Hidup tidak
hanya menyuguhkan kenangan yang ingin disimpan. Ada luka yang tetap tinggal,
meski waktu terus berjalan.
“Ada saatnya seseorang berbicara melalui
raut wajah, bukan melalui kata-kata.”
Tiara menuliskan kalimat itu di halaman
pertama diarinya. Ujung penanya berhenti sesaat, seolah mencari keberanian
untuk melanjutkan. Sudah lama ia meninggalkan kebiasaan menulis. Bahkan, ia
lupa kapan terakhir kali membuka buku harian itu.
Kini, ia hanya ingin memberi ruang bagi semua perasaan yang selama ini memilih diam.
Kita tidak pernah benar-benar bisa hidup
sendiri. Pada akhirnya, kita selalu membutuhkan seseorang. Sebab, bersama
merekalah kehidupan dimulai.
Bip... Bip... Bip... Suara dering ponsel memecah keheningan
pagi.
Dengan mata yang masih berat, Tiara meraba
meja di samping tempat tidur hingga jemarinya menemukan ponsel.
“Jam tujuh pagi?” gumamnya sambil
mengerutkan dahi. “Astaga... ini hari Minggu. Memangnya tidak ada orang lain
selain dia?”
Ia menggeser ikon jawab. Belum sempat
menarik napas untuk mengomel, suara nyaring lebih dulu memenuhi telinganya.
“Bangun, Lemot! Kamu masih tidur? Kasihan
banget rezekimu dipatok ayam!”
Tiara langsung menjauhkan ponsel dari
telinga. “Jangan muter-muter. Langsung saja. Ada apa?”
“Galak banget. Aku kelaparan. Kak Juna
masak apa? Aku mau mampir.”
“Bawel.”
Suara Dirga sama sekali tidak berhasil
mengusir kantuknya. “Dasar bocah. Dibangunin bukan bilang terima kasih, malah
ketus.”
“Telepon lagi kalau aku sudah benar-benar
bangun.”
“Kapan?”
Tiara tidak menjawab. Ia langsung memutus
panggilan, mematikan ponselnya, lalu kembali merebahkan tubuh di atas kasur.
Hari Minggu terlalu berharga untuk
disia-siakan hanya karena melayani ocehan Dirga.
Seharian itu Tiara menghabiskan waktu di
depan laptop. Jemarinya menggantung di atas tombol Enter, ragu menekan.
“Sepertinya ada yang terlupakan.”
Ia mencoba mengingat. “Aku sudah mandi...
sudah makan... camilan juga masih banyak.”
Tatapannya kembali menyapu layar laptop. Tiara
memang terkenal teliti. Satu kata yang terasa kurang tepat saja mampu
membuatnya mengulang satu halaman penuh.
Tiba-tiba ia menepuk dahinya. “Oh Tuhan...
di mana ponselku?”
Ia langsung membongkar isi kamar. Bantal
berpindah tempat. Selimut terlempar ke lantai. Buku-buku di meja ikut berserakan.
Dalam hitungan menit, kamarnya berubah seperti kapal pecah.
“Ketemu!”
Ponsel itu ternyata terselip di bawah
tempat tidur. Begitu dinyalakan, empat pesan dari Dirga langsung memenuhi
layar.
π©
Aku sedikit terlambat
karena ada urusan dengan Lista.
π©
Lemot, aku sudah
mengambil keputusan yang menurutku paling baik.
π©
Bisakah kita bicara?
π©
Ra, kenapa ponselmu
tidak aktif?
π©
Lemot, kenapa kamu
menjengkelkan begini? Bikin aku kesal setingkat negara.
Tiara membaca semuanya tanpa perubahan ekspresi.
Kemarahan Dirga bukan lagi hal baru baginya.
Ia mengetik singkat.
π©
Kalau suasanamu sudah
membaik, nanti sore aku tunggu di rumah.
Setelah mengirim pesan itu, ia kembali
menatap layar laptop. Namun pikirannya tidak lagi berada di sana.
Kadang, setelah marah, seseorang hanya
perlu diperlakukan seperti biasa. Tidak semua kesalahan harus terus diungkit. Ada
saatnya kita belajar melihat diri sendiri, memperbaiki yang salah, lalu
melanjutkan hidup tanpa sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
“Ara, Dirga menunggumu di bawah.” Suara Kak
Juna terdengar dari lantai satu.
“Iya, Kak. Sebentar.” Tiara menuruni tangga
dengan langkah santai.
Begitu memasuki ruang makan, matanya
langsung tertuju pada piring kosong di atas meja.
“Enak, ya? Datang ke sini langsung makan.”
Dirga mengusap perut sambil tersenyum puas.
“Hatiku memang lagi kosong, Ra. Tapi perutku jangan sampai ikut kosong.”
Tiara mengembuskan napas panjang. “Kalimat
itu sudah terlalu sering kudengar.” Ia menggeleng pelan. “Yah... semarah apa
pun aku, makananku juga tidak akan kembali.”
Dirga terkekeh. “Nah, akhirnya kamu sadar.”
Tiara mendelik sebelum menarik kursi di
hadapannya. Dirga masih tersenyum, tetapi senyum itu perlahan memudar.
“Lista bilang aku sulit dimengerti.” Ia
menarik napas pelan. “Katanya komunikasi kami sudah tidak sejalan.”
Tiara memperhatikan wajahnya.
“Apa aku berubah? Rasanya aku masih Dirga
yang sama. Ganteng, baik, dan... ya... cukup banyak disukai perempuan.”
“Terlalu percaya diri.” Tiara mendecak. “Mungkin
memang kamu yang salah.”
Dirga tertawa kecil. “Ra, laki-laki sering
bersikap protektif karena sayang. Kami ingin menjaga perempuan yang kami cintai
supaya tidak terluka.”
Ia mengangkat bahu. “Sayangnya, perempuan
sering menganggap itu sebagai bentuk kekangan. Kalau kami cuek, dibilang tidak
peduli. Kalau perhatian, dibilang mengatur. Serba salah.”
Tiara terdiam. “Kalau memang sayang, kenapa
kalian memilih putus?”
Dirga menyandarkan tubuh ke kursi. “Karena
hati tidak bisa dipaksa. Bertahan hanya akan menyakiti kalau salah satu sudah
tidak nyaman.”
Ia tersenyum tipis. “Kalau memang bukan
jodoh, sekeras apa pun aku mempertahankan, hasilnya tetap sama.”
Ia menatap langit-langit rumah. “Kalau
memang Tuhan menakdirkan kami bersama, jalannya pasti akan terbuka. Tugasku
sekarang hanya berdoa, memperbaiki diri, dan melanjutkan hidup.”
Tiara terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan
bantahan. Di balik sikap santai Dirga, selalu ada cara berpikir yang membuatnya
belajar melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.
“Apa di depanku kamu cuma berpura-pura
tegar?”
Dirga tertawa pelan. “Ra... aku memang
tegar.”
Tiara mengangkat sebelah alis. “Aku tidak
yakin. Sedikit pun kamu tidak menyesal?”
Dirga memandang gelas di depannya. “Menyesal
hanya akan menyiksa diri. Kalau aku terus menangisi perpisahan ini, sementara
dia sudah bahagia, bukankah yang rugi cuma aku?”
Ia tersenyum kecil. “Karena itu aku memilih
menerima. Tanpa dendam. Tanpa kebencian. Membenci hanya membuat hati semakin
kotor.”
Ia mengembuskan napas panjang. “Lagipula...
aku memang belum siap menjalani hubungan jarak jauh.”
Tiara mengangguk pelan. “Memang tidak
mudah.”
Dirga menoleh ke arah tangga. “Kak Juna
masih kerja?”
“Iya.”
“Kalau begitu nanti malam aku menginap di
sini. Besok pagi sudah harus pulang.”
Tiara spontan mengernyit. “Jangan bicara
seolah kita tidak akan bertemu lagi.”
Ia menatap Dirga kesal. “Apa kamu pulang
supaya bisa melupakanku?”
Dirga tertawa. “Tentu saja tidak.”
Ia mengacak pelan rambut Tiara. “Mana
mungkin aku melupakan gadis paling bawel dan lemot yang pernah kukenal.”
Setelah mengucapkan itu, Dirga melangkah
pergi. Tiara tetap berdiri di depan meja makan. Tatapannya mengikuti punggung
lelaki itu hingga menghilang dari pandangan. Entah mengapa, untuk sesaat, ia merasa
akan kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia sadari keberadaannya.
***
Melelahkan rasanya bertahan bersama
seseorang yang tidak pernah memahami arti kenyamanan.
Mendekatinya terasa seperti menyusuri jalan
gelap yang dipenuhi ketakutan. Menatap matanya seolah berhadapan dengan seekor
serigala yang siap menerkam. Setiap ucapannya menggelegar seperti petir—penuh
nada menghakimi, menyudutkan, dan memaki. Lalu, di manakah letak kasih sayang
itu?
Tiara berdiri di balkon sambil menatap
langit malam yang diselimuti awan kelabu. Keheningan selalu berhasil
menyeretnya masuk ke dalam pikiran-pikiran yang selama ini ia pendam. Sejak
dulu, balkon menjadi tempat paling nyaman baginya ketika ingin menenangkan
diri.
Alunan lagu Coldplay mengisi malam. Di
layar ponselnya muncul sebuah nama yang sudah sangat dikenalnya.
Noval Ardiaga.
Nama yang terdengar berwibawa. Sayangnya,
kesan itu jauh berbeda dengan sifat pemiliknya. Noval keras kepala, mudah
marah, pencemburu, dan terlalu mudah curiga terhadap siapa pun yang dekat
dengan Tiara.
“Tiara! Lagi apa? Turun.” Suara Noval
terdengar dari halaman.
Tiara mencondongkan tubuh ke pagar balkon. “Sebentar.”
Ia segera menuruni tangga. Namun senyumnya
menghilang begitu melihat raut wajah Noval. Rahang lelaki itu mengeras. Kedua
tangannya mengepal sebelum akhirnya dimasukkan ke saku celana.
“Bagaimana reaksi Dirga setelah putus
dengan Lista?”
Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan
tentang kabarnya. Hanya pertanyaan itu.
Tiara mengernyit. “Dari mana kamu tahu?”
“Jawab saja.” Nada suara Noval terdengar
dingin.
“Mereka putus karena tidak siap menjalani
hubungan jarak jauh. Besok Dirga pulang.”
Noval mendengus pelan. “Syukurlah.”
Tiara menatapnya. “Maksudmu?”
“Lebih baik dia pergi dan tidak usah
kembali.” Dadanya terasa sesak. “Kamu masih membencinya?”
“Aku tidak pernah menyukainya.”
“Tapi dia selalu bersikap baik kepadamu.”
Noval tertawa sinis. “Kamu membelanya?”
“Aku sedang membela kebenaran.”
Kalimat itu membuat rahang Noval semakin
mengeras. “Aku tahu kenapa kamu begitu tenang.”
Tatapannya menusuk. “Kamu senang mereka
putus.”
Tiara memejamkan mata sejenak. “Noval...”
“Kamu berharap Dirga akhirnya memilihmu.”
Tiara membuka mata perlahan. “Apa susahnya
mempercayaiku sekali saja?”
“Percaya?” Noval tertawa hambar. “Siapa pun
yang melihat kalian pasti mengira kalian berpacaran. Kalian jauh lebih sering
bersama daripada kamu bersamaku.”
Tiara menghela napas panjang. “Lalu? Selama
ini... apa prasangkamu pernah terbukti?”
Noval terdiam.
“Kamu lebih memilih percaya pada omongan
orang daripada mendengar penjelasanku.”
Suara Tiara mulai melemah. “Kamu
menghukumku atas sesuatu yang bahkan tidak pernah kulakukan.”
Keheningan menggantung beberapa saat.
Noval mengusap wajahnya kasar. “Aku sudah
berkali-kali bilang supaya kamu menjaga jarak dari Dirga. Kenapa sulit sekali?”
“Karena dia temanku.”
“Teman?” Noval kembali tertawa. “Dia
menyukaimu.”
“Mungkin.” Tiara menjawab tenang. “Tapi aku
tidak pernah memberinya harapan.”
Noval menatapnya tajam. “Lalu kenapa dia
terus datang?”
“Karena dia berteman dengan keluargaku.”
“Alasan.”
“Fakta.”
“Kamu selalu punya jawaban.”
“Bukan.” Tiara menggeleng pelan. “Aku hanya
lelah menjelaskan hal yang sama berulang-ulang.”
Napas Noval mulai memburu. “Kamu berubah
sejak mengenal dia.”
“Bukan. Aku berubah sejak kamu berhenti
mempercayaiku.”
Kalimat itu membuat Noval membisu beberapa
detik. Namun egonya lebih besar daripada keinginannya untuk memahami.
“Aku tetap tidak suka.”
“Aku tahu.”
“Aku ingin kamu menjauhinya.”
“Aku tidak bisa memutuskan tali silaturahmi
hanya karena prasangkamu.”
“Itu berarti kamu memilih dia.”
Tiara tersenyum pahit. “Aku sedang memilih
menghargai diriku sendiri.”
Noval tertegun. Untuk pertama kalinya Tiara
tidak lagi meminta dimengerti. Ia hanya menyampaikan apa yang selama ini
dipendam.
“Kamu tahu apa yang paling melelahkan?” Suara
Tiara terdengar lirih. “Bukan tuduhanmu. Bukan kemarahanmu. Yang paling
melelahkan adalah...”
Ia menatap mata Noval. “...aku terus
berusaha membuktikan bahwa aku tidak bersalah kepada seseorang yang sejak awal
sudah memutuskan untuk tidak percaya.”
Noval tidak segera menjawab. Jemarinya
mengepal semakin kuat.
“Bisakah...” Tiara menarik napas pelan. “...sekali
saja kamu berbicara dengan lembut kepada perempuan?”
Tidak ada nada marah. Tidak ada air mata. Hanya
kelelahan.
“Kamu selalu membentakku setiap kali emosi.
Aku juga punya hati.”
Keheningan mendadak terasa begitu berat. Noval
membuka mulut. Namun tidak ada satu pun kata yang keluar. Tiara tersenyum
tipis. Senyum yang bukan lagi berisi harapan. Melainkan tanda bahwa ia mulai
menyerah.
Ia berbalik. Melangkah masuk ke dalam
rumah. Tanpa menunggu jawaban. Noval tetap berdiri di tempat. Tatapannya
mengikuti langkah Tiara hingga pintu rumah tertutup perlahan.
Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan
napas panjang. Rahangnya masih mengeras. Namun kali ini ia sadar... Tidak semua
pertengkaran bisa dimenangkan dengan suara yang lebih keras.
Ia menyalakan mesin motor. Suara knalpot
memecah keheningan malam. Motor itu melaju meninggalkan halaman. Sementara
Tiara masih berdiri di balik pintu. Ia memejamkan mata. Untuk pertama
kalinya... Ia tidak lagi ingin menang dalam perdebatan. Ia hanya ingin
didengarkan.
Tidak bisakah kamu memahamiku?
Aku menghormatimu. Aku mempercayaimu. Aku
tidak pernah menyembunyikan apa pun. Aku tidak ingin menjadi orang lain hanya
agar terlihat sempurna di matamu.
Namun sejak kepercayaanmu hilang, apa pun
yang kulakukan selalu tampak salah. Aku berubah menjadi perempuan paling buruk
dalam setiap penilaianmu. Aku lelah membuktikan bahwa aku tidak bersalah.
Sebab, sebaik apa pun penjelasanku, kamu
selalu menemukan alasan untuk tetap curiga. Lalu... Apa aku ini bagimu? Mengapa
setiap langkahku selalu menjadi kesalahan? Dan...
Apa aku memang pantas dimaki?
***
Cahaya lampu kamar yang redup menyelimuti sosok Tiara. Earphone menutupi
kedua telinganya. Alunan lagu rock memenuhi pendengarannya, cukup keras untuk
menenggelamkan suara-suara yang masih bergema di kepalanya.
Ia ikut bernyanyi sekeras mungkin. Bukan karena suaranya merdu,
melainkan karena hanya dengan cara itu ia bisa melupakan pertengkaran beberapa
menit yang lalu.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Kak Juna muncul di layar.
“Kenapa menelepon? Kakak di mana? Aku belum mengunci pagar.”
“Heh, bocah.” Suara Juna terdengar kesal. “Dari tadi Abangmu ini ada di
rumah. Nyanyianmu kedengaran sampai bawah. Suara kodok di kolam malah lebih
merdu. Sudah malam, berhenti konser.”
Meski sedang sedih, sudut bibir Tiara tetap terangkat. “Iya, maaf.” Ia
mengakhiri panggilan.
Di lantai bawah, Juna menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tumben anak
itu tidak membantah.”
Biasanya Tiara langsung membalas ejekan kakaknya. Namun malam ini tidak.
Ia terlalu lelah untuk berdebat.
Pandangannya beralih ke kalender kecil yang berdiri di atas meja
belajar. Jarinya berhenti pada salah satu tanggal di bulan April. Ia mengambil
spidol hitam, lalu menuliskan satu kata di atas tanggal itu.
Berduka.
Tiara memandang tulisan itu cukup lama. “April... ternyata kamu
membawa begitu banyak luka.”
Tahun lalu, kedua orang tuanya terserang demam berdarah hingga harus
dirawat di rumah sakit selama hampir dua minggu. Saat itu, ia benar-benar
dihantui ketakutan kehilangan.
Kini April datang lagi. Kesedihan kembali mengetuk, hanya saja dalam
bentuk yang berbeda. Namun kali ini, ia tidak ingin terus terpuruk. Ia percaya,
setiap luka memiliki waktunya sendiri untuk sembuh.
Tiara memang selalu memberi tanda pada tanggal-tanggal yang dianggap
penting. Bukan untuk terus mengingat kesedihan, melainkan agar suatu hari nanti
ia dapat melihat kembali sejauh mana dirinya berhasil bertahan.
Baru saja ia mengembuskan napas panjang, terdengar ketukan pelan di
balik pintu.
“Ra, boleh aku masuk?”
“Masuk saja.”
Dirga membuka pintu perlahan. Tiara duduk bersandar di sisi ranjang
dengan kedua lutut terlipat. Wajahnya nyaris tersembunyi di balik rambut
panjang yang terurai.
Dirga mengusap tengkuknya. Entah mengapa, kamar yang biasanya terasa
hangat kini dipenuhi kesunyian yang membuatnya ikut merasa canggung.
“Hei.”
Tidak ada jawaban.
Dirga ikut duduk di lantai, tepat di hadapan Tiara. “Apa yang terjadi?”
“Tidak apa-apa.” Jawabannya lirih. Ia semakin menundukkan kepala.
Dirga menghela napas pelan. “Harusnya seorang gadis sedang tersenyum
setelah bertemu pacarnya.”
Kalimat itu justru membuat Tiara tersenyum getir. “Aku ingin melupakan
semuanya.” Ia menarik napas panjang. “Aku sudah terbiasa mendengar dia
menghakimi. Sedikit saja aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai keinginannya,
kritiknya datang tanpa henti.”
“Kenapa dia bersikap begitu?”
“Entahlah.” Tiara menggeleng pelan. “Setiap kali kami bertemu, selalu
ada saja yang dipermasalahkan. Aku hanya ingin diperlakukan dengan baik.”
Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh.
“Katanya usia membuat seseorang lebih dewasa.” Ia tersenyum pahit. “Ternyata
tidak selalu begitu.”
Dirga memilih diam. Ia tahu, saat seseorang sedang menangis, yang paling
dibutuhkan bukanlah nasihat, melainkan seseorang yang bersedia mendengarkan.
“Tidak akan ada lagi semua rencana yang pernah kami susun.” Tangis Tiara
pecah. “Kenapa begitu mudah mengucapkan janji, tetapi begitu sulit menepatinya?”
Dirga menatap gadis di hadapannya dengan sorot mata penuh iba. Beberapa
saat kemudian Tiara kembali bersuara.
“Tadi Bunda menelepon.” Ia menarik napas dalam. “Beliau menyampaikan
pesan dari Noval.”
Tiara menundukkan kepala. “Noval memilih mengakhiri hubungan kami.”
Keheningan memenuhi kamar.
“Aku tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.”
Dirga tetap diam.
“Aku... menerima keputusan itu.”
Setelah memastikan tangis Tiara mulai mereda, Dirga bertanya dengan
hati-hati.
“Apa Kak Juna sudah tahu?”
Tiara mengangguk pelan.
“Kalau orang tuamu bagaimana?”
“Mereka justru orang pertama yang tahu.” Tiara mengusap sudut matanya. “Bunda
lebih dulu membicarakan masalah ini dengan mereka. Mereka sempat khawatir
melihat keadaanku, tetapi aku meyakinkan mereka kalau ini memang jalan terbaik.”
Ia tersenyum tipis. “Syukurlah... mereka mengerti.”
Dirga memandang Tiara beberapa saat. “Kamu itu selalu terlihat ceria.
Sulit menebak kalau sebenarnya kamu sedang memikul banyak beban.”
Tangannya terulur, mengusap pelan kepala Tiara. “Jangan dipendam
sendirian. Kamu juga berhak merasa lelah.”
Tiara mengangguk. “Nanti aku dan Noval akan menjalani hidup
masing-masing.”
Tatapannya kembali mengarah ke kalender kecil di atas meja. “Mungkin
suatu hari kami akan bertemu lagi.”
Ia tersenyum hambar. “Tapi sebagai dua orang asing yang pernah saling
mengenal.”
Dirga terdiam sejenak. “Perpisahan bukan berarti harus saling membenci.”
Ia menatap Tiara dengan tenang. “Kita tidak pernah tahu bagaimana rencana Allah
untuk hidup kita. Mungkin Allah menjauhkanmu darinya karena Dia ingin
melindungimu dari luka yang lebih dalam.”
Dirga berhenti sejenak. “Atau mungkin memang dia jodohmu. Hanya saja,
kalian masih sama-sama harus belajar menjadi pribadi yang lebih baik sebelum
dipertemukan kembali.”
Tiara mengembuskan napas panjang. “Dir... terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena sudah mau mendengarkan ceritaku.”
Dirga tersenyum hangat. “Sama-sama, Lemot.”
Seperti biasa, ia mengacak pelan rambut Tiara.
“Eh! Rambutku!” Tiara buru-buru merapikannya sambil mendelik.
Dirga tertawa lepas. Untuk pertama kalinya malam itu, Tiara ikut
tertawa. Bukan karena semua lukanya telah sembuh. Melainkan karena akhirnya ada
seseorang yang membuat beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.
***
Menjalani kehidupan berarti belajar menjadi tegar,
ikhlas, berlapang dada, dan tidak kehilangan semangat. Dengan menyebut nama-Mu dalam
setiap helaan napas, aku percaya bahwa kebahagiaan maupun kesedihan adalah
anugerah. Engkau tidak akan membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya.
Namun, ketika cobaan datang bertubi-tubi, bolehkah
seorang manusia menangis, berteriak, mengeluh, bahkan meratap? Ketika
orang-orang di sekeliling seakan memilih menjadi buta dan tuli, haruskah aku
meminta belas kasihan kepada mereka?
Tidak. Aku
memiliki-Mu, ya Allah. Di mana pun aku berada, Engkau selalu ada. Aku percaya,
pertolongan-Mu akan datang pada waktu yang paling tepat.
Sebulan berlalu tanpa kabar.
Dirga kembali ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama keluarga. Ia
juga melanjutkan kuliah yang sempat tertunda karena terlalu fokus bekerja.
Tiara tidak mengetahui nomor telepon barunya. Begitu pula Kak Juna.
Sore itu Tiara sedang membuka media sosial ketika sebuah pesan masuk
dari akun yang tidak dikenalnya.
π¨️
Boleh minta nomor kamu?
Tiara mengernyit.
π¨️
Untuk apa? Aku jarang membalas pesan. Apalagi kalau
lagi bad mood.
Balasan segera muncul.
π¨️
Sebagai tanda pertemanan. Tenang saja, aku cukup
ahli menghadapi orang yang sering bad mood.
Tiara terkekeh pelan. Ia memang tidak pernah memberikan nomor telepon
kepada orang yang belum benar-benar dikenalnya.
π¨️
Tidak mau.
π¨️
Ayolah. Kalau nanti aku mengganggu, tinggal blokir
saja nomorku. Gimana?
Tiara tersenyum jahil.
π¨️
Kalau begitu, kita main tebak-tebakan dulu.
π¨️
Boleh. Apa pertanyaannya?
Tiara mulai mengetik.
π¨️
Sejak bulan apa aku pertama kali menulis di blog?
Itu dua angka pertama. Tanggal berapa Kakakku, Trian Arbijuna, pertama kali
mengunggah video di YouTube? Tanggal berapa Coldplay pertama kali menggelar
konser di Indonesia? Aku punya berapa saudara? Berapa nomor rumahku? Lalu,
berapa dua angka terakhir dari hasil perkalian 2011 × 19? Kalau semua jawaban
digabung, itulah nomor teleponku.
Tiara tersenyum puas. Menurutnya, mustahil ada orang yang mampu menebak
seluruh jawaban itu.
π¨️
Kasih aku waktu.
π¨️
Baik.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan kembali muncul.
π¨️
Nomormu: ********. Benar, kan, Lemot?
Tiara membelalak.
π¨️
Dirga?
Balasan berikutnya datang hampir seketika.
π¨️
Maaf baru menghubungimu. Ponselku hilang saat
perjalanan pulang. Setelah itu kegiatanku padat sekali. Semoga kamu mengerti.
Tanpa sadar, senyum Tiara mengembang.
π¨️
Terima kasih sudah memberi kabar.
π¨️
Sama-sama. Kak Juna bagaimana kabarnya?
π¨️
Baik. Seminggu lagi dia akan menikah dengan Teh
Giska.
Dirga membaca balasan itu beberapa saat. Senyum tipis kembali menghiasi
wajahnya.
π¨️
Nanti sekalian kirim nomor Kak Juna, ya. Kamu masih
tinggal di sana?
π¨️
Iya. Aku baru pulang ke rumah kalau kuliah sudah
selesai.
π¨️
Jangan pindah kota dulu sebelum aku sempat
berkunjung lagi.
Tiara tersenyum kecil membaca pesan itu. Dirga memang sudah tidak lagi
datang ke rumah seperti dulu. Namun, setidaknya ia tidak pernah benar-benar
menghilang tanpa kabar.
π¨️
Apa karena nggak ada aku di sana, kamu jadi sering
galau?
Rasa percaya diri Dirga memang tidak pernah berubah.
π¨️
Kamu sering stalking media sosialku, ya?
π¨️
Bagaimana tidak? Berandaku penuh sama status galau
kamu.
Tiara terkekeh.
π¨️
Kalau begitu, kamu punya obat yang ampuh buat
menghilangkan galau?
π¨️
Ada. Minum Baygon. Gratis lagi.
Tiara spontan mendelik.
π¨️
Yang minum itu cuma orang gila.
Ia menggeleng sambil tertawa.
π¨️
Aku bisa laporkan kamu ke polisi atas tindakan KdP.
π¨️
KdP?
π¨️
Kekerasan dalam Pertemanan.
Dirga mengirim emoji tertawa.
π¨️
Lho, memang ucapanku termasuk kekerasan?
π¨️
Jelas. Kalau aku benar-benar menuruti saranmu
bagaimana?
Balasan Dirga kali ini datang sedikit lebih lama.
π¨️
Kalau sampai kamu melakukan itu, berarti kamu sudah
berhenti percaya pada rahmat dan hukum Allah. Aku bercanda, Ra. Jangan pernah
menyakiti dirimu sendiri, apa pun yang terjadi.
Tiara tersenyum tipis.
π¨️
Semakin jauh dariku, kamu semakin pintar.
π¨️
Bukannya pintar. Dari dulu memang pintar. Yang
lemot itu kamu.
π¨️
Oalah... sekarang sudah berani ya? Ternyata sikap
menyebalkanmu belum berubah, Dir.
π¨️
Aku tahu kamu lagi marah.
π¨️
Aku nggak marah.
π¨️
Kalau begitu, nanti hubungi aku lagi kalau suasana
hatimu sudah membaik.
π¨️
Baiklah.
Tiara menggeleng pelan sambil menutup laptop. Ia memasukkan buku-bukunya
ke dalam tas, lalu berdiri meninggalkan perpustakaan. Bukan karena marah kepada
Dirga. Jam istirahatnya sudah habis. Sebentar lagi kelas dimulai.
***
Aku selalu mendengarkan keluh kesah orang-orang.
Tanpa mengenal waktu, tanpa jeda. Aku tersenyum, mendengarkan, lalu memberikan
saran.
Namun, apa mereka tahu bahwa melakukan semua itu
tidak selalu mudah? Terutama ketika hatiku sendiri sedang lelah.
Lihatlah aku. Di mata mereka, aku adalah seseorang yang tegar. Seseorang yang
selalu memiliki jawaban atas setiap masalah, seolah aku begitu bijaksana
menjalani hidup. Padahal, saat diriku sendiri terjatuh ke dasar sumur, aku
memilih diam. Aku belajar bahwa untuk keluar dari sana, yang paling bisa
kuandalkan adalah diriku sendiri.
Percuma berteriak meminta pertolongan kepada semua
orang. Tidak semua orang benar-benar peduli. Hanya sedikit yang mampu menjadi
pendengar. Selebihnya, mereka hanya ingin didengar.
Ponsel Tiara bergetar. Nama Dirga muncul di layar.
“Halo, Lemot. Ke mana saja?”
“Aku lagi malas membalas chat. Telepon saja.”
Tanpa banyak bertanya, Dirga langsung menghubunginya.
“Ra...” Suara Dirga terdengar lesu. “Kamu sudah lihat statusku?”
“Sudah.” Tiara mengembuskan napas pelan. “Beberapa hari ini isi statusmu
cuma keluhan. Kamu sudah tahu perempuan itu sensitif. Bukannya mengajak baikan,
statusmu malah memperkeruh suasana.”
Dirga menghela napas panjang. “Aku sudah membujuk dia sampai mulutku
berbusa. Tetap saja nggak berhasil.”
Tiara terkekeh. “Kalau begitu, sekalian saja mulutmu dijadikan mesin
cuci.”
Dirga ikut tertawa. Namun beberapa detik kemudian, Tiara kembali
berbicara dengan nada lebih serius.
“Aku serius.”
“Iya, iya. Maaf.” Dirga menahan tawanya. “Menurutmu aku harus bagaimana?”
“Pertama, berhenti menunjukkan emosimu.”
Dirga terdiam.
“Apalagi di media sosial.” Tiara melanjutkan dengan tenang. “Masalah
hubungan bukan untuk dipertontonkan. Kalau memang masih ingin mempertahankan
hubungan itu, tunjukkan bahwa kamu bisa menjadi laki-laki yang membuatnya
merasa aman. Bukan laki-laki yang membuatnya merasa harus menang dalam setiap
pertengkaran.”
Dirga mengangguk, meski Tiara tidak dapat melihatnya.
“Kadang perempuan tidak membutuhkan seseorang yang selalu benar. Mereka
hanya ingin dipahami.”
Dirga tersenyum tipis. “Jadi ceritanya kami cinta lama bersemi kembali.”
Ia tertawa hambar. “Makanya aku sudah paham sifat dia. Dia sendiri pernah
bilang, 'Kalau aku bersikap cuek, justru aku merasa lebih santai.'
Masalahnya, waktu dia santai... aku malah merasa dilupakan.”
“Miris sekali nasibmu, Nak.” Tiara menahan tawa.
“Begitulah.” Dirga ikut terkekeh. “Anakmu ini butuh pembelaan.”
Ia kembali mengembuskan napas panjang. “Kemarin dia mengunggah foto
sedang saling menyuapi dengan seorang laki-laki.”
Tiara spontan mengangkat alis.
“Pacar mana yang tidak kesal? Coba kalau kamu yang ada di posisiku.”
“Kenapa harus aku yang jadi pemeran utama di bagian paling menyedihkan?”
Tiara menyeringai. “Aku maunya dapat adegan yang bahagia saja.”
“Semua orang juga maunya begitu.” Dirga tertawa kecil, tetapi senyumnya
segera memudar.
“Ra, kami memang menjalani hubungan jarak jauh. Walaupun cuma sekitar
satu jam perjalanan, tetap saja rasanya berbeda. Kalau dia saja tidak menjaga
sikap, bagaimana aku bisa membangun kepercayaan?”
Tiara berpikir sejenak. “Aku kira dulu kamu anti hubungan jarak jauh.”
“Dulu memang begitu.” Dirga menghela napas. “Tapi sekarang kondisinya
berbeda. Kami masih tinggal di kompleks yang sama. Hanya saja dia kuliah di
luar daerah.”
“Oh...” Tiara mengangguk pelan. “Jadi, apa yang paling membuatmu kecewa?”
Dirga mulai menghitung dengan jarinya, seolah Tiara bisa melihatnya. “Dia
selalu punya alasaan ‘Maaf, habis ini aku ada kuliah.’ ‘Aku lagi sama
teman-teman.’ ‘Nanti aku hubungi lagi.’ ‘Kita ketemu lain kali saja, aku capek.’
Ia mengembuskan napas. “Aku paham dia sibuk. Tapi meluangkan waktu
sebentar saja... apa sesulit itu?”
Tiara terdiam sesaat.
“Dir...” Suaranya melembut. “Kamu sendiri yang memilih bertahan. Kalau
memang ingin mempertahankan hubungan itu, belajarlah menerima kekurangannya.
Tidak ada manusia yang sempurna. Dan tidak ada pasangan yang akan selalu
bersikap sesuai harapan kita.”
Dirga mengusap wajahnya pelan. “Ini sudah yang kedua kalinya. Dulu kami
pernah berpisah. Aku yang datang ke rumahnya untuk memperbaiki hubungan. Aku
menunggu, memberi kesempatan, bahkan percaya ketika dia berjanji akan menjaga
sikapnya.”
Ia tersenyum pahit. “Tapi sekarang... kesalahan yang sama terulang lagi.”
“Apa kamu sudah bicara langsung dengannya? Maksudku, benar-benar
membahas masalah kalian?”
“Sudah.” Suara Dirga terdengar lelah. “Tapi setiap kali aku membahasnya,
dia langsung keras kepala. Kalau merasa bersalah pun, dia tetap tidak mau
mengakuinya.”
Tiara terdiam beberapa saat.
“Dir, hubungan jarak jauh bukan penyebab utama sebuah hubungan berakhir.”
“Lalu apa?”
“Kurangnya kepercayaan.” Tiara melanjutkan dengan tenang. “Jarak hanya
menguji. Yang menentukan hubungan itu bertahan atau tidak adalah komunikasi,
rasa saling percaya, dan kemampuan mengendalikan ego. Anggap saja semua ini
ujian. Setiap ujian pasti mengajarkan sesuatu. Mau lulus atau tidak, tergantung
bagaimana kita menghadapinya.”
Dirga menghela napas panjang. “Aku memilih menghadapinya.”
Ia terdiam sejenak sebelum kembali bertanya. “Menurutmu, apa yang harus
kulakukan supaya bisa merebut lagi hatinya?”
“Luluhkan kerasnya hati, jangan dengan sikap yang keras.” Suara Tiara
terdengar mantap. “Jangan mengulangi kesalahanmu yang dulu. Buat dia merasa
aman, bukan merasa diawasi.”
Dirga tersenyum kecil. “Aku memang memberinya kebebasan.”
“Tapi?”
“Ya... jangan kelewat batas juga.” Ia tertawa hambar. “Kalau dia
mengunggah foto seperti itu, bagaimana aku bisa tetap tenang?”
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan dari hubungan kalian?”
Dirga terdiam cukup lama.
“Aku cuma ingin ada komitmen dan tanggung jawab.”
Tiara mengangguk pelan. “Aku rasa itu bukan permintaan yang berlebihan.
Kalau begitu, sampaikan itu kepadanya.”
Dirga kembali terdiam.
“Dir... Kalau masalah ini saja membuatmu menyerah, bagaimana nanti
kalian menghadapi persoalan yang lebih besar? Temui dia. Bicarakan semuanya
dengan kepala dingin.”
Ia berhenti sejenak. “Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan membawa masalah hubungan ke media sosial.”
Dirga terkekeh pelan. “Iya, Lemot. Terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Kamu tidak kuliah?”
“Ini baru mau berangkat.”
“Belajar yang rajin. Jangan lemot di kelas.”
Tiara ikut tertawa. “Akan kuusahakan.”
Panggilan pun berakhir.
Tiara menatap laya r ponselnya beberapa detik sebelum memasukkannya ke
dalam tas. Kemudian ia melangkah menuju ruang kuliah. Senyum tipis masih
menghiasi wajahnya.
***
Sebulan berlalu.
Rumah Tiara kini terasa lebih ramai sejak kehadiran Teh Giska. Di
sela-sela waktu luangnya, kakak iparnya itu gemar membuat aneka kue. Sesekali
mereka menerima pesanan dari tetangga, sehingga dua pasang tangan pun terasa
belum cukup untuk menyelesaikan semuanya.
Pagi itu Tiara mengucek mata sambil memandangi langit di balik jendela
kamarnya. Tirai sengaja dibiarkan terbuka sejak malam.
“Alhamdulillah.”
Ia menarik napas panjang. “Langit pagi, udara yang sejuk, hujan yang
menenangkan... Semoga hari ini Allah memudahkan setiap langkahku. Semoga Allah
juga memudahkan langkah seseorang yang kelak menjadi pendamping hidupku, di
mana pun ia berada.”
Tiara menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Baru saja hendak berdiri,
ponsel di samping bantal bergetar. Layar dipenuhi pesan dari satu nama yang
sudah tidak asing lagi.
Dirga.
Belum selesai membaca semuanya, sebuah pesan baru kembali masuk.
π© Pasti belum mandi.
Tiara langsung membalas.
π© Iya, baru bangun. Begitu lihat ponsel, pesannya
banyak sekali. Kalau tidak segera kubalas, nanti dibilang artis sombong.
Balasan datang hampir seketika.
π© Pantesan sampai sini tercium aroma yang
mencurigakan. π
Tiara mendengus pelan.
π© Ya sudah, abaikan saja.
Sudut bibirnya terangkat membaca balasan berikutnya.
π© Ra, cepat mandi! Nanti aroma wangi gadis Lemot
sampai terbawa angin. Aku malah makin kangen.
Belum sempat membalas, Tiara turun ke dapur. Teh Giska sedang sibuk
menyusun kue ke dalam kotak-kotak pesanan.
“Ra, tolong pegang dus yang itu!”
“Siap, Teh.”
Tiara meletakkan ponselnya di atas meja. Beberapa menit kemudian,
layarnya kembali menyala. Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan dari Dirga.
Tiara tersenyum geli sebelum mengangkatnya.
“Lemot...” Nada suara Dirga terdengar manja, seperti anak kecil yang
sedang merajuk.
“Kunaon?” tanya Tiara sengaja meninggikan nada suaranya.
“Yah... baru ditinggal beberapa menit saja, balasnya lama sekali.”
Tiara terkekeh. “Aku lagi bantu Teh Giska. Baru ditinggal sebentar sudah
protes. Jangan-jangan kamu takut kehilangan aku?”
Ia sengaja menggoda. Di seberang sana, Dirga tertawa lepas.
“Lah, teu nyaho. Dasar Lemot, bikin emosi.” Dirga menggerutu kecil. “Dari
tadi aku mau tanya.”
“Iya, tanya saja.”
“Kalau mau mention orang di Twitter gimana?”
“Pakai tanda @, lalu ketik nama akunnya.”
“Oh... Gimana caranya nambah followers?”
Tiara menggeleng sambil tertawa. “Ya, follow dulu orang lain. Nih,
follow aku saja, @TDianti_. Nanti lihat daftar following-ku atau cari
sendiri akun yang mau kamu ikuti.”
Belum selesai, pertanyaan lain kembali muncul. “Kalau bikin status di
Twitter supaya otomatis muncul di Facebook gimana?”
Tiara mengembuskan napas panjang. “Ribet. Sini saja, kirim alamat email
sama password Twitter-mu.”
“Ulah atuh. Nanti akun Twitter baruku malah kamu bajak.”
Tiara tertawa. “Ya sudah, maunya gimana?”
“Gimana cara menghubungkannya ke Facebook?”
“Coba buka pengaturan akunnya, nanti ada pilihan untuk menghubungkan ke
Facebook.”
“Oh... bentar.”
Beberapa menit kemudian suara Dirga kembali terdengar. “Lemot. Aku sudah
coba, malah disconnect.”
Tiara mengernyit. “Apanya yang disconnect?”
“Ya... pokoknya begitu.”
Tiara menghela napas sambil tertawa kecil. “Dir, aku bukan cenayang.”
Dirga ikut tertawa. “Tugasmu hari ini selesai. Makasih, mentorku.”
“Iya, sama-sama.”
***
Hari-hari berikutnya berlalu cepat. Tiara kembali tenggelam dalam
rutinitas kuliah. Tugas demi tugas datang silih berganti hingga hampir tak ada
waktu untuk bermalas-malasan.
Begitu tugas terakhir selesai, ia segera mengambil sapu dan membersihkan
halaman rumah. Sore nanti keluarga Teh Giska akan mengadakan arisan. Kalau
sampai bermalas-malasan, Kak Juna pasti sudah menyiapkan ceramah panjang
untuknya.
Setelah selesai menyapu, Tiara bersandar di batang pohon mangga di samping
kolam ikan.
Angin siang bertiup sejuk. Gemericik air membuat kelopak matanya
perlahan terasa berat. Baru saja kantuk mulai menguasainya, ponselnya
berdering. Dirga.
“Halo, Lemot. Kamu ke mana saja?” Suara Dirga terdengar tergesa. “Pacarku
belum juga memberi kabar. Tadi dia sempat keserempet di kampus, tapi tidak
bilang apa-apa. Aku malah tahu dari orang lain.”
Tiara langsung membuka mata sepenuhnya. “Belum tentu dia sengaja
menyembunyikannya. Mungkin dia tidak ingin kamu khawatir.”
Dirga mendengus pelan.
“Itu juga bentuk perhatian, Dir. Apalagi dia tahu pacarnya gampang
panik. Mungkin dia ingin memastikan semuanya baik-baik saja dulu sebelum
bercerita.”
“Harusnya aku orang pertama yang tahu. Apa gunanya aku jadi pacarnya
kalau kabar seperti itu justru kudengar dari orang lain?” Nada suara Dirga
mulai meninggi.
Ucapan itu membuat Tiara teringat pada Noval. Prasangka, kecurigaan, dan
pertengkaran yang dulu terus berulang kembali memenuhi ingatannya.
“Dir... kadang perempuan juga butuh ruang.”
Dirga tidak langsung menjawab.
“Yang terpenting sekarang bukan kenapa dia terlambat memberi kabar,
tetapi bagaimana kamu menunjukkan kalau kamu benar-benar peduli.”
Dirga mengembuskan napas panjang. “Mungkin kamu benar.” Ia terkekeh
kecil. “Aku akan minta maaf. Sepertinya aku terlalu khawatir sampai membuatnya
tidak nyaman.”
“Itu lebih baik.”
Suasana kembali hening.
“Lemot, habis ini kamu mau ngapain?”
“Aku mau mandi. Sore ini ada acara keluarga.”
Dirga langsung menggoda. “Janji sama pacar?”
Tiara mendengus. “Pacar dari mana? Dasar penggosip. Hari ini ada arisan
keluarga Teh Giska.”
“Oalah...” Dirga tertawa kecil. “Oh ya, aku dengar Noval sudah punya
pacar lagi.”
Tiara terdiam beberapa saat.
“Iya.” Ia tersenyum tipis. “Aku ikut senang. Semoga dia benar-benar
menemukan kebahagiaannya.”
Dirga menangkap perubahan nada suara itu, tetapi memilih tidak
membahasnya.
“Kalau kamu kapan mulai membuka hati lagi?”
Tiara tersenyum kecil. “Dir, sekarang aku tidak ingin mencari pacar.
Kalau Allah mempertemukanku dengan seseorang, aku ingin hubungan itu punya
tujuan yang jelas.”
Dirga mendengarkan tanpa menyela.
“Aku ingin seseorang datang bukan sekadar membawa perasaan, tetapi juga
membawa tujuan.”
Senyum Dirga mengembang. “Aku ikut mendoakanmu. Kalau nanti kamu sudah
menemukannya, kenalkan padaku.”
“Buat apa?”
“Biar aku bilang ke dia...” Dirga berhenti sejenak. “...kalau dia sedang
bersama perempuan yang baik.”
Tiara tersenyum hangat. “Terima kasih. Tapi rasanya tidak perlu. Kalau
memang dia orang yang tepat, dia akan mengenalku lewat sikapku sendiri.
Penilaian setiap orang juga tidak selalu sama.”
“Iya, Ra.” Suara Dirga terdengar lebih pelan. “Aku termasuk orang yang
sudah merasakan itu.”
“Alhamdulillah.” Tiara terkekeh kecil. “Tumben bicara serius. Ada apa, nih?”
“Tidak ada. Aku cuma lagi ingin memuji seseorang.”
“Wah, siapa perempuan beruntung itu?”
“Kamu.”
Tiara menggeleng sambil tersenyum geli. “Jangan mulai.”
“Aku serius.” Dirga terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Selama mengenalmu, aku belum pernah melihatmu sengaja menyakiti siapa
pun. Bahkan saat kamu sendiri sedang punya masalah, kamu masih menyempatkan
diri mendengarkan keluh kesahku.”
Tiara terdiam. “Dir, orang yang terlihat kuat bukan berarti tidak pernah
lelah.”
“Aku tahu.” Jawaban Dirga terdengar tenang. “Makanya sesekali, jangan
cuma jadi tempat orang bercerita.”
“Kenapa?”
“Karena kamu juga berhak didengarkan.”
Keheningan sejenak menyelimuti percakapan mereka.
Tiara tersenyum kecil. “Sudah ya, Dir. Aku harus mandi. Nanti keburu
telat.”
Dirga tertawa. “Jangan lupa tampil cantik, gadis Lemot.”
“Aku memang sudah cantik.”
“Nah, itu baru rasa percaya diri dari Tiara yang aku kenal.”
Panggilan berakhir. Tiara memasukkan ponselnya ke saku, lalu berjalan
menuju kamar mandi. Senyum tipis masih tersisa di wajahnya. Entah mengapa,
setiap selesai berbicara dengan Dirga, hatinya selalu terasa sedikit lebih
ringan.
***
Cara Allah menunjukkan kasih sayang-Nya memang selalu luar biasa. Aku
tidak pernah memaksa seseorang untuk selalu berada di sisiku. Bagiku,
melihatnya tersenyum dan tertawa saja sudah cukup membuat hati ini merasa telah
membahagiakan seseorang.
“Gama, kamu sadar tidak? Kita sudah melewati jalan ini.”
“Benarkah?” Gama mengerutkan kening. Baru saat itu ia menyadari jalan
yang dilaluinya terasa begitu familiar.
“Kamu mengantuk?” tanyaku khawatir.
“Tidak.” Ia menggeleng pelan. “Aku masih sadar. Apa ada tempat yang
ingin kamu kunjungi?”
Aku terkekeh kecil. “Aku jarang keluar rumah. Jalan saja sering lupa,
apalagi tempat nongkrong.”
Memang begitulah diriku. Jika memiliki waktu luang, aku lebih senang
menghabiskannya di rumah daripada berkeliling kota.
Gama ikut tertawa. “Lucu juga, ya.”
Ia memperlambat laju motor, lalu menepikannya di pinggir jalan.
“Kita seperti dua orang yang tersesat di kota sendiri.” Ia menoleh kepadaku
sambil tersenyum malu. “Kamu pasti menganggap aku aneh.”
“Aku kira kamu sudah menentukan tujuan sebelum mengajakku keluar.”
Gama mengusap tengkuknya. “Ra, aku terlalu terburu-buru mengajakmu
begitu tahu hari ini kamu punya waktu luang.”
Ia tersenyum kikuk. “Aku bahkan belum sempat memikirkan mau mengajakmu
ke mana.”
Aku tertawa pelan. “Santai saja.”
Aku memandang wajahnya yang tampak lelah. “Justru aku yang khawatir.
Kamu baru pulang kerja. Harusnya sekarang istirahat.”
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
Tatapannya beralih ke jalanan yang mulai lengang. “Hanya saja... aku
benar-benar tidak tahu harus membawa kita ke mana.”
Aku memandang deretan lampu kota yang memantulkan cahaya di jalanan
basah sehabis hujan.
“Kita tidak perlu mencari tempat yang jauh. Di sini saja aku sudah
senang.”
“Benarkah?”
“Iya. Melihat pemandangan kota di malam hari sambil mengobrol sudah
lebih dari cukup.”
Gama mengembuskan napas lega. “Syukurlah.”
Ia tertawa kecil. “Ini pertama kalinya aku mengajakmu jalan.” Tatapannya
kembali tertuju kepadaku. “Aku gugup. Sampai-sampai lupa harus berhenti.”
Aku tak mampu menahan tawa. “Pantas saja dari tadi kita muter di jalan
yang sama.”
“Iya.” Ia mengangguk tanpa malu mengakuinya.
“Kalau boleh jujur...” Ia berhenti sejenak. “...aku bahkan tidak
keberatan terus memutari jalan yang sama.”
“Kenapa?”
“Asal kamu tetap ada di sampingku.”
Dadaku seketika berdebar. Aku buru-buru mengalihkan pandangan.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Kenapa?”
“Nanti ada yang salah tingkah.”
Gama tertawa pelan. “Ra, aku senang.” Ia menatapku dengan sorot mata
yang hangat. “Meskipun malam ini tidak ada persiapan apa-apa, setidaknya aku
bisa menyampaikan apa yang selama ini ingin kukatakan secara langsung.”
Aku terdiam. Entah karena malu atau gugup. Yang jelas, untuk beberapa
saat aku tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat.
“Jangan melamun.” Gama melambaikan tangan di depan wajahku. “Kita
istirahat sebentar di sini, tidak masalah, kan?”
Aku mengangguk.
Kami duduk di tepi jalan, tidak jauh dari Masjid Agung. Lampu taman
memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang masih basah setelah hujan.
Kami mengobrol tentang kuliah, pekerjaan, dan hal-hal sederhana yang membuat
waktu berlalu tanpa terasa.
Beberapa menit kemudian Gama berdiri.
“Tunggu sebentar.”
Tanpa menjelaskan apa pun, ia berjalan meninggalkanku. Tak lama kemudian
ia kembali sambil membawa dua es krim.
“Ini.” Ia menyodorkan salah satunya.
“Terima kasih.”
Kami kembali duduk berdampingan. Sesekali aku meliriknya yang sedang
menikmati es krim. Tanpa sadar aku tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Kamu lucu.”
“Hah?”
“Waktu makan es krim.”
Gama langsung menghentikan kunyahannya. Wajahnya seketika memerah. Aku
justru ikut salah tingkah.
Beberapa saat kemudian ia kembali membuka pembicaraan.
“Ra, kamu pasti pernah dengar kabar di kampus kalau aku ini playboy.”
Aku mengangguk pelan.
“Lalu... apa pendapatmu?”
Aku berpikir sejenak. “Aku tidak pernah ikut berkomentar.”
“Kenapa?”
“Bukan karena ingin membelamu. Aku hanya tidak suka menilai seseorang
dari cerita orang lain.”
Ia tetap mendengarkan.
“Semua orang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Setiap pilihan
pasti memiliki konsekuensi. Kadang hasilnya membahagiakan, kadang justru
menyakitkan.”
Aku tersenyum tipis. “Orang baik pun belum tentu disukai semua orang.
Tapi setidaknya ia hidup dengan memberi manfaat.”
Tatapan Gama tidak lepas dariku. Sudut bibirnya sempat terangkat
membentuk senyum kecil sebelum kembali serius.
“Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan.”
“Apa?”
“Aku ingin minta maaf.”
Aku mengernyit. “Untuk apa?”
“Aku tahu dulu pernah ada beberapa perempuan yang datang memarahimu.”
Ia menundukkan kepala.
“Mereka tahu kedekatan kita, tetapi tidak mengerti kalau kita hanya
bersahabat. Akhirnya kamu yang menjadi sasaran kemarahan mereka.”
“Tidak usah dipikirkan.”
“Benarkah?”
Aku terkekeh. “Iya. Kamu ingat? Waktu pertama kali dimarahi pacarmu saat
SMA, aku memang kaget. Lama-kelamaan malah terbiasa.”
Gama mengembuskan napas lega. “Maaf.”
Aku menggeleng pelan. “Aku juga tidak heran kenapa kamu mudah akrab
dengan banyak perempuan.”
“Kenapa memangnya?”
“Kamu punya daya tarik sendiri.”
Gama tertawa malu. “Kalau soal menggoda perempuan...” Ia mengangkat es
krim yang mulai mencair. “...keberanianku justru lebih cepat meleleh daripada
es krim ini.”
Aku kembali tertawa.
Selama kami berbincang, beberapa perempuan beberapa kali melirik ke
arahnya. Aku menyadarinya. Namun Gama seolah tidak peduli. Tatapannya tetap
tertuju kepadaku, seakan dunia di sekitarnya menghilang begitu saja.
Tiba-tiba ia berdiri.
“Ayo.”
“Ke mana?”
“Aku mau mengajakmu ke tempat yang disukai perempuan.”
Aku ikut berdiri. “Baiklah.”
Kami memasuki sebuah toko aksesori. Rak-raknya dipenuhi bando, gantungan
kunci, boneka, hingga berbagai hiasan lucu.
Aku tertawa kecil. “Gam, sepertinya kita salah masuk toko.”
“Memangnya kenapa?”
Aku menahan senyum. “Jangan bilang kamu mau beli aksesori buat dipakai
sendiri.”
“Begini maksudmu?” Tanpa ragu Gama mengenakan bando bertelinga kelinci
sambil memasang wajah polos.
Aku langsung tertawa lepas. “Nah, cocok!”
“Cocok?”
“Iya. Pakai saja sampai pulang.”
Gama buru-buru melepas bando itu. “Jangan.”
“Ayolah.”
“Meskipun kamu memohon, aku tetap tidak mau.”
Ia lalu menyodorkan bando itu kepadaku. “Kalau dipakai kamu pasti lebih
lucu.”
Aku menggeleng. “Aku tidak percaya diri.”
Gama menatapku beberapa saat. “Ra, kamu harus percaya diri. Kalau bukan
kamu yang menerima kelebihan dan kekuranganmu sendiri, siapa lagi?”
Aku terdiam. Perlahan aku mengangguk. Dengan hati-hati Gama memakaikan
bando itu di kepalaku.
“Bagaimana? Lucu?”
“Lebih dari itu.” Senyumnya mengembang.
Aku hanya mampu menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajah yang
mulai memanas.
Kami kembali berkeliling toko sambil mencoba berbagai aksesori. Sesekali
kami tertawa karena tingkah masing-masing. Rasanya seperti kembali menjadi anak
kecil.
Saat melewati rak boneka, langkahku terhenti.
“Lihat.” Gama menunjuk seekor boneka berwarna krem.
“Lucu sekali.” Aku mengusap bulunya perlahan. “Lembut.”
Tanpa berkata apa-apa, Gama memanggil pegawai toko. “Tolong yang ini.”
Aku menoleh kaget. “Gam...”
Ia menerima boneka itu, lalu menyerahkannya kepadaku.
“Simpan.”
“Tapi...”
“Aku memberikannya tanpa maksud apa pun.”
Ia tersenyum hangat. “Aku tidak ingin kamu merasa hadiah ini adalah cara
agar kita bersama.” Ia berhenti sejenak.
“Ini hanya hadiah. Tidak lebih.”
Aku menggenggam boneka itu erat-erat. “Terima kasih, Gama.”
Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Malam itu mungkin hanya perjalanan singkat. Namun, entah mengapa,
kenangannya terasa begitu panjang.
***
Tiara menutup buku harian itu perlahan. Senyum tipis terukir di sudut
bibirnya. Gama memang lelaki yang baik. Namun, hubungan mereka tidak pernah
lebih dari sekadar sahabat.
Ia meletakkan buku harian itu di atas meja, lalu merebahkan tubuh di
kasur. Baru saja memejamkan mata, ponselnya berdering.
Nama Dirga muncul di layar. Tiara tersenyum kecil sebelum menerima
panggilan.
“Lemot.” Suara Dirga terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya.
Tiara langsung menangkap perubahan itu. “Ceritakan saja. Ada apa?”
Dirga terdiam beberapa saat. “Aku tidak kenapa-kenapa. Gimana? Jadi
jalan hari ini?”
Ia sengaja mengalihkan pembicaraan. Namun, Tiara terlalu mengenalnya. “Kamu
pasti sedang ada masalah. Aku baru sampai rumah sekitar lima belas menit yang
lalu.”
Dirga terkekeh pelan. “Syukurlah. Berarti jalan-jalannya lancar.”
Tiara mengembuskan napas. “Dir, kalau kamu menelepon dengan suara
seperti ini, pasti ada sesuatu.”
Keheningan kembali hadir.
“Lemot...” Suara Dirga terdengar berat. “Kalau aku tidak menghubungimu
duluan, kamu pasti bisa menghilang berhari-hari tanpa kabar.”
Tiara tersenyum kecil. “Segitunya ingin tahu kabarku?”
“Tentu.” Dirga menarik napas panjang.
“Kamu sempat lihat statusku hari ini?”
“Belum. Aku seharian di luar. Media sosial saja belum sempat kubuka.”
Dirga kembali terdiam. “Dia mengganti status hubungan.”
Tiara memahami maksudnya. “Aku mengerti.”
“Rasanya... tetap sakit.” Kalimat itu diucapkan lirih, hampir seperti
bisikan.
Tiara menatap langit-langit kamarnya. “Dir, kalau memang kamu masih
mencintainya, jangan buru-buru menyerah.”
Dirga tetap diam.
“Cinta bukan hanya tentang memiliki. Kadang cinta juga tentang kesediaan
bertahan ketika keadaan sedang tidak baik.”
Suasana kembali sunyi. Tanpa suara Dirga.
“Orang yang benar-benar ingin mempertahankan hubungan sering kali harus
berjuang lebih banyak daripada yang dilihat orang lain.”
Beberapa detik berlalu.
“Aku capek.” Suara Dirga terdengar lelah. “Aku benar-benar capek.”
Tiara tidak langsung menjawab.
“Lemot... tolong bantu aku.”
“Apa?”
“Tolong konfirmasi status hubungan kita.”
Tiara langsung mengernyit. “Hah? Cepat sekali lompat ke kesimpulan.
Kenapa harus aku?”
Dirga tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan. “Dia jauh, Ra. Mana mungkin
datang memarahimu.”
“Lalu?”
“Kalau benar-benar dimarahi, aku yang tanggung jawab.”
Tiara mendengus geli. “Enak saja.”
Dirga kembali menggoda. “Ayo, sekalian bikin dia cemburu.”
Tiara menggeleng. “Kalau dia malah benar-benar pergi bagaimana?”
Tawa Dirga perlahan mereda. “Harapanku tinggal kamu.”
Tiara mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Kamu yang bisa bantu aku memastikan... dia masih peduli atau tidak.”
Tiara terdiam beberapa saat. “Jadi hubungan ini cuma pura-pura?”
“Iya.” Jawaban Dirga begitu cepat. “Aku cuma butuh seseorang buat
mengonfirmasi status. Bukan cari pacar baru.”
Tiara menggeleng sambil tertawa kecil. “Dasar Oon.”
“Berarti mau?”
“Baiklah.” Ia mengangkat telunjuk seolah Dirga bisa melihatnya. “Tapi
cuma sekali. Jangan keterusan.”
Dirga langsung tertawa lebih lepas. “Siap!”
“Kalau statusnya sudah diganti, kabari aku.”
“Pasti. Lemot...”
“Apa lagi?”
“Kita jadian tanggal sebelas.”
Tiara spontan tertawa. “Kamu detail sekali.”
“Supaya kelihatan meyakinkan.”
Tiara menggeleng geli. “Kamu ini ada-ada saja.”
Tawa kecil akhirnya terdengar dari seberang telepon. Untuk pertama
kalinya malam itu, suara Dirga kembali terdengar seperti biasanya, meski Tiara
tahu, luka di hatinya belum benar-benar sembuh.
***
Tidak ada yang berubah dalam persahabatan Tiara dengan Dirga. Status
hubungan yang terpampang di media sosial hanyalah sandiwara. Hanya Kak Juna dan
Teh Giska yang mengetahui alasan di balik semua itu.
Demi seorang sahabat, Tiara pasrah menjadi sasaran kemarahan Avril,
mantan Dirga. Beruntung mereka berada di kota yang berbeda sehingga
pertengkaran hanya terjadi melalui pesan dan media sosial. Makian demi makian Tiara
terima tanpa membalas. Entah sejak kapan Tiara mulai terbiasa menghadapi
kata-kata yang menyakitkan.
Yang membuat Tiara terkejut, justru Dirga dan teman-temannya yang belum
pernah dikenal, berdiri di pihaknya. Mereka membela tanpa ragu. Namun, tidak
semua orang memandang masalah ini dari sudut pandang yang sama.
Status hubungan itu akhirnya sampai juga ke mata Noval. Baginya, semua
itu menjadi bukti bahwa prasangkanya selama ini benar. Tiara tahu ia berhak
menilai berdasarkan apa yang dilihatnya. Dan Tiara pun sadar, sejak memilih
membantu Dirga, ia harus siap menerima segala risikonya.
Ponsel berdering. Nama Dirga kembali muncul di layar.
“Lemot.”
“Iya?”
“Jangan cuek begitu.”
Tiara terkekeh pelan. “Aku tidak cuek.”
Dirga mendengus. “Dasar hati dingin. Apa kamu tidak takut dikutuk?”
“Tidak.”
Tiara tertawa kecil. “Kutukan itu cuma berlaku buat anak nakal.
Sedangkan aku anak baik.”
Dirga ikut tertawa. “Jangan keseringan buka media sosial. Belajar sana.”
“Justru aku lagi belajar.”
“Belajar apa main media sosial?”
“Diskusi tugas sama teman lewat chat.”
“Oh...” Nada suara Dirga langsung berubah malu. “Kupikir kamu lagi asyik
main media sosial.”
“Makanya jangan langsung menuduh.”
“Iya, Bu Guru.”
Tiara tertawa mendengar nada bercandanya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara hujan mengguyur cukup deras dari
seberang telepon.
“Kamu lagi di luar?”
“Iya.”
Suara hujan semakin jelas.
“Kalau saja kamu ada di sini.”
“Memangnya kenapa?”
“Aku mau ngajak kamu ke pantai.”
“Pantai?”
“Iya. Aku dan teman-teman tadinya mau bakar ikan di pinggir pantai. Tapi
hujan deras, jadi rencananya ditunda dulu.”
Tiara membayangkan pantai yang basah diguyur hujan. “Pasti seru. Sayang
kampung halamanmu bukan tempat yang bisa kutempuh lima menit.”
Dirga tertawa. “Kalau cuma lima menit, tiap hari juga kamu datang.”
“Bisa jadi.”
Mereka sama-sama tertawa.
Beberapa saat kemudian suara Dirga kembali terdengar, kali ini lebih
pelan. “Suatu hari nanti...”
“Apa?”
“Aku yang akan menjemputmu.”
“Terus?”
“Kita keliling.”
“Ke mana?”
“Ke mana pun tempat yang kamu mau.” Ia tertawa kecil. “Yang penting
wisata kuliner sampai kenyang.”
Tiara ikut tersenyum. “Baik. Janji?”
“Kalau Allah mengizinkan.”
“Kalau begitu, aku pegang ucapanmu.”
Tiara sengaja menggoda. “Apa isi kepalamu memang makanan terus? Nanti
kamu gendut.”
Dirga langsung tertawa. “Tenang saja. Badanku masih ideal. Wajahku juga
tetap tampan.” Nada suaranya kembali dipenuhi rasa percaya diri.
“Iya, Tuan Dirga.”
“Nah, akhirnya kamu mengakui juga.”
“Belum selesai.”
Tiara menahan tawa. “Aku cuma mengakui kalau rasa percaya dirimu memang
luar biasa.”
“Ra...” Dirga menghela napas panjang. “Bisakah sekali saja kamu
memujiku?”
“Memangnya kenapa?”
“Sesekali bikin hati orang senang. Bilang saja kalau aku memang tampan.”
Tiara tertawa kecil. “Aku akan bilang begitu.”
“Benarkah?”
“Iya.” Tiara sengaja berhenti sejenak. “Kalau nanti ketemu di mimpi.”
Beberapa detik hening.
“Lemot.”
“Apa?”
“Dasar... tidak peka.”
Mereka pun tertawa bersamaan.
***
Hidup mengajarkanku bahwa tidak semua rasa harus
dimiliki. Ada perasaan yang cukup disimpan dalam doa, lalu dilepaskan dengan
ikhlas. Bukan karena berhenti menyayangi, melainkan karena menyadari bahwa
tidak semua yang baik ditakdirkan untuk bersama.
Malam itu, ponsel Tiara kembali berdering. Nama Dirga muncul di
layar. Tiara sempat menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menerima
panggilan.
“Assalamu'alaikum, Lemot.”
“Wa'alaikumussalam.”
Tidak langsung terdengar percakapan. Sebagai gantinya, petikan gitar
mengalun pelan dari seberang. Beberapa nada terdengar kurang rapi, membuat
Tiara tersenyum kecil.
“Maaf kalau permainan gitarku masih berantakan,” ujar Dirga diselingi
tawa gugup. “Yang penting... semoga isi lagunya sampai.”
Tanpa menunggu jawaban, Dirga mulai bernyanyi.
This is how I feel...
Ketika lagu itu selesai, hanya keheningan yang tersisa.
“Ra...” suara Dirga terdengar jauh lebih pelan. “Kamu masih di sana?”
“Iya.”
“Kamu memang selalu menjawab singkat.”
Tiara tersenyum tipis. Dirga menarik napas panjang.
“Selama ini aku menyimpan satu perasaan yang belum pernah benar-benar
kuucapkan.”
Tiara mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Ra... Aku menyayangimu.”
Keheningan kembali memenuhi sambungan telepon.
Tiara memejamkan mata. Ia sudah menduga hari itu akan datang. Hanya
saja, ia tidak pernah benar-benar siap mendengarnya.
“Maaf, Dir.” Suaranya nyaris berbisik. “Aku tidak bisa membalas
perasaanmu.”
Dirga tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar
tawa kecil yang dipaksakan.
“Aku sudah menyiapkan banyak kemungkinan. Ternyata... kemungkinan yang
paling kutakuti memang benar terjadi.”
Tiara menggenggam ponselnya lebih erat. “Aku menghargai keberanianmu
mengatakan semua ini. Aku juga sangat menghargai persahabatan kita. Tapi
perasaanku tidak pernah lebih dari seorang sahabat.”
Dirga mengembuskan napas pelan. “Berarti selama ini aku salah
mengartikan perhatianmu.”
“Bukan salah.” Tiara menjawab lembut. “Mungkin kita hanya memaknainya
dengan cara yang berbeda.”
Dirga tersenyum pahit. “Kalau begitu... Apa setelah malam ini semuanya
akan berubah?”
“Tidak.” Jawaban Tiara kali ini terdengar mantap. “Kamu tetap sahabat
terbaikku.”
Dirga terdiam cukup lama.
“Lega mendengarnya. Meskipun... tentu saja aku tetap kecewa.”
Tiara ikut tersenyum tipis. “Kamu tahu? Aku pernah bilang kalau aku
menyukai sikapmu.”
“Iya.”
“Itu memang benar. Kamu baik, dewasa, dan selalu berusaha membuat orang
lain merasa nyaman. Tapi rasa kagum tidak selalu berubah menjadi cinta.”
Dirga mengangguk pelan, meski Tiara tidak dapat melihatnya. “Aku
mengerti.”
Keheningan kembali hadir. Namun kali ini tidak lagi terasa canggung.
“Ra. Mengenalmu tetap menjadi salah satu hal terbaik dalam hidupku.”
“Terima kasih.”
Dirga terkekeh kecil. “Lucu ya.”
“Apa?”
“Kebanyakan perempuan senang diberi kejutan romantis. Sedangkan kamu
justru kelihatan biasa saja.”
Tiara tersenyum. “Aku bukan tidak suka hal romantis. Aku hanya lebih
menghargai ketulusan daripada kejutan.”
Dirga mendengarkan tanpa menyela. “Menurutku, orang yang benar-benar
tulus tidak perlu terus-menerus membuktikan cintanya dengan kata-kata. Cukup
lewat sikap.”
Dirga kembali tertawa pelan. “Kalau begitu... Bagaimana kalau suatu hari
ada laki-laki yang datang langsung melamar tanpa pacaran?”
Tiara ikut tertawa kecil. “Itu justru terdengar lebih menarik. Asal dia
memang datang dengan niat baik.”
“Berarti peluangku masih ada?” goda Dirga.
Tiara menggeleng sambil tersenyum. “Jangan mencari celah.”
Dirga ikut tertawa. “Iya... aku hanya bercanda.”
Beberapa detik kemudian suasana kembali tenang.
“Ra. Aku pernah berjanji tidak akan meninggalkanmu.”
Tiara menatap langit malam di balik jendela kamarnya. “Kebersamaan
setiap orang ada batasnya, Dir. Kita tidak pernah tahu sampai kapan Allah
mengizinkan seseorang berjalan bersama kita.”
Dirga menghela napas panjang. “Kalau begitu... Bagaimana kalau aku
berjanji akan tetap mencintaimu?”
Tiara tersenyum lembut. “Jangan mengucapkan janji sebesar itu sekarang. Tapi
ucapkan nanti. Saat kamu benar-benar menemukan perempuan yang Allah pilihkan
untukmu. Karena janji seperti itu bukan untuk dimainkan.”
Dirga terdiam.
“Jangan pernah menyia-nyiakan ketulusan seseorang. Itu akan menjadi
penyesalan yang paling sulit diperbaiki.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Lalu Dirga tersenyum. “Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena menolakku dengan cara yang tidak membuatku membencimu.”
Tiara ikut tersenyum. “Persahabatan kita terlalu berharga kalau harus
rusak hanya karena satu perasaan.”
Dirga mengangguk. “Iya. Mulai besok... Aku akan belajar menerima
semuanya.”
Malam itu tidak ada yang benar-benar menang. Tidak ada pula yang
benar-benar kalah. Hanya ada dua sahabat yang sedang belajar menerima kenyataan
dengan cara yang paling dewasa.
Sejak malam itu, Dirga tidak pernah lagi memaksa Tiara mengubah
perasaannya. Ia memilih menghormati keputusan tersebut. Mereka tetap saling
bertukar cerita, saling menguatkan ketika salah satunya rapuh, dan saling
mengingatkan saat mulai kehilangan arah.
Sesekali perasaan itu masih muncul tanpa sengaja. Namun Dirga belajar
menyimpannya dengan lebih bijaksana, sementara Tiara tetap memperlakukannya
sebagai sahabat yang telah banyak menemani perjalanan hidupnya.
Mereka sama-sama menjaga agar persahabatan yang telah dibangun
bertahun-tahun tidak berubah menjadi luka.
***
Tiara baru tiba di kamar setelah seharian mengikuti perkuliahan. Seusai
kelas, ia sempat mengerjakan tugas bersama teman-temannya di kos hingga sore
menjelang.
Begitu memasuki kamar, ia merebahkan tubuh sejenak. Pandangannya
kemudian tertuju pada kalender kecil di atas meja belajar. Sebuah lingkaran
merah mengelilingi tanggal hari itu.
Senyum tipis mengembang di bibirnya. Hari ini ternyata sudah genap
satu tahun. Tanpa berpikir panjang, Tiara meraih ponselnya dan menghubungi
Dirga.
“Halo, Lemot.”
“Happy anniversary status palsu hubungan kita.”
Terdengar tawa renyah dari seberang. “Happy anniversary juga, Lemot.”
“Tidak terasa sudah setahun.”
“Iya.” Dirga ikut tertawa. “Harusnya kita dapat penghargaan.”
“Penghargaan apa?”
“Pasangan pura-pura paling awet.”
Tiara terkekeh. “Atau pemeran utama dengan akting paling meyakinkan.”
Dirga tertawa semakin keras. “Aku sih merasa sudah menang.”
“Menang apa?”
“Selama setahun status hubungan kita adem-adem saja. Tidak pernah
bertengkar, tidak pernah ngambek, tidak pernah minta dibelikan apa-apa.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada penuh percaya diri. “Pacaran
paling hemat sepanjang sejarah.”
Tiara menahan tawanya. “Dasar Oon.”
“Memang begitu kenyataannya.”
Tawa mereka kembali pecah. Beberapa saat kemudian, Tiara berdeham pelan.
“Ngomong-ngomong, kamu lagi sibuk?”
“Sedikit. Ada tugas?”
“Iya. Mau minta bantuan.”
“Mengerjakan apa?”
“Puisi.”
Dirga spontan tertawa. “Apa tidak salah anak komputer mengerjakan tugas
anak sastra?”
“Justru itu.” Tiara ikut tertawa. “Anggap saja pengalaman lintas
jurusan.”
“Padahal biasanya kamu yang paling jago bikin puisi.”
“Hari ini imajinasiku mogok.”
“Masa, sih?”
“Iya.” Tiara mengembuskan napas pelan. “Aku sedang menyelesaikan tiga
cerpen sekaligus. Semuanya harus segera dikumpulkan. Otakku rasanya sudah
penuh.”
Dirga terkekeh. “Pantas saja. Lalu puisinya kapan dikumpulkan?”
“Besok.”
“Hmm... baiklah. Akan kuusahakan.”
“Terima kasih.”
“Tapi jangan berharap terlalu tinggi.”
“Kenapa?”
“Takut nanti hasilnya malah bikin dosenmu ikut menangis.”
Tiara kembali tertawa. “Yang penting jangan copy paste punya orang lain.”
“Tenang.” Dirga menjawab cepat. “Kalau sudah benar-benar mentok, paling
aku cuma melambaikan tangan ke kamera.”
Tiara menggeleng sambil tersenyum. “Kamu pasti bisa. Pokoknya aku
percaya.”
Untuk beberapa detik, Dirga terdiam.
“Ya ampun... Akhirnya aku dipuji juga. Nikmati saja momen langka ini.” Dirga
tertawa puas.
“Bagaimana kuliahmu?”
“Hari ini libur.”
“Aku masih setia menempel di kasur.”
“Nah.” Tiara langsung menyela. “Kalau begitu, sebutan pemalas lebih
cocok buat kamu.”
“Lemot...”
“Apa?”
“Selalu saja tidak mau kalah.”
“Aku hanya berkata jujur.”
“Baiklah. Kali ini aku mengalah.”
Tawa mereka kembali memenuhi sambungan telepon. Begitulah Dirga yang
Tiara kenal. Selalu mampu mengubah percakapan sederhana menjadi sesuatu yang
menyenangkan. Bersamanya, obrolan tentang hal-hal sepele pun terasa hangat. Tidak
ada tuntutan untuk selalu serius atau mencari topik yang luar biasa. Cukup
saling bercerita dan saling mendengarkan.
Mungkin itulah alasan mengapa, hingga hari itu, persahabatan mereka
tetap bertahan dengan nyaman.
***
Selama dua bulan terakhir, Dirga lebih sering
menulis tentang seseorang di media sosial. Aku tahu ada perempuan yang sedang
memenuhi pikirannya. Namun, ia tidak pernah menceritakan siapa perempuan itu.
Aku pun memilih tidak bertanya. Jika memang ingin bercerita, suatu saat nanti
ia pasti akan mengatakannya sendiri.
Ponsel Tiara berdering.
“Lemot.”
“Hm?”
“Aku mau minta pendapat.”
“Tentang apa?”
“Gimana cara membedakan perempuan yang benar-benar suka sama kita dengan
perempuan yang cuma ramah?”
Tiara berpikir sejenak. “Kalau perempuan menyukaimu, biasanya dia akan
menyambut kehadiranmu dengan antusias. Dia menikmati perhatianmu dan berusaha
membuatmu merasa nyaman.”
“Kalau cuma menganggap teman?”
“Dia tetap baik, tetapi biasanya akan menjaga batas ketika merasa kamu
mulai punya perasaan lebih.”
Dirga terdiam beberapa saat. “Masalahnya kami baru beberapa kali
bertemu. Waktu ditelepon dia terdengar senang, tapi aku takut cuma salah
mengartikan.”
Tiara tersenyum kecil. “Kalau hanya lewat telepon atau chat, memang
sulit menebak. Coba kenali dia lebih jauh. Jangan terburu-buru menyimpulkan.”
Dirga mengembuskan napas panjang. “Ternyata orang jatuh cinta bisa
mendadak jadi bodoh, ya.”
“Kenapa?”
“Aku sudah menyiapkan banyak kalimat. Begitu dengar suaranya, semuanya
hilang.”
Tiara terkekeh. “Itu namanya gugup. Kamu sudah pernah ke rumahnya?”
“Sudah tahu alamatnya.”
“Lalu?”
“Aku belum berani datang.”
“Dir...” Tiara tersenyum tipis. “Kalau kamu terus diam, bagaimana dia
bisa tahu isi hatimu? Kebanyakan perempuan juga tidak akan mengungkapkan
perasaannya lebih dulu.”
Dirga mengangguk pelan. “Aku cuma kurang percaya diri.”
“Padahal selama ini kamu selalu terlihat percaya diri.”
“Kalau soal hati, beda.”
Tiara terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Selama bertahun-tahun
berteman, aku selalu melihat kamu sebagai orang yang baik, ramah, dan
perhatian.”
Dirga tersenyum.
“Kalau suatu hari nanti kamu memperlakukan pasanganmu seperti kamu
memperlakukan sahabatmu, aku yakin dia akan merasa bahagia.” Ia berhenti
sejenak. “Asal kamu juga belajar mengurangi egomu.”
Dirga tertawa kecil. “Iya. Aku memang masih banyak belajar. Aku ingin
menjadi laki-laki yang lebih baik saat nanti benar-benar membangun rumah
tangga.”
Tiara mengangguk. “Jadikan perempuan yang kamu sukai sebagai alasan
untuk terus memperbaiki diri. Selebihnya biarkan Allah menentukan hasilnya.”
Dirga mengembuskan napas lega.
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Sayangilah dia lebih dari caramu menyayangiku.” Tiara tersenyum hangat.
“Aku yakin perempuan itu akan merasa sangat beruntung.”
Keheningan menyelimuti percakapan mereka. Beberapa saat kemudian Dirga
bertanya pelan.
“Ra... Selama ini... apa kamu pernah menyukaiku?”
Tiara tersenyum. “Pernah.”
Dirga langsung terdiam. Namun sebelum sempat berharap lebih, Tiara
kembali melanjutkan.
“Aku menyukai caramu menjadi sahabat. Bukan sebagai laki-laki yang ingin
kupilih menjadi pasangan.”
Dirga tertawa lirih. “Aku memang sudah menduganya. Kamu selalu sulit
ditebak. Sudah bertahun-tahun mengenalmu, tetap saja aku tidak pernah
benar-benar bisa membaca isi hatimu.”
Tiara hanya tersenyum.
“Aku rasa...” Dirga kembali berbicara. “Kalau nanti aku benar-benar
mencintai perempuan lain, perasaanku padamu juga harus selesai. Kalau tidak,
itu tidak adil untuk perempuan yang memilih berjalan bersamaku.”
Tiara mengangguk mantap. “Itu memang yang seharusnya. Jangan biarkan
perempuan yang kamu cintai harus bersaing dengan bayangan masa lalu.”
Dirga tersenyum kecil. “Mungkin rasa cintanya akan hilang. Tapi rasa
hormatku tidak.”
Tiara menatap langit-langit kamarnya. “Kenapa?”
“Karena aku selalu mengagumi caramu menjalani hidup. Kamu sederhana. Tidak
suka mencari perhatian. Kadang terlalu cuek. Tapi kamu selalu membuat orang di
sekitarmu merasa nyaman.”
Ia tersenyum tipis. “Perjuanganku memang tidak berakhir dengan
memilikimu. Tapi aku tidak pernah menyesal pernah memperjuangkannya.”
Tiara tertawa kecil. “Memangnya ada sisi baik dari seorang Tiara?”
Dirga langsung menjawab tanpa berpikir. “Banyak. Kamu baik. Periang. Lucu.
Kalau diajak bicara tentang apa pun selalu nyambung. Makanya aku tidak pernah
kehabisan cerita.” Ia tertawa pelan. “Maaf kalau selama ini terlalu sering
mengganggumu.”
“Aku tidak pernah merasa terganggu.” Tiara menjawab tulus. “Justru dari
semua cerita itu aku belajar banyak.”
Dirga kembali terdiam. “Aku ingin punya pasangan yang mau mendengarkan
semua ceritaku.”
Tiara tersenyum. “Dir... Tidak semua orang pandai menjadi pendengar. Jangan
memaksa pasanganmu menjadi seperti yang kamu inginkan. Biarkan dia tetap
menjadi dirinya sendiri. Karena mencintai juga berarti menerima.”
Dirga mengangguk pelan. “Iya. Akan kuingat.” Ia tersenyum. “Kamu memang
perempuan terbaik yang pernah kutemui.”
“Lalu?” Tiara mengangkat alis.
“Sekaligus perempuan pertama yang berhasil mematahkan hatiku.”
Tiara tertawa kecil. “Apa yang kamu lihat dariku belum tentu semuanya
benar. Aku juga punya banyak kekurangan. Bisa jadi perempuan yang sedang kamu
perjuangkan jauh lebih baik dariku.”
“Aamiin.” Dirga mengucapkannya dengan tulus. “Lagipula... Aku sering
minder.”
“Kenapa?”
“Soalnya kamu tidak pernah menghubungiku lebih dulu. Aku selalu berharap
ada pesan darimu.”
Tiara tertawa. “Jadi selama ini kamu mengidolakanku?”
Dirga ikut tertawa. “Anggap saja begitu.”
Tawa mereka perlahan mereda. Suasana kembali sunyi.
“Ra... Harapanku untuk memilikimu memang harus berhenti sampai di sini.”
Tiara tidak menjawab.
Dirga menarik napas panjang. “Kadang aku bertanya... Kenapa Allah
mempertemukan kita sebagai sahabat? Kenapa kamu selalu menjadi tempatku pulang
bercerita? Kenapa aku tidak pernah bisa benar-benar menjauh darimu?”
Ia tersenyum tipis. “Dan kenapa, setelah semua yang kulakukan, hatimu
tetap tidak berubah.”
Tiara memejamkan mata. Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya. Bukan
karena penyesalan. Melainkan karena akhirnya semua perasaan yang selama ini
disimpan dalam diam telah menemukan tempatnya.
Ya Allah... Hari ini Engkau
mengajarkanku bahwa tidak semua ketulusan harus berakhir dengan memiliki.
Ada orang yang hadir hanya untuk menguatkan langkah kita, bukan untuk
berjalan bersama hingga akhir.
Dirga telah mengajariku banyak hal. Tentang persahabatan. Tentang
keikhlasan. Tentang menghormati sebuah penolakan. Dan tentang mencintai tanpa
memaksa.
Segala yang kumiliki hanyalah titipan-Mu. Maka, izinkan aku menjaganya
sebaik mungkin, hingga tiba saatnya Engkau memintaku melepaskannya dengan
ikhlas.
***
Tiara terus menyemangati Dirga agar berani
mengungkapkan perasaannya kepada perempuan yang disukainya. Baginya,
kebahagiaan seorang sahabat juga pantas diperjuangkan, meski kelak itu berarti
ia harus belajar melepaskan.
1 Februari.
Pagi itu Tiara membuka media sosial melalui laptop. Angka 92 pada
ikon pemberitahuan langsung menarik perhatiannya.
Ia mengernyit. Satu per satu notifikasi dibacanya. Hampir semuanya
membahas satu hal.
Status hubungan.
Tanpa sepengetahuannya, Dirga telah mengubah status hubungan mereka.
Status “Lemon”—singkatan dari Lemot dan Oon—resmi berakhir. Kolom
komentar dipenuhi candaan, ucapan penasaran, bahkan beberapa pertanyaan yang
meminta penjelasan.
Namun, tidak ada klarifikasi. Tidak ada balasan. Baik Tiara maupun Dirga
memilih diam. Yang lebih mengejutkan, sejak mengubah status itu, Dirga juga
tidak pernah menghubunginya.
Tiara memandang layar laptop cukup lama.
Jadi beginikah rasanya... Saat seseorang menemukan orang yang benar-benar
ingin diperjuangkan, ia mulai melepaskan orang-orang yang dulu selalu ada di
sisinya. Tidak ada yang salah. Dir... kita tetap sahabat, bukan? Lalu
kenapa rasanya kamu justru semakin jauh? Apa aku mengganggu kebahagiaanmu? Atau...
persahabatan kita memang sudah tidak lagi penting?
Sejak hari itu Tiara memilih menjaga jarak. Ia tidak lagi menghubungi
Dirga. Beberapa hari kemudian ia menyadari bahwa salah satu dari mereka telah
menghapus pertemanan di aplikasi chat. Tiara tidak mencari tahu siapa yang
melakukannya. Ia juga tidak ingin bertanya.
Tidak apa-apa. Kalau memang ini pilihanmu... aku
akan menghargainya. Meski
begitu, ada sesak yang terus menetap di dalam dada.
***
Hari itu Tiara tidak memiliki jadwal kuliah. Ia duduk di ruang keluarga
dengan remote televisi di tangan. Saluran demi saluran berganti tanpa
benar-benar ia tonton. Tatapannya kosong.
Dari dapur, Teh Giska beberapa kali memperhatikannya. Ia tahu adik
iparnya sedang memikirkan sesuatu. Karena
itu, ia memilih tetap diam.
Ketika Tiara kembali mengganti saluran televisi, ponselnya berdering. Tangannya
langsung berhenti. Nama Dirga muncul di layar. Setelah ragu beberapa
saat, ia akhirnya mengangkat telepon itu.
“Lemot.” Suara Dirga terdengar seperti biasanya. “Apa kabar? Si mantan
sudah sombong, ya? Sudah tidak pernah menyapa lagi.”
Tiara mendengus pelan. “Mantan siapa? Lagipula, memaksa seseorang
menyapa duluan itu tidak baik.”
Dirga tertawa kecil. “Tidak apa-apa kalau tidak mau mengaku. Siapa tahu
selama ini cuma aku yang menganggap status kita sungguhan.”
“Kalau begitu aku memilih tidak mau tahu.” Jawaban Tiara terdengar
datar.
Dirga mulai menyadari perubahan itu. “Kamu sibuk? Sesibuk apa pun,
jangan sampai silaturahmi putus.”
“Aku tidak punya waktu mengetik pesan.” Nada Tiara masih terdengar
dingin.
Dirga mencoba mencairkan suasana. “Jangan kebanyakan menghindar. Mirip
sopir bajaj muter-muter cari penumpang.”
Tiara akhirnya tersenyum tipis. “Baiklah. Nanti kusapa. Mau tiga kali
sehari sekalian?”
Dirga langsung tertawa. “Itu namanya minum obat. Aku maunya disapa
karena kangen.”
Tiara menahan senyum.
“Kamu malu, ya?”
“Kenapa aku harus malu?”
“Soalnya aku yakin sekarang wajahmu merah. Entah karena malu atau karena
kesal.”
Tiara mendengus. “Kalau sekarang kamu ada di depanku, mungkin sudah
kutendang.”
Dirga tertawa lepas. “Nah. Lemot yang aku kenal akhirnya kembali.”
Tiara ikut tertawa kecil.
Untuk sesaat, suasana terasa seperti dulu. Namun hanya sebentar. Dirga
kemudian bertanya pelan.
“Ra... Apa kamu marah sama aku?”
“Tidak.”
“Bohong.”
Tiara terdiam. Dirga kembali berkata dengan suara yang jauh lebih
serius.
“Aku sengaja menjaga jarak. Bukan karena ingin menjauh darimu. Tapi
karena aku takut.”
“Takut apa?”
“Aku takut kembali nyaman. Aku sudah punya seseorang. Aku ingin menjaga
hubungan ini. Tapi... Aku juga tidak ingin kehilangan sahabat.” Dirga menarik
napas panjang. “Apa ada cara supaya kita bisa tetap berteman seperti dulu?”
Kalimat itu membuat Tiara membeku. Kini ia mengerti. Selama ini bukan
karena Dirga melupakannya. Dirga hanya sedang berusaha menjaga batas. Namun
entah mengapa, kenyataan itu justru terasa lebih menyakitkan.
Tiara menunduk. “Dir... Apa sebenarnya kamu sedang menyuruhku pergi?”
Dirga terdiam. “Aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi kalau kehadiranku membuatmu sulit menjaga hubunganmu, aku akan
menjauh.” Suara Tiara mulai bergetar. “Setelah itu, Jangan mencariku lagi saat
kamu sedang kehilangan arah.” Air matanya mulai jatuh.
“Aku tidak mau hanya diingat ketika kamu punya masalah. Aku tidak mau
menjadi tempatmu pulang ketika semuanya berantakan. Saat kamu bahagia, kamu
meninggalkanku. Saat kamu sedih, baru kamu mencariku.”
Ia mengusap air matanya. “Aku tidak pantas diperlakukan seperti itu.”
Keheningan memenuhi sambungan telepon.
Dirga menarik napas panjang. “Ra, setiap kali membaca pesanmu, aku
justru semakin sulit melepaskan semuanya. Biarkan aku belajar menjauh.”
Tiara tidak menjawab. Beberapa detik kemudian hanya terdengar satu kalimat
Dirga.
“Maaf...” Satu kata itu terdengar begitu tulus. Namun justru membuat
tangis Tiara semakin pecah. Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, ia mengakhiri
panggilan.
Ponsel itu perlahan terlepas dari genggamannya. Untuk pertama kalinya
sejak mereka saling mengenal, Tiara menangis bukan karena kehilangan seseorang
yang dicintai. Melainkan karena kehilangan sahabat yang selama ini selalu
menjadi tempatnya berbagi.
***
Entah mengapa, sampai hari ini aku masih belum mampu melupakan semuanya.
Suasana pesta pernikahan terasa begitu biasa. Orang-orang saling berbincang,
tertawa, dan mengabadikan momen bersama orang-orang yang mereka cintai.
Aku memilih duduk sendirian di salah satu sudut ruangan. Dari tempatku
duduk, kulihat Teh Giska dan Kak Juna ikut larut dalam kebahagiaan para tamu.
Sengaja aku tidak menghampiri mereka. Hari ini seharusnya menjadi hari yang
membahagiakan, bukan hari untuk melihat wajahku yang masih dipenuhi sisa-sisa
kesedihan.
Hampir semua tamu datang bersama pasangan. Sedangkan aku... Datang
seorang diri. Tanpa sadar, pikiranku melayang kepada seseorang.
Dirga.
Andai dia ada di sini. Mungkin dia akan mengoceh tanpa henti,
melontarkan lelucon-lelucon yang tidak lucu, lalu memaksaku tertawa sampai lupa
bagaimana caranya bersedih.
Aku tersenyum tipis membayangkannya. Namun senyum itu perlahan memudar
ketika pandanganku beralih ke pelaminan.
Hari ini... Noval mengucapkan janji sucinya. Bukan kepadaku. Melainkan
kepada perempuan yang telah Allah pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.
Aku memandangi mereka beberapa saat. Aneh... Tidak ada lagi keinginan
untuk memiliki. Tidak ada lagi harapan agar waktu berputar kembali. Yang
tersisa hanyalah kesadaran bahwa setiap orang memiliki takdirnya masing-masing.
Dan takdir kami memang tidak ditulis untuk berjalan berdampingan.
Tiba-tiba, Ibu Noval menghampiriku. Beliau memelukku erat. Tangisnya
pecah di bahuku. Aku membalas pelukannya sambil tersenyum pelan, berusaha
meyakinkan beliau bahwa aku baik-baik saja.
Padahal... Aku sendiri belum sepenuhnya yakin.
Ketika giliranku naik ke pelaminan, aku menatap Noval beberapa detik. Ia
tampak bahagia. Begitu pula perempuan di sampingnya. Aku ikut tersenyum.
Selamat berbahagia. Kalimat itu hanya mampu kuucapkan dalam hati.
Mungkin... Seandainya dulu kami sama-sama bersedia menurunkan ego... Seandainya
kami lebih banyak saling mendengar daripada saling menyalahkan...
Mungkin hari ini akulah yang berdiri di sampingnya. Namun hidup tidak
pernah dibangun oleh kata seandainya. Yang ada hanyalah pilihan. Dan
setiap pilihan selalu membawa jalan hidupnya sendiri.
Aku memilih menerima jalan yang telah Allah tetapkan.
Setelah memberi ucapan selamat, aku kembali ke tempat duduk. Mataku
mulai terasa panas. Air mata perlahan menggenang, tetapi kutahan sekuat
mungkin. Aku menarik napas panjang.
Tiba-tiba seluruh ruangan terasa begitu sunyi, meski tawa para tamu
masih terdengar di mana-mana. Tanpa berpamitan kepada siapa pun, aku berdiri. Pelan-pelan
aku melangkah keluar dari gedung.
Udara sore menyambutku dengan angin yang lembut. Baru ketika berada di
luar, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh. Aku mengusapnya
perlahan.
“Semua akan baik-baik saja,” bisikku kepada diri sendiri.
Mungkin aku memang belum benar-benar melupakan. Namun hari ini aku
belajar bahwa mengikhlaskan bukan berarti berhenti mencintai. Mengikhlaskan
adalah menerima bahwa kebahagiaannya tidak lagi bersamaku. Dan itu tidak
apa-apa.
Karena aku percaya, Allah tidak pernah mengambil sesuatu tanpa
menyiapkan sesuatu yang lebih baik pada waktu yang telah Dia tentukan.
Aku hanya perlu terus melangkah. Satu langkah lagi. Lalu satu langkah
berikutnya. Sampai suatu hari nanti, ketika kenangan ini kembali datang, ia
tidak lagi menghadirkan air mata, melainkan senyum penuh syukur karena aku
pernah belajar mencintai, kehilangan, dan akhirnya mengikhlaskan.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu menghadiahkan kita seseorang untuk
dimiliki. Terkadang, Allah hanya mempertemukan dua orang agar mereka saling
menguatkan, saling mengajarkan arti ikhlas, lalu melanjutkan perjalanan
masing-masing.
Aku pernah kehilangan seseorang yang kucintai. Aku juga pernah menjadi
seseorang yang tidak mampu membalas cinta orang lain.
Dulu aku mengira setiap pertemuan harus berakhir dengan kebersamaan.
Ternyata aku salah.
Ada pertemuan yang memang ditakdirkan hanya untuk mengubah cara kita
memandang hidup.
Noval mengajariku bahwa cinta tidak akan bertahan tanpa kepercayaan.
Dirga mengajariku bahwa mencintai juga berarti berani menerima penolakan
tanpa mengubah ketulusan.
Gama mengajariku bahwa kebaikan tidak selalu harus berakhir menjadi
sebuah hubungan.
Dan aku... Aku belajar bahwa mengikhlaskan bukan berarti melupakan. Mengikhlaskan
adalah menerima bahwa Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah daripada
segala sesuatu yang pernah kuinginkan.
Hari ini aku masih menjadi Tiara yang sama. Masih senang menulis. Masih
lebih banyak mendengarkan daripada bercerita. Masih sering tersenyum meski
tidak semua orang tahu alasan di balik setiap air mata yang pernah jatuh.
Bedanya, sekarang aku tidak lagi takut berjalan sendirian. Karena aku
tahu, selama Allah membersamai setiap langkahku, aku tidak pernah benar-benar
sendiri.
Jika suatu hari nanti Allah mempertemukanku dengan seseorang, aku berharap
ia datang bukan untuk melengkapi hidupku. Melainkan untuk berjalan berdampingan
menuju ridha-Nya. Dan jika hari itu belum juga tiba, aku tetap percaya bahwa
hidupku telah cukup berarti.
Sebab kebahagiaan bukan hanya tentang menemukan pasangan. Kebahagiaan
adalah ketika hati mampu menerima setiap ketetapan-Nya dengan penuh syukur.
Aku menutup buku harian yang telah menemaniku selama bertahun-tahun. Kubelai
perlahan sampulnya, lalu kusimpan kembali di rak paling atas.
Banyak cerita telah kutulis di dalamnya. Tentang tawa. Tentang
kehilangan. Tentang harapan. Tentang orang-orang yang datang dan pergi. Semua
kini telah menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk diriku.
Aku tersenyum sambil menatap langit sore dari balik jendela. “Ya
Allah... Terima kasih karena telah mempertemukanku dengan orang-orang baik. Terima
kasih karena mengajarkanku arti kehilangan tanpa membuatku kehilangan harapan. Dan
terima kasih karena selalu menggenggam tanganku, bahkan ketika aku merasa
berjalan sendirian.”
Aku percaya... Tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada air mata yang
terbuang percuma. Tidak ada pertemuan yang terjadi tanpa alasan. Semua telah
Engkau tulis dengan sebaik-baik takdir.
Maka hari ini aku memilih berhenti mempertanyakan masa lalu. Aku memilih
melangkah. Dengan hati yang telah berdamai. Dengan harapan yang tetap hidup. Dan
dengan keyakinan bahwa pada waktu yang paling tepat, Allah akan mempertemukanku
dengan kebahagiaan yang memang telah disiapkan untukku.
Tamat
Terima kasih telah membaca kisah ini. Mohon hargai
karya penulis dengan tidak memperbanyak atau mempublikasikan isi cerita tanpa
izin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar