereka jauh lebih besar untuk
mempertahankan.”
“Aku menyerah. Lemot, tolong konfirmasi hubungan
kita!”
“Kenapa harus aku? Nanti aku di labrak, bagaimana?”
“Kejauhan mau melabrak juga. Tenang, nanti aku
membelamu! Memanas-manasi dia, mau?”
“Dasar, apa tidak takut kalian putus?”
“Sudah putus. Harapan aku cuma kamu. Gimana? Lemot
sayang sama oon kan?”
“Iya, kalau kamu sudah memelas jadi tidak tega.
Hubungan ini cuma pura-pura kan?”
“Sebentar aku ganti status pasangan. Konfirmasi
hubungan kita!”
“Iya, tenang!”
“Cepat konfirmasi lemot!”
“Sudah bawel.”
“Ingat kita jadian tanggal 11!”
***
Tidak ada yang berubah dengan persahabatanku,
status palsu hubunganku dan Dirga hanya kak Juna dan Teh Giska yang tahu. Demi
sahabat, aku pasrah di bully Avril, mantan Dirga. Beruntung jarak kita jauh,
jadi pertengkaran yang terjadi hanya omong kosong. Aku sudah terbiasa
menghadapi makian. Dirga dan teman-temannya yang tidak aku kenal justru membelaku.
Gara-gara status baru itu, Noval berpikir dugaannya
selama ini benar. Dia berhak menilai. Aku seakan siap dengan resiko didepan
karena ini keputusan yang telah aku ambil.
“Lemot, jangan cuek begitu! Dasar si hati
dingin. Apa kamu tidak takut di kutuk?”
“Tidak, kutukan itu berlaku hanya untuk anak yang
nakal.”
“Jangan keseringan buka media sosial, belajar
sana!”
“Justru aku sedang belajar lewat ponsel.”
“Kamu yang rugi kalau tidak patuh, belajar itu
untuk kebaikanmu.”
“Iya, aku tahu. Maksudku aku sedang diskusi dengan
teman melalui chat.”
“Oh begitu penjelasannya. Ra, kalau saja kamu ada
disini. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”
“Memangnya kamu mau kemana?”
“Hari ini aku dan teman-teman akan bakar ikan di
pinggir pantai. Rencana sedikit tertunda karena menunggu hujan reda.”
“Menyenangkan sekali kalau bisa ikut. Sayangnya,
kampung halamanmu bukan tempat yang bisa aku tempuh dalam waktu 5 menit.”
“Suatu hari aku akan menjemputmu. Kita wisata
kuliner sepuasnya.”
“Dalam pikiranmu hanya makanan. Gendut baru tahu
rasa.”
“Tenang saja! Badanku tidak berubah, wajahku juga
tetap tampan.”
“Ya tuan Dirga, aku sangat mengerti ucapanmu.”
“Bisakah kamu memujiku sekali saja? Apa salahnya
membuat hati orang senang. Harusnya kamu akui kalau aku memang tampan.”
“Aku akan katakan itu lewat mimpi.”
“Dasar Lemot.”
***
Aku pernah merasakan suka. Namun ketika rasa suka
itu berbanding sama dengan rasa sakit. Aku memutuskan untuk tidak menjalin
hubungan, sebelum benar-benar siap.
Allah, Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku
menghadapinya? Semoga keputusan yang aku ambil adalah jalan yang Engkau ridhoi.
Sama seperti sebelumnya, aku tidak akan menyesal.
Malam ini, seseorang menelepon Tiara untuk
menyanyikan sebuah lagu.
”Maaf jika permainan gitarku kurang bagus. Yang
penting isi lagu ini tersampaikan.”
This is
how I feel
Whenever
I’m with you
Everything
is all about you
Too
good to be true
Somehow
I just can’t believe
You can
lay your eyes on me
If this
is a fairytale
I wish
it wil end happily
Even
now we are apart
I can
feel you here next to me
Here
and now I will love
Stay
with me
Let me
love you
With
all my heart
You are
the one for me
You are
the light in my soul
Let me
hold you
With my
arm
I wanna
feel love again
I wanna
feel love again
I wanna
feel love again
And I
know
Love is
you
“Apa kamu masih mendengarku?” memastikan Tiara
masih diujung telepon.
“Iya.”
“Jawaban yang singkat. Aku berharap kata yang sama
terucap untuk membalas perasaanku.”
“Aku tidak bisa. Maafkan aku Dirga!” Tiara
berucap tanpa berpikir panjang.
“Selama kita saling mengenal, kamu memang tidak
mudah di dapatkan. Apa kenyamanan bersamaku sebagai sahabat tidak akan berubah?”
“Kamu tetap sahabat terbaikku.”
“Sedih ketika mendengar penolakanmu tetapi aku lega
sudah tau jawabannya.” Dirga tertawa mencairkan suasana.
“Aku menghargai usahamu. Aku pernah berkata
menyukai sikapmu tetapi hanya sebatas itu.”
“Aku pikir kita punya perasaan yang sama, ternyata
keliru. Namun mengenalmu sejak lama, membuatku sangat bahagia. Ra, kebanyakan
perempuan menyukai hal romantis tetapi kamu sebaliknya.”
“Aku wanita biasa yang ingin perlakuan berbeda.
Bisakah seorang lelaki menunjukan ketertarikan dengan tindakkan yang lebih
tulus?”
“Bagaimana dengan lamaran?”
“Ide yang bagus jika langsung melamar, mungkin akan
jadi pengalaman menarik.”
“Iya, namun aku belum sesiap itu. Aku hanya bisa
berjanji tidak akan membiarkanmu sendiri. Namun bagaimana jika aku
melanggarnya?”
“Kebersamaan ada batasnya. Manusia tidak bisa
menjeda waktu.”
“Bagaimana jika berjanji mencintai selamanya?”
“Katakan saja saat kamu sudah siap dan menemukan
orang yang tepat. Saat waktunya tiba, ucapkanlah dengan sungguh-sungguh! Jangan
pernah menyakiti perasaan tulus seseorang!”
“Kamu adalah perempuan yang tegar, namun nyatanya
rapuh. Tidak ada yang tahu kesedihanmu karena kamu tidak tunjukan.
Jangan pergi dari hidupku!”
“Sudah jangan baper gitu, Dir. Kamu sahabatku.”
“Iya tau.”
Mereka kembali bersahabat, Dirga menerima keputusan
Tiara. Saling bertukar pikiran adalah salah satu obat pelipur lara. Mereka
berusaha bersifat seperti tidak terjadi apa-apa. Meskipun Dirga kadang tidak
sengaja mengungkapkan perasaan tetapi tidak ada yang membahas lebih jauh.
***
Tiara baru tiba di kamar setelah seharian sibuk
dikampus dan mengerjakan tugas dikosan teman. Dia melihat tanda lingkaran pada
kalender di atas meja. Dia ingat tanggal ini spesial. Dia segera menelepon
seseorang.
“Happy anniversary status palsu hubungan kita.”
“Happy anniversary juga lemotku. Tidak terasa
hubungan kita sudah satu tahun.”
“Iya, harusnya kita mendapat penghargaan karena
berakting sangat baik.”
“Aku merasa dapat penghargaan karena tidak pernah
mempunyai masalah dengan hubungan kita.”
“Apa kamu sibuk? Aku mau minta bantuan membuat
puisi. Bisakah kamu kerjakan?”
“Apa tidak salah anak komputer mengerjakan tugas anak
sastra.”
“Anggap saja pengalaman merasakan berat menjadi
sastrawan.”
“Bukannya kamu sering membuat puisi?”
“Imajinasiku sedang tidak jalan.”
“Tidak percaya, biasanya paling bisa. Tumben
sekali anak rajin berubah drastis. Seorang pemalas tidak akan naik kelas loh.”
“Aku sedang mengerjakan tiga cerpen yang harus
dikumpulkan secepatnya. Tolong bantu aku!”
“Akan aku usahakan.”
“Terimakasih. Jangan copypaste punya orang lain!”
“Iya kalau tidak kuat, aku akan lambaikan tangan ke
kamera.”
“Aku yakin kamu pasti bisa! Pokoknya kamu yang
terbaik.”
“Ya ampun, aku baru saja mendengar pujian. Apa
kamu galau jadi malas mengerjakan tugas?”
“Tidak. Bagaimana kuliahmu?”
“Hari ini libur, aku masih menempel di kasur.”
“Sebutan pemalas itu cocoknya buat orang yang masih
santai di siang hari.”
“Dasar Lemot, tidak mau kalah.” Sepeti
itulah Dirga yang ku kenal, tidak pernah membuatku bosan.
***
Selama 2 bulan ini dia lebih banyak menceritakan
seorang yang dia suka di media sosial. Dia tidak berbicara padaku tentang
perempuan itu, aku tidak berani menanyakan.
“Lemot? Aku mau meminta solusi, boleh?”
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Membedakan arti kedekatan perempuan sama kita,
gimana? misalnya yang suka dan dekat biasa.”
“Biasanya kalau perempuan yang suka ketika kamu
mendekat, dia akan merespon dengan baik supaya kamu tertarik. Sebaliknya
perempuan yang mengganggap teman, akan menghindari kamu menyatakan perasaan.”
“Masalahnya kita hanya bertemu selintas. Kalau
ditelepon, dia seperti memberi lampu hijau. Aku takut salah sangka, nanti malu
sendiri. Aku harus bagaimana?”
“Tanpa bertemu, kita tidak melihat ekspresi atau
tingkahnya bagaimana. Coba langsung pendekatan!”
“Orang yang jatuh cinta mendadak bego. Ingin
mengatakan sesuatu tetapi takut salah paham. Aku tahu alamat rumah dia tetapi
tidak berani mendatangi.”
“Jika kamu diam, itu salah besar. Kebanyakan
perempuan tidak berani mengungkapkan perasaan duluan.”
“Aku sedang tidak percaya diri.”
“Dir, sikap baik, ramah dan penyayangmu padaku
sebagai sahabat telah berhasil membuatku bertahan di sekitarmu. Jika kamu
lakukan pada hubungan nanti, aku rasa kalian tidak akan punya masalah yang
berat. Asalkan kamu jangan egois lagi!”
“Aku ingin lebih baik dalam membina hubungan.”
“Jadikan dia niat kamu menjadi lebih baik!
Selebihnya Allah pasti mengatur rencanamu. Perlakukan perempuan yang kamu suka
melebihi kasih sayangmu padaku. Semua perempuan pasti bahagia.”
“Jujur! Apa kamu pernah menyukaiku?”
“Suka dapat perlakuan baik dari sahabatnya.”
“Kamu memang penuh teka-teki, mengenalmu bukan
jaminan mengetahui rahasiamu. Kamu tahu perasaanku. Mungkin rasa ini akan
hilang jika aku menyukai oranglain, biasanya seperti itu. Aku akan menjadi
orang jahat jika masih menyukaimu dibanding pacarku.”
“Iya, aku mengerti. Lagi pula tidak baik menyukai
banyak perempuan. Hapuslah perasaanmu padaku!”
“Rasa kagum padamu yang tidak akan hilang. Sikap
seperti kamu yang aku sukai. Kamu itu cuek dan kurang peka. Namun aku merasakan
perjuangan yang berkesan meskipun harus berakhir menjadi sahabat.”
“Adakah sisi baik dari seorang Tiara?”
“Ada, kamu periang, baik, lucu, pokoknya di
ajak mengobrol apa saja tidak bosan. Aku jadi tidak berhenti cerita. Maaf jika
kamu terganggu!”
“Aku tidak terganggu. Ketika kamu cerita banyak
hal, rasanya seperti pembelajaran untukku.”
“Aku ingin memiliki pacar yang mampu mendengar
keluh kesahku.”
“Tidak semua orang jadi pendengar. Jangan paksakan
pacarmu mengikuti keinginan! Bukankah lebih baik dia menunjukan diri apa
adanya.”
“Iya lemot, aku akan mengingat ini! Kamu yang
terbaik, meskipun gadis pertama yang mematahkan hati.”
“Apa yang kamu lihat tidak sepenuhnya benar, aku
juga punya sikap negatif. Siapa tahu perempuan yang kamu taksir jauh lebih
baik.”
“Aamiin. Sebenarnya aku sering minder karena kamu
cuek, tidak pernah mengirim kabar duluan. Padahal aku berharap mendapat kabar.”
“Ternyata kamu memang mengidolakanku. Aku akan
menganggapmu fans sejati.”
“Iya anggap saja begitu. Hanya saja harapanku untuk
memilikimu sepertinya harus berhenti disini. Kenapa kamu ditakdirkan jadi
sahabat terbaik? Kenapa kamu menyenangkan? Kenapa kamu mendengar keluh kesah
tanpa bosan? Aku jadi tidak bisa menjauh. Kenapa kamu bertahan jadi sahabat
tanpa tergoyahkan sedikitpun untuk menjadi milikku? padahal aku selalu memberi
kesempatan. Kenapa kita harus terpisahkan?”
Allah, air mata ini menetes. Aku telah berkata
jujur pada seseorang, lega sekali. Dia, seseorang yang mengajarkanku banyak
hal. Segala sesuatu yang aku punya saat ini adalah titipan dariMU. Aku akan
terus menjaga sikap.
***
Tiara mendukung Dirga supaya berani mengutarakan
perasaan pada perempuan yang disuka. Tanggal 1 Februari, Tiara membuka
jejaring sosial dilaptop, mengklik 92 pemberitahuan. Dia membaca semua komentar
yang tertuang pada satu pembaharuan, status hubungan. Dirga ternyata sudah
mengganti hubungan mereka tanpa memberitahu.
Tiara membaca semua komentar tentang kandasnya
hubungan Lemon (Lemot dan Oon). Tanpa tanggapan dari Tiara atau Dirga. Bahkan
Dirga tidak menghubunginya.
Seperti itulah lelaki. Dia menyatakan suka pada
perempuan tetapi dia akan lupa sekejap saat menyukai perempuan lain. Kita
masih dalam zona sahabat, Dir. Apa ada yang salah sehingga aku harus dijauhi?
Ya, kamu memang punya pacar, kenapa aku merasa dicampakan? Apa aku merusak
kebahagianmu? Apa kamu lupa kita saling kenal?
Tiara semakin menjaga jarak dari Dirga. Apalagi
setelah tahu antara Dirga atau pacarnya telah menghapus pertemanan di aplikasi
chat.
“Aku bukan orang yang akan mencari masalah dengan
siapa-siapa, aku menerima perlakuanmu.” Tiara merasa jengkel.
Tiara tidak ada jadwal kuliah. Dia duduk di depan
televisi tanpa tujuan untuk menonton. Tangan mengganti chanel tanpa henti. Teh
Giska memperhatikan dari arah dapur, mengerti adiknya tidak ingin diganggu.
Tiara menghentikan gerak tangan saat ada panggilan di ponsel.
“Lemot apa kabar? Si mantan tidak pernah
menyapa. Sombong sekali.”
“Siapa? mantan siapa? memaksa seseorang untuk
menyapa, tidak baik.” Jawab Tiara ketus.
“Tidak apa-apa kalau tidak mau mengaku. Mungkin
selama ini hanya aku yang menganggap status kita nyata.”
“Oh, aku memilih tidak mau tau.” Mendengar jawaban
itu Dirga menarik nafas.
“Apa kamu sibuk? Sesibuk apapun, silaturahmi
harus tetap jalan.”
“Aku tidak punya waktu mengetik pesan dan melakukan
panggilan pada seseorang.” jawab Tiara kesal.
“Jangan kebanyakan menghindar! mirip sopir bajai.”
“Nanti aku menyapa, mau sehari tiga kali.”
“Itu minum obat. Aku benar-benar menunggumu. Apa
kamu malu Lemot?”
“Kenapa harus malu?”
“Wajahmu kelihatan merah merona, pertanda malu apa
marah? Jangan mencari alasan!”
“Jika sekarang kamu ada dihadapanku. Pilihanku
adalah menendangmu sekuat tenaga.”
“Apa kamu ada masalah denganku?”
“Tidak ada.”
“Bohong! apa aku perlu menjitakmu?”
“Jitak saja! Maka bibirku akan berkata jujur bahwa
aku merindukan sahabatku.”
“Apa kamu serius mengatakannya?”
“Lupakan! Aku rasa lidahku sedang tidak
bersahabat.”
“Kenapa? Haruskah aku melepaskan panah asmara dewa
amor ke hatimu?” Dirga tertawa jahil.
“Lakukan saja! Aku sudah kebal sama panah, seperti
mati rasa.”
“Lemot, aku memberanikan diri menghubungimu.
Semakin mendekatimu, aku akan kembali pada perasaan nyaman. Jika kita terus
bersama semakin sulit untuk menampiknya. Adakah cara untuk bersikap seperti
tidak terjadi apa-apa?”
“Dir, apa kamu menyuruhku pergi? Jika itu maumu,
aku akan menjauh. Jangan mencari jika kamu merasa kehilangan! Aku tidak ingin
dibutuhkan ketika ada masalah saja. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.
Akan semakin sakit saat membaca pesan dan menerima panggilanmu. Oleh karena
itu, pergilah, jangan kembali!” Dengan nada yang tinggi dan kekecewaan yang
tidak bisa dibendung lagi.
“Maaf.” Ucap Dirga. Tiara segera mematikan
sambungan, menangis.
***
Entah kenapa aku sulit melupakan. Acara pernikahan
ini terasa biasa. Aku duduk sendiri. Mengacuhkan orang disekitar, bahkan tidak
bertegur sapa dengan orang yang aku kenal. Aku menjauh dari Teh Giska dan kak
Juna. Banyak orang datang bersama pasangan, berbeda denganku. Aku ingin
Dirga menemani di sini, menguatkan.
Melihat acara sakral yang dilakukan seseorang,
siapa lagi kalau bukan Noval. Dia mengikat janji pernikahan dengan seorang
perempuan, bukan aku.
Ibu Noval memeluk erat, air matanya menetes. Apa
aku terlihat menyedihkan? tersenyum adalah usaha terbaik ketika mendapat bagian
bersalaman dengan Noval dan istrinya di pelaminan. Mungkin jika aku dan Noval
tidak egois. Hari ini aku yang berada di sampingnya tetapi aku yakin harus
bangkit.
Saat aku kembali duduk, tanpa sadar sudut mata
berair. Tiba-tiba aku merasa berada di tempat sunyi. Aku pergi meninggalkan
gedung tanpa berpamitan. Semua akan lebih baik.
Terima kasih
Ini ceritaku... Dilarang copypaste!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar